Anda di halaman 1dari 22

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR
(Stoikiometri Kimia)

Oleh:

Nama : Dzaki Wicaksana


NPM : 240310180041
Hari, Tanggal Praktikum : Jum’at, 29 Maret 2019
Waktu/ Shift : 08.00 – 11.00 WIB / 2
Asisten : 1. Bunga Ega Evania 240310170027
2. Muhamad Rifqi Fajriansyah 240310170030
3. Sasvia Ayu Puzianti 240310170014

LABORATORIUM PENDIDIKAN 2
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Reaksi kimia dapat kita temukan dalam kehidupan kita sehari – hari bahkan
sangat dekat dengan kehidupan kita. Contohnya saat bernapas, membuat api
unggun, memasak, mencerna makanan, dan lain lain. Rekasi kimia adalah proses
terbentuknya zat baru hasil reaksi dari zat asal yang disebut pereaksi. Pada kejadian
diatas pasti ada reaksi kimia yang dapat dihitung dengan perhitungan stioikiometri
kimia.
Stoikiometri adalah ilmu yang menghitung hubungan kuantitatif dari
pereaksi atau reaktan dan produk atau hasil reaksi. Dengan demikian kita dapat
menentukan mana pereaksi yang habis bereaksi dan pereaksi yang bersisa. Dapat
kita hitung juga berapa mol yang bereaksi dari suatu reaksi kimia menggunakan
stoikiometri ini.

Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari dilaksanakannya praktikum ini adalah :
1. Dapat menghitung persamaan reaksi stoikiometri kimia.
2. Megetahui pereaksi pembatas dan pereaksi sisa dalam perhitungan
stoikiometri kimia.
1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus
Adapun tujuan instruksional khusus diantara lain:
1. Menentukan titik maksimum dan minimum dalam stoikiometri.
2. Mempelajari reaksi stoikioetri dan non stoikiometri.
TINJAUAN PUSTAKA

Kimia
Kimia merupakan ilmu yang mempelajari tentang komposisi, struktur, sifat,
dan reaksi suatu materi. Oleh karena itu, konsep merupakan bagian penting dalam
mempelajari ilmu kimia (Timberlake, 2014: 3). Ciri-ciri ilmu kimia menurut
diantaranya adalah sebagian besar konsep-konsep dalam ilmu kimia bersifat
abstrak, berurutan, dan berkembang dengan cepat, sehingga diperlukan pemahaman
yang benar terhadap konsep-konsep kimia (Kean, Middlecamp 1985: 5–8). Konsep
yang lebih mendasar merupakan batu-batu pembangun berfikir bagi terciptanya
gagasan yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-
generalisasi (Dahar, 1988: 95).
Ilmu kimia selalu berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia. Pada dasarnya
reaksi kimia yang terjadi bermacam-macam jenisnya, diantaranya reaksi
penggabungan (kombinasi), penguraian, pembakaran, pendesakan, dan metatesis.
Persamaan reaksi kimia dapat digunakan untuk menggambarkan ciri-ciri jenis-jenis
reaksi kimia tersebut. Persamaan reaksi merupakan gambaran singkat yang
digunakan untuk menunjukkan proses terjadinya reaksi (Chang, 2005: 71).
Stoikiometri merupakan ilmu yang mempelajari kuantitas dari reaktan dan produk
dalam reaksi kimia (Chang, 2005: 74)(Magfiroh, L., Santosa, Dan Suryadharma,
2016).

