Anda di halaman 1dari 20

CRITICAL BOOK REVIEW

KEPEMIMPINAN
Dosen Pengampu
(Dr.Dede Ruslan, MS.)

ORGANISASI, KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ADMINISTRASI


(Prof.Dr.Sondang P)
Dan
KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
(Prof. Dr. H. Handari Nawawi dan Dra. H. M. Martini Handari)

DISUSUN
O
L
E
H
JOSEF GUNAWAN PURBA
7183240016

PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN T.A 2018/2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan keadaan baik.
Walaupun terkadang banyak halangan dan benturan yang dialami oleh penulis pada saat
pembuatan Critical Book Review ini.
Critical Book Review dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah kepemimpinanan.
Dalam hal ini penulis mengkritik buku yang ditulis oleh Prof.Dr.Sondang P.Siagian dengan
judul Organisasi, Kepemimpinanan Dan Perilaku Admnistrasi , dengan buku pembanding
yang ditulis oleh
Dalam hal ini penulis tidak bermaksud mencari kesalahan buku-buku tersebut, namun
hanya mencoba untuk membedah isi buku.
.Meski dalam penyusunan Critical Book Review ini, penulis telah berusaha dengan
maksimal, namun mungkin saja terdapat kesalah-kesalahan baik dari segi penulisan,
kepadatan materi maupun penggunaan kata yang mungkin tidak sesuai, maka dari itu penulis
meminta kritik dan saran pembaca makalah kami ini. Kami berharap nantinya Critical Book
Review ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Akhir kata penulis mengucapkan
terima kasih.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB I IDENTITAS BUKU. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB II RINGKASAN BUKU. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Buku Utama. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Buku Pembanding. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB III PEMBAHASAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Keunggulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kekurangan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB IV PENUTUP. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
A.Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
B.Saran. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

3
BAB 1
IDENTITAS BUKU

BUKU UTAMA
Judul buku : Organisasi, Kepemimpinanan Dan Perilaku Admnistrasi
Pengarang : Prof.Dr.Sondang P.Siagian
Penerbit : CV. HAJI MASAGUNG
Tahun terbit : 2012
Tebal buku : XII + 243 Halaman
Bahasa teks : Bahasa Indonesia
ISBN : 979-412-018-9

Buku Pembanding
Judul Buku : Kepemimpinan Yang Efektif
Penulis : Prof. Dr. H. Handari Nawawi dan Dra. H. M. Martini Handari
Penerbit : Gadjah Mada University Press
Cetakan : Kelima
Jumlah Halaman : 236
Bahasa Teks : Bahasa Indonesia
ISBN : 979-4220-271-1

4
BAB II
RINGKASAN BUKU
BUKU UTAMA
BAB 1
PENDAHULUAN
DARI judul buku ini, yakni Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi,
terlihat bahwa ada tiga hal utama yang oleh penulisakan dicoba dibahas. Yang pertama
menyangkut organisasi, baik sebagai wadah satuan kerja yang terikat secara formal dalam
hirarkhiwewenang dan tanggung jawab maupun sebagai proses kerjasama antar manusia.
Yang kedua adalah berupa hal pokok yang menyangkut kepemimpinan sebagai suatu
kemampuan untuk mempengaruhi peri-laku orang lain yang lazim disebut bawahan, demi
peningkatan prestasi kerja individu dalam organisasi yang pada gilirannya diharapkandapat
meningkatkan prestasi kerja organisasi sebagai keseluruhan dalam rangka pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan. Yang ketiga adalah ulasan tentang perilaku administrasi yang pada
analisa terakhir memainkan peranan yang sangat menentukan dalam sifat,bentuk dan corak
tindak-tanduk seseorang sebagai manusia organisasional.

