Anda di halaman 1dari 19

Cukup susah untuk membedakan antara analgetik dan analgesik.

Keduanya
merupakan jenis obat yang mirip dan hampir sama tetapi berbeda secara
penbendaharaan katanya. Sama – sama berfungsi sebagai penghilang rasa
sakit. Analgetik dalam kata sifat dan bendanya dapat disebutkan sebagai
analgesik. Obat – obat analgetik adalah obat – obat analgesik. Jadi dapat
disimpulkan bahwa analgetik itu adalah analgesik. Berdasarkan kata sifat dan
bendanya.

Pengertian dan Fungsi Analgetik

Pengertian dari analgesik menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah obat
untuk meredakan rasa nyeri tanpa mengakibatkan seorang pasien kehilangan
kesadarannya. Sering disebut sebagai obat pain killer karena dapat
menghilangkan rasa sakit yang diderita oleh seorang pasien.

Pengertian analgetik secara menyeluruh adalah senyawa atau obat yang


digunakan pasien untuk mengobati atau mengurangi rasa sakit serta nyeri yang
diakibatkan oleh rangsangan yang diterima tubuh, baik rangsangan secara
mekanik, kimiawi atau fisika yang kemudian akan menimbulkan kerusakan pada
jaringan hingga akan memicu pelepasan impuls nyeri seperti brodikinin atau
prostagladin. Hingga kemudian mampu mengaktifkan reseptor nyeri pada saraf
perifer, kemudian diteruskan ke otak untuk diproses dan menimbulkan aksi
berupa rasa sakit yang akan diterima oleh pasien. Analgetik berfungsi dengan
menghambat penyaluran sinyal rasa sakit atau kerusakan pada jaringan ini
hingga otak akan mendeteksi bahwa tubuh sedang berada dalam keadaan baik-
baik saja karena tidak aktifnya saraf reseptor pada saraf perifer.

Beberapa efek membahayakan dari penggunaan obat-obatan yang termasuk ke


dalam analgetik adalah bahaya ketergantungan yang akan dialami oleh pasien
apabila mengkonsumsi obat tersebut secara terus-menerus tanpa hitungan
dosis yang tepat dari dokter.
Kecanduan dan resiko over dosis yang tinggi harus diperhatikan dalam
menangani pasien yang memerlukan jenis obat analgetik. Karena obat ini
memiliki sifat yang mirip dengan narkotika dan bekerja dengan mempengaruhi
sistem saraf pada manusia. Mengubah definisi sakit yang kemudian akan
dihantarkan oleh sistem saraf sebagai jaringan penerima dan penyalur
rangsangan untuk diproses oleh otak hingga menimbulkan reaksi dari rasa sakit
itu sendiri.

Fungsi utama dari obat analgetik itu sendiri adalah menghilangkan rasa sakit.
Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, berikut adalah beberapa fungsi dari obat-
obatan analgetik yang perlu anda ketahui, antara lain adalah :

 Merupakan obat anti inflamasi: Anti inflamasi merupakan efek radang


yang ditimbulkan oleh penyakit atau virus serta bakteri yang
menjangkiti pasien. Selain menghilangkan rasa sakit, obat-obatan
yang termasuk analgetik mampu menghambat atau menghilangkan
efek inflamasi yang diterima oleh tubuh.
 Mengobati demam dan infeksi virus penyakit serta kuman
 Mencegah serangan jantung
 Mengobati nyeri pada sendi dan radang pada artritis atau radang serta
kekakuan pada sendi

Mekanisme Kerja Analgetik

Analgetik bekerja dengan menyerang atau mempengaruhi sistem saraf pada


manusia. Sesuai dengan fungsi analgetik yang utama yaitu meredakan nyeri
atau menghilangkannya, nyeri itu sendiri dapat diartikan sebagai gejala
penyakit atau kerusakan pada sel-sel atau jaringan-jaringan pada tubuh yang
diakibatkan oleh rangsangan baik secara mekanik maupun kimiawi.