Larutan
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat
yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat
bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah
larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah pelarut.
Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute.
Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam
dimana solute terlarut (Baroroh, 2004).
NaOH
NaOH ini merupakan zat kimia yang bersifat basa kuat. Dalam perdagangan
lebih dikenal dengan nama caustic soda yang berupa padatan (kripik/kristal)
berwarna putih. Selain dikenal dengan nama caustic soda, NaOH dikenal juga
sebagai soda api, natronloog, kostik putih, ataupun sodium hidrat. Adapun sifat-
sifat dari NaOH ini antara lain :
1. Merupakan kristal putih yang mudah mencair atau luntur, dan dapat
menyerap air dan karbon dioksida (CO2) dari udara, larut dalam air, alcohol
dan gliserol.
2. Bersifat korosif untuk jaringan mata, kulit, dan selaput pernafasan. Oleh
karena itu uap kostik soda yang diijinkan pada di udara hanya sebanyak 2
mg tiap meter kubik udara.
3. Pada suhu yang tinggi akan menguap, dan pada suhu yang sangat tinggi
terpisah menjadi logam Na, zat pembakar dan zat cair.
4. Titik didihnya 318ºC, berat jenisnya 2,13 , titik bekunya 5ºC - 11ºC, titik
lelehnya 97,8 ºC.
5. Tekanan uapnya 1 mm Hg, pH larutan basa kuat. (Surya Indah, 1996: 21).
NaOH ini banyak digunakan pada pembuatan rayon, kertas, sabun,
detergent, proses pengolahan tekstil, dan sebagainya (Pedoman Praktikum Kimia
Tekstil : 8). Dalam proses pemasakan serat alam sellulosa, NaOH ini berfungsi
untuk melarutkan lemak dan kotoran yang terdapat dalam serat sehingga serat
menjadi bersih (Soeparman, 1967: 265). Akan tetapi karena NaOH ini juga bersifat
korosif yang merusak bahan-bahan seperti tekstil, kulit, ataupun kertas, maka dalam
pemakaiannya harus memperhitungkan konsentrasinya (Utari B, 1986:
12)(Widihastuti, 2005).

Pengenceran
Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada suatu
senyawa dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai
yaitu aquadest dalam jumlah tertentu.Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan
berakibat menurunnya kadar kepekatan atautingkat konsentrasi dari senyawa yang
dilarutkan/diencerkan (Brady,1999).
Pereaksi Pembatas
Pereaksi pembatas adalah reaktan yang ada dalam jumlah stoikiometri
terkecil. Reaktan ini membatasi jumlah produk yang dapat dibentuk. Jumlah produk
yang dihasilkan dalam suatu reaksi (hasil sebenanya) mungkin lebih kecil daripada
jumlah maksimum yang mungkin diperoleh (hasil teoritis). Perbandingan keduanya
dinyatakan sebagai persen hasil (Chang, 2005 :81).
Pereaksi pembatas jumlahnya membatasi jumlah pereaksi lain yang dapat
bereaksi. Pereaksi pembatas akan habis sementara pereaksi lainnya masih/sisa.
Perhitungan dalam reaksi ditentukan berdasar pereaksi pembatas. Pereaksi
pembatas dapat ditentukan dengan membandingkan mol : koefisien reaksi masing-
masing pereaksi. Hasilnya yang paling kecil adalah pereaksi pembatas. Mol zat
yang lain dicari dari mol pereaksi pembatas (Susiloatmaja, 2009).

Reaksi Kimia
Reaksi kimia merupakan pusat perhatian dari ilmu kimia, dapat dinyatakan
bahwa reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat-zat baru yaitu hasil reaksi,
terbentuk dari beberapa zat aslinya yang disebut pereaksi. Biasanya suatu reaksi
kimia disertai oleh kejadian-kejadian fisis, seperti perubahan warna, pembentukan
endapan, atau timbulnya gas (Winarni & Ismayani, 2013).

Reaksi Pengendapan
Salah satujenis reaksi yang umumnya berlangsung dalam la-rutan berair
adalah reaksi pengen-dapan (precipitation reaction) yang cirinya adalah
terbentuknya produk yang tak larut, atau endapan. Endapan (Precipitate) adalah
padatan tak larut yang terpisah dalam larutan. Reaksi pengendapan biasanya
melibatkan senyawa-senyawa ionik. (Chang, 2005 : 92).

Stoikiometri
Stoikiometri merupakan ilmu yang menghitung hubungan kuantitatif dari
reaktan dan produk dalam reaksi kimia (Alfian, 2009:1). Bahwa materi stoikiometri
merupakan kajian tentang hubungan-hubungan kuantitatif dalam reaksi kimia
(Winarni & Ismayani, 2013). Pemaknaan lebih luas menjelaskan bahwa
stoikiometri mempelajari aspek kuantitatif rumus dan reaksi kimia, hal tersebut
diperoleh melalui pengukuran massa, volume, jumlah dan sebagainya yang terkait
dengan atom, ion atau rumus kimia serta saling keterkaitannya dalam suatu
mekanisme reaksi kimia (Ernawati, 2015:18).
METODELOGI PENGAMATAN

Alat, Bahan, dan Instrumen


3.1.1 Alat
1. Bulb
2. Gelas kimia 100 ml
3. Labu ukur 100 ml
4. Pipet ukur
5. Tabung reaksi
6. Termometer
3.1.2 Bahan
1. Aquades
2. Larutan CuSO4 1 M
3. Larutan HCL 1 M
4. Larutan NaOH 1 M
5. Tisu
3.1.3 Instrumen
1. Lemari asam
2. Timbangan analitik

