Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA PRODUK ALAM

PERCOBAAN V
SKRINING FITOKIMIA

Disusun oleh :

1. Yesi Luthfi R (16/397337/FA/11020)


2. Yustika Cahyaning P (16/397340/FA/11023)
3. Andyan Prabowo (16/405659/FA/11025)
Kelas : A
Golongan / Kelompok : IV / 5

Asisten jaga : 1. Anami


2. Shinta

LABORATORIUM KIMIA PRODUK ALAM


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018
SKRINING FITOKIMIA

I. SKEMA KERJA

UJI PENDAHULUAN

1. Uji organoleptis
Diambil sejumlah sampel, dilihat warnanya, dirasakan rasanya, dan dicium baunya.

2. Uji tabung
a. Jalur Mevalonat
1. Uji Terpenoid / Salkowski’s Test
Sebanyak 3-5 tetes larutan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan ±5 tetes kloroform ke dalam tabung

Dialirkan bertetes-tetes asam sulfat pekat melalui dinding tabung reaksi dengan hati-hati
hingga terbentuk dua lapisan

b. Jalur Poliketida
1. Uji Antrakuinon
Sebanyak 3-5 tetes larutan ekstrak dalam kloroform dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan ±5 tetes larutan amonia 10% ke dalam tabung dan digojog

c. Jalur Sikimat
1. Uji Kumarin
Sebanyak 5 tetes larutan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 5 tetes larutan NH4OH 10% ke dalam tabung


Larutan diteteskan ke kertas saring dan diamati di bawah lampu UV-366

2. Uji Flavonoid / Shinoda’s Test


Sebanyak 3-5 tetes larutan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan sedikit serbuk magnesium dan asam klorida pekat tetes demi tetes ke dalam
tabung

d. Alkaloid
Sebanyak 3-5 tetes larutan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 10 tetes larutan HCl 1% ke dalam tabung dan dipanaskan dengan hati-hati selama 5
menit

Ditambahkan 2 tetes reagen Mayer ke dalam tabung

UJI KLT
Uji alkaloid
Disiapkan lempeng silika gel F254

Ditentukan batas bawah elusi pada lempeng silika yakni 1 cm dari tepi bawah; jarak rambat fase
gerak pada lempeng silika dengan pensil yakni 5 cm dari batas bawah

Ditotolkan larutan pembanding 2 totol chinae cortex di sisi kiri lempeng silika dengan pipa kapiler,
dibiarkan mengering

Ditotolkan larutan sampel di sisi kanan totolan larutan pembanding dengan pipa kapiler, dibiarkan
mengering

Lempeng silika dimasukkan ke dalam gelas yang telah berisi fase gerak diklorometan : dietilamina (90 :
10)
Ditutup gelas dengan cawan Petri, sampel dibiarkan terelusi

Diambil lempeng silika saat fase gerak telah mencapai batas rambat atas

Lempeng dipanaskan dalam oven selama 10 menit untuk menghilangkan sisa amina

Plat disemprot dengan pereaksi asam sulfat 5% etanolik dan dipanaskan dengan oven selama 5
menit

Plat diamati di bawah cahaya tampak dan didokumentasikan

Dihitung Rf dan HRf bercak hasil elusi

II. HASIL DAN ANALISIS DATA

a. Uji Pendahuluan

1. Uji Organoleptis

Bentuk: cair
Warna: coklat kekuningan
Rasa: pahit
Bau: seperti jamu (mirip pembanding chinae cortex)

2. Uji tabung
A. Jalur Mevalonat

1. Uji Terpenoid / Salkowski’s Test


Hasil:
Terbentuk warna coklat tua dipertemuan kedua lapisan.
Hasil uji terpenoid negatif.

Teori:
Jika terbentuk warna merah tua pada pertemuan kedua
lapisan, maka terdapat terpenoid dalam sampel
(Edeoga, dkk., 2005).

B. Jalur Poliketida

1. Uji Antrakuinon
Hasil:
Tidak terbentuk warna merah jambu di fase air.
Hasil uji antrakuinon negatif.

Teori:
Adanya warna merah jambu di fase air menunjukkan
adanya antrakuinon bebas (Kar, 2007).

C. Jalur Sikimat

1. Uji Kumarin
Hasil:
Tidak berfluoresensi di bawah sinar UV-366.
Hasil uji kumarin negatif.
Teori:
Fluoresensi kuat berwarna kuning
menunjukkan adanya kumarin (Zohra, 2012).
2. Uji Flavonoid / Shinoda’s Test
Hasil:
Tidak terbentuk warna merah jambu (pink scarlet).
Hasil uji flavonoid negatif.

