Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK AKUNTANSI BADAN

LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)

Dosen Pengampu Yulinda Devi Pramita, SE., M.Sc.

Disusun oleh:

Moreel Saddini 16.0102.0086

Darmawan Wahyu U 16.0102.0114

Yuni Nur Anisah 16.0102.0116

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

TAHUN PELAJARAN 2019


BLU merupakan instansi di lingkungan pemerintah pusat/daerah yang
mengelola kekayaan negara/daerah yang tidak dipisahkan. Sebagai instansi
pemerintah, BLU menerapkan pernyataan standar ini dalam menyusun laporan
keuangan. BLU adalah entitas pelaporan karena merupakan satuan kerja
pelayanan yang walaupun bukan berbentuk badan hukum yang mengelola
kekayaan negara/daerah yang dipisahkan. Badan Layanan Umum yang
selanjutnya disingkat BLU adalah instansi di lingkungan pemerintah
pusat/pemerintah daerah dan yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Karakteristik BLUD
1. Pendanaan entitas tersebut merupakan bagian dari APBN/APBD.
2. Entitas tersebut dibentuk dengan peraturan perundang-undangan.
3. Pimpinan entitas tersebut adalah pejabat yang diangkat atau ditunjuk.
4. Entitas tersebut membuat pertanggungjawaban baik langsung kepada entitas
akuntansi/entitas pelaporan yang membawahinya dan secara tidak langsung
kepada wakil rakyat sebagai pihak yang menyetujui anggaran.
5. Mempunyai kewenangan dalam pengelolaan keuangan, antara lain
penggunaan pendapatan, pengelolaan kas, investasi, dan pinjaman sesuai
dengan ketentuan.
6. Memberikan jasa layanan kepada masyarakat/pihak ketiga.
7. Mengelola sumber daya yang terpisah dari entitas akuntansi/entitas pelaporan
yang membawahinya.
8. Mempunyai pengaruh signifikan dalam pencapaian program pemerintah
9. Laporan keuangan BLU diaudit dan diberi opini oleh auditor eksternal.
Laporan keuangan BLU merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi
keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh BLU. Tujuan umum
laporan keuangan BLU adalah menyajikan 6 informasi mengenai posisi keuangan,
realisasi anggaran, saldo 7 anggaran lebih, arus kas, hasil operasi, dan perubahan
ekuitas BLU 8 yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan 9
mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan
pelaporan keuangan BLU adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan
atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

A. RENCANA BISNIS DAN ANGGARATAN BADAN LAYANAN UMUM


Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) merupakan konsep
baru dalam pengelolaan keuangan negara. Konsep ini dimaksudkan untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan fleksibilitas pengelolaan
keuangan berdasarkan prinsip ekonomi, produktivitas, dan penerapan praktik
bisnis yang sehat sebagaimana dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2005 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum.

Fleksibilitas yang diberikan antara lain adalah kewenangan untuk mengelola


langsung pendapatan yang dip eroleh dari masyarakat maupun dari hasil kerja
sama atau hibah. Namun pada BLU juga diterapkan sistem pengendalian yang
khusus pada tahap perencanaan dan penganggaran serta pada tahap
pertanggungjawaban. Dalam proses perencanaan dan penganggaran tersebut,
satker BLU menyusun Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) dengan mengacu
kepada Rencana Strategis Bisnis dan disusun berdasarkan kinerja dan perhitungan
akuntansi biaya menurut jenis layanannya serta kebutuhan dan kemampuan
pendapatan yang diperkirakan akan diterima dari masyarakat, badan lain, dan
APBN.

