Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

BEHAVIORAL ACCOUNTING
“ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGAKUMULASIAN DAN
PENGENDALIAN BIAYA”
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Akuntansi Keperilakuan
Dosen Pengampu: Bapak R. Wedi Rusmawan K., Dr., S.E., M.Si., Ak., CA.

Oleh:
Egidia Novitry 1617202011
Nabila Putri 1617204001
Kusuma Tresna Wikandari D 1617204008

SEKOLAH PASCASARJANA
MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. i

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ................................................................................................................ 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 2

2.1. Dilema Bisnis .................................................................................................................. 2

2.2. Biaya dengan Fungsi Manajemen ................................................................................... 3

2.2.1. Biaya Manufaktur .................................................................................................... 4

2.2.2. Biaya Nonmanufaktur .............................................................................................. 5

2.3. Pola Perilaku Biaya ......................................................................................................... 5

2.3.1. Biaya Tetap (Fixed Cost) ......................................................................................... 5

2.3.2. Biaya Variabel (Variable Cost) ............................................................................... 6

2.3.3. Biaya Semi-variabel (Semi-variable Cost) .............................................................. 7

2.4. Biaya Relevan untuk Pengambilan Keputusan ............................................................... 8

2.4.1. Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan ........................................................................ 8

2.4.2. Pengertian dan Konsep Biaya Relevan .................................................................... 8

2.4.3. Penggunaan Biaya Relevan untuk Tujuan Pengambilan Keputusan Jangka Pendek
.......................................................................................................................................... 12

2.5. Pentingnya Manajemen Biaya ...................................................................................... 14

2.6. Perilaku Biaya untuk Perencanaan, Pengendalian, dan Pengambilan Keputusan ........ 14

2.6.1. Perencanaan ........................................................................................................... 15

2.6.2. Pengendalian .......................................................................................................... 16

2.6.3. Pengambilan Keputusan......................................................................................... 16

2.7. Sistem Biaya Tradisional Versus Biaya Standar .......................................................... 16

2.7.1. Tujuan dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya ................................................. 16

i
2.7.2. Sistem Biaya Standar dan Anggaran Fleksibel ...................................................... 18

2.7.3. Kompatibilitas dengan Konsep Teori Organisasi Modern..................................... 19

2.8. Perhitungan Biaya Langsung atau Biaya Variabel ....................................................... 19

2.9. Pengendalian Biaya ....................................................................................................... 20

2.10. Pengambilan Keputusan.............................................................................................. 20

2.11. Aspek Keperilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih ............................. 21

2.12. Partisipasi dalam Penetapan Standar .......................................................................... 21

2.12.1. Standar Ketat vs Standar Longgar ....................................................................... 22

2.12.2. Penyerapan Overhead .......................................................................................... 22

2.12.3. Alokasi Biaya Tidak Langsung ............................................................................ 23

2.12.4. Analisis Varians ................................................................................................... 23

2.12.5. Keputusan Investigasi Varians ............................................................................. 23

2.12.6. Aspek Keperilakuan ............................................................................................. 24

BAB III KESIMPULAN........................................................................................................ 25

3.1. Simpulan ....................................................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 26

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam akuntansi keuangan, istilah biaya didefinisikan sebagai suatu pengukuran
dalam satuan moneter, jumlah dari sumber daya yang dipergunakan untuk beberapa tujuan
dalam akuntansi manajerial. Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan
untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat bagi organisasi pada
saat ini atau pada masa mendatang.

Biaya dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat di masa mendatang. Manfaat (bagi


perusahaan yang berorientasi laba atau profit oriented) berarti pendapatan. Jika biaya telah
dihabiskan dalam proses menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut dinyatakan
kedaluwarsa (expired). Sementara biaya yang belum kedaluwarsa disebut sebagai biaya (cost)
yang akan dilaporkan dalam laporan posisi keuangan (neraca).

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dilema Bisnis


PT Bromo Bisnis Center (BBC) merupakan perusahaan manufaktur yang berlokasi di
Jakarta yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Perusahan ini didirikan pada tahun 2003.
PT BBC menghasilkan banyak produk beton bagi banyak perusahaan di area metropolitan
Jakarta. Pada tahun 2016, PT BBC melakukan ekspansi dengan cara melakukan akuisisi dan
menaikkan kapasitas produksi sebagai antisipasi atas meningkatnya permintaan.

Pada perencanaan biaya tahun 2006, manajemen memiliki tingkat keyakinan yang
tinggi berdasarkan prediksi dari suatu penemuan dalam industri perumahan. Mereka
memperkirakan bahwa penjualan akan mencapai 85 persen dari tingkat penjualan pada tahun
2003 dan perencaan pemakaian bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead didasarkan
pada prediksi ini. Hasilnya ternyata mengecewakan dan membingungkan semua orang
mengenai varians anggaran tersebut. Manajemen merasa malu terhadap estimasi volume pada
tahun 2007. Resesinya kelihatannya lebih parah daripada yang diduga sebelumnya. Dalam
perencanaan volume produksi perusahaan, manajemen mengantisipasi penjualan menjadi 65
persen dari angka yang dicapai pada tahun 2003. Demikian pula, penjualan pada tahun 2008
diperkirakan sebesar 90 persen dari penjualan tahun 2003. Anggaran yang diizinkan untuk
bahan baku dan tenaga kerja yang didasarkan pada volume produksi aktual yang lebih rendah
dibandingkan dengan volume yang dianggarkan menghasilkan varians yang menguntungkan
pada seluruh bagian proses produksi. Biaya per kilogram yang dianggarkan saat ini terlalu
tinggi ketika biaya tetap diasumsikan akan diserap oleh volume output yang lebih rendah
dibandingkan dengan kondisi aktual. Hasilnya adalah varians overhead yang menguntungkan
di seluruh pelaporan kinerja. Fakta menunjukan bahwa area permasalahan dan inefisiensi
menjadi lebih sulit untuk dideteksi.

Selanjutnya, setelah pembahasan diperluas, akan menjadi lebih jelas bahwa sistem
akuntansi biaya saat ini keliahatannya lebih menekankan pada masalah anggaran,
pengendalian, dan evaluasi kinerja.

2
2.2. Biaya dengan Fungsi Manajemen
Pengambilan keputusan manajemen dalam penentuan kebijakan jangka pendek
maupun jangka panjang memerlukan informasi biaya yang didasarkan pada perilakunya.
Informasi biaya yang sistematis dan komparatif, serta data biaya dan laba analitis dibutuhkan
agar manajer dapat menetapkan target laba, menetapkan target departemental untuk
manajemen tingkat menengah dan manajemen operasi, mengevaluasi efektivitas rencana,
menunjukan keberhasilan atau kegagalan tertentu, mengindetifikasi dan menentukan strategi,
serta memutuskan perlunya penyesuaian dan perbaikan dalam organisasi. Sistem informasi
yang terintegrasi menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh manajer dan
mengomunikasikan dengan segera dalam bentuk yang dapat dipahami oleh pengguna
informasi. Kesempatan dapat hilang karena komunikasi yang buruk.

