Anda di halaman 1dari 17

Adaptasi Aksesbilitas Permukiman Terhadap Abrasi Air Laut

Di Desa Bedono Demak

TUGAS MATA KULIAH


MANUSIA DAN LINGKUNGAN
TEAM DOSEN
DR.IR. DJOKO INDROSAPTONO, MT
DR.IR. TITIN WORO MURTINI, MSA
OLEH:
DENI WAHYU SETIAWAN
21020117420025

PROGRAM STUDI MAGISTER ARSITEKTUR DEPARTEMEN ARSITEKTUR


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018

1
I. Pendahuluan
Latar Belakang
Wilayah pesisir merupakan wilayah yang sangat penting bagi kehidupan
manusia. Pada wilayah ini terdapat begitu banyak sumberdaya alam yang sudah
seharusnya dilindungi dan dikelola dengan baik. Pada wilayah ini pula kehidupan
manusia banyak digantungkan. Diperkirakan bahwa sekitar 50-70 % penduduk dunia
tinggal di daerah pesisir (Edgreen dalam Kay dan Alder, 1999) dan memanfaatkan
sumberdaya alam yang dimilikinya. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang sangat
dinamis. Dinamika pesisir dapat terjadi secara alami karena pengaruh angin,
gelombang air laut, dan arus maupun dari campur tangan manusia. Sekarang banyak
pembangunan diarahkan di daerah pesisir mengingat lahan di daerah perkotaan
semakin terbatas, sehingga daerah pesisir menjadi alternatif untuk kegiatan-kegiatan
seperti industri, perdagangan, pariwisata, dan sebagainya. Hal tersebut menyebabkan
wilayah pesisir sangat rentan terhadap bencana.

Perubahan penggunaan lahan yang banyak terjadi di wilayah pesisir yang


semula merupakan sabuk hijau (green belt) berupa pepohan dan hutan bakau
(mangrove) menjadi lahan untuk pertambakan, pelabuhan, permukiman, dan kawasan
industri telah menggangu kestabilan ekosistem di wilayah pesisir. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan dan permasalahan seperti erosi pantai,
dan banjir pasang.

Banjir akibat pasang surut merupakan sebuah ancaman serius bagi wilayah
pesisir karena dapat menyebabkan kerusakan pada permukiman, aksesbilitas, fasilitas
umum, serta fungsi lahan. Efek pemanasan global menyebabkan peningkatan muka
air laut (sea level rise). Sementara itu land subsidence mengakibatkan lahan di wilayah
pesisir lebih rendah daripada muka air laut sehingga ketika terjadi air pasang akan
meyebabkan genangan/banjir pada wilayah pesisir yang menggenangi permukiman
serta fungsi lahan lainnya.

Jhon Black mengungkapkan bahwa aksesibilitas merupakan suatu ukuran


kenyamanan atau kemudahan pencapaian lokasi dan hubungannya satu sama lain,
2
mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui transportasi (Leksono dkk, 2010).
Aksesibilitas adalah konsep yang luas dan fleksibel. Dalam kasus ini aksesbilitas yang
dimaksud berhubungan didalam permukiman.

Secara geologis, Desa Bedono yang terletak di Sayung, Demak merupakan


wilayah dengan tingkat abrasi tertinggi di Jawa Tengah. Menurut Badan Koordinasi
Nasional untuk Survei dan Pemetaan pada tahun 2002, kenaikan permukaan laut
relatif 9.27 milimeter per tahun. Relatif, karena peningkatan ini disebabkan oleh
perubahan iklim, itu juga tumpang tindih dengan masalah lain yang salah satunya
adalah penurunan tanah akibat kompresi tanah yang masih labil.

Pertanyaan Penelitian
Bagaimana perwujudtan adaptasi aksesbilitas permukiman ini terhadap abrasi
air laut di Desa Bedono Demak ?

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana adaptasi aksesbilitas permukiman ini terhadap
abrasi air laut di Desa Bedono Demak.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (Creswell, 2008), yang bersifat


deskriptif (Groat & Wang,2002). Deskriptif digunakan untuk me-maparkan suatu
gejala, peristiwa, atau kejadian yang sedang berlangsung. Secara lebih rinci penelitian
ini diarahkan untuk menganalisis masalah karakter fisik kawasan dalam konteks
kawasan permukiman.

3
II. Kajian Teori
A. Permukiman

Permukiman adalah suatu tempat bermukim manusia untuk menunjukan suatu


tujuan tertentu. Apabila dikaji dari segi makna, permukiman berasal dari terjemahan
kata settlements yang mengandung pengertian suatu proses bermukim. Dengan
demikian terlihat jelas bahwa kata permukiman mengandung unsur dimensi waktu
dalam prosesnya. Melalui kajian tersebut terlihat bahwa pengertian permukiman dan
pemukiman berbeda. Kata pemukiman mempunyai makna yang lebih menunjuk
kepada objek, yang dalam hal ini hanya merupakan unit tempat tinggal (hunian).

1. Elemen Permukiman

Permukiman terbentuk atas kesatuan antara manusia dan lingkungan di


sekitarnya. Permukiman merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa elemen
yaitu:

a. Alam.
b. Manusia. Di dalam suatu wilayah permukiman, manusia merupakan pelaku
utama kehidupan, disamping makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan dan
lainnya. Sebagai mahluk yang paling sempurna, dalam kehidupannya manusia
membutuhkan berbagai hal yang dapat menunjang kelangsungan hidupnya,
baik itu kebutuhan biologis (ruang, udara, temperatur dan lain-lain), perasaan
dan persepsi, kebutuhan emosional dan kebutuhan akan nilai – nilai moral.
c. Masyarakat. Masyarakat merupakan kesatuan kelompok orang (keluarga)
dalam suatu permukiman yang membentuk suatu komunitas tertentu. Hal- hal
yang berkaitan dengan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat yang
mendiami suatu wilayah permukiman adalah:
 Kepadatan dan komposisi penduduk
 Kelompok sosial
 Adat dan kebudayaan
 Pengembangan ekonomi
 Pendidikan

4
 Kesehatan
 Hukum dan administrasi
d. Bangunan dan rumah. Bangunan dan rumah merupakan wadah bagi manusia.
Pada prinsipnya bangunan yang dapat digunakan sepanjang operasional
kehidupan manusia bisa dikategorikan sesuai dengan fungsi masing- masing,
yaitu :
 Rumah pelayanan masyarakat (sekolah, rumah sakit, dan lain-lain.
 Fasilitas rekreasi atau hiburan.
 Pusat perbelanjaan
 Industri
 Pusat transportasi
e. Networks. Networks merupakan sistem buatan maupun alami yang
menyediakan fasilitas untuk operasional suatu wilayah permukiman. Untuk
sistem buatan, tingkat pemenuhannya bersifat relatif, dimana antara wilayah
permukiman satu dengan yang lainnya tidak sama. Sistem buatan yang
keberadaannya diperlukan dalam suatu wilayah antara lain:
 Sistem jaringan air bersih
 Sistem jaringan listrik
 Sistem transportasi
 Sistem komunikasi
 Drainese dan air kotor

2. Aksesbilitas
Jhon Black mengatakan bahwa aksesibilitas merupakan suatu ukuran
kenyamanan atau kemudahan pencapaian lokasi dan hubungannya satu sama lain,
mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui transportasi (Leksono dkk, 2010).
Aksesibilitas adalah konsep yang luas dan fleksibel. Kevin Lynch mengatakan
aksesibilitas adalah masalah waktu dan juga tergantung pada daya tarik dan identitas
rute perjalanan (Talav Era, 2012).
Derek Halden Concultancy (DHC, 2000) mencirikan pemahaman aksesibilitas
dalam tiga pertanyaan: siapa/dimana, apa, dan bagaimana.

5
 Siapa atau di mana orang itu berada - aksesibilitas adalah bagian dari
orang atau tempat.
 Apa peluang yang akan dicapai – fungsi tata guna lahan, aktivitas di
dalamnya, atau sumber daya (termasuk orang-orang) yang
memungkinkan orang itu memenuhi kebutuhan mereka.
 Bagaimana: faktor-faktor yang memisahkan orang-orang dengan
tempattempat seperti jarak, waktu, biaya, informasi dan faktor-faktor lain
yang bertindak sebagai pencegah atau hambatan untuk mengakses
suatu tempat.
Venturi (1998) mengatakan bahwa berjalan kaki merupakan mobilitas yang
memberikan dampak positif baik untuk diri sendiri maupun lingkungan. Berjalan kaki
menjaga hubungan langsung dengan kota, misalnya melalui indra, berinteraksi dengan
pedestrian lainnya, berpartisipasi dalam aktivitas perdagangan dan kebudayaan di
sepanjang jalan. Pedestrian sebagai mobilitas menikmati alam, lingkungan arsitektonis
(Talav Era, 2012).
Bintarto (1989) mengatakan salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah
tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan
yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia
pada daerah tersebut maka semakin mudah aksesibilitas yang didapat begitu pula
sebaliknya semakin rendah tingkat aksesibilitas yang didapat maka semakin sulit
daerah itu dijangkau dari daerah lainnya (Mohammed, 2010).

Konsep Aksesbilitas

Aksesibilitas didefinisikan suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan


mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan „mudah‟ atau
„susah‟nya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Setiap lokasi
geografis yang berbeda memiliki tingkat aksesibilitas yang berbeda hal ini disebabkan
perbedaan kegiatan dari masing-masing tata guna lahan.
a. Black (1981) mengatakan aksesibilitas berdasarkan tujuan dan
kelompok sosial, aksesibilitas menyediakan ukuran kinerja antara tata
guna lahan dengan sistem transportasi. Penghuni perumahan lebih

6
tertarik dengan aksesibilitas menuju tempat kerja, sekolah, toko,
pelayanan kesehatan dan tempat rekreasi. (Mohammed, 2010)
b. Indikator Aksesibilitas Tamin (2000) mengatakan indikator aksesibilitas
secara sederhana dapat dinyatakan dengan jarak. Jika suatu tempat
berdekatan dengan tempat lainnya, dikatakan aksesibilitas antara kedua
tempat tersebut tinggi. Sebaliknya jika berjauhan aksesibilitas antara
keduanya rendah. Selain jarak dan waktu, biaya juga merupakan
beberapa indikator aksesibilitas. Apabila antar kedua tempat memiliki
waktu tempuh yang pendek maka dapat dikatakan kedua tempat itu
memiliki aksesibilitas yang tinggi. Biaya juga dapat menunjukkan tingkat
aksesibilitas. Biaya disini dapat merupakan biaya gabungan yang
menggabungkan waktu dan biaya sebagai ukuran untuk hubungan
transportasi (Mohammed, 2010).
c. Aksesibilitas dalam Kebijakan Tata Guna Lahan Perkotaan Edward
(1992) mengatakan aksesibilitas menjadi kunci penting terhadap
kebijakan tata guna lahan dimana tata guna lahan yang memiliki
aksesibilitas tinggi akan mempunyai nilai lahan yang lebih baik. Fakta ini
telah menjadikan pendorong utama bagaimana suatu daerah perkotaan
dikembangkan dan berpengaruh langsung terhadap kebijakan tentang
tata guna lahan saat ini (Mohammed, 2012).
d. Keterkaitan Tata Ruang dengan Transportasi Tamin (2000) mengatakan
kebijakan tata ruang sangat erat kaitannya dengan kebijakan
transportasi. Ruang merupakan kegiatan yang “ditempatkan” di atas
lahan kota, sedangkan transportasi merupakan sistem jaringan yang
secara fisik menghubungkan suatu ruang kegiatan dengan ruang
kegiatan

B. Resiliency
Dalam DRIA International Research Program, 'resilience' dipandang sebagai
model untuk mengantisipasi, mencegah dan persiapan untuk dampak perubahan iklim.
Karena peru-bahan iklim global seperti kenaikan permukaan air laut, banjir, topan,

7
erosi pantai, gelombang badai, penurunan tanah atau kekeringan, maka isu
ketangguhan sekarang tidak hanya tepat waktu namun sangat penting mengingat gen-
tingnya dampak lingkungan tersebut.

Tujuan desain pada DRIA adalah untuk me-ngembalikan kualitas lingkungan


asli ke lingku-ngan perkotaan. Hal ini dilakukan dengan me-rancang tindakan praktis
untuk ADAPTASI terhadap dampak perubahan iklim, melindungi masyarakat dan
mengurangi kerentanan, se-mentara MENCEGAH penyebab pemanasan glo-bal dan
perubahan iklim melalui solusi spesifik yang secara aktif berkontribusi terhadap pemuli-
han lingkungan. DRIA menggunakan definisi Cutter et. Al. 2008 sebagai berikut:

"Ketangguhan adalah kemampuan sistem sosial untuk merespons dan pulih


dari bencana dan mencakup kondisi inheren yang memungkinkan sistem menyerap
dampak dan mengatasi suatu kejadian proses adaptif yang memfasilitasi kemampuan
sistem sosial untuk melakukan, mengatur, mengubah, dan belajar untuk me-nanggapi
ancaman.

100 RC (Resilient Cities Network atau jejaring 100 kota tangguh) mendefinisikan
ketangguhan perkotaan sebagai "kapasitas individu, masyarakat, institusi, bisnis, dan
sistem di dalam kota untuk bertahan hidup, beradaptasi, dan tumbuh tidak peduli
tekanan kronis dan kejutan akut yang mereka alami."

Untuk membangun ketangguhan perkotaan kita perlu melihat sebuah kota


secara holistik: memahami sistem yang membentuk kota dan saling ketergantungan
dan risiko yang mungkin mereka hadapi. Dengan memperkuat struktur kota yang
mendasar dan lebih memahami potensi guncangan dan tekanan yang mungkin
ditimbulkannya, sebuah kota dapat memperbaiki rencana perkembangan dan
kesejahteraan warganya.

Paradigma baru ini terdiri dari pendekatan yang lebih sistemik terhadap strategi
"on-site", sebuah langkah maju dibandingkan dengan program peningkatan atau
penyediaan perumahan, sebuah langkah menuju fokus utama pada struktur perkotaan
dan sistem pendukungnya (Carracedo, 2016).

8
Perancangan permukiman yang tangguh untuk menghadapi ancaman bencana
alam topan dan banjir di Asia menggunakan paradigma yang bergeser dari hard
engineering kembali ke soft engineering seperti metoda tradisional yang dekat dengan
alam. Kedua paradigma tersebut dapat saja dilakukan bersamaan untuk menda-
patkan keunggulan teknologi dan kearifan lokal terhadap lingkungan (Shannon, 2013).

III. Tinjauan Wilayah


Lokasi Penelitian Berada di kecamatan Sayung yang memiliki luas wilayah
sebesar 78,80 km2 yang terdiri dari 20 desa. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah
spanjang 16 km. jarak ke Ibukota Demak 29 km.

Gambar 1 : Peta Administrasi Kecamatan Sayung


(Sumber : Peta RTRW Kabupaten Demak 2011-2031)

Gambar ini menunjukan letak lokasi penelitian di wilyah pesisir pantai utara
Jawa dengan batasan wilyah sebagai berikut :
Batas Utara : Laut Jawa
Batas Selatan : Kecamatan Mranggen
Batas Barat : Kecamatan Karangtengah
Batas Timur : Kota Semarang
9
Kondisi Fisik kecamatan Sayung secara topografi, wilayahnya berada pada
ketinggian antara 0 – 3 meter, sehingga relatif datar. Ketinggian terendah berada di
bagian utara yang berada di pesisir Laut Jawa. Ini menggambarkan bahwa lokasi
penelitian ini termasuk rawan bencana rob.

Permukiman di Kecamatan Sayung berkembang di pusat-pusat desa,


sepanjang jalan arteri Semarang-Kudus dan sepanjang jalan lokal atau lingkungan.
Secara keseluruhan luasan wilayah permukiman Kecamatan Sayung sekitar 800 ha.
Pola sebarannya tidak merata, dan sebagian besarnya terkonsentrasi di bagian
selatan.

Gambar 2 : Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Sayung


(Sumber : Peta RTRW Kabupaten Demak 2011-2031)

Gambar ini menggambarkan wilayah kecamatan Sayung yang besar wilyahnya


terendam air. Radius wilayah yang terendam air kurang lebih sekitar 5 km.

Lokasi penelitian ini tepatnya berada di desa, Bedono, Kecamatan Sayung. Desa
bedono salah satu desa yang langsung bersinggunan dengan laut. Dibandingkan
dengan desa yang lain desa Bedono yang paling berdampak terendam air.

10
IV. Pembahasan
Kondisi Desa Bedono

Pembahsan adaptasi aksesbilitas pada permukiman dapat dilihat dari


perubahan kondisi permukiman dari tahu 2003 sampai 2018.

Gambar 3 : Foto Satelit Desa Bedono Dari Tahun 2003 - 2018


(Sumber : Google earth)

Dari citra goole earth dari tahun 2003 damapi 2018 dapat dilihat adanya
perubahan lingkungan binaan yang awalnya permukiman sekarang sudah berubah
menjadi hutan mangrove dan dan yang dulunya daratan menjadi air laut. Padahal
permukiman menurut (Harmato, 1993) ditentukan beberapa factor yang perlu
dipertimbangkan, dapat

ketersediaan sarana dan prasarana, karena keberadaannya dapat


mengakibatkan berkembangnya suatu wilayah permukiman Sarana-prasarana yang
dipertimbangkan diantaranya adalah jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan air bersih,
drainase, sekolah, sarana kesehatan, dan sarana pendukunng lainnya. Ketersediaan
air bersih merupakan salah satu faktor pertimbangan dalam penentuan dan pemilihan
lokasi permukiman, hal ini disebabkan karena air bersih merupakan salah satu
kebutuhan utama manusia untuk kebutuhan hidup sehari-hari (Vernon, 1985). Untuk

11
mencapai sarana dan prasarana dalam permukiman dibutuhkan aksesbilitas yang
memadai.

Dalam hal ini yang sudah ditemukan dilapangan terkait pencapain ini yaitu :
Peninggian jalan, Pembuatan jembataN, dan pembuatan dermaga di depan rumah.
Dari hal yang sudah dilakukan, salah satunya sudah tidak dapat digunakan segara
maksimal dikarena badan jembatan udah ada yang tenggelam hal ini perlu
diperhatikan mengingat keberdaan jalan cukup penting sebagai bagian dari
aksesbilitas permukiman

Gambar 4 : Foto Satelit


Desa Bedono Tahun 2018
(Sumber : Google earth)

Dari gambar diatas dapat dilihat persebaran letak sarana pencapain yang ada
dilokasi pengamatan.

A. Sarana Jalur
Di desa Bedono terdapat dua sarana pencapaian yaitu jalur darat
sebagai pencapaian utama pada permukiman, transportasi yang bisa
mengakses lokasi adalah sepeda, sepeda motor dan mobil tetapi tidak

12
semua akses jalan daratnya bisa dilalui mobil. Jalur air pencapaiannya
melalui perahu.

Gambar 5 : Foto Kondisi jalan Desa Bedono


(Sumber : Google dan Dokumentasi Pribadi)

Gambar diatas (kanan) merupakan jalur darat yang sudah ditinggikan


oleh pemerintah setempat dan gabara (kiri) merupakan jalan yang
dulunya sudah diperbaiki tetapi kondisinya sekarang sudah rusak
dikarenakan sering tergang air jika kondisi air pasang.

Gambar 6 : Foto Kondisi jalan Desa Bedono


(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar diatas (kanan) awalnya merupakan jalur darat yang sudah


tergenang oleh air dan gambar (kiri) merupakan jalur air yang digunakan

13
warga untuk penacapaian permukiman yag tidak bisa dilalui oleh
transportasi darat.
B. Jembatan
Jembatan ini merupakan penghubung jalan yang dibawahnya terdapat
sungai dan juga akses menuju rumah yang tergenang oleh air.
Transportasi yang bisa melewati jembatan hanya transportasi darat
seperti sepeda motor dan sepeda

Gambar 7 : Foto Kondisi Jembatan Desa Bedono


(Sumber : Dokumentasi Pribadi dan google street)

Gambar diatas memperlihatkan jembatan yang tebuat dari kayu dan dan
bamboo untuk penapaian kedalam rumah tinggal, hanya bisa diakses
pejalan kaki, bisa sepeda motor tetapi tidak layak untuk dialuinya. Dan
terdapat jembatan yang bisa dialaui mobil hanya untuk pencapaian
menuju ke lokasi pengamatan.
C. Dermaga
Dermaga tersebut desediakan di rumah penduduk yang bermata
pencaharian sebagai nelayan. Sehingga tidak semua rumah memiiki
dermaga.

Gambar 8 : Foto Dermaga


(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 14
Gambar diatas memperlihatkan bagaimana warga menyesuaikan kondisi
lingkungan akibat rob dengan membuat dermaga untuk kebutuhan
aksesbilitas dari perahu untuk masuk kedalam rumah dan sekaligus sebagai
tempat penambtan perahu.

Gambar 9 : Foto Kondisi rumah


(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar diatas memperlihatkan penghuni rumah yang tidak bermata


pencaharian sebagi nelayan tetap membuat teras dengan system panggung
untuk pencapaian kedalam rumah jika suatu waktu tergenang air.

15
V. Kesimpulan
Kesimpulan
Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam adaptasi aksesbilitas pada
permukiman yang terpengaruh oleh abrasi air laut.
a. Sarana akses darat maupun air
Dari diskripsi pembahasan yang ada dilapangan mengenai sarana akses darat
maupun air dapat disimpulkan masih ada beberap akses darat yang sering
tergenang air dikarenakan pasang surut air laut dan tidak menuntut kemungkinan
dalam waktu tertentu jalan yang sekarang tidak tergenang air akan tergenang air
akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah. Dengan solusi yang
sudah dilakukan sekarang dengan melakukan peninggian jalan dengan sistem
urgan tidak menjadi solusi yang permanen dikarenakan selalu berlomba dengan
kanaikan muka air dan penurunan muka tanah. Maka dari itu perlu adanya solusi
terhadap penyelesaian masalah akses darat.
Dari akses atau jalur air masyarakat sudah menyesuaikan diri dengan
menggunakan moda transportasi berupa perahu untuk melakukan pencapaian
kesuatu tempat. Tetapi dengan tidak adanya jalur khusus untuk akses perahu
yang aman dan nyaman menyebabkan sebagian orang tidak menggunakan
perahu sebagi sistem transportasinya
b. Jembatan
Sarana jembatan menurut data dan analisa dipembahasan sebelumnya masih
banyak jembatan yang kurang memadai karena sering tergenang air rob
dikarenakan adanya air pasang. Jika tergenang air jembatan tersbut menjadi rata
dengan air jadi warga susah membedakan mana jembatan dan mana sungainya.
Saran unruk pembuatan jembatan tersebut bisa menggunakan sistem apung agar
selalu berda diatas permukaan air sehingga bisa terlihat oleh orang yang mau
melewatinya.
c. Dermaga
Dari deskripsi pembahasan mengenai pembuatan dermaga oleh warga yang
bermatapencaharian sebagai nelayan cukup baik merespon terhadap
penyesuaian permukiman yang terkena dampak rob dan banjir, tetapi masih perlu
adanya usulan desain yang layak dan aman. Dan sistem pembuatan dermaga bisa
diterapkan pada rumah rumah lainnya yang bukan bermata pencaharian sebagai
nelayan untuk merespon aksesbilitas pencapain jika suatu saat semua wilyah
permukiman tergenang oleh air.

16
Tinjauan Pustaka

Carracedo, O., ed. (2016). Ibid./in the same place. Nine Lesson and Six Possibilities
about On-site Resilient Revitalisation Strategies for Informal Neighborhoods. National
University of Singapore.
Cutter, S. L., et.al. (2008). Community And Regional Resilience: Perspectives From
Hazards, Disasters, and Emergency Management. Hazards and Vulnerability
Research Institute. Department of Geography University of South Carolina
Columbia, South Carolina.
Creswell, John W, 2008, Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed,
Edisi Ketiga Pustaka Pelajar, Bandung;
Groat, L., and Wang, D., 2002, Architectural Research Method. John Wiley Son, Inc.
Shannon, K. (2013). Eco-engineering for Water: from Soft to Hard and Back. in Pickett,
S.T.A. et al. (eds). Resilience in Ecology and Urban Design. Linking Theory and
Practice for Sustainable Cities. Dordrecht: Springer.
Kay R and Alder J. 1999. Coastal Planning and Management, E & FN Spon, an imprint
of Routledge, London

Sastra M. Suparno. Buku Perencanaan dan Pengembangan Perumahan.ANDI.


Yogyakarta. 2006. Hlm 37

http://www.100resilientcities.org
http://www.designingresilience.com

17