Hakikat Studi Administrasi. Sesuatu bidang studi ilmiah yangtelah diberi predikat "ilmu"
pada galibnya harus memenuhi persyaratan.
1. Memiliki serangkaian prinsip, rumus, dalil dan kaidah yang sifat-
2. Prinsip, rumus, dalil dan kaidah tersebut telah "lulus" ujian laboratorium sebagai berikut:
baik yang sifatnya fisik maupun yang bersifat sosial
3. Prinsip, rumus, dalil dan kaidah itu dapat dipelajari dan diajarnya universal mondial
eksperimental
5
pemecahannya yang menyangkut manusia yang sangat kompleks yang hidup, berkarya dan
bergaul dalam berbagai jenis organisasi yang amat kompleks pula.Dengan perkataan lain
terdapat alasan kuat dan rasional untuk mengatakan bahwa manusia organisasional memang
merupakan sorotan studi administrasi. Pembuktian lebih jauh dapat dilihat melalui contoh-
contoh berikut ini. Betapapun pentingnya pendalaman teori organisasi, yang memang sangat
diperlukan dalam penyusunan organisasi yang tangguh, sasaran akhirnya bukanlah untuk ter-
ciptanya susunan organisasi yang indah di atas kertas dus sifatnya statis akan tetapi untuk
meningkatkan dinamika organisasi seperti terwujud dalam mantapnya koordinasi, proses
pengambilan keputusan yang cepat, pendelegasian wewenang yang mantap.
BAB 2
KEPEMIMPINAN ADMINISTRATIF
KEPEMIMPINAN ADMINISTRATIF ADALAH suatu kenyataan kehidupan
organisasional bahwa pimpinanan memainka.n peranan yang amat penting, bahkan dapat
dikatak amat menentukan, dalam usaha pencapaian tujuan yang telah tetapkan sebelumnya.
Memang benar bahwa pimpinan, baik secara individual maupun sebagai kelompok, tidak
mungkin dapat bekerja sendirian. Pimpinan membutuhkan sekelompok orang lain, yang
dengan istilah populer dikenal sebagai bawahan, yang digerakkan sedemikian rupa sehingga
para bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi, terutama
dalam cara bekerja yang efisien, efektif, ekonomis dan produktif. Para pimpinan itu juga
memerlukan sarana dan prasarana lainnya. Jadi jelasla bahwa kepemimpinan yang efektif
adalah kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, memelihara dan mengembangkan usaha
dan iklinyang koperatif dalam kehidupan organisasional Untuk mencapai kondisi yang
demikian, seorang pimpinan tidak seyogyanya hanya mampu berperan selaku atasan yang
keinginan dan kemauannya harus diikuti oleh orang lain. Memang benar bahwa setiap
pimpinan adalah seorang "kepala”, dus seorang atasan sekelompok orang bahwa cara berpikir
dan bertindak yang didasarkan atasmimpinan formal semata-mata tidak selalu pemimpinan
yang efektif.

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Mengambil keputusan yang tepat dan cepat jauh lehih muda mengatakannya dibandingkan
dengan melaksanakann laman dapat membantu,atau repetitif atau sederhana. Tersedianya staf
mampu melakukan analisa secara mendalam tentunya sangat mempermudah proses
pengambilan keputusan. Dukungan dari pimpin yang lebih tinggi pasti sangat menolong.
6
Nasihat rekan setingkat pas sangat bermanfaat. Bahkan kehidupan keluarga dan pribadi yang
serasi pun turut memberikan sumbanyan yang positif terutama dalam hal-hal yang sifatnya t
yang tangguh Namun kesemuanya itu tidak dapat menggantikan kesungguhan, kemauan
belajar dan kerja keras

