Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

44

PENERAPAN MODEL PERTANAMAN ALLEY CROPPING PADA LAHAN KRITIS DI KECAMATAN MAIWA ENREKANG

Haerul,Muhammad Rizal, dan A. Herwati Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) YAPIM, Maros

(email:haerulmuhammad70@yahoo.com)

Abstrak

Pemanfaatan lahan kering pada daerah kemiringan sebagai areal pertanaman jagung mendatangkan banyak kerugian diantaranya degradasi lahan, ketidakberlanjutan produksi jagung dan usahatani jagung yang tidak efisien. Model pertanaman alley cropping yang mengkombinasikan tanaman lorong (Hedgerow) berupa gamal, rambutan dan rumput gajah memberikan beberapa keuntungan diantaranya mencegah terjadinya degradasi lahan, input produksi yang efisien bagi jagung dan adanya pendapatan tambahan dari rambutan serta pakan tambahan untuk ternak kambing dari gamal dan rumput gajah. Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah meningkatkan produktivitas lahan marginal petani yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani. Metode pendekatan dalam menyelesaikan masalah petani menggunakan pendekatan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture). Proses diseminasi teknologi diawali dengan FGD (Focus Group Discussion) untuk memahami permasalahan yang dihadapi petani. Setelah masalah berhasil diidentifikasi dan dipetakan, dilakukan uji coba pada lahan usahatani petani agar teknologi dapat diadaptasikan. Untuk mendiseminasikan teknologi ke petani lainnya, dilakukan penyuluhan dimana penyuluhnya adalah petani pelaksana kegiatan. Metode komunikasi yang digunakan adalah farmer to farmer communication. Dengan demikian, proses adopsi teknologi dapat berjalan dengan loancar karena pengembangan teknologi dilakukan secara partisipatif.

Kata kunci: LEISA, partisipatif, alley cropping, jagung

PENDAHULUAN

Lahan yang kebanyakan ditanami jagung oleh petani di kecamatan Maiwa adalah

lahan kering dengan topografi lahan berbukit dengan tingkat kemiringan lahan mencapai

5-15 o . Pertanaman jagung dilakukan dua kali dalam setahun yaitu musim tanam I bulan

Desember April dan Musim Tanam II Mei Agustus atau tepatnya memanfaatkan musim

hujan. Pada musim kemarau, lahan dibiarkan bero tanpa ditanami karena tidak tersedia air.

Sistem pertanaman yang dilakukan adalah monokultur dimana hanya tanaman jagung yang

ditanam pada musim saat musim tanam.

Namun demikian, pengembangan komoditas jagung ataupun komoditas produktif

lainnya di lahan kering (kemiringan 5-30 o ) menyebabkan terjadinya penurunan

produktivitas lahan dengan cepat (Kang et al. 1989; Santoso et al. 1995). Jika jagung di

tanam di lahan miring, maka penurunan produktivitas jagung akan terjadi pada pertanaman

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

45

kedua dan ketiga, misalnya pada awal bertanam jagung produktivitas lahan masih bisa mencapai 6 ton per ha, namun pada tahun kedua produksi jagung hanya mencapai 4 ton per ha padahal input produksi yang digunakan sama dengan sewaktu pertama kali menanam jagung. Jagung yang biasa ditanam adalah jagung kuning hibriada yang harganya dapat

mencapai Rp 120.000 per kg. Selain itu, petani menggunakan input pupuk kimia yang

cukup tinggi per ha. Rata-rata, jumlah pupuk yang digunakan mencapai 500 Kg urea, 300

Kg SP-36 dan 100 Kg KCl. Untuk membasmi rumput, petani lebih cenderung

menggunakan herbisida sehingga biaya produksi semakin mahal. Jerami jagung yang

dihasilkan langsung dibakar setelah panen sehingga tidak ada pengembalian bahan organik

pada tanah. Akibatnya, degradasi lahan terjadi setiap tahunnya utamanya pengurasan bahan

organik dan lapisan atas tanah (top soil) sehingga proses degradasi lahan terjadi dengan

cepat. Pada akhirnya, lahan akan dibiarkan terlantar dan petani akan mengalami kerugian

dan tidak mempunyai mata pencaharian yang lain.

