Anda di halaman 1dari 17

Sesak Nafas Karena Gangguan Saluran Pernapasan

Christianto Buntu Patandianan

102015127

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara No. 6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat

CHRISTIANTO.2015fk127@civitas.ukrida.ac.id

Abstract

Respiratory tract is divided into upper and lower respiratory tract where the upper respiratory tract
consists of the nose, pharynx and larynx. Respiratory mechanism is important in providing oxygen
for the survival of the cells metabolic processes of the body and emit CO2 metabolism results
continuously. This mechanism causing the diffusion process and transport gas to perpetuate the
body's metabolism. In addition, there are also muscles that are so important in the process of calm
respiration and powerful breathing.
Keywords: upper airways , breathing mechanism , transportation , respiratory muscle.
Abstrak

Saluran pernafasan terbagi 2 yaitu saluran pernafasan atas dan bawah dimana saluran nafas atas
terdiri dari hidung, faring dan laring. Saluran nafas bawah pula terdiri dari trakea, bronkus,
bronkiolus dan alveol. Setiap organ pernafasan ini mempunyai makroskopik dan mikroskopiknya
sendiri. Mekanisma pernafasan juga penting dalam penyediaan oksigen untuk kelangsungan
proses metabolisme sel-sel tubuh dan mengeluarkan CO2 hasil metabolism secara terus-menerus.
Mekanisme ini secara langsung menyebabkan terjadinya proses difusi dan transportasi gas untuk
mengekalkan metabolisme tubuh. Hal ini karena oksigen begitu penting dalam mengekalkan
metabolism tubuh. Selain itu, terdapat juga otot-otot yang begitu penting di dalam proses
pernafasan tenang dan juga pernafasan kuat.
Kata Kunci: Saluran pernafasan atas, mekanisme pernafasan, transportasi, otot-otot pernafasan

1
Pendahuluan

Respirasi (Pernafasan) melibatkan keseluruhan proses yang menyebabkan pergerakan pasif O2 dari
atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pergerakan pasif CO2 selanjutnya
yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Sistem pernafasan ikut
berperan dalam homeostasis dengan mempertukarkan O2 dan CO2 antara atmosfer dan darah.
Darah mengangkut O2 dan CO2 antara sistem pernafasan dan jaringan.

Pada persoalan seorang anak yang mengalami sesak nafas karena batuk dan pilek. Dalam kasus
ini saya menyimpulkan bahwa anak tersebut mengalami gangguan pada sistem pernafasannya
karena batuk dan pilek dan berikut penjelasan mengenai struktur makroskopis dan mikroskopis
pernafasan atas dan bawah, mekanisme pernapasan dll.

Struktur makroskopis alat pernafasan atas dan bawah

Alat pernafasan atas

a. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)

Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Hidung merupakan organ yang
bertulang dan bertulang rawan hialin. Rongga hidung berlapis selaput lendir dan terdapat kelenjar
minyak (sebasea) dan kelenjar keringat (sudorifera) di dalamnya.1 Selaput lendir berfungsi untuk
menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernafasan. Terdapat juga rerambut pendek dan
tebal yang berfungsi untuk menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. 2,3

Rongga hidung dibagi berdasarkan 3 regio yaitu vestibulum, penghidu dan pernafasan. Vestibulum
adalah perlebaran yang letaknya di sebelah dalam nares.3 Ke arah atas dan ke dorsal vestibulum
dibatasi oleh limen nasi dan sepanjang limen nasi ini kulit yang melapisi vestibulum dilanjutkan
dengan mukosa hidung. Regio penghidu berada di sebelah cranial, dimulai dari atap rongga hidung
daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan septum nasi di hadapan konka
tersebut. Regio pernafasan adalah bagian rongga hidung selebihnya. Terdapat konka yang
mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara masuk. Antara fungsi lain
hidung adalah melembapkan dan membersihkan udara.

2
b. Faring

Faring merupakan sebuah pipa musculomembranesa yang panjangnya 12-14 cm, membentang dari
basis crania sampai setinggi vertebra cervical 6 atau tepi bawah cricoidea. Pada bagian superior adalah
paling lebar yaitu 3,5 cm dan dilanjutkan ke sebelah caudal dengan oesophagus (kerongkongan). Ke
ventral pula faring akan berhubungan dengan cavum timpani. Perbatasan faring dengan oesophagus
lebarnya adalah sekitar 1,5cm dan merupakan bagian tersempit saluran pencernaan selain appendix
vermiformis.2