BAB 3
PERILAKU ADMINISTRASI
PERILAKU ADMINISTRASI ADALAH kenyataan yang tidak dapat disangkal
bahwa manusia modern menjadi anggota berbagai organisasi yang kesemuan dimaksudkan
untuk mempermudah pencapaian tujuan pribadinya.Tidak pula dapat disangkal bahwa tujuan
manusia modern dan beradab semakin lama semakin kompleks. Kompleksitas tujuan tersebut
antara lain disebabkan oleh kenyataan bahwa seseorang manusia mempunyai tujuan yang
sifatnya tidak hanya bersifat fisik seperti pemuasan kebutuhan sandang, pangan dan papan
meskipurn pemuasan kebutuhan demikian amat penting dan bahkan sangat primer
kualifikasinya. Terdapat pula tujuan di bidang kesejahteraan mental dan spiritual. Tujuan
yang sifatnya kejiwaan pada dirinya merupakan tujuan yang kompleks pula dan
pencapaiannya tidak mudah karena mencakup beraneka ragam kegiatan seperti kegiatan pen
didikan, ketenangan kerja, pembinaan kehidupan pribadi dan organisasional yang harmonis,
dan hal-hal lain sejenis itu.
PROSES PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA
Salah satu faktor motivasional yang amat penting kehidupan organisasional ialah tumbuhnya,
berkembangnya dan terpeliharanya semangat kerjasama yang harmonis Faktor ini sungguh-
sungguh penting karena dalam organisasi terdapat aneka ragam kerumitan, antara lain
disebabkan oleh:
1. Semakin kompleksnya tujuan organisasi yang hendak dicapai
2. Besarnya organisasi, yang bahkan juga mengakibatkan letak geografis dari satuan-satuan
kerja yang mungkin berjauhan, bahkan kadang-kadang melewati batas-batas suatu negara
seperti halnya dengan perusahaan multi-nasional
3. Banyaknya jumlah anggota organisasi yang sifatnya heterogen baik ditinjau dari segi
pengalaman, latar belakang pendidikan,jenis tujuan dan harapan pribadi, temperamen, dan
lain sebagainya
4. Proses produksi barang dan/atau jasa yang tidak dapat dikatakan
5. Dampak teknologi yang selalu berkembang dengan pesat
7. Tuntutan kelompok klientele dan stake-holders yang terus me-
7
8. Situasi politik, termasuk politik ekonomi, yang mau tidak mau
9. Situasi perekonomian yang sering menampakkan "wajah" ke-
sederhana
6. Kondisi ekologi yang sifatnya "cair" dan cepat berubah.

BAB 4
PENDEKATAN KESISTEMAN DAN HUBUNGAN
DENGAN PERILAKU

PENDEKATAN kesisteman (systems approach) adalah suatu cara Yang tepat untuk
dipergunakan dalam memecahkan masalah masalah yang rumit. Tepat oleh karena dengan
pendekatan kesisteman seseorang diharuskan untuk menelaah sesuatu permasalahan dalam
totalitasnya, baik dalam arti ramifikasi permasalahan yang dihadapi itu, maupun dalam
menentukan alternatif-alternatif nemecahannya. Dengan perkataan lain, pendekatan
kesisteman akan memungkinkan dipecahkannya sesuatu permasalahan secara tuntas.Dan
sebaliknya, tanpa mempergunakan pendekatan kesistemanseseorang akan cenderung untuk
memecahkan sesuatu permasalahan secara parsial atau inkremental, bahkan juga mungkin
hanya dengan usaha yang bersifat "kosmetik"Dengan demikian kiranya jelas bahwa usaha
pewadahan dari seluruh kegiatan suatu organisasi hanya akan efektif apabila usaha itu
dipandang sebagai sesuatu permasalahan yang pemecahannya secara tuntas hanya dapat
dilakukan dengan pendekatan kesistemanPentingnya pendekatan kesisteman.

PRINSIP-PRINSIP DASAR DARIPADA PENDEKATAN KESISTEMAN


Pendekatan kesisteman memberi petunjuk bahwa dalam melihat sesuatu misalnya organisasi
sorotan terutama ditujukan kepada totalitas daripada sesuatu itu dan bukan kepada bagian-
bagian Analogi yang sering dipergunakan para ahli adalah bahwa mempergunakan
pendekatan kesisteman berarti "hutan" terlebih dahulu, dan bukan mengidentifikasikan
"pohon-pohon" yang ada di "hutan" tersebutberusaha melihat Dalam operasionalisasinya,
pendekatan kesisteman biasanya didasarkan kepada sepuluh prinsip dasarnya, yaitu:
1. Bagian-bagian daripada organisasi merupakan subsystems,
2. Holisme, sinergisme, organisisme dan "gestalt"
3. Sifat keterbukaan,
4. Model "masukan-transformasi dan luaran",
5. Pengenalan batas-batas suatu sistem,
6. Entropi,

8
7. Penjabaran internal,
8. Keberlangsungan, keseimbangan yang dinamis dan homeostatis,
9. Umpan balik, dan
10. Hirarkhi.

