Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN SNNT(STRUMA NODUSA NON TOKSIK)

DI RUANG DAHLIA 2 RSUD R.A. KARTINI JEPARA

Disusun guna memenuhi tugas Program Profesi Ners


Stase Keperawatan Medical Bedah

Disusun Oleh :

Ita Nur Kholidah

N420174038

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS

TAHUN AKADEMIK 2017/2018


A. Definisi
Struma nodusa adalah pembesaran pada tiroid yang disebabkan akibat adanya nodul (Tonacchera,
Pirichhera dan Vitty, 2009), biasanya di anggap membesar bila kelenjar tiroid lebih dari 2x ukuran
normal stuma nodusa non toksik merupakan struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda
hipertiroidisme (Hermes dan Huysmans, 2009).
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada pasien eutiroid, tidak
berhubungan dengan neoplastik atau proses implasi (bambang sumantri Skep Ns 2011).
Struma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid yang biasana terjadi karena foikel-flikel
terisi koloid secara berlebihan, setelah bertahun-tahun folikel tumbuh semakin membesar, dengan
membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler (Smeltzer & Suzanne,2012)
Struma nodusa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba
nodul satu/ lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme(Hartini,2010)

B. Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tiroid merupakan faktor penyebab
pembedaran tiroid antara lain:
1. Defisiensi iodium :
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan
tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.
2. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat hormon tiroid
3. Penghambatan sintesis hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobal. dan kacang
kedelai)
4.Penghambatan sintesis hormon oleh obat-obatan (thiocarbamide, sulfonylyurea) (Brunicardi et al,
2010)

C. Klasifikasi
Struma nodusa dapat diklasifikasi berdasarkan beberapa hal, yaitu :
1. Berdasarkan jumlah nodul :
Bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodusa soliter (uninodusa), dan bila lebih dari satu
disebut struma multi nodusa.
2. Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radio aktif dikenal 3 bentuk nodul tyroid yaitu :
Nodul dingin, nodul hangat, dan nodul panas.
3. Berdasarkan konsistensinya :
Nodul lunak, kistik, keras dan sangat keras.
(Brunicardi et al, 2010)

D. Manifesasi klinis
1. Gagguan menelan
2. Peningkatan metabolisme karena kien hiperaktif dengan meningkatnya denyut nadi
3. Peningkatan simpat (jantung berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare,
gemetar dan kelelahan)
Pada pemeriksaan status lokalis struma nodusa, dibedakan dalam hal :
1. Jumlah nodul ; satu (soliter), atau lebih dari satu (multipel)
2. Konsistensi : lunak, kistik, keras dan sangat keras
3. Nyeri pada penekanan; ada atau tidak ada.
4. Perlekatan dengan sekitarnya; ada atau tidak ada.
5. Pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tyroid ; ada atau tidak ada.
(Brunicardi et al, 2010)

D. Patofisiologi
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon
tiroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap
paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar tiroid, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang
distimuler oleh TSH kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid.
Senyawa yang terbentuk dalam molekul diidotironiin membentuk T4 dan T3. T4 menunjukkan
pengaturan umpan balik negatif dari sekresi TSH dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang T3
merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis,
pelepasan dan metabolisme tiroid sekaligus menghambat sintesis T4 dan melalui rangsangan umpan balik
negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran
kelenjar tiroid.
E. Pathway
Kelainan metab.
Defisiensi iodium Penghambat sintesa hormon
kongenital
oleh zat kimia oleh obat

Struma nodusa non


toksik

Pembedahan Luka insisi (diskontinuitas Tumbuh di jaringan


jaringan tyroid
disfagia
Terapat luka General Pintu masuk
Mediator kimia
jahitan anastesi kuman
bradikulin, histamine Sulit menelan
Kuman
Depresi Perangsangan ujung Intake nutrisi
estetika mudh masuk
sistem syaraf perifer berkurang
pernafasan
gg.konsep Resiko infeksi Subtansia gelatinosa gg.nutrisi kurang
diri Penekanan dari kebutuhan tubuh
medula oblogata Thalamus korte
serebri

