Anda di halaman 1dari 11

Laporan Resmi

Elektronika Terintegrasi

Praktikum 5
Difference Amplifier

Nama kelompok:

Deny Elfredo T P27838117025


Ahmad Kamil Solihin P27838117021

Jurusan Teknik Elektromedik


Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan
Surabaya
2018
PRAKTIKUM V
DIFFERENCE AMPLIFIER

● Tujuan
1. Mengetahui fungsi dari rangkaian op-amp sebagai difference amplifier.
2. Merencanakan dan membandingkan kerja dari rangkaian op-amp sebagai
difference amplfier.

● Alat dan Bahan


1. Resistor
2. LED
3. Op Amp
4. CatuDaya
5. Osiloskop
6. Generator Sinyal

● Dasar Teori
Penguat beda (Differential Amplifier) sering disebut juga penguat diferensial.
Penguat diferential menggunakan Operasional Amplifier (Op-Amp) akan
menghasilkan tegangan output yang merupakan selisih dari masing-masing
penguatan pada input terminal positif (Non-inverting) dan negatifnya (Inverting).
Dengan kata lain, besar penguatan penguat diferensial merupakan selisih
antara nilai penguatan penguat tak membalik dengan penguat membalik. Jika
tegangan input Inverting lebih besar daripada tegangan pada input Non-
inverting, maka tegangan output akan menjadi (-). Sedangkan apabila input
tegangan Non-inverting lebih besar daripada tegangan Inverting, maka
tegangan output akan menjadi (+).

Gambar 1. Rangkaian Differential Amplifier

Apabila R1 = R3 dan R2 = R4, maka Vo dapat ditentukan menggnakan rumus:


𝑅2
Vo = 𝑅1 (V2 – V1)
I. Diagram Skematik

II. Penjelasan Rangkaian


Rangkaian di atas merupakan salah satu contoh rangkaian difference
amplfier menggunakan operational amplifier (Op-Amp) tipe 741. Dengan input
inverting dan non inverting diberi tegangan DC, maka tegangan input berasal
dari rangkaian pembagi tegangan. Besarnya penguatan tegangan output dari
rangkaian difference amplfier di atas dapat dituliskan dalam persamaan
matematis sebagai berikut.

III. Perhitungan
𝑅𝑔𝑟𝑜𝑢𝑛𝑑
V1 = 𝑥 𝑉𝑐𝑐
𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
33𝑘+68𝑘
= 100𝑘+33𝑘+68𝑘 𝑥 5

= 2,5 V
𝑅𝑔𝑟𝑜𝑢𝑛𝑑
V2 = 𝑥 𝑉𝑐𝑐
𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
68𝑘
= 100𝑘+33𝑘+68𝑘 𝑥 5

= 1,7 V

Saat VA~>V2 dan VB~>V1

𝑅2
Vo = 𝑅1 x (VB – VA)
100𝑘
= x (2,5 – 1,7)
47𝑘

= 1,7 V
Saat VA~>V1 dan VB~>V2

𝑅2
Vo = 𝑅1 x (VB – VA)
100𝑘
= x (1,7 – 2,5)
47𝑘

= - 1,7 V

 Langkah Percobaan
1. Rangkai rangkaian yang ditunjuk dalam diagram skematik dan pasang catu
daya.
2. Pertama-tama hubungkan resistor input non inverting (R3) pada titik V1 dan
resistor inverting (R1) pada titik V2 di rangkai sebagai resistor pembagi.
3. Dengan osiloskop, ukur tegangan input DC V1 (VB) dan V2 (VA) catat
hasilnya.
V1 = VB =………..V
V2 = VA =………..V

Kemudian ambil bedanya (VB-VA) dan catat hasilnya :

VB-VA =………… V

4. Sekarang dengan osiloskop, ukur tegangan output Vo dan catat hasilnya.


Vo =…………..V

5. Sekarang balik hubungan input sehingga R1 dihubungkan dengan titik V1,


dan R3 dengan titik V2. Ulangi langkah 3 dan 4 catat hasilnya.

V1 = VA = ……….V
V2 = VB = ……….V
VB – VA =………..V
Vo =……….V

6. Putuskan catu daya dan ubah resistor R1 dan R3 menjadi 33KΩ. Ulangi
percobaan ini dari langkah 1 sampai langkah 5.
7. Dari persamaan yang diberikan dalam dasar-dasar desain, bandingkan
tegangan output yang dihitung dari persamaan ini dengan tegangan output
yang diukur.
R1=R3= 47K Saat VA~>V2 Saat VA~>V1
VB~>V1 VB~>V2
VA
Perhitungan VB
Vo
VA
Pengukuran VB
Vo

● Hasil dan Analisa


 Pada Saat VA=V2 dan VB=V1

Ground

Gambar 2. Input VA=V2=1,5V


Volt/div =1V
Time/div = 0,5 ms

Ground

Gambar 3. Input VB=V1=2,2V


Volt/div =2V
Time/div = 0,5 ms

Ground

Gambar 4. Output = 1,2V


Volt/div =1V
Time/div = 0,5 ms
 Pada Saat VA=V1 dan VB=V2

Ground

Gambar 5. Input V1=VA=2,2V


Volt/div =2V
Time/div = 0,5 ms

Ground

Gambar 6. Input V2=VB=1,5V


Volt/div =1V
Time/div = 0,5 ms

Ground

Gambar 7. Output=-1,2V
Volt/div =1V
Time/div = 0,5 ms
Tabel 1. Tabel Hasil Percobaan
R1=R3= 47K Saat VA~>V2 Saat VA~>V1
VB~>V1 VB~>V2
VA 1,7 V 2,5 V
Perhitungan VB 2,5 V 1,7 V
Vo 2,1 V -2,1 V

VA 1,5 V 2,3 V
Diukur VB 2,2 V 1,5 V
Vo 1,2V -1,2 V

Grafik 1. Grafik perhitungan dan pengukuran

Chart Title
3

0
VA VB Vo
-1

-2

-3

Perhitungan V1=Va, V2=VB pengukuranV1=Va,V2=VB


perhitungan V1=VB,V2=Va Pengukuran V1=Vb,V2=Va

Perhitungan dan pengukuran berbeda karena nilai toleransi resistor dan konsumsi IC.