BAB 5
KOMUNIKASI DAN PERILAKU ADMINISTRASI

PENTINGNYA KOMUNIKASI
Dalam kehidupan organisasional, pencapaian tujuan dengan Proses dan ramifikasinya
membutuhkan komunikasi yang efektif.
Ramifikasi yang selalu dihadapi dalam usaha pencapaian tujuan organisasi, antara lain
adalah:
1. Dinamika masyarakat yang pada gilirannya menuntut organisasi bekerja dengan tempo
yang semakin tinggi;
2. Perubahan-perubahan dalam nilai-nilai sosial dan organisasional terhadap mana seluruh
anggota organisasi harus peka dan tanggap dengan sikap yang proaktif sumber insani diikuti
dan dimanfaatkan, dan
3. Situasi kelangkaan dalam berbagai bidang seperti dana, sarana dan
4. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu selalu
5. Sarana komunikasi yang semakin "sophisticated

PROSES KOMUNIKASI
Secara teknis dapat dikatakan bahwa proses komunikasi melibatkan:
1. Komunikator,
2. Pesan yang hendak dikomunikasikan,
3. Saluran komunikasi,
4. Metoda komunikasi,
5. Komunikatee, dan
6. Lingkungan komunikasi.

FAKTOR-FAKTOR PENGHALANG TERHADAP KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

9
Dalam kondisi yang paling ideal sekalipun dapat dipastikan akan selalu adanya faktor-faktor
penghalang terhadap komunikasi yang efektif. Jika faktor-faktor penghalang itu dibagi, akan
terdapat dua kategori utama, yaitu
1. penghalang yang sifatnya teknis, dan
2. penghalang yang sifatnya keperilakuan.

BAB 6
KEPRIBADIAAN, PERILAKU DAN PRESTASI
KERJA

Sering dikatakan dalam buku ini bahwa salah satu pada manusia modern adalah
keterlibatannya dalam berbagai organisasi. Keterlibatan itu berpangkal dari kenyataan bahwa
ada seorang pun manusia modern yang dapat memuaskan kebutul ciri dari tidakannya yang
beranekaragam itu secara mandiri. Berarti bahwa jalur terbaik baginya untuk memuaskan
berbagai kebutuhan itu adalah dengan bergabung dengan berbagai ragam organisasi
Meskipun demikian, setiap orang tentunya selalu ingin untuk tetap mempertahankan
kepribadiannya. Seperti diketahui ke pribadian seseorang ditempa oleh berbagai faktor seperti
1. Faktor genetika,
2. Faktor pengalaman,
3. Faktor pendidikan, dan
4. Faktor lingkungan
PRODUKTIFITAS DAN OPTIMALISASI LUARAN
Setiap organisasi diciptakan untuk menghasilkan barang dan atau jasa. Barang dan atau jasa
yang dihasilkan itu perlu memenuhi syarat-syarat tertentu seperti:
1. Dimaksudkan untuk memuaskan suatu kebutuhan tertentu dari seorang atau sekelompok
klien tertentu,
2. Didasarkan kepada standar mutu tertentu,
3. Kuantitasnya sesuai dengan permintaan klientele yang memerlukannya,
Produktivitas Dikaitkan Dengan Waktu.
Salah satu faktor yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersmungkin yang
maksimal. daripada produktivitas seseorang, dan satu organisasi, adalah cara penggunaan
waktu yang tersedia baginya untuk menghasilkan sesuatu barang dan atau jasa tertentu.

10
1. Melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya konseptual,
2. Melakukan kegiatan-kegiatan komunikasi,
3. Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat protokuler,
4. Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial, dan
5. Melakukan kegiatan rekreasi.

BAB 7
KECENDERUNGAN-KECENDERUNGAN ORGANISASIONAL DALAM DEKADE
DELAPANPULUHAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA

BIDANG UPAH DAN GAJI


Persoalan motivasi finansial bagi para karyawan diperhitungka akan menjadi kritis pada
dekade delapanpuluhan. Jika prediksi paraahli ekonomi dikuti dengan cermat, timbul kesan
kuat bahwa dekade delapanpuluhan ini akan terus menerus mengalami berbagai masalah di
bidang ekonomi, baik dalam bentuk inflasi, stagflasi, resesi dan lain-lain.

