Anda di halaman 1dari 5

”SI TANGGANG ANAK DERHAKA”

“Hei… Perempuan tua, jangan engkau pandai-pandai mengaku dirimu itu


ibuku! Ibuku tidak sekotor ini. Aku anak orang kaya. Lebih baik kau berambus
dari sini….”
” Pengawal, halau perempuan tua ini, hamba benci melihatnya!”

Para hadirin sekalian,


Begitulah kesombongan dan keangkuhan Si Tanggang terhadap ibunya dalam
kisah ” Si Tanggang Anak Derhaka” yang akan saya ceritakan pada pagi ini.

Pada zaman dahulu, di sebuah kampung yang terpencil terdapat sebuah


keluarga yang miskin. Di dalam keluarga tersebut tinggal Mak Umpit dan anak
tunggalnya yang bernama Si Tanggang.

Pada suatu hari, Si Tanggang berkata kepada ibunya,


” Ibu, kehidupan kita ini sangat miskin. Tanggang rasa eloklah Tangggang
pergi merantau di negeri orang mencari kekayaan.”

Alangkah terkejutnya Mak Umpit apabila mendengar hasrat anak kesayangannya


itu.
”Apa??? Kau nak tinggalkan ibu...? Ibu sudah tua Tanggang... kasihanilah
ibu... jangan tinggalkan ibu, Tanggang...”

Segala rintihan dan rayuan Mak Umpit tidak diendahkan oleh anaknya Si
Tanggang.. Keesokan harinya, keluarlah Si Tanggang meningggalkan ibunya.

Setelah sekian lama berada di negeri orang, Si Tanggang menjadi kaya


raya dan telah berkahwin dengan seorang puteri raja yang cantik jelita. Kini,
beliau telah lupa kepada ibunya yang tua di kampung.

1
Pada suatu hari, kapal yang dinaiki Si Tanggang telah berlabuh di pantai
berhampiran kampung kelahirannya. Ibu Si Tanggang sangat gembira dan pergi
berjumpa dengan Tanggang.
” Oh, Tanggang anakku! Tidakkah engkau kenal lagi ibumu ini?”

Si Tanggang terkejut dengan kedatangan ibunya. Dia berasa malu untuk mengaku
perempuan yang tua dan hodoh itu ibu kandungnya.
“Hei… Perempuan tua, jangan engkau pandai-pandai mengaku dirimu itu
ibuku! Ibuku tidak sekotor ini. Aku anak orang kaya.”
” Pengawal, halau perempuan tua ini, hamba benci melihatnya!”

Mak Umpit menangis lalu berdoa,


“Oh, Tuhanku! Kalau benar Si Tanggang itu adalah anakku, tujukkanlah
balasan Mu ke atas anak yang durhaka!!!”

Tidak semena-mena satu ribut yang amat dasyat telah turun. Kilat dan guruh
memecah langit dengan tiba-tiba. Terdengarlah suara Si Tanggang melaung,
” Ibu.... ibu.... ibu...ampunkan dosa Tanggang....
Tanggang ini anak ibu........ ibu ampunkan Tanggang.....
Ampunkan Tanggang.... ampunkan Tanggang ibu.....”
Akhirnya, Tanggang, isteri dan anak-anak kapalnya menjadi batu.

Para hadirin sekalian;


Itulah balasannya kepada anak-anak yang tidak mengenang budi kedua orang
tuanya.
Terang bulan di malam sepi,
Cahaya memancar ke pohon kelapa,
Hidup di dunia buatlah bakti,
Kepada kedua ibu dan bapa.

Sekian, terima kasih.

2
”SANG KANCIL DENGAN TALI PINGGANG SAKTI”

”Ha....ha...ha......, nampaknya hari ini engkau akan menjadi makanan aku Sang
Kancil, ha...ha....ha......”, ketawa Sang Harimau.
”Wahai Sang Harimau, janganlah makan aku, lepaskanlah aku, kasihanilah
aku Sang Harimau ” rayu Sang Kancil.

Ha, kawan-kawan hendak tahu apa kesudahan ceritanya?


Dengarlah cerita saya pada hari ini yang bertajuk ”Sang Kancil dengan Tali
Pinggang Sakti”.
Salam Sejahtera saya ucapkan kepada barisan Hakim yang arif lagi bijaksana,
guru-guru dan rakan-rakan sekalian.