Prosedur
3.2.1 Sistem NaOH - HCl
1. 2 ml NaOH 1 M dituangkan kedalam gelas kimia.
2. Suhu NaOH diukur menggunakan termometer.
3. 6 ml HCl dituangkan kedalam gelas ukur yang lain lalu diukur suhunya.
4. Digabungkan larutan NaOH dengan HCl ke dalam gelas kimia, lalu diukur
suhu campurannya.
5. Dilakukan kembali langkah itu pada 3 ml NaOH dan 5 ml HCl, 4 ml NaOH
dan 4 ml HCl, 5 ml NaOH dan 5 ml HCl, lalu 6 ml NaOH dan 2 ml HCl.
6. Dibuat grafik antara volume senyawa dan suhu berdasarkan tabel data
berikut ini, lalu tentukan titik suhu maksimum/minimumnya:
Vol. NaOH Vol. HCl TA TC ΔT
2 ml 6 ml
3 ml 5 ml
4 ml 4 ml
5 ml 3 ml
6 ml 2 ml
TA = T awal (Nilai suhu rata-rata dari suhu awal NaOH dan HCl)
TC = T campuran (Nilai suhu setelah NaOH dan HCldicampurkan)
ΔT = TC - TA
3.2.2 Sistem NaOH – CuSO4
1. 2 ml NaOH 1 M dituangkan kedalam gelas kimia.
2. Suhu NaOH diukur menggunakan termometer.
3. 6 ml CuSO4 dituangkan kedalam gelas ukur yang lain lalu diukur suhunya.
4. Digabungkan larutan NaOH dengan CuSO4 ke dalam gelas kimia, lalu
diukur suhu campurannya.
5. Dilakukan kembali langkah itu pada 3 ml NaOH dan 5 ml CuSO4, 4 ml
NaOH dan 4 ml CuSO4, 5 ml NaOH dan 3 ml CuSO4, lalu 6 ml NaOH dan
2 ml CuSO4.
6. Dibuat grafik antara perbandingan volume asam basa (sumbu x) dan
perubahan suhu (sumbu y) berdasarkan tabel data berikut ini, lalu tentukan
titik suhu maksimum/minimumnya:
Vol. NaOH Vol. CuSO4 TA TC ΔT
2 ml 6 ml
3 ml 5 ml
4 ml 4 ml
5 ml 3 ml
6 ml 2 ml
TA = T awal (Nilai suhu rata-rata dari suhu awal NaOH dan CuSO4)
TC = T campuran (Nilai suhu setelah NaOH dan CuSO4 dicampurkan)
ΔT = TC - TA
HASIL PENGAMATAN

Sistem NaOH – HCl


Tabel pengamatan sistem NaOH – HCl
No. Vol. NaOH Vol. HCl TA TC ΔT
1. 2 ml 6 ml 32 ℃ 34 ℃ 2℃
2. 3 ml 5 ml 31,5 ℃ 35 ℃ 3,5 ℃
3. 4 ml 4 ml 32 ℃ 36,5 ℃ 4,5 ℃
4. 5 ml 3 ml 32,5 ℃ 32 ℃ -0,5 ℃
5. 6 ml 2 ml 29,25 ℃ 32,5 ℃ 3,25 ℃
TA = T awal (Nilai suhu rata-rata dari suhu awal NaOH dan HCl)
TC = T campuran (Nilai suhu setelah NaOH dan HCl dicampurkan)
ΔT = TC - TA
* Suhu NaOH dan HCl dalam beaker glass = 26 ℃, HCl = 26 ℃
Perhitungan Sistem NaOH – HCl
(𝑁𝑎𝑂𝐻+𝐻𝐶𝑙) ℃
TA = =𝑋℃
2

1. 2 ml NaOH – 6 ml HCl
(33+31) ℃
TA = = 32 ℃
2

ΔT = TC – TA = (34 – 32) ℃ = 2 ℃
Mencari mol NaOH 1 M dan mol HCl 1 M, menggunakan rumus molaritas
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀= × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol HCl 1 M dengan


volume 2 ml volume 6 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 2 𝑚𝑙 36,5 6 𝑚𝑙
80 219
𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1000
= 0,08 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,219
1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,08 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,219
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,002 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,006
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 36,5