BIDANG JAMINAN SOSIAL


Perkembangan-perkembangan mutakhir dalam hubungan kerja menunjukkan bahwa banyak
karyawan yang telah mengajukan harapan-harapan - dan bahkan nampak gejala yang
memberi petunjuk bahwa para karyawan merasa berhak atas jaminan-jaminan sosial yang
mereka pandang sebagai bagian dari sistem imbalan yang komprehensif dan tidak terbatas
hanya pada gaji dan upah saja.

BIDANG JAMINAN KERJA


Jaminan kerja merupakan satu bidang yang mutlak perlu mendapat perhatian terutama
apabila dikaitkan dengan implikasi daripada perkembangan dan perubahan teknologi yang
demikian cepat,baik di pabrik maupun di kantor. Penting oleh karena tidak usah
mengherankan apabila para karyawan menginterpretasikan penerapan teknologi itu sebagai
ancaman terhadap kelestarian kekaryaan mereka. Jika interpretasi negatif demikian tidak
dikoreksi dengan cepat dan tepat, maka hal itu akan menimbulkan keprihatinan bahkan
keresahan - di kalangan para karyawan yang bersangkutan.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
11
Hal-hal yang telah dibahas di muka memberikan kerangka dasar untuk pengembangan
sumber daya manusia di dalam kehidupan organisasional baik kelompok eksekutif maupun
bagi kelompok karyawan yang berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya teknis
operasional yang agak berbeda dengan cara pendekatan tradisional yang dikenal dengan
istilah latihan Dalam banyak organisasi timbul kesan bahwa terlalu banyak program latihan,
baik untuk pimpinan maupun untuk tenaga teknik operasional, yang mengajarkan
ketrampilan spesialisasi yang sempit.
BAB 8
PENDIDIKAN DAN LATIHAN SEBAGAI INVESTASI

SIKLUS PENDIDIKAN DAN LATIHAN


Setelah membahas pengertian-pengertian tentang pendidikan latihan dan investasi dalam
bidang sumber daya manusia, seperti telah dikatakan di muka, kedua istilah, pendidikan
latihan, dalam bab ini dipergunakan "senafas", dengan menyadari adanya Perbedaan-
perbedaan dan persamaan-persamaan antara kedua istilah tersebut.Para ahli berpendapat
bahwa siklus pendidikan dan latihan terdiri dari unsur-unsur:
1. Analisa kebutuhan pendidikan dan latihan
2. Keputusan tentang penyelenggaraan pendidikan dan latihan;
3. Seleksi peserta;
4. Penyusunan program, baik yang sifatnya kurikuler maupun non
kurikuler
5. Penyusunan Bahan Pelajaran;
6. Seleksi pengajar;
7. Penentuan teknik dan metoda pengajaran;
8. Penyusunan program pelaksanaan;
9. Penyelenggaraan; dan
10. Evaluasi hasil kegiatan

PENYUSUNAN PROGRAM PELAKSANAAN


Setelah hal ihwal yang menyangkut persiapan dimatangkan, langkah berikutnya adalah
pemantapan penyusunan program laksanaan secara mendetail. Langkah ini penting karena
akan lebih menjamin penyelenggaraan yang berdaya guna dan berhasil guna di samping
menjamin mutu pendidikan dan latihan yang tinggi. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian
dalam penyusunan program pelaksanaan antara lain adalah:
12
1. Tempat penyelenggaraan,
2. Jumlah ruangan yang sesuai dengan kebutuhan,
3. Alat-alat bantu yang diperlukan atau mungkin diperlukan
4. Biaya yang memadai untuk semua komponen kegiatan pendidikan dan latihan,
5. Sarana angkutan yang diperlukan

13
BAB 9
PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN
ORGANISASI

MAKSUD DAN TUJUAN PERUBAHAN ORGANISASIONAL


Apabila orang berbicara tentang perubahan organisasional kebiasaan yang lumrah terdapat
adalah untuk memikirkan hal-hal seperti:
1. Bagan organisasi,
2. Penerapan berbagai prinsip organisasi seperti:
a. Rantai komando,
b. Keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab,
c. Pendelegasian wewenang,
d. Sentralisasi versus desentralisasi, terutama dalam pengambila keputusan operasional
e. Rentang kendali

SASARAN-SASARAN PERUBAHAN ORGANISASIONAL


Dalam menganalisa sasaran-sasaran perubahan yang sifatnya organisasional, hendaknya
selalu diperhatikan kaitan antara sasaran sasaran yang ingin dicapai itu dengan tujuan yang
hendak dicapai, sepanjang tujuan yang telah ditentukan sebelumnya tidak turut diubah.
Memang bukanlah hal yang mustahil terjadi bahwa tujuan organisasi pun dirasakan
memerlukan perubahan, baik dalam arti keseluruhan, maupun komponen tertentu daripada
tujuan tersebut.

