Anda di halaman 1dari 31

PRINSIP PRINSIP PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN

PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
PEMBELAJARAN TERPADU.

Dosen Pengampu :
Nurul Fuad, M.Pd.

Oleh:
MUZDALIFAH
Prodi : PIAUD 6

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ‘ULA
NGLAWAK KERTOSONO NGANJUK
2019

i
KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT,


atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tugas mata kuliah
pembelajaran terpadu ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun berdasarkan
pengumpulan dari berbagai sumber.
Dengan ini penulis ucapkan terimakasih kepada Nurul Fuad, M.Pd.
selaku dosen pembimbing mata kuliah pembelajaran terpadu. Penulis
ucapkan terimakasih juga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian tugas ini. Semoga tugas yang penulis buat dapat bermanfaat bagi
penulis pribadi maupun pihak yang membaca.
Penulis menyadari bahwa tugas ini sangat jauh dari sempurna, masih
banyak kelemahan dan kekurangan. Setiap saran, kritik, dan komentar yang
bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan untuk meningkatkan
kualitas dan menyempurnakan tugas ini.

Kertosono, Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 2
C. Tujuan Masalah ................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengelolaan Kelas ................................................................................. 3
B. Tujuan Pengelolaan Kelas yang Efektif .................................................
C. Masalah dalam Pengelolaan Kelas .........................................................
D. Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas.....................................................
E. Strategi Pengelolaan Kelas yang Efektif ................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran .....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa, dan tugas guru adalah sebagian
besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan
kondisi belajar yang optimal. Kondisi belajar yang optimal dicapai jika guru
mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikanya dalam
situasi yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran.
Dalam kelas segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses, guru
dengan segala kemampuannya, murid dengan segala latar belakang dan
potensinya, kurikulum dengan segala komponennya, metode dengan segala
pendekatannya, media dengan segala perangkatnya, materi serta sumber
pelajaran dengan segala pokok bahasannya bertemu dan berinteraksi di dalam
kelas. Oleh karena itu, selayaknya kelas dimanajemeni secara baik dan
professional.
Kegiatan guru di dalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan
mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung
menggiatkan siswa mencapai tujuan seperti menelaah kebutuhan siswa,
menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa,
mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-
contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan
dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat
berlangsung secara efektif dan-
efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan
yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam
kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus
dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu
seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas

1
ukuran yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi
guru yang sangat penting.
Di sini jelas bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan
persyaratan mutlak bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif pula.
Maka dari itu pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas
yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas
menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi
yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti
setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga terciptanya
suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang
optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih,
dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas
yang kondusif.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang di maksud pengelolaan kelas?
2. Apa tujuan dari pengelolaan kelas yang efektif?
3. Apa saja masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kelas?
4. Apa peran guru dalam pengelolaan kelas?
5. Bagaimana strategi pengelolaan kelas yang efektif?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian pengelolaan kelas.
2. Mengetahui tujuan dari pengelolaan kelas yang efektif.
3. Mengetahui masalah dalam pengelolaan kelas.
4. Mengetahui peran guru dalam pengelolaan kelas.
5. Mengetahui strategi pengelolaan kelas yang efektif.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengelolaan Kelas
Kata manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata manus yang
berarti tangan dan agree berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi
kata kerja manager yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggeris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata
benda management, dan manager untuk melakukan kegiatan manajemen.
Akhirnya, management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
manajemen atau pengelolaan (Usman, 2004).
Suharsimi mengatakan bahwa manajemen atau pengelolaan adalah
pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan (Djamarah,
2006:175).
Secara umum, manajemen adalah suatu kegiatan untuk menciptakan dan
memertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar di
dalamnya mencakup pengaturan siswa dan fasilitas, yang dikerjakan mulai
terjadinya kegiatan pembelajaran di dalam kelas sampai berakhirnya
pembelajaran di dalam kelas.
Sedangkan pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa
pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama
pula.
Sementara itu, menurut Oemar Hamalik (1987:31) menjelaskan “kelas
adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang
mendapat pengajaran dari guru”. Sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas
adalah ruangan belajar atau rombongan belajar”. Sulaeman (2009) mengartikan
bahwa kelas dalam arti umum menunjukkan kepada pengertian sekelompok
siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan dari
guru yang sama pula. Kelas dalam arti luas merupakan bagian dari masyarakat
kecil yang sebagian adalah suatu masyarakat sekolah yang sebagian suatu

