Anda di halaman 1dari 18

MODUL 1

SKENARIO 1: Stop BABS

Dokter Tesa adalah pimpinan Puskesmas Batu Hijau yang sedang bersiap menuju Kantor
Kecamatan. Hari ini akan ada pertemuan dengan pihak kecamatan dan jajaran Lurah, RW serta
RT sekecamatan untuk menyikapi instruksi Bupati tentang Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM). Pelaksanaan STBM difokuskan kepada pilar 1, yaitu Stop Buang Air Besar
Sembarangan (BABS) untuk mendukung pencapaian target RPJMN yaitu universal access 2019.
Target ini pada akhir tahun 2019 harus mencapai 100% desa/kelurahan melaksanakan STBM,
dan 50% desa/kelurahan STBM harus mencapai open defecation-free (ODF) yang terverifikasi.

Pagi ini sebelum dokter Tesa dan pemegang program Kesehatan Lingkungan berangkat
ke kantor kecamatan, ada dua orang balita yang dibawa ke puskesmas dengan diare dan dehidrasi
berat. Kasus diare di wilayah tersebut memang tinggi, dengan laporan tiga bulan yang lalu
terdapat 33% kasus dan bulan ini meningkat menjadi 56%. Hal ini dimungkinkan dari perilaku
masyarakat yang BABS, seperti di kolam, sungai dan kebun.

Data 10 penyakit terbanyak di puskesmas juga didominasi oleh penyakit berbasis


lingkungan seperti ISPA, diare dan penyakit kulit. Bahkan sudah terjadi kejadian luar biasa
(KLB) DBD pada setahun yang lalu. Kondisi ini terkait dengan kurang diperhatikannya faktor
risiko oleh masyarakat seperti pengelolaan sampah, saluran limbah cair, jamban, penggunaan air
bersih, ventilasi rumah, dll. yang masih belum sesuai dengan persyaratan kesehatan. Dokter Tesa
berharap agar pertemuan ini memperoleh dukungan dari semua pihak untuk kesuksesan upaya
STBM yang dilaksanakan oleh puskesmas.

Bagaimana anda menjelaskan hubungan berbagai faktor risiko lingkungan di atas dengan
penyakit, upaya pencegahannya beserta peraturan perundang-undangan pengelolaan lingkungan?

STEP 1

Terminologi

1. Puskesmas : organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat


yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh
masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh
pemerintah dan masyarakat. Jenis pelayanan di puskesmas berupa preventif, promotif,
kuratif dan rehabilitatif.

2. Dokter : Menurut KBBI, Dokter adalah seseorang yang ahli dalam hal penyakit dan
pengobatan serta dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Dalam Undang-

1
Undang Praktik Kedokteran tertuang juga tentang pengertian dokter. Dokter dan dokter
gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis lulusan
pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang
diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

3. STBM : Menurut Kementrian Kesehatan RI merupakan kondisi yang menempatkan


masyarakat sebagai pengambil keputusan dan penanggungjawab dalam rangka
menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat untuk memecahkan berbagai persoalan
terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian, kesejahteraan, serta menjamin
keberlanjutannya. satu Program Nasional di Indonesia di bidang sanitasi yang bersifat
lintas sektoral. Program ini telah dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri
Kesehatan RI. STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan
sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.

4. BABS (Buang Air Besar Sembarangan) : suatu tindakan membuang kotoran atau tinja di
ladang, hutan, semak – semak, sungai, pantai atau area terbuka lainnya dan dibiarkan
menyebar mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara dan air.

5. RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) : Dokumen perencanaan


untuk periode 5 (lima) tahun. Pada saat ini berlaku RPJMN III yang berlangsung pada
tahun 2015-2019.

6. Universal access 2019 : Ini dimaknai bahwa 100% masyarakat mendapatkan layanan air
minum dan sanitasi yang layak. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang 17 tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPN) 2005-2025. RPJPN
mengamanatkan pada akhir periode RPJM 20015-2019 layanan dasar air minum dan
sanitasi dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

7. Open defecation free (ODF) : kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak
buang air besar sembarangan, Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat
berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan, sehingga untuk memutuskan
rantai penularan ini harus dilakukan rekayasa pada akses ini. Agar usaha tersebut
berhasil, akses masyarakat pada jamban (sehat) harus mencapai 100% pada seluruh
komunitas.

8. Kesehatan lingkungan : Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan


lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Menurut HAKLI
(Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) kesehatan lingkungan adalah suatu

2
kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara
manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang
sehat dan bahagia.

