Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Cendawan merupakan suatu mahlukhidup eukariot yang memeiliki ciri-ciri


berupa benang tunggal yang bercabang, tidak memeiliki klorofil, hidupnya
heterotrof dan memiliki berbagai macam bentuk yang berbeda-beda, tergantung
pada spesiesnya atau jenisnya. Cendawan banyk terdapat dilingkungan yang
bentuk nya bermacam- macam, yaitu seperti bola, gada, payung dan sebagainya.
Cendawan berada pada tempat yang lembab dan mengandung sisa-sisa organik,
pada kayu yang lapuk, tempat pembuangan sampah, terutama pada saat musim
pengujan. Jika dibandingkan dengan umbuhan tingkat tinggi, cendawan
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut; tubuh buah nya seperti tallus, sedangkan
tumbuhan bagian-bagiannya telah mempunyai akar, batang dan daun yang
sesungguhnya.( Subandi, 2009).

Cendawan merupakan organisme yang dihasilkan dari spora, biasanya


terbentuk di atas permukkan tanah atau pada suatu makan, contohnya pada roti
dan pada bonggol jagung. Cendawan merupakan mikroorganisme yang bernetuk
dengan batang dan dan tanpa batang, juga untuk mendeskripsikan bagian yang
berbuah yang gemuk dari jenis Ascomycota dan bagian berbuah mirip kayu atau
kulit dari berbagi jenis Basidiomycota, trgantung konteksnya. Bentuk cendawan
pun sangat beragam. ( Waluyo dan Lud, 2007).

Cendawan dapat berkembang biak baik secara seksual maupun aseksual.


Perkembangbiakan secara seksual terjadi ketika hifa dengan tipe perkawinan yang
berbeda bersentuhan, kemudian melebur membentuk zigot. Pekembangbiakan
secara seksual terjadi dengan cara membelah diri atau terbelah nya hifa, atau
dengan menyebarkan sepora haploid.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mengamati ciri-ciri koloni cendawan, dan
mengidentifikasi serta menentukan jenis cendawan yang diamati.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel


tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi seksual
atau aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri,
karena cara mendapatkan makanannya berbeda dengan organisme eukariotik
lainnya yaitu melalui absorpsi ( Gandjar 1999 ).

Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa
membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan
semu menjadi tubuh buah. Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun
dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan
sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik (Pelczar 2006).

Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa


mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan
kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang
tidak bersepta atauhifasenositik.Struktur hifa senositik dihasilkan oleh
pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan
sitoplasma (Pracaya 2007).

Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi


menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat;
haustoria dapat menembus jaringan substrat. Semua jenis jamur bersifat
heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa
dan mencernakan makanan. untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat
organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya
dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur
bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan
senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya (Subandi
2009).

Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit


fakultatif, atau saprofit. Parasit obligat merupakan sifat jamur yang hanya dapat
hidup pada inangnya, sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup.
Misalnya,Pneumonia carinii. Parasit fakultatif adalah jamur yang bersifat parasit
jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak
mendapatkan inang yang cocok (Subandi 2009).

Menurut Pelczar (2006) Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah


mempunyai ciri khas yaitu berupa benang tunggal atau bercabang – cabang yang
disebut hifa. Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir.
Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan
khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen. Fungi merupakan
organisme menyerupai tanaman , tetapi mempunyai beberapa perbedaan yaitu :

1. Tidak mempunyai kolorofil


2. Mempunyai dinding sel dengan komposisi berbeda
3. Berkembang biak dengan spora
4. Tidak mempunyai batang , cabang, akas dan daun
5. Tidak mempunyai system vesicular seperti pada tanaman
6. Bersifat multiseluler tidak mempunyai pembagian fungi masing-masing
bagian seperti pada tanaman.

Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Parasit
apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya dengan mengambil dari benda
hidup yang ditumpanginya, sedangkan bersifat saprofit apabila memperoleh
makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri. Fungi dapat
mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dari karbohidrat, sumber
nitrogen dari bahan organic atau anorganik, dan mineral dari substratnya. Ada
juga beberapa fungi yang dapat mensintesis vitamin – vitamin yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan biakan sendiri, tetapi ada juga yang tidak dapat mensintesis
sendiri sehingga harus mendapatkan dari substrat, misalkan tiamin dan biotin
(Gandjar 1999).

