Anda di halaman 1dari 18

PROBLEM SET MEET-7 DASAR-DASAR FISIKA KUANTUM

MAKALAH
(Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Fisika
Kuantum semester VI)
Dosen I : Dr. Hj. Ade Yeti Nuryantini, M.Si.
Dosen II : Pina Pitriana, S.Si., M.Si.

Disusun Oleh:

Mulyanah Robatul A 1162070051

Nurfauziyah 1162070052

Santika Purnama 1162070064

Siti Asya Nurmalita 1162070067

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
makalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan
kepada Rasulullah SAW yang telah membukakan cahaya pengetahuan dan kebaikan kepada
seluruh umat manusia di mukabumi.
Makalah yang berjudul Problem Set Dasar-Dasar Fisika Kuantum yang meliputi
permasalahan Persamaan Gelombang, Persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟𝑜̈ 𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 dan Sifat-Sifat Fungsi
Gelombang ini di susun dan diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur mata kuliah
Fisika Kuantum. Dalam menyusun makalah ini tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun
penulis sadari bahwa kelancaran dalam menyusun makalah ini tidak lain karena kerja sama dari
kelompok penulis, sehingga segala sesuatu hambatan bisa teratasi, dan dengan mengucap syukur
alhamdulillah penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis makalah ini tentu saja menyadari masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam
menulis. Oleh karena itu, saran dan masukan untuk makalah ini penulis harapkan sebagai upaya
memperbaiki kesalahan dalam penulisan makalah. Mudah-mudahan makalah ini dapat
memberikan banyak manfaat bagi semua pihak. Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

Bandung, 4 Maret 2019

Penyusun

2
PROBLEM SET MEET 7
Jawabanlah Pertanyaan Ini Dengan Benar:
1. Fungsi-fungsi berikut:  (x)  e x,  (x)  e2,  (x)  e3x didefinisikan dalam interval
0<x<. Tunjukkan bahwa ketiga fungsi itu secara kuadratis adalah integrable dalam
interval tersebut. Normalisasilah masing-masing fungsi itu. Dengan menggunakan metoda
Schmidt tentukanlah set ortonormal dari fungsi-fungsi itu
2. Dengan persamaantentukanlah a dan (x) jika dikenakan syarat batas (0)= (L)=0.
Tentukanlah (x) yang dinormalisasi.
3. Sebuah partikel bermassa m bergerak sepanjang sumbu-x tanpa pengaruh sesuatu gaya.
Tuliskanlah persamaan Schrodinger untuk partikel itu, lalu tentukan fungsi gelombang dan
energinya.
𝑑
4. Buktikan [𝑑𝑥 , 𝑥 𝑛 ] = 𝑛𝑥 𝑛−1
𝑑2
5. Tunjukkan bahwa a =exp(-x/2) adalah fungsi eigen dari operator 𝑑𝑥2 − 𝑥 2
́
𝐻𝑡 ́
𝐸𝑡
6. Buktikan, jika Ĥ (x)  E (x) maka 𝑒 −𝑖 ℎ 𝜓(𝑥 ) = 𝑒 −𝑖 ℎ 𝜓(𝑥)
2 1
7. Bentuk matrik suatu operator adalah( ) Hitunglah harga-harga eigennya dan tentukan
1 2
fungsi eigen bersangkutan

3
JAWABAN
1. Normalisasi fungsi
𝜓 (x) = e-x, 𝜓 (x) = e-2, 𝜓 (x) = e-3x interval 0<x<
Syarat normalisasi

∫−∞ 𝜓 ∗ (x) 𝜓 (x) dx
1) 𝜓 (x) = e-x
∞ 1
∫−∞ 𝜓 ∗ (x) 𝜓 (x) dx = ∫0 𝐴𝑒 −𝑥 . 𝐴𝑒 𝑥 dx
1
= A2 ∫0 𝑒 0 dx
1
= A2 ∫0 1 dx
= A2 |𝑥 |10 = 1 jika normalisasi
= A2 (1- 0 ) = 1
= A2 1 = 1
1
= A2 = 1

