Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM

ANTENA DAN PROPAGASI

“ ANTENA TRAINER ”

Nama : Dearni Yoselina Purba


NIM : 1405061003
Kelas : TK - 6A
Group : III ( Tiga )

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

No. percobaan : 03 / LAB.ANTENA&PROPAGASI / LTK-1/ TK-6A/ 2017

Judul percobaan : Antera Trainer ST-2661

Nama : Dearni Yoselina Purba

Kelas / kelompok : TK-6A / III ( TIGA )

Nama Praktikan : 1. Amsal Pastoral Sihombing

2. Chaterine T Ginting

3. Erix C Sitompul

4. Nurmei Sari

5. Syuhada Pertiwi

Tanggal percobaan : 13 Juni 2017

Tanggal penyerahan : Juli 2017

Instruktur : 1. Ir. Elferida Hutajulu, M.T.

2. Ir. Waldemar Banurea, M.T.

Menyetujui,

Instruktur I Instruktur II

Ir. Elferida Hutajulu, M.T. Ir. Waldemar Banurea, M.T.

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................................................................ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................................................iii
ANTENA TRAINER (ST-2661) ..................................................................................................................... 4
I. TUJUAN PERCOBAAN ..................................................................................................................... 4
II. DASAR TEORI .................................................................................................................................. 4
III. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN ........................................................................................... 8
IV. LANGKAH PERCOBAAN .................................................................................................................. 9
V. HASIL PERCOBAAN ....................................................................................................................... 23
VI. ANALISA DATA .............................................................................................................................. 42
VII. KESIMPULAN ................................................................................................................................ 44
LAPORAN SEMENTARA............................................................................................................................45

iii
ANTENA TRAINER ( ST-2661 )

I. TUJUAN PERCOBAAN

1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami cara kerja Antena Trainer ( ST-2661)

2. Mahasiswa dapat memahami tipe Antena dan masing – masing antena dan

Mahasiswa dapat mengukur daya terima I , VSWR, dan frekwensi pada antena

trainer.

II. DASAR TEORI

Seperti yang ditunjukkan, sebuah bagian kecil dari energi elektromagnetik

dilepaskan dari sistem dan menyebar. Ini terjadi karena barisan dari kekuatan

berpergian ke arah rangkaian terbuka, diperlukan untuk melengkapi tahap

pembalikkan ketika mereka menjangkaunya. Tidak semua dari mereka dapat

melakukan ini, ketika mereka mempengaruhi kesesuaian dari kelesuan mekanik, dan

beberapa dari mereka dilepaskan. Hal ini harus ditambahkan bahwa bagian dari

gelombang dilepaskan dari sistem yang sisanya sangat kecil untuk 2 alasan.

Pertama, jika kita mempertimbangkan ruang lingkup sebagai beban dari saluran
transmisi. Kedua, sejak kedua kawat ditutup bersama, kenyataannya bahwa radiasi
dari satu ujung akan dibatalkan dari yang lain. Ini karena mereka merupakan
kebalikan polaritas dan pada saat bagian yang jauh.

Efisiensi dari sistem ini ditingkatkan lebih lagi ketika 2 kawat dibelokkan
sehingga menjadi saluran yang sama. Elektris lahannya adalah secara penuh
digabungkan ke ruang lingkup. Sebagai gantinya dikurung diantara dua kawat dan
hitungan max dari hasil radiasi. Tipe dari radiator ini disebut dipole. Ketika panjang
total dari 2 kawat adalah setengah dari panjang gelombang, antenna itu disebut
setengah gelombang dipole. Adapun beberapa dasar teori yang mendukung tipe
antenna ini antara lain :

4
a. Perbandingan Gelombang Vertikal

Perbandingan gelombang berdiri, standing wave ratio (SWR) didefinisikan


sebagai perbandingan antara nilai max dan min dari tegangan (dan arus)
sepanjang saluran.

SWR merupakan sebuah index dari adanya ketidakcocokkan antara beban


dan saluran feedingnya.

b. Perambatan COUPLER

Perambatan Coupler terdiri dari 2 saluran bertempat disepanjang sisi saluran


transmisi utama membawa energi dari generator ke antena. Pada tegangan yang
lebih rendah, tegangan akan membangun alat sepanjang alat dapat memahami
fungsi dioda forward.

Prosedur praktis untuk menggunakan perambatan Coupler untuk mengukur


SWR adalah sebagai berikut :

1) Hidupkan transmitter
2) Menempatkan switch dari SWR meter pada Forward dan mencatat yang
telah dibaca
3) Switch meter ke Reverse, dan menghitung SWR dengan rumus

c. Antena Matching

Sebuah saluran rangkaian transmisi pendek yang mempunyai panjang ¼ dari


panjang gelombang dari sinyal yang ditekan oleh generator. Pada akhir “shorted”
akan ada pembatalan tegangan dan arus yang max ketika pada sisi generator,
maka muncul situasi yang berlawanan dari tegangan yang maksimum dan arus
pada kondisi nol. Oleh karena itu pada saluran tampak generator sebagai
impedansi tanpa batas, sejak tidak adanya arus yang tergambar simpangan point
dari generator pada saluran akan menjadi tegangan pada kondisi nol, dan arus
yang max. impedansi dari saluran, sebagai “penglihatan” dari generator itu akan
menjadi short circuit.