Mendesain sistem akuntansi biaya membutuhkan pemahaman atas struktur organisasi


dan jenis informasi yang dibutuhkan. Sistem tersebut harus didesain untuk mendukung
manajemen berdasarkan pengecualian, yaitu sistem tersebut harus menyediakan informasi
yang memfasilitasi indentifikasi segera atas aktivitas yang memerlukan perhatian bagi
manajemen. Informasi biaya yang baik, tepat, dan akurat diperlukan oleh setiap pengguna
informasi biaya. Hal tersebut dapat dipenuhi jika:

1. Informasi biaya yang digunakan harus sistematis dan komparatif, sehingga informasi
biaya yang digunakan dapat diandalkan dalam memutuskan tindakan yang dapat
memberikan hasil yang optimal.
2. Informasi yang digunakan harus terkoordinasi dan terintegrasi, sehingga informasi
yang tersedia dapat digunakan oleh manajer dan mudah dimengerti oleh pengguna.
3. Mencerminkan otoritas, sehingga masing-masing manajer dapat dimintakan
pertanggungjawabannya.
4. Informasi sebaiknya dapat memfokuskan perhatian manajemen.

Informasi biaya dapat digunakan oleh manajemen untuk berbagai tujuan, yang mana
dalam menggolongkan biaya harus disesuaikan dengan tujuan dari informasi biaya yang akan
disajikan. Jika tujuan manajemen berbeda, maka diperlukan penggolongan biaya yang
berbeda pula. Kebutuhan informasi ini mendorong timbulnya berbagai cara penggolongan
biaya, sehingga dikenal konsep penggolongan biaya yang berbeda sesuai dengan tujuan yang
berbeda. Dalam perusahaan manufaktur, biaya dibagi ke dalam dua kategori utama
berdasarkan aktivitas fungsionalnya, yakni biaya manufaktur dan biaya nonmanufaktur.

3
2.2.1. Biaya Manufaktur
Biaya manufaktur merupakan seluruh biaya yang berhubungan dengan aktivitas
pabrikasi perusahaan. Biaya manufaktur dikelompokkan lagi ke dalam tiga ketegori yakni
bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

1. Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang menjadi satu bagian integrasi
dari produk jadi. Contohnya adalah kayu yang digunakan untuk membuat furniture.
Lem, paku dan lainnya disebut bahan baku tidak langsung dan digolongkan sebagai
bagian overhead pabrik.
2. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dilibatkan secara langsung dalam
pembuatan produk. Contoh biaya tenaga kerja langsung adalah gaji dari pekerja
perakitan pada suatu lini perakitan dan gaji dari operator alat-alat mesin pada suatu
pabrik.
3. Tenaga kerja tidak langsung seperti gaji penjaga bangunan yang digolongkan sebagai
bagian dari biaya overhead pabrik.
4. Biaya overhead pabrik didefinisikan sebagai seluruh biaya manufaktur kecuali bahan
baku langsung dan tenaga kerja langsung. Contohnya meliputi penyusutan, sewa,
pajak, asuransi, keuntungan tambahan, pajak penghasilan, dan biaya waktu
menggangur. Overhead juga disebut overhead manufaktur, biaya manufaktur tidak
langsung, dan beban pabrik. Terdapat beberapa kategori biaya yang tumpeng tindih
dengan kategori ini, antara lain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja
langsung ketika digabungkan disebut biaya utama (prime cost), biaya tenaga langsung
dan biaya tenaga overhead pabrik ketika digabungkan disebut sebagai biaya konversi
(conversion cost) atau biaya proses. Biaya kualitas merupakan biaya yang terjadi
karena mutu produk yang rendah atau untuk mencegah agar mutu yang rendah tidak
terjadi. Biaya ini nilainya cukup signifikan, sering kali mencapai 20 sampai 25 persen
dari nilai penjualan. Subkategori dari biaya kualitas adalah biaya pencegahan, biaya
penilaian, dan biaya kegagalan.
a. Biaya pencegahan yaitu biaya yang terjadi untuk mencegah dihasilkannya produk
cacat. Jumlah yang dibelanjakan untuk program pelatihan kualitas, penelitian
kebutuhan pelanggan, siklus kualitas, dan perbaikan alat-alat perlengkapan
produksi merupakan biaya pencegahan. Biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan
akan memperkecil biaya yang terjadi untuk penilaian dan kegagalan.

4
b. Biaya penilaian yaitu biaya yang dibuat untuk melakukan pemantauan atau
inspeksi. Biaya ini dikeluarkan untuk mendeteksi kegagalan produk.
c. Biaya kegagalan internal yaitu biaya kegagalan yang terjadi selama proses
manufaktur atau proses produksi, seperti biaya bahan baku sisa, biaya pengerjaan
kembali, dan inspeksi ulang.
d. Biaya kegagalan eksternal yaitu biaya kegagalan yang terjadi setelah produk
tersebut dijual, seperti biaya pengembalian produk, biaya garansi, dan kehilangan
penjualan berkaitan dengan kinerja produk yang buruk.

2.2.2. Biaya Nonmanufaktur


Biaya nonmanufaktur juga sering kali disebut biaya operasi. Biaya ini
dikelompokkan lagi menjadi biaya penjualan, serta biaya administrasi dan umum.

a. Biaya penjualan adalah semua biaya yang dihubungkan dengan aktivitas


penjualan dan pengiriman produk. Contohnya biaya iklan dan komisi penjualan.
b. Biaya administrasi dan umum mencangkup semua biaya yang terjadi dalam
kaitannya dengan pelaksanaan aktivitas administrasi dan umum. Contoh biaya gaji
eksekutif dan biaya legal.

2.3. Pola Perilaku Biaya


Biaya berdasarkan hubungannya dengan perubahan volume kegiatan perusahaan
dikenal dengan istilah perilaku biaya, dan terkadang dikenal juga dengan istilah variabilitas
biaya. Biaya dapat digolongkan atas biaya tetap, biaya variabel, dan biaya semi variabel.

2.3.1. Biaya Tetap (Fixed Cost)


Biaya tetap adalah biaya-biaya yang pada limit tertentu atau kapasitas tertentu
(range of capacity) totalnya tetap, meskipun volume kegiatan perusahaan berubah-rubah.
Sejauh ini tidak melampaui kapasitas, total biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar
kecilnya volume kegiatan perusahaan. Jarak kapasitas adalah serangkaian tingkat volume
kegiatan perusahaan yang dapat dicapai tanpa menambah kapasitas. Biaya tetap
merupakan bagian dari biaya diskresioner (discretionary cost) dan juga merupakan biaya
berkomitmen (commited cost) karena menentukan besaran angka pada volume aktivitas

5
dan biaya yang dikorbankan yang memerlukan kajian dan analisis khusus. Biaya tetap
diskresioner (discretionary fixed cost) ini akan berhenti atau hilang jika manajemen
menghentikan aktivitas yang telah ditetapkan. Misalnya, manajemen memasang papan
iklan untuk tujuan promosi suatu produk baru, maka ketika masa promosi telah selesai
biaya iklan tersebut juga akan dihentikan. Contoh biaya tetap lainnya adalah beban
penyusutan mesin. Beban penyusutan mesin ini juga dapat digolongkan sebagai biaya
tetap berkomitmen (commited fixed cost) karena biaya ini sulit untuk ditelusuri
hubungannya secara langsung dengan produk. Dalam penetapan besarnya beban
penyusutan mesin produksi per tahun, pihak manajemen akan menentukan terlebih dahulu
metode apa yang akan digunakan dan berapa lama masa manfaat mesin tersebut. Oleh
karena ada beberapa alternatif metode yang dapat digunakan, maka biaya ini juga disebut
dengan biaya kebijakan.