1. Pengertian RBA

RBA-BLU adalah dokumen perencanaan bisnis dan penganggaran yang


berisi program, kegiatan, target kinerja, dan anggaran suatu Satker BLU.RBA
memuat antara lain kondisi kinerja BLU tahun berjalan, asumsi makro dan
mikro, target kinerja (output yang terukur), analisis dan perkiraan biaya per
output dan agregat, perkiraan harga, anggaran, serta prognosa laporan
keuangan. RBA juga memuat prakiraan maju (forward estimate) sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. RBA tersebut disusun
dengan menganut pola anggaran fleksibel (flexible budget) dengan suatu
persentase ambang batas tertentu. RBA merupakan refleksi program dan
kegiatan dari kementerian negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.

2. Penyusunan RBA

BLU menyusun rencana strategis bisnis lima tahunan dengan mengacu


kepada Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga atau Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Rencana strategis bisnis lima
tahunan ini kemudian diturunkan menjadi RBA Tahunan. RBA Tahunan
disusun berdasarkan basis kinerja dan perhitungan akuntansi biaya menurut
jenis layanannya, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan
pendapatan yang diperkirakan akan diterima dari masyarakat, badan lain,
dan APBN/APBD serta disusun dengan menganut pola anggaran fleksibel
(flexible budget) dengan suatu persentase ambang batas tertentu.

Dalam penyusunan RBA biasanya dilakukan dengan metode top down dan
bottom up yang dimulai dari :

 Policy Statement oleh pimpinan;

 Tingkat pusat pertanggungjawaban;

 Komite anggaran yaitu suatu panitia anggaran yang punya tugas untuk
mengarahkan dan mengevaluasi anggaran;

 Tingkat direksi dan dewan pengawas

3. Pengajuan RBA
Setelah RBA disusun, maka langkah selanjutnya adalah pengajuan RBA
sebagai berikut:
 BLU mengajukan RBA kepada menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD
untuk dibahas sebagai bagian dari RKA-KL, rencana kerja dan anggaran
SKPD, atau Rancangan APBD;

 RBA disertai dengan usulan standar pelayanan minimum dan biaya dari
keluaran yang akan dihasilkan.;

 RBA BLU yang telah disetujui oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala


SKPD diajukan kepada Menteri Keuangan/PPKD, sesuai dengan
kewenangannya, sebagai bagian RKA-KL, rencana kerja dan anggaran
SKPD, atau Rancangan APBD;

 Menteri Keuangan/PPKD, sesuai dengan kewenangannya, mengkaji


kembali standar biaya dan anggaran BLU dalam rangka pemrosesan RKA-
KL, rencana kerja dan anggaran SKPD, atau Rancangan APBD sebagai
bagian dari mekanisme pengajuan dan penetapan APBN/APBD;

 BLU menggunakan APBN/APBD yang telah ditetapkan sebagai dasar


penyesuaian terhadap RBA menjadi RBA definitif.

4. Penetapan RBA

 Pengkajian kembali RBA dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran;

 Pengkajian kembali RBA tersebut terutama mencakup standar biaya dan


anggaran BLU, kinerja keuangan BLU, serta besaran persentase ambang
batas;

 Adapun besaran persentase ambang batas ditentukan dengan


mempertimbangkan fluktuasi kegiatan operasional BLU;

 Pengkajian dilakukan dalam rapat pembahasan bersama antara Direktorat


Jenderal Anggaran dengan unit yang berwenang pada
kementerian/lembaga serta BLU yang bersangkutan;

 Hasil kajian atas RBA menjadi dasar dalam rangka pemrosesan RKA-KL
sebagai bagian dari mekanisme pengajuan dan penetapan APBN;
 Setelah APBN ditetapkan, pimpinan BLU melakukan penyesuaian atas
RBA menjadi RBA definitif

B. Akuntansi Pendapatan dan Belanja BLU

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 76 Tahun 2008


tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan
Umum, BLU menerapkan standar akuntansi keuangan yang diterbitkan
oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia sesuai dengan jenis industrinya,
atau mengembangkan standar akuntansi spesifik dengan mengacu pada
pedoman akuntansi BLU sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran PMK
nomor 76 Tahun 2008, tentunya setelah mendapatkan persetujuan Menteri
Keuangan.