5
Pada semua kasus intermediet dari sebuah sistem yang mempunyai antara ¼ dan
½ panjang gelombang, generator akan melihat impedansi antara nol dan tanpa
batas. Dengan hal yang sama saluran shorted ¼ panjang gelombang nol,
impedansi kembali dari nol tanpa batas.

Sejak saluran Loss Less, impedansi seharusnya reaktif. Saat mendapat ½ ke ¼


interval panjang gelombang ke impedansi dari nol ke tanpa batas dan kapasitif.
Saat pada ¼ panjang gelombang ke interval nol impedansi persegi dari tanpa
batas ke nol dan induktif.

Dimana Matching Stubs, pada panjang yang dapat disetel matching stub dapat
disetel untuk mempunyai reaktif impedansi yang sama pada modulus dan
menentang dati beban yang tidak sesuai.

d. Tipe-tipe Antena

Antena dapat diklasifikasikan oleh perambatan yang meradiasikan atau menerima


radiasi elektromagnetik yaitu isotropic, omnidirectional atau directional.

1) Antenna isotropic : Sebuah antenna hypotherical yang meradiasikan secara


seragam pada semua perambatan sehingga daerah elektrik pada beberapa
lapisan yang mempunyai kepentingan yang sama. Persamaan yang paling
dekat untuk sebuah antenna isotropis adalah dipole hertz
2) Dipole Hertz : nama yang diberikan pada sebuah dipole yang sangat kecil,
dibandingkan dengan panjang gelombangnya yang kira-kira 100 dari panjang
gelombang pada operasi frekuensi. Contoh : Antena Omni Directional
3) Antenna Directional : mempunyai radiasi yang paling banyak kekuatannya
pada satu arah tertentu. Contoh : Yagi Uda, Log Periodic & Hertical.

e. Karakteristik dari Antena

Sebuah antena dapat dikarakteristikkan dengan diikuti oleh faktor-faktor, seperti :

1) Resistansi Radiasi

Sebuah antenna sebagai beban bahwa akhir dari saluran transmisi yang field itu.
Pada prakteknya, impedansi dari seuah antenna dibuat dari impedansi itu

6
sendiri dan impedansi yang timbal balik. Impedansi itu sendiri adalah
impedansi yang akan diukur pada terminal dari antenna ketika berada pada
ruang bebas.

2) Radiasi Pattern

Radiasi pattern dari sebuah antenna adalah ganjil ke tipe antena dan
karakteristik elektrisnya sebaik dimensi psikalnya. Biasanya ini direncanakan
dalam hal yang relatif. Radiasi pattern biasanya diukur pada dua tempat utama
yakni azimuth dan elevasi plane.

3) Beamwidth

Beamwidth dari sebuah antena biasanya digambarkan dengan dua cara, yang
dikenal 3 dB dari setengah kekuatan beamwidth, tetapi dari 10 dB beamwidth
yang juga digunakan, khususnya untuk antena yang beamnya dibatasi.
Penguatan absolut yang dapat dilihat, diukur dengan membandingkan
penguatan antena yang standard yang mana fungsi sebagai antena yang
mempunyai penguatan diukur dengan derajat tinggi dari akurasi.

4) Bandwidth

Bandwidth dari antena adalah terukur dari kemampuannya untuk meradiasikan


atau menerima frekuensi yang berbeda. Bandwidth adalah rentang frekuensi
dimana antena dapat menerima kisaran frekuensi operasi dispesifikasikan
dengan mengutip frekuensi atas dan bawah. Bandwidth dinyatakan dalam 2
arah : Persentase dan raksi atau Multi Oktaf.

5) Ratio Depan dan Belakang

Ratio depan ke belakang adalah ukuran kemampuan antena pengarah untuk


mengkonsentrasikan beam dalam arah ke depan yang dibutuhkan. Umumnya
dinyatakan dalam decibel sebagai ratio daya max dalam beam utama terhadap
lobus belakang.

6) Aperture

7
Luas aperture adalah luas penerimaan afektif dari antena dan dihitung dari
bagian yang diterima dan dibandingkan dengan kerapatan dari sinyal yang
diterima :

P=S.A

Dimana :

S = kerapatan daya dari gelombang dalam (watt/meter)²

A = Luas tangkapan antena

P = Total daya yang diserap oleh antena

Aperture dari antena mengatur ukuran lebar beam secara umum aperture yang
besar, mempersempit lebar beam dan semakin tinggi perolehan frekuensi.

