Anda di halaman 1dari 48

CRITICAL BOOK REPORT

MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH:

Nama : Ika Sartika Siregar

Kelas / Prodi : Reg. A/ Ilmu Ekonomi

Nim : 7182240012

Mata Kuliah : Perekonomian indonesia

Dosen Pengampu : Dr. M. Nasir,MS

FAKULTAS EKONOMI

PRODI ILMU EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa


yang telah melimpahkan karuniaNya kepada penulis. Salah satu karunia Tuhan
adalah penulis dapat menyusun Critical Book Report yang berjudul
“Perekonomian Indonesia”, mata kuliah “Perekonomian Indonesia” dengan dosen
pengampu bapak“Dr. M.Nasir,MS”sesuai dengan RPS yang telah diberikan
kepada penulis.

Critical Book ini membahas tentang bagaimana penulis akan


membandingkan buku utama dengan buku pembanding lainnya yang dilihat dari
berbagai sisi maupun posisi. Penulis sangat menyadari banyak kekurangan dan
kesalahan dalam penyusunan Critical Book Report ini, untuk itu dalam
penyempurnaannya , penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Medan,26April 2019

Ika Sartika Siregar


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 4


1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 4
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 4

BAB II RINGKASAN BUKU

2.1 Identitas buku…………………………………………………………....5


2.2 Ringkasan buku utama .............................................................................. 6
2.3 Ringkasan buku pembanding ................................................................. .21

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Kelebihan dan Kekurangan Buku Utama ............................................... .46

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Buku Pembanding .................................. ...46

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan……………………………………………………………...48

4.2 Saran…………………………………………………………………….48

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….49
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Daya tarik indonesia akan sumber daya alam dan rempah-rempah
membuat bangsa-bangsa Eropa berbondong-bondong datang untuk
menguasai Indonesia. Sebelum merdeka setidaknya ada empat negara yang
pernah menjajah Indonesia, di antaranya adalah Portugis, Belanda, Inggris,
dan Jepang.

Masalah ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk


karena inflasi yang disebabkan oleh beredarnya lebih dari satu mata uang
secara tidak terkendali. Pada Oktober 1946 pemerintah RI mengeluarkan ORI
(Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang jepang. Namun adanya
blokade ekonomi oleh Belanda dengan menutup pintu perdagangan luar
negeri mengakibatkan kekosongan kas negara.

Hal inilah yang melatar belakangi saya untuk memilih materi ini guna
mengkritisi dan menambah wawasan tentang Perekonomian Indonesia.
1.2 TUJUAN

1. Untuk mengetahui isi dari buku yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk
mengumpulkan informasi
2. Sebagai bahan pengumpulan data unuk dianalisis dan mencari kelebihan
dan kelemahan buku yang dikritisi.
3. Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi mahasiswa yang
mampu berpikir dan mengembangkan potensi dirinya.

1.3 MANFAAT
1 Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan isi buku.
2 Untuk membantu mahasiswa dalam mengkritik isi buku.
3 Membantu mahasiswa berpikir kritis, menalar, dan menganalisis isi buku.
BAB II

RINGKASAN BUKU

2.1 IDENTITAS BUKU

 Identitas Buku Utama


 Judul buku : Perekonomian Indonesia
 Pengarang : Prof. Dr. Tulus Tambunan
 Penerbit : Ghalia Indonesia
 Tahun terbit : 2017
 Kota terbit :Bogor
 Tebal buku : 408 halaman
 Desain cover : Ghalia Indonesia
 ISBN : 978-979-450-647-9
 Ukuran buku : 175mm x 250 mm

 Identitas Buku Pembanding


 Judul buku : Perekonomian Indonesia
 Pengarang : Basuki Pujoalwanto

 Penerbit : Graha Ilmu


 Tahun terbit : 2014
 Kota terbit :-
 Tebal buku : xxvi, 443 halaman
 Desain cover : 14×20 cm

 ISBN : 978-602-262-140-9
2.2. RINGKASAN BUKU UTAMA

BAB 1

SISTEM EKONOMI INDONESIA

A. Pengertian Sisitem Ekonomi

Menurut Dumairy (1996) sisitem ekonomi adalah suatu sisitem yang


mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antarmanusia dengan seperangkat
kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan. Sebuah sistem terdiri atas unsur-
unsur manusia sebagai subjek: barang-barang ekonomi sebagai objek: serta
seperangkat kelembagaan yang mengatur dan menjalinnya dalam kegiatan
ekonomi. Sheridan (1998) dalam publiksasinya mengenai sisitem-sistem ekonomi
yang ada di asia mengatakan, bahwa “ economic system refres to the way people
perform economic acticities in their search for personal happiness”.
Dengan kata lain sitem ekonomi adalah cara manusia melakukan kegiatan
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan kepuasan pribadinya.

B. Sisitem-sistem ekonomi

1. Sistem ekonomi kapitalis.


Sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sisitem ekonomi dimana kekayaan
yang produktif terutama dimiliki secara pribadi dan produksi terutama dilakukan
untuk dijual .
Terdapat enam asas yang dapat dilihat sebagai ciri dari sistem ekonomi
kapitalis, yaitu sebagai berikut.
 Hak milik pribadi
Dalam sisitem ekonomi ini alat-alat produksi atau sumber daya ekonomi
seperti SDM, modal dan tenaga kerja dimiliki individu atau lembaga
swasta.
 Kebebasan berusaha dan kebebasan memilih.
Kebebasan berusaha adalah kegiatan produksi dapat dengan bebas
dilakukan siapa saja yang mempunyai inisiatif. Kebebasan memilih adalah
kebebasan produsen dalam memperoeh sumber daya ekonomi untuk
meproduksi suatu produk yang dipilih sendiri, agara dapat dijual untuk
memperoleh keuntungan. Kebebasan meilih juga mencakup kebebasan
pekerja untuk memilih setiap jenis pekerjaan yang di kehendakinya.
 Motif kepentingan diri sendiri
Kekuatan utama dari sistem ekonomi kapitalis adalah memotivasi individu
untuk memenuhi kepentigan/keuntungan diri sendiri.
 Persaingan.
Setiapa individu atau pelaku ekonomi swasta, baik pengusaha maupun
pembeli, dengan motivasi mencari keuntungan yang maksimum bebas
bersaing di pasar dengan kekuatan masing-masing. Pelaku bebas masuk
keluar dari pasar.

2. Sistem ekonomi sosialis.


Bagi kalangan sosisalis , pasar justru harus di kendalikan melalui
perencanaan terpisat, adanya berbagai distorsi dalam mekanisme pasar,
menyebabakan tidak mungkin bekerja secara efisen: oleh karena itu, pemerintah
atau negara harus turun aktif bermain dalam perekonomian. Satu hal yang penting
yang harus di catat berkenan dengan sistem ekonomi sosialis bahwa sistem ini
bukanlah sistem ekonomi yang tidak memandang penting peranan capital.
Sistem ekonomi sosial dapat di bagi menjadi 2 sub sistem,
 Sistem ekonomi soisalis marxis ( komando)
 Sistem ekonomi sosialisme demokrat.

3. Sistem ekonomi campuran


Sistem ekonomi campuran adalah sistem yang mengandung beberapa
elemen dari sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Dalam sistem
ekonomi campuran dimana kekuasaan serta kebebasan berjalan secara bersamaan
walau dalam kadar yang berbeda-beda. Ada sistem ekonomi campuran yang
mendekati sistem kapitalis/liberalis karena kadar kebebasan yang relative besar
atau persentase dari sistem kapitalisnya sangat besar.

C. Sistem ekonomi indonesia


Kehidupan perekonomian atau sistem ekonomi di Indonesia tidak terlepas dari
prinsip-prinsip dasar dari pembentukan RI yang tercantum dalam pancasila dan
UUD 1945.
Secara rinci, Pasal 33 menetapkan tiga hal, yaitu sebagai berikut.
 Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan.
 Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai negara.
 Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan di pergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.

BAB II

SEJARAH EKONOMI INDONESIA

A. Pemerintahan Order Lama

Pada pemerintahan orde lama, keadaan keadaan perekonomian Indonesia


sangat buruk: walaupun sempat mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata
per tahun 7% selama decade 1950-an, dan setelah itu turun drastis menjadi
rata-rata pertahun tahun 1,9% atau bahkan nyaris mengalami stagflasi selama
tahun 1965-1966.

Selain laju pertumbuhan ekonomi yang menurun terus sejak tahun 1958,
dari tahun ke tahun deficit saldo neraca pembayaran (BoP) dan deficit
Anggaran Pendapatan dan Bealanja Negara (APBN) terus membesar. Buruk
nya perekonomian Indonesia selama pemerintahan Orde Lama (terutama)
disebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi, fisik mupun non fisik,
selama penndudukan jepang, Perang Dunia ke II, dan perang revolusi, serta
gejolak politik di dalam negri (termasuk sejumlah pemberontakan di daerah)
di tambah lagi denagn menejemen ekonomi makro yang sangat buruk selama
rezim tersebut ( Tambunan, 2006b).

B. Pemerintahan Orde Baru

Tepatnya pada bulan maret 1966, Indonesia memasuki pemerintahan masa


orde baru, berbeda dengan pemerintahan orde lama, dalam era orde baru ini
perhatian pemerintah lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat
lewat pembangunan ekonomi dan sosial ditanah air. Pemerintahan orde baru
menjalin kembali hubungan baik dengan pihak barat, dan menajahui pengaruh
ideology komunis.

Beberapa kondisi utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu agar suatu usaha
membangun ekonomi dapat berjalan dengan sangat baik, yakni sebagai berikut

 Kemauan politik yang kuat


 Stabilitas ekonomi dan politik
 SDM yang lebih baik
 Sistem politik dan ekonomi terbuka yang berorientasi ke Barata
 Kondisi ekonomi dan politik dunia yang lebih baik.

