Anda di halaman 1dari 38

LISTRIK PADAM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Listrik padam adalah padamnya aliran listrik mendadak

Tujuan Sebagai acuan penanganan listrik padam

Kebijakan Keputusan Kepala UPT Puskesmas Kunciran No

Prosedur
1. Apabila listrik padam petugas diesel tanpa menunggu
perintah menghidupkan generator Puskesmas
2. Diluar jam kerja selain petugas jaga diesel, petugas yang
lain perlu membantu petugas jaga diesel menghidupkan
generator
3. Apabila dalam tempo satu menit listrik belum menyala
petugas perlu :
a. Menghubungi petugas diesel
b. Petugas diesel mematikan aliran listrik PLN
c. Setelah aliran dari PLN putus, kemudian generator
dihidupkan
4. Apa bila listrik padam lebih 10 menit dan generator tidak
bias hidup, maka petugas harus lapor Kepala Puskesmas
Apabila listrik hidup kembali petugas diesel mematikan diesel
kemudian saluran dari PLN dihidupkan lagi
Unit Terkait Petugas Diesel
SOP PEMELIHARAAN GENSET
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian
Setiap inspeksi dan pengujian periodik, pemeliharaan dan
perbaikan yang
diperlukan.

Tujuan
Sebagai acuan pemeliharaan guna menjamin keandalan alat untuk
berfungsi
dengan benar

Kebijakan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2306/Menkes/Per/Xl/2011 tentang Persyaratan Teknnis Prasarana
lnstalasi
Elektrikal Rumah Sakit.

Prosedur Pengecekan solar genset


1. Membuka tutup tangki solar
2. Mengambil pipa pengukur ketinggian solar dalam tangki
3. Mengukur ketinggian solar dalam tangki
4. Bila ketinggian solar kurang dari 100 cm maka akan dilakukan
penambahan solar sampai setinggi 100 cm

Pengecekan air radiator genset


1. Membuka tutup air radiator
2. Melihat ketinggian air radiator
3. Bila ketinggian air radiator kurang dari batas minimal maka air
akan ditambahkan sampai batas minimal

Penggantian oli genset


1. Membuka kabin genset MCB
2. Mematikan MCB
3. Membuka kabin genset di bagian pergantian oli
4. Menyediakan tempat penampungan oli
5. Membuka kran pembuangan oli yang di mesin dan di luar kabin
6. Bila penampung oli sudah penuh, kran dalam ditutup sementara,
kemudian oli di penampungan dipindahkan ke baskom, kemudian
diletakkan kembali ke tempat semula
7. Kran dalam dibuka kembali.
8. Urutan nomor 5-7 dilakukan berulang kali sampai oli habis
9. Menutup kembali kran di dalam dan diluar kabin
10. Mengambil 4 buah dirigen oli @5 liter dan 2 jirigen kecil@ 1
liter
11. Membuka tutup oli
12. Memasukkan oli ke dalam genset sebanyak jumlah diatas
13. Menutup kembali tutup oli
14. Mengembalikan posisi MCB ke posisi semula (hidup)
Membersihkan saringan udara genset
1. Membuka kabin genset di bagian saringan udara
2. Membuka pengunci pengaman saringan udara
3. Mengambil saringan udara
4. Membersihkan saringan udara
5. Bila saringan udara sudah bersih dimasukkan kembali ke tempat
semula
6. Menutup pengaman saringan udara

Unit Terkait
SOP PEMERIKSAAN SUHU DAN KELEMBABAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Suhu udara adalah besarah yang menyatakan derajat panas dingin suatu
benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah
thermometer. Sedangkan kelembababn adalah konsentrasi uap air
diudara.Alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban disebut
dengan Higrometer.

Tujuan Untuk mengerahui nilai suhu dan kelembaban di suatu ruangan

Kebijakan

Prosedur 1.Persiapkan alat yang akan digunakan

2. Lakukan uji fungsi alat dan kalibrasi alat

3.baca petunjuk penggunaan alat sebelum alat dioprasikan

4.Oprasikan alat

5.Pegang alat 1-1,5 M dari lantai , 1 m dari dinding dan 1 meter dari
atap

6.geserkan tombol on/off ke arah on

7.Perhatikan angka yang tertera pada display


8.tunggu hingga angka yang tetap pada display konstan

9.Lakukan pengukuran sebanyak 3X

10.Catat hasil pengukuran pada lembah pengukuran

11.Hindari alat dari sinar matahari langsung


Unit Terkait
SOP PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Tanggal terbit Ditetapkan :


