Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan dalam kehidupan adalah hal mutlak yang selalu

diharapkan oleh manusia, karena semua kegiatan atau rutinitas manusia

dapat berjalan dengan lancar apabila rohani dan jasmaninya sehat. Hidup

sehat dengan mengatur pola makan, memakan makanan yang bergizi,

istirahat yang cukup dan berolah raga mampu menghindarkan dari

berbagai penyakit. Namun adakalanya penyakit datang tanpa kita sadari

dan terkadang tanpa kita rasakan, salah satunya adalah penyakit di dalam

tubuh manusia. Leukemia atau kanker darah yang sangat berbahaya

memiliki gejala umum seperti penyakit ringan ternyata dapat diketahui

tanpa sengaja dalam ”general check up”.

Leukemia terjadi karena penyakit kanker yang menyerang sel-sel

darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow) sehingga

sel darah putih memproduksi sel yang abnormal menjadi sel leukemia.

Berbahaya karena produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal)

akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah

perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila

berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya.

Para ahli kedokteran sampai saat ini masih meraba penyebab

terjadinya penyakit tersebut karena banyak faktor penyebab namun belum

ada yang mendominasi hingga terjadinya penyakit tersebut. Oleh karena

itu untuk mencegah leukemia atau kanker darah kita harus mengenal lebih

1
jauh tentang leukemia, bagaimana gejala-gejalanya, dampak dari penyakit

leukemia, cara diagnosa dan penyembuhannya.

Dari uraian tersebut, maka penulis akan mencoba membahas tentang

“ Penyakit Leukemia”.

. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka permasalahan dalam makalah
ini, bagaimanakah konsep teori dasar Steven Jhonson, dan konsep asuhan
keperawatan pada pasien dengan Steven Jhonson ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan konsep teori dasar, dan asuhan keperawatan pada klien
dengan Steven Jhonson.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Menjelaskan pengkajian keperawatan yang dilakukan pada klien
dengan Steven Jhonson
2.3.2.1 Menjelaskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Steven
Jhonson
3.3.2.1 Menjelaskan intervensi pada klien dengan Steven Jhonson
4.3.2.1 Menjelaskan implementasi pada klien dengan Steven Jhonson
5.3.2.1 Menjelas evaluasi yang diharapkan pada klien dengan Steven
Jhonson

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Teoritis
Sebagai bahan teori yang dapat diterapkan dalam pelayanan asuhan
keperawatan kepada pasien pada kasus Steven Jhonson.

1.4.2 Praktis
1.4.2.1 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat
dikembangkan dan diperbaharui sesuai dengan sumber referensi yang
tertera.
1.4.2.2 Bagi mahasiswa, menjadi bahan teori sebagai pemahaman konsep
studi kasus pada penerapan asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
1.4.2.3 Bagi pendidikan dan pelayanan kesehatan, yaitu sebagai bahan
penunjang materi ajaran, yang dapat digunakan atau diterapkan untuk
mahasiswa ilmu keperawatan dalam proses pembelajaran, dan dapat
diperbaharui sesuai teori, dan konsep yang sesuai.
2
3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Defenisi Penyakit Leukemia

Darah adalah jaringan terspesialisasi yang mencakup cairan

kekuningan atau plasma darah yang didalam nya terkandung sel-sel darah.

Sel-sel darah terdiri dari sel darah merah ( eritrosit ), sel darah putih

(leukosit ) dan keping darah ( trombosit ). Komposisi plasma dalam darah

sekitar 55 %, sedangkan sel-sel darah dan trombosit sekitar 45 % l. Sel dan

keping darah lebih berat dibandingkan plasma sehingga dapat di pisahkan

melalui prosedur yang di sebut sentrifugasi.

Leukemia adalah penyakit akibat terjadinya proliferasi sel leukosit

yang abnormal dan ganas serta sering disertai adanya leukosit jumlah yang

berlebihan dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya

berakhir fatal.

Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa

kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah

memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau

abnormal. Dalam keadaan normal, sel darah putih mereproduksi ulang bila

tubuh memerlukannya atau sel darah putih, berfungsi sebagai pertahanan

tubuh, akan terus membelah dalam suatu kontrol yang teratur. Tubuh

manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah

diharapkan bereproduksi kembali.