Luas lahan kering di daerah kecamatan Maiwa mencapai kurang lebih 5.000 ha sehingga jika proses diseminasi kegiatan berhasil, diharapkan dapat menyebar luas di daerah tersebut. Konservasi lahan diharapkan dapat terus ditingkatkan sehingga kelestarian dan keberlanjutan usaha budidaya jagung yang dilakukan oleh petani dapat terjaga. Selain masalah budidaya, permasalahan terbesar yang dihadapi oleh petani adalah fluktuasi harga jagung yang dihasilkan. Disparitas harga pada musim panen dan bukan musim panen terlalu tinggi. Sebagai contoh, pada musim panen I (bulan Maret April) harga jagung maksimal Rp 2.100 per kg (kering panen). Pada musim panen II (Bulan Juli Agustus) harga dapat mencapai Rp 3.100 per kg. Selain persoalan kualitas jagung yang rendah pada panen I karena curah hujan masih tinggi, persoalan lainnya adalah pada musim panen I terjadi panen raya di seluruh wilayah Sulawesi Selatan sehingga produksi jagung melimpah sedangkan panen II hanya di bagian Sulawesi Selatan yang bertipe hujan pantai Timur. Selain melakukan usaha budidaya jagung, petani juga memelihara ternak kambing

dan sapi secara semi intensif. Pada malam hari, ternak kambing dan sapi dikandangkan di

dekat rumah petani. Pada siang hari, ternak dibiarkan lepas untuk mencari makanan di

padang penggembalaan. Permasalahan yang sering dihadapi oleh petani adalah banyaknya

predator ternak pada siang hari. Di kecamatan Maiwa, banyak sekali terdapat anjing yang

biasa menggigit anak kambing ataupun anak sapi yang masih kecil. Selain itu, ternak yang

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

46

dilepas sering menjadi hama bagi tanaman jagung milik petani lainnya di wilayah tersebut.

Jika dikandangkan, petani tidak mempunyai sumber pakan utama untuk kambingnya

Permasalahan Prioritas

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan, maka ditetapkan prioritas masalah yang akan ditangani dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat adalah sebagai berikut:

a. Terjadinya pengurasan bahan organik dan lapisan top soil tanah akibat degradasi lahan dengan pola pertanaman monokultur

b. Terjadinya pembakaran jerami jagung setiap selesai musim tanam

c. Tingginya pemakaian pupuk kimia sintetik dan herbisida

d. Kelangkaan pakan ternak kambing dan sapi

Justifikasi Masalah

Berdasarkan pengalaman petani di kecamatan Maiwa selama melakukan usaha budidaya jagung, masalah terbesar yang dialami adalah semakin menurunnya tingkat kesuburan lahan yang ditandai oleh semakin menrunnya produksi jagung padahal input produksi yang digunakan cenderung semakin meningkat. Kebanyakan petani telah dua kali berpindah lahan karena pada lahan sebelumnya telah mereka tanami selama 3 tahun semakin menunjukkan berkurangnya hasil sementara input produksi semakin meningkat. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka melalui kegiatan pengabdian ini, peneliti bersama mitra berusaha mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan yang mampu mempertahankan tingkat kesuburan lahan dengan tetap menghasilkan jagung yang tinggi.

METODE PELAKSANAAN

Penentuan Permasalahan Prioritas

Permasalahan degradasi lahan utamanya pada lahan miring sudah sangat umum ditemukan sehingga laju peningkatan lahan terlantar juga semakin tinggi. Jika ini dibiarkan, maka lahan kering yang selama ini produktif menjadi semakin berkurang dengan drastis sementara kebutuhan pangan justru semakin meningkat. Dibutuhkan sistem budidaya ramah lingkungan yang mampu menjaga keberlanjutan pemanfaatan lahan dan bahkan semakin meningkatkan produktivitas serta menurungkan input produksinya. Hasil penelitian Ibrahim (2013) menunjukkan bahwa melalui pertanaman alley cropping dengan menggunakan tanaman utama jagung dan tanaman lorong gamal, maka laju degradasi lahan

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

47

dapat dicegah sementara penggunaan input produksi kimiawi semakin lama semakin menurun karena pemanfaatan nitrogen gamal yang tinggi melalui pemangkasan. Demikian halnya melalui pemanfaatan jerami jagung sebagai pakan ternak mampu meningkatkan ketersediaan pakan lebih tinggi dibanding dengan hanya memanfaatkan rumput. Pemanfaatan limbah jagung (jerami, tongkol, tumpi dan klobot) sebagai pakan ternak mampu meningkatkan keuntungan yang diperoleh peternak jika dibandingkan dengan hanya usahatani jagung saja atau hanya usaha ternak sapi saja (R/C Ratio 1,7) (Sariubang, dkk., 2006). Dengan demikian, pemanfaatan limbah jagung sebagai pakan ternak akan meningkatkan ketersediaan pakan bagi ternak serta mempertahankan kandungan bahan organik tanah melalui pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik. Metode Pendekatan untuk menyelesaikan masalah

