Anda di halaman 1dari 4

A.

Definisi Life Satisfaction


Life satisfaction (kepuasan hidup) merupakan komponen kognitif dalam subjective well
being, yang berupa kepercayaan atau perasaan subjektif individu terhadap proses kehidupan
yang dijalani. Komponen ini berbeda dengan komponen afektif, yang dapat berupa pleasent
dan unpleasent ataupun positif dan negatif, yang merupakan manifestasi dari bentuk-bentuk
emosional individu terhadap proses kehidupan tersebut. Diener juga mengemukakan bahwa
life satisfaction merupakan contive judgement. Maksudnya, individu mampu memberikan
penilaian berupa hasil interpretasi kognitifnya terhadap perjalanan hidup yang dijalaninya.
Dengan kata lain, komponen kognitif ini juga mencakup pengevaluasian perjalanan hidup,
apakah sudah sesuai atau belum. Hasil evaluasi yang sudah sesuai mengarah pada keadaan
puas atau satisfy. Sebaliknya, hasil evaluasi yang belum sesuai menunjukkan adanya
ketidakpuasan individu terhadap kehidupannya (Diener, dkk., 1999; Larsen & Eid, 2008).
Menurut Alston & Dudley (dalam Hurlock, 1980), life satisfaction itu merupakan
kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-pengalaman hidupnya yang disertai
dengan tingkat kegembiraan. Definisi serupa yang dikemukakan pada pendekatan quality of
life, dimana life satisfaction mengacu pada evaluasi subjektif mengenai seberapa banyak
kebutuhan, tujuan, dan nilai-nilai yang kita punya telah terpenuhi dalam kehidupan. Hasil
evaluasi teresebut merupakan tingkat kesenjangan dari ekspektasi yang dijalani dengan
harapan ataupun keinginan yang dimiliki. Tingkat kesenjangan tersebut merupakan penentu
tingkat life satisfaction yang dimiliki seseorang. Semakin tinggi kesenjangan antar ekspektasi
dan harapan, maka semakin rendah tingkat kepuasan individu, dan begitu pula sebaliknya
(Theofilou, 2013).
Life satisfaction merupakan penilaian secara kognitif mengenai seberapa baik dan
memuaskan hal-hal yang sudah dilakukan individu dalam kehidupannya secara menyeluruh
dan atas area-area utama dalam hidup yang mereka anggap penting (domain satisfaction).
Jadi, life satisfaction bergantung pada penilaian keseluruhan aspek kehidupan individu
terhadap hal-hal yang berada di lingkungan sekitarnya. Ataupun dapa pula berupa penilaian
per area, berdasarkan lingkup-lingkup utama dalam kehidupan seperti dunia kerja, keluarga,
dsb., yang berupa domain satisfaction individu (Diener, dkk., 1999).

B. Aspek Life Satisfaction


Diener, dkk. (1985) dan Diener, dkk., (1999) mengemukakan aspek-aspek dari life
satisfaction berdasarkan skala-skala yang dibuat.
 Keinginan untuk mengubah kehidupan: Dimensi ini terkandung dalam item skala “
In most ways my life is close to my ideal. “
 Kepuasaan terhadap hidup saat ini: Dimensi ini terkandung dalam item skala “The
conditions of my life are excellent. “
 Life satisfaction di masa lalu: Dimensi ini terkandung dalam item skala “I am
satisfied with my life.”
 Kepuasan terhadap kehidupan di masa depan: Dimensi ini terkandung dalam item
skala “So far I have gotten the important things I want in life.”
 Penilaian orang lain terhadap kehidupan seseorang: Dimensi ini terkandung dalam
item skala “If I could live my life over, I would change almost nothing.”

