Anda di halaman 1dari 48

LEMBAR PENGESAHAN

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN KADER MENGENAI RESIKO


TINGGI PADA KEHAMILAN DI PUSKESMAS CIRIMEKAR

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memenuhi Tugas Dokter Internsip Indonesia 2018

Penyusun :
dr. Cindy Berlian Sulaeman

Telah Disetujui Oleh :


Pendamping

dr. Cupri Retno Purbogini


NIP. 197409192008012006

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kehamilan merupakan masa dimulainya konsepsi sampai lahirnya
janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)
dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Prawirohardjo, 2009, p. 89).
Kehamilan sebagai keadaan fisiologis dapat diikuti proses patologis yang
mengancam keadaan ibu dan janin. Tenaga kesehatan harus dapat
mengenal perubahan yang mungkin terjadi sehingga kelainan yang ada
dapat dikenal lebih dini. Misalnya perubahan yang terjadi adalah edema
tungkai bawah pada trimester terakhir dapat merupakan fisiologis. Namun
bila disertai edema ditubuh bagian atas seperti muka dan lengan terutama
bila diikuti peningkatan tekanan darah dicurigai adanya pre eklamsi.
Perdarahan pada trimester pertama dapat merupakan fisiologis dengan adanya
tanda Hartman yaitu akibat proses nidasi blastosis ke endometrium yang
menyebabkan permukaan perdarahan berlangsung sebentar, sedikit dan tidak
membahayakan kehamilan tetapi dapat merupakan hal patologis yaitu
abortus, kehamilan ektopik atau mola hidatidosa (Mansjor, dkk, 2010, p. 254).
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan
terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar terhadap ibu maupun janin
yang dikandungnya selama masa kehamilan, persalinan dan nifas. Sampai saat
ini kehamilan risiko tinggi masih menjadi ancaman yang besar bagi upaya
meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin dimana saja di seluruh dunia.
Kehamilan Risiko Tinggi masih menjadi masalah pelayanan kesehatan
khususnya dalam bidang obstetri oleh karena dapat meningkatkan morbiditas
dan mortalitas baik maternal maupun perinatal yang masih tinggi.
Kader Kader posyandu merupakan pilar utama penggerak
pembangunan khususnya di bidang kesehatan. Mereka secara swadaya
dilibatkan oleh puskesmas dalam kegiatan pelayanan kesehatan desa yang

2
salah satunya adalah dalam rangka mendeteksi resiko kehamilan yang terjadi
didesa tersebut. Tanpa mereka kegiatan pelayanan kesehatan di desa tidak
banyak artinya (Mardiati, 2007:46). Kader posyandu sebaiknya mampu
menjadi pengelola posyandu, karena merekalah yang paling memahami
masyarakat di wilayahnya (Dinkes Prov. Jatim, 2006).
Hal ini menujukkan kurangnya pengetahuan kader terhadap tanda
bahaya kehamilan dapat menurunkan kualitas penyaringan kehamilan
beresiko dalam suatu desa. Utamanya yaitu penyakit ibu yang berpengaruh
terhadap kehamilan, dimana kematian ibu dapat dicegah apabila kader
memiliki pengetahuan yang baik tentang tanda bahaya kehamilan dan faktor-
faktor yang mempengaruhinya. Untuk itu kemampuan kader untuk
mendeteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan, serta penanganan yang
adekuat sedini mungkin, merupakan kunci keberhasilan dalam penurunan
angka kematian ibu dan bayi yang dilahirkan (Depkes, 2009). Dengan
demikian, untuk menghadapi kehamilan risiko harus diambil sikap
proaktif, berencana dengan upaya promotif dan preventif sampai dengan
waktunya harus diambil sikap tegas dan cepat untuk dapat menyelamatkan ibu
dan bayinya (Manuaba, 2008, p. 44).
Kasus kehamilan risiko banyak ditemukan di masyarakat, tetapi
tenaga kesehatan tidak bisa menemukannya satu persatu, karena itu peran
serta tenaga kesehatan sangat dibutuhkan dalam mendeteksi ibu hamil
risiko. Salah satu upaya yaitu melalui promosi kesehatan dan pencegahan
risiko, seperti pemberian suplemen nutrisi, zat besi, imunisasi tetanus toksoid
dan pemberian konseling tentang tanda bahaya kehamilan, dan keluarga
berencana. Mendeteksi dan melakukan penatalaksanaan penyakit hipertensi
dan diabetes mellitus (Muslihatun, 2009, p. 133). Pengetahuan tentang cara
pemeliharaan kesehatan dan hidup sehat meliputi jenis makanan bergizi,
menjaga kebersihan diri, serta pentingnya istirahat cukup sehingga dapat
mencegah timbulnya komplikasi dan tetap mempertahankan derajat kesehatan
yang sudah ada.

3
Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas
sebesar 50,57%, disusul kemudian pada waktu hamil sebesar 25,04% dan
pada waktu persalinan sebesar 24,39%. Penyebab utama masih tingginya
AKI di Indonesia adalah perdarahan, eklampsia dan infeksi. Salah satu
penyebab terjadinya perdarahan adalah karena anemia yang terjadi pada
masa kehamilan (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2010). Menurut profil
kesehatan provinsi Jawa Barat 2010, kematian ibu biasanya terjadi karena
tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas,
terutama pelayanan kegawat daruratan tepat waktu yang dilatar belakangi
oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan,
terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta terlambat mendapat
pelayanan di fasilitas kesehatan. Selain itu faktor penyebab kematian
maternal juga tidak terlepas dari kondisi ibu itu sendiri dan merupakan
salah satu dari kriteria 4 ‘’terlalu’’, yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>
35 tahun), terlalu muda pada saat melahirkan (< 20 tahun), terlalu
banyak anak (> 4 anak), terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (< 2 tahun)
(Dinkes provinsi Jawa Barat, 2010). Hal tersebut dilatar belakangi oleh
rendahnya tingkat pendidikan, sosial ekonomi, kedudukan dan peran
perempuan, faktor lingkungan dan budaya serta faktor transportasi (Pusat
Komunikasi Publik. Sekertariat Jendral Departement Kesehatan, 2010).
Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator status
kesehatan masyarakat. Dewasa ini AKI di Indonesia masih tinggi
dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228 per 100.000
kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup. Penduduk Indonesia
pada tahun 2007 adalah 225.642.000 jiwa dengan CBR 19,1 maka terdapat
4.287.198 bayi lahir hidup. Dengan AKI 228/100.000 KH berarti ada 9.774
ibu meninggal per tahun atau 1 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang
berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (DepKes RI, 2009).
Angka kejadian kehamilan resiko tinggi di Puskesmas Cirimekar
cukup tinggi dan pada tahun 2017 ini. Pada tahun 2017 terdapat 341 ibu hamil