Metode pendekatan yang dilakukan dalam mengatasi masalah degradasi lahan adalah dengan menggunakan sistem pertanian LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) (Haverkort, dkk. 2000). Pendekatan LEISA memungkinkan petanibeternak dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang dimiliki untuk mendukung usahataninya. Jika tetap dibutuhkan input luar maka penggunaannya berdasarkan kebutuhan tanaman untuk berproduksi dan tidak dilakukan dengan eksploitasi. Konsep LEISA akan disejajarkan dengan konsep zero waste dimana diharapkan dalam usahatani yang dilakukan oleh petani tidak terdapat limbah. Limbah yang dihasilkan oleh subsistem usahatani akan digunakan sebagai input produksi pada subsistem usahatani lain yang dimiliki petani. Dengan demikian, maka usahatani yang dikelola oleh petani akan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan keberlanjutan produksi. Dalam rangka menyebarluaskan teknologi ke petani lainnya, maka dilakukan penyuluhan ke petani yang bukan pelaksana kegiatan. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode penyuluhan partisipatif, dimana petani yang menjadi pelaksana kegiatan melakukan sendiri eksperimentasi dalam usahataninya. Eksperimentasi yang dilakukan dipandu oleh peneliti dan dilaksanakan pada lahan usahatani petani. Metode ini lebih efektif dibanding metode lainnya karena petani dapat langsung melakukan evaluasi pelaksanaan teknologi. Petani dapat menilai sendiri tentang curahan waktu yang dapat dilakukan pada metode alley cropping dalam hubungannya dengan ketersediaan waktu kerja yang dimiliki petani. Selain itu, efisiensi ekonomi akan dihitung langsung oleh petani sehingga mereka dapat menentukan keuntungan relatif dari teknologi yang dilaksanakan. Adapun metode komunikasi yang dilakukan menggunakan pendekatan “Farmerto farmer communication”. Metode ini memanfaatkan petani pelaksana teknologisebagai

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

48

narasumber pada setiap pelaksanaan diseminasi teknologi. Petani yang menjelaskan

tanggapan mereka terhadap teknologi tersebut pada semua aspek yang telah dilaksanakan. Dengan demikian, kendala bahasa tidak ditemukan lagi karena bahasa yang digunakan merupakan bahasa milik petani karena narasumbernya adalah petani itu sendiri.

Prosedur kerja untuk menyelesaikan masalah

Dalam rangka menyelesaikan masalah degradasi lahan, maka prosedur kerja yang akan ditempuh adalah sebagai berikut:

a. Melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan petani pelaksana yang diikuti oleh penyuluh dan petugas teknis dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Enrekang serta Dinas Peternakan dan Perikanan Enrekang. FGD ini bertujuan membangun komitmen dengan petani pelaksana untuk sepenuhnya melaksanakan teknologi sesuai dengan SOP yang telah disusun. Selain itu, FGD diharapkan akan meningkatkan keterlibatan instansi terkait utamanya dinas teknis yang ada di kabupaten Enrekang.

b. Melakukan Penerapan teknologi melalui penelitian secara partisipatif dengan petani dan dibimbing oleh Penyuluh dan Petugas Teknis dari dinas. Penelitian partisipatif pada dasarnya adalah melakukan penelitian pada level usahatani petani dan dilakukan oleh petani secara mandiri. Peneliti dan penyuluh hanya bertugas untuk memfasilitasi, mengarahkan dan mendampingi serta menginterpretasi hasil sejak FGD pada tahap awal sampai pada pelaksanaan program.

c. Membuat materi penyuluhan serta media penyuluhan yang tepat berdasarkan permasalahan yang dihadapi petani. Materi dan media penyuluhan yang digunakan disesuaikan pula dengan keadaan petani penerima manfaat selain petani pelaksana kegiatan.

d. Melakukan diseminasi teknologi ke petani utamanya yang ada disekitar lokasi petani pelaksana IbM. Diseminasi dilakukan dalam bentuk temu lapangan dengan mengundang petani lain menjadi peserta dan pak Sudirman dan Pak Hanafi sebagai narasumber. Peneliti hanya bertindak memfasilitasi pelaksanaan pertemuan dan menjadi narasumber jika dibutuhkan untuk menjelaskan teknologi secara detail.

e. Mengevaluasi keberhasilan pelaksanaan penyuluhan utamanya menyangkut pengetahuan petani penerima dampak teknologi yaitu petani yang memperoleh penyuluhan yang dilaksanakan dengan menggunakan metode “farmer to farmercommunication”

