Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

HUKUM ASURANSI
BPJS
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hukum Asuransi
Dosen Pengampu: Dr. Agus Prihartono PS., SH., MH.

Oleh

Mochamad Aldiansyah Putra A

(1111160191)

VI D

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA


FAKULTAS HUKUM - ILMU HUKUM
2018
1. Sejarah BPJS

BPJS Kesehatan sebenarnya bukan lembaga baru. BUMN ini sudah


dibentuk sejak tahun 1968 meski dengan nama yang berbeda. Di awal
pembentukannya, BPJS Kesehatan bernama Badan Penyelenggaraan Dana
Pemeliharaan Kesehatan atau (BPDPK). Lembaga ini merupakan kebijakan
pemerintah era Soeharto untuk mengatur pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai
Negeri Sipil, Penerima Pensiun (PNS dan ABRI) dan keluarga mereka dengan
batasan tertentu. Menteri Kesehatan Indonesia Prof. Dr. G.A. Siwabessy yang kala
itu menjabat menjadi orang pertama yang mengelola program besar kesehatan
Indonesia ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 230, Tahun 1968.

Setelah berjalan kurang lebih 16 tahun, BPDPK yang awalnya hanya


merupakan badan penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum Husada
Bhakti. Perusahaan ini dibentuk oleh pemerintah pada tahun 1984 berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 22 dan 23 Tahun 1984. Fungsi dari perusahaan baru
ini adalah untuk meningkatkan program jaminan dan pemeliharaan kesehatan bagi
para peserta yang terdiri dari PNS, TNI/POLRI, pensiunan, dan keluarga dari
peserta mulai dari istri/suami serta anak.

Pada tahun 1991 atau selepas 7 tahun berdiri sebagai sebuah perusahaan,
BPDPK akhirnya diberi izin untuk memperluas jangkauan pesertanya. Jika
awalnya yang dijamin hanyalah PNS, TNI/POLRI, pensiunan dan keluarganya,
maka berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991, BPDPK bisa
menyasar badan usaha lain beserta anggota keluargaya. Artinya pihak-pihak
swasta bisa masuk ke dalam jangkauan BPDPK dengan membayar sebuah iuran
tertentu setiap bulannya.

Setelah menjadi Perusahaan Umum Husada Bahkti selama kurang lebih 8


tahun, BPDPK resmi diubah menjadi Perusahaan Perseroan atau PT Persero.
Keputusan ini diambil untuk menindaklanjuti Peraturan Pemerintah Nomor 6
Tahun 1992. Pengambilan keputusan ini didasarkan pada pertimbangan
fleksibilitas pengelolaan keuangan. Akhirnya, dibuatlah sebuah perusahaan yang
lebih mandiri agar bisa melaksanakan fungsinya dengan jauh lebih baik. Setelah
menjadi Persero, nama BPDPK pun diubah menjadi Askes atau Asuransi
Kesehatan.

PT Askes Persero bekerja secara mandiri untuk mengurusi


penyelenggaraan jaminan kesehatan khusus bagi warga-warga yang bekerja
kepada pemerintah hingga tahun 2005. Pemerintah akhirnya menerbitkan sebuah
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 124/MENKES/SK/XI/2001 dan Nomor
56/MENKES/SK/I/2005 untuk mengubah sistem kerja PT Askes agar menjamin
juga keluarga miskin yang tidak masuk dalam golongan Abdi Negara. PT. Askes
akhirnya menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin.

Dasar dari penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin atau


Akseskin adalah UUD 1945, UU Nomor 23/1992 tentang kesehatan, UU Nomor
40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dan yang terakhir
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 124 tahun 2014 serta Nomor 56 tahun
2005.

Berdasarkan Undang-Undang dan Keputusan Menteri yang telah


disebutkan di atas. Penyelenggaraan dari Askeskin ini harus mengacu pada
beberapa prinsip pelaksanaan yang meliputi:

• Diselenggarakan di seluruh Indonesia secara serentak dengan menganut asas


gotong royong. Artinya, diharapkan akan ada subsidi silang antara yang kaya dan
yang miskin.

