Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah sakit sebagai salah satu sub sistem pelayanan kesehatan


menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan
kesehatan dan pelayanan administrasi. “Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan
medik, pelayanan penunjang medik, rehabilitasi medik dan pelayanan perawatan”
(Muninjaya, 2004: 220). Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari
pelayanan rumah sakit, oleh sebab itu mutu pelayanan keperawatan akan
berdampak langsung terhadap pelayanan rumah sakit. “Apabila mutu keperawatan
yang diberikan kepada pelanggan dibawah standar, akan mempengaruhi citra
rumah sakit” (Tutik et al: 2008). Hal ini dikarenakan perawat merupakan tenaga
kesehatan terbanyak dan mempunyai waktu kontak dengan pasien lebih lama
dibandingkan tenaga kesehatan yang lain. Oleh karena itu perawat rumah sakit
harus mencakup profesionalisme yang mempunyai kemampuan baik intelektual,
teknikal, interpersonal, dan moral, bertanggung jawab serta berwenang
melaksanakan asuhan keperawatan (Cecep, 2013: 57).
Namun demikian, peran perawat dalam memberikan pelayanan yang bermutu
perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dalam mencapai pelayanan yang
profesional, baik dalam ketenagaan, materil, metode, keuangan dan fasilitas untuk
menunjang pemberian pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien.
Manajemen didefinisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui
orang lain untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang
berubah. Didalam manajemen tersebut mencakup kegiatan POAC (Planning,
Organisasi, Actuating, Controling) terhadap Staff, sarana dan prasarana dalam
mencapai tujuan organisasi. Manajemen diperlukan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan.
Dalam manajemen terdapat suatu proses yang mengubah suatu input menjadi
suatu output yang diharapkan. Input manajemen terdiri dari manusia, material/
alat, metode dan lingkungan yang selanjutnya akan mengalami proses manajemen

1
sehingga tercapai output. Output pada manajemen berupa efisiensi dalam
pelayanan dan staf yang kompeten dan ahli. Pada manajemen
keperawatan,kegiatan ini terintegrasi pada praktek yang nyata dalam pengelolahan
klien. Sehingga dihasilkan suatu pelayanan keperawatan yang efektif dan efisien
yang terdapat diterapkan kepada klien , keluarga klien dan masyarakat.
Berdasarkan berbagai pemikiran tersebut maka Mahasiswa melaksanakan
praktek profesi manajemen keperawatan di Ruang Bedah (Irina E) Rumah Sakit
Umum Daerah M.M Dunda Limboto sehingga dapat memberikan pengalaman
pengelolahan pada salah satu unit pelayanan kesehatan, sekaligus berkontribusi
meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum


Setelah menyelesaikan praktek profesi manajemen keperawatan, mahasiswa
mampu menerapkan konsep dan prinsip manajemen keperawatan dan menjadi “
Change Agent” pada unit pelayanan kesehatan secara nyata dan meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan di Ruang Anak Rumah Sakit Umum Daerah M.M
Dunda Limboto.

1.2..2. Tujuan Khusus


Setelah menyelesaikan praktek Manajemen Keperawatan mahasiswa
mampu:
a. Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah pelayanan kesehatan
yangterkait dengan manajemen keperawatan berdasarkan analisis
situasi nyata di tempat praktek.
b. Menetapkan prioritas manajemen keperawatan bersama kepala
ruanngan serta perawat ruangan di tempat mahasiswa praktek
c. Menetapkan prioritas dan alternatief penyelesaian masalah yang
disepakati bersama kepala ruangan dan para perawat ruangan serta
pembimbing

2
d. Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah berdasarkan
kebutuhan masalah yang disepakati kepala ruangan dan para perawat
ruangan serta pembimbing
e. Mengevaluasi proses pelaksanaan kegiatan mulaidari aspek masukan
(input), aspek proses sampai dengan proses hasil (Output).

1.3. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa Keperawatan

Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam


menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara nyata dilahan praktek
maupun tempat bekerja nanti.

2. Bagi Ruangan / Rumah sakit

Meningkatkan kulalitas pelayanan keperawatan sesuai dengan masalah


yang ditemukan di lahan praktek sesuai dengan ilmu yang didapatkan
selama proses akademik dengan tehnik pemecahan masalah pada konsep
manajemen sehingga meningkatkan mutu pelayanan di Rumah Sakit.

3. Bagi Pendidikan

Dapat menjadi referensi sebagai evaluasi untuk meningkatkan kualitas


pengajaran manajemen keperawatan bagi mahasiswa yang akan
menjalankan praktek profesi manajemen keperawatan pada program
berikutnya.

3
BAB II
TINJAUAN LAHAN

2.1 Gambaran Umum Rumah Sakit dan Ruang Praktik


1. Sejarah rumah sakit
RSUD dr. M.M. Dunda Limboto didirikan pada tanggal 25 November
1963 dengan kapasitas awal tempat tidur adalah 29 buah. Melalui Surat
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 171/Menkes/SK/III/1994 RSU Dr.
M.M. Dunda ditetapkan menjadi RSU Kelas C yang peresmiannya pada
tanggal 19 September 1994 bersamaan dengan penggunaan nama Dr.
Mansyoer Mohamad Dunda, Nama RUmah Sakit tersebut diambil dari
nama seorang putra daerah perintis kemerdekaan yang telah mengabdikan
dirinya dibidang kesehatan sehingga diabadikan menjadi nama Rumah
Sakit Umum Daerah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo
dengan berkedudukan sebagai unit pelaksana pemerintah Kabupaten
Gorontalo dibidang pelayanan kesehatan masyarakat.