Jadi 𝜓 (x) = e-x


Ternormalisasi A = √1 = 1
2) 𝜓 (x) = e-2
∞ 1
∫−∞ 𝜓 ∗ (x) 𝜓 (x) dx = ∫0 𝐴𝑒 −2 . 𝐴𝑒 2 dx
1
= A2 ∫0 𝑒 0 dx
1
= A2 ∫0 1 dx
= A2 |𝑥 |10 = 1 jika normalisasi
= A2 (1- 0 ) = 1
= A2 1 = 1
A=1
Jadi 𝜓 (x) = e-2
Ternormalisasi
3) 𝜓 (x) = e-3x
∞ 1
∫−∞ 𝜓∗ (x) 𝜓 (x) dx = ∫0 𝐴𝑒 −2 . 𝐴𝑒 2 dx
1
= A2 ∫0 𝑒 0 dx

4
1
= A2 ∫0 1 dx
= A2 |𝑥 |10 = 1 jika normalisasi
= A2 (1- 0 ) = 1
= A2 1 = 1
A=1
Jadi 𝜓 (x) = e-3x
Ternormalisasi

d 2
2. 2
 a  0   ( x)  Ae i ax
 Be i ax
dx

𝑑2 𝜓
Persamaan Schrodinger + 𝑘 2𝜓 = 0
𝑑𝑥 2

Solusi umumnya

𝜓𝑥 = 𝐴 cos 𝑘𝑥 + 𝐵 sin 𝑘𝑥

Syarat batas:
Di 𝑥 = 0
𝜓𝑥 = 𝐴 cos 𝑘𝑥 + 𝐵 sin 𝑘𝑥

𝜓(0) = 𝐴 cos 𝑘(0) + 𝐵 sin 𝑘(0)

𝜓(0) = 𝐴. 1 + 𝐵. 0

𝜓(0) = 𝐴

0=𝐴

𝜓𝑥 = 𝐴 cos 𝑘𝑥 + 𝐵 sin 𝑘𝑥

𝜓(𝑥) = 0 cos 𝑘𝑥 + 𝐵 sin 𝑘𝑥

𝜓(𝑥) = 0 + 𝐵 sin 𝑘𝑥

𝜓(𝑥) = 𝐵 sin 𝑘𝑥

Syarat batas:
x=L

5
𝜓𝑥 = 𝐴 cos 𝑘𝑥 + 𝐵 sin 𝑘𝑥

𝜓(𝐿) = 𝐴 cos 𝑘(𝐿) + 𝐵 sin 𝑘(𝐿)

𝜓(𝐿) = 0 + 𝐵 sin 𝑘𝐿

𝜓(𝐿) = 𝐵 sin 𝑘𝐿

𝜓(𝐿) = 𝐵 sin 𝐿𝑘

Dimana 𝑘𝐿 = 𝑛π
𝑛𝜋
𝑘=
𝐿

N = 1, 2, 3,….

𝜓𝑥 = 𝐵 sin 𝑘𝑥
𝑛𝜋
𝜓𝑥 = 𝐵 sin 𝑥
𝐿

Normalisasi

∫ 𝜓 ∗ (𝑥 )𝜓 (𝑥 ) = 1
−∞

𝐿
𝑛𝜋 ∗ 𝑛𝜋
∫ (𝐵 sin 𝑥) 𝐵 sin 𝑑𝑥 = 1
𝐿 𝐿
0

𝐿
= 𝐵2 ( )
2

𝐿
𝐵=√
2

𝜓𝑛 (𝑥) = 𝐵𝜓(𝑥)

