Anda di halaman 1dari 21

SATUAN ACARA PENYULUHAN

TERAPI BERMAIN PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMM

Pokok bahasan : Terapi bermain


Sub pokok bahasan : Terapi bermain pada anak dengan
diare
Hari/Tanggal : Senin, 14 April 2014
Tempat : Ruang anak RS UMM
Waktu : Pukul 11:00-11:50 WIB

A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia.
Walaupun angka mortalitasnya telah menurun tajam, tetapi
angka morbiditas masih cukup tinggi Penanganan diare yang
dilakukan secara baik selama ini membuat angka kematian
akibat diare dalam 20 tahun terakhir menurun tajam. Walaupun
angka kematian sudah menurun tetapi angka kesakitan masih
cukup tinggi. Lama diare serta frekuensi diare pada penderita
akut belum dapat diturunkan.
Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare,
Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat
kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit
Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000
penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan
tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk (Kemenkes RI, 2011).
Ada beberapa penyebab diare, yakni virus (sekitar 50 -
70%) Rotavirus, bakteri (25%) E.Coli, shigela vibriocholera,
salmonela, serta protozoa (5%) cryptosporidium. Anak bisa
tertular kuman-kuman penyebab diare ini melalui makanan yang
tercemar.
Di Indonesia, sebagian besar diare pada bayi dan anak
disebabkan oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit juga dapat
menyebabkan diare. Organisme-organisme ini mengganggu
proses penyerapan makanan di usus halus. Dampaknya
makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar.
Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan
menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini
proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak
sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan
tinja berair pada diare.
Penyakit diare dapat ditularkan melalui pemakaian botol
susu yang tidak bersih, menggunakan sumber air yang
tercemar, buang air besar disembarang tempat, dan
pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa, dll) atau oleh
tangan yang kotor. Berdasarkan penjelasan di atas, faktor
kebersihan ternyata ikut andil dalam menyebabkan anak diare.
Mulai dari kebersihan alat makan anak sampai kebersihan
setelah buang air kecil/buang air besar. Semua yang dapat
mengenai tangan anak atau langsung masuk ke dalam mulut
anak harus diawasi.
Sementara itu, dalam pengobatan diare ada dua prinsip.
Pertama rehidrasi, mengganti cairan yang hilang. Ini dapat
dilakukan melalui mulut (minum) maupun melalui infus (pada
kasus dehidrasi berat). Kedua, pemberian makanan yang
adekuat. Pemberian makanan seperti yang diberikan sebelum
sakit harus dilanjutkan, termasuk pemberian ASI.
Oleh karena itu, kami ingin melakukan permainan
bersama anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairannya
serta memberikan pengetahuan kepada anak mengenai
kebersihan diri yaitu mencuci tangan untuk mencegah
terjadinya diare di masa mendatang.
2. TUJUAN
a. Tujuan Instruksional umum
Setelah dilakukan terapi bermain pada anak 3-5 tahun
selama 50 menit kebutuhan nutrisi dan cairan anak dapat
terpenuhi serta anak mengerti cara mencegah diare.

b. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali
diharapkan anak:
1) Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan
2) Dapat mempraktekkan cara mencuci tangan sebelum
makan serta sebelum dan setelah buang air kecil dan air
besar

3. SASARAN KEGIATAN
a. Usia 3-5 tahun
b. Jumlah peserta 3 anak dan didampingi oleh orang tua
c. Keadaan umum mulai membaik
d. Dapat melakukan aktivitas bermain
e. Peserta kooperatif

B. RENCANA KEGIATAN
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Senin, 14 April 2014
Waktu : 11.00-11.50 WIB
Tempat : Ruang anak RS UMM

2. Sarana dan Media


a. Sarana
1) Ruangan tempat bermain dengan luas 10 x 8 meter
persegi.
2) Kursi untuk orang tua.
b. Media
1) Mobil kardus
2) Antis
3) Makanan dan minuman
4) Cookies dan susu
5) Sikat gigi dan pasta gigi