Misalnya, manajemen beban penyusutan per tahun dengan kapasitas produksi


maksimal 500.000 unit adalah sebesar Rp 120.000.000, artinya jika perusahaan
memproduksi pada tingkat antara 1 sampai dengan 500.000 unit, maka total biaya tetap
adalah sebesar Rp 12.000.000, tetapi jika perusahaan memproduksi lebih dari 500.000
unit, maka total biaya tetap akan berubah karena perusahaan harus menambah kapasitas
yang dimiliki.

Pada biaya tetap, perilaku biaya tidak berubah secara total jumlah, tetapi pada
jumlah biaya per unit akan menjadi semakin rendah jika mampu beraktivitas samapai
mencapai kapasitas maksimum. Pada saat aktivitas melebihi batas maksimum, maka
biaya tetap akan bertambah. Umumnya penambahan kapasitas oleh perusahaan dapat
dilakukan dalam jangka panjang. Contoh lain dari biaya tetap adalah pemeliharaan mesin,
beban listrik untuk penerangan, beban asuransi pabrik, beban iklan, dan lain-lain.

2.3.2. Biaya Variabel (Variable Cost)


Biaya variabel adalah biaya-biaya yang totalnya selalu berubah secara proposional
dengan perubahan volume kegiatan perusahaan. Perubahan pada total biaya variabel
dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi atau volume penjualan secara
proporsional. Biaya variabel ini timbul untuk memenuhi aktivitas normal operasional
(rutinitas) suatu perusahaan. Penentuan awal biaya variabel ini ditetapkan oleh
manajemen berdasarkan standar kualitas produk atau jasa yang akan dihasilkan, sehingga

6
biaya ini juga termasuk biaya diskresioner (discretionary cost). Oleh karena berkaitan
dengan volume aktivitas, maka biaya ini digolongkan sebagai biaya variabel diskresioner
(discretionary variable cost). Biaya variabel ini biasanya merupakan unsur biaya yang
sangat dipertimbangkan dalam penentuan kualitas produk dan jasa. Apabila unsur biaya
variabel ini tidak dapat dipenuhi, maka akan berdampak pada penurunan standar kualitas
produk dan jasa yang dihasilkan. Contoh biaya ini antara lain biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung, biaya bahan penolong, dan lain-lain.

2.3.3. Biaya Semi-variabel (Semi-variable Cost)


Biaya semivariabel adalah biaya-biaya yang totalnya selalu berubah secara
proposional (sebanding) dengan perubahan volume kegiatan perusahaan. Besar kecilnya
total biaya variabel dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi/penjualan secara
proposional. Biaya ini mengandung unsur biaya tetap dan biaya variabel. Biaya ini
mengungkapkan bahwa ada biaya minimum yang harus di korbankan, baik ada maupun
tidak adanya aktivitas produksi. Terdapat gabungan pencatatan biaya dalam dua aktivitas
yang berbeda, padahal seharusnya biaya tersebut dipisahkan (dialokasikan) sesuai
aktivitas terjadinya. Contoh jenis biaya ini antara lain sebagian biaya overhead pabrik
(seperti penyusutan aset tetap pabrik yang dihitung berdasarkan jumlah unit yang
diproduksi), biaya listrik dengan biaya abodemen, maupun sesuai penggunaan untuk
penerangan dan penggerak mesin yang dihitung bedasarkan jam kerja mesin, gaji bagian
penjualan yang dibayarkan dengan unsur gaji pokok ditambah dengan insentif yang
ditentukan bedasarkan persentase tertentu dari hasil penjualan, dan lain sebagainya.

Untuk contoh perhitungan, beban gaji bagian penjualan, yang mana bagian ini
akan memperoleh gaji pokok dan tambahan insentif dari setiap produk yang terjual. Hal
ini berarti beban gaji tersebut terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Gaji pokok yang
diberikan merupakan biaya tetap karena ada atau tidak adanya produk yang terjual, beban
gaji tetap harus dibayarkan, sementara tambahan insentif hanya diberikan jika pegawai
bagian ini mampu melakukan penjualan produk, sehingga biaya ini diasumsikan sebagai
biaya variabel karena setiap produk yang terjual akan menambah pengeluaran biaya yang
diukur sesuai jumlah produk yang terjual. Misalnya, gaji pokok untuk pegawai bagian
penjualan adalah Rp 2.100.000 per bulan, sementara tambahan insentif untuk setiap
produk yang terjual akan dibayarkan sebesar Rp 20.000.

7
2.4. Biaya Relevan untuk Pengambilan Keputusan

2.4.1. Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan


Dalam mengelola perusahaan sehari-hari, sering kali manajemen dihadapkan pada
berbagai masalah terkait pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil manajemen
berkaitan dengan penentuan berbagai macam alternatif yang akan dilaksanakan di waktu
mendatang. Keputusan yang diambil dapat berkaitan dengan penentuan dua macam
alternatif atau penentuan lebih dari dua macam alternatif. Pengambilan keputusan jika
dilihat dari sisi jangka waktu yang dipengaruhi dapat digolongkan menjadi dua yaitu:

1. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perencanaan jangka pendek,


yaitu pengambilan keputusan di antara berbagai alternatif yang harus segera
dilakukan dan bersifat jangka pendek, seperti menerima atau menolak pesanan
khusus, meningkatkan, mengurangi atau menghentikan pesanan khusus,
menetapkan potongan harga dan lain-lain.
2. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perencanaan jangka panjang,
seperti pengambilan keputusan mengenai penanaman modal aset tetap.

2.4.2. Pengertian dan Konsep Biaya Relevan


Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi aktivitas pengambilan
keputusan adalah faktor biaya yang disebut sebagai biaya relevan. Pengertian relevan ini
berkaitan erat dengan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian, biaya relevan
adalah semua biaya yang akan terpengaruh oleh suatu pengambilan keputusan, yang mana
oleh karenanya biaya tersebut harus dipertimbangkan dalam aktivitas pengambilan
keputusan yang akan dilakukan. Biaya relevan merupakan biaya yang terjadi pada suatu
alternatif, tetapi tidak terjadi pada alternatif tindakan lain, atau merupakan biaya yang
dapat dihindari (avoidable cost) pada suatu alternatif tindakan. Semua biaya bisa
merupakan biaya yang dapat dihindari, kecuali:

1. Biaya masa lalu (sunk cost)


2. Biaya masa mendatang yang tidak memiliki perbedaan di antara berbagai
alternatif tindakan yang tersedia

Biaya masa lalu adalah biaya yang telah terjadi sebagai akibat pengambilan
keputusan di masa lalu dan tidak dapat diubah, tetapi hanya dapat diamati serta dinilai

8
terjadinya, sehingga tidak akan berguna untuk aktivitas pengambilan keputusan.
Contohnya penyusutan dan amortisasi. Biaya masa mendatang yang tidak memiliki
perbedaan di antara berbagai alternatif tindakan yang tersedia adalah biaya tetap yang
terjadi pada semua alternatif tindakan yang ada. Contohnya biaya gaji di suatu perusahaan
yang mempunyai alternatif menerima atau menolak pesanan khusus, maka biaya gaji
tersebut merupakan biaya yang tidak memiliki perbedaan di antara berbagai alternatif
pengambilan keputusan. Sementara biaya relevan adalah biaya yang memiliki
karakteristik:

1. Biaya masa yang akan datang, yaitu biaya yang dapat diperkirakan akan
terjadi dalam periode yang akan datang.
2. Biaya yang memiliki perbedaan di antara berbagai alternatif pengambilan
keputusan.