MASALAH-MASALAH DALAM MEMPERKENALKAN PERUBAHAN


Adalah hal yang manusiawi apabila para anggota organisasi menunjukkan kecenderungan
untuk menolak setiap perubahan yang akan diperkenalkan ke dan di dalam organisasi. Pada
umumnya manusia lebih senang berada pada situasi yang telah"dikenalnya".Denganperkataan
lain pimpinan organisasi perlu menyadari bahwa berbagai masalah.

Pengamatan dan penelitian organisasional memberi petunjuk


bahwa pada umumnya terdapat lima masalah pokok yang harudiatasi dalam memperkenalkan
perubahan, yaitu Rasa takut, Penolakan terhadap perubahan, Cara yang tidak didasarkan
kepada landasan yang kuat,Takut gagal, dan Pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat
informasi yang tepat.
14
Buku Pembanding I
Bab 1 Pendahuluan
Bumi merupakan tempat tinggal manusia terbaik. Dimana menusia harus bekerja
sama dan saling bersosialisasi. Didalam sebuah masyarakat perbedaan kodraat setiap individu
tidak dapat dihilangkan, dengan demikian maka setiap individu harus memiliki hak asasi .
Manusia tidak hanya satu dengan yang lain melainkan manusia harus membentuk
sebuah organisasi /kelompok .dimana sisi kelompok terbentuk karena memiliki kepentingan
yang sama. Didalam sebuah kelompok harus ada stuktur dengan menetapkan berbeberapa
jabatan pemimpin yang relative bersifat permanen. Maka dari itu seorang pemimpin harus
memiliki krateristik yang sesuai dengan apa yang diharapkan bersama organisasi.

Bab 2 pengertian kepemimpinan


Pengertian kepemimpinana terbagi atas dua bagian, antara lain kepemimpinan
dalam konteks stuktural dan kepemimpinan dalam konteks non-stuktural. Kepemimpinan
dalam konteks structural adalah pemimpin formal di antaranya terdiri dari para manajer yang
menjalankan kegiatan manajerial didalam unit kerja dan/atau organisasinya. Para manajer
sebagai pemimpin lebih banyak dikenal dilingkungan organisasi yang disebut perusahaan dan
industri atau koperasi memikul fungsi yang lebih luas dibvandingkan dengan fungsi
kepemimpin. Adapun dalam konteks nonstruktural kepemimpinan dapat diartikan sebgai
proses memengaruhi pikiran, perasaan, tingkah laku, dan mengerahkan semua fasilitas untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Bab 3 Dinamika Kepemimpinan


Dinamika: gerak atau kekuatan yang dimiliki sekumpulan orang di masyarakat yang
dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup. Jadi dinamika kepemimpinan dapat berubah
dan berkembang sehingga perwujudan kepemimpinan menjadi bersifat dinamis. Dinamika
kepemimpinan dipengaruhi oleh faktor-faktor: Hubungan Manusiawi dalam Kepemimpinan
Proses pengambilan keputusan dan Pengendalian dalam kepemimpinan.
Hubungan Manusiawi dalam Kepemimpinan Hubungan manusia yang efektif
.bukan hubungan yang sebaliknya yangbersifat tidak efektif. Komunikasi dan perlakuan yang
menimbulkan rasa senang dan puas antar kedua pihak rasa ikut memiliki, rasa ikut
bertanggung jawab, rasa kemauan ikut berpartisipasi Hubungan manusia yang tidak efektif
(negatif) Komunikasi dan perlakuan yang menimbulkan perasaan tidak senang, tidak puas,
dan saling menolak antara kedua pihak.
15
Proses pengambilan keputusan Keputusan dari seorang pemimpin tiak muncul
secara tiba-tiba, tetapi berlangsung sebagai suatu proses. Pengambilan keputusan yang akan
diwujudkan menjadi kegiatan kelompok merupakan hak dan kewajiban pimpinan berupa
wewenang Wewenang dilimpahkan yang oleh masyarakat kepada pimpinan. Dan
pelimpahan wewenang itu harus sejalan denagn rasa tanggu jawab “keharusan untuk wajib
melaksanakan wewenang dengan cara yang baik”.
Sedangkan Pengendalian dalam kepemimpinan Tujuannya: memperoleh tanggapan
berupa kesediaan mewujudkan program kerja para anggota.yang dimana pemimpin setiap
kelompok mungkin melakukan pengendalian apabila berusaha menjalin hubungan kerja sama
yang efektif dengan orang-orang yang dipimpinya.