Saat tubuh berada dalam fase menerima rangsangan rasa nyeri ia akan
mengeluarkan semacam zat yang mampu mengaktifkan sensor-sensor nyeri
pada tubuh. Zat ini biasanya disebut dengan mediator nyeri. Kemudian
rangsangan akan dibawa ke sistem saraf pusat untuk diproses oleh otak melalui
7 ruas sumsum tulang belakang.
Mekanisme analgetik dalam meredakan atau menghilangkan rasa nyari adalah
sebagai berikut :

 Menghambat tumbuhnya rangsangan dalam reseptor nyeri perifer oleh


anastetik lokal
 Menghalangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf sensoris
 Menghambat pusat nyeri dengan anastetik umum

Sistem Penggolongan Obat Analgetik

Berdasarkan karakter atau kekuatan pereda nyeri dari obat analgetik itu sendiri
di bagi menjadi 2, yaitu analgetik narkotik dan analgetik non narkotik. Berikut
adalah penjelasan dari masing-masing golongan obat analgetik, antara lain
adalah :

1. Analgetik Narkotik

Cenderung memiliki efek pereda nyeri yang kuat, titik utama yang diserang
oleh analgetik narkotik adalah sistem saraf pusat sehingga pada efek samping
yang diberikan salah satunya adalah bisa membuat pasien hilang kesadaran.
Menimbulkan perasaan nyaman atau euforia yang kuat dan dapat
mengakibatkan ketergantungan baik secara fisik maupun psikis. Memiliki sifat
yang bekerja seperti opium atau morfin.

Beberapa jenis obat-obatan yang termasuk ke dalam golongan obat analgetik


narkotik adalah sebagai berikut :

 Obat-obatan yang berasal dari opium dan morfin


 Senyawa-senyawa semi sintetik morfin
 Senyawa-senyawa yang semi sintetik dan memiliki efek hampir seperti
morfin
Mekanisme yang bekerja dari obat anagetik narkotik adalah dengan
menghambat adenilat siklase pada neuron hingga menyebabkan perbedaan dan
perubahan pada keseimbangan neuron dalam menghantarkan rangsangan.

2. Analgetik Non Narkotik

Berbeda dengan analgetik narkotik, analgetik non narkotik bekerja dengan tidak
menimbulkan sifat adiktif bahkan ketergantungan. Obat ini bekerja dengan sifat
yang tidak sekuat analgetik narkotik sehingga tidak menurunkan kesadaran dan
aman digunakan oleh siapa saja. Pasien dapat menemukan jenis obat yang
termasuk golongan analgetik non narkotik dijual bebas dipasaran.

Selain berfungsi sebagai analgeik lemah atau menurunkan rasa nyeri dan
menghilangkan rasa sakit, golongan obat ini juga mampu menghilangkan atau
mengurangi efek dari berbagai macam penyakit. Seperti sakit kepada, nyeri
saat menstruasi atau dismenore, anti inflamasi, dan arthristis ringan. Dapat
digunakan sebagai pereda demam juga, karena salah satu fungsi dari analgetik
non narkotik yang mampu menurunkan suhu tubuh ketika demam atau sedang
berada di suhu yang tinggi.

Efek samping yang sering pasien dapati apabila mengkonsumsi obat golongan
ini antara lain adalah gangguan lambung, kerusakan pada hati dan darah, alergi
dan sebagainya.

Jenis dan Contoh Obat Analgetik Non Narkotik

Berikut adalah beberapa jenis serta contoh obat dari masing-masing golongan
analgetik non narkotik yang perlu anda ketahui, antara lain adalah :

1. Asam mefenamat

Termasuk ke dalam kelompok anti inflamasi atau pereda nyeri serta radang
yang bekerja dengan menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan
sehingga menimbulkan efek analgesik (menghambat reseptor atau penerima
rangsangan) yang akan dirasakan oleh tubuh. Sangat disarankan untuk
menggunakan obat ini secara oral.
Efek samping yang mungkin akan ditimbulkan dari pengkonsumsian obat jenis
ini antara lain adalah masalah pencernaan khususnya pada bagian lambung,
sakit kepala, pusing, mengantuk, tegang dan mungkin gangguan penglihatan.

2. Parasetamol

Perkembangan untuk mendapatkan obat yang mengandung sifat analgetik


tetapi tetap aman menghasilkan penemuan yang berupa obat yang dinamakan
parasetamol. Obat ini terindikasi mampu meredakan nyeri tanpa mempengaruhi
sistem saraf pusat atau dengan kata lain menghilangkan kesadaran. Merupakan
obat analgetik paling aman yang pernah ditemukan karena tidak akan
menimbulkan efek ketergantungan dan ketagihan. Mampu meredakan berbagai
penyakit seperti demam, pilek dan infeksi kuman atau virus.