Faring merupakan ruangan di belakang kavum nasi yang menghubungkan traktus digestivus dan traktus
respiratorius. Antara yang termasuk dari bagian faring adalah nasofarings, orofarings dan
laringofarings.2 Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan 2 saluran, yaitu saluran
pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofarings) pada bagian
belakang. Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat di mana
letaknya pita suara (pita vocalis). Udara yang masuk melalui faring akan menyebabkan pita suara
bergetar dan terdengar sebagai suara.3 Otot-otot faring pula terdiri dari m. Constrictor pharyngis, m.
Salpingopharyngeus, m. palatopharyngeus yang mana ketiga otot ini dipersarafi oleh nervus vagus
tetapi m. Stylopharyngeus dipersarafi oleh nervus glossofaringeus.

 nasopharynx (epipharynx)

berada di sebelah dorsal hidung dan sebelah cranium molle, berdinding static kecuali palatum
molle. Rongga nasopharynx tidak pernah tertutup dan berbeda dari oroppharynx dan
laryngopharynx. Pada bagian ventral ia berhubung dengan rongga hidung melalui choanae dan
masing-masing terpisah oleh septum nasi. Pada dinding lateral nasopharynx dijumpai ostium
pharyngeal tubae auditivae, di sebelah dorsal dan caudal ujung posterior concha nasalis inferior.
Di sebelah dorsocranial, lubang ini dibatasi oleh torus tubarius yang dibentuk oleh mukosa yang
menutupi ujung pharyngeal tulang rawan tuba auditiva.1,3

 oropharynx ( mesopharynx)

Bagian ini terbentang dari palatum molle sampai tepi atas epiglottis atau setinggi corpus vertebra
cervical 2 dan 3 bagian atas. Di sebelah ventral berhubungan dengan cavum oris melalui isthmus

3
oropharyngeum dan berhadapan dengan aspek pharyngeal lidah.1 Dinding lateral oropharynx
terdiri atas arcus palatopharyngeus dan tonsilla palatine. Arcus palatopharyngeus terletak di
sebelah dorsal arcus palatoglossus, turun dari uvula menuju ke sisi pharynx sebagai lipatan mukosa
yang menutupi m. palatopharyngeus. Pada setiap sisi, arcus palatopharyngeus dan arcus
palatoglossus membentuk sinus tonsillaris berbentuk segi tiga dan berisi tonsila palatina.4

Tonsila palatine adalah masa jaringan limfoid pada kedua dinding lateral oropharynx, masing-
masing terletak pada sinus tonsillaris. Ia terletak di sebelah dorsal gigi bawah molar ketiga dan
diprojeksikan pada sebuah daerah bulat telur di atas bagian bawah m. messenter, sedikit di sebelah
anterosuperior terhadap angulus mandibulae.pada permukaan medial tonsil terdapat 12-15 lubang
crypta tonsillaris yang dalam dan sempit, hampir menembus seluruh seluruh tebal tonsil.2

 laringopharynx

laryngopharynx membentang dari bagian tepi epiglottis sampai ke inferior cartilage cricoidea atau
mulai setinggi bagian bawah corpus vertebra cervical 3 sampai bagian atas vertebrae cervical 6.
Ke arah caudalnya dilanjutkan menjadi oesophagus dan dinding anteriornya tidak sempurna.
Terdapat pintu masuk ke dalam larynx yaitu auditu laryngis dan di bawahnya terdapat permukaan
posterior cartilage arytaenoidea dan cartilage cricoidea. Pada masing-masing sisi pula terdapat
fossa atau recessus piriformis yang dibatasi di sebelah medial oleh plica aryepiglottica dan di
sebelah lateral oleh cartilage cricoidea dan membrana thyreohyoidea.2

c. larynx

larynx adalah saluran udara yang bersifat sphincter dan juga organ pembentuk suara. Ia
membentang antara lidah sampai trakea atau pada laki-laki dewasa setinggi vertebrae cervical 3
sampai 6, pada anak dan perempuan dewasa lebih tinggi sedikit. Larynx berada di antara
pembuluh-pembuluh besar leher dan di sebelah ventral tertutup dengan kulit, fascia-fascia dan
otot-otot depressor lidah. Ke arah atas larynx terbuka ke dalam laryngopharynx, dinding posterior
larynx menjadi dinding anterior laryngopharynx dan ke arah bawah dilanjutkan sebgai trachea.
Larynx laki-laki dewasa berukuran lebih besar, pertumbuhan yang pesat menjelang pubertas dan
cartilage thyroideanya berproyeksi lebih nyata keaarah anterior di garis tengah.2,3

4
Larynx terdiri dari beberapa tulang rawan yang satu dan sepasang. Tulang rawan thyroidea adalah
yang terbesar, terdiri dari dua lamina persegi empat yang tepi anteriornya menyatu kearah inferior
dan membentuk sudut yang menonjol yang dikenali sebagai prominentia laryngea. Proyeksi ini
sangat jelas pada laki-laki tetapi tidak pada perempuan. 3