C. Pemerintahan Transisi
Pada tanggal 14 dan tanggal 15 mei 1997 nilai tukar bath Thailand terhadap
dollar AS, mengalami suatu gonjangan hebat akibat para investor asing yang
mengambil keputusan “jual”.
Untuk mempertahankan nilai tukar bath agar tidak jatuh terus, pemerintah
Thailand melakukan intervensi dan di dukung oleh intervensi yang di lakukan
oleh bank sentral Singapura. Apa yang terjadi di Thailand akhirnya membet ke
Indonesia dan beberapa nilai Asia lainnya, hal itu merupan awal dari krisis
keuangan di ASIA.
D. Pemerintahan Reformasi Hingga Kabinet SBY
Pada pertengahan tahun 1999 dilakukan pemilihan umum, yang akhirnya
dimenangkan oleh partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Partai Golkar
mendapat posisi kedua, yang sebenarnya cukup mengejutkan banyak kalangan
dimasyarakat. Tanggal 20 Oktober menjadi akhir daripada pemerintahan transisi
dan awal dari pemerintahan Gusdur yang sering disebut juga pemerintahan
reformasi.

BAB III

PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN EKONOMI

Di Dalam Garis Besar Halan Negara (GBHN),dinyatakan secara ekdsplisit


bahwa pemabngunan ekonomi meruakan salah satu bagian penting dari
pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

A.PERTUMBUHAN EKONOMI

1.Konsep Dan Penghitungan

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merypakan


kondisi utama atau suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi
dan peningkatan kesejahteraan.Jumlah penduduk bertambah setiap
tahun,sehinggga dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari hari juga
bertambah setiap tahun ,maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun

2.Sumber Sumber Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi bisa bersal dari pertumbuhan permintaan


agreget atau pertumbuhan penawaran agreget .dari sisi permintaan
agreget,peningkatannya di dalam ekonomi bisa terjadi karena PN,yang terdiri atas
permintaan masyarakat (konsumen),perusahaan,dan pemerintah meningkat.Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya,sisi permintaan agreget (penggunaan
PDB)terdiri atas empat komponen :konsumsi rumah tangga,investasi(termasuk
perubahan stok),konsumsi/penegeluarana pemerintah ,dan ekspor netto.

3. Teori- Teori dan Model-Model Pertumbuhan

Ada dua aliran utama pemikiran mengenai pertumbuhan ekonomi (dilihat dari
sisi penawaran agregat/produksi) yakni teori klasik dan teori modern.

a) Teori klasik
Dasar pemikiran teori klasik adalah pembangunan ekonomi
dilandasi oleh system liberal, yang mana pertumbuhan ekonomi dipacu
oleh semangat untuk mendapat keuntungan maksimal.

b)Teori neo- Keynesian

Model pertumbuhan yang masuk di dalam kelompok teori non-


Keynesian adalah model dari Harrod dan Domar yang mencoba
memperluas teori Keynes, mengenai keseimbangan pertumbuhan ekonomi
dalam perspektif jangka panjang dengan melihat pengaruh dari investasi,
baik pada permintaan maupun pada perluasan kapasitas produksi atau
penawaran agregat, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi.

c). Teori Neo-klasik

Pemikiran dari teori neo-klasik didasarkan pada kritik atas kelemahan-


kelemahan atau penyempurnaan terhadap pandangan/asumsi dari teori klasik
yang dibahas diatas. Beberapa model neo-klasik antara lain sebagai berikut :

a. Model pertumbuhan A.Lewis

Model ini menjelaskan bagaimana pertumbuhan ekonomi dimulai di


sebuah NB yang mempunyai dua sector yaitu pertanian tradisional yang
bersusten di pedesaan dan industri yang modern di perkotaan. Dalam
model ini, pertumbuhan ekonomi terjadi karena pertumbuhan industri
dengan proses akumulasi modal yang pesat, sedangkan di pertanian
pertumbuhannya relatif rendah dengan akumulasi kapital yang rendah
sekali.

b. Model pertumbuhan Paul A. Baran

Model ini dikenal sebagai teori pertumbuhan dan stagnasi ekonomi.


Pemikirannya sering disebut sebagai tesis neo-marxis, karena ia menolak
pemikiran marxis yang menyatakan bahwa NB akan maju seperti di Eropa
karena sentuhannya dengan negara-negara maju atau negara-negara
kapitalis. Sedangkan Baran berpendapat bahwa akibat pengaruh dari NM,
ekonomi NB akan menjadi buruk. Menurut Baran, proses kapitalisme di
NB berbeda dengan yang terjadi di NM.

c. Teori ketergantungan neo-klonial

Dasar pemikiran dari teori ini adalah pembangunan ekonomi di NB


(negara-negara periferi/pinggiran) sangat tergantung pada NM (negara-
negara inti/pusat), terutama dalam investasi langsung (PMA) dan impor
barang-barang industri.

d. Model pertumbuhan W.W Rostow

Menurut Rostow, pembangunan ekonomi dimanapun juga merupakan


proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yaitu dari masyarakat
terbelakang ke masyarakat maju. Dalam modelnya proses pembangunan
terdiri atas 5 tahapan yaitu : masyarakat tradisional, prakondisi untuk lepas
landas, lepas landas, menuju kedewasaan, dan era konsumsi masal tinggi.

e. Model pertumbuhan Solow

Model pertumbuhan Solow adalah penyempurnaan model pertumbuhan


Harrod-Domar. Dalam model Solow, proporsi faktor produksi diasumsikan
dapat berubah (jumlah capital dan tenaga kerja atau rasio dari kedua faktor
ini dalam sebuah faktor produksi/produk tidak harus konstan, atau
bisasaling mensubstitusi dan tingkat upah tenaga kerja dan suku bunga juga
harus berubah. Model ini menganalisa pertumbuhan ekonomi (Y) dengan
menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas denngan dua faktor produksi
yaitu capital (K) tenaga kerja (L) dapat tumbuh pada tingkat yang berbeda :

Y= 𝐾 𝛼 (𝐴𝐿)𝛽

Dimana :

A= konstanta yang nilainya berbeda-beda untuk perekonomian yang


berbeda-beda dan 𝛽

b) Teori modern

Dalam teori modern, faktor-faktor produksi yang krusial tidak


hanya banyaknya tenaga kerja dan modal, tetapi juga kualitas SDM dan
kemajuan teknologi (yang terkandug di dalam barang modal atau mesin),
energi (khususnya energi alternatif), kewirausahaan, bahan baku dan
material.

B. PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI.

Pembangunan ekonomi jangka panjang dengan pertumbuhan PDB akan


membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi
tradisional dengan pertanian sebagai sector utama ke ekonomi modern yang
didominasi oleh sektor-sektor no-primer, khususnya industry manufaktur dengan
increasing return to scale (relasi positif antara pertumbuhan output dan
pertumbuhan produktivita) yang dinamis sebagai motor utama penggerak
pertumbuhan ekonomi (Weiss, 1988).

1. Beberapa Teori

Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam menganalisis


perubahan struktur ekonomi, yaitu dari Arthur lewis ( teori migrasi), dana Hollis
Chenery ( teori transformasi structural).

Berdasarkan model ini , kenaikan produksi sector industri manufaktur


dinyatakan sama besarnya dengan jumlah dari empat factor berikut.

a. Kenaikan permintaan domestik.


b. Perluasan ekspor.
c. Substitusi impor.
d. Perubahan teknologi.

2. Analisis Empiris

Pada tahun 1979, nilai tambah bruto dari sektor pertanian, peternakan,
kehutanan dan perikanan menyumbang sekitar 45% terhadap pembentukan PDB,
pada dekade 1990-an hanya tinggal sekitar 16% hingga 20%, dan tahun 2006
tinggal sekita 12,9 %. Sedangkan sumbangan output dari industri pengolahan
(manufaktur) terhadap pembentukan PDB pada tahun 2006 tercatat sekitar 28% ;
jadisudah lebih besar dari pertanian, dab ini jelas mencerminkan bahwa ekonomi
nasional telah mengalami suatu perubahan struktutral dalam 3 dekade belakangan
ini.

BAB IV

KRISIS EKONOMI

Suatu krisis ekonomi di suatu negara atau wilayah bisa berasal dari luar
atau dalam suatu negara/ wilayah tersebut. Berikut ini akan dibahas sejumlah tipe
krisis ekonomi yang mana dunia atau banyak negara pernah mengalaminya dalam
50 tahun belakangan ini, atau kemungkinan besar akan terjadi di masa mendatang.

1. Krisis Produksi

Krisis produksi merupakan tipe krisis yang bersumber dari dalam negeri.
Krisis tersebut bisa dalam bentuk penurunan domestic secara mendadak dari
sebuah atau sejumlah komoditas pertanian, misalnya padi/beras.

2. Krisis perbankan
Dampak langsung atau fase pertama dari krisis ini adalah kesempatan
kerja dan pendapatan yang menurun di subsektor keuangan tersebut. Fase kedua ,
krisis perbankan merembet ke perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung
pada sector perbankan dalam pembiayaan kegiatan-kegiatan produksi/bisnis
mereka.
3. Krisis Nilai Tukar
Suatu perubahan kurs dari sebuah mata uang, misalnya rupiah terhadap
dolar AS dianggap krisis apabila kurs dari mata uang tersebut mengalami
penurunan atau depresiasi yang sangat besar yang prosesnya mendadak atau
berlangsung teru-menerus yang membentuk sebuah tren yang meningkat (rupiah
per satu dollar AS).
4. Krisis perdagangan
Dalam hal krisis-krisis ekonomi yang berasal dari sumber-sumber
eksternal, ada dua jalur utama yaitu perdagangan dan investasi/arus modal, di
dalam perdagangan ada dua sub jalur yaitu ekspor dan impor (barang dan jasa).
Krisis Modal
Terakhir, suatu pengurangan modal di dalam negeri dalam jumlah besar
atau penghentian bantuan serta pinjaman luar negeri akan menjadi sebuah krisi
ekonomi bagi banyak negara miskin di dunia , seperti di Afrika dan Asia Tengah
yangekonomi mereka selama ini sangat tergantung pada ULN atau hibah
internasional.