Prosedur Direktur RS
Operasio
nal

Pengerti Program Pemeliharaan fasilitas sarana, prasarana dan peralatan rumah sakit
an sebagai suatu upaya untuk memelihara atau memperbaikinya dengan
menggunakan suatu standar prosedur yang baik dan benar

Tujuan Fasilitas sarana, prasarana dan peralatan rumah sakit yang terawat dan terpelihara
secara teratur akan mempunyai daya tahan yang lebih lama sehingga lebih
ekonomis dan karyawan menjadi lebih produktif

Kebijaka
n

Prosedur 1. Pengguna sarana, prasarana dan peralatan rumah sakit membuat laporan secara tertu
pada form Berita Acara kerusakan barang apabila menemukan adanya kerusakan.

2. Staff GA yang menemukan adanya kerusakan segera memberitahukan pengguna saran


prasarana dan peralatan rumah sakit membuat laporan secara tertulis pada form Ber
Acara kerusakan barang.

3. Pengguna menyerahkan form Berita Acara kerusakan barang kepada staff GA atau tekn
untuk mendapatkan tindak lanjut.

Salinan Form Berita Acara harus tetap dipegang oleh pengguna sebagai bukti adan
pelaporan kerusakan barang.

Catatan:

Pengguna wajib menindaklanjuti Laporan Kerusakan Barang yang belum ada tindak lan
setelah 1 x 24 jam dengan melaporkan pada Koordinator Divisinya atau langsung kepa
pimpinan Departemen.

4. Staff GA menindaklanjuti bersama dengan teknisi melakukan pemeriksaan dan memil


laporan kerusakan barang.

5. Laporan kerusakan barang yang perbaikannya dapat dilakukan tanpa melakuk


penggantian atau tanpa memerlukan biaya langsung diperbaiki oleh teknisi.

6. Teknisi membuat catatan atas pelaksanaan perbaikan pada formulir catatan lapor
pemeliharaan.

7. Staff GA atau koordinator teknisi melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan ya


dilakukan oleh teknisi.

8. Sarana, prasarana dan peralatan rumah sakit yang telah diperbaiki dan kembali berfun
dengan baik langsung diserahterimakan kepada pengguna dengan berita acara serah terim
barang.

9. Staff GA membuat laporan dengan tembusan ke Staff Logistik.

10. Laporan kerusakan barang yang perbaikannya membutuhkan penggantian atau memerluk
pembiayaan maka staff GA/Teknisi meminta pengguna untuk menandatangi formu
pengajuan pembelian sparepart.

11. Staff GA membuat pengajuan pembelian sparepart ke Logistik diketahui Manager HRD & G
dengan tembusan ke Manager F & A.

12. Purchasing melakukan pembelian sparepart dengan persetujuan Manager F & A. Apab
pembelian sparepart harus dilakukan pembayaran secara tunai maka purchasing melakuk
cash bond di general cashier (kasir umum).

13. Sparepart yang telah dibeli oleh purchasing diserahkan kepada staff GA atau teknisi deng
berita acara serah terima.

14. Teknisi melakukan penggantian dan perbaikan

15. Teknisi membuat catatan atas pelaksanaan perbaikan pada formulir catatan lapor
pemeliharaan.

16. Staff GA atau koordinator teknisi melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan ya


dilakukan oleh teknisi.

17. Sarana, prasarana dan peralatan rumah sakit yang telah diperbaiki dan kembali berfun
dengan baik langsung diserahterimakan kepada pengguna dengan berita acara serah terim
barang.

18. Staff GA membuat laporan dengan tembusan ke Staff Logistik

19. Laporan kerusakan barang yang barang atau peralatannya sudah tidak dapat diperbaiki ma
Staff GA atau teknisi menulis pada formulir Berita Acara kerusakan barang menyatak
bahwa sudah tidak dapat diperbaiki dengan disertai alasan yang detail dan bila ada diser
dengan rekam jejak peralatan tersebut.

20. Pengguna membuat pengajuan penggantian (pembelian) barang atau peralatan yang sud
tidak dapat diperbaiki dengan melampirkan berita acara kerusakan barang yang menyatak
sudah tidak dapat diperbaiki. Pengajuan ditujukan ke Logistik dengan diketahui ol
Manager HRD & GA dan ditembuskan ke Manager F & A.

Barang atau peralatan yang rusak diserahkan oleh Teknisi ke bagian logistik untuk dilakuk
pencatatan.

