Anda di halaman 1dari 13

Analisis Artikel Jurnal PTK

Posted on April 17, 2012

Judul : Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model Matematika Dari


Soal Cerita*

Peneliti: Eneng Erliani, Eli Rohmatullaeli, dan Nanang

Download artikel yang dianalisis klik disini ya!!

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penelitian dan penulisan PTK

1. Penulisan Judul

Artikel ini berjudul “Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model


Matematika Dari Soal Cerita”. Dengan melihat/membaca judul artikel saja, kita sudah bisa
memastikan bahwa penelitian tersebut menggunakan PTK karena menggunakan kata
kunci “meningkatkan”. Sebagaimana diketahui bahwa PTK merupakan jenis penelitian yang
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (prestasi siswa) dan keprofesionalan
guru dalam mengajar.

1. PTK merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan
keprofesionalan guru maupun dosen. Dalam pelaksanaannya dosen dan guru perlu
melakukan segala langkah penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal
hingga akhir selain itu dapat pula dilakukan sendiri – sendiri baik oleh dosen maupun
guru. Data penelitian tindakan kelas pada dasarnya dikumpulkan oleh guru yang berperan
sebagai peneliti dan pengajar, dan jika perlu dapat dibantu oleh teman sejawat.

Analisis:

Secara umum, penelitian ini telah sesuai dengan filosofis PTK dimana penelitian ini dilakukan
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dalam hal ini kemampuan siswa membuat model
matematika. Penelitian inipun dilakukan oleh guru sendiri (pengajar sekaligus peneliti) yaitu ibu
Eneng Erliani dan dilakukan secara kolaboratif dengan teman sejawat, ibu
Eli Rohmatullaeli serta Nanang yang merupakan seorang dosen di perguruan tinggi. Dengan
demikian, PTK ini menunjang peningkatan professional guru/dosen.

1. Salah satu prosedur yang pertama kali dilakukan dalam PTK adalah merasakan adanya
masalah kemudian mengidentifikasi masalah. Dengan kata lain Penetapan Fokus/Masalah
Penelitian.

Analisis:

Peneliti telah melakukan salah satu prosedur PTK yaitu Penetapan Fokus/Masalah Penelitian. Hal
ini terlihat dari adanya masalah dimana banyak siswa yang belum mengerti dan menanyakan balik
kepada peneliti saat pembelajaran berlangsung, apa artinya (baca: masalah matematika dalam
bentuk soal cerita) dalam bahasa Sunda. Peneliti menyadari bahwa metode tanya jawab yang
dilakukannya dalam praktik pembelajaran selama ini kurang cocok sehinga perlu dicari solusinya.
Peneliti tertarik untuk mempertimbangkan penggunaan bahasa Sunda dalam
pembelajaran pemecahan masalah soal cerita khusunya dalam membuat model matematika.
Dengan demikian peneliti bermaksud untuk memperbaiki metode pembelajaran sehingga dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat model matematika.

1. Pada umumnya, rumusan masalah


untuk PTK selalu berupa pertanyaan tentang tindakan seperti apa yang akan
menghasilkan pemecahan masalah sesuai target yang dinginkan. Penerapan tindakan
yang bagaimanakah yang dapat mengatasi masalah adalah pertanyaan sentralnya.

Analisis:

Adapun rumusan permasalahan pada artikel yang dianalisis ini


yaitu: Pembelajaran pemahaman soal cerita yang bagaimanakah yang
mampu membantu siswa membuat model matematika dengan baik?

Meskipun rumusan permasalahan diatas menunjukkan adanya tindakan, yaitu peneliti mencari
tahu tentang sintax/lintasan belajar yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
membuat model matematika, namun kurang menujukkan ketegasan pada ide sentral dari
tindakan yang dilakukan. Peneliti sama sekali tidak menyinggung tentang penggunaan bahasa
Sunda yang dapat membantu siswa untuk membuat model matematika dari soal cerita. Padahal
dalam bab pendahuluan, peneliti telah mempertimbangkan penggunaaan bahasa ibu (bahasa
Sunda) sebagai solusinya.

1. Proses siklus dalam PTK meliputi 4 aktivitas utama yaitu rencana tindakan (planning),
penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan
(observation and evaluation), melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai
dicapai kualitas pembelajaran dan hasil belajar yang diinginkan.

