Anda di halaman 1dari 99

Corporate Enabler Academy

PENGENALAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN BAGI PRAJABATAN

1. LATAR BELAKANG

Sejak dahulu kala sampai saat ini manusia adalah penghuni Bumi dengan berbagai
aktivitas yang dilakukannya, ada yang sifatnya memelihara dan ada pula yang merusak.
Bumi masih tetap sama ukurannya sejak diciptakan, tapi isinya termasuk manusia
bertambah dari tahun ke tahun, saat ini penduduk dunia mencapai 7 miliar orang,
diperkirakan pada 2050 akan mencapai 9 miliar. Bertambahnya jumlah penduduk tersebut,
berarti kebutuhan konsumsi meningkat dan pertumbuhan ekonomi juga ikut terdorong.
Karena itulah membuat lingkungan hidup menjadi tertekan dikarenakan sumber daya alam
akan menjadi prioritas untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Dalam upaya perbaikan pada upaya perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup
yang dapat berkelanjutan maka dibuatlah UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) sebagai pengganti dari UU Pengelolaan
Lingkungan UU 23 tahun 1999. Hal ini disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan
kondisi/ daya dukung lingkungan Indonesia, dimana dalam konsep ini ini memerlukan
daya prediksi secara ilmiah (scientific prediction) sehingga mampu memberikan prakiraan
dan peringatan dini akan adanya risiko / dampak negative lingkungan. Dengan demikian
dapat pula menyiapkan sarana dan prasarana untuk mencegah, mengurangi dan
mengendalikan dampak negative dan mengembangkan dampak postive bagi Lingkungan.
Hal ini sejalan dengan konsep pemerintah yang dituang melalui UU Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup No.32/2009 yang mendefinisikan Lingkungan hidup
sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya , keadaaan dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

2. Kebijakan Keselamatan, Kesehatan Kerja, Keamanan dan


Perlindungan Lingkungan (K3L)
Kebijakan K3L telah disusun oleh Divisi K3L PLN Kantor Pusat dan ditetapkan oleh
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
1
Corporate Enabler Academy

Direktur Utama pada tanggal 3 November 2015. Kebijakan K3L merupakan komitmen
Direksi dan Manajemen dalam bidang K3L. Adapun isi dari Kebijakan K3L adalah sebagai
berikut :

3. Maksud dan Tujuan Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan

3.1. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Ketenagalistrikan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


2
Corporate Enabler Academy

Dalam rangka melaksanakan pembangunan ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan


berwawasan lingkungan, maka dalam pelaksanaannya semua pembangunan dan
operasional ketenagalistrikan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku . Perubahan konsep peraturan hukum sektoral kedalam konsep hukum
pengelolaan yang bersifat ekologis dan bersifat komprehensif dengan
memeperhatikan daya dukung lingkungan guna pelaksanakanaan pembangunan
berkelanjutan berwawasan lingkungan hidup.

Untuk mencapai sasaran pembangunan ketenagalistrikan yang andal, aman, efisien


dan berwawasan lingkungan maka perlu dipersiapkan antara lain:
1. Sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi
2. Sumber daya alam
3. Peraturan perundang-undangan terkait perlindungan dan pengelolaan Lingkungan
hidup

Hal ini dikarenakan kegiatan-kegiatan pada kegiatan ketenagalistrikan berpotensi


menimbulkan berbagai masalah ataupun dampak lingkungan yang perlu dicegah,
dikurangi maupun dikendalikan agar pembangunan dan perlindungan lingkungan
dapat berjalan serasi dan harmonis.

Eksploitasi Sumber daya alam adalah suatu keharusan demi memenuhi kebutuhan
hidup manusia, namun agar dapat berkelanjutan diperlukan pengelolaan dan
pengendalian sehingga menggunakan energi dengan bijak juga merupakan suatu
keharusan

Kegiatan ketenagalistrikan memiliki dampak Lingkungan sejak tahap Konstruksi.


Dampak Lingkungan kegiatan ketenagalistrikan dapat berupa limbah / emiten yang
dikeluarkan baik berupa Emisi Udara, Air Limbah, Limbah B3 & Non B3 dari kegiatan
Pembangkit, sedangkan dari kegiatan transmisi berupa Medan Magnet dan Medan
Listrik.

Untuk melindungi lingkungan hidup dan mengarahkan bagaimana pengelolaan suatu


kegiatan agar dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan hidup seminimal mungkin
maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkan berbagai Instrumen Kebijakan, mulai

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


3
Corporate Enabler Academy

dari UU, PP, Permen sampai Ketetapan Gubernur sebagai Landasan Hukum dalam
mengelola lingkungan hidup.
Pemerintah telah menetapkan peraturan-peraturan yang mengatur tentang Baku Mutu dari
setiap dampak Lingkungan yang dihasilkan kegiatan. Payung hukum peraturan
Lingkungan berupa UU 32 tahun 2009 yang menyempurnakan UU 23 tahun 1999.
Hal-hal yang perlu dicermati dari UU 32/2009 antara lain :
 Masalah Lingkungan saat ini sudah masuk kedalam ranah hukum pidana, sehingga
tidak hanya terkait denda, tetapi juga hukuman kurungan badan.
 Pasal-pasal yang terkait dng kegiatan ketenagalistrikan
a. Pemahaman semua pihak terkait UUPPLH tahun 2009 dengan kegiatan konstruksi
dan operasi Pembangkit
b. Sanksi-sanki Pidana yang tercantum dalam UUPPLH 32 tahun 2009 yang harus
dipahami oleh penanggung jawab Kegiatan

Tujuan pengelolaan Lingkungan kegiatan ketenagalistrikan :


1. Mentaati peraturan pemerintah terkait Lingkungan;
2. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan Lingkungan bidang
ketenagalistrikan yang ANDAL, AMAN dan AKRAB LINGKUNGAN.
3. Mewujudkan salah satu Misi PT PLN (Persero) yaitu menjalankan kegiatan
ketenagalistrikan yang berwawasan Lingkungan.

Adapun Misi PLN adalah sebagai berikut :


1. Menjalankan Bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada
kepuasan Pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat
3. Mengupayakan agar tenagalistrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan

Kegiatan pembangkit listrik dibutuhkan karena aktivitas manusia dalam memenuhi


kebutuhan hidupnya memerlukan energi listrik. Untuk membangkitkan tenaga listrik
dibutuhkan sumber energy sebagai bahan bakarnya, dimana sampai saat ini sebagian

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


4
Corporate Enabler Academy

besar energy tersebut diperoleh dengan melakukan eksploitasi Sumber daya Alam berupa
energi fosil (Batubara, Gas Alam, Minyak Bumi). kegiatan ini berakibat pada:
3.1.1. Meningkatnya suhu bumi yang dikenal dengan Global warming. Kenaikan
temperatur bumi berpengaruh pada berubahnya iklim (climate change).
3.1.2. Berkurangnya ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan
manusia dan makhluk hidup lainnya akibat eksploitasi dan pencemaran.
3.1.3. Pencemaran yang terjadi akibat kegiatan yang dilakukan manusia

3.2. “Faktor lingkungan” masuk pada strategi bisnis, dikarenakan:


a. Berpotensi untuk meningkatkan keuntungan
b. Management untuk mengurangi biaya dan risiko
c. Meningkatkan nilai dan reputasi – environmental stewardship

3.3. Pembangunan di bidang Kegiatan kelistrikan antara lain :


3.3.1. Pembangunan pembangkit listrik,
Baik Thermal maupun Hydro akan menimbulkan dampak baik positip maupun
negatip pada lingkungan tergantung dari jenis dan besarnya kapasitas pembangkit
tersebut. Komponen lingkungan yang akan terkena dampak juga tidak selalu sama
untuk pembangunan pembangkit yang sejenis, hal ini sangat dipengaruhi oleh pola
kehidupan masyarakat dan sekitarnya sehingga teknologi pengendaliannya juga
berbeda.
Pengelolaan dan Pemantauan dilakukan secara rutin sesuai yang tercantum dalam
matriks RKL-RPL ataupun UKL-UPL dimaksudkan untuk melihat sejauh mana
efektifitas pelaksanaannya dan dapat digunakan sebagai acuan bahwa tindakan
pengendalian dan pengelolaan dapat mencegah, mengurangi dan pengendalian
dampaknya sudah tepat.

3.3.2. Pembangunan Jalur Transmisi,


Baik Saluran Udara tegangan Tinggi (SUTT) maupun Saluran Udara Tegangan
Ekstra Tinggi (SUTET), dampak yang terjadi adalah keresahan masyarakat
terutama apabila jaringan tersebut melewati rumah warga. (dampak sosial) akibat
medan magnet, medan Listrik dan corona serta adanya pembatasan pendirian
bangunan dan tanaman yang tumbuh secara vertikal. Upaya pengendalian dan
pengelolaannya seperti yang tercantum dalam matriks RKL-RPL atau UKL-UPL
yang telah disetujui oleh komisi Lingkungan yang berada di BPLHD/BLH/ Dinas
Lingkungan yang berfungsi sebagai pengawas bagi kegiatan tersebut, misalnya:
3.3.2.1. Sosialisasi tentang manfaat SUTT /SUTET bagi penyaluran listrik ke

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


5
Corporate Enabler Academy

daerah/wilayah/desa yang belum terlistriki


3.3.2.2. Melakukan pengukuran besaran medan magnet dan medan Listrik secara
kontinyu
3.3.2.3. Memantau kondisi tapak tower terutama pada lahan yang laju erosinya
tinggi serta menetapkan batasan ruang bebas (ROW) dibawah jalur SUTT
dan SUTET yang harus dipenuhi.

PT PLN (Persero) memiliki misi untuk menjalankan core bisnis nya yaitu melistriki
kegiatan di Indonesia untuk kepentingan Industri, Bisnis, Sosial, Publik, Rumah dari sejak
listrik dibangkitkan di Pembangkit, disalurkan melalui jaringan transmisi dan distribusi
sampai ke konsumen dengan tetap memperhatikan factor berwawasan Lingkungan.

Apa saja yang harus dikelola dan bagaimana contoh cara pengelolaannya ?
Pengelolaan Lingkungan dilakukan terhadap semua dampak Lingkungan yang
dihasilkan kegiatan. Sisa dari kegiatan usaha ketenagalistrikan yang berupa limbah
wajib dikelola sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam pelaksanaan pembangunan dan operasional kegiatan ketenagalistrikan, baik
Pembangkitan Listrik maupun Penyaluran dan distribusinya bila tidak diantisipasi
dengan program Perlindungan, pencegahan dan pengelolaan lingkungannya akan dapat
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
6
Corporate Enabler Academy

memberikan dampak pada perusahaan,semua potensi dampak tersebut wajib dianalisa


dan di evaluasi serta tercantum dalam dokumen Lingkungan (Amdal, UKL-UPL). mitigasi
dari semua dampak yang wajib dikelola sejak dari tahanPra-Konstruksi dijabarkan dalam
Matriks Pengelolaan dan Pemantauannya dengan jelas dan acuan bakumutu yang
harus dipenuhi. hal ini harus benar2-benar dipahami oleh seluruh jajaran manajemen
Pemrakarsa selaku penanggung jawab kegiatan,

Dengan diberlakukannya peraturan perundang-undangan yang baru , dimana masalah


pencemaran Lingkungan saat ini sudah masuk dalam kategori kesalahan Pidana, maka
Awarness dari semua pihak perlu ditingkatkan agar tidak sampai terjadi masalah
pencemaran Lingkungan akibat karena tidak/belum dipahaminya aturan-aturan
Lingkungan yang wajib dipenuhi oleh Pemrakarsa.

3.4. SUMBER DAMPAK LINGKUNGAN DARI PROSES PRODUKSI:


Kegiatan pembangkit listrik menghasilkan beberapa limbah yang wajib di kelola, dipantau
dan dilaporkan secara periodik kepada instansi yang memberikan Izin Lingkungan,
Parameter ini harus tercantum dalam Matriks RKL-RPL atau UKL-UPL yang dimiliki oleh
Unit tsb. Adapun dampak/limbah yang dihasilkan/ditimbulkan dari kegiatan tersebut antara
lain:
a. Limbah Cair  potensi pencemaran ke badan air/tanah
b. Limbah Padat  potensi pencemaran ke air/tanah
c. Limbah Gas  potensi pencemaran ke udara (atmosfer)
d. Kebisingan  potensi pencemaran ke udara
e. Kebauan  potensi pencemaran ke udara

Dampak yang timbulkan akan berdampak pada kelangsungan usaha perusahaan.


Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
7
Corporate Enabler Academy

Penjelasannya seperti yang digambarkan pada skema dibawah ini:

Untuk bidang ketenagalistrikan dampak Lingkungan utama berasal dari kegiatan


Pembangkitan dan kegiatan penyaluran / transmisi. Adapun penjelasan limbah dan
dampak Lingkungan dari kedua kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

3.4.1. Limbah dari Proses Pembangkit Listrik seperti digambarkan dibawah ini

3.4.2. Dampak Lingkungan dari Proses Transmisi seperti digambarkan berikut :

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


8
Corporate Enabler Academy

Dampak Lingkungan utama dari kegiatan transmisi / penyaluran tenaga listrik


berupa medan magnet dan medan listrik.

Apakah limbah itu ?


Secara umum : Limbah adalah sisa dari suatu usaha/kegiatan
Limbah dihasilkan dari suatu proses transformasi dari bahan menjadi produk dimana
dalam prosesnya terdapat perubahan karakteristik dan sifat dari bahan yang berpotensi
merusak/mencemari Lingkungan, Atau,
Limbah adalah semua bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber-sumber aktivitas
manusia maupun proses alam yang belum / tidak memiliki nilai ekonomis.

Mengapa Limbah Harus dikelola? Adapun tujuan pengelolaan limbah adalah


sebagai berikut :
 Limbah harus dikelola dengan alasan lingkungan, bahwa limbah dapat (berpotensi)
mencemari lingkungan kehidupan manusia
 Limbah harus dikelola dengan proses dan pendekatan untuk memperkecil dampak
melalui upaya memperpanjang nilai tambah sebagai produk/produk sampingan
sebelum nantinya limbah diolah
 Upaya yang dilakukan adalah melalui pendekatan reduce dengan 3R (Reuse,
Recycle dan Recovery)
 Dengan bertambahnya nilai manfaat limbah maka pemakaian sumberdaya dapat
diefesiensikan pemanfaatannya
 Pengolahan limbah sendiri harus menggunakan proses dan pendekatan teknologi
yang akrab Lingkungan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


9
Corporate Enabler Academy

Hirarki dan Sistem Pengelolaan Limbah


Hirarki Pengelolaan Limbah adalah:
a. Mencegah
b. Mengurangi
c. Menggunakan kembali
d. Mendaur ulang
e. Menggunakan Kembali
f. Mengolah secara aman

Kategori Limbah
Jenis limbah dikategorikan sebagai berikut :
1. Berdasarkan wujudnya dibagi menjadi :
- Limbah cair
- Limbah padat
- Limbah gas
2. Berdasarkan tingkat bahayanya, dibagi menjadi :
- Limbah Non B3
- Limbah B3

3.5. Kewajiban Pelaku Usaha / Kegiatan Terhadap Upaya Pelestarian


Lingkungan Hidup
Untuk menjamin pelestarian fungsi Lingkungan hidup, sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup serta Peraturan Pemerintah di bidang PPLH, setiap usaha dan/ atau kegiatan
memiliki kewajiban sebagai berikut :
3.5.1. Wajib memiliki Analisis mengenai dampak Lingkungan (AMDAL) dan UKL/UPL dan
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
10
Corporate Enabler Academy

Izin Lingkungan;
3.5.2. Dilarang melanggar baku mutu Lingkungan (BML) dan Kriteria Baku Kerusakan
Lingkungan Hidup (KBKL);
3.5.3. Dilarang melakukan pembuangan limbah ke media Lingkungan hidup (air, tanah
dan udara) tanpa suatu keputusan izin;
3.5.4. Wajib melakukan pengolahan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan (mis. Air
limbah dan LB3);
3.5.5. Wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun;
3.5.6. Wajib melakukan perubahan izin Lingkungan, jika pemrakarsa berencana
melakukan perubahan usaha dan/ atau izin Lingkungan.

3.6. Bentuk Perlindungan Lingkungan


3.6.1. Bentuk Perlindungan Lingkungan di kegiatan pembangkit
Bentuk perlindungan Lingkungan yang dapat dilakukan di kegiatan pembangkit
diantaranya sbb :
 Environmental Tree Planting, Melakukan penanaman pohon sebagai salah
satu cara mengurangi pencemaran udara baik untuk menyerap CO2, peredam
kebisingan maupun untuk memberikan kesan rindang, sejuk, dan indah.
 Treatment of Waste Water, Melakukan pengolahan air limbah melalui Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL). Air limbah yang dikeluarkan ke Lingkungan
harus memenuhi Baku Mutu Limbah Cair sesuai peraturan yang berlaku.
 Mengurangi kandungan Sulfur dalam gas Emisi melalui Flue Gas Desulfurizer
(FGD). Kandungan Sulfur emisi dalam FGD bereaksi dengan Senyawa Kapur
(Ca(OH)2) sehingga membentuk CaSO4.XH2O atau Gypsum. Namun
Gypsum sendiri termasuk kategori limbah B3 dalam PP 101 Tahun 2014 yang
harus dikelola sebagai limbah B3.
 Debu di emisi dikurangi dengan mengalirkan emisi melalui Dust Collector,
sehingga diharapkan debu yang terkandung dalam emisi berkurang.
 NOx di emisi dikurangi melalui peralatan Denitrasi gas emisi.
 Kebisingan diukur dan dilakukan upaya-upaya pencegahan / perlindungan
sehingga peralatan tidak menghasilkan suara bising yang tinggi.
 Pengambilan air tanah diambil dari area yang dalam untuk melindungi
permasalahan Warm drainage problems prevention measure.

3.6.2. Bentuk Perlindungan Lingkungan di Kegiatan Transmisi


Untuk melindungi masyarakat dan Lingkungan dari dampak medan magnet dan
medan listrik dari kegiatan transmisi listrik adalah mengatur ROW (vertical dan
horizontal) untuk masing-masing peruntukan lahan. Jarak minimal antara

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


11
Corporate Enabler Academy

andongan dengan titik tertinggi benda di lahan tersebut. Jarak minimal ROW diatur
dalam Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2015 tentang Ruang Bebas dan Jarak
Bebas Minimum Pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), Saluran Udara
Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Saluran Udara Tegangan Tinggi Arus Searah
(SUTTAS) untuk Penyaluran Tenaga Listrik.
3.7. Dasar Hukum
3.7.1. Undang-Undang PPLH No. 32 Tahun 2009
Payung hukum di bidang Lingkungan adalah UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Adapun Struktur dalam
Undang-undang No.32 tahun 2009 :
a. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlidungan dan Pengelolaan
Lingkungan yang sering disebut UU 32/2009 atau UU PPLH, merupakan
pengganti UU 23/1999.
b. Mengatur masalah Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan yang wajib
dilakukan oleh Pemrakarsa kegiatan dengan tujuan untuk mencegah,
mengurangi dan mengendalikan dampak negatif pada lingkungan di area
lokasi kegiatan tersebut dibuat.
c. Penjelasan mengenai masalah pelanggaran Lingkungan yang saat ini masuk
dalam kategori pelanggaran Pidana.
d. Jumlah pasal penyusunnya adalah 127, adapun struktur didalamnya adalah
sbb:

No Bab Isi Bab Pasal


I Ketentuan Umum 1
II Asas, Tujuan, dan Ruang Lingkup 2-4
III Perencanaan 5 - 11
IV Pemanfaatan 12
V Pengendalian 13 – 56
VI Pemeliharaan 57
VII Pengelolaan B3 dan Limbah B3 58 – 61
VIII Sistem Informasi 62
IX Tugas dan Wewenang Pemerintah dan Pemda 63-64
X Hak, Kewajiban dan Larangan 65-69
XI Peran Masyarakat 70
XII Pengawasan dan Sanksi Administratif 71-83
XIII Penyelesaian Sengketa Lingkungan 84-93
XIV Penyidikan dan Pembuktian 94-96
XV Ketentuan Pidana 97-123
XVI Ketentuan Peralihan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


12
Corporate Enabler Academy

3.7.2. Pasal-pasal yang mengatur sanksi Pidana Lingkungan di UU

32/2009
Bila sebelumnya masalah pencemaran Lingkungan hanya masuk dalam kategori
hukum Perdata (yaitu hanya ada sanki denda/ganti rugi dll yang berupa material)
maka dalam UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup yang baru ini masalah Lingkungan masuk dalam ranah hukum Pidana
(selain hukuman denda juga ada sanksi hukuman kurungan/penjara).