𝐿 𝑛𝜋
𝜓𝑛 (𝑥) = √ sin 𝑥
2 𝐿

Dasarnya

6
𝐿 𝜋
𝜓1 (𝑥) = √ sin (𝑥)
2 𝐿

3. Adalah Persamaan Schrodinger Untuk Partikel dalam kotak 1 D


∞ ∞
Potensial V → ∞
v=0 m di x = 0 dan x = L
x=0 x=L 𝜑 (x) = 0 untuk x ≤ 0 dan x ≥ 0
𝜕𝜓 ℏ2 𝜕 2 𝜓
iℏ = − 2𝑚 + v𝜓
𝜕𝑧 𝜕𝑥 2
𝜕𝜓 ℏ2 𝜕 2 𝜓
iℏ =−
𝜕𝑧 2𝑚 𝜕𝑥 2
ℏ2 𝜕 2 𝜓
E𝜓 = −
2𝑚 𝜕𝑥 2
2𝑚𝐸 𝑑2 𝜓
= − 𝑑𝑥2
ℏ2
𝑑2 𝜓 2𝑚𝐸
+ 𝜓=0
𝑑𝑥 2 ℏ2
𝑑2 𝜓
+ k2𝜓 = 0
𝑑𝑥 2
𝑑2 𝑥
𝑑𝑡 2
+ k2 x = 0
2𝑚𝐸
k2 = ℏ2

persamaan diferensial Schrodinger


𝑑2 𝜓
+ k2𝜓 = 0 →0<x<l
𝑑𝑥 2

Solusi umum
𝜓 (x) = A cos (kx) + B sin (kx)
𝜓 (x) = A cos (kx) + B sin (kx)
𝜓 (x) = 0 (cos (kx)) + B sin (kx)
𝜓 (x) = B sin (kx)
x= l
𝜓 (l) = B sin (kl) = 0
kl = n𝜋

7
𝑛𝜋
k= 𝑙

Untuk x = 0
𝜓 (0) = A cos (0) + B sin (0)
= A.1 + 0
𝜓 (0) = 0 = A
A=0
Sifat-sifat suatu fungsi gelombang

Untyk fungsi gelombang partikel yang tidak bergantung waktu, 𝜓 (x). |𝜓(𝑥)|2 dx disebut
peluang menemukan partikel di antara x dan x+dx. |𝜓(𝑥)|2 rapat peluang partikel berada
di x

Total peluang untuk menemukan partikel itu disepanjang sumbu-x adalah:


∞ ∞
∫−∞ 𝜓 (x)𝜓(x) dx = ∫−∞|𝜓(𝑥)|2 dx = 1 𝜓 adalah konjugasi dari 𝜓

Fungsi 𝜓 (x) yang memenuhi persamaan diatas disebut fungsi yang dinormalisasi,
sedangkan disebut rapat peluang.

Suatu fungsi gelombang partikel harus memiliki kelakuan yang baik, yakni:

 tidak sama dengan nol dan bernilai tunggal, artinya untuk suatu harga x, 𝜓(x)
 fungsi dan turunannya kontinu di semua harga x dan
 fungsi (harga mutlaknya) tetap terbatas (finite) untuk x menuju ±∞
Arti fisis dari fungsi gelombang
Di dalam persoalan sesungguhnya Hamiltonian suatu-sistem diketahui atau diberikan.
Mengacu pada persamaan Schrodinger yang merupakan persamaan diferensial (parsial).
Persoalannya sekarang adalah mencari solusi 𝜓 dari persamaan tersebut. Jadi, Fungsi
gelombang 𝜓 merupakan kuantitas teoritis fundamental di dalam mekanika kuantum.
Meskipun demikian, seandainya fungsi gelombang 𝜓 sudah diperoleh, masih tersisa satu
pertanyaan mendasar:
“Fungsi gelombang merupakan suatu deskripsi dari kejadian yang mungkin, tetapi-
kejadian apa? Atau, apa yang didiskripsikan oleh fungsi gelombang?
Singkatnya, apa arti fisis dari nilai 𝜓 (𝑟⃗,t) di setiap posisi 𝑟⃗ pada saat t?