C. Faktor-faktor yang Memengaruhi Life Satisfaction


Terdapat beberapa faktor yang memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak
langsung terhadap tingkat life satisfaction individu terhadap perjalanan kehidupannya.
Faktor-faktor tersebut meliputi (Diener dkk., 2008; Diener, dkk., n.d.; Hurlock, 1980):
 Kesehatan
Individu dengan kesehatan yang baik cenderung memiliki kenunjukkan perasaan
bahagia, daripada individu yang memiliki masalah dengan kesehatannya. Diener menekankan
bahwa faktor kesehatan bergantung pada penilaian subjektif individu terhadap kesehatannya,
tidak pada hasil analisa medis secara objektif.
 Realisme dari Konsep Peran
Masa dewasa awal merupakan suatu periode penyesuaian diri terhadap pola-pola
kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang-orang dewasa tersebut diharapkan
mampu menjalankan peran baru mereka, seperti menjadi suami/istri, orang tua dan pencari
nafkah. Selain itu, mereka juga memiliki tugas-tugas perkembangan untuk mengembangkan
sikap-sikap baru. Keinginan dan nilai yang baru juga akan terbentuk dengan adanya peran-
peran baru tersebut. Oleh karenanya, semakin mampu individu tersebut melaksanakan peran
dan menyesuaiakan diri dengan harapan-harapan barunya, semakin puas pula individu
tersebut dengan kehidupan yang dimilikinya. Sebaliknya pun begitu, ketika inidividu merasa
kesulitan dalam menjalankan perannya dan menyesuaikan diri dengan harapan baru mereka,
maka orang dewasa tersebut akan cenderung tidak puas dengan kehidupan yang dijalaninya.
 Pekerjaan
Pekerjaan juga merupakan faktor dari life satisfaction. Ketika individu menikmati dan
menyukai pekerjaannya, serta memiliki perasaan bahwa pekerjaan tersebut adalah hal yang
penting dan bermakna, maka individu akan cenderung puas dengan kehidupannya.
Sebaliknya, ketika individu memiliki perasaan bahwa pekerjaannya buruk, karena faktor
lingkungan kerja yang tidak mendukung ataupun tidak sesuai dengan diri individu, maka
individu akan merasa tidak puas pada kehidupannya.
 Penghasilan dan Pendapatan
Penghasilan juga berhubungan life satisfaction, serta kaitannya dengan kepuasan
finansial yang dimiliki oleh individu. Selain ke life satisfaction, pengahsilan juga mempunyai
hubungan yang lemah dengan kebahagiaan. Hal ini bersesuain dengan laporan yang
mengemukakan bahwa kemiskinan dapat menyebabkan individu tidak bahagia, meskipun
begitu kekayaan juga dikatakan tidak selamanya menyebabkan individu bahagia.
 Usia
Beberapa hasil penelitian yang dilakukan menemukan bahwa individu yang berusia
muda lebih bahagia daripada individu yang berusia lanjut. Selain itu ditemukan pula hasil
penelitian yang menyatakan adanya hubungan yang positif antara usia dengan life
satisfaction.
 Agama/Kepercayaan
Agama dapat menyediakan manfaat bagi kehidupan sosial dan psikologis individu, yang
akhirnya mampu meningkatkan life satisfaction. khususnya, pada saat-saat kritis, agama
dianggap bisa mewadahi individu dan memberikan perasaan bermakna. Selain itu, agama
juga dapat berupa identitas kolektif dan jaringan sosial dari sekumpulan individu yang
memiliki kesamaan sikap dan nilai.
 Hubungan sosial
Hubungan sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap life satisfaction. Individu
yang memiliki hubungan sosial yang baik dengan mencakup adanya interkasi yang posisitif
dengan orang-orang dilingkungannya, akan cenderung puas dengan kehidupannya.
Sebaliknya, individu yang tidak memeiliki hubungan sosial yang baik akan cenderung merasa
tidak puas terhadap kehidupan yang dimiliki.
Daftar Pustaka

Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., & Griffin, S. (1985). The satisfaction with life
scale. Journal of Personality Assessment, 49, 71–75.

Diener, Ed., Suh, M.E., Lucas, E.R. & Smith, L.H. (1999). Subjective Well Being: Three
Decades Of Progress. Psychological Bulletin, 125, 276-302.

Dienner, E., Lucas, R. E., & Oishi, S. (n.d.). Subjective Well Being: The Science of Happiness
and Life Satisfaction. [online] diakses dari https://greatergood.berkeley.edu
/images/application_uploads/Diener-Subjective_Well-Being.pdf pada tanggal 9 Maret
2017

Eid, M. & Larsen, R.J. (2008) Ed Diener and the science of subjective well being dalam Eid,
M. & Larsen. [online] diakses dari http://www.guilford.com/excerpts/eid.pdf pada
tanggal 9 Maret 2017

Hurlock, E. B. (1980). Psikologi perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Theofilou, P. (2013). Quality Of Life Definition And Measurement: Europes Journal of


Psychology Vol 9, 150 – 162 [online] diakses dari https://pdfs.semanticscholar.
org/e6d3/548eb9a7243f4cac2772cd3577b106596975.pdf pada tanggal 9 Maret 2017