3
kesatuan di organisasi menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan
kegiatan-kegiatan.
Definisi pengelolaan kelas atau pengelolaan kelas yang dipetik dari
informasi Pendidikan Nasional bahwa ada lima definisi pengelolaan kelas
sebagaimana berikut ini.
1. Pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif, yakni seperangkat kegiatan guru
untuk menciptakan dan memertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin
sangat diutamakan.
2. Pengelolan kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan
bahwa tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa.
Dalam hal ini guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal
yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya berarti guru menghambat atau
menghalangi perkembangan anak secara alamiah.
3. Pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah
laku (behavioral modification), yaitu seperangkat kegiatan guru untuk
mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau
meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru
membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui
penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan
(reinforcement).
4. Pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang
positif di dalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa
kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang
beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru
dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini
guru memegang peranan kunci. Peranan guru adalah mengembangkan
iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan
interpersonal yang sehat. Dengan demikian, pengelolaan kelas adalah
seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal
yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.

4
5. Pengelolaan kelas yang bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan
sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya.
Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung
dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kehidupan
kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti
terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses
individual. Peranan guru adalah mendorong berkembangnya dan
berprestasinya sistem kelas yang efektif. Dengan demikian, pengelolaan
kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan
memertahankan organisasi kelas yang efektif (Depdikbud, 1982).
Disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan
yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi
optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Pengelolaan kelas
sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (penghentian perilaku
peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran,
penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma
kelompok yang produktif, di dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta
didik) dan fasilitas yang ada.
Dalam pengelolaan kelas terdapat dua komponen yang sangat penting
yaitu guru dan siswa. Guru dalam menjalankan fungsinya tidak hanya
bertindak sebagai penyampai materi pelajaran tetapi juga dapat berfungsi
selaku pengelola atau “manager” kelas. Siswa ditempatkan tidak hanya sebagai
obyek yang menjadi sasaran pembelajaran tetapi juga dapat diposisikan sebagai
subyek yang dinamis dan ikut dilibatkan dalam proses atau kegiatan
pengelolaan kelas.

B. Tujuan Pengelolaan Kelas yang Efektif


Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170)
pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan
kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa

5
dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang
disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja. Terciptanya suasana
sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual,
emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa. Sedangkan Suharsimi
Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan
kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga
segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisian.
Adapun tujuan secara umum dari pengelolaan kelas:
1. Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan
pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
2. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam
pelajarannya. Dengan pengelolaan kelas, guru mudah untuk melihat dan
mengamati setiap kemajuan/perkembangan yang dicapai siswa, terutama
siswa yang tergolong lamban.
3. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting
untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
Sedangkan tujuan pengelolaan kelas secara khusus dibagi menjadi dua
yaitu:
1. Tujuan untuk siswa:
a. Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggungjawab individu
terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.
b. Membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata
tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu
peringatan dan bukan kemarahan.
c. Membangkitkan rasa tanggungjawab untuk melibatkan diri dalam tugas
maupun pada kegiatan yang diadakan.
2. Tujuan untuk guru:
a. Untuk mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan
pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat.
b. Untuk dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan
dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa.

6
c. Untuk mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah
laku siswa yang mengganggu.
d. Untuk memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat
digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang
muncul didalam kelas.
Jadi, pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi di
dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang
memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian,
dengan pengelolaan kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai dan agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib,
sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien serta
agar setiap guru mampu menguasai kelas dengan menggunakan berbagai
macam pendekatan dengan menyesuaikan permasalahan yang ada, sehingga
tercipta suasana yang kondusif, efektif dan efisien.

