Anda di halaman 1dari 9

RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA TANAH LONGSOR

KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

I. PROFIL KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG


a. GEOGRAFI
Wilayah Kecamatan Bulu yang merupakan salah satu dari 20 kecamatan di
kabupaten Temanggung berbatasan dengan : wilayah Barat dengan Kecamatan
Parakan dan Kledung, Wilayah Utara dengan Kecamatan Kedu, Sebelah Timur
Kecamatan Temanggung dan Tlogomulyo dan Sebelah Selatan dengan
Kecamatan Tlogomulyo. Yang terletak pada Ketinggian tanah rata-rata 772 m dpl
dengan suhu antara 29oC dan 18oC. Dengan rata-rata jumlah hari hujan 64 hari
dan banyaknya curah hujan 22 mm/th. Kecamatan Bulu luas wilayah 4304 ha,
dengan jumlah penduduk 44.722 orang dan mempunyai 19 desa.
Salah satu dari 19 desa/kelurahan di kecamatan Bulu adalah Desa Bulu
yang terletak di ketinggian 700 m dari permukaan laut dan berjarak 0 km dari ibu
kota kecamatan Bulu dan 2,71 km dari ibu kota Kabupaten. Dengan luas 146,85
ha yang terbagi dalam lahan sawah 124,20 ha dan lahan bukan sawah 22,65 ha.
Dari Lahan sawah bukan sawah dipergunakan untuk Bangunaan/pekarangan dan
Lahan lainnya.
Gambar 1 : Peta Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung

b. PENDUDUK

Desa Bulu terdapat 4 dusun yang terdiri dari 4 Rukun warga (RW) dan
19 Rukun tetangga (RT) dan terdapat 685 Rumah tangga. Jumlah penduduk 2.459
jiwa terdiri dari 1.203 jiwa Laki-laki dan 1.256 jiwa Perempuan.
Penduduk usia 10 tahun keatas bermatapencaharian petani, pekerja bangunan,
pengangkutan & komunikasi, dan lainnya.
Untuk sumber air minum berasal dari Leding/PAM dan Mata Air. Dan
untuk penerangan 659 menggunakan PLN dan 86 rumah tangga menggunakan
penerangan lain non PLN.
Dalam bidang pendidikan banyaknya penduduk di atas 5 tahun yang
Tamat PT/Universitas 58 orang, Tamat Akademi 25 orang, Tamat SLTA/sederajat
421 orang, tamat SLTP/ sederajat 380 orang, Tamat SD/sederajat 842 orang,
Tidak tamat SD - orang, Belum tamat SD 468 orang dan Belum/ tidak sekolah 71
orang. Untuk sarana pendidikan terdapat 2 unit TK, 2 unit SD, - unit MI, 1 unit
SMP/Mts dan - unit SMU.

c. SARANA KESEHATAN
Bidang Kesehatan terdapat Prasarana kesehatan 1 unit Puskesmas, -
Puskesmas pembantu, 4 unit Posyandu, 1 unit Polides, Dokter Umum,
Bidan/Perawat/Mantri, Dukun Bayi, Dukun Pijat dan Tukang Gigi. Terdapat
beberapa rumah sakit terdekat diantaranya adalah RSU Ngesti Waluyo, RSU PKU
Muhammadiyah, RSUD Temanggung.

d. KEHIDUPAN EKONOMI
Kehidupan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bulu Temanggung sebagian besar
disokong oleh pertanian. Tanaman pangan yang dikembangkan di desa ini adalah
Padi, Jagung. Tanaman sayuran yang dikembangkan berupa Cabe dan Kacang.
Sedangkan tanaman perkebunan yang dikembangkan berupa Tembakau. Ternak
yang dikembangkan di desa tersebut berupa sapi, kerbau, kuda, kambing, domba,
dan itik.

II. ANALISIS KOMPONEN BENCANA KECAMATAN BULU KABUPATEN


TEMANGGUNG
a. HAZARD
Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung merupakan daerah pegunungan
dengan tingkat kemiringan yang paling tajam mencapai 70o. Pegunungan dengan
tingkat kemiringan sedemikian rupa merupakan daerah rawan longsor. Sebagian
daerah lereng gunung semula merupakan hutan, namun sejak 10 tahun terakhir
kondisi hutan semakin buruk karena maraknya pencurian kayu ilegal. Hal tersebut
meningkatkan risiko terjadinya bencana tanah longsor. Dari 19 desa yang terdapat
di Kecamatan Bulu terdapat 2 desa yang merupakan daerah paling rawan longsor
yaitu Desa Wonotirto dan Desa Pagergunung.
Kejadian tanah longsor yang terakhir kali terjadi di Desa Wonotirto adalah
tanggal 14 Maret 2014, pada saat tersebut terjadi kerusakan sebanyak 8 rumah,
dan terdapat korban luka sebanyak 6 orang, tidak ada korban meninggal dunia.
Tanah longsor tersebut juga merusak satu-satunya akses jalan menuju desa
Wonotirto. Desa Pagergunung tidak memiliki data kapan terjadinya tanah longsor.
Hal ini dikarenakan sedikitnya jumlah penduduk yang tinggal di desa ini. Desa
Pagergunung merupakan wilayah yang sangat tinggi.

