Anda di halaman 1dari 6

1.

Persamaan dan Perbedaan dari metode grafik dan simplex


Persamaan : Metode grafik dan simplex merupakan metode yang digunakan untuk
menentukan solusi optimal (maksimum atau minimum) dari suatu permasalahan
program linear
Perbedaan :
Penentuan solusi optimum pada metode grafik dapat dilakukan dengan menggambar
grafik kemudian memeriksa uji titik pojok atau dengan menggunakan garis selidik .
Sedangkan pada metode simplex penentuan solusi optimum dilakukan dengan tahap
demi tahap yang dinamakan iterasi. Perbedaan kedua metode adalah metode grafik
lebih mudah untuk menyelesaikan permasalahan program linear dengan dua kendala,
dan metode simplex mampu dan lebih mudah menyelesaikan permasalahan dengan
lebih dari 2 kendala

2. Berikut contoh kasus dimana metode grafik lebih baik digunakan daripadi metode
simplex

x  y  200

x 0 200

y 200 0

( x, y ) (0,200) (200,0)

4 x  20 y  1.760
x 0 440

y 88 0

( x, y ) (0,88) (440,0)

x  y  200  4 4 x  4 y  800
4 x  20 y  1.760  1 4 x  20 y  1.760

-
 16 y  960
y  60
x  y  200
x  60  200
x  200  60  140
Jadi titik potong kedua garis ( x, y )  (140,60)
Titik Nilai f ( x, y )  1.000 x  2.000 y
A(0,0) f (0,0)  1.000(0)  2.000(0)
B (0,88) f (0,88)  1.000(0)  2.000(88)  176.000
C (140,60) f (140,88)  1.000(140)  2.000(88)  260.000
D(200,0) f (200,0)  1.000(200)  2.000(0)  200.000
VB X1 X2 X3 S1 S2 S3 NK Rasio
z -8 -9 -4 0 0 0 0
S1 1 1 2 1 0 0 2
S2 2 3 4 0 1 0 3
S3 7 6 2 0 0 1 8

VB X1 X2 X3 S1 S2 S3 NK Rasio
z -8 -9 -4 0 0 0 0
S1 1 1 2 1 0 0 2 2
S2 2 3 4 0 1 0 3 1
S3 7 6 2 0 0 1 8 8/6

VB X1 X2 X3 S1 S2 S3 NK Rasio

S2 2/3 1 4/3 0 1/3 0 1

VB X1 X2 X3 S1 S2 S3 NK Rasio
z -2 0 8 0 3 0 9 -
S1 1/3 0 2/3 1 -1/3 0 1 3
S2 2/3 1 4/3 0 1/3 0 1
S3 3 0 -6 0 -2 1 2 2/3

Iterasi 2

VB X1 X2 X3 S1 S2 S3 NK Rasio
z 0 0 4 0 5/3 2/3 31/3
S1 0 0 4/4 1 -1/9 -1/9 7/9
S2 0 1 8/3 0 7/9 -2/9 5/9
S3 1 0 -2 0 -2/3 1/3 2/3

Perhitungan nilai barisnya

-8 -9 -4 0 0 0 0

(2/3 1 4/3 0 1/3 0 1) dikali (-9) _


-2 0 8 0 3 0 9

1 1 2 1 0 0 2

(2/3 1 4/3 0 1/3 0 1) _


1/3 0 2/3 1 -1/3 0 1
7 6 2 0 0 1 8

(2/3 1 4/3 0 1/3 0 1) dikali (6) _


2 0 -6 0 -2 1 2

det  0
Silakan diskusikan apakah jika U = {u1, u2, u3} dengan u1 = (1,
1, 1), u2 = (0, 1, 1), u3 = (0, 0, 1) adalah basis R3. Bagaimana
cara memperoleh basis yang orthonormal untuk R3, dan berapa
banyak yang bisa diperoleh?

Cek ortogonal dari setiap vektor


(u1 , u2 )  (1,1,1)(0,1,1)  2
(u1 , u3 )  (1,1,1)(0,0,1)  1
(u 2 , u3 )  (0,1,1)(0,0,1)  1
Himpunan vektor tersebut tidak ortogonal sehingga merupakan
basis sembarang. Menerapkan proses orgonalisasi Gram-
Schmidt
Langkah 1
v1  (1,1,1)
Langkah 2
u2 , v1
v2  u 2  2
.v1
v1
(0,1,1)(1,1,1)
v2  (0,1,1)  2
.(1,1,1)
(1,1,1)
2
v2  (0,1,1)  .(1,1,1)
3
 2 2 2  2 1 1
v2  (0,1,1)   , ,     , , 
 3 3 3  3 3 3
Langkah 3
u3 , v1 u3 , v2
v3  u3  2
.v1  2
.v2
v1 v2
 2 1 1
(0,0,1)  , , 
v3  (0,0,1) 
(0,0,1)(1,1,1)
.(1,1,1)   3 3 3  .  2 , 1 , 1 
2 2  
(1,1,1)  2 1 1  3 3 3
 , , 
 3 3 3
1 1 2 1 1
v3  (0,0,1)  (1,1,1)    , , 
3 2  3 3 3
1 1 1  2 1 1  1 1
v3  (0,0,1)   , ,     , ,    0, , 
3 3 3  6 6 6  2 2
 2 1 1  1 1
v2    , ,  v3   0, , 
Jadi v1  (1,1,1) ,  3 3 3  dan  2 2
Cek ortogonalitasnya
 2 1 1
v1 , v2  1,1,1   , ,   0
 3 3 3
 1 1
v1 , v3  1,1,1  0, ,   0
 2 2
 2 1 1  1 1
v2 , v3    , ,  0, ,   0
 3 3 3  2 2

 v1 , v2 , v3   1,1,1 ,   2 , 1 , 1 ,  0, 1 , 1 


Terbukti   3 3 3  2 2  membentuk sebuah
3
basis orthogonal untuk R
Jadi basis orthonormal untuk R adalah  q1 , q2 , q3 
3

v1 (1,1,1)  1 1 1 
q1    , , 
v1 3  3 3 3
 2 1 1
 , , 
v2 3 3 3  2 1 1 
q2     , , 
v2 1  6 6 6 
6
3
 1 1
 0, , 
v3 2 2  1 1 
q3     0, , 
v3 1  2 2 
2
2