C. Masalah dalam Pengelolaan Kelas


Dalam menangani tugasnya, guru sering menghadapi permasalahan
dengan kegiatan-kegiatan di dalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua
jenis yaitu yang menyangkut pengajaran dan pengelolaan kelas. Guru harus
mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya
secara tepat. Sering terjadi guru menangani masalah yang bersifat pengajaran
dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya,
seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa
yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu,
padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak
diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat.
“Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran,
sedangkan “diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan
pengelolaan. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang
bersifat pengajaran dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan
pemecahan yang bersifat pengelolaan.

7
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara
efektif guru harus mampu:
1. Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang
bersifat perorangan maupun kelompok;
2. Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis
masalah tertentu.
3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan
masalah yang dimaksud.
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu:
1. Masalah Individual
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar
bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.
Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa
dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki
dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada
empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu:
a. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar
dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara
aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain.
Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada
anak-anak yang suka pamer, melawak (memperolok), membuat onar,
memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya, singkatnya, tukang
rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat
dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta
bantuan orang lain.
b. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan
kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif,
tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat,
berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau

8
melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak
patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-
anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan
apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara
pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c. Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan
tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan
menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar,
menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha,
ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak
seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain
yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka
menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada
pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-
anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak
pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d. Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa
amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu
rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang
menghadangnya, bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada
dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa
harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku
mengundurkan atau mengucilkan diri. Sikap yang memperlihatkan
ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai
bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan
merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau
kelompok.

9
2. Masalah Kelompok
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan
pengelolaan kelas:
a. Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya
kekurangcocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik
antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku
berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat
dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim
tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan
kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang
dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan
kelas yang mereka duduki itu. Siswa tidak saling bantu membantu.
b. Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi
aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul,
yaitu kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh masalah
ini adalah berisik, bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu
semua siswa diminta tenang, berbicara keras-keras atau mengganggu
kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat
duduknya masing-masing, dorong-mendorong atau menyela waktu antri
di kantin.
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang
bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak
diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari
aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan
kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian
“dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.

10
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi
apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota
kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial
pada umumnya. Contoh umum adalah perbuatan memperolok-olokan
(memperlawakkan), misalnya membuat gambar yang “lucu” tentang
guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah
perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih
perlu mendapat perhatian.
Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang
telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru
kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu
dalam kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi
secara berlebihan terhadap hal yang sebenarnya tidak berarti bahkan
memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan
kelompok itu. Contoh yang sering terjadi adalah para siswa menolak
untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini
terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
e. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau
protes.
Masalah kelompok yang paling rumit adalah apabila kelompok itu
melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu
dinyatakan secara terbuka maupun terselubung. Permintaan penjelasan
yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa
mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat
mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain
merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada
umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara
terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi

11
f. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila
kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru
atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan
peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan,
pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para
siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan
tertentu, mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi
adalah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru
pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada
beberapa pendekatan yang dapat dilakukan:
1. Behavior Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa
perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya
memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui
pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif)
dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kendati
demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif harusnya dilakukan
secara hati-hati, karena jika tidak tepat hanya akan menimbulkan masalah
baru.
2. Socio Emotional Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses
belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal
yang baik antara peserta didik dengan guru atau peserta didik dengan
peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim
sosioemosional yang baik:
a. menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia dan
mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri.

12
b. berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku
pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang dia lihat dan rasakan, serta
mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif
penyelesaian.
c. sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk
mendeskripsikan masalah yang dihadapi, menganalisis dan menilai
masalah, menyusun rencana pemecahannya, mengarahkan peserta
didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat memupuk
keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”, serta
membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang
lebih baik.
d. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat
memikul tanggung jawab, memperlakukan peserta didik sebagai
manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala
konsekuensinya, dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
menghayati tata aturan masyarakat.
3. Group Process Approach
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa
pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan
tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif
dan kohesif.
a. Pendekatan Otoriter
Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan
ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk
mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-
masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu
adanya pendekatan:
1) perintah dan larangan
2) penekanan dan penguasaan
3) penghukuman dan pengancama