Penurunan reflek
Nyeri di
batuk
persepsiakan

Akumulasi
gg.raya nyaman
sputum
nyeri)

Resiko bersihan
jalan nafas tidak
efektif
F. Pemeriksaan penunjang
1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bemodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal.
2. Human trylogobulin (untuk keganasan tyroid)
3. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troskin) dan T3 (tridotironim) dalam batas
normal. Nilai normal T3 = 0,6-2,0, T4 = 4,6-11
4. Pada pemeriksaan USG dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul.
5. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsy aspirasi jarum halus yang hanya dapat
dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman.
6. Pemeriksaan sidik tiroid.
Hasil dapat dibedakan 3 bentuk yaitu :
a) Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Hal ini
menunjukkan fungsi yang rendah.
b) Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c) Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama
dengan bagian tiroid yang lain
G. Penatalaksanan
1. Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan
berat.
2. Edukasi
Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan
pemakaian garam beriodium.
3. Penyuntikan lipidol.
Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 %
tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang
kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc – 0,8 cc.
4. Tindakan operasi (strumektomi).
Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak
berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi
keganasan yang pasti akan dicurigai.
5. L-tiroksin selama 4-5 bulan
Preparat ini diberikan apabila terdapat nodul hangat, lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid ulng.
Apabila nodul mengecil, terapi dianjutkan apabila tidak mengecil bahkan membesar dilakukan
biopsy atau operasi.
6. Biopsy aspirasi jarum halus.
Dilakukan pada kista tiroid hingga nodul kurang dari 10mm

H. Penatalaksanaan Medis
1.Operasi / pembedahan
Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering dibandingkan
dengan yodium radioaktif. Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau
mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-obat anti tiroid.
Reaksi-reaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan tirotoksikosis parah
atau kekambuhan. Pada wanita hamil atau wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal
(suntik atau pil KB), kadar hormon tiroid total tampak meningkat. Hal ini disebabkan makin
banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar T4 sehingga
dapat diketahui keadaan fungsi tiroid.
Pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum pembedahan tidak
perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari. Kemudian diberikan obat
tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup memproduksi hormon dalam
jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan struma dilakukan 3-4
minggu setelah tindakan pembedahan.
2. Yodium Radioaktif
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid
sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium
radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam
kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak
meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik35 Yodium radioaktif diberikan
dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya
diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
3. Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa
pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan TSH
serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi
hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid
(tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol
I. Komplikasi
1. Gangguan menelan atau bernafas.
2. Gangguan jantung baik berupa gangguan irama hingga pnyakit jantung kongestif ( jantung
tidak mampu memompa darah keseluruh tubuh).
3. Osteoporosis, terjadi peningkatan proses penyerapan tulang sehingga tulang menjadi rapuh,
keropos dan mudah patah.

J. Konsep keperawaan
1. Pengkajian.
a. Pengumpulan Data
1) Identifikasi klien.
2) Keluhan utama klien.
Pada klien pre operasi mengeluh terdapat pembesaran pada leher. Kesulitan menelan dan
bernapas. Pada post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri
akibat luka operasi.
3) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga
mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu
dilakukan operasi.
4) Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok,
sebelumnya pernah menderita penyakit gondok.
5) Riwayat kesehatan keluarga.
Ada anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
6) Riwayat psikososial.
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan
klien merasa malu dengan orang lain.
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital
yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.
b. Kepala dan leher
Pada klien dengan pre operasi terdapat pembesaran kelenjar tiroid. Pada post operasi thyroidectomy
biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan
dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
c. Sistem pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena
adanya darah dalam jalan nafas.
d. Sistem Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang
tegang dan gelisah karena menahan sakit.
e. Sistem gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi
umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
f. Aktivitas/istirahat
Insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.
g. Eliminasi
Urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
h. Integritas ego
Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
i. Makanan/cairan
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering,
kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
j. Rasa nyeri/kenyamanan
Nyeri orbital, fotofobia.
k. Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin
digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan
kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan
berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
l. Seksualitas
Libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.