Klasifikasi cendawan, penamaan dalam taksonomi fungi selalu berubah-ubah


seiring dengan perkembangan dan hasil penelitian terakhir yang berdasarkan sifat
morfologi dan teori-teori biologis. Dengan demikian, dalam dunia fungi belum
ada sistem taksonomi yang seragam. Penyebutan pada setiap taksa sering berubah.
Spesies fungi dapat memiliki nama ilmiah bergantung dari cara siklus hidup dan
reproduksinya (Subandi 2010).

Kingdom jamur dibagi menjadi lima divisi:

1. Divisi Zygomycota.

Jamur ini dinamakan Zygomycetes karena membentuk spora istirahat yang


berdinding tebal yang disebut zigospora . Zigospora merupakan hasil peleburan
menyeluruh antar gametangium yang sama atau berbeda.

Ciri-ciri jamur zygomycota:

1. Tubuh multiseluler.
2. Habitat umumnya di darat sebagai saprofit.
3. Hifa tidak bersekat.
4. Reproduksi: vegetatif dan generatif

Contoh spesies: Mucor mucedo (biasa hidup di kotoran ternak dan roti), Rhizopus
oligosporus (jamur tempe).

2. Divisi Ascomycota

Divisi ini bercirikan talus yang terdiri dari miselium bersefa. Reproduksi
seksual membentuk askospora didalam askus.ada yang hidup sebagai saproba
(dalam tanah, kayui lapuk) atau sebagai parasit yang menimbulkan penyakit pada
tumbuhan.

Ciri-ciri jamur ascomycota:


1. Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multi seluler.
2. Ascomycotina, multiseluler, hifanya bersekat dan berinti banyak.
3. Habitatnya:
a. Parasit, banyak dimanfaatkan dalam pembuatan tape, kecap.oncom,
roti, ada pula yang diambil produknya karena menghasilkan
antibiotika. Contonya: Penicillium SP.
b. Saprofit, dapat menibulkan penyakit baik manusia maupun tumbuhan
dan hewan. Contohnya: Saccaromyces menyebabkan epitel mulut
putih, Aspergillus menyebabkan paru-paru, tanaman perkebunan
diserang oleh jamur.
c. Simbiosis, dengan ganggang membentuk Lichenes (Lumut kerak).
Ciri dari jamur ini dapat menghasilkan spora askus yatu spora hasil
reproduksi seksual yang berjumlah 8 spora yang tersmpan didalam
askus.

4. Reproduksi: vegetatif

Contoh spesies:

1. Sacharomyces cerevisae ; jamur ascomicetes yang bersel satu yang


hidupnya saprofit dan banyak dimanfaatkan, sehari-hari dikenal sebagai
ragi, berguna untuk membuat bir, roti maupun alkohol, mampu mengubah
glukosa menjadi alkohol dan CO2 dengan proses fermentasi.
2. Neurospora sitophila ; jamur oncom.
3. Peniciliium noJaJum dan Penicillium chrysogenum penghasil antibiotika
penisilin.
4. Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti berguna untuk
mengharumkan keju.
5. Aspergillus oryzae untuk membuat sake dan kecap.
6. Aspergillus wentii untuk membuat kecap

3. Divisi Basidiomycota

Devisi ini sebagian besar mikrosofis dan sering dijumpai di tanah dan di
hutan. Ciri utamanya adalah hifa septat denagn sambungan apit (clamp
connection).Spora seksualnya terbentuk pada basidium yang berentuk gada. Ciri
khas lainnya alat repoduksi generatifnya berupa basidium sebagai badan penghasil
spora.yang dimulai dari pertumbuah spora basidium atau pertumbuhan konidium .
Spora basidium atau spora konidium akan tumbuh menjadi benang hifa yang
bersekat dengan satu inti, kemudain hifa membentuk miselium. Hifa yang terdiri
dari dua strain yang berbeda (+ dan -) ujungnya bersinggungan dan dinding selnya
larut. Inti sel salah satu pindah ke sel yang lain, terjadilah sel dikariotik. Dari sel
ini akan tumbuh hifa dan mesilium dikariotik, miselium dikaritik akan tumbuh
menjadi tubuh buah yang berbetuk tertentu. Misalnya seperti payung. Contoh
spesies:

1. Volvariella volvacea : jamur merang, dapat dimakan dan sudah


dibudidayakan.
2. Auricularia polytricha : jamur kuping, dapat dimakan dan sudah
dibudidayakan.
3. Exobasidium vexans : parasit pada pohon teh penyebab penyakit cacar
daun teh atau blister blight.
4. Amanita muscaria dan Amanita phalloides: jamur beracun, habitat di
daerah subtropis.
5. Ustilago maydis : jamur api, parasit pada jagung.
6. Puccinia graminis : jamur karat, parasit pada gandum.

4. Divisi Deuteromycota

Nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian


karena pada jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara
generatif. Reproduksi jamur ini adalah vegetatif dengan mengahasilkan konidia
atau hifa khusus yang disebut konidifor. Jamur ini bersifat saprofit di banyak
jenis materi organik, sebagai parasit pada tanaman tingkat tinggi dan perusak
budidaya dan tumbuhan hias.

Contoh spesies: Jamur Oncom sebelum diketahui pembiakan generatifnya


dinamakan Monilia sitophila tetapi setelah diketahui pembiakan generatifnya yang
berupa askus namanya diganti menjadi Neurospora sitophila dimasukkan ke
dalam Ascomycotina.

Banyak penyakit kulit karena jamur (dermatomikosis) disebabkan oleh jamur


dari golongan ini, misalnya : Epidermophyton fluocosum penyebab penyakit kaki
atlit, Microsporum sp., Trichophyton sp. penyebab penyakit kurap. (Adi, Suroso,
Yudianto. 1992 Pengantar Cryptogamae. Bandung: Tarsito).
5. Divisi Mycophycophyta

Ciri-ciri :
1. Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana.
2. Hidup di tempat lembab dapat tumbuh menjadi amuba lendir (miksamuba)
dan spora kembara yang menghasilkan spora kembara.yang masing-
masing menjalar bebrapa lama mencari makanan.
3. Persatuan antara dua sel kembara berlangsung dengan perpaduan dengan
ujung yang tidak berflagel, kemudian menjadi amuba lendir. Plasmodium
yang terjadi dapat berassal dari satu zigot atau beberapa zigot. Zigot
tunbuh menjadi masa lendir atau plasmodium yang menjalar kemana-
mana. Kemudian plasmodium mengering dan membentuk tubuh-tubuh
buah yang bertangkai untuk menghasilkan spora kembali.
4. Spora kembara dapat menjadi amuba lendir jika keadaan kurang air,
amuba lendir menjadi kista. Dan berubah kembali setelah keadaan
membaik.
5. Mempunyai 2 fase hidup, yaitu:
6. Fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti amuba, disebut
plasmodium.
7. Fase tubuh buah.
8. Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang
disebut myxoflagelata.
9. Contoh spesies : Physarum polycephalum
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 5 April 2019 pada pukul 09.00
WIB sampai selesai di Laboratorium Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Jambi.

3.2 Alat dan bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu mikroskop, jarum Ose, cover
glass, kaca preparat, pipet tetes, tissue, dan bunsen. Bahan yang digunakan yaitu
biakan cendawan murni, aquades, dan alkohol.

3.3 Cara kerja

a. Menyiapkan alat dan bahan seperti objek glass, cover glass, jarum ose,
tissue serta biakan cendawan.
b. Mengambil cendawan dengan menggunakan jarum ose yang sudah dibakar
menggunakan bunsen (agar steril).
c. Setelah itu meletakkan cendawan yang diambil pada kaca preparat,
kemudian meneteskan beberapa tetes aquades pada objek lalu ditutup
menggunakan cover glass.
d. Mengamati kaca preparat yang sudah terdapat cendawan diatasnya
dibawah mikroskop.
e. Mendokumentasikan hasil yang sudah ditemukan dalam pengamatan.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

No. Gambar Keterangan

1. Penicilium :

 Hifa tidak bersekat


 Dinding sel tersusun dari kirim
 Koloni berwarna putih ber angsur
menjadi abu-abu
 Spora bulat, oval, atau silinder
 Punya 3 tipe hifa (stolon, rhizoid,
sporongiopor)
 Reproduksi seksual dan aseksual

4.2 Pembahasan

Pada praktikum ini dapat di identifikasi 2 jenis cendawan yaitu :

1.) Penicillum sp.