Teori:
Warna merah jambu atau pink scarlet menunjukkan
adanya flavonoid (Zohra, 2012).

D. Alkaloid
Hasil:
Terbentuk endapan
Hasil uji alkaloid positif.

Teori:
Endapan yang muncul menunjukkan adanya
alkaloid (Yadav dan Agarwala, 2011).

ANALISIS HASIL : Sampel nomor 5 mengandung alkaloid.

3. Uji KLT (Kromatografi Lapis Tipis)


Digunakan fase diam plat silika gel F254

Uji Alkaloid

Fase Gerak : diklorometan : dietilamina (90 : 10)


Pembanding : Chinae cortex
Jarak Elusi : 5 cm
Deteksi : pereaksi asam sulfat 5%, dilihat pada cahaya tampak, lampu UV 254,
dan lampu UV-366
a. Sebelum Disemprot

Sinar Tampak Sinar UV 254 Sinar UV 365

b. Setelah disemprot

Sinar tampak Sinar UV 254 Sinar UV 365


Analisis uji KLT :
 Rf sampel = 0,4; 0,5; 0,66; 0,74 berwarna biru terang
 Rf pembanding = 0,7 berwarna biru terang
 Terdapat bercak dengan warna dan Rf yang sama pada sampel dan pada pembanding,
yakni bercak biru terang dengan Rf ~0,7.
Sampel diduga mengandung alkaloid kinolin, sinkonidin, kinidin mentol yang memiliki Rf 0,28
(Bladt, 2009).

Harga Rf
Rf = jarak rambat bercak senyawa/jarak rambat fase gerak
Jarak rambat fase gerak ditetapkan sebesar 5 cm

Tabel Harga Rf : uji KLT alkalois kinolin, setelah elusi.

Sebelum Disemprot Setelah Disemprot


Nomor Rf Sinar UV UV Sinar UV UV
Tampak 254 365 Tampak 254 365
1. Sampel : Tidak
Biru Biru Tidak Biru Biru
3,3 tampak
Rf2: = 0,66
5 gelap Gelap tampak Gelap Gelap

3,7
Rf1: = 0,74
5 Biru Biru
2,5 Tidak Biru Biru Tidak
Rf3: = 0,5 terang terang
5 tampak gelap muda tampak
2
Rf4: = 0,4
5

2. Chinae cortex
(pembanding): Tidak Biru Tidak Tidak Biru Biru
3,5
Rf: = 0,7 tampak Gelap tampak tampak Terang Terang
5
Harga HRf
HRf = Rf x 100

Tabel Harga HRf plat pertama: uji KLT terpenoid, setelah elusi.

Sebelum Setelah perlakuan


No. UV-254 UV-366
P S P S P S
1. - - 74 70 74 70
2. 40 40
3. 50 50
4. 66 66

III. PEMBAHASAN

Percobaan ini bertujuan untuk praktikan mampu menggunakan metode-metode yang pernah
dipelajari pada praktikum Farmakognosi (uji pendahuluan dengan organoleptis, uji tetes, dan uji
tabung) hingga KLT yang dipelajari pada praktikum Kimia Produk Alam untuk mengambil data,
interpretasi, dan mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder dalam sampel.

Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatupenelitian fitokimia yang bertu
juan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang
sedang diteliti. Penapisan kimia adalah pemeriksaan kandungan kimia secara kualitatif untuk
mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam suatu tumbuhan. Pemeriksaan dilakukan pada
senyawa metabolit sekunder yang memiliki khasiat bagi kesehatan seperti alkaloid, Flavonoid,
terpenoid, tannin,dan saponin. (Harborne, 1987)

Metode skrining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna


dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang berperanpenting dalam skrining fitoki
mia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (kristianti dkk,
2008) .Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-senyawa metabolit
sekunder.
Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atasberbagai macam metabolit sekunder yang berperan dalam a
ktivitas biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasikan dengan pereaksi-pereaksi yang
mampu memberikan ciri khas dari setiap golongandari metabolit sekunder (Harbone, 1987)
Adapun metode yang digunakan atau dipilih untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi
beberapa persyaratan antara lain (Robinson, 1995)
a. sederhana
b. cepat
c. dapat dilakukan dengan peralatan minimal
d. selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari
e. bersifat semi kuantitatif yaitu memiliki batas kepekaan untuk senyawa yang dipelajari
f. dapat memberikan keterangan tambahan ada tidaknya senyawa dari golongan senyawa yang
dipelajari

Pada percobaan ini praktikan diberikan sampel berupa ekstrak simplisia, yang setelah diskusi
diketahui bahwa ekstrak yang diuji merupakan ekstrak daun Rauwolfia radix.