21. Purchasing melakukan pembelian barang sesuai dengan pengajuan setelah mendapatk
persetujuan dari Manager F & A.

22. Barang atau peralatan yang telah dibeli diserahkan kepada pengguna dengan berita aca
serah terima yang mencantumkan kondisi dan keadaan barang tersebut. Apabila dala
serah terima barang diperlukan tenaga teknisi atau tenaga ahli yang lebih paham unt
memberitahukan cara penggunaannya, maka purchasing wajib memberitahukan kepa
staff GA atau teknisi untuk mendampingi dalam serah terima barang.

23. Purchasing dan atau Staff GA menyerahkan berita acara serah terima barang kepada Logis
sebagai catatan inventaris.

24. Bisa diperbaiki namun perbaikannya dilakukan oleh pihak eksternal maka staff GA at
Teknisi menghubungi teknisi eksternal yang menjadi mitra kerja sama.

25. Teknisi eksternal memperbaiki ditempat atau dengan membawa barang yang rusak
tempat teknisi eksternal.

26. Bila perbaikan dilakukan ditempat maka wajib didampingi oleh teknisi.

27. Perbaikan yang membutuhkan penggantian sparepart maka pengajuan mengik


mekanisme pembelian dari divisi purchasing.

28. Bila perbaikan dilakukan di tempat teknisi eksternal tersebut maka staff GA atau tekn
wajib melakukan serah terima barang dan memastikan waktu selesainya perbaikan se
kisaran biaya untuk melakukan “cash bond” bila pembayaran harus dilakukan dengan tun
pada saat selesainya perbaikan.

Catatan:

Permintaan cash bond mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan oleh Departemen F & A

29. Jika pembayaran perbaikan dapat dijadwalkan maka staff GA membuat surat perminta
(disposisi) yang menyatakan pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan setel
selesainya perbaikan.

30. Barang yang telah selesai diperbaiki diserahterimakan dari teknisi eksternal kepada staff
atau teknisi.
31. Staff GA atau teknisi memastikan bahwa barang yang diperbaiki telah berfungsi dengan ba
Bila kondisi barang sudah dipastikan dalam kondisi dan berfungsi dengan baik maka Staff
atau teknisi dapat menandatangani nota tagihan biaya perbaikan.

32. Pembayaran atas nota tagihan dilakukan sesuai dengan kesepakatan seperti yang ditentuk
pada point 28 dan 29 mengikuti mekanisme yang ada di Departemen F & A.

33. Teknisi membuat catatan atas pelaksanaan perbaikan pada formulir catatan lapor
pemeliharaan.

34. Staff GA membuat laporan dengan tembusan ke Staff Logistik.

Catatan:

1. Staff GA dapat mengabaikan prosedur di atas dalam kondisi yang mendesak deng
tujuan menyelamatan pelayanan.

Tindakan tersebut diatas dapat dilayani dengan mendeskripsikan tempat dan waktu
2.
kejadian dalam berita acara, sehingga prosedur di atas dapat dipertanggung jawabkan

Contoh :

Pada saat hari minggu pompa air mati sehingga memerlukan perbaikan / penggantia
maka GA dapat langsung mengambil keputusan untuk perbaikan/penggantian pom
tersebut. Kondisi seperti ini dapat dibenarkan dengan mengabaikan SOP, dengan tuju
penyelamatan pelayanan.

Unit 1. Departemen Pelayanan Medis


Terkait 2. Departemen Humas
3. Departemen Operasional
4. Departemen HRD & GA
5. Departemen Finance & Accounting
SOP USG
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Suatu alat untuk mendeteksi bagian dalam tubuh dengan memanfaatkan
frekuwensi ultrasound

Tujuan 1.Untuk menjamin kelancaran pemberian pelayanan

2.Alat selalu dalam kondisi siap pakai

3.Terpeliharanya alat dengan baik sehingga menjamin akurasi hasil

4.Mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberian pelayanan radiologi

Kebijakan

Prosedur
1. Cek dan bersihkan seluruh bagian alat
2. Cek tombol-tombol,joystic/track ball
3. Cek probe,monitor,bersihkan bila perlu
4. Cek printer/camer Polaroid dan shutter cemera Polaroid
5. Cek sinsitifitas dan brightness dalam bentuk tampilan dengan
menggunakan probe,adjustme bila perlu
6. Laukkan uji kinerja alat