Analisis:

Penerapan peryataaan dapat ditemukan pada jurnal PTK Pembelajaran Untuk Meningkatkan
Kemampuan Membuat Model Matematika Dari Soal Cerita yang dianalisis ini. Hal ini terlihat dari
penjelasan peneliti yang diuraikan pada bagian metode penelitian. Dijelaskan bahwa penelitian
berlangsung
dalam 2 siklus, dan pada setiap siklus dilakukan dua kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari
langkah-langkah berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindak pembelajaran, (3)
pengamatan terhadap tindak pembelajaran dan dampaknya, serta (4) refleksi terhadap tind
ak pembelajaran yang telah dilakukan. Penulis pun telah menjelaskan secara detail langkah –
langkah kegiatan yang terjadi pada setiap siklus, baik persamaan maupun perbedaan tindakan
yang diberikan antarsiklus yang satu dengan yang lain.

1. Analisis data adalah upaya yang dilakukan oleh guru yang berperan sebagai peneliti untuk
merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat
dipercaya dan benar. Analisis data dilakukan dengan cara memilih, memilah,
mengelompokkan, data yang ada, merangkumnya, kemudian menyajikan dalam bentuk
yang mudah dibaca atau dipahami. Penyajian hasil analisis data kualitatif dapat dibuat
dalam bentuk uraian singkat, bagan alur. Atau tabel sesuai dengan hakikat data yang
dianalisis.

Analisis:

Pada jurnal PTK ini terdapat analisis data yang berisi paparan mengenai kegiatan PTK yang telah
dilakukan serta teknik pengumpulan data. Adapun data yang dikumpulkan peneliti yaitu
digunakan data hasil tes yang memerintahkan siswa untuk mengubah soal cerita menjadi model
matematika, melakukan wawancara dengan siswa untuk mengetahui responnya, dan
mengobservasi tindak pembelajaran yang dilakukan guru. Disamping itu untuk lebih memudahkan
pembaca dalam memahami isi jurnal, peneliti yang juga merupakan penulis jurnal, menyajikan
hasil analisis data kualitatif ke dalam bentuk tabel yang sederhana namun sangat komunikatif.
Selanjutnya penulis pun mendeskripsikan informasi yang ada pada tabel , faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi sehingga hasilnya seperti itu disertai dengan tindakan yang harus diambil
pada setiap siklus pada tahap selanjutnya.

1. 7. Data kuantitatif dianalisis dengan statistik deskriptif untuk menemukan presentase,


dan nilai rata-rata. Penyajian hasil analisis dapat dilakukan dengan membuat tabel
distribusi atau grafik.

Analisis:

Di dalam jurnal PTK ini, peneliti tidak mencantumkan daftar data hasil penelitian tindak kelas yang
telah dilakukan secara detail, peneliti hanya menuliskan prosentase akhir dari hasil nilai tes siswa
SMP Negeri 4 Tarogong Kidul, Garut setelah mengikuti kegiatan kegiatan pembelajaran pada
setiap siklus.

1. Menyimpulkan adalah mengikhtisarkan atau memberi pendapat berdasarkan hal/sesuatu


yang diuraikan sebelumnya. Sejalan dengan itu, kesimpulan atau simpulan adalah
kesudahan pendapat atau pendapat terakhir yang dibuat berdasarkan uraian sebelumnya.

Analisis:

Pernyataan di atas sesuai dengan kesimpulan yang terdapat di dalam jurnal PTK yang dianalisis,
berisi tentang ikhtisar dari penelitian PTK yang dilakukan dan isi kesimpulan ini menjawab
rumusan permasalahan dan tujuan penelitian yang terkandung di dalam pendahuluan. Adapun
kesimpulan penelitian ini yaitu berupa sintax/model pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam membuat model matematika dari soal cerita antara lain: (1)
Guru memberi contoh soal cerita, (2) guru bersama siswa menterjemahkan contoh soal k
e dalam bahasa sendiri (bahasa Sunda), (3) guru bersama siswa membuat model matemat
ika, (4) siswa diberi Lembar Kerja (LK) berbentuk soal cerita. Di dalam LK tersebut dilengkapi
dengan contoh soal cerita dan
terjemahannya, (5) bersama kelompoknya, siswa membuat model matematika, (6) perwak
ilan salah satu kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas
dan ditanggapi oleh kelompok lain, (7)hasil karya siswa dipajang di kelas sebagai
sumber belajar

1. Dalam kaitan dengan PTK, kesimpulan harus disusun secara singkat, padat, dan jelas
sesuai dengan uraian, dan mengacu kepada pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan.
Disamping itu, kesimpulan harus disusun secara sistematis sesuai dengan urutan
pertanyaan penelitian/tujuan perbaikan.