Biaya relevan untuk pengambilan keputusan didasarkan pada konsep “different


analysis for different purposes” yang berarti bahwa untuk tujuan yang berbeda diperlukan
analisis yang berbeda pula. Dengan kata lain, perlu adanya analisis yang berbeda
(termasuk analisis biaya relevan) untuk tujuan (pengambilan keputusan) yang berbeda.
Oleh karena itu, terdapat beberapa konsep biaya relevan untuk berbagai pengambilan
keputusan, antara lain:

1. Biaya Diferensial (Differential Cost)


Biaya diferensial adalah biaya yang akan datang yang memiliki
perbedaan di antara berbagai alternatif pengambilan keputusan yang mungkin
dipilih. Dalam pengambilan keputusan, biaya diferensial dibandingkan dengan
pendapatan diferensial untuk menentukan besarnya laba diferensial. Fokus
utama biaya ini adalah perbedaan yang timbul dari dua atau lebih alternatif
yang ada. Dengan demikian, biaya diferensial merupakan biaya masa yang
akan datang yang diperkirakan akan terjadi yang berkaitan dengan
pengambilan keputusan. Konsep biaya ini dapat di gunakan untuk berbagai
analisis pengambilan keputusan, seperti menerima atau menolak pesanan
khusus.
2. Biaya yang Dapat Dilacak (Traceable Cost)
Biaya traceable adalah biaya yang dapat diikuti jejaknya pada produk,
pesanan, pusat biaya, departemen, atau divisi tertentu dalam suatu perusahaan.

9
Biaya ini dapat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan untuk
menentukan harga pokok dan mengukur prestasi dari suatu produk, pesanan,
pusat biaya, departemen, atau divisi tertentu.
3. Biaya Penggantian (Replacement Cost)
Biaya penggantian adalah biaya yang berkaitan dengan penggantian
aset atau jasa yang akan terjadi (future cost) di waktu yang akan datang pada
saat dilakukan penggantian. Konsep biaya ini bermanfaat bagi penyusunan
anggaran dan standar biaya, serta penganggaran modal (capital budgeting),
seperti perencanaan, penambahan, penggantian, atau penghentian aset tetap.
4. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)
Biaya kesempatan merupakan penghasilan atau penghematan biaya
yang dikorbankan karena dipilihnya satu alternatif tertentu, sehingga
penghasilan atau penghematan ini perlu diperhitungkan sebagai biaya pada
alternatif tertentu tersebut. Contohnya, sebagian ruangan toko dapat disewakan
atau digunakan sendiri. Jika akhirnya ruangan tersebut digunakan sendiri,
maka hasil penyewaan yang seharusnya diperoleh akan menjadi opportunity
cost.
5. Biaya yang Diperhitungkan (Imputed Cost)
Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang sebenarnya tidak terjadi.
Biaya yang diperhitungkan sering kali harus dipertimbangkan untuk
perbandingan dan analisis biaya. Oleh karena biaya ini sebenarnya tidak
terjadi, maka biaya ini tidak memerlukan pengeluaran kas, tidak akan dicatat
dalam pembukuan perusahaan, dan tidak diperhitungkan dalam kalkulasi biaya
dan laba perusahaan. Contohnya, gaji pemilik yang diperhitungkan pada
perusahaan perseorangan yang dikelola sendiri oleh pemilik (yang mana
sebenarnya pemilik tidak memperoleh pembayaran gaji).
6. Biaya Inkremental (Incremental Cost)
Biaya inkremental adalah biaya-biaya yang ditambahkan atau biaya
yang tidak akan dikorbankan apabila suatu alternatif (proyek) tertentu tidak
dipilih untuk dilaksanakan. Pengertian biaya ini dapat dianggap sama dengan
biaya diferensial karena biaya inkremental juga dapat dipandang sebagai
selisih dari biaya total antara alternatif yang satu dengan alternatif yang
lainnya.
7. Biaya Tunai (Out of Pocket Cost)
10
Biaya tunai atau biaya kas adalah biaya yang memerlukan pengeluaran
kas sebagai akibat dari keputusan manajemen. Konsep biaya ini bermanfaat
untuk menganalisis aliran dana atau aliran kas di waktu yang akan datang
dalam kaitannya dengan keputusan penanaman modal. Perolehan aset
ditambah biaya operasional dari aset tetap selama pemakaian yang akan
datang adalah biaya kas. Namun bila aset tetap sudah dimiliki perusahaan,
beban penyusutan yang merupakan alokasi biaya bukan termasuk biaya tunai
karena pada saat dibebankan sebagai biaya tidak lagi memerlukan pengeluaran
kas atau pengeluaran kasnya telah dilakukan pada masa lalu.
8. Biaya Tertanam (Sunk Cost)
Biaya tertanam adalah biaya yang dalam situasi tertentu tidak dapat
diperoleh kembali. Biaya ini merupakan pengeluaran yang telah terjadi di
masa lalu, yang tidak dapat ditutupi kembali dalam situasi tertentu, dan tidak
akan memengaruhi biaya di masa depan. Biaya ini juga tidak dapat
dipengaruhi oleh suatu keputusan, baik keputusan yang dilakukan saat ini
maupun keputusan di masa yang akan datang. Oleh karenanya, biaya tertanam
biasanya adalah biaya yang tidak relevan, contohnya dalam pertukaran aset
lama dengan aset baru, nilai buku aset lama merupakan sunk cost karena tidak
relevan dalam pertimbangan yang dilakukan untuk pengambilan keputusan.
Dalam pengambilan keputusan mengenai jenis analisis yang akan digunakan
perlu dilakukan langkah-langkah pendahuluan agar manajemen memperoleh
data yang dapat diukur, dianalisis dengan tepat, dan dapat dilaksanakan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam analisis pengambilan keputusan,
meliputi:
a. Penentuan masalah. Manajemen harus dapat mengidentifikasi
secara jelas masalah yang dihadapi. Jika tidak dapat
diidentifikasi, maka diperlukan banyak waktu dan dana untuk
menemukan masalah yang harus dipecahkan terlebih dahulu.
b. Identifikasi alternatif-alternatif yang mungkin diambil. Pada
langkah ini untuk membuat keputusan yang efektif, manajemen
harus mengidentifikasi berbagai macam alternatif yang
mungkin dipilih untuk menyelesaikan masalah.