3. Pengorganisasian
a. Leader : Ahmad Sulhan
Tugas :
1) Membuka acara permainan
2) Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan
sampai selesai.
3) Mengarahkan permainan.
4) Memandu proses permainan
b. Co Leader : Riga Rianto
Tugas :
1) Membantu leader mengatur jalannya permainan
2) Membantu memberi motivasi pada peserta bersama
dengan leader
3) Bersama dengan leader memandu dan mengarahkan
proses bermain
c. Fasilitator : Iis Afriyanti, Qorina Ilma, Regina Desi Silfika,
An an Yulianti, Noorhijrah Fitriani
Tugas :
1) Membimbing anak bermain.
2) Memberi motivasi dan semangat kepada anak dalam
mewarnai
3) Memperhatikan respon anak saat bermain.
4) Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan perawat
dan keluarganya.
d. Observer : Titin Sakinah, Haryadi
Tugas :
1) Mengawasi jalannya permainan.
2) Mencatat proses kegiatan dari awal hingga akhir
permainan.
3) Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses
bermain.
4) Menyusun laporan dan menilai hasil permainan

C. RANCANGAN PERMAINAN

N
WAKTU KEGIATAN BERMAIN KEGIATAN ANAK
O
1 5 menit Pembukaan : 1. Menjawab salam
1. Leader membuka 2. Mendengarkan
kegiatan dengan 3. Memperhatikan
mengucapkan salam. 4. Memperhatikan
2. Leader
memperkenalkan nama
terapis yang lain.
3. Leader menjelaskan
tujuan dari permainan
4. Kontrak waktu

2 30 menit Pelaksanaan : 1. Berpindah posisi


1. Leader dibantu oleh co 2. Menerima dan
leader dan fasilitator menggunakan
untuk mengatur posisi topi
anak pada mobil 3. Melakukan
2. Fasilitator permainan,
membagikan topi mencuci tangan
3. Memulai permainan dan
dengan menaiki mobil menghabiskan
dan melalui semua makanan dan
step permainan minuman serta
didampingi oleh menggosok gigi
fasilitator.
4. Leader dan co leader
memberi semangat
pada anak selama
proses permainan
5. Fasilitator memotivasi
anak untuk dapat
mencuci tangan,
menghabiskan
makanan dan
minuman serta
menggosok gigi
6. Apabila anak tidak
mau aktif,
libatkan orang tua
atau pendamping anak
untuk membantu anak
melakukan permainan
3 10 menit Evaluasi : Menjawab
1. Menanyakan kepada pertanyaan
anak tentang
permainan yang telah
dilakukan
2. Menanyakan tentang
perasaan anak setelah
bermain
4 5 menit Terminasi 1. Memperhatikan
2. Memjawab
1. Leader menutup acara
salam
permainan dengan
memberikan reward
kepada seluruh
peserta
2. Salam penutup
D. DENAH BERMAIN

Orangtua Orangtua Orangtua

Fasilitator Fasilitator

Anak Anak

Leader
Co
Leader
Anak

Fasilitator Observer

E. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Sarana disiapkan pagi hari sebelum acara dimulai
b. Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan kegiatan
c. Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum
pelaksanaan
d. Kontrak dengan keluarga pasien/anak yang akan diberi
terapi bermain dilakukan 1 hari sebelum dan pagi hari
sebelum kegiatan dilaksanakan.
2. Evaluasi Proses
a. Leader dibantu co leader memandu terapi bermain dari
awal hingga akhir kegiatan
b. Respon anak baik selama proses bermain berlangsung
c. Anak tampak aktif selama proses bermain berlangsung
d. Anak mau dan dapat mewarnai gambar dengan baik
didampingi oleh fasilitator
e. Keluarga ikut membantu anak selama pelaksanaan proses
bermain
f. Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan mahasiwa
tercapai dengan baik
g. Masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan
tugasnya masing-masing
3. Evaluasi Hasil
a. Kegiatan bermain dimulai tepat pada waktu yang telah
ditentukan
b. Anak dapat melakukan pemilihan warna sesuai dengan
yang disukainya
c. Anak mengikuti proses bermain dari awal hingga akhir
Lampiran:

KONSEP BERMAIN

1. Pengertian Bermain

Bermain adalah unsur yang paling penting untuk

perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual,

kreativitas dan sosial. Dimana anak mendapat kesempatan

cukup untuk bermain akan menjadi orang dewasa yang mudah

berteman, kreatif dan cerdas bila dibandingkan dengan mereka

yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain

(Soetjiningsih, 1995).

Menurut Champbel & Glaser (1995) dalam Supartini

(2004) Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan

merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta


merupakan satu cara yang paling efektif menurunkan stres pada

anak dan penting untuk mensejahterakan mental dan emosional

anak.