8
Jawaban pertanyaan diatas diberikan oleh Max Born pada tahun 1926 yang menyatakan
bahwa 𝜓 (𝑟⃗,t) itu sendiri tidak mempunyai arti fisis apa-apa tetapi
𝜓 (𝑟⃗,t) 𝜓 (𝑟⃗,t) = |𝜓(𝑟⃗,t)|2 = P (𝑟⃗,t)
Diinterpretasikan sebagai kerapatan probabilitas. Secara lebih spesifik
P (𝑟⃗,t) dv = |𝜓(𝑟⃗,t)|2 dv
Menyatakan kemungkinan untuk mendapat partikel yang dideskripsikan oleh 𝜓(𝑟⃗,t) berada
dalam elemen volume dv di sekitar posisi 𝑟⃗ pada saat t. Di dalam kasus satu dimensi
P(x,t) = |𝜓(𝑟⃗,t)|2 dx
Menyatakan besar kemungkinan partikel yang dideskripsikan oleh 𝜓 (x,t) berada diantara
x dan x+dx pada saat t.
Jika partikel (memang) ada di dalam ruang, interpretasi di atas mensyaratkan

∫𝑣 𝑃( 𝑟⃗,t) dv = 1
Dengan integrasi dilakukan ke seluruh ruangan V. Fungsi gelombang yang memenuhi
syarat dikatakan sebagai fungsi gelombang ternormalisasi
(Agus Purwanto, 2005)

Persamaan Schrodinger

Adalah persamaan gelombang untuk partikel seperti elektron

𝜕2 𝜓 1 𝜕2 𝜓
+ 𝑣2 =0
𝜕𝑥 2 𝜕𝑡 2

𝜓 (x,t) = 𝜑 (x) F (t)

Y1 = F (t) ~ 𝑒 −𝑖𝜔𝑡

𝜕2 𝜑 𝜔2 2𝜋
+ =
𝜕𝑥 2 𝑉2 𝜆

Partikel sebagai gelombang



𝜆 = (de Broglie)
𝑝

p = momentum partikel
𝜔 2𝜋 𝑝 ℎ
= p = ℏ dimana ℏ = 2𝜋
𝑉 ℎ

Persamaan gelombang untuk partikel

9
𝑑2 𝜑 𝑝2
+ ℏ2 𝜑 = 0
𝑑𝑥 2

1
p2 = (mv)2 = 2 mv2. 2m = 2 mK

m = massa partikel

K = energy kinetic

v = kecepatan partikel

ingat : E = k + v

dimana

E = energy partikel

v = energy potensialnya

ℏ2 𝑑2 𝜑
-2𝑚 = (E-V) 𝜑
𝑑𝑥 2

ℏ2 𝑑2 𝜑
-2𝑚 + 𝑣𝜑 = E 𝜑
𝑑𝑥 2

ℏ2 𝑑2
(-2𝑚 𝑑𝑥2 + V) 𝜑 = E 𝜑 (operator)