Dengan demikian, maka pada umumnya BLU menerapkan SAK


dalam pelaporan keuangannya. SAK menggunakan basis akrual dalam
pengakuan aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan biaya. Artinya
pendapatan diakui pada saat diterima atau hak untuk menagih telah
muncul (sehubungan dengan adanya barang/jasa yang diserahkan kepada
masyarakat). Sedangkan untuk kepentingan konsolidasi dengan laporan
keuangan kementrian/lembaga, perlu dilakukan penyesuaian atas akun
pendapatan dan belanja yang berbasis akrual menjadi akun pendapatan dan
belanja berbasis kas.

Formula penyesuaian pendapatan dan belanja berbasis akrual


menjadi berbasis kas adalah sebagai berikut:

Pendapatan Berbasis Kas = Pendapatan BLU + pendapatan


diterima di muka – pendapatan yang masih harus diterima

Belanja Berbasis Kas = Biaya BLU – Biaya yang dibayar


tidak tunai termasuk Penyusutan + utang biaya yang dibayar + biaya
dibayar di muka
1. Akuntansi Pendapatan

Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang


timbul dari aktivitas BLU selama satu periode yang mengakibatkan
penambahan ekuitas bersih. Pengukuran pendapatan menggunakan azas
bruto, yakni pendapatan dicatat sebesar nilai brutonya, tanpa dikurangi
pembebanan atas perolehan pendapatan tersebut.

a. Klasifikasi Pendapatan BLU


Pendapatan BLU diklasifikasikan ke dalam:

1. Pendapatan Usaha dari Jasa Layanan


Merupakan pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas
barang/jasa yang diserahkan kepada masyarakat. Selanjutnya dirinci
per jenis layanan BLU. Diakui pada saat diterima, atau hak untuk
menagih timbul. Pendapatan ini dicatat sebesar nilai wajar imbalan
yang diterima atau yang dapat diterima.
2. Hibah
Pendapatan yang diterima dari masyarakat/badan lain tanpa ada
kewajiban bagi BLU untuk menyerahkan barang/jasa. Terbagi menjadi
Hibah Terikat dan Hibah Tidak Terikat. Adapun maksud terikat di sini
ialah maksud dan peruntukan atas hibah tersebut telah ditentukan oleh
pemberi hibah. Pendapatan ini diakui pada saat kepemilikan atas
barang berpindah, atau pada saat kas diterima oleh BLU (apabila hibah
berupa uang). Pendapatan ini dicatat sebesar nilai kas (apabila hibah
berupa uang), atau sebesar nilai wajar pada saat perolehan (barang).
3. Pendapatan APBN
Pendapatan yang diterima dari APBN, untuk belanja operasional
(belanja pegawai & belanja barang dan jasa), ataupun belanja investasi
(belanja modal). Pendapatan ini diakui pada saat pengeluaran belanja
dipertanggungjawabkan dengan diterbitkannya SP2D. Pendapatan ini
dicatat sebesar nilai pengeluaran bruto pada belanja pada SPM.
4. Pendapatan Usaha Lainnya
Pendapatan yang berasal dari hasil kerja sama dengan pihak lain,
sewa, jasa lembaga keuangan, dan pendapatan lainnya yang bukan
berasal dari kegiatan utama BLU. Diakui pada saat diterima, atau hak
untuk menagih timbul. Pendapatan ini dicatat sebesar nilai wajar
imbalan yang diterima atau yang dapat diterima.

5. Keuntungan Penjualan Aset Non Lancar

Merupakan selisih harga jual dengan nilai buku aset non lancar.
Pendapatan dari Kejadian Luar Biasa. Merupakan pendapatan yang
timbul di luar kegiatan normal BLU, tidak berulang dan di luar kendali
BLU.