Analisis:

Kesimpulan pada artikel yang dianalisis ini telah sesuai dengan pernyataan diatas. Namun karena
rumusan permasalahan/ tujuan penelitian hanya satu maka kesimpulan yang dibuatpun hanya
satu.

1. Saran dimaknai sebagai: pendapat (usul, anjuran, cita-cita) yang dikemukakan untuk
dipertimbangkan. Dalam kaitan dengan PTK, saran merupakan pemikiran yang diajukan
oleh guru peneliti untuk menindaklanjuti hasil penelitiannya.

Analisis:

Penyajian saran pada jurnal PTK ini, berisi tentang anjuran peneliti kepada guru-guru lain yang
mengalami hal yang sama yaitu rendahnya kemampuan siswa dalam membuat model matematika
dari soal cerita agar mencobakan model pembelajaran yang telah peneliti lakukan. Selain itu,
peneliti lain dapat menerapkan model pembelajaran yang ada untuk KD yang lain.
*
Artikel ini dimuat pada jurnal PTK DBE3 (Decentralized Basic Education 3) Edisi Februari 201
PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MEMBUAT MODEL MATEMATIKA DARI SOAL CERITA
Eneng Erliani, Eli Rohmatullaeli, dan Nanang *)

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini dimaksudkan untuk menemukan model


pembelajaran soal cerita yang mampu meningkatkan kemampuan siswa membuat model
matematika dari soal cerita tersebut. Penelitian dilakukan di SMPN 4 Tarogong Kidul
Garut dengan subyek 40 orang siswa kelas VII D. Hasil analisis terhadap data yang
dikumpulkan melalui observasi, wawancara, jurnal refleksi siswa, dan tes menunjukkan
bahwa di dalam membelajarkan soal cerita: (1) siswa perlu dibantu dan didorong untuk
menerjemahkan soal cerita ke dalam bahasa mereka sendiri, (2) di dalam lembar kerja
siswa, hendaknya disediakan contoh masalah sekaligus terjemahannya dalam bahasa
siswa, (3) sebelum bekerja di dalam kelompok, para siswa hendaknya diminta untuk
bekerja secara individual terlebih dahulu.

Kata Kunci: Bahasa siswa, belajar matematika, model matematika, soal cerita, terjemah.

Pendahuluan Secara umum, kemampuan


Kemampuan memecahkan masa- memecahkan soal cerita merupakan bagi-
lah yang berbentuk soal cerita merupakan an dari kemampuan memecahkan masa-
kompetensi penting yang harus dimiliki lah matematika. Polya (Biryukov, 2003:2),
siswa. Kemampuan tersebut berkontribusi Soedjadi (1994), dan Haji (1994), menge-
dalam kemampuan pemecahan masalah mukakan empat langkah pokok pemeca-
hidup sehari hari (Haji, 1994; Bernawi, han masalah matematika, yaitu: (1) mema
2010), meningkatkan kemampuan berpikir -hami masalah, (2) merumuskan rencana
deduktif, dan memperkuat pemahaman penyelesaian, (3) menjalankan rencana
matematika siswa (Haji, 1994). tersebut, dan (4) melihat kembali penye-
Sayangnya, kemampuan para lesaiannya. Sehubungan dengan itu, untuk
siswa di SMP Negeri 4 Tarogong Kidul, membantu siswa memiliki kemam-puan
Garut, dalam memecahkan masalah dalam pemecahan masalah, pembelajaran mate-
bentuk soal cerita masih memprihatinkan. matika hendaknya membantu siswa
Dari tahun ke tahun, kurang lebih menguasai langkah-langkah pemecahan
sebanyak 85% siswa mengalami kesulitan masalah tersebut. Terkait dengan perma-
memecahkan masalah soal cerita. Seper- salahan yang peneliti uraikan di atas,
tinya siswa kurang mampu mengubah pembelajaran harus lebih banyak diarah-
masalah yang dituliskan dalam bentuk kan untuk membantu siswa memahami
cerita tersebut menjadi model mate- masalah.
matika. Ini terbukti dari kenyataan bahwa Dalam konteks soal cerita, pembe-
rata-rata hampir sekitar 70% siswa lajaran untuk memahami masalah adalah
mampu menyelesaikan masalah yang pembelajaran yang dimaksudkan untuk
model matematikanya sudah jelas. membantu siswa mengubah cerita