Cartilage cricoidea pula berbentuk semu cincin stampel, membentuk bagian inferior dinding larynx. Tepi
inferior cartilago ini bergabung dengan cincin pertama tulang rawan trachea melalui ligamentum
cricotracheale. Cartilago arytaenoidea pula berada di belakang larynx sebelah superolateral lamina
cartilage cricoidea. Ia berbentuk pyramid dengan tiga permukaan dan dua processus, basis dan apex.
Cartilage corniculatum terletak di posterior dalam plica aryepigloticca dan bersandar pada apex cartilage
arytaenoidea. Cartilage cuneiforme berada dalam plica aryepiglottica di sebelah anterior terhadap cartilage
corniculatum.2

Alat pernafasan bawah

a) Trakea
b) Bronkus
c) Bronkiolus
d) Alveoli

2. Struktur mikroskopis alat pernafasan


a) Hidung dan rongga hidung

Hidung merupakan organ yang berongga terdiri dari tulang, tulang rawan hialin, otot polos dan
jaringan ikat. Kulit luarnya terdiri daripada epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk, rambut,
rambut halus, kalenjar sebasea dan kalenjar keringat. Rongga hidung atau kavum nasi dipisahkan
oleh septum nasi menjadi dua bagian yaitu vestibulum nasi ( daerah lebar di belakang nares
anterior) dan regio respirasi (daerah belakang sebelah dalam vestibulum nasi).

Vestibulum nasi mempunyai epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan kemudian berubah
menjadi epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet sebelum masuk regio respirasi. Selain itu,
terdapat juga vibrisae yang berfungsi untuk menyaring udara pernafasan. Terdapat juga kalenjar
sebasea dan kalenjar keringat. Pada dinding lateral terdapat tiga tonjolan tulang disebut konka.

5
Konka superior dilapisi oleh epitel khusus manakala konka nasalis media dan inferior dilapisi
epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Pada lamina propria banyak terdapat plexus venosus
yang disebut swell bodies yang berperan untuk menghangatkan udara yang masuk melalui hidung.
Pada lamina propria mempunyai glandula nasalis yang merupakan kalenjar campur yang berperan
melembabkan kavum nasi dan menangkap partikel-partikel debu yang halus dalam udara inspirasi.
Selain itu, lamina propria mempunyai noduli limfitasi.3

Kemoreseptor penghidu terletak di epitel olfaktorius yang merupakan epitel bertingkat torak. Ia
terdiri atas tiga jenis sel yaitu pertama sel olfaktorius. Sel ini merupakan neuron bipolar dengan
dendrit terletak pada bagian apical dan akson ke lamina propia. Ujung dendrit yang
menggelembung disebut vesikula olfaktorius. Kedua, sel sustentakuler/ sel penyokong yang
bentuk sel silindris tinggi dengan bagian apex lebar dan bagian basal yang menyempit. Sitoplasma
mempunyai granula kuning kecoklatan. Ketiga, sel basal. Sel ini berbentuk segitiga dan
mempunyai inti lonjong. Ia merupakan reserve cell/ sel cadangan yang membentuk sel penyokong
dan mungkin menjadi sel olfaktorius. Selanjutnya, terdapat kelenjar Bowman yang berperan agar
epitel sentiasa lembab dan juga sebagai pelarut zat-zat kimia yang dalam bentuk bau.

Sinus paranasalis adalah rongga dalam tulang tengkorak yang berhubungan dengan kavum nasi.
Terdapat tiga sinus yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus sphenoidalis dan sinus maxillaris.
Pada sinus paranasalis dilapisi oleh epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Kelenjar-kelenjer
di sini memproduksi mukos yang dialirkan ke kavum nasi oleh gerakan silia. 3

b) Faring terdiri daripada nasofaring, orofarings dan laringofarings.