13
4) Pendekatan perintah dan larangan
b. Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan
pembelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pembelajar bila
kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan
pembelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan
pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan
tindakan pada diri pembelajar:
1) Tindakan pendekatan pengalihan dan pemasabodohan merupakan
tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini
muncul hal-hal yang kurang disadari oleh pembelajar.
2) Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa.
3) Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4) Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur
yang sebenarnya Menukar kegiatan salah satu pembelajar,
digantikan oleh orang lain.
5) Mengalihkan tanggungjawab kelompok kepada seorang anggota.
c. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali lagi pengajar memandang pembelajar telah mampu
menaikkan sesuatu dengan prosedur yang benar. “Biarlah mereka
bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam
mengelola kelas. Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama
pembeiajar bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas
sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.
Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja pembelajar belum memadai
dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi pembelajar merasa telah
benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah
bertanggungjawab dalam kelompok atau kelas itu. Tapi ternyata
setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan
lebih rendah. Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa

14
kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap
gejala-gejala yang muncul. Pihak pengajar dan pembelajar tampak
bebas, kurang memikat.

D. Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas


Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses
pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor
yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam
kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan
kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan
lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya
sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam dan
Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses
belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1. Guru Sebagai Demonstrator
Guru menjadi sosok yang ideal bagi siswanya hal ini dibuktikan apabila ada
orang tua yang memberikan argumen yang berbeda dengan gurunya maka
siswa tersebut akan menyalahkan argumen si orangtua dan membenarkan
seorang guru. Guru adalah acuan bagi peserta didiknya oleh karena itu
segala tingkah laku yang dilakukannya sebagian besar akan ditiru oleh
siswanya. Guru sebagai demonstrator dapat diasumsikan guru sebagai
tauladan bagi siswanya dan contoh bagi peserta didik.
2. Guru Sebagai Evaluator
Evaluator atau menilai sangat penting adalah rangkaian pembelajaran karena
setiap pembelajaran pada akhirnya adalah nilai yang dilihat baik kuantitatif
maupun kualitatif. Rangkaian evaluasi meliputi persiapan, pelaksanaan,
evaluasi. Tingkat pemikiran ada beberapa tingkatan antara lain mengetahui,
mengerti, mengaplikasikan, analisis, sintesis (analisis dalam berbagai
sudut), evaluasi.
Manfaat evaluasi bisa digunakan sebagai umpan balik untuk siswa sehingga
hasil nilai ini bukan hanya suatu point saja melainkan menjadi solusi untuk

15
mencari kelemahan di pembelajaran yang sudah diajarkan. Hal -hal yang
paling penting dalam melaksanakan evaluasi. Harus dilakukan oleh semua
aspek baik efektif, kognitif dan psikomotorik. Evaluasi dilakukan secara
terus menerus dengan pola hasil evaluasi dan proses evaluasi. Evalusi
dilakuakan dengan berbagai proses instrument harus terbuka.
3. Guru Sebagai Pengelola Kelas
Manager mengelola kelas, tanpa kemampuan ini maka performence dan
karisma guru akan menurun, bahkan kegiatan pembeajaran bisa kacau tanpa
tujuan. Guru sebagai pengelola kelas, agar anak didik betah tinggal di kelas
dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar di dalamnya. Beberapa
fungsi guru sebagai pengelola kelas: merancang tujuan pembelajaran
mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran dan memotivasi,
mendorong, serta menstimulasi siswa. Ada 2 macam dalam memotivasi
belajar bisa dilakukan dengan hukuman atau dengan reaward. Mengawasi
segala sesuatu apakah berjalan dengan lancar apa belum dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran
4. Guru Sebagai Fasilitator
Seorang guru harus dapat menguasai benar materi yag akan diajarkan juga
media yang akan digunakan bahkan lingkungan sendiri juga termasuk
sebagai sember belajar yang harus dipelajari oleh seorang guru. Seorang
siswa mempunyai beberapa kemampuan menyerap materi berbeda-beda
oleh karena itu pendidik harus pandai dalam merancang media untuk
membantu siswa agar mudah memahami pelajaran. Keterampilan untuk
merancang media pembelajaran adalah hal yang pokok yang harus dikuasai,
sehingga pelajaran yang akan diajarkan bisa dapat diserap dengan mudah
oleh peserta didik. Media pembelajaran di dalam kelas banyak macamnya
misalkan torsu, chart maket, LCD, OHP/OHT.