BAB V
KERENTANAN TERHADAP KRISIS EKONOMI

Faktor-Faktor Penyebab Kerentanan Ekonomi Indonesia

Ada sejumlah alasan kenapa perekonomian Indonesia sangat rentan


terhadap hampir semua tipe krisis ekonomi seperti berikut ini :

1. Ekonomi Indonesia semakin terbuka dibandingkan pada awal


pemerintahan Orde Baru.
2. Walaupun dengan suatu laju yang menurun, Indonesia msih tetap
bergantung pada ekspor dari banyak komoditi primer, yaitu pertambangan dan
pertanian. Konsekuensinya, setiap ketidakstabilan permintaan dunia terhadap
komoditi-komoditi tersebut atau goncangan harga-harga dunia dari komoditi-
komoditi itu, khususnya pertanian akan menjadi sebuah goncangan serius bagi
perekonomian Indonesia.
3. Dalam dua dekade ini, Indonesia sangat bergantung pada impor dari
sejumlah produk makanan yang penting, termasuk beras, gandum, jagung , daging
sayu-sayuran, buah-buahan dan minyak..
4. Dalam 20 tahun belakangan ini semakin banyak TKI, termasuk wanita
yang bekerja di luar negeri. Krisis ekonomi global 2008-2009 juga telah
mengakibatkan arus pengiriman uang dari pekerja-pekerja migran internasional di
sejumlah negara berkembang di Asia berkurang.
5. Sebagai sebuah negara dengan jumlah populasi yang besar, yang artinya
tingkat konsumsi makanan domestic yang sangat tinggi, akselerasi laju
pertumbuhan output di sector pertanian dalam negeri menjadi sangat krusial, dan
ni tergantung pada beragam faktor, termasuk cuaca yang merupakan sebuah fakor
eksogen.

BAB VI

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN PENDAPATAN

Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan (kesenjangan ekonomi)


dan tingkat kemiskinan merupakan dua masalah besar di banyak NB, tidak
terkecuali Indonesia. Di Indonesia pada awal pemerintahan orde baru, oleh
pembuat kebijaksanaan dan perencana pembangunan ekonomi di Jakarta masih
sangat percaya bahwa proses pembangunan ekonomi yang pada awalnya
terpusatkan hanya di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya, dan hanya di sector-
sektor tertentu saja, yang pada akhirnya akan menghasilkan apa yang yang
dimaksud dengan efek-efek ‘cucuran/tetesan kebawah’. Untuk mencapai tujuan
tersebut maka pusat pembangunan ekonomi nasional di pulau Jawa dengan alasan
bahwa semua fasilitas yang dibutuhakan dan infrastruktur pendukung lainnya
lebih tersedia di Jawa.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa setelah 40 tahun sejak Repelita I


tahun 1969, ternyata efek menetes tersebut kecil, karena proses mengalir ke
bawahnya sangat lambat. Sebenarnya, menjelang akhir tahun 1970-an pemerintah
sudah mulai menyadari buruknya kualitas pembangunan, oleh karena itu sejak
Pelita III strategi pembangunan mulai dirubah : tidak lagi berfokus pada
pertumbuhan ekonomi, tetapi peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi
tujuan utama daripada pembangunan dan sudah banyak dilakukan program-
program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi jumlah orang miskin dan
kesenjangan pendapatan. Sayangya, krisis ekonomi tiba-tiba muncul yang diawali
oleh krisis nilai tukar rupiah pada pertengahan kedua tahun 1997, dan sebagai
salah satu akibat langsungnya, jumlah orang miskin dan gap dalam distribusi
pendapatan di tanah air membesar dan bahkan menjadi lebih buruk dibandingkan
kondisinya sebelum krisis.

Dengan memakai data lintas Negara dan data deret waktu dari sejumlah
survey/observasi di setiap Negara, Simon Kuznets menemukan adanya suatu
relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per kapita yang
berbentuk U terbalik. Hasil ini di interpretasikan sebagai evolusi dari distribusi
pendapatan dalam proses transisi dari suatu ekonomi pedesaan ke suatu ekonomi
perkotaan, atau dari ekonomi petanian (trasdisional) ke ekonomi industry
(moderen): pada awal proses pembangunan, ketimpangan pendapatan bertambah
besar sebagai akibat dari proses urbanisasi dan industrialisasi, namun setelah itu
pada tingkat pembangunan yang lebih tinggi, atau ‘akhir’ dari proses
pembangunan ketimpangan menurun, yakni pada saat sector industry di perkotaan
sudah dapat menyerap sebagian besar dari tenaga kerja yang dating dari pedesaan
(sektor pertanian), pada saat pangsa pertanian lebih kecil di dalam produksi dan
penciptaan pendapatan.

Dasar teori dari korelasi antara pertumbuhan penduduk perkapita dan


tingkat kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan ekonomi dengan
ketimpangan dalam distribusi pendapatan seperti yang telah dibahas diatas.
Mengikuti hipotesisi khuznets,pada tahap awal dari proses pembangunan,tingkat
kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir dari
pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang.
BAB VII

APBN, KEBIJAKAN FISKAL, DAN UTANG LUAR NEGERI

Dalam sejarah Indonesia sejak Orde Baru hingga sekarang, sering kali
pemerintah sebagai motor utama, jika tidak bisa dikatakan sebagai satu-satunya
penggerak perekonomian nasional. Mungkin bukti paling nyata yang
menunjukkan besarnya peran pemerintah di dalam perekonomian Indonesia
selama ini adalah keberadaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Jika setiap peerusahaan selalu (merupakan suatu keharusan) menyusun anggaran
pengeluaran dan pendapatan/pemasukannya setiap tahun agar perusahaan bisa
berkinerja dengan baik sesuai rencana tahunan, demikian juga pemerintah, dan hal
ini dapat dilihat di dalam APBN, yang dibuat setiap tahun, agar perekonomian
nasional bisa terus bergerak dengan laju pertumbuhan bukan hanya berkelanjutan
tetapi juga dengan laju akselerasi yang meningkat di satu sisi, dan untuk menjaga
stabilitas ekonomi di sisi lain. Selama Orde Baru hingga krisis ekonomi 1997-
1998, APBN disusun dan diumumkan setiap April. Jadi pada masa itu, tahun
fiscal dimulai setiap bulan April. PenyusunanAPBN tahun ini adalah untuk tahun
depan, maka umum disebut rancangan APBN (RAPBN).

. Jika pemerintah menambah defisit APBN, yakni menambah pengeluaran atau


mengurangi pendaparan lewat misalnya mengurangi tariff pajak, maka dikatakan
pemerintah melakukan kebijakan fiscal ekspansif karena, paling tidak secara teori
atau harapan pemerintah bahwa laju pertumbuhan ekonomi akan meningkat.
Sebaliknya, disebut kebijakan fiscal kontraktif jika pemerintah mengurangi deficit
APBN, yakni mengurangi pengeluaran atau menaikkan tarif pajak, karena laju
pertumbuhan ekonomi akan merosot, ceteris paribus.

APBN mempunyai dua komponen besar, yakni anggaran pengeluaran


pemerintah pusatdan anggaran pendapatan negara. Anggaran pendapatan negara
terdiri dari berbagai macam pajak, retribusi, royalti, bagian laba BUMN, dan
berbagai pendapatan non-pajak lainnya. Sedangkan anggaran pengeluaran
pemerintah pusat terdiri dari dua sub-komponen besar yakni, pengeluaran
pemerintah pusat dan pengeluaran pemerintah daerah, yaitu transfer ke
pemerintah daerah. Tiga komponen lalinnya adalah belanja hibah, pengeluaran
untuk bantuan sosial dan belanja lain-lain.

APBN yang direvisi biasanya disebut APBN-perubahan (APBN-P). revisi


bisa dilakukan dengan atau tanpa kebijakan (misalnya mengeluarkan suatu
regulasi/deregulasi). Reallisasi APBN bisa lebih besar, sama atau lebih kecil dari
anggaran, baik anggaran awal atau anggaran yang telah direvisi. Revisi terhadap
APBN yang sedang berjalan juga sering diperlukan karena munculnya masalah-
masalah di dalam negri yang tidak terduga sangat memerlukan bantuan besar dari
pemerintah seperti bencana alam.

Kebijakan ekonomi makro secara garis besar dapat dibedakan menjadi


kebijakan fiscal dan kebijakan moneter,seperti juga ekonomi dapat dibagi
menjadi dua sektor,yakni sektor rill dan sektor moneter. Sektor rill menghasilkan
barang dan jasa. Sektor ini dapat lagi dibagi menjadi menrut kelompok atau
subsector seperti pertanian,pertambangan,industri dan lain-lain. sedangkan sektor
moneter dapat dikatakan merupakan hasil dari sektor rill dalam bentuk uang. Di
Indonesia kebijakan fiscal mempunyai dua prioritas.prioritas pertama adalah
mengatasi APBN,dan masalah-masalah APBN lainnya.Prioritas kedua adalah
menagtasi masalah stabilitas ekonomi makro,yang terkait dengan antara lain laju
pertumbuhan ekonomi tingkat atau laju pertumbuhan inflasi,jumlah kesempatan
kerja/pengangguran dan saldo neraca pembayaran.