2. Tujuan Bermain

Anak bermain pada dasarnya agar memperoleh

kesenangan, sehingga ia tidak akan merasa jenuh. Bermain

tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak

seperti halnya makanan, perawatan dan cinta kasih. Bermain

adalah unsur yang penting untuk perkembangan fisik, emosi,

mental, intelektual, kreativitas dan sosial. Anak dengan bermain

dapat mengungkapkan konflik yang dialaminya, bermain cara

yang baik untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran dan

kedukaan. Anak dengan bermain dapat menyalurkan tenaganya

yang berlebihan dan ini adalah kesempatan yang baik untuk

bergaul dengan anak lainnya (Soetjiningsih, 1995).

3. Fungsi Bermain

Menurut Supartini (2004), fungsi bermain antara lain:

a. Perkembangan Sensorik-motorik

Pada saat melakukan permainan aktivitas sensorik-motorik

merupakan komponen terbesar yang digunakan anak


sehingga kemampuan penginderaan anak mulai meningkat

dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak

seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi

taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik.

b. Perkembangan Intelektual (Kognitif)

Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan

memanipulasi segala sesuatu yang ada di lingkungan

sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran,

tekstur dan membedakan objek.

c. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan anak

berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui kegiatan

bermain, anak akan belajar memberi dan menerima.

Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk

mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan

masalah dari hubungan sosial dan belajar memecahkan

masalah dari hubungan tersebut.

d. Perkembangan Kreativitas

Dimana melalui kegiatan bermain anak akan belajar

mengembangkan kemampuannya dan mencoba

merealisasikan ide-idenya.

e. Perkembangan Kesadaran Diri

Melalui bermain anak akan mengembangkan

kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain


dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran

baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap

orang lain.

f. Perkembangan Moral

Anak mempelajari nilai yang benar dan salah dari

lingkungan, terutama dari orang tua dan guru. Dengan

melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapat

kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga

dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan

diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam

lingkungannya.

g. Bermain sebagai Terapi

Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan

mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak

menyenangkan seperti : marah, takut, cemas, sedih dan

nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari

hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi

beberapa stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk

itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari

ketegangan dan stres yang dialaminya karena dengan

melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa

sakitnya pada permainannya (distraksi).

4. Kategori Bermain
Kategori bermain dibagi menjadi dua yaitu (Hurlock,

1999):

a. Bermain aktif
Dalam bermain aktif, anak memperoleh kesenangan dari apa

yang dilakukannya. Misalnya berlari atau membuat sesuatu

dari lilin.
b. Bermain pasif

Kesenangan yang diperoleh anak dalam bermain egosentris.

Sedikit demi sedikit anak akan dilatih untuk

mempertimbangkan perasaan orang lain, bekerja sama,

saling membagi dan menghargai. Melalui bermain anak

dilatih bersabar, menunggu giliran dan terkadang bisa

kecewa karena bermain pasif berasal dari kegiatan yang

dilakukan oleh orang lain. Misalnya menikmati temannya

bermain, melihat hewan. Bermain jenis ini membutuhkan

sedikit energi dibandingkan bermain aktif.

5. Klaisifikasi Permainan

Menurut Supatini (2004) permainan dapat diklasifikasikan

antara lain sebagai berikut:

a. Berdasarkan jenis permainan


1) Permainan (Games)
Yaitu jenis permainan dengan alat tertentu yang

menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa

dilakukan oleh anak sendiri atau dengan temannya.

Contohnya yaitu permainan ular tangga.


2) Permainan yang hanya memperhatikan saja (Unoccupied

behaviour)
Pada saat tertentu, anak sering terlibat mondar-mandir,

tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk,

memainkan kursi, meja atau apa saja yang ada di

sekelilingnya. Anak melamun, sibuk dengan bajunya atau

benda lain. Jadi sebenarnya anak tidak memainkan alat

permainan tertentu dan situasi atau objek yang ada di

sekelilingnya yang digunakan sebagai alat permainan.

Anak memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang

menarik perhatiannya. Peran ini berbeda dibandingkan

dengan onlooker, dimana anak aktif mengamati aktivitas

anak lain.

b. Berdasarkan karakteristik sosial


1) Solitary play

Di mulai dari bayi (toddler) dan merupakan jenis

permainan sendiri atau independent walaupun ada orang

lain di sekitarnya. Hal ini karena keterbatasan sosial,

ketrampilan fisik dan kognitif.