Bab 4 Kepribandian Pemimpin


Kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari masalah hubungan antar pribadi.
Pemimpin harus menyesuaikan sifat-sifatnya kepribadianya dengan anggota keolompok.
Pemimpin juga memiliki hubungan motivasi. Motivasi menuntut agar pemimpin
mengetahui bagaimana harus selalu memberi informasi kepada kelompok , agar ia
menyediakan waktu dan melakukan usaha yang diperlukan untuk memperoleh saran-saran
dan rekomendasi-rekomendasi dari kelompok mengenai masalah yang menyangkut
kepentingan bersama.
Sedangkan pada aspek kepribadian pemimpin akan berjalan efektif bila mana
pmimpin memiliki sifat yang dapat membangun semakin suksesnya sebuah organisasi.

Bab 5 Fungsi Dan Tipe kepemimpinan


Kepemimpinan akan berjalan efektif apabila telah menjalankan sesuai dengan
fungsi dan tipenya. Dimana fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi
sosial dalam kehidupan kelompok , sehingga pemimpin harus membuat keputusan dalam
memperhatikan situasi sosial. Sedangkan tipe kepemimpinan merupakan suatu gaya
pemimpin yang berpola mementingkan pelaksanaan secara efektif.

Bab 6 Proses Kaderisasi


Kaderisasi kepemimpinan adalah proses mempersiapkan atau mencetak seseorang
untuk menjadi pemimpin dimasa depan. Pemimpin yang berkualitas tidaklah terbentuk secara
tiba-tiba tetapi melalui 2 proses kaderisasi. Kedua kaderisasi antaralain kaderisasi informal
dan kaderisasi formal.
16
Kaderisasi informal merupakan sebuah proses atau usaha-usaha untuk
mempersiapkan seorang calon pemimpin atau seorang kader yang dilaksanakan tidak secara
berencana, teratur tertib,sistimatis, terarah dan disengaja serta tidak menggunakan kurikulum
tertentu. Sedangkan Kaderisasi formal merupakan proses kaderisasi atau upaya
mempersiapkan seseorang menjadi calon pemimpin yang dilaksanakan secara disengaja,
terarah, teratur dan tertib, sistematis dan mengikuti kurikulum tertentu dalam jangka waktu
tertentu yang berisi bahan-bahan teoretis dan praktik tentang kepemimpinan dan berbagai
aspek pendukungnya.

Bab 7 Keterbatasan Kepemimpinan


Pemimpin yang menginginkan keberhasilan dalam mewujudkan kepemimpinannya,
harus menyadari bahwa dirinya dan orang yang dipimpinnya, adalah manusia. Setiap manusia
memiliki kelemahan dan kekurangan yang melekat dalam hakikat penciptaannya.
Kelemahani Itu mengakibatkan keterbatasan dalam merealisasikan kepemimpinannya.
Keterbatasan - keterbatasan itu antara lain: Keterbatasan Manusiawi Manusia lahir ke muka
bumi sebagai makhluk yang tidak sempurna dan Keterbatasan Administratif Keterbatasan ini
bersumber dari dalamkelompok organisasi sebagai inti kerja sama untuk mewujudkan
kepentingan bersama yang disebut tujuan organisas
Maka dari itu perlu ditekankan seorang pemimpin harus beusaha mengatasi
kekurangan dan kelemahan itu masing- masing, meskinpun sama sekali mustali untuk
menghilngkan atau meniadakanya.