ℏ2 𝑑2
̂=−
Sebutlah 𝐻 +V
2𝑚 𝑑𝑚2

Hamiltonian partikel atom

Persamaan Schrodinger yang tidak bergantung waktu

̂𝜑=E𝜑
𝐻

Atau

ℏ2 𝑑2
(− 2𝑚 𝑑𝑚2 + V) 𝜑 = E 𝜑

ℏ2 𝑑2 𝜑
− 2𝑚 𝑑𝑚2 = (E-V) 𝜑

𝑑2 𝜑 2𝑚
= (E-V) 𝜑
𝑑𝑚2 ℏ2

𝑑2 𝜑 2𝑚
+ (E-V) 𝜑 = 0
𝑑𝑚2 ℏ2

10
𝑑
4. [𝑑𝑥 , 𝑥 𝑛 ] = 𝑛𝑥 𝑛−1
𝑑 𝑑 𝑑
[ , 𝑥] = 𝑥−𝑥
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑑 𝑑 𝑑
[ , 𝑥] Ψ = [ 𝑥 − 𝑥 ] Ψ
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑑 𝑑 𝑑Ψ
[ , 𝑥] Ψ = (𝑥, Ψ) − 𝑥
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑑 𝑑𝑥 𝑑Ψ 𝑑Ψ
[ , 𝑥] Ψ = Ψ +𝑥 −𝑥
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑑 𝑑𝑥
[ , 𝑥] Ψ = Ψ
𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑑
[ , 𝑥] Ψ = 1
𝑑𝑥
𝑛=1
𝑑 𝑑
[ , 𝑥 𝑛 ] = ∑ 𝑥 𝑗 [ , 𝑥] 𝑥 𝑛−𝑗−1
𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑗=0
𝑛=1
𝑑 𝑛
[ , 𝑥 ] = ∑ 𝑥 𝑗 . 𝑥 𝑛−𝑗−1
𝑑𝑥
𝑗=0
𝑑
[ , 𝑥 𝑛 ] = 𝑥 0 . 𝑥 𝑛−1 + 𝑥 1 . 𝑥 𝑛−2 + 𝑥 2 . 𝑥 𝑛−3 + ⋯ + 𝑥 𝑛−1 . 𝑥 0
𝑑𝑥
𝑑
[ , 𝑥 𝑛 ] = 𝑥 𝑛−1 + 𝑥 𝑛−1 + 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑥 𝑛−1
𝑑𝑥
𝑑
[ , 𝑥 𝑛 ] = 𝑛𝑥 𝑛−1
𝑑𝑥

5. Adalah
x2
∂2 ∂2
(∂x2 − x 2 ) Ψ = (∂x2 − x 2 ) e− 2

x2 x2
∂2 −
= ∂x2 e 2 − x 2 e− 2

x x
𝑑 𝑑
= 𝑑𝑥 (𝑑𝑥 e−2 ) − x 2 e−2

𝑥 x2
𝑑 1
= (− e−2 ) − x 2 e− 2
𝑑𝑥 2

Misalkan:
1
u = −2

11
u´ = 0
𝑥
v = e−2
𝑥
1
v´= − 2 e−2

sehingga:
x x
𝑑 1
= 𝑑𝑥 (− 2 e−2 ) − x 2 e−2

x
= u´v + v´u −x 2 e−2
x 𝑥
1 1
= (0) e−2 + (− e−2 ) −
2 2

x
x2
1−2
= −4 + x 2 e− 2

x
1
= (4 − 𝑥 2 ) e−2

1
= (4 − 𝑥 2 ) Ψ

x
∂2 1
Ψ = e−2 adalah fungsi eigen dari operator ( − x 2 ) dengan nilai eigen − 𝑥 2
∂x2 4

6. Jika momentum partikel adalah 𝑝, maka panjang gelombangnya adalah 𝜆 = ℎ/𝑝. Karena
kecepatan 𝑣 = 𝑓𝜆 maka
ħ𝜔
𝑣= (2.12)
𝑝

Dimana ℏ = ℎ/2𝜋 dan 𝜔 = 2𝜋𝑓. Dengan demikian maka persamaan gelombang (2.5)
menjadi
𝑑2 𝜑(𝑥) 𝑝2
+ ħ 2 𝜑 (𝑥 ) = 0 (2.13)
𝑑𝑥 2

Tetapi, karena energi kinetik partikel adalah


𝑝2
𝐾= (2.14)
2𝑚

maka persamaan gelombang (2.13) menjadi


𝑑2 𝜑(𝑥) 2𝑚𝐾
𝑑𝑥 2
+ ħ2
𝜑 (𝑥 ) = 0 (2.15)

Jika energi potensial yang dimiliki partikel adalah 𝑉, maka energi partikel itu adalah
𝐸 =𝐾+𝑉 (2.16)

12
Dengan demikian maka persamaan gelombang (2.15) menjadi
𝑑2 𝜑(𝑥) 2𝑚
+ (𝐸 − 𝑉 )𝜑 (𝑥 ) = 0 (2.17)
𝑑𝑥 2 ħ2

Inilah yang disebut persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 yang tidak bergantung waktu.


