Anda di halaman 1dari 69

ACARA I DAN II :

AGRIBISNIS SUATU SISTEM


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada awal pemenuhan kebutuhannya, manusia hanya mengambil dari
alam sekitar tanpa kegiatan budidaya (farming), dengan demikian belum
memerlukan sarana produksi pertanian. Seiring dengan meningkatnya
kebutuhan manusia, alam tidak dapat menyediakan semua kebutuhan itu
sehingga manusia mulai membudidayakan (farming) secara ekstensif berbagai
tanaman, hewan dan ikan untuk memenuhi kebutuhannya. Pada tahap ini
kegiatan budidaya mulai menggunakan sarana produksi, dilakukan dalarn
pertanian itu sendiri (on farm) dan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga
sendiri (home consumption).
Tahap selanjutnya, ditandai dengan adanya spesialisasi dalam kegiatan
budidaya sebagai akibat pengaruh perkembangan di luar sektor pertanian dan
adanya perbedaan potensi sumberdaya alam (natural endowment) antar daerah,
perbedaan keterampilan (skill) dalam masyarakat serta terbukanya hubungan
lalu lintas antar daerah. Pada tahap ini, selain dikonsumsi sendiri, hasil-hasil
pertanian mulai dipasarkan dan diolah secara sederhana sebelum dijual.
Perkembangan sektor pertanian selanjutnya dipacu oleh kemajuan
teknologi yang sangat pesat di sektor industri (kimia dan mekanik) dan
transportasi. Pertanian menjadi semakin maju dan kompleks dengan ciri
produktivitas per hektar yang semakin tinggi berkat penggunaan sarana produksi
pertanian yang dihasilkan oleh industri (pupuk dan pestisida). Kegiatan pertanian
semakin terspesialisasi menurut komoditi dan kegiatannya. Namun, petani hanya
melakukan kegiatan budidaya saja, sementara pengadaan sarana produksi
pertanian didominasi oleh sektor industri.
Di pihak lain karena proses pengolahan hasil-hasil pertanian untuk
berbagai keperluan membutuhkan teknologi yang semakin canggih dan skala
yang besar agar ekonomis, maka kegiatan ini pun didominasi oleh sektor industri
pengolahan. Melalui proses pengolahan, produk-produk pertanian menjadi lebih
beragam penggunaan dan pemasarannyapun menjadi lebih mudah (storable and
transportable) sehingga dapat diekspor. Pada tahap ini pembagian kerja di dalam
kegiatan pertanian menjadi semakin jelas, yaitu: kegiatan budidaya (farming)
sebagai kegiatan pertanian dalam arti sempit, kegiatan produksi sarana

2
pertanian (farm supplies) sebagai industri hulu dan kegiatan pengolahan komoditi
pertanian sebagai industri hilir. Spesialisasi fungsional dalam kegiatan pertanian
seperti yang telah dikemukakan diatas meliputi seluruh kegiatan usaha yang
berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pertanian dan
keseluruhannya disebut sistem agribisnis.
1.2. Tujuan
1. Mendalami agribisnis sebagai suatu sistem dalam tataran praktis suatu
komoditas
2. Mengetahui hubungan, keterkaitan, dan ketergantungan yang terjadi pada
masing-masing subsistem agribisnis pada suatu komoditas
3. Menjelaskan dan membahas secara rinci tantangan, peluang, hambatan
dan faktor – faktor yang mendukung subsistem – subsistem yang ada.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Agribisnis


Ditinjau dari pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis, pada
dasarnya, menunjukkan arah bahwa pengembangan manajemen agribisnis
merupakan upaya yang sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu
menarik dan mendorong munculnya industri baru di sektor pertanian;
menciptakan struktur perekonomian yang tangguh, efisien dan fleksibel;
menciptakan value added, meningkatkan penerimaan devisa; menciptakan
lapangan kerja; dan memperbaiki pembagian pendapatan (Retno, 2017).
2.2. Subsistem Secara Umum
Permasalahan semakin besar karena lemahnya manajemen petani. Salah
satu upaya yang dapat ditempuh agar dapat meningkatkan produksi pada
usahatani padi adalah dengan menerapkan subsistem agribisnis, yang meliputi
subsistem agribisnis sarana produksi, subsistem agribisnis proses produksi,
subsistem agribisnis pasca panen, subsistem pemasaran, dan subsistem
lembaga penunjang. Subsistem proses produksi diukur dengan pemilihan lokasi,
teknologi, dan kesinambungan produksi dilakukan dengan baik.
a. Subsistem lembaga penunjang diukur dengan lembaga keuangan, kelompok
tani (poktan), koperasi pertanian pada usahatani padi dilakukan dengan baik.
b. Sedangkan subsistem pasca panen diukur dengan modal, manajemen, dan
peralatan.
c. Subsistem pemasaran diukur dengan penjualan, pengangkutan, dan
penyimpanan dikategorikan sedang (Fatma, A. U., T. Ekowati, E. Prasetyo,
2017).

1. Subsistem sarana produksi dengan kategori 6 Tepat (Vadyanita. 2016)


meliputi :
a. Tepat waktu : jika benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja tersedia saat
dibutuhkan
b. Tepat jumlah : jika benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja memenuhi
alokasi kebutuhan pupuk
c. Tepat jenis : jika pendistribusian benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja
sesuai jumlah per jenis pupuk

4
d. Tepat mutu : jika pengawasan benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja
terhadap mutu sesuai ketentuan
e. Tepat produk : jika produk benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja yang
digunakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaan
f. Tepat harga : jika harga benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja tidak
terlampaui rata-rata petani.

2. Subsistem proses produksi


a. Lokasi usahatani padi
b. Teknologi diukur dari pemilihan benih, Jarak tanam, pemupukan,
pemberantasan hama, dan penentuan waktu penjualan padi.
c. Kesinambungan Proses produksi diukur dengan ketersediaan benih,
ketersediaann pupuk, ketersediaan tenaga kerja, dan ketersediaan obat.

3. Subsistem pasca panen


a. Modal
b. Manajemen
c. Peralatan

4. Subsistem Pemasaran
a. Penjualan
b. Pengangkutan
c. Penyimpanan
2.3. Komoditas Pertanian Secara Umum
Keunggulan komperatif bagi suatu komoditi bagi suatu negara atau
daerah adalah bahwa komoditi itu lebih unggul secara relatif dengan komoditi lain
di daerahnya. Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk
perbandingan dan bukan dalam bentuk nilai tambah riil. Pada dasarnya yang
dimaksud dengan komoditas unggulan adalah komoditas yang sesuai dengan
agroekologi setempat dan mempunyai daya saing, baik di pasar daerah itu
sendiri, di daerah lain dalam lingkup nasional maupun di pasar internasional.
komoditas unggulan yang dikembangkan setidaknya dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu :
a. Komoditas unggulan berbasis ekonomi. Komoditas unggulan dikembangkan
dalam kerangka pengembangan ekonomi dan berorientasi pasar baik lokal,
regional, nasional, maupun internasional. Konsep efisiensi teknis dan
efisiensi ekonomis, keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif
menentukan pertumbuhan komoditas basis ekonomi melalui kemampuannya
bersaing di pasar nasional dan internasional.
b. Komoditas unggulan non basis ekonomi. Komoditas unggulan dikembangkan
dalam kerangka pengembangan stabilitas sosial, ekonomi, dan politis yang
lebih berorientasi bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan

5
pasar dalam negeri sendiri. Komoditas kelompok kedua ini selayaknya
dikenal sebagai komoditas strategis. Dengan demikian komoditas strategis
adalah komoditas unggulan yang dikembangkan dalam kerangka
pengembangan stabilitas sosial, ekonomi dan politis yang lebih berorientasi
pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemenuhan
kebutuhan pasar negeri dalam negeri (Setiyanto, 2013).
2.4. Komoditas yang Dipilih (Selada)
Selada merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang dikonsumsi
daunnya. Prospek serapan pasar terhadap komoditas selada akan terus
meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan
pendidikan masyarakat, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat, dan peningkatan kesukaan (preferensi) masyarakat terhadap selada
(Samadi, 2014).
Dengan melalui upaya pemupukan, keberhasilan budidaya tanaman
selada dikendalikan oleh faktor-faktor pertumbuhan yang meliputi faktor genetik
dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan
hasil tanaman selada, salah satunya ialah tingkat kerapatan tanaman. Tingkat
kerapatan tanaman perlu diatur agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
Perbedaan jarak tanam menyebabkan pertumbuhan dan hasil yang berbeda,
karena dengan penerapan jarak tanam yang terlalu rapat dapat menimbulkan
kompetisi antar tanaman (Rohmah, 2009).

6
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1. Waktu Pelaksanaan


Wawancara dan survei praktikum manajemen agribisnis dengan materi
“Agribisnis Suatu Sistem” dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Februari 2019
pukul 10:00 s.d 11:00 WIB.
3.2.Tempat Mitra
Kebun Sayur Surabaya di Jalan Gayung Kebonsari XI / 15.
3.3. Prosedur Kerja
1. Mencari mitra yang sesuai dengan komoditas.
2. Menentukan mitra, dalam hal ini kami memilih Kebun Sayur Surabaya.
3. Menyusun pertanyaan yang berhubungan dengan agribisnis suatu sistem.
4. Melakukan survei ke lokasi Kebun Sayur Surabaya.
5. Melakukan wawancara kepada pemilik usaha.
6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil wawancara.
7. Mengidentifikasi hasil wawancara ke dalam bentuk laporan.
8. Mempresentasikan di depan kelas waktu jam praktikum.

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Wawancara


Berikut ini merupakan hasil bagan subsistem yang dilakukan di Kebun
Sayur Surabaya.

Gambar 1. Bagan Hubungan Setiap Subsistem Agribisnis pada Kebun

SUBSISTEM SUBSIST
SUBSISTE
2 SUBSISTE EM 4
M1
ON FARM M3 MARKETI
FARM
Budidaya PROCESS NG
SUPPLIES
hidroponik, ING Pemasara
rockwool,
pemberian Panen, n ke
benih impor,
nutrisi, pengolaha market
pipa,
prestisida, n menjadi (PAPAYA,
pompa,
mengatasi produk (ice Lotte
talang,
hama dan cream, Mart),
tandon,
penyakit puding, reseller,
lahan sewa
minuman) penjualan
produsen
ke
konsumen

SUBSISTEM
PENDUKUNG
Lahan Sewa dan
Transportasi

Sayur Surabaya

4.2. Hasil Susunan


Berikut merupakan hasil analisis hubungan Antara subsistem uraian
dengan beberapa subsistem yang lainnya.
Tabel 1. Analisis SWOT pada Kebun Sayur Surabaya
No Subsiste Subsistem Subsistem Subsistem Subsistem Subsistem

8
m uraian input/hulu Usahatani Pengolahan Pemasaran Penunjang
1 Item/jenis Talang, sistem Mesin Smartphon -
pompa, hidroponik. pendingin, e, mobil.
rockwool, Ice cream
Benih maker
selada
2 Pelaku 2 TK dan 2 TK dan Ibu Vivin 1 TK Ibu Vivin
Pak Mehdy Pak Mehdy (pihak ketiga) Pemasaran (pihak
(Sasa) ketiga)
3 Potensi/te Benih Teknologi Ice cream Pemasaran -
knologi selada kimia maker offline dan
unggul dengan online
pemberian
AB Mix
4 Kekuatan Benih Selada Produk Pemasaran Sudah
selada yang beragam (ice offline dan bekerja
yang dihasilkan cream, salad, online. sama
digunakan dengan pudding) dengan
dengan kualitas supermark
kualitas baik et (LOTTE
unggul MART dan
PAPAYA)
5 Kelemah Ketersedia Musim Produksi Kecepatan Ketersedia
an an selada yang tidak masih merespon an selada
yang menentu tergantung pembeli yang tidak
kurang jika dengan kurang cepat menentu
pesanan permintaan
banyak konsumen
dan
ketersediaan
selada yang
sedikit
6 Peluang Benih Penanama Penyimpana Masih sedikit Tersedia di
selada n selada n es krim penjual supermark
yang yang yang mudah selada et (Papaya
unggul dapat/bisa hidroponik dan Lotte
sehingga dipanen Mart)
penggunaa secara
n pestisida langsung
sangat setiap hari
sedikit
(aman
pestisida)
7 ancaman Hama dan Selada layu Es krim yang Mulai banyak Selada
penyakit karena kalah saing pesaing yang tidak
yang dapat musim dengan penjual segar
menyerang yang produk yang selada dapat
selada kadang sudah ada hidroponik mempenga
tidak ruhi
menentu konsumen
8 kendala Benih Selada Es krim yang Pesaing Selada