4
yang terdetekasi memiliki resiko tinggi pada kehamilan. Dari data yang telah
diperoleh laporan ini akan membahas tentang gambaran pengetahuan kader
mengenai kehamilan resiko tinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Cirimekar.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana gambaran pengetahuan kader mengenai resiko tinggi pada
kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Cirimekar

1.3. Tujuan Penelitian


 Memperoleh informasi mengenai gambaran pengetahuan kader
tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya kehamilan resiko
tinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Cirimekar

1.4. Manfaat
1.4.1. Manfaat Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi
tentang resiko tinggi kehamilan, deteksi dini dan tanda
bahaya dalam kehamilan serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan evaluasi
Bagi Puskesmas Cirimekar untuk lebih memberdayakan
masyarakat dalam upaya kesehatan promotif dan preventif
pada kehamilan resiko tinggi.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengetahuan

1. Pengertian

Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekadar


menjawab pertanyaan. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah
fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan
masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari
pengalaman langsung maupun orang lain (Notoatmodjo Soekidjo, 2005:3).

Pengetahuan adalah dasar semua tindakan dan usaha. Jadi


penelitian sebagai dasar untuk meningkatkan pengetahuan, agar meningkat
pula pencapaian usaha mereka (Arikunto, 2006: 27).

Menurut fungsinya pengetahuan merupakan dorongan dasar untuk


ingin tahu, untuk mencari penalaran, dan untuk mengorganisasikan
pengalamannya. Adanya unsur-unsur pengalaman yang semula tidak
konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun, ditata
kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga tercapai suatu konsistensi
(Azwar Syaifuddin, 2007).

Menurut Hidayat (2002 : 12) pengetahuan pada dasarnya menunjuk


pada sesuatu yang diketahui berdasarkan stimulus .

6
2. Tingkat Pengetahuan

Di dalam domain kognitif menurut Soekidjo Notoatmodjo


(2007:144), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan :

1. Tahu ( know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah


dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan
sebagainya.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk


menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
mengintepretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap obyek yang dipelajari.

3. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan


materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus, prinsip, dan menggunakan rumus statistic
dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan

7
prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di
dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi


atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
satu stuktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,
seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan


atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi
yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat
meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu
teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan


justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-
penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri,
atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo
Soekidjo, 2007: 145).

8
2.1 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

1. Pendidikan

Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk


mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, ataupun
masyarakat sehingga mereka melakukan apa-apa yang diharapkan oleh
pelaku pendidikan. Unsur-unsur pendidikan yakni :

1. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok,


masyarakat) pendidik (pelaku pendidikan)
2. Proses adalah upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain.
3. Output adalah melakukan apa yang diharapkan atau prilaku

(Notoatmodjo Soekidjo, 2003 : 16).

2. Kebudayaan dan lingkungan

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai


pengaruh besar dalam pembentukan sikap kita. Apabila disuatu
wilayah mempunyai budaya untuk selalu menjaga kebersihan
lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai
sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan. Maka sangatlah
mungkin berpengaruh alam pembentukan sikap pribadi seseorang
(Syaifudin, 2007: 33).

3. Informasi

Informasi adalah pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang


juga dipengaruhi oleh informasi. Semakin banyak orang menggali
informasi baik dari media cetak maupun media elektronik maka

9
pengetahuan yang dimiliki semakin meningkat (Notoatmodjo
Soekidjo, 2003 : 126).

4. Pengalaman

Pengalaman adalah studi peristiwa yang pernah dialami


seseorang. Middle Brook (1974) yang dikutip Syaifudin Azwar MA,
mengatakan bahwa tidak adanya suatu pengalaman sama sekali dengan
mengatakan suatu obyek psikologis cenderung akan bersikap negative
terhadap obyek tersebut. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan
sikap pengalaman prinsip haruslah meninggalkan kesan yang kuat,
karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman
pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional
(Azwar Syaifudin, 2008 : 30).

5. Minat

Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan


yang tinggi terhadap sesuatu dengan adanya pengetahuan yang tinggi
dan didukung minat yang cukup sehingga seseorang sangatlah
mungkin berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan (Azwar
Syaifuddin, 2008: 36).

6. Usia

Usia adalah masa perjalanan hidup semakin cukup umur


tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam
berfikir dan bekerja. Semakin tua seseorang makin kondusif dalam
menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi (Nursalam,
2008).

10
7. Pekerjaan

Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas


dibandingkan dengan seseorang yang tidak bekerja karena dengan
bekerja seseorang akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman
(Saifudin Azwar, 2002: 42).

2.2 Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau


angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subyek
penelitian atau responden (Notoatmodjo Soekidjo, 2007: 145).Menurut
Arikunto (2005: 342) tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi 3 kriteria
yaitu :

Pengetahuan baik : nilai 76 - 100 %

Pengetahuan cukup : nilai 56 - 75 %

Pengetahuan kurang : nilai < 56 %

2.3 Konsep Dasar Kader

Pengertian

Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang


dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah
kesehatan perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam
hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan
kesehatan (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 177 ).

11
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat
dengan masyarakat (Meilani Niken, dkk, 2009: 129).

Kader adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dan dari


masyarakat yang bertugas mengembangkan masyarakat

(Efendi Ferry dan Makhfudli, 2009: 287).

Kader kesehatan yaitu tenaga yang berasal dari masyarakat, dipilih


oleh masyarakat itu sendiri dan bekerja secara sukarela untuk menjadi
penyelenggara posyandu (R. fallen dan R. Budi, 2010: 58).