Unit Terkait
SOP PEMELIHARAAN ELEKTROKAR DIOGRAM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Membersihkan komponen EKG dengan membuang semua debu, benda


asing atau kotoran

Tujuan Membuang atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang


berada pada EKG

Kebijakan

Prosedur 1.Cuci tangan sesuai spo

2.Membersihkan dengan tissue kering,pastikan tidak ada sisa kotoran


yang menempel di elektroda

3. setelah menggunakan kabel,sebaiknya digantung pada tiang


penyangga dan tidak dililit

4.pastikan pemasangan kertas dengan benar pada saat digunakan


kembali

5. charge battery setelah seselai digunakan

6. jangan bersihkan dengan air langsung,alcohol atau bahan kimia


bahaya
7.Lindungi dari debu, Kotoran dan cairan

8.Simpan ditempat sejuk dan kering

Unit Terkait
APAR
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian APAR (Alat Pemadam KebakaranRinga) ialah alat yang ringan serta mudah
dilayani untuk satu orang pengguna memadamkan api/kebakaran pada mula
terjadi kebakaran( definisi berdasarkan permenaker RI No 4/MEN/1980
Tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat Pemadam Api
Ringan

Tujuan Pedoman Langkah-Langkah pemakaian Apar

Kebijakan

Prosedur Penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan)/ Tabung Pemadam


Kebakaran
1.Tarik/Lepaskan pengunci APAR
2.Arahkan Selang Ke Titik Pusat api
3.Sapukan secara merata sampai api padam
Hal yang diperlu diketahui dalam penggunaan APAR:
1.Perhatikan arah angin (usahakan badan/muka menghadap searah dengan
arah angin) supaya media pemadam benar-benar efektif menuju ke pusat
api dan jilatana api tidakmengenai tubuh petugas pemadam
2.Perhatikan sumber kebakaran dan gunakan jenis APAR yang sesuai dengan
kalasifikasi sumber kebakaran
Unit Terkait
PEMASANGAN LABEL B3

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Proses penandaan atau pemberian label yang diletakkan atau


dibutuhkan kekemasan langsung dari suatu B3 yang memuat
klasifikasi dan jenis B3
Tujuan Label B3 merupakan uraian singkat yang menunjukkan antara lain
klaifikasi dan jenis B3.Penggunaan label B3 tersebut dilakukan dalam
kegiatan pengemasan B3.Label berfungsi untuk memberikan informasi
tentang produsen B3, Identitas B3 serta kuantitas B3. Label harus
mudah terbaca,jelas terlihat, tidak mudah rusak dan tidak mudah
terlepas dari kemasannya.
Kebijakan peraturan mentri negara lingkungan hidup no 03 tahun 2008 tentang
tata cara pemberian simbol dan label bahan berbahaya dan beracun
Prosedur A.Bentuk Warna Dan Ukuran
Label B3 berbentuk peregi panjang dengan ukuran disesuaikan dengan
kemasan yang digunakan, ukuran perbandingan dalah panjang : lebar
3:1 dengan warna dasar putih dan yulisan setiap garis bewarna hitam

B.Pengisian Label B3
Label diisi dengan huruf cetak yang jelas terbaca tidak mudah terhapus
dan terpasang pada setiap kemasan B3 pada label wajib mencantumkan
informasi iminimal sebagai berikut:
C.Pemasangan Label
Label B3 dipasangkan pada kemasan di sebelah bawah symbol dan
harus terlihat dengan jelas.Label ini juga harus dipasang pada wadah
yang akan dimasukkan kedalam kemasan yang lebih besar
Unit Terkait
PEMELIHARAAN AC
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian AC adalah suatu alat yang digunakan untuk pengaturan suhu udara di dalam
ruangan agar stabil, sehingga memberikan kenyamanan pada ruangan
tersebut.

Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah pemeriksaan pengoperasian AC


untuk mengukur pangaturan udara di ruangan

Kebijakan

Prosedur 1. Petugas IPSRS melakukan pengecekan diruangan yang memiliki AC.


2. Pemeliharaan dimulai dati out door pada AC, yaitu :
- Membersihkan kipas kondensator pada out door dengan kain halus
- Pengecekan ampere listrik
- Pengecekan perpipaan
3. Pemeliharaan in door pada AC yaitu :
- Membersihkan body luar dengan menggunakan kain halus
- Membersihkan falfer dan kipas dengan kain halus
- Membersihkan pembuangan air.
4. Pengecekan baterai pada remot control
5. Pengisian pemeliharaan pada kartu pemeliharaan
6. Pemeliharaan dilakukan tiap enam bulan oleh pihak ketiga.

Unit Terkait Unit yang menggunakan AC.


PROSEDUR PEMELIHARAAN KOMPUTER

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Alat komputer adalah suatu alat yang digunakan untuk membuat data,
mengolah data, serta menyimpan data yang dibutuhkan.

Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk pemeliharaan peralatan


komputer demi terselenggaranya kegiatan untuk menunjang pelaksanaan
operasional secara tepat, cepat dan efisien.

Kebijakan

Prosedur
1. Pemeliharaan Hard Ware Komputer
- Membersihkan body luar dengan menggunakan kain halus atau kuas
halus
- Memeriksa kabel penghubung keyboard, CPU, Monitor serta printer
- Membersihkan harddisk dengan disket cleaner.

2. Pemeriksaan soft ware computer


- Memeriksa system program yang digunakan
- Memberi anti virus pada software
- Penghapusan program-program serta file-file yang tidak dibutuhkan
- Pengisian data pemeliharaan pada kartu pemeliharaan
3. Pemeliharaan dilakukan tiap tiga bulan sekali oleh pihak ketiga.

Unit Terkait
Pemeliharaan Mikroskop

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Suatu alat pemeriksaan yang fungsinya memperbesar suatu objek, yang

tidak bisa dilihat oleh mata langsung.

Tujuan 1. Untuk menjamin kelancaran pemberian pelayanan.

2. Alat selalu dalam kondisi siap pakai.

3. Terpeliharanya alat dengan baik sehingga menjamin akurasi hasil (valid).

4. Mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberian pelayanan


labolatorium.

Kebijakan

Prosedur PEMELIHARAAN :

Pelaksanaan :

1. Cek dan bersikan seluruh bagian alat.

2. Cek sistem catu daya, perbaiki bila perlu.

3. Cek fungsi selector, tombol/switch, perbaiki bila perlu.

4. Lakukan pelumasan pada bagian – bagian yang bergerak.

5. Cak dan periksa iluminator, ganti bila perlu.

6. Cek sistem pembesaran dan lakukan pembersian pada bagian lensa


dengan cairan dan kertas pembersih lensa.
7. Lakukan uji kinerja alat.

Unit Terkait Bagian Pemeliharaan Sarana


Instalasi Laboratorium
IDENTIFIKASI RESIKO BAHAYA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Mengidentifikasi semua potensi yang dapat menimbulkan bahaya bagi


karyawan, pasien, pengunjung, keluarga pasien dan kontraktor yang bekerja
di lingkungan Rumah Sakit serta mengetahui seberapa besar potensi dan
kemungkinannya sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan dan
penanggulangannya

Tujuan 1. Mengetahui potensi bahaya yang ada ditempat kerja


2. Mengetahui lokasi dan potensi bahaya

Kebijakan Kebijakan Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Direktur Utama
RSUD

Prosedur 1. K3RS memberikan penjelasan dan format kertas kerja untuk


mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja kepada penanggung
jawab K3 unit kerja yang sudah ditugaskan oleh masing-masing Kepala
Departemen / Instalasi / Bidang / Bagian / Unit.
2. Penanggung jawab K3 unit kerja mengidentifikasi potensi bahaya di
tempat kerja masing masing.
3. Identifikasi potensi bahaya meliputi potensi bahaya keselamatan,
potensi bahaya keamanan dan potensi bahaya lingkungan terhadap
karyawan, pasien, keluarga pasien, pengunjung dan kontraktor yang
bekerja di lingkungan unit kerja.
4. Data identifikasi potensi bahaya dituliskan dalam lembar kertas kerja
identifikasi potensi bahaya .
5. Laporan data identifikasi potensi bahaya dilaporkan kepada Kepala
Departemen / Instalasi / Bidang / Bagian / Unit untuk dibahas bersama,
dengan tujuan memenuhi rekomendasi yang tercantum dalam lembar
kertas kerja identifikasi potensi bahaya.
6. Rekomedasi yang belum bisa diselesaikan di tingkat Departemen /
Instalasi / Bidang / Bagian / Unit dibahas pada tingkat Komite K3
Gedung.
7. Rekomendasi yang belum bisa diselesaikan di tingkat Komite K3 gedung
dibahas pada tingkat Komite K3RS korporat.
8. Semua dokumen data identifikasi potensi bahaya disimpan di
penaggung jawab K3 unit kerja masing-masing dan K3RS

Unit Terkait Semua Unit di RSUD


PENANGGULANGAN KEBAKARAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Tata cara penanggulangan kebakaran untuk mencegah meluasnya


kebakaran dan mengatasi kebakaran secara cepat, akurat dan
sistematis sehingga menekan timbulnya korban, kerusakan dan
kerugian seminimal mungkin.
Tujuan 1. Menyelamatkan manusia
2. Menyelamatkan harta benda termasuk dokumen penting
3. Memadamkan api dengan alat APAR dan alat sederhana
4. Penanganan Korban
5. Melakukan tindak lanjut pasca bencana
Kebijakan