11
c. Penentuan data biaya dan penghasilan yang relevan. Dalam
tahapan ini berbagai biaya yang tidak relevan dapat dieliminasi
dari pertimbangan.
d. Evaluasi data. Dalam tahapan ini, evaluasi data dilakukan
dengan membandingkan total biaya yang dianggap relevan
pada alternatif pertama dengan total biaya pada alternatif
lainnya.
e. Mempertimbangkan data-data yang tidak dapat diukur secara
kuantitatif. Meskipun biaya dan pendapatan yang berkaitan
dengan alternatif adalah penting, tetapi keduanya belum
mampu menjelaskan secara keseluruhan. Faktor kualitatif dapat
secara riil memengaruhi pengambilan keputusan manajer dan
faktor ini sulit dinyatakan dengan angka atau satuan uang.
f. Pengambilan keputusan. Selanjutnya, setelah biaya dan manfaat
yang relevan untuk setiap alternatif dinilai dan faktor-faktor
kualitatif dipertimbangkan, maka keputusan dapat diambil.
Keputusan yang diambil merupakan suatu alternatif yang
menawarkan manfaat terbesar.

2.4.3. Penggunaan Biaya Relevan untuk Tujuan Pengambilan Keputusan Jangka


Pendek
Dalam pengambilan keputusan taktis dapat memanfaatkan konsep biaya relevan.
Beberapa permasalahan yang penyelesaiannya menggunakan konsep biaya relevan, antara
lain:

1. Keputusan menerima atau menolak pesanan khusus.


Manajemen mungkin menghadapi masalah untuk memutuskan apakah
pesanan khusus diterima atau ditolak. Pesanan digolongkan sebagai pesanan
khusus karena pesanan tersebut mempunyai harga jual yang lebih rendah
dibandingkan harga jual produk yang sama kepada pelanggan umum.
Informasi akuntansi yang relevan untuk memutuskan apakah suatu pesanan
khusus diterima atau ditolak adalah laba diferensial. Laba diferensial
merupakan selisih antara pendapatan diferensial dan biaya diferensial.

12
Pendapatan diferensial adalah tambahan pendapatan yang diperoleh dengan
diterimanya pesanan khusus. Biaya diferensial adalah tambahan biaya yang
dikeluarkan sebagai akibat diterimanya pesanan khusus. Pesanan khusus akan
diterima jika pendapatan diferensial lebih tinggi dibandingkan biaya
relevannya atau harga jual per unitnya lebih besar daripada biaya variabel per
unitnya. Berikut syarat yang harus dipenuhi agar pesanan khusus dapat
diterima;
a. Perusahaan masih memiliki kapasitas yang menganggur. Jika
masih terdapat kapasitas yang menganggur, maka pemanfaatan
kapasitas hanya mengakibatkan peningkatan biaya variabel,
sementara biaya tetap tidak mengalami perubahan. Jika
pengolahan pesanan khusus melampaui kapasitas yang ada,
maka akan meningkatkan jumlah biaya tetap.
b. Dapat dilakukannya pemisahan pasar antara penjualan biasa
dengan penjualan pesanan khusus. Tujuannya adalah agar harga
jual kepada pelanggan umum yang lebih tinggi harganya tidak
turun karena pengaruh harga pesanan khusus yang lebih
rendah.
2. Keputusan Pemanfaatan Kapasitas Mengganggur
Laba diferensial juga merupakan informasi diferensial untuk pengambilan
keputusan terkait pemanfaatan kapasitas yang menganggur. Kapasitas yang
menganggur dapat digunakan untuk menerima pesanan khusus, mengolah
lebih lanjut produk yang dihasilkan, atau menghasilkan produk baru.
3. Keputusan Pemanfaatan Kapasitas yang Terbatas
Total laba kontribusi setiap satuan kapasitas merupakan informasi relevan
untuk pengambilan keputusan terkait pemanfaatan kapasitas yang terbatas.
Laba kontribusi per unit produk digunakan untuk mengetahui besarnya total
laba kontribusi per satuan kapasitas atas setiap jenis produk.
4. Keputusan Penggantian Aset Tetap
Biaya masa lalu dalam bentuk nilai buku aset tetap lama bukan merupakan
informasi relevan dalam pengambilan keputusan terkait penggantian aset
tetap. Jika kapasitas aset baru dengan aset lama sama besarnya, maka
informasi relevan terkait keputusan penggantian aset tetap adalah
penghematan tunai antara aset tetap baru dengan aset tetap lama. Jika
13
kapasitas aset baru dengan aset lama tidak sama besarnya, maka informasi
relevan untuk keputusan penggantian aset tetap adalah laba diferensial aset
tetap lama dan laba diferensial aset tetap baru.
5. Keputusan Penyewaan atau Penggunaan Sebagian Kapasitas
Informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan ini adalah biaya
diferensial, yakni berupa biaya kesempatan (opportunity cost). Sebagian
kapasitas akan disewakan, jika biaya kesempatan menyewakan sebagian
kapasitas lebih kecil daripada biaya kesempatan menggunakan sendiri
sebagian kapasitas tersebut.

2.5. Pentingnya Manajemen Biaya


Pada dasarnya pendapatan penjualan dalam suatu perusahaan dihasilkan dengan
mengelurkan biaya. Maka dari itu, manajemen biaya dapat dikatakan penting. Anggaran
biaya dan analisis biaya adalah salah satu cara mengendalikan dan mengatur biaya untuk
memperbaiki laba neto. Dalam memperbaiki laba neto adalah mengurangi biaya, tetapi
dengan cara meninjau setiap biaya (beban) dan mengetahui kontribusinya terhadap laba netto.
Contohnya, jika biaya iklan dianggap terlalu tinggi proporsinya terhadap laba netto, dan jika
tidak melakukan biaya iklan tidak memunculkan masalah apapun, maka sebaiknya dilakukan
pemotongan terhadap biaya iklan.

2.6. Perilaku Biaya untuk Perencanaan, Pengendalian, dan Pengambilan Keputusan


Dalam penyusunan perencanaan, pengendalian serta pengambilan keputusan untuk
melakukan evaluasi atas biaya yang terjadi pada tingkat aktivitas maka diperlukan pemisahan
biaya, yang dibagi menjadi dua jenis yaitu biaya tetap dan biaya variable. Pemisahan biaya
tersebut memiliki tujuan, sebagai berikut:

1. Perhitungan biaya Overhead predeterminasi dan analisis varians.


2. Perhitungan biaya langsung dan analisis varians.
3. Analisis titik impas, serta analisis biaya volume dan laba.
4. Analisis biaya diferensial dan komparatif
5. Analisis maksimisasi laba dan minimisasi biaya jangka pendek
6. Analisis anggaran modal
7. Analisis profitabilitas pemasaran berdasarkan area/daerah, produk, dan planggan.