7) Polarisasi Medan Listrik

Polarisasi digunakan secara khusus untuk menjelaskan bentuk dan orientasi dari
lokus ekstrim dari vector medan listrik yang bervariasi dengan waktu pada titik
yang tetap dalam ruang. Secara umum, sudut digunakan adalah 45ᴼ yang
dikenal sebagai polarisasi slant. Polarisasi antena penerima harus sesuai dengan
radiasi datang dalam mendeteksi medan max.

III. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

1. Antena Rotation : 1 buah


2. Antena Dipole λ/2 : 1 buah
3. Antena Dipole λ/4 : 1 buah
4. Antena Folded Dipole λ/2 : 1 buah
5. Antena Yagi Uda 3 Element Folded Dipole : 1 buah
6. Antena Yagi Uda 5 Element Folded Dipole : 1 buah
7. Antena Yagi Uda 5 Element Simple Dipole : 1 buah
8. Antena Yagi Uda 7 Element Simple Dipole : 1 buah
9. Antena Zeppelin : 1 buah
10. Antena λ/2 Phase Array : 1 buah
11. Antena λ/4 Phase Array : 1 buah

8
12. Antena Combined Collinear Array : 1 buah
13. Antena Broadside Array : 1 buah
14. Antena Loop : 1 buah
15. Antena Ground Plane : 1 buah
16. Antena Log Periodic : 1 buah
17. Antena Rhombus : 1 buah
18. Antena Slot : 1 buah
19. Antena Helix : 1 buah
20. Antena Cut Paraboloid Reflector : 1 buah
21. Mistar . Penggaris : 1 buah
22. Multimeter Digital : 1 buah
23. Matching Stub : 1 buah
24. Kabel BNC to BNC : 1 buah
25. Kabel BNC L : 2 buah
26. Kabel BNC T : 1 buah
27. RF Generator : 1 buah
28. Digital Panel Meter Digital : 1 buah
29. AC to DC Adaptor : 1 buah
30. Calculator : 1 buah

IV. LANGKAH PERCOBAAN

1. PERCOBAAN 2

Tujuan : Untuk mempelajari Antena Simple Dipole λ/2

Dasar Teori :

Simple dipole merupakan bentuk simple atau sederhana dari antena yang
mempunyai 2 pola tiap panjangnya (λ/2). Impedansi normal dari antena adalah 73.
Nilai yang actual dari tugas ini adalah konstruksinya, seperti pada diameter roadsnya
tanpa nol. Bagian ini dari konektor NC dan tempat antena. Pengaruh dari semua
perangkat ini menjadi bagian yang amat berpengaruh besar dalam keberhasilan
percobaan dalam hal penyusunan “Y Match”.

9
Prosedur Kerja :

1. Menyusun alat seperti pada percobaan 1


2. Memasang antena simple dipole λ/2 pada tiang pemancar
3. Meletakkan perangkat detector dekat dengan unit utama dan mengatur ketinggian
dari kedua antena pemancar dan penerima supaya selalu sama
4. Menjaga perangkat detector dari unit utama kira-kira 1,5 inchi dan terus menjaganya
seperti itu.
5. Menyakinkan bahwa tidak ada hubungan reflector pada sekitar percobaan seperti
struktur baja, pipa, kabel, dll

10
2. PERCOBAAN 3

Tujuan : Untuk mempelajari Antena Simple Dipole

Prosedur Kerja :

1. Menukar antena λ/2 dari eksperiment no.2 dengan antena λ/4 dan menetapkan atau
meluruskan indikasi max pada detector meter
2. Mengikuti langkah-langkah yang diberikan pada percobaan no.2

3. PERCOBAAN 4

Tujuan : Untuk mempelajari Antena Folded Dipole λ/2

Dasar Teori :

Dibandingkan dengan Antena simple dipole, antena ini mempunyai resistansi


radiasi yang tinggi (nominalnya berkisar 300). Untuk tampilan lengan dari folded
(lihat gambar 18), impedansi actual diperoleh dari diameter road dan jarak dari tengah
dan akhir belokan. Dan kemudian dari konektor BNC, balun, dll

Tipe pola radiasi Pattern pada tempat horizontal untuk antena ini muncul seperti
pada kasus simple dipole pada antena sebelumnya. Polarisasi adalah horizontal. Tipe
pola dari Folded Dipole diberikan pada gambar 19 untuk proses percobaan sebagai
berikut :

11
Prosedur Kerja :

1. Memasang antena folded dipole λ/2 pada tiang pemancar dan mengikuti langkah
pada percobaan no.2 dan merencanakan grafik dari antena ini.