Nasofarings mempunyai epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Terdapat kelenjar campur
dan jaringan limfoid yang membentuk tonsila faringea. Terdapat muara yang menghubungkan
rongga hidung dengan telinga tengah disebut faringeum tuba auditiva.
Orofarings mempunyai epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Ia terletak di belakang rongga
mulut dan permukaan belakang lidah. Padanya ditemui tonsila palatina. Laringofarings
mempunyai epitel bervariasi mayoriti merupakan epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Ia
terletak di belakang larings.3

6
Larings berperan untuk fonasi dan mencegah benda asing memasuki jalan nafas dengan adanya
refleks batuk. Ia mempunyai epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet kecuali ujung plika
vokalis ada epitel berlapis gepeng. Pada dinding larings ditemui tulang rawan hialin, tulang rawan,
jaringan ikat, otot skelet dan kalenjar campur. Antara tulang rawan hialan ialah 1 tulang rawan
tiriod, 1 krikoid dan 2 aritenoid. Tulang rawan elastin pula ialah tulang rawan sisi superior tulang
rawan aritenoid bagian superior, sepasang kuneiformis dan sepasang kornikulata. Kontraksi otot
intrinsik akan menyebabkan perubahan bentuk dan celah pita suara sehingga menghasilkan suara
(fonasi) dan otot ektrinsik pula berhubungan dengan proses menelan.3

c)
Epiglottis
mempunyai dua permukaan lingual dan laringeal. Permukaan lingual terdiri dari epitel berlapis
gepeng tanpa lapisan tanduk. Lamina propria dibawahnya langsung melekat pada perikondrium.
Ia merupakan bagian anterior yang paling sering berkontrak dengan akar lidah pada proses
menelan. Manakala permukaan laringeal mempunyai epitel berlapis gepeng yang tipis dari
permukaan lingual menjadi epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet kemudian ke trakea dan
bronkus. Lamina propria dibawahnya mempunyai kalenjar campur. Epiglottis merupakan
kartilago yang paling atas yang keseluruhannya dilapisi oleh membran mukosa.

Di bawah epiglottis terdapat bagian atas disebut pita suara palsu / plika vestibularis. Plika ini
dipisahkan kanan dan kiri oleh rima vestibuli. Plika ini mempunyai epitel bertingkat torak bersilia.
Bagian bawah disebut pita suara sejati/ plika vocalis yang mempunyai epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk. Diantara dua plika vokalis terdapat daerah yang disebut rima vokalis/ rima
glotidis. Lamina propria terdapat serat-serat elastin tersusun sejajar membentuk ligamentum
vokalis. Otot skelet sejajar dengan ligamentum vokalis yang disebut M. vokalis. M. vokalis
berfungsi mengatur ketegangan pita suara dan ligamentum sehingga udara yang melalui pita suara
dapat menimbulkan suara dengan nada yang berbeda-beda.1

d) Trakea
mempunyai rangka berbentuk C terdiri atas tulang rawan hialin. Antara cincin-cincin tulang rawan
dihubungkan oleh jaringan penyambung padat fibroelastis dan retikulin disebut ligamentum
anulare. Ia berfungsi untuk mencegah agar lumen trakea tidak meregang berlebihan. Selain itu,

7
terdapat otot polos berperan untuk mendekatkan kedua tulang rawan. Bagian trakea yang
mengandung tulang rawan disebut pars kartilagenia manakala bagian trakea yang mengandung
otot disebut pars membranasea. Ujung terbuka dari cincin ini dihubungkan oleh otot polos dan
jaringan ikat, memungkinkan pelebaran esofagus ketika ditelan. Di luar tulang rawan terdapat
lapisan jaringan ikat padat dengan banyak serat elastin.2 Bagian dalam trakhea dilapisi oleh
membran mukosa bersilia.

Trakea terdiri dari tiga lapisan yaitu :


i- Mukosa trakea : Epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Lamina basalis agak tebal
dan jelas manakala lamina propia mempunyai serat-serat elastin yang berjalan longitudinalis yang
membentuk membrane elastika interna.
ii- Tunika Submukosa : terdiri dari jaringan ikat jarang, lemak, kalenjer campur ( Glandula
trakealis) yang banyak di bagian posterior. Pars membranasea ada serat otot polos yang berjalan
transversal, longitudinal, oblique disebut M. Trakealis.
iii- Tunika adventisia : terdapat kelenjer campur. Jaringan fibroelastis yang berhubungan dengan
perikondrium sebelah luar pars kartilagenia.1

Pada trakea juga terdapat enam jenis sel yaitu:


a) Sel bersilia
Sel yang mempunyai silia yang panjang, aktif, motil yang bergerak ke arah faring.
b) Sel goblet
Berperan untuk mensintesa dan mensekresi lendir. Ia mempunyai apparatus Golgi dan
retikulum endoplasma kasar di basal sel. Terdapat mikrovili di apex. Ia mengandung
tetesan mukus yang kaya akan polisakarida.
c) Sel sikat
mempunyai mikrovili di apex yang berbentuk seperti sikat. Ada dua macam sikat yaitu
sikat 1 yang mempunyai mikrovili sangat panjang dan sikat 2 yang dapat berubah menjadi
sel pendek.
d) Sel basal
merupakan sel induk yang akan mampu bermitosis dan berubah menjadi sel lain.
e) Sel sekretorik/ bergrandula