Dalam perkembangannya RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto menjadi


Badan Pengelola berdasarkan SK. Bupati Gorontalo Nomor 171 Tahun
2002 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. M.M. Dunda Kab. Gorontalo.

Dengan ditetapkannya sebagai Badan Layanan Umum Daerah maka sejak


Tahun Anggaran 2001, RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto mulai
dikembangkan secara bertahap, dan hingga kini mempunyai kapasitas 235
tempat tidur dengan rata-rata penderita dirawat ± 166 pasien perhari.
Seiring dengan tuntutan masyarakat yang semakin membutuhkan
pelayanan kesehatan bermutu, lebih mudah, lebih cepat maka berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: HK.03.05/I/1077/2011, RSUD
Dr. M.M Dunda Limboto berubah tipe menjadi Kelas B.

4
2.2 Falsafah, Motto, Visi, Misi dan Tujuan

Visi RS Umum Daerah M.M Dunda Limboto


Menjadi Rumah Sakit Terbaik di Provinsi Gorontalo
Misi
1. Memberikan pelayanan kesehatan yang profesional,bermutu,tepat waktu
dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
2. Meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia melalui
pendidikan dan pelatihan
3. Meningkatkan pendapatan rumah sakit dan mandiri dalam pendanaan
4. Meningkatkan kesejahteran karyawan
5. Mengembangkan penelitian dan pengembangan dalam teknologi
kesehatan
Filosofi
Keselamatan, kesembuhan, dan kepuasan pasien adalah kebanggaan kami
Motto
Bekerja ikhlas untuk pelayanan yang lebih berkualitas

5
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 M1 (Man atau Tenaga)
A.Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Ruang Bedah

KEPALA RUANGAN
Eli Kusrini S.Kep

KATIM I KATIM II ADMINISTRASI


Alis Marali, S.Kep Meylan Sideni Amd,Kep 1. Cindra
Setiawati
Tangahu
PERAWAT PELAKSANA PERAWAT PELAKSANA
1. Ingrid C.R Van
2. filyan igirisa
1. Sri yuliyanti pomalingo Amd,
Gobel S.kep
2. Ns. Olis Ishak S.kep Kep

3. Laila nusi Amd, Kep 2. Nurul Haq, AMK

4. Ns. Nurhayati abdul 3. Lisnawaty bagu, Amd Kep

S.kep 4. Bobiyanto Kasim, Amd Kep

5. Desty susi lariwu, 5. Dewi C. Parawouw, Amd


Amd Kep Kep

6. Hendra F.
Suratinoyo Amd.Kep
7. Wirta A. Yusuf
Amd, Kep

6
B. Pengaturan Ketenagaan
1) Perhitungan Ketenagaan Menurut Douglas

Tingkat Jumlah
Pagi Sore Malam
Ketenagaan Klien
18x 0,17= 18 x0,14= 18 x0,07=
Minimal care 18
3,06 2,52 1,26
1 x 0,27= 1x0,15= 1x0,10=
Parsial care 1
0,27 0,15 0,10
Total care - - - -
19 3,33 2,67 1,36
19 3 3 1

Berdasarkan tabel diatas jumlah secara keseluruhan perawat perhari 7


orang.
2)

3.2 M2-Material (Bangunan, Sarana dan Prasarana)

1. Lokasi

Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini


dilakukan pada ruang Bedah, RSUD MM DUNDA Limboto
Kabupaten Gorontalo dengan uraian denah sebagai berikut :

a. Sebelah utara berbatasan dengan ruangan pavilion


b. Sebelah selatan berbatasan dengan tempat parker
c. Sebelah barat berbatasan dengan pagar depan
d. Sebelah timur berbatasan dengan Irina H

7
2. Peralatan dan Fasilitas

a. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam ruangan Bedah sebagai


berikut :
Inventaris Alat Tenun di Ruang Bedah RSUD MM DUNDA
Limboto, Kabupaten Gorontalo
No. Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal
1. Laken 27 Baik
2. Taplak meja - -
Sarung bantal
3. 27 -
kepala

Inventaris Alat Medik dan Keperawatan di Ruang Bedah


RSUD MM DUNDA Limboto, Kabupaten Gorontalo
No. Fasilitas Jumlah Kondisi Ideal
1. Stetoskop 2
2. Tensi meter 3 Baik
Bak instrumen
3. 1 Baik
besar/kecil
4. Bak steril besar - -
5. Bak steril sedang - -
6. Bak steril kecil - -
7. Kom sedang - -
8. Kom kecil 1 Baik
9. Termometer Laser 1 Baik
10. Pinset anatomis Baik
11. Pinset cirurgis 1 Baik
12. Tong spatel Baik
13. Nal foeder - -