K. Diagnosa
I. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea,
pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal.
II. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema
jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
III. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan
pada sistem saraf pusat.
IV. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap
jaringan/otot dan edema pasca operasi.
V. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan
sering bertanya tentang penyakitnya.
VI. Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah sekunder
terhadap pembedahan.

L. Intrvensi keperawatan
Perencanaan keperawatan
No DX
Tujuan Intervensi Rasional
1. Resiko tinggi Setelah dilakukan  Monitor  Mengetahui
terjadi perawatan selama 1x24 pernafasan dan perkembangan dari
ketidakefektivan jamdiharapkan jalan nafas kedalaman dan gangguan
bersihan jalan klien dapat efektif dengan kecepatan nafas. pernafasan.
nafas kriteria hasil:  Dengarkan  Ronchi bisa
berhubungan Tidak ada sumbatan pada suara nafas, sebagai indikasi
dengan obstruksi trakhea barangkali ada adanya sumbatan
trakea, ronchi. jalan nafas.
pembengkakan,  Observasi  Indikasi adanya
perdarahan dan kemungkinan sumbatan pada
spasme laryngeal. adanya stridor, trakhea atau laring.
sianosis.
 Atur posisi  Memberikan
semifowler suasana yang lebih
nyaman.
 Bantu klien  Memudahkan
dengan teknik nafas pengeluaran sekret,
dan batuk efektif. memelihara bersihan
jalan nafas.dan
ventilsassi
 Melakukan  Sekresi yang
suction pada trakhea menumpuk
dan mulut. mengurangi
lancarnya jalan
nafas.
 Perhatikan klien  Mungkin ada
dalam hal menelan indikasi perdarahan
apakah ada sebagai efek
kesulitan. samping opersi.
2. Gangguan Setelah dilakukan  Kaji pembicaraan  Suara parau dan
komunikasi perawatan selama 1x24 klien secara periodik sakit pada
verbal jamdiharapkan rasa nyeri tenggorokan
berhubungan berkurang merupakan faktor
dengan cedera dg kriteria hasil: kedua dari odema
pita Dapat menyatakan nyeri jaringan / sebagai
suara/kerusakan berkurang, tidak adanya efek pembedahan.
laring, edema perilaku uyg  Lakukan  Mengurangi
jaringan, nyeri, menunjukkan adanya komunikasi dengan respon bicara yang
ketidaknyamanan nyeri. singkat dengan terlalu banyak.
. jawaban ya/tidak.
 Kunjungi klien  Mengurangi
sesering mungkin kecemasan klien
 Ciptakan  Klien dapat
lingkungan yang mendengar dengan
tenang. jelas komunikasi
antara perawat dan
klien.
3 Resiko tinggi Setelah dilakukan  Pantau tanda-  Hypolkasemia
terhadap perawatan selama 1x24 tanda vital dan catat dengan tetani
cedera/tetani jamdiharapkan klien adanya peningkatan (biasanya
berhubungan menunjukkan tidak ada suhu tubuh, takikardi sementara) dapat
dengan proses cedera dengan komplikasi (140 – 200/menit), terjadi 1 – 7 hari
pembedahan, terpenuhi/terkontrol dg kri disrtrimia, syanosis, pasca operasi dan
rangsangan pada teria hasil: sakit waktu bernafas merupakan indikasi
sistem saraf Tidak terdapat cedera (pembengkakan hypoparatiroid yang
pusat. paru). dapat terjadi sebagai
akibat dari trauma
yang tidak disengaja