BAB VIII

SEKTOR DAN KEBIJAKAN MONETER

Uang mempunyai peran sentral di dalam perekonomian modern. Berbeda


dengan zaman dahulu kala, sekarang ini tanpa uang tidak mungkin ekonomi bisa
berjalan karena tidak ada permintaan atau konsumsi rumah tangga (C). Sedangkan
di sisi lain, terlalu banyak uang beredar di masyarakat mengakibatkan terlalu
banyak permintaan. Jika produksi atau penawaran di pasar terbatas, maka tingkat
inflasi akan meningkat, dan laju inflasi yang terlalu tinggi akan berpengaruh
negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hingga tingkat tertentu kenaikkan harga
akan memberi insentif bagi industri /sektor untuk meningkatkan produksi (seperti
yang digambarkan oleh kurva penawaran agregat dengan sudut yang positif, yang
artinya semakin tinggi tingkat harga semakin banyak volume produksi). Namun
jika tingkat harga terlalu tinggi, permintaan akan merosot (seperti yang
digambarkan oleh kurva permintaan agregat dengan sudut negatif: harga naik
permintaan menurun). Oleh karena itu, dapat dipahami betapa pentingnya
kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas peredaran uang, jangan terlalu banyak
dan jangan terlalu sedikit.

BAB IX

PELAKU-PELAKU EKONOMI

Didalam system perekonomian Indonesia terdapat tiga pilar utama yang


menyangga peekonomian yaitu Badan Usaha milik Neagara (BUMN), Badan
Usaha Milik Swasta (BUMS) dan Koperasi atau dapat dikatakan dua kelompok
pelaku ekonomi yaitu pemerintah dan swasta. Peran dari pelaku-pelaku ekonomi
tersebut yang selama ini dapat dilihat yaitu dapat dilihat dari sejumlah indikator,
terutama dalam sumbangannya terhadap pembentukan dan pertumbuhan PDB,
kesempatan kerja, peningkatan cadangan valuta asing (devisa) terutama lewat
ekspor dan sumbangannya terhadap keuangan pemerintah lewat pembayaran
pajak dan lainnya.

BAB X

DAYA SAING DAN LIBERISASI INTERNASIONAL

Daya saing adalah suatu konsep yang umum digunakan di dalam ekonomi yang
biasanya merujuk kepada komitmen terhadap persaingan pasar dalam kasus
perusahaan-perusahaan dan keberhasilan dalam persaingan internasional dalam
kasus negara-negara. Tujuan dilakukannya penelitian terhadap liberisasi
perdagangan internasional adalah untuk mengukur besarnya potensi keuntungan
atau kerugian dan memprediksi pola-pola perdagangan yang sedang berubah dan
realokasi sumber-sumber daya sebagai suatu hasil dari skim-skim liberisasi
perdagangan tersebut.

1.3 RINGKASAN BUKU PEMBANDING

BAB 1

SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA

Dinamika perekonomian Indonesia pada masa sebelum penjajahan di


mulai dari jaman pra-sejarah sampai dengan masuknya kolonialisme di Indonesia,
yaitu portugismasuk ke Indonesia (Maluku) pada abad 16. Atas dasar hal itu,
maka dinamika perekonomian Indonesia sejalan dengan perkembangan kehidupan
bangsa Indonesia yang diwujudkan melalui keberadaan kerajaan yang ada di
nusantara . Beberapa kerajaan dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa
Indonesia dianataranya kerajaan Kutai, kerjaan Tarumanegara, kerajaan Sriwijaya,
kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri, kerajaan Singosari, kerajaan Majapahit,
kerajaan Sunda, Kerajaan Bali (Listiani, 2009).

Masa Penjajahan Portugis (1509-1659)

Perjalanan historis Portugis dalam menjajah Indonesia di mualai dengan


ekspedisi eksploirasi yang dikirim dari Malaka yang baru ditaklukkan dalam
tahun 1512. Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa yang pertama yang tiba di
kepulauan yang sekarang menjadi Indonesia, dan mencoba untuk menguasai
sumber rempah-rempah yang berharga dan untuk memperluas usaha misionaris
Katolik Roma. Upaya pertama Portugis untuk menguasai kepulauan Indonesia
adalah dengan menyambut tawaran kerjasama dari kerajaan Sunda.

Bangsa Portugis adalah bangsa yang mempunyai keahlian dalam navigasi,


pembuatan kapal, dan persenjataan. Hal ini memungkinkan mereka untuk
melakukan ekspedisi dan ekspansi jauh ke Negara-negara di dunia.

Masa Penjajahan Belanda (1602-1942)


Penjajahan Belanda berlangsung kurang lebih selama 350 tahun, atau 3,5
abad. Masa yang sangat panjang bagi bangsa Indonesia dalam cengkeraman
Belanda. Dalam rentang waktu tersebut berbagai kebijakan ekonomi dilakukan
oleh Belanda. Dibentuknya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)
adalah salah satu kebijakan dalam bidang ekonomi yang dilakukan Belanda.
Dengan VOC tersebut segala otoritas perdagangan dikuasai oleh Belanda.

VOC benar-benar dibuat dalam rangka menguasai perdagangan, sehingga


beberapa kewewnagan dimilkinya, seperti mencetak uang, menyatakan perang
dan damai, membuat angkatan bersenjata sendiri, dan membuat perjanjian dengan
raja-raja.

Pada tahun 1759, VOC dibubarkan karena dianggap gagal dalam


mengeksploirasi kekayaan Hindia Belanda (Indonesia). Kegagalan itu Nampak
pada defisitnya kas VOC, yang anatara lain disebabkan oleh: 1) Peperangan yang
terus-menerus dilakukan oeh VOC dan memakan biaya besar, 2) Penggunaan
tentara sewaan membutuhkan biaya besar, 3) Korupsi yang dilakukan pegawai
VOC sendiri, 4) Pembagian dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas
defisit.

Bubarnya VOC bukan berarti Belanda kehilangan akal untuk


mempertahankan dominasi penjajahannya. Justru munculkebijakan yang baru
yang dikenal dengan cultuur stelsel (sistem tanam paksa). Kebijakan ini
diberlakukan mulai pada tahun 1836 yang diinsiasi oleh Van Den Bosch.

Sistem tanam paksa bertujuan memproduksi berbagai komditi yang


diminta di pasar dunia. Bagi masyarakat pribumi, sistem ini sangat merugikan
bahkan menyiksa, namun bagi Belanda sangat menguntungkan. Implementasi
sistem tanam paksa, realitanya melibatkan para bangsawan dalam akumulasinya.

Setelah melakukan sistem tanam paksa, kemudian Belanda menerapkan


Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal). Kebijakan ini dilakukan karena desakan
kaum Humanis Belanda yang menginginkan perubahan nasib warga pribumi
kearah yang lebih baik dengan mendorong pemerintah Belanda mengubah
kebijakkan ekonominya.
Masa Penjajahan Jepang (1942-1945)

Konstelasi peta politik pada masa Perang Dunia ll nampaknya berimbas


pada konstelasi politik di Indonesia. Semakin tersudutnya Belanda di Indonesia
pada masa itu, membuat Jepang yang kala itu sedang gencar-gencarnya
memperluas wilayah jajahan, menjadlkan Indonesia sebagai sasaran baru.
Akhirnya Belanda harus melepaskkan jajahannya kepada Jepang.

Secara garis besar, kronologi penjajahan Jepang di Indonesia diawali pada


bulan Juli 1942. Saat itu, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan
kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan
jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan
para Kyai memperoleh penghormatan dari Kaisar Jepang pada tahun 1943. Bulan
Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI). Kebijakan ekonomi pada jaman penjajahan Jepang, terdiri
atas: 1) Perluasan Areal Persawahan. 2) Pengawasan Pertanian dan Perkebunan.

Pengawasan terhadap produksi perkebunan dilakukan secata ketat. Jepang


hanya mengizinkan dua jenis tanaman perkebunan yaitu karet dan kina. Kedua
jenis tanaman itu berhubungan langsung dengan kepentingan perang

Kebijakan-kebijakan pemerintah Jepang di bidang ekonomi telah


mengakibatkan kehidupan rakyat Indonesia menjadi sengsara dan penuh
penderitaan.

Masa Orde Lama (1945-1967)

Dalam masa ini, perkembangan perekonomian dibagai dalam 3 (tiga) masa, yaitu:
1) Masa Kemerdekaan (1945-1950), 2)Masa Demokrasi Liberal (1950-1957), 3)
Masa Demokrasi Terpimpin.

- Masa Kemerdekaan (1945-1950)

Bulan Oktober 1946 Pemerintah RI mengeluarkan ORI (Oeang Republik


Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Namun adanya blokade ekonomi oleh
Belanda dengan menutup pintu perdagangan luar negeri mengakibatkan
kekosongan kas negara. Akibatnya negara berada dalam kondisi krisis keuangan.
Kondisi tentu membahayakan bagi keberlangsungan perekonomian Indonesia
pada masa itu.

Pinjaman Nasional dilakukan oleh menteri keuangan (kala itu Ir.


Soerachman) dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat
(BPKNIP) mengadakan pinjaman nasional yang akan dikembalikan dalam jangka
waktu 40 tahun. Pinjaman ini dimaksudkan agar tersedia dana segar bagi
operasionalisasi penyelenggaraan negara. Untuk memenuhi kebutuhan rakyat,
dilakukan dengan mendatangkan Kapal Martin Behrman di pelabuhan Ciberon
yang mengangkut kebutuhan rakyat.

Kemudian untuk melengkapinya dibuat Rencana Lima Tahunan (Kasimo


Plan), dimana dalam dokumen itu meliputi anjuran memperbanyak kebun bibit
dan padi unggul, mencegah penyembelihan hewan-hewan yang membantu dalam
pertanian, menanami tanah terlantar di Sumatra, dan mensadakan transmigrasi.

Selain kebiiakan di atas, muncul pula kebijakan yang dikenal dengan


sebutan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng dan Sistem Ekonomi Ali-Baba.

Sistem Ekonomi Gerakan Banteng merupakan kebijakan yang digagas


oleh Soemitro Djojohadikusumo. Sistem ini dimaksudkan untuk perbaikan dan
perubahan struktur ekonomi peninggalan Belanda ke arah ekonomi nasional
melalui gerakan konfrontasi ekonomi. kebijakannya pemberian kredit pada
pengusaha pribumi. Namun kebijakan ini akhirnya gagal.