Prosedur
Alur 1. Jika melihat Titik Api atau Asap
Penanggulangan
2. Melakukan Penilaian Cepat / Quick
Kebakaran
Assesment
3. Melakukan Tindakan Pemadaman
Internal dengan Alat Pemadam Api
Ringan dan alat pemadam lain yang
direkomendasikan seperti Goni,
Selimut yang dibasahi.
4. Membunyikan Alarm tanda terjadi
Kebakaran
5. Mengevakuasi Seluruh
Warga/Pekerja/Karyawan
6. Mematikan aliran Listrik
7. Menelfon Pemadam Kebakaran
untuk Bantuan dan Penanganan
lebih lanjut
8. Melakukan Penyelamatan
Penanganan Korban
9. Melakukan Pendataan
Warga/Pekerja/Karyawan
10. Melakukan Pendataan Korban,
Kerusakan dan Kerugian
11. Memberikan informasi kepada
semua warga/Karyawan/Pekerja
atas peristiwa kebakaran yang
terjadi dan tindaklanjutnya.
Prosedur Jika mendengar alarm tanda kebakaran
Penyelamatan
semua orang harus melakukan hal-hal
Diri dan Evakuasi
sebagai berikut :
1. Jangan panik
2. Memakai masker atau menutup alat
pernapasan dengan kain atau sapu
tangan ( escape hood )
3. Selamatkan diri dengan berjalan
cepat dan bukan berlari. Tidak boleh
saling mendahului.
4. Jangan membawa barang-barang
atau memakai barang-barang yang
akan menyulitkan proses evakuasi.
5. Dahulukan kelompok rentan ( Ibu
Hamil, Balita, Orang Tua, Kelompok
Disabilitas )
6. Jika perlu membuka pintu pastikan
tidak ada api dibalik pintu dengan
merasakan panas dengan meraba
daun pintu.
7. Berjalan mengikuti jalur evakuasi
yang telah ditetapkan
8. Menuruni tangga dengan berjajar
sesuai dengan kapasitas tangga.
9. Jika terpapar asap bernapaslah
dengan pendek-pendek melalui
hidung dan bergerak dengan cara
merangkak dan jika harus
menerobos asap, lakukan dengan
menahan napas.
10. Menuju titik kumpul yang telah
ditetapkan.
Penyelamatan 1. Selamatkan dokumen berdasarkan
Dokumen
yang paling penting ( In Order of
Importance )
2. Membawa dokumen sesuai dengan
kemampuan yang bisa dibawa.
3. Berjalan dengan cepat dan bukan
berlari sesuai dengan arah jalur
evakuasi.
4. Kumpulkan dokumen yang bisa
diselamatkan pada tempat yang
aman dari ancaman utama ( api )
dan ancaman yang lain, seperti
angin, air, orang, kotoran dll.
Alat bantu Alat bantu Pemadaman yang diperlukan :
Pemadaman yang
1. Alat Pemadam Api Ringan berbagai
diperlukan
jenis : Powder, Foam, CO2.
2. Hydrant lengkap dengan hose dan
Nozzle
3. Alat Perlindungan Diri : Topi
Pengaman, Masker, Jaket anti Api,
Boot, Pelindung Tangan, dll.
4. Alat pemadam lainnya : Goni,
Selimut, Kain yang dibasahi air.

Unit Terkait 1. Petugas Keamanan


2. Petugas K3
3. Kelompok Tanggap Darurat
4. Kelompok Evakuasi
5. Kelompok Pemadam Kebakaran

Catatan :
1. Pemadaman hanya boleh dilakukan oleh orang atau petugas yang benar-benar
terlatih.
2. Pertolongan pertama pada korban hanya boleh dilakukan oleh orang atau
petugas yang terlatih atau yang berkompeten dalam bidang medis.
3. Dalam proses evakuasi, sangat penting untuk mengamankan jalur evakuasi dari
gangguan yang dapat menjadi penghalang proses evakuasi.
4. Jika ada korban segera lakukan penanganan pertolongan pertama dan segera
dievakuasi ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan
medis selanjutnya.
PENANGGULANGAN BENCANA DILUAR RS