Tujuan Pembentukan Kader

Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khususnya di


bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip
bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek tetapi merupakan subjek dari
pembangunan itu sendiri. Pada hakikatnya, kesehatan dipolakan
mengikutsertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab.
Keikutsertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah
atas dasar pemikiran bahwa terbatasnya daya dan dana dalam operasional
pelayanan kesehatan akan mendorong masyarakat memanfaatkan sumber
daya yang ada seoptimal mungkin. Pola pikir semacam ini merupakan
penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan. Menurut K.
Santoso (1979), kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat
desa ternyata mampu melaksanakan beberapa kegiatan yang sederhana
tetapi tetap berguna bagi masyarakat kelompoknya (Efendi Ferry dan
Makhfudli, 2009: 288).

12
Dasar Pemikiran

1. Dari segi kemampuan masyarakat

Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khususnya


dibidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada
prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek tetapi merupakan
subjek dari pembangunan itu sendiri.

2. Dari segi kemasyarakatan

Perilaku kesehatan pada mesyarakat tidak terlepas dari


kebudayaan masyarakat itu sendiri. Dalam upaya menumbuhkan
partisipasi masyarakat perlu memperhatikan keadaan sosial budaya
masyarakat, sehingga untuk mengikutsertakan masyarakat dalam
upaya dibidang kesehatan, harus berusaha menumbuhkan kesadaran
untuk dapat memecahkan permasalahan sendiri dengan
memperhitungkan sosial budaya setempat (R. fallen dan R. Budi,
2010: 59).

Persyaratan Menjadi Kader

Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar


belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk
membaca, menulis dan menghitung secara sederhana (Meilani Niken, dkk,
2009: 129). Proses pemilihan kader hendaknya melalui musyawarah
dengan masyarakat, dan para pamong desa harus juga mendukung (R.
fallen dan R. Budi, 2010: 59). Hal ini disebabkan karena kader yang akan
dibentuk terlebih dahulu harus diberikan pelatihan kader. Pelatihan kader
ini diberikan kepada para calon kader di desa yang telah ditetapkan
(Meilani Niken, dkk, 2009: 131).

13
Persyaratan umum yang dapat dipertimbangkan untuk pemilihan
kader antara lain:

1. Dapat baca, tulis dengan bahasa Indonesia


2. Secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader
3. Mempunyai penghasilan sendiri
4. Tinggal tetap di desa yang bersangkutan dan tidak sering meninggalkan
tempat untuk waktu yang lama.
5. Aktif dalam kegiatan sosial maupun pembangunan desanya
6. Dikenal masyarakat, diterima masyarakat dan dapat bekerja sama dengan
masyarakat
7. Berwibawa
8. Sanggup membina paling sedikit 10 kepala keluarga

(R. Fallen dan R. Budi, 2010: 59-60).

Dari persyaratan-persyaratan yang diutamakan oleh beberapa ahli


di atas, dapatlah disimpulkan bahwa kriteria pemilihan kader kesehatan
antara lain sanggup bekerja secara sukarela, mendapat kepercayaan dari
masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya
menjadi panutan masyarakat, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi,
mempunyai penghasilan tetap, pandai membaca dan menulis, serta
sanggup membina masyarakat sekitarnya

(Efendi Ferry dan Makhfudli, 2009: 290).

Peran Fungsi Kader

Kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya


kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam
pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang
diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan (Efendi Ferry
dan Makhfudli, 2009: 289). Tugas-tugas kader meliputi pelayanan

14
kesehatan dan pembangunan masyarakat, tetapi hanya terbatas pada
bidang-bidang atau tugas-tugas yang pernah diajarkan kepada mereka.
Mereka harus benar-benar menyadari tentang keterbatasan yang mereka
miliki. Mereka tidak diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah
yang dihadapinya. Namun, mereka diharapkan mampu dalam
menyelesaikan masalah umum yang terjadi di masyarakat dan mendesak
untuk diselesaikan. Perlu ditekankan bahwa para kader kesehatan
masyarakat itu tidak bekerja dalam sistem yang tertutup, tetapi mereka
bekerja dan berperan sebagai seorang pelaku sistem kesehatan. Oleh
karena itu, mereka harus dibina, dituntun, serta didukung oleh
pembimbing yang terampil dan berpengalaman (Syafrudin dan Hamidah,
2009: 177).

Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:

1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


2. Pengamanan terhadap masalah kesehatan di desa
3. Upaya penyehatan lingkungan
4. Peningkatan kesehatan ibu,bayi dan anak balita
5. Pemasyarakatan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

(Meilani Niken, dkk, 2009: 130).

Untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi,


bidan haruslah dapat bekerja sama denga masyarakat. Pembinaan kader
yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini
tanda bahaya dalam kehamilan meliputi faktor risiko ibu hamil
diantaranya:

1. Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.


2. Anak lebih dari 4.
3. Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun.

15
4. Tinggi badan kurang dari 145 cm.
5. Berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas < 23,5 cm.
6. Kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau panggul.
7. Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum kehamilan
ini.
8. Sedang atau pernah menderita penyakit kronis, antara lain: tuberculosis,
kelainan jantung-ginjal-hati, psikosis, kelainan endokrin (diabetes
mellitus, sistemik lupus dll) tumor dan keganasan.
9. Riwayat kehamilan buruk: keguguran berulang, kehamilan ektopik
terganggu, ketuban pecah dini dll.
10. Riwayat persalinan berisiko: persalinan dengan seksio sesarea, ekstraksi
vakum/forceps.
11. Riwayat nifas berisiko: perdarahan pascapartum, infeksi masa nifas,
psikosis postpartum.
12. Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi dan
riwayat cacat congenital.
13. Perdarahan lewat jalan lahir (hamil muda dan tua).
14. Bengkak di kaki, tangan , wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang.
15. Demam tinggi atau demam lebih dari 2 hari.
16. Keluar cairan berbau dari jalan lahir .
17. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak.
18. Ibu muntah terus dan tidak mau makan.
19. Payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit.
20. Mengalami gangguan jiwa.

(Meilani Niken, dkk, 2009: 94 dan 134)

16
2.4 Konsep Dasar Kehamilan Normal dan Risiko Tinggi

1. Kehamilan Normal

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra


uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan
persalinan. (Manuaba, 2008).

Kehamilan terjadi jika ada pertemuan dan persenyawaan antara


sel telur (ovum) dan sel mani (spermatozoa) (saminem, 2000).

Kehamilan dibagi menjadi 3 trimester:

a. Trimester pertama : hari pertama haid terakhir sampai minggu


ke -12
b. Trimester kedua : minggu ke- 13 sampai ke- 27
c. Trimester ketiga : minggu ke- 28 sampai ke- 40 (13 minggu)
(Varney Helen, dkk, 2006: 492).

2. Tanda dan gejala kehamilan

Tanda dugaan (presumptive signs) kehamilan

1. Amenore (terlambat datang bulan)

Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat
haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya
dapat ditentukan tuanya kehamilan dan perkiraan persalinan.

2. Nause (mual) dan vomiting (muntah)

Mual terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama kehamilan, kadang-


kadang disertai muntah. Sering terjadi pada pagi hari yang biasa disebut
morning sicknes.

17
3. Mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu).

Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi


menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

4. Sering miksi

Hal ini terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan pertama


kehamilan tertekan uterus yang mulai membesar.

5. Pigmentasi kulit

Keluarnya MSH (Melanophore Stimulating Hormone) hipofisis anterior


menyebabkan pigmentasi kulit disekitar pipi (kloasma gravidarum), pada
dinding perut (striae livide, albican, nigra) sekitar mamae. Hal ini terjadi
pada kehamilan12 minggu ke atas.

6. Mamae menjadi tegang dan membesar

Pengaruh estrogen progesterone dan somatomamotrofin menimbulkan


deposit lemak, air, dan garam pada payudara. Payudara membesar dan
tegang.

7. Obstipasi

Pengaruh progesterone dapat menghambat peristaltik usus, menyebabkan


kesulitan untuk buang air besar.

8. Anoreksia(tidak ada nafsu makan)

Terjadi pada bulan-bulan pertama tetapi setelah itu nafsu makan timbul
lagi (Sarwono, 2007: 125).

18
2.5 Perubahan Anatomik Dan Fisiologi Pada Wanita Hamil

Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita.


Pengetahuan tentang kondisi fisiologis pada awal kehamilan penting
dimiliki untuk memahami tanda dugaan dan tanda kemungkinan
kehamilan. Pengetahuan ini juga penting untuk mengetahui adanya
kelainan pada kehamilan. Tanda dugaan kehamilan mencakup
perubahan-perubahan fisiologis yang dialami oleh wanita dan pada
sebagian besar kasus mengindikasikan bahwa wanita sedang hamil.
Tanda kemungkinan kehamilan meliputi perubahan-perubahan
anatomi dan fisiologi, selain tanda-tanda dugaan kehamilan, yang
terdeteksi pada saat pemeriksaan dan didokumentasi oleh pemeriksa.
Tanda-tanda positif adalah tanda-tanda yang secara langsung
berhubungan dengan janin sebagaimana dideteksi dan didokumentasi
oleh pemeriksa (Varney Helen, 2007: 493).

Pada wanita hamil atau ibu yang sedang hamil penjelasan


mengenai perubahan alat kandungan sangatlah penting dan perlu, oleh
karena masih banyak ibu atau wanita yang sedang hamil belum
mengetahui tentang perubahan-perubahan yang ada pada diri mereka,
baik alat kandungan yang berada di dalam ataupun di luar. Maka dari
itu peran dari bidan sangatlah penting dan dibutuhkan untuk
menjelaskan tentang perubahan yang terjadi pada tubuh ibu atau
wanita yang sedang hamil dan juga memberikan pelayanan kesehatan
bio psikologis, sosial dan spiritual tanpa membedakan suku, ras, agama
terutama pada ibu hamil yang belum mengetahui tentang perubahan
fisiologis alat kandungan serta ibu hamil yang mengalami kelainan
pada alat kandungannya. Perubahan wanita hamil antara lain meliputi
perubahan pada uterus, perubahan pada kulit, perubahan payudara,
perubahan sirkulasi darah, paerubahan system respirasi, perubahan
tractus digestivus, dan perubahan traktus urinarius (Sarwono, 2007).

19
Perubahan sistem reproduksi meliputi:

1. Uterus

Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah


pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya
meningkat. Berat uterus normal lebih kurang 30 gram. Pada akhir
kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram, dengan
panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm.
Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah
advokat, agak gepeng. Padakehamilan 4 bulan uterus berbentuk
bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk
semula, lonjong seperti telur (Sarwono, 2007: 89).

Perubahan pada isthmus uteri menjadi lebih panjang dan


lunak, sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari
dapat saling sentuh. Perlunakan isthmus disebut tanda Hegar.

(Hidayati Ratnai, 2008: 22)

2. Serviks

Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan


karena hormon estrogen. Kadar estrogen meningkat dan dengan
adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi
lunak.kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan
mengeluarkan sekresi lebih banyak.kadang -kadang wanita yang
sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih
banyak. Keadan ini sampai batas tertentu masih merupakan
keadaan yang fisiologik.

20
3. Vagina dan vulva

Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi


darah karena pengaruh estrogen, sehingga tampak makin merah
dan kebiruan disebut tanda Chadwick (Hidayati Ratna, 2008:
22).Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan
membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi
pada alat-alat genetalia tersebut meningkat.

4. Ovarium

Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum


graviditatis sampai terbentuknya plasenta kira-kira 16
minggu. Korpus luteum graviditasis berdiameter kira-kira 3 cm.
Kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini
mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Diperkirakan
korpus luteum adalah tempat sintesis dari relaxin pada awal
kehamilan (Sarwono, 2007: 95).

5. Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan


sebagai persiapan memberikan ASI pada saat
laktasi. perkembangan payudara dipengaruhi oleh hormone
estrogen, progesterone dan somatomammotropin. Fungsi hormon :

1. Hormon estrogen

1. Menimbulkan hypertrofi system saluran payudara


2. Menimbulkan pertumbuhan lemak dan air serta
garam, sehingga payudara tampak makin besar

21
2. Hormon progesterone

1. Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi


2. Menambah jumlah sel asinus

3. Hormon somatomammotropin

1. Mempengaruhi sel asinus untuk membuat


kasein, laktalbumin dan laktaglobulin
2. Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara
3. Merangsang pengeluaran kolostrum pada kehamilan.

(Hidayati Ratna, 2008: 22-23)

6. Perubahan sistem sirkulasi

Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini :

1. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat memenuhi


perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim
2. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi
retroplasenter
3. Pengaruh hormone estrogen dan progesterone

7. Perubahan peredaran darah antara lain :

1. Volume darah

Volume darah semakin meningkat, dimana jumlah


serum sel darah lebih besar dari pertumbuhan sel
darah, sehingga terjadi pengenceran darah (hemodilusi) dengan
puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu. Curah jantung
akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah
mulai tampak sekitar umur kehamilan 16 minggu.

22
2. Sel darah

Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk


dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim tetapi
pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan
volume darah, sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia
fisiologis (Hidayati Ratna, 2008: 24).

8. Perubahan system respirasi

Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami


perubahan. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan
O2 yang semakin meningkat. Disamping itu juga terjadi desakan
diafragma karena dongan rahim. Ibu hamil akan bernafas lebih
dalam sekitar 20 -25 % dari biasanya.

9. Perubahan sistem pencernaan

Perubahan metabolism pada kehamilanantara lain :

1. Metabolism basal naik sebesar 15%sampai 20% dari


semula, terutama trimester ketiga.
2. Kebutuhan protein meningkat untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan, serta
persiapan laktasi.
3. Kebutuhan kalori bisa didapatkan dari karbohidrat, lemak,
dan protein
4. Kebutuhan zat mineral (kalsium, fosfor, zat besi, air).
5. Berat badan ibu bertambah.

23
Sebab pengeluaran asam lambung

1. Hipersaliva
2. Daerah lambung terasa panas
3. Morning sicknes
4. Hiperemesis gravidarum
5. Obstipasi

10. Perubahan traktus urinalis

Pengaruh desakan pembesaran rahim seiring dangan


bertambahnya usia kehamilan yang menekan kandung kemih dan
turunnya kepala bayi pada hamil tua akan menyebabkan gangguan
miksi dalam bentuk sering berkemih.

11. Perubahan kulit

Kelenjar hipofise anterior yang dirangsang oleh kadar


estrogen yang tinggi akan meningkatkan sekresi hormone
MSH (Melanophore Stimulating Hormone). Pigmentasi yang lebih
gelap terjadi pada :

1. Putting dan areola mamae


2. Wajah (kloasma gravidarum)
3. Linea nigra

(Hidayati Ratna, 2008: 25-28).

4. Kehamilan Risiko Tinggi

Risiko adalah suatu ukuran statistik dari peluang atau


kemungkinan untuk terjadinya suatu keadaan gawat-darurat yang tidak
diinginkan pada masa mendatang, yaitu kemungkinan terjadi
komplikasi obstetrik pada saat persalinan yang dapat menyebabkan

24
kematian, kesakitan, kecacatan, atau ketidak puasan pada ibu atau bayi
(Poedji Rochjati, 2003: 26).

Definisi yang erat hubungannya dengan risiko tinggi (high risk):

1. Wanita risiko tinggi (High Risk Women)

Adalah wanita yang dalam lingkaran hidupnya dapat


terancam kesehatan dan jiwanya oleh karena sesuatu penyakit atau
oleh kehamilan, persalinan dan nifas.

2. Ibu risiko tinggi (High Risk Mother)

Adalah faktor ibu yang dapat mempertinggi risiko kematian


neonatal atau maternal.

3. Kehamilan risiko tinggi (High Risk Pregnancies)

Kehamilan risiko tinggi adalah keadaan yang dapat


mempengaruhi optimalisasi ibu maupun janin pada kehamilan
yang dihadapi. (Manuaba, 2010: 241).

Risiko tinggi atau komplikasi kebidanan pada kehamilan


merupakan keadaan penyimpangan dari normal, yang secara
langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
Untuk menurunkan angka kematian ibu secara bermakna maka
deteksi dini dan penanganan ibu hamil berisiko atau komplikasi
kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik fasilitas pelayanan KIA
maupun di masyarakat (Niken Meilani, dkk, 2009: 94).

25
Faktor-faktor Risiko Ibu Hamil

Beberapa keadaan yang menambah risiko kehamilan, tetapi tidak


secara langsung meningkatkan risiko kematian ibu. Keadaan tersebut
dinamakan faktor risiko. Semakin banyak ditemukan faktor risiko pada ibu
hamil, semakin tinggi risiko kehamilannya (Syafrudin dan Hamidah, 2009:
223-224). Bebarapa peneliti menetapkan kehamilan dengan risiko tinggi
sebagai berikut :

1. Puji Rochayati: primipara mudaberusia < 16 tahun, primipara tua berusia >
35 tahun, primipara skunder dangan usia anak terkecil diatas 5 tahun,
tinggi badan < 145 cm, riwayat kehamilan yang buruk (pernah keguguran,
pernah persalinan premature, lahir mati, riwayat persalinan dengan
tindakan (ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, operasi sesar), pre-eklamsi-
eklamsia, gravid serotinus, kehamilan dengan perdarahan antepartum,
kehamilan dengan kelainan letak, kehamilan dengan penyakit ibu yang
mempengaruhi kehamilan.
2. Gastelazo Ayala: faktor antenatal, faktor intrapartum, faktor obstetri dan
neonatal, faktor umum serta pendidikan.
3. Ida Bagus Gde Manuaba

1. Berdasarkan anamnesis

1. Usia ibu (< 19 tahun, > 35 tahun, perkawinan lebih dari 5 tahun).
2. Riwayat operasi (operasi plastik pada vagina-fistel atau tumor vagina,
operasi persalinan atau operasi pada rahim).
3. Riwayat kehamilan (keguguran berulang, kematian intrauterin, sering
mengalami perdarahan saat hamil, terjadi infeksi saat hamil, anak terkecil
berusia lebih dari 5 tahun tanpa KB, riwayat molahidatidosa atau korio
karsinoma).
4. Riwayat persalinan (persalinan prematur, persalinan dengan berat bayi
rendah, persalinan lahir mati, persalinan dengan induksi, persalinan

26
dengan plasenta manual, persalinan dengan perdarahan postpartum,
persalinan dengan tindakan [ekstrasi vakum, ekstraksi forsep, letak
sungsang, ekstraksi versi, operasi sesar]).

2. Hasil pemeriksaan fisik

1. Hasil pemeriksaan fisik umum (tinggi badan kurang dari 145 cm,
deformitas pada tulang panggul, kehamilan disertai: anemia, penyakit
jantung, diabetes mellitus, paru-paru atau ginjal).
2. Hasil pemeriksaan kehamilan (kehamilan trimester satu: hiperemesis
gravidarum berat, perdarahan, infeksi intrauterin, nyeri abdomen, servik
inkompeten, kista ovarium atau mioma uteri, kehamilan trimester dua dan
tiga: preeklamsia-eklamsia, perdarahan, kehamilan kembar, hidrmnion,
dismaturitas atau gangguan pertumbuhan, kehamilan dengan kelainan
letak: sungsang, lintang, kepala belum masuk PAP minggu ke 36 pada
primigravida, hamil dengan dugaan disproporsi sefalo-pelfik, kehamilan
lewat waktu diatas 42 minggu).

3. Saat inpartu

Pada persalinan dengan risiko tinggi memerlukan perhatian


serius, karena pertolongan akan menentukan tinggi rendahnya
kematian ibu dan neonatus (perinatal):

1. Keadaan risiko tinggi dari sudut ibu (ketuban pecah dini, infeksi
intrauterin, persalinan lama melewati batas waktu perhitungan partograf
WHO, persalinan terlantar, rupture uteri iminens, ruptur uteri, persalinan
dengan kelainan letak janin: [sungsang, kelainan posisi kepala, letak
lintang], distosia karena tumor jalan lahir, distosia bahu bayi, bayi yang
besar, perdarahan antepartum [plasenta previa, solusio plasenta, ruptur
sinus marginalis, ruptur vasa previa]).

27
2. Keadaan risiko tinggi ditinjau dari sudut janin (pecah ketuban disertai
perdarahan [pecahnya vasa previa], air ketuban warna hijau, atau prolapsus
funikuli, dismaturitas, makrosomia, infeksi intrauterin, distress janin,
pembentukan kaput besar, retensio plasenta).
3. Keadaan risiko tinggi postpartum (perslinan dengan retensio plasenta,
atonia uteri postpartum, persalinan dengan robekan perineum yang luas,
robekan serviks, vagina, dan ruptur uteri).

4. Hebert Hutabarat, membagi faktor kehamilan dengan risiko tinggi


berdasarkan:

1. Komplikasi obstetri (usia kurang dari 19 tahun atau lebih dari 35 tahun),
paritas (primigravida primer atau skunder, grandemultipara), riwayat
persalinan (abortus lebih dari 2 kali atau lebih, riwayat kematian janin
dalam rahim, perdarahan pasca-persalinan, riwayat pre-eklamsi, riwayat
kehamilan mola hidatidosa, riwayat persalinan dengan tindakan operasi
[ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, ekstraksi versi, atau plasenta manual],
terdapat disproporsi sefalopelfik, perdarahan antepartum, kehamilan ganda
atau hidramnion, hamil dengan kelainan letak, dugaan dismaturitas,
serviks inkompeten, hamil disertai mioma uteri atau kista ovarium).
2. Komplikasi medis, kehamilan yang disertai dengan anemia, hipertensi,
penyakit jantung, hamil dengan diabetes melitus, hamil dengan obesitas,
hamil dengan penyakit hati, hamil disertai penyakit paru, hamil disertai
penyakit lainnya.

5. J.S. Lesinki mengelompokkan faktor kehamilan dengan risiko tinggi


berdasarkan waktu kapan faktor tersebut dapat mempengaruhi kehamilan.

1. Faktor risiko tinggi menjelang kehamilan: faktor genetika dan Faktor


lingkungan. Faktor genetika yaitu, penyakit keturunan yang sering terjadi
pada keluarga tertentu, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan sebelum

28
kehamilan, perlu dilakukan pemeriksaan kelainan bawaan. Faktor
lingkungan dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan sosial ekonomi.
2. Faktor risiko tinggi yang bekerja selama hamil: keadaan umum menjelang
kehamilan, kebiasaan ibu (merokok, alkohol, kecanduan obat), penyakit
yang mempengaruhi kehamilan (hipertensi, gestosis-toksemia
gravidarum).
3. Faktor risiko yang bekerja saat persalinan
4. Faktor yang bekerja langsung pada neonates

(Manuaba, 2010: 241-244).

Risiko tinggi pada kehamilan meliputi: hb kurang dari 8 g%,


tekanan darah tinggi (systole > 140 mmHg dan diastole > 90 mmHg),
edema yang nyata, eklamsi, perdarahan per vagina, ketuban pecah dini,
letak lintang pada usia kehamilan lebih dari 32 mianggu, letak sungsang
pada primigrafida, infeksi berat atau sepsis, persalinan premature,
kehamilan ganda, janin yang besar, penyakit kronis pada ibu (jantung,
paru, ginjal, dll), riwayat obstetri buruk, riwayat seksio sesarea, dan
komplikasi kehamilan (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 224).

3. Skor Poedji Rochjati

Skor Poedji Rochjati adalah suatu cara untuk mendeteksi dini


kehamilan yang memiliki risiko lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu
maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum
maupun sesudah persalinan (Dian, 2007). Ukuran risiko dapat dituangkan
dalam bentuk angka disebut skor. Skor merupakan bobot prakiraan dari
berat atau ringannya risiko atau bahaya. Jumlah skor memberikan
pengertian tingkat risiko yang dihadapi oleh ibu hamil. Berdasarkan
jumlah skor kehamilan dibagi menjadi tiga kelompok:

29
1. Kehamilan Risiko Rendah (KRR) dengan jumlah skor 2
2. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT) dengan jumlah skor 6-10
3. Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST) dengan jumlah skor ≥ 12

(Rochjati Poedji, 2003: 27-28).

1. Tujuan Sistem Skor

1. Membuat pengelompokkan dari ibu hamil (KRR, KRT, KRST) agar


berkembang perilaku kebutuhan tempat dan penolong persalinan
sesuai dengan kondisi dari ibu hamil.
2. Melakukan pemberdayaan ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat
agar peduli dan memberikan dukungan dan bantuan untuk kesiapan
mental, biaya dan transportasi untuk melakukan rujukan terencana.

2. Fungsi Skor

1. Alat komunikasi informasi dan edukasi/KIE – bagi klien/ibu hamil,


suami, keluarga dan masyarakat.