Efek samping yang mungkin akan pasien alami apabila mengkonsumsi obat
jenis parasetamol antara lain adalah iritasi, pendarahan lambung dan gangguan
pada pernafasan. Penggunaan yang berlebihan mampu membawa pasien ke
dalam penyakit kerusakan hati yang parah. Aman digunakan untuk ibu
menyusui dan hamil meski dalam beberapa keadaan terbukti bahwa
parasetamol dapat membuat susu yang dihasilkan oleh ibu menjadi lebih cair.

3. Aspirin

Selain berfungsi sebagai analgetik, obat jenis aspirin dapat digunakan sebagai
obat antipiretik atau demam dan juga obat anti inflamasi atau peradangan.
Dapat digunakan dalam dosis rendah dan jangka waktu yang lama untuk
mencegah serangan jantung. Bekerja dengan menghambat rangsangan pada
reseptor rasa sakit hingga menimbulkan efek analgetik. Rangsangan yang
diterima tidak akan diteruskan ke sistem jaringan saraf pusat karena efek
analgetik dari aspirin yang menghambat kerja dari bagian neuron atau reseptor
(penerima) rangsangan pada tubuh.

Efek samping yang mungkin akan dialami oleh pasien apabila menggunakan
obat jenis aspirin antara lain adalah sakit kepala, perubahan mental, pusing dan
limbung, serta amnesia dan susah untuk tidur. Kerusakan hati serta ginjal akan
terjadi apabila penggunaan obat tidak sesuai dengan dosis yang diberikan dan
dalam jangka waktu yang lama.

4. Ibuprofen

Efek analgetik yang diberikan oleh jenis obat ibuprofen mirip dengan aspirin.
Hanya saja ibuprofen tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil serta
menyusui karena dosisnya yang cukup tinggi. Mekanisme kerja dari ibuprofen
dilakukan dengan menghambat sintesa prostaglandin hingga neuron tidak
menerima rangsangan rasa sakit.

Efek samping yang mungkin akan dialami oleh pasien apabila mengkonsumsi
obat jenis ibuprofen antara lain adalah sakit kepala dan pusing, mual atau
muntah, diare, konstipasi dan kemungkinan sakit kuning apabila penggunaan
obat tidak sesuai anjuran dokter dan dalam jangka waktu yang lama serta terus
– menerus. Pasien dengan riwayat penyakit hipersensitivitas atau alergi, asma
dan rinitis atau pembengkakan pada selaput lendir di hidung yang parah tidak
dianjurkan untuk mengkonsumsi obat jenis ibuprofen.

5. Natrium Diklofenak

Bekerja dengan menghambat sensor nyeri dan demam hingga menyebabkan


efek analgetik. Mengurangi rasa nyeri secara spontan dan bersamaan dengan
penyembuhan bengkak dan demam. Efek samping yang mungkin dialami oleh
pasien apabila mengkonsumsi obat ini antara lain adalah gangguan pada
saluran pencernaan khususnya lambung, depresi, sakit kepala, cemas,
insomnia, dan gangguan fungsi ginjal apabila digunakan oleh pasien dalam
jangka waktu yang lama serta terus menerus tanpa anjuran dari dokter. Pasien
degan riwayat yang memiliki penyakit seperti hipersensitivitas atau alergi,
asma, tukak lambung aktif tidak disarankan untuk mengambil obat ini sebagai
bahan obat untuk dikonsumsi.

Demikian penjelasan mengenai analgetik. Konsultasikan lebih lanjut kepada


dokter, apabila nyeri tidak kunjung sembuh padahal sudah mengkonsumsi obat
analgetik.

https://halosehat.com/istilah-medis/istilah-medis-a/analgetik
Orang Indonesia mungkin tidak terlalu mengenal antipiretik karena
menggunakan nama kimianya. Dan mungkin lebih mengenal antipiretik dengan
nama lain yang lebih mudah dipahami maknanya. Nah, mungkin anda juga
bertanya-tanya tentang apa itu antipiretik? Sejenis obat apakah antipiretik itu?
Bagaimana cara kerjanya? Dan apa fungsinya?