NaOH + HCl → NaCl + H2O


Mula – mula 0,002 0,006 - -
Bereaksi 0,002 0,002 0,002 0,002
Sisa 0 0,004 0,002 0,002

2. 3 ml NaOH – 5 ml HCl
(32+31) ℃
TA = 2
= 31,5 ℃
ΔT = TC – TA = (35 – 31,5) ℃ = 3,5 ℃
Mencari mol NaOH 1 M dan mol HCl 1 M, menggunakan rumus molaritas
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀= × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol HCl 1 M dengan


volume 3 ml volume 5 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 3 𝑚𝑙 36,5 5 𝑚𝑙
120 182,5
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,12 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,1825
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,12 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,1825
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,003 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,005
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 36,5

NaOH + HCl → NaCl + H2O


Mula – mula 0,003 0,005 - -
Bereaksi 0,003 0,003 0,003 0,003
Sisa 0 0,002 0,003 0,003

3. 4 ml NaOH – 4 ml HCl
(31+33) ℃
TA = = 32 ℃
2

ΔT = TC – TA = (36,5 – 32) ℃ = 4,5 ℃


Mencari mol NaOH 1 M dan mol HCl 1 M, menggunakan rumus molaritas
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀= × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol HCl 1 M dengan


volume 4 ml volume 4 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 4 𝑚𝑙 36,5 4 𝑚𝑙
160 146
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,16 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,146
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,16 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,146
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,004 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,004
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 36,5

NaOH + HCl → NaCl + H2O


Mula – mula 0,004 0,004 - -
Bereaksi 0,004 0,004 0,004 0,004
Sisa 0 0 0,004 0,004

4. 5 ml NaOH – 3 ml HCl
(32+33) ℃
TA = = 32,5 ℃
2

ΔT = TC – TA = (32 – 32,5) ℃ = -0,5 ℃


Mencari mol NaOH 1 M dan mol HCl 1 M, menggunakan rumus molaritas
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀= × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol HCl 1 M dengan


volume 5 ml volume 3 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= × 3 𝑚𝑙
40 5 𝑚𝑙 36,5
200 109,5
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,2
1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,1095
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,2 1000
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,1095
𝑀𝑟 40 𝑚𝑜𝑙 = 𝑀𝑟 = 36,5 = 0,003

NaOH + HCl → NaCl + H2O


Mula – mula 0,005 0,003 - -
Bereaksi 0,003 0,003 0,003 0,003
Sisa 0,002 0 0,003 0,003

5. 6 ml NaOH – 2 ml HCl
(30+28,5) ℃
TA = = 29,25 ℃
2

ΔT = TC – TA = (32,5 – 29,25) ℃ = 3,25 ℃


Mencari mol NaOH 1 M dan mol HCl 1 M, menggunakan rumus molaritas
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀= × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol HCl 1 M dengan


volume 6 ml volume 2 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 6 𝑚𝑙 36,5 2 𝑚𝑙
240 73
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,24 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,073
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,24 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,073
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,006 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,002
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 36,5

NaOH + HCl → NaCl + H2O


Mula – mula 0,006 0,002 - -
Bereaksi 0,002 0,002 0,002 0,002
Sisa 0,004 0 0,002 0,002
Grafik NaOH - HCl
37 36,5

36
35
35
34
Temperatur

34
33 32,5
32
32
31
30
29
2 ml NaOH + 6 ml 3 ml NaOH + 5 ml 4 ml NaOH + 4 ml 5 ml NaOH + 3 ml 6 ml NaOH + 2 ml
HCl HCl HCl HCl HCl
Volume

Sistem NaOH – CuSO4


Tabel pengamatan sistem NaOH – HCl
No. Vol. NaOH Vol. CuSO4 TA TC ΔT
1. 2 ml 6 ml 33 ℃ 34 ℃ 1℃
2. 3 ml 5 ml 33 ℃ 30,5 ℃ -2,5 ℃
3. 4 ml 4 ml 31,5 ℃ 32 ℃ 0,5 ℃
4. 5 ml 3 ml 30 ℃ 31 ℃ 1℃
5. 6 ml 2 ml 27,25 ℃ 29 ℃ 1,75 ℃
TA = T awal (Nilai suhu rata-rata dari suhu awal NaOH dan CuSO4)
TC = T campuran (Nilai suhu setelah NaOH dan CuSO4 dicampurkan)
ΔT = TC - TA
* Suhu NaOH dan CuSO4 dalam beaker glass = 26 ℃, CuSO4 = 38 ℃
Perhitungan Sistem NaOH – CuSO4
(𝑁𝑎𝑂𝐻+𝐶𝑢𝑆𝑂4) ℃
TA = =𝑋℃
2