16
E. Strategi Pengelolaan Kelas yang Efektif
Mengelola kelas terbagi menjadi 2 jenis keterampilan :
a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan
kondisi belajar yang optimal.
a. Menunjukkan Sikap Tangkap
Menggambarkan tingkah laku guryu yang tampak pada siswa, bahwa
guru sadar dan tanggap terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan
ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini siswa merasa guru hadir
ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dengan cara :
1) Memandang Secara Saksama
Memungkinkan guru meliput keterlibatan siswa dalam tugas dikelas
serta menunjukkan kesiapan guru untuk memberi respon baik terhadap
kelompok maupun individu.
2) Memberikan Pernyataan
Hal ini terkomunikasi kepada siswa melalui pernyataan guru bahwa ia
telah siap untuk memulai kegiatan belajar serta siap memberi respon
terhadap kebutuhan siswa. Hal yang harus dihindari adalah
menunjukkan dominasi guru dengan pernyataan atau komentar yang
mengandung ancaman.
Contoh : “Saya menunggu sampai kalian diam”.
3) Gerak Mendekati
Hal ini menunjukkan kesiapan, minat dan perhatian kepada siswa. Hal
ini membantu siswa yang menghadapi kesulitan belajar, mengalami
frustasi atau sedang marah. Gerak yang mendekati hendaknya
dilakukan dengan wajar, bukan menakuti atau maksud lain.
4) Memberikan Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakacuan Siswa
Dengan adanya teguran menandakan adanya guru bersama siswa.
Teguran harus diberikan pada saat yang tepat serta dialamatkan pada
sasaran yang tepat.

17
b. Membagi Perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru membagi perhatian
kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Hal
ini dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
1) Visual
Hal ini mennjukkan perhatian terhadap sekelompok siswa atau
individu namun tidak kehilangan keterlibatannya dengan kelompok
siswa atau individu.
Keterampilan ini digunakan untuk memonitor kegiatan kelompok atau
individu, mengadakan koreksi kegiatan siswa, memberi komentar atau
memberi reaksi terhadap siswa yang mengganggu.
2) Verbal
Guru dapat memberikan komentar terhadap aktivitas seseorang yang
dilihat atau dilaporkan oleh siswa lain. Penggunaan teknik visual
maupun verbal menunjukkan bahwa guru menguasai kelas.
c. Memusatkan Perhatian
Keterlibatan siswa dalam KBM dapat dipertahankan apabila dari waktu
kewaktu guru mampu memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang
dilaksanakan. Hal ini dengan cara:
1) Menyiagakan Siswa
Menciptakaan suasana yang menarik sebelum guru menyampaikan
pertanyaan atau topik pelajarannya. Misalnya: “coba anak-anak,
semuanya memperhatikan dengan teliti gambar ini untuk
membedakan daerah mana yang subur dan daerah mana yang
tanahnya gersang.
2) Menuntut Tanggung Jawab Siswa
Komunikasi yang jelas dari guru mengenai tugas siswa merupakan hal
yang sangat penting dalam mempertahankan pusat perhatian siswa
seperti: meminta untuk diperagakan hasil pekerjaan tugas.