9. Balita : Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagaiBalita merupakan salah satu
periode usia manusia setelah bayi dengan rentang usia dimulai dari dua sampai dengan
lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan .Bawah Lima
Tahun atau sering disingkat sebagai balita merupakan salah satu periode usia manusia
setelah bayi dengan rentang usia dimulai dari dua sampai dengan lima tahun, atau biasa
digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan.

10. Diare : Menurut WHO diare adalah buang air besar dengan konsistensi cair (mencret)
dengan frekuensi 3 kali sehari atau lebih dalam sehari (24 jam).

11. Dehidrasi Berat : Dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan
daripada yang didapatkan, sehingga keseimbangan zat gula dan garam menjadi
terganggu, akibatnya tubuh tidak dapat berfungsi secara normal. Pada kasus dengan
dehidrasi berat, gejala dan tanda yang dapat timbul berupa: rasa haus yang ekstrim atau
bahkan menjadi malas minum, lekas marah dan kebingungan, mulut sangat kering, kulit
kering dengan turgor yang sangat lamban, sedikit atau tidak berkemih sama sekali, warna
urine lebih gelap dan pekat dari biasanya, mata cekung, tekanan darah yang rendah, laju
denyut jantung dan nadi meningkat, nafas cepat, demam, dan dalam kasus yang paling
serius menjadi delirium atau tidak sadarkan diri. Pada anak dan bayi gejala dan tanda
berikut juga dapat ditemukan: cenderung lebih tidak aktif dari biasanya, mengantuk, ubun
– ubun yang cekung, serta tidak ada air mata saat menangis.

12. Prilaku masyarakat : sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi
oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.

13. ISPA : Infeksi saluran pernafasan atas atau Upper respiratory tract infections adalah
infeksi pada rongga hidung, sinus dan tenggoroka biasanya terjadi dalam waktu 2
minggu.

14. Penyakit berbasis lingkungan : suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau
morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala
sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi penyakit.

15. Penyakit kulit : sebuah penyakit yang dikhususkan pada dermatologi yang berkaitan
dengan sanitasi dan hygine.

3
16. Kejadian Luar Biasa : Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai
timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara
epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

17. DBD : Demam Berdarah Dengue (DBD) atau dalam bahasa asing dinamakan Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus
(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus
dan Aedes Aegepty). Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic
Fever (DHF). DHF/DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti yang betina (Suriadi : 2001). Demam dengue adalah penyakit yang terdapat pada
anak-anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya
memburuk setelah dua hari pertama terinfeksi virus (Arif Mansjur : 2001)

18. Faktor risiko : hal-hal atau variabel yang terkait dengan peningkatan suatu resiko dalam
hal ini penyakit tertentu.

19. Pengelolaan sampah : pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, daur ulang, atau


pembuangan dari material sampah.

20. Saluran limbah cair : saluran untuk menyalurkan limbah cair yang dapat berupa limbah
rumah tangga atau limbah industri yang akan dialirkan ke tempat penampungan.

21. Jamban : suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang
terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa
(cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran air untuk
membersihkannya.

22. Air bersih : salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa
dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka
sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi.

23. Ventilasi rumah : Ventilasi adalah bagian dari rumah yang berfungsi sebagai saluran
udara dimana udara dapat mengalir dengan baik dari dan ke dalam rumah. Dengan
demikian, udara yang ada di dalam rumah akan tergantikan secara terus menerus oleh
udara dari luar melalui ventilasi tersebut.

4
24. Persyaratan kesehatan : persyaratan air, udara, limbah, pencahayaan, kebisingan,
getaran, radiasi, vektor penyakit, persyaratan kesehatan lokasi, ruang dan bangunan, toilet
dan instalasi.

25. Kecamatan : sebuah pembagian wilayah administratif negara Indonesia di bawah


Kabupaten atau Kota yang dipimpin oleh camat.

STEP 2
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa tujuan STBM?
2. Apa pilar STBM?
3. Apa target RPJMN di bidang kesehatan?
4. Bagaimana cara melakukan BAB yang benar?
5. MengapaSTBM di fokuskan pada pilar 1?
6. Mengapa dokter mengadakan STBM?
7. Apa indiKator keberhasilan stbm?
8. Apa saja rpjmn selain universal access 2019?
9. Mengapa bisa terjadi peningkatan pelaporan kasus diare?
10. Apa penyebab balita diare dan dehidrasi?
11. Kapan suatu daerah dikatakan KLB ?
12. Apa saja penyakit yang bias disebabkan oleh factor risiko lingkungan diatas?
13. Mengapa 10 penyakit di puskesmas berbasis lingkungan ?
14. Apa saja penyakit yang dapat ditimbulkan dalam lingkungan tersebut?
15. Bagaimana tindakan preventif terhadap penyakit tersebut ?
16. Apa saja aturan perundang undangan ?
17. Mengapa dokter berharap program didukung oleh semua pihak dan pihak apa saja yang
terkait?