1. 2 ml NaOH – 6 ml CuSO4
(32+34) ℃
TA = = 33 ℃
2

ΔT = TC – TA = (34 – 33) ℃ = 1 ℃
Mencari mol NaOH 1 M dan mol CuSO4 1 M, menggunakan rumus
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
molaritas 𝑀 = × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙
Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol CuSO4 1 M dengan
volume 2 ml volume 6 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 2 𝑚𝑙 160 6 𝑚𝑙
80 960
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,08 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,96
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,08 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,96
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,002 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,006
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 160

2NaOH + CuSO4 → Na2SO4 + Cu(OH)2


Mula – mula 0,002 0,006 - -
Bereaksi 0,002 0,001 0,002 0,002
Sisa 0 0,005 0,002 0,002

2. 3 ml NaOH – 5 ml CuSO4
(32+34) ℃
TA = = 33 ℃
2

ΔT = TC – TA = (30,5 – 33) ℃ = -2,5 ℃


Mencari mol NaOH 1 M dan mol CuSO4 1 M, menggunakan rumus
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
molaritas 𝑀 = × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol CuSO4 1 M dengan


volume 3 ml volume 5 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 3 𝑚𝑙 160 5 𝑚𝑙
120 800
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,12 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,8
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,12 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,8
𝑚𝑜𝑙 = 𝑀𝑟
= 40
= 0,003 𝑚𝑜𝑙 = 𝑀𝑟
= 160
= 0,005

2NaOH + CuSO4 → Na2SO4 + Cu(OH)2


Mula – mula 0,003 0,005 - -
Bereaksi 0,003 0,015 0,003 0,003
Sisa 0 0,045 0,003 0,003

3. 4 ml NaOH – 4 ml CuSO4
(32+31) ℃
TA = = 31,5 ℃
2

ΔT = TC – TA = (32 – 31,5) ℃ = 0,5 ℃


Mencari mol NaOH 1 M dan mol CuSO4 1 M, menggunakan rumus
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
molaritas 𝑀 = × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙
Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol CuSO4 1 M dengan
volume 4 ml volume 4 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 4 𝑚𝑙 160 4 𝑚𝑙
160 640
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,16 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,64
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,16 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,64
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,004 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,004
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 160

2NaOH + CuSO4 → Na2SO4 + Cu(OH)2


Mula – mula 0,004 0,004 - -
Bereaksi 0,004 0,002 0,004 0,004
Sisa 0 0,002 0,004 0,004

4. 5 ml NaOH – 3 ml CuSO4
(32+28) ℃
TA = = 30 ℃
2

ΔT = TC – TA = (31 – 30) ℃ = 1 ℃
Mencari mol NaOH 1 M dan mol CuSO4 1 M, menggunakan rumus
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
molaritas 𝑀 = × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙

Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol CuSO4 1 M dengan


volume 5 ml volume 3 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 5 𝑚𝑙 160 3 𝑚𝑙
200 480
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,2 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,48
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,2 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,48
𝑚𝑜𝑙 = 𝑀𝑟
= 40
= 0,005 𝑚𝑜𝑙 = 𝑀𝑟
= 160
= 0,003

2NaOH + CuSO4 → Na2SO4 + Cu(OH)2


Mula – mula 0,005 0,003 - -
Bereaksi 0,005 0,0025 0,0025 0,0025
Sisa 0 0,0005 0,0025 0,0025

5. 6 ml NaOH – 2 ml CuSO4
(27+27,5) ℃
TA = = 27,25 ℃
2

ΔT = TC – TA = (29 – 27,25) ℃ = 1,75 ℃


Mencari mol NaOH 1 M dan mol CuSO4 1 M, menggunakan rumus
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
molaritas 𝑀 = × :
𝑀𝑟 𝑚𝑙
Mencari mol NaOH 1 M dengan Mencari mol CuSO4 1 M dengan
volume 6 ml volume 2 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙 𝑀 = 𝑀𝑟 × 𝑚𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000 𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= × 1= ×
40 6 𝑚𝑙 160 2 𝑚𝑙
240 320
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,24 𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 0,32
1000 1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 0,24 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,32
𝑚𝑜𝑙 = = = 0,006 𝑚𝑜𝑙 = = = 0,002
𝑀𝑟 40 𝑀𝑟 160