18
d. Memberikan Petunjuk yang Jelas
Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung, dengan bahasa yang
jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang wajar dapat
dipenuhi oleh siswa.
e. Menegur
Tidak semua tingkah laku yang mengganggukelompok, siswa dalam
kelas dapat dicegah atau dihindari dengan baik, sehingga guru harus
melakukan teguran secara verbal atau memperingatkan siswa. Teguran
itu efektif jika:
1) Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu.
2) Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkn serta
mengandung penghinaan.
3) Menghindari ocehan atau ejekan guru atau yang berkepanjangan.
4) Guru dan siswa lebih baik mengadakan kesepakatan sehingga
penyimpangan yang terjadi hanya sifatnya mengingatkan. Seperti:
“suharto ingat”
f. Memberi Penguatan
Komponen ini digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat
dalam kegiatan pembelajaran atau mengganggu temannya, yaitu dengan
cara:
1) Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggaggu
yaitu dengan jalan “menangkapnya” ketika dia melakukan tingkah
laku yang wajar dan berusaha “menangkapnya” ketika dia melakukan
tingkah yang tidak wajar dan berusaha “menangkapnya” ketika dia
melakukan tindakan yang tidak wajar dengan tujuan perbuatan yang
wajar tadi dapat terulang.
2) Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa
yang bertingkah laku yang wajar kepada siswa yang lain untuk
menjadi teladan.

19
2. Ketrampilan Yang Berhubungan Dengan Kondisi Belajar Optimal
Setelah Mendapat Gangguan.
Ketrampilan ini berhubungan dengan tanggapan guru terhadap
gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud guru dapat
mengadakan-
tindakan remedial untuk mengembalikan tindakan optimal.
Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang
berulang-ulang walaupun guru telah mencoba memadamkan dengan
tanggapan yang relevan tetap saja terjadi kembali, guru dapat meminta
bantuan:
a. Kepala Sekolah
b. Konselor/BP
c. Waka kesiswaan untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila tidak dapat menangani
permasalahan anak didik dalam kelas berkenaan dengan itu guru dapat
menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap
tingkah anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang
tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.
Strategi yang efektif dan harus diperhatikan saat pengelolaan kelas:
a. Memulai pelajaran tepat waktu.
b. Menata tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antar
format dan tujuan pengajaran, misalnya untuk pengajaran dengan
menggunakan model diskusi, bangku siswa dibentuk setengah lingkaran.
c. Mengatasi gangguan dari luar kelas.
d. Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat dilaksanakan
dengan konsisten.
e. Peralihan yang mulus antarsegmen pelajaran.
f. Siswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
g. Pemberian pekerjaan rumah.
h. Mempertahankan momentum selama pelajaran.

20
i. Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat
melakukan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar.
j. Mengakhiri pelajaran.
Selain cara di atas, strategi pengelolan kelas yang efektif juga dapat
dilakukan dengan beberapa teknik:
a. Teknik mendekati
Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang biasanya efektif
yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru bisa membuatnya takut, dan
karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang disruptif, tanpa
perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan kecenderungan
berbuat nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat
berefek preventif.
b. Teknik memberikan isyarat
Apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat memberikan isyarat
bahwa ia sedang diawasi isyarat tersebut dapat berupa petikan jari,
pandangan tajam, atau lambaian tangan.
c. Teknik mengadakan humor
Jika insiden itu kecil, setidaknya guru memandang efek saja, dengan
melihatnya secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan suasana
baik, serta memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu
tentang apa yang akan terjadi.
d. Teknik tidak mengacuhkan
Untuk menerapkan cara ini guru harus lues dan tidak perlu menghukum
setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus tertentu, tidak
mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk di
perhatikan.
e. Teknik yang keras.
Guru dapat menggunakan teknik-teknik yang keras apabila ia di
hadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak terkendalikan.
Contohnya mengeluarkannya dalam kelas.