Jelaslahbahwa persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 adalah persamaan gelombang untuk satu partikel.
(Siregar, 2018)
Untuk 3-dimensi persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 adalah:
2𝑚
∇2 𝜑(𝑥, 𝑦, 𝑧) + (𝐸 − 𝑉 )𝜑(𝑥, 𝑦, 𝑧) = 0 (2.18)
ħ2

Dimana
𝜕2 𝜕2 𝜕2
∇2 = + +
𝜕𝑥 2 𝜕𝑦 2 𝜕𝑧 2
Dari persamaan (2.17) dan (2.18) jelas bahwa persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 adalah
persamaan gelombang bagi partikel. Solusi persamaanitu adalah energi 𝐸 dan fungsi
gelombang 𝜑(𝑥). Untuk menyelesaikan persamaan itu diperlukan syarat batas bagi fungsi
gelombang 𝜑(𝑥). Syarat batas itu bisa ditentukan jika bentuk energi potensial 𝑉 diketahui
sebelumnya. (Siregar, 2018)
Persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 (2.17) untuk 1-dimensi dapat dituliskan sebagai berikut:
ħ2 𝑑 2
[−
2𝑚 𝑑𝑥 2
+ 𝑉 (𝑥)] 𝜑(𝑥 ) = 𝐸 𝜑(𝑥 ) (2.19)

Untuk itu nyatakanlah


2 2
̂ = − ħ 𝑑 2 + 𝑉 (𝑥 )
𝐻 (2.20)
2𝑚 𝑑𝑥

Sehingga persamaan (2.19) menjadi


̂ 𝜑 (𝑥 ) = 𝐸 𝜑 (𝑥 )
𝐻 (2.21)
̂disebut 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙𝑡𝑜𝑛𝑖𝑎𝑛 partikel yang merupakan operator energi dari partikel. Untuk
𝐻
kasus 3-dimensi. Hamiltonian itu adalah
ħ2 2
̂=−
𝐻 ∇ + 𝑉(𝑥, 𝑦, 𝑧)
2𝑚
Hamiltonian di atas hanya bergantung pada ruang, tidak bergantung waktu. Jadi ia
̂ pada fungsi
bersifat stasioner. Dalam persamaan (2.21) terlihat bahwa operasi operator 𝐻
𝜑(𝑥) menghasilkan energi 𝐸 tanpa mengubah fungsi 𝜑(𝑥). Persamaan seperti itu disebut
̂ dengan fungsi
persamaan nilai eigen, di mana 𝐸 adalah nilai eigen energi dari operator 𝐻

13
ℎ2
eigen 𝜑(𝑥). Analogi dengan fisika klasik, 𝐸 = 𝐾 + 𝑉, maka − (2𝑚) 𝜕 2 /𝜕𝑥 2 adalah

operator energi kinetik dan 𝑉 adalah operator energi potensial dari partikel. (Siregar, 2018)
Berdasarkan persamaan (2.6a), mengingat 𝜔 = 𝐸/ℏ fungsi gelombang partikel bisa
dituliskan seperti
𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝜑(𝑥 )𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ
̂ dioperasikan pada fungsi lengkap itu maka
Jika operator 𝐻
̂ 𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝐻
𝐻 ̂ 𝜑(𝑥 )𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ
𝜕
= 𝐸𝜑(𝑥 )𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ = 𝑖ħ 𝛹 (𝑥, 𝑡)
𝜕𝑡
Persamaan ini
𝜕
̂ 𝛹 (𝑥, 𝑡)
𝑖ħ 𝜕𝑡 𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝐻 (2.22)

disebut persamaan 𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 yang bergantung waktu.