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

Jenis Luaran yang dihasilkan

ISSN 2527 - 4538

49

Jenis luaran yang akan dihasilkan dari pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai

berikut:

- Tanaman jagung di lorong berdasarkan kontur

- Tanaman gamal yang berfungsi sebagai tanaman pencegah erosi dan sebagai

sumber pakan ternak kambing

- Tanaman rambutan sebagai tanaman produktif di sela tanaman gamal

- Pakan komplit silase

- Tanaman gamal yang membentuk lorong dan mencegah terjadinya longsor

- Leaflet teknik budidaya LEISA

- Leaflet pertanaman alley cropping

- Jagung yang diproduksi secara efisien

HASIL YANG DICAPAI

Sosialisasi Program

Sosialisasi dilaksanakan pada kelompok tani yang akan menjadi mitra kegiatan

pengabdian. Sosialisasi dilaksanakan pada Tanggal 9 April 2016 yang dilaksanakan oleh

Anggota Peneliti atas nama Muhammad Risal, S.P., M.Si. dan A. Herwati, SP., M.Si. Pada

saat sosialiasisasi, dihadairi oleh Dr. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si. yang merupakan Pembina

kelompok tani yang menjadi sasaran kegiatan. Tujuan kehadiran Pembina kelompok tani

adalah memudahkan anggota kelompok menerima kehadiran peneliti dan kegiatan

sehingga diharapkan mudah untuk mengadopsi teknologi yang akan diintroduksikan.

mudah untuk mengadopsi teknologi yang akan diintroduksikan. Gambar 1. Sosialisasi yang dilaksanakan oleh Peneliti ke

Gambar 1. Sosialisasi yang dilaksanakan oleh Peneliti ke petani Mitra beserta Pembina Petani di KT Mappideceng

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

50

Berdasarkan hasil sosialisasi, diketahui bahwa musim tanam yang kedua jatuh pada Minggu III-IV April 2016. Olehnya itu, disepakati bahwa kegiatan penanaman jagung dengan system alley cropping akan dilaksanakan pada musim tanam kedua. Petani yang akan terlibat dengan system budidaya alley cropping ada 3 orang yaitu petani yang ada dan bekerja di lahan Maiwa Breeding Center Universitas Hasanuddin yang selama ini yang merupakan lahan kritis. Jenis tanaman legume yang akan dijadikan sebagai tanaman pembuat lorong adalah gamal, murbei dan lamtoro. Ketiga jenis legume ini merupakan legume yang palatabilitasnya tinggi dan mempunyai nutrisi yang tinggi pula. Pelatihan Budidaya Alley Cropping Pelatihan budidaya alley cropping dilakukan sebelum dilakukannya penanaman jagung. Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya sistem budidaya alley cropping utamanya pada lahan miring yang ditanaman tanaman semusim. Selain itu, system budidaya alley cropping memberikan keuntungan tambahan dimana limbah jagung dan tanaman lorong dapat dijadikan sebagai sumber utama pakan ternak. Dengan demikian, konsep integrated farming dapat dijalankan dengan baik oleh petani sehingga meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga.

meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga. Gambar 2. Pelatihan Alley Cropping bagi petani jagung Materi

Gambar 2. Pelatihan Alley Cropping bagi petani jagung

Materi pelatihan yang disampaikan kepada petani mitra meliputi:

- Sistem budidaya jagung secara umum

- Manfaat budidaya alley cropping dan integrated farming

- Model pertanaman alley cropping Jumlah petani yang hadir pada pelatihan meliputi 11 orang dimana termasuk didalamnya petani yang menjadi corporate. Terdapat pula petani yang lokasi lahannya berdekatan dengan lahan petani mitra. Harapannya, petani yang tidak menjadi corporate

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

51

tetap dapat menerapkan metode pertanaman jagung alley cropping sehingga dapat

meningkatkan konservasi lahannya dan meningkatkan produksi jagung

Penerapan Budidaya Alley Cropping

Sebelum melakukan penanaman jagung, terlebih dahulu dilakukan penanaman

legume (Gamal, Lamtoro dan Murbei). Penanaman legume pertama meliputi penanaman

gamal. Luas areal yang ditanami gamal mencapai 40 are. Pertanaman tanaman pembuat

lorong yang kedua menggunakan tanaman murbei. Luas areal yang ditanami murbei

mencapai 50 are. Jarak tanam murbei dan gamal adalah masing-masing 4 meter. Diantara

tanaman pembuat lorong, ditanami jagung dengan jarak tanam 15 x 75 cm. Dengan

demikian, jumlah populasi jagung dalam 1 hektar tidak mengalami perubahan sehingga

petani tidak mengalami kerugian.