Bab 7 Hak-Hak Asasi Manusia Dalam Kepemimpinan


Dalam sebuah organisasi ditekankan seorang pemimpin harus melindung hak-hak
asasi orang-orang yang dipimpinya, baik sebagai individu maupun berupa suatu kelompok.
Dengan kata lain hak asasi adalah kehedendak untuk diahargai dan diperlakukan sesuai
dengan harkat manusia, baik berdasarkan norma-norma yang dibuat oleh manusia itu sendiri
maupun norma-norma sesuai dengan norma-norma dari tuhan yang maha esa berdasarkan
agama yang dipeluk masing-masing individu.
Harkat manusia itu menyangkut atas tiga aspek antara lain; harkat individu sabagai
suatu pribadi, harkat makluk sosial untuk hidup dalam kebersamaan secara manusia dan
harkat sebagai mahluk tuhan yang maha esa. Ketiga hal tersebut harus dihormati.

17
Bab 8 Peningkatan Kualitas Kepemimpinan
Gejala kemajuan dan perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin
meningkat diseluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Karena pengaruh perkembangan
ilmu tehnologi sangat pesat maka terjadilah globalisasi dalam semua bidang kehidupan.
Maka dari itu usaha peningkatan kepemimpianan harus dilakukan secara terus
menerus, mengingata kondisi kehidupan kondisi kehidupan masyarakat yang semakin
dinamis. Usaha itu harus dimulai dengan berpikir efektif dalam menetapkan keputusan,
mengkomunikasikan hasil berpikir, meningkatkan partisipasi dala, pemecahan masalah,
menggali dan meningkatakan kreativitas. Sehingga dengan hal itu dapat menjadikan
kehidupan rakyat yang lebih baik.

Bab 9 Mengendalikan Konflik Dalam Kepemimpinan


Pemimpin manusia yang dipimpin manusi. Manusia yang memiliki kepribadian
yang berbeda-beda, memiliki kepentingan yang berbeda namun untuk menjaga agar tindak
terjadi konflik dalam kepemimpian maka setiap individu harus saling menyesuaikan diri dn
menyeimbangi kepentingan diri sendiri dan orang lain yang berada dalam satu organisasi.

Bab 10 Penutup
Untuk mewujudkan kerja sama yang teratur, tertib lanjar yang terus menerus terarah
pada tujuan yang hendak dicapai, diperlukan seseorang atau beberapa orang sebagai
pemimpin yang mampu menggerakan anggota kelompoknya .dan seorang pemimpin harus
mampu menumpuhkan dan mengembangkan kemampuan memimpin yang dimiliki anggota
organisasi agar siap meneruskan kepemimpinanya kemasa yang akan datang.

18
BAB III

PEMBAHASAN
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

Buku Utama
Kelebihan Buku:
1. Penulis menyajikan materi yang cukup padat,sehingga buku ini termasuk buku yang
sangat layak untuk dijadikan bahan refrensi.
2. Menggunakan bahasa yang baku sehingga mudah dipahami ole pembaca
3. Buku ini berukuran kecil sehingga mudah untuk dibawa kemana saja
4. terdapat daftar pustaka pada buku ini,yang disajikan diakhir halaman ,sehingga
pembaca dapat mengetahui dasar pemaparan mater yang disajikan

Kelemahan Buku:
1. Penggunaan tanda baca yang kurang tepat,sehingga dapat mengganggu kenyamanan
si pembaca
2. Tidak terdapatnya latihan soal dalam buku ini,sehingga tidak ada acuan pembaca
untuk menggali lebih pengetahuannya.
3. Tidak terdapat bagan atau gambar dalam pemaparan materi dalam buku tersebut
4. Tidak terdapat pendapat para ahli dalam buku ini

Buku Pembanding
1.

Buku Pembanding I

19
Buku HandariNawani Dan M. Martini Hadari dan Dra, H. M. Martini Handari
ini memiliki keunggulan yang sama pada buku lainya. Dengan ukuran yang kecil namun tebal
membuat buku ini terlihat lebih praktis. memiliki daftar pustaka yang mencakup semua isi
buku dan buku ini dilengkapi dengan daftar buku yang memaparkan tentang anggota-anggota
yang ikut serta dalam terciptanya buku ini. Isi buku ini juga cukup lengkap untuk buku
kepemimpinan .

20