Gambar 2 : Kejadian Tanah Longsor Desa Wonotirto 14 Maret 2014


b. VULNERABILITY
Kerentanan adalah keadaan atau suatu sifat atau perilaku manusia yang
menyebabkan ketidakmampuan untuk menghadapi bahaya atau ancaman.
Kerentanan di daerah rawan longsor di Kecamatan Bulu, Temanggung
diantaranya adalah :
i. Kerentanan Fisik : ditinjau dari struktur fisik desa-desa di kecamatan
Bulu, Temanggung, bangunan sudah terbentuk dari batu bata dan semen,
namun pondasi bangunan berada di tanah yang relatif tidak stabil. Hal
tersebut meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap bencana tanah
longsor
ii. Kerentanan Ekonomi : Secara ekonomi, masyarakat di kecamatan Bulu
Temanggung banyak yang masih berprofesi sebagai petani dengan tingkat
kesejahteraan yang kurang. Salah satu potret tingkat ekonomi adalah
masih adanya sekitar 86 rumah warga yang tidak menggunakan sumber
listrik PLN.
iii. Kerentanan Sosial : Kerentanan sosial di kecamatan Bulu Temanggung
cukup tinggi. Tingkat pendidikan yang cukup buruk, data menyebutkan
bahwa dalam bidang pendidikan banyaknya penduduk di atas 5 tahun yang
Tamat PT/Universitas 58 orang, Tamat Akademi 25 orang, Tamat
SLTA/sederajat 421 orang, tamat SLTP/ sederajat 380 orang, Tamat
SD/sederajat 842 orang, Tidak tamat SD - orang, Belum tamat SD 468
orang dan Belum/ tidak sekolah 71 orang.
iv. Kerentanan Lingkungan : Lingkungan di Kecamatan Bulu, Temanggung
sangat rentan longsor, kemiringan tanah banyak yang hampir mencapai
70o. Selain itu juga terdapat banyak areal sawah yang semula merupakan
hutan dan saat ini ditanami tembakau dan tanaman pertanian lain,
sehingga mengurangi kapasitas hutan untuk menampung air hujan
sehingga rawan terjadi longsor. Khususnya di desa Pagergunung yang
awalnya didominasi oleh hutan, saat ini mulai banyak terjadi pencurian
kayu hutan sehingga luas daerah penyerapan air berkurang.

c. CAPACITY
Secara umum kapasitas atau kemampuan masyarakat untuk tanggap dan
dapat mengatasi bencana dapat dikategorikan kurang. Tingkat pendidikan menjadi
salah satu faktor penyebabnya. Selain itu, Kecamatan Bulu, Temanggung juga
merupakan wilayah yang relatif jarang mendapatkan penyuluhan atau pelatihan
siaga bencana khususnya bencana tanah longsor.
Karena pekerjaan masyarakat umumnya adalah petani, dan banyak dari
masyarakat yang tidak mengetahui pentingnya hutan untuk menjaga stabilitas
tanah, masyarakat cenderung sering membabat hutan untuk membuka lahan
pertanian. Meskipun musim hujan berlangsung setiap tahun, masyarakat
cenderung tidak menunjukkan adanya perkembangan mengenai siaga bencana
tanah longsor.
d. ANALISIS RESIKO
Dari ketiga hal tersebut diatas, bencana tanah longsor di Kecamatan Bulu,
Temanggung merupakan bencana yang relatif jarang terjadi, kemungkinan
terjadinya adalah satu kali per tahun yaitu saat musim hujan, dan bencana ini
bukan merupakan bencana rutin terjadi.
Tanah longsor yang terjadi di wilayah yang tidak luas. Dampak yang biasanya
terjadi pada bencana tanah longsor di Kecamatan Bulu, Temanggung diantaranya
adalah:
1. Dampak Sosial : masyarakat yang terkena bencana tanah longsor
biasanya berjumlah cukup sedikit, pada bencana yang terakir tercatat,
tidak ada korban jiwa, namun kerusakan yang terjadi cukup banyak,
yaitu beberapa rumah warga rusak parah.
2. Dampak Lingkungan : dampak yang terjadi diantaranya adalah
rusaknya lahan pertanian warga serta rusaknya rumah rumah warga.
Selain itu, tanah longsor yang terjadi di 2 desa tersebut diatas
menyebabkan akses jalan menuju desa tersebut terputus.
3. Dampak Ekonomi : karena akses jalan menuju desa tersebut putus
maka aktivitas perdagangan terganggu. Dan akibat rendahnya tingkat
ekonomi masyarakat, kerusakan rumah karena longsor tidak segera
diperbaiki karena tidak mampu.
4. Dampak Kesehatan : dampak tanah longsor dapat menyebabkan
putusnya akses kesehatan masyarakat. Mengingat lokasi Puskesmas
cukup jauh dan karena akses terputus, masyarakat tidak bisa
mendatangi puskesmas dan begitu juga petugas kesehatan kesulitan
mencapai daerah bencana.
Secara spesifik, penyakit yang mungkin timbul saat bencana tanah
longsor adalah penyakit yang berkaitan dengan sanitasi. Karena warga
kehilangan sumber air bersih, dan juga jamban di rumah mereka.
Secara teori mungkin muncul penyakit seperti diare, DBD, tifoid,
namun pada kejadian terakhir, penyakit tersebut tidak tercatat adanya
peningkatan jumlah penderita.

