Anda di halaman 1dari 9

CRITICAL BOOK REPORT

MK. GEOLOGI & GEOMORFOLOGI INDONESIA


PRODI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI

SKOR NILAI:
Geologi & Geomorfologi Indonesia
(Drs. Sriyono, M.Si)

NAMA MAHASISIWA : ISLAMIAH TRI ADINDA


NIM : 3183131032
DOSEN PENGAMPU : Drs. Nahor M. Simanungkalit, M.Si
MATA KULIAH : Geologi dan Geomorfologi Indonesia

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
Bulan Mei 2019
Kata Pengantar
Puji syukur diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya Critical
Book Review ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, adapun topik dari Critical Book
Review ini adalah “Geologi dan Geomorfologi Indonesia” karya Drs. Sriyono, M.Si. Penulis
berterima kasih kepada Bapak Drs. Nahor M. Simanungkalit, M.Si sebagai dosen pengampu
mata kuliah Geologi dan Geomorfologi Indonesia yang telah memberikan bimbingannya.
Dalam tugas Critical Book Report ini, penyusun menyadari bahwa tugas ini masih
banyak kekurangan oleh karena itu penulis meminta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan
dan penyusun juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas
ini.

Wassalam,
Medan, Mei 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Buku adalah salah satu sumber ilmu yang berisikan beragam isi dan topik bahasan yang
dirangkai dalam bentuk tulisan/ketikan. Sebagai ilmu, tentu bahasan dari buku akan
berbeda-beda sesuaihasil penelitian dari penulis buku seperti buku “Pengetahuan Sosial 1”
karya Didang Setiawan dan “Ilmu Pengetahuan Sosial” karya Achamad Slamet dkk.
Sehingga semakin banyak kita membaca maka semakin banyak pula ilmu pengetahuan
yang dapat kita dapatkan.
Akan tetapi penulis dari sebuah buku juga pasti memiliki kekurangan dan kelebihan
yang berbeda-beda pula dalam penulisannya seperti buku yang akan dibahas oleh penulis
dalam Critical Book review ini.
1.2 Tujuan
1. Meningkatkan kemampuan analisis penyusun dalam membaca suatu buku
2. Mengetahui berbagai jenis bahasan tentang topik yang dipermasalahkan dalam
Critical Book Review ini
1.3 Manfaat
Dapat menjadi pengetahuan bersama dan penilaian terhadap kemampuan para
penyusun oleh dosen pengampu.
1.4 Identitas Buku

1. Judul : Geologi &Geomorfologi Indonesia


2. Pengarang : Drd. Sriyono, M.Si
3. Penerbit : Ombak
4. Tahun terbit : 2017
5. Edisi : II
6. Jumlah Halaman : 256 halaman
7. ISBN : 978-602-258-190-1
BAB II
RINGKASAN BUKU
1. BAB II: Geotektonik Indonesia
Wilayah Indonesia bila ditinjau dari segi geotektonik, bukan merupakan suatu unit
geologi yangberdiri sendiri, melainkan pusat geologis yang Mencakup wilayah diantara
garis lintang 21oLU-11oLS dan antara garis bujur 95o15’BT-150o48’BT. Indonesia
merupakan wilayah yang belum stabil, apabila diteliti peta dunia ternyata gunung api
hanya ditemukan ditempat tertentu yaitu tempat yang disebut Ring of Fire. Dua jalur
gunung api besar bertemu di Indonesia, yaitu jalur gunung api mediteran dan jalur gunung
api Pasifik. Gunung api terbentuk karena magma mampu keluar ke permukaan bumi
melalui retakan, sesar, atau bagian lemah pada lapisan kerak bumi.
Menurut RW Van Bemmelen, ada hubungan erat antara aktivitas dan jenis magma
dengan struktur geologi. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa daur geologi ini akan
diawali dengan pembentukan geosinklin, dimana terjadi sedimentasi. Menurut J. Tuzo
Wilson (1963), kerak bumi atau litosfer terdiri dari 6-7 buah lempeng raksasa dengan
ketebalan 75-125 km. Penyebab gerakan lempeng adalah aliran dalam bahan plastis yang
panas dan magma cair yang bergerak keatas dan kearah luar dari Astenosfer.