Dalam artikel kali ini, akan dibahas mengenai antipiretik. Penjelasan yang
cukup lengkap mengenai antipiretik. Termasuk jenis-jenis obat-obatan yang
termasuk antipiretik. Diharapkan, dengan adanya artikel ini dapat menjadi salah
satu sumber informasi bagi anda dalam memilih obat-obatan yang termasuk
antipiretik dan apa saja contoh jenis-jenis obat antipiretik tersebut sebelum
menggunakannya sebagai konsumsi obat-obatan harian anda.

Pengertian dan Fungsi Antipiretik

Sebelum mengetahui apa itu antipiretik, akan lebih mudah mengetahui makna
antipiretik dengan melihat arti per katanya. Antipiretik terdiri dari dua kata,
yaitu anti berarti lawan yang dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat
diartikan sebagai bentuk terikat yang melawan, menentang dan memusuhi.
Sedangkan piretik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sebuah
substansi yang menyebabkan kenaikan suhu badan. Sehingga, dari kedua
makna kata diatas dapat diartikan bahwa antipiretik merupakan substansi atau
obat yang dapat melawan, menentang, atau memusuhi kenaikan suhu tubuh
sehingga menyebabkan panas. Jika dilihat secara garis besarnya.

Arti yang lebih menyeluruh dari antipiretik adalah obat penurun panas dengan
gejala – gejala yang mengikuti kenaikan suhu badan lainnya. Seperti mialgia
(nyeri otot yang dimana badan terasa pegal – pegal), demam, kedinginan, nyeri
kepala dan efek samping yang mungkin hanya terjadi apabila suhu tubuh anda
mengalami kenaikan yang tidak wajar.

Seseorang dikatakan memiliki kenaikan suhu tubuh atau demam apabila suhu
tubuh yang terukur oleh termometer badan lebih dari 380 celcius. Dan kenaikan
suhu tubuh dapat terjadi karena tubuh menghasilkan reaksi penolakan terhadap
zat-zat atau komponen yang buruk dari lingkungan sekitar anda.

Kenaikan suhu tubuh yang tidak wajar sendiri dapat diakibatkan oleh beberapa
faktor, berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan
kenaikan suhu badan hingga menghasilkan demam dan sebagainya :

 Virus penyakit
 Bakteri
 Perubahan suhu lingkungan yang cepat
 Jamur
 Obat-obatan
 Racun, dll

Kenaikan suhu tubuh tidak selamanya bermakna negatif. Karena sesuai dengan
pengertian dari naiknya suhu tubuh itu sendiri bahwa ia merupakan reaksi alami
tubuh dalam menangkal komponen-komponen jahat yang mencoba masuk dan
menjangkiti tubuh dengan suatu penyakit.

Pada taraf tertentu naiknya suhu tubuh bukan merupakan sebuah ancaman
bahaya. Akan tetapi, efek yang ditimbulkan oleh naiknya suhu tubuh juga perlu
diwaspadai. Karena naiknya suhu tubuh dapat berdampak cukup serius apabila
dibiarkan secara terus-menerus.

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin anda alami apabila suhu tubuh anda
naik sampai di atas 380 celcius:

 Menggigil
 Gemetar
 Nyeri otot dan sendi
 Berkeringat (kadang disebut keringat dingin)
 Jantung berdetak kencang (palpitasi)
 Kulit memerah
 Pusing
 Lemah
 Sakit kepala
 Muntah-muntah
 Diare
 Batuk-batuk
 Kehilangan selera makan
 Kelelahan
 Hingga halusinasi, kejang-kejang, bahkan mungkin gangguan yang
lebih parah lainnya apabila terdapat komplikasi dengan penyakit-
penyakit tertentu.

Nah, fungsi utama dari antipiretik sendiri merupakan obat yang digunakan
untuk menurunkan panas. Mengatasi gejala-gejala yang diakibatkan oleh
demam dan sebagainya seperti yang telah disebutkan diatas. Penggunaan obat-
obat antipiretik mungkin dapat menjadi solusi dari masalah kesehatan anda
yang berupa kenaikan suhu tubuh yang lebih dari suhu tubuh normal.

Mekanisme kerja Antipiretik

Mengenai cara kerja antipiretik secara lengkapnya adalah dengan


mempengaruhi hipotalamus untuk mengesampingkan
peningkatan interleukin yang berperan penting dalam menginduksi atau
menyalurkan, memberikan, dan menyalurkan suhu tubuh. Secara otomatis,
setelah sumber saraf peningkatan suhu tubuh diberhentikan, tubuh akan
bekerja untuk menurunkan suhu tubuh hingga gejala panas atau demam itu
reda dan tubuh kembali memiliki suhu normalnya.

