Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS DENGAN AKI

DI RUANG ASSIFAA RS IBNU SINA


Y-W UMI MAKASSAR

HILMIYAH PURNAMA PUTRI


PO714201151015

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


PRODI D.IV KEPERAWATAN
2019
ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS DENGAN AKI
DI RUANG ASSIFAA RS IBNU SINA
Y-W UMI MAKASSAR

HILMIYAH PURNAMA PUTRI


PO714201151015

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


PRODI D.IV KEPERAWATAN
2019
KEGIATAN HARIAN DI RUANG ASSIFAA RS IBNU SINA
Y-W UMI MAKASSAR

HILMIYAH PURNAMA PUTRI


PO714201151015

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


PRODI D.IV KEPERAWATAN
2019
DIABETES MELITUS DENGAN AKI (ACUTE KIDNEY INJURY)

I. Kondep Dasar Medis


A. Definisi
1. Diabetes Melitus
Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat defisiensi insulin
atau resistensi insulin. (Suyono, 2018)
2. AKI (Acute Kidney Injury)
Suatu kondisi penurunan fungsi ginjal yang menyebabkan hilangnya kemampuan
ginjal untuk mengekskresikan sisa metabolisme, menjaga keseimbangan elektrolit
dan cairan (Eric Scott, 2008 dalam Taufiq, 2018).
B. Klasifikasi
Menurut Rudijanto (2014) klasifikasi Diabetes melitus menurut American Diabetes
Association, yaitu :
1. Diabetes Melitus Tipe 1
Diabetes tipe ini terjadi akibat kerusakan pankreas yang menyebabkan terjadinya
defisiensi insulin yang absolut dan seringkali didiagnosa pada usia anak-anak atau
remaja. Kerusakan tersebut disebabkan oleh proses autoimun dan proses yang tidak
diketahui (idiopatik). Kelangsungan hidup bagi diabetisi tipe 1 ini memerlukan
asupan insulin dari luar.
2. Diabetes Melitus Tipe 2
Sekitar 95% penyandang diabetes merupakan penyandang diabetes melitus tipe 2.
Tingginya kadar glukosa darah disebabkan karena penurunan produksi insulin oleh
pankreas dengan latar belakang resistensi insulin. Pada tipe ini terkadang diperlukan
pemberian insulin dari luar apabila produksi insulin oleh pankreas sudah sangat
menurun, sehingga glukosa darah tidak dapat lagi dikendalikan dengan pengaturan
pola hidup sehat bersama pemberian obat-obatan yang diminum (obat anti diabetes
oral)
3. Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes gestasional merupakan kelompok para ibu dengan peningkatan kadar
glukosa darah yang abnormal pada saat kehamilan dan akan kembali normal setelah
melahirkan. Tipe ini merupakan faktor risiko terjadinya diabetes melitus pada masa
mendatang.
C. Etiologi
1. DM Tipe I
Menurut Brunner dan Suddarth (2002) dalam Nuari (2017) pada DM tipe I
terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel pankreas telah
dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat
disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan
hiperglikemia postprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah
cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring
keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urine (glukosuria). Ekskresi
ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini
dinamakan diuresis osmotic. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih
(polyuria) dan rasa haus (polidipsi).
2. DM Tipe II
Pada DM tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin
yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat
dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin
dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa
di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi
intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang
disekresikan.
Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi
insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang
normal atau sedikit meningkatkan. Namun jika sel-sel tidak mampu mengimbangi
peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi
diabetes tipe II.
3. DM dengan AKI
Etiologi AKI dibagi menjadi 3 kelompok utama berdasarkan patogenesis AKI,
yakni penyakit yang menyebabkan hipoperfusi ginjal tanpa menyebabkan gangguan
pada parenkim ginjal, penyakit yang secara langsung menyebabkan gangguan pada
parenkim ginjal dan penyakit yang terkait dengan obstruksi saluran kemih
D. Pathway DM
E. Tanda dan gejala
Menurut Hasdianah (2014) tanda dan gejala diabetes melitus dapat digolongkan menjadi
gejala akut dan gejala kronis, yaitu :
1. Gejala akut
Gejala penyakit diabetes melitus dari satu penderita ke penderita lain sangat
bervariasi dan mungkin tidak menunjukkan gejala apapun sampai saat tertentu.
a. Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak (poly), yaitu :
1) Banyak makan (poly phagia)
2) Banyak minum (poly dipsia)
3) Banyak kencing (poly uria)
b. Bila keadaan tersebut tidak segera diobati akan timbul gejala :
1) Nafsu makan mulai berkurang atau berat badan turun cepat (turun 5-10 kg
dalam waktu 2-4 minggu)
2) Mudah lelah
3) Bila tidak lekas diobati akan timbul rasa mual, bahkan penderita akan jatuh
koma (koma diabetik)
2. Gejala kronik
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita diabetes melitus adalah sebagai
berikut :
a. Kesemutan
b. Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum
c. Rasa tebal di kulit
d. Kram
e. Lelah
f. Mudah mengantuk
g. Pandangan kabur
h. Gatal disekitar kemaluan
i. Gigi mudah goyah dan lepas
j. Pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam
kandungan atau dengan berat badan bayi ≥ 4 kg.
F. Komplikasi
Komplikasi yang berkaitan dengan kedua tipe DM (Diabetes Melitus) digolongkan
sebagai akut dan kronik
1. Komplikasi akut
Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan jangka pendek dari
glukosa darah
a. Hipoglikemia atau koma hipoglikemia
b. Hiperglikemia
c. Ketoasidosis diabetik
2. Komplikasi kronik
Umumnya terjadi 10 sampai 15 tahun setelah awitan.
a. Makrovaskular (penyakit pembuluh darah besar), mengenai sirkulasi koroner,
vaskular perifer dan vaskular serebral.
b. Mikrovaskular (penyakit pembuluh darah kecil), mengenai mata (retinopati) dan
ginjal (nefropati). Kontrol kadar glukosa darah untuk memperlambat atau
menunda awitan baik komplikasi mikrovaskular maupun makrovaskular.
c. Penyakit neuropati, mengenai saraf sensorik-motorik dan autonomi serta
menunjang masalah seperti impotensi dan ulkus pada kaki.
d. Rentan infeksi, seperti tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih
e. Ulkus/ gangren/ kaki diabetik
G. Data Penunjang
1. Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa > 200 mg/dl, 2
jam setelah pemberian glukosa.
2. Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
3. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
4. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I
5. Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal atau peningkatan
semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering menurun.
6. Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3
7. Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan hemokonsentrasi
merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
8. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
9. Insulin darah: mungkin menurun/ tidak ada (Tipe I) atau normal sampai tinggi (Tipe
II)
10. Urine: gula dan aseton positif
11. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi pernafasan dan infeksi
luka.
H. Manajemen DM
Menurut Mahmudin (2012) tujuan utama terapi diabetes adalah dengan
menormalkan aktivitas insulin dan kadar gula darah dalam upaya untuk mengurangi
terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Merujuk pada hasil konsensus
PERKENI tahun 2011 menyebutkan 5 pilar manajemen DM tipe 2, meliputi :
1. Manajemen diet
2. Latihan fisik
3. Pemantauan kadar glukosa darah dan HbA1c
4. Terapi
5. Edukasi Kesehatan DM

II. Konsep Dasar Keperawatan


A. Pengkajian
Asuhan keperawatan pada tahap pertama yaitu pengkajian. Dalam pengkajian perlu di
data biodata pasiennya dan data-data lain untuk menunjang diagnosa. Data-data tersebut harus
yang seakurat-akuratnya, agar dapat di gunakan dalam tahp berikutnya. Misalnya meliputi
nama pasien, umur, keluhan utama, dan masih banyak lainnya.
1. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang : Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri,
kesemutan pada ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah,
dan bola mata cekung, Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan,
lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
b. Riwayat kesehatan lalu : Biasanya klien DM mempunyai Riwayat hipertensi,
penyakit jantung seperti Infart miokard
c. Riwayat kesehatan keluarga : Biasanya Ada riwayat anggota keluarga yang
menderita DM
2. Pengkajian Pola Gordon
a. Pola persepsi. Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan
tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren
kaki diabetuk sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan
kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang
lama, lebih dari 6 juta dari penderita DM tidak menyadari akan terjadinya resiko
Kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi.
b. Pola nutrisi metabolic. Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya
defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga
menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan
menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan
penderita. Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
c. Pola eliminasi. Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik
yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada
urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
d. Pola aktivitas dan latihan. Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot,
gangguan istirahat dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas
dan bahkan sampai terjadi koma. Adanya luka gangren dan kelemahan otot – otot
pada tungkai bawah menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas
sehari-hari secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan.
e. Pola tidur dan istirahat. Istirahat tidak efektif Adanya poliuri, nyeri pada kaki
yang luka , sehingga klien mengalami kesulitan tidur.
f. Kognitif persepsi. Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati
rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan mengalami
penurunan, gangguan penglihatan.
g. Persepsi dan konsep diri. Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan
menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang
sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan
menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga
(self esteem).
h. Peran hubungan. Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan
penderita malu dan menarik diri dari pergaulan.
i. Seksualitas. Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ
reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas
maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi
impoten pada pria. risiko lebih tinggi terkena kanker prostat berhubungan dengan
nefropati.
j. Koping toleransi. Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik,
perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis
yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat
menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang
konstruktif / adaptif.
k. Nilai keprercayaan. Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi
tubuh serta luka pada kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan
ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah penderita.
3. Pemeriksaan Fisik
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan
tanda – tanda vital.
1. Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga
kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa
tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan
berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
2. Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban
dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar
luka, tekstur rambut dan kuku.
3. Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi
infeksi.
4. Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/ hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
5. Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan
berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
6. Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
7. Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah,
lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
8. Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek
lambat, kacau mental, disorientasi.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien yang mengalami penyakit diabetes
militus dengan AKI :
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat.
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan udem sekunder:
volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O.
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual,
muntah.
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder, kompensasi melalui
alkalosis respiratorik.
5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai O2 ke jaringan menurun. 3.
C. Intervensi
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
Tujuan : Penurunan curah jantung tidak terjadi
Kriteria hasil : Mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan
frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu
pengisian kapiler
Intervensi :
a. Auskultasi bunyi jantung dan paru R/ Adanya takikardia frekuensi jantung tidak
teratur
b. Kaji adanya hipertensi R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem
aldosteron-renin angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal)
c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10) R: HT
dan GGK dapat menyebabkan nyeri
d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas R: Kelelahan dapat menyertai
GGK juga anemia
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder :
volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O
Tujuan : Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan
Kriteria hasil : tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
a. Monitor status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan
haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital
b. Batasi masukan cairan R/ Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran
urin, dan respon terhadap terapi
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan R/ Pemahaman
meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama
pemasukan dan haluaran R/Untuk mengetahui keseimbangan input dan output
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual,
muntah
Tujuan : mempertahankan intake yang adekuat
Kriteria hasil : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat : Menunjukan BB
stabil
Intervensi:
a. Awasi konsumsi makanan / cairan R/ Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
b. Perhatikan adanya mual dan muntah R/ Gejala yang menyertai akumulasi toksin
endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan
intervensi
c. Berikan makanan TKTP R/ Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan
makanan
d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan R/ Memberikan
pengalihan dan meningkatkan aspek sosial e. Berikan perawatan mulut sering R/
Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut
yang dapat mempengaruhi masukan makanan
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi
melalui alkalosis respiratorik
Tujuan : Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles R/ Menyatakan adanya pengumpulan
secret
b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam R/ Membersihkan jalan nafas dan
memudahkan aliran O2
c. Atur posisi senyaman mungkin R/ Mencegah terjadinya sesak nafas
d. Batasi untuk beraktivitas R/ Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya
sesak atau hipoksia
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga
Kriteria hasil : Mempertahankan kulit utuh, Menunjukan perilaku / teknik untuk
mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya
kemerahan R/ Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat
menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.
b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa R/ Mendeteksi
adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan
integritas jaringan
c. Inspeksi area tergantung terhadap udem R/ Jaringan udem lebih cenderung rusak /
robek
d. Ubah posisi sesering mungkin R/ Menurunkan tekanan pada udem , jaringan
dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia
e. Berikan perawatan kulit R/ Mengurangi pengeringan , robekan kulit
f. Pertahankan linen kering R/ Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit
g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan
tekanan pada area pruritis R/ Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan
risiko cedera
h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar R/ Mencegah iritasi dermal langsung
dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit
DAFTAR PUSTAKA

Amalia rizki. 2017. “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diabetes Melitus Tipe II”.
Jurnal Kesehatan
Hasdianah. 2014. Mengenal Diabetes Melitus Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak Dengan
Solusi Herbal. Nuha Medika : Yogyakarta.
Nuari Nian Afrian. 2017. Strategi Manajemen Edukasi Pasien Diabetes Mellitus. Deepublish
: Yogyakarta.
Mahmudin amir. 2012. “Evaluasi Manajemen Mandiri Karyawan Penyandang Diabetes Mellitus Tipe
2 Setelah Mendapatkan Edukasi Kesehatan Di Pt Indocement Tunggal Prakarsa Plantsite
Citeureup”. Jurnal Kesehatan
Rudijanto Achmad, 2014. Keterangan Ringkas Tentang Diabetes Melitus (Kencing Manis).
UBMedia : Malang.
Suyono Slamet et al, 2018. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Balai Penerbit FKUI
: Jakarta.
Taufik Desna. 2018. “Askep Acute Kidney Injury”. Jurnal Kesehatan