9
selada terserang tidak semakin yang
yang rusak hama/peny bertahan banyak diproduksi
saat akit lama (masa hanya
pengiriman es krim cuma sesuai
1 bulan) permintaan
supermark
et dan
ketersedia
an secara
langsung
sedikit
9 Pemecah packing Penangana Penggunaan Penambahan Memperlua
an benih n kemasan pekerja di s
masalah selada hama/peny yang perlu bagian kerjasama
yang harus akit ditingkatkan pemasaran lagi tidak
ditingkatka menggunak (informasi di dikarenakan hanya di
n untuk an kemasan jumlah TK Papaya
mengurangi pestisida lebih nya hanya 1 dan Lotte
kerusakan dalam lengkap) orang saja. Mart saja
benih jumlah
sedikit
(aman
pestisida)
4.3. Pembahasan
Menurut hasil wawancara yang telah dilakukan dengan bapak Mehdi,
selaku pemilik (owner) dari Kebun Sayur Surabaya. Kebun Sayur Surabaya
pertama kali didirikan pada tahun 2014, asal muasal pertama kali bapak Mehdi
ingin mendirikan sebuah cafe tetapi melihat banyaknya pesaing yang ada
didalam. Ketika bapak Mehdi melihat sebuah peluang usaha melalui kebiasaan
orang di Surabaya yang sering masuk keluar negeri, terutama wisatawan asing.
Dan kebiasaan konsumen sayur masyarakat Surabaya yang menginginkan sayur
segar, tahan lama, dan awet. Bapak Mehdi berkeinginan untuk menciptakan
produksi sayur organik pertama di Surabaya dengan bermodal materi hidroponik
selama 5 hari di Jakarta yang cukup eksis bapak Mehdi membuka usaha kecil
perkebunan hidoponik pertama di Surabaya.
Awal pembukaan usaha pemilik Kebun Sayur Surabaya pertama kali
mempersiapkan sebuah awalan materi dasar hidroponik, modal pribadi, dan
mencoba untuk membudidayakan menggunakan rockwool, benih impor, pipa,
pompa, talang, tandon, lahan sewa. Dengan startup material tersebut pak Mehdi
berharap tanaman budidaya seladanya bisa tumbuh dan bisa langsung masuk ke
pasar penjualan. Pak Mehdi memilih selada sebagai komoditas budidayanya
karena ingin menjadi produsen yang berbeda di daerah Surabaya. Dengan

10
menjadi pembudidaya selada pertama di Surabaya. Berbicara mengenai
Surabaya, pemilik mengambil lokasi yang berada di daerah perumahan
dikarenakan tempat yang tentram, tidak berada persis di sebelah jalan raya, lebih
luas, harga sewa lebih mudah untuk dinegosiasi, dan kantor yang dekat dengan
rumah pemilik.
Penanaman hidroponik ini membutuhkan waktu 6 minggu dari benih
hingga menjadi sayuran yang siap untuk dipanen. teknik budidaya selada
hidroponik diharapkan dapat menghasilkan sayur yang lebih organik, awet,
segar, dan aman dari prestisida. Sumber daya manusia yang dipekerjakan dalam
usaha ini berjumlah 9 orang dengan posisi 3 orang bagian produksi, 1 orang
bagian pemasaran online, 1 orang bagian pemasaran offline, dan 1 orang
dibagian keuangan usaha. Pada sesi perekrutan, pemilik lebih memilih karyawan
yang mendaftar melalui orang terdekat (orang dalam). Dikarenakan menurut
pengalaman pemilik karyawan yang dibawa oleh orang terdekat lebih memiliki
loyalitas, kinerja, dan kejujuran yang tinggi dibandingkan oleh orang biasa/umum.
Ketika sayuran sudah melalui masa siap panen, sayuran diolah menjadi
beberapa produk yang dapat menjadi nilai tambah penjualan seperti puding,
minuman, dan olahan salad. Pemilik juga memasarkan produk selada organiknya
hanya di outlet PAPAYA dan Lotte Mart serta lebih memasarkan langsung di
lahan produksi, pemasaran tersebut termasuk sistem produk langsung pada
konsumen.
Dengan modal awal sejumlah 200 juta pemilik bisa menghasilkan 3.5 ton
selada dalam sebulan dengan harga jual Rp30.000,00 – Rp50.000,00/kg.
Keuntungan yang didapatkan oleh pemilik berbalik modal 100% sehingga dapat
membayar karyawan dengan gaji kurang lebih 2 juta dan bonus karyawan. Ketika
pemilik ditanya mengenai BEP (Break Even Point), pemilik mengatakan
usahanya belum mencapai BEP (Break Even Point) dikarenakan uang tersebut
masih digunakan untuk keperluan lainnya, seperti renovasi sarana fasilitas.
Ketika ditanya perihal kerjasama dengan pihak lain, pak Mehdi
menyatakan belum dalam masa kerjasama kecuali bantuan dari Dinas Pertanian
dan Pertamanan sehingga usaha Kebun Sayur Surabaya ini masih berstatus
usaha keluarga (sendiri). Ketika menjalani bisnis keluarga kendala yang dialami
seringkali yakni kurangnya background mengenai pertanian terutama hama dan
penyakit tanaman sehingga menyebabkan produksi yang tidak stabil. Pemilik pun
merasa bingung dengan penanganan yang terbaik agar tidak merusak tanaman.

11
Salah satu solusi yang dapat pemilik lakukan dengan belajar dan bertanya
kepada yang lebih ahli di bidang tersebut.
Subsistem on farm memiliki keterkaitan yang nyata dengan subsistem
hulu, karena subsistem hulu memerlukan subsistem usahatani (on farm) sebagai
pasar produknya dan subsistem on farm memerlukan input dari subsistem hulu.
Dan selanjutnya subsistem on farm memiliki keterkaitan yang nyata dengan
subsistem hilir (pengolaan dan pemasaran), karena subsistem hilir memerlukan
produk untuk diolah dan diperdagangkan dari subsistem usahatani (on farm).
Subsistem pemasaran memiliki keterkaitan dengan subsistem pengelolaan,
ketika suatu produk masuk ke dalam proses pemasaran dan diterima oleh
konsumen dengan baik dan antusias maka produk tersebut dapat menghasilkan
keuntungan yang cukup banyak. Apabila keuntungan telah diterima oleh
perusahaan, keuntungan tersebut bisa diputar kembali menjadi modal awal guna
persiapan produksi berikutnya, atau dapat memberikan bonus gaji kepada
karyawan yang bekerja. Kempat subsistem tersebut memiliki keterkaitan yang
nyata dengan subsistem penunjang, karena subsistem penunjang merupakan
jasa layanan pendukung untuk memperlancar aktivitasnya. Seperti modal akan
membutuhkan subsistem penunjang seperti lembaga keuangan. Untuk
melakukan suatu budidaya pastinya akan membutuhkan subsistem penunjang
berupa transportasi.
Hubungan urutan subsistem pada usaha Kebun Sayur Surabaya bisa
digambarkan sebagaimana hasil di atas. Bahwasannya farm supplies telah
menyediakan sebuah startup sebuah budidaya, semakin meningkatnya setiap
subsistem yang ada, dapat menghasilkan keuntungan yang cukup maksimal.
Ketika satu subsistem mengalami penurunan, maka akan berpengaruh besar
pada subsistem yang lainnya.
Berdasarkan hasil tabel. pada subsistem Input/hulu berupa item/jenis
benih selada, rockwool, talang, dan pompa yang dilakukan oleh pemilik usaha
dan dua orang tenaga kerja bagian produksi dengan benih unggul dan
berkualitas. Hal ini dapat menekan penggunaan prestisida sehingga aman.
Kendala dari subsistem ini adalah benih selada yang rusak saat pengantaran
dan dapat diatasi dengan packing yang ditingkatkan guna mengurangi kerusakan
benih.
Pada subsistem udahatani dengan item /jenis berupa sistem budidaya
hidroponik yang dilakukan oleh dua tenaga kerja bagian produksi dan pemilik

12
usaha. Budidaya ini mudah namun bergantung pada ketersedian air dari musim
yang dapat mempengaruhi selada terhadap hama/penyakit, namun dapat
ditanggulangi dengan penggunaan prestisida dalam jumlah sedikit.
Pada subsistem pengolahan dilakukan oleh Ibu Vivin selaku pihak ketiga
yaitu berupa produk ice cream selada. Kendalanya ice cream tersebut tidak
dapat bertahan lama (expired date). perlu ditingkatkannya pada sistem
pengemasan yang dapat membantu memberikan waktu ketahanan dan informasi
lainnya.
Pada subsistem pemasaran dilakukan secara online (web, sosmed) dan
offline (datang langsung). Pengendalian pemasaran dilakukan oleh ibu Sasa
bagian pemasaran dan dibawahi langsung oleh pemilik. Kendala yang dihadapi
makin banyaknya pesaing, namun selada di Kebun Sayur Surabaya mempunyai
keunggulan tersendiri.
Pada subsistem penunjang, selada yang diproduksi hanya sesuai
permintaan supermarket dan stok yang sedikit dikebun namun masih dapat
memenuhi keinginan/pesanan konsumen baik offline maupun online.

13
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan tersebut dapat disimpulkan,
bahwa:
1. Agribisnis sebagai suatu sistem merupakan seperangkat unsur yang
secara teratur saling berkaitan satu sama lain yang terdiri dari 5
subsistem, yaitu subsistem I penyediaan sarana produksi, subsistem II
usahatani, subsistem III pengolahan hasil, subsistem IV pemasaran, dan
subsistem penunjang.
2. Subsistem on farm memiliki keterkaitan yang nyata dengan subsistem
hulu, karena subsistem hulu memerlukan subsistem usahatani (on farm)
sebagai pasar produknya dan subsistem on farm memerlukan input dari
subsistem hulu. Dan selanjutnya subsistem on farm memiliki keterkaitan
yang nyata dengan subsistem hilir, karena subsistem hilir memerlukan
produk untuk diolah dan diperdagangkan dari subsistem usahatani (on
farm). Ketiga subsistem tersebut memiliki keterkaitan yang nyata dengan
subsistem penunjang, karena subsistem penunjang merupakan jasa
layanan pendukung untuk memperlancar aktivitasnya. Seperti modal akan
membutuhkan subsistem penunjang seperti lembaga keuangan. Untuk
melakukan suatu budidaya pastinya akan membutuhkan subsistem
penunjang berupa transportasi. Hubungan urutan subsistem pada usaha
Kebun Sayur Surabaya bisa digambarkan sebagaimana hasil di atas.
Bahwasannya farm supplies telah menyediakan sebuah startup sebuah
budidaya, semakin meningkatnya setiap subsistem yang ada, dapat
menghasilkan keuntungan yang cukup maksimal. Ketika satu subsistem
mengalami penurunan, maka akan berpengaruh besar pada subsistem
yang lainnya.
3. Tantangan yang dihadapi oleh Kebun Sayur Surabaya ini adalah ketika
bisnis ini sudah berjalan, banyak pesaing yang muncul. Peluang dari
bisnis ini adalah bisnis ini dapat cepat besar dikarenakan Surabaya yang
minim akan budidaya sayuran segar. Hambatannya adalah toko pertanian
di Surabaya sangat jarang ditemui. Jadi, jika ingin mencari pestisida atau
alat – alat pertanian lebih susah dibandingkan di pedesaan. Air tanah di

14
Surabaya juga tidak bagus kualitasnya. Maka dari itu harus menggunakan
PDAM, otomatis menambah pengeluaran. Sedangkan, faktor
pendukungnya adalah peminat makanan segar semakin banyak. Yang
paling utama salad, yang salah satu bahan utamanya adalah selada.
5.2. Saran
Dalam pelaksanaan praktikum pengambilan data diharapkan setiap
pemilik usaha menata data perusahaan lebih rapi lagi. alhasil dalam pengambilan
info, mahasiswa tidak menggunakan data yang tidak asli.

15
ACARA III :
MEGA SEKTOR AGRIBISNIS
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam melihat agribisnis, Saragih (1998) mengembangkan pendekatan
ekonomi makro dan ekonomi pembangunan. Dalam sudut pandang ini agribisnis
merupakan suatu “mega sektor“ karena mencakup banyak sektor, baik secara
vertikal (sektor pertanian, perdagangan, industri, jasa, keuangan, dan
sebagainya) maupun secara horizontal (tanaman pangan, hortikultura,
perternakan, perikanan, perkebunan, dan perhutanan).
Berdasarkan pandangan itu pula maka agribisnis (atau sering disebut
sebagai “sistem agribisnis”) menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan
sumbangan terbesar dalam perekonomian nasional Indonesia, baik dilihat dari
sumbangannya terhadap pendapatan nasional dan pendapatan daerah,
kesempatan kerja secara nasional dan di masing – masing daerah, ekspor non
migas, dan penciptaan nilai tambah.
Menurut pengertian dan pandangan di atas agribisnis dianggap sebagai
kegiatan usaha menambah nilai yang tidak akan pernah hilang ditelan masa.
Setiap saat produk – produk agribisnis dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
sehari – hari manusia. Dalam pengembangannya agribisnis membutuhkan
sumbangan dari ilmu dan ahli di bidang yang lain begitupun teknologi yang dapat
diaplikasikan senantiasa mengacu dan seharusnya mengikuti perkembangan
IPTEK. Hanya saja para pelaku agribisnis seyogyanya mempunyai visi, misi yang
sama dalam memajukan dunia agribisnis.
1.2 Tujuan
1. Membahas lebih detail konsep agribisnis yang multi dispilin sebagai mega
sektor.
2. Memperkaya wawasan untuk dituangkan dalam diskusi dan tulisan sistem
agribisnis.
3. Menjelaskan fenomena – fenomena yang berkembang sebagai komponen
dalam mega sektor agribisnis.