Di dalam sebuah rimba, tinggal seekor Sang Kancil yang cerdik lagi
bijaksana.
Pada suatu hari, Sang kancil keluar mencari makanannya, tiba-tiba dia ternampak
Sang Ular yang besar sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pokok.

”Aku harus berhati-hati dengan Sang Ular itu, jikalau ia terjaga habislah aku
dimakannya nanti”, bisik Sang Kancil di dalam hatinya. Tanpa membuang masa
Sang Kancil pun beredar dari tempat itu.
Kemudian, Sang Kancil meneruskan perjalanannya untuk mencari makanan,
tiba-tiba kedengaran bunyi riuh-rendah suara binatang-binatang di dalam hutan
itu.
” Lari.... lari......... lari Sang Kancil, Sang Harimau hendak makan kita”, jerit
Sang Arnab dan Sang Monyet sambil berlari lintang pukang. Belum sempat Sang
Kancil melarikan diri, tiba-tiba Sang Harimau terus menerkam ke arah Sang
Kancil. Sang Kancil mengigil dan menangis ketakutan.

”Ha....ha...ha......, nampaknya hari ini engkau akan menjadi makanan aku Sang
Kancil, ha...ha....ha......”, ketawa Sang Harimau.

3
”Wahai Sang Harimau, janganlah makan aku, lepaskanlah aku, kasihanilah
aku Sang Harimau ” rayu Sang Kancil.

Sang Kancil mencari akal untuk melepaskan dirinya dan dia teringat akan
Sang Ular yang sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pokok.
”Wahai Sang Harimau, aku mempunyai sebuah tali pinggang sakti yang ku simpan
di bawah sebatang pokok, jika engkau memakainya sudah tentu semua binatang
akan tunduk dan hormat pada engkau”, kata Sang Kancil.
”Apa... tali pinggang sakti?! Di manakah tali pinggang sakti itu?!” tanya
Sang Harimau.
”Tali pinggang sakti itu ada ku simpan di bawah sebatang pokok tetapi
engkau mestilah melepaskan aku dahulu”, kata Sang Kancil.
”Baiklah Sang Kancil, aku lepaskan engkau, tapi ingat!! Kalau kau tipu aku
siaplah engkau!!, herdik Sang Harimau.

Sang Kancil pun membawa Sang Harimau ke tempat Sang Ular yang sedang tidur
nyenyak tadi.
” Ha..itulah tali pinggang yang ku katakan tadi”, bisik Sang Kancil kepada Sang
Harimau.
Tanpa membuang masa, Sang Harimau pun terus memegang badan Sang
Ular yang sedang tidur nyenyak tadi dan melilitkan badan Sang Ular itu ke
pinggangnya.
”Wah, hebat sungguh tali pinggang sakti ini! Ha..ha...sekarang akulah raja di
rimba ini, semua binatang akan takut kepada aku, ha....ha.....ha.....”, ketawa Sang
Harimau.
Sang Ular yang sedang tidur nyenyak pun terjaga apabila terdengar suara Sang
Harimau itu tadi. Apalagi Sang Ular berasa sangat marah lalu terus membelit
pinggang Sang Harimau dengan kuat.
Sang Harimau pun menjerit memnita tolong. ” Tolong.... tolong.... tolong....
Sang Harimau meronta-ronta untuk melepaskan dirinya.

4
”Cis, berani engkau menipu aku Sang Kancil, siaplah engkau”, marah Sang
Harimau.
Akhirnya, Sang Harimau pun mati dibelit oleh Sang Ular. Selamatlah Sang Kancil
daripada dimakan oleh Sang Harimau.
Semua haiwan yang tinggal di dalam rimba itu mengucapkan terima kasih
kepada Sang Kancil kerana telah menyelamatkan nyawa mereka.

....Selesailah sudah... Kisah Sang Kancil... Yang Sangat cerdik lagi


bijaksana…berjaya menumpas musuh yang ganas…Hidupan hutan… Aman dan
gembira….

Hai kawan-kawan,
Dari cerita yang saya sampaikan tadi, dapatlah kita semua teladan bahawa setiap
masalah yang kita hadapi pasti ada penyelesaian, jika kita menggunakan akal
seperti Sang Kancil tadi.

Sekian, terima kasih.