Anda di halaman 1dari 3

Emotional Intelligence

Diterbitkan Desember 29, 2007 Artikel Pendidikan

Siapapun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang
tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan
yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah.
Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Kecerdasan
Berdasarkan pengertian tradisional, kecerdasan meliputi kemampuan
membaca, menulis, berhitung, sebagai jalur sempit ketrampilan kata
dan angka yang menjadi fokus di pendidikan formal (sekolah), dan
sesungguhnya mengarahkan seseorang untuk mencapai sukses di
bidang akademis (menjadi professor). Tetapi definisi keberhasilan hidup
tidak melulu ini saja. Pandangan baru yang berkembang: ada
kecerdasan lain di luar IQ, seperti bakat, ketajaman pengamatan sosial,
hubungan sosial, kematangan emosional, dll. yang harus juga
dikembangkan.

Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan
ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan
bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan
dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur
suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan
kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain
(empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-
baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk
memimpin. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada anak-anak. Orang-
orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri,
menderita kekurangmampuan pengendalian moral.

Berdasarkan pengalaman, apabila suatu masalah menyangkut


pengambilan keputusan dan tindakan, aspek perasaan sama pentingnya
dan sering kali lebih penting daripada nalar. Emosi itu memperkaya;
model pemikiran yang tidak menghiraukan emosi merupakan model
yang miskin. Nilai-nilai yang lebih tinggi dalam perasaan manusia,
seperti kepercayaan, harapan, pengabdian, cinta, seluruhnya lenyap
dalam pandangan kognitif yang dingin, Kita sudah terlalu lama
menekankan pentingnya IQ dalam kehidupan manusia. Bagaimanapun,
kecerdasan tidaklah berarti apa-apa bila emosi yang berkuasa.
Kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang
membuat kita menjadi lebih manusiawi.

Antara IQ dan EQ
Kecerdasan akademis sedikit kaitannya dengan kehidupan emosional.
Orang dengan IQ tinggi dapat terperosok ke dalam nafsu yang tak
terkendali dan impuls yang meledak-ledak; orang dengan IQ tinggi
dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka.
Terdapat pemikiran bahwa IQ menyumbang paling banyak 20 % bagi
sukses dalam hidup, sedangkan 80 % ditentukan oleh faktor lain.
Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk
menghadapi gejolak atau kesempatan yang ditimbulkan oleh kesulitan-
kesulitan hidup. IQ yang tinggi tidak menjamin kesejahteraan, gengsi,
atau kebahagiaan hidup.
Banyak bukti memperlihatkan bahwa orang yang secara emosional
cakap yang mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri
dengan baik, dan yang mampu membaca dan menghadapi perasaan
orang lain dengan efektif memiliki keuntungan dalam setiap bidang
kehidupan, entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan,
ataupun dalam menangkap aturan-aturan tak tertulis yang menentukan
keberhasilan dalam politik organisasi.
Orang dengan ketrampilan emosional yang berkembang baik berarti
kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan,
menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka.
Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan
emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merampas
kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada karir/pekerjaan ataupun
untuk memiliki pikiran yang jernih.

Survey membuktikan ….
Survei terhadap orangtua dan guru-guru memperlihatkan adanya
kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang,
lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi
sebelumnya : lebih kesepian dan pemurung, lebih berangasan dan
kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih
impulsif dan agresif.
Kemerosotan emosi tampak dalam semakin parahnya masalah spesifik
berikut :
Menarik diri dari pergaulan atau masalah sosial; lebih suka menyendiri,
bersikap sembunyi-sembunyi, banyak bermuram durja, kurang
bersemangat, merasa tidak bahagia, terlampau bergantung.
Cemas dan depresi, menyendiri, sering takut dan cemas, ingin
sempurna, merasa tidak dicintai, merasa gugup atau sedih dan depresi.
Memiliki masalah dalam hal perhatian atau berpikir ; tidak mampu
memusatkan perhatian atau duduk tenang, melamun, bertindak tanpa
bepikir, bersikap terlalu tegang untuk berkonsentrasi, sering mendapat
nilai buruk di sekolah, tidak mampu membuat pikiran jadi tenang.
Nakal atau agresif; bergaul dengan anak-anak yang bermasalah, bohong
dan menipu, sering bertengkar, bersikap kasar terhadap orang lain,
menuntut perhatian, merusak milik orang lain, membandel di sekolah
dan di rumah, keras kepala dan suasana hatinya sering berubah-ubah,
terlalu banyak bicara, sering mengolok-olok , bertemperamen panas.

Penelitian jangka panjang terhadap 95 mahasiswa Harvard dari


angkatan tahun 1940 an menunjukkan bahwa dalam usia setengah
baya, mereka yang peroleh tesnya paling tinggi di perguruan tinggi
tidaklah terlampau sukses dibandingkan rekan-rekannya yang IQ nya
lebih rendah bila diukur menurut gaji, produktivitas, atau status di
bidang pekerjaan mereka.
Mereka juga bukan yang paling banyak mendapatkan kepuasan hidup,
dan juga bukan yang paling bahagia dalam hubungan persahabatan,
keluarga, dan asrmara.

Penanganan
Bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita dalam menempuh
kehidupan ? Perlu pendidikan kecakapan manusiawi dasariah, seperti
kesadaran diri, pengendalian diri, dan empati, seni mendengarkan,
menyelesaikan pertentangan dan kerja sama. Kendati terdapat kendali
sosial, dari waktu ke waktu nafsu seringkali menguasai nalar. Perlu
adanya keseimbangan antara kecerdasan rasional dan kecerdasan
emosional. Keberhasilan hidup ditentukan oleh keduanya.
Ajaran Socrates : Kenalilah dirimu menunjukkan inti kecerdasan
emosional : kesadaran akan perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu
timbul.
Pelatihan untuk menyatakan perasaan negatif (marah, frustrasi, kecewa,
depresi, cemas) menjadi amat penting. Pelampiasan yang tidak tepat
justru menambah intensitas, bukan mengurangi. Cara berpikir
menentukan cara merasa, oleh karenanya berpikir positif sangatlah
diperlukan.

Ketekunan, kendali dorongan hati dan emosi, penundaan pemuasan


yang dipaksakan kepada diri sendiri demi suatu sasaran, kemampuan
untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain (empati), dan
manajemen diri merupakan hal yang dapat dipelajari.
Pengalaman dan pendidikan di masa kanak-kanak akan sangat
menentukan dasar pembentukan ketrampilan sosial dan emosional.

Sumber : Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intelligence. Jakarta : PT


Gramedia Pustaka Utama
http://gurupkn.wordpress.com/2007/12/29/emotional-intelligence/