17
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Agribisnis


Menurut Downey, W.David dan Erickson, Steven P (2008) dalam bukunya ,
pengertian dari agribisnis adalah merupakan sektor perekonomian yang
menghasilkan dan pendistribusian masukan bagi pengusaha tani, pemasaran,
pemrosesan serta pendistribusian produk usahatani kepada pemakai akhir (end
users). Agribisnis dibagi atas tiga sektor yang saling tergantung satu sama lain
secara ekonomis, yaitu sektor masukan (input), sektor produksi (farm) dan sektor
keluaran (output). Sektor masukan (input) menyediakan perbekalan kepada para
pengusaha tani untuk dapat memproduksi hasil tanaman dan ternak. Sebagai
contoh bibit, makanan ternak (pakan), pupuk, bahan kimia, mesin pertanian,
bahan bakar dan banyak perbekalan lainnya. Sektor usahatani (farm)
memproduksi hasil tanaman dan ternak yang diproses dan disebarkan kepada
konsumen akhir oleh sektor keluaran (output).
Pengertian agribisnis menurut Sjarkowi dan Sufri (2010): agribisnis adalah
setiap usaha yang berkaitan dengan kegiatan produksi pertanian, yang meliputi
pengusahaan input pertanian dan atau pengusahaan produksi itu sendiri atau
pun juga pengusahaan pengelolaan hasil pertanian. Dengan perkataan lain
agribisnis adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan.
Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh
keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku,
pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran.
2.2. Faktor Produksi Pertanian
Faktor produksi seperti tanah (land), tenaga kerja (labor), dan modal
(capital). Dijelaskan bahwa penggunaan tanah harus bijaksana, jangan sampai
merusak kesuburannya. Pemerintah memiliki kewajiban memberikan informasi,
pelatihan dan perkembangan teknologi kepada petani. Pendanaan di daerah
pedesaan harus diciptakan untuk mendukung aktivitas pertanian. Aspek sosial
dari teknologi yaitu green revolution juga dibahas secara mendalam.
Penggunaan teknologi harus berhati-hati jangan sampai menyebabkan dampak
yang tidak diinginkan, sehingga tercapai pembangunan pertanian yang
berkelanjutan. Peran pemerintah harus dibatasi dengan membiarkan sektor
swasta menjalankan roda pertanian, akan tetapi pemerintah harus mendukung

18
pertanian dengan menyediakan infrastruktur, informasi, membangun pasar, dan
membuat kebijakan publik yang tidak merugikan sektor pertanian. Selain itu
pemerintah harus berhati-hati dalam menetapkan kebijakan makro supaya tidak
menghancurkan pertanian (Suprapto, 2009).

19
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1.Waktu Pelaksanaan
Wawancara dan survei praktikum manajemen agribisnis dengan materi
“Mega Sektor Agribisnis” dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Februari 2019
pukul 10:00 s.d 11:00 WIB
3.2. Tempat Mitra
Kebun Sayur Surabaya di Jalan Gayung Kebonsari XI / 15.
3.3. Prosedur Kerja
1.Mencari mitra yang ingin diidentifikasi.
2.Menentukan mitra, dalam hal ini kami memilih Kebun Sayur Surabaya.
3. Menyusun pertanyaan yang berhubungan dengan mega sektor agribisnis.
4.Melakukan survei ke lokasi Kebun Sayur Surabaya.
5. Melakukan wawancara kepada pemilik usaha.
6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil wawancara.
7.Mengidentifikasi hasil wawancara dengan mengelompokkan sektor pertanian,
sektor industri, dan sektor jasanya ke dalam bentuk laporan.
8. Mempresentasikan di depan kelas waktu jam praktikum.

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berikut ini merupakan gambar Diagram Venn Mega Sektor Agribisnis:

Sektor Pertanian

5 6

4
2 3
7

Sektor Jasa
Sektor Industri
Gambar 2. Diagram Venn Mega Sektor Agribisnis

Keterangan :
1. Budidaya hortikultura komoditas selada
2. Pengolahan selada
3. Jasa transportasi
4. Penjualan produk/selada
5. Es krim / ice cream
6. Tenaga kerja berjumlah 6 orang
7. Distributor ke Lotte Mart dan PAPAYA

21
4.2. Pembahasan
Sektor yang diambil adalah budidaya hortikultura, seperti Kebun Sayur
Surabaya yang terdapat di daerah Gayung Kebonsari, Surabaya. Komoditas
yang digunakan dalam pembudidayaan adalah komoditas selada. Dalam sektor
ini sangatlah memiliki keterkaitan dengan sektor industri, sektor pertanian
membutuhkan sektor industri dengan sistem pengolahan produk hasil budidaya
tanaman selada. Dengan hubungan tersebut dapat menghasilkan berupa hasil
produk olahan yaitu ice cream yang terbuat dari selada.
Tidak berhenti sampai di situ, sektor industri juga membutuhkan sektor jasa
berupa tenaga kerja yang di pekerjakan dalam proses pengolahan maupun
distrihusi ke pasar yang dituju, dari Kebun Sayur Surabaya ini membutuhkan
tenaga kerja berjumlah 6 orang dalam budidaya hortikultura dan pengolahan,
tetapi tidak menutup kemungkinan para karyawan menditribusikan selada
maupun hasil olahan ke supermarket seperti LOTTE MART dan PAPAYA. Para
pekerja maupun pemilik usaha memiliki tujuan yang sama dalam proses mega
sektor ini adalah untuk menjualkan hasil produk berupa selada maupun produk
ice cream selada di tempat produksi langsung maupun di supermarket yang
dituju.
Dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa ketika semua sektor
memiliki kinerja yang baik dan konsisten, dapat mempengaruhi hasil produk dan
income yang masuk dalam perusahaan. Apabila dalam salah satu sektor
mengalami penurunan, hal tersebut dapat mempengaruhi seluruh sektor
terutama pada bagian penghasilan. Seperti contoh ketika pada sektor jasa
mengalami hambatan seperti kecelakaan dalam pengiriman, maka dapat
memberikan hasil minus kepada perusahaan. Maka perusahaan harus mengatur
kembali pengelolaan agar tidak terjadi kerugian yang cukup berpengaruh pada
perusahaan.

22
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktikum Manajemen Agribisnis dapat disimpulkan:
1. Agribisnis meliputi banyak sektor yang saling berkaitan dan memiliki tujuan
yang sama.
2. Sistem agribisnis pada budidaya hortikultura Kebun Sayur Surabaya
meliputi sektor pertanian yaitu budidaya hortikultura komoditas selada,
sektor industri yaitu pengolahan selada serta pada sektor jasa yaitu jasa
transportasi.
3. Fenomena – fenomena yang terjadi dalam mega sektor budidaya
hortikultura Kebun Sayur Surabaya, meliputi pertemuan antara sektor
pertanian dan sektor industri, pertemuan antara sektor industri dan sektor
jasa, serta pertemuan antara sektor jasa dan pertanian.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil Praktikum Manajemen Agribisnis saran kami adalah:
1. Struktur organisasi Kebun Sayur Surabaya sudah bagus dalam pembagian
kerja maupun tugasnya, mohon ditingkatkan lagi.
2. Proses penjualan yang dilakukan Kebun Sayur Surabaya sudah bagus,
tetapi sebaiknya melakukan proses penjualan hingga produksi hilirnya.
3. Perencanaan dan pengendalian produksi Kebun Sayur Surabaya sudah
bagus dalam melakukan strategi untuk mengatasi kendala-kendala yang
terjadi, mohon ditingkatkan lagi.

23
ACARA IV :
FUNGSI MANAJEMEN DALAM AGRIBISNIS

24
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mengelola agribisnis dalam suatu cakupan usaha tidaklah mudah. Ada
berbagai kendala, ciri yang membedakan bisnis pertanian dengan bisnis non
pertanian, yang nantinya berimplikasi kepada risiko yang ditanggung, kelayakan
usaha, kesinambungan usaha sampai kepada profil yang diharapkan diterima.
Belum lagi masalah sumber daya manusia (SDM), kebijakan pemerintah,
masalah ISO sampai masalah kesiapan menghadapi bebas WTO atau APEC
2020.
Orientasi pengelolaan yang sudah berubah mengharuskan pelaku – pelaku
didalam agribisnis menerapkan prinsip – prinsip manajemen guna diperoleh hasil
yang efektif dan penggunaan sumber daya yang efisien didalam serta aktivitas
yang dikelolanya. Berbagai lain yang berkembang cepat sampai dunia informasi
dan komunikasi menghendaki SDM yang tanggap dan mampu agar memperoleh
kemenangan dalam persaingan.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui pentingnya penerapan fungsi – fungsi manajemen dalam
agribisnis.
2. Mempelajari subsistem – subsistem mana yang “Crusial” ditangani dan
subsistem – subsistem yang mana lebih memberikan prospek.
3. Mendiskusikan berbagai isu – isu manajemen yang berkembang dalam
agribisnis seperti ISO (International Standart Organization), TQM (Total
Quality Management), ECO Labelling, Global Market, On Time Delivery,
Just In Time, dan lain – lain.

25
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Peranan Sektor Pertanian


Peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional sangat penting
dan strategis, karena sektor pertanian dapat menyediakan lapangan pekerjaan
bagi sebagian besar masyarakat pedesaan dan menghasilkan bahan pangan
bagi penduduk. Sektor pertanian juga menyediakan bahan baku bagi industri dan
berkontribusi pada devisa negara melalui ekspor non migas, bahkan sektor
pertanian mampu menjadikatup pengaman perekonomian nasional dalam
menghadapi krisis ekonomi yang melanda Indonesia dalam suatu dasawarsa
terakhir ini. Upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat petani melalui berbagai
bentuk program telah diterapkan untuk membantu petani agar mampu memiliki
posisi tawar yang lebih tinggi dalam perekonomian di Indonesia. Berbagai skim
bantuan juga telah dilaksanakan mulai dari subsidi sarana produksi, Bantuan
Modal Langsung, Kredit Usaha Tani, dan lain sebagainya yang jumlahnya sangat
beragam, namun hasilnya petani Indonesia masih nampak belum mandiri dalam
menjalankan usahataninya (Kementan, 2009).
2.2. Fungsi Manajemen Agribisnis
George R. Terry dalam Tanti Prastuti (2014), memberikan gambaran yang
lebih jelas tentang fungsi manajemen yang dikenal dengan “POAC” yaitu:
a. Perencanaan (planning)
b. Pengorganisasian (organizing)
c. Pelaksanaan (actuating)
d. Pengawasan (controlling)
Berikut ini penjelasan ke empat fungsi tersebut.
a. Perencanaan (Planning)
Sondang P. Siagian dalam Tanti Prastuti (2014), menjelaskan bahwa:
“Perencanaan (planning) adalah keseluruhan proses perkiraan dan penentuan
secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam
rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan”.
b. Pengorganisasian (Organizing)
S. P. Siagian dalam Tanti Prastuti (2014) mengemukakan bahwa,
pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokkan orang-orang,
alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang yang sedemikian rupa
sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu
kesatuan dalam rangka pencapaian yang telah ditentukan. Seteleh perencanaan
dilakukan, maka fungsi selanjutnya adalah pengorganisasian.
c. Pelaksanaan (Actuating)

26
Menurut George R. Terry dalam Tanti Prastuti (2014) yang dimaksud dengan
pelaksanaan adalah : “Tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota suka
berusaha untuk mencapai sasaran-sasaran agar sesuai dengan perencanaan
dan usaha - usaha organisasi.”
d. Pengawasan (Controlling)
Menurut Stephen Robein dalam Inu Kencana Syafiie (2011), pengawasan
dapat didefinisikan sebagai: “Proses mengikuti perkembangan kegiatan untuk
menjamin jalannya pekerjaan, dengan demikian dapat selesai secara sempurna
sebagaimana yang direncanakan sebelumnya, dengan pengoreksian beberapa
pemikiran yang saling berhubungan.

27
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1. Waktu Pelaksanaan


Wawancara dan survei praktikum manajemen agribisnis dengan materi
“Fungsi Manajemen Dalam Agribisnis” dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25
Februari 2019 pukul 10:00 s.d 11:00 WIB.
3.2.Tempat Mitra
Kebun Sayur Surabaya di Jalan Gayung Kebonsari XI / 15.
3.3. Prosedur Kerja
1. Mencari mitra sesuai dengan komoditas dipilih
2. Menentukan mitra, dalam hal ini kami memilih Kebun Sayur Surabaya.
3. Menyusun pertanyaan yang berhubungan dengan fungsi manajemen
dalam agribisnis.
4. Melakukan survei ke lokasi Kebun Sayur Surabaya.
5. Melakukan wawancara kepada pemilik usaha.
6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil wawancara.
7. Mengidentifikasi hasil wawancara ke dalam bentuk laporan.
8. Mempresentasikan di depan kelas waktu jam praktikum.