3.7.2.1. Pasal Pengendalian Pecemaran

Pasal 1 angka 14 : Konsekuensi


Pencemaran lingkungan hidup adalah a. Jika melanggar baku mutu air, baku mutu air
masuk atau dimasukkannya makluk laut dan baku mutu udara ambien dipidana
hidup, zat, energi dan/atau komponen dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun
lain ke dalam lingkungan hidup oleh dan paling lama 10 tahun atau dengan denda
kegiatan yang melebihi baku mutu paling sedikit Rp. 3 milyar dan paling banyak
lingkungan hidup yang telah di tetapkan. Rp. 10 milyar.
Baku Mutu Lingkungan: b. Jika melanggar baku mutu air limbah, baku
a. baku mutu air mutu emisi dan baku mutu gangguan
b. baku mutu air limbah dipidana dengan pidana penjara paling lama
c. baku mutu air laut 3 tahun atau dengan denda paling banyak
d. baku mutu udara ambien
e. baku mutu emisi Rp. 3 milyar. Tindak pidana ini hanya
f. baku mutu gangguan dikenakan jika sanksi administrasi telah
dijatuhkan atau pelanggaran lebih dari satu
kali.

3.7.2.2. Pasal yang mengatur Izin Lingkungan

Pasal 36 ayat (2) Konsekuensi

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


13
Corporate Enabler Academy

Izin lingkungan diterbitkan a. Konsep AMDAL harus berubah, karena untuk menetapkan
berdasarkan keputusan izin lingkungan harus terdapat informasi teknis yang cukup
kelayakan lingkungan atau detil untuk dapat menentukan kewajiban/larangan bagi
rekomendasi UKL/UPL penerima izin.
b. Titik penaatan, desain sistem pengendalian pencemaran,
sistem pengelolaan limbah B3, karakteristik air limbah dan
limbah, serta teknologi pengelolaan sudah harus ditentukan
dalam AMDAL.
c. Usaha dan/atau kegiatan yg beroperasi tanpa izin
lingkungan dipidana paling singkat 1 tahun dan denda
paling sedikit Rp. 1 milyar.

3.7.2.3. Penegakan Hukum Lingkungan Hidup digambarkan dalam Matriks


sbb:

Sanksi
Denda Penjara
Pelanggaran (milyar (tahun)
No Pasal
(Oleh pelaku kegiatan/usaha)
rupiah)
Mak Min Mak Min

1 98/1 Sengaja dilampauinya baku mutu udara


ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau 10 3 10 3
kriteria baku kerusakan lingkungan hidup
2 98/2 Pelanggaran sama dgn 98/1 menyebabkan
orang luka dan/atau bahaya kesehatan 12 4 12 4
manusia
3 98/3 Pelanggaran sama dgn 98/1 menyebabkan
15 5 15 5
orang luka berat dan/atau mati
4 99/1 Karena kelalaian berakibat dilampauinya baku
mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu
3 1 3 1
air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup
5 99/2 Pelanggaran sama dgn 99/1 menyebabkan 6 2 6 2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


14
Corporate Enabler Academy

orang luka dan/atau bahaya kesehatan


manusia

6 99/3 Pelanggaran sama dgn 98/1 menyebabkan


9 3 9 3
orang luka berat dan/atau mati

7 100/1 Melanggar baku mutu emisi, air limbah atau


3 - 3 -
baku mutu gangguan

8 101 Melepaskan dan atau mengedarkan produk


rekayasa genetik ke media lingkungan yang
3 1 3 1
bertentangan dengan perpu atau izin
lingkungan

9 102 Melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin 3 1 3 1

10 103 Menghasilkan limbah B3 tanpa melakukan


3 1 3 1
pengelolaan

11 104 Melakukan dumping limbah dan atau bahan ke


3 - 3 -
media lingkunganhidup tanpa izin

12 105 Memasukkan limbah ke dalam wilayah NKRI 12 4 12 4

13 106 Memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah


15 5 15 5
NKRI

14 107 Memasukkan B3 yang dilarang menurut


15 5 15 5
undang-undang ke dalam wilayah NKRI

15 108 Melakukan pembukaan lahan dengan cara


10 3 10 3
membakar

16 109 Melakukan kegiatan/usaha tanpa izin


3 1 3 1
lingkungan

17 113 Memberikan informasi palsu, menyesatkan,


menghilangkan informasimerusak informasi,
1 - 1 -
memberikan informasi yang tidak benar
kaitannya dengan pengawasan dan penyidikan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


15
Corporate Enabler Academy

18 114 Tidak melaksanakan paksaan pemerintah 1 - 1 -

19 115 Sengaja mencegah, menghalang halangi,


menggagalkan pelaksanaan tugas 0.5 - 1 -
pengawas/penyidik LH

Pidana Tambahan (Pasal 119) adalah sbb :


Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang ini, terhadap badan
usaha dapat dikenakan pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa:
1. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
2. Penutupan seluruh atau sebagian tempat usaha dan/atau kegiatan;
3. Perbaikan akibat tindak pidana;
4. pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau
5. Penempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) tahun.

3.7.3. PP 27/2012 tentang Izin Lingkungan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup (UUPPLH) telah mengatur dan memberikan ruang yang luas
bagi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (PPLH). Melalui asas-asas partisipatif yang menjadi salah satu
asas dalam UUPLH ini, setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif
dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup baik secara langsung maupun tidak langsung.
Proses pengambilan keputusan yang sangat penting dan strategis dalam bidang
PPLH adalah proses izin lingkungan. Proses izin lingkungan yang diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
mengintegrasikan proses permohonan dan penerbitan izin lingkungan dalam
proses Amdal dan UKL-UPL. Produk akhir dari proses Amdal atau UKL-UPL
adalah izin lingkungan.

Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33, Pasal 41, dan Pasal 56 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
maka Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 2012 tentang
Izin Lingkungan sebagai dasar pelaksanaannya.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


16
Corporate Enabler Academy

Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan
usaha dan/atau kegiatan yang wajib Amdal atau UKL-UPL dalam rangka
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk
memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.

Izin Lingkungan merupakan “Filter” investasi hijau. Pelestarian lingkungan hidup


pada dasarnya tidak menolak pembangunan, yang ditentang adalah cara-cara
membangun yang tidak mengindahkan keberlanjutan fungsi lingkungan/ekosistem

Pengawasan lingkungan dilakukan untuk memastikan agar kewajiban dan


persyaratan yang tercantum dalam izin lingkungan dilaksanakan secara konsisten
oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan

3.7.4. Pengelompokan Peraturan MENLH dalam PP 27/2012 Izin Lingkungan


Untuk mempermudah pemahaman PP27/2012 maka dikelompokkan sbb:
3.7.4.1. Tata Cara Penyusunan Dokumen Lingkungan,
 Dokumen Amdal (Pasal 6)
 Formulir Upaya engelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan
Lingkungan hidup (UKL-UPL) (Pasal 16)
3.7.4.2. Keterlibatan Masyarakat
Tata cara pengikutsertaan masyarakat dalam Amdal (Pasal 9 ayat (6))
3.7.4.3. Perubahan Izin Lingkungan
Kriteria perubahan usaha dan/atau kegiatan dan tata cara perubahan
keputusan kelayakan lingkungan, perubahan rekomendasi UKL-UPL dan
penerbitan perubahan izin lingkungan (Pasal 50 ayat (8));
3.7.4.4. RDTR & Pengecualian Penyusunan Dokumen Amdal
Pengecualian untuk usaha dan/atau kegiatan lokasinya berada dalam
kabupaten/kota yang telah memiliki RDTR (Pasal 13 ayat (3));
3.7.4.5. LPJP & Sistem Kompetensi Amdal
LPJP Dokumen Amdal (Pasal 10 ayat (3));
Sertifikasi kompetensi penyusun Amdal, penyelenggaran Diklat, LSK
Amdal (Pasal 11 ayat (6));
3.7.4.6. Tata Laksana Penilaian/Pemeriksaan Dokumen LH, Penerbitan Izin
Lingkungan & KPA
 Tata cara penilaian kerangka acuan (Pasal 26);
 Tata cara penilaian Andal dan RKL-RPL (Pasal 35)
 Pemeriksanaan UKL-UPL (Pasal 41);
 Tata cara penerbitan izin lingkungan (Pasal 52);
 Tata kerja komisi penilai Amdal (Pasal 63);
3.7.4.7. Tata Cara Pembinaan & Evaluasi Kinerja (Pasal 67)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


17
Corporate Enabler Academy

3.7.5. Daftar Peraturan Hukum Lingkungan di bidang Ketenagalistrikan


Beberapa dasar hukum atau Peraturan Lingkungan Hidup terkait Sektor
Ketenagalistrikan adalah sebagai berikut :

3.7.5.1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup.
3.7.5.2. Izin Lingkungan
a. PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
b. Permen LH No. 14 Tahun 2010 tentang Dokumen Lingkungan Hidup
Bagi Usaha Dan / Atau Kegiatan yang telah Memiliki Izin Usaha dan/
Atau Kegiatan Tetapi belum Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup.
c. Permen LH No. 5 Tahun 2012 tentang jenis usaha atau kegiatan yang
wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(Pengganti PermenLH nomor 11 Tahun 2006).
d. Permen LH No. 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan
Dokumen Lingkungan Hidup.
3.7.5.3. Udara
a. PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
b. 2) Kepbapedal No. 205 tahun 1996 tentang Pedoman Teknis
Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


18
Corporate Enabler Academy

c. Permen LH No. 21 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber


Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/ atau Kegiatan Pembangkit Tenaga
Listrik Tenaga Thermal.
d. KepMen LH No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
e. KepMen LH No. 49 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Getaran.
3.7.5.4. Air
a. PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air.
b. Permen LH No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah
Domestik.
c. Permen LH No. 111 Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat
dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air
Limbah ke Air atau Sumber Air.
d. Permen LH No. 12 Tahun 2006 tentang Perizinan Pembuangan
Limbah ke Laut.
e. Permen LH No. 8 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha dan/ atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal.

3.7.5.5. Limbah B3
a. Kepbapedal No. 1 Tahun 1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan
Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3.
b. Kepbapedal No. 2 Tahun 1995 tentang Dokumen Limbah B3.
c. Kepbapedal No. 3 Tahun 1995 tentang Persyaratan Teknis
Pengelolaan Limbah B3.
d. Permen LH No. 18 Tahun 2009 tentang Tata cara Perizinan
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
e. Permen LH No. 14 Tahun 2013 tentang Simbol dan Label Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun.
f. Permen LHK No. 55 Tahun 2015 tentang Tata Cara Uji Karakteristik
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
g. Permen LHK No. 63 Tahun 2016 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Penimbunan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Fasilitas
Penimbusan Akhir.

3.7.6. Pemenuhan Peraturan Lingkungan hidup


Setiap Usaha dan /atau kegiatan bertanggung jawab untuk ikut dalam pelaksanaan
Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup pada area lokasi kegiatan
tersebut berada, untuk itu maka:
3.7.6.1. Dalam setiap Usaha dan/atau kegiatan setiap Pemrakarsa wajib

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


19
Corporate Enabler Academy

melakukan Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan hidup yang


dituangkan dalam dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPL ataupun
SPPL) dan Izin Lingkungan yang telah disetujui.
3.7.6.2. Pelaksanaan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan sesuai dengan
kegiatan yang harus dilaksanakan sejak tahap Konstruksi sampai Pasca
Operasi, adapun parameter yang harus di kelola, baku mutu acuannya
dan metoda analisis/perhitungan seperti yang dijabarkan dalam Matriks
Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.
3.7.6.3. Pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan tersebut wajib dilaporkan
secara berkala kepada Penerbit SKKL dan Izin Lingkungan (KLH,
BPLHD, BLH, Dinas Lingkungan) dan instansi Pengawas lain yang terkait
dengan jenis usaha dan/atau kegiatannya.
3.7.6.4. Unit operasional perlu menyusun RKAPLH (Rencana Kerja dan Anggaran
Pengelolaan Lingkungan Hidup) tahunan segabai Acuan pelaksanaan
AMDAL/UKL-UPL yang dimilikinya.

4. Tata Kelola Pengelolaan Lingkungan


Tata Kelola Pengelolaan Lingkungan di PT PLN terdiri dari Tahap Perencanaan, Tahap
Pra-Konstruksi & Konstruksi, serta Tahap Operasi bahkan Tahap Pasca Operasi.

4.1. Tata Kelola Pengelolaan Lingkungan

a. Tahap Perencanaan
Rencana pembangunan pembangkit / transmisi baru maupun pengembangan disusun
oleh bagian Perencanaan Sistem Korporat ke dalam dokumen RUPTL. Selanjutnya
bagian Perencanaan Korporat menyusun Rencana Jangka Panjang (RJP) dan
Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) sebagai program strategis dan
penjabaran dari RUPTL tersebut. Selain di tingkat korporat, RJP dan RKAP juga
disusun oleh Unit sesuai dengan RUPTL terkait pengembangan kegiatan
ketenagalistrikan di daerahnya.

Unit Pembangunan setelah memperoleh informasi kegiatan ketenagalistrikan yang


direncanakan di daerahnya dari RUPTL, dan setelah mendapatkan penugasan dari
PLN Kantor Pusat selanjutnya mengurus Izin Prinsip, Izin Kesesuaian Tata Ruang, Izin
Penetapan Lokasi dll. Izin-izin tersebut sebagai salah satu dokumen yang dibutuhkan
saat penyusunan dokumen Lingkungan. Staf Lingkungan Unit Pembangunan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


20
Corporate Enabler Academy

selanjutnya mengurus dokumen Lingkungan dan izin lingkungan sesuai peraturan


Lingkungan.

Dokumen & Izin Lingkungan berisi kewajiban perusahaan dalam hal ini Unit dalam
mengelola dampak Lingkungan yang ditimbulkan dari kegiatan yang akan
dilaksanakan, serta memantau hasil pengelolaan Lingkungan yang telah
diimplementasikan.

b. Tahap Pra-Konstruksi & Konstruksi


Pada tahap Konstruksi, Unit Pembangunan harus membangun sarana & prasarana
pengelolaan lingkungannya meliputi instalasi pengolahan air limbah, tempat
penyimpanan sementara limbah B3, landfill jika ada, sarana sampling emisi,
pengelolaan kebisingan dan getaran sesuai ketentuan dokumen Lingkungan yang
dimiliki dan peraturan Lingkungan. Selanjutnya Unit Pembangunan mengurus
perizinan terkait pengelolaan Lingkungan yang dibutuhkan contohnya IPLC, Izin
Penyimpanan Sementara LB3, dll. Unit Pembangunan harus dapat memastikan
bahwa seluruh perizinan yang dibutuhkan telah siap saat limbah dihasilkan saat
konstruksi maupun tahap commissioning sebelum serah terima proyek ke unit operasi.
Apabila perizinan Lingkungan lengkap maka unit operasi diharapkan dapat
mengoperasikan unitnya secara tenang. Terkadang pengawasan Lingkungan dari
instansi Lingkungan maupun kepolisian bisa masuk pada tahap konstruksi. Untuk itu
Unit Pembangunan harus dapat memastikan bahwa pengelolaan Lingkungan sudah
taat sejak tahap konstruksi.

c. Tahap Operasi
Setelah kegiatan ketenagalistrikan diserahterimakan dari Unit Pembangunan ke Unit
Operasi, maka tanggung jawab pengelolaan Lingkungan saat ini beralih kepada Unit
Operasi. Bagian Lingkungan Unit Operasi sebaiknya mengecek kelengkapan
perizinan dan pelaporan saat serah terima unit untuk memastikan Unit aman secara
Lingkungan untuk dioperasikan. Selanjutnya Unit Operasi wajib melanjutkan
pengelolaan dan pemantauan pada tahap operasi. Laporan pelaksanaan pengelolaan
& pemantauan Lingkungan wajib diserahkan secara rutin kepada instansi terkait
sesuai isi dokumen Lingkungan yang telah dimiliki. Pada tahap operasi, beberapa
kegiatan pembangkit akan diaudit kinerja Lingkungan oleh KLHK / BLH melalui
program PROPER. Penilaian PROPER dilaksanakan setiap tahun dengan periode

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


21
Corporate Enabler Academy

penilaian Juli – Juni tahun berikutnya. Unit yang tidak diikutsertakan PROPER juga
akan dilakukan audit pengawasan oleh BLH/BLHD untuk menilai tingkat ketaatan Unit
terhadap peraturan Lingkungan khususnya perizinan dan ketaatan terhadap dokumen
Lingkungan yang dimiliki.

d. Tahap Pasca-Operasi
Tahap Pasca Operasi adalah tahap dimana kegiatan dihentikan dan tidak ada kegiatan
operasional yang dilakukan. Dokumen Lingkungan kegiatan yang baik sebaiknya juga
mengatur kegiatan pengelolaan Lingkungan pada tahap pasca operasi. Kadangkala
pada saat pasca operasi mesin pembangkit dipindahkan ke lokasi lain, dan bangunan
yang ada dibongkar atau dijadikan untuk peruntukan lainnya seperti gudang.

Pada tahap pasca operasi, penetapan pemberhentian kegiatan pengelolaan limbah B3


harus diurus penetapannya ke kementerian LHK.

4.2. Alur Pengelolaan Limbah B3


Untuk pengelolaan limbah B3 berikut digambarkan alur pengelolaannya sejak tahap
Perencanaan kegiatan sampai Pasca Operasi.

4.3. Jenis Pelaksanaan Kegiatan Lingkungan Hidup di PLN


Kegiatan Lingkungan di PLN terdiri dari 3 jenis kegiatan yaitu sbb :
a. Kegiatan yang diwajibkan oleh Peraturan Lingkungan Hidup :
1) Penyusunan dokumen Lingkungan
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
22
Corporate Enabler Academy

2) Pelaksanaan pengelolaan Lingkungan sesuai dengan RKL


3) Pelaksanaan pengelolaan Lingkungan sesuai dengan RPL
4) Pelaporan Pelaksanaan pengelolaan Lingkungan ke instansi terkait
5) Adendum AMDAL / UKL-UPL
6) Pemenuhan persyaratan PROPER (program penilaian peringkat kinerja
perusahaan di bidang pengelolaan LH)
b. Kegiatan yang dipersyaratkan oleh peraturan pendanaan dari luar negeri :
1) Penyusunan EIA / IEE
2) Penyusunan dokumen Land Acquisition and Resettlement Plan (LARP),
Indigenous People Development Plan (PDP)
3) Penyebarluasan informasi pengelolaan Lingkungan dan social
c. Kegiatan sukarela
1) Penerapan sistem manajemen Lingkungan ISO 14001
2) Pengelolaan Perubahan Iklim dan Kredit Karbon
5. Izin Lingkungan, Jenis-Jenis Dokumen Lingkungan & Izin PPLH
5.1. Izin Lingkungan bagi suatu kegiatan :
5.1.1. IZIN LINGKUNGAN merupakan ‘Jantung-nya’ Sistem Perizinan di Indonesia.
Sesuai dengan ketentuan PUU PSDA dan LH, Izin lingkungan merupakan
persyaratan bagi diperolehnya izin PPLH dan Izin Usaha dan/atau Kegiatan;
5.1.2. Secara legal, izin usaha dan/atau kegiatan tidak dapat diterbitkan tanpa
adanya izin lingkungan. Izin Lingkungan merupakan hasil dari Proses Amdal
atau UKL-UPL yang disusun oleh Pemrakarsa dan dinilai oleh KPA atau diperiksa
oleh Instansi LH;
5.1.3. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pemrakarsa wajib memiliki
izin PPLH, izin lingkungan tersebut mencantumkan jumlah dan jenis izin PPLH;
5.1.4. Izin lingkungan hidup berakhir bersamaan dengan berakhirnya izin usaha dan/atau
kegiatan yang berarti bahwa Izin Lingkungan berlaku selama usaha dan/atau
kegiatan tetap berlangsung sepanjang tidak ada perubahan dan tidak dicabut

5.2. Keterkaitan AMDAL dengan Izin Lingkungan


Suatu kegiatan yang tidak/belum memiliki AMDAL / UKL-UPL tidak dapat mengurus Izin
Lingkungan, dimana Izin Lingkungan ini sebagai salah satu persyaratan dalam pengajuan
Izin Usaha.