2) Pararel play

Dilakukan oleh suatu kelompok anak balita atau

prasekolah yang masing-masing mempunyai permainan

yang sama tetapi satu sama lainnya tidak ada interaksi


dan tidak saling tergantung. Dan karakteristik khusus

pada usia toddler.

3) Associative play

Permainan kelompok dengan tanpa tujuan kelompok.

Yang mulai dari usia toddler dan dilanjutkan sampai usia

prasekolah dan merupakan permainan dimana anak

dalam kelompok dengan aktivitas yang sama tetapi

belum terorganisir secara formal.

4) Cooperative play

Suatu permainan yang terorganisir dalam kelompok, ada

tujuan kelompok dan memimpin yang di mulai dari usia

prasekolah. Permainan ini dilakukan pada usia sekolah

dan remaja.

5) Onlooker play
Anak melihat atau mengobservasi permainan orang lain

tetapi tidak ikut bermain, walaupun anak dapat

menanyakan permainan itu dan biasanya dimulai pada

usia toddler.

6) Therapeutic play
Merupakan pedoman bagi tenaga tim kesehatan,

khususnya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan

psikososial anak selama hospitalisasi. Dapat membantu

mengurangi stres, memberikan instruksi dan perbaikan


kemampuan fisiologis (Vessey & Mohan. 1990 dikutip

oleh Supartini, 2004).


c. Berdasarkan isinya (Wong, 2004)
1) Bermain afektif sosial (social affective play)
Permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang

menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi

akan mendapat kesenangan dan kepuasan dari hubungan

yang menyenangkan dengan orangtua atau orang lain.

Permainan yang biasa dilakukan adalah ”cilukba”,

berbicara sambil tersenyum/tertawa atau sekedar

memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya

tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan

tertawa.
2) Bermain untuk senang-senang (sense of pleasure play)

Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan

rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan.

Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan

membuat gunung-gunung atau benda-benda apa saja yang

dapat dibentuk dengan pasir. Bisa juga dengan

menggunakan air anak akan melakukan bermacam-macam

permainan seperti memindahkan air ke botol, bak atau

tempat lain.

3) Permainan ketrampilan (skill play)

Permainan ini akan menimbulkan keterampilan anak,

khususnya motorik kasar


dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-

benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke

tempat lain dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi

keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan

kegiatan permainan yang dilakukan.

4) Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role)

Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain

melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian

meniru orang dewasa. Misalnya, ibu guru, ibunya,

ayahnya, kakaknya yang sebagai yang ia ingin ditiru.

Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi

percakapan di antara mereka tentang peran orang yang

mereka tiru. Permainan ini penting untuk mengidentifikasi

anak terhadap peran tertentu.

6. Tahapan Perkembangan Permainan

Sejalan dengan perkembangan kognisi atau daya pikir

anak, Jean Piaget (1962) mengemukakan tahapan bermain

sebagai berikut (Tedjasaputra, 2001):

a. Sensory Motor Play (usia >3 atau 4 bulan – 24 bulan)

Bermain dimulai pada periode perkembangan kognitif

sensori motor, sebelum usia 3-4 bulan, gerakan atau

kegiatan anak belum dapat dikategorikan bermain, kegiatan

anak semata-mata merupakan kelanjutan dari kenikmatan

yang diperolehnya. Kegiatan bayi hanya merupakan


pengulangan dari hal-hal yang dilakukan sebelumnya. Jean

Piaget menamakannya dengan reproductive assimilation

(pengulangan dari hal-hal sebelumnya). Meskipun demikian

kegiatan tersebut merupakan cikal-bakal kegiatan bermain

di tahap perkembangan selanjutnya.

Sejak usia 3 - 4 bulan, kegiatan anak lebih

terkoordinasi dan belajar dari pengalamannya anak belajar

bahwa dengan menarik mainan yang tergantung di atas

tempat tidurnya, maka mainan tersebut akan bergerak dan

berbunyi. Kegiatan seperti ini diulang berkali-kali dan

menimbulkan rasa senang. Senang yang sifatnya fungsional

dan senang karena dapat menyebabkan sesuatu terjadi.