Antipiretik tidak bekerja dengan menghambat pembentukan panas. Panas akan


tetap terbentuk sesuai reaksi tubuh terhadap lingkungan sekitarnya. Antipiretik
hanya mempengaruhi tingkat aliran darah yang mengalir ke purifier untuk
bertambah banyak dari biasanya dan membentuk keringat. Keringat inilah yang
mengubah panas tubuh menjadi air untuk dikeluarkan oleh tubuh dan
menurunkan suhu tubuh.

Hipotalamus adalah bagian dari otak yang tersusun atas nekleus-nukleus


dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap perubahan glukosa, suhu,
dan sebagainya. Merupakan pusat kontrol autonom yang bekerja untuk
mengatur tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh dan perilaku konsumsi
serta emosi manusia.

Efek antipiretik bersifat sentral atau hanya terjadi di daerah yang dikenai
dengan sekali konsumsi, tidak berpengaruh pada neuron (sistem saraf yang
berfungsi menghantarkan impuls atau rangsangan dari satu sel saraf ke sel
saraf lainnya) di hipotalamus. Antipiretik menghambat pembentukan
prostaglandin (senyawa rangsangan yang bekerja dalam sel). Antipiretik, secara
garis besar, menurunkan panas dengan bekerja langsung di saraf pusat, secara
spontan dan tidak mempengaruhi jaringan saraf tubuh itu sendiri.

Penggolongan Antipiretik

Antipiretik sering disamakan dengan analgetik. Padahal, keduanya memiliki


perbedaan yang sangat jauh. Antipiretik berfungsi khusus pada penurunan
panas, sedangkan analgetik lebih berfungsi sebagai obat-obatan yang berguna
untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri tanpa mengambil alih kesadaran
seseorang. Antipiretik digolongkan dalam beberapa bagian berikut :

1. Benorylate

Benorylate merupakan kombinasi parasetamol (obat yang berfungsi untuk


menghilangkan atau menangani rasa sakit dan demam) dan aspirin (obat yang
digunakan untuk menghilangkan rasa sakit, demam dan radang). Karena terlalu
banyak dosis obat yang fungsi utamanya berpengaruh pada pengurangan suhu
tubuh dan rasa sakit, benorylate sangat tidak direkomendasikan untuk
dikonsumsi anak-anak. Dimungkinkan dapat menghasilkan efek samping yang
jauh lebih parah dari pada demam jika dikonsumsi oleh anak-anak.
Tersebut sindrom reye. Atau kerusakan serius pada jaringan otak yang diawali
dengan gejala muntah-muntah, perubahan karakter yang drastis, linglung dan
hilang kesadaran.

Benorylate memiliki fungsi utama sebagai pengobatan rasa sakit menengah


kebawah yang masih tertangani. Bukan untuk digunakan sebagai obat rasa
sakit yang teramat sangat. Obat untuk demam atau panas dan rheumatoid
arthritis. Benorylate dapat dikonsumsi oleh orang dewasa minimal delapan jam
sekali. Dimana dosisnya, disesuaikan dengan ketentuan dokter pribadi anda
masing-masing.

2. Fentanyl

Sedikit berbeda dengan benorylate, fentanyl lebih berfungsi sebagai obat


anestesi yang berguna dalam menghilangkan rasa sakit. Memiliki efek yang
sangat cepat berlangsungnya meski efek fentanyl juga cepat hilang hanya
dalam satu atau dua jam.

Efek samping penggunaan fentanyl diantaranya adalah rasa mual, konstipasi,


rasa ngantuk, dan pusing. Tapi, pada beberapa kasus efek yang ditimbulkan
dapat jauh lebih parah. Seperti hilangnya kemampuan untuk bernafas,
penurunan tekanan darah, hingga ketergantungan karena fentanyl mempunyai
kandungan anestesi atau zat yang berpengaruh pada sistem saraf apabila
dikonsumsi.