Flow chart keterkaitan AMDAL/UKL-UPL dengan Izin Lingkungan dan Izin-izin lainnya
dapat dijelaskan dengan gambar dibawah ini:

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


23
Corporate Enabler Academy

5.3. PROSES IZIN LINGKUNGAN


Proses izin lingkungan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012
tentang Izin Lingkungan mengintegrasikan proses permohonan dan penerbitan izin
lingkungan dalam proses Amdal dan UKL-UPL. Produk akhir dari proses Amdal atau UKL-
UPL adalah izin lingkungan.

Izin Lingkungan merupakan awal dari proses izin lainnya dan digambarkan sbb:

5.3.1. Isi Pasal 40, PP 27/2012


a. Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan/atau
kegiatan;
b. Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan;
c. Dalam hal usaha mengalami perubahaan, penanggung jawab kegiatan wajib
memperbarui izin lingkungan
d. Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKLH) Untuk AMDAL
atau Rekomendasi UKL-UPL, Izin Lingkungan & Izin PPLH, serta Izin Usaha
dan/atau kegiatan menjadi Izin Lingkungan yang terdiri dari:

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


24
Corporate Enabler Academy

a) Persyaratan dan kewajiban dalam SKKLH dan Rek. UKL-UPL


b) Persyaratan dan kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri, Gub, atau
bupati/walikota
c) JUMLAH DAN JENIS IZIN PPLH
d) Berakhirnya Izin Lingkungan

5.4. Integrasi antara SKKL & Izin Lingkungan dengan Izin PPLH
Muatan Izin Lingkungan
Muatan SKKL
a. Dasar pertimbangan dikeluarkannya a. Persyaratan dan kewajiban yang dimuat
penetapan; dan dalam keputusan kelayakan lingkungan
b. Pernyataan kelayakan lingkungan
hidup atau rekomendasi UKL-UPL;
usaha dan/atau kegiatan; b. Persyaratan dan kewajiban yang
c. Persyaratan dan kewajiban
ditetapkan oleh Menteri, gubernur, atau
pemrakarsa sesuai dengan yang
bupati/walikota; dan
tercantum dalam RKL-RPL. c. Berakhirnya izin lingkungan
d. Kewajiban yang harus dilakukan oleh d. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang
pihak terkait direncanakan pemrakarsa wajib memiliki
e. Jumlah dan jenis izin PPLH yang
izin PPLH, izin lingkungan tersebut
diwajibkan (Jika wajib memiliki izin
mencantumkan jumlah dan jenis izin
PPLH)
PPLH.

5.4.1. Kelayakan Lingkungan terdiri dari 10 Kriteria, yaitu:


a. Rencana tata ruang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. Kebijakan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta
sumber daya alam (PPLH & PSDA) yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan;
c. Kepentingan pertahanan keamanan;
d. Prakiraan secara cermat mengenai besaran dan sifat penting dampak dari
aspek biogeofisik kimia, sosial, ekonomi, budaya, tata ruang, dan kesehatan
masyarakat pada tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi, dan pasca operasi
Usaha dan/atau Kegiatan;
e. Hasil evaluasi secara holistik terhadap seluruh dampak penting sebagai
sebuah kesatuan yang saling terkait dan saling mempengaruhi sehingga
diketahui perimbangan dampak penting yang bersifat positif dengan yang
bersifat negatif;
f. Kemampuan pemrakarsa dan/atau pihak terkait yang bertanggung jawab
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
25
Corporate Enabler Academy

dalam menanggulanggi dampak penting negatif yang akan ditimbulkan dari


Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan dengan pendekatan teknologi,
sosial, dan kelembagaan;
g. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menganggu nilai-nilai sosial atau
pandangan masyarakat (emic view);
h. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak akan mempengaruhi dan/atau
mengganggu entitas ekologis yang merupakan:
1) Entitas dan/atau spesies kunci (key species);
2) Memiliki nilai penting secara ekologis (ecological importance);
3) Memiliki nilai penting secara ekonomi (economic importance); dan/atau
4) Memiliki nilai penting secara ilmiah (scientific importance).
i. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menimbulkan gangguan terhadap
usaha dan/atau kegiatan yang telah ada di sekitar rencana lokasi usaha
dan/atau kegiatan;
j. Tidak dilampauinya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
dari lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan, dalam hal terdapat perhitungan
daya dukung dan daya tampung lingkungan dimaksud

5.1.1. Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota


bersamaan dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup
(Pasal 47, PP 27/2012), ketentuan ini berlaku bagi persetujuan kegiatan wajib
AMDAL atau UKL-UPL.
Izin Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan (Izin PPLH)
5.1.1.1. Izin PPLH diurus dan dipastikan telah terbit saat kegiatan akan
beroperasi / menghasilkan limbah.
5.1.1.2. Izin PPLH diterbitkan berdasarkan persyaratan dan kewajiban izin
lingkungan yang harus ditaati oleh perusahaan
5.1.1.3. Izin PPLH, antara lain:
1) pembuangan air limbah ke air atau sumber air;
2) pemanfaatan air limbah untuk aplikasi ke tanah
3) penyimpanan sementara limbah B3;
4) pengumpulan limbah B3;
5) pemanfaatan limbah B3;
6) pengolahan limbah B3;
7) penimbunan limbah B3;
8) pembuangan air limbah ke laut;
9) dumping ke media lingkungan;

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


26
Corporate Enabler Academy

10) pembuangan air limbah dengan cara reinjeksi ke dalam Formasi


11) Dan/izin Venting
5.1.1.4. Semua Izin yang diterbitkan atau yang diperoleh oleh kegiatan usaha
harus dilakukan monitoring terhadap ketentuan-ketentuan yang ada
didalamnya dan dilaporkan ke pada badan pengawas secara periodik.

5.1.2. Kewajiban Pemegang Izin Lingkungan


Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan
informasi yang terkait dengan PPLH secara benar, akurat, terbuka dan tepat
waktu, menjaga keberlanjutan fungsi LH, menaati ketentuan BML dan/atau KBKL
(Pasal 68 UU 32/2009)

5.1.3. Pemegang izin lingkungan berkewajiban untuk:


5.1.3.1. Menaati persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam izin lingkungan;
5.1.3.2. Membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan terhadap
persyaratan dan kewajiban dalam izin lingkungan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota;
5.1.3.3. Menyediakan dana penjamin untuk pemulihan fungsi lingkungan
hidup sesuai ketentuan PUU; - (diberlakukan jika sudah ada PP
yang mengatur tentang dana penjaminan)
5.1.3.4. Laporan disampaikan secara berkala setiap 6 (enam) bulan atau sesuai
dengan yang tercantum dalam Matriks RKL-RPL atau UKL-UPL

5.1.4. Perubahan izin lingkungan


5.1.4.1. Dasar hukumnya : isi Pasal 50 ayat (2) huruf (c), ayat (4) dan ayat (8) PP
No. 27 Tahun 2012
5.1.4.2. Hanya bila ada rencana perubahan usaha dan/atau kegiatan yang
BERPENGARUH terhadap lingkungan yang wajib mengajukan
perubahan izin lingkungan.
5.1.4.3. Kriteria perubahan kegiatan :
1) Alat-alat Produksi
2) Kapasitas Produksi
3) Spesifikasi teknik
4) Sarana Usaha dan/atau kegiatan
5) Perluasan Lahan dan Bangunan
6) Waktu dan Durasi Operasi
7) Usaha dan/atau Kegiatan dalam Kawasan yang belum dilingkup
8) Perubahan Kebijakan Pemerintah
9) Perubahan LH yang mendasar akibat peristiwa alam atau akibat lain
5.1.4.4. Kriteria Perubahan yang lebih detail dimaksudkan untuk menentukan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


27
Corporate Enabler Academy

perubahan yang perlu dilakukan, yaitu :


1) Penyusunan AMDAL / UKL-UPL BARU
2) Adendum Andal & RKL-RPL

5.2. Jenis Dokumen Lingkungan


Berdasarkan UU 32 tahun 2009 Jenis dokumen Lingkungan sesuai dengan rencana
usaha dan/ atau kegiatan ada 3 jenis yaitu sbb :
5.2.1. AMDAL, untuk rencana kegiatan / usaha yang berdampak penting, dan/ atau
rencana usaha dan/ atau kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan lindung
maupun yang berbatasan dengan kawasan lindung.
5.2.2. UKL-UPL, untuk rencana kegiatan/ usaha yang tidak berdampak penting.
5.2.3. SPPL (Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan), untuk rencana kegiatan /
usaha di luar AMDAL/ UKL-UPL dan/ atau kegiatan golongan ekonomi lemah.

5.3. Mekanisme Penentuan Jenis Dokumen Lingkungan


Peraturan yang mengatur criteria wajib AMDAL terhadap rencana usaha / kegiatan adalah
Permen LH No. 5 tahun 2012.
5.3.1. PERMENLH 05 /2012 tentang Jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki
analisis mengenai dampak Lingkungan hidup (AMDAL) yang disahkan tanggal 10
April 2012 yang menjelaskan mengenai:.
5.3.1.1. Ketentuan penyusunan AMDALl dan UKL-UPL bagi berbagai jenis
kegiatan yang akan dilakukan;
5.3.1.2. Berisi ketentuan Amdal dan UKL-UPL bagi berbagai jenis kegiatan yang
akan dilakukan dengan tujuan untuk meminimalisasi dampak buruk
terhadap pelestarian Lingkungan hidup. juga untuk mempertahankan
daya dukung Lingkungan dalam dalam pembangunan berkelanjutan.
5.3.1.3. Daftar dari jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki
analisi mengenai dampak Lingkungan hidup;
5.3.1.4. Dokumen AMDAL dan UKL-UPL wajib dibuat sebelum kegiatan
dilaksanakan untuk dasar pengajuan izin – izin lain terkait kegiatan
tersebut.
5.3.2. Penjelasan AMDAL :
5.3.2.1. Kajian mengenai dampak penting susaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada Lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.
5.3.2.2. Dilengkapi Matriks Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan yang wajib
dilakukan oleh Pemrakarsa dengan tujuan untuk mencegah, mengurangi
dan mengendalikan dampak negatip yang terjadi dengan tepat dan akurat
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
28
Corporate Enabler Academy

sebagai janji Pemrakarsa dalam membantu mempertahankan daya


dukung Lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

5.3.3. Penjelasan UKL-UPL :


5.3.3.1. Singkatan dari Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan (UPL).
5.3.3.2. Merupakan Upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
tidak wajib melakukan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)
5.3.3.3. Dilengkapi dengan Matriks pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan yang akan dilakukan sebagai janji pemrakarsa untuk
menjaga kelestarian lingkungan di area lokasi kegiatannya
5.3.3.4. Dokumen UKL-UPL dibuat oleh Pemrakarsa terhadap usaha dan/atau
kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap Lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan
Usaha dan/atau Kegiatan.

5.3.4. Dampak Lingkungan: adalah perubahan lingkungan yang disebabkan oleh


lamanya suatu kegiatan berlangsung. Biasanya dampak lingkungan ini mulai
terasa setelah proses/perlakuan/kegiatan tersebut berlangsung lama.

5.3.5. Pemrakarsa: adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas
suaru rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan pada suatu lokasi
dan berpotensi menimbulkan dampak pada lingkungan.

Mekanisme Penentuan Jenis Dokumen Lingkungan adalah sebagai beriku t:

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


29
Corporate Enabler Academy

Proses penapisan melalui Permen LH No. 05 tahun 2012 tentang Kriteria Wajib
AMDAL. Penanggung jawab rencana usaha/ kegiatan wajib menyusun AMDAL
apabila termasuk dalam list criteria wajib AMDAL sesuai Permen LH No. 05 tahun
2012. Apabila tidak termasuk ke dalam criteria tersebut maka penanggung jawab
usaha / kegiatan dapat menyusun UKL – UPL atau SPPL, hal ini disesuaikan
dengan Perda / Surat Edaran / Peraturan Menteri dari sektor terkait yang mengatur
tentang criteria kegiatan yang wajib UKL-UPL dan SPPL.

Berdasarkan Permen LH No. 5 tahun 2012 terdapat 14 Bidang Kegiatan yang


terdiri atas 72 Jenis Kegiatan yang wajib AMDAL. Bidang kegiatan wajib AMDAL
adalah sebagai beriku t :

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


30
Corporate Enabler Academy

5.3.6. Kriteria Wajib AMDAL bangunan gedung berdasarkan Permen LH No. 05 Tahun
2012 adalah sebagai berikut :
5.3.6.1. Kegiatan Utama : Skala / Besaran Bangunan Gedung : luas bangunan >
10.000 m2 atau luas lahan > 5 hektar.
5.3.6.2. Kegiatan Pendukung misalnya Cut & Fill, pengambilan air tanah atau
permukaan memenuhi skala / besaran wajib AMDAL.

5.3.7. Kriteria wajib UKL-UPL bangunan gedung berdasarkan Peraturan Gubernur atau
Peraturan Bupati / Walikota yang mengatur criteria wajib UKL-UPL untuk
bangunan gedung sebagai berikut :
5.3.7.1. Kegiatan Utama : Skala / Besaran Bangunan Gedung : luas bangunan >
5.000 m2 dan < 10.000 m2 (jika ditetapkan berdasarkan Peraturan
Menteri PU No. 10/PRT/M/2008)
5.3.7.2. Kegiatan Pendukung : skala / besarannya lebih kecil dari wajib AMDAL.

5.3.8. Kriteria wajib SPPL bangunan gedung berdasarkan Peraturan Gubernur / Bupati /
Walikota : skala / besaran bangunan gedung :
Luas bangunan < 5000 m2 (jika ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri PU No.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


31
Corporate Enabler Academy

10/PRT/M/2008)

5.4. Kegiatan Wajib AMDAL kegiatan Ketenagalistrikan serta Kewenangan KPA

NO KEGIATAN KEWENANGAN KETERANGAN


KPA
1 Pembangunan Kabupaten / Kota Lampiran III Permen LH No. 5
PLTD/PLTG/PLTU/PLTGU tahun 2008
> 100 MW (dalam satu
lokasi)
2 Pembangunan Jaringan Kabupaten / Kota Lampiran III Permen LH No. 5
Transmisi Saluran Udara tahun 2008
Tegangan Tinggi (SUTT) >
150 kV
3 Pembangunan PLTA Provinsi Lampiran II Permen LH No. 5
dengan : Tahun 2008
- Tinggi Bendung > 15 m;
atau
- Luas Genangan > 200 ha
4 Pembangunan PLTA Kabupaten / Kota Lampiran III Permen LH No. 5
dengan : tahun 2008
- Kapasitas daya (aliran
langsung) > 50 MW
5 Pembangunan PLTP > 55 Kabupaten / Kota Lampiran III Permen LH No. 5
MW tahun 2008
6 Pembangunan PLT Kabupaten / Kota Lampiran III Permen LH No. 5
Sampah (PLTSa) dengan tahun 2008
proses methane harvesting
> 55 MW
7 Pembangunan Pembangkit Kabupaten / Kota Lampiran III Permen LH No. 5
Listrik dari jenis lain (a.l. tahun 2008
OTEC, PLT Surya, Angin,
PLT Biomassa) > 10 MW
8 Pembangunan Pembangkit Provinsi Lampiran II Permen LH No. 5
Listrik dari Gambut > 10 Tahun 2008
MW
9 Pembangunan Mini Hidro Pasal 3 Permen LH No. 5 tahun

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


32
Corporate Enabler Academy

di dalam Kawasan Lindung 2012


(1 – 10 MW) wajib AMDAL
Untuk kapasitas < 1 MW
dalam kawasan lindung
dapat dikecualikan dari
kewajiban memiliki wajib
AMDAL

5.5. Proses Penyusunan Dokumen AMDAL / UKL-UPL

5.5.1. AMDAL
Amdal / UKL-UPL disusun oleh Pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu
usaha dan/atau kegiatan, tahapan prosesnya dapat dijelaskan pada gambar
dibawa ini:

5.5.2. Esensi dasar dari AMDAL / UKL-UPL yang dijelaskan pada PP 27/2012:
Amdal dan UKL-UPL merupakan Dokumen LH yang menyediakan informasi yang
diperlukan untuk proses pengambilan keputusan untuk:
a. Penerbitan Izin Lingkungan,
b. Kredit Perbankan,
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
33
Corporate Enabler Academy

c. Dokumen lelang untuk Proyek KPS dalam kaitannya dengan Penjaminan


Investasi,
d. Due Diligence,
e. pengawasan Lingkungan

5.5.3. Informasi yang disajikan dalam Amdal atau UKL-UPL berisi :


5.5.3.1. Dampak lingkungan yang terjadi akibat rencana usaha dan/atau kegiatan,
5.5.3.2. Langkah-langkah pengendaliannya (dari aspek teknologi,social dan
Institusi) dan pemantauan lingkungannya
5.5.3.3. Komitmen pemrakarsa

5.5.4. Ketentuan & Peraturan2 dalam penyusunan AMDAL/UKL-UPL


5.5.4.1. Dokumen AMDAL
1) Disusun oleh pemrakarsa
2) Pada tahap perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan
3) Dokumen AMDAL terdiri dari: KA- ANDAL, ANDAL, RKL & RPL
4) Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan wajib sesuai dengan
rencana tata ruang (Pasal 4-5 PP 27/2012), bila tidak sesuai
dengan rencana tata ruang, dokumen Amdal tidak dapat dinilai dan
wajib dikembalikan kepada pemrakarsa
5) PNS di Instansi Lingkungan Hidup (Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota) dilarang sebagai penyusun AMDAL, kecuali
bertindak sebagai pemrakarsa (Pasal 10-12 PP 27/2012).

5.5.4.2. Syarat-syarat Penyusunan dokumen Amdal


1) Wajib memiliki sertifikat kompetensi penyusun Amdal. dimana
ketentuan mengenai teknis pelaksanaan sertifikasi diatur dengan
peratuan KEMENLH
2) Sudah mendapat pelatihan penyusun AMDAL (Pendidikan dan
pelatihan penyusunan Amdal dan Lulus Uji kompetensi penyusun
AMDAL dan teregistrasi di KEMENLH
3) Penyusun AMDAL yang tidak memiliki sertifikasi kompetensi dapat
dipidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp. 3
Milyar. (pasal 28, PP 27/2012)
4) yang dapat sebagai Penyusun AMDAL antara lain:
a) Penyusun dari Pemrakarsa sendiri
b) Penyusun Perorangan
c) Penyusun yang tergabung dalam LPJP
d) Daftar penyusun AMDAL yang bersertifikat dapat dilihat pada
website : www.menlh.go.id

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


34
Corporate Enabler Academy

5) PNS di Instansi Lingkungan Hidup (Pusat, Provinsi dan


Kabupaten/Kota) dilarang sebagai Penyusun AMDAL, Kecuali
bertindak sebagai pemrakarsa (ps 10-12 PP 27/2012

5.5.4.3. Persyaratan Komisi Penilai AMDAL/UKL-UPL


1) Memiliki Lisensi, SK Tim Teknis & Sekretariat Komisi Penilai
AMDAL:
Komisi Penilai Amdal WAJIB memiliki LISENSI dari MENLH,
Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangannya
a) Komisi Penilai Amdal terdiri dari :
1. Sekretariat Komisi AMDAL : Dipimpin oleh kepala sekretariat
yang dijabat oleh pejabat setingkat eselon III ex officio pada
instansi LH pusat dan pejabat setingkat eselon IV ex officio
pada instansi LH provinsi dan kabupaten/kota
2. Tim Teknis AMDAL : Ahli dari instansi teknis yang
membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan
instansi lingkungan hidup, serta ahli lain dan bidang ilmu yang
terkait dengan kegiatan yang dinilai.