perubahan sehingga petani tidak mengalami kerugian. Gambar 3. Tanaman Gamal yang diselingi dengan tanaman jagung

Gambar

3. Tanaman Gamal yang diselingi dengan tanaman jagung sebagai lorong

tanaman

Pelatihan Dan Pembuatan Silase Dari Limbah Jagung

Setelah panen jagung selesai, dimana jerami jagung masih berwarna hijau dan

segar, dikumpulkan dan disiapkan untuk diawetkan dengan teknologi silase. Pemanfaatan

jerami jagung sebagai silase pakan diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pakan

bagi peternak mitra yang selama ini sering mengalami kesulitan pakan pada saat musim

kemarau.

Metode pembuatan silase pakan komplit adalah sebagai berikut:

- Bahan pakan ditimbang menurut susunan ransum yang telah ditentukan.

- Dipisahkan antara bahan hijauan dan konsentrat. Contoh untuk Kecamatan Telaga :

Hijauan (Limbah Kol, Jerami jagung, Limbah Wortel dan RumputGajah) dan

Konsentrat (Kulit kopi, Bungkil kelapa, Bungkil jagung, Dedak Padi dan Ampas tahu)

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

52

- Bahan pakan berupa hijauan dipotong-potong 3-5 cm kemudian diaduk rata.

- Bahan pakan konsentrat dicampur dan diaduk rata.

- Siapkan tempat (wadah) yang bisa ditutup rapat sehingga menjadi tempat penyimpanan yang kedap udara. Misal : kantong plastik tebal, drum plastik atau bak semen yang dilengkapi penutup. Campuran bahan pakan hijauan (no.3) disusun berlapis-lapis dengan ketebalan 10-20 cm, setiap lapisan hijauan ditaburi campuran bahan pakan konsentrat.

- Setiap kali selesai menambahkan lapisan hijauan dilakukan pemadatan dengan cara ditekan-tekan atau diinjak-injak. Usahakan tidak ada tempat kosong yang berisi rongga udara karena hal ini akan menyebabkan silase busuk.

- Setelah semua bahan pakan dimasukkan ke dalam tempat / wadah, kemudian wadah ditutup rapat dan disimpan di tempat yang teduh dan kering minimal 2 minggu.

- Silase sudah siap diberikan pada ternak.

- Apabila akan diberikan pada ternak, silase diambil secukupnya kemudian wadah ditutup kembali dengan rapat. Silase yang sudah dikeluarkan dari tempat penyimpanan sebaiknya tidak dimasukkan lagi ke dalam wadah karena akan merusak silase di dalam wadah.

- Silase yang akan diberikan pada ternak diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghilangkan baunya.

diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghilangkan baunya. Gambar 4. Jerami jagung yang telah dipanen dichopper

Gambar 4. Jerami jagung yang telah dipanen dichopper sepanjang 3-5 cm

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017

ISSN 2527 - 4538

53

Jurnal Agrominansia, 2 (1) Juni 2017 ISSN 2527 - 4538 53 Gambar 5. Pencampuran bahan baku

Gambar 5. Pencampuran bahan baku pakan

ISSN 2527 - 4538 53 Gambar 5. Pencampuran bahan baku pakan Gambar 6. Penyimpanan silase pakan

Gambar 6. Penyimpanan silase pakan komplit dari limbah jerami jagung di dalam drum penampungan

DAFTAR PUSTAKA

Haverkort, H.M., Zhou, H. Weyerhaeuser, and J. Xu. 2000. Participatory Technology Development for Incorporating non-timber Forest product into Forest Restoration in Yunnan, Southwest China. Forest Ecol. and Management 257:2010-2016. Ibrahim, B., M. Jayadi, A. Ahmad. 2013. Produktivitas jagung dalam sistem budidaya hedgrow, jurnal Ecosolum Vol:2 Nomor 2, ISSN : 2252-7923 Kang, B.T., L. Reynolds and A.N. Atta-Krah. 1991. Alley Farming In: Advances in Agronomy, Editor: N.C. Brady. Academic Press, New York. 316-352. Santoso, M., J. Levine, and U. Kusnadi. 1995. Crop-Animal Interaction and It Implications for Design of Sustainable Farming System in Indonesia. In: Proceedings of International Workshop: Developments in Procedures for Farming Systems Research, Agency for Agricultural Research and Development, Bogor: 211-235. Sariubang, M. Ella, M. dan D. Pasambe. 2006. Sistem Integrasi Jagung-Sapi Potong di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Proseeding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.