4. PERCOBAAN 5

Tujuan : Untuk Menampilkan Tes Polarisasi

Prosedur Kerja :

1. Dengan melanjutkan percobaan no.2


2. Menghubungkan “L” BNC pada atas tiang antena dan memasang antena detector
secara vertical
3. Sejak mengubah pesawat dari antena ke vertical, menjaga antena pemancar tetap di
horizontal yang detector, antena penerima menerima tidak ada sinyal
4. Memutar antena pemancar dari 0ᴼ-350ᴼ secara berangsur-angsur dan mengamati
bahwa antena penerima secara praktis tidak menerima sinyal sama sekali atau
sangat sedikit sinyal
5. Mengulangi dengan antena yang berploarisasi horizontal lainnya
6. Mengecek dengan antena berpolarisasi vertikal

12
5. PERCOBAAN 6

Tujuan : Untuk menunjukkan tes modulasi

Prosedur Kerja :

1. Melanjutkan seperti pada percobaan 2


2. Menghubungkan output dari blok generator modulasi ke osiloskop. Menyakinkan
bahwa switch dari blok yang sama adalah pada proses INT dan memeriksa
gelombang sinus yang muncul
3. Menjaga level dari generator modulasi pada max
4. Mengobservasi sinyal pada terminal output dari perangkat detector dengan
bantuan pemeriksaan osiloskop. Sinyal yang dihasilkan harus merupakan
gelombang sinus amplitude rendah dan distorsi yang sedikit namun
mengindikasikan sinyal informasi (gelombang sinus) ditransmisikan dan diterima
oleh antena
5. Mengubah-ubah level dari generator modulasi dan melihat apakah output dari
detector juga berubah-ubah, seiring diubahnya level control dari generator
modulasi
6. Mencoba hal yang sama dengan beberapa model antena

13
6. PERCOBAAN 8

Tujuan : Untuk mempraktekkan bagaimana menggunakan matching stub yang


disediakan untuk antena trainer ini

Dasar Teori :

Matching Stub merupakan bagian dari jalur transmisi yang hubungan atau jalur
singkatnya biasanya pada Farend. Stub mempunyai sebuah masukan input yang murni
& biasanya digunakan sebagai tune komponen yang rentan pada jalur masukan.
Matching stub biasanya dipakai pada frekuensi tinggi untuk beban yang bervariasi

Prosedur Kerja :

1. Memasang folded dipole pada tiang pemancar, & menjaga pengaturan seperti pada
percobaan 1. Mengatur level RF dan level detector untuk indikasi yang optimal
pada detector meter
2. Melepas BNC dari output generator RF dan menghubungkan BNC to BNC ke
adaptor dan menghubungkan BNC T, sehingga pada percobaan ini mempunyai 2
hubungan. Dimana satu akan menghubungkan dengan tiang pemancar dan satu
lagi akan mengarah ke input matching stub
3. Mengobservasi bahwa pengamatan pada detector meter akan turun dengan adanya
hubungan dari stub. Bagaimana pun kita bisa juga menaikkan level output RF dan
detector sedikit untuk menyesuaikan dengan hasil pengukuran

14
4. Menjaga switch dari couple ke posisi REV
5. Memulai untuk menggerakkkan Knob dari kanan ke kiri secara perlahan-lahan dan
mengamati pembacaan pada meter di unit utama. Disini akan mengamai bahwa
meter memiliki nilai max dan min
6. Mulai mengamati pembacaan, nilai max menunjukkan bahwa daya refers adalah
max dan mismatched
7. Memilih titik minimum ketika menggerakkan dari kanan ke kiri. Posisi ini
menunjukkan bahwa jalur sesuai (matched).

7. PERCOBAAN 10

Tujuan : Pengukuran SWR

Dasar Teori :

Membaca teori SWR yang di berikan pada halaman depan jobsheet, dimana
SWR merupakan indeks mismatch (ketidaksamaan) antara beban dan saluran feeder.
Dalam percobaan yang sebelumnya, posisi ini juga merupakan posisi dari daya min
refers.

Prosedur Kerja :

1. Mencatat hasil pembacaan dalam µA pada unit utama

15
2. Mengaktifkan switch ke :FWD”. hal ini memberikan pembacaan untuk daya
forward (maju)
3. SWR dapat dihitung dengan cara berikut : SWR = FWD + REV
FWD - REV
4. Setelah menghitung SWR, masukkan data pada tabel experiments 10

8. PERCOBAAN 11

Tujuan : Sensor Arus Antena

Dasar Teori :

Sensor arus antena ini digunakan untuk mengukur arus pada antena. Peralatan
ini terdiri dari sensing loop dengan menyearahkan dioda dan kapasitor. Lihat gambar
23, ketika sensor antena ditempatkan pada lingkungan elemen radiasi antena, sebagian
dari flux magnetik yang berubah-ubah akan menyilang sensing loop dan berkembang
sepanjang tegangan tersebut. Tegangan ini dipengaruhi oleh kapasitor yang akan
memunculkan sebagai tegangan DC atau dimodulasi jika anda mentransmisikan
sebagai gelombang yang dimodulasi, modulasi amplitude (AM).