STEP 3
BRAINSTORMING
1. Apa tujuan STBM?
Tujuan penyelenggaraan STBM adalah untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang
higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya. Diharapkan pada tahun 2025, Indonesia bisa mencapai sanitasi total
untuk seluruh masyarakat, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) Indonesia.

2. Apa pilar STBM?

5
Terdapat lima pilar
Upaya sanitasi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3
Tahun 2014 yang disebut Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yaitu
meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS), Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan
Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengamanan Sampah Rumah Tangga dan
Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (Kemenkes RI, 2014).

3. Apa target RPJMN di bidang kesehatan?

4. Mengapa STBM di fokuskan pada pilar 1?


Fokus pertama dilakukan pada Stop BABS karena pilar tersebut berfungsi sebagai
pintu masuk menuju sanitasi total serta merupakan upaya untuk memutus rantai kontaminasi
kotoran manusia terhadap air baku minum, makanan, dan lainnya (Ditjen PP dan PL, 2011).

5. Mengapa dokter mengadakan STBM?


di Puskesmas, terdapat subbagian tersendiri seperti bagian Bagian Kesehatan Ibu dan
Anak ( KIA ), bagian Kesehatan lingkungan ( Kesling ), bagian Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), bagian Promosi Kesehatan ( promkes ), dsb.
Karena pelaksanaan STBM tidak hanya dilaksananakan oleh pemerintah daerah atau lembaga
kesehatan terkait saja, dibutuhkan juga peran aktif dari masyarakat dalam pengendalian
semua faktor resiko di lingkungan supaya tidak membahayakan pada host (masyarakat) itu

6
sendiri. Terdapat hubungan timbale balik antara pemerintah dan masyrakat untuk terciptanya
STBM, dimana pemerintah bertanggungjawab dalam:
a. penyusunan peraturan dan kebijakan teknis;
b. fasilitasi pengembangan teknologi tepat guna;
c. fasilitasi pengembangan penyelenggaraan STBM;
d. pelatihan teknis bagi tenaga pelatih; dan/atau
e. penyediaan panduan media komunikasi, informasi, dan edukasi.
Dan dalam penyelenggaraannya dilakukan PDCA atau plan, do, check, dan action dalam
melakukan STBM.

6. Apa indikator keberhasilan STBM?

7
7. Apa saja rpjmn selain universal access 2019?

8
8. Bagaimana cara melakukan BAB yang benar?
Mengingat tinja merupakan bentuk kotoran yang sangat merugikan dan membahayakan
kesehatan masyarakat, maka tinja harus dikelola, dibuang dengan baik dan benar. Untuk itu
tinja harus dibuang pada suatu “wadah” Atau sebut saja jamban. Jamban yang digunakan
masyarakat bisa dalam bentuk jamban yang paling sederhana, dan murah, misal jamban
cemplung, atau jamban yang lebih baik, dan lebih mahal misal jamban leher angsa dari tanah
liat, atau bahkan leher angsa dari bahan keramik.

Prinsip utama tempat pembuangan tinja /jamban sehat


-Tidak mencemari sumber air /badan air atau Jarak tempat penampungan tinja terhadap
sumber air di atas 10 meter.

9
-Tidak mencemari lingkungan (bau)
-Tidak ada kontak dengan Vektor.
-Konstruksi yang aman
-Sebagai tambahan adalah adanya saluran SPAL, pengelolaan tinja dan milik sendiri.

Untuk mencegah terjadinya terjadinya pencemaran sumber air dan Badan air, maka pada
secara tahap mulai Cara tempat penampungan tinja dibuat jaraknya diatas 10 meter, lebih
lanjut dibuat septictank dan mengurasnya secara berkala. Dan untuk mencegah bau tidak
mencemari lingkungan secara bertahap yakni dengan menutup tempat penampungan tinja,
dan membuat saluran /plensengan dan pada tahap akhir adalah dengan membuat kloset leher
angsa.