14
Dalam penentuan harga pokok berdasarkan perilaku biaya, untuk menggambarkan
hubungan antara biaya total dengan volume kegatan perusahaan, umumnya dinyatakan
dengan fungsi biaya sebagai berikut:

Total biaya adalah seluruh biaya yang dikorbankan untuk menghasilkan produk atas
jasa yang terdiri dari unsure biaya tetap dan unsru biaya variabel. Total biaya tetap yang
diperhitungkan sesuai dengan biaya diskresioner yang telah disepakati berdasarkan standard
produk atau jasa yang dihasilkan. Sementara total biaya tetap diperoleh dari perkalian biaya
per unit yang ditetapkan dengan volume aktivitas yang terjadi. Dengan demikian, jika dengan
persamaan matematis akan dirumuskan sebagai berikut:

Di mana Y adalah total biaya, a adalah total biaya tetap, b adalah harga per unit,
sementara x adalah volume aktivitas.

2.6.1. Perencanaan
Langkah awal dalam melaksanakan perencanaan yaitu menentukan harga
pokok produk, dimana fungsi diatas dapat dijadikan sebagai dasar perhitungan untuk
menetapkan standard biaya produk atau jasa yang dihasilkan. Dalam membantu
manajer untuk menentukan harga pokok produk, maka digunakan asumsi dalam
menyederhanakan perhitungan biaya berdasarkan volume aktivitas. Misalnya dalam
pembuatan 1 unit produk pakaian dibutuhkan 2 meter kain dengan harga per meter
sebesar Rp 4.000, berarti untuk 1 unit produk pakaian dibutuhkan biaya bahan baku
yaitu Rp 4.000 x 2 meter kain sebesar Rp 8.000, maka dari itu jika memproduksi 100
unit, maka dibutuhkan 200 meter kain dengan biaya sebesar Rp 800.000. Tetapi pada
kenyataannya bisa saja dalam realisasi biaya penggunaan bahan baku tersebut kurang
dari realisasi ataupun lebih besar dari Rp 800.000 yang disebabkan oleh berbagai
faktor. Faktor – faktornya antara lain adanya potongan harga apabila melakukan
pembelian dalam jumlah yang besar ataupun penghematan pemakaian bahan baku.

15
2.6.2. Pengendalian
Pola perilaku biaya dalam pengendalian biaya, dimana sangat membantu
manajemen untuk melakukan fungsi pengendalian dan pengawasan. Perilaku biaya
memberikan informasi terkait unsur – unsur biaya yang perlu mendapatkan perhatian
dalam setiap aktivitasnya. Unsur yang dapat dikendalikan adalah penggunaan bahan
baku dimana berdasarkan standard pemakaian bahan baku yang efisien agar mampu
menekan biaya (controllable). Pada tetapi, pada unsur harga pembelian, biasanya
ditentukan oleh harga pasar dan berada di luar kendali manajemen, maka dari itu
unsur ini tidak dapat dikendalikan langsung oleh manajemen (uncontrollable)
dikarenakan harga beli berkaitan dengan pihak eksternal perusahaan. Begitupun
dalam biaya tenaga kerja, terdapat biaya yang dapat dikendalikan oleh manajemen
maupun tidak dapat dikendalikan. Jam kerja merupakan salah satu aktivitas yang bisa
dikendalikan oleh perusahaan dan berdampak pada besarnya biaya tenaga kerja. Maka
dari itu dengan melakukan pengendalian jam kerja yang sesuai dengan standar
kualitas produk atau jasa yang ditetapkan, diharapkan dapat mengefisienkan biaya.
Sedangkan tarif upah dapat menjadi dasar pengendalian biaya yang tidak bisa
dikendalikan oleh perusahaan, biarpun hal tersebut adalah kebijakan perusahaan tetapi
terdapat faktor luar yang menjadi pertimbangan dimana tariff upah yang diatur oleh
perundang – undangan yang berlaku, dimana sesuai UMR.

2.6.3. Pengambilan Keputusan


Aspek perilaku biaya dapat membantu manajemen dalam memberikan
informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Dengan memahami konsep
biaya berdasarkan perilaku, manajemen dapat melakukan sejumlah pengambilan
keputusan strategis maupun keputusan – keputusan khusus, baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang.

2.7. Sistem Biaya Tradisional Versus Biaya Standar

2.7.1. Tujuan dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya


Data biaya harus diakumulasi untuk berbagai tujuan, baik eksternal maupun
internal. Akuntansi biaya mengidentifikasi, menguantifikasi, mengakumulasi, dan

16
melaporkan berbagai elemen biaya yang berkaitan dengan produksi barang atau
penyerahan jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan yaitu untuk menilai persediaan dan
penentuan laba. Dengan menyediakan informasi biaya yang tepat waktu dan relevan bagi
manajemen, akuntansi biaya membantu dalam perencanaan pengendalian dan evaluasi
aktivitas operasional harian dan orang yang bertanggung jawab atas hal itu.

Pendekatan dan sistem yang digunakan dalam penyediaan informasi biaya yang
sangat berbeda satu sama lain, sebagai berikut:

1. Sistem Biaya Tradisional (Historis)


Istilah tradisional (historis) mengacu pada sistem biaya yang
membatasi masukan (input) pada biaya historis dan mengusahakan penyerapan
penuh atas biaya tetap dan variabel oleh unit produk atau jasa, dimana fokus
pada identifikasi dan akumulasi biaya per unit produk atau jasa. Maka dari itu
sistem tersebut digunakan untuk menghitung nilai persediaan dan data beban
pokok pejualan atau jasa yang diberikan bagi pelaporan keuangan eksternal.
Salah satu kelemahan utama sistem biaya tradisional adalah bahwa
persyaratan akuntansi keuangan menuntut agar biaya per unit produk atau jasa
memperhitungkan semua biaya, baik yang dapat ditelusuri ke suatu produk
atau jasa maupun yang terjadi untuk satu periode waktu tertentu atau untuk
lebih dari satu objek biaya. Biaya periode atau kapasitas dan biaya yang terjadi
untuk lebih dari satu produk atau segmen tidak dapat ditelusuri langsung ke
unit jasa, produk atau departemen tertentu.
Kelemahan utama lainnya yang berkaitan dengan penggunaan sistem
biaya tradisional untuk tujuan pengendalian adalah bahwa satu – satunya dasar
untuk pengendalian adalah perbandingan kinerja saat ini dengan kinerja dari
periode sebelumnya, dimana dapat dikatakan cukup menyesatkan karena tidak
ada cara untuk mengetahui apakah biaya dari periode sebelumnya terlalu
tinggi atau terlalu rendah. Oleh karena itu, semakin jelas bahwa informasi
yang diberikan oleh sistem biaya tradisional tidak sesuai dengan tujuan
pengendalian modern.
2. Sistem Biaya Standar
Sistem biaya standar merupakan pencatatan biaya produksi
berdasarkan standar. Unit-unit dari aliran persediaan sepanjang akun
persediaan terhadap biaya standar per unit. Ketika harga yang sebenernya

17
diketahui, ayat jurnal penyesuaian dibuat untuk menyatakan kembali setiap
akun laporan posisi keuangan.
Sistem biaya standar dapat digunakan dalam perhitungan biaya proses
maupun berdasarkan biaya pesanan. Sistem biaya standar umum lebih dapat
digunakan dalam lingkungan industri dengan penggunaan teknologi yang
relatif stabil dan menghasilkan produk yang homogen. Biaya standar sangat
membantu perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan dalam:
a. Penetapan anggaran. Dengan adanya biaya standar, maka
penyusunan anggaran untuk volume dan bauran produk dapat
disusun dengan cepat dan lebih andal.
b. Pengendalian biaya. Hal ini dilakukan dengan cara memotivasi
karyawan dan mengukur efisiensi operasi. Pengendalian biaya
yang efektif tergantung pada pemahaman manajemen atas
proses pemicu biaya dan motivasi karyawan yang
mengendalikan proses tersebut.
c. Penyederhanaan prosedur perhitungan biaya dan percepatan
penyusunan laporan biaya.
d. Pembebanan biaya ke persediaan, produk dalam proses, dan
produk jadi. Beberapa perusahaan tidak menggunakan biaya
standar untuk perencanaan dan pengendalian persediaan.
e. Penetapa tawaran biaya kontrak. Perhitungan biaya yang terjadi
untuk suatu kontrak akan lebih menggunakan biaya standar,
atau jika akan memproduksi suatu produk yang spesifik.