Sistem Ekonomi Ali Baba merupakan penggalangan kerjasama antara


pengusaha Cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha nonpribumi diwajibkan
memberikan latihan-latihan kepada pengusaha pribumi. Pemerintah menyediakan
kredit dan lisensi bagi pengusaha swasta nasional. Kondisi perekonomian pada
masa ini lebih banyak berkutat pada bagaimana menyelesaikan persoalan ekonomi
dasar. Namun hal inipun juga tidak bisa berjalan dengan baik, akibat situasi
politik yang tidak stabil. Beberapa kebijakan sebenarnya telah didisain dengan
baik, namun ketika diimplementasikan tidak jalan. Tentu saja tidak bisa
memperbaiki kondisi perekonomian pada masa itu.
- Masa Demokrasi liberal (1950-1957)
Masa ini, paham Iiberalisme mulai masuk dalam kebijakan perekonomian
Indonesia. Ciri utama masa Demokrasi Liberal adalah sering bergantinya kabinet.
Hal ini disebabkan karena jumlah partai yang cukup banyak, tetapi tidak ada
partai yang memiliki mayoritas mutiak. Hal ini kemudian membuat pada masa
ini perekonomian diserahkan sepenuhnya pada pasar.

Pemotongan nilai uang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah uang yang


beredar, agar tingkat harga turun. Program ini dikenal dengan sebutan Gunting
Syarifuddin. Pemerintah juga melanjutkan Program Benteng (Kabinet Natsir)
dengan maksud untuk menumbuhkan wiraswasta pribumi agar bisa berpartisipasi
dalam perkembangan ekonomi nasional. Serta Pembatalan sepihak atas hasiI-hasil
KMB, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda.

- Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)

Demokrasi terpimpin tidak lepas dari sosok Presiden Soekarno, sehingga


pemikiran Soekarno menjadi dasar bagi pelaksanaan demokra si terpimpin.
Pemikiran Soekano tentang demokrasi terpimpin muncul panama kali pada pidato
yang berjudul Kembali ke Rel Revolusi (1959). Dalam pidatonya tersebut
Soekarno menyatakan bahwa kita tidak dapat mempergunakan sistem yang sudah-
sudah dan alat-alat yang sudah-sudah. Sistem Iiberalisme harus dibuang jauh-jauh,
demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin harus ditempatkan sebagai gantinya.

Akhirya demokrasi terpimpin benar-benar terjadi setelah muncul Dekrit


Presiden 5 Mei I959. Mulai saat itulah Indonesia menjalankan sistem demokrasi
terpimpin. Konsekuensi dari sistem ini berdampak pada perubahan struktur
ekonomi Indonesia yang akhimya cenderung berjalan melalui sistem etatisme,
dimana dalam sistem ini negara dan aparatur ekonomi negara bersifat dominan
serta mematikan potensi dan kreasi unit-unit ekonomi diluar sektor negara.

Masa 0rde Baru (1967-2008)

0rde Baru mengawali rezimnya dengan menekankan pada prioritas


stabililas ekonomi dan politik. Program pemerintah berorintasi pada pengendalian
inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan pengamanan kebutuhan pokok
rakyak. Berkaca pada masa sebelumnya, dimana ketika sistem ekonomi liberal
diterapkan temyata berdampak pada kegagalan pengusaha pribumi dalam bersaing
dengan pengusaha non pribumi, maka pemerintah menerapkan kebijakan eknomi
yang baru melalui pendekatan demokrasi pancasila, dan secara perIahan campur
tangan pemerintah dalam perekonomian mulai masuk

Pentingnya aspek pemerataan, tampaknya disadari betul dalam masa ini,


sehingga muncul isitilah 8 (delapan) jalur pemerataan sebagai basis kebijakan
ekonominya. Kedelapan ialur tersebut adalah: 1). Kebutuhan pokok, 2).
Pendidikan dan kesehatan, 3). Pembagian pendapatan, 4). Kesempatan kerja, 5).
Kesempatan berusaha, 6). Partisipasi wanita dan generasi muda, 7). Penyebaran
pembangunan, 8). Peradilan. Agar implementasi kebijakan tersebut berjalan
dengan baik dan terencana, maka kebijakan tersebut dilaksanakan melalui apa
yang dinamakan dengan sebutan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30
tahun). Pola ini berlangsung dalam periodisasi lima tahunan, sehingga terkenal
dengan sebutan Pelita (Pembangunan Lima Tahun).

Masa Reformasi (1998-sekarang)

Tumbangnya Soeharto dari tampuk kekuasaan, ternyata menjadi titik pijak


baru babakan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, yang kemudian dikenal dengan
sebutan reformasi. Reformasi dapat diartikan pembaharuan dari paradigma, pola
lama ke paradigma, pola baru untuk menuju ke kondisi yang lebih baik sesuai
dengan harapan. Masa ini diawali dari kepemimpinan Presiden BJ Habibie, Gus
Dur, Megawati Soekarnoputri, dan sekarang ini Susilo Bambang Yudhoyono.

Masa Reformasi, dianggap sebagai tonggak baru perjalanan kehidupan


bangsa Indonesia, baik dari sisi sosial dan politik. Pada masa ini muncul beberapa
kebijakan yang kemudian menjadi Iandasan bagi perjalanan sejarah Bangsa
Indonesia ke depan. Kebijakan yang paling menonojol adalah adanya pergeseran
pengelolaan pemerintahan dari yang semula sentralistis, menjadi desentralistis.
Kebijakan ini terkenal dengan Otonomi Daerah, yang diatur dalam UU Nomor 22
Tahun 1999, yang kemudian disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004.

- Masa Presiden BJ. Habibie (21 Mei 1998 s/d 20 Oktober 1999)
Habibie adalah Wakil Presiden ketika Soeharto terpilih kembali menjadi
Presiden yang ke-tujuh. Namun ketika Soeharto lengser, sesuai konstitusi Habibie
yang menggantikannya. Habibie inilah boleh dikatakan sebagai awal Orde
Reformasi, meski masih sebagai bagian dari Soeharto. Perdebatan tentang siapa
sebenarnya yang mengawali reformasi masih ada hingga sekarang. Ketika
Soeharto telah benar-benar turun, maka tentu saja penggantinya layak disebut
sebagai pemimpin baru yang reformis.

Habibie mewarisi kondisi kekacauan pasca pengunduran diri Soeharto


akibat salah urus pada masa Orde Baru, sehingga menimbulkan maraknya
kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia.

Untuk menyelesaikan krisis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia, BJ


Habibie melakukan Iangkah-langkah: 1). Melakukan restrukturisasi dan
tekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN dan unit Pengelola Aset
Negara, 2). Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah, 3). Menaikkan nilai
tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp. 10,000,00, 4). Membentuk
lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri, 5).
Mengimplemenlasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF. 6).
Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persamgan yang Tidak Sehat, 7). Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen.

- Masa Presiden Abdurrahman Wahid/Gus Dur (20 Oktobet 1999 s/d 23 Juli
2001)

Gus Dur menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MFR


hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet
Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20
Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang lstimewa MFR pada tahun 2001, tepatnya
23 Juli 2001.
Gus Dur memerintah dengan gaya yang agak kontroversial. Banyak
pemyataan-pemyataan yang membuat kebingungan publik. Akibatnya sering
muncul perdebatan di publik yang tidak memberikan pendidikan bagi masyarakat.
Gus Dur juga gemar melakukan perjalanan ke luar negeri, yang cendemng
terkesan pemborosan. Keterbatasan fisiknya, suka tidak suka juga mempengaruhi
kinerjanya dalam menjalankan pemerintahan.

Kondisi perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan Presiden


Abdurahman Wahid memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi perekonanian

Indonesia mulai mengarah pada perbaikan, di antaranya penumbuhan PDB yang


mulai positif, laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi
moneter dalam negeri juga sudah mulai stabil.

2. Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF


juga kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No. 23
Tahun 1999 mengenai Bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan
daerah untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus
tertunda.

3. Politik dan sosial yang tidak stabil semakin parah yang membuat investor asing
menjadi enggan untuk menanamkan modal di Indonesia.

4. Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai Iagi dengan pergerakan lndeks


Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif, bahkan metosot hingga
300 poin, dikarenakan lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada kegiatan
pembelian dalam perdagangan saham di dalam negeri.

- Masa Presiden Megawati Soekarnoputri (23 Juli 2001 s/d 20 Oktober


2004)

Megawati menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang istimewa


MPR pada tahun 2001. Sidang istimewa MPR diadakan dalam menanggapi
langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan lembaga
MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari
tahun 1999-2001, ia menjabat Wakil Presiden di bawah Gus Dur.

Pada masa kepemimpinan Presiden Megawati, perekonomian Indonesia


mulai mengalami kemaiuan. Pemerintah dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi
menjadi4,1%, karena pada saat itu pernerintah membuat kebijakan privatisasi
BUMN, yaitu menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan
melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan
mengurangi beban Negara. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi
karena BUMN yang diprivatisasi dijual kepada perusahaan asing.

- Masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004 S/d


sekarang)

Susilo Bambang Yudhoyono, atau lebih dikenal dengan sebutan SBY,


merupakan presiden pertama yang dipilih oleh rakyat melalui Pemilu tahun 2004
dan tahun 2009. Periode pertama dilantik pada 20 Oktober 2004 bersama Wakil
Presiden Jusuf Kalla, sedangkan pada periode kedua dilantik pada 20 Oktober
2009 dengan Wakil Presiden Boediono.

Kebijakan mengurangi subsidi BBM, dilatarbelakangi oleh naiknya harga


minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan
kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan
masyrakat. Sementara kebijakan BLT bantuan Iangsung tunai bagi masyarakat
miskin. Namun kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan
pembagiannya juga banyak menimbulkan masalah sosial.