● Tugas
1. Bagaimana jika kedua inputan diberi tegangan berbeda (tegangan AC dan
tegangan DC) misal tegangan AC 2Vpp dan tegangan DC 1VDC?

 Kondisi tidak di balik VA= 2vpp dan VB = 1 Vdc dengan R1=R3= 47KΩ.
Keterangan :
Time/div : 0,5 ms Volt/div : 2 volt

: Input AC : Ground

: input DC : Output
Gambar 8. Input VA=2Vpp dan VB=1Vdc

𝑅2
Vo = 𝑅1 x (VB – VA)
100𝑘
= x (1 VDC – 2 Vpp)
47𝑘

= 2,1VDC – 4,2Vpp
2,1 VDC menjadi base line

 Kondisi dibalik Va = 1 Vdc dan Vb = 2Vpp Vdc dengan R1=R3=47KΩ.


Keterangan :
Time/div : 0,5 ms Volt/div : 2 volt

: Input DC : Ground

: Input AC : Output

Gambar 9. Input VA=1Vdc dan VB=2Vpp


𝑅2
Vo = 𝑅1 x (VB – VA)
100𝑘
= x (2 Vpp – 1 VDC)
47𝑘

= 4,2Vpp – 2,1VDC
–2,1 VDC menjadi base line

𝑅2
Pembesaran akan terjadi sesuai dikali dengan tegangan AC yang masuk,
𝑅1
tidak dikurangin tegangan DC yang masuk, tegangan DC hanya menjadi base
line.

2. Putuskan catu daya dan ubah resistor R1 dan R3 menjadi 33KΩ. Ulangi
percobaan ini dari langkah 1 sampai langkah 5.

 Kondisi VA ke V1 dan VB ke V2 dengan resistor 33kΩ.


Keterangan :
Time/div : 1 ms Volt/div : 5 volt

: Input Va : Ground

: Output

Gambar 10 Input VA=V1 dan Vb=V2


𝑅2
Vo = 𝑅1 x (VB – VA)
100𝑘
= x (2 Vpp – 1VDC)
33𝑘

= 6Vpp – 3VDC
-3 VDC sebagai base line.
 Kondisi VA ke V2 dan VB ke V1 dengan resistor 33kΩ

Gambar 11 Input VA=V2 dan VB=V1


𝑅2
Vo = 𝑅1 x (VB – VA)
100𝑘
= x (1VDC–2 Vpp)
33𝑘

= 3VDC – 6Vpp
3 VDC sebagai base line.

3. Dari persamaan yang diberikan dalam dasar-dasar desain, bandingkan


tegangan output yang dihitung dari persamaan ini dengan tegangan output
yang diukur.
Tabel 2. Tabel Hasil Percobaan

R1=R3= 33K Saat VA~>V2 Saat VA~>V1


VB~>V1 VB~>V2
VA 1V 2 Vpp
Perhitungan
VB 2 Vpp 1V
6,06 V -6,06 V
Vo
VA 1V 2 Vpp
Pengukuran VB
2 Vpp 1V
Vo
6V -6V
Grafik 2. Grafik perhitungan dan pengukuran

Chart Title
8

0
VA VB Vo
-2

-4

-6

-8

Perhitungan V1=VB,V2=Va Pengukuran saat V1=Vb,V2=Va


Perhitungan saat V1=VA,V2=VB Pengukuran saat V1=VA,V2=VB

Analisa
Bila pada percobaan sebelumnya hanya salah satu input yang diberi
tegangan, pada percobaan kali ini kedua input diberi tegangan, dengan resistor
yang disusun membentuk rangkaian difrence amplifier, tujuanya agar kita
mengerti bagai mana cara kerja rangkaian difrence amplifier. Secara garis besar
difrence amplifier adalah selisih penguatan antara non inverting amplifier dan
inverting amplifier, pada percobaan kali ini tegangan input melalui rangkaian
resistor yang berfungsi sebagai pembagian tegangan, agar kita mengetahui bila
tegangan pada input inverting lebih besar dari pada non inverting maka
gelombang Output fasanya akan negatif. Perhitungan tidak sesuai dengan
pengukuran dikarenakan nilai toleransi dari tiap resistornya dan konsumsi IC.

● Kesimpulan
Difrence amplifier berfungsi sebagai penguat tegangan dengan penguatan
yakni selisih antara penguatan non inverting dan penguatan inverting. Namun
bila tegangan input inverting lebih besar dibanding input non invertingnya maka
outputnya akan negatif. Bila kedua input diberi tegangan yang berbeda AC dan
DC, maka tegangan outputnya bukan hasil pengurangan antaran tegangan AC
dengan DC, melainkan tegangan AC yang diperbesar namun tegangan DC
menjadi base line.

Anda mungkin juga menyukai