Anda di halaman 1dari 13

Ringkasan sejarah Indonesia bab 2

Bab II
Pedagang, Penguasa dan Pujangga pada Masa Klasik
(Hindu-Buddha)
Masa Hindu-Buddha berlangsung selama kurang
lebih 12 abad. Pembabakan masa Hindu-Buddha terbagi
menjadi tiga, yaitu periode pertumbuhan, perkembangan,
dan keruntuhan. Pada abad ke-16 agama Islam mulai
mendominasi Nusantara. Namun, tidak berarti pengaruh
kebudayaan Hindu-Buddha hilang tergantikan
kebudayaan Islam. Agama Islam mengakomodasi
peninggalan Hindu-Buddha, tentunya dengan melakukan
modifikasi agar tetap berselang beberapa abad, wujud
peradaban Hindu-Buddha masih dapat kita saksikan
hingga sekarang, misalnya dalam perwujudan sastra dan
arsitektur.
(Taufik Abdullah (ed), 2012b)
I. Perkembangan Hindu-Budha
A. Kelahiran Agama Hindu

Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Hindu


di India berkaitan dengan sistem kepercayaan bangsa
Arya yang masuk ke India pada 1500 S.M. Kebudayaan
Arya berkembang di Lembah Sungai Indus India. Bangsa
Arya mengembangkan sistem kepercayaan dan sistem
kemasyarakatan yang sesuai dengan tradisi yang
dimilikinya yaitu penyembahan terhadap banyak dewa
(Politheisme) yang dipimpin oleh golongan pendeta atau
Brahmana. Golongan ini juga menulis ajaran mereka
dalam kitab-kitab suci yang menjadi standar pelaksanaan
upacara-upacara keagamaan. Kitab suci agama Hindu
disebut Weda (Veda) yang berarti pengetahuan tentang
agama. Weda terdiri dari 4 buah kitab, yaitu:
a. Rigweda
Rigweda adalah kitab yang berisi tentang ajaran-
ajaran Hindu. Rigweda merupakan kitab yang tertua dan
kemungkinan muncul pada waktu bangsa Arya masih
berada di daerah Punjab.
b. Samaweda
Samaweda adalah kitab yang berisi nyanyian-
nyanyian pujaan yang wajib dilakukan ketika upacara
agama.
c. Yajurweda
Yajurweda adalah kitab yang berisi dosa-doa yang
dibacakan ketika diselenggarakan upacara agama.
Munculnya kitab ini diperkirakan ketika bangsa Arya
mengusai daerah Gangga Tengah.
d. Atharwaweda
Atharwaweda adalah kitab yang berisi doa-doa untuk
menyembuhkan penyakit, doa untuk memerangi raksasa.
Doa-doa atau mantera pada kitab ini muncul setelah
bangsa Arya berhasil menguasai daerah Gangga Hilir.
Ada tiga dewa utama dalam agama Hindu yang
disebut Trimurti, yaitu : Dewa Brahma (dewa pencipta),
Dewa Wisnu (dewa pelindung), dan Dewa Siwa (dewa
perusak). Sistem kemasyarakatan yang dikembangkan
oleh bangsa Arya adalah sistem kasta. Sistem ini
membedakan masyarakat berdasarkan fungsinya.
Golongan Brahmana (pendeta) menduduki golongan
pertama. Ksatria (bangsawan, prajurit) menduduki
golongan kedua. Waisya (pedagang dan petani)
menduduki golongan ketiga, sedangkan Sudra (rakyat
biasa) menduduki golongan keempat. Penggolongan
seperti inilah yang disebut caturwarna.

B. Lahirnya Agama Buddha


Agama Buddha lahir sekitar abad ke-5 S.M. Agama
ini lahir sebagai reaksi terhadap agama Hindu terutama
karena keberadaan kasta. Pembawa agama Buddha adalah
Sidharta Gautama (563-486 S.M), seorang putra dari Raja
Suddhodana dari Kerajaan Kosala di Kapilawastu. Untuk
mencari pencerahan hidup, ia meninggalkan Istana dan
menuju ke tengah hutan di Bodh Gaya. Ia bertapa di
bawah pohon (semacam pohon beringin) dan akhirnya
mendapatkan bodhi, yaitu semacam penerangan atau
kesadaran yang sempurna. Pohon itu kemudian dikenal
dengan pohon bodhi. Sejak saat itu, Sidharta Gautama
dikenal sebagai Sang Buddha, artinya yang disinari.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 531 SM. Usia Sidharta
waktu itu kurang lebih 35 tahun. Wejangan yang pertama
disampaikan di Taman Rusa di Desa Sarnath.
Dalam ajaran Buddha manusia akan lahir berkali-kali
(reinkarnasi). Hidup adalah sengsara, menderita, dan tidak
menyenangkan. Menurut ajaran Buddha, hidup manusia
adalah menderita, disebabkan karena adanya tresna atau
cinta, yaitu cinta (hasrat/nafsu) akan kehidupan.
Penderitaan dapat dihentikan, caranya adalah dengan
menindas tresna melalui delapan jalan (astawida), yakni
pemandangan (ajaran) yang benar, niat atau sikap yang
benar, perkataan yang benar, tingkah laku yang benar,
penghidupan (mata pencaharian) yang benar, usaha yang
benar, perhatian yang benar, dan semadi yang benar.