21
f. Teknik mengadakan diskusi secara terbuka
Bila kenakalan di kelas mulai bertambah, sering guru menjadi heran. ia
lalu menilai kembali tindakan dan pengajarannya. untuk menjelaskan
perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan menciptakan suasana belajar
yang sedikit lebih sesuai daripada sebelumnya.
g. Teknik memberikan penjelasan tentang prosedur.
Kadang-kadang masalah kedisiplinan ada hubungannya yang langsung
dengan ketidakmampuan siswa melaksanakan tugas yang diberikan
kepadanya. Kesulitan ini terjadi apbila guru berasumsi bahwa siswa
memiliki keterampilan, padahal sebenarnya tidak. masalah yang hampir
sama yaitu masalah-masalah perilaku yang lazimnya berhubungan
dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dikelas.
h. Mengadakan analisis
Kadang-kadang terjadi hampir terus menerus berbuat kenakalan, guru
dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya dan mengurangi
keresahan siswanya.
i. Mengadakan perubahan kegiatan
Apabila gangguan dikelas meningkat jumlahnya, tindakan yang harus
segera di ambil yaitu mengubah apa yang sedang anda lakukan. Jika
biasanya diskusi, maka ubahlah dengan memberikan ringkasan-ringkasan
untuk dibaca atau menyuruh mereka membaca buku-buku pilihan
mereka.
j. Teknik menghimbau
Kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”. Ucapan
tersebut adakalanya membawa hasil, siswa memperhatikannya. Tetapi
apabila himbauan sering digunakan mereka cenderung untuk tidak
menggubrisnya
Hal-hal yang harus di hindari
a. Campur tangan yang berlebihan
Seperti guru menyela kegiatan yang asik berlangsung dengan komen atau
petunjuk mendadak, maka kegiatan siswa akan terganggu atau terputus.

22
Kesan guru tidak memperhatikan kebutuhan siswa, hanya memuaskan
dirinya saja.
b. Kelenyapan
Terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu intruksi penjelasan
atau petunjuk, komentar. Kemudian menghentikan penjelasan atau sajian
tanpa alas an yang jelas dan membiarkan pikiran anak mengawang-
awang.
c. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
Terjadi jika guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas
sebelumnya.
d. Penyimpangan
Terjadi jika dalam kegiatan PBM guru terlalu asik dengan kegiatan
tertentu seperti sibuk dengan tempat duduk yang tidak rapi atau cerita
sesuatu yang tidak ada hubungan dengan materi terlalu jauh, sehingga
kelancaran kegiatan di kelas terganggu.
e. Bertele-tele
Terjadi jika pembicaraan guru bersifat :
1) Mengulang-ulangi hal-hal tertentu
2) Memperpanjang pelajaran atau penjelasan
3) Mengubah teguran menjadi ocehan yang panjang
Hal ini merupakan hambatan kemajuan pelajaran atau aktivitas
kelas. Siswa pada umumnya mencatat sebagai hal yang membosankan
dan tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.
f. Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
Guru memberi petunjuk yang berulang-ulang secara tidak perlu membagi
kelas dalam memberikan petunjuk atau secara terpisah memberi petunjuk
ke setiap kelompok yang sebelumnya dapat diberikan secara bersama-
sama kepada seluruh kelompok sekali saja di depan kelas.

23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja
dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi
terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Pengelolaan kelas sangat berkaitan
dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
optimal bagi terjadinya proses belajar (penghentian perilaku peserta didik yang
menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh
peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di
dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.
Dalam pengelolaan kelas terdapat dua komponen yang sangat penting
yaitu guru dan siswa.
Adapun tujuan secara umum dari pengelolaan kelas:
1. Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan
pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
2. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam
pelajarannya. Dengan pengelolaan kelas, guru mudah untuk melihat dan
mengamati setiap kemajuan/perkembangan yang dicapai siswa, terutama
siswa yang tergolong lamban.
3. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting
untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
Sedangkan tujuan pengelolaan kelas secara khusus dibagi menjadi dua
yaitu: tujuan untuk siswa dan tujuan untuk guru.
Di samping ada tujuan ada pula masalah yang dihadapi dalam
pengelolaan kelas yang dibagi atas 2 jenis yaitu masalah individu dan masalah
kelompok.
Peran guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan
berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru
dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten

24
akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih
mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat
yang optimal. Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan
guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1. Guru sebagai Demonstrator
2. Guru sebagai Evaluator
3. Guru sebagai Pengelola Kelas
4. Guru sebagai Fasilitator
Dalam pengelolaan kelas harus diperhatikan dengan strategi yang efektif:
1. Memulai pelajaran tepat waktu.
2. Menata tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antar format
dan tujuan pengajaran, misalnya untuk pengajaran dengan menggunakan
model diskusi, bangku siswa dibentuk setengah lingkaran.
3. Mengatasi gangguan dari luar kelas.
4. Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat dilaksanakan
dengan konsisten.
5. Peralihan yang mulus antarsegmen pelajaran.
6. Siswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
7. Pemberian pekerjaan rumah.
8. Mempertahankan momentum selama pelajaran.
9. Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan
tugas-tugas dalam proses belajar mengajar.
10. Mengakhiri pelajaran.
Selain cara di atas, strategi pengelolan kelas yang efektif juga dapat
dilakukan dengan beberapa teknik: teknik mendekati, teknik memberikan
isyarat, teknik mengadakan humor, teknik tidak mengacuhkan, teknik yang
keras, teknik mengadakan diskusi secara terbuka, teknik memberikan
penjelasan tentang prosedur, mengadakan analisis, mengadakan perubahan
kegiatan, teknik menghimbau.

25
Akan tetapi ada hal-hal yang harus di hindari:
1. Campur tangan yang berlebihan
2. Kelenyapan
3. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
4. Penyimpangan
5. Bertele-tele
6. Pengulangan penjelasan yang tidak perlu

B. Saran
Dikatakan bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan persyaratan
mutlak bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif pula. Maka dari
itu pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang
kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi
tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang
ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran.
Guru sebagai tenaga profesional, dituntut tidak hanya mampu mengelola
pembelajaran saja tetapi juga harus mampu mengelola kelas, yaitu menciptakan
dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan
pengajaran. Oleh karena itu sejalan dengan upaya pemerintah dalam
meningkatkan mutu di semua jenjang pendidikan, penerapan strategi
pengelolaan kelas dalam pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang
diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari
permasalahan pendidikan di tanah air.
Adapun beberapa saran agar tercapai pengelolaan kelas dapat
dimaksimalkan:
1. Bagi Sekolah.
a. pelaksanaan pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan kelas yang
dilakukan oleh guru–guru di suatu sekolah apabila sudah berjalan dengan
baik, hendaknya ditindak lanjuti dengan supervisi kelas yang dilakukan
oleh kepala sekolah maupun instruktur mata pelajaran yang serumpun,

26
b. untuk meningkatkan kompetensi profesional perlu ditindak lanjuti
dengan pengadaan diklat tentang quantum learning dan quantum
teaching,
c. pemberian motivasi belajar siswa adalah tersedianya fasilitas dan media
pembelajaran yang memadai di suatu sekolah, oleh karena itu sekolah
perlu menyediakan tenaga khusus untuk mengelola laboratorium beserta
peralatannya sehingga pada saat guru mengajar fasilitas dan media itu
sudah tersedia dan siap pakai, otomatis perawatan dan kebersihan media
terpelihara,
d. berusaha dalam meningkatkan disiplin siswa baik dalam sistemnya
maupun pelaksanaanya.
2. Untuk Dinas Pendidikan,
a. memberikan sumbangan pemikiran dan masukan, peningkatan mutu
pendidikan melalui penerapan manajemen kelas dalam pembelajaran,
b. dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, hendaknya aspek
perilaku dan kepribadian tetap menjadi kriteria kenaikan kelas dan
kriteria pelulusan,
c. dalam suatu sekolah harus ditinjau dari komponen-komponen
pendidikannya, input maupun para lulusannya memiliki kualitas yang
bagus dan professional.

27
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Buku II: Modul Pengelolaan


Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan
Tinggi.

Depdikbud Dikdasmen, 1997. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar.


1998. Jakarta: Depdikbud.

Drs. Syaiful Bahri Djamarah dan Drs. Aswan Zain, Strategi Belajar mengajar,
(Jakarta:PT Asdi Mahasatya,2006)

Majid, Abdul. 2005. Perencanaan pembelajaran. Bandung: Rosda Karya.

Popi, Sopiatin. 2010. Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa. Cilegon:


Ghalia Indonesia.

Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

28