Pendapatan-pendapatan tersebut disajikan secara terpisah pada


laporan keuangan untuk setiap jenis pendapatan, dan rinciannya
diungkapkan pada Catatan Atas Laporan Keuangan.

2. Akuntansi Belanja

Belanja BLU terdiri dari unsur biaya yang sesuai dengan struktur
biaya pada RBA definitif. Pengelolaan belanja BLU diselenggarakan secara
fleksibel berdasarkan kesetaraan antara volume kegiatan pelayanan dengan
jumlah pengeluaran, mengikuti praktik bisnis yang sehat.

Apabila belanja BLU melampaui ambang batas fleksibilitas, maka


BLU dapat mengajukan usulan tambahan dari APBN/APBD kepada Menteri
Keuangan/PPKD melalui menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD, namun
harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan/gubernur/bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.

C. PENGESAHAN PENDAPATAN DAN BELANJA BLU


Azaz yang digunakan dalam mengesahkan pendapatan dan belanja BLU
adalah azaz pertanggungjawaban Pendapatan dan Belanja yang sumber dananya
berasal dari PNBP yang secara langsung digunakan. Pengertian dari pendapatan
BLU sendiri adalah Hak BLU yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih yang telah diterima dalam kas BLU pada periode anggaran yang
bersangkutan. Sedangkan belanja BLU adalah kewajiban BLU yang diakui
sebagai pengurang nilai kekayaan bersih yang telah dibayar dari kas BLU pada
periode anggaran yang bersangkutan.
Alur pengesahan Pendapatan dan belanja BLU

1. mengajukan SP3B BLU KPPN


SATKER
BLUE 2. Menerbitkan SP2B BLU (mengesahkan)

Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja (SP3B) BLU: surat


perintah yang diterbitkan oleh Pejabat Penguji/Penerbit Surat Perintah
Membayar (PP-SPM) untuk dan atas nama Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)
kepada Kuasa Bendahara Umum Negara untuk mengesahkan pendapatan dan
atau belanja BLU yang sumber dananya berasal dari Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) yang digunakan langsung.

1. Sumber dana PNBP


a. Layanan yang diberikan kepada masyarakat
b. Hibah tidak terikat atau hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat
c. Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan hasil usaha lainnya.
d. Pendapatan lainnya yang sah

Surat Pengesahan Pendaptan dan Belanja (SP2D) BLU adalah surat


yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pendaharaan Negara (KPPN) selaku
kepala bendahara umum negara untuk mengesahkan pendaptan dana belanja
BLU berdasarkan SP3D BLU.

2. Penyampaian SP3D BLU


a. Periode penyampaian adalah triwulan
b. Penyampaian dapat dilakukan saru kali/lebih dari satu kali dalam satu
wulan
c. Syarat kelengkapan (rangkap 2)
1) SP3B BLU
2) Surat Pernyataan Tanggungjawab (SPTJ) yang ditandatangani
KPA/Pemimpin BLU;
3) Arsip Data Komputer (ADK) SP3B BLU
3. Ralat SP3D BLU
Ralat SP3D BLU ke KPPN diajukan ketika ada kesalahan terhadap
kesalahan administrasi dan kesalahan pencantuman jumlah nominal
pendapatan atau belanja (mekanisme penyesuaian).
Syarat yang harus dipenuhi ketika mengajukan SP3B BLU:
a. Fotokopi SP3B BLU yang akan diralat;
b. SPTJ yang ditandatangani KPA/Pemimpin BLU;
c. ADK dan hard copy ralat SP3B BLU yang dihasilkan dari aplikasi yang
telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan;
d. Penjelasan penyebab terjadinya kesalahan yang ditandatangani
KPA/Pemimpin BLU;
e. Informasi data supplier (khusus mekanisme penyesuaian)

KPPN menerbitkan ralat SP2B BLU berdasarkan ralat SP3B BLU


setelah melakukan:

a. Pemeriksaan kelengkapan SP2D;


b.Pengujian terhadap ralat SP3B BLU;
c. Pencocokan tanda tangan KPA/Pemimpin BLU dengan spesimen tanda
tangan
D. PELAPORAN KEUANGAN BLU