Dengan fungsi gelombang 𝜑(𝑥) dapat dinyatakan kerapatan peluang untuk
menemukan partikel itu di posisi 𝑥 dalam rentang 𝑑𝑥, yakni |𝜑(𝑥)|2 𝑑𝑥 sehingga berlaku
−∞
∫+∞ |𝜑(𝑥)|2 𝑑𝑥 = 1 (2.23)

Persamaan (2.23) itu menyatakan fungsi gelombang partikel yang dinormalisasi.


Dalam persamaan itu |𝜑(𝑥 )|2 = 𝜑 ∗ (𝑥 )𝜑(𝑥 ) = |𝜑(𝑥 )|2 dimana 𝜑 ∗ (𝑥 ) adalah konjugat
dari 𝜑(𝑥 ). (Siregar, 2018)
Contoh 1:
Di antara fungsi-fungsi 𝐴 𝑠𝑖𝑛 𝑎𝑥, 𝐵 𝑐𝑜𝑠 𝑏𝑥 dan 𝐶𝑒 𝑎𝑥 yang manakah fungsi eigen dari
𝑑 𝑑2
operator 𝑑𝑥 dan 𝑑𝑥2 , dan tentukan nilai eigen bersangkutan.
𝑑
(A sin 𝑎𝑥 ) = 𝑎 (A cos 𝑎𝑥 )
𝑑𝑥
𝑑
(B cos 𝑏𝑥 ) = −𝑏 (B cos 𝑏𝑥 )
𝑑𝑥
𝑑
(𝐶𝑒 𝑎𝑥 ) = 𝛼 (𝐶𝑒 𝑎𝑥 )
𝑑𝑥
𝑑
Jadi, 𝐴 𝑠𝑖𝑛 𝑎𝑥 dan 𝐵 𝑐𝑜𝑠 𝑏𝑥 bukan fungsi eigen dari operator
𝑑𝑥

𝑑2
(𝐴 sin 𝑎𝑥) = − 𝑎2 (𝐴 sin 𝑎𝑥)
𝑑𝑥 2

14
𝑑2
(𝐵 cos 𝑏𝑥) = − 𝑏2 (𝐵 cos 𝑏𝑥)
𝑑𝑥 2
𝑑2
2
(𝐶𝑒 𝑎𝑥 ) = 𝑎2 (𝐶𝑒 𝑎𝑥 )
𝑑𝑥
𝑑2
Jelas bahwa 𝐴 𝑠𝑖𝑛 𝑎𝑥, 𝐵 𝑐𝑜𝑠 𝑏𝑥 dan 𝐶𝑒 𝑎𝑥 adalah fungsi-fungsi eigen dari operator 𝑑𝑥 2

masing-masing dengan nilai eigen −𝑎2 , −𝑏2 dan 𝑎2 . Tinjaulah kembali persamaan
𝑆𝑐ℎ𝑟ö𝑑𝑖𝑛𝑔𝑒𝑟 yang bergantung waktu. Misalkan
𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝐹̂ (𝑡) 𝜑 (𝑥)

Substitusi ke persamaan (2.22) menghasilkan:


𝑑𝐹̂
𝑖ħ 𝜑(𝑥 ) = 𝐹̂ (𝑡)𝜑(𝑥)
𝑑𝑡

Sehingga
𝑑𝐹̂
𝑖ħ ̂ 𝐹̂
=𝐻
𝑑𝑡

Dan selanjutnya diperoleh 𝐹̂ (𝑡) = 𝑒 −𝑖𝐻̂𝑡/ℏ. Jadi, 𝜓(𝑥, 𝑡) adalah


𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ 𝜑(𝑥 ) (2.24)

Dengan menguraikan operator eksponensial di atas,


𝐻̂2𝑡 2
̂𝑡
𝐻 2
𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ 𝜑(𝑥 ) = (1 − + ħ − ⋯ ) 𝜑 (𝑥 )
ħ 2!