8
14. Gunting fak hecting Baik
15. Guntung perban 1 Baik
16. Gunting bengkok 1 Baik
Gunting runcing
17. Baik
kecil
18. Gunting tajam 1 Baik
19. Klem 4 Baik
20. Tromol sedang 1 -
21. Kanula O2 - Baik
22. Bengkok 2 Baik
23. Masker O2 - -
24. Sterilisator - -
25. Tabung O2 1 Baik
26. Tiang infuse 27 Cukup baik
27. Humifider 1 Baik
28. Meja Troli 2 Baik
29. Kursi roda 3 Baik
30. EKG 2 Baik
31. Timbangan 1 Baik
32. Pen Light Baik
33. Nebulizer 1 Baik 1
34. Branchart 1 Baik

Inventaris Alat Rumah Tangga di Ruang Bedah


RSUD MM DUNDA Limboto, Kabupaten Gorotalo
No. Fasilitas Jumlah Kondisi Ideal
1. Telepon 1 Baik
2. AC 3 Baik
3. Kipas angin 1 Baik

9
4. Lemari es 3 Baik
5. Wastafel 1 Baik
6. Ember sampah 2 Baik
7. Gayung 10 Baik
Rak penyimpanan
8. 2 Baik
lembar dokumentasi
9. Lampu sorot 1 --
10. Dispenser 1 Baik
11. Lemari kaca 1 Baik
12. Televisi 3 Baik
13. Struktur organisasi 1 Baik
14. Papan informasi 1 baik
15. Leaflet 1 -
16. Papan promkes 1 -
17. Banner 2 Baik
18. Alur klien masuk 1 Baik
19. Denah ruangan - -
20. Alur hand Dover 1 -
21. Meja nurse station 2 Baik
22. Bangku sandar 5 Baik
23. Bangku panjang 2 Baik
24. Lemari kaca putih 1 Baik
25. Lemari inventaris - -
26. Bed 27 Baik
27. Loker perawat 1 Baik
Meja perawat
28. 2 Baik `
panjang
29. Tempat tidur perawat - Baik `
30. Lemari klien 27 Baik
32. Kursi plastik perawat 5 Baik

10
b. Fasilitas
1) Fasilitas untuk petugas kesehatan, meliputi:
a) Terdapat ruang Kepala Ruangan/Perawat
b) Kamar mandi dan WC berada di dalam ruangan
c) Ruang konsultasi dokter gabung dengan nurse station
d) Tempat Shalat di kamar perawat
e) Nurse station berada pada bagian tengah ruangan di depan
ruangan kelas III wanita
f) Ruangan administrasi berada di samping Nurse Station
2) Fasilitas untuk klien, meliputi.
a) Ruang rawat inap
b) Kamar mandi dan WC berada dalam masing-masing ruangan
c) Terdapat lemari klien dalam masing-masing ruangan
c. Administrasi penunjang
1) Buku perencanaan pulang
Pada ruang Bedah terdapat buku perencanaan pulang, di mana
disediakan khusus bagi klien yang akan pulang ke rumah setelah
perawatan di ruangan Bedah.
2) Buku timbang terima
Pada ruang Bedah memiliki buku timbang terima yang digunakan
untuk melakukan timbang terima. Perawat melakukan timbang
terima di nurse station
3) Buku injeksi
Pada ruang Bedah terdapat buku injeksi yang disediakan ruangan
yang berisi daftar obat klien.
4) Buku visite perawat
Buku visite digunakan oleh perawat untuk menanyakan keluhan-
keluhan klien pada saat jam dinas berlangsung.

11
5) SOP

Pada ruang Bedah terdapat buku kumpulan standar operasional


prosedur (SOP) yang digunakan oleh perawat dalam memberikan
tindakan keperawatan kepada klien.

6) SAK

Standar asuhan keperawatan juga digunakan pada ruangan bedah kelas


ini, di mana perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan standar asuhan keperawatan yang ada.

3.3 M3-Methode (Metode Pemberian Asuhan Keperawatan)


a) Penerapan MAKP

Dari hasil wawancara dengan Kepala Ruangan dan prawat Bedah


RSUD MM DUNDA Limboto Kabupaten Gorontalo jenis metode
pemberian asuhan keperawatan di ruangan Bedah RSUD MM
DUNDA Limboto Kabupaten Gorontalo menggunakan metode TIM
dalam hal ini dibagi menjadi 2 TIM yang terdiri dari perawat
profesional dan perawat yang di pimpin oleh KATIM, dan pada hasil
wawancara dan obeservasi dilapangan sudah sesuai/optimal antara
peran KATIM dan Perawat (PA), hal ini nampak pada
pendokumentasian Asuhan Keperawatan yang didokumentasikan oleh
KATIM.

b) Proses timbang terima ( operan)

Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan dan perawat yang


diruangan yang dilkukan pada tanggal 30 april 2019 didapatkan operan
di ruangan Bedah RSUD MM DUNDA Limboto, Kabupaten
Gorontalo dilaksanakan 3 kali dalam sehari yaitu pergantian shift
malam ke pagi ( Pukul 08.00), pagi ke sore ( Pukul 14.00), dan sore ke
malam ( Pukul 21.00) dan juga operan dilakukan hanya di ruangan
perawat antara perawat.

