Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA SENSORIS

ACARA V UJI KESUKAAN-RANKING

KELOMPOK 12
Nama Anggota:

Cintantya Danastri H0914014


Dzihni Nur Shabrina H0914027
Intan Mulia Rahayu H0914042
Muhammad Rizki H H0914063
Nur Ayu Istiqomah H0914068

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
ACARA V
UJI KESUKAAN-RANKING

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Rasa merupakan parameter penting ketika mengevaluasi sensorik
atribut makanan. Pengaturan terhadap cita rasa untuk menunjukkan
penerimaan konsumen terhadap suatu bahan makanan umumnya
dilakukan dengan alat indera manusia. Produsen dalam menentukan
rasa yang sesuai dengan keinginan konsumen dapat melakukan suatu
uji kesukaan-ranking terhadap produknya. Uji kesukaan-ranking
biasanya digunakan untuk mengemukakan pendapat panelis secara
spontan, tanpa membandingkan sampel standar.
Penilaian organoleptik yaitu suatu disiplin ilmu yang digunakan
untuk mengungkapkan, mengukur, menganalisis, dan
menginterpretasikan reaksi-reaksi seseorang terhadap karakteristik
pangan atau bahan lainnya yang dinyatakan oleh penglihatan, perasa,
peraba, dan pendengar. Uji organoleptik pada produk pangan kadang-
kadang secara sempit disebut uji citarasa.
Uji kesukaan pada dasarnya merupakan pengujian yang
panelisnya mengemukakan responnya yang berupa senang tidaknya
terhadap sifat bahan yang diuji. Pengujian ini umumnya digunakan
untuk mengkaji reaksi konsumen terhadap suatu bahan atau sampel
yang diujikan. Uji ranking untuk mengurutkan intensitas mutu atau
kesukaan konsumen dalam rangka memilih yang terbaik atau
menghilangkan yang terjelek. Pada praktikum ini digunakan berbagai
macam sampel untuk diuji parameternya dengan melakukan uji
kesukaan sampel dengan metode ranking.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum acara V Uji Kesukaan-Ranking adalah
mahasiswa mampu melakukan uji kesukaan sampel dengan metode
ranking.
B. Tinjauan Pustaka
Rasa merupakan parameter penting ketika mengevaluasi sensorik
atribut makanan. Produk mungkin akan menarik dan memiliki kepadatan
energi yang tinggi namun tanpa selera yang baik, seperti produk mungkin
tidak dapat diterima. Penampilan adalah atribut penting dalam pilihan
makanan dan penerimaan. Hasil evaluasi sensori diindikasikan bahwa
beberapa sampel yang mirip dalam penampilan sementara lain berbeda
secara signifikan. Bau merupakan bagian integral dari rasa dan penerimaan
umum makanan sebelum dimasukkan ke dalam mulut. Oleh karena itu suatu
parameter penting ketika menguji akseptabilitas makanan dirumuskan
(Muhimbula, 2010).
Analisis sensoris adalah pemeriksaan produk melalui evaluasi
atribut dinilai oleh lima indra (organoleptik atribut), seperti warna, bau, rasa,
sentuhan, tekstur dan pendengaran. Digunakan di berbagai bidang, analisis