*) Eneng Erliani adalah guru di SMPN 4 Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat. Eli Rohmatullaeli adalah guru
di SMPN 4 Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat. Nanang adalah dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Garut, Jawa Barat.
Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model Matematika dari Soal Cerita

Dalam konteks soal cerita, pamahaman”. Karena itu, rumusan masa-


pembelajaran untuk memahami masalah lah penelitian ini adalah sebagai berikut:
adalah pembelajaran yang dimaksudkan “Pembelajaran pemahaman soal cerita
untuk membantu siswa mengubah cerita yang bagaimanakah yang mampu
tersebut menjadi model matematika. membantu siswa membuat model mate-
Selama ini, praktik pembelajarannya matika dengan baik?” Dengan rumusan
dilakukan peneliti dengan metode tanya ini, peneliti berharap bisa memperoleh
jawab. Peneliti menuliskan soal cerita itu bentuk pembelajaran pemahaman soal
di papan, dan langsung menugaskan siswa cerita yang mampu membantu siswa
secara klasikal mengubah soal cerita itu membuat model matematikanya.
(langsung dari yang tertulisnya dalam
bahasa Indonesia) menjadi “Apa yang Metode
diketahui? Apa yang ditanyakan?, dan Apa Penelitian ini dilaksanakan di kelas
model matematikanya”. Sepertinya prak- VII D SMP 4 Tarogong Kidul Garut.
tik ini kurang cocok untuk siswa. Terbukti, Mayoritas siswa SMP ini (75%) berasal
banyak siswa yang mengemukakan dari keluarga pra sejahtera. Setiap kelas
pertanyaan: “Bu, eta bahasa Sundana rata–rata dihuni oleh 43 siswa. Semua
naon? (Bu ini bahasa sundanya apa?)” siswa diterima tanpa seleksi. Umumnya,
ketika peneliti meminta siswa menuliskan mereka berasal dari daerah pegunungan
“Apa yang diketahui? Apa yang ditanya- dengan jarak rata–rata 6 km dari sekolah.
kan? dan Apa model Matematika?” dari Perjalanan ke sekolah biasanya mereka
suatu soal cerita. Peneliti curiga bahwa tempuh dengan berjalan kaki.
kegagalan ini banyak ditimbulkan oleh Di dalam penelitian ini, peneliti
penguasaan bahasa siswa. menggunakan model Penelitian Tindakan
Di Kabupaten Garut, serta di Kelas (PTK). Penelitian berlangsung dalam
kabupaten-kabupaten lain di wilayah 2 siklus, dan pada setiap siklus dilakukan
Propinsi Jawa Barat, para siswa sangat dua kali pertemuan. Setiap siklus terdiri
dianjurkan untuk mempelajari bahasa dari langkah-langkah berikut: (1) peren-
Sunda. Bahkan, ada hari-hari tertentu canaan, (2) pelaksanaan tindak pembela-
dimana semua siswa, guru, dan seluruh jaran, (3) pengamatan terhadap tindak
warga sekolah diwajibkan berbahasa pembelajaran dan dampaknya, serta (4)
Sunda. Sedikit banyak, bahasa Sunda refleksi terhadap tindak pembelajaran
tampaknya telah mempengaruhi sistem yang telah dilakukan.
klasifikasi bahasa yang digunakan siswa. Pada Siklus I, langkah-langkah
Ketika soal yang diberikan tidak dalam pembelajaran yang dilakukan peneliti
bahasa Sunda, siswa mengalami kesulitan adalah sebagai berikut: (1) Guru memberi
memahaminya. Ini sesuai dengan contoh soal cerita, (2) guru bersama siswa
pendapat Shapir–Worp (Widhiarso, 2005) menterjemahkan contoh soal ke dalam
menyatakan bahwa pikiran manusia bahasa sendiri (bahasa Sunda), (3) guru
ditentukan oleh sistem klasifikasi dari bersama siswa membuat model mate-
bahasa yang digunakannya. matika, (4) siswa diberi Lembar Kerja (LK)
Peneliti tertarik untuk memper- berbentuk soal cerita, (5) bersama
timbangkan penggunaan bahasa Sunda kelompoknya, siswa membuat model
dalam pembelajaran pemecahan masalah matematika, (6) perwakilan salah satu
soal cerita. Hal ini diperkuat oleh kelompok mempresentasikan hasil kerja-
pernyataan Muhlasin (Meirina: 2009), nya di depan kelas dan ditanggapi oleh
“pendekatan bahasa ibu dalam pembe- kelompok lain, (7) hasil karya siswa
lajaran sangat efektif dalam mempercepat dipajang di kelas sebagai sumber belajar.