12
Berdasarkan observasi operan timbang terima pada tanggal 30 april
2019 pada pukul 08.00 ( shift malam ke shift pagi ) dilaksanakan
setiap hari dengan optimal.

c) Ronde keperawatan

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan dan perawat


ruangan bedah ronde keperawatan diruangan Bedah RSUD MM
DUNDA Limboto dilakukan jika ditemukan pasien yang memiliki
masalah kesehatan dari pertama masuk belum ada perubahan status
kesehatan. Berdasarkan penjelasan kepala ruangan ronde keperawatan
di ruangan bedah belum optimal.

d) Sentralisasi obat

Dari hasil wawancara dan observasi didapatkan seluruh jenis obat-


obatan klien di tempatkan di tempat obat masing-masing nama klien
dan untuk pemberian obat itu sendiri dilakukan oleh perawat yang sift
pada jam yang sudah ditentukan.

e) Supervisi

Supervisi atau pengawasan adalah proses pengawasan terhadap


kegiatan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut berjalan sesuai
dengan tujuan organisasi dan standar yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan didapatkan


ruangan Bedah RSUD MM DUNDA Limboto sudah menjalankan
kegiatan supervise apabila ada kredensial.\

f) Penerimaan pasien baru (PBB)


Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat diruangan Bedah
RSUD MM DUNDA Limboto pada saat melakukan penerimaan pasien
baru belum optimal karena perawat biasanya tidak memberikan
informasi tentang tata tertib ruangan, fasilitas apa yang ada diruangan.

13
Setelah dilakuakan observasi (pembagian kuesioner) kepada pasien
sebanyak 15 orang tentang masalah kesehatan yang dialami, 10 orang
(66,67%) belum mengetahui tentang (hal-hal apa saja yang harus
dihindari dari masalah kesehatan pasien).
g) Dokumentasi keperawatan
Model dokumentasi keperawatan yang digunakan pada ruangan
bedah adalah di mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi dan
evaluasi yakni SOAP (Subjektif, objektif, assesment, perencanaan).
Dan hasil observasi dokumentasi keperawatan (catatan perawat)
diruangan bedah atau dengan sebutan MR521 bersamaan dengan
intruksi dokter riwayat penyakit dan catatan lainnya, ini dilakukan agar
mempermudah perawat dalam mendokumentasikan seluruh asuhan
keperawatan pada klien dari pegkajian sampai dengan evaluasi dan
meminimalisir kesalahan pencatatan/dokumentasi oleh perawat.
Pendokumentasian keperawatan diruangan bedah
menggunakan/merujuk ke NANDA NIC NOC.

3.4 M4-Money (Pembiayaan)


Ruangan Bedah memiliki sistem keuangan yang diatur langsung
oleh pihak rumah sakit baik, untuk pelayanan maupun penggajian ruangan,
berdasarkan peraturan daerah (PERDA) Kabupaten Gorontalo.
Untuk tenaga perawat yang PNS memperoleh gaji sesuai dengan golongan
masing-masing yang diberikan serta tunjangan – tunjangan beserta jasa,
sedangkan untuk pegawai honor / kontrak memperoleh gaji beserta jasa
sesuai dengan apa yang mereka lakukan.
Kemudian system pembayaran klien juga dikelolah langsung oleh
bagian keuangan Rumah sakit, dan jenis pembayaran juga tergantung
jaminan apa yang digunakan oleh klien
a. Untuk klien BPJS/JKN, biaya perawatan ditanggung oleh jaminan
tersebut dengan mengikuti prosedur yang berlaku dimana batas waktu
untuk pengurusan jaminan kesehatan diberi waktu 3 x 24 jam.

14
b. Untuk klien umum, seluruh biaya perawatan ditanggung sepenuhya
oleh Klien/ keluarga sesuai dengan lamanya perawatan tersebut.
c. Biaya p erawatan disesuaikan dengan jaminan kelas yang ditentukan
oleh BPJS atau JKN.

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang diperoleh baik melalui


wawancara maupun observasi kepada Kepala Ruangan dan bagian
Administrasi bahwa perencanaan anggaran untuk ruangan, seperti
perencanaan fasilitas dan saranan dalam menunjang kegiatan pelayanan
keperawatan telah dibuat dan diajukan kepada bidang keuangan, bidang
pelayanan, sarana dan prasarana. Namun, tidak ada alokasi dana bulanan
maupun tahunan yang khusus diberikan untuk ruangan bedah.
3.5 M5-Mutu (Kualitas)
Secara umum, semua rumah sakit berupaya untuk menerapkan
penjaminan mutu pelayanan dan perawatan pasien. Hal tersebut dilakukan
oleh RSUD Dr. M.M Dunda Limboto dimana RSUD Dr. M.M Dunda
Limboto telah menerapkan upaya penjaminan mutu perawatan pasien,
dengan adanya beberapa aspek penilaian penting di dalamnya, diantaranya
:
1. Meningkatkan mutu pelayanan
Indikator peningkatan mutu pelayanan dapat dilihat dari beberapa
aspek, antara lain :
a) Pada bulan januari s/d maret 2019 tidak ada pasien yang
mengalami dekubitus. Hal ini di peroleh berdasarkan hasil
observasi dan wawancara dimana setiap hari pasien yang
dirawat di ruang Bedah selalu dilakukan mobilisasi.
b) Dari hasil data Kematian pasien didapatkan pada bulan Januari
s/d maret 2019 tidak ada pasien yang meninggal, Hal ini
didapatkan berdasarkan hasil wawancara pada perawat yang
bertugas di ruangan Bedah dan data dari rekam medik.