Klasifikasi ilmiah

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Gentianales

Famili: Apocynaceae

Genus: Rauwolfia

Spesies: R. serpentina

Identifikasi golongan senyawa metabolit sekunder dalam sampel dimulai dengan uji
pendahuluan yaitu uji tabung. Uji tabung dilakukan untuk menguji adanya metabolit sekunder dari
jalur mevalonat, jalur poliketida, jalur sikimat (kombinasi poliketida), dan jalur alkaloid.

Jalur Mevalonat: Terpenoid dan Steroid

1. Uji Terpenoid (Salkowski’s Test)


Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen. Terpen
merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan sebagian
kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah (C5H8)n. Terpenoid disebut juga dengan
isoprenoid. Hal ini disebabkan karena kerangkakarbonnya sama seperti senyawa isopren.
Pengujian dilakukan dengan cara mencampur 2 tetes larutan ekstrak dengan 2 tetes kloroform.
Kemudian ditambahkan asam sulfat (H2SO4) pekat melalui dinding tabung hingga terbentuk dua
lapisan (fase). Penambahan asam sulfat pekat dilakukan di dalam almari asam. Jika terbentuk warna
merah tua di pertemuan kedua lapisan berarti positif adanya terpenoid (Edeoga, dkk., 2005).
Senyawa terpenoid merupakan senyawa nonpolar karena banyak mengandung rantai karbon
sehingga ditambahkan kloroform untuk melarutkannya.
Pada percobaan ini, setelah campuran ekstrak dan kloroform ditambah asam sulfat, terbentuk
dua lapisan yang dipisahkan oleh cincin berwarna coklat muda, sehingga hasilnya negatif.

Jalur Poliketida: Antrakuinon


Antrakinon merupakan senyawa turunan antrasena yang diperoleh dari reaksi oksidasi
antrasena. Golongan ini memiliki aglikon yang sekerabat dengan antrasena yang memiliki gugus
karbonil pada kedua atom C yang berseberangan (atom C9 dan C10), larut dalam air panas atau
alkohol encer. Antrakinon yang mengandung gugus karboksilat dapat diekstraksi dengan
penambahan basa, misalnya dengan natrium bikarbonat. Hasil reduksi antrakinon adalah antron
denantranol terdapat bebas di alam atau sebagai glikosida (Stanitsky, 2003).
Pengujian terhadap kandungan senyawa antrakuinon dilakukan dengan penambahan 2 tetes
ammonia 10% pada 2 tetes sampel. Senyawa antrakuinon akan menimbulkan warna merah darah
dengan NaOH dan KOH, serta menimbulkan warna merah muda dengan ammonia encer (Kar,
2007). Senyawa antrakuinon menimbulkan warna merah dengan adanya basa dan warnanya
semakin intens dengan penggunaan basa yang semakin kuat. Pengujian terhadap sampel nomor 5
menunjukkan hasil negatif ditunjukkan dengan tidak munculnya warna merah muda. Warna
campuran amonia dan sampel tersebut adalah kuning.
Jalur Shikimat (dan kombinasi dengan poliketida):

1. Uji Kumarin
Uji tabung kandungan kumarin pada sampel dilakukan dengan menambahkan dua tetes amonia
10% pada sepuluh dua sampel. Campuran tersebut kemudian diteteskan pada kertas saring dan
diamati dibawah UV 365 nm. Floresensi kuat (kuning) menunjukkan adanya kumarin (Zohra, dkk.,
2012). Pengujian kumarin terhadap sampel menunjukkan hasil negatif. Campuran sampel dan
ammonia 10% berwarna kuning pada sinar tampak. Di bawah UV 365 nm campuran tersebut
berwarna kuning pudar namun tidak berfloresensi. Hal ini menunjukkan hasil yang negatif.