4
Pada penderita leukemia, sumsum tulang memproduksi sel darah

putih yang tidak normal yang disebut sel leukemia. Sel leukemia yang

terdapat dalam sumsum tulang akan terus membelah dan semakin

mendesak sel normal, sehingga produksi sel darah normal akan mengalami

penurunan, sel darah putih tidak merespon kepada tanda/signal yang

diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal)

akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah

perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila

berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya.

B. Etiologi Penyakit Leukemia

Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor

predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :

a) Faktor Endogen

Faktor Herediter

Adanya Penyimpangan Kromosom Insidensi leukemia

meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada

sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma

5
Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter,

D-Trisomy sindrome, sindroma von Reckinghausen, dan

neurofibromatosis ( Wiernik, 1985; Wilson, 1991 ) . Kelainan-

kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan

informasi gen, misal pada kromosom 21 atau C-group Trisomy,

atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti pada aneuploidy.

Kelainan Genetik

Mutasi genetik dari gen yang mengatur sel darah yang tidak

ditururnkan

b) Faktor Eksogen

Virus

Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia

pada manusia adalah Human T-Cell Leukemia . Jenis leukemia

yang ditimbulkan adalah Acute T- Cell Leukemia .

Bahan Kimia dan Obat-obatan

Paparan kromis dari bahan kimia ( misal : benzen )

dihubungkan dengan peningkatan insidensi leukemia akut, misal

pada tukang sepatu yang sering terpapar benzen. Selain benzen

beberapa bahan lain dihubungkan dengan resiko tinggi dari AML,

antara lain : produk – produk minyak, cat , ethylene oxide,

herbisida, pestisida, dan ladang elektromagnetik.

6
Obat-obatan anti neoplastik ( misal : alkilator dan inhibitor

topoisomere II ) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom

yang menyebabkan AML. Kloramfenikol, fenilbutazon, dan

methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan kegagalan sumsum

tulang yang lambat laun menjadi AML.

Radiasi

Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia ( ANLL )

ditemukan pada pasien-pasien anxylosing spondilitis yang

mendapat terapi radiasi, dan pada kasus lain seperti peningkatan

insidensi leukemia pada penduduk Jepang yang selamat dari

ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga pada

pasien yang mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic,

C. Gejala Klinis

Gejala penderita leukemia bevariasi tergantung dari jumlah sel

abnormal dan tempat berkumpulnya sel abnormal tersebut. Gejala

umum penderita leukemia yaitu :

1. Demam atau keringat malam.

2. Sering mengalami infeksi, sel darah putih berperan sebagai

pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi.

Pada penderita leukemia, sel darah putih yang terbentuk adalah

tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya.

Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri,

7
bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya

demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.

3. Anemia, penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat

dan bernafas cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan

oxygen dalam tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat

sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh)

4. Pucat.

5. Sakit kepala.

6. Mudah berdarah atau memar. Misalnya gusi mudah

berdarah saat sikat gigi, muda memar saat terbentur ringan).

7. Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak

terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel darah putih,

maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit

(banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).

8. Nyeri pada tulang dan/atau sendi, hal ini disebabkan

sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat

oleh sel darah putih.

9. Pembengkakan Kelenjar limfa. Penderita kemungkinan

besar mengalami pembengkakan pada kelenjar limfa, baik itu yang

dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas

menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan

menyebabkan pembengkakan.

10. Pembesaran kelenjar getah bening, terutama di leher dan

ketiak.

8
11. Penurunan berat badan, di akibatkan oleh nyeri perut

dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan

empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh

ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya

nafsu makan penderita leukemia.

12. Penurunan konsentrasi.

13. Kehilangan kendali otot, dan kejang.

14. Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin

menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila

terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.

15. Sel leukemia juga dapat berkumpul di buah zakar dan

menyebabkan pembengkakan.

para pekerja yang terekspos radiasi dan para radiologis.

D. Patofisiologi Penyakit Leukemia

Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang

menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang

(bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh

manusia memproduksi tiga tipe sel darah diantaranya sel darah putih

(berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah

(berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil

sel darah yang membantu proses pembekuan darah).

Leukemia adalah jenis gangguan pada system hemapoetik yang fatal

dan terkait dengan sumsum tulang dan pembuluh limfe ditandai dengan

tidak terkendalinya proliferasi dari leukosit. Jumlah besar dari sel


9
pertama-tama menggumpal pada tempat asalnya (granulosit dalam

sumsum tulang, limfosit di dalam limfe node) dan menyebar ke organ

hematopoetik dan berlanjut ke organ yang lebih besar sehingga

mengakibatkan hematomegali dan splenomegali.

Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringa

perifer serta mengganggu perkembangan sel normal. Akibatnya,

hematopoesis normal terhambat, mengakibatkan penurunan jumlah

leukosit, eritrosit, dan trombosit. Eritrosit dan trombosit jumlahnya dapat

rendah atau tinggi tetapi selalu terdapat sel imatur.

Proliferasi dari satu jenis sel sering mengganggu produksi normal sel

hematopoetik lainnya dan mengarah ke pembelahan sel yang cepat dan

trombositopenia atau penurunan jumlah. Pembelahan dari sel darah putih

meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi karena penurunan imun.

Trombositopeni mengakibatkan perdarahan yang dinyatakan oleh

ptekie dan ekimosis atau perdarahan dalam kulit, epistaksis atau

perdarahan hidung, hematoma dalam membrane mukosa, serta

perdarahan saluran cerna dan saluran kemih. Tulang mungkin sakit dan

lunak yang disebabkan oleh infark tulang.

10
Skema Patofisiologi Dari Penyakit Leukemia

E. Pemeriksaan Diagnosis Penyakit Leukemia

1. Pemeriksaan fisik, yaitu dengan pemeriksaan pebengkakan nodus-

nodus getah bening, limfa dan hati.

2. Tes darah dan tes laboratorium untuk memeriksa tingkat sel-sel darah.

11
3. Biopsy. Biopsy adalah pengangkatan jaringan untuk mencari sel-sel

kanker.

4. Pemeriksaaan darah complete blood count (CBC). Dari pemeriksaan

darah, dapat ditemukan kadar sel darah putih yang meningkat atau

berkurang dan adanya sel leukemia.

F. Jenis-jenis Leukemia

 Leukemia Mielositik Akut (LMA)

LMA disebut juga leukemia mielogenus akut atau leukemia

granulositik akut (LGA) yang di karakteristikkan oleh produksi

berlebihan dari mieloblast. Sering terjadi pada semua usia, tetapi

jarang terjadi pada anak-anak. Mieloblast menginfiltrasi sumsum

tulang dan ditemukan dalam darah. Hal ini dapat mengakibatkan

terjadinya anemia, perdarahan, dan infeksi, tetapi jarang disertai

keterlibatan organ lain.

 Leukemia Limfositik Akut (LLA)

LLA sering menyerang pada masa anak – anak dengan presentase

75% - 80%. LLA menginfiltrasi sumsum tulang oleh sel limfoblastik

yang menyebabkan anemia, memar (trombositopeni), dan infeksi

(neutropenia). Limfoblas biasanya di temukan dalam darah tepi dan

selalu ada di sumsumtulang, hal ini mengakibatkan terjadinya

limfadenopati, splenomegali, dan hepatomegali, tetapi 70% anak

dengan leukemia limfatik akut kini bisa disembuhkan.

 Leukemia Limfositik Kronis (LLK)


12
LLK terjadi pada manula dengan limfadenopati generalisata dan

peningkatan jumlah leukosit disertai limfositosis, Perjalanan penyakit

biasanya jinak dan indikasi pengobatan adalah hanya jika timbul

gejala.

 Leukemia Mielositik Kronis (LMK)

LMK sering juga disebut leukemia granulositik kronik (LGK),

gambaran menonjol adalah :

a. Adanya kromosom Philadelphia pada sel-sel darah. Ini adalah

kromosom abnormal yang ditemukan pada sel-sel sumsum tulang.

b. Krisis blast fase yang dikarakteristikkan oleh poroliferasi tiba-tiba

dari jumlah besar mieloblasT.

G. Pengobatan Penyakit Leukemia

1. Kemoterapi dengan obat; penggunaan ini bersifat menyerang dan

menghancurkan sel-sel kanker patologis yang menyerang akan tubuh.