2.7.2. Sistem Biaya Standar dan Anggaran Fleksibel


Anggaran fleksibel adalah anggaran yang disusun untuk mencakup sejumlah
jangkauan aktivitas dan yang digunakan untuk mengembangkan biaya yang dianggarkan
pada titik manapun dalam rentang waktu tersebut untuk diperbandingkan dengan biaya
aktual yang disertakan. Anggaran fleksibel dibuat untuk suatu rentang aktivitas, bukan
hanya untuk satu tingkatan aktivitas saja, dan pada intinya merupakan serangkaian
anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat kegiatan yang berbeda.

Terdapat hubungan yang penting antara penganggaran fleksibel dan sistem biaya
standar. Sebenernya, taksiran sistem biaya standar menginventarisasi selama periode pada

18
jumlah anggaran fleksibel, dimana anggaran fleksibel adalah anggaran biaya per unit
dikalikan dengan jumlah unit aktual.

2.7.3. Kompatibilitas dengan Konsep Teori Organisasi Modern


Dalam pendekatan modern dinyatakan bahwa yang dimiliki saat ini bukan teori
mengenai organisasi, cara melihat dan menganalisis secara lebih tepat dan mendalam
yang dilakukan melalui keteraturan atau regulitas perilaku organisasi yang hanya berlaku
untuk suatu lingkungan atau kondisi tertentu. Dalam mengembangkan kerangka kerja
untuk sistem biaya standar diperlukan langkah sebagai berikut:

1. Penetapan tujuan organisasi


2. Penentuan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dan penugasan fungsi
kepada masing – masing individu
3. Pengisian posisi staf dari pusat pertanggungjawaban dengan individu –
individu yang memiliki kemampuan, motivasi, dan pengetahuan yang
mencukupi untuk melakukan fungsinya.
4. Penciptaan jalur komunikasi antara pusat pertanggungjawaban dan unit
organisasi lainnya, serta lingkungan eksternal jika diperlukan.
5. Pengembangan prosedur yang memastikan bahwa terdapat informasi yang
mencukupi, relevan, dan tepat waktu selama alur komunikasi.
6. Desain dan implementasi mekanisme pengendalian yang mengukur dan
mengevaluasi kinerja terkait tujuan organisasi dan memberikan umpan balik
mengenai penyesuaian.

2.8. Perhitungan Biaya Langsung atau Biaya Variabel


Seluruh metode akuntansi biaya tradisional, sesuai dengan konsep biaya tersebut,
membebankan unit produk atau jasa dengan biaya penuh. Bahan baku langsung dan tenaga
kerja langsung dibebankan langsung ke unit produk atau jasa, sementara overhead tetap dan
variabel pada kebanyakan kasus diserap berdarkan estimasi tarif yang didasarkan pada
volume yang telah ditentukan sebelumnya. Ketika dasar yang digunakan untuk penyerapan
berbeda dengan tingkat kapasitas yang telah ditentukan sebelumnya, maka prosedur
penyerapan akan menimbulkan penyerapan terlalu tinggi atau penyerapan terlalu rendah atas

19
overhead manufaktur. Analisis pelengkap dibutuhkan untuk mengidentifikasi berbagai
komponen yang menyebabkan terjadinya penyerapan terlalu tinggi atau terlalu rendah.

2.9. Pengendalian Biaya


Pengelompokkan biaya ke dalam komponen biaya variabel dan biaya tetap
memberikan perincian kepada manajemen mengenai biaya teknik, biaya yang berkomitmen
dan biaya diskresioner. Berikut ini pengelompokannya:

1. Biaya teknik meliputi biaya bahan baku langsung, biaya TKL dan biaya overhead
variabel, seperti bahan bakar dan listrik. Biaya ini dapat langsung dikendalikan
pada tingkat organisasi terendah melalui penggunaan anggaran fleksibel dan
standar.
2. Biaya tetap yang berkomitmen atau biaya kapasitas adalah seluruh biaya
organisasi dan pabrik yang terus terjadi dan tidak dapat dikurangi tanpa
merugikan kompetensi organisasi. Biaya ini dapatdikendalikan dalam jangka
pendek hanya denan usaha untuk meningkatkan penggunaan dari fasilitas yang
dikomitmenkan.
3. Biaya diskresioner merupakan biaya yang muncul dari keputusan periodic dan
merupakan biaya yang tidak memiliki hubungan optimum yang dapat ditunjukkan
di antara input dan output. Biaya ini meliputi periklanan, audit dan jasa konsultasi
manajemen.

2.10. Pengambilan Keputusan


Selain penekanan terhadap biaya-biaya diatas, pengetahuan atas biaya
diferensial/biaya variabel serta margin kontribusi akan mempengaruhi perilaku manajemen
dalam pengambilan keputusan. Beberapa situasi pengambilan keputusan yaitu:

1. Keputusan Bauran Produk


2. Penentuan Harga Produk Baru
3. Penetrasi Pasar
4. Penghapusan Produk
5. Pesanan Khusus
6. Kampanye Iklan dan Promosi

20
7. Keputusan Mengurangi Biaya

2.11. Aspek Keperilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih


Elemen yang paling berpengaruh dalam penentuan keberhasilan/kegagalan adalah
standar yang digunakan sebagai kriteria kinerja. Standar digunakan sebagai pengendalian
biaya dan evaluasi kinerja. 4 Prasyarat utama dalam system pengendalian yang unggul secara
keperilakuan yaitu:

1. Standar harus ditetapkan dalam cara yang sedemikian rupa, sehingga orang
menerimanya sebagai sesuatu yang realistis dan bukannya arbitrer.
2. Orang-orang harus merasa bahwa mereka memiliki pengaruh dalam menetapkan
tujuannya sendiri.
3. Orang-orang harus yakin bahwa mereka tidak akan dihukum secara tidak adil
untuk variasi normal yang terjadi secara kebtulan dalam kinerjanya.
4. Umpan balik atas kinerja harus bertujuan untuk memperbaiki maupun
mengevaluasi.

Jika mereka percaya bahwa partisipasinya memiliki dampak terhadapstandar, maka


mereka merasa tidak mampu untuk mempengaruhi lingkungan kerjanya, dan mereka akan
lebih temotivasi untuk berjuang mencapai tujuan.