Masih ada kebijakan-kebijakan Iain dalam bidang ekonomi, seperti:


pembayaran utang secara bertahap kepada badan PBB, pembelian kembali saham
BUMN, pelayanan UKM (Usaha Kecil Menengah) bagi rakyat kecil,
memudahkan investor asing untuk berinvestasi di lndonesia, meningkatkan sektor
pariwisata dengan mencanangkan Visit Indonesia 2008, pemberian bibit unggul
pada petani.
Era SBY meninggalkan beberapa masalah yaitu implementasi
pembangunan ekonomi terkesan seadanya, karena tidak (atau barangkali belum)
muncul strategi yang bisa membuat perekonomian Indonesia kembali bergairah.
Hal ini dibuktikan dengan masih adanya pengangguran dan kemiskinan yang
sampai sekarang masih menjadi perdebatan.

3.2 PROSPEK PEREKONOMIAN INDONESIA

Menurut Ratnawaty (2012), pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan


masih akan diuntungkan oleh konsumsi domestik yang cukup besar. Dalam sektor
investasi, menurut Wirjawan (2010), prospek pertumbuhan investasi Indonesia
pada 2010 dinilai cukup positif, karena Indonesia akan menerapkan kebijakan
yang memudahkan dan memberikan kenyamanan investor dalam melakukan
investasi. Hal senada disampaikan oleh Dapice (2012), prospek perekonomian
Indonesia dinilai masih yang terbaik di kawasan Asia Tenggara, karena persentase
investasi asing terhadap PDB Indonesia paling kecil, yakni hanya sekitar 7 persen
Vietnam mendekati 10 persen, Thailand 12 persen, serta Malaysia dan Filipina di
atas 15 persen. Investasi asing lansung dan portofolio kapital sangat membantu
pertumbuhan negara-negara ASEAN. Tapi, saat krisis seperti arus investasi
Iangsung akan melambat.

BAB 7

PERDAGANGAN DAN PEMBAYARAN INTERNASIONAL

PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh


penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu
dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau
pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara Iain.
Sejarah Perdagangan Internasional

Pemenuhan ekonomi atau kebutuhan dengan cara barter dipandang telah


memberikan kontribusi positif dalam perkembangan sejarah manusia karena
barter menjadi mediasi untuk membentuk sosialitas masyarakat dan pada titik
inilah intensitas interaksi manusia terbangun. Perdagangan ala-barter dalam
perkembangannya telah pertemukan manusia dari segala penjuru belahan dunia,
menyambungkan utara-selatan timur-barat dengan latar belakang kebudayaan
yang berbeda. Sejarah mencatat beberapa jalur perdagangan yang dapat
menghubungkan Timur, Arab, Asia dan Barat salah satunya ,adalah jalur sutra.

Jalur ini merupakan jalan penghubung yang mempertemukan ,timur jauh


(Gujarat, India, Arab) dengan pedagang dari Asia (China) negara-negara bawah
angin (Malaka, Nusantara) dan juga pedagang dari Eropa. lnilah awal interaksi
perdagangan (ekonomi) paling intens yang sekaligus menjadi penemuan antar
budaya-budaya berbeda, suatu model perdagangan lnternasional konvensional.
Kemunculan uang menjadikan manusia semakin mudah dalam menjalankan
aktivitas perdagangan (ekonomi) dan barter perlahan mulai ditinggalkan meski
demikian di beberapa tempat barter masih digunakan dalam perdagangan.

Pada awal abad ke-15 Eropa bukanlah kawasan yang paling maju di dunia
juga bukan kawasan yang paling dinamis. Semula Eropa merupakan aktor pasif
dalam perdagangan internasional, dan hanya mengandalkan Konstantinopel
sebagai pelabuhan utama pensuplai barang (rempah-rempah) atau kebutuhan yang
datang dari pedagang China, India dan Arab. Namun situasi kemudian berubah.
Pada abad ke-15 kekuatan besar yang sedang berkembang pada waktu itu adalah
Turki Ottoman. Pada tahun 1453 Konstantinopel yang semula dikuasai Eropa
kemudian ditaklukkan dan dikuasai oleh Turki Ottoman (Ricklefs, 2007).

Kemajuan dalam bidang navigasi perkapalan, geografi, astronomi,


persenjataan, penemuan kompas dan peta kemudian mempermudah ekspedisi-
ekspedisi tersebut. Mereka dapat membuat kapal-kapal besar yang mampu
mengarungi samudera luas dengan persenjataan (meriam) sebagai alat penahanan.
Ketika zaman itu aura perang salib masih terasa kuat hal tersebut dapat dilihat dari
doktrin suci yang ditanamkan untuk ekspedisi-ekspedisi ekonomi tersebut
kemudian lahirlah semboyan Gold, Glory dan Gospel (3G) seakan menjadi mantra
untuk menaklukan negeri bawah angin (Malaka, Nusantara).

Titik terang ekspedisi Eropa adalah penemuan jalan menuju Mameluk


(Maluku) negeri yang menyimpan rempah-rempah oleh bangsa Portugis. Pada
tahun 1511 di bawah komando Alfonso de Albuquerque, Portugis dapat
menguasai Malaka yang ketika itu merupakan jalur maritim perdagangan
Internasional teramai di dunia yang menghubungkan Negeri atas angin, Timur
tengah, China dan India dengan pemasok utama rempah-rempah dari Kepulawan
Nusantara. lni adalah titik yang sangat menentukan dalam sejarah Asia tenggara
bahkan sejarah umat manusia.

Kemenangan Portugis tersebut kemudian disusul berdirinya kartel-kartel


ekonomi modern dengan maksud hendak menguasai sumberdaya ekonomi yang
ada di Asia Tenggara. Maka hadirlah Spanyol dengan Spanish Conquistadors,
lnggris dengan British Empire, dan perusahaan kartel pertama di dunia Belanda
dengan East India Company (VOC). Semuanya merupakan perusahaan-
perusahaan transnasional raksasa yang digerakan dengan dana yang memadai,
kakuatan maritim besar dan mendapat otoritas penuh dari masing-masing negara.

Perusahaan-perusahaan inilah juga merupakan jembatan menuju


kolonialisme yang menghadirkan keterpurukan selama berabad-abad hingga saat
ini.

Teori Perdagangan Internasional

Suatu negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan


utama yang masing-masing menyumbangkan keuntungan perdagangan bagi
mereka. Alasan pertama, negara-negara berdagang karena setiap negara berbeda
satu sama Iain. Alasan kedua, nengara-negara berdagang satu sama lain dengan
tujuan mencapai skala ekonomis dalam produksi, maksudnya jika setiap negara
menghasilkan sejumlah barang tertentu maka mereka dapat menghasilkan barang-
barang tersebut dengan skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien
dibandingkan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi segala jenis
barang.

Teori Klasik

a. Absolute Advantage dari Adam Smith

Teori absolute advantage Adam Smith yang sederhana menggunakan teori


niIai tenaga kerja. Teori nilai kerja ini bersifat sangat sederhana sebab
menggunakan anggapan bahwa tenaga kerja itu sifatnya homogen serta
merupakan satu-satunya faktor produksi. Dalam kenyataannya tenaga kerja itu
tidak homogen, faktor produksi tidak hanya satu dan mobilitas tenaga kerja tidak
bebas.

Kelebihan dari teori absolute advantage yaitu terjadinya perdagangan


bebas antara dua negara yang saling memiliki keunggulan absolut yang berbeda,
dimana terjadi interaksi ekspor dan impor hal ini meningkatkan kemakmuran
negara. Kelemahannya yaitu apabiia hanya satu negara yang memiliki keunggulan
absolut maka perdagangan internasional tidak akan terjadi karena tidak ada
keuntungan.

b. Comparative Advantage dari john Stuard Mill

Teori ini menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan


kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage
terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative disadvantage (suatu
barang yang dapat dihasilkan dengan Iebih murah dan mengimpor barang yang
kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar) Teori ini menyatakan
bahwa nilai suatu barang dltentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan
untuk memproduksi barang tersebut.

Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat


menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan karena pertukaran dimana
kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh tecti absolute advantage.

c. Cost Comparative Advantage dari David Ricardo (labor efficiency)


Menurut teori cost comparative advantage (labor efficiency), suatu negara
akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional melakukan spesialisasi
produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relatif
Iebih efisien serta mengimpor barang di mana negara tersebut berproduksi relatif
kurang/ tidak efisien.

d. Production Comperative Advantage dari David Ricardo (labor produktifvly)

Suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional


jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara
tersebut dapat berproduksi relatif Iebih produktif serta mengimpor barang dimana
negara tersebut berproduksi relatif kurang/tidak produktif.

Teori ini mencoba melihat kuntungan atau kerugian dalam perbandingan


relatif. Teori ini berlandaskan pada asumsi:

1. Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah
tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai
barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan
untuk memproduksinya.

2. Perdagangan internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.

3. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal


pemasaran.

4. Produksi dijalankan dengan biaya tetap. Hal ini berarti skala produksi tidak
berpengaruh. Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara.

Teori Modern

a. Teori Heckscher-Ohlin (H-O)

Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan melakukan perdagangan


dengan negara lain disebabkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif
yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan faktor produksi.
Basis dari keunggulan komparatif adalah: 1). Faktor endowment, yaitu
kepemilikan faktor-faktor produksi di dalam suatu negara. 2). Faktor intensity,
yaitu teknologi yang digunakan didalam proses produksi, apakah labour intensity
atau capital intensity.

Teori modern Heckescher-Ohlin atau teori H-O menggunakan dua kurva


pertama adalah kurva isocost yaitu kurva yang menggambarkan total biaya
produksi yang sama pada berbagai penggunaan input yang berbeda. Kedua kurva
isoquant yaitu kurva yang menggambarkan tolal kuantitas produk yang sama pada
berbagai penggunaan input yang berbeda. Menurut teori ekonomi mikro kurva
isocost akan bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik optimal. Jadi
dengan biaya tenentu akan diperoleh produk yang maksimal atau dengan biaya
minimal akan diperoleh sejumlah produk tertentu.