𝐸2 𝑡 2
𝑖𝐸𝑡 2
= (1 − + ħ − ⋯ ) 𝜑(𝑥 ) = 𝜑(𝑥 )𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ
ħ 2!

Jadi, bentuk lengkap dari fungsi gelombang 𝜓(𝑥, 𝑡) adalah


𝛹 (𝑥, 𝑡) = 𝜑(𝑥 ). 𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ħ (2.25)

Dari persamaan di atas dapat dinyatakan bahwa keadaan suatu partikel dengan energi
𝐸 yang tak bergantung waktu adalah keadaan stasioner, dan fungsi gelombang.𝜓(𝑥, 𝑡) =
𝑖𝐸𝑡
𝜑(𝑥)𝑒𝑥𝑡(− ).di sebut keadaan stasioner. Fungsi gelombang 𝜓(𝑥, 𝑡) di sebut juga fungsi

keadaan. (Siregar, 2018)

15
2 1
7. Adalah bentuk matrik suatu operator adalah ( ). Hitunglah harga-harga eigennya dan
1 2
tentukan fungsi eigen bersangkutan. Misalkan vektor eigen adalah (𝐶𝐶1 ) dan harga eigen a
2
adalah
2 1 𝐶1 2−𝑎 1
[ ] (𝐶 ) = a (𝐶𝐶1 ) → [ ] (𝐶1 )
1 2 2 2 1 2 − 𝑎 𝐶2
Untuk itu berlaku
2−𝑎 1
[ ] = 0 → (2 − 𝑎) (2 − 𝑎) – 1 = 0
1 2−𝑎
4 -2𝑎 - 2𝑎 + 𝑎2 – 1 = 0
4 - 4𝑎 + 𝑎2 – 1 = 0
𝑎2 - 4𝑎 + 3 = 0
−𝑏±√𝑏2−4𝑎𝑐
X12 =
2𝑎

−(−4)±√(−4)2 −4.1.3
= 2.1
4±√16−12
= 2
4±√4
= 2
4±2
= 2
4±2
𝑎1 = 2
6
𝑎1 = 2 - 3
4−2
𝑎2 = 2
2
𝑎2 = 2 = 1

Untuk 𝑎1 = 3
3−𝑎 1
[ ] (𝐶1 ) = 0
1 2 − 3 𝐶2
−1 1 𝐶1
[ ]( )=0
1 −1 𝐶2
-C1 + C2 = 0 → ambil satu saja
C1 - C2 = 0
Dengan normalisasi
C12 + C22 = 1

16
C12 + (C12) = 1
2 C12 = 1
1
C12 = 2

C12 = 0,5

C1 = √0,5
C1 = 0,707
Karena C1= C2
Maka C1 = 0,707
C2 = 0,707
Jadi untuk 𝑎1 = 3
𝜓 = 0,707 𝜑1+ 0,707 𝜑2
Untuk 𝑎2 = 1
2−1 1
[ ] (𝐶𝐶1 ) = 0
1 2−1 2
1 1 𝐶1
[ ]( )=0
1 1 𝐶2
C1 + C2 = 0 → ambil satu saja
C1 + C2 = 0
C1 = - C2
C2 = - C1
Normalisasi
C12 + C22 = 1
C12 + (-C2)2 = 1
C12 + C12 = 1
2 C12 = 1
1
C12 = 2

C12 = 0,5

C1 = √0,5
C1 = 0,707
Karena

17
C2 = - C1
C2 = - 0,707
Jadi untuk
𝑎2 = 1
𝜓 = 0,707 𝜑1+ 0,707 𝜑2
= 0,707 𝜑1+ 0,707 𝜑2

18

Anda mungkin juga menyukai