Anda di halaman 1dari 7

Diskusi 12

1. Apa yang dimaksud dengan modal dasar dan modal disetor, berikan contohnya

Jawab :

Modal dasar adalah jumlah modal yang ditetapkan dalam Anggara Dasar PT. Jumlah modal ini
harus habis terbagi dalam nominal saham yang dikeluarkan oleh PT. Dengan kata lain, modal
dasar sejatinya terdiri atas akumulasi dari seluruh saham PT. Modal dasar merupakan seluruh
nilai nominal saham Perseroan yang disebutkan dalam Anggaran Dasar. Kita dapat menghitung
Modal Dasar Perseroan dengan mengalikan jumlah lembar saham yang diterbitkan dengan nilai
saham per lembarnya. Berapa jumlah yang diterbitkan sebagai modal dasar ditentukan oleh
Anggaran Dasar. Menurut M Yahya Harahap dalam buku Hukum Perseroan Terbatas, Jumlah
yang ditentukan dalam Anggaran Dasar merupakan ‘Nilai Nominal yang Murni”.

Menurut Pasal 32 UU PT menyebutkan bahwa :

1. Modal dasar Perseroan paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

2. Undang-Undang yang mengatur kegiatan usaha tertentu dapat menentukan jumlah


minimum modal Perseroan yang lebih besar daripada ketentuan modal dasar sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).

3. Perubahan besarnya modal dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah.

Dimana Undang-undang mengenai Perseroan Terbatas Pasal 32 ayat 1 menyebutkan bahwa


besaran minimum Modal Dasar yaitu sebesar Rp.50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah). Namun
kemudian poin ketiga dalam Undang-undang tersebut mengalami perubahan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 29 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar Perseroan Terbatas yang
menyebutkan bahwa tidak ditetapkan lagi modal dasar sebuah PT. Saat ini penyerahan penentuan
besaran modal dasar diserahkan sepenuhnya kepada para pendiri Perseroan sebagai upaya
pemerintah untuk menghormati kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan
perjanjian dalam mendirikan PT berdasarkan ketentuan dalam hukum perdata.

Ilustrasi Penghitungan modal dasar :

Suatu perusahaan A mengeluarkan sebesar 50.000 lembar saham dengan nilai per lembar saham
adalah sebesar Rp.1200,-

 Maka nilai saham keseluruhan yang dimiliki oleh perusahaan A adalah : 50.000 x
Rp.1200 = Rp.60.000.000

Nilai inilah kemudian yang disebut sebagai modal dasar perusahaan A. Sehingga dapat dikatakan
bahwa Perusahaan A memiliki modal dasar sebesar Enam Puluh Juta Rupiah.
Modal Disetor adalah modal yang telah dimasukkan pemegang saham sebagai pelunasan
pembayaran saham yang diambil dari modal yang ditempatkan. Jadi, Modal Disetor adalah
modal yang secara nyata telah disetor kepada perusahaan. Jika atas nilai modal telah diberikan
dari pemilik modal kepada perusahaan maka nilai tersebut menjadi milik perusahaan dan tercatat
dalam pembukuan perusahaan. Dengan kata lain perusahaan mendapatkan fresh money dari
pemilik modal. Atas jumlah Modal Ditempatkan yang belum disetor dapat dicatat sebagai
kewajiban/hutang pemilik modal kepada perusahaan.

Sederhananya, perbedaan antara Modal Ditempatkan dan Modal Disetor yaitu ketika pemilik
modal sudah menyanggupi untuk memberikan modal sebesar Rp 500 juta dalam bentuk uang
atau barang, maka modal tersebut disebut sebagai Modal Ditempatkan. Jika modal tersebut
belum diberikan, maka akan dianggap menjadi Hutang. Ketika dia sudah memberikan Rp 500
juta tersebut, maka hutangnya dianggap lunas dan disebut sebagai Modal Disetor. Sesuai
Undang-Undang Perseroan, sebesar minimal 25% dari Modal Dasar harus telah ditempatkan dan
disetor pada saat pendirian perusahaan. Contohnya, pada Akta Pendirian perusahaan tertulis
bahwa terdapat modal sebesar Rp 1M. Maka, minimal 25% dari Rp 1M tersebut yaitu Rp 250
juta harus sudah ditempatkan, dan disetor ketika perusahaan berdiri. Jumlah tersebut adalah
jumlah minimal, sehingga jika ingin menempatkan dan menyetorkan modal lebih dari Rp 250
juta, tentu saja boleh.