pada pengangkatan
parsial atau total
kelenjar paratiroid
selama pembedahan.
 Evaluasi reflesi  Menurunkan
secara periodik. kemungkinan
Observasi adanya adanya trauma jika
peka rangsang, terjadi kejang.
misalnya gerakan
tersentak, adanya
kejang, prestesia.
 Pertahankan
penghalang tempat
tidur/diberi bantalan,
tmpat tidur pada
posisi yang rendah.
 Memantau kadar  Kalsium kurang
kalsium dalam dari 7,5/100 ml
serum. secara umum
 Kolaborasi membutuhkan terapi
Berikan pengobatan pengganti.
sesuai indikasi  Memperbaiki
(kalsium/glukonat, kekurangan kalsium
laktat). yang biasanya
sementara tetapi
mungkin juga
menjadi permanen.
4 Gangguan rasa Setelah dilakukan  Atur posisi semi  Mencegah
nyaman nyeri perawatan selama 1x24 fowler, ganjal hyperekstensi leher
berhubungan jamdiharapkan rasa nyeri kepala /leher dengan dan melindungi
dengan dengan berkurangdg kriteria hasil: bantal kecil integritas pada
tindakan bedah Dapat menyatakan nyeri jahitan pada luka.
terhadap berkurang, tidak adanya  Kaji respon  Mengevaluasi
jaringan/otot dan perilaku uyg verbal /non verbal nyeri, menentukan
edema pasca menunjukkan adanya lokasi, intensitas dan rencana tindakan
operasi. nyeri. lamanya nyeri. keefektifan terapi.
 Intruksikan pada  Mengurangi
klien agar ketegangan otot.
menggunakan tangan
untuk menahan leher
pada saat alih posisi .
 Beri makanan  Makanan yang
/cairan yang halus halus lebih baik bagi
seperti es krim. klien yang menjalani
kesulitan menelan.
 Lakukan  Memutuskan
kolaborasi dengan transfusi SSP pada
dokter untuk rasa nyeri.
pemberian analgesik.
5 Kurangnya Setelah dilakukan  Diskusikan  Mempertahankan
pengetahuan perawatan selama 1x24 tentang daya tahan tubuh
yang jamdiharapkanPengetahua keseimbangan klien.
berhubungan n klien nutrisi.
dengan salah bertambah.dgkriteria hasil  Hindari makanan  Kontraindikasi
interprestasi yang : yang banyak pembedahan
ditandai dengan Klien berpartisipasi dalam mengandung zat kelenjar thyroid.
sering bertanya program keperawatan goitrogenik misalnya
tentang makanan laut,
penyakitnya. kedelai, Lobak cina
dll.
 Konsumsikan  Memaksimal
makanan tinggi kan suplai dan
calsium dan vitamin absorbsi kalsium.
D.

6 Potensial Setelahdilakukan  Observasi tanda-  Dengan


terjadinya perawatan selama 1x24 tanda vital. mengetahui
perdarahan jamdiharapkanPerdarahan perubahan tanda-
berhubungan tidak terjadi dg kriteria tanda vital dapat
dengan hasil : digunakan untuk
terputusnya Tidak terdapat adanya mengetahui
pembuluh darah tanda-tanda perdarahan. perdarahan secara
sekunder dini.
terhadap  Pada balutan  Dengan adanya
pembedahan. tidak didapatkan balutan yang basah
tanda-tanda basah berarti adanya
karena darah. perdarahan pada
luka operasi.
 Dari drain tidak  Cairan pada drain
terdapat cairan yang dapat untuk
berlebih.( > 50 cc). mengetahui
perdarahan luka
operasi.
Daftar Pustaka

Manjoer, Arief.dkk,2009.Kapita Selecta Kedokteran , jilid I Media Aesculapius: Jakarta


Smeltzer (2012), Buku ajar keperawatan medical bedah. Jakarta: EGC
Syarifuddin, drs. AMK. 2010. Anatomi Fisiologi untuk mahasiswa keperawatan, edisi 3. EGC :
Jakarta.