sensoris memungkinkan untuk menetapkan profil organoleptik beragam
produk (makanan, kosmetik, farmasi, tekstil, produk rumah tangga), dan
dapat berguna dalam mengetahui bagaimana mereka dirasakan oleh
konsumen. Sampai tahun 1960-an, teknik analisis sensoris pada dasarnya
mengandalkan pengalaman pribadi penilai ahli. Teknik ini sederhana dan
murah, tetapi kekurangan syarat penting reproduksibilitas untuk
dipertimbangkan matang sepenuhnya metode analisis (Piana et
al., 2004).
Dalam pengujian ranking panelis diminta untuk mengurutkan
intensitas sifat yang dinilai. Uji ranking dapat digunakan untuk
mengurutkan intensitas, mutu atau kesukaan konsumen, dalam rangka
memilih yang terbaik atau menghilangkan yang terjelek. Pada uji ranking
ini digunakan panelis terlatih (untuk uji ranking perbedaan) atau digunakan
panelis tak terlatih (untuk uji ranking kesukaan). Untuk uji ranking
pembedaan mula-mula dilakukan seleksi dan latihan panelis, sedangkan
untuk uji ranking kesukaan panelis diambil yang tidak terlatih. (Kartika,
1988).
Dalam uji ranking diuji 3 atau lebih contoh dan panelis diminta
untuk mengurutkan secara menurun atau manaik menurut tingkat kesukaan
(memberi peringkat). Panelis dapat diminta untuk meranking kesukaan
secara keseluruhan atau terhadap atribut tertentu seperti warna atau flavor.
Contoh diberi kode dan disajikan secara seragam, dan disajikan bersamaan.
Panelis diminta menyusun peringkat atau ranking berdasarkan tingkat
kesukaannya (Koswara, 2006).
Kualitas sensori pada makanan memainkan peran penting untuk
menentukan pilihan terhadap pemilihan makanan. Uji hedonik sering
digunakan untuk menentukan penerimaan konsumen terhadap produk
makanan, melalui perhitungan derajat penerimaan konsumen terhadap
produk tersebut. Metode yang digunakan dalam analisa sensori berdasarkan
pada pengukuran atau penilai secara keseluruhan meliputi atribut sensori,
karakteristik makanannya, dan mutu makanan tersebut. Analisis sensori
digunakan untuk membagi produk makanan menjadi dua bagian yaitu
makanan yang disukai dan makanan yang analisis (Muresan, 2012).
Wafer adalah jenis biskuit dari adonan cair yang sangat renyah dan
memiliki tekstur yang berongga. Wafer merupakan jenis biskuit yang sangat
tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm sampai dengan 4 mm yang
mempunyai tekstur lembut (Fauzi, 2006). Menurut Dogan (2006) dalam
Fauzi (2006), wafer dihasilkan dari penumpukan wafer setelah diisi dengan
krim flavor dan kemudian ditutupi dengan saus coklat. Bahan adonan wafer
terdiri dari gula, tepung, air, garam, lemak, dan bahan lainnya.
C. Metodologi
1. Alat
a. Alat Tulis
b. Borang
c. Gelas Loki
d. Nampan
e. Piring
f. Pisau
g. Talenan
2. Bahan
a. Lima macam wafer : Tango, Nissin, Selamat, Top dan Wafer
Cream.
b. Air mineral
3. Cara Kerja
a. Penyaji

Penyiapan borang uji kesukaan-ranking

Tango (575 dan


764), Nissin (644
dan 816), Selamat
(340 dan 360), Top Peletakan pada lepek kertas
(191 dan 935),
Wafer Cream (404
dan 195)
Persiapan panelis, menunjuk
pemimpin pengujian untuk panelis

Penentuan lama waktu pengujian

Pentabulasian data hasil pengujian

Gambar 5.1 Diagram Alir Penyaji


b. Panelis
Penulisan nama, tanggal pengujian, produk yang diuji, dan tanda
tangan

Pembacaan instruksi yang ada. Pemeriksaan kelengkapan sampel

Pengujian sampel sesuai intruksi yang ada dalam borang

Bila pengujian telah selesai, pemeriksaan kembali apakah


penguian sudah dilengkapi semua. Penyerahan hasil uji kepada
penyaji

Gambar 5.2 Diagram Alir Panelis


D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 5.1 Data Hasil Uji Kesukaan – Ranking
Panelis Sampel
Tango Nissin Selamat Top Wafer Cream
1 3 2 1 5 4
2 3 2 1 5 4
3 3 2 1 5 4
4 3 2 1 5 4
5 3 2 1 5 4
6 4 2 5 1 3
7 2 3 1 5 4
8 2 1 3 5 4
9 4 3 1 5 2
10 3 2 1 5 4
11 3 2 1 5 4
12 2 3 1 4 5
13 4 2 1 5 3
14 3 2 1 5 4
15 4 3 5 1 2
16 1 3 2 4 5
17 1 4 3 5 2
18 3 2 1 4 5
19 3 2 1 4 5
20 3 4 5 2 1
21 4 3 1 2 5
22 2 3 1 5 4
23 4 3 5 1 2
24 3 1 2 5 4
25 3 1 2 5 4
26 3 2 1 5 4
27 1 3 2 5 4
28 3 2 1 5 4
29 3 2 1 5 4
30 2 3 1 4 5
Jumlah 85 71 54 127 113
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
1 = Paling disukai
2 = Suka
3 = Biasa
4 = Tidak suka
5 = Sangat tidak suka.
Pada praktikum analisis sensori ini dilakukan pengujian ranking. Pada
uji ranking ini digunakan sampel wafer dengan 5 merk berbeda dan
diberikan kode yang berbeda pula. Wafer yang digunakan yaitu Tango yang
diberi kode 595 dan 764, Nissin dengan kode 644 dan 816, Selamat yang
diberi kode 340 dan 360, Top dengan kode 191 dan 935 , yang kelima adalah
Chocolate wafer cream dengan kode 404 dan 195.
Wafer adalah jenis biskuit dari adonan cair yang sangat renyah dan
memiliki tekstur yang berongga. Wafer merupakan jenis biskuit yang sangat
tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm sampai dengan 4 mm yang
mempunyai tekstur lembut (Fauzi, 2006). Menurut Dogan (2006) dalam
Fauzi (2006), wafer dihasilkan dari penumpukan wafer setelah diisi dengan
krim flavor dan kemudian ditutupi dengan saus coklat. Bahan adonan wafer
terdiri dari gula, tepung, air, garam, lemak, dan bahan lainnya.
Dalam SNI 01-2973- 1992 pada Budiyanti (2013), wafer merupakan
produk makanan kering yang terbuat dari adonan cair berbasis tepung terigu,
berpori-pori besar, renyah, dan penampangnya berongga bila dipatahkan.
Wafer tergolong biskuit yang sangat tipis dengan ketebalan lebih kecil dari
1 mm hingga 4 mm, mempunyai tekstur lembut dan renyah, serta
mempunyai permukaan halus yang ukuran dan detailnya dibentuk sesuai
cetakan. Bahan adonan wafer terdiri atas gula, tepung, air, garam, lemak,
dan bahan lainnya. Ada dua jenis wafer yaitu wafer flat dan wafer stick.
Wafer stick mempunyai bentuk bulat panjang seperti stick. Wafer flat adalah
jenis creamed sandwich wafer yang terdiri dari empat wafer dan tiga lapis
krim di antara sheet (Budiyanti, 2013).
Standar Mutu yang digunakan untuk wafer menurut Manley (2000),
yaitu memiliki ketebalan keseluruhan 2.8–3.4mm, ketebalan wafer pada 3
lapisan wafer dengan dua lapisan krim yaitu 9.6-11.4mm, berat dari
lembaran wafer yaitu 50-56 gram. Kadar air wafer yaitu 1-2%. Lembar
lapisan wafer bobot dan kelembapannya dipengaruhi oleh perubahan dalam
komposisi adonan dan viskositas. beban lebih berat akan memberikan wafer
keras, bobotnya lebih ringan, mudah patah dan wafernya lebut di mulut. Hal
penting bahwa semua lembar wafer harus tidak ada yang rusak, dan
memiliki berat sama pada tiap lapisannya. Sarba et al. (2015) menyatakan
krim wafer harus lembut tapi memiliki kemampuan merekatkan beberapa
lapisan.
Dalam uji ini, panelis mengisi borang dengan mengurutkan dari yang
paling disukai yang diberi skor 1 dan yang paling tidak disukai yang diberi
skor 5. Range nilai yang diberikan adalah 1-5, dengan keterangan angka 1
diberikan kepada sampel yang paling disukai, skor 2 untuk sampel yang
memiliki tingkat kesukaan ke 2, skor 3 untuk sampel yang memiliki tingkat
kesukaan ke 3, angka 4 untuk sampel yang memiliki tingkat kesukaan ke 4
dan angka 5 untuk sampel yang paling tidak disukai. Besarnya nilai kolom
jumlah terkecil adalah sampel yang paling disukai panelis, karena skor
angka kecil diberikan untuk sampel yang disukai, sedangkan nilai kolom
jumlah yang besar menunjukkan sampel tersebut tidak disukai panelis.
Maka, wafer Selamat paling disukai dikarenakan jumlah skornya yang kecil
yaitu 54. Selanjutnya pada urutan kedua yaitu Nissin dengan perolehan
jumlah skor 71. Urutan ketiga adalah Tango dengan jumlah skor 85, Wafer
Cream berada pada urutan keempat dengan jumlah skor 113 dan urutan
kelima yaitu tidak sukai yaitu wafer Top dengan perolehan 127.

Tabel 5.2 Data Hasil Uji Kesukaan – Ranking Aplikasi Tabel Fisher And
Yates

Panelis Sampel
Tango Nissin Selamat Top Wafer Cream
1 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
2 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
3 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
4 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
5 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
6 -0,5 0,5 -1,16 1,16 0
7 0,5 0 1,16 -1,16 -0,5
8 0,5 1,16 0 -1,16 -0,5
9 -0,5 0 1,16 -1,16 0,5
10 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
11 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
12 0,5 0 1,16 -0,5 -1,16
13 -0,5 0,5 1,16 -1,16 0
14 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
15 -0,5 0 -1,16 1,16 0,5
16 1,16 0 0,5 -0,5 -1,16
17 1,16 -0,5 0 -1,16 0,5
18 0 0,5 1,16 -0,5 -1,16
19 0 0,5 1,16 -0,5 -1,16
20 0 -0,5 -1,16 0,5 1,16
21 -0,5 0 1,16 0,5 -1,16
22 0,5 0 1,16 -1,16 -0,5
23 -0,5 0 -1,16 1,16 0,5
24 0 1,16 0,5 -1,16 -0,5
25 0 1,16 0,5 -1,16 -0,5
26 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
27 1,16 0 0,5 -1,16 -0,5
28 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
29 0 0,5 1,16 -1,16 -0,5
30 0,5 0 1,16 -0,5 -1,16
Jumlah 2,98 9,98 20,56 -21,22 -12,3
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
5 sampel yaitu :
1 = 1,16
2 = 0,500
3=0
4 = -0,500
5 = -1,16

Fatmaningrum (2009) dalam Septiana (2013) menyatakan, warna pada


produk makanan akan memberi kesan dan bentuk yang mudah namun sulit
untuk digambarkan dan diukur sehingga penilaian secara subjektif masih
sangat menjadi penentu dalam penilaian suatu produk. Aroma merupakan
salah satu parameter untuk dapat menentukan rasa dari makanan yang
menggunakan alat indrapenciuman untuk merasakannya. Penilaian dengan
menggunakan alat indra penciuman (bau) akan memberikan hasil penilaian
terhadap kesukaanpanelis pada suatu produk pangan. Dahrul, dkk (2008)
dalam Septiana (2013) menyatakan rasa merupakan bagian dari uji
organoleptik pada penilaian kesukaan. Tekstur merupakan salah satu dari
parameter yang digunakan dalam penentuan kualitas dan penerimaan
konsumen terhadap pangan. Menurut Setyaningsih et al (2010), ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kepekaan panelis, antara lain jenis
kelamin, usia, kondisi fisiologis, faktor genetis, dan faktor psikologis. Pada
umumnya wanita lebih peka dibandingkan laki-laki dalam merasakan
sesuatu. Akan tetapi penilaian sensori wanita cenderung tidak konsisten.
Tabel Fisher and Yates didapatkan dari perubahan data tabulasi
nilai kesukaan panelis terhadapa kelima produk wafer. Pada tabulasi data
kesukaan panelis yang menggunakan nilai 1-5 ditransformasikan dengan
range -1,16 sampai 1,16. Nilai 1 ditransformasikan menjadi 1,16 sedangkan
angka 2 menjadi 0,5 aangka 3 menjadi 0, angka 4 menjadi -0,5 dan yang
terakhir angka 5 menjadi -1,16. Hasil yang didapatkan dari trasnformasi
pada Tabel 5.2 yang digunakan untuk perhitungan selanjutnya.