• Acuan Pelaksanaan Askeskin adalah prinsip Asuransi Kesehatan Sosial.

• Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang dan terstruktur dengan


prinsip managed care.

• Penyelenggaraan Program Askeskin dengan prinsip nirlaba.


• Prinsip kerja dari Askeskin menjamin adanya ekuitas dan protabilitas dalam
pelayanan kepada para peserta.

• Adanya transparansi dan akuntabilitas yang terjamin dengan prinsip efisiensi,


kehati-hatian, dan efektivitas.

Perjalanan dari PT Askes Persero akhirnya dilanjutkan lagi dengan


perombakan yang lebih matang di tahun 2014. Pemerintah Indonesia membuat
sebuah BUMN bernama BPJS Kesehatan yang bekerja secara menyeluruh untuk
menjamin semua masyarakat di Indonesia tanpa terkecuali. Semuanya bahu-
membahu dalam pembayaran kesehatan hingga terjadi subsidi silang yang baik
dan terstruktur.

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Indonesia sudah berlangsung sejak


zaman kolonial Belanda. Pelayanan kesehatan dilanjutkan setelah zaman
kemerdekaan Indonesia. Setelah mendapat pengakuan kedaulatan oleh Pemerintah
Belanda, Pemerintah Indonesia melanjutkan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat, khususnya bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) beserta keluarga.
Menteri Kesehatan Prof. G.A. Siwabessy periode 1966-1978, mengajukan sebuah
gagasan untuk menyelenggarakan Program Asuransi Kesehatan, karena program
ini mulai diberlakukan di sejumlah negara maju. Programnya berkembang dengan
pesat.

Pada saat penerapan Program Asuransi Kesehatan, penerima manfaat dari


program ini masih terbatas bagi PNS beserta anggota keluarga. Namun Prof. G.A.
Siwabessy sudah yakin, kelak suatu saat, Program Asuransi Kesehatan bisa
dinikmati seluruh masyarakat Indonesia ini demi terjaminnya pelayanan
kesehatan. Sejarah BPJS Kesehatan mencakup 4 (empat) periode .

1) 1968 - Pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan


(PMK) Nomor 1 Tahun 1968 dengan membentuk Badan Penyelenggara
Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK). Badan ini mengatur
pemeliharaan kesehatan bagi pegawai negara (PNS) dan penerima pensiun
beserta keluarganya.

2) 1984 - Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 dan 23


Tahun 1984. BPDPK berubah status dari sebuah badan di lingkungan
Departemen Kesehatan menjadi BUMN, yaitu Perum Husada Bhakti
(PHB). Tugas PHB adalah melayani jaminan kesehatan bagi PNS,
pensiunan PNS, veteran, perintis kemerdekaan, dan anggota keluarganya.

3) 1992 - PHB berubah status menjadi PT Askes (Persero) melalui Peraturan


Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992. PT Askes (Persero) mulai menjangkau
karyawan BUMN melalui Program Askes Komersial. Pada Januari 2005,
PT Askes (Persero) dipercaya pemerintah untuk melaksanakan Program
Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin (PJKMM). Program ini
kemudian dikenal menjadi Program Askeskin dengan sasaran peserta
masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak 60 juta jiwa. Pemerintah
Pusat menanggung biaya iuran. PT Askes (Persero) juga menciptakan
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum (PJKMU), yang ditujukan
bagi masyarakat yang belum dilayani oleh Jamkesmas, Askes Sosial,
maupun asuransi swasta. PJKMU adalah Jaminan Kesehatan Daerah
(Jamkesda) dengan pengelolaan diserahkan kepada PT Askes (Persero).
Pada periode tersebut, tercatat sebanyak 6,4 juta jiwa yang berasal dari 200
kabupaten/kota telah menjadi Peserta PJKMU.

4) 2014 - Pada tanggal 1 Januari 2014, BPJS Kesehatan mulai resmi


beroperasi. Hal ini berawal pada tahun 2004 saat pemerintah
mengeluarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pada tahun 2011, pemerintah
menetapkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) serta menunjuk PT Askes (Persero)
sebagai penyelenggara program jaminan sosial di bidang kesehatan.
Sehingga PT Askes (Persero) berubah menjadi BPJS Kesehatan.