3. Piralozon

Piralozon memiliki fungsi utama sebagai obat penurun panas dan


menghilangkan rasa nyeri. Selain itu, piralozon juga memiliki beberapa efek
samping yang hampir sama dengan efek samping yang ditimbulkan dari
pengkonsumsian benorylate dan fentanyl. Namun, piralozon memiliki efek lain
yang jauh lebih berbahaya. Yaitu agranulositosis. Agranulositosis merupakan
kondisi akut dari leucopenia atau berkurangnya sel darah putih akibat infeksi
dari patogen yang khususnya berupa mikroorganisme.

Contoh Obat Antipiretik

Penting mengetahui jenis-jenis obat antipiretik yang dijual di pasaran apabila


anda mengalami masalah kesehatan khususnya pada peningkatan suhu panas
atau demam. Berhati-hatilah dalam memilih obat yang termasuk jenis obat
antipiretik. Karena jenis-jenis obat antipiretik memiliki dosis dan kegunaan
serta efek samping yang cuku berbeda-beda. Perhatikan kebutuhan dan
konsultasikan pada dokter anda. Berikut adalah beberapa contoh obat
antipiretik:

 Paracetamol

Paracetamol merupakan obat yang sering diresepkan dokter untuk menangani


demam, sakit kepala, sakit gigi maupun nyeri lainnya. Dosis yang dianjurkan
biasanya untuk orang dewasa 500 mg dan diminum setiap 4-6 jam atau 3 kali
sehari 1 tablet. Jangan dikonsumsi saat perut kosong, karena bisa
mempengaruhi asam lambung. Untuk dosis pada anak sebaiknya atas petunjuk
dokter.

 Ibuprofen

Ibuprofen memiliki fungsi utama sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit
akibat arthritis. Arthritis merupakan peradangan pada persendian yang disertai
rasa sakit, bengkak, sendi terasa kaku, hingga rasa susah untuk menggerakkan
tubuh. Ibuprofen bahkan dapat dijadikan sebagai obat untuk menurunkan rasa
sakit akibat haid pada wanita, flu, sakit kepala. Ibuprofen bekerja dengan
menghentikan enzim siklooksigenase (enzim yang bertanggung jawab dalam
pembentukan prostanoid) yang kemudian menghambat prostalgin atau zat yang
bekerja di ujung-ujung saraf yang sakit. Ibuprofen melebarkan pembuluh darah
dan memperlancar aliran darah dalam tubuh.
 Aspirin

Siapa yang tidak kenal aspirin? Orang Indonesia pasti kebanyakan kenal dan
mengetahui apa itu aspirin. Hampir seluruh obat flu di Indonesia memiliki
kandungan aspirin di dalamnya. Aspirin merupakan jenis obat yang berfungsi
sebagai analgesik (penahan rasa sakit dan nyeri minor), antipiretik dan anti
peradangan. Meskipun memiliki dosis rendah, aspirin apabila digunakan diluar
anjuran dokter apalagi secara terus-menerus, akan menghasilkan efek samping
yang buruk. Seperti pendarahan pada organ dalam yang ditandai dengan nyeri
perut, feses yang menghitam, dan urin yang kemerahan sebagai tanda bahwa
ginjal anda telah rusak atau bermasalah. Aspirin tidak baik dikonsumsi oleh
anak-anak dan ibu hamil.

Selain tigo obat di atas, berikut beberapa obat antipiretik yang diberikan dokter
untuk kasus tertentu:

 Quinine: Quinine atau kinina merupakan obat panas, obat malaria,


analgesik dan peradangan.
 Metamizole
 Nabumetone
 Nimesulide
 Phenazone

Efek Samping Penggunaan Obat Antipiretik

Obat antipiretik, dan hampir seluruh obat lainnya tidak akan membahayakan
apabila dikonsumsi sesuai dengan takarannya. Dosis yang tepat dan anjuran
dari dokter akan membantu anda agar tetap merasakan manfaat obat tanpa
harus mengalami efek samping yang akutnya. Berikut adalah beberapa efek
samping yang akan timbul dari pengkonsumsian obat antipiretik :

 Iritasi pada dinding lambung atau tukak lambung: Diawali dengan rasa
pedih di lambung atau bagian bawah hati yang sangat sakit.
Terkadang bahkan terasa tidak tertahankan. Pendarahan pada
lambung dapat terjadi apabila hal ini terjadi secara terus – menerus.
 Alergi pada kulit
 Tinnitus atau telinga yang terasa berdengung
 Kejang-kejang
 Muntah-muntah dan gangguan pernafasan pada anak-anak
 Pendarahan pada ibu hamil
 Naiknya asam lambung
 Gangguan hati atau hepatitis
 Kerusakan ginjal
 Asma
 Syok