15
2. Indikator Mutu
a) Tingkat Kepuasan Pasien
Tingkat kepuasan dari pasien terhadap pelayanan perawatan
di ruang Bedah RSUD Dr. M.M Dunda Limboto, di peroleh
dari kuesioner yang telah diedarkan pada sampel dari tanggal
29-30 april. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel.

Table 3.1.1
Distribusi pernyataan 1 : “ Perawat mampu menangani masalah
perawatan anda dengan tepat dan professional “
Pernyataan Jumlah Presentasi (%)
STP 0 0%
TP 0 0%
P 2 18.18%
SP 9 81.81%
Total 11 100%
Tabel diatas menunjukkan sebagian besar pasien menyatakan sangat puas
sesuai pernyataan yang diberikan yakni ada 9 orang (81,81%)
3. Keamanan Pasien
Indikator penilaian peningkatan mutu pelayanan pada keamanan
pasien dapat dilihat dari angka kejadian Dekubitus, kejadian flebitis,
angka kejadian kesalahan pemberian obat, kejadian jatuh, serta sikap
perawat terhadap patient safety.
Dari pengukuran indikator mutu pelayanan keperawatan klinik
yang di lakukan pada bulan Januari-Maret 2019 di dapatkan :
- Pada Kejadian Dekubitus, dari bulan Januari-Maret 2019 tidak ada yang
mengalami kejadian decubitus di ruangan Bedah.
- Pada Kejadian Flebitis dari bulan Januari-Maret 2019 tidak ada pasien
yang mengalami kejadian flebitis di ruangan Bedah.

16
- Pada Kejadian kesalahan pemberian obat, tidak terjadi kesalahan dalam
pemberian obat karena pemberian obat dilakukan secara benar dan sesuai
dengan indikasi yang diberikan oleh dokter
Pada Kejadian Jatuh tidak terjadi, didapatkan bahwa 100 % pasien
tidak mengalami jatuh selama dilakukan perawatan oleh mahasiswa
praktik manajemen di ruangan Bedah.
- Berdasarkan hasil observasi sikap perawat terhadap patient safety,
didapatkan bahwa diruangan Bedah. Rs. Dr. M.M Dunda Limboto sudah
menerapkan patient safety.
2. Data khusus ruangan (fungsi manajemen keperawatan di ruangan)
a. Fungsi perencanaan
1). Visi ruangan
Menjadi ruangan MPKP di Rs Dr. MM Dunda limboto
2). Misi ruangan
1. Kesetiaan dan pengabdian modal dalam pengabdian kami
2. Meningkatkan kesejahteraan staf ruangan bedah
3). Standar operasional prosedur
Pada ruang Bedah terdapat buku kumpulan standar operasional
prosedur (SOP) yang digunakan oleh perawat dalam memberikan
tindakan keperawatan kepada klien.

4). Standar asuhan keperawatan


Standar asuhan keperawatan juga digunakan pada ruangan bedah kelas
ini, di mana perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan standar asuhan keperawatan yang ada.

b. Fungsi pengorganisasian
1). Struktur organisasi
Struktur Organisasi Ruang Bedah

Katim 1 : alis marali, S.Kep


Anggota : 1. Inggrid C.R Van Gobel S.Kep
2. Laila nusi Amd, Kep

17
3. Ns. Olis Ishak S.kep
4. Ns. Nurhayati abdul S.kep
5 Desty susi lariwu, Amd Kep
6. Hendra F. Suratinoyo Amd Kep
7. Wirta A. Yusuf Amd, Kep
Katim 2 : meylan sideni Amd kep
Anggota : 1. Sri yuliyanti pomalingo Amd, Kep
2. Nurul Haq, AMK
3. Lisnawaty bagu, Amd Kep
4. Bobiyanto Kasim, Amd Kep
5. Dewi C. Parawouw, Amd Kep
Administrasi : 1. Cindra Setiawati Tangahu
2. filyan igirisa
2). Uraian tugas
1. Kepala ruangan
a. Mengatur pembagian tugas jaga perawat (jadwal dinas)
b. Mengatur dan mengendalikan kebersihan dan ketertiban ruangan
c. Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah
ruangan
d. Memonitor kegiatan PP dan PA sesuai jadwal kegiatan
e. Mengorientasikan pegawai baru, residen, mahasiswa kedokteran
dan mahasiswa keperawatan yang akan melakukan praktek di
ruangan, anjurkan membaca format orientasi ruang MPKP
f. Melakukan kegiatan administrasi dan surat menyurat
g. Bekerjasama dengan CCM (pembimbing klinik) membimbing
siswa/mahasiswa dalam pemberian asuhan keperawatan di
ruangan, dengan mengikuti sistem MPKP
h. Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis
dengan pasien, keluarga dan tim kesehatan lain, antara lain karu
bersama CCM dan PP mengingatkan kembali pasien dan keluarga