8
mengandung katekolamin yang akan mengatur aktivitas sel goblet dan gerakan silia. Ia
juga mengatur sekresi mukosa dan serosa.

f) Bronkus dan bronkiolus


Bronkus primer atau ekstrapulmonal bercabang dan menghasilkan sederetan bronki intrapulmonal
yang lebih kecil.Bronki intrapulmonal mempunyai mukosa membentuk lipatan longitudinal. Ia
terdiri daripada epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Lamina propria mempunyai jaringan
ikat jarang, serat elastis dan muskulus polos spiral, noduli limfatisi dan kalenjar bronkialis.
Bronkus kecil terdiri dari epitel bertingkat torak bersilia namun bronkus terkecil terdiri dari epitel
selapis torak bersilia bersel goblet. Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus.
Bronkiolus terdiri dari tulang rawan. Lamina propria tipis, tiada kalenjar, noduli limfatisi, otot
polos relatif banyak daripada jaringan ikat, dan mempunyai serat elastin. Bronkiolus terbagi
kepada bronkiolus terminalis dan respiratorius. Bronkiolus terminalis terdiri daripada epitel selapis
torak bersilia. Lamina prorianya sangat tipis dan lapisan luarnya terdiri daripada serat kolagen,
serat elastin, pembuluh darah dan limfatik serta saraf. Bronkiolus respiratorius merupakan bagian
konduksi dari respirasi. Ia terdiri daripada epitel torak rendah atau selapis kubis. Lamina propria
mempunyai serat kolagen, serat elastin, otot polos terputus-putus.1,2

g) Alveoli

Di ujung bronkus respiratorius terdapat satu saluran yang dipanggil duktus alveolaris. Dindingnya
tipis dan sebagian besarnya terdiri dari alveoli. Alveoli merupakan tempat pertukaran gas oksigen
dan karbon dioksida antara udara dan darah. Antara alveoli dan yang lain dilapisi dengan epitel
selapis gepeng. Di sini terdapat serat elastin yang akan melebar waktu inspirasi dan menciut pada
waktu ekspirasi pada dinding alveolus terdapat lubang-lubang kecil yang berbentuk bulat disebut
stigma alveolis. Lubang ini penting jika berlaku penyumbatan di mana-mana cabang bronkus atau
bronkiolus kerana membenarkan udara mengalir dari alveolus ke alveolus lain secara kolateral.
Namun, ini juga menjadi jalan mudah untuk bakteria menyebar contohnya pneumonia.

Sel-sel yang dijumpai pada alveolus ada empat:

9
a) Sel alveolar tipe 1 atau pneumonosit 1 mempunyai inti gepeng, sitoplasma tipis mengelilingi
seluruh dinding alveol. Sel ini mempunyai membrana basalis yang memisahkan sel ini dengan sel
endotel kapiler.

b) Sel pneumosit tipe II mempunyai inti kubis sering menonjol ke lumen dan mempunyai surfaktan
yang berperan menjaga permukaan alveoli supaya tidak kolaps.

c) Sel alveolar fagosit juga disebut sel debu. Sel ini berasal dari monosit darah. Sel ini bekerja
untuk memfagosit debu mikroorganime dan benda asing yang terdapat dalam alveoli yang ikut
saat inspirasi.

d) Sel endotel kapiler melapisi kapiler darah, mempunyai inti gepeng, kromatin inti halus.

Mekanisme Pernapasan
Fungsi utama sistem pernapasan adalah penyediaan oksigen untuk kelangsungan proses
metabolisme sel-sel tubuh dan mengeluarkan CO2 hasil metabolisme secara terus-menerus.
Pernapasan pada manusia berlangsung dengan cara mengubah tekanan udara di dalam paru-paru.
Perubahan tekanan ini menyebabkan udara dapat keluar dan masuk dari dan ke dalam paru-paru
yang disebut bernapas. 5 Proses bernapas pada manusia melalui 2 (dua) tahap :

 Inspirasi (penghirupan)

Tahap inspirasi terjadi akibat otot tulang rusuk dan diafragma berkontraksi. Volume rongga
dada dan paru-paru meningkat ketika diafragma bergerak turun ke bawah dan sangkar tulang rusuk
membesar. Tekanan udara dalam paru-paru akan turun di bawah tekanan udara atmosfer, dan udara
akan mengalir ke dalam paru-paru.5

 Ekspirasi (penghembusan)

Tahap ekspirasi terjadi akibat otot tulang rusuk dan diafragma berelaksasi. Volume rongga dada
dan paru-paru mengecil ketika diafragma bergerak naik dan sangkar tulang rusuk mengecil.
Tekanan udara dalam paru-paru akan naik melebihi tekanan udara atmosfer, dan udara akan
mengalir keluar dari paru-paru. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh
perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di

10
luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga
dada lebih besar maka udara akan keluar.5

Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara ( inspirasi) dan
pengeluaran udara ( ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu
pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.