C. Masuknya Pengaruh Hindu-Budha


Proses masuknya Hindu-Buddha atau sering disebut
Hindunisasi di Kepulauan Indonesia ini masih ada
berbagai pendapat. Beberapa pendapat (teori) tersebut
dijelaskan pada uraian berikut.
Pertama, teori Ksatria. Dalam kaitan ini R.C.
Majundar berpendapat, bahwa munculnya kerajaan atau
pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh
peranan kaum ksatria atau para prajurit India. Para
prajurit diduga melarikan diri dari India dan mendirikan
kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan Asia
Tenggara. Namun, teori Ksatria yang dikemukakan oleh
R.C. Majundar ini kurang disertai dengan bukti-bukti
yang mendukung. Selama ini belum ada ahli arkeolog
yang dapat menemukan bukti-bukti yang menunjukan
adanya ekspansi dari prajurit-prajurit India ke Kepulauan
Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat
untuk petualangan para kaum ksatria.
Kedua, teori Waisya. Teori ini terkait dengan
pendapat N.J. Krom yang mengatakan bahwa kelompok
yang berperan dalam dalam penyebaran Hindu-Buddha di
Asia Tenggara, termasuk Indonesia adalah kaum
pedagang. Pada mulanya para pedagang India berlayar
untuk berdagang. Pada saat itu jalur perdagangan melalui
lautan yang tergantung dengan adanya musim angin yang
menyebabkan mereka tergantung pada kondisi alam. Bila
musim angin tidak memungkinkan maka mereka akan
menetap lebih lama untuk menunggu musim baik. Para
pedagang India pun melakukan perkawinan dengan
penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut
mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G.
Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk
datang ke Asia Tenggara adalah keinginan untuk
memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil
hutan.
Ketiga, teori Brahmana. Teori sesuai dengan
pendapat J.C. van Leur bahwa Hinduninasi di Indonesia
disebabkan oleh peranan kaum Brahmana. Pendapat van
Leur didasarkan atas temuan-temuan prasati yang
menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf pallawa.
Bahasa dan huruf tersebut hanya dikuasai oleh kaum
Brahmana. Selain itu adanya kepentingan dari para
penguasa untuk mengundang para Brahmana India.
Mereka diundang ke Asia Tenggara untuk keperluan
upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan upacara inisiasi
yang dilakukan oleh para kepala suku agar mereka
menjadi golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan
pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para
penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan
dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial
mereka.
Keempat, teori yang dinamakan teori Arus Balik.
Teori ini lebih menekankan pada peranan bangsa
Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan
Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya, orang-orang di
Kepulauan Indonesia terutama para tokoh-tokohnya yang
pergi ke india. Di India mereka belajar hal ihwal agama
dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali ke
Kepulauan Indonesia mereka mengajarkan dan
menyebarkan ajaran agama itu kepada masyarakatnya.
Pandangan ini dapat dikaitkan dengan pandangan F.D.K.
Bosch yang menyatakan bahwa proses Indianisasi di
Kepulauan Indonesia dilakukan oleh kelompok tertentu,
mereka itu terdiri dari kaum terpelajar yang mempunyai
semangat untuk menyebarkan Buddha. Kedatangan
mereka disambut baik oleh tokoh masyarakat. Selanjutnya
karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha mereka pergi
ke India untuk memperdalam ajaran itu. Berdasarkan
teori-teori yang dikemukan di atas dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa masyarakat di Kepulauan Indonesia
telah mencapai tingkatan tertentu sebelum munculnya
kerajaan yang bersifat Hindu-Buddha. Melalui proses
akulturisasi, budaya yang dianggap sesuai dengan
karateristik masyarakat pada saat itu diterima dengan
menyesuaikan pada budaya masyarakat setempat saat itu.
Beberapa bukti-bukti arkeologis menunjukkan
perkembangan masuknya agama Hindu-Buddha di
Kepulauan Indonesia. Pengaruh Hindu ditemukan berasal
pada abad ke-4 - ke-5 masehi. Prasasti yang ditemukan di
Kutai dan Tarumanagara yang menyebutkan sapi sebagai
hewan persembahan menunjukkan bahwa agama Hindu
berkembang di daerah itu. Juga adanya penyebutan Dewa
Trimurti yaitu, Brahma, Wisnu, dan Siwa
II. Kerajaan-Kerajaan pada masa Hindu-
Budha
A. Kerajaan Kutai
Kerajaan kutai merupakan kerajaan Hindu-Budha
yang pertama di Indonesia. Diperkirakan terletak di
daerah Muarakaman di tepi sungai Mahakam, Kalimantan
Timur. Sungai Mahakam dapat dilayari dari pantai sampai
masuk ke Muarakaman, sehingga tempat ini menjadi
tempat yang strategis untuk meningkatkan perekonomian
Masyarakat.
Sumber sejarah dari kerajaan Kutai yang utama
adalah ditemukannya prasasti yang disebut Yupa. Yupa ini
dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman.
Prasasti ini ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa
Sanskerta. Para ahli mberpendapat bahwa prasasti ini
dibuat sekitar abad ke-5 M.
Masa keemasan Kerajaan Kutai terjadi pada masa
pemerintahan Raja Mulawarman. Kehidupan ekonomi
mengalami perkembangan. Banyak masyarakat Kutai
yang bekerja sebagai petani dan pedagang, bahkan
diperkirakan sudah menjalin hubungan dengan luar. Jalur
perdagangan Internasional dari India melewati Selat
Makassar, terus ke Filipina dan sampai di Cina. Dalam
pelayarannya, dimungkinkan para pedagang itu singgah
terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai
semakin ramai dan rakyat hidup makmur.
B. Kerajaan Tarumanegara
Setelah kerajaan Kutai berkembang di daerah
Kalimantan Timur, di Jawa bagian Barat telah muncul
Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini terletak tak jauh
dari pantai utara Jawa bagian Barat. Berdasarkan prasasti-
prasasti yang ditemukan, letak pusat Kerajaan
Tarumanegara diperkirakan diantara sungai Citarum dan
Cisadane. Purbacaraka memperkirakan pusatnya
bberadada di daerah Bekasi.
Sumber sejarah Tarumanegara yang utama adalah
berdasarkan beberapa prasasti yang ditemukan. Berkaitan
dengan perkembangan Tarumanegara telah ditemukan 7
buah prasasti. Prasasti-prasasti tersebut berhuruf pallawa
dan berbahasa sansekerta. Ketujuh prasasti tersebut
adalah :
a. Prasasti Ciareteun
Ditemukan di tepi sungai Citarum di daerah Bogor
b. Prasasti Kebon Kopi
Ditemukan di Kampung Muara Hilir, kecamatan
Cibungbulang, Bogor.
c. Prasasti Jambu
Ditemukan di perkebunan Jambu, bukit Koelangkok,
kira-kira 30 km sebelah barat Bogor
d. Prasasti Tugu
Ditemukan di Desa Tugu, Cilincing Jakarta
e. Prasasti Pasir Awi
Ditemukan di daerah Bogor
f. Prasasti Muara Cianten
Ditemukan di daerah Bogor
g. Prassasti Lebak
Ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan
Muncul, Banten Selatan.
Di samping itu, beberapa cerita dari Cina juga dapat
dijadikan sebagai sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara.
Terutama berita yang disampaikan oleh Fa-Hien yang
berkunjung ke Jawa. Ia telah menyebutkan tentang
keberadaan To-lo-mo atau Taruma
Kerajaan Tarumanegara mulai berkembang pada
abad ke-5 M. Raja yang terkenal adalah Purnawarman.
Dikenal dengan raja yang pemberani dan tegas. Dekat
dengan para Brahmana, Pangeran, dan Rakyat. Ia adalah
Raja yang Jujur, adil, dan arif dalam memerintah
rakyatnya. Daerahnya cukup luas dan telah menjalin
hhubungan dengan kerajaan lain.
C. Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga di sebut juga dengan kerajaan
Holing, diperkirakan terletak di Jawa bagian Tengah.
Nama Kalingga diambil dari Kalinga, sebuah kerajaan di
India Selatan. Menurut cerita Cina, di sebelah Timur