9. Bagaimana cara melakukan verifikasi terhadap ODF?


Kondisi ODF ditandai dengan 100% masyarakat telah mempunyai akses BAB di jamban
sendiri. tidak adanya kotoran di lingkungan mereka, serta mereka mampu menjaga
kebersihan jamban (Permenkes No.3 Tahun 2014). Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan
nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 Tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat bahwa indikator outcome dari program STBM yaitu menurunnya kejadian
penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan
perilaku, maka pada pilar pertama ini lebih menekankan pada 4 penurunan penyakit diare,
karena penyakit diare merupakan penyakit umum yang tidak hanya diderita oleh orang
dewasa namun juga balita.

Karakteristik Desa ODF (Open Defication Free)


Satu komunitas/masyarakat dikatakan telah ODF jika :
a. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban dan membuang tinja/kotoran bayi hanya ke
jamban.
b. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
c. Tidak ada bau tidak sedap akibat pembuangan tinja/kotoran manusia.
d. Ada peningkatan kualitas jamban yang ada supaya semua menuju jamban sehat.
e. Ada mekanisme monitoring peningkatan kualitas jamban.
f. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian
BAB di sembarang tempat.
g. Ada mekanisme monitoring umum yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK
mempunyai jamban sehat.
h. Di sekolah yang terdapat di komunitas tersebut, telah tersedia sarana jamban dan tempat
cuci tangan (dengan sabun) yang dapat digunakan murid-murid pada jam sekolah.

10
Analisa kekuatan kelembagaan di Kabupaten menjadi sangat penting untuk menciptakan
kelembagaan dan mekanisme pelaksanaan kegiatan yang efektif dan efisien sehingga tujuan
masyarakat ODF dapat tercapai

Verifikasi ODF merupakan proses memastikan status ODF suatu komunitas masyarakat yang
menyatakan bahwa secara kolektif mereka telah bebas dari perilaku buang air besar
sembarangan. Adapun batasan bahwa suatu komunitas masyarakat telah dapat dikatakan
ODF apabila:
A. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/kotoran
bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah).
B. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
C. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah
kejadian BAB di sembarang tempat.
D. Ada mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100 persen KK
mempunyai jamban sehat.
E. Ada upaya atau strategi yang jelas dan tertulis untuk dapat mencapai Total Sanitasi.

10. Mengapa bisa terjadi peningkatan pelaporan kasus diare?


Menurut WHO, kejadian diare sering dikaitkan dengan sumber air yang tercemar, sanitasi
yang tidak memadai, praktik kebersihan yang buruk, makanan yang terkontaminasi dan
malnutrisi.(13) Kejadian diare dapat disebabkan beberapa faktor antara lain : faktor
pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi dan faktor makanan dan minuman yang dikonsumsi,
faktor balita seperti umur balita, gizi balita, serta faktor lingkungan.

11. Apa penyebab diare?


Beberapa kondisi dapat menyebabkan seseorang mengalami diare, umumnya adalah infeksi
virus pada usus besar. Jenis-jenis virus tersebut meliputi rotavirus, norwalk,
cytomegalovirus,dan virus hepatitis.
Penyebab diare lainnya adalah:
-Infeksi bakteri, seperti Campylobacter, Clostridum difficile, Escherichia coli,
Salmonella, dan Shigella.
-Infeksi parasit, contohnya Giardia.
-Alergi makanan.
-Makanan yang mengandung pemanis buatan.
-Intoleransi fruktosa (pemanis alami pada madu dan buah-buahan) dan intoleransi
laktosa(zat gula yang terdapat pada susu dan produk sejenisnya).
-Pasca operasi batu empedu.
-Efek samping obat-obatan, misalnya antibiotik yang dapat mengganggu keseimbangan
alami bakteri dalam usus sehingga menimbulkan diare.

11
12. Kapan suatu daerah dikatakan KLB ?
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang
Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu
kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
 Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
 Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau
lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

13. Apa saja penyakit yang bias disebabkan oleh factor risiko lingkungan diatas?
Penyakit yang dapat terjadi akibat factor risiko lingkungan diatas antara lain tifoid,
paratiroid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit
infeksi gastrointestinal lain, serta infeksi parasit lain.

14. Mengapa 10 penyakit di puskesmas berbasis lingkungan ?


karena penyakit berbasis lingkungan sangat erat kejadiannya terhadap pola perilaku
masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, sehingga saat kesehtan lingkungan tidak
terjaga sangat memudahkan berkembangnya berbagai vektor penyakit dan menyebabkan
munculnya penyakit berbasis lingkungan.