2. Uji Flavonoid (Shinoda Test)


Pengujian dilakukan dengan cara mencampur 2 tetes larutan ekstrak dengan sedikit potongan
magnesium lalu ditambahkan tetes demi tetes HCl pekat. Adanya flavonoid ditunjukkan dengan
terbentuknya warna merah jambu (Zohra, 2012).
Prinsip reaksi Shinoda mirip dengan reaksi yang terjadi pada reduksi Clemmensen. Logam
berfungsi sebagai agen penyedia elektron dan HCl berfungsi sebagai penyedia proton sehingga
terjadi reduksi karbonil. Berikut adalah reaksi reduksi Clemmensen (Anonim, 2014).

Pada uji Shinoda juga terjadi reduksi gugus karbonil, dalam hal ini terjadi reduksi eliminasi.
Produk antosianidin bersifat stabil (konjugasi panjang) sehingga intermedietnya yang bersifat suka
pada hidroksil menyebabkan terjadinya reduksi-eliminasi dan membentuk antosianidin stabil.
Magnesium berfungsi seperti seng-merkuri pada uji Clemmensen yaitu sebagai penyedia elektron
(Anonim, 2014).
Uji Shinoda dilakukan untuk mengetahui adanya flavon (flavonoid). Jika dalam sampel
terdapat flavon maka flavon tersebut akan direduksi menjadi antosianidin melalui reaksi Shinoda
dengan reaksi sebagai berikut (Anonim, 2014).
Konjugasi pada flavonoid menghasilkan warna kuning sedangkan konjugasi yang panjang pada
antosianidin menyebabkan warna menjadi kemerahan pada sinar tampak (Anonim, 2014).
Pada percobaan setelah larutan ekstrak ditambahkan dengan magnesium dan HCl pekat
terbentuk letupan-letupan kecil. Warna larutan yang terjadi adalah kuning dan terdapat endapan
manesium, hasil negatif sehingga diduga di dalam ekstak tidak terdapat flavonoid.

Alkaloid
Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Pada umumnya alkaloid
mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam
gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis
aktif, kebanyakan berbentuk kristal, tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (Sastrohamidjojo,
H.,1996).
Pengujian dilakukan dengan cara mencampur 2 tetes larutan ekstrak dengan 2 tetes HCl 1%
lalu dipanaskan. Ditambahkan masing-masing 2 tetes reagen Mayer ke dalam campuran, jika
terdapat endapan menunjukkan adanya alkaloid (Yadav dan Agarwala, 2011).
Penambahan HCl berfungsi untuk menarik alkaloid dari senyawa-senyawa lain dalam ekstrak
simplisia. Alkaloid bersifat basa sehingga akan bereaksi dengan HCl membentuk garam. Pemanasan
berfungsi untuk memutus ikatan antara alkaloid dengan HCl sehingga diperoleh alkaloid utuh
(bukan berbentuk garam). Pada percobaan setelah larutan ekstrak diberi perlakuan terbentuk
endapan berwarna orange keruh sehingga diduga dalam ekstrak terdapat alkaloid.
Untuk memastikan kembali bahwa sampel yang kami dapat merupakan golongan alkaloid,
kami juga menguji dengan reaksi dragendorff. Hasil positif yaitu menunjukkan perubahan warna
menjadi orange kemerahan. Setelah dilakukan uji-uji pendahuluan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
sampel mengandung alkaloid. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap senyawa alkaloid apa yang
terkandung dalam sampel, yaitu dilakukan uji kromatografi lapis tipis (KLT).
Uji KLT Alkaloid
Pengujian percobaan ini dilakukan untuk memastikan adanya alkaloid dalam ekstrak simplisia.
Pada percobaan IV praktikum Kimia Produk Alam, pengujian terhadap alkaloid dilakukan dengan
berbagai macam fase gerak dan pembanding yang tidak dapat diujikan semua pada skrining ini karena
keterbatasan bahan dan waktu sehingga pemilihan fase gerak dan pembanding untuk elusi dilakukan
secara random.
Praktikan hanya melakukan satu macam uji alkaloid yaitu alkaloid golongan kinolin dengan
fase gerak dikrolometan –dietilamin (90:10 v/v) dan pembanding Chinae cortex. Ekstrak simplisia dan
pembanding Chinae cortex masing-masing ditotolkan sebanyak dua totol pada plat KLT lalu dilakukan
elusi dengan jarak 5 cm.
Setelah dielusi, plat dikeringkan lalu diamati pada cahaya tampak. Pada plat belum tampak
bercak penotolan ekstrak simplisia. Selanjutnya plat KLT diamati di bawah sinar UV 254 nm belum
tampak bercak dan UV 366 nm, hasil yang didapat adalah terdapat banyak bercak elusi namun belum
dapat untuk menentukan nilai Rf yang akan ditentukan pada kondisi sinar UV 366 nm .
Plat disemprot dengan pereaksi asam sulfat 5% etanolik dan hasil yang didapat pada sinar UV
366 nm terdapat bercak biru terang pada Rf sampel bernilai 0,74 ; 0,66;0,5;;0,4;0,26 dan nilai Rf
pembanding yaitu 0,7 . Kemudian, dipastikan kembali dengan uji KLT dan hasilnya menunjukkan
terdapat bercak yang sama antara sampel dengan pembanding yaitu chinae cortex pada Rf 0,7 yang
diduga mengandung senyawa kinolin .dan sampel juga mengandung senyawa sinkonidin (0,66),
kinidin (05),dan sinkonin (0,4).
Namun, setelah diskusi ternyata senyawa yang berada pada sampel 5 adalah ekstrak Rauwolfia
radix yang merupakan alkaloid golongan reserpin. Kelompok kami mengalami kesalahan dalam
mengidentifikasi senyawa sampel dikarenakan dalam identifikasi senyawa golongan alkaloid memang
sulit untuk dibedakan. Karena ketika sampel diuji, sampel memilik harga Rf sama dengan pembanding
Chinae cortex, serta ditemukan Rf lain yang sesuai dengan teori senyawa kinolin. Ketika selesai elusi
juga sudah ditemukan keberadaan bercak sampel, dan ketika disemprot menunjukkan hasil yang sesuai
dengan teori senyawa kinolin. Selain itu, pada uji organoleptis, bau sampel mirip dengan bau
pembanding chinae cortex. Pengujian golongan alkaloid memang sulit dibedakan, sehingga seharusnya
menguji KLT lebih dari satu jenis alkaloid dengan pemakaian fase gerak berbeda dan diuji dengan
deteksi dragendorf, kecuali senyawa xanthin karena xanthin tidak dapat terdeteksi dengan pereaksi
dragendorf.