28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Dibawah ini merupakan hasil fungsi manajemen dalam agribisnis pada
mitra Kebun Sayur Surabaya :
Tabel 2. Fungsi Manajemen dalam Agribisnis

Subsistem
Subsistem Subsistem Subsistem Subsistem
No.
I II III IV
Fungsi
Manajemen
Produk
selada
Perencanaan
sendiri
budidaya
direncanakan
hortikultura di Pengolahan
masuk ke
Kebun Sayur selada
supermarket
Surabaya tiap menghasilkan

satu bulan produk ice
supermarket
Modal 200 juta sekali diadakan cream yang
seperti Lotte
(150 juta untuk rapat yang mana ice cream
Mart dan
membeli gunanya untuk tersebut tidak
PAPAYA.
1. Perencanaan peralatan dan 50 menentukan dikelola
Awal mula
juta untuk modal jenis selada apa langsung oleh
bisa
kerja (pupuk, dan berapa Kebun Sayur
memasarkan
benih, gaji, dll) banyak selada Surabaya
hingga ke
yang akan melainkan
supermarket
ditanam dalam diolah oleh
karena
waktu satu pihak ketiga
mengikuti
bulan agar (kerjasama)
pameran
ketersediaan
disuatu pusat
selada cukup.
perbelanjaan
(Giant)
Pemasaran
Dilakukan oleh dikoordinir
Awal berdiri di
manajer (Pak Ice cream dibuat Bapak
controlling oleh
Pengorganisa Mehdy) dan tim sendiri oleh Ibu Mehdy
2. Bapak Mehdy
sian produksi dalam Vivin selaku sedangkan
selaku manajer
budidaya pihak ketiga media sosial/
Kebun Sayur
selada. online oleh
Sasa
3. Pelaksanaan Bapak Mehdy Penyemaian Ibu Vivin Pemasaran
dibantu Pak Mu’in dilakukan oleh mengambil yang melalu
(karyawan bagian Pak Mehdy dan sendiri selada web, sosial
produksi) untuk pengeksekusian yang akan media
membeli (menanam dibuat lalu dibawahi
peralatan selada dalam diolah sendiri langsung
sistem dari selada oleh Sasa
hidroponik) mentah menjadi selaku
dilakukan oleh olahan produk bagian
bagian produksi ice cream pemasaran.
(Bapak Mu’in Serta untuk
dan Aris) contact

29
person
sendiri
langsung
berhubungan
dengan
manajer
Kebun Sayur
secara
langsung
yaitu Bapak
Mehdy
Untuk
pengendalian
pemasaran
Melakukan
dikirim
pengecekan
langsung
setiap hari untuk
Untuk ice cream oleh bagian
memastikan
selada ini dibuat tim
bahwa selada
tiap bulan pengiriman
Alat – alat yang bebas dari
sekali, dan (Wahyu dan
digunakan dicuci penyakit dan
tahan selama Nurdin)
2 hari sekali atau hama, jika
4. Pengendalian satu bulan. hingga
jika mau panen terdapat hama
Penyimpanan sampai
dan memastikan atau penyakit
ice cream ini ditangan
ketersediaannya. akan diberikan
disimpan dalam konsumen /
pestisida namun
freezer dengan pembeli. Jika
dalam jumlah
suhu -20oC pembeli
yang sedikit
memesan
(aman
pada hari itu
pestisida).
maka juga
akan dikirim
hari itu juga.
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Kebun Sayur Surabaya,
penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam agribisnis adalah sebagai berikut.
Yang pertama adalah fungsi-fungsi manajemen pada subsistem I. Tahap
perencanaan pada subsistem I adalah perencanaan pengadaan sarana produksi
seperti selada, pupuk, peralatan (talang, pipa, dll) serta tenaga kerja dimana
dengan modal Rp 200.000.000,00 ada pembagiannya yaitu Rp 50.000.000,00
untuk membeli peralatan sedangkan untuk Rp 50.000.000,00 digunakan sebagai
modal kerja (pupuk, benih, gaji, dll). Tahap pengorganisasian awal berdirinya di
controlling sendiri oleh Bapak Mehdy selaku manajer Kebun Sayur Surabaya.
Pada pelaksanaan, pembelian peralatan dan penerimaan tenaga kerja dilakukan
sendiri oleh Bapak Mehdy dibantu oleh karyawan baru dibagian produksi yaitu
Bapak Mu’in. Fungsi pengendalian dilakukan dengan cara membersihkan alat-
alat (dicuci) setiap 2 hari sekali atau jika mau panen serta melakukan pegecekan
untuk benih, pupuk, dll yang digunakan untuk penanaman selada dan
memastikan ketersediaannya.

30
Penerapan fungsi-fungsi manajemen pada subsistem II. Pada fungsi
perencanaannya adalah melakukan rapat tiap satu bulan sekali yang gunanya
untuk menentukan dalam satu bulan itu akan menanam jenis selada apa dan
berapa banyak selada yang akan ditanam agar ketersediaan selada cukup.
Fungsi pengorganisasiannya yaitu pengawasan setiap hari dilakukan oleh Bapak
Mehdy dan bagian produksi. Fungsi pelaksanaannya yaitu penyemaian dilakukan
oleh Bapak Mehdy dan untuk penanaman sampai panen dilakukan oleh Bapak
Mu’in dan Aris. Fungsi pengendaliannya melakukan pengecekan setiap hari
untuk memastikan bahwa selada bebas dari penyakit dan hama. Jika terdapat
hama atau penyakit akan diberikan pestisida namun dalam jumlah yang sedikit
karena di Kebun Sayur Surabaya ini bukan berarti tidak memakai pestisida sama
sekali, tetap menggunakan pestisida dalam dosis yang sedikit.
Fungsi-fungsi manajemen pada subsistem III di Kebun Sayur Surabaya
adalah sebagai berikut. Fungsi perencanaan berhubungan dengan pengolahan.
Pengolahan selada yang dihasilkan oleh produk ice cream dimana ice cream
tidak dikelola langsung oleh Kebun Sayur melainkan diolah oleh pihak ketiga
(kerjasama). Fungsi pengorganisasian dilakukan sendiri oleh Ibu Vivin. Fungsi
pelaksanaannya meliputi selada mentah sampai jadi produk ice cream diolah
sendiri oleh Ibu Vivin. Pada fungsi pengendalian, ice cream ini dibuat tiap satu
bulan sekali dan tahan selama satu bulan dalam penyimpanan freezer dengan
suhu -20°C.
Pada subsistem pemasaran (subsistem IV), fungsi perencanaan produk
selada sendiri masuk ke supermarket-supermarket seperti Lotte Mart dan
PAPAYA. Awal mulai dapat memasarkan hingga ke supermarket tersebut
dikarenakan mengikuti sebuah pameran di suatu pusat perbelanjaan. Fungsi
pengorganisasian, pemasaran dikoordinir Bapak Mehdy sedangkan sosial media
(online) adalah Sasa. Fungsi pelaksanaan pemasaran yang melalui web, sosial
media dibawahi langsung oleh Sasa selaku bagian pemasaran serta untuk
contact person (CP) sendiri langung berhubungan dengan manajer Kebun Sayur
Surabaya, yaitu Bapak Mehdy. Fungsi pengendalian pemasaran dikirim langsung
oleh bagian tim pengiriman (Wahyu dan Nurdin) hingga sampai ke tangan
konsumen/pembeli. Jika pembeli memesan pada hari itu juga akan dikirim hari itu
juga.

31
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan pada materi fungsi manajemen agribisnis di
Kebun Sayur Surabaya tersebut dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
1. Fungsi-fungsi manajemen berperan penting dalam agribisnis. Karena
dengan menerapkan manajemen yang baik, maka pengolahan usaha
akan lebih terencana, terorganisir, dan terkendali.
2. Subsistem yang krusial pada usaha budidaya hortikultura Kebun Sayur
Surabaya ini yaitu pada subsistem II. Karena jika budidaya nya tidak di
control dengan baik seperti melakukan rapat setiap bulan, mengecek
apakah ada hama atau tidak, dan lain sebagainya akan berpengaruh
pada komoditas selada itu sendiri, maka hasil yang didapat tidak dapat
maksimal sedangkan subsistem yang dapat memberikan prospek yaitu
subsistem IV. Budidaya selada dengan sistem hidroponik ini merupakan
yang pertama di Surabaya, sehingga prospek nya sangat besar untuk
melakukan pemasaran kepada konsumen/pelanggan.
3. Kebun Sayur Surabaya ini belum mencapai ISO (International Standart
Organization) dan Global Market, tetapi telah mencapai TQM (Total
Quality Management), ECO Labelling, On Time Delivery dan Just In Time.
5.2. Saran
Dalam fungsi manajemen agribisnis, sistem pengelolaan sumber daya
manusia di Kebun Sayur Surabaya sebaiknya dikelola lebih baik untuk
meningkatkan produksi, sedangkan dalam penanganan hama dan penyakit
budidaya selada dapat diberikan kepada satu atau lebih orang yang memahami
secara rinci mengenai hal tersebut dengan adanya penambahan tenaga kerja.

32
ACARA V :
SUBSISTEM PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
(AGROINDUSTRI)

33
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai
bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan
tersebut. Agroindustri merupakan bagian dari kompleks industri pertanian dari
produksi bahan pertanian primer, industri pengolahan atau transformasi sampai
penggunaannya oleh konsumen. Dari pandangan para pakar sosial ekonomi,
agroindustri (pengolahan hasil pertanian) merupakan bagian dari lima subsistem
agribisnis yang disepakati, yaitu subsistem penyediaan sarana produksi dan
peralatan, usahatani, pengolahan hasil / agroindustri, pemasaran, sarana dan
pembinaan (pendukung).
Agroindustri tidak dapat lepas dan merupakan bagian dari sistem agribisnis
yang lebih luas. Sistem agribisnis perwujudan dari usaha pokok diversifikasi
secara vertikal dan horizontal, yang proses penanganan komoditas dilakukan
secara tuntas sejak proses produksi pra panen sampai dengan pasca panen dan
pemasarannya. Pengembangan agroindustri di Indonesia memiliki prospek yang
cerah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
Nilai tambah diartikan sebagai 1) besarnya output suatu usaha setelah
dikurangi pengeluaran / biaya antaranya, 2) jumlah nilai akhir dari suatu produk
yang bertambah pada setiap tahapan produksi, 3) nilai output dikurangi dengan
nilai input bahan baku yang dibeli dan nilai depresiasi yang disisihkan oleh
perusahaan (Setiawan, 2008). Pengertian lain menurut Hardjanto (1993) analisis
nilai tambah merupakan metode perkiraan sejauh mana bahan baku yang
mendapat perlakuan mengalami perubahan nilai. Terdapat banyak cara
menghitung nilai tambah salah satunya adalah metode perhitungan nilai tambah
yang digunakan oleh Hayami,et al (1987).
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui konsep subsitem agribisnis pengolahan produk
pertanian pada suatu komoditas pertanian.
2. Mahasiswa mampu menghitung nilai tambah produk dalam suatu
agroindustri.