2
DBE3: Jurnal PTK Vol Khusus, Februari 2011

oleh kelompok lain, (7) hasil karya siswa Data ini dikumpulkan dengan cara mem-
dipajang di kelas sebagai sumber belajar. berikan tes yang memerintahkan siswa
Langkah-langkah pada siklus II mengubah soal cerita menjadi model
secara garis besar sama dengan langkah- matematika.
langkah pada siklus I. Hal yang membe- Mengingat penelitian ini
dakan hanya pada langkah 4 dimana jika di dimaksudkan untuk mendeskripsikan tin-
dalam LK pada siklus I tidak diberikan dak pembelajaran yang mampu mening-
contoh soal dan jawaban; maka pada katkan kemampuan mengubah soal cerita
siklus II diberikan contoh soal dan menjadi model matematika, maka di
jawaban. Di samping itu, LK pada siklus I samping data kemampuan membuat
tidak menuntut siswa untuk menuliskan model matematika, data lain yang juga
terjemah dari soal cerita ke dalam bahasa dikumpulkan adalah: (1) data tentang
Sunda, sedangkan pada siklus II siswa tindak pembelajaran guru, dan (2) data
dituntut untuk menuliskannya. respons siswa terhadap pembelajaran.
Di dalam penelitian ini, indikator Data tentang tindak pembelajaran guru
keberhasilan tindakan yang dijadikan dikumpulkan melalui observasi oleh
pedoman adalah kemampuan siswa anggota peneliti, dan data respons siswa
membuat model matematika dari soal diperoleh dari tulisan refleksi siswa, serta
cerita. Tindak pembelajaran dianggap hasil wawancara peneliti dengan siswa.
telah berhasil apabila “sedikitnya 60% Semua data ini dipertimbangkan untuk
siswa mampu membuat dengan benar kegiatan analisis dan refleksi, dan menen-
minimal 60% model matematika dari soal- tukan perubahan tindak pembelajaran
soal cerita yang diberikan pada setiap yang diperlukan.
pertemuan”. Jika tidak demikian, tindak
pembelajaran dianggap gagal, dan perlu Hasil dan Pembahasan
diperbaiki serta dicobakan pada siklus Berikut disajikan data dari setiap
berikutnya. siklus dan pembahasannya.
Sehubungan dengan indikator Siklus I
keberhasilan tersebut, data yang dikum- Data tentang hasil tes pada
pulkan di dalam penelitian ini adalah data pertemuan satu dan dua dapat disajikan
tentang kemampuan siswa dalam mem- pada tabel 1 berikut:
buat model matematika dari soal cerita.
Tabel 1. Data Hasil Tes pada Siklus Satu

Banyaknya siswa Persentase


yang menjawab banyaknya siswa
Pertemuan Banyak- Benar sedikitnya yang menjawab Kriteria
nya Soal 60% dari soal Benar sedikitnya Indikator Simpulan
Ke Keberhasilan
yang diberikan 60% dari soal yang
Diberikan
60% siswa
1 3 12 29% mampu Belum
membuat berhasil
dengan benar
minimal 60%
model
matematika Belum
2 8 9 22%
dari soal-soal berhasil
cerita yang
diberikan

3
Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model Matematika dari Soal Cerita