Informasi jumlah modal yang harus disampaikan ketika melakukan pelaporan pajak perusahaan
(SPT Tahunan) adalah jumlah Modal Disetor dan jumlah Modal Ditempatkan yang belum
disetor. Jumlah Modal Disetor akan dituliskan pada halaman Lampiran IV SPT Tahunan,
sedangkan jumlah Modal Ditempatkan yang belum disetor akan menjadi Hutang pada Lampiran
Khusus 8A Transksip Kutipan atas Laporan Keuangan. Jadi yang akan tertulis di SPT Tahunan
bukan semata-mata langsung disalin dari jumlah yang tertulis pada Akta Pendirian.

Mengenai modal ditempatkan dan modal disetor, diatur dalam Pasal 33 UU PT sebagai berikut:
(1) Paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 harus ditempatkan dan disetor penuh.
(2) Modal ditempatkan dan disetor penuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah.
(3) Pengeluaran saham lebih lanjut yang dilakukan setiap kali untuk menambah modal
yang ditempatkan harus disetor penuh.

Jadi, paling sedikit 25% dari modal dasar harus:


1. telah ditempatkan, dan
2. telah disetor penuh pada saat pendirian Perseroan.

contoh sebagai berikut:

A dan B sebagai pendiri PT X telah menyepakati modal dasar PT X adalah Rp. 150 juta yang
terbagi atas 1000 lembar saham, masing-masing saham bernilai nominal Rp. 150 ribu.

Dari jumlah Rp. 150 juta tersebut, kemudian A dan B ternyata menyanggupi mengambil sebagian
saja, misalnya total saham yang diambil A dan B adalah Rp. 100 juta, maka nilai Rp 100 juta
tersebut merupakan modal ditempatkan yang harus disetor penuh. Sedangkan, sisa Rp. 50 juta
yang belum diambil bagiannya itu disebut saham portefel. Saham portefel menurut Yahya
adalah saham yang “belum dikeluarkan” atau “belum ditempatkan”. Setiap saat saham portefel
dapat dikeluarkan untuk menambah modal ditempatkan yang harus disetor penuh, tidak boleh
mengangsur.

Kembali ke modal ditempatkan, seperti yang kami sudah jelaskan sebelumnya, modal
ditempatkan adalah jumlah saham yang sudah diambil pendiri atau pemegang saham, dan saham
yang diambil tersebut ada yang sudah dibayar dan ada yang belum dibayar.

Melanjutkan ilustrasi di atas, modal ditempatkan adalah sebesar Rp. 100 juta. Bila A dan B telah
melakukan penyetoran, misalnya sebesar Rp 37.500.000, berarti ada sisa yang belum dilunasi,
yakni sebesar Rp. 62.500.000. Sesuai konsep modal disetor, seluruh saham yang diambil bagian
oleh A dan B (modal ditempatkan) harus sudah dilunasi pembayarannya. Jadi, sisa Rp.
62.500.000 itu harus sudah dilunasi saat pendirian PT. Ini juga terkait dengan ketentuan tidak
dimungkinkan penyetoran atas saham dengan cara mengangsur. Sehingga sebelum pendirian PT
dilakukan, semua modal yang ditempatkan harus sudah disetor penuh.

2. Apa yang membedakan antara metode firm commitment dan best effort

Jawab:

- Kesanggupan Penuh ((full commitment underwriting)

Bentuk penjamin emisi dengan kesanggupan penuh terjadi apabila penjamin emisi memperkirakan
bahwa penawaran sekuritas mampu diserap secara keseluruhan oleh pasar. Penjamin emisi dengan
kesanggupan penuh adalah bentuk komitmen penjamin emisi untuk meningkatkan diri membeli seluruh
efek dan menawarkannya kepada masyarakat. Emiten memberikan tanggungjawab kepada penjamin
emisi untuk mengambil alih resiko penawaran efek dengan cara memberikan jaminan kepada emiten
bahwa penjamin emisi membeli seluruhnya efek yang ditawarkan dan kemudian menjualnya kembali
kepada masyarakat dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang dibayarkan kepada emiten.
Dengan demikian, kalau sebagian atau seluruh efek tersebut tidak laku terjual, maka resiko sepenuhnya
adalah menjadi beban penjamin emisi

- Kesanggupan terbaik (best efforts commitments)

Dalam komitmen ini, underwriter akan berusaha semaksimal mungkin menjual efek-efek emiten.
Apabila ada efek yang belum habis terjual underwriter tidak wajib membelinya dan oleh karena
itu merek hanya membayar semua efek yang berhasil terjual dan mengembalikan sisanya kepada
emiten
Best Effort Commitment (komitment terbaik). Merupakan komitment dimana jika saham tidak habis
terjual di pasar perdana,maka pihak underwriter dapat mengembalikan nya kepada emiten tanpa
kewajiban untuk membelinya.