2NaOH + CuSO4 → Na2SO4 + Cu(OH)2


Mula – mula 0,006 0,002 - -
Bereaksi 0,004 0,002 0,002 0,002
Sisa 0,002 0 0,002 0,002

Grafik NaOH - CuSO4


35 34
34
33 32
32
Temperatur

31
30,5
31
30 29
29
28
27
26
2 ml NaOH + 6 ml 3 ml NaOH + 5 ml 4 ml NaOH + 4 ml 5 ml NaOH + 3 ml 6 ml NaOH + 2 ml
CuSO4 CuSO4 CuSO4 CuSO4 CuSO4
Volume
PEMBAHASAN

Sistem NaOH - HCl


Terdapat pereaksi pembatas dan pereaksi sisa dalam perhitungan reaksi
pada sistem NaOH – HCl
Pereaksi Pereaksi
No. Reaksi Jenis Reaksi
Pembatas Sisa
1. 2 ml NaOH – 6 ml HCl NaOH HCl Non stoikiometri
2. 3 ml NaOH – 5 ml HCl NaOH HCl Non stoikiometri
3. 4 ml NaOH – 4 ml HCl - - Stoikiometri
4. 5 ml NaOH – 3 ml HCl HCl NaOH Non stoikiometri
5. 6 ml NaOH – 2 ml HCl HCl NaOH Non stoikiometri
Pada reaksi ini ditemukan dimana pereaksinya tepat habis bereaksi dan ada
pereaksi yang bersisa. Ketika pereaksinya tepat habis bereaksi maka dapat
dikatakan reaksi tersebut termasuk stoikiometri dan jika salah satu pereaksi terdapat
sisa atau tidak tepat habis bereaksi maka dapat dikatakan reaksi tersebut non
stoikiometri. Titik maksimum dan titik minimum stoikiometri dapat kita ketahui
jika terjadi reaksi stoikiometri artinya, jika semua pereaksi tepat habis. Praktikum
kali ini terdapat satu reaksi stoikiometri yaitu pada reaksi 4 ml NaOH + 4 ml HCl
dengan persamaan reaksi NaOH + HCl → NaCl + H2O maka hanya didapat titik
maksimum saja pada 36,5 ˚C artinya titik tersebut berada pada koordinat (36,5 , 4
ml NaOH – 4 ml HCl).
Pada sistem ini terjadi perubahan suhu yang disebabkan oleh beberapa
faktor. Faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan suhu adalah cara
memegang tabung reaksi yang berisi larutan NaOH 1 M dan larutan HCl 1 M.
Bagian bawah tabung reaksi digenggam oleh praktikan sehingga larutan menjadi
terasa hangat. Faktor lain yang dapat menyebabkan suhunya berubah adalah
termometer yang praktikan gunakan untuk mengukur suhu larutan di dalam tabung
reaksi menyentuh bagian dinding atau dasar tabung reaksi sehingga suhu yang
diukur berbeda beda. Semua kegiatan pencampuran larutan NaOH dan HCl harus
dilakukan di dalam lemari asam karena larutan yang bersifat korosif. Jas lab, sarung
tangan lateks, dan masker pun harus digunakan oleh praktikan.

Sistem NaOH - CuS𝐎𝟒


Terdapat pereaksi pembatas dan pereaksi sisa dalam perhitungan reaksi
pada sistem NaOH – CuSO4
Pereaksi Pereaksi
No. Reaksi Jenis Reaksi
Pembatas Sisa
1. 2 ml NaOH – 6 ml CuSO4 NaOH CuSO4 Non stoikiometri
2. 3 ml NaOH – 5 ml CuSO4 NaOH CuSO4 Non stoikiometri
3. 4 ml NaOH – 4 ml CuSO4 NaOH CuSO4 Non stoikiometri
4. 5 ml NaOH – 3 ml CuSO4 NaOH CuSO4 Non stoikiometri
5. 6 ml NaOH – 2 ml CuSO4 CuSO4 NaOH Non stoikiometri
Pada rekasi ini tidak ditemukan reaksi yang tepat habis atau disebut
stoikiometri. Reaksi yang terjadi pada reaksi NaOH – CuSO4 adalah reaksi yang
menghasilkan pereaksi sisa atau disebut reaksi non stoikiometri. Ketika reaksinya
adalah reaksi non stoikiometri maka tidak ada titik maksimum dan titik minimum.
Saat NaOH dan CuSO4 dicampurkan reaksi yang terjadi adalah :
2NaOH + CuSO4 → Na2SO4 + Cu(OH)2
Pada saat direaksikan terbentuk endapan atau gumpalan pada tabung reaksi.
Endapan tersebut adalah Cu(OH)2. Reaksi yang menghasilkan (OH-) akan sulit
larut. Endapan (Precipitate) adalah padatan tak larut yang terpisah dalam larutan.
Reaksi pengendapan biasanya melibatkan senyawa-senyawa ionik. (Chang, 2005 :
92). Endapan yang dihasilkan pun memiliki warna yang berbeda – beda tergantung
dari jumlah volume NaOH dan CuSO4 yang ditambahkan. Semakin banyak volume
NaOH maka, warna endapan akan semakin gelap.