KESIMPULAN
1.Uji pendahuluan menunjukkan bahwa sampel 5 merupakan golongan alkaloid
2. Uji KLT menunjukkan bahwa sampel 5 merupakan alkaloid golongan kinolin dengan simplisia
Chinae cortex.
3. Hasil diskusi, sampel 5 merupakan alkaloid golongan reserpin dengan simplisia Rauwolfia radix.
4. Kesalahan identifikasi senyawa sampel dikarenakan karena senyawa golongan alkaloid sulit untuk
dibedakan.

IV. PUSTAKA

Anonim, 2014, Basic Chemistry of the Shinoda Test for Flavonoids?,


http://chemistry.stackexchange.com/, diakses pada 7 Desember pukul 20:40 WIB.
Edeoga, H. O., Okwu, D. E., dan Mbaebie, B. O. 2005, Phytochemical constituents of some Nigerian
medical plants, African Journal of Biotehnology Vol. 4 (7), pp. 685-688 July 2005 ISSN 1684-
5315.
Harborne, J.B., (1987), Metode Fitokimia, Edisi ke dua, ITB, Bandung.
Kar, Ashutosh, 2007, Pharmacognosy and Pharmacobiotechnology, 2nd Edition, New Age
International Publishers, New Delhi.
Kristanti, A. N, N. S. Aminah, M. Tanjung, dan B. Kurniadi, 20018, Buku Ajar Fitokimia
Surabaya,Jurusan Laboratorium Kimia Organik FMIPA Universitas.
Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Edisi VI, Hal 191-216, Diterjemahkan
oleh Kosasih Padmawinata, ITB, Bandung
Sastrohamidjojo, H.,1996, Sintesis Bahan Alami, 140, Universitas Gadjah Mada.
Stanitsky, Conrad L, 2003, Chemistry in Context, Mc Graw-Hill, New York.
Yadav, R. N. S. dan Agarwala, Munin, 2011, Phytochemical analysis of some medicinal plants, Journal
of Phytology, 3(12): 10-14 ISSN: 2075-6240.

Yogyakarta, 09 Desember 2018


Praktikan,

1. Yesi Luthfi R (16/397337/FA/11020)


2. Yustika Cahyaning P (16/397340/FA/11023)
3. Andyan Prabowo (16/405659/FA/11025)