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Bencana di Luar Rumah Sakit adalah kejadian pada suatu


waktu (relatif singkat) berupa bencana kecelakaan atau huru-
hara yang menelan korban yang harus segera ditangani oleh
petugas kesehatan untuk memberikan pertolongan pertama
atau evakuasi.
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk
penanggulangan bencana di luar Rumah Sakit

Kebijakan

Prosedur 1. Informasikan kejadian bencana di luarRumah sakit


2. Laporkan kejadian bencana kepada Direktur Rumah Sakit
3. Menujukelokasibencana. (Tim HDP segera berangkat
bersama dokter dan perawat dengan membawa obat-obatan
dan peralatan lainnya)
4. Informasikan adanya kejadian bencana oleh ketua TIM HDP
ke instansi terkait (Dinas Kesehatan, Kepolisian, ABRI dan
Tim SAR).
5. Ketua Tim HDP membagi tugas kepada :
1. Petugas triage untuk mempersiapkan tempat khusus
triage
2. Petugas rekam medis untuk identifikasi pasien
3. Petugas farmasi untuk mempersiapkan obat-obatan yang
diperlukan
4. Petugas ambulance mempersiapkan ambulance jika
pasien akan dirujuk.
5. Laporan tertulis kepada Direktur Rumah .
6. Instansi kesehatan lainnya
7. BPBD
8. Tim SAR
9. Kepolisian
10. TNI
11. Instalasi Gawat Darurat
12. Rumah Tangga

Unit Terkait
PENANGGULANGAN BENCANA DI DALAM RUMAH SAKIT

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Bencana di dalam Rumah Sakit adalah kejadian pada suatu


waktu (relatif singkat) berupa kecelakaan dalam jumlah yang
melebihi pekerjaan rutin sehari hari sehingga memerlukan
penanggulangan cepat yang tidak terikat pada peraturan normal
yang menimpa pasien atau karyawan di rumahsakit.
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penanggulangan
bencana di dalam Rumah sakit

Kebijakan Penangguang jawab penanggulangan bencana adalah ketua tim yang


ditunjuk berdasarkan keputusan Direktur RS

Prosedur 1. Laporkan kejadian bencana pada ketua Tim HDP.


2. Ketua tim dan timnya :
Identifikasi bencana (kemungkinan meluasnya bencana,
perkiraan jumlah korban dan menentukan tingkat siaga serta
penanganannya).
3. Laporkan kejadian bencana kepada Direktur Rumah Sakit
olehKetua Tim HDP.
4. Siapkan koridor terdekat yang khusus untuk mempersiapkan
pertolonganolehpetugas triage.
5. Driver ambulance mempersiapkan ambulance bila ada pasien
yang perlu dirujuk.
6. Laporan tertulis kepada Direktur Rumah olehKetua Tim HDP.

Unit Terkait 1. Bidang penunjang dan sarana


2. Ambulance
3. Rumah tangga
4. Instalasi gawat darurat
5. Bidang pelayanan medik
PENGADAAN BAHAN BAHAYA DAN BERACUN (B3)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Pengadaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah penyediaan


permintaan bahan-bahan B3 yang dibutuhkan unit-unit terkait kepada
bagian perencanaan dan pengadaan dengan melampirkan surat tertulis
yaitu surat pemesanan.
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk pengadaaan bahan
berbahaya dan beracun sesuai dengan fungsinya, sehingga terhindar dari
bahaya dari akibat yang bisa ditimbulkan.

Kebijakan 1. Undang-undang Nomor 01 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


2. Undang-undang nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan
3. Undang-undang nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagaan Kerjaan
4. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 3
(tiga) dan pasal 8 (delapan).
5. Peraturan Menteri Perburuhan no 7 Tahun 1964 tentang Syarat-
Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan di Tempat Kerja.
6. Permenaker No 2 Tahun 1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga
Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
7. Permenaker No 1 Tahun 1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit
Akibat Kerja.
8. Permenaker No 3 Tahun 1983 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja.
Peraturan Pemerintah RI No.50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3