2. BPJS Menjadi Asuransi Nasional

BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan)


merupakan Badan Hukum Publik yang bertanggung jawab langsung kepada
Presiden dan memiliki tugas untuk menyelenggarakan jaminan Kesehatan
Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk Pegawai Negeri Sipil,
Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta
keluarganya dan Badan Usaha lainnya ataupun rakyat biasa.

BPJS Kesehatan merupakan penyelenggara program jaminan sosial di


bidang kesehatan yang merupakan salah satu dari lima program dalam Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yaitu Jaminan Kesehatan, Jaminan Kecelakaan
Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian sebagaimana
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional.

BPJS Kesehatan bersama BPJS Ketenagakerjaan (dahulu bernama


Jamsostek ) merupakan program pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) yang diresmikan pada tanggal 31 Desember 2013. Untuk BPJS
Kesehatan mulai beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2014, sedangkan BPJS
Ketenagakerjaan mulai beroperasi sejak 1 Juli 2014.

BPJS Kesehatan juga menjalankan fungsi pemerintahan (governing


function) di bidang pelayanan umum (public services) yang sebelumnya sebagian
dijalankan oleh badan usaha milik negara dan sebagian lainnya oleh lembaga
pemerintahan. Gabungan antara kedua fungsi badan usaha dan fungsi
pemerintahan itulah, yang dewasa ini, tercermin dalam status BPJS Kesehatan
sebagai badan hukum publik yang menjalankan fungsi pelayanan umum di bidang
penyelenggaraan jaminan sosial nasional.
BPJS Kesehatan juga dibentuk dengan modal awal dibiayai dari APBN
dan selanjutnya memiliki kekayaan tersendiri yang meliputi aset BPJS Kesehatan
dan aset dana jaminan sosial dari sumber-sumber sebagaimana ditentukan dalam
undang-undang. Kewenangan BPJS Kesehatan meliputi seluruh wilayah Republik
Indonesia dan dapat mewakili Indonesia atas nama negara dalam hubungan
dengan badan-badan Internasional. Kewenangan ini merupakan karakteristik
tersendiri yang berbeda dengan badan hukum maupun lembaga negara lainnya.
Maka dari itu, BPJS Kesehatan merupakan salah satu bentuk Badan Hukum Milik
Negara (BHMN), sehingga pelaksanaan tugasnya dipertanggungjawabkan kepada
Presiden sebagai kepala pemerintahan negara.

BPJS Kesehatan sebelumnya bernama Askes (Asuransi Kesehatan), yang


dikelola oleh PT Askes Indonesia (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011
tentang BPJS, PT. Askes Indonesia berubah menjadi BPJS Kesehatan sejak
tanggal 1 Januari 2014
3. Kelebihan dan Kekurangan BPJS

a. Kelebihan BPJS Kesehatan

 Murah
Kelebihan pertama dari BPJS Kesehatan adalah biaya atau iuran yang
murah meriah. Meskipun murah, layanan yang bisa didapat peserta
dianggap tidak murahan. Biaya atau iuran pada BPJS Kesehatan ini
memang terbilang murah. Bagaimana tidak, hanya dengan premi per-
bulan, untuk kelas 1 sebesar Rp59 ribu, kelas 2 sebesar Rp49.500, dan
kelas 3 sebesar Rp25.000, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan atau
perlindungan kesehatan dari pemeriksaan, rawat inap, pembedahan, obat
dan lain sebagainya secara cuma-cuma. Dari berita dan kabar yang ada,
bahkan cuci darah dan biaya persalinan bisa didapat oleh peserta dengan
gratis.

 Wajib
BPJS Kesehatan yang diselenggarakan langsung dari pemerintah atau
negara ini memang sebuah program yang diwajibkan kepada seluruh
masyarakat Indonesia. Kenapa wajib? Hal ini dikarenakan ada Undang-
Undang dan peraturan pemerintah yang mengatur kewajiban ini. Secara
lebih lanjut, artinya jika seseorang ikut asuransi swasta maka Anda juga
diharuskan juga mendaftar asuransi BPJS kesehatan.