Untuk memperoleh arus yang harganya tepat, dapat mengikuti elemen radiasi
antena, loopnya harus sekecil mungkin, turun sekitar 1 point dari alat. Tegangan
sinyalnya terus berkembang pada loop merupakan bentuk proposional magnetik dari
flux yang menyilangnya. Hal ini menyatakan bahwa untuk mendapatkan magnetik
kemudahan mengukur nilai sinyal, harus kecil. Ukuran ideal dari sensor ditentukan
antara 2 persyaratan diatas.

Komponen E dari gelombang yang diradiasikan oleh antena juga turut campur
dengan sensor. Untuk kasus balok radiasi tanpa elemen aktif atau pasif yang berada
didekatnya, ataupun obstacle ke propagasi gelombang, lingkup E akan bisa
digambarkan sebagai Vector Orthogonal yang ditempatkan ke sumbu/poros balok
radiasi.

16
9. PERCOBAAN 12

Tujuan : Mempelajari Antena Yagi Uda 5 Elemen Folded Dipole

Dasar Teori :

Antena yagi uda dengan folded atau non folded dipole adalah antena yang
paling banyak digunakan. Dibelakang dipole antena ini mempunyai sebuah reflector
dan didepan mempunyai director 1-3-5, dll. Impedansi teoristis dari antena ini adalah
75. Ini adalah antena yang paling penting untuk transmisi indirectional dan
biasannya banyak digunakan pada penerima TV, seperti gambar 24.

Antena yagi uda mempunyai folded dipole yang dikelilingi oleh director dan
reflector. Namun direktornya bisa dari 1,3,5,7,9, dll. Tipe pola radiasi ditunjukkan
pada gambar 25, polarisasinya horizontal.

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena yagi uda 5 E folded dipole pada tiang pemancar


2. Mengikuti langkah-langkah seperti pada percobaan no.2

17
10. PERCOBAAN 13

Tujuan : Mempelajari Antena Yagi Uda 3 Element Folded Dipole

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena Yagi Uda 3 Element Folded Dipole pada tiang pemancar
2. Mengikuti langkah-langkah seperti pada percobaan no.2

11. PERCOBAAN 14

Tujuan : Mempelajari Antena Yagi Uda 5 Element Simple Dipole

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena yagi uda 5 element simple dipole pada tiang pemancar
2. Mengikuti langkah-langkah kerja seperti pada percobaan no.2

18
12. PERCOBAAN 15

Tujuan : Pengaturan pelatihan pengecekan fungsionalis

Prosedur Kerja :

1. Menjaga meja utama dan menghubungkan tali power, memeriksa voltage induk
dan menyalakannya. DPM akan menunjukkan beberapa pembacaan menurut
tingkat pada permulaan
2. Menginstal antena pemancar dan penerima, menghubungkan dengan unit yang
utama, lihat gambar 12
3. Memancarkan antena penerima tiang kanal pada beberapa jarak dari satu sama lain

Dasar Teori :

Bagian antena Horizontal :

Antena selalu diakhiri dengan pengiriman yang baik. Panjang antena sangatlah
bervariasi seperti setengah panjang gelombang dari sinyal atau perkalian.
Menganggap 2 horizontal, yaitu :

a. Zeppelin

b. Hertz

19
13. PERCOBAAN 16

Tujuan : Untuk memperoleh Antena Zeppelin

Dasar Teori :

Antena Horizontal merupakan perkalian dari setengah panjang gelombang.


Pada antenna trainer ini meliputi antena array yang dikemudikan secara sederhana
untuk experiment siswa dan memahami dasar dan prinsip kerjanya.

14. PERCOBAAN 17

Tujuan : Untuk mempelajari Antena Hertz

Dasar Teori :

Pada antena ini dimana sistemnya tidak tergantung dari operasinya pada
ground. Frekuensi resonansinya dideterminasi oleh kapasistansi distribusinya, yang

20
bervariasi berdasarkan panjang fisiknya. Polarisasinya horizontal, dan tipe pola
radiasinya ditunjukkan pada gambar 33.