3. Jelaskan bagaimana nilai proyek yang akan dibiayai mempengaruhi metode IPO yang akan
dipilih

Jawab:

Penawaran umum perdana / IPO atau adalah suatu peristiwa dimana untuk pertama kalinya suatu
perusahaan menawarkan sahamnya kepada khalayak ramai (public) di pasar modal. Selain
adanya biaya penawaran (footing fees) yang harus ditanggung, sebagian orang masih
menganggap bahwa IPO masih merupakan salah satu cara termudah dan termurah bagi
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana sebagai konsekuensi dari semakin berkembangnya
perusahaan dan meningkatkan kebutuhan dana investasi .

Tujuan IPO
Mengapa suatu perusahaan mau melepas atau menjual sahamnya ke publik/masyarakat? Ada
berbagai macam tujuan perusahaan melakukan IPO, diantaranya adalah:
- Mendapatkan dana murah. Perusahaan bisa mendapatkan dana dari berbagai sumber
misalnya mengeluarkan obligasi, meminjam uang dari bank. Tapi kedua cara tersebut
memiliki kewajiban, yaitu membayar bunga. Sedangkan kalau perusahaan melepas
saham untuk mendapat dana, perusahaan tidak terbebani bunga.
- Kinerja keuangan perusahaan lebih baik. Dengan mendapatkan dana murah tersebut,
perusahaan bisa membayar utang dan memperbaiki laporan keuangannya dengan cepat.
- Potensi pertumbuhan lebih cepat. Perusahaan bisa saja menggunakan dana internat untuk
ekspansi, misalnya untuk membuka cabang. Tetapi jika memiliki dana murah, ekspansi
bisa lebih cepat dan dalam jangka panjang potensi pertumbuhan perusahaan bisa lebih
besar.
- Meningkatkan citra perusahaan. Perusahaan publik akan selalu disorot media. Bila
mampu dikelola dengan baik, sorotan media bisa menjadi alat marketing tidak langsung
bagi perusahaan.
- Meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Dengan go publik, nilai perusahaan
berpeluang jauh meningkat di masa depan seiring dengan kenaikan harga sahamnya. Jika
perusahaan dipersepsi memiliki kinerja yang baik oleh investor, maka peluang kenaikan
saham juga meningkat.

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan underpricing dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

Jawab:

A. Reputasi Underwriter
Underwriter adalah perusahaan yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan
penawaran umum bagi kepentingan emiten, dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa
efek yang terjual. Peran dari underwriter adalah dalam mengurangi ketidakpastian. Dalam
melakukan penawaran saham perdana, untuk mengurangi risiko yang akan dihadapi, maka
emiten akan meminta underwriter untuk menjamin penjualan saham tersebut.

a) Full Commitment
Underwriter sebagai penjamin dengan tipe full commitment ini memberikan jaminan
kepada emiten, bahwa penjamin emisi akan membeli surat berharga yang ditawarkan dan
kemudian menjualnya kembali kepada masyarakat dengan harga yang lebih tinggi
daripada harga yang dibayarkan kepada emiten dengan risiko jika sebagian atau seluruh
efek tersebut tidak laku terjual maka seluruhnya menjad ibeban penjami nemisi.
b) Best Effort
Underwriter sebagai penjamin dengan tipe best effort ini menempatkan para penjamin
emisi hanya berperan sebagai agen dari emiten saja, yaitu dengan menjualkan emisi surat
berharga sebaik – baiknya. Penjamin emisi tipe ini hanya akan membayar sebesar harga
efek yang laku terjual.
c) StandbyCommitment
Underwriter sebagai penjamin emisi dengan tipe standby commitment ini
bertanggungjawab untuk menawarkan dan menjual suatu emisi surat berharga dan
menyanggupi untuk membeli sisa efek yang tidak laku terjual dengan tingkat harga
tertentu sesuai dengan syarat yang dijanjikan.
d) AllorNoneCommitment
Underwriter sebagai penjamin emisi dengan tipe all or none commitment ini, sebelum
menjual efek, sudah memiliki dan membeli efek tersebut sehingga mereka dapat menjual
dengan harga tertentu.Pada umumnya underwriter mempunyai 3 (tiga) fungsi
(Jogiyanto,2000) yaitu:
1) Sebagai pemberi saran kepada perusahaan yang akan melakukan go public (advisory
function)
2) Sebagai penjamin penjualan saham perdana dan bersedia membeli sisa sekuritas yang
tidak terjual(underwritingfunction)

3) Sebagai pemasar saham kepada investor (marketing function). Namun dalam


prakteknya tidak semua underwriter bersedia memberikan jaminan full commitment
(menjamin semua saham akan terjual), tetapi biasanya hanya berani memberikan
jaminan best effort (berusaha sebaik mungkin) untuk menjual saham yang diterbitkan
oleh perusahaan. Dengan adanya reputasi underwriter akan mampu menaikan harga
saham dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus kualitas perusahaan
yang IPO. Reputasi underwriter akan dapat menyakinkan emiten bahwa saham yang
ditawarkan akan laku terjual, karena underwriter akan mengalami kerugian bila saham
yang ditawarkan tidak laku dijual. Reputasi underwriter berpengaruh signifikan
terhadap tinggi rendahnya tingkat underpriced, karena pihak underwriter sangat
berperan dalam penentuan harga saham dipasar perdana dan underwriter yang lebih
tahu keadaan pasar. Semakin tinggi reputasi underwriter maka tingkat underpricing
akan semakin rendah.