Prosedur 1. Unit yang membutuhkan B3 mengajukan jenis bahan berbahaya


yang diperlukan dan telah disetujui/ditandatangani oleh kepala
bagian
2. Surat tersebut disampaikan ke instalasi untuk dilayani sesuai
dengan permintaan bahan berbahaya yang dibutuhkan, apabila
tidak terdapat di instalasi maka dilakukan pemesanan oleh bagian
perencanaan dan pengadaan.
3. Pemesanan oleh Instalasi
 Bagian produksi dan distribusi menulis pada buku permintaan
dan menyerahkan ke bagian penerimaan dan penyimpanan.
 Bagian penerimaan dan penyimpanan melayani permintaan
bagian produksi dan distribusi sesuai dengan buku permintaan
apabila persediaan / perbekalan di bagian penerimaan dan
penyimpanan habis/menipis, bagian penerimaan dan
penyimpanan menulis pada lembar defecta dan menyerahkan
kepada bagian perencanaan.
 Untuk perbekalan yang tidak mempunyai persediaan di gudang,
bagian produksi langsung melaporkan kepada bagian
pengadaan untuk dicatat dalam buku defecta.
 Bagian perencanaan dan pengadaan merekap daftar perbekalan
farmasi di lembar defecta menurut supplier kemudian
melakukan pemesanan kepada supplier melalui telepon maupun
secara langsung melalui sales berdasarkan lembar defecta.
 Pemasok bahan berbahaya / supplier wajib melaporkan MSDS
(Material Safety Data Sheet) / LPD (Lembar Data Pengaman)
yaitu informasi dari pabrik mengenai sifat fisik maupun
kimiawi dari bahan, cara penyimpanan, resiko pemaparan dan
cara penanggulangan bila terjadi kontaminasi.
 Setelah selesai menelepon dan barang dipesan tersedia dan
dilengkapi MSDS / LDP untuk barang/bahan berbahaya bagian,
perencanaan dan pengadaan menulis surat pesanan rengkap 2 :
Lembar 1 : diserahkan kepada supplier
Lembar 2 : diserahkan kepada penerimaan dan
penyimpanan
4. Penyerahan Barang
 Pada saat penyerahan B3, nota penyerahan harus
mencantumkan dengan jelas nama bahan, nama dagang, nama
kimia, jumlah bahan, nama distributor, dan nama produsen
 Setiap B3 yang diserahkan harus disertai dengan Lembar Data
Pengamanan Bahan yang berisi merk dagang, rumus kimia,
jenis B3, klasifikasi, teknik penyimpanan, dan tatacara
penangan bila kecelakaan
 Pada saat diserahkan B3 harus memenuhi syarat sebagai
berikut:
- Diserahkan dalam bentuk kemasan yang kompak
- Wadah kemasan tidak bocor
- Tidak berkarat
- Tidak rusak
- Disertai dengan penandan nama dagang, nama bahan, berat,
yang sesuai dengan yang tertera pada nota penyerahan
bahan
 Setiap B3 yang diserahkan harus telah memiliki tanda
peringatan sesuai dengan jenis dan bahayanya, symbol bahaya
dan petunjuk P3K yang harus mudah dilihat, dibaca,
dimengerti dan tidak luntur.
 Bahan berbahaya dan beracun tidak dapat diterima apabila:
- Dokumen tidak lengkap
- Sudah kadaluarsa
- Label yang tertera pada bahan dan dokumen tidak cocok
Penyerahan B3 harus dilakukan secara langsung kepada petugas bagian
logistik sedangkan bahan langsung ditempatkan pada ruang penyimpanan
B3.
Unit Terkait
MENANGANI BAHAN BAHAYA DAN BERACUN (B3)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian Bahan Berbahaya dan Beracun adalah bahan yang karena sifat atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan
hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya
Tujuan Memastikan implementasi pengelolaan bahan berbahaya dan beracun
dan limbah bahan berbahaya dan beracun sesuai prosedur serta
penatalaksanaan/penanganan apabila terjadi kontaminasi/paparan
bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan
beracun sesuai Material Safety Data Sheet (MSDS)
Kebijakan Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan
Berbahaya Dan Beracun

Prosedur 1. Penanganan bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan


berbahaya dan beracun harus sesuai prosedur untuk masing-masing
bahan berbahaya dan beracun.
2. Ventilasi yang benar dan pengadaan exhaust mengurangi petugas
dari paparan kontaminan yang ada di udara.
3. Petugas yang bekerja dengan bahan berbahaya dan beracun dan
limbah bahan berbahaya dan beracun harus menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD) selama bekerja sesuai yang tercantum di
Material Safety Data Sheet (MSDS) bahan berbahaya dan beracun.
4. Gunakan bahan berbahaya dan beracun secukupnya, jangan
berlebihan yang menyebabkan bersisa.
5. Petugas yang bekerja dengan bahan berbahaya dan beracun dan
limbah bahan berbahaya dan beracun harus ditraining tentang bahan
berbahaya dan beracun dan penggunaan MSDS

Unit Terkait
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Standar Prosedur Tanggal terbit Ditetapkan :


Operasional Direktur RS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait