Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

SURVAILANCE EPIDEMIOLOGI
dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Komunitas 1:
Faisal Ibnu S.Kep.Ns.,Mkes

oleh :
Kelompok 3(3A)
1. Vera sulistyowati (201601010)
2. Adelia Intan Permatasari (201601012)
3. Silviana Mangga (201601017)
4. Chania Putri sherlita (201601018)
5. Thad Qirotul M (201601020)
6. Muzaqi Aden sagara (201601021)
7. Ridu Sandika W (201601026)
8. Wisnu Aji N (201601029)
9. Sovia Fitria T (201601038)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, tuntunan serta hidayahNya kepada penulis dalam
menyelesaikan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak. Maka sudah sewajarnya pada kesempatan ini, penulis
menyampaikan rasa terima kasih kepada :

1. Dr. M. Sajidin, M. Kep, selaku ketua STIKES BINA SEHAT PPNI Kab. Mojokerto
2. Ana Zakiyah M.Kep, selaku ketua Program studi S1 Ilmu Keperawatan
3. Faisal Ibnu S.Kep,Ns.,M.Kes selaku Dosen Mata kuliah komunitas 1.
4. Rekan-rekan kelas 3A S1 Ilmu Keperawatan Stikes Bina Sehat PPNI Kab.Mojokerto.

Yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga mendapat imbalan
yang berlipat ganda dari Allah SWT. Makalah tentang Perilaku kekerasankami berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi kami pada
khususnya. Dan kami juga menyadari masih ada kekurangan dalam makalah ini, oleh karena
itu kritik dan saran yang sifatnya membangun akan kami terima dengan senang hati.

Mojokerto, September 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................... 1

Daftar isi........................................................................................................................ 2

Bab I ............................................................................................................................... 5

1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 5

1.2 Tujuan............................................................................................................... 5

1.3 Manfaat............................................................................................................. 5

Bab II ............................................................................................................................. 6

tinjauan teori .................................................................................................................. 6

2.1 Definisi ............................................................................................................. 6

2.2 Etiologi ............................................................................................................. 6

2.3 Cara dan masa penularan.................................................................................. 7

2.4 Tanda dan Gejala .............................................................................................. 7

2.5 Komplikasi ....................................................................................................... 7

2.6 Penyebab Kematian .......................................................................................... 8

2.7 Diagnosa Banding ............................................................................................ 8

2.8 Patogenesis ....................................................................................................... 8

2.9 Imunitas ............................................................................................................ 8

2.10 Surveilens Campak ....................................................................................... 9

Bab III ............................................................................................................................ 1

penutup ........................................................................................................................... 1

3.1 Kesimpulan....................................................................................................... 1

3.2 Saran ................................................................................................................. 1

Daftar pustaka ................................................................................................................ 1

2
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan untuk kemajuan
suatu bangsa. Masalah kesehatan yang dihadapi dunia antara lain adalah penyakit
campak. Campak dan polio adalah penyakit yang sangat potensial untuk
menimbulkan wabah (Depkes RI, 2011).Hasil daripaparan World Health
Organization (WHO) menyebutkan, pada periode Januari hingga Juli 2011, tercatat
ada 26 ribu kasus campak di 40 negara di benua Eropa. Jumlah kasus yang berhasil
terekam WHO itu, menunjukkan kasus campak di benuaEropa meningkat 276 %
dibandingkan periode yang sama pada 2007 lalu.Hingga saat ini Indonesia belum
bisa terlepas dari penyakit campak, data terakhir menunjukkan penyakit campak
sebanyak 11.704 kasuspadatahun 2011 (Dirjen P2PL, 2012).

Campak merupakan suatu infeksi penyakit akut yang menular , disebabkan


oleh paramixo virus dengan genus morbili virus yang pada umumnya menyerang
anak-anak (Julia andriani, 2009). Penyakit campak termasuk penyakit yang sering
menyerang anak-anak, karena itu penyakit akibat virus ini sering disepelekan dan
masyarakat kita masih berpikiran kalau anak kena campak adalah hal yang biasa dan
wajar (Soedjatmiko, 2011).

1.2 Tujuan
Surveilans campak bertujuan untuk mempelajari gambaran epidemiologi dari
kasus campak sehingga dapat diketahui:
1. Mengetahui siapa orang yang dapat terserang atau beresiko campak
2. Mengetahui tempat kejadian atau terjadinya campak
3. Mengetahui waktu kejadian campak
4. Mengetahui faktor resiko terjadinya campak

1.3 Manfaat
1. Sebagai ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penyusun dan pembaca.
2. Diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pekasanaan survilans epidemiologi
campak.
3. Dibuatnya makalah surveilans ini adalah sebagai tugas kelompok mata kuliah
surveilans Epidemiologi.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Surveilans adalah upaya/ sistem/ mekanisme yang dilakukan secara terus menerus
dari suatu kegiatan pengumpulan, analisi, interpretasi,dari suatu data spesifik yang digunakan
untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program.

surveilans epidemiologi Merupakan kegiatan pengamatan terhadap penyakit atau


masalah kesehatan serta faktor determinannya. Penyakit dapat dilihat dari perubahan sifat
penyakit atau perubahan jumlah orang yang menderita sakit. Sakit dapat berarti kondisi tanpa
gejala tetapi telah terpapar oleh kuman atau agen lain, misalnya orang terpapar HIV, terpapar
logam berat, radiasi dsb. Sementara masalah kesehatan adalah masalah yang berhubungan
dengan program kesehatan lain, misalnya Kesehatan Ibu dan Anak, status gizi, dsb. Faktor
determinan adalah kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah
kesehatan.

Merupakan kegiatannya yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus.


Sistematis melalui proses pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi
epidemiologi sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu, sementara terus menerus menunjukkan
bahwa kegiatan surveilans epidemiologi dilakukan setiap saat sehingga program atau unit
yang mendapat dukungan surveilans epidemiologi mendapat informasi epidemiologi secara
terus menerus juga.

Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan adanya infeksi virus yang ditandai
dengan munculnya ruam diseluruh tubuh dan sangat menular.

2.2 Etiologi
Penyebab campak adalah Paramyxoviridae (RNA), jenis Morbillivirus yang mudah
mati karena panas dan cahaya. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama masa
prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi
nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam
suhu kamar. Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal
kera rhesus (Dirjen P2PL, 2008)

6
2.3 Cara dan masa penularan
Cara dan masa penularan campak adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) :
1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara
terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak
penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama
sakit.

2.4 Tanda dan Gejala

Gejala dan tanda-tanda campak adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008).

1. Panas badan biasanya ≥ 38 derajat celcius selama tiga hari atau lebih,disertai
salah satu atau lebih gejala batuk,pilek,mata merah atau mata berair.
2. Khas (phatognomonis) ditemukan koplik’s spot atau bercak putih keabuan
dengan dasar merah dipipi bagian dalam (mucosa bucal)
3. Bercak kemerahan atau rash dimulai dari belakang telingah pada tubuh
berbentuk mokulo papular selama 3 hari atau lebih, beberapa hari (4-7 hari)
keseluruh tubuh.
4. Bercak merah mokulo papular selama 1 minggu sampai 1 bulan menjadi
kehitaman (Hiperpigmentasi) disertai kulit bersisik.

Untuk kasus yang telah menunjukan hiperpigmentasi (kehitaman) perlu dilakukan


anamnesis dengan teliti, dan apabila pada masa akut (permulaan sakit) terdapat
gejala-gejala tersebut,maka kasus tersebut termasuk kasus campak klinis.

2.5 Komplikasi
Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi pada
anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 th. Kasus campak pada penderita
malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta imun defisiency (HIV), campak dapat
menjadi lebih berat atau fatal. Komplikasi yang sering terjadi yaitu Diare,
Bronchopneumonia, Malnutrisi, Otitis media, Kebutaan, Encephalitis, Measles
encephalitis hanya 1/1000 penderita campak, Subacute Sclerosing Panencephalitis
(SSPE), hanya 1/100.000 penderita campak, Ulkus mucosa mulut (Dirjen P2PL,
2008).

7
2.6 Penyebab Kematian
Kematian penderita campak umumnya disebabkan karena komplikasinya,
seperti : Bronchopneumonia, Diare berat dan gizi buruk serta penanganan yang
terlambat (Dirjen P2PL, 2008).

2.7 Diagnosa Banding


Diagnosa banding penyakit campak adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL,
2008).

1. Rubella (campakJerman), terdapat pembesaran kelenjar getah bening di belakang


telinga.
2. DHF atau DBD, dalam 2-3 hari bias terjadi mimisan, turniket test (Rumple Leede)
positip, perdarahan diikuti shock, laboratorium menunjukkan trombosit
<100.000/ml dan serologis positif DHF (specimen akut dan specimen
penyembuhan).
3. Cacar air (varicella), ditemukan vesikula atau gelembung berisi cairan.
4. Alergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum obat/disuntik, disertai gatal-gatal.
5. Miliaria atau keringat buntet : Gatal-gatal, bintik kemerahan.
2.8 Patogenesis
Campak adalah penyakit infeksi sistemik yang dimulai infeksi pada bagian
epitel saluran pernafasan di nasopharing. Virus campak dikeluarkan dari nasopharing
mulai dari masa prodromal sampai 3 -4 hari setelah rash (Dirjen P2PL, 2008).

2.9 Imunitas
Infeksi alami karena infeksi penyakit campak cenderung menimbulkan antibody lebih
baik disbanding antibody yang terbentuk karena vaksinasi campak. Stelah terjadi infeksi
virus, maka terjadi respon seluler segera yang kemudian diikuti oleh respon imunitas pada
saattimbulnya rash. Bila seorang anak tidak terdeteksi adanya titer antibody campak, maka
anak tersebut kemungkinan masih rentan. Penyembuhan terhadap penyakit campak
tergantung kepada kemampuan respon dari T-Cell yang adekuat (Dirjen P2PL, 2008).

8
2.10 Surveilens Campak
a. Defenisi kasus campak
Definisi Kasus Campak yang digunakan dalam sistem surveilans
epidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) :
a. Kasus klinis

Demam, bercak merah berbetuk mokulopapular dan satu atau lebih gejala
berikut : Batuk, pilek atau mata merah (conjunctivitis) atau didiagnosa oleh
dokter sebagai kasus campak

b. Kasus konfirmasi
1. Pasti secara laboratorium:Kasus campak klinis yang telah dilakukan
konfirmasi laboratorium dengan hasil positif campak.
2. Pasti secara epidemiologi :Semua kasus klinis yang mempunyai hubungan
epidemiologi dengan kasus yang pasti secara laboratorium.
3. Bukan kasus campak (Discarded) :Kasus tersangka campak , yang setelah
dilakukan pemeriksaan laboratorium, hasilnya negatif.
4. Kematiancampak
Kematian campak adalah kematian dari seorang penderita campak pasti
(klinis, laboratorium maupun epidemiologi) yang terjadi dalam 30 hari setelah
timbul rash, bukan disebabkan oleh hal-hal lain seperti : trauma atau penyakit kronik
yang tidak berhubungan dengan komplikasi campak (Dirjen P2PL, 2008).
b. Daerah resiko campak

Daerah risiko tinggi campak yaitu daerah yang berpotensi terjadinya KLB
campak, dilihat dari (Dirjen P2PL, 2008) :

1. Daerah dengan cakupan imunisasi rendah (< 80%)

2. Lokasi yang padat dan kumuh antara lain pengungsian

3. Daerah rawan gizi

4. Daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan

5. Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi

9
c. Kegiatan surveilans campak
Kegiatan surveilans Campak yang digunakan dalam sistem surveilans
epidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) :
1. Tingkat Puskesmas
Pengumpulan data dari puskesmas, pembantu, praktek dokter,bidan, perawat
dan pelayanan kesehatan swasta lainnya, masyarakat/Posyandu maupun petugas
desa siaga. Setelah dilaksanakan pengumpulan data lalu dilakukan pencatatan dan
pelaporan kedinas kesehatan kabupaten/kota.
2. Tingkat Rumah Sakit
Kegiatansurveilanscampak di RS lebih ditekankan pada penemuan kasus
secara aktif.Setiap hari petugas kesehatan di bangsal dan poli klinik anak memeriksa
adanya kasus maupun kematian campak .Perlu diingat bahwa kematian akibat
campak sebagian besar disebabkan oleh komplikasi terutama broncho pneumonia,
diare dan encephalitis .Setelah penemuan kasus lalu dilakukan pencatatan dan
pelaporan kedinas kesehatan kabupaten/kota.

d. KLB Campak

Penyelidikan KLB campak bertujuan untuk mengetahui gambaran


epidemiologi KLB berdasarkan waktu kejadian, umur dan status imunisasi
penderita, sehingga dapat diketahui luas wilayah yang terjangkit dan kelompok
yang beresiko. Disamping itu juga untuk mendapatkan factor risiko terjadinya KLB
sehingga dapat dilakukan tindak lanjut.

Suatu kondisi dinyatakan sebagai KLB campak apabila terdapat kasus


campak di suatu wilayah yang melebihi darikondisi biasa, seperti meluasnya
wilayah yang terjangkit dan meningkatnya jumlah populasi yang terserang, atau
adanya kematian karena campak atau jika ada 5 kasus dalam satu wilayah
puskesmas dalam kurun waktu 4 minggu (tidak cluster) maka harus diambil
spesimennya untuk membuktikan apakah merupakan kasus campak atau
bukan(Dirjen P2PL, 2008).

10
e. Penanggulangancampak

Langkah-langkah penanggulangan campak dalam system surveilans epidemiologi


nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008).Langkah-langkah
penanggulangan antara lain :
1. Tata laksana kasus adalah kegiatan yang meliputi pengobatan penderita yang
tidak komplikasi, pemberian vitamin A, pengobatan Komplikasi di puskesmas
(antibiotik ), apabila keadaan penderita cukup berat, segera rujuk kerumah sakit.
2. Imunisasi
Respon imunisasi pada KLB campak dapat dilakukan seperti berikut, sesuai
situasi :
a. Imunisasi selektif, dengan cara meningkatkan cakupan imunisasi rutin di desa
terjangkit dan sekitarnya, upayakan cakupan 100 % dan melakukan imunisasi
campak kepada seluruh anak usia 6 bl – 5 th yang tidak mempunyai riwayat
imunisasi campak yang berkunjung ke puskesmas maupun posyandu hingga 1
bulan dari kasus terakhir
b. Pemberian imunisasi campak masal:yaitu memberikan imunisasi campak secara
masal kepada seluruh anak pada golongan umur tertentu tanpa melihat status
imunisasi anak tersebut. Pelaksanaan imunisasi masa dini harus dilaksanakan
sesegera mungkin, sebaiknya pada saat daerah tersebut diperkirakan belum
terjadi penularan secara luas. Selanjutnya cakupan imunisasi rutin tetap
dipertahankan tinggi dan merata.
c. Penyuluhan :
1. Masyarakat diingatkan akan bahaya penyakit campak dan pentingnya
imunisasi dan makanan cukup gizi.
2. Segera membawa anaknya kefasilitas kesehatan bila ada gejala panas.
3. Mencegah kematian dan komplikasi dengan pemberian vitamin A.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. surveilans epidemiologi Merupakan kegiatannya yang dilakukan secara
sistematis dan terus menerus. Sistematis melalui proses pengumpulan, pengolahan
data dan penyebaran informasi epidemiologi sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu,
sementara terus menerus menunjukkan bahwa kegiatan surveilans epidemiologi
dilakukan setiap saat sehingga program atau unit yang mendapat dukungan
surveilans epidemiologi mendapat informasi epidemiologi secara terus menerus
juga.
2. Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi pada
anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 th Campak dapat menyerang
semua golongan umur, namun resiko campak lebih besar pada anak usia < 5 tahun
dan penderita dewasa usia >20 th.
3. Campak dapat terjadi dimana saja, mamun campak mempunyai resiko lebih
besar terjadi pada daerah yang cakupan imunisasi rendah (< 80%), daerah kumuh
atau pengungsian, daerah yang rawan gizi, daerah sulit dijangkau dari pelayanan
kesehatan dan daerah yang masyarakatnya tidak menerima imuisasi.
4. Waktu terjadinya campak dapat terjadi kapan saja, tidak bergantung musim.

3.2 Saran
a. Masyarakat harus memberi imunisasi pada anaknya
b. Masyarakat harus menjaga gizi anak
c. Masyarakat harus menjaga kesehatan lingkungannya dan kebersihan dirinya

1
DAFTAR PUSTAKA

1116/Menkes/VIII/. (2003). 1116/Menkes/VIII/2003pedoman penyelenggara sistem


surveilans epidemiologi kesehatan. jakarta.

1479/Menkes/SK/X/2003, D. K. (2004). pedoman penyelenggaraan sistem surveilans


epidemiologi penyakit menular dan tidak menula. jakarta.

Erme MA, Q. Epidemiologic Surveillance .

S, N. (2005). Ilm kesehatan masyarakat (prinsip – prinsip dasar). jakarta.