Nah kalau tadi penggunaan kemoterapi dapat mengakibatkan kanker

baru memang benar. Biasanya penggunaan obat ini ditambahkan

dengan obat penghambat munculnya penyakit baru. Terdapat tiga fase

pelaksanaan kemoterapi yaitu fase induksi, fase Profilaksis Sistem

saraf pusat, dan konsolidasi.

a) Fase Induksi

Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase

ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin dan L-

asparaginase. Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda


13
penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang

ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.

b) Fase Profilaksis Sistem saraf pusat

Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan

hydrocotison melaui intrathecal untuk mencegah invsi sel

leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada

pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.

c) Konsolidasi

Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan unutk

mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia

yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan

dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon

sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum

tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat

dikurangi.

2. Radiasi; Penggunaannya sendiri dengan dosis tinggi yang nantinya

diakumulasikan pada daerah berakumulasinya sel leukemia.

3. Transplantasi Sumsung tulang belakang; biasanya adalah sumsum

tulang belakang dari saudara kandung atau saudara dekat.

Keuntungannya adalah sisem imun tidak akan aktif untuk membunuh

sel hasil transplantasi. Kerugiannya sendiri adalah sel yang akan

berfungsi dalam waktu yang sangat lama, tidak akan berfungsi dengan

baik dalam waktu yang singkat.

14
4. Transfusi darah, biasa nya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6 g%.

Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan massif, dapat

diberikan tranfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat

diberikan heparin.

5. Kortikosteroid (prednisone, kortison, deksametason dan sebagainya).

Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan

akhirnya dihentikan.

6. Sitostatika. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi

berasama-sama dengan predison. Pada pemberian obat ini sering

ditemukan efek samping berupa alopesia (botak), stomatitis,

leucopenia, infeksi sekunder atau kandidiasis.

7. Infeksi sekunder dihindarkan (lebih baik pasien dirawat di kamar

yang suci hama).

8. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah

tercapai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105 – 106).

15
BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Leukemia adalah penyakit akibat terjadinya proliferasi sel leukosit

yang abnormal dan ganas serta sering disertai adanya leukosit jumlah yang

berlebihan dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya

berakhir fatal.Etiologi dari penyakit leukemia yaitu dapat berupa faktor

endogen dan faktro eksogen. Terapi yang diberikan pada penderita

leukemia akut bertujuan untuk menghancurkan sel-sel leukemia dan

mengembalikan sel-sel darah yang normal.Terapi yang dipakai biasanya

adalah kemoterapi (pemberian obat melalui infus),obat-obatan, ataupun

terapi radiasi. Untuk kasus-kasus tertentu, dapat jugadilakukan

transplantasi sumsum tulang belakang.Mengenai kemungkinan

keberhasilan terapi, sangat tergantung waktupenemuan pertama penyakit si

penderita. Apakah dalam stadium awal atau sudahlanjut, subtipe penyakit,

teratur tidaknya jadwal terapi yang dilakukan, timbul Relapse (kambuh)

atau tidak selama terapi maupun kemungkinan penyebab yangbisa

diperkirakan.

B. Saran

Diharapkan sebagai mahasiswa kesehatan, penyusun dapat

menggali lebih luas dan lebih dalam lagi mengenai penyakit Leukemia

serta menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat mensosialisasikan

pada teman sejawat. Meningkatkan pengetahuan mengenai asuhan


16
keperawatan dengan Leukemia dan dikembangkan melalui pelatihan dan

seminar untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang nantinya

akan diberikan kepada pasien.

17
DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. (2005). Perawatan anak sakit. (ed 2). Jakarta : EGC.

Saripudin. Yuliani, R. (2010). Asuhan keperawatan pada anak (Ed.

2nd). Jakarta : CV. Sagung

Seto.

Hidayat, alimul azis. (2006). Pengantar ilmu keperawatan anak.

Jakarta: Salemba Medika

18
DAFTAR PUSTAKA

Mehta Atul & Victor Hoffbrand. 2006. Hematologi. Erlangga. Jakarta.

Pierce A. Grace & Neil R. Borley. 2006. Ilmu Bedah. Erlangga. Jakarta.

Simon, Sumanto. 2003. Neoplasma Sistem Hematopoietik: Leukemia. Fakultas


Kedokteran Unika Atma Jaya. Jakarta.

Smeltzer Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. EGC. Jakarta.
Suriadi & Rita. 2005. Asuhan Keperawatan pada Anak, CV Sagung Seto : Jakarta.

Wilkinson, M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi


NIC dan Kriteria Hasli NOC. EGC : Jakarta

Wiwik H. & Andi Sulistyo H. 2008. Pengertian Leukemia. EGC. Jakarta.

19