III. PROGRAM PERSIAPAN PRA-BENCANA


Persiapan sebelum terjadinya bencana merupakan sebuah tahapan yang sangat
penting karena disinilah program program edukasi dapat dijalankan agar kapasitas
masyarakat di daerah tersebut meningkat. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan
untuk persiapan menghadapi bencana tanah longsor di Kecamatan Bulu, Kabupaten
Temanggung.
1. Identifikasi jumlah KK dan jiwa di Kecamatan Bulu.
2. Pelatihan rutin tenaga kesehatan dan sukarelawan tentang kesiapsiagaan
manajemen bencana tanah longsor.
3. Penyuluhan kepada warga mengenai kewaspadaan terhadap datangnya
bencana tanah longsor, serta mengenali tanda-tanda akan datangnya tanah
longsor serta apa yang harus dilakukan ketika bencana tersebut datang
4. Mempermudah warga untuk mengetahui pusat informasi bencana dan
membuat media komunikasi efektif, cepat, tanggap antara warga dan seluruh
tenaga kesehatan serta pusat bantuan bencana
5. Memberi tahu warga agar segera mengungsi setelah ada pemberitahuan dari
pihak yang berwenang atas penyebaran informasi tentang tanah longsor.
6. Menjaring sukarelawan bencana
7. Perencanaan jumlah tenaga kesehatan yang dikerahkan saat bencana tanah
longsor terjadi dan pembagian kerjanya
8. Sweeping kondisi bangunan masyarakat yang berada di kawasan rawan
longsor.
9. Memasang papan peringatan terjadi potensi bencana yang bertuliskan “AWAS
LONGSOR!!!”
10. Penyiapan logistik medis dan non medis untuk bencana

IV. PROGRAM SAAT TERJADI BENCANA


1. Menyebarkan informasi melalu media efektif yang sudah ditentukan
antara warga dan tim yang terkait sesegera mungkin
2. Bersama warga menuju tempat evakuasi yaitu tempat yang jauh lebih
stabil dan tidak rawan longsor.
3. Mensortir korban bersama tim yang telah ditentukan beserta sukarelawan
lain dibidang kesehatan untuk membagi korban berdasarkan prioritas yang
membutuhkan pertolongan serta mengevakuasi korban
4. Membangun posko pengobatan darurat, sebaiknya dilakukan di rumah
ketua RW atau RT atau mushalla/masjid karena lokasi Puskesmas
Kecamatan Bulu cukup jauh dari lokasi.
5. Mencatat dan melaporkan data korban dan logistik yang kurang, dengan
membuat papan pengumuman berisi identitas korban yang ditemukan di
setiap papan posko bencana

V. PROGRAM REHABILITIASI PASCA-BENCANA


a. Pasca-Bencana:
- Memastikan keadaan sudah aman dan tidak terjadi longsor susulan
- Tetap melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan
- Mengidentifikasi dampak dari bencana tanah longsor seperti:
1. Kerusakan pada berbagai bentuk infrastruktur termasuk akses jalan
menuju desa rawan longsor.
2. Pencemaran air bersih.
3. Korban jiwa dan ancaman kemanusiaan.
4. Mewabahnya penyakit-penyakit.
- Menyediakan air bersih, terutama air minum ataupun air untuk membuat
makanan. Penyediaan makanan yang cukup, serta membagi rata seluruh
bantuan sandang dan pangan dari donatur.
- Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
- Rehabilitasi
1. Program pemulihan lingkungan pascalongsor, bila membutuhkan
alat berat segera berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum.
2. Program bersama masyarakat untuk membersihkan serta
membangun kembali wilayah yang rusak terkena longsor.
3. Berkoordinasi dengan Dinas Perhutanan dan Dinas Pertanian
setempat untuk mengisolir lereng-lereng gunung yang kemudian
akan direhabilitasi dan dikembalikan kembali kepada fungsi hutan
semula.

Logistik yang feasible untuk dipersiapkan di lapangan ketika terjadi longsor


b. Ambulance 1 buah
c. Mobil truk 5 buah
d. Ekskavator 2 buah
e. Kartu triase 50 unit
f. Long Spine board 5 buah
g. Tandu 10 buah
h. Collar Neck 20 buah
i. Tabung Oksigen 20 buah
j. APD penolong 50 buah
k. Obat-obatan 100 paket
l. Walkie Talkie 20 buah
m. Sound system 3 unit
n. Alat pembersih Milik warga
II. Pembiayaan
Pembiayaan untuk penanggulangan bencana ini dapat bersumber dari dana Gawat
Darurat Puskesmas Kecamatan Bulu Temanggug, BPBD Kabupaten Temanggung,
serta donatur yang mungkin berasal dari warga sekitar, atau dari perusahaan swasta
yang berniat memberikan dana.