5.5.5. Hierarki Kewenangan pengesahan AMDAL/UKL-UPL dan Izin Lingkungan


5.5.5.1. Penerbitan Izin Lingkungan Hidup Untuk Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan Wajib Amdal

Apabila : Maka
SK Kelayakan LH dari Menteri Izin lingkungan dari Menteri
SK Kelayakan LH dari Gubernur Izin lingkungan dari Gubernur
SK Kelayakan LH dari bupati/walikota
Izin lingkungan dari bupati/walikota

5.5.5.2. Penerbitan Izin Lingkungan Hidup Untuk Rencana Usaha dan/atau


Kegiatan Wajib UKL-UPL

Apabila : Maka
Rekomendasi dari Menteri Izin lingkungan dari Menteri
Rekomendasi Kelayakan LH dari Gubernur Izin lingkungan dari Gubernur
Rekomendasi Kelayakan LH dari
Izin lingkungan dari
bupati/walikota
bupati/walikota

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


35
Corporate Enabler Academy

5.5.6. Pengecualian Kegiatan Wajib AMDAL(Sumber : Pasal 13 PP 27/2012)


Usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap LH dikecualikan dari
kewajiban memiliki Amdal apabila:
5.5.6.1. lokasi rencana usaha dan/atau kegiatannya berada di kawasan yang
telah memiliki Amdal kawasan
5.5.6.2. lokasi rencana usaha dan/atau kegiatannya berada pada kabupaten/kota
yang telah memiliki rencana detail tata ruang kabupaten/kota dan
rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten/kota
5.5.6.3. usaha dan/atau kegiatannya dilakukan dalam rangka tanggap darurat
bencana
5.5.6.4. Dokumen Lingkungan yang wajib dibuat : UKL- UPL (Sumber: Pasal 38
PP 27/2012 )

5.5.7. Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup menggunakan PERMENLH


16/2012 Disahkan 5 Oktober 2012 berisi penjelasan mengenai hal-hal:
5.5.7.1. Penjelasan istilah dalam Pengelolaan lingkungan yaitu:
1) Rona lingkungan di lokasi kegiatan Ketenagalistrikan
Untuk mengetahui bagaimana suatu pembangkit listrik dijalankan,
seberapa besar dampak yang sudah ditimbulkan, maka dilakukan
monitoring terhadap lingkungan sekitar rencana lokasi pembangkit
sebagai data Rona Lingkungan awal. Hasil pengukuran terhadap
parameter kunci merupakan indikator baik atau tidaknya suatu
pembangkit listrik. Penjelasan seperti yang digambarkan pada skema
di atas merupakan potensi, yang berarti bisa dicegah atau diminimlisir
dampak yang ditimbulkan, melalui:
a) Desain dan enjiniring instalasi pembangkit
b) Pengendalian pengoperasian
c) Monitoring dan pemeliharaan instalasi secara rutin
2) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup yang selanjutnya
disebut Amdal adalah kajian mengenai dampak penting suatu Usaha
dan/atau Kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan.
3) Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah
pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


36
Corporate Enabler Academy

yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang


diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan.
4) Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut SPPL adalah pernyataan
kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk
melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas
dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya di luar
Usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL.
5) Analisis Dampak Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut Andal
adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak
penting suatu rencana Usaha dan/atau kegiatan.
6) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup,yang selanjutnya disebut
RKL adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup
yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
7) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut
RPL adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang
terkena dampak akibat rencana Usaha dan/atau kegiatan.
8) Pemrakarsa adalah setiap orang atau instansi pemerintah yang
bertanggung jawab atas suatu usaha dan/atau kegiatan yang akan
dilaksanakan.
9) Penyusunan Dokumen Amdal adalah kegiatan menuangkan kajian
dampak lingkungan ke dalam dokumen Amdal yang dilakukan oleh
Pemrakarsa.
10) Penyusunan UKL-UPL adalah kegiatan pengisian formulir UKL-UPL
yang dilakukan oleh Pemrakarsa.
11) Penyusunan SPPL adalah kegiatan pengisian SPPL yang dilakukan
oleh Pemrakarsa.
12) Penjelasan mengenai cara dan prosedur penyusunan dokumen
Lingkungan (Amdal, UKL-UPL, SPPL).
13) Penjelasan persyaratan mengenai Pemrakarsa, Penyusun dan
penilai dokumen Lingkungan
14) Format formulir-formulir yang perlu dilengkapi dalam penyusunan
dokumen Lingkungan

5.5.8. Keterlibatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


37
Corporate Enabler Academy

Peraturan yang mengatur tentang Keterlibatan Masyarakat dalam proses AMDAL


dan Izin Lingkungan adalah PERMENLH 17/2012 tentang Keterlibatan masyarakat
dalam Proses Analisis dampak Lingkungan hidup dan Izin Lingkungan (di sahkan 5
Oktober 2012).

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup (UUPPLH) telah mengatur dan memberikan ruang yang luas
bagi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (PPLH). Melalui asas-asas partisipatif yang menjadi salah satu
asas dalam UUPLH ini, setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif
dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), sesuai dengan


ketentuan dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU 32/2009) disusun dengan
melibatkan masyarakat melalui pengumuman dan konsultasi publik. Dalam Pasal 9
ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (PP
27/2012), diatur bahwa tata cara pengikutsertaan masyarakat dalam proses Amdal
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Pada prinsipnya, pedoman ini
disusun sebagai acuan untuk melaksanakan amanah dari Pasal 9 ayat (6) PP
27/2012 dan memberikan penjabaran lebih lanjut dari Pasal 44 sampai dengan
Pasal 46 dan Pasal 49 PP 27/2012 yang mengatur tentang permohonan dan
penerbitan izin lingkungan.

UUPLH dan PP Izin Lingkungan telah mengatur bahwa dalam proses Amdal dan
izin lingkungan, masyarakat dilibatkan melalui:

5.5.8.1. Pengikutsertaan Masyarakat dalam penyusunan dokumen amdal melalui:


1) Proses pengumuman,
2) penyampaian saran, pendapat dan tanggapan masyarakat dan
konsultasi publik.
3) Pengikutsertaan masyarakat dalam komisi penilai Amdal, bagi
rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal,
5.5.8.2. Proses pengumuman permohonan izin lingkungan, penyampaian saran,

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


38
Corporate Enabler Academy

pendapat dan tanggapan masyarakat serta pengumuman setelah izin


lingkungan diterbitkan, baik untuk rencana usaha dan/atau kegiatan yang
wajib memiliki amdal maupun rencana usaha dan/atau kegiatan yang
wajib memiliki UKL-UPL

Tujuan dilibatkannya masyarakat dalam proses amdal dan izin lingkungan


agar:
a. Masyarakat mendapatkan informasi mengenai rencana usaha dan/atau
kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan;
b. Masyarakat dapat menyampaikan saran, pendapat dan/atau tanggapan atas
rencana usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap
lingkungan;
c. Masyarakat dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan terkait
dengan rekomendasi kelayakan atau ketidaklayakan atas rencana usaha
dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan;
d. Masyarakat dapat menyampaikan saran, pendapat dan/atau tanggapan atas
proses izin lingkungan;
Maksud adanya keterlibatan masyarakat dalam studi Lingkungan yaitu:
a. Agar masyarakat mendapatkan informasi yang memadai mengenai usulan
rencana usaha dan/atau kegiatan dan dapat berkontribusi dalam proses
AMDAL. Agar tujuan ini dapat tercapai, maka setiap penangung jawab rencana
usaha dan/atau kegiatan (pemrakarsa) sebelum melakukan penyusunan
dokumen Kerangka Acuan (KA) wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau
kegiatan kepada masyarakat antara lain mengenai deskripsi kegiatan
(deskripsi rinci rencana kegiatan, lokasi proyek), dampak lingkungan hidup
potensial mungkin terjadi sebagai akibat rencana usaha dan/atau kegiatan
tersebut.
b. Agar dapat menyampaikan saran, pendapat dan tanggapan (SPT) secara
tertulis atau melalui proses konsultasi publik yang dilaksanakan oleh
pemrakasarsa. Melalui penyampaian SPT ini, masyarakat dapat
menyampaikan umpan balik mengenai informasi mengenai kondisi lingkungan
hidup dan berbagai usaha dan/atau kegiatan di sekitar daerah rencana usaha
dan/atau kegiatan, aspirasi masyarakat dan penilaiannya mengenai dampak
lingkungan.
c. Agar masyarakat terkena dampak melalui wakilnya yang duduk dalam komisi
penilai amdal terlibat dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
39
Corporate Enabler Academy

rekomendasi kelayakan atau ketidaklayakan atas rencana usaha dan/atau


kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan.

5.5.9. Kebijakan terhadap Usaha dan/ atau Kegiatan yang tidak memiliki Dokumen
Lingkungan Hidup

Terhadap kegiatan usaha yang sudah beroperasi namun belum memiliki dokumen
Lingkungan, pemerintah telah berulang kali mengeluarkan kebijakan untuk
pemutihan sehingga kegiatan tersebut dapat mengurus dokumen Lingkungan.
Kebijakan terakhir yang dikeluarkan adalah kewajiban penyusunan DELH-DPLH
yang diberlakukan sebagai sanksi administrasi Pemerintah Daerah kepada
kegiatan tersebut.

DELH (Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup) adalah dokumen yang memuat


pengelolaan dan pemantauan Lingkungan hidup yang merupakan bagian dari
proses audit Lingkungan hidup yang dikenakan bagi usaha dan/ atau kegiatan
yang sudah memilki izin usaha dan/ atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen
AMDAL.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


40
Corporate Enabler Academy

DPLH (Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup) adalah dokumen yang memuat


pengelolaan dan pemantauan Lingkungan hidup yang dikenakan bagi usaha dan/
atau kegiatan yang sudah memiliki izin usaha dan/ atau kegiatan tetapi belum
memiliki UKL-UPL.

Kriteria kegiatan wajib DELH dan DPLH :


5.5.9.1. Telah memiliki izin usaha dan/ atau kegiatan sebelum ditetapkannya UU
No. 32 Tahun 2009.
5.5.9.2. Telah melakukan kegiatan tahap konstruksi sebelum ditetapkannya UU
No. 32 Tahun 2009
5.5.9.3. Lokasi usaha dan/ atau kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dan/ atau rencana tata ruang kawasan
5.5.9.4. Tidak memiliki dokumen Lingkungan atau memilliki dokumen Lingkungan
hidup tetapi tidak sesuai

5.6. Baku Mutu Lingkungan (BML)


Baku Mutu Lingkungan (BML) adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energy,
atau komponen yang ada atau harus ada dan/ atau unsure pencemar yang ditenggang
keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsure Lingkungan hidup.

Apabila terjadi masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energy dan/ atau
komponen lain ke dalam LH oleh kegiatan manusia sehingga melampaui BML yang telah
ditetapkan maka disebut terjadi Pencemaran Lingkungan Hidup.

5.7. Pengurusan Perizinan di bidang Lingkungan


Berikut tahapan pengurusan perizinan di bidang Lingkungan meliputi izin Lingkungan
melalui penyusunan dokumen AMDAL, dokumen UKL-UPL dan perizinan di bidang
pengelolaan LH seperti izin IPLC, izin Penyimpanan sementara LB3, izin landfill /
penimbunan limbah B3, izin pemanfaatan limbah B3, dll.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


41
Corporate Enabler Academy

Adapun kebutuhan perizinan di setiap tahap kegiatan dapat dilihat pada table berikut :

No Item Kebutuhan Kewenangan


Inisiasi Commisioning Operasi
Proyek
1 Dokumen & Izin
Lingkungan
1.1 Dokumen Lingkungan & Izin    Kabupaten/Kota
Lingkungan Harus sudah Harus sudah Harus sudah ; atau Provinsi;
terbit sebelum terbit terbit atau
Dasar Hukum : PP 27/2012 kegiatan KLHK
Permen LH 51/2012 lapangan Sesuai
dimulai kewenangannya

2 Izin PPLH di bidang


Pengelolaan Air Limbah

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


42
Corporate Enabler Academy

2.1. Izin Pembuangan Limbah -   Kabupaten/Kota


Cair (IPLC) Proses Harus sudah untuk ke
Perizinan sejak terbit sungai/danau/ra
Dasar Hukum : Konstruksi wa; atau
PermenLH 5/2014 Harus sudah KLHK
PermenLH 8/2009 terbit saat untuk ke Laut
PermenLH 12/2006 commissioning
PermenLH 51/2004 (saat air limbah Fasilitas yang
mulai dihasilkan) disediakan :
IPAL, saluran
kedap air dan
outlet serta
penamaan /
pemberian titik
koordinat di
lokasi tersebut

3 Izin PPLH di bidang -


Pengelolaan Limbah B3
3.1. Izin Penyimpanan -   Kabupaten/Kota
Sementara Limbah B3 Proses Harus sudah
FABA Perizinan sejak terbit Fasilitas yang
Konstruksi disediakan :
Dasar Hukum : Harus sudah TPS untuk FABA
PP 101/2014 (Ps 12) terbit saat (Ash Yard)
KepKadal 1/95 commissioning
PermenLH 14/2013 (saat limbah
PermenLH 18/2009 Ps 3/2 FABA
dihasilkan)
3.2. Izin Penyimpanan -   Kabupaten/Kota
Sementara Limbah B3 Non Proses Harus Sudah
FABA Perizinan Terbit Fasilitas yang
sebelum disediakan :
Konstruksi TPS Non FABA
dan harus sudah
terbit saat
konstruksi
(limbah B3
tahap konstruksi
mulai dihasilkan)

3.3. Izin Landfill / Penimbunan -   KLHK


(Jika ada kegiatan Jika ada TPS Harus Sudah
landfilling) FABA : proses Terbit Fasilitas yang
izin sejak disediakan :
Dasar Hukum : coomisioning, Landfill
PP 101/2014 (Ps 176) dan harus sudah
KepKadal 4/95 terbit saat
PermenLH P.63/2016 operasi

Jika tidak ada


TPS FABA :
proses izin sejak
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
43
Corporate Enabler Academy

konstruksi dan
harus sudah
terbit saat
commisioning

3.4. Izin Pemanfaatan -   KLHK


(Jika ada kegiatan Proses Perijinan Proses perizinan
Pemanfaatan) sejak awal, dan saat
harus sudah commissioning
Dasar Hukum : terbit saat dan harus sudah
PP 101/2014 (Ps 56) konstruksi jika terbit saat
PermenLH 18/2009 (Ps 3) ada kegiatan operasi jika ada
pemanfaatan pemanfaatan
LB3 tahap LB3 tahap
konstruksi operasi

5.8. Pelaksanaan Amdal / UKL-UPL untuk kegiatan ketenagalistrikan


Dalam upaya pemenuhan Amdal/UKL-UPL dan Izin Lingkungan hidup bagi kegiatan
ketenagalistrikan antara lain :
5.8.1. Implementasi Amdal, UKL-UPL, PROPER
5.8.2. Community Development (COMDEV)/ Corporate Social Responsibility (CSR)
5.8.3. Salah satu perangkat pengawasan dalam melakukan evaluasi kinerja lingkungan
dari suatu kegiatan, KLH / Instansi Lingkungan Hidup selaku pengawas
pelaksanaan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup melakukan Audit
PROPER yang dilakukan setiap tahun. Audit ini berguna untuk bahan evaluasi
KLH terhadap suatu Usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi berdampak negatip
bagi keberlangsungan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
5.8.4. Dalam perkembangannya KLH menyusun rencana untuk integrasi PROPER
dengan Izin Lingkungan hidup.
5.8.5. Integrasi PROPER dan Izin Lingkungan yang disusn oleh KLH dapat dijelaskan
dengan skema sbb :

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


44
Corporate Enabler Academy

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


45
5.9. Ketaatan dokumen lingkungan pada peraturan

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah tanggung jawab seluruh


jajaran dalam organisasi Penanggung jawab kegiatan (Pemrakarsa), sehingga
penaaatan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku sangat tergantu dari
keterlibatan secara aktif oleh Top Manajemen dan memahami benar maksud dan tujuan
dari pengelolaan Lingkungan yang menjadi tanggung jawabnya selaku
Pemrakarsa/penanggung jawab Unit.

Perlu dipahami juga bahwa, dalam proses penyusunan, penilaian dan penerbitan
AMDAL/UKL-UPL akan melibatkan beberapa pihak yang terkait dengan rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan.

5.10. Pihak-pihak yang terlibat pada penyusunan AMDAL/UKL-UPL


5.10.1. Pemrakarsa sebagai pihak yang mengajukan suatu kegiatan,
5.10.2. Sekretariat KPA (Komisi Penilai Amdal),
5.10.3. Tim Teknis sebagai tim Ahli dibidang terkait rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan.
5.10.4. Komisi Penilai Amdal sebagai pihak yang memberi penilaian terhadap Kajian
dalam kerangka acuan yang disusun oleh pemrakarsa
5.10.5. Menteri, gubernur atau bupati/walikota sebagai pihak yang berwenang
menetapkan layak atau tidaknya suatu kegiatan dijalankan. SKKL yang
dikeluarkan oleh pemimpin daerah sesuai kewenangannya adalah setelah
mendapat rekomendasi dari Komisi Amdal selaku penilai isi dokumen yang
diajukan oleh Pemrakarsa terkait rencana kegiatannya.
5.10.6. Instantsi terkait selaku Pengawas penerima dan pengevaluasi laporan
pelaksanaannya

Untuk dapat mengetahui ketaatan pada perturan perundang-undangan yang terkait


dengan upaya Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang akan
dilaksanakan,perlu juga dimengerti/dipahami langkah-langkah yang harus kita lakukan,
yaitu:

5.11. Pemahaman isi Dokumen Lingkungan (AMDAL, UKL-UPL)


Untuk dapat memahami isi dokumen Lingkungan baik dapat dilakukan dengan melihat
isi dokumen tsb:

46
5.11.1. Untuk AMDAL / UKL-UPL yang akan dibuat/ akan di bahas dalam sidang
Komisi
5.11.1.1. Kenali lokasi rencana kegiatan, pelajari kondisi umum dari daerah-
daerah tersebut karena akan menjadi data Rona lingkungan awal.
Kenali desa-desa atau kelurahan-kelurahan yang akan dilalui Jaringan
SUTT/SUTET khususnya yang akan menjadi lokasi tapak tower.
Pelajari penjelasan dan kumpulkan data yang akurat mengenai hal
tersebut lalu bandingkan informasi yang ada dalam dokumen dengan
informasi kualitatif dari sumber lain, yaitu mengenai:
 Kondisi Alam
 Peruntukan lahan (sesuaikan dengan RTRW yang ada)
 Kerusakan Lingkungan yang sudah terjadi, untuk mengetahui
bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan tidak berpotensi
memperburuk kondisi lingkungan saat ini dengan pemilihan
tindakan mitigasi yang tepat untuk perlindungan, pencegahan dan
Pengelolaan selanjutnya.
 Kondisi Sosisl-Ekonomi penduduk di sekitar rencana lokasi
kegiatan
5.11.1.2. Pastikan bahwa semua dampak yang tercantum dalam dokumen
lingkungan yang ada dampak berpotensi akan terjadi akibat dari
kegiatan ketenagalistrikan yang akan dilakukan (pembangunan
pembangkit ataupun Jalur Transmisi SUTT/SUTET) pada area/daerah
tersebut.
5.11.1.3. Sudah mengantisipasi/mempersiapkan langkah-langkah mitigasi
dengan teknologi dan kegiatan lain untuk dapat memberikan
perlindungan, pencegahan dan pengelolaan semua dampak yang akan
terjadi dan tercantum dalam matriks Pengelolaan Lingkungan yang
akan dipantau dan dilaporkan secara berkala pada instansi terkait
pengawasannya dengan periode yang telah ditentukan.
5.11.1.4. Khusus untuk kegiatan pembangunan jaringan SUTT/SUTET pastikan
telah ada langkah antisipasinya telah dilakukan dengan baik terutama
dampak terhadap komponen sosial (masyarakat dan lain daerah
lindung) yang akan menjadi lokasi jalur transmisi dan tapak tower.
Program LARAP(Land Aquisition and Resettlement Program),
EMP(Environmentan Management program), Safeguard, dll biasanya

47
dipersyaratkan bila dana pembangunannya berupa pinjaman.