18
tentang perawat/tim yang bertanggung jawab terhadap mereka di
ruangan yang bersangkutan
i. Mengecek kelengkapan persediaan status keperawatan minimal
lima set setiap hari
j. Bersama CCM melaksanakan pembinaan terhadap PP dan PA
dalam hal penerapan MPKP termasuk sikap tingkah laku
professional
k. Bila PP cuti, tugas dan tanggung jawab PP tersebut diambil alih
oleh Karu/CCM, dan dapat didelegasikan kepada PA senior (wakil
PP pemula yang ditunjuk) tetapi tetap di bawah pengawasan kepala
ruangan
l. Merencanakan dan memfasilitasi ketersediaan fasilitas yang
dibutuhkan diruangan
m. Bersama CCM memonitor dan mengevaluasi penamilan kerja
semua tenaga yang ada di ruangan dan membuat DP3 dan usulan
kenaikan pangkat
n. Melakukan pertemuan rutin dengan semua perawat setiap bulan
untuk membahas kebutuhan di ruangan
o. Bersama CCM merencanakan dan melaksanakan evaluasi mutu
asuhan keperawatan

2. Perawat Primer
1. Melakukan kontrak dengan pasien dan keluarga pada awal masuk
ruangan
2. Melakukan pengkajian terhadap pasien baru atau melengkapi
pengkajian yang sudah dilakukan PP pada sore, malam atau hari libur
3. Menetapkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan analisis
standar renpra sesuai dengan hasil pengkajian
4. Menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan, kepada PA di bawah
tanggung jawabnya sesuai pasien yang dirawat (preconference)

19
5. Menetapkan PA yang bertanggung jawab pada setiap pasien pada
setiap giliran jaga/shift, sesuai kondisi yang ada.
6. Melakukan bimbingan dan evaluasi pada PA dalam implementasi
tindakan keperawatan, apakah sesuai dengan SOP
7. Memonitor dokumentasi yang dilakukan oleh PA
8. Membantu dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan PA
9. Melakukan tindakan keperawatan yang bersifat terapi keperawatan
dan tindakan keperawatan yang tidak dapat dilakukan oleh PA
10. Mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laboratorium
11. Melakukan kegiatan serah terima pasien bersama dengan PA
12. Mendampingi dokter visite pasien dibawah tanggung jawabnya
didampingi oleh PA sesuai timnya
13. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan
perkembangan pasien
14. Melakukan pertemuan dengan pasien dan keluarga minimal tiap 2
hari untuk membahas kondisi keperawatan pasien
15. Bila PP cuti/libur, tugas-tugas PP didelegasikan pada PA yang telah
ditunjuk sebagai pembimbing dengan arahan kepala ruangan
16. Memberi pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga
17. Membuat perencanaan pulang, sejak awal pasien dirawat
18. Mengidentifkasi isu yang memerlukan pembuktian sehingga tercipta
evidence based practice (EBP)

3. Perawat Pelaksana

1. Membaca renpra yang telah ditetapkan PP dan meminta bimbingan


kepada PP, bila ada hal yang belum jelas
2. Membina hubungan teraupetik dengan pasien dan keluarga, sebagai
lanjutan kontrak yang dilakukan PP
3. Menerima pasien baru (kontrak) dan memberikan informasi
berdasarkan format orientasi pasien dan keluarga jika PP tidak ada di
tempat

20
4. Melakukan tindakan keperawatan pada pasiennya berdasarkan renpra
5. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan
mendokumentasikannya pada format yang tersedia
6. Mengikuti visite dokter bila PP tidak di tempat
7. Mengecek kerapihan dan kelengkapan status keperawatan
8. Membuat laporan pergantian dinas dan setelah selesai di paraf
9. Mengkomunikasi kan kepada PP/PJ dinas bila menemukan masalah
yang perlu diselesaikan
10. Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan diagnostic, laboratorium,
pengoabatn dan tindakan
11. Berperan serta dalam penkes pada pasien dan keluarga yang dilakukan
PP
12. Melakukan inventarisasi fasilitas yang terkait dengan timnya
13. Membantu tim lain yang membutuhkan
14. Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga pasien yang
menjadi tanggung jawabnya dengan berkoordinasi dengan PP

3). Pengaturan jadwal dinas


Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan dan perawat yang
diruangan yang dilkukan pada tanggal 30 april 2019 didapatkan operan di
ruangan Bedah RSUD MM DUNDA Limboto, Kabupaten Gorontalo
pengaturan jadwal dinas dilakukan oleh salah satu perawat yang bertugas
diruangan tersebut.
c. Fungsi pengarahan
1). Operan
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan dan perawat yang
diruangan yang dilakukan pada tanggal 30 april 2019 didapatkan operan di
ruangan Bedah RSUD DR MM DUNDA Limboto, Kabupaten Gorontalo
dilaksanakan 3 kali dalam sehari yaitu pergantian shift malam ke pagi (
Pukul 08.00), pagi ke sore ( Pukul 14.00), dan sore ke malam ( Pukul