Berdasarkan tabel 1 tampak secara bertahap, yakni secara individual


bahwa pada umumnya siswa belum terlebih dahulu, kemudian hasilnya didis-
mampu membuat model matematika. Ini kusikan dengan kelompoknya, (6) kalau
berarti tindak pembelajaran pada siklus I sebelumnya hasil kerja dipresentasikan di
perlu dibenahi. depan kelas, maka pada perte-muan ini
Tim peneliti selanjutnya menga- dilakukan karya berkunjung ke kelompok
dakan pertemuan untuk melakukan lain dan saling komentar.
analisis dan refleksi. Di dalam pertemuan
ini teridentifikasi bahwa selama siklus I Siklus 2
tersebut: (1) guru tidak memberi instruksi Data tentang hasil tes pada
kepada siswa untuk menuliskan terjemah pertemuan satu dan dua dapat disajikan
soal cerita ke dalam bahasa siswa sendiri, pada tabel 2 berikut:
(2) bimbingan yang diberikan guru kurang Berdasarkan data di atas, tampak

Tabel 2. Data Hasil Tes pada Siklus Dua

Banyaknya siswa Persentase


yang menjawab banyaknya siswa
Pertemuan Banyak Benar sedikitnya yang menjawab Kriteria Indikator Simpulan
Ke Soal 60% dari soal Benar sedikitnya Keberhasilan
yang diberikan 60% dari soal yang
Diberikan
1 3 27 66% 60% siswa Berhasil
mampu membuat
dengan benar
minimal 60%
2 5 28 68,29 % model Berhasil
matematika dari
soal-soal cerita
yang diberikan

optimal, (3) guru berbicara terlalu cepat, bahwa hasil tes - 1 siklus II, sebenarnya
(4) LK tidak diberi contoh atau informasi, sudah diperoleh 66% siswa yang mampu
dan (5) keterbacaan soal tidak jelas. membuat model matematika sedikitnya
Berdasarkan hasil analisis siklus I, 60% dari jumlah soal cerita yang diberikan.
diputuskan bahwa pada siklus II peneliti Hal ini menunjukkan bahwa indikator
melakukan perbaikan-perbaikan antara keberhasilan penelitian sudah tercapai.
lain: (1) siswa dituntut untuk menuliskan Akan tetapi, peneliti tidak tergesa-gesa
terjemahan soal cerita di dalam LK, (2) mengambil kesimpulan.
guru menterjemahkan kalimat per kalimat Peneliti ingin mengetahui apakah
dan menunggu siswa selesai menuliskan- hasil ini cukup konsisten. Sehubungan
nya, (3) LK diberi informasi/contoh dengan itu, peneliti melanjutkan perte-
terbimbing, (4) guru membimbing dengan muan kedua. Ternyata, indikator kebe-
cara mengunjungi semua kelompok dan rhasilan juga tetap tercapai. Karena itu,
memberikan pertanyaan arahan. Di peneliti memutuskan bahwa tindak
samping itu, (5) jika pada siklus I siswa pembelajaran telah berhasil dengan
membuat model matematika secara baik, dan siklus berikutnya tidak
berkelompok, pada siklus II diperbaiki jadi diperlukan lagi.
siswa membuat model matematikanya