5.11.2. Dokumen Lingkungan yang sudah dimiliki saat ini


Penanggung jawan Pengendali & pengelolan Lingkungan harus mampu
memahami isi Matriks RKL-RPL / UKL UPL dengan beberapa kiat sbb :
a. Prinsip yang dipantau adalah yang dikelola, kegiatan yang ada di RPL harus
sama dengan kegiatan yang ada di RKL
b. Kesesuaian kegiatan dengan yang akan dilaksanakan pada saat Konstruksi
& operasi
c. Penanggung jawab Pelaksana / Pemrakarsa harus sesuai.
d. Perhatikan kesesuaian Instansi Pengawas dan pengiriman Pelaporan.
e. Dapat mewujudkan terciptanya keselarasan dan keserasian dengan
lingkungan dan masyarakat sekitar.

5.12. Pemahaman AMDAL/RKL-RPL (UKL-UPL)


Untuk dapat melaksanakan Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan Hidup sesuai
Peraturan yang berlaku maka terlebih dajhulu harus dapat memahami isi dokumen
Amdal/ UKL-UPL yang dimiliki. Adapun cara memahami/mempelajari sbb:

5.12.1. Pahami Sistematika penulisan dokumen Amdal/UKL-UPL


Format sistematika/Outline pada penulisan dokumen Amdal/UKL-UPL dan
bandingkan dengan PP 27 tahun 2012 tentang Izin lingkungan (pasal 6 untuk
Amdal dan pasal 16 untuk formulir UKL-UPL) dan tata cara pengikutsertaan
masyarakat dalam Amdal (Pasal 9 ayat (6)). Penulisan matriks RKL-RPL / UKL-
UPL harus terbagi dalam tahapan sbb:
a. Tahap Prakonstruksi
b. Tahap Konstruksi
c. Tahap Operasi
d. Tahap Pasca Operasi

5.12.2. Lokasi titik sampling harus jelas, parameter yang diukur ada acuan baku
mutunya, dll
5.12.3. Sistematika Pelaporan harus sesuai Kepmen LH no 45 tahun 2005
5.12.4. Ada/Tidak persyaratkan pemasangan peralatan perlindungan Lingkungan
seperti Sumur pantau, CEMS, TPS B3 dan Limbah B3, dll
5.12.5. Memahami isi Matriks RKL-RPL:
a. Isi Matriks adalah Janji Pemrakarsa yang harus/wajib dilaksanakan
b. Penanggung jawab Pelaksana / Pemrakarsa harus sesuai dengan yang
tercantum dalam AMDAL/UKL-UPL yang telah disetujui
c. Perhatikan kesesuaian Instansi Pengawas dan pengiriman Pelaporan.
d. Prinsip Perlindungan, pencegahan dan Pengelolaan Lingkungan yaitu

48
bahwa parameter yang dipantau adalah yang wajib dikelola karena terkait
dengan potensi dampak yang terjadi akibat kegiatan tersebut.
e. Kegiatan yang ada di RPL/UPL harus sama dengan kegiatan yang ada di
RKL/UKL
f. Kesesuaian kegiatan dengan yang akan dilaksanakan pada saat
Konstruksi & operasi
g. Tujuannya adalah memitigasi semua dampak yang terjadi untuk
mewujudkan terciptanya keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan
dan masyarakat sekitar serta pembangunan yang berkelanjutan.

5.13. PERMASALAHAN YANG TERJADI DI LAPANGAN


Permasalahan yang saat ini terjadi dilapangan selain tidak/belum/kurangnya
pemahaman mengenai isi matriks Pengelolaan dan Pemantauan dari Unitnya oleh
Jajaran Manajemen sehingga pelaksanaannya tidak/belum optimal,
5.13.1. “cost benerif rasio” Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup dapat
dijelaskan sbb :

49
Dari gambaran tersebut diatas dapat diketahui bahwa sebaiknya kita melakukan
predictive protection agar terhindar dari pengeluaran biaya yang cukup tinggi
untuk tindakan pemulihan yang harus dilakukan akibat terjadinya pencemaran
Lingkungan yang terjadi.

5.13.2. Permasalahan lain yang juga banyak ditemui di lapangan


Sebagian besar adalah ketidaksesuaian dokumen Lingkungan yang dimiliki oleh
kegiatan Ketenagalistrikan (Amdal, UKL-UPL, SPPL, DPPL, DELH, dll) dengan
diberlakukannya peraturan perundang-undangan yang baru yaitu PP 27/2012
tentang Izin Lingkungan, permasalahan yang saat ini banyak erjadi dilapangan
antara lain:
a. Ketidaksesuaian AMDAL / UKL-UPL ataupun dokumen lingkungan lainnya
yang saat ini dimiliki unit dokumen AMDAL / UKL-UPL yang saat ini dimiliki
dengan kegiatan dilapangan/ dengan peraturan yang baru
b. Belum dipahami persyaratan /ketentuan untuk Penyusunan Amdal / UKL-
UPL baru
c. Tidak/Belum dipahami sanksi baru terkait pencemaran Lingkungan
d. Tidak/belum diterapkan peraturan yang baru oleh semua daerah
e. Tidak/belum ada PIC lingkungan yang kompeten di Unit
f. Kompetensi BLH/BPLHD yang tidak/belum seragam

5.13.3. Amdal / UKL-UPL yang tidak/belum sesuai dengan kegiatan :


a. Laporkan secara rinci point –point yang tidak sesuai pada rapat-rapat rutin di
unit masing2 untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan dan
konsekuensinya (Acuan: PP 27 tahun 2012.
b. Konsultasi secara informal dengan Bapedalda/ BLH setempat untuk

50
kejelasan status dan tindakan selanjutnya
c. Komunikasi secara formal dan tertulis diharapkan akan lebih cepat,
sehingga apabila diperlukan Revisi/Adendum /AMDAL baru maka waktu
penyelesaiannya tidak menghambat jadwal kegiatan konstruksi maupun
operasi
d. Penyusun revisi dokumen harus memenuhi peraturan LH

5.14. Pemahaman isi matriks AMDAL atau UKL-UPL


Untuk dapat mengetahui adanya ketidaksesuaian AMDAL/UKL-UPL/SPPL
ataupu dokumen lingkungan lain yang dimiliki dengan peraturan perundang-
undangan yang baru maka perlu pemahaman esensi dari dokumen Lingkungan
yang ada (Amdal, UKL-UPL).

5.14.1. Langkah-langkah yang dilakukan


a. Pelajari dan pahami isi peraturan terkait (PP 27 tahun 2012 ttg
Perijinan Lingkungan) untuk memastikan dokumen yang dimiliki
telah sesuai peraturan untuk kegiatan tersebut (AMDAL atau UKL-
UPL).
b. Memastikan isi dalam Amdal/UKL-UPL sesuai dengan kondisi
kegiatan di lapangan.
c. Prinsip PPLH adalah yang dipantau, yang harus dikelola dan
dilaporkan secara berkala kepada instansi pengawas.
d. Kesesuaian kegiatan dengan yang akan dilaksanakan pada saat
Konstruksi & operasi
e. Penanggung jawab Pelaksana / Pemrakarsa harus sesuai.
f. Perhatikan kesesuaian Instansi Pengawas dan pengiriman
Pelaporan.
g. Dapat mewujudkan terciptanya keselarasan dan keserasian
dengan lingkungan dan masyarakat sekitar
h. Buat net working dengan stake holder Lingkungan seperti BLH
setempat, institusi perguruan tinggi,dll

5.14.2. Apa yang perlu dilakukan bila terjadi Ketidaksesuaian AMDAL?


Bila ada ketidaksesuaian maka, lakukan upaya untuk perbaikannya
dengan melakukan evaluasi studi Lingkungan yang ada , bila ada
ketidaksesuai dengan peraturan yang ada maka segera lakukan
perbaikan agar tidak menjadi masalah di kemudian hari (acuan : PP

51
27 tahun 2012 ttg Perijinan Lingkungan), adapun langkah-langkah
yang perlu diambil antara lain:
a. Laporkan ketidaksesuaian tersebut secara rinci pada rapat-rapat
rutin di unit masing2 untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan
dan konsekuensinya
b. Konsultasi secara informal dengan Bapedalda/ BLH setempat
untuk kejelasan status dan tindakan selanjutnya dan ditindaklanjuti
dengan komunikasi formal dengan surat.
c. Komunikasi secara formal dan tertulis diharapkan akan lebih cepat
bila sudah didahului dengan komunikasi informal dengan
stakeholder, sehingga apabila diperlukan Revisi/Adendum /AMDAL
baru maka waktu penyelesaiannya tidak menghambat jadwal
kegiatan konstruksi maupun operasi
d. Penyusun revisi dokumen AMDAL harus memenuhi peraturan
Lingkungan

5.14.3. Perubahan AMDAL/UKL-UPL dan Izin Lingkungan


Perubahan Izin Lingkungan perlu dilakukan apabila dilakukan
beberapa perubahan pada kegiatan yang sudah berjalan dan sudah
memiliki Amdal/UKL-UPL dan Izin lingkungan, Kriteria perubahan
usaha dan/atau kegiatan dan tata cara perubahan keputusan
kelayakan lingkungan, perubahan rekomendasi UKL-UPL dan
penerbitan perubahan izin lingkungan (Pasal 50 ayat (8)); dalam pasal
tersebut dijelaskan mengenai criteria perubahan yang berakibat
diperlukannya AMdal/UKL-UPL baru, Addendum Amdal/UKL-UPL dan
juga perubahan Izin Lingkungan, antara lain kegiatan sbb:
a. Penambahan kapasitas Pembangkit, Perluasan area, pemindahan
unit, penggantian bahan bakar yang digunakan.
b. Perubahan Tower Transmisi, penambahan jalur Transmisi, adanya
Tapping pada jalur transmisi yang sudah ada

6. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI AMDAL/UKL-UPL

Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh semua
kegiatan yang dilakukan pada suatu lokasi, dimaksudkan untuk menjamin pelestarian
Lingkungan hidup. pada prinsipnya Lingkungan tidak menolak pembangunan karena

52
akan memerikan manfaat bagi umat manusia, tetapi diperlukan jaminan agar
pembangunan tersebut dapat berkelanjutan dan tetap berwawasan Lingkungan
sehinggan dapat menciptakan keseimbangan ekosistem yang baru.

6.1. Dampak Kegiatan Ketenagalistrikan terhadap Lingkungan Hidup?


Kegiatan di bidang Ketenagalistrikan terdiri dari pembangunan dan operasional dari
Pembangkitan, Penyaluran dan Distribusi, dengan membangun berbagai macam
pembangkit listrik seperti PLTU (Batubara, Gas, Minyak,dll), PLTG/PLTGU, PLTD,
PLTA, PLTPdan pembangkit listrik yang menggunakan energy baru terbarukan seperti
PLTB(pembangkit listrik tenaga Angin), Boi Mas, Biogas, dll dimana dari semua pilihan
pembangkit yang akan dibangun tersebut harus diawali dengan penyusunan
Amdal/UKL-UPL sesuai dengan Kriteria yang ditetapkan dalam PERMENLH 05/2012
tentang kegiatan wajib Amdal. Untuk mewujudkan kegiatan pembangkit listrik sebagai
kegiatan yang bersahabat dengan lingkungan, maka diperlukan Program Manajemen
Lingkungan Hidup Pembangkit Listrik. Program yang ditetapkan bertujuan untuk:
6.1.1. Menjawab permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan
ketenagalistrikan yang dilaksanakan pada suatu lokasi.
6.1.2. Melaksanakan kewajiban yang ditetapkan dalam Izin Lingkungan yang diperoleh
6.1.3. Mengembangkan masyarakat sekitar kegiatan agar ikut merasakan nilai positif
dari keberadaan pembangkit listrik ditengah-tengah mereka

6.2. Pelaksanaan AMDAL /UKL-UPL pada kegiatan ketenagalistrikan :


Dalam pelaksanaan/Implementasi Amdal/UKL-UPL banyak tantangan dan kendala
yang ditemui dilapangan dan perlu mendapat perhatian dari sejak awal agar tidak akan
menjadi besar dan akhirnya dapat menganggu pelaksanaan Konstruksi ataupun
Operasional dari kegiatan ketenagalistrikan. Tantangan dan kendala yang ada, antara
lain:
6.2.1. Dari Intern PLN:
a. Belum sama pemahaman/persepsi mengenai perlunya Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup dari seluruh jajaran manajemen
b. Lingkungan hanya Cost tdk ada Benefit bagi Perusahaan
c. Tidak/Belum menjadi kendala operasional/proses pendanaan, dll
6.2.2. Dari instansi terkait
a. PLN dianggap sama dengan kegiatan Industri lainnya
b. Kurang berinteraksi dengan stake holder
c. Menganggap sepele permasalahan lingkungan karena tidak/belum
menjadi masalah Pidana.
d. Tidak/belum memahami perlunya membangun net working untuk menangani

53
permasalahan lingkungan
6.2.3. Dari Lingkungan sekitar kegiatan
a. Terjadi kesalahanpahaman pada saat awal kegiatan dengan masyarakat di
sekitar lokasi kegiatan.
b. Kurang membuka komunikasi dengan kegiatan sekitarnya
c. Pelaksanaan sosialisasi kurang menyeluruh
d. Pemilihan program Comdev, CSR masih sering sebatas “charity”
tidak/kurang mempertimbangkan pembedayaan masyarkat dan
berkelanjutan

7. Pengelolaan Lingkungan Hidup di Setiap Tahap Kegiatan


Pengelolaan Lingkungan Hidup di setiap tahap kegiatan di Bidang Ketenagalistrikan
adalah sebagai berikut :
TAHAP WHAT WHO WHEN
N
O
1 Tahap Perencanaan 1 Koordina DIVK3L Perencanaan
si dengan DIVEPP untuk Proyek
menginformasikan hal-hal
terkait lingkungan yang harus
dimasukkan dalam dokumen
FS dan Biddoc suatu Proyek.

2 Memastikan klausul Divisi EPP Pada saat


lingkungan masuk dalam Penyusunan
dokumen Dokumen FS dan FS dan
Biddoc spesifik sesuai Biddoc Proyek
kegiatan yang direncanakan
dan sesuai peraturan
perundangan lingkungan.

3 Memasukkan detail kegiatan Pusenlis Pada Saat


& fasilitas pengelolaan /Pusmakon/ Proses
lingkungan dalam kontrak bagian yang Kontrak EPC
EPC & DED ditugaskan
mensupervisi
kontrak EPC

2 Tahap Pra 1 Penenugasan & Supervisi DIVK3L Setelah FS


Konstruksi pelaksanaan studi dokumen minimal 75%
lingkungan dan pembuatan selesai
izin lingkunganugasan &
Supervisi pelaksanaan studi
dokumen lingkungan dan

54
pembuatan izin lingkungan.

2 Mengurus Izin Prinsip GM Unit Setelah


Pembangun mendapat
an penugasan
dari PLN
Pusat
3 Mengurus Dokumen GM Unit Setelah
lingkungan dan Izin Pembangun mendapat
Lingkungan an penugasan
dari PLN
Pusat
4 Mengurus Izin Pinjam Pakai GM Unit Setelah
Kawasan Hutan jika lokasi Pembangun Dokumen
proyek berada di lokasi an lingkungan &
Kawasan Hutan Izin
lingkungan
terbit
5 Verifikasi laporan Kinerja LH DIVK3L Masa
pelaksanaan studi dokumen Konstruksi
lingkungan

3 Tahap Konstruksi 1 Membangun fasilitas GM Unit Masa


pengelolaan lingkungan Pembangun Konstruksi,
termasuk fasilitas IPAL, an Setelah
fasilitas TPS / Ash Yard dan/ Dokumen
atau Landfill lingkungan &
Izin
lingkungan
terbit
2 Mengurus Izin PPLH & GM Unit Sebelum
Memastikan Izin PPLH terbit Pembangun limbah
sebelum limbah dihasilkan an dihasilkan dan
COD
3 Melaksanakan Pengelolaan & GM Unit Masa
Pelaporan Pengelolaan Pembangun Konstruksi
Lingkungan tahap Konstruksi an
kepada Instansi terkait sesuai
dokumen & Izin lingkungan

4 Supervisi perizinan dan DIVK3L Masa


fasilitas pengelolaan Persiapan
lingkungan telah sesuai COD ke Unit
dengan dokumen lingkungan Operasi
dan peraturan perundangan
lingkungan sebelum serah
terima ke Unit Operasi

55
5 Verifikasi laporan Kinerja LH DIVK3L Tiap 3 bulan
Unit Pembangunan

4 Tahap Operasi 1 Finalisasi Proses Perizinan GM Unit Sebelum


IPLC apabila belum terbit Operasi limbah
saat tahap konstruksi, dan dihasilkan
mengurus izin Pemanfaatan
limbah B3 apabila ada.

2 GM Unit Masa Operasi


Melaksanakan Pengelolaan & Operasi
Pelaporan Pengelolaan
lingkungan tahap Operasi
sesuai dokumen & izin
lingkungan
3 GM Unit
Mengurus perpanjangan izin Operasi paling lambat
PPLH sebelum jangka waktu 60 hari
izin habis sebelum masa
berlaku izin
habis
4 Verifikasi Laporan Kinerja LH DIVK3L Masa Operasi
Unit Operasi
5 Supervisi Ketaatan Perizinan DIVK3L Masa Operasi
lingkungan Unit Operasi
6 Supervisi pelaksanaan & DIVK3L Masa Operasi
pelaporan pengelolaan
lingkungan unit operasi
7 Supervisi persiapan, hasil DIVK3L Masa Proses
sementara, masa sanggah, Kegiatan
dan pelaksanaan,perbaikan PROPER
hasil PROPER
5 Tahap Pasca 1 GM Unit Pasca
Operasi Mengurus penetapan Operasi Operasi
pemberhentian kegiatan
pengelolaan lingkungan
sesuai aturan
2 GM Unit Pasca
Melaksanakan kegiatan Operasi Operasi
pemulihan lokasi &
pengelolaan lingkungan
pasca operasi sesuai
dokumen lingkungan dan
peraturan
3 Supervisi pelaksanaan DIVK3L Pasca
pelaporan ke instansi saat Operasi
penghentian operasi kegiatan

56
6 Supervisi lainnya 1 Capacity Building terkait DIVK3L Sesuai jadwal
pengelolaan limbah B3 rencana / saat
dibutuhkan
7 Pengelolaan 1 Menyusun dokumen EIA/ UIP Perencanaan
Lingkungan project LARAP yang sesuai dengan Proyek
dengan pendanaan standar Bank
bank luar negeri

2 Capacity Building penyiapan Pihak Bank, Perencanaan


penyusunan dokumen DIVK3L & Proyek
EIA/EMP/LARAP UIP
3 Supervisi pelaksanaan DIVK3L Perencanaan
dokumen EIA/EMP/LARAP Proyek &
Konstruksi
4 Site Visit & Menemani tim DIVK3L & Perencanaan
Lender melaksanakan UIP & Proyek &
pengawasan penyusunan & DIVRKO Konstruksi
pelaksanaan
EIA/EMP/LARAP
5 Membuat laporan UIP Perencanaan
pelaksanaan Proyek &
EIA/EMP/LARAP Konstruksi
8 Tahap Perencanaan 1 Menyusun dokumen EIA / UIP Perencanaan
dengan Pendanaan EMP / LARAP yang sesuai Proyek
Luar Negeri dengan standar Bank
2 Capacity Building penyiapan Pihak Bank, Perencanaan
penyusunan dokumen EIA / DIVK3L & Proyek
EMP / LARAP UIP
3 Supervisi pelaksanaan DIVK3L Perencanaan
dokumen EIA / EMP / LARAP Proyek &
Konstruksi
4 Site Visit & Menemani tim DIVK3L & Perencanaan
lender melakukan UIP & Proyek &
pengawasan penyusunan & DIVRKO Konstruksi
pelaksanaan EIA / EMP /
LARAP
5 Membuat laporan UIP Perencanaan
pelaksanaan EIA / EMP / Proyek &
LARAP Konstruksi

Pada Tahap Operasi kewajiban penanggung jawab kegiatan (Unit Operasi) terhadap
pengelolaan air limbah, emisi dan limbah B3 adalah sebagai berikut :

6.1. Air Limbah


a. Identifikasi sumber air limbah dan titik outlet / pembuangan serta memberikan kode,
titik koordinat lokasi tersebut.
b. Mengelola air limbah dan memastikan air limbah memenuhi BMAL.