21
21.00) dan juga operan dilakukan hanya di ruangan perawat antara
perawat.
2 ). Pre dan post conference
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan dan perawat yang
diruangan yang dilkukan pada tanggal 30 april 2019 didapatkan operan di
ruangan Bedah RSUD DR MM DUNDA Limboto, Kabupaten Gorontalo
belum optimal.
3). Motivasi kepada perawat
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan dan perawat yang
diruangan yang dilkukan pada tanggal 30 april 2019 didapatkan apabila
ada perawat yang meraih prestasi hanya diberikan selamat saja dan apabila
ada perawat yang kinerjanya menurun di tegur langsung oleh kepala
ruangan.
4). Pendelegasian
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan dan perawat yang
diruangan yang dilkukan pada tanggal 30 april 2019 didapatkan apabila
ada perawat yang bertanggung jawab melakukan tindakan kemudian
perawat yang bersangkutan mendadak mempunyai tugas lain yang lebih
penting, maka perawat tersebut melakukan pendelegasian pada perawat
pelaksana atau katim.
5). Supervise
Supervisi atau pengawasan adalah proses pengawasan terhadap
kegiatan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut berjalan sesuai
dengan tujuan organisasi dan standar yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan didapatkan
ruangan Bedah RSUD DR M.M DUNDA Limboto sudah menjalankan
kegiatan supervise apabila ada kredensial
6). Ronde keperawatan
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan dan perawat
ruangan bedah ronde keperawatan diruangan Bedah RSUD MM
DUNDA Limboto dilakukan jika ditemukan pasien yang memiliki
masalah kesehatan dari pertama masuk belum ada perubahan status

22
kesehatan. Berdasarkan penjelasan kepala ruangan ronde keperawatan
di ruangan bedah belum optimal.
C. Analisa masalah (SWOT)

1. Sterngth / kekuatan
a) Terdapat visi dan misi di dalam ruangan untuk meningkatkan mutu
pelayanan

b) Ruang bedah memiliki ruangan perawatan dan memiliki 9 ruangan,


kapasitas tempat tidur sebanyak 27 buah bed, terdiri dari ruang kelas 1 pria
memiliki 2 bed, kelas 1 wanita memiliki 2 bed, kelas 2 pria memiliki 3
bed, kelas 2 wanita memiliki 3 bed, kelas 3 pria 1 memiliki 5 bed, kelas 3
pria 2 memiliki 5 bed, kelas 3 wanita memiliki 5 bed, VIP 1 memiliki 1
bed, VIP 2 memiliki 1 bed.

c) Tenaga keperawatan diruang bedah dengan pendidikan d3 sebanyak 11


orang, S1 ners sebanyak 3 orang, S1 sebanyak 2 orang.

d) Ruangan memiliki sarana dan prasara yang cukup memadai

2. Weakness / Kelemahan
a) Belum optimalnya ronde keperawatan diruang perawatan pasien oleh
perawat ruangan
b) Belum optimalnya pre dan post conference diruangan
c) Belum maksimalnya penerapan five moment oleh perawat ruangan
d) Belum adanya Poster five moment dan hand hgiene diruangan bedah
e) Belum tersedianya leaflet tentang penyakit yang merupakan salah satu
sarana untuk membaca atau mencari informasi tentang penyakit
d) Perawat ruangan bedah masih sebagian besar D III yakni berjumlah 11
orang

e) Belum optimalnya perhitungan tenaga perawat

23
3. Opportunity / Peluang
Di RSUD Dr. MM Dunda limboto merupakan salah satu Rumah Sakit yang
menjadi lahan praktek bagi mahasiswa keperawatan maupun mahasiswa
jurusan kesehatan yang lainnya, terutama pada ruang bedah merupakan salah
satu lahan praktek sehingga memungkinkan transfer ilmu pengetahuan yang
baru di dalam dunia keperawatan.

4. Threat / Ancaman
Meningkatnya sikap kritis dari masyarakat dan sikap menggugat tenaga medis
atas kesalahan maupun tindakan praktek yang salah sehingga mempengaruhi
mutu pelayanan.

D. Identifikasi masalah
a) Belum optimalnya ronde keperawatan diruang perawatan pasien oleh
perawat ruangan
b) Belum optimalnya pre dan post conference diruangan
c) Belum maksimalnya penerapan five moment oleh perawat ruangan
d) Belum adanya Poster five moment diruangan bedah
e) Belum tersedianya leaflet tentang penyakit yang merupakan salah satu
sarana untuk membaca atau mencari informasi tentang penyakit
d) Perawat ruangan bedah masih sebagian besar D III yakni berjumlah 11
orang

e) Belum optimalnya perhitungan tenaga perawat

24
ANALISA MASALAH

Dari hasil identifikasi masalah ditemukan empat masalah manajemen


keperawatan sebagai berikut :

1. M1 (Man)

a) Belum optimalnya perhitungan tenaga keperawatan baik menurut


gillies, douglas, maupun DEPKES 2005.