4
DBE3: Jurnal PTK Vol Khusus, Februari 2011

Penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak sedangkan waktu tes sama.
pemberian kesempatan kepada siswa Di samping itu, tampak-nya ada faktor lain
untuk menerjemahkan soal cerita ke yang perlu diperhatikan. Lester & Kehle
dalam bahasa Sunda membantu mereka (2003) menyatakan bahwa seorang
memiliki kemampuan membuat model pemecah masalah yang baik, dalam rangka
matematika dari soal cerita dengan baik. mengubah representasi yang satu ke
Hal ini sejalan dengan pendapat Worp- representasi yang lain, senantiasa meng-
Shapir (Widhiarso, 2005), Bernardo koordinasikan pengalaman dan penge-
(2005), dan Muhlasin (dalam Meirina, tahuan yang sudah dimiliki, representasi
2009) tentang peran penguasaan bahasa. yang sudah dikenal, pola-pola penyim-
Soal cerita yang sudah disajikan dengan pulan, dan intuisi mereka. Tampaknya
bahasa yang sudah dikuasai secara lebih pola-pola penyim-pulan dan penggunaan
baik, ternyata lebih mudah diubah intuisi siswa masih perlu ditingkatkan. Ini
menjadi model matematikanya. sejalan dengan temuan Romadhina
Hal penting lain yang diperoleh (2007), yang menyatakan bahwa
dari penelitian ini adalah “dituliskannya di kemampuan bernalar dan kemampuan
dalam LK berisi beberapa informasi dan berkomunikasi siswa berkontribusi pada
contoh soal lengkap dengan jawabannya kemampuan pemecahan masalah siswa.
ternyata membantu meningkatkan
kemampuan siswa membuat model mate- Simpulan dan Saran
matika.” Hal ini sejalan dengan pendapat Pada dasarnya, syntax pembela-
Supriyanto (2006) yang menyatakan jaran dalam rangka pembelajaran untuk
bahwa LK yang dilengkapi dengan infor- membantu siswa mampu membuat model
masi atau contoh soal yang dilengkapi matematika dari soal cerita adalah sebagai
jawaban, dapat meningkatkan kemam- berikut: (1) Guru memberi contoh soal
puan pemahaman siswa sebesar 30%.” cerita, (2) guru bersama siswa menterje-
Terkait dengan meminta siswa mahkan contoh soal ke dalam bahasa
untuk terlebih dahulu menuliskan model sendiri (bahasa Sunda), (3) guru bersama
matematika secara individual, menurut siswa membuat model matematika, (4)
hemat peneliti ini akan memberikan siswa diberi Lembar Kerja (LK) berbentuk
kesempatan kepada siswa untuk mencoba soal cerita, (5) bersama kelompoknya,
memahami soal cerita tersebut. Perco- siswa membuat model matematika, (6)
baan ini bisa berhasil tetapi juga bisa perwakilan salah satu kelompok mempre-
gagal. Akan tetapi, percobaan itu sendiri sentasikan hasil kerjanya di depan kelas
telah memberikan kesempatan kepada dan ditanggapi oleh kelompok lain, (7)
siswa untuk mengolah struktur kognitif hasil karya siswa dipajang di kelas sebagai
yang dimilikinya. Skema di dalam struktur sumber belajar. Berdasarkan hasil analisis
kognitifnya mungkin akan menjadi lebih dan pembahasan, agar pembelajaran ini
kaya dan lebih terhubungkan. Dengan berhasil dengan baik, maka pada tahap
begitu, siswa siap untuk berdiskusi dengan (4), di dalam LK juga harus tersedia contoh
teman kelompoknya, dan memperoleh soal cerita dan contoh terjemahannya.
pemahaman yang lebih baik. Selanjutnya, sebelum siswa berkelompok
Namun demikian, kalau diperha- membuat model matematika, secara
tikan, kenaikan persentase siswa yang individual, mereka harus membuat model
menjawab benar minimal 60% dari soal matematika, dan model inilah yang
yang diberikan sebenarnya tidak terlalu didiskusikan di dalam kelompok.
tinggi. Salah satu faktornya mungkin Sehubungan dengan hasil simpu-
adalah jumlah soal tes di pertemuan 2 lan di atas, kepada kepada para guru yang

5
Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model Matematika dari Soal Cerita

didiskusikan di dalam kelompok. KD yang dicakup hanyalah pemecahan


S e h u b u ng a n de n g a n h a s i l masalah yang berkaitan dengan bilangan
simpulan di atas, kepada kepada para guru bulat dan pecahan; persamaan linear satu
yang para siswanya mengalami kesulitan variabel; himpunan juga konsep segi
dalam membuat model matematika dari empat dan segitiga, peneliti menyarankan
soal cerita, peneliti menyarankan agar agar rekan peneliti lain berkenan meneliti
mencobakan model pembelajaran yang penerapan pembelajaran ini untuk KD
telah peneliti lakukan. yang lain.
Agar diperoleh hasil yang lebih
mapan, mengingat di dalam penelitian ini,

Daftar Rujukan
Bernardo, A. (2005) The Journal of Psychology Interdisciplinary and Applied. Volume 139
number 5/ September 2005 page : 413-425

Bernawi, P.I. (2010). Proses dan Strategi Riset. Makalah. Bandung: Kopertis IV.

Biryukov, P. (2003). Metacognitive Aspects of Solving Combinatorics Problems. Berr-


Sheva: Kaye College of Education.

Haji, M. (1994). Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita di Kelas VI
SD Negeri Percobaan Surabaya. Tesis, PPS IKIP Malang.

Lester, F. K., & Kehle, P. E. (2003). From problem solving to modeling: the evolution of
thinking about research on complex mathematical activity. In: R. Lesh, & H. Doer
(Eds.), Beyond constructivism. Models and modeling perspectives on mathematics
problem solving, learning, and teaching (pp. 501–517). Mahwah, NJ: Lawrence Erl-
baum Associates, Publishers.