Otot-otot Pernafasan
Gerakan diafragma menyebabkan perubahan volume intratorakal sebesar 75 % selama
inpirasi tenang. Otot diafragma melekat di sekeliling bagian dasar rongga toraks, membentuk
kubah di atas hepar dan bergerak ke bawah seperti piston pada saat berkontrkasi. Jarak
pergerakan diafragma berkisar antara 1.5 sampai 7 cm saat inpirasi dalam.
Diafragma terdiri atas 3 bagian : bagian kostal, dibentuk oleh serat otot yang bermula
dari iga – iga sekeliling bagian dasar rongga toraks, bagian krural, dibentuk oleh serat otot
yang bermula dari ligamentum sepanjang tulang belakang, dan tendon sentral, tempat
bergabungnnya serat – serat kostal dan krural. Serat – serat krural melintasi kedua sisi
esophagus. Tendon sentral juga mencakup bagian inferior pericardium. Bagian kostal dank
rural diafragma dipersarafi oleh bagian lain dari nervbus prenicus dan dapat berkontrkasi
secara terpisah. Sebagai contoh, pada waktu muntah dan bersendawa, tekanan intra –
abdominal meningkat akibat kontrkasi serat kostal diafragma, sedangkan serat – serat krural
tetap lemas, sehingga memungkina bergeraknya berbagai bahan dari lambung ke dalam
esophagus.6
Otot inspirasi penting lainya adalah muskulus interkostalis eksternus yang berjalan dari
iga ke iga secara miring kea rah bawah dan kedepan. Iga- iga berputar seolah – olah bersendi
di bagian punggung, sehingga ketika otot interkostalis eksternus berkontraksi, iga-iga
dibawahnya akan terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke luar dan memperbesar
diameter anteroposterior rongga dada. Diameter transversal boleh dikatakan tidak berubah.
Masing –masing otot interkostalis eksternus maupun diafragma dapat mempertahankan
interkasi yang kuat pada keadaan istirahat. Potongan melintang medulla spinalis di atas segmen
servikalis ketiga dapat berakibat fatal bila tidak diberikan pernapasan buatan, namun tidak
demikiannya halnya bila dilakukan pemotongan di bawah segmen servikalis ke lima, karena
nerfus frenikus yang mempersarafi diafragma tetap ututh, nerfus frenikus yang memersarafi

11
diafragma tetap utuh, nervus frenicus timbul dari medulla spinalis setinggi segmen servikal 3-
5. Sebaliknya, pada penderita dengan paralisis bilateral nervus frenikus yang mempersarafi
diafragma tetap utuh, pernapasan agak sukar tetapi cukup adekuat untuk mempertahankan
hidup. Muskulus skalenus dan sternokleidomastoideus di leher merupakan otot – otot inspirasi
tambahan yang ikut membantu mengangkat yang sukar dan dalam.6
Apabila otot ekspirasi berkontrakasi, terjadi penurunan volume intratorakal dan
ekspirasi paksa. Kemampuan ini dimiliki oleh otot – otot interkostalis internus karena otot ini
berjalan miring ke arah bawah dan belakang dari iga ke iga, sehingga pada waktu berkontrkasi
akan menarik rongga dada ke bawah, kontrkasi otot dinding abdomen anterior juga ikut
membantu proses ekspirasi dengan cara menarik iga – iga ke bawah dan ke dalam serta dengan
meningkatkan tekanan intra abdominal yang akan mendorong diafragma ke atas. 6

Difusi Gas O2 dan CO2

Secara umum difusi diartikan sebagai peristiwa perpindahan molekul dari suatu daerah yang
konsentrasi molekulnya tinggi ke daerah yang konsentrasinya lebih rendah. Peristiwa difusi
merupakan peristiwa pasif yang tidak memerlukan energi ekstra. Peristiwa difusi yang terjadi di
dalam paru adalah perpindahan molekul oksigen dari rongga alveoli melintasi membran kapiler
alveolar, kemudian melintasi plasma darah, selanjutnya menembus dinding sel darah merah, dan
akhirnya masuk ke interior sel darah merah sampai berikatan dengan hemoglobin. Membran
kapiler alveolus sangat tipis yaitu 0,1 mikrometer atau sepertujuh puluh dari tebal butir darah
merah sehingga molekul oksigen tidak mengalami kesulitan untuk menembusnya. Peristiwa difusi
yang lain di dalam paru adalah perpindahan molekul karbondioksida dari darah ke udara alveolus.
Oksigen dan karbondioksida menembus dinding alveolus dan kapiler pembuluh darah dengan cara
difusi. Berarti molekul kedua gas tadi bergerak tanpa menggunakan tenaga aktif. Berikut adalah
urut-urutan proses difusi, yaitu :