2. M2 (Material)

Ketidaklengkapan sarana dan prasarana diruangan Bedah:


a) Belum adanya poster five moment
b) Belum adanya leaflet tentang penyakit
c) Belum tersedianya denah ruangan
Fasilitas untuk petugas kesehatan meliputi:

a) Perlu mengadakan ruangan sendiri untuk kepala ruangan

b) Perlu mengadakan ruangan sendiri untuk konsultasi dokter

3. M3 (Mhetod)

a) Belum optimalnya ronde keperawatan diruangan

b) Belum optimalnya pre dan post conference diruangan

c) Belum optimalnya discharge planning

d) Belum optimalnya orientasi pasien baru

4. M5 (Mutu)

Belum optimalnya five moment diruangan bedah oleh perawat

25
Skoring Masalah Manajemen Keperawatan Di Ruang Bedah

Aspek yang dinilai


No Masalah Total Skor
MG SV MN NC AF
1 M1 (Man=Ketenagaan)

 Belum optimalnya
perhitungan tenaga 4 4 5 4 4 1280
keperawatan baik
menurut gillies, douglas,
maupun DEPKES 2005.
2. M2 (Material = Sarana
Prasarana).
 Ketidaklengkapan
5 4 4 4 5 1600
sarana dan prasarana
diruangan Bedah:
a) Belum adanya poster
five moment
b) Belum adanya leaflet
tentang penyakit
c) Belum tersedianya denah
ruangan
 Fasilitas untuk
petugas kesehatan
meliputi:

a) Perlu mengadakan
ruangan sendiri untuk
kepala ruangan

b) Perlu mengadakan
ruangan sendiri untuk
konsultasi dokter

3 M3 (Methode)

26
 Belum optimalnya
ronde keperawatan
diruangan 5 5 5 5 5 3125
 Belum optimalnya
pre dan post
conference
diruangan
 Belum optimalnya
discharge planning
 Belum optimalnya
orientasi pasien baru
4 M4 (Mutu)
Belum optimalnya five 5 4 5 5 5 2500
moment diruangan bedah
oleh perawat

Catatan:
a) Magnitude adalah kecenderungan besar dan seringnya masalah terjadi
b) Severity adalah besarnya kerugian yang ditimbulkan dari masalah.
c)Manageability adalah berfokus pada keperawatan sehingga dapat diatur
perubahannya.
d) Nursing concern adalah melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat.
f) Affordability adalah ketersediaan sumber daya.
Rentang nilai:
1 = Sangat kurang penting
2 = Kurang penting
3 = Cukup penting
4 = Penting
5 = Sangat penting

27
Berdasarkan hasil scoring skala prioritas masalah adalah :
1. M3 (Mhetod)

a) Belum optimalnya ronde keperawatan diruangan

b) Belum optimalnya pre dan post conference diruangan

c) Belum optimalnya discharge planning

d) Belum optimalnya orientasi pasien baru

2. M4 (Mutu)

Belum optimalnya five moment diruangan bedah oleh perawat

3. M2 (Material)

Ketidaklengkapan sarana dan prasarana diruangan Bedah:


a) Belum adanya poster five moment
b) Belum adanya leaflet tentang penyakit
c) Belum tersedianya denah ruangan
Fasilitas untuk petugas kesehatan meliputi:

a) Perlu mengadakan ruangan sendiri untuk kepala ruangan

b) Perlu mengadakan ruangan sendiri untuk konsultasi dokter

4. M1 (Man)

Belum optimalnya perhitungan tenaga keperawatan baik menurut gillies, douglas,


maupun DEPKES 2005.

IMPLEMENTASI

1. PRE DAN POST CONFERENCE


2. RONDE KEPERAWATAN
3. DISCHARGE PLANNING
4. ORIENTASI PASIEN BARU

28
5. PENGADAAN POSTER FIVE MOMENT
6. PENGADAAN LEAFLET TENTANG PENYAKIT
7. PENGADAAN DENAH RUANGAN

29
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam
menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Didalam manajemen tersebut mencakup
kegiatan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) terhadap staf,
sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi. (Grant dan Messey, 1995
dalam nursalam, 2011).
Proses Keperawatan pada Manajemen Keperawatan terdiri atas
pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
hasil karena Manajemen Keperawatan mempunyai ke khususan terhadap
mayoritas tenaga dari pada seorang pegawai, maka setiap tahapan dalam proses
Keperawatan (Nursalam, 2013)
Manajemen Keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus
dilaksanakan oleh pengelola Keperawatan untuk merencanakan, mengorganisai,
mengarahkan serta mengawasi sumber-sumber yang ada baik SDM, alat, maupun
dana, sehingga dapat memberikan pelayanan Keperawatan yang lebih efektif, baik
pada pasien, keluarga dan masyarakat.

3.2 Saran
1. Pihak Rumah Sakit
a. Diharapkan Pihak Rumah Sakit dapat duduk bersama perawat ruangan untuk
mensosialisasikan pelaksanaan Prc/Post Conference, Supervisi, dan belum
optimalnya pelaksanaan Operan, Ronde Keperawatan
b. Di harapkan Pihak Rumah Sakit lebih peduli terhadap kinerja dan mutu
pelayanan Rumah Sakit

2. Pihak Institusi
a. Diharapkan Pihak Institudsi bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit untuk
membentuk tim MPKP

30
b. Bila MPKP sudah diterapkan maka diharapkan konrol yang intensif terhadap
pelaksanaan diruangan sehingga program MPKP dapat berjalan sesuai dengan
yang diharapkan

31
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2007.Mangemen keperawatan ; Aplikasi dalam praktik keperawatan


Profesional . Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

Anonim.2011. Managemen keperawatan : Aplikasi dalam : Praktik Keperawatan


Profesional. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika

Ernie Tisnawati Suledan Kurniaawan Saefullah. 2005.Pengantar Manajemen.


Jakarta : Kencana

Nurrsalam.2002. Managemen Keperawatan : Aplikasi dalam praktik


Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika

32