1. Tujuan Pelaporan Keuangan BLU

Laporan keuangan BLU merupakan laporan yang terstruktur


mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh
BLU. Tujuan umum laporan keuangan BLU adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus
kas, hasil operasi dan perubahan ekuitas BLU yang bermanfaat bagi para
pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi
sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan BLU adalah
untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan
dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya
yang dipercayakan kepadanya, dengan :

a. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi,


1kewajiban, dan ekuitas BLU
b. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya
ekonomi, kewajiban, dan ekuitas BLU.
c. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan
sumber daya ekonomi
d. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap
anggarannya.
e. Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya.
f. Menyediakan informasi mengenai potensi BLU untuk membiayai
penyelenggaraan kegiatan BLU dan.
g. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi
kemampuan dan kemandirian BLU dalam mendanai aktivitasnya.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut laporan keuangan BLU


menyajikan informasi tentang:

a. Asset
b. Kewajiban
c. Ekuitas
d. Pendapatan dan biaya
e. Arus kas
2. Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan
Pimpinan BLU bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian
laporan keuangan BLU yang disertai dengan surat pernyataan tanggung
jawab yang berisikan pernyataan bahwa pengelolaan anggaran telah
dilaksanakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan
akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dengan standar
akuntansi keuangan, serta kebenaran isi laporan keuangan merupakan
tanggung jawab pimpinan BLU.
3. Komponen Laporan Keuangan
Laporan keuangan BLU terdiri dari:
a. Laporan Realisasi Anggaran
b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
c. Neraca
d. Laporan Operasional
e. Laporan Arus Kas
f. Laporan Perubahan Ekuitas
g. Catatan atas Laporan Keuangan
4. Penyajian Laporan Keuangan
Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas
dan menyajikan informasi antara lain mencakup:
a. Nama BLU
b. Cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu unit usaha
atau beberapa unit usaha
c. Tanggal atau periode pelaporan
d. Mata uang pelaporan dalam Rupiah
e. Satuan kerja yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan
5. Penyampaian Laporan Keuangan
Laporan Keuangan BLU disampaikan secara berjenjang kepada
menteri/pimpinan lembaga serta kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur
jenderal Perbendaharaan setiap triwulan, semester, dan tahun. Laporan
Keuangan triwulanan terdiri dari laporan realisasi anggaran/laporan
operasional, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, disertai
laporan kinerja. Laporan Keuangan semesteran dan tahunan terdiri dari
laporan realisasi anggaran/laporan operasional, neraca, laporan arus kas,
dan catatan atas laporan keuangan, disertai laporan kinerja.
Penyampaian Laporan Keuangan BLU dilaksanakan dengan
ketentuan sebagai berikut:

a. laporan triwulanan paling lambat tanggal 15 setelah triwulan berakhir;


b. laporan semesteran paling lambat tanggal 10 setelah semester berakhir;
c. laporan tahunan paling lambat tanggal 20 setelah tahun berakhir
Dalam hal tanggal penyampaian Laporan Keuangan BLU jatuh
pada hari libur, penyampaian Laporan Keuangan paling lambat
dilaksanakan pada hari kerja berikutnya.
6. Konsolidasi Laporan Keuangan
Laporan Keuangan BLU merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Laporan Keuangan kementerian negara/lembaga. Dalam rangka
konsolidasi Laporan Keuangan BLU dengan Laporan Keuangan,
kementerian negara/lembaga, BLU menyampaikan Laporan Keuangan
sesuai dengan SAP setiap Semester dan tahun. Laporan Keuangan tersebut
terdiri dari LRA, neraca, dan catatan atas Laporan Keuangan sesuai
dengan SAP dilampiri dengan Laporan Keuangan yang sesuai dengan
SAK/ standar akuntansi industri spesifik.
BLU membuat Laporan Keuangan berdasarkan Standar Akuntansi
Keuangan (SAK). BLU merupakan satker kementerian/lembaga, oleh
karena itu laporan keuangan BLU dikonsolidasikan dengan laporan
keuangan kementerian/lembaga. Konsolidasi laporan keuangan dapat
dilakukan jika digunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama. BLU
menggunakan SAK sedangkan laporan keuangan kementerian
negara/lembaga menggunakan SAP, karena itu BLU mengembangkan sub
sistem akuntansi yang mampu menghasilkan laporan keuangan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut.
Komponen Laporan Keuangan BLU yang dikonsolidasikan ke dalam
laporan keuangan kementerian negara/lembaga meliputi:
a. Laporan Realisasi Anggaran /Laporan Operasional
b. Neraca