2. BAB III: Perkembangan Geologis Indonesia


Daratan yang sekarang berupa gunung tinggi dapat berubah menjadi lut dan berikutnya
menjadi dratan lagi. Batuan yang paling dianggap paling tua di Indonesia adalah sekis
kristalin. Batuan sekis kristalin metamorfosa lebih tinggi dibandingkan dengan sedimen
yang secara statigrafi terletak diatasnya. Batuan sedimen di Indonesia yang tertua
berdasarkan fosil adalah silur. Diperkirakan bahwa Indonesia merupakan suatu daratan
seperti pada zaman Pra-kambrium yaitu daratan Aequinotia. Hubungan Stratigrafi antara
endapan silur dengan batuan yang lebih tua diketahui dengan jelas. Dalam batu gamping
terdapat fosil fusulina yang menunjukkan umur Permokarbon, dan flora karbon seperti
Calamites dan Pecopteris menunjukkan umur karbon. Dari endapan yang ditemukan di
Sumatera, Kalimantan dan Irian menunjukkan bahwa pada zaman karbon di Indonesia
terjadi susut laut.
Batuan Perm menunjukkan adanya genang laut selama zaman perm. Disumatera
endapan Perm diketemukan di pegunungan bukit barisan yaitu sekitar danau Singkarak.
Dipunggung geantiklinal semata-leti batuan berumur Perm juga ditemukan. Transgresi
yang dimulai dari zaman Perm menyebabkan daratan Gondwana dipisahkan oleh suatu
Geosinklinal dari daratan Eurasia yang dinamakan geosinklnal Tethys. Selama
Mesozoikum di Indonesia diketemukan cekungan yang sempit dan memanjang. endapan
permokarbon dan Trias di Maaya terdiri dari skali, batu gamping, dan batuan vukanik.
Berdasarkan kesamaan fasies batuan Trias di pulau Indonesia Timur menunjukkan pulau
tersebut termasuk dalam lingkungan sedimentasi yang mengalami penurunan.
Berdasarkan tempat diketemukan endapan yura menunjukkan bahwa selama zaman
yura terjadi genang laut hingga Indonesia eolah terlihat menjadi 3 (tiga) bagian, yakni
daratan sunda, philiphina termasuk Irian Utara dan daratan Australia oleh palung Anamba,
geosinklin banda, dan geosinkin papua.

3. BAB IV: Pembagian Wilayah Geologis Indonesia


Dangkalan sunda merupakan daerah dangkalan terluas di Asia, bahkan didunia sekitar
1.850.000 km2. Dari kenampaka yang ada, dangkalan sunda sebagian besar dianggap suatu
peneplain tua yang tenggelam akibat transgresi sesuadah zaman es. Fisiografis Sumatera
dibentuk oleh ragkaian pegunungan barisan di sepanjang sisi baratnya, yang memisahkan
antara pantai barat dan pantai timur. Kerangka utama pegunungan barisan dari sumatera
dimulai dari pegunungan Van Daalen yang membujur arah utara-selatan. Pada puncak
geantiklinal Barisan terdapat deretan lembah-lembah yang sempit dan cekungan vulkano-
tektoik yang berupa jalur sesar dan membentuk jalur bongkah semangko (Semangko Fault
Zona).
Pulau jawa sangat dipengaruhi oleh gunung-gunung api. Tulang punggung pulau jawa
dibentuk oleh rangkaian gunung api. Unsur-unsur struktur utama pulau jawa adalah
geantiklinal jawa selatan dan geantiklinal jawa utara. Bagian puncak geantiklinal jawa
telah runtuh melalui sesar-sesar, dan sekarang berwujud lekukan-lekukan dengan
didalamnya penonjolan-penonjolon setempat. Pegunungan Priangan Selatan yang
membentag dari Teluk Pelabuhan Ratu sampai Pulau Nusakambangan dengan lebar rata-
rata 50 km. Nusa Tenggara dibentuk oleh dua jalur geantiklinal, yang merupakan perluasan
ke barat dari busur banda. Kedua geantiklinal ini adalah bagian utara berupa busur dalam
yang vulkanis, dan bagian selatan berupa busur laut yang tak vulkanis. Bagian pulau Bali
terdiri dari Vulkan Kwarter yang masih aktif dan menunjukkan kelanjutan ompleks vulkan
muda dari zona solo di jawa.
4. BAB V: Kapita Selekta Geologi Kawasan/Daerah
Menurut analisis Van Bemmelen, Unit geologi Semarang dan sekitarnya dipengaruhi
oleh pusat gangguan kerak bumi yang berada dikompleks vulkan ungaran. Pada akhir
pleistosen lapisan sedimen marine dalam geosinklin jawa utara mulai dipres, dilihat, dan
terjadi pengangkatan sehingga membentuk punggungan serayu utara. Pada kala Pleistosen
tengah kegiatan magma lebih meningkat dan terjadilah aktivitas ekstrusi dan tumbuh
vulkan ungaran tertua. Pada awal kala Holosen sesudah peruntuhan kedua dan kerucut
ungara tua, terbentuklah kerucut ungaran muda yang masih ada sampai sekarang. Secara
garis besar keadaan geomorologi dan geologi Semarang dan sekitarnya dapat dibedakan
menjadi sub unit yaitu perbukitan selatan dan dataran aluvial pantai di utara. Dataran tinggi
Dieng dan sekitarnya terletak pada zona pegunungan serayu utara. Sesudah terjadi
peruntuhan dari vulkan-vulkan di zona pegunungan Serayu Utara, pada kala holosen
aktivitas vulkanis mulai giat kembali.
Sejarah Gunung kidul dan Parangtritis mulai dari kala Pliosen yang mengalami
pengangkatan. pada pleistosen tengah, jawa bagian selatan mengalami pengangkatan dan
terbentuklah suatu geantiklin besar yang membujur arah timur-barat, yang bagian
tengahnya terdapat di daerah Bukit Jiwo sekarang. Sejarah dataran tinggi Bandung dimulai
sejak kala Miosen. Dimana terjadi pembentukan atau pengendapan berbagai macam
batuan sedimen. Hal ini berdasarkan dari fosil ynag dijumpai dalam sedimen ini yang
menunjukkan kala Miosen.