Demikian penjelasan mengenai obat golongan antipiretik. Konsultasikan kepada


dokter atau apoteker sebelum mengonsumsinya.

https://halosehat.com/istilah-medis/istilah-medis-a/antipiretik
Beberapa dari Anda mungkin sudah cukup familier dengan beberapa obat yang
kerap diresepkan atau dijual bebas sebagai obat anti nyeri seperti ibuprofen atau
aspirin. Taukah Anda apa sebenarnya jenis dari kedua obat tersebut dan
bagaimana cara kerja serta ciri khasnya?

Ibuprofen dan aspirin sebenarnya bagian dari jenis obat anti inflamasi non
steroid atau dikenal pula dengan sebutan Non Steroidal Anti-Inflammation
Drugs atau NSAID. Obat jenis NSAID termasuk jenis yang heterogen, bahkan
setiap jenisnya memiliki susunan kimia yang berbeda satu dengan yang lain.
Kesamaan dari jenis obat ini adalah fungsinya sebagai anti inflamasi untuk
mengatasi peradangan, anti piretik untuk menormalkan suhu tubuh, dan fungsi
analgesik untuk pereda nyeri.
Penyebutan non steroid sebenarnya sebagai pembeda dengan jenis anti
inflamasi lain yang bersifat steroid. Perbedaan mendasar antara bentuk anti
inflamasi steroid dengan non steroid terletak pada cara kerjanya. Jenis steroid
cenderung lebih dini dalam mencegah respon nyeri pada tubuh sehingga cocok
untuk jenis trauma atau kerusakan jaringan yang lebih berat. Sedangkan jenis
non steroid sifatnya lebih dangkal dan cocok untuk jenis luka dan trauma yang
lebih ringan.

Mekanisme kerja dari obat anti inflamasi non steroid ini fokus pada
penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan COX-2
(cyclooxygenase-2). Enzimcyclooxygenase ini memiliki peran dalam mendorong
proses pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Untuk
Anda ketahui prostaglandin merupakan molekul penting dalam proses
pembawaan pesan trauma menuju sensor otak dan saraf pada proses inflamasi
(radang).

Dengan mengasup NSAID, pasien dengan kondisi trauma atau luka, iritasi dalam
dan luar, juga peradangan baik itu di permukaan kulit atau di dalam permukaan
kulit akan dapat meredakan rasa nyeri yang mereka rasakan atau menjadi fungsi
analgesik.

Selain membantu meredam rasa nyeri dengan memanipulasi produksi enzim


penghantar sinyal trauma, obat anti inflamasi non steroid ini juga dapat bekerja
sebagai anti piretik. Anti piretik adalah fungsi untuk membantu mengatasi
kenaikan suhu tubuh.

Biasanya bersamaan dengan inflamasi atau peradangan, akan muncul demam


dalam berbagai skala. Demam ini adalah reaksi alami tubuh terhadap
peningkatan kerja sistem imunitas dalam melawan peradangan. Pada dasarnya
ini adalah reaksi adaptasi karena proses kinerja imunitas yang meningkat akan
mendorong peningkatan atau induksi suhu tubuh.

Obat NSAID akan bekerja dengan cara memengaruhi hipotalamus dalam


merespon sinyal dari interleukin dalam menginduksi suhu tubuh. Ini juga
berkaitan dengan fungsi NSAID dalam menekan produksi prostaglandin.
Biasanya cara yang dilakukan untuk menjalankan fungsi anti piretik adalah
dengan mendorong aliran darah menuju perifer dan memicu tubuh berkeringat
untuk mengadaptasi suhu tubuh tinggi kembali turun.

Pada dasarnya jenis obat anti inflamasi non steroid di dalam dunia farmasi
sendiri terbagi dalam beberapa jenis. Dan jenis-jenisnya akan kami jabarkan
sebagai berikut.

 GOLONGAN SALISILAT
Bekerja mengatasi peradangan dan infeksi dengan meredakan gejala yang muncul, tetapi
tidak mengatasi masalah utamanya, melainkan hanya mengatasi bentuk peradangan yang
muncul seperti pembengkakan, efek memar, rasa nyeri, dan rona merah akibat radang.