57
c.Memastikan saluran air limbah kedap air, serta memisahkan saluran air limbah
dengan air hujan.
d. Memasang flow meter dan melakukan pencatatan debit air limbah harian serta
produksi bulanan senyatanya. Serta memastikan flow meter dilakukan kalibrasi.
e. Membuat sistem pencatatan logbook system enterprise air limbah.
f. Memastikan tidak melakukan pengenceran air limbah dan tidak melakukan by pass.
g. Menyusun sistem tanggap darurat.
h. Melakukan pengecekan kualitas air limbah setiap bulan dan setiap 3 bulan
dilakukan di laboratorium terakreditasi, untuk PLTD pengecekan di laboratorium
terakreditasi dilakukan setiap 6 bulan.
i. Menyampaikan laporan pengelolaan air limbah kpd Bupati/ Walikota, dg tembusan
kpd Gubernur, Menteri & Instansi Teknis setiap 3 bulan, dan setiap 6 bulan untuk
PLTD.
j. Menyampaikan laporan kondisi abnormal / darurat dalam jangka waktu (1x24 jam)
kpd Bupati/ Walikota, dg tembusan kpd Gubernur, Menteri & Instansi Teknis, serta
upaya penanggulangan kondisi darurat dalam jangka waktu 7 x 24 jam kepada kpd
Bupati/ Walikota, dg tembusan kpd Gubernur, Menteri & Instansi Teknis

6.2. Emisi Pembangkit


a. Menyediakan fasilitas pengambilan emisi di cerobong sesuai ketentuan Keputusan
Kepala Bapedal No. 205 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian
Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak.
b. Memasang CEMS untuk mesin dengan kapasitas > = 25 MW atau bila
menggunakan bahan bakar dengan kandungan Sulfur > = 2%.
c. Melakukan pemeriksaan kualitas emisi gas buang sesuai dengan peraturan dengan
menggunakan laboratorium terakreditasi.
d. Menghitung beban emisi pembangkit dan melaporkan setiap awal tahun kepada
instansi terkait.
e. Menyampaikan laporan hasil pengelolaan emisi kepada instansi terkait setiap 3
bulan, dan setiap 6 bulan untuk PLTD.

58
6.3. Limbah B3
Kewajiban Penanggung Jawab Kegiatan Usaha dalam Pengelolaan Limbah B3 yaitu :
a. Identifikasi & pendataan limbah B3
b. Minimisasi / Mengurangi timbulan limbah B3
c.Penyimpanan Limbah B3  Izin Penyimpanan LB3
d. Pengelolaan LB3, dengan alternatif sebagai berikut :
– Pengelolaan  Izin Pengelolaan
– Pemanfaatan / 3R  Izin Pemanfaatan
– Program percepatan pemanfaatan oleh PUPR untuk Limbah FA-BA
– Diserahkan kepada Pihak ketiga yang memiliki izin untuk dimanfaatkan / dikelola
/ ditimbun  Pihak Ketiga harus memiliki izin dari Bupati / Walikota / Menteri /
Instansi Teknis sesuai kewenangannya.
– Penimbusan (Landfilling / Backfilling)  Izin Landfilling / Izin Dumping / Izin
Backfilling
*) Penimbusan merupakan alternatif terakhir pengelolaan limbah B3

6.3.1. Hierarki Pengelolaan LB3


Siklus Pengelolaan Limbah B3 yaitu :
Pengurangan  Penyimpanan  Pengangkutan  Pemanfaatan 
Pengolahan  Penimbunan  Dumping

Di setiap mata rantai pengelolaan dilakukan pencatatan dan pengendalian /


pengawasan dengan izin untuk memastikan dipenuhinya persyaratan lokasi,

59
fasilitas, teknologi, dan baku mutu.

Setiap perpindahan limbah B3 disertai dengan manifest untuk memastikan


pengelolaan dilakukan sesuai prinsip from cradle to grave.

Khusus 3R didekati dengan prinsip cradle to cradle artinya pengelolaan limbah


B3 sejak dihasilkan sampai dengan limbah dimanfaatkan kembali.
Contoh Pengelolaan Limbah B3 :

Penyimpanan Sementara

Penimbunan Limbah B3

Pemanfaatan Olie Bekas

60
Pemanfaatan Fly Ash

8. Land Aquisition and Resettlement Program (LARAP)


8.1. Latar belakang LARP:
a. Sebelum tahun 2000 LARP menjadi urusan peminjam (tidak masuk dalam
persyaratan pinjaman).
b. Karena desakan LSM Internasional, lender2 internasional menyusun konsep agar
bantuan (pinjaman) tidak membuat penderitaan rakyat di negara peminjam.
c. Untuk itu Lender menyusun Social Safeguard sebagai persyaratan pinjaman
(LARP).
d. LARP (Land Acquisation and Resetlement Plan) masuk didalam MOU
e. Isi LARP harus sesuai dengan CPFPG (Compensation Policy Framework and
Procedural Guideline)

Kompleksitas pertanahan juga sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang juga


memiliki dimensi ruang yang cukup luas misalnya:
a. Prasarana dan sarana perhubungan : jalan, jembatan, jalan kereta api, dermaga,
pelabuhan laut, pelabuhan udara, penyeberangan sungai dan danau;
b. Prasarana dan sarana pengairan: bendungan, jaringan pengairan, bangunan

61
pengendalian banjir, pengamanan pantai, dan bangunan pembangkit listrik tenaga
air;
c. Prasarana dan sarana permukiman, industri dan perdagangan: bangunan gedung,
kawasan industri dan perdagangan, kawasan perumahan skala besar, reklamasi
lahan, jaringan dan instalasi air bersih, jaringan dan pengolahan air limbah,
pengelolaan sampah, dan sistem drainase;
d. Bangunan dan jaringan utilitas umum: gas, listrik, dan telekomunikasi.

8.2. Maksud & manfaat larap


8.2.1. Maksud adanya LARAP
a. Dokumen LARAP disusun untuk mempersiapkan laporan yang terkait
dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang lahannya
akan digunakan oleh PLN dalam perencanaan proyek dan pembuatan
keputusan sebagai materi yang akan diajukan kepada pemberi pinjaman.
b. Rencana Penataan Permukiman (RPP) atau Community Settlement Plan
(RPP/CSP) adalah rencana pembangunan di tingkat kelurahan/desa untuk
kurun waktu 5 tahun yang disusun berdasarkan aspirasi, kebutuhan dan
cita-cita masyarakat untuk memperbaiki kondisi lingkungan permukimannya
serta mendukung kesiap-siagaan masyarakat terhadap bencana

8.2.2. Berorientasi Sosial dan Wilayah


Kegiatan penyusunan LARAP dimulai dengan dilakukannya pengumpulan data
lengkap dari masyarakat yang akan langsung terkena dampak dari rencana
kegiatan tersebut seperti pemindahan rumah, tempat kegiatan usahanya,
maupun akses dari rumah dan ketempat usahanya selama ini. Data dari
orientasi sosial dan wilayah tersebut antara lain:
a. Didapatkan gambaran umum wilayah dan dinamika sosial masyarakat,
sehingga Strategi pendampingan dapat dirumuskan
b. Diperoleh data awal yang selanjutnya didetailkan pada saat Pemetaan
Swadaya
c. Rencana program Rekompak dan RPP/CSP terinformasikan ke
masyarakat lebih luas
d. Potensi Desa/Profil Desa
e. Laporan singkat tentang hasil orientasi awal tersusun

8.2.3. Manfaat LARAP Bagi PLN


Dokumen LARAP memberikan informasi yang lebih detil dan akurat mengenai
masyarakat yang terkena dampak baik secara sosial maupun aset (lahan,

62
pemukiman) dari kegiatan ketenagalistrikan. Selain itu, memberikan masukan
yang komprehensif mengenai keluhan dan minat partisipasi masyarakat dalam
mendukung pembangunan ketenagalistrikan. Dengan adanya informasi ini,
dampak sosial berupa konflik antar masyarakat ataupun konflik dengan PLN,
dapat dikurangi.

8.3. Tujuan dan prinsip dasar pengadaan lahan untuk suatu kegiatan:
8.3.1. Tujuan:
a. Meminimalkan pemindahan penduduk;
b. Memperlakukan pemukiman kembali sebagai program pembangunan;
c. Menyediakan warga terkena dampak kesempatan untuk berpartisipasi;
d. Membantu warga terkena dampak meningkatkan standar kehidupannya atau
memulihkannya seperti sebelum terkena proyek;
e. Memberikan kompensasi dengan nilai penggantian penuh (replacement
cost).

8.3.2. Prinsip Dasar


a. Mengurangi dampak negatif pembebasan lahan sehingga kehidupan Warga
Terkena Proyek tidak menurun.
b. Memberi kesempatan kepada Warga Terkena Proyek untuk berpartisipasi
dalam proses pembangunan
c. Mendapatkan data akurat tentang Warga Terkena Proyek dan data lainnya
sebagai pertimbangan untuk pelaksanaan LARAP
d. Melakukan sosialisasi LARAP kepada masyarakat yang terkait dengan
pengalihan aset, penyamaan persepsi dan perolehan masukan dari Warga
Terkena Proyek.
e. Menyusun arahan/usulan umum tentang rencana pemukiman kembali bagi
Warga Terkena Proyek yang akan dipindahkan
f. Menyediakan mekanisme penyampaian keluhan dan prosedur
pemantauan serta evaluasi pelaksanaan LARAP.

8.4. Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali


(Land Acquisition and Resettlement Policy Framework/LARPF)

Prinsip utama yang mendasari LARPF adalah bahwa warga terkena dampak hidupnya
akan menjadi lebih baik, atau setidaknya tidak lebih buruk dari sebelumnya; bahwa aset
atau elemen penghidupan yang terkena proyek akan dikompensasi dengan nilai
penggantian penuh, dan bahwa warga terkena dampak akan mendapatkan bantuan

63
pemulihan penghidupan, jika dibutuhkan.

LARPF ini antara memberikan pedoman:


a. Prinsip-prinsip umum dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman
kembali;
b. Penyiapan, pelaksanaan dan persetujuan rencana pengadaan tanah (LARAP)
c. Survey sosial ekonomi dan inventarisasi warga dan aset yang terkena;
d. Penyampaian informasi dan konsultasi;
e. Kompensasi dan bantuan lain;
f. Institusi dan pengaturan pelaksanaan;
g. Pemantauan dan evaluasi;
h. Mekanisme penanganan keluhan

8.5. Proses penyusunan LARAP


LARAP perlu disusun bagi kegiatan ketenagalistrikan yang pendanaannya diperoleh
dari pinjaman/Loan terutama apabila kegiatan yang akan dilakukan memerlukan
pemindahan penduduk dan/atau mengenai kawasan lindung bagi Flora dan Fauna.
Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:
8.5.1. Inventarisasi warga terkena dampak
Inventarisasi ini meliputi pendataan warga-warga yang terkena dampak baik
sebagai pemilik, warga bermukim atau warga yang tidak bermukim (tapi
beraktivitas di kawasan dampak). Pendataan tersebut mengenai data pribadi,
pendapatan, pekerjaan, lama tinggal, serta aspirasi dan persepsi warga yang
direlokasi.
8.5.2. Inventarisasi asset terkena proyek
Inventarisasi ini meliputi pendataan lahan, tanaman dan bangunan yang terkena
kegiatan pembangunan SUTT. Pendataan ini disusun berdasarkan jenis
tanaman/bangunan, luas lahan/bangunan, kuantitas, lokasi (desa), kepemilikan
asset, dan lain-lain.
8.5.3. Peraturan yang berlaku
Jika ada perbedaan, proyek akan mengikuti Kerangka Kebijakan Pengadaan
Tanah (Land Acquisition and Resettlement Policy Framework/LARPF) yang
sudah disepakati bersama.
8.5.4. Kompensasi pemindahan/pengadaan
a. Kompensasi atau pemberian ganti rugi terhadap asset yang terkena proyek
diberikan berdasarkan data kepemilikan. Mekanisme pembayaran ganti rugi
bekerja sama dengan dinas atau pemerintah terkait dan mengacu pada
peraturan yang berlaku, antara lain:

64
 UU No. 2/2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk
Kepentingan Umum
 Peraturan Kepala BPN No. 5/2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Pengadaan Tanah
 Keputusan Direksi PT. PLN No. 0289.K/DIR/2013
b. Selain pembayaran ganti rugi, diberikan juga kompensasi berupa bantuan /
pelaksanaan program CSR/Comdev kepada warga terkena dampak.
Bantuan dapat berupa bantuan keterampilan (ekonomi, softskill, teknis),
bantuan bersama dengan pemerintah lokal (pemberdayaan UKM), dan
bantuan pemukiman kembali yang didiskusikan dengan warga terkena
dampak dan pemerintah setempat.
8.5.5. Diskusi dan konsultasi
Kegiatan ini dimaksudkan untuk membahas opsi pemukiman kembali dan
langkah-langkah yang diperlukan untuk melaksanakannya. Metode
pelaksanaannya dilakukan dengan sosialisasi dan Focus Group Discussion
(FGD) pada warga terkena dampak. Selain dengan warga kegiatan ini juga
melibatkan stakeholders lain seperti dinas pertanian, pekerjaan umum,
pendidikan dan kebudayaan, kehutanan, pemerintah lokal, dan LSM setempat.

8.6. Format isi dokumen LARAP:


Contoh Format / isi dokumen LARAP adalah sbb:
8.6.1. Diskripsi Proyek yang akan dibangun
8.6.2. Prinsip dan Objektif framework LARAP
 LARAP FRAMEWORK OBJECTIVE
 LARAP FRAMEWORK PRINCIPLE
 Persiapan, Persetujuan dan Implementasi LARAP
8.6.3. VALID LEGISLATION AND REGULATION
8.6.4. Scope kegiatan pembebasan tanah
 Perkiraan luas lahan yang diperlukan untuk kegiatan yang akan dilakukan
 Perkiraan Jumlah warga masyarakat yang akan terkena dampak “Project
Affected People” (PAP)
 Kompensasi yang akan diberikan
8.6.5. PROCEDURE ON LAND ACQUISITION
 BASIC POLICY
 Kriteria dari warga terkena dampak (Project Affected People = PAP)
 SCHEME OF PAP HANDLING
 Sosialisasi LARAP
 Mekanisme untuk pembebasan tanah
 Rencana jadwal/periode pelaksanaan LARAP

65
8.7. Pelaksanaan, monitoring & pelaporan
8.7.1. Pelaksanaan
Dokumen LARAP disusun oleh konsultan yang ahli di bidangnya. Hubungan
kontrak terjadi antara PLN dengan konsultan. Pelaksanaan dan pelaporan
dokumen LARAP bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. Misalnya,
pengawasan dilakukan langsung oleh pegawai unit proyek konstruksi; pelaporan
dilakukan setiap triwulan; dan lainnya

8.7.2. Secara umum ada 3 pola penyediaan lahan, yaitu:


8.7.2.1. Penyediaan lahan melalui kontribusi lahan oleh warga penerima
manfaat
a. KSM menyerahkan usulan subproyek ke BKM. Dalam proposal
tersebut sdh termasuk ketersediaan lahan sebagai kontribusi dari
warga.
b. BKM dan fasilitator melakukan pemeriksaan ke lapangan untuk
memastikan bahwa pemilik lahan menghibahkan lahan tersebut
secara sukarela.
c. BKM dan fasilitator juga memastikan bahwa keputusan
menghibahkan lahan tersebut dilakukan secara partisipatif dimana
BKM dan fasilitator sendiri hadir dlm pertemuan tersebut.
d. Penyerahan lahan ini dilakukan secara tertulis dan juga dilakukan
dihadapan saksi yaitu Lurah atau Kepala Desa. Dalam surat
penyerahan tersebut sekurang-kurang berisi nama dan alamat yg
menghibahkan, lokasi dan luas lahan yg dihibahkan serta tujuan
penghibahan lahan tersebut.
e. Segera setelah proposal disetujui maka pemilik lahan menunjukkan
lokasi definitif untuk membangun prasarana.

8.7.2.2. Penyediaan lahan melalui mekanisme kompensasi


Proses penyediaan lahan melalui kompensasi adalah sebagai berikut;
a. KSM menyerahkan usulan sub-proyek ke BKM. Dalam proposal
tersebut sdh menyebutkan penyediaan lahan akan dilakukan

66
melalui kompensasi tunai. Biasanya lokasi ini memang merupakan
lokasi yang tidak dapat digantikan dgn lokasi lain seperti kasus
penampungan air didekat mata air.
b. Penerima manfaat melakukan negosiasi dengan pemilik lahan
sampai tercapainya kesepakatan harga. Kemudian anggota KSM
membahas bagaimana kompensasi ini akan dibebankan
c. KSM membayar kompensasi lepada pemilik lahan
d. BKM menerima bukti transaksi dari KSM dan dilampirkan dalam
proposal.

8.7.2.3. Penyediaan lahan melalui kontribusi pemerintah setempat


Secara terbatas terkadang Pemerintah setempat menyediakan lahan
untuk pembangunan prasarana, biasanya adalah lahan negara (state
land) untuk pembangunan prasarana/sarana yang pembiayaannya
dilakukan secara patungan. Proposal subproyek disusun bersama
antara masyarakat dan pemerintah setempat dan diserahkan ke
Komite Kemitraan, kemudian ketersediaan lahan tsb akan diverifikasi
oleh KMW dan Komite kemitraan.

8.7.3. Monitoring dan pelaporan


Kemajuan dari pelaksanaan pembebasan lahan dan pemukiman kembali serta
bantuan lainnya dilaporkan kepada Lender, misalnya Bank Dunia, ADB, IBRD dll
secara teratur.

Jika diperlukan sebuah pemantau independen (IMA) dapat diperbantukan untuk


melakukan monitoring dan evaluasi tentang pelaksanaan dari LARAP,
Perusahaan tersebut harus memiliki tenaga ahli yang berpengalaman dan
kerangka acuan kerja (TOR) untuk hal tersebut harus disetujui oleh Bank Dunia,
ADB ataupun pihak Bank pemberi pinjaman lainnya

9. PROPER
Definisi PROPER adalah merupakan instrument penaatan alternative yang
dikembangkan untuk bersinergi dengan instrument penaatan lainnya guna mendorong

67
penaatan perusahaan melalui penyebaran informasi kinerja kepada masyarakat (public
disclosure).