15. Bagaimana tindakan preventif terhadap penyakit tersebut ?


 Pencegahan Kegiatan pencegahan penyakit diare yang benar dan efektif yang dapat
dilakukan adalah perilaku sehat
1. Pemberian ASI ASI
ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang baru lahir,
pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap
diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol.
2. Makanan Pendamping ASI
3. Menggunakan Air Bersih Yang Cukup
Penularan kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui Face-Oral kuman
tersebut dapat ditularkan bila masuk ke dalam mulut melalui makanan, minuman
atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya jari-jari tangan, makanan yang
wadah atau tempat makan-minum yang dicuci dengan air tercemar. Masyarakat
yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-benar bersih mempunyai risiko
menderita diare lebih kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak
mendapatkan air bersih. Masyarakat dapat mengurangi risiko terhadap serangan

12
diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari
kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah.
Yang harus diperhatikan oleh keluarga :
a. Ambil air dari sumber air yang bersih
b. Simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung
khusus untuk mengambil air
. c. Jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anak-anak
d. Minum air yang sudah matang (dimasak sampai mendidih)
e. Cuci semua peralatan masak dan peralatan makan dengan air yang bersih dan
cukup.

4. Mencuci Tangan
45 Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting
dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan
sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum
menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan,
mempunyai dampak dalam kejadian diare ( Menurunkan angka kejadian diare
sebesar 47%).

5. Menggunakan Jamban

Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban


mempunyai dampak yang besar dalam penurunan risiko terhadap penyakit diare.
Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan keluarga
harus buang air besar di jamban.
Yang harus diperhatikan oleh keluarga :
a. Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh
seluruh anggota keluarga.
b. Bersihkan jamban secara teratur.
c. Gunakan alas kaki bila akan buang air besar.

6. Membuang Tinja Bayi Yang Benar

Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi itu tidak berbahaya. Hal ini tidak benar
karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya.
Tinja bayi harus dibuang secara benar.

Yang harus diperhatikan oleh keluarga:

a. Kumpulkan segera tinja bayi dan buang di jamban

b. Bantu anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah di jangkau olehnya

13
c. Bila tidak ada jamban, pilih tempat untuk membuang tinja seperti di dalam
lubang atau di kebun kemudian ditimbun.

d. Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangan dengan sabun.

7. Pemberian Imunisasi Campak

Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting untuk mencegah agar bayi
tidak terkena penyakit campak. Anak yang sakit campak sering disertai diare,
sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare.

 Pencegahan DBD
Upaya Pencegahan Tahapan pencegahan yang dapat diterapkan untuk menghindari
terjadinya fase suseptibel dan fase subklinis atau yang sering disebut dengan fase
prepatogenesis ada dua, yaitu:
a. Health Promotion
1) Pendidikan dan Penyuluhan tentang kesehatan pada masyarakat.
2) Memberdayakan kearifan lokal yang ada (gotong royong).
3) Perbaikan suplai dan penyimpanan air.
4) Menekan angka pertumbuhan penduduk.
5) Perbaikan sanitasi lingkungan, tata ruang kota dan kebijakan pemerintah.

b. Specific protection
1) Abatisasi Program ini secara massal memberikan bubuk abate secara cuma-
cuma kepada seluruh rumah, terutama di wilayah yang endemis DBD semasa musim
penghujan. Tujuannya agar kalau sampai menetas, jentik nyamuknya mati dan tidak
sampai terlanjur menjadi nyamuk dewasa yang akan menambah besar populasinya
(Nadesul, 2007).
2) Fogging focus (FF). Fogging focus adalah kegiatan menyemprot dengan
insektisida (malation, losban) untuk membunuh nyamuk dewasa dalam radius 1 RW
per 400 rumah per 1 dukuh (Widoyono, 2008).
3) Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) Pemeriksaan Jentik Berkala adalah kegiatan
reguler tiga bulan sekali, dengan cara mengambil sampel 100 rumah/desa/kelurahan.
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara random atau metode spiral (dengan
rumah di tengah sebagai pusatnya) atau metode zig-zag. Dengan kegiatan ini akan
didapatkan angka kepadatan jentik atau House Index (HI).
4) Penggerakan PSN Kegiatan PSN dengan menguras dan menyikat TPA seperti
bak mandi atau WC, drum seminggu sekali, menutup rapat-rapat TPA seperti gentong
air atau tempayan, mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat
menampung air hujan serta mengganti air vas bunga, tempat minum burung seminggu
sekali merupakan upaya untuk melakukan PSN DBD.