Kalingga terdapat Po-li (Bali), sebelah Barat terdapat To-
Po-Teng (Sumatra), dan di sebelah utara terdapat Chen-la
(Kamboja), sedanngkan di daerah selatan berbatasan
dengan Samudera. Oleh karena itu, Kalingga diperkirakan
terletak di Jawa Tengah, Kecamatan Keling, sebelah utara
Gunung Muria.
Sumber utama mengenai kerajaan ini adalah berita
Cina, misalnya berita dari Dinasti Tang. Sumberlain
adalah Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu.
Kerajaan Kalingga kira-kira berkembang pada abad ke-7
– ke-9 M.
Raja yang paling terkenal adalah seorang raja wanita
yang bernama Ratu Sima. Memerintah sekitar tahun 674
M. dikenal sebagai raja yang tegas, jujur, adil, dan
Bijaksana. Agama utama yang dianut adalah Budha.
Kepemimpinan raja yang adil menjadikan rakyat hidup
dengan tenang, tenteram, dan aman. Mata pencaharian
utama penduduknya adalah Petani, disamping itu juga ada
yanng melakukan perdagangan.
Kerajaan ini mengalami kemunduran kemungkinan
akibat serangan Sriwijaya yang menguasai perdagangan.
Serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan Kijen
menyingkir ke Jawa bagian Timur atau mundur ke
Pedalaman Jawa bagian Tengah. Terjadi antara tahun
742-755 M.
D. Kerajaan Sriwijaya
Sejak permulaan tahun Masehi, hubungan dagang
antara India dengan Kepulauan Indonesia sudah ramai.
Daerah pantai Timur Sumatra menjadi jalur perdagangan
yang ramai. Pusat-pusat perdagangan pun lama kelamaan
berkembang menjadi kerajaan. Kerajaan-kerajaan itu
adalah Tulangbawang, Melayu, dan Sriwijaya. Dari ketiga
kerajaan tersebut, Sriwijayalah yang berhasil berkembang
pesat dan mencapai kejayaannya.
Pada tahun 692 M, sriwijaya mengaakan ekspansi ke
daerah sekitar Melayu. Melayu dapat di taklukan dan
berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Ada berbagai
pendapat tentang letak pusat kerajaan ini, ada yang
berpendapat di Palembang, Jambi, bahkan ada yang
berpendapat di luar Indonesia. Akan tetapi, pendapat yang
paling masyhur, pusat kerajaan Sriwijaya berada di
Palembang, akan tetapi setelah mengalami Sriwijaya
memindah pusat kerajaannya di Jambi.
Sumber sejarah kerajaan ini adalah prasasti. Prasasti-
prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa Dan
menggunakan bahasa Melayu Kuno. Beberapa prasasti itu
adalah :
1. Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti ini ditemukan di tepi sungai Tatang, dekat
Palembang. Berangka taun 605 Saka (683 M).
2. Prasasti Talang Tuwo
Prasasti Talang Tuwo ditemukan di sebelah barat
Kota Palemabang di daerah Talang Tuwo. Berangka
tahun 606 Saka (684 M).
3. Prasasti Telaga Batu
Prasasti ini ditemukan di Palembang. prasasti ini
Tidak memiliki rangka tahun.
Raja yang terkenal adalah Balaputradewa. Ia
memerintah sekitar abad ke-9 M. raja Balaputradewa
menjalin hubungan yang erat ddengan raja Benggala pada
saat itu, yakni Raja Dawapaladewa. Raja ini emberikan
Balaputradewa sebuah tanah untuk pendirian asrama bagi
para pelajar dan mahapeserta didik yang belajar di
Nalanda, yang dibiayai ole Balaputradewa, sebagai
“Dharma”.
E. Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan ini berdiri padda abad ke-8 M di Jawa
bagian tengah. Letak pusat kerajaan ini masih belum
dapat dipastikan, ada yang mengatakan di Medang, dan
ada juga yang mengatakan di Poh Pitu. Sementara itu,
leetak Poh Pitu masih belum jelas sampai sekarang.
Diperkirakan bahwa kerajaan Mataram kuno berdiri di
sekitar pegunnungan dan sungai-sungai.
Raja yang terkenal adalah Raja Sanjaya yang
memerintah pada tahun 717 – 780 M. ia melanjutkan
kekuasaan Sanna. Sanjaya berhasil menaklukan raja-raja
kecil yang memisahkan diri dari pemerintahan Sanna.
Raja Sanjaya memerintah ddengan Adil, dan arif dalam
memerintah. Para pujangga dan rakyat menghormatinya,
sehingga keadaan rakyatnya menjadi aman dan tentram.