Analisis teori H-O:

1. Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau
proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing Negara

2. Comparative advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing


negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang
dimilikinya.

3. Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan


mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang
relatif banyak dan murah untuk memproduksinya

4. Sebaliknya masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu


karena negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal
untuk memproduksinya. Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi
faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama maka harga
barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan intemasional tidak
akan terjadi.

b. Paradoks Leontief
Wassily Leomief seorang pelopor utama dalam analisis input-output
matriks, melalui studi empiris yang dilakukannya pada tahun 1953 menemukan
fakta mengenai struktur perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) Amerika
serikat tahun 1947 yang bertentangan dengan teori H-O sehingga disebut sebagai
Paradoks Leontief

Berdasarkan penelitian lebih lanjut yang dilakukan ahli ekonomi


perdagangan ternyata paradox Leontief tersebut dapat terjadi karena empat sebab
utama yaitu: a). Intensitas faktor produksi yang berkebalikan, b). Tariff and non
tariff barrier, c). Pebedaan daIam skill dan human capital, dan d). Perbedaan
dalam faktor sumberdaya alam.

c. Teori Opportunity Cost

Opportunity Cost digambarkan sebagai production possibility curve (PPC)


yang menunjukkan kemungkinan kombinasi output yang dihasilkan suatu negara
dengan sejumlah faktor produksi secara full employment. Dalam hal ini bentuk
PPC akan tergantung pada asumsi tentang opportunity cost yang digunakan yaitu
PPC constant cost dan PFC increasing cost.

d. Offer Curva/Reciprocal Demand (OC/RD)

Teori Offer Curve ini diperkenalkan oleh dua ekonomi lnggris yaitu
Marshall dan Edgeworth yang menggambarkan sebagai kurva yang menunjukkan
kesediaan suatu negara untuk menawarkan/menukarkan suatu barang dengan
barang lainnya pada berbagai kemungkinan harga.

Kelebihan offer curve yaitu masing-masing negara akan memperoleh


manfaat dari perdagangan intemasional yaitu mencapai tingkat kepuasan yang
lebih tinggi. Permintaan dan penawaran pada faktor produksi akan menentukan
harga faktor produksi tersebut dan dengan pengaruh teknologi akan menentukan
harga suatu produk. Pada akhimya, semua itu akan bermuara kepada penentuan
comparetive advantage dan pola perdagangan suatu negara. KuaIitas sumber daya
manusia dan teknologi adalah dua faktor yang senantiasa diperlukan untuk dapat
bersaing di pasar intemasional.

7.1.3 Manfaat Perdagangan lntemasional

Menurut Sukimo (2004), manfaat perdagangan internasional dalah sebagai


berikut:

1. Menjalin persahabatan antar negara

2. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendlri. Banyak


faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara.
Faktor-faktor tersebut di antaranya: kondisi geografi, iklim, dan tingkat
penguasaan iptek. Dengan adanya perdagangg PPCan internasional, setiap negara
mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.

3. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Sebab utama kegiatan perdagangan


luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh
spesialisasi.

4. Transfer teknologi modern perdagangan luar negeri memungkinkan suatu


negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara
manajemen yang lebih modern.

Hambatan Perdagangan Internasional

1. Perbedaan Mata Uang Antar Negara.

Pada umumnya mata uang setiap negara berbeda-beda. Perbedaan inilah yang
dapat menghambat perdagangan antar negara. Negara yang melakukan kegiatan
ekspor, biasanya meminta kepada negara pengimpor untuk membayar dengan
menggunakan mata uang negara pengekspor. Pembayarannya tentunya akan
berkaitan dengan nilai uang itu sendiri.

2. Kualitas Sumber Daya yang Rendah.

Rendahnya kualitas tenaga kerja dapat menghambat perdagangan intemasional


karena jika sumber daya manusia rendah, maka kualitas dari hasil produksi akan
rendah pula. Suatu negara yang memiliki kualitas barang rendah, akan sulit
bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara lain yang kualitasnya
lebih baik.

3. Pembayaran Antar Negara Sulit dan Risikonya Besar.

Pada saat melakukan kegiatan perdagangan internasional, negara pengimpor akan


mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Apabila membayarnya dilakukan
secara langsung akan mengalami kesulitan. Selain itu, juga mempunyai risiko
yang besar. Oleh karena itu, negara pengekspor tidak mau menerima pembayaran
dengan tunai, akan tetapi melalui kliring internasional atau telegraphic transfer
atau menggunakan letter of credit (L/C).

4. Adanya Kebijaksanaan lmpor dari Suatu Negara.

Setiap negara tentunya akan selalu melindungi barang-barang hasil produksinya


sendiri. Mereka tidak ingin barang-barang produksinya tersaingi oleh barang-
barang dari luar negeri. Oleh karena itu, setiap negara akan memberlakukan
kebijakan unluk melindungi barang-barang dalam negeri. Salah satunya dengan
menetapkan tarif impor. Apabila tarif impor tinggi maka barang impor tersebut
akan menjadi lebih mahal daripada barang-barang dalam negeri sehingga
mengakibatkan masyarakat menjadi kurang tertarik untuk membeli barang impor.

5. Terjadinya Perang.

Terjadinya perang dapat menyebabkan hubungan antanegara terputus. Selain itu,


kondisi perekonomian negara tersebut juga akan mengalami kelesuan. Sehingga
hal ini dapat menyebabkan perdagangan antanegara akan terhambat.

6. Adanya Organisasi-Organisasi Ekonomi Regional.

Biasanya dalam satu wilayah regional terdapat organisasi-organisasi ekonomi.


Tujuan organisasi-organisasi tersebut untuk memajukan perekonomian negara-
negara anggotanya. Kebijakan serta peraturan yang dikeluarkannya pun hanya
untuk kepentingan negara-negara anggota. Sebuah organisasi ekonomi regional
akan mengeluarkan peraturan ekspor dan impor yang khusus unluk negara
anggotanya. Akibatnya apabila ada negara di luar anggota organisasi tersebut
melakukan perdagangan dengan negara anggota akan mengalami kesulitan.

PEMBAYARAN INTERNASIONAL

Pengertian Neraca Pembayaran Internasional

Neraca pembayaran meliputi semua nilai barang dan jasa, transfer-transfer


(hadiah, hibah, dan bantuan asing), transaksi modal (pinjaman dan utang) dan
semua transfer keyataan resmi serta tabungan internasional yang dilaksanakan
selama kurun waktu tertentu. Jadi neraca pembayaran adalah suatu catatan
sistematis yang mampu memberikankan informasi mengenai transaksi-transaksi
ekonomi internasional yang sudah dan sedang dilakukan oleh suatu negara dengan
negara lain, dinilai dengan mata uang pada setiap periodenya (biasanya setahun
sekali).

Tujuan dan Fungsi Neraca Pembayaran Internasional

Penyusunan neraca pembayaran mempunyai beberapa tujuan, yaitu: a).


Memberikan informasi kepada pemerintah mengenai posisi Negara di
perdagangan internasional. b). Memberikan bantuan dan sistem pembayarannya.
c). Memberikan bantuan kepada pemerintah dalam menetapkan kebijakan moneter
dan fiskal. d). Memberikan keterangan kepada pemerintah di dalam menetapkan
berbagai kewajiban perekonomian nasional seperti ekspor impor, lalu lintas
moneter serta produksi. e). Membantu pemerintah dalam mengambil keputusan
dalam bidang politik perdagangan dan urusan pembayarannya. Sedangkan neraca
pembayaran memiliki beberapa fungsi, yaitu: a) Alat pembukuan anggaran dan
alat pembayaran luar negeri. b) Alat untuk menjalankan pengaruh transaksi luar
negeri terhadap pendapatan nasional. c). Alat untuk mengukur keadaan
perekonomian suatu Negara. d). Alat untuk menetapkan kebijakan moneter dan
fiscal. e). Untuk mengetahui transaksi luar negeri terhadap pendapatan nasional.

Komponen Neraca Pembayaran lnternasional

a. Neraca Pembayaran transaksi Berjalan (Current Account)


Neraca pembayaran meliputi semua transaksi tahun berjalan, yaitu ekspor,
perdagangan barang dan bukan barang. Ekspor barang merupakan transaksi
kredit yang menyebabkan terjadinya aliran uang masuk ke dalam negeri.

b. Neraca Transaksi Modal (CapitaIAccount)

Neraca transaksi modal meliputi pemberian pinjaman (pours) dan utang


(borrowing) berupa pinjaman jangka pendek dan jangka panjang. Transaksi modal
tersebut dapat berupa hal-hal berikut: -Kredit untuk kegiatan perdagangan dari
negara lain.

- Deposito yang dimiliki penduduk kita di luar negeri, atau deposito yang dimiliki
penduduk luar negeri di dalam negeri.

-Pembelian surat-surat berharga jangka pendek oleh penduduk luar negeri, atau
penjualan surat-surat berharga jangka pendek kepada penduduk luar negeri di
dalam negeri.

-Adanya investasi di luar negeri atau investasi asing di dalam negeri.

- Pembelian surat-surat berjangka panjang oleh penduduk luar negeri atau


penjualan surat-surat berharga jangka panjang kepada penduduk luar negeri di
dalam negri.

-Piniaman jangka panjang dari penduduk Negara lain kepada Indonesia atau
pinjaman jangka panjang dari penduduk Indonesia kepada Negara lain.

c. Neraca Jasa

Neraca meliputi transportasi dan asuransi, pengeluaran pan wisatawan, laba


perorangan yang dibagikan, kiriman uang, hibah jasa-jasa yang diterima dari dan
yang diberikan ke negara lain.

d. Neraca Moneter

Transaksi ini timbul karena transaksi yang lain (autonomous), yang termasuk
dalam transaksi autonomous adalah transaksi yang sedang berjalan, transaksi
kapital, dan transaksi satu arah. Yang termasuk transaksi lintas moneter adalah
mutasi adalah hubungan dengan IMF, pasiva luar negeri dan aktiva luar negeri.

e. Neraca Perdagangan

Neraca perdagangan adalah Suatu catatan atau ikhtisar yang memuat atau
mencatat semua transaksi ekspor dan transaksi impor barang-barang. Ekspor
barang-barang di catat sebelah kredit, Sedangakn import barang-barang dicatat
dalam pos debet.

f. Transaksi Unilateral

Transaksi Unilatetal adalah transaksi yang tidak menimbulkan kewajiban


membayar bagi negara yang menerima barang kepada yang memberikan barang.