9.1. Mekanisme dan Kriteria PROPER

Kriteria Penilaian PROPER


a. Peringkat Emas : Kriteria Hijau dan sudah menerapkan sistem pengelolaan
lingkungan yang berkesinambungan, serta melakukan upaya-upaya yang berguna
bagi kepentingan masyarakat pada jangka panjang.
b. Peringkat Hijau : Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang
dipersyaratkan, telah mempunyai sistem pengelolaan lingkungan, mempunyai
hubungan yang baik dengan masyarakat, termasuk melakukan upaya 3R (Reduce,
Reuse, Recycle).
c. Peringkat Biru : Telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang
dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku.
d. Peringkat Merah : Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru
sebagian mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan.
e. Peringkat Hitam :
- Belum melakukan upaya pengelolaan lingkungan berarti,
- secara sengaja tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan sebagaimana
yang dipersyaratkan serta berpotensi mencemari lingkungan

68
Tahapan Pelaksanaan PROPER

.
9.2. Kriteria Penilaian
9.2.1. Izin Lingkungan
Aspek / Kriteria Penilaian Izin Lingkungan
a. Memiliki dokumen Lingkungan / izin Lingkungan
b. Melaksanakan ketentuan dalam dokumen Lingkungan / izin Lingkungan.
c. Melaporkan pelaksanaan dokumen Lingkungan / izin Lingkungan
(terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran
udara, dan pengelolaan LB3)

9.2.2. Pengendalian Pencemaran Air (PPA)


1. Ketaatan terhadap izin (IPLC)
a. Mempunyai izin pembuangan air limbah ke badan air / laut / aplikasi
pada lahan.
b. Izin dalam proses akhir (persyaratan izin sudah lengkap).
2. Ketaatan Terhadap Titik Penaatan

69
a. Memantau seluruh titik penaatan dan/ atau air buangan yang harus
dikelola sesuai dengan peraturan.
3. Ketaatan Terhadap Parameter Baku Mutu Air Limbah
a. 100% parameter baku mutu air limbah dipantau.
b. Menghitung beban pencemaran
c. Melakukan pengukuran parameter baku mutu air limbah harian sesuai
jenis industrinya.
4. Ketaatan terhadap jumlah data tiap parameter yang dilaporkan
a. >= 90% data dilaporkan secara lengkap sesuai dengan persyaratan
b. > 90% data pemantauan rata-rata harian dalam 1 bulan tersedia dari
seluruh data pemantauan dalam 1 tahun
5. Ketaatan terhadap pemenuhan baku mutu
a. Data swapantau
b. 100% data pemantauan Tim PROPER memenuhi baku mutu.
6. Ketaatan terhadap ketentuan teknis
a. Menggunakan jasa laboratorium (eksternal atau internal) terakreditasi
atau ditunjuk oleh gubernur.
b. Memisahkan saluran air limbah dengan limpasan air hujan.
c. Membuat saluran air limbah kedap air.
d. Memasang alat pengukur debit (flowmeter)
e. Tidak melakukan pengenceran
f. Tidak melakukan by pass
g. Memenuhi seluruh ketentuan yang dipersyaratkan dalam sanksi
administrasi.
h. Pemasangan papan untuk titik pemantauan lengkap dengan identitas
beserta koordinat titik

9.2.3. Pengendalian Pencemaran Udara (PPU)


1. Ketaatan Terhadap Seluruh Emisi
a. Memantau 100% seluruh cerobong emisi
2. Ketaatan terhadap Parameter

70
a. Memantau 100% parameter sesuai peraturan (dalam AMDAL / UKL-
UPL / Kepmen LH Nomor 13 Tahun 1995)
3. Ketaatan Terhadap Jumlah Data Tiap Parameter yang dilaporkan
a. Melaporkan data pemantauan CEMS, setiap 3 bulan tersedia data >=
75% dari seluruh data pemantauan dengan pengukuran harian minimal
18 jam.
b. Melaporkan data pemantauan manual setiap 3 bulan
c. Melaporkan perhitungan beban pencemaran
4. Ketaatan terhadap pemenuhan baku mutu
a. Data hasil pemantauan CEMS memenuhi >= 95% ketaatan dari data
rata-rata harian yang dilaporkan dalam kurun waktu 3 bulan waktu
operasi.
b. Pemantauan manual memenuhi baku mutu 100% tiap sumber emisi.
c. Memenuhi beban pencemaran dalam peraturan.
5. Ketaatan terhadap ketentuan teknis
a. Menaati semua persyaratan teknis cerobong
b. Semua sumber emisi non fugitive emisi harus dibuang melalui cerobong.
c. Menggunakan jasa laboratorium yang terakreditasi atau yang ditunjuk
oleh Gubernur.
d. Memenuhi sanksi administrasi sampai batas waktu yang ditentukan.
e. Jika CEMS rusak wajib melaksanakan pemantauan manual kualitas
emisi setiap 3 bulan sekali selama 1 tahun periode penilaian.
f. Bagi industri yang wajib memasang CEMS, peralatan CEMS harus
beroperasi dengan normal.

9.2.4. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya & Beracun (PLB3)


Aspek Pengelolaan LB3 yaitu :
1. Identifikasi, Pencatatan dan Pendataan
a. Identifikasi seluruh limbah B3 yang dihasilkan dan atau potensial
dihasilkan.
b. Pencatatan jenis dan volume limbah yang dihasilkan.
c. Mendata pengelolaan lanjutan atas Limbah B3 yang dihasilkan.

71
2. Pelaporan
a. Melakukan pelaporan khusus pengelolaan limbah B3 secara teratur
dengan substansi pelaporan sekurang-kurangnya memuat data logbook
limbah B3, neraca limbah B3 dan manifest limbah B3.
b. Frekuensi pelaporan sesuai dengan ketentuan dalam izin atau
peraturan (paling sedikit 1 kali dalam 3 bulan).
c. Menyampaikan pelaporan kepada instansi sesuai yang tercantum dalam
izin (KLHK, Provinsi dan BLH Kabupaten / Kota).
3. Kriteria Perizinan
3a. Kriteria Perizinan (Penyimpanan)
a. Memiliki izin yang dipersyaratkan dan masih berlaku.
b. Telah mengajukan izin dan telah sesuai dengan ketentuan serta
melengkapi persyaratan teknis.
c. Telah mengajukan perpanjangan izin dan telah sesuai dengan
ketentuan izin sebelumnya.
3b. Kriteria Perizinan (Pemanfaatan dan Pengolahan)
a. Memiliki izin yang dipersyaratkan dan masih berlaku.
b. Telah mengajukan perpanjangan izin dan telah sesuai dengan
ketentuan izin sebelumnya.
3c. Kriteria Perizinan (Penimbunan)
a. Memiliki izin yang dipersyaratkan dan masih berlaku.
b. Telah mengajukan perpanjangan izin dan telah sesuai dengan
ketentuan izin sebelumnya.
c. Persyaratan teknis telah dipenuhii namun penetapan izin masih
dalam proses.

4. Pemenuhan Ketentuan Izin


a. Memenuhi > 90% dari ketentuan dan persyaratan izin, dan tidak
ditemukan fakta pencemaran Lingkungan dan/ atau tidak ditemukan
gangguan kesehatan manusia.

72
4a. Pemenuhan ketentuan izin (emisi dari kegiatan pengolahan dan atau
pemanfaatan limbah B3)
a. Mengukur seluruh parameter
b. Seluruh parameter memenuhi BME
c. Frekuensi pengukuran sesuai dengan ketentuan izin / peraturan
yang berlaku.
4b. Pemenuhan ketentuan izin (effluent dari kegiatan penimbunan dan atau
kegiatan pengelolaan limbah B3 lainnya termasuk sumur pantau)
a. Mengukur seluruh parameter yang dipersyaratkan dalam izin;
b. Seluruh parameter menaati BMAL dan/ atau Baku Mutu air sumur
pantau;
c. Frekuensi pengukuran sesuai dengan ketentuan izin / peraturan yang
berlaku.
4c. Pemenuhan Ketentuan Izin (standar mutu produk dan atau kualitas
limbah B3 untuk pemanfaatan : batako, kompos, dll)
a. Seluruh persyaratan standar mutu dan/ atau kualitas limbah B3
memenuhi ketentuan izin;
b. Frekuensi pengukuran sesuai dengan ketentuan izin / peraturan yang
berlaku;
c. Melakukan pemanfaatan limbah B3 produk samping dan sudah ada
penetapan dari Menteri sebagai produk sehingga tidak diperlukan
izin.
5. Struktur dan Tanggung Jawab
a. Memiliki Divisi Khusus di bidang Lingkungan
6. Open Dumping, Open Burning pemulihan lahan terkontaminasi
a. Memiliki rencana pengelolaan penanganan tanah terkontaminasi dan
tumpahan (spill) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
b. Pelaksanaan clean up dan pemulihan lahan terkontaminasi limbah
B3 sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
c. Jumlah atau volume tumpahan (spill) tercatat dengan baik
d. Tidak melakukan open burning
7. Jumlah limbah B3 yang dikelola

73
a. Jenis dan jumlah limbah B3 telah 100% dilakukan pengelolaan
sesuai ketentuan;
b. Neraca limbah B3 sesuai dengan periode penilaian (data yang
tersedia 12 bulan)
8. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3
8a. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3 (Pengumpul)
a. Memiliki izin dan masih berlaku
b. Jenis limbah B3 yang dikumpulkan sesuai dengan izin
c. Ada kontrak kerjasama antara penghasil dengan pengumpul
d. Ada kontrak kerjasama pengumpul dengan pemanfaat / pengolah
/ penimbun.
e. Penghasil limbah B3 memiliki salinan kontrak kerjasama antara
pengumpul dengan pengelola akhir jenis limbah B3 yang
dihasilkan (pemanfaat / pengolah / penimbun)
f. Tidak dalam masalah pencemaran Lingkungan
8b. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3 (Pengolah, Pemanfaat dan
Penimbun)
a. Memiliki izin dan masih berlaku
b. Jenis limbah B3 yang dikelola sesuai dengan izin
c. Memiliki kontrak kerjasama dengan pihak ketiga (pengolah/
pemanfaat/ penimbun)
d. Tidak dalam masalah pencemaran Lingkungan
8c. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3 (Pengangkutan)
a. Memiliki izin usaha perusahaan berbadan hukum (PT, Koperasi,
Yayasan)
b. Memiliki izin Kementerian Perhubungan dan rekomendasi KLHK
c. Jenis limbah yang diangkut sesuai dengan rekomendasi dan izin
d. Alat angkut yang digunakan sesuai dengan rekomendasi dan izin
e. Wilayah pengangkutan sesuai dengan rekomendasi dan izin
8d. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3 (Dokumen limbah B3
Manifes)

74
a. Manifes limbah B3 dan cara pengisian sesuai dengan ketentuan
Kep. Ka. Bapedal Nomor : Kep-02/Bapedal/09/1995
9. Dumping dan pengelolaan limbah B3 cara tertentu
a. Memiliki izin dumping atau injeksi
b. Seluruh persyaratan kewajiban dan larangan dalam izin dipenuhi

9.3. Penilaian Kinerja Lebih dari Ketaatan


Mekanisme penilaian Kinerja lebih dari ketaatan adalah sebagai berikut :

75
Kandidat hijau adalah perusahaan yang mempunyai nilai DRKPL lebih besar dari nilai
rata-rata DRKPL calon kandidat hijau (Nilai DRKPL > Nilai rata-rata DRKPL calon
kandidat hijau). Apabila nilai DRKPL calon kandidat hijau lebih kecil atau sama dengan

76
nilai DRKPL rata-rata, maka perusahaan ybs dinyatakan gugur sebagai kandidat hijau
sehingga tidak dinilai dalam mekanisme penilaian hijau dan emas.

Komponen Penilaian Hijau adalah sebagai berikut :

9.3.1. Hasil PROPER PLN 2015 – 2016


Hasil PROPER Unit PLN tahun 2015 – 2016 adalah sebagai berikut :

Peringkat Jumlah Unit


Hitam -
Merah 8
Biru 70
Hijau 3
Total Unit PLN 81

10. SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN (ISO 14001)

10.1. Pengertian ISO, ISO 14001 dan Tujuan ISO 14001

ISO (International Organization for Standardization) adalah organisasi independen,


organisasi internasional non-pemerintah yang menyatukan para ahli untuk berbagi
pengetahuan dan mengembangkan Standar sukarela, berdasarkan konsensus, pasar
Standar Internasional relevan yang mendukung inovasi dan memberikan solusi untuk
tantangan global.
a. ISO adalah organisasi non pemerintah.
b. ISO merupakan jaringan global badan standar nasional dengan satu
anggota per negara.

77
c. Tugas ISO adalah untuk membuat International standar.
d. ISO dikoordinasikan oleh Sekretariat Pusat di Jenewa, Swiss
e. ISO tidak mencari keuntungan melainkan menjual standar yang
memungkinkan untuk membiayai perkembangannya di lingkungan netral,
untuk mempertahankannya dan untuk membuat yang baru.

Pengertian Sistem Manajemen Lingkungan (SML / ISO 14001) adalah bagian dari
sistem Manajemen yang digunakan untuk mengelola aspek Lingkungan, memenuhi
kewajiban kepatuhan, dan mengelola Risiko dan peluang.

Tujuan Sistem Manajemen Lingkungan adalah untuk mempersiapkan organisasi


dengan kerangka kerja untuk melindungi Lingkungan dan merespon perubahan kondisi
Lingkungan agar seimbang dengan kebutuhan social ekonomi.

SML membantu organisasi berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dengan:


 Menjaga lingkungan dengan mencegah atau mengurangi dampak lingkungan;
 Mengurangi efek samping potensial dari kondisi lingkungan;
 Membantu organisasi dalam pemenuhan kewajiban;
 Meningkatkan kinerja lingkungan;
 Mengendalikan atau mempengaruhi cara organisasi dalam merancang,
memproduksi, mendistribusikan, mengkonsumsi dan membuang produk dan
jasanya (perspektif siklus hidup);
 Mencapai manfaat keuangan dan operasional;
 Mengkomunikasikan informasi lingkungan kepada pihak yang berkepentingan yang
relevan.

10.2. Ruang Lingkup

Standar ISO 14001 menetapkan persyaratan sistem manajemen lingkungan, agar suatu
organisasi dapat merumuskan kebijakan dan tujuan dengan memperhitungkan
persyaratan perundang-undangan dan informasi mengenai dampak lingkungan yang
penting.

Standar ini dapat digunakan oleh setiap organisasi yang ingin :

a. menerapkan, mempertahankan dan menyempurnakan sistem manajemen


lingkungan

b. menjamin dirinya atas kesesuaianmya dengan kebijakan lingkungan yang sudah


ditetapkan.

c. membuktikan kesesuaiannya dengan pihak lain.

78
d. memperoleh sertifikasi atau registrasi oleh organisasi dari pihak ketiga atas sistem
manajemen lingkungannya.

e. menentukan dan menyatakan dirinya sendiri telah sesuai dengan standar ini.

10.3. Normatif Reference

Tidak ada acuan yang bersifat normatif dalam penerapan Sistem Manajemen
Lingkungan ISO 14001.2.

10.4. Definisi-Definisi

Untuk penerapan Standar Interbasional ini digunakan definisi-definisi sebagai berikut :

1. Penyempurnaan berkelanjutan ( Continuos Improvement)

Proses peningkatan sistem manajemen lingkungan untuk mencapai


penyempurnaan kinerja lingkungan secara menyeluruh sejalan dengan kebijakan
lingkungan organisasi.

2. Lingkungan

Keadaan sekeliling tempat organisasi beroperasi , termasuk udara, air, tanah,


sumber alam, flora, fauna, manusia dan keterkaitannya.

3. Aspek Lingkungan

Unsur dari suatu kegiatan, produk atau jasa dari organisasi yang dapat berinteraksi
dengan lingkungan.

4. Dampak Lingkungan

Setiap perubahan pada lingkungan, apakah merugikan atau menguntungkan,


seluruhnya atau sebagian yang dihasilkan oleh kegiatan, produk atau jasa dari
organisasi.

5. Sistem Manajemen Lingkungan

Bagian dari sistem manajemen keseluruhan yang meliputi struktur organisasi,


kegiatan perencanaan, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumberdaya

79
untuk mengembangkan, menerapkan, mencapai, mengkaji dan memelihara
kebijakan lingkungan

6. Audit Sistem Manajemen Lingkungan.

Suatu proses verifikasi yang sistimatik dan terdokumentasi untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara obyektif untuk menentukan apakah sistem manajemen
lingkungan dari organisasi sesuai dengan kriteria audit sistem manajemen
lingkungan yang dibuat organisasi, dan untuk mengkomunikasikan hasil-hasil dari
proses ini kepada manajemen.

7. Tujuan Lingkungan

Cita-cita lingkungan secara menyeluruh, yang timbul dari kebijakan lingkungan yang
telah ditentukan organisasi itu sendiri untuk mencapai, dan yang dikuantifikasikan
bila memungkinkan.

8. Kinerja Lingkungan

Hasil sistem manajemen lingkungan yang dapat diukur, yang berkaitan dengan
pengendalian dari organisasi terhadap aspek lingkungannya, didasarkan pada
kebijakan lingkungan, tujuan dan sasaran lingkungan.

9. Kebijakan Lingkungan

Pernyataan oleh organisasi tentang keinginan dan prinsip-prinsipnya dalam


kaitannya dengan kinerja lingkungan keseluruhan yang memberikan kerangka untuk
tindakan dan penentuan tujuan dan sasaran lingkungan.

10. Sasaran Lingkungan

Persyaratan kinerja secara rinci, dikuantifikasikan bila dimungkinkan,berlaku untuk


organisasi atau bagiannya, yang diturunkan dari tujuan lingkungan dan yang perlu
ditentukan dan dipenuhi untuk mencapai tujuan lingkungan.

11. Pihak Terkait

Perorangan atau kelompok yang berkepentingan dengan atau dipengaruhi oleh


kinerja lingkungan organisasi.

12. Organisasi

80
Perusahaan, perserikatan, firma, perusahaan besar, pengusaha atau lembaga atau
bagian atau kombinasi daripadanya, apakah tergabung atau tidak, umum atau
pribadi yang memiliki fungsi dan administrasi sendiri.

13. Pencegahan Pencemaran

Penggunaan proses, praktek, bahan atau produk yang mencegah, mengurangi atau
mengendalikan pencemaran, yang dapat mencakup daur ulang, pengolahan,
perubahan proses, mekanisme pengendalian, penggunaan sumberdaya secara
effisien dan penggantian bahan.

Manajemen Lingkungan (Environmental Management) sering dikaitkan dengan Sistem


Manajemen Lingkungan (Environmental Management System-EMS) yang terdapat
pada Standar ISO 14001. Manajemen Lingkungan dapat memiliki pengertian tersendiri
tanpa terkait dengan sistem pada EMS atau skema pelaksanaan pada EMS Standar
ISO 14001, demikian pula bahwa EMS bisa merupakan sistem tersendiri tanpa terkait
dengan skema pelaksanaan EMS pada Standar ISO 14001, misalnya Manajemen
Lingkungan yang dibahas dalam Siklus Deming atau EMS dalam British Standard-BS
7750. Manajemen Lingkungan dan EMS sudah ada dalam sistem manajemen
konvensional ataupun sebelum adanya konsep Standar ISO 14000.

Contoh-contoh manajemen lingkungan antara lain pengolahan “end of pipe” ,


pencegahan pencemaran, minimisasi limbah, produksi bersih, pertukaran limbah,
konsep nir limbah, dan lain-lain.

Manajemen Lingkungan atau sering disebut sebagai pengendalian pencemaran


( pollution control ) kadang-kadang masih terpisah dari manajemen utama
(keseluruhan). Isu-isu lingkungan merupakan masalah bagi perusahaan dan dilakukan
untuk menghindari masalah yang lebih besar berkaitan dengan para penegak
peraturan. Manajemen lingkungan pada awalnya hanya difungsikan untuk menangani
masalah-masalah lingkungan semata. Namun sejak dikenalnya pencegahan
pencemaran, manajemen lingkungan secara integral dimasukkan ke dalam bisnis
utamanya. Keputusan-keputusan bisnis harus mempertimbangkan aspek lingkungan

81
karena keduanya memliki tujuan yang sama yaitu mempertahankan keberlangsungan
bisnis dan keefektifannya.