Jenis yang termasuk dalam golongan ini antara lain aspirin atau asam asetilsalisilat, metil
salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid. Jenis NSAID ini juga
efektif untuk membantu meredakan jerawat meradang, keluhan penggumpalan darah,
sehingga juga efektif untuk keluhan jantung dan stroke.
 GOLONGAN ASAM ARILALKANOAT
Yang termasuk dalam jenis obat golongan ini adalah diklofenak, indometasin,
proglumetasin, dan oksametasin. Bekerja dengan cara yang sama sebagaimana obat anti
inflamasi non steroid lain, jenis ini juga bekerja tripel sebagai anti analgesik, anti
inflamasi dan anti piretik. Biasa bekerja untuk masalah ketegangan otot dan saraf yang
memicu efek nyeri seperti migrain dan sakit leher.
 GOLONGAN PROFEN
Jenis ini mungkin termasuk pula jenis yang familier, seperti ibuprofen, alminoprofen,
fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac. Sifatnya kerjanya cukup cepat, karena
kemampuannya untuk mudah dicerna dalam lambung.
 GOLONGAN PERIZOLIDIN
Jenis ini bisa Anda temukan di pasaran dalam bentuk enilbutazon, ampiron, metamizol,
dan fenazon. Jenis ini tak begitu lazim dijumpai dalam pengobatan lokal di
Indonesia,namun cukup biasa dikenal sebagai anti rematik di berbagai negara di belahan
Eropa. Namun belakangan metamizol juga kerap diresepkan dalam pengobatan reumatik
dan asam urat.
 GOLONGAN OKSIKAM
Anda mungkin juga sudah terbiasa dengan obat analgesik yang paling sering diresepkan
dalam pengobatan reumatik dan asam urat. Bahkan juga kerap menjadi obat untuk Anda
yang mengalami pegal linu berat. Mengandung efek kantuk yang menjadikannya tidak
cocok untuk Anda yang menyetir.
 GOLONGAN ASAM FENAMAT ATAU ASAM N-ARILANTRANILAT
Jenis ini biasa digunakan untuk membantu meredakan nyeri yang diakibatkan ketegangan
otot, kontraksi otot dan saraf seperti sakit kepala, migrain dan keluhan nyeri haidh.
Biasanya Anda jumpai dalam bentuk asam mefenamat, asam flufenamat, dan asam
tolfenamat.
 GOLONGAN LAIN
Ada banyak jenis lain dari obat anti inflamasi non steroid yang juga bekerja dengan cara
yang sama namun dalam beragam jenis kondisi. Sebut saja asetaminofen atau
parasetamol, licofelone atau nimesulide.
Secara umum fungsi dari obat anti inflamasi non steroid ini adalah sebagai pereda segala
jenis nyeri. Mulai dari nyeri pada area otot karena efek peradangan akut seperti reumatik,
arthritis, asam urat, carpal sindrom, saraf terjepit, dan lain sebagainya. Juga efektif untuk
membantu mengatasi nyeri sendi karena keseleo, pegal linu hebat, dan lain sebagainya.

Namun obat jenis ini juga bisa bekerja efektif untuk meredakan sakit kepala, nyeri akibat
perawatan seperti nyeri karena suntikan imunisasi atau nyeri haid. Tentu saja tidak semua
obat bisa digunakan untuk semua jenis keluhan.

Obat anti inflamasi non steroid secara umum sebenarnya tidak berbahaya, tentu saja
selama dikonsumsi dengan dosis yang aman. Karena ada dua risiko efek samping dari
mengonsumsi obat jenis ini terutama bila Anda mengknsumsinya secara berlebihan atau
dalam jangka panjang.

Dua efek samping yang lazim muncul adalah penyakit tukak lambung dan mual yang bisa
muncul karena efek proses penghambatan prostalgladin yang rupanya memiliki manfaat
dalam fungsi lambung. Selain itu masalah ginjal bisa muncul karena efek oskidasi
berlebihan dari obat jenis ini dan terendap dalam ginjal. Beberapa kasus juga bisa
memunculkan kecacatan trombosit.
https://www.deherba.com/obat-anti-inflamasi-non-steroid-yang-sering-digunakan-sebagai-
painkiller.html