Transaksi Neraca Pembayaran Internasional

Dalam neraca pembayaran terdapat beberapa transaksi yang akan berpengaruh


terhadap neraca pembayaran itu sendiri. Transaksi-transaksi tersebut adalah
sebagai berikut:

a. Transaksi Barang

Transaksi barang adalah semua transaksi yang menyangkut kegiatan ekspor dan
impor barang yang terjadi antara dua Negara atau lebih. Kegiatan ekspor dan
impor ini dicatat di neraca perdagangan.

b.Transaksi jasa

Transaksi ini adalah meliputi pemberian atau penerimaan jasa yang terjadi antara
dua negara atau lebih. Transaksi yang termasuk transaksi jasa antara lain jasa
transportasi, pariwisata, premi asumnsi, dan sebagainya.

c. Transaksi Modal

Transaksi modal adalah transaksi penerimaan atau pembayaran yang terjadi antara
penduduk suatu negara dengan penduduk negara Iain sehubungan adanya
peminjaman dan penanaman modal. Transaksi hasil modal bisa berupa bunga
(Interest) dan bagi keuntungan laba usaha (deviden).

d. Transaksi UnilaterallHadiah (Grant)

Transaksi unilateral adalah transaksi pemindahan hak antara penduduk suatu


negara kepada penduduk negara Iain yang tidak menimbulkan kewajiban, baik
masa sekarang maupun masa yang akan datang. Misalnya hadiah yang diterima
dari negara lain, kiriman uang untuk keluarga di luar negeri, dan sebagainya.

e. Investasi langka Paniang

Investasi modal untuk jangka panjang (lebih dari satu tahun) yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara di negara lain (luar negeri). Misalnya membeli saham atau
obligasi umuk tujuan investasi jangka panjang di luar negeri.

f. lnvestasi langka Pendek

Investasi jangka pendek (kurang dari satu tahun) adalah transaksi yang dilakukan
oleh penduduk suatu negara di negara lain (luar negeri). Misalnya untuk membeli
saham atau obligasi dengan tujuan untuk memperoleh capital gain (keuntungan
naiknya nilai kurs) dari perusahaan di luar negeri.

g. Transaksi Pemindahan Emas

Transaksi pemindahan emas adalah transaksi pemindahan hak pemilikan emas


yang dilakukan penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain.

h. Transaksi Pengangkutan Mata Uang

Transaksi ini lerjadi apabila seorang penduduk menabungkan uangnya di bank


luar negeri.

Keseimbangan Neraca Pembayaran Intemasional

Dalam membahas keseimbangan neraca pembayaran akan diuraikan


keseimbangan dari masing-masing komponen neraca pembayaran.

a. Keseimbangan Transaksi Berialan


Keseimbangan transaksi berjalan adalah keseimbangan yang dihitung dari
transaksi barang, jasa, hasil modal dan transaksi unilateral. Transaksi berjalan
dinyatakan seimbang bila arus uang yang masuk sama besarnya dengan arus uang
yang keluar akibat transaksi barang, jasa, hasil modal dan transaksi unilateral yang
terjadi antar negara. Namun demikian, transaksi berjalan dapat defisit atau
surplus.

b. Keseimbangan Ttansaksi Modal

Keseimbangan transaksi modal adalah keseimbangan yang dihitung dari transaksi


investasi jangka panjang, investasi jangka pendek, pemindahan emas, dan
transaksi pengangkutan mata uang.

c. Keseimbangan Neraca Pembayaran

Keseimbangan neraca pembayaran adalah keseimbangan yang terjadi akibat


transaksi berjalan dan transaksi modal.

Defisit dan Surplus Neraca Pembayaran Internasional

Jika defisit terdapat pada transaksi berjalan, maka untuk menutup defisit
tersebut harus diimbangi dengan penerimaan pada transaksi modal, misalnya
dengan cara mencari pinjaman luar negeri atau menarik investor asing untuk
menanamkan modalnya di dalam negeri.

Cadangan Devisa

Cadangan devisa merupakan posisi aktiva luar negeri pemerintah suatu


negara dan bank-bank devisa yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi
internasional. Dalam mengelola cadangan devisa, bank sentral (jika di Indonesia
Bank Indonesia) telah mengutamakan tercapainya tujuan likuiditas dan keamanan
daripada keuntungan yang tinggi.

Cadangan devisa bertambah ataupun berkurang tampak dalam neraca lalu


lintas moneter. Cadangan devisa disimpan dalam neraca pembayaran. Cadangan
devisa lazim diukur dengan rasio cadangan resmi terhadap impor, yakni jika
cadangan devisa cukup untuk menutupi impor suatu negara selama 3 bulan, lazim
dipandang sebagai tingkat yang aman, dan jika hanya 2 bulan atau kurang maka
akan menimbulkan tekanan terhadap neraca pembayaran.

KONDISI PERDAGANGAN DAN NERCARA PEMBAYARAN


INTERNASIONAL INDONESIA

Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, maka


Indonesia membangun relasi dengan negara Iain dalam kaitannya dengan
perekonomian negara. Relasi dibangun atas dasar kepentingan ekonomi semata
tanpa adanya embel-embel kepentingan lain. Rasionalitas yang mendasari adalah
pemahaman tentang urgensi perkembangan ekonomi dalam usaha membangun
kemakmuran negara. Kondisi ini mempunyai konsekuensi lanjutan berupa
mekanisme pembayaran dengan Negara mitra.

BAB III

PEMBAHASAN
3.1 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU UTAMA
Kelebihan Buku
1. Covernya menarik sehingga pembaca tertarik untuk membaca buku
tersebut.
2. Pembahasan dalam buku ini sangat mudah dipahami oleh pembaca
3. Pembahasan isi buku dilengkapi dengan tabel, bagan,sehingga
memudahkan pembaca untuk memahami isi buku tersebut.
4. Disetiap akhir bab buku tersebut memaparkan kesimpulan atau
rangkuman.
5. Disetiap akhir bab buku tersebut mempunyai beberapa soal kuis sehingga
pembaca menjadi lebih mengerti mengenai pembahasan tersebut.
6. Disetiap halaman buku terdapat catatan-catatan kaki yang dapat
menambah pengetahuan pembaca

Kekurangan Buku
1. Banyak menggunakan kalimat yang berulang- ulang dan tidak jelas
sehingga jika pembaca meringkas isi buku sangat sulit.
2. Kualitas buku yang buruk sehingga membuat pembaca sulit membuka
buku tersebut.

3.2 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU PEMBANDING

Kelebihan Buku

1. Covernya cukup menarik dan Buku kecil dan ringan sehingga


memudahkan pembaca membawa buku tersebuat
2. Kualitas cetakan buku cukup bagus.
3. Banyak menggunakan bahasa bahasa asing seperti bahasa inggris pada tiap
pembahasan, sehingga menambah wawasan pembaca tentang bahasa
inggris
4. Pada akhir pembahasan materi pada setiap bab, dilengkapi dengan
ringkasan atau konsep penting tentang materi yang dibahas pada bab
tersebut, sehingga pembaca lebih mudah mengambil kesimpulan dari
materi tersebut
5. Pada akhir pembahasan materi pada setiap bab, dilengkapi dengan soal-
soal sehingga pembaca dapat berlatih untuk lebih memahami isi materi
tersebut.

Kekurangan Buku

1. Kurangnya materi pembahasan yang lengkap mengenai judul pembahasan


dalam buku
2. Banyak menggunakan bahasa asing seperti bahasa inggris dalam
menyampaikan pendapat para ahli, tetapi tidak dilengkapi dengan artinya
sehingga pembaca kesulitan untuk membaca materi teersebut.

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Dari penulisan kedua buku tersebut dapat saya simpulkan bahwa buku
tersebut menjelaskan bagaimana penerapan Perekonomian Indonesia mulai
dari masa orde lama orde baru dan sampai ke masa reformasi. Buku ini juga
menjelaskan secara teori dan empiris mengenai perekonomian indonesia
sejak masa kemerdekaan hingga saat ini. Penekanan pembahasan dalam buku
ini disandarkan pada beberapa isu yang sangat relevan dalam memahami
dinamika perekonomian nasional dengan berbagai permasalahan yang ada.
Buku ini menjadi salah satu pedoman awal bagi proses pembelajaran sesuai
dengan jurusan Ilmu ekonomi.

4.2 SARAN
Saran yang ingin saya sampaikan adalah Dari buku yang penulis kritisi ini,
penulis menyarankan agar buku ini dikembangkan melalui ide- ide baru
sehingga menambah wawasan dari para pembaca. Penulis buku utama ini
harus lebih menciptakan karya buku yang lain yang akan ditulis selanjutnya
agar pembaca lebih tertarik untuk membaca buku- buku yang akan
diterbitkan selanjutnya agar lebih menambah wawasan pembaca dalam
materi Perekonomian Indonesia. Selanjutnya saran saya adalah agar penulis
buku pembanding lebih membuat penjelasan yang lengkap dari setiap materi
disertai contoh.

DAFTAR PUSTAKA
Tambunan, Tulus. 2018.Perekonomian Indonesia. Bogor: Ghalia
Indonesia,2018

Pujoalwanto, Basuki. 2014. Perekonomian Indonesia. Jakarta:Graha Ilmu.

2014

Anda mungkin juga menyukai