5. BAB VI: Geomorfologi Pulau Jawa


Pulau jawa mempunyai sifat fisiografis yang karakteristik oleh karena beberapa
keadaan. Salah satu diantaranya adalah iklim tropis yang terdapat dipulau itu, yang sama
dengan daerah lain yang letaknya jalur fisiografis dengan vulkanisme yang kuat maka
pulau Jawa berbentuk sempit dan panjang dan terbagi dalam zona melintang yang tersebar
se[anjang pulau dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Dapat dibedakan tiga zona
melintang bagi seluruh pulau jawa yakni, zona selatan, zona tengah dan zona utara.
BAB III
PEMBAHASAN
Kelebihan dan Kekurangan Buku:
1. Dilihat dari aspek tampilan buku, buku yang direview sangatlah baik dan
menggambarkan pemandangan tentang geomorfologi, terdapat sipnosis pada bagian
belakang buku serta dilengkapi dengan biografi singkat tentang penulis. Akan tetapi
pemakaian kertas untuk buku masih terlalu tebal sehingga akan terasa berat walaupun
buku Geologi dan Geomorfologi memiliki jumlah halaman yang tidaklah terlalu
banyak.
2. Dari aspek layout dan tata letak sudah cukup bagus akan tetapi pada awalnya tata letak
judul dan sub-judul tampak beraturan namun setalah memasuki bab ke-3 dan seterusnya
peletakan sub-judul menjadi sedikit tidak beraturan, serta tata tulis terkesan sangat
ilmiah yang memasukkan bahasa asing sebagai penekanan kasus namun terdapat kata-
kta tidk baku maupun bahasa sing yang tidak disertai pengertian dalam bahasa
Indonesia.
3. Dari Aspek isi buku sudah sesuai dan mencakup persebaran umum geologi dan
geomorfologi yang ada di Indonesia dan menjelaskannya disertai beberapa contoh
tempat. Pada buku juga dapat ditemukan ringkasan/rangkuman disetiap bab dan soal
latihan yang mendukung pembaca untuk lebih memahami kajian yang tersedia pada
buku. Akan tetapi, kebanyakan contoh yang diambil oleh penulis adalah ontoh dari
wilayah pulau jawa dan penjelasan akan pulau jawa bahkan memilki penjelasan sendiri
dalam buku Geologi dan Geomorfologi Indonesia serta pada Bab terakhir tidak
ditemukan rangkuman dan soal latihan namun langsung kepada evaluasi akhir yang
membahas seluruh Bab.
BAB IV
PENUTUP
Kelayakan Buku :
Buku Geologi & Geomorfologi Indonesia karya Drs. Sriyono, M.Si memiliki
pembahasan yang sangat bagus baik umum maupun khusus, ditinjau dari hal tersebut buku
tersebut sangatlah layak untuk menjadi referensi dalam penulisan karya ilmiah lain yang
berhubungan dengan Geologi dan Geomorfologi Indonesia. Buku tersebut sangat mudah
dipahami walauun terdapat beberapa kosakata yang tidak baku maupun bahasa asing yang
rumit untuk diingat namun penjelasan buku ini telah mencakup seluruh hal dasar dan
sebagian hal khusus diwilayah Indonesia.

Saran
Untuk dapat menambah keakuratan dan ilmu pada karya ilmiah diharapkan untuk
menambah sumber referensi agar karya ilmiah menjadi lebih kaya akan ilmu pengetahuan
dan lebih lengkap pembahasan yang disajikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Sriyono, 2017. Geologi & Geomorfologi Indonesia. Yogyakarta: Ombak