Tabel 5.3 Analisis sidik ragam (Anova)


FK Standar Nilai Nilai
SK db JK JKR Fhitung Error LSD pembanding
(SE) antar sampel
Panelis 29 0 0 -
Sampel 4 37,759 9,43975 18,887
0 0,129 3,925 0,506
Error 116 57,977 0,4998 -
Total 149 95,736 - -
Setelah melakukan transformasi selanjutnya membuat tabel analisis
sidik ragam. Analisis sidik ragam bertujuan untuk mencari nilai F hitung
yang kemudian akan menjadi penentu apakah terdapat perbedaan nyata
antar sampel atau tidak. Siginifikansi yang digunakan 5% dikarenakan 5%
memiliki ketepatan yang baik yaitu dengan tingkat kesalahan 0,05. F hitung
didapatkan dari hasil ANOVA yang digunakan dengan SPSS. Perlu
diketahui besar nilai F tabel dicari menggunakan metode interpolasi
dikarenakan tidak ada angka 145 pada barisan Tabel F dan didapatkan hasil
2,432. Bila dibandingkan dengan F tabel dengan siginifikansi 0,05, maka
didapatkan F hitung > F tabel yaitu 18,887 > 2,432 sehingga Ho d ditolak
atau dengan kata lain kelima rata-rata populasi adalah tidak sama.
Tabel 5.4 Perbedaan antar sampel
Perbandingan Hasil Perbandingan NPAS Keterangan
antar sampel antar sampel
A-B -1,056 Tidak berbeda nyata
A-C -0,587 Tidak berbeda nyata
A-D 0,807 berbeda nyata
A-E 0,509 0,507 berbeda nyata
B-C -0,43 Tidak berbeda nyata
B-D 0,963 berbeda nyata
B-E 0,665 berbeda nyata
C-D 1,393 berbeda nyata
C-E 1,095 berbeda nyata
D-E -0,297 Tidak berbeda nyata

Dari data tersebut hasil dibandingkan dengan nilai NPAS. Bila nilai
hasil perbandingan antar sampel kurang dari nilai NPAS maka tidak berbeda
nyata. Sementara bila nilai hasil perbandingan antar sampel lebih besar dari
nilai NPAS maka hasil berbeda nyata. Sampel yang tidak bebrbeda nyata
yaitu sampel A-B, A-C, A-E dan D-E.
LSD digunakan hanya untuk ANOVA (Analisis of Varian) dan
digunakan untuk menghitung perbedaan terkecil signifikan (Williams,
2010). Beda Nyata Terkecil (LSD) tes yang paling umum diterapkan untuk
mengetahui rata-rata (s) adalah (yang) berbeda secara signifikan diantara
sampel (Sultana, 2013). Cara mencari nilai LSD sama halnya dengan
mencari nilai Ftabel yaitu dengan interpolasi menggunakan tabel LSD
dengan siginifikansi 5% dan nilai yang dibandingkan adalah db eror : jumlah
sampel. Setelah itu didapatkan hasil nilai LSD sebesar 3,925.
Istilah Standard Error dan notasi digunakan sebagai statistik deskriptif
(Merangkum data numerik), dan digunakan sebagai statistik inferensial
(memperkirakan parameter-parameter populasi dari sampel) (Brown, 1982).
Nilai Standard Error didapatkan dari pembagian akar dari pembagian rerata
jumlah kuadrat error dengan jumlah panelis (Kartika, 1988). Dari hasil
perhitungan didapatkan nilai 0,129. Nilai Perbandingan Antar Sampel
(NPAS) didapatkan dari perkalian nilai LSD dengan standard error. Hasil
dari perkalian tersebut yang merupakan NPAS yaitu sebesar 0,507.
E. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Acara V Uji Kesukaan-Ranking dapat
disimpulkan bahwa:
1. Uji Kesukaan-Ranking dapat digunakan untuk mengurutkan
intensitas, mutu atau kesukaan konsumen, dalam rangka memilih
yang terbaik atau menghilangkan yang terjelek.
2. Panelis dapat diminta untuk meranking kesukaan secara
keseluruhan atau terhadap atribut tertentu seperti warna atau
flavor. Contoh diberi kode dan disajikan secara seragam, dan
disajikan bersamaan. Panelis diminta menyusun peringkat atau
ranking berdasarkan tingkat kesukaannya.
3. Wafer Selamat paling disukai dikarenakan jumlah skornya yang
kecil yaitu 54. Selanjutnya pada urutan kedua yaitu Nissin dengan
perolehan jumlah skor 71. Urutan ketiga adalah Tango dengan
jumlah skor 85, Wafer Cream berada pada urutan keempat dengan
jumlah skor 113 dan urutan kelima yaitu tidak sukai yaitu wafer
Top dengan perolehan 127.
DAFTAR PUSTAKA