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena Hertz pada tiang pemancar dan memulai mengambil data
pengamatan seperti percobaan nomor.2

15. PERCOBAAN 18

Tujuan : Untuk mempelajari phase array λ/2

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena phase array λ/2 pada tiang pemancar dan mengikuti langkah-
langkah pada percobaan 2 serta mengambil data pengamatan

21
16. PERCOBAAN 19

Tujuan : Untuk mempelajari phase array λ/4

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena phase array λ/4 pada tiang pemancar dan mengikuti
langkah-langkah pada percobaan 2 serta mengambil data pengamatan

17. PERCOBAAN 20

Tujuan : Untuk mempelajari Combined Collinear Array

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena Combined Collinear Array pada tiang pemancar dan


mengikuti langkah-langkah pada percobaan 2 serta mengambil data
pengamatan

18. PERCOBAAN 21

Tujuan : Untuk mempelajari Broad side Array

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena Broad side Array pada tiang pemancar dan mengikuti
langkah-langkah pada percobaan 2 serta mengambil data pengamatan

19. PERCOBAAN 22

Tujuan : Untuk mempelajari Loop Antenna

Prosedur Kerja :

1. Memasang antena Loop Antenna pada tiang pemancar dan mengikuti langkah-
langkah pada percobaan 2 serta mengambil data pengamatan

20. PERCOBAAN 23

Tujuan : Untuk mempelajari Ground Plane Antenna

Prosedur Kerja :

2. Memasang antena Ground Plane Antenna pada tiang pemancar dan mengikuti
langkah-langkah pada percobaan 2 serta mengambil data pengamatan

22
V. HASIL PERCOBAAN

Percobaan 2 : Antena Simple Dipole (λ/2)

Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA)
0 57,6 180 50
10 47,2 190 55,2
20 39,4 200 53.0
30 -7,3 210 54.0
40 -15,1 220 57,2
50 -9,4 230 31,4
60 -45,6 240 26,4
70 -46,6 250 5,2
80 -46,6 260 -24,2
90 -46,6 270 -18.5
100 -45,6 280 6,9
110 -44,5 290 22,3
120 -36,6 300 46,3
130 -20,5 310 67,0
140 36 320 72,4
150 16,2 330 84,3
160 47,5 340 0,2
170 42,5 350 75,2

23
Percobaan 3 : Antena Simple Dipole (λ/4)

Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA)
0 32,4 180 -30,9
10 32,3 190 -30,4
20 -32 200 -30,1
30 -33,5 210 -31,2
40 -33,8 220 -31,4
50 -34,3 230 -32,3
60 -34,6 240 -32,5
70 -34,8 250 -32,9
80 -34,9 260 32,9
90 -34,2 270 -32,4
100 -34,2 280 32,2
110 -33,1 290 -32,3
120 -33,8 300 -32.0
130 -33,8 310 -31,8
140 -32,9 320 -31,4
150 -31,8 330 -31,4
160 -31,8 340 30,8
170 -31,4 350 -29,9

24
Percobaan 4 : Antena Folded Dipole (λ/2)

Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA)
0 11,2 180 0,2
10 15,4 190 1,3
20 10,6 200 1,1
30 12,8 210 1,4
40 11,7 220 1,3
50 12,3 230 0,8
60 11,4 240 0,9
70 13,5 250 -0,1
80 10,4 260 0,7
90 9,3 270 -0,2
100 7,7 280 3,0
110 5,4 290 5,8
120 5,6 300 7,6
130 4,7 310 10,2
140 3,0 320 9,9
150 2,8 330 14,6
160 1,6 340 11,4
170 1,2 350 11,1

25
Percobaan 5 : Antena Simple Dipole (λ/2) Secara Vertikal

Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA)
0 -98,3 180 -87,4
10 -97,4 190 -86,0
20 -97,0 200 -85,7
30 -97,0 210 -85,4
40 -96,0 220 -85,6
50 -95,5 230 -86,1
60 -94,9 240 -86,2
70 94,3 250 -85,5
80 -94,3 260 -85,7
90 -94,3 270 -85,7
100 -93,6 280 -85,7
110 -93,5 290 -85,4
120 93,2 300 -85,2
130 -92,2 310 -83,2
140 91,6 320 -83,5
150 -887 330 -83,6
160 -88,3 340 -83,2
170 -88,0 350 -81,6

26
Percobaan 9 : Antena Folded Dipole (λ/2) Secara Vertikal

Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA)
0 57,0 180 75,4
10 55,1 190 65,3
20 41,3 200 53,3
30 22,9 210 40,0
40 15,8 220 27,0
50 5,7 230 30,6
60 2,9 240 35,5
70 7,6 250 20,8
80 13,1 260 10,3
90 17,6 270 9,9
100 21,1 280 16,8
110 30,4 290 26,6
120 41,2 300 32,9
130 53,6 310 43,7
140 65,1 320 71,7
150 75,9 330 95,7
160 84,3 340 107,2
170 85,0 350 128,6

Percobaan 7

Jarak Arus Yang Diterima ( uA )