34
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Agribisnis Dan Ruang Lingkupnya


Agribisnis merupakan cara baru melihat pertanian dalam arti cara
pandang yang dahulu dilaksanpkan secara sektoral sekarang secara inter
sektoral atau dilaksanakan secara sub sistem sekarang secara sistem (Saragih,
2007). Dengan demikian agribisnis mempunyai keterkaitan vertikal dan antar
subsistem serta keterkaitan horisontal dengan sistem atau sub sistem lain diluar
seperti jasa-jasa (Finansial dan perbankan, transpotasi, perdagangan,
pendidikan dan Iain-Iain).
Sistem Agribisnis mencakup 4 (empat) hal, Pertama, industri pertanian
hulu yang disebut juga agribisnis hulu atau up stream agribinis, yakni industri-
industri yang menghasilkan sarana produksi (input) pertanian seperti industri
agro-kimia (Pupuk, pestisida dan obat- obatan hewan), industri agro-otomotif
(alat dan mesin pertanian, alat dan mesin pengolahan hasil pertanian) dan
industri pembibitan/perbenihan tanaman/hewan. Kedua, pertanian dalam arti
luas yang disebut juga on farm agribisnis yaitu usaha tani yang meliputi budidaya
pertaniaan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan
kehutanan. Ketiga, industri hilir pertanian yang disebut juga agribisnis hilir yakni
kegiatan industri yang mengolah hasil pertanian hasil pertanian menjadi produk
olahan baik produk antara maupun produk akhir. Keempat, jasa penunjang
agribisnis yakni perdagangan, perbankan, pendidikan, pendampingan dari
petugas ataupun tenga ahli serta adanya regulasi pemerintah yang mendukung
petani dan lain sebagainya. Dari empat unsur tadi mempunyai keterkaitan satu
dan lainnya sangat erat dan terpadu dalam sistem. (Saragih, 2007). Dengan
demikian pembangunan agribisnis merupakan pembangunan industri dan
pertanian serta jasa sekaligus. Sampai dengan sekarang berdasarkan realita
dilapangan pembangunan pertanian hanya sepotong-potong dan tidak
dilaksanakan secara terpadu, koordinatif dan selaras.
Indonesia sebagai negara agraris dan dalam pembangunan
pertaniaannya tidak mempunyai daya saing yang kompetetif dalam era
globalisasi saat ini karena belum memiliki industri perbenihan yang mampu
mendukung perkembangan agribisnis secara keseluruhan. Menurut Saragih
(2007) dalam membangun sistem agribisnis pada umumnya benih yang
digunakan petani adalah benih memiliki kualitas rendah sehingga produksi dan

35
kualitas yang dihasilkan rendah dan benih impor yang digunakan belum tentu
dapat dan sesuai iklim Indonesia. Petani Indonesia dalam mengembangkan
usahatani agar menghasilkan produk yang memiliki daya saing yang tinggi, maka
usahanya disesuaikan kondisi iklim dan topografi yang memiliki kekhasan
sebagai daerah tropis, kekhasan ini perlu ditingkatkan mutu dan
produktivitasnya. Kendala yang timbul pada pengembangan agribisnis pada
umumnyan antara lain sumber daya manusia dan teknologi, karena itu perlu
adanya fasilitas pemerintah dalam bentuk pendampingan.
Pengembangan usaha tanaman sayuran merupakan peluang dan
prospek yang cukup besar dalam peningkatan perekonomian daerah dan
pendapatan petani terutama di daerah dataran tinggi. Menurut Ishaq,et al. (2007)
dalam pengembangan agribisnis sayuran teknologi pertanian sangat
berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani, agar pendapatan dan
kesejahteraan petani meningkat apabila dilaksanakan secaara terpadu dalam
sistem agribisnis. Managemen agribisnis sayuran dalam pengembangan
usahanya dilaksanakan melalui sistem agribisnis secara utuh dari semua
subsistem dan saling terkait antara subsistem satu dan lainnya apalagi dalam era
globalisasi seperti saat ini (Said,et al.2007). Faktor kunci dalam pengembangan
agribisnis sayuran adalah peningkat-an dan perluasan kapasitas produksi melalui
renovasi, mengembangkan dan restrukturasi agribisnis, kelembagaan maupun
infrastruktur penunjang peningkatan dan perluasan kapasitas produksi
diwujudkan melalui investasi bisnis maupun investasi infrastruktur. Kebijakan
revitalisasi pertaniaan perikanan dan kehutanan adalah pengembangan
agribisnis dengan fasilitasi/dukungan dari aspek teknologi on farm dan off
farm, investasi, mekanisasi pertanian dan promosi serta pengembngan yang
disesuaikan lahan.
Menurut Said,et al, (2007), fungsi agribisnis mengacu kepada semua
aktivitas mulai dari pengadaan, pengolahan, penyaluran sampai pada
pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usahatani atau agroindustri yang
saling terkait satu sama lain. Dengan demikian agribisnis dapat dipandang
sebagai suatu sistem pertanian yang memiliki beberapa komponen subsistem
yaitu, subsistem agribisnis hulu, usahatani, subsistem pengolahan hasil
pertanian, subsistem pemasaran hasil pertanian dan subsistem penunjang, dan
sistem ini dapat berfungsi efektif bila tidak ada gangguan pada salah satu
subsistem.

36
Faktor pendukung keberhasilan agribisnis adalah berkembangnya
kelembagaan-kelembagaan tani, keuangan, penelitian dan pendidikan. Menurut
hasil kajian pengaruh kelembagaan terhadap adopsi irigrasi Nono Hartono
(2009) terhadap kelembagaan tani di kabupaten Tasikmalaya menyampaikan
bahwa hubungan antara kelembagaan tani belum efektif dan sangat sederhana
dalam pengembangan agribisnis. Menurut Rahardi dalam cerdas beragribisnis
tahun 2006, usaha agribisnis dapat meningkatkan pendapatan petani bila
dikelola dengan sumberdaya manusia yang cerdas dalam mengakses teknologi,
informasi, pasar dan permodalan. Produktivitas padi meningkat karena
pengelolaan usahatani yang baik.
2.1.1 Subsistem Sarana Produksi
Dalam pengembangan agribisnis sayuran sarana produksi merupakan
salah satu faktor yang dapat meningkatkan pendapatan petani. Menurut Said,et
al. (2007) Untuk mencapai efficiency input sarana produksi harus ada
pengorganisasian dalam penerapan sub sistem ini yaitu penerapan jumlah,
waktu, tempat dan tepat biaya serta mutu sehingga ada optimasi dari
penggunaan input-input produksi. Meningkatnya produksi dan pendapatan petani
bila didukung adanya industri-industri agribisnis hulu yakni indutri-industri yang
menghasilkan sarana produksi (input) pertaniaan (the manufacture and
distribution of farm supliies) seperti industri agro-kimia (industri pupuk, industri
pestisida, obat-obatan hewan) industri alat pertaniaan dan industri pembibitan/
pembenihan. Untuk daerah-daerah dekat lokasi petani ada kios-kios saprodi
menurut Saragih (2007).
Agribisnis modern yang orientasi pasar, haruslah mampu menghasilkan
produk-produk benih yang unggul dan sesuai agroklimat di suatu kawasan dan
produktivitas komoditas, karena dalam mata rantai produk-produk agribisnis
merupakan mata rantai yang sangat penting, berarti pembangunan industri-
industri merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan pendapatan
petani. Produk impor benih yang marak beredar di Indonesia terutama benih
sayuran yang belum tentu cocok di Indonesia. Sebagai contoh atribut mangga
arumanis yakni aroma, cita rasa, warna, kandungan vitamin, serat, dan ukuran
ditentukan oleh bibit menurut Saragih (2007).

2.2. Subsistem Budidaya


Sayuran merupakan tanaman yang dapat tumbuh dari dataran rendah
sampai dataran tinggi tergantung jenis sayuran tersebut dapat tumbuh, yang
termasuk sayuran dataran rendah adalah bawang merah, cabe, tomat,

37
kangkung, bayam, kacang panjang, koro, kecipir, terong dan sayuran dataran
tinggi antara lain asparagus, tomat, kucay, brokoli, kai-lan, kubis, lettuce, buncis,
kapri menurut ATM ROC(2009).
Pengembangan agribisnis sayuran merupakan komoditas yang potensial
dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, produktivitas dan kualitas hasil sangat
ditentukan oleh saat tanam, agroklimat, jenis tanah, penggunaan sarana
produksi, teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, dan pengemasan.serta
pemasaran.
Dalam pengembangan usaha agribisnis sayuran sangat ditentukan oleh
kemampuan sumber daya manusia dalam perencanaan sistem agribisnis dari
proses penentuan lokasi dan jenis sayuran yang akan dikembangkan, sarana
produksi, teknologi budidaya, pengelolaan pasca panen, peningkatan nilai
tambah dan pemasaran. Menurut Rahardi (2005) agroklimat merupakan
pertimbangan yang sangat penting dan merupakan faktor sukses dan tidaknya
kegiatan agribisnis dibandingkan dengan faktor lahan. Faktor agroklimat sulit
untuk direkayasa dengan faktor penentu seperti sinar matahari, hujan, angin,
kelembaban dan suhu udara. Sementara itu tanah yang tidak subur dapat
dirubah menjadi subur. Selain daripada itu faktor tenaga kerja juga sangat
menentukan berhasil dan tidaknya usaha agribisnis sayuran, demikian juga
manajemen pengelolaan agribisnis. Kiat memulai agribisnis agar sukses pertama
yang harus diidentifikasi adalah apa yang kita miliki lahan, atau ketrampilan serta
modal, apabila yang dimiliki modal harus dicari informasi pasar, lahan, dan
keahlian. Namun apabila yang dimiliki hanya lahan harus diupayakan informasi
pasar, alternatif modal dan pemilikan keahlian dan bila yang dimiliki modal maka
diperlukan data pasar dan lokasi kegiatan serta komoditas yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi.
Menurut ATM-ROC (2009) sayuran dataran tinggi pada umumnya dapat
tumbuh baik pada suhu udara sejuk sekitar 250ºC - 300ºC dengan ketinggian
tempat antara 500-1000 mdpl. Tanah yang dibutuhkan adalah tanah gembur,
berpasir dengan kandungan mineral yang tinggi dan drainase yang sempurna.
Benih yang digunakan dengan vigor 85% sedangkan untuk tanaman dataran
rendah dapat tumbuh dengan ketinggian 1-300 mdpl, tanah yang dibutuhkan
tanah berpasir, gembur dengan ph 5,6-6. Pemeliharaan tanaman
diselenggarakan dengan menggunakan pupuk dasar dan pupuk lanjutan atau
susulan sedangkan untuk pengendalian hama dilaksanakan bila diperlukan.

38
Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) pada sayuran mampu
mengurangi penggunaan pestisida cukup signifikan tanpa menurunkan hasil
sehingga keuntungan pun bertambah. Metode diseminasi sistem usahatani
terpadu berbasis tanaman sayuran dengan pengembangan paket teknologi
tumpang sari tomat, timun, bawangmerah, sawi dan kentang dapat
meningkatkan pendapatan petani sayuran.
2.3. Subsistem Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Sayuran merupakan komoditas yang mudah rusak dan masih mengalami
proses hidup (proses fisiologis). Dalam batas-batas tertentu proses fisiologis ini
akan mengakibatkan perubahan-perubahan yang mengarah pada kerusakan-
kerusakan atau kehilangan hasil.
Kerusakan dan kehilangan hasil produk sayuran akan terjadi dan dapat
menurunkan kualitas dan kuantitas yang terjadi pada tahap setelah panen
sampai dengan tahap produk siap dikonsumsi, rata-rata kehilangan/kerusakan
hasil produk sayuran kira-kira berkisar 25-40 persen kehilangan dapat diartikan
sebagai akibat dari perubahan dalam hal ketersediaan, jumlah yang dapat
dimakan yang akhirnya dapat berakibat sayuran tersebut tidak layak untuk
dikonsumsi (P2HP Deptan, 2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi kerusakan
sayuran saat setelah panen akibat dari faktor biologi, faktor lingkungan (suhu,
kelembaban dan komposisi atmosfir). Oleh karena itu agar proses pasca panen
tidak menurunkan kualitas perlu ada penganan pasca panen yang baik seperti
saat pemanenan yang baik dan tepat yaitu dengan panen hati-hati agar tidak
terjadi kerusakan fisik, panen saat masak yang tepat, dengan analisa kimia
mengukur kandungan zat pada dan zat asam atau zat pati. Selain itu proses
pemanenan dari panen, pengumpulan, pembersihan, sortasi, grading,
pengemasan, penyimpanan dan transpotasi dengan metode dan teknik yang
benar. Mutu sayuran tidak dapat ditingkatkan tapi dipertahankan (Muctadi, 1995).
Buah tomat akan masak saat berumur 70-90 hari setelah tanam dan sebaiknya
dipanen saat pagi atau sore hari dan dilakukan sortasi terhadap buah yang rusak
dan busuk serta dilakukan pembersihan dan pengemasan serta penyimpanan
suhu dingin dengan kelembaban 95 persen, sebelum dipasarkan dan ada
pemisahan antara buah masak dan kurang masak dan bawang merah siap
panen umur 60-75 hari setelah tanam (ATM-ROC, 2004).
2.4. Subsistem Pemasaran

39
Kunci keberhasilan usaha tani agribisnis sayuran salah satunya adalah
bagaimana mengembangkan peluang dan strategi serta mencari solusi adanya
kendala dan masalah pemasaran komoditas sayuran. Kelancaran distribusi
komoditas sayuran ini sangat perlu mengingat hal ini akan berpengaruh terhadap
tersedianya pasokan dan terciptanya harga yang wajar. Di samping itu
keamanan distribusi di era globalisasi menuntut terciptanya suatu sistem
distribusi yang lebih efektif dan efisien serta harus mengutamakan selera
kepuasan pasar atau konsumen domestik maupun global dengan demikian
sayuran tersebut mempunyai nilai daya saing yang tinggi. Menurut Antara (2004)
menyatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris, tetapi daya saing
hortikultura atau sayuran di Indonesia masih rendah. Daya saing rendah karena
pembinaan pada petani hanya difokuskan pada bercocok tanam, masalah mutu
yang diharapkan pasar baik pasar domestik maupun ekspor terabaikan,
sehingga daya saing rendah apalagi pada era globalisasi ini. Untuk itu
peningkatan SDM dan fasilitas pemerintah dalam teknologi budidaya, pasca
panen, dan peningkatan nilai tambah serta pengembangan pasar, sangat
diperlukan terutamanya kegiatan pendampingan. Pengembangan hortikultura
khususnya sayuran haruslah secara profesional, artinya adanya pembangunan
yang seimbang antara aspek pertanian, bisnis dan jasa penunjang. Penanganan
produksi tanpa didukung dengan pemasaran yang baik tidak akan memberi
manfaat dan keuntungan bagi petani.
2.5. Nilai Tambah Menggunakan Metode Hayami
Nilai tambah adalah salah satu bentuk dariukuran kinerja perusahaan dan
rantai pasok. Menurut Aramyan (2006), terdapat beberapa metode yang telah
dikembangkan untuk pengukuran kinerja manajemen rantai pasok antara lain
Activity-based Costing (ABC) (Akyol, Tuncel, dan Bayhan, 2005), Life-Cycle
Analysis (LCA) (Kasai, 1997), Economic Value Added (EVA) (Worthington dan
Tracy 2001),dan Metoda Hayami (Hayami,1987).
Metode hayami lebih baik karena dapat dipergunakan untuk suatu
rangkaian perusahaan yang terkait dalam rantai pasok. Dengan metode ini sapat
diketahui besarnya nilai tambah, nilai output, dan produktivitas. Dapat juga
diketahui besarnya balas jasa terhadap pemilik – pemilik faktor produksi.