Pada usia 7 - 11 bulan kegiatan yang dilakukan anak bukan

semata-mata berupa pengulangan, namun sudah disertai

variasi.

Pada usia 18 bulan baru tampak adanya percobaan-

percobaan aktif pada kegiatan bermain anak. Anak sudah

semakin mampu memvariasikan tindakannya terhadap

berbagai alat permainan. Hal ini merupakan awal dari

penjelajahan sistematik terhadap lingkungannya.

b. Symbolic atau Make Believe Play (usia >2 tahun - 7 tahun)

Periode pra operasional yang terjadi antara 2-7 tahun

dapat dikategorikan Symbolic atau Make Believe Play,

tandanya ialah anak dapat bermain khayal dan bermain


pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan

menjawab pertanyaan, mencoba berbagai berbagai kegiatan

yang berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan

sebagainya. Seringkali anak menanyakan sesuatu hanya

sekedar bertanya, tidak terlalu memperdulikan jawaban

yang diperolehnya. Walau sudah dijawab anak akan terus

bertanya lagi. Anak sudah mulai dapat menggunakan

berbagai benda sebagai simbol atau representasi benda lain.

Misalnya menggunakan sapu sebagai kuda-kudaan,

menganggap sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain.

Bermain simbolik juga berfungsi untuk

mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan

(menggabungkan) pengalaman emosional anak. Setiap hal

yang berkesan bagi anak, akan dilakukan kembali dalam

kegiatan bermainnya. Dalam perkembangan selanjutnya,

kegiatan bermain simbolik ini akan semakin bersifat

konstruktif dalam arti lebih mendekati kenyataan,

merukapakan latihan berpikir serta mengarahkan anak

untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

c. Social Play Games with rules (>8 tahun - 11 tahun)

Dalam bermain pada tahap yang tertinggi,

penggunaan simbol lebih banyak diwarnai oleh nalar dan

logika yang bersifat objektif. Sejak usia 8 - 11 tahun anak

lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules, di


mana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh aturan

permainan. Contohnya bermain ular tangga.

d. Games with Rules and Sports (11 tahun ke atas)

Contoh lain dari kegiatan bermain yang memiliki

aturan adalah olah raga. Kegiatan bermain ini masih

menyenangkan dan dinikmati anak-anak, meskipun

aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku

dibandingkan dengan jenis permainan yang tergolong games

seperti kartu atau kasti. Anak senang melakukannya

berulang-ulang dan terpacu untuk mencapai prestasi sebaik-

baiknya.

7. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Permainan Anak

Menurut Supartini (2004), faktor-faktor yang

mempengaruhi anak dalam bermain yaitu:

a. Tahap perkembangan anak

Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak yaitu harus

sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan

anak, karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi

pertumbuhan dan perkembangan anak.

b. Status kesehatan anak


Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi bukan

berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang

sakit.
c. Jenis kelamin anak
Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki

atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir,

imajinasi, kreativitas dan kemampuan sosial anak. Akan

tetapi, permainan adalah salah satu alat untuk membantu

anak mengenal identitas diri.


d. Lingkungan yang mendukung
Lingkungan dapat menstimulasi imajinasi anak dan

kreativitas anak dalam bermain.


e. Alat dan jenis permainan yang cocok
Alat dan jenis permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh

kembang anak.

8. Prinsip dalam Bermain

Menurut Supartini (2004), agar anak-anak dapat bermain

dengan maksimal maka diperlukan hal-hal seperti:

a. Ekstra energi

Untuk bermain diperlukan energi ekstra. Anak-anak yang

sakit, kecil kemung-

kinan untuk melakukan permainan.

b. Waktu

Anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain

sehingga stimulus yang diberikan dapat optimal.

c. Alat permainan
Untuk bermain, alat permainan harus disesuaikan dengan

usia dan tahap perkembangan anak serta memiliki unsur

edukatif bagi anak.

d. Ruang untuk bermain

Bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu,

halaman, bahkan di tempat tidur.

e. Pengetahuan cara bermain

Dengan mengetahui cara bermain maka anak akan lebih

terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang

dalam menggunakan alat permainan tersebut.

f. Teman bermain

Teman bermain diperlukan untuk mengembangkan

sosialisasi anak dan membantu anak dalam menghadapi

perbedaan. Bila permainan dilakukan bersama dengan

orangtua, maka hubungan orangtua dan anak menjadi lebih

akrab.