Meirina, Z (2009). Peran Bahasa Ibu dalam Memberantas Buta Aksara. http://
www.borneotribune. com/Pandora. html

Romadhina, D. (2007). Pengaruh Kemam-puan Penalaran dan Kemampuan Komunikasi


Matematik terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita pada Pokok Bahasan
Bangun Ruang Sisi Lengkung Siswa Kelas IX SMP Negeri 29 Semarang Melalui
Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Skripsi, FMIPA, Universitas Negeri
Semarang

Supriyanto. (2006). Kerucut Pemahaman. http://supriyanto.fisika.ui.ac.id/kerucut pema-


hamanbag3.html [on line] 14 Juli 2010. Tersedia.
Widhiarso, W. (2005). Pengaruh Bahasa terhadap Pikiran. Yogyakarta: Fakultas Psikologi
UGM.

6
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL
NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN
KEAKTIFAN DAN PENGUASAAN KONSEP MATEMATIKA
Mustafa, Yusnani, dan Baharuddin*)

Abstrak: Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan model pembelajaran NHT


(Number Head Together) yang mampu meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep
matematika siswa. Menggunakan Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif, penelitian
menunjukkan bahwa Model NHT yang mampu meningkatkan keaktifan dan pemahaman
konsep matematika siswa memiliki beberapa sifat sebagai berikut: (1) pertama kali, model
NHT harus dijelaskan secara jelas terlebih dahulu kepada siswa, lisan maupun tertulis, (2)
pengelompokan siswa hendaknya dibuat dinamis, (3) pemberian bimbingan kepada siswa
hendaknya terdistribusi merata, (4) penyaji setiap kelompok hendaknya ditentukan secara
acak dengan menggunakan amplop tertutup.

Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Pembelajaran Kooperatif, NHT, Keaktifan Siswa.

Pendahuluan (Suherman dkk, 1999). Oleh karena itu,


Dalam era pembelajaran konstruk- peneliti memandang perlu untuk
tivistik keterlibatan secara aktif dalam menemukan pembelajaran yang dapat
pembelajaran merupakan kunci utama meningkatkan keaktifan dan pemahaman
belajar. Keaktifan dalam belajar sering konsep matematika.
menjadi prediktor yang baik bagi hasil Dari berbagai macam mode bela-
belajar (Suparno, 1997). Sayangnya, jar, menjelaskan pemahamannya kepada
selama beberapa tahun peneliti mengajar orang lain merupakan model belajar yang
di kelas VIII B MTsN Takalala, keaktifan sangat tinggi membantu pemahaman
siswa dalam pembelajaran matematika siswa (Ari Samadi, tanpa tahun). Oleh
masih memprihatinkan (rata-rata 30% karena itu, akhir-akhir ini, model
tidak mengerjakan tugas, 10% berani pembelajaran kooperatif merupakan
menjawab, 5% berkontribusi dalam salah satu model pembelajaran yang
penyimpulan) dan maksimal hanya 60% paling banyak disarankan. Di samping itu,
siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan pe m be lajar an k o o pe r at if, se ca ra
minimal (KKM). serempak ternyata membantu
Jika dua penyakit ini tidak segera terkembangkannya tiga dari empat
diatasi, hasil belajar siswa akan terus macam kecakapan hidup, yaitu kecakapan
rendah, siswa kesulitan dalam mepelajari perso nal, kecakapan sosial, dan
materi lain (dalam matematika maupun kecakapan akademis.
mata pelajaran lainnya), serta bisa Salah satu bentuk model pembela-
menyebabkan tidak lulus Ujian Nasional. jaran kooperatif adalah Numbered Head
Mereka juga akan menakuti, membenci, Together (NHT). Dibandingkan dengan
dan menghindari pelajaran Matematika model pembelajaran kooperatif lainnya,
*) Mustafa adalah seorang guru di MTs Negeri Takalala, Soppeng, Sulawesi Selatan. Yusnani adalah Guru SMP
Muhammadyah Lajoa, Soppeng, Sulawesi Selatan. Baharuddin adalah Widyaiswara Lembaga Penjaminan
aMutu Pendidikan, Sulawesi Selatan.