14
5) Pencegahan gigitan nyamuk Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan
dengan pemakaian kawat kasa, menggunakan kelambu, menggunakan obat nyamuk
(bakar, oles), dan tidak melakukan kebiasaan beresiko seperti tidur siang, dan
menggantung baju.

Pencegahan yang dilakukan pada fase klinis dan fase penyembuhan atau yang sering
disebut dengan tahap patogenesis ada tiga, yaitu:

a. Early Diagnosis dan Prompt Treatment Konsep ini mengutamakan deteksi dini
yakni deteksi virus (antigen) secara dini dengan metode antigen capture (NS1 atau
non-structural protein
1) untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Deteksi virus bisa dilakukan
sehari sebelum penderita menderita demam, hingga virus hilang pada hari ke
sembilan. Setelah diketahui ada nya virus, penderita diberi antiviral yang efektif
membunuh virus DBD (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI,
2010). Beberapa metode lain untuk melakukan pencegahan pada tahap Early
Diagnosis dan Prompt Treatment antara lain sebagai berikut: 1) Pelacakan
penderita. Pelacakan penderita (penyelidikan epidemiologis) yaitu kegiatan
mendatangi rumah-rumah dari kasus yang dilaporkan (indeks kasus) untuk
mencari penderita lain dan memeriksa angka jentik dalam radius ±100 m dari
rumah indeks (Widoyono, 2008).
2) Penemuan dan pertolongan penderita, yaitu kegiatan mencari penderita
lain. Jika terdapat tersangka kasus DBD maka harus segera dilakukan penanganan
kasus termasuk merujuk ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terdekat
(Widoyono, 2008).
3) Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaan darah tepi untuk mengetahui jumlah leukosit. Pemeriksaan
ini digunakan untuk mengantisipasi terjadinya leukopenia.
b) Pemeriksaan limfosit atipikal (sel darah putih yang muncul pada
infeksi virus). Jika terjadi peningatan, mengindikasikan dalam waktu kurang lebih
24 jam penderita akan bebas demam dan memasuki fase kritis.
c) Pemeriksaan trombositopenia dan trombosit. Jika terjadi penurunan
jumlah keduanya, mengindikasikan penderita DBD memasuki fase kritis dan
memerlukan perawatan ketat di rumah sakit (Satari, 2004)
a. Disability Limitation
Pembatasan kecacatan yang dilakukan adalah untuk menghilangkan gangguan
kemampuan bekerja yang diakibatkan suatu penyakit. Dampak dari penyakit DBD
yang tidak segera diatasi, antara lain:
1) Paru-paru basah.
2) Komplikasi pada mata, otak, dan buah zakar.

15
Pembatasan kecacatan dapat dilakukan dengan pengobatan dan perawatan.
Obat- obatan yang diberikan kepada pasien DBD hanya bersifat meringankan
keluhan dan gejalanya semata. Obat demam, obat mual, dan vitamin tak begitu
besar peranannya untuk meredakan penyakitnya. Jauh lebih penting upaya
pemberian cairan atau tranfusi darah, tranfusi sel trombosit, atau pemberian cairan
plasma.
Pencegahan penyakit ispa Pencegahan dapat dilakukan dengan :
· Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
· Immunisasi.
· Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
. · Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

16. Apa saja aturan perundang undangan yang mengatur tentang kesehatan
lingkungan?

Peraturan lingkungan hidup

Daftar undang-undang:

1. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

2. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup.

Daftar peraturan pemerintah:

1. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan.

2. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

3.Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemara

4. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan.

17. Mengapa dokter berharap program didukung oleh semua pihak dan pihak apa saja
yang terkait?
agar program STBM bisa bejalan dengan baik dengan adanya kontribusi dari
masyarakat dan pemerintah.

16
STEP 4
SKEMA

STEP 5

Learning objektif

Mahasiswa mampu menjelaskan

1. pelaksanaan STBM menyeluruh meliputi definisi,klasifikasi, pilar, tujuan, pelaksanaan, dll.

2. penyakit berbasis lingkungan

Daftar pustaka

1. http://stbm.kemkes.go.id/
2. http://www.sanitasi.or.id
3. https://kknm.unpad.ac.id/kediri/penyuluhan-desa-odf/
4. Wikipedia
5. https://www.academia.edu/36223661/GAMBARAN_PROGRAM_SANITASI_TOTAL_
BERBASIS_MASYARAKAT_DI_DINAS_KESEHATAN_KOTA_SEMARANG_TAH
UN_2016
6. Permenkes

17
7. Dinkes

18