 Tanpa Medical Check Up

Apabila Anda mendaftar pada asuransi kesehatan swasta, maka Anda akan
dikenai medical check up terlebih dahulu. Dan bila Anda terkena penyakit
kritis dan sudah berumur di atas 40 tahun, maka premi Anda akan menjadi
semakin mahal. Kemungkinan terburuk seperti pengajuan polis yang
ditolak juga sangat mungkin terjadi. Namun, bila Anda mendaftar BPJS, di
umur berapa pun Anda boleh mendaftar dan tanpa adanya medical check
up bahkan bayi yang masih dalam kandungan saja bisa di daftarkan.
 Dijamin Seumur Hidup

Sepertinya hanya BPJS yang berani menanggung proteksi peserta hingga


seumur hidup. Dalam pengamatan sejauh ini, diketahui asuransi swasta
hanya bisa melindungi pesertanya maksimal pada usia 100 tahun, itupun
belum ada orang yang memberikan testimoni atau kabar ada asuransi yang
berani menanggung hingga umur 100 tahun tersebut.

 Tidak Ada Pengecualian

Terakhir, kelebihan BPJS Kesehatan adalah tidak adanya pengecualian.


Dalam pendaftaran asuransi swasta, seseorang yang sudah terkena
penyakit kronis memang bisa saja akan mengalami penolakan. Kalaupun
diterima, premi yang dibebankan akan mahal atau bahkan polis bisa
ditolak kalau muncul kebohongan. Klaim dana juga bisa jadi sangat sulit
ketika Anda dianggap melakukan pembohongan saat mendaftar. Nah, di
BPJS Anda bisa mendaftar tanpa ada ditanyakan penyakit yang telah
diderita oleh peserta.

b. Kekurangan BPJS Kesehatan

Disamping kelebihan-kelebihan BPJS Kesehatan yang telah dibahas


sebelumnya, BPJS juga menyimpan beberapa kekurangan yang bisa mungkin
dikarenakan sistemnya yang masih baru dan masih diperbaiki terus menerus.
Berikut beberapa kekurangan yang ada pada layanan kesehatan BPJS Kesehatan
tersebut:

 Metode Berjenjang

Kekurangan pertama dari BPJS Kesehatan adalah adanya metode


berjenjang saat melakukan klaim. Di BPJS, di luar keadaan darurat,
peserta memang diharuskan memeriksakan penyakitnya ke faskes 1
terlebih dahulu. Faskes 1 ini sendiri berupa puskesmas atau klinik. Setelah
dari di faskes 1 dan pasien memang dirasa harus ke rumah sakit, maka
pasien atau peserta BPJS baru bisa ke rumah sakit yang bekerja sama
dengan BPJS. Namun di asuransi lain, Anda bisa langsung memeriksakan
sakit ke rumah sakit yang sudah bekerja sama.

 Hanya Indonesia

Layanan kesehatan BPJS memang hanya bisa melindungi diri di wilayah


Indonesia saja. Berbeda dengan asuransi swasta yang bisa memproteksi
kesehatan pesertanya di rumah sakit yang bekerja sama hingga di seluruh
dunia.

 Antri Sana Sini

Untuk Anda yang akan mendaftar atau akan melakukan pengubahan data
di kantor BPJS, maka Anda harus bersiap dengan antrian yang panjang.
Tidak hanya dalam hal mendaftar dan melakukan perubahan data, ketika
peserta juga akan berobat ke rumah sakit, maka antrian panjang juga harus
dihadapi peserta.

 Jarang Mendapatkan Kelas 1

Terakhir, kekurangan BPJS Kesehatan adalah tidak adanya kesempatan


untuk mendapat fasilitas kelas 1. Meskipun peserta telah mendaftar pada
kelas 1 dan 2 namun pada kenyataan di lapangan memang terjadi hal yang
tidak sesuai. Mereka para peserta BPJS Kesehatan ini sering mendapat
fasilitas kelas 3
4. Pendapat Pribadi Tentang BPJS

BPJS adalah salah satu asuransi kesehatan yang ditujukan khusus untuk
masyarakat ekonomi lemah. Fungsinya hanya sebagai jaring keamanan sosial. Jadi
minimal sudah ada jaminan kesehatan bila sedang sakit, yang memang merupakan
suatu resiko kehidupan.