1 ft 4,0
2 ft 6,7
3 ft 4,9
4 ft 3,8
5 ft 1,9

27
Percobaan 8

Posisi Minimum Pada Matching Stub = 6mm

Posisi Maximum Pada Matching Stub = 18,7 mm

Percobaan 9

Sudut (Ѳ) Arus Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Arus Terima I (µA)
0 57,0 180 75,4
10 55,1 190 65,3
20 41,3 200 53,3
30 22,9 210 40,0
40 15,8 220 27,0
50 5,7 230 30,6
60 2,9 240 35,3
70 7,6 250 20,8
80 13,1 260 10,2
90 17,6 270 9,9
100 21,6 280 16,8
110 30,4 290 26,6
120 41,2 300 32,9
130 53,6 310 43,7
140 65,1 320 71,7
150 75,9 330 95,7
160 84,3 340 107,2
170 85,0 350 128,6

28
Percobaan 9 ( Antena di tukar )

Sudut (Ѳ) Arus Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Arus Terima I (µA)
0 99,9 180 40
10 86,2 190 33,5
20 70,6 200 28,7
30 52,2 210 30,0
40 41,5 220 29,9
50 24,0 230 33,6
60 9,2 240 48,7
70 2,6 250 50
80 1,2 260 50,5
90 2,3 270 50
100 5,9 280 54,2
110 7,4 290 65,7
120 9,1 300 71,9
130 10,2 310 81,5
140 15,6 320 85,5
150 27,7 330 92,7
160 35,7 340 93,0
170 39,7 350 87,7

Percobaan 10 : Pengukuran SWR


F = 100 R = 28,7

35,7 µ𝐴 + 2,9 µ𝐴 100 +28,7


SWR = SWR =
35,7 µ𝐴− 2,9 µ𝐴 100−28,7
38,6 128,7
= =
32,8 71,3
= 1,17 = 1,80

29
Percobaan 11 : Sensor Antena Current

Posisi 1 : 33,3 mV
Posisi 2 : 75,2 mV
Posisi 3 : 106,1 mV
Posisi 4 : 76,5 mV didi tengah

Posisi 5 : 59,4 mV
Posisi 6 : 18,2 mV

Percobaan 12 : Antena Yagi Uda 5E Folded Dipole

Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA) Sudut (Ѳ) Daya Terima I (µA)
0 68,1 180 7,9
10 58,7 190 4,1
20 53,3 200 6,1
30 48,3 210 5,1
40 34,8 220 6,2
50 23,2 230 7,5
60 18 240 16,5
70 10 250 11,1
80 9,7 260 18,9
90 8,9 270 16,2
100 14 280 25,4
110 13,8 290 3,4
120 12,2 300 22,5
130 13,3 310 26,6
140 11,9 320 52,1
150 10,4 330 57,3
160 10,3 340 75
170 9,6 350 89

30
Percobaan 13 : Yagi Uda 3E Folded Dipole

Sudut (Ѳ) Daya Terima I Sudut (Ѳ) Daya Terima I


(µA) (µA)
0 96 180 20,6
10 90,4 190 27
20 77,3 200 29,4
30 73,8 210 25
40 61,9 220 28,9
50 35,2 230 27,6
60 25,3 240 30,2
70 14,4 250 32,2
80 3,7 260 26,6
90 2,8 270 28,3
100 10,7 280 17
110 16,4 290 18,9
120 17,1 300 20,1
130 22,4 310 25,7
140 22,5 320 49
150 24 330 61,8
160 28,2 340 83,2
170 30,2 350 96,6

31
Percobaan 14 : Yagi Uda 5E Simple Dipole

Sudut (Ѳ) Daya Terima I Sudut (Ѳ) Daya Terima I


(µA) (µA)
0 89 180 6
10 87,4 190 8,6
20 77,8 200 9,2
30 67,7 210 11,3
40 45,6 220 12,4
50 30,4 230 14,4
60 12,9 240 16,3
70 11,2 250 17,2
80 10,7 260 17,0
90 8,5 270 20,1
100 4,9 280 26,7
110 2,7 290 29,4
120 2,3 300 37,1
130 4,1 310 43,6
140 4,6 320 49,6
150 3,7 330 62,6
160 2,6 340 74,7
170 5,2 350 85,1

32
Percobaan 15 : Yagi Uda 7E Simple Dipole

Sudut (Ѳ) Daya Terima I Sudut (Ѳ) Daya Terima I


(µA) (µA)
0 36,7 180 3,2
10 35,4 190 4,2
20 34,3 200 4,8
30 24,7 210 5,2
40 22,4 220 2,5
50 15,1 230 2,9
60 14,2 240 4,8
70 6,8 250 4,8
80 8,2 260 5
90 6,5 270 5,5
100 6,3 280 7,2
110 5,4 290 6,5
120 4,5 300 5,5
130 3,5 310 4,2
140 4,2 320 8,5
150 3,5 330 14,5
160 2,8 340 116,4
170 3,5 350 20,5