Skor digunakan sebagai sarana KIE yang mudah diterima,


diingat, dimengerti sebagai ukuran kegawatan kondisi ibu hamil
dan menunjukkan adanya kebutuhan pertolongan untuk rujukkan.
Dengan demikian berkembang perilaku untuk kesiapan mental,
biaya dan transportasi ke Rumah Sakit untuk mendapatkan
penanganan yang adekuat.

2. Alat peringatan-bagi petugas kesehatan.

Agar lebih waspada. Lebih tinggi jumlah skor dibutuhkan


lebih kritis penilaian/pertimbangan klinis pada ibu Risiko Tinggi
dan lebih intensif penanganannya.

30
3. Cara Pemberian Skor

Tiap kondisi ibu hamil (umur dan paritas) dan faktor risiko
diberi nilai 2,4 dan 8. Umur dan paritas pada semua ibu hamil diberi
skor 2 sebagai skor awal. Tiap faktor risiko skornya 4 kecuali bekas
sesar, letak sungsang, letak lintang, perdarahan antepartum dan pre-
eklamsi berat/eklamsi diberi skor 8. Tiap faktor risiko dapat dilihat
pada gambar yang ada pada Kartu Skor ‘Poedji Rochjati’ (KSPR), yang
telah disusun dengan format sederhana agar mudah dicatat dan diisi
(Rochjati Poedji, 2003: 126).

31
Table 2.1 Skor Poedji Rochjati

Keterangan :

1. Ibu hamil dengan skor 6 atau lebih dianjurkan untuk bersalin ditolong oleh
tenaga kesehatan.
2. Bila skor 12 atau lebih dianjurkan bersalin di RS/DSOG

32
Pencegahan Kehamilan Risiko Tinggi

Penyuluhan komunikasi, informasi, edukasi/KIE untuk kehamilan


dan persalinan aman.

1. Kehamilan Risiko Rendah (KRR), tempat persalinan dapat dilakukan di


rumah maupun di polindes, tetapi penolong persalinan harus bidan, dukun
membantu perawatan nifas bagi ibu dan bayinya.
2. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT), ibu PKK membeti penyuluhan agar
pertolongan persalinan oleh bidan atau dokter puskesmas, di polindes atau
puskesmas (PKM), atau langsung dirujuk ke Rumah Sakit, misalnya pada
letak lintang dan ibu hamil pertama (primi) dengan tinggi badan rendah.
3. Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST), diberi penyuluhan dirujuk untuk
melahirkan di Rumah Sakit dengan alat lengkap dan dibawah pengawasan
dokter spesialis (Rochjati Poedji, 2003: 132).

Pengawasan antenatal, memberikan manfaat dengan


ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai kehamilan secara dini,
sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah
dalam pertolongan persalinannya.

1. Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat saat


kehamilan, saat persalinan, dank ala nifas.
2. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil, persalinan, dank
ala nifas.
3. Memberikan nasihat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana.
4. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.

(Manuaba, 2010: 109 dan 111)

33
Pendidikan kesehatan

1. Diet dan pengawasan berat badan, kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat
menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan pada wanita hamil.
Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan (anemia, partus prematur, abortus,
dll), sedangkan kelebihan nutrisi dapat menyebabkan (pre-eklamsia, bayi
terlalu besar, dll) (Sarwono, 2007: 161).
2. Hubungan seksual, hamil bukan merupakan halangan untuk melakukan
hubungan seksual (Manuaba, 2010: 120). Pada umumnya hubungan
seksual diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati-
hati (Sarwono, 2007: 160).
3. Kebersihan dan pakaian, kebersihan harus selelu dijaga pada masa hamil.
Pakaian harus longgar, bersih, dan mudah dipakai, memakai sepatu dengan
tumit yang tidak terlalu tinggi, memakai kutang yang menyokong
payudara, pakaian dalam yang selalu bersih (Sarwono, 2007: 160).
4. Perawatan gigi, pada triwulan pwrtama wanita hamil mengalami enek dan
muntah (morning sickness). Keadaan ini menyebabkan perawatan gigi
yang tidak diperhatikan dengan baik, sehingga timbul karies gigi,
gingivitis, dan sebagainya (Sarwono, 2007: 161).
5. Perawatan payudara, bertujuan memeliha hygiene payudara,
melenturkan/menguatkan puting susu, dan mengeluarkan puting susu yang
datar atau masuk ke dalam (Manuaba, 2010: 121).
6. Imunisasi TT, untuk melindungi janin yang akan dilahirkan terhadap
tetanus neonatorum (Sarwono, 2007: 161).
7. Wanita pekerja, wanita hamil boleh bekerja tetapi jangan terlampau berat.
Lakukanlah istirahat sebanyak mungkin. Menurut undang-undang
perburuhan, wanita hamil berhak mendapat cuti hamil satu setengah bulan
sebelum bersalin atau satu setengah bulan setelah bersalin (Sarwono,
2007: 162).
8. Merokok, minum alkohol dan kecanduan narkotik, ketiga kebiasaan ini
secara langsung dapat mempangaruhi pertumbuhan dan perkembangan

34
janin dan menimbulkan kelahirkan dangan berat badan lebih rendah, atau
mudah mengalami abortus dan partus prematurus, dapat menimbulkan
cacat bawaan atau kelainan pertumbuhan dan perkembangan mental
(Manuaba, 2010: 122).
9. Obat-obatan, pengobatan penyakit saat hamil harus memperhatikan apakah
obat tersebut tidak berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin
(Manuaba, 2010: 122).

35
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
deskriptif yang akan mendeskripsikan gambaran pengetahuan Kader mengenai
resiko tinggi pada kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Cibinong

3.2 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian
menggambarkan objek atau peristiwa yang bertujuan untuk mengetahui keadaan
yang terjadi pada saat sekarang.

3.3 Subjek Penelitian


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kader di Wilayah Kerja
Puskesmas Cirimekar.
3.3.2 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah kader di Wilayah Kerja
Puskesmas Cirimekar. Yang hadir saat pertemuan kader dan bersedia menjadi
responden penelitian.
3.3.3 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah kader di Wilayah Kerja
Puskesmas Cirimekar yang tidak bersedia menjadi responden penelitian atau
kader yang tidak hadir pada saat pelaksanaan pertemuan kader.
.
3.4 Ukuran Sampel
Sampel diambil menggunakan total sampling, yaitu sampel yang digunakan
adalah seluruh kader yang hadir pada pertemuan kader di Puskesmas Cirimekar.