Sistem akuntansi BLU memproses semua pendapatan dan belanja


meliputi pendapatan yang bersumber dari pendapatan usaha dari jasa
layanan, hibah, penerimaan APBN, dan pendapatan usaha lainnya,
sehingga laporan keuangan yang dihasilkan sistem akuntansi tersebut
mencakup seluruh transaksi keuangan pada BLU:

a. Transaksi keuangan BLU yang bersumber dari pendapatan usaha dan jasa
layanan, hibah, penerimaan APBN, dan pendapatan usaha lainnya wajib
dilaporkan dalam Realisasi Anggaran kementrian negara/lembaga dan
pemerintah. Oleh karena itu transaksi tersebut harus disahkan oleh KPPN
dengan mekanisme SPM dan SP2D setiap triwulan. Dengan demikian
pelaksanaan system akuntansi instansi di BLU juga dilakukan secara
kumulatif setiap triwulan. BLU dilakukan rekonsiliasi atas pendaptan dan
belanja dengan KPPN setiap triwulan.
b. Pos-pos neraca terdiri dari asset,kewajiban dan ekuitas juga
dikonsolidasikan ke neraca kementrian negara/lembaga.

Dalam rangka menyiapkan laporan keuangan untuk tujuan


konsolidasi, sistem akuntansi BLU juga harus menghasilkan data
elektronis berupa file Buku Besar/Arsip Data Komputer (ADK) yang
dapat digabungkan oleh UAPPA-E1/UAPA dengan menggunakan aplikasi
Sistem Akuntansi Instansi (SAI) tingkat Eselon I atau kementerian
negara/lembaga. Dengan demikian laporan keuangan yang dihasilkan pada
tingkat Eselon I atau kementerian/ lembaga telah mencakup laporan
keuangan BLU.

Dalam hal sistem akuntansi keuangan BLU belum dapat


menghasilkan laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi dengan laporan
keuangan kementerian/lembaga, BLU perlu melakukan konversi laporan
keuangan berdasarkan SAK ke dalam laporan keuangan berdasarkan SAP.
Proses konversinya mencakup pengertian, klasifikasi, pengakuan,
pengukuran, dan pengungkapan atas akun-akun neraca dan laporan
aktivitas/operasi.
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 Jo Peraturan Pemerintah


Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum;

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2012 tentang


Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 44/PMK.05/2009 tentang Rencana


Bisnis & Anggaran serta Pelaksanaan Anggaran BLU jo. Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2011;

Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER 55/PB/2011 tentang Tata


Cara Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran Definitif dan Revisi Daftar
Isian Pelaksanaan Anggaran BLU;

Peraturan Menteri Keuangan nomor 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman


Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum;

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER- 9 /PB/2011


tentang Mekanisme Pengesahan Pendapatan dan Belanja Satuan Kerja
Badan Layanan Umum;

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER- 2 /PB/2015


tentang Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
Nomor PER- 9 /PB/2011 tentang Mekanisme Pengesahan Pendapatan
dan Belanja Satuan Kerja Badan Layanan Umum