Budiyanti, Yuli. 2013. Pengembanganprodukwafer Cokelat Beng - Beng


Berdasarkan Preferensi Konsumen PT. Mayora Indah Divisi Wafer. Tesis
Universitas Esa Unggul.
Fauzi, Iqbal. 2006. Evaluasi Permeansi Uap Air Pada Kemasan Fleksibel Dan
Metode Penentuan Umur Simpan Wafer Stick Di Pt Arnott’s Indonesia,
Bekasi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Kartika, Bambang, Pudi Hastuti, Wahyu Supartono. 1988. Pedoman Uji Indrerawi
bahan pangan. Jakarta
Koswara, Sutrisno. 2006. Pengujian Organoleptik (Evaluasi Sensori) dalam
Industri Pangan. Ebookpangan.com
Manley, Duncan. 2000. Technology Of Biscuits, Crackers And Cookies. Woodhead
Publishing Limited Abington Hall, Abington, Inggris.
Muhimbula, Happiness. 2010. Formulation and Sensory Evaluation of
Complementary Foods From Local, Cheap and Readily Available Cereals
and Legumes in Iringa, Tanzania. African Journal of Food Science Vol. 5,
No 1, Hal 26 – 31.
Muresan, Crina. 2012. Sensory Evaluation of Bakery Products and its Role
Indetermining of the Consumer Preferences. Journal of Agroalimentary
Processes and Technologies. Rumania.
Piana, Maria L., et al. 2004. Sensory analysis applied to honey: state of the art.
Apidologie. Vol.35
Sarba, Andreeaăcristinaă, Liviu Alexandruămarghitaş, Adrian Timar. 2015. Study
About Differences Between Shortening Used In Wafer Fillings And Biscuit
Dough.AnaleleăUniversitţiiădinăOradea,ăFascicula:ăEcotoxicologie,ăZoot
ehnieăşiăTehnologiiădeăIndustrieăAlimnta Vol. XIV/A, 2015.
Septiana, Riska. 2013. Pengaruh Substitusi Tepung Bonggol Pisangambon (Musa
Paradisiaca)Terhadap Tingkat Kekerasandan Daya Terima Cookies.
Program Studi Diii Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Setyaningsih, Dwi., dkk. 2010. Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro.
IPB Press: Bogor
Sultana, Sarba, Muhammad Mutahir Iqbal, Munir Akhtar. 2013. A Visualization of
Fisher’s Least Significant Difference Test. Pakistan Journal of Commerce
and Social Sciences 2013, Vol. 7 (1), 100-106Brown, George W. 1982.
Standard Deviation, Standard Error. AM J Dis Child Vol 136 Oct.1982.
Williams, Lynne J., Herve Abdi. 2010. Fisher's Least Significant Diference (LSD)
Test. In Neil Salkind (Ed.), Encyclopedia of Research Design. Thousand
Oaks, CA: Sage. 2010.
LAMPIRAN

Perhitungan Tabel 5.3 Analisiss Sidik Ragam Uji Kesukaan Rangking


1. Faktor Koreksi
(𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙)2
𝐹𝐾 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛
𝑝2
= ∑𝑝𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 ×∑𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝑜2
= 30×5

=0
2. JK Panelis
𝐽𝐾 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑝𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠
𝐽𝐾 𝑃𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 = – FK
∑𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑝𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠
0
=5

=0
3. JK Sampel
𝐽𝐾 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐽𝐾 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = – FK
∑𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

(2,98)2 +(9,98)2 +(20,56)2 +(−21,22)2 +(−12,3)2


= 30

= 37,759
4. JK Total
𝐽𝐾 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = ((o)2 + (0,5)2 + … + (−1,16)2 ) – FK
= 95,736− 0

= 95,736

5. JK Error
𝐽𝐾 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟 = 𝐽𝐾 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 − 𝐽𝐾 𝑃𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 − 𝐽𝐾 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
= 95,736 – 0 – 37,759
= 57,977
6. db Panelis
𝑑𝑏 𝑃𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 − 1
= 30-1
= 29
7. db Sampel
𝑑𝑏 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 − 1
=5–1
=4
8. db Error
𝑑𝑏 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = 𝑑𝑏 𝑝𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 × 𝑑𝑏 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
= 29 × 4
= 116
9. JKR Panelis
𝐽𝐾 𝑃𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠
𝐽𝐾𝑅 𝑃𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 =
𝑑𝑏 𝑃𝑎𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠
0
= 29

=0
10. JKR Sampel
𝐽𝐾 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐽𝐾𝑅 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
𝑑𝑏 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
37,759
= 4

= 9,43975
11. JKR Error
𝐽𝐾 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟
𝐽𝐾𝑅 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟 =
𝑑𝑏 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟
57,977
=
116

= 0,4998

12. Standard Error

𝐽𝐾𝑅 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟 = √
∑𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

0,4998
=√ 30

= 0,129
13. Fhitung Sampel
𝐽𝐾𝑅 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
𝐽𝐾𝑅 𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟
9,43975
= 0,4998

= 18,887
14. F tabel (db sampel : db error) = (4 : 116)
𝑦−𝑦1 𝑥−𝑥1
=𝑥
𝑦2 −𝑦1 2 −𝑥1

116−100 𝑥−2,46
= 2,42−2,46
200−100
16 𝑥−2,46
=
100 −0,04

100𝑥 − 246 = −0,64


100x = (-0,64) + 246
100x = 245,36
245,36
x= 100

x = 2,453
15. Nilai Least Significant Difference (LSD) (db error : jumlah sampel) = (116:5)
𝑦−𝑦1 𝑥−𝑥1
=𝑥
𝑦2 −𝑦1 2 −𝑥1

116−60 𝑥−3,99
= 3,92−3,99
120−60
56 𝑥−3,99
=
60 −0,07

60𝑥 − 239,4 = −3,92


60x = (-3,92) + 239,4
60x = 235,48
235,48
x= 60

x = 3,925
16. Nilai Perbandingan Antar Sampel
𝑁𝑃𝐴𝑆 = 𝐿𝑆𝐷 × 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
= 3,925 × 0,129
= 0,507
17. Perbedaan Antar Sampel

a) A – B = (0,099) – (0,255)
= - 1,056 < 0,507
= tidak berbeda nyata
b) A – C = (0,099) – (0,685)
= - 0,586<0,507
= tidak berbeda nyata
c) A – D = (0,099) – (-0,707)
= 0,807>0,507
= berbeda nyata
d) A – E = (0,099) – (-0,410)
= 0,509>0,507
= berbeda nyata
e) B – C = (0,255– (0,685)
= -0,43<0,507
= tidak berbeda nyata
f) B – D = (0,255) – (-0,707)
= 0,963 >0,507
= berbeda nyata
g) B – E = (0,255) – (-0,410)
= 0,665 >0,507
= berbeda nyata
h) C – D = (0,685) – (-0,707)
= 1,393 >0,507
= berbeda nyata
i) C – E = (0,685) – (-0,410)
= 1,095 >0,507
= berbeda nyata
j) D – E = (-0,707)– (-0,410)
= -0297<0,507
= tidak berbeda nyata
LAMPIRAN

Gambar 5.3 Penyajian Sampel Beserta Gambar 5.4 Sampel Wafer


Borang dan Air

Gambar 5.5 Borang Uji Kesukaan-Ranking


Gambar 5.6 Tabel Fisher dan Yates

Gambar 5.6 Tabel Least Significant Difference nilai signifikasi 5%


Gambar 5.7 Tabel F