33
Percobaan 16: Zeppelin Antena

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 35,6 180 5,8
10 36,1 190 8,6
20 37,5 200 10,1
30 39 210 11,7
40 48,5 220 15,3
50 58,5 230 19,5
60 83,5 240 26,4
70 91,8 250 18,6
80 88,4 260 20,8
90 96,2 270 24,7
100 90 280 26,4
110 75 290 33,5
120 74,3 300 38
130 62,7 310 45,7
140 38,5 320 42
150 29,5 330 35,2
160 23,8 340 29,3
170 21,4 350 33,6

34
Percobaan 17 : Hertz Antena

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 2,86 180 23,9
10 4 190 21,5
20 6,7 200 21
30 8,7 210 26
40 18,5 220 44
50 24,5 230 55,2
60 31,5 240 57,8
70 34,6 250 59,5
80 49,3 260 48,8
90 66,5 270 46,5
100 72,2 280 43
110 78,9 290 38,9
120 61,9 300 37,5
130 47,3 310 34,2
140 35,8 320 31,7
150 32,9 330 22,3
160 30,5 340 13,1
170 27,5 350 7,6

35
Percobaan 18 : λ/2 Phase Array (End Fire Antena)

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 98,2 180 53,1
10 97,1 190 62,4
20 96,2 200 60,3
30 95,2 210 35,5
40 93,4 220 30,2
50 89,2 230 27,2
60 88,7 240 20
70 75,1 250 13,5
80 65 260 10,9
90 53,2 270 9,2
100 41,4 280 25,2
110 39,2 290 40,5
120 32,7 300 49,2
130 29,9 310 55,4
140 24,3 320 63,2
150 23,2 330 65,6
160 33,3 340 70,2
170 44,7 350 98,6

36
Percobaan 19 : λ/4 Phase Array

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 34,6 180 23,6
10 29,2 190 22,4
20 28,2 200 23,0
30 24,8 210 21,1
40 19,1 220 20,0
50 48,2 230 15,4
60 15,5 240 12,5
70 12,0 250 9,0
80 9,7 260 6,0
90 4,9 270 3,7
100 5,7 280 2,7
110 6,3 290 1,2
120 9,6 300 4,5
130 12,2 310 4,8
140 15,2 320 6,5
150 17,3 330 8,5
160 19,2 340 12,2
170 20,3 350 13,3

37
Percobaan 20 : Combined Collinear Array

Sudut (Ѳ) Daya Terima I Sudut (Ѳ) Daya Terima I


(µA) (µA)
0 32,6 180 27,4
10 31,0 190 25,5
20 31,3 200 25,3
30 26,4 210 17,7
40 18,6 220 11,2
50 14,6 230 8,6
60 10,5 240 5,3
70 8,5 250 4,8
80 6,8 260 8,7
90 6,0 270 11,6
100 8,5 280 12,6
110 12,9 290 17,4
120 16,7 300 19,6
130 21,7 310 28,6
140 25,2 320 33,8
150 25,5 330 35,6
160 29,3 340 37,2
170 30,1 350 36,7

38
Percobaan 21 : Broad side Array

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 120,4 180 48,0
10 116,2 190 50,1
20 108,9 200 34,6
30 94,5 210 64,9
40 78,9 220 44,2
50 74,1 230 64,9
60 64,5 240 67,8
70 54,8 250 70,0
80 59,0 260 61,3
90 57,0 270 73,8
100 56,3 280 75,7
110 49,0 290 70,9
120 50,4 300 62,9
130 48,6 310 56,9
140 38,8 320 52,8
150 39,6 330 47,2
160 30,0 340 46,1
170 40,0 350 39,7

39
Percobaan 22 : Loop Antenna

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 30,2 180 1,0
10 26,6 190 2,5
20 29,8 200 3,8
30 21,3 210 6,8
40 17,5 220 10,2
50 15,3 230 13,2
60 11,3 240 22,2
70 7,2 250 24,7
80 5,6 260 27,4
90 4,9 270 32,2
100 3,9 280 29,6
110 4,6 290 33,8
120 4,2 300 31,0
130 3,9 310 28,5
140 3,2 320 29,0
150 2,5 330 25,2
160 1,3 340 19,1
170 1,1 350 16,1

40
Percobaan 23 : Ground Plane Antenna

Sudut (Ѳ) Arus Terima I Sudut (Ѳ) Arus Terima I


(µA) (µA)
0 24,6 180 8,4
10 22,4 190 6,7
20 21,2 200 6,3
30 20.5 210 5,4
40 19,0 220 2,9
50 19,9 230 2,5
60 19,2 240 2,2
70 18,0 250 2,0
80 17,3 260 3,0
90 16,2 270 3,6
100 14,0 280 3,8
110 13,0 290 5,0
120 11,7 300 4,4
130 10,8 310 4,2
140 10,5 320 4,3
150 9,7 330 3,7
160 9,9 340 3,6
170 9,2 350 3,5

41
VI. ANALISA DATA

42
43
VII. KESIMPULAN

44