2.12. Partisipasi dalam Penetapan Standar


Dalam salah satu studi empiris, digunakan teori disonansi kognitif untuk mendapatkan
lebih banyak wawasan terkait mengapa partisipasi menjadi efektif dalam penetapan standar
kinerja, dimana teori tersebut mempuyani 3 konsep kunci yaitu kemauan, disonansi dan
komitmen. Penjelasan lebih lanjut yaitu:

1. Bahwa jika manajemen menginginkan komitmen yang pasti terhadap standar


maka individu yang dikendalikan harus memiliki kemauan.
2. Ketika telah memilih serangkaian standar maka mereka akan mengalami
disonansi (keraguan), hal ini dapat dikurangi saat menerima umpan balik atas
hasil kinerja.

21
3. Keraguan yang hilang akan berdampak terhadap peningkatan komitmen, dimana
resolusi atas disonansi atau peningkatan komitmen akan terjadi bahkan dalam
situasi penetapan tujuan yang nonpartisipatif sekalipun.

2.12.1. Standar Ketat vs Standar Longgar


Sebagai alat motivasi, standar yang akan digunakan seharusnya tidak terlalu
ketat/tidak terlalu longgar. Standar yang ketat akan lebih sering tidak tercapai,
sehingga kan menimbulkan kegagalan dan perasaan frustasi serta berkecil hati.
Kinerja pun mengalami penurunan dan mereka akan mencoba berhenti untuk
melakukan perbaikan. Standar yang longgar juga tidak memberikan manfaat motivasi
apapun, karena standar tersebut begitu mudah dicapai sehingga mandor/manajer akan
mengabaikan standar tersebut karena dianggap tidak berarti. Oleh karena itu tingkat
keketatan atas standar harus dievalusi setiap situasi berdasarkan jenis proses produksi,
produk/jasa yang akan diserahkan dan kepribadian orang-orang yang terlibat
didalamnya.

2.12.2. Penyerapan Overhead


Bidang lain yang mengalami dorongan disfungsional adalah penyerapan
overhead. Pembebanan overhead manufaktur tetap dan variabel ke produk adalah
tariff estimasi yang didasarkan pada tingkat kapasitas yang telah ditentukan. Ketika
penyerapan berbeda dengan standar yang telah ditentukan, maka pembebanan varians
terlalu tinggi/terlalu rendah akan terjadi. Ukuran varians ini dipengaruhi tingkat
kapasitas, dimana kapasitas jangka panjang akan berbeda dengan kapasitas jangka
pendek. Berdasarkan aturan, perusahaan diizinkan menggunakan kapasitas saat
iniyang dapat dicapai sebagai dasar untuk menentukan tariff yang digunakan dalam
menyerap overhead tetap ke produk. Porsi volume dan kapasitas dari varians yang
dibebankan terlalu rendah dapat dibebankan pada periode terjadinya. Sementara
hanya varians anggaran dan efisiensi yang perlu dikapitalisasi.

22
2.12.3. Alokasi Biaya Tidak Langsung
Dalam riset yang didukung oleh National Asociation of Accountant
membedakan dengan tegas 2 jenis biaya tidak langsung, yaitu:

a. Biaya Jasa Korporat: dilakukan secara terpusat terkait manfaatnya bagi


korporat dan berbagai pusat pertanggungjawaban.
b. Biaya Administrasi Korporat: biaya yang diperlukan untuk
mengoperasionalkan kantor korporat.

Tujuan alokasi biaya tidak langsung yaitu sebagai pelaporan keuangan


eksternal, evaluasi kinerja internal, penentuan harga berbasis biaya dan pengambilan
keputusan. Perusahaan harus menghindari adanya pembebanan pada pusat
pertangungjawaban biaya apabila pusat pertanggungjawabann tersebut tidak memiliki
pengendalian baik langsung maupun tidak langsung. Alokasi biaya bukan pendekatan
yang sempurna untuk menentukan biaya yang terjadi dari desentralisasi maupun untuk
menghilngkan konsumsi yang berlebihan serta bukan alat untuk mengukure degradasi
maupun penundaan biaya namun dalam situasi tertentu alokasi biaya sebagai
mekanisme untuk memotivasi dan mengendalikan manajer.

2.12.4. Analisis Varians


Unsur utama pengendalian biaya adalah perbandingan secara periodik antara
biaya actual dan sasaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya. Perbandingan
tersebut akan menghasilkan sebuah varians, beberapa varians dapat dijelaskan dan
dikendalikan, sementara yang lain dapat tidak dapat dijelaskan maupun dikendalikan.

2.12.5. Keputusan Investigasi Varians


Keputusan manajemen semata-mata bergantung pada penilaiannya atas
signifikansi diskrepansi yang diamati. Varians memiliki signifikansi pengendalian
hanya jika varians tersebut berasal dari penyebab yang dapat ditentukan atau denga
kata lain tidak berisfat acak dan rentan terhadap tindakan perbaikan. Bahkan jika
diskrepansi tersebut diinvestigasi, manajemen tidak memiliki jaminan bahwa hal
tersebut akan mengidentifikasi penyebab dari varians itu dengan kepastian penuh
karena investigasi tersebut dapat terbukti hanya berhasil sebagian atau bahkan gagal

23
sepenuhnya. Sebaliknya, manajemen masih menggunakan penilaian subjektif dan
aturan-aturan berdasarkan pengalaman ketika memutuskan apakah investigasi dan
tindakan perbaikan diinginkan atau dapt dibenarkan secara ekonomi.

2.12.6. Aspek Keperilakuan


Komponen khusus dari kebijakan pengendalian yang dapt mempengaruhi
respons manusia adalah faktor-faktor seperti batasan yang ditetapkan oleh
manajemen, jenis hasil umpan balik, keketatan pemaksaan dan penghargaan serta
sanksi yang terkait dengan kebijakan pengendalian.

24
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Simpulan
Manajemen berdasarkan aktivitas berfokus pada aktivitas dengan tujuan berfokus
memperbaiki nilai bagi pelanggan dan meningkatkan profitabilitas yang kokoh. Analisis nilai
proses melibatkan analisis penggerak biaya, analisis aktivitas, dan pengukuran kinerja.
Dimensi ini lah yang menghubungkan analisis volume proses dengan konsep perbaikan
lanjutan. Kinerja aktivitas dievaluasi dengan menggunakan tiga dimensi: efesiensi, kualitas
dan waktu. Penulusuran biaya yang digerakkan pelanggan kepada pelanggan dapat
menyediakan informasi penting untuk manajer. Keakuratan biaya pelanggan memungkinkan
para manajer untuk membuat keputusan penentuan harga, keputusan bauran pelanggan, dan
keputusan yang berhubungan dengan pelanggan secara lebih baik, sehingga dapat
memperbaiki profitabilitas. Sama halnya, penulusuran biaya yang digerakkan pemasok
kepada pemasok akan memungkiinkan manajer untuk memilih pemasok yang benar-benar
berbiaya rendah sehingga menghasilkan keunggulan bersaing yang lebih tinggi dan
meningkatkan profitabilitas.

25
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, A. I. (2017). Akuntansi Keperilakuan (Akuntansi Multiparadigma). Jakarta: Salemba


Empat.

26