Kingdom: Fungi

Filum: Ascomycota

Kelas: Eurotiomycetes

Ordo: Eurotiales

Famili: Trichocomaceae

Genus: penicillium

Spesies : penicillium sp.


Penicillum sp. adalah genus fungi dari ordo Hypomycetes, filum
Ascomycota. Penicillium sp. memiliki ciri hifa bersepta dan membentuk badan
spora yang disebut konidium.

Penicillium sp. adalah jamur yang berkembang biak secara aseksual dengan
membentuk konidium yang berada di ujung hifa. Setiap konidium akan tumbuh
menjadi jamur baru. Konidium berwarna kehijauan dan dapat hidup di makanan,
roti, buah-buahan busuk, kain, atau kulit.

Penicillium caseicolum dapat memberi citarasa yang khas untuk keju


rokefort dan kamembert, sedangkan Penicillium notatum dan Penicillium
chrysogenum adalah pembuat penisilin karena bersifat racun yang dapat
menghasilkan zat mematikan, yaitu antibiotika. Sekarang ini antibiotika banyak
dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi
mikroba pada manusia.

2.) Rhizopus sp.

Kingdom : Fungi

Divisi : Zygomycota

Class : Zygomycetes

Ordo : Mucorales

Familia : Mucoraceae

Genus : Rhizopus

Species : Rhizopus sp.

Ciri morfologi dan struktur tubuh :

a. Terdiri dari benang-benang hifa yang bercabang dan berjalinan


membentuk miselium.
b. Hifa tak bersekat (bersifat senositik).
c. Septa atau sekat antar hifa hanya ditemukan pada saat sel reproduksi
terbentuk.
d. Dinding selnya tersusun dari kitin.
e. Koloni berwarna putih berangsur-angsur menjadi abu-abu.
f. Stolon halus atau sedikit kasar dan tidak berwarna hingga kuning
kecoklatan.
g. Sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah ke udara, baik tunggal
atau dalam kelompok (hingga 5 sporangiofora).
h. Rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak pada posisi yang sama dengan
sporangiofora.
i. Sporangia berwarna coklat gelap sampai hitam bila telah masak.
j. Kolumela oval hingga bulat, dengan dinding halus atau sedikit kasar
k. Rhizopus sp. mempunyai tiga tipe hifa :
1. Stolon; hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat
(misalnya roti).
2. Rhizoid; hifa yang menembus subtrat dan berfungsi sebagai
jangkar untuk menyerap makanan.
3. Sporangiofor; hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat
dan memiliki sporangia globuler (berbentuk bulat) diujungnya
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Cendawan atau Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa


atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, bereproduksi
seksual dan aseksual dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri,
karena cara mendapatkan makanannya berbeda dari organisme eukariotik lainnya
yaitu melalui absorbsi. Cendawan yang diperoleh ada 2 yaitu : Penicillium sp. dan
Rhizopus sp. Setiap cendawan yang diperoleh oleh masing-masing kelompok
mempunyai ciri-ciri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

5.2 Saran

Diharapkan supaya terlebih dahulu memperhatikan kebersihan dan kesterilan


sebelum melakukan praktikum agar tidak terjadi kontaminasi dan lebih efektif
dalam melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Iqbal,Ali , 2008. Peran Mikroorganisme Dalam Kehiduan.Penerbit Agkasa


Bandung:Bandung.

http://ilmuveteriner.com/klasifikasi-jamur-fungi.

http://nurussobah.web.ugm.ac.id/2015/05/10/laporan-praktikum-mikrobiologi-
dasar-acara-morfologi-jamur/

http://www.laporanpraktikum.com/2018/03/laporan-praktikum-
identifikasi_31.html?m=1

http://www.laporanpraktikum.com/2018/04/laporan-praktikum-pengecatan-
bakteri.html?m=1

https://www.slideshare.net/fitriwirnamasari/makalah-kelompok-2peranan-
mikroba-pada-bidang-pertanian

Anda mungkin juga menyukai