36
3.5 Teknik Pengambilan Sampel
3.5.1 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data diperoleh melalui data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh langsung dari responden, dikumpulkan dengan
menggunakan kuesioner . Data sekunder didapatkan dari data yang sudah ada di
puskesmas.
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini, berupa kuesioner yang
berhubungan dengan pengetahuan kader mengenai resiko tinggi pada kehamilan,
yang berisi 20 pertanyaan dalam pilihan ganda.

3.6 Analisis Data


Data yang telah terkumpul akan diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel,
diagram dan penjelasan naratif.
a. Seleksi data
Data yang telah terkumpul diseleksi terlebih dahulu dengan memeriksa setiap
jawaban dari pertanyaan lembar kuesioner. Setiap jawaban dan pertanyaan
yang sama dikelompokkan sesuai aspek yang diteliti.
b. Presentase data
Data yang telah dikelompokkan selanjutnya ditabulasi dengan menggunakan
tabel frekuensi dan persentase.

Tabulasi adalah pengorganisasian data sedemikian rupa agar


dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan ditata untuk disajikan dan
dianalisis. Jawaban responden yang sudah diberi kode kemudian
dimasukkan table distribusi. Setelah prosentase diketahui hasilnya
diinterpretasikan dengan kriteria :

Baik : Hasil prosentase 76- 100 %

Cukup : Hasil prosentase 56-75 %

Kurang : Hasil prosentase < 56 %

37
3.7 Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah kasus resiko tinggi pada kehamilan periode
Januari – September 2018

3.8 Prosedur Penelitian


Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan penelitian,
pengambilan data penelitian, dan pelaporan hasil penelitian.
Persiapan penelitian diawali dengan penentuan tema dan judul penelitian
dengan berdiskusi dengan pihak Puskesmas Cirimekar. Setelah judul penelitian
ditentukan, kuesioner disebar pada seluruh kader di Kelurahan Cirimekar,
Pengambilan data kuesioner di sebar pada saat pertemuan .Hasil yang diperoleh
kemudian direkap untuk dianalisis dan disusun dalam penyusunan laporan
penelitian. Hasil penelitian kemudian akan dibahas dan didiskusikan untuk
ditentukan tindak lanjut berupa pemecahan masalah dan rencana intervensi yang
dapat dilakukan.

3.9 Waktu dan Tempat Penelitian


Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai dari Oktober 2018 hingga
Desember 2018. Pengambilan data dilakukan di Poli Puskesmas Cirimekar.

3.10 Jadwal Penelitian

Oktober Desember
Oktober 2018 November 2018
Kegiatan 2018 2018
III IV I II III IV I II III IV I II III
Penentuan tema penelitian

Pengajuan usulan penelitian

Pengumpulan data kuesioner

Input dan pengolahan data

Penyusunan hasil penelitian

Presentasi hasil penelitian


Tabel 1 Jadwal Penelitian

38
3.11 Alur Penelitian

Gambar 1 Alur Penelitian

39
BAB IV
HASIL

1.1 Hasil Penelitian

1.1.1 Karakteristik Responden

Usia

18 - 45

44,4 %
55,6 %

> 45

Gambar Grafik Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Berdasarkan grafik tentang usia responden, diketahui bahwa sebagian besar


responden memiliki rentang usia 18-45 tahun sebanyak 55,6 % atau 25 orang dan
diikuti oleh rentang usia > 45 tahun sebanyak 44,4 % atau 20 orang.

40
Pendidikan Terakhir

13,3 % 11,1 %

SD

28,9 %
SMP

SMA

46,7 %
Perguruan Tinggi

Grafik Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Berdasarkan grafik tentang pendidikan terakhir responden, diketahui bahwa


sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir SMA yaitu 46,7 % atau 21
orang, di ikuti oleh SMP sebanyak 28,9 % atau 13 orang, Perguruan Tinggi
sebanyak 13,3 % atau 6 orang dan SD sebanyak 11,1 % atau 5 orang.

41
Perkerjaan
4,4 %
6,7 %

Ibu Rumah Tangga

Wiraswasta

Pensiun

88,9 %

Berdasarkan status pekerjaan, pada umumnya sebagian besar responden


dalam penelitian ini berstatus tidak bekerja atau Ibu Rumah Tangga (IRT). Jumlah
responden yang tidak bekerja atau IRT adalah sebanyak 88,9 % atau 40 orang,
wiraswasta 6,7 % sebanyak 3 orang dan pensiun 4,4 % sebanyak 2 orang.

42
4.2.2 Gambaran Tingkat Pengetahuan Kader mengenai Resiko Tinggi
Kehamilan

PENGETAHUAN
100

80

60
PENGETAHUAN
40

20

0
Kurang Cukup Baik

Gambar Grafik Persentase Tingkat Pengetahuan Responden

Dari hasil pengumpulan data kuesioner didapatkan bahwa sebagian besar


responden berpengetahuan baik tentang penyakit Faktor resiko tinggi kehamilan,
yaitu sebanyak 39 responden (86,7%). Sebanyak 6 responden (13,3%) memiliki
pengetahuan cukup mengenai resiko tinggi kehamillan dan tidak ada responden
yang memiliki pengetahuan kurang mengena resiko tinggi kehamilan.

Berdasarkan umur kader yang mendapat pengetahuan tentang ibu


hamil risiko tinggi 25 responden (55,6%) berumur 18-45 tahun. Semakin
cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih baik,
matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat,
seseorang yang lebih dewasa juga akan lebih dipercaya dari orang-orang yang
belum cukup tinggi kedewasaanya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman
dan kematangan jiwanya (Nursalam dan Siti Pariani : 2001). Dari hasil

43
penelitian, yaitu semakin cukup umur akan lebih matang dan lebih dewasa
dalam berfikir, sehingga mempengaruhi tingkat pengetahuan juga.

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat pengetahuan yaitu pendidikan


berdasarkan distribusi karakteristik responden, didapatkan 21 responden
(46,7%) mempunyai pendidikan terakhir SMA, semakin tinggi