a. Difusi pada fase gas


Udara atmosfer masuk ke dalam paru dengan aliran yang cepat. Ketika dekat alveoli
kecepatannya berkurang sampai terhenti. Udara atau gas yang baru masuk dengan cepat
berdifusi atau bercampur dengan gas yang telah ada di dalam alveoli. Kecepatan gas
berdifusi disini berbanding terbalik dengan berat molekulnya. Gas oksigen mempunyai

12
berat molekul 32 sedangkan karbondioksida 44. Gerak molekul gas oksigen lebih cepat
dibandingkan dengan gerak molekul gas karbondioksida sehingga kecepatan difusi
oksigen juga lebih cepat. Percampuran antara gas yang baru saja masuk ke dalam paru
dengan gas yang lebih dahulu masuk akan komplit dalam hitungan perpuluhan detik.
Hal semacam ini terjadi pada alveoli yang normal, sedangkan pada alveoli yang tidak
normal, seperti pada emfisema, percampuran gas yang baru masuk dengan gas yang
telah berada di alveoli lebih lambat.
b. Difusi menembus membran pembatas
Proses difusi yang melewati membran pembatas alveoli dengan kapiler pembuluh
darah meliputi proses difusi fase gas dan proses difusi fase cairan. Dalam hal ini,
pembatas-pembatasnya adalah dinding alveoli, dinding kapiler pembuluh darah
(endotel), lapisan plasma pada kapiler, dan dinding butir darah merah (eritrosit).
Kecepatan difusi melewati fase cairan tergantung kepada kelarutan gas dalam cairan.
Kelarutan karbondioksida lebih besar dibandingkan dengan kelarutan oksigen sehingga
kecepatan difusi karbondioksida di dalam fase cairan 20 kali lipat kecepatan difusi
oksigen. Semakin tebal membran pembatas, halangan bagi proses difusi semakin
besar.7

Transpor O2

Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan
hemoglobin ( Hb) . 3 % oksigen sisanya larut dalam plasma darah. Hemoglobin adalah suatu
molekul protein yang mengandung besi dan terdapat di dalam sel darah merah. Ketika O2 tidak
berikatan dengan Hb maka akan di sebut deoksi hemoglobin ( HHb) . Setiap molekul dalam
keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan satu molekul oksigen untuk
8
membentuk oksihemoglobin ( HbO2) yang berwarna merah tua

Hb + O2 ⇌ HbO2

Transport CO2

13
Karbon dioksida yang berdifusi ke dalam darah dari jaringan dibawa ke paru – paru
melalui : (1) sejumlah kecil karbon dioksida ( 7 % sampai 8 %) tetap terlarut dalam plasma ; (2)
Karbon dioksida yang tersisa bergerak ke dalam sel darah merah , di mana 25 %-nya bergabung
dalam bentuk reversible yang tidak kuat dengan gugus amino di bagian globin pada hemoglobin
untuk membentuk karbaminohemoglobin ; (3) sebagian besar karbon dioksida dibawa dalam
bentuk bikarbonat ( HCO3 - ) terutama dalam plasma. Karbon dioksida dalam sel darah merah
berikatan dengan air untuk membentuk asam karbonat dalam reaksi bolak – balik yang di
katalisis oleh enzim eritrosit karbonat anhidrase.9

Dalam reaksi pertama CO2 berikatan dengan H2O untuk membentuk asam karbonat ( H2CO3).
Reaksi ini berlangsung cepat di sel darah merah. Sesuai sifat asam , sebagian dari molekul asam
karbonat secara spontan terurai menjadi ion hydrogen ( H+ ) dan ion bikarbonat ( HCO3ˉ ).
HCO3ˉ lebih mudah larut dalam darah di bandingkan dengan CO2. Reaksinya adalah :9

CO2 + H2O ⇌ H2CO3 ⇌ H+ + HCO3ˉ

Reaksi di atas berlaku dua arah , bergantung konsentrasi senyawa. Jika konsentrasi CO2
meningkat , seperti di jaringan ,maka reaksi akan berlangsung ke kanan . sedangkan apabila
rendah seperti dalam paru, reaksi akan bergeser ke kiri dan melepas CO2.10

Keseimbangan Asam- Basa

Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas


dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4. pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35.
Jika pH darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H
terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. 11

Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti
nilai semula dengan cara:10 mengaktifkan sistem dapar kimia, mekanisme pengontrolan pH oleh
sistem pernapasan, mekanisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan

14
Ada 4 sistem dapar kimia, yaitu:11

Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel teutama untuk perubahan yang
disebabkan oleh non-bikarbonat.

Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel.

Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat.

Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Sistem dapar
kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementera. Jika dengan dapar kimia tidak
cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru
yang berespons secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akibat rangsangan
pada kemoreseptor dan pusat pernapasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal
menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H
secara lambat dengan mensekresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah
karena memiliki dapar fosfat dan ammonia

Jumlah total H2CO3 dalam darah dapat menurun/meningkat oleh pernapasan, ginjal
mengatur kadar HCO3- darah dan ekskresi H+ melalui mekanisme reabsorbi bikarbonat di tubuli
distal. Asidosis dan alkalosis respiratorik terjadi karena sejak awal terjadi perubahan [H2CO3],
sedangkan asidosis dan alkalosis metabolic terjadi karena sejak awal terjadi perubahan [HCO3-].
Paru dan ginjal memainkan peran penting dalam mempertahankan pH darah dalam batas normal,
bila ada asidosis/alkalosis respiratorik maka tubuh akan mengkompensasi melalui ginjal supaya
pH darah kembali normal. Bila ada asidosis/alkalosis metabolic, maka tubuh akan
mengkompensasi melalui pernapasan/paru supaya pH kembali normal melalui
Hipoventilasi/Hiperventilasi.Kompensasi oleh ginjal adalah mekanisme pengasaman urine: (1)
Pembentukkan ammonia dari asam amino glutamine dengan enzim glutaminase menngikat H+
menjadi NH4+ dan (2) Penyimpanan kation dalam tubuh melalui pertukaran dengan H+.9,11

Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:10,11

15
Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukan H2CO3
meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. Alkalosis respiratori,
disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. Pembentukan H2CO3
menurun sehingga pembentukan ion H menurun.

Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. Diare akut,
diabetes mellitus, olahraga yang terlalu berat, dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan
menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat.

Alkalosis metabolik, terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defisiensi asam non-
karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H
karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnya ion H akan menyebabkan
berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga kadar bikarbonat plasma
meningkat.

Untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi pernapasan dan

ginjal sangat penting.11

Kesimpulan

Hipotesis diterima, Kesimpulannya, berdasarkan isi-isi perbahasan yang telah dibahas dapat
disimpulkan bahwa dalam mekanisme pernafasan atau sistem respirasi ini memerlukan alat-alat
pernafasan yang lengkap khususnya alat pernafasan atas. Saluran pernafasan atas dan bawah
mempunyai fungsi sebagai saluran dan saluran pernafasan yang bawah mempunyai fungsi
sebagai alat untuk transportasi gas-gas. Selain itu, dapat juga diketahui bahwa sistem pernafasan
manusia itu mepunyai sistem vaskularisasi dan juga mekanisme pernafasan yang kompleks serta
penting untuk metabolisme tubuh manusia. Oleh karena itu jika terdapat masalah di bahagian
saluran pernafasan atas atau bawah akan memberi dampak yang negatif kepada sistem tubuh
badan kita karena tidak bisa melakukan proses transport dengan baik dan bisa mendatangkan
masalah kepada tubuh manusia itu.

16
Daftar Pustaka

1.Niluh Gede Yasmin Asih, Christantie E. Keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC. h. 19
2. Gunardi S. Anatomi sistem pernapasan manusia. Jakarta: Fakultas kedokteran universitas
Indonesia; 2009.h.2-3
3. Daries A, Moores C. The respiratory system. Basic science and clinical conditions.
Philadelphia: Chuchill livingstone; 2003.p.11-25, 45-51, 84-91.
4. Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia : Elsevier Sanders.p71-
9.
5.Suryo,J.Herbal Penyembuh Gangguan Sistem Pernapasan.Yogyakarta:Penerbit PT Bentang
Pustaka;2010.h.7-13
6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit EGC; 2006; 498-9.

7. Djojodibroto RD. Respirologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.221.

8. Wonodireko S. Penuntun Praktikum Histologi. Jakarta: Bagian Histologi FK Universitas


Indonesia; 2003. h. 111-4

9. Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Gray’s anatomy for students. 1st ed. Philadelpia:
Elsevier Churchill Livingstone; 2005.h.102-52.

10. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta : EGC ; 2006 . h. 90-9

11. Djojodibroto D. Respirologi. Jakarta : EGC ; 2009.h. 8-9

17