10.5. Seri Standar ISO 1400

Standar SML mendefinisikan suatu kerangka kerja bagi sistem manajemen yang
komprehensif. Audit dan Evaluasi Kinerja Lingkungan menggambarkan metoda untuk
menilai SML dan kinerja lingkungan. Pelabelan dan Analisa Daur Hidup lebih dekat
kepada produk dan atau jasa-jasa yang dihubungkan dengan bisnis daripada sistem
manajemen.

1. Standar Sistim Manajemen Lingkungan (SML)

Terdiri dari dua standar yaitu ISO 14001 (Spesifikasi) dan ISO 14004 (Pedoman)
penyusunan.

ISO 14004 adalah standar pedoman yang dirancang untuk digunakan secara
internal organisasi yang ingin menerapkan dan meningkatkan Sistem Manajemen
Lingkungan (SML). Standar ini tidak dapat digunakan untuk registrasi pihak ketiga.

ISO 14001 adalah standar spesifikasi sebab mengandung persyaratan yang harus
dilakukan oleh organisasi. Karakter dari standar adalah berisi persyaratan umum,
tanpa metoda tertentu, alat atau pendekatan implementasi. Standar ini
menggambarkan elemen-elemen kritis yang harus dimiliki oleh bisnis untuk
mencapai sistem manajemen lingkungan yang komprehensif dan efektif.

Standar ISO 14001 dapat diorganisasikan mengikuti konsep Plan-Do-Check-Act


yang umum dikenal dalam menejemen mutu dan menggambarkan suatu
pemikiran logis bagi semua jenis bisnis.

Standar Audit

Standar Audit terdiri atas

a. Prinsip umum audit lingkungan (ISO 14010)

b. Prosedur audit SML (ISO 14011)

c. Kriteria untuk auditor lingkungan (ISO 14012)

82
Sistem Manajemen Lingkungan dapat dipadukan dengan Sistem Manajemen lainnya
seperti SMK3 dan ISO 9001.

Saat ini standar yang digunakan untuk Sistem Manajemen Lingkungan adalah seri
14001:2015 memperbaharui standar sebelumnya yaitu 14001:2004. Adapun
korespondensi antara SNI 14001:2015 dengan ISO 14001:20014 adalah sebagai berikut :
SNI ISO 14001:2015 ISO 14001:2004
NOMOR NOMOR
JUDUL KLAUSUL JUDUL KLAUSUL
KLAUSUL KLAUSUL
Pendahuluan Pendahuluan
Ruang Lingkup 1 1 Ruang Lingkup
Acuan Normaif 2 2 Acuan Normaif
Istilah dan Definisi 3 3 Istilah dan Definisi
Konteks Organisasi (Hanya
4
Judul)
Persyaratan Sistem
4 Manajemen Lingkungan
(Hanya Judul)
Memahami Organisasi dan
4.1
Konteksnya
Memahami Kebutuhan Dan
Harapan Pihak Yang 4.2
Berkepentingan
Menentukan Ruang Lingkup
4.3 4.1 Persyaratan Umum
Sistem Manajemen Lingkungan
Sistem Manajemen Lingkungan 4.4 4.1 Persyaratan Umum
Kepemimpinan (Hanya Judul) 5
Kepemimpinan Dan Komitmen 5.1
Kebijakan Lingkungan 5.2 4.2 Kebijakan Lingkungan
Sumber Daya, Peran,
Peran Organisasi, Tanggung
5.3 4.4.1 Tanggung Jawab dan
Jawab Dan Wewenang
Kewenangan
Perencanaan (Hanya Judul) 6 4.3 Perencanaan (Hanya Judul)
Tindakan Untuk Mengatasi
Risiko Dan Peluang (Hanya 6.1
Judul)
Umum 6.1.1
Aspek Lingkungan 6.1.2 4.3.1 Aspek Lingkungan
Persyaratan Peraturan
Kewajiban Kepatuhan 6.1.3 4.3.2
Perundanga-undangan lainnya
Perencanaan Tindakan 6.1.4

83
Tujuan Lingkungan Dan
Perencanaan Untuk 6.2
Mencapainya (Hanya Judul)
4.3.3 Tujuan, Sasaran dan Program
Tujuan Lingkungan 6.2.1
Perencanaan Untuk Mencapai
6.2.2
Tujuan Lingkungan
Penerapan dan Operasi (Hanya
Dukungan (Hanya Judul) 7 4.4
Judul)
Sumber Daya, Pean, Tanggung
Sumber Daya 7.1 4.4.1
Jawab dan Kewenangan
Kompetensi 7.2 Kompetensi, Pelatihan dan
4.4.2
Pemahaman 7.3 Kesadaran
Komunikasi (Hanya Judul) 7.4
Umum 7.4.1
4.4.3 Komunikasi
Komunikasi internal 7.4.2
Komunikasi eksternal 7.4.3
Informasi terdokumentasi
7.5
(Hanya Judul) 4.4.4 Dokumentasi
Umum 7.5.1
4.4.5 Pengendalian Dokumen
Membuat dan memperbarui 7.5.2
4.5.4 Pengendalian Rekaman
Pengendalian informasi 4.4.5 Pengendalian Dokumen
7.5.3
terdokumentasi 4.5.4 Pengendalian Rekaman
Penerapan dan Operasi (Hanya
Operasi (Hanya Judul) 8 4.4
Judul)
perencanaan dan pengendalian
8.1 4.4.6 Pengendalian Operasional
operasional
Kesiagaan dan Tanggap Kesiagaan dan Tanggap
8.2 4.4.7
Darurat Darurat
Evaluasi Kinerja (Hanya Judul) 9 4.5 Pemeriksaan (Hanya Judul)
Pemantauan, pengukuran,
analisis dan evaluasi (Hanya 9.1
4.5.1 Pemantauan dan Pengukuran
Judul)
Umum 9.1.1
Evaluasi kesesuaian 9.1.2 4.5.2 Evaluasi dan Penaatan
Audit internal (Hanya Judul) 9.2
Umum 9.2.1 4.5.5 Audit Internal
program audit internal 9.2.2
Tinjauan Manajemen 9.3 4.6 Tinjauan Manajemen
Peningkatan (Hanya Judul) 10
Umum 10.1
Ketidaksesuaian, Tindakan
Ketidaksesuaian dan tindakan
10.2 4.5.3 Perbaikan dan Tindakan
korektif
Pencegahan
perbaikan terus menerus 10.3

10.6. Faktor Keberhasilan SML

84
Keberhasilan sistem manajemen lingkungan tergantung pada komitmen dari semua
tingkatan dan fungsi organisasi, dipimpin oleh manajemen puncak. Organisasi dapat
memanfaatkan kesempatan untuk mencegah atau mengurangi dampak lingkungan
yang merugikan dan meningkatkan dampak lingkungan yang bermanfaat, terutama
mereka dengan implikasi strategis dan kompetitif. Puncak manajemen dapat secara
efektif mengatasi risiko dan peluang dengan mengintegrasikan manajemen lingkungan
ke dalam proses bisnis organisasi, arah strategis dan dalam membuat keputusan,
menyelaraskan mereka dengan prioritas bisnis lainnya, dan menggabungkan tata kelola
lingkungan dalam sistem manajemen secara keseluruhan. Demonstrasi keberhasilan
pelaksanaan standar ini dapat digunakan sebagai jaminan bagi pihak yang
berkepentingan bahwa sistem manajemen lingkungan telah dilaksanakan secara efektif.

Adopsi Standar ini, bagaimanapun, tidak akan dengan sendirinya menjamin hasil yang
optimal terhadap lingkungan. Penerapan Standar ini dapat berbeda dari satu organisasi
ke yang lain karena konteks organisasi. Dua organisasi dapat melaksanakan kegiatan
serupa tetapi dapat memiliki kewajiban kepatuhan yang berbeda, komitmen dalam
kebijakan lingkungan mereka, teknologi lingkungan dan tujuan kinerja lingkungan,
namun keduanya dapat menyesuaikan diri dengan persyaratan standar ini.

Tingkat detail dan kompleksitas sistem manajemen lingkungan akan bervariasi


tergantung pada konteks organisasi, ruang lingkup sistem manajemen lingkungan,
kewajiban kepatuhan, dan sifat kegiatannya. produk dan layanan, termasuk aspek
lingkungan dan dampak lingkungan yang terkait.

10.7. Model Plan-Do-Check-Action / PDCA


Model PDCA menyediakan proses berulang-ulang yang digunakan oleh organisasi
untuk mencapai perbaikan terus-menerus yang dapat diterapkan untuk sistem
manajemen lingkungan dan untuk masing-masing elemen individu. Hal Ini dapat secara
singkat dijelaskan sebagai berikut.
 Plan/Rencana: menetapkan tujuan lingkungan dan proses yang diperlukan untuk
memberikan hasil yang sesuai dengan kebijakan lingkungan organisasi.
 Do/Pelaksanaan: melaksanakan proses seperti yang direncanakan.

85
 Check/Periksa: memantau dan mengukur proses terhadap kebijakan lingkungan
termasuk komitmen, tujuan sasaran lingkungan dan kriteria operasi, dan
melaporkan hasilnya.
 Action/Tindakan: mengambil tindakan untuk perbaikan terus-menerus.

10.8. Isi Standar


Standar ini sesuai dengan persyaratan ISO untuk standar sistem manajemen.
Persyaratan ini meliputi struktur tingkat tinggi, teks inti yang identik, dan istilah umum
dengan definisi inti, dirancang untuk menguntungkan pengguna dalam menerapkan
beberapa standar sistem manajemen ISO.
Standar ini tidak mencakup persyaratan khusus untuk sistem manajemen lain, seperti
untuk mutu, kesehatan dan keselamatan kerja, energi atau manajemen keuangan.
Namun, Standar ini memungkinkan suatu organisasi untuk menggunakan pendekatan
umum dan pemikiran berbasis risiko untuk mengintegrasikan sistem manajemen
lingkungan dengan persyaratan sistem manajemen lainnya.
Standar ini berisi persyaratan yang digunakan untuk menilai kesesuaian. Sebuah
organisasi yang ingin menunjukkan kesesuaian dengan standar ini dapat melakukannya
dengan:
 membuat tekad dan deklarasi diri sendiri, atau

86
 mencari konfirmasi kesesuaian perusahaan terhadap pihak yang berkepentingan
dalam organisasi, seperti pelanggan, atau
 mencari konfirmasi deklarasi diri sendiri terhadap pihak eksternal untuk disesuaikan
dengan organisasi, atau
 mendapatkan sertifikasi sistem manajemen lingkungannya dari organisasi eksternal.

Adapun Tahapan dalam Mengimplementasikan Sistem Manajemen Lingkungan meliputi

11. COMMUNITY DEVELOPMENT (COMDEV) & CORPORATE SOCIAL


RESPONSIBILITY (CSR)

Community Development (Comdev) merupakan Program bantuan sosial yang


dimaksudkan sebagai bentuk kepedualian perusahaan/Pemrakarsa kepada kehidupan
warga sekitar lokasi kegiatan berada. program ini dimaksudkan untuk dapat membantu
masyarakat dalam upaya mereka untuk peningkatan taraf kehidupannya. contoh
program Comdev antara lain,
a. Program pengadaan fasilitas umum
b. Program Penyuluhan masalah lingkungan
c. Program Sosial Kemasyarakatan
d. Corporate social Responsibility

87
Comdev dan CSR merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi
masyarakat, khususnya masyarakat sekitar terhadap perusahaan. Hal tersebut juga
berkorelasi terhadap pola relasi sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
Dimana dalam pelaksanaannya, Comdev memiliki 3 Prinsip yaitu:
a. Develop for Community
Tidak melibatkan masyarakat secara aktif, Masyarakat hanya menerima hasil
akhirnya
b. Develop With Community
Bersama2 masyarakat dalam melaksanakan developing
c. Develop of Community
Bertindak sebagai Supervisor, dari rencana sampai pelaksanaannya dilakukan
oleh masyarakat sendiri

11.1.1. Corporate Social Responsibility (CSR)


Yang dimaksudkan dengan CSR dalam konteks kepedulian lingkungan adalah
Tindakan yang melampaui kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang
berkaitan dengan bidang usaha perusahaan, untuk:
a. Berkomitmen pada perilaku bisnis yang etis untuk meningkatkan
kualitas hidup dari para pemangku-kepentingan, dan
b. Berkontribusi pada keberlanjutan aspek ekonomi, lingkungan, dan
sosial sebagai bagian dari proses pembangunan berkelanjutan

11.1.2. Tujuan Pelaksanaan Comdev atau CSR berbasis lingkungan adalah:


a. Mengutamakan aspek lingkungan ke dalam pelaksanaan CSR.
b. Melaksanakan kegiatan CSR dengan lebih efektif, efisien, terintegrasi,
dan berkelanjutan
c. Sebagai salah satu katalis untul mendorong pelaksanaan CSR yang
sesuai dengan standart internasional
11.1.3. Pedoman Pemilihan/penentuan Program CSR
a. Pilih isu yang menjadi perhatian masyarakat dan tempat melakukan
usaha
b. Program yang mendukung misi dan nilai-nilai perusahaan, produk /
jasa
c. Program yang mempunyai potensi untuk mendukung tujuan bisnis
d. Isu yang menjadi perhatian konstituen kunci
e. Program yang bersifat jangka panjang
f. Fokus pada beberapa isu sosial.
KLH mengacu pada UU 32/2009 telah menetapkan suatu panduang pelaksanaan
CSR/Comdev yang berbasis Lingkungan Hidup dengan alternative kegiatan sbb:

88
89
12. 5-S

12.1. Pengertian 5-S

5S berasal dari bahasa jepang yang diawali dengan huruf ‘S’, dan merupakan sebuah
filosofi dan cara dalam menyusun dan mengatur tempat kerja. 5S adalah suatu sistem
yang berperan dalam mengurangi pemborosan dan mengoptimalkan produktivitas
melalui perawatan tempat kerja dan menggunakan penandaan visual untuk mencapai
hasil yang konsisten. 5S merupakan komponen penting dari Visual Factory (Workplace)
Management (VFM), dan 5S juga berkaitan dengan Lean Manufacturing, continuous
improvement, maupun Kaizen dimana 5S merupakan salah satu pilar dari tiga pilar
utama gemba kaizen diantaranya standarisasi, 5S, dan penghapusan pemborosan
(muda).

12.2. Komponen 5-S

5S 5C 5R 5P
Seiri Clear-out Ringkas Pemilahan
Seiton Classify Rapi Penataan
Seiso Cleaning Resik Pembersihan
Seiketsu Comformity Rawat Pemantapan
Shitsuke Custom Rajin Pembiasaan

Untuk mencapai 5S sebagai budaya perusahaan maka Good House keeping adalah
penataan tempat, dimana tempat yang dimaksud dalam hal ini adalah tempat lingkungan
dimana kita belanja, baik itu diperkantoran maupun pabrik.

Manajemen Good Housekeeping mengandung arti suatu alat yang dipergunakan untuk
mengkondisikan tempat kerja agar menjadi bersih, rapi, aman dan nyaman sehingga
kegiatan pekerjaan kita tidak terganggu yang akhirnya tujuan atau sasaran yang ingin dicapai
dapat dipenuhi

90
12.3. Tujuan dan Manfaat Menerapkan 5-S
12.3.1. Tujuan dan Manfaat 5S
Tujuan dari penerapan 5S:
 Mengeliminasi waste/pemborosan (barang, waktu, tempat).
 Aktivitas 5S lebih menekankan pada pentingnya keteraturan pada tempat
kerja. Hal ini merupakan pentingnya dalam hal pencegahan terhadap
accident, pencegahan kebakaran atau tergelincir karena kebocoran oli.
 Untuk meningkatkan efisiensi ditempat kerja, misalnya waktu yang
dibutuhkan dalam pencarian alat-alat dapat dikurangi jika alat-alat tersebut
diatur rapi dan mudah dikenali penempatanya.
 5S berpengaruh juga terhadap quality, khususnya pencegahan kontaminasi
dalam produk.
 Menjaga lingkungan kerja dalam keadaan baik, mewujudkan tempat kerja
yang nyaman dan pekerjaan yang menyenangkan.
 Melatih manusia pekerja yang mampu mandiri mengelola pekerjaannya.
 Mewujudkan perusahaan bercitra positif di mata pelanggan tercermin dari
kondisi tempat kerja.

Manfaat dari penerapan 5S:

 Meningkatkan kualitas.
 Mencapai standarisasi kerja.
 Mengurangi waktu lembur dan waktu siklus.
 Mengurangi biaya simpan dan mengurangi downtime mesin
 Meningkatkan moral pekerja.
 Lingkungan kerja menjadi bersih dan rapi.
 Peningkatan produktivitas para pekerja dan menambah motivasi kerja.
 Mengurangi pemborosan serta mengurangi tingkat kecelakaan.
 Memberikan keamanan dan keselamatan dalam bekerja.
 Menumbuhkan kedisiplinan dalam bekerja.
 Meningkatkan keuntungan.

12.4. Siklus 5-S


Siklus 5-S adalah sebagai berikut :

91
Seiri
Ringkas
Barang yang perlu dan
yang tidak perlu
dipisahkan, yang tidak
perlu dibuang

Shitsuke
Rajin
Seiton Seiso
Rapi menjaga dan mematuhi Resik
seiri, seiton, seiso dan
Barang yang perlu agar seiketsu secara konsisten Membersihkan tempat
mudah dipakai, disusun & berkelanjutan kerja sampai benar-benar
dengan rapi bersih

Seiketsu
Rawat

Memelihara keadaan
yang telah dicapai pada
proses seiri, seiton dan
seiso

12.5. Sasaran 5-S


Sasaran 5-S adalah apabila Tempat Kerja bersih, rapi, aman dan nyaman maka akan
berakibat hal berikut :

92
12.6. Keuntungan menerapkan 5-S
Keuntungan menerapkan 5-S adalah sebagai berikut :
• Zero Breakdown, berarti pemeliharaan lebih baik .
• Zero Defect, yang berarti kualitas lebih baik
• Zero Waste, yang berarti mengurangi biaya dan efisiensi meningkat
• Zero Set Up Time, berarti tidak ada waktu yang terbuang
• Zero Late Delivery, berarti dapat memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu
• Zero Injury, yang berarti keselamatan kerja lebih baik
• Zero Customer Claim, berarti pelanggan menaruh tingkat Kepercayaan Yang
Tinggi
• Zero Deficit, berarti perusahaan anda tambah maju

12.7. Foto-Foto Implementasi 5-S

FOTO-FOTO SETELAH IMPLEMENTASI 5S

93
Gambar lampiran : 01 Ruang Control Room
CONTOH STANDAR CONTROL ROOM

CONTOH STANDAR KANTOR

Gambar lampiran : 02 Ruang Perkantoran

CONTOH STANDAR POWER PLANT

Gambar lampiran : 03 Ruang Power Plant

94
Gambar lampiran : 04 Ruang Gudang

Gambar lampiran : 05 Ruang Workshop

Gambar lampiran : 06 Ruang Workshop

95
Gambar lampiran : 07 Standar Hlem dan Pe3nanggung Jawab ruangan

Gambar lampiran : 08 Standar arsip

Gambar lampiran : 09 Standar rung kerja

96
Gambar lampiran : 10 Standar tempat sampah

Gambar lampiran : 11 Standar parkir sepeda motor

Gambar lampiran : Parkir mobil

97
Gambar lampiran : 13 Standar Gezebo

Gambar lampiran : 14 Standar Lingkungan

98
Gambar lampiran : 15 Standar meja kerja dan laci

Gambar lampiran : 16 Standar almari arsip

99

Anda mungkin juga menyukai