B. Reputasi Auditor
Menurut pasal 64 UU No. 8 tahun 1995, auditor berfungsi untuk memberikan pendapat atas
kewajiban laporan keuangan emiten atau calon emiten dan bertanggungjawab atas kewajiban
keuangan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum
sertaperaturanBAPEPAM. Persyaratan yang diharuskan oleh BEJ untuk dipenuhi oleh
perusahaan yang akan melakukan proses go public adalah laporan keuangan perusahaan
calon emiten harus wajar tanpa syarat. Oleh karena itu auditor sebagai pemeriksa laporan
keuangan mempunyai peran yang sangat besar bagi perusahaan calon emiten untuk
menentukan bisa atau tidaknya listing di pasar modal. Dengan menyewa auditor yang
memiliki reputasi tinggi, maka akan memberikan harga penawaran yang paling tinggi. bila
harga penawaran tinggi maka tingkat underpricing emiten akan semakin rendah.

C. UkuranPerusahaan.
Perusahaan yang berskala besar umumnya lebih dikenal masyarakat luas apabila
dibandingkan dengan perusahaan yang ukurannya kecil. Skala atau ukuran perusahaan ini
berpengaruh terhadap tingkat underpriced. Pada umumnya skala atau ukuran perusahaan
menjadi faktor dalam memutuskan untuk membeli saham di bursa efek. Hasil penelitian Kim,
Krinsky, Lee, (1993) menunjukan adanya hubungan yang negatif antara ukuran perusahaan
dengan tingkat underpriced. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan, maka tingkat
underpriced-nya akan semakin rendah.

D. Pertumbuhan Laba
Pertumbuhan laba merupakan proksi yang digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan
perusahaan antara dua periode. Semakin baik tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin baik
posisi perusahaan tersebut mempertahankan posisi ekonominya, baik dalam industri maupun
dalam kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Dalam penelitian ini diduga pertumbuhan laba
berpengaruh terhadap terjadinya underpricing, karena dalam keputusan investasinya diduga
investor akan mempertimbangkan pertumbuhan laba untuk melihat apakah perusahaan bisa
mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan labanya dimasa mendatang. Sehingga
semakin tinggi tingkat pertumbuhan laba maka semakin rendah tingkat Underpricing-nya.

5. Jelaskan hak memesan efek terdahulu (HMETD)

Jawab:

Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Bahasa Inggris: Rights Issue) atau disingkat HMETD
dalam pasar modal Indonesia adalah hak yang diperoleh para pemegang saham yang namanya
telah terdaftar dalam daftar pemegang saham suatu perseroan terbatas untuk menerima
penawaran terlebih dahulu apabila perusahaan sedang menjalani proses emisi atau pengeluaran
saham-saham dari saham simpanan. HMETD ditandai dengan akhiran "-R" pada perdagangan
bursa saham. Sebagai contoh, saham telkom memiliki kode TLKM, dan HMETD-nya adalah
TLKM-R. HMETD dapat diperdagangkan di bursa layaknya sebuah saham pada kurun waktu
tertentu. HMETD juga memiliki batas waktu penebusan sebelum masa berlakunya habis dan
hangus. Tidak menebus HMETD bisa menyebabkan efek dilusi pada portofolio.

Perbedaan mendasar dari rights issue dan private placement adalah tidak adanya hak bagi
pemegang saham lama untuk membeli saham baru yang akan diterbitkan pada private placement.
Jumlah maksimal saham baru yang bisa diterbitkan oleh perusahaan pada aksi private placement
adalah 10% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Sedangkan nilai yang dipakai untuk
menentukan harga dari saham baru adalah harga rata - rata penutupan 25 hari aktif bursa
berturut - turut. Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu adalah hak yang melekat pada saham
yangmemungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli Efek baru, termasuksaham,
Efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum ditawarkankepada Pihak lain.
Hak tersebut wajib dapat dialihkan.Waran adalah Efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan
yang memberi hak kepadapemegang Efek untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada
harga tertentuuntuk jangka waktu 6 (enam) bulan atau lebih sejak diterbitkannya Waran tersebut.
Dalam penerbitan saham perdana, biasanya juga dikutsertakan hak memesan efek terdahulu
(right). Pemegang saham memiliki hak untuk membeli saham (hingga waktu jatuh tempo) pada
harga tertentu (biasanya lebih murah) dengan jumlah tertentu (dijatah).

Anda mungkin juga menyukai