Membuat Larutan CuSO4 1 M


Sebelum membuat larutan CuSO4 1 M dengan volume 50 ml harus
dilakukan perhitungan dulu dengan menggunakan rumus molaritas tujuannya
adalah agar kita mengetahui berapa massa yang dibutuhkan untuk membuat 1 M
larutan CuSO4
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
𝑀= ×
𝑀𝑟 𝑚𝑙
*Mr CuSO4 = 160
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= ×
160 50
𝑔𝑟𝑎𝑚 = 8
Delapan gram CuSO4 dilarutkan oleh akuades sebanyak 50 ml agar dihasilkan
larutan CuSO4 1 M.
Pada percobaan pertama terjadi kesalahan dalam menambahkan volume
akuades. Volume akuades yang harus ditambahkan adalah 50 ml tetapi praktikan
menambahkan akuades dengan volume 100 ml. Larutan yang dibuat menjadi
larutan CuSO4 0,5 M sebanyak 100 ml.
Namun terdapat kesalahan perhitungan dalam pembuatan larutan CuSO4 ini
karena larutan CuSO4 dibuat dari padatan CuSO4.5H2O jadi, Mr disini adalah Mr
dari CuSO4.5H2O yaitu 250 g/mol
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
1= ×
250 50
12500
𝑔𝑟𝑎𝑚 = = 12,5
1000
Maka, massa yang harus digunakan untuk membuat larutan CuSO4 adalah 12,5
gram. Kelasahan ini terjadi karena ketidaktahuan dan ketidaktelitian praktikan
dalam membuat dan memperhitungkan komponen untuk membuat larutan.

Membuat Larutan HCl 1 M


Sebelum membuat larutan HCl 1 M dengan volume 100 ml harus dilakukan
perhitungan terlebih dulu dengan menggunakan rumus molaritas dengan tujuan
mengetahui konsentrasi HCl sebelum diencerkan
𝜌 × % × 10
𝑀=
𝑀𝑟
M = Molaritas
𝜌 = Massa jenis ( HCl = 1,19 g/ml)
% = Kadar (HCl = 37 %)
Mr HCl = 36,5 g/mol
1,19 × 37 × 10
𝑀= = 12,06
36,5
Pembuatan larutan HCl 1 M dilakukan dengan menggunakan rumus pengenceran
𝑚1 𝑣1 = 𝑚2 𝑣2 dimana “m” disini di definisikan sebagai molaritas suatu zat.
𝑚1 𝑣1 = 𝑚2 𝑣2
12.06 M 𝑣1 = 1 M × 100 ml
𝑣1 = 8,3 ml
Didapat 𝑣1 = 8,3 ml, ini adalah volume HCl 12,06 M yang dibutuhkan untuk
membuat HCl 1 M maka, volume aquades yang ditambahkan kedalam 8,3 ml
larutan HCl 12.06 M agar dihasilkan larutan HCl 1 M dengan volume 100 ml adalah
100 ml – 8,3 ml = 91,7 ml. Kendala yang dialami oleh praktikan adalah saat
memindahkan larutan HCl 12,06 M dengan menggunakan pipet ukur karena bulb
yang digunakan pada pipet ukur dipasangkan terlalu dalam. HCl bersifat korosif
dan toksik maka, semua aktivitas pembuatan larutan HCl 1 M dilakukan di dalam
lemari asam dan praktikan harus memakai alat pelindung seperti jas lab, sarung
tangan karet, masker, dan kaca mata.

Mengencerkan NaOH (padat)


Sebelum melakukan pengenceran NaOH hal yang perlu dan sangat penting
untuk dilakukan adalah mencari massa atau bobot NaOH padat yang harus
digunakan untuk membuat larutan 1 M NaOH sebanyak 100 ml terlebih dahulu.
Akan didapatkan massa NaOH sebanyak 4 gram. Timbanglah NaOH padat pada
timbangan analitik. Dipastikan saat menyimpan gelas beker ke atas timbangan
analitik, timbangan menunjukan angka nol dengan menekan tombol tare. Cara
memasukan NaOH padat ke dalam geals beker adalah dengan menggunakan
spatula.
Saat NaOH dicampur dengan H2 O akan terjadi reaksi eksoterm dimana
sistem melepaskan kalor ke lingkungan sehingga akan menghasilkan panas. Maka
dari itu gelas beker sebelumnya perlu diisi dengan aquades 1/3 dari volume total
yang akan dibuat. Cara lainnya untuk mencegah pecahnya gelas beker akibat panas
yang dihasilkan oleh NaOH adalah dengan meleakan gelas beker di dalam baskom
yang berisi air dingin.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, terdapat beberapa
kesimpulan di antaranya:
1. Terjadi reaksi stoikiometri pada reaksi 4ml NaOH + 4 ml HCl.
2. Endapan yang terjadi pada reaksi NaOH + CuSO4 adalah Cu(OH)2.
3. Semakin banyak NaOH dalam sistem NaOH – CuSO4 maka semakin pekat
(gelap) warna larutan campurannya.
4. Mengetahui pereaksi pembatas dan pereaksi sisa pada reaksi NaOH + HCl
dan reaksi NaOH + CuSO4.
Saran
Saran yang dapat saya ajukan adalah
1. Diharapkan kepada mahasiswa yang akan melakukan praktikum agar
datang tepat waktu atau sebelum praktikum dimulai agar praktikum berjalan
sesuai keinginan dan tidak ada penyampaian materi yang tertinggal.
2. Praktikan diharapkan untuk berhati – hati dan bijak dalam menggunakan
alat – alat dan bahan kimia yang ada pada laboratorium dan senantiasa
menjaga kebersihan alat dan laboratorium.
3. Praktikan diharapkan untuk lebih teliti lagi dalam menghitung dan membuat
suatu larutan agar tidak terjadi kesalahan yang serupa dengan kesalahan
yang ada di Laporan Praktikum Stoikiometri Kimia ini.
DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Z. 2009. Kimia Dasar. Medan : USU Press.


Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung Mangkurat.
Banjarbaru.
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.
Chang, Raymond. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta: Erlangga, 2005.
Dahar, R.W. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Ernawati, D. (2015). Upaya Peningkatan Prestasi Belajar dan Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa Kelas X MIA 7 dengan Menggunakan Metode Pembelajaran
Problem Solving pada Materi Stoikiometri di SMA Negeri 1 Sukoharjo
Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 4; 4, Hal 17-26.
Magfiroh, L., Santosa, Dan Suryadharma, I. B. 2016. Identifikasi Tingkat
Pemahaman Konsep Stoikiometri Pada Pereaksi Pembatas Dalam Jenis-
Jenis Reaksi Kimia Siswa Kelas X MIA Negeri 4 Malang. Pembelajaran
Kimia (J-PEK), 01(2), 32–37.
Middlecamp, C. & Kean, E. 1985. Panduan Belajar Kimia Dasar. Jakarta: PT.
Gramedia.
Susiloatmaja, R. 2009. 7. Stoikiometri, 23–24.
Timberlake, K. C & Timberlake, W. 2014. Basic Chemistry (4th ed). Los Angeles.
: Pearson Education, Inc.
Widihastuti. 2005. PENGARUH KONSENTRASI NaOH PADA PROSES
PEMASAKAN SERAT DAUN NANAS NON BUAH (agave)
TERHADAP SIFAT-SIFAT FISIS SERAT, 1–16.
Winarni, S., & Ismayani, A. 2013. KESALAHAN KONSEP MATERI
STOIKIOMETRI YANG DIALAMI SISWA SMA, XIV(1), 43–59.
LAMPIRAN

Gambar 1. Pengukuran suhu Gambar 2. Pengambilan 5 ml NaOH


NaOH dalam lemari asam menggunakan pipet ukur (kesalahan tidak di
dalam lemari asam)

Gambar 3. Pengukuran suhu Gambar 4. Tabel pengamatan Shift 2


CuSO4