40
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1. Waktu Pelaksanaan


Praktikum Manajemen Agribisnis dengan materi “Subsistem Pengolahan
Hasil Pertanian (Agroindustri)” dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 05 April
2019 pukul 09:20 s.d. 11:00 WIB
3.2.Tempat Pelaksanaan
Ruang 204 Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran “ Jawa Timur.
3.3. Prosedur Kerja
1. Mencari jurnal analisis nilai tambah pada komoditas yang telah dipilih
sesuai mitra.
2. Menganalisis hasil tersebut menggunakan metode nilai tambah menurut
hayami.
3. Menghitung nilai tambah pada komoditas selada organik.
4. Mencatat hasil di kertas folio.
5. Dipresentasikan sesuai komoditas yang telah dipilih.

41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Perhitungan biaya menurut Deka Amitasari dengan judul “Analisis Nilai
Tambah Selada Organik Kemasan di Yayasan Bina Sarana Bakti “.
Tabel 3. Analisis Nilai Tambah Selada Organik Kemasan
No. Variabel Nilai Nilai Selada Cos
Output, input, dan harga
1. Output (kg/bulan) A 55
2. Input (kg/bulan) B 100
3. Tenaga kerja (HOK/bulan) C 8
4. Faktor konversi D=A/B 0,55
5. Koefisien tenaga kerja E=C/B 0,08
6. Harga output (Rp/kg) F 34.000
7. Upah rata – rata tenaga kerja G 50.000
(Rp/HOK)
Pendapatan dan nilai tambah (Rp/kg)
8. Harga bahan baku (Rp/kg) H 10.000
9. Sumbangan input lain (Rp) I 1.118,18
10. Nilai output J=DxF 18.700
11. a. Nilai tambah (Rp/kg) K=J–H–I 7.581,82
b. Ratio nilai tambah (%) L % = K / J x 100% 40,54 %
12. Pendapatan tenaga kerja (Rp/kg) M=ExG 4.000
Pangsa tenaga kerja (%) N % = M / K x 100% 52,76 %
13. Keuntungan (Rp/kg) O=K–M 3.581,82
Tingkat keuntungan (%) P % = O / J x 100% 0,47 %
Balas jasa faktor produksi
14. Marjin (Rp/kg) Q=J–H 8.700
a. Tenaga kerja (%) R % = M / Q x 100% 45,98 %
b. Modal (sumbangan input lain) S % = I / Q x 100% 12,85 %
(%)
c. Keuntungan (%) T % = O / Q x 100% 41,17 %
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil tabel di atas, analisis nilai tambah selada cos
sebanyak 55 kg dengan bahan baku 100 kg serta tenaga kerja sebanyak 8
orang. Harga bahan baku selada cos yaitu sebesar Rp10.000,00/kg yang
merupakan nilai yang diterima oleh petani dari perusahaan. Harga selada cos
setelah dilakukan penanganan yaitu sebesar Rp34.000,00/kg.
Nilai output sebesar Rp18.700,00. Penanganan selada cos menjadi
produk kemasan menghasilkan nilai tambah sejumlah Rp7.581,82 dengan rasio
sebesar 40,54 %. Artinya setiap Rp100,00 nilai output akan memperoleh
pertambahan nilai sebesar 40,54 %.
Nilai koefisien tenaga kerja diperoleh dari hasil pembagian tenaga kerja
(HOK) selama periode produksi. Hasil perhitungan penanganan selada cos

42
sebesar 0,08 yang artinya tenaga kerja yang diperlukan dalam penanganan
selada cos adalah 0,08 (HOK) dalam 1 HOK setara dengan 8 jam kerja.
Sumbangan input lain pada penanganan selada cos menjadi produk
kemasan yaitu biaya plastik, label, dan lap kain. Nilai total sumbangan input lain
selada cos sebesar Rp1.118,18. Keuntungan yang diperoleh pada selada cos
organik kemasan ini yaitu sebesar Rp3.581,82/kg dengan tingkat keuntungan
0,47 %. Artinya 0,47 % dari nilai tambah merupakan keuntungan produsen atau
pengusaha.

43
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Penanganan pasca panen yang dilakukan sudah cukup baik dalam
mempertahankan kualitas produk, yaitu meliputi penerimaan, grading,
sortasi, penirisan, penimbangan, pengemasan, loading area, dan
pengangkutan.
2. Nilai tambah yang didapatkan pada penanganan selada cos organik
kemasan sebesar Rp. 7.581,82 dengan rasio 40,54 %
5.2. Saran
Pada analisis nilai tambah selada organik kemasan sudah cukup baik
penanganannya serta diharapkan agar ditingkatkan lagi penanganan pasca
panen agar nilai jual produk selada organik tinggi dan menarik daya beli
masyarakat.

44
ACARA VI :
ANALISIS TITIK IMPAS (BEP) SEBAGAI ALAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN
MANAJEMEN DALAM AGRIBISNIS

45
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suatu perusahaan yang rasional tentu tidak menginginkan menderita
kerugian, bahkan sebaliknya perusahaan menginginkan laba atau target laba
tertentu. Agar supaya perusahaan tidak rugi harus bergerak ke tingkat tertentu
karena dibawah tingkat tersebut perusahaan mengalami kerugian. Untuk
menghitung atau mengenali tingkatan tersebut digunakan analisis BEP yang
akan menentukkan titik tertentu yang pada titik tersebut perusahaan tidak untung
dan tidak rugi. Perusahaan yang menginginkan keuntungan pasti bergerak di
atas titik tersebut, bahkan berdasar titik tersebut perusahaan bisa menyusun
kemampuan untuk menghasilkan laba tertentu pula.
Analisis titik impas (BEP) merupakan suatu analisis yang sering digunakan
untuk mempelajari tentang kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan (profit) dari kegiatan pemasarannya. BEP dalam hal ini diartikan
sebagai tingkat penjualan tertentu yang memberikan penerimaan sama dengan
biaya pemasaran dari suatu barang.
Untuk analisis titik impas tersebut perlu dipahami terlebih dahulu tentang
pengertian harga jual, biaya tetap, biaya variabel, dan marjin kontribusi. Harga
jual adalah harga pokok penjualan barang, sedangkan biaya tetap adalah
seluruh biaya yang berhubungan dengan kegiatan pemasaran tetapi tidak
berubah – ubah seiring dengan volume penjualan atau disebut pula dengan
biaya tidak langsung. Sebaliknya, yang dimaksud biaya variabel adalah seluruh
biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah barang yang dipasarkan.
Marjin kontribusi merupakan selisih dari harga jual dan biaya variabel.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat menghitung titik impas pada skala produksi, penjualan,
maupun harga sebagai salah satu alat pengambilan keputusan manajemen
pada suatu usaha.
2. Mahasiswa dapat menghitung sales minimal untuk meraih laba tertentu
(target laba) pada suatu industri.

46
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Break Even Point (BEP)


Analisa break even point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari
hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan.
Karena analisa break even point tersebut mempelajari hubungan antara baiya
keuntungan – volume kegiatan, maka analisa (break even point) tersebut sering
pula disebut “cost-profit-volume analysis” (CPV analysis). Analisa break even
point merupakan “profit planning approach” yang mendasarkan pada hubungan
antara biaya (cost) dengan penghasilan (revenue). Menurut Anonim (2012).
Apabila digunakan konsep “contribution margin” maka break even point
akan tercapai pada volume penjualan dimana contribution marginnya sama
besarnya dengan biaya tetap. Analisa break even point tersebut mempelajari
antara ‘biaya variabel’ atau ‘contribution to fixed cost’ di satu pihak dengan biaya
tetap di lain pihak, maka sering dikatakan bahwa analisa break even point
merupakan salah satu alat untuk mempelajari ‘operating leverage’. Operating
leverage terjadi setiap waktu dimana suatu perusahaan mempuntyai biaya tetap
yang harus ditutup betapapun besar volume kegiatanya. Menurut Halim (2006).
Analisis break even point dapat direkomendasikan sebagai analisa
terhadap biaya marginal yang perlu diperhatikan dan memiliki potesi yang besar
untuk memicu permasalahan (utamanya masalah harga) dan dan jalan untuk
mengatasinya adalah menjadikan masalah –masalah tersebut juga sebagai
solusinya. Marjin dari keamanan dalam sebuah aplikasi yang menerapkan
konsep analisis break even point yang mana dengan memperkirakan presentase
dari penurunan serta perubahann penjualan yang biasa terjadi akibat
departemen kehilangan konsumen dan kehilangan nama brandinya
dimasyarakat. Menurut Herkimer (1986), metode Profitability Index (PI) atau
disebut juga dengan istilah Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) merupakan
perbandingan nilai sekarang aliran kas masuk di masa mendatang dengan nilai
investasi. Analisis keputusan dengan menggunakan Profitability Index adalah jika
nilai Profitability Index kurang dari 1 maka sebaiknya ditolak dan jika Profitability
Index di atas 1 maka sebaiknya investasi dipertimbangkan untuk diterima
menurut Muljo (2006).

47
Pendapatan atau omzet merupakan seluruh aliran uang yang diterima
produsen dari hasil penjualan produk. Sementara, keuntungan merupakan selisih
antara pendapatan dengan total biaya. Keuntungan dapat juga diartikan sebagai
selisih antara harga penjualan dengan harga pokok penjualan. Indikator yang
biasa digunakan diantaranya break even point. (Suryani,2011).
2.2. Asumsi – asumsi yang mendasari analisis titik impas (BEP)
2.2.1 Biaya
Dalam analisis titik impas, hanya digunakan dua macam biaya yaitu biaya
tetap dan biaya variabel. Oleh karena itu harus memisahkan dua kelompok biaya
yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
Pendekatan untuk memisahkan biaya :
a. Pendekatan analitis, dengan cara meneliti setiap jenis dan unsur biaya
yang terkandung satu per satu dari biaya yang ada beserta sifat – sifat
biaya tersebut.
b. Pendekatan historis, dengan memisahkan biaya tetap dan variabel
berdasarkan angka – angka dan data biaya masa lampau.
2.2.2. Biaya tetap (Fixed Cost)
Menurut William K. Carter (2006), biaya tetap didefinisikan sebagai biaya
yang secara total tidak berubah saat aktifitas bisnis meningkat ataupun menurun.
Biaya tetap secara total tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan
volume produksi atau penjualan. Contoh dari biaya tetap seperti gaji,
penyusutan, bunga, biaya sewa, biaya administrasi kantor.
2.2.3. Biaya Variabel (Variable Cost)
Menurut William K. Carter (2006) biaya variabel didefinisikan sebagai
biaya yang secara total meningkat secara proporsional terhadap peningkatan
dalam aktivitas dan menurun secara proporsional terhadap penurunan aktivitas.
Biaya variabel termasuk biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung,
beberapa perlengkapan, beberapa tenaga kerja tidak langsung, alat – alat kecil,
pengerjaan ulang, dan unit – unit yang rusak. Biaya variabel biasanya dapat
diidentifikasikan langsung dengan aktivitas yang menimbulkan biaya.
2.3. Anggapan dasar yang digunakan dalam analisis titik impas (BEP)
Menurut Munawir (2004), anggapan dasar yang digunakan dalam analisis
break even adalah sebagai berikut :
1. Bahwa biaya harus dapat dipisahkan atau diklasifikasikan menjadi dua
yaitu biaya tetap dan biaya variabel dan prinsip variabilitas biaya dapat

48
diterapkan dengan tepat. Pada prakteknya untuk memisahkan biaya tetap
dan biaya variabel dengan tepat bukanlah merupakan pekerjaan yang
mudah karena ada beberapa biaya yang sifatnya banci yaitu biaya yang
mempunyai sifat variabel dan sifat tetap (merupakan biaya semi variabel
atau semi tetap). Terhadap biaya semivariabel ini harus dilakukan
pemisahan menjadi unsur tetap dan unsur variabel secara teliti baik
dengan menggunakan pendekatan analitis maupun pendekatan historis.
Pendekatan analitis dilakukan dengan meneliti setiap jenis atau unsur
biaya satu per satu dan ditentukan sifatnya dengan mengingat perlu
tidaknya biaya yang bersangkut dengan cara kerja yang efisien.
2. Biaya tetap secara total akan selalu konstan sampai tingkat kapasitas
penuh. Biaya tetap adalah merupakan biaya yang selalu akan terjadi
walaupun perusahaan berhenti operasi.
3. Biaya variabel akan berubah secara proporsional (sebanding) dengan
perubahan volume penjualan dan adanya sinkronisasi antara produksi
dan penjualan. Keadaan demikian dalam praktek jarang terjadi, misal
biaya variabel yang berupa bahan mentah, semakin besar volume
produksi berarti pembelian bahan mentah dalam jumlah besar yang
berarti akan diperoleh potongan – potongan atau dapat dibeli dengan
harga yang lebih murah.
4. Harga jual per satuan barang tidak akan berubah berapapun jumlah
satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum.
Hal yang demikian sulit ditemukan dalam kenyataan / praktek.
5. Bahwa hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual atau
jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya
(sales mix) akan tetap konstan.