Dari sisi finansial dan ekonomi, BPJS telah memiliki manfaat yang luar
biasa dengan pertimbangan di bawah ini:

 Biaya premi yang terjangkau


 Pembayaran manfaat sesuai tagihan
 Tanpa adanya filtrasi penyakit kritis.

Mari kita bandingkan

 Asuransi Kesehatan swasta dengan manfaat jaminan rawat inap sesuai


tagihan Rumah Sakit akan menagih anda dengan Premi puluhan juta
Rupiah per tahun, sementara BPJS hanya menagih anda jutaan rupiah per
tahun. Dari sisi premi, BPJS lebih ekonomis dibandingkan Asuransi
Kesehatan.
 Dari sisi keanggotaan, Asuransi Kesehatan swasta hanya mau menerima
mereka yang memiliki fisik sehat dan belum memiliki riwayat sakit
penyakit kritis apapun, sementara BPJS menerima siapapun sekalipun
telah memiliki riwayat sakit penyakit kritis.

Keunggulan BPJS di atas justru membawa efek samping bagi BPJS. Klaim
yang berbelit dan membutuhkan banyak berkas serta antrian yang panjang seakan
mencoreng 2 poin manfaat diatas.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka saya akan menyarankan bagi anda


yang memiliki dana berlebih, ada baiknya untuk memiliki Asuransi Kesehatan
pribadi dibandingkan harus mengandalkan BPJS.
Namun baru-baru ini BPJS kembali diperkirakan akan mengalami defisit
di tahun 2018. Sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat
dan memberikan manfaat besar, BPJS harus berdiri kokoh secara finansial entah
bagaimanapun caranya.

Pemerintah cenderung agak pelit, untuk program BPJS.

 Ada yang namanya GDP, PDB (pendapatan domestik bruto) alias


produktivitas sebuah negara.
 Negara kita memiliki PDB 12.000 Triliun.
 Tetapi dana untuk BPJS hanya 100 Triliun tidak sampai. Bahkan hanya 84
Triliun.
 Secara total health expenditure kita hanya 3–4% saja.
 Jauh dibawah negara lain yang diantara 10–20%.

Seharusnya dana untuk BPJS untuk 250 juta rakyat itu ya 5% dari GDP
sekitar 500 Triliun paling tidak. Yah kalau ga bisa ya 2% deh. Daripada saat ini
hanya 1% ga sampai untuk 200 jutaan rakyat. Itupun masih hutang-hutang.

Kalau ingin rakyat sehat, jangan pelit. Dan tolong hitung dengan jujur.
Jangan cuma bilang 100 T uang yang banyak.

BPJS konsepnya bagus, namun pemerintah perlu melakukan:

 standarisasi pelayanan BPJS di semua rumah sakit di Indonesia


 mengkaji ulang kesiapan setiap rumah sakit untuk menerima pasien BPJS
 mencari solusi antrian yang tidak manusiawi di rumah sakit
 menindaktegas rumah sakit yang tidak memberikan pelayanan sesuai
ketentuan. Ingat, ini masalah nyawa. Nyawa orang kok buat coba-coba?
 melakukan pengawasan melekat dan sidak ke rumah sakit agar tahu
langsung masalah yang terjadi di lapangan, dan hanya menghitung premi
masuk tiap bulannya di balik meja
Maksud dan tujuan BPJS sudah sangat baik. Saya sendiri hampir tidak
percaya bahwa Indonesia bisa punya program universal healthcare secepat ini, jadi
saya sangat menghargai upaya negara yang ingin menjadikan layanan kesehatan
bisa diakses oleh semua elemen masyarakat.

Mengenai pelaksanannya tentu masih banyak yang harus diperbaiki, dan


sudah jadi tugas kita sebagai warga negara untuk membayar iuran bpjs tepat
waktu dan memberikan feedback yang terus menerus, agar program ini bisa
berjalan dengan lebih baik lagi.

Saya berharap BPJS akan dicintai semua orang sebagaimana dulu ASKES
dicintai keluarga pegawai negeri.