49
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1. Waktu Pelaksanaan


Praktikum Manajemen Agribisnis dengan materi “Analisis Titik Impas (Bep)
Sebagai Alat Pengambilan Keputusan Manajemen Dalam Agribisnis”
dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Februari 2019 pukul 10:00 s.d. 11:00
WIB.
3.2. Tempat Mitra
Kebun Sayur Surabaya di Jalan Gayung Kebonsari XI / 15.
3.3. Prosedur Kerja
1. Mencari mitra yang ingin di wawancarai.
2. Menentukan mitra, dalam hal ini kami memilih Kebun Sayur Surabaya.
3. Menyusun pertanyaan yang berhubungan dengan analisis titik impas (bep)
sebagai alat pengambilan keputusan manajemen dalam agribisnis.
4. Melakukan survei ke lokasi Kebun Sayur Surabaya.
5. Melakukan wawancara kepada pemilik usaha.
6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil wawancara.
7. Mengidentifikasi hasil wawancara ke dalam bentuk laporan.
8. Menentukkan mana biaya variabel, biaya tetap, dan biaya lain terlebih
dahulu.
9. Menghitung analisis titik impas (BEP).
10. Mencatat hasil di buku.
11. Mempresentasikan di depan kelas waktu jam praktikum.

50
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Pada mitra Usahatani di Kebun Sayur Surabaya analisis Break Even Point
sebagai berikut :
Tabel 4. Biaya Variabel
No. Jenis / Item Jumlah Harga Satuan Total Harga
1. Benih 7 kemasan Rp 12.000 Rp 84.000
2. AB mix 500 ml 12 pcs Rp 20.000 Rp 240.000
3. Pestisida 1 pcs Rp 38.000 Rp 38.000
4. Rockwool 120 pcs Rp 101.000 Rp 12.120.000
5. Listrik Rp 350.000
6. Air Rp 200.000
Jumlah Rp 13.032.000

Tabel 5. Biaya Tetap


No. Jenis / Item Jumlah Harga Satuan Total Harga
1. Talang 7m x 120 pcs Rp 90.000 Rp 75.600.000
2. Galvalum 144 m Rp 61.000 / 6m Rp 8.784.000
3. Pompa 12 pcs Rp 110.000 Rp 1.320.000
4. Bor 1 pcs Rp 220.000 Rp 220.000
5. Tandon 1050 ltr 1 pcs Rp 1.200.000 Rp 1.200.000
6. Selang kecil 50 m 1 pcs Rp 45.000 Rp 45.000
7. Nampan plastik 10 pcs Rp 8.000 Rp 80.000
8. Box container 12 pcs Rp 218.000 Rp 2.616.000
9. Netpot 6600 pcs Rp 300 Rp 1.980.000
10. Sprayer 4 pcs Rp 11.000 Rp 44.000
Jumlah Rp 91.889.000

Tabel 6. Biaya Tetap Penyusutan


No. Jenis / Item Total Harga
1. Talang Rp 567.000
2. Galvalum Rp 65.880
3. Pompa Rp 19.800
4. Bor Rp 330
5. Tandon Rp 9.000
6. Selang kecil Rp 337
7. Nampan plastik Rp 2.000
8. Box container Rp 39.240
9. Netpot Rp 29.700
10. Sprayer Rp 660
Jumlah Rp 733.947

51
Tabel 7. Biaya Lain
No. Jenis / Item Total Harga
1. Sewa lahan untuk 1 bulan Rp 4.200.000
2. Tenaga kerja (6 orang x Rp 3.000.000) Rp 18.000.000
Jumlah Rp 22.200.000

NTP (Nilai Total Penerimaan)


NTP = Harga Jual x Total Produksi
= Rp 50.000 x 4000 kg
= Rp 200.000.000
TBP (Total Biaya Produksi)
TBP = FC + VC
= Rp 13.032.000 + Rp 91.889.000 + Rp 18.000.000
= Rp 122.921.000
BEP

BEP =

= 1,62
BEP (Unit)

BEP (unit) =

= 1965,87
BEP (Nilai)

BEP (nilai) =

= 98.227.005,3
BEP (Harga)

BEP (harga) =

= 30.730,25
Sales Minimal

Sales minimal =

52
= 1965,87

53
4.2. Pembahasan
Dari hasil di atas titik impas (BEP) pada usaha Kebun Sayur Surabaya
perlu diketahui pada biaya variabel dan biaya tetap terlebih dahulu. Biaya
variabel yang dibutuhkan dalam total produksi selama 1 (satu) bulan sebesar
Rp13.032.000,00 ditambah dengan tenaga kerja berjumlah 6 orang sebesar
Rp18.000.000,00 dengan rincian biaya variabel yaitu benih, selada, AB mix,
pestisida, rockwool, listrik, dan air.
Untuk biaya tetap yaitu sebesar Rp91.889.000,00 dengan rincian berupa
talang, galvalum, pompa, bor, tandon 1050 liter, selang kecil 50 m, nampan
plastik, box container, netpot, dan sprayer. Harga jual selada yaitu
Rp50.000,00/kg, selama satu bulan Kebun Sayur Surabaya dapat memproduksi
sejumlah 4.000kg/bulan.
NTP yang didapatkan oleh Kebun Sayur Surabaya yaitu sebesar
Rp200.000.000,00. TBP sebesar Rp 122.921.000 sedangkan BEP sebesar 1,62.
Nilai BEP lebih besar dari 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha tersebut
mengalami untung dan bernilai efisien. Nilai BEP (unit) sebesar 1965,87, nilai
BEP (harga) sebesar 30.730,25, nilai BEP (nilai) sebesar 98.227.005,3. Dan
sales minimal sebesar 1965,87.

54
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Perhitungan BEP produksi senilai 1,62 yang berarti lebih dari 1 dikatakan
bahwa usaha / mitra tersebut mengalami untung dan bernilai efisien. Pada
nilai BEP (unit) sebesar 1965,87, nilai BEP (harga) sebesar 30.730,25, nilai
BEP (nilai) sebesar 98.227.005,3.
2. Perhitungan sales minimal untuk meraih laba tertentu pada Kebun Sayur
Surabaya yaitu sebesar 1965,87.
5.2 Saran
Pada mitra Kebun Sayur Surabaya analisis titik impas (BEP) sudah efisien
dan perlu ditingkatkan kembali agar mendapatkan keuntungan yang lebih
dengan cara membuat hasil produk olahan yang lebih luas lagi dan dapat
menembus pasar.

55
ACARA VII :
SUBSISTEM AGRIBISNIS (PEMASARAN DAN PENDUKUNG)

56
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Agribisnis merupakan sebuah sistem yang terdiri dari 4 subsistem yang
saling terkait ke depan maupun ke belakang. Subsistem-subsistem tersebut
terdiri dari subsistem hulu, usahatani, hilir, dan jasa penunjang. Banyak para ahli
yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi dari subsistem hulu, di
antaranya sebagai berikut:
a. Subsitem agribisnis hulu menurut Maulidah (2012), merupakan subsistem
yang menyediakan sarana produksi pertanian mulai dari benih, bibit, pakan
ternak, pupuk, obat untuk memberantas organisme pengganggu tanaman,
lembaga kredit, bahan bakar, alat-alat pertanian, mesin, serta peralatan
produksi pertanian.
b. Menurut Departemen Pertanian (2001, dalam Widya, 2014), subsistem hulu
merupakan industri yang menghasilkan barang-barang yang mendukung
kegiatan pertanian, meliputi industri pembibitan tanaman maupun ternak,
industri agrokimia (pupuk, pestisida, dan obat-obatan), dan industri agro
otomotif (mesin dan peralatan pertanian) seta industri pendukung lainnya.
c. Subsistem hulu menurut Hermawan (2012), merupakan suatu kegiatan
penyediaan sarana produksi atau input produksi yang juga menyangkut
kegiatan penyaluran atau distribusi serta mencakup perencanaan,
pengelolaan sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar kegiatan
penyediaan sarana produksi usahatani memenuhi kriteria yang direncanakan
atau diharapkan.
d. Menurut Hanafie (2010), subsistem agribisnis/agrobisnis hulu mencakup
semua kegiatan perencanaan, pengelolaan, pengadaan dan penyaluran
sarana produksi atau input produksi untuk memungkinkan terlaksananya
penerapan suatu teknologi usaha tani, serta pemanfaatan sumber daya
pertanian secara optimal. Aspek-aspek yang ditangai dalam subsistem
agribisnis hulu ini meliputi penyediaan bibit, pupuk, obat-obatan seperti
pestisida, vaksin ternak, dan lain-lain, alat dan mesin pertanian, informasi
seputar pertanian, dan sebagainya.
e. Dalam sektor perternakan, menurut Abidin (2003), subsistem agribisnis hulu
merupakan kegiatan usaha yang menghasilkan sarana produksi ternak

57
beserta jaringan ditribusinya, termasuk di dalamnya adalah industri
pembibitan, pakan ternak, obat-obtan, feed supplement, vaksin, dan
peralatan ternak. Jadi, berdasarkan beberapa definisi tentang subsistem
agribisnis hulu di atas, dapat disimpulkan bahwa subsistem hulu merupakan
subsistem yang berperan sebagai penyedia sarana produksi atau modal awal
untuk melakukan kegiatan pertanian atau usahatani, seperti benih atau bibit,
pupuk, obat-obatan, alat dan mesin pertanian, dan sebagainnya.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui saluran pemasaran dari suatu komoditas
pertanian / agroindustri yang efektif.
2. Mahasiswa mengetahui jenis – jenis subsistem pendukung yang ada pada
sistem agribisnis yang berhubungan dengan subsistem agroindustri.

58
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Manajemen Pemasaran


Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang
dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
untuk berkembang, dan mendapatkan laba. Arti pemasaran sering disamakan
dengan pengertian-pengertian: (1) penjualan, (2) perdagangan, dan (3) distribusi.
Padahal istilah-istilah tersebut hanya merupakan satu bagian dari kegiatan
pemasaran secara keseluruhan. Proses pemasaran dimulai jauh sebelum
barang-barang diproduksi dan tidak berakhir dengan penjualan.
Definisi pemasaran menurut William J. Stanton, yaitu suatu sistem
keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang
dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli
potensial.
Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa arti pemasaran adalah jauh
lebih luas daripada arti penjualan. Pemasaran mencakup usaha perusahaan
yang dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang perlu
dipuaskan, menentukan produk yang hendak diproduksi, menentukan harga
produk yang sesuai, menentukan cara-cara promosi dan penyaluran/penjualan
produk tersebut. Jadi, kegiatan pemasaran adalah kegiatan-kegiatan yang saling
berhubungan sebagai suatu sistem.
Kegiatan-kegiatan tersebut beroperasi di dalam suatu lingkungan yang
terus menerus berkembang sebagai konsekuensi sosial dari perusahaan, tetapi
juga dibatasi oleh sumber-sumber dari perusahaan itu sendiri dan peraturan-
peraturan yang ada. Bagi pemasaran, perubahan lingkungan dapat berupa suatu
peluang atau kesempatan mengembangkan usahanya.
Sehubungan dengan itu tugas manajer pemasaran adalah memilih dan
melaksanakan kegiatan pemasaran yang dapat membantu dalam pencapaian
tujuan perusahaan serta dalam menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan. Kegiatan pemasaran ini haruslah dikoordinasikan dan dikelola
dengan cara yang baik, maka dikenal dengan istilah manajemen pemasaran.
Secara umum, manajemen pemasaran adalah proses merencanakan,
penganalisaan, pelaksanaan, dan pengawasan atau mengendalikan kegiatan

59
pemasaran dalam suatu perusahaan supaya dapat tercapainya target atau
tujuan perusahaan secara lebih efisien dan efektif.
2.2. Subsistem Pemasaran
Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan
agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama
subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan
market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.
2.3. Subsistem Penunjang
Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca
panen yang meliputi :
a. Sarana Tataniaga
b. Perbankan/perkreditan
c. Penyuluhan Agribisnis
d. Kelompok tani
e. Infrastruktur agribisnis
f. Koperasi Agribisnis
g. BUMN
h. Swasta
i. Penelitian dan Pengembangan
j. Pendidikan dan Pelatihan
k. Transportasi
l. Kebijakan Pemerintah
(R. Hermawan, 2006).

60
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1. Waktu Pelaksanaan


Wawancara dan survei praktikum manajemen agribisnis dengan materi
“Subsistem Agribisnis : Pemasaran dan Pendukung” dilaksanakan pada hari
Senin tanggal 25 Februari 2019 pukul 10:00 s.d 11:00 WIB.
3.2. Tempat Mitra
Kebun Sayur Surabaya di Jalan Gayung Kebonsari XI / 15.
3.3. Prosedur Kerja
1. Mencari mitra yang ingin diwawancara.
2. Menentukan mitra, dalam hal ini kami memilih Kebun Sayur Surabaya.
3. Menyusun pertanyaan yang berhubungan dengan subsistem agribisnis :
pemasaran dan pendukung.
4. Melakukan survei ke lokasi Kebun Sayur Surabaya.
5. Melakukan wawancara kepada pemilik usaha.
6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil wawancara.
7. Mengidentifikasi hasil wawancara ke dalam bentuk laporan.
8. Mempresentasikan di depan kelas waktu jam praktikum.

61
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Saluran Pemasaran Kebun Sayur Surabaya:
Berikut ini merupakan gambar dua macam saluran pemasaran pada mitra
Kebun Sayur Surabaya.

Gambar 3. Saluran dan Distribusi Pemasaran Kebun Sayur Surabaya

4.1.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Pemasaran Produk


Selada
a. Kebun Sayur Surabaya
Faktor Pendukung:
Membantu ketersediaan selada hidroponik di Surabaya
Faktor Penghambat:
Barang tidak selalu ada.
Sistem PO (Pre order)
b. Supermarket
Faktor Pendukung:
4
Tempat pemasaran stategis.
Jangkauan Pemasaran lebih luas
Faktor Penghambat:
Harga lebih mahal
Barang masih perlu dipilah-pilah
Butuh waktu pengiriman

62
c. Agen reseller / tengkulak
Faktor Pendukung:
Hemat biaya distribusi.
Jangkauan konsumen lebih tepat sasaran
Faktor Penghambat:
Reseller kadang molor dalam pengambilan barang.
d. Konsumen Akhir
Faktor Pendukung:
Konsumen teriming-iming dengan kata sayur organic.
Pengemasan yang rapi dapat menarik minat konsumen.
Faktor Penghambat:
Kurang setuju apabila harga cukup mahal daripada sayur biasa.
4.1.3. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
a. Harga selada murah
b. Masih segar
c. Aman pestisida
d. Hidroponik
4.1.4. Kegiatan Marketing Mix 4P (Product, Price, Place, and Promotion)
a. Product
Produk yang dihasilkan dari Kebun Sayur Surabaya yaitu selada
hidroponik.
b. Price
Harga selada hidroponik yaitu sebesar Rp 50.000/kg
c. Place
Kebun Sayur Surabaya ini bertempat di Jl. Gayung Kebonsari No. XI / 15,
Ketintang, Surabaya merupakan tempat yang strategis karena terletak di kota
besar dan mudah diakses / dijangkau
d. Promotion
Promosi yang dilakukan Kebun Sayur Surabaya yaitu menggunakan
website (kebunsayursurabaya.com), sosial media (facebook, instagram,
whatsapp) serta dari mulut ke mulut.

63
4.1.5. Subsistem Pendukung Pada Kegiatan Di Subsistem Agroindustri
Dan Pemasaran
a. Subsistem pendukung Pemasaran
Subsistem pendukung pemasaran Kebun Sayur Surabaya adalah dengan
media sosial.
b. Kendala
Balasan yang slow respon dikarenakan tidak mencantumkan jam kerja
online dan tenaga kerja pemasaran yang hanya satu orang saja.
c. Solusi
Solusi dari kendala yang ada yaitu mencantumkan jam kerja online di
media sosial yang ada dan melakukan oprec tenaga kerja untuk pemasaran.
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil identifikasi di atas, dapat diketahui bahwa saluran dan
distribusi pemasaran selada organik di Kebun Sayur Surabaya terdapat dua
macam saluran distribusi pemasaran yang masing – masing ada tiga tahapan,
yaitu dari Kebun Sayur Surabaya itu sendiri ke Supermarket (Lotte Mart dan
Papaya) lalu dikonsumsi oleh konsumen akhir. Macam lainnya yaitu dari Kebun
Sayur Surabaya disalurkan ke agen reseller/tengkulak barulah sampai ke tangan
konsumen akhir.
Faktor pendukung dan penghambat pada saluran pemasaran dan
distribusi selada organik Kebun Sayur Surabaya juga berbeda-beda. Pada
Kebun Sayur Surabaya, faktor pendukungnya yaitu membantu ketersediaan
selada hidroponik di Surabaya sedangkan faktor penghambatnya yaitu barang
tidak selalu ada dan menggunakan sistem PO (pre order). Lalu, pada
Supermarket faktor pendukungnya yaitu tempat pemasaran stategis dan
jangkauan pemasaran lebih luas sedangkan faktor penghambatnya yaitu harga
lebih mahal dan barang masih perlu dipilah-pilah serta membutuhkan waktu
pengiriman yang lumayan lama. Pada agen reseller / tengkulak faktor
pendukungnya yaitu hemat biaya distribusi, jangkauan konsumen lebih tepat
sasaran sedangkan faktor penghambatnya yaitu reseller kadang molor dalam
pengambilan barang. Yang terakhir pada konsumen akhir faktor pendukungnya
yaitu konsumen teriming-iming dengan kata sayur organic dan pengemasan
yang rapi dapat menarik minat konsumen sedangkan faktor penghambatnya
yaitu kurang setuju apabila harga cukup mahal daripada sayur biasa.

64
Dalam pembelian selada organik pada Kebun Sayur Surabaya, terdapat
beberapa faktor yang memengaruhi konsumen untuk membeli selada organik di
tempat tersebut, antara lain :
a) Harga selada murah
b) Masih segar
c) Aman pestisida
d) Hidroponik
Berdasarkan hal itu, usaha Kebun Sayur Surabaya pun juga memiliki
strategi pemasaran yang meliputi 4P (price, promotion, product, and place).
Produk yang dihasilkan dari Kebun Sayur Surabaya yaitu selada hidroponik.
Harga selada hidroponik yaitu sebesar Rp 50.000,00 / kg. Kebun Sayur
Surabaya ini bertempat di Jalan Gayung Kebonsari No. XI / 15, Ketintang,
Surabaya merupakan tempat yang strategis karena terletak di kota besar dan
mudah diakses / dijangkau. Promosi yang dilakukan Kebun Sayur Surabaya yaitu
menggunakan website (kebunsayursurabaya.com), sosial media (facebook,
instagram, whatsapp) serta dari mulut ke mulut.
Subsistem pendukung pemasaran Kebun Sayur Surabaya adalah dengan
media sosial. Kendala yang dihadapi Kebun Sayur Surabaya adalah balasan
yang slow respon dikarenakan tidak mencantumkan jam kerja online dan tenaga
kerja pemasaran yang hanya satu orang saja sehingga solusi dari kendala yang
ada yaitu mencantumkan jam kerja online di media sosial yang ada dan
melakukan oprec tenaga kerja untuk pemasaran.

65
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Saluran pemasaran yang dilakukan pada selada hidroponik Kebun Sayur
Surabaya terdapat 2 macam dengan tiga tahapan yaitu 1) Kebun Sayur
Surabaya disalurkan atau dipasarkan ke supermarket (Lotte Mart dan
Papaya) lalu ke konsumen akhir dan 2) dari Kebun Sayur Surabaya kea gen
reseller / tengkulak barulah ke tangan konsumen akhir.
2. Jenis-jenis subsistem pendukung yang ada pada sistem agribisnis selada
hidroponik Kebun Sayur Surabaya yaitu dengan media sosial (secara online
pemasarannya) melalui website, facebook, instagram, dan whatsapp.
5.2. Saran
Sebaiknya kendala-kendala yang ada pada subsistem pendukung dalam
pemasaran produk di Kebun Sayur Surabaya dapat segera diperbaiki. Seperti
lebih aktif dalam penjualan online serta mencari tenaga kerja bagian pemasaran
sehingga tidak slow respon dan kewalahan.

66
PENUTUP UMUM

A. Kesimpulan
Berdasarkan serangkaian acara praktikum manajemen agribisnis golongan
S1 dapat ditarik beberapa kesimpulan, yakni:
a. Agribisnis sebagai suatu sistem merupakan seperangkat unsur yang secara
teratur saling berkaitan satu sama lain yang terdiri dari 5 subsistem, yaitu
subsistem I penyediaan sarana produksi, subsistem II usahatani, subsistem
III pengolahan hasil, subsistem IV pemasaran, dan subsistem penunjang.
b. Sistem agribisnis pada budidaya hortikultura Kebun Sayur Surabaya meliputi
sektor pertanian yaitu budidaya hortikultura komoditas selada, sektor industri
yaitu pengolahan selada serta pada sektor jasa yaitu jasa transportasi.
c. Fungsi-fungsi manajemen berperan penting dalam agribisnis. Karena dengan
menerapkan manajemen yang baik, maka pengolahan usaha akan lebih
terencana, terorganisir, dan terkendali.
d. Penanganan pasca panen yang dilakukan sudah cukup baik dalam
mempertahankan kualitas produk, yaitu meliputi penerimaan, grading, sortasi,
penirisan, penimbangan, pengemasan, loading area, dan pengangkutan.
e. Tantangan yang dihadapi oleh Kebun Sayur Surabaya ini adalah ketika bisnis
ini sudah berjalan, banyak pesaing yang muncul. Peluang dari bisnis ini
adalah bisnis ini dapat cepat besar dikarenakan Surabaya yang minim akan
budidaya sayuran segar.
B. Saran
Diharapkan untuk praktikum manajemen agribisnis lebih dispesifikasikan lagi
untuk materi, dikarenakan materi yang dibawa hampir sama dengan usahatani.
Sehingga mahasiswa sedikit kebingungan dengan materi. Sejauh ini tidak ada
kendala yang signifikan. Tetap dan tingkatkan kembali kualitas praktikum yang
lebih baik lagi.

67
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Said. 2007. Khasiat dan manfaat kunyit. Sinar Wadja Lestari.

Antara. 2004. Pemasaran Hasil Pertanian. Papyrus : Surabaya

Deka, amitasari. Analisis Nilai Tambah Selada Organik Kemasan Di Yayasan


Bina Sarana Bakti : Bandar Lampung.

Ditjen P2HP Deptan. 2008. Laporan Survei Susut Panen dan Pascapanen
Gabah/beras. http://agribisnis.deptan.go.id/index. [14 Mei 2008]

Downeyn W.David Dan Erickson. 2008. Agribussiness Management


(terjemahan).

Hayami Y, Kawagoe T, Morooka Y, Siregar M.1987. Agricultural Marketing and


Processing in Upland Java. A Perspectivefrom a Sunda Village. Bogor:
The CPGRT Centre.

Ishaq, Muhammad, Fisika Dasar, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Kivry E. Salmon. Jenny Baroleh. Juliana R. Mandei. 2017. Penerapan Fungsi


Manajemen Pada Kelompok Tani Asi Endo Di Desa Tewasen Kecamatan
Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan. Agri-SosioEkonomi Unsrat,
ISSN 1907– 4298, Volume 13 Nomor 3A : 259 – 270.

PRASTUTI, T. 2014. Analisis Manajemen dalam Optimalisasi Pendapatan Asli


Daerah di Kabupaten Luwu Timur. Skripsi. Makasar : Universitas
Hasanuddin.

Rahardi, F. 2005. Agribisnis Peternakan. Penebar Swadaya : Jakarta

R.Hermawan. 2006. Membangun Sistem Agribisnis. Dosen Jurusan Penyuluhan


Pertanian, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta.
Disampaikan pada Seminar Mahasiswa pada tanggal 20 Desember 2006
di Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.

Saragih, Bungaran. 1998. Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi


Berbasis Pertanian, Kumpulan Pemikiran, Editor Tungkot Sipayung, dkk.
Yayasan Mulia Persada, PT Surveyor Indonesia, dan Pusat Studi
Pembangunan LP – IPB : Jakarta.

Saragih, B. 2007. Membangun Pertanian Perspektif Agribisnis. Sucofindo :


Bogor.

Sjarkowi dan Sufri. 2010. Manajemen agribisnis dan pemasaran : Jogjakarta.

Suprapto, 2009. Analisa proses sektor dalam budidaya jagung di pamekasan


Madura : Madura.

SYAFIE, I. K. 2011. Etika Pemerintahan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

68
LAMPIRAN

Lampiran 2 Wawancara
Lampiran 1 Foto Bersama Co-
Bersama Co-Owner Kebun
Owner Kebun Sayur Surabaya
Sayur Surabaya

Lampiran 3 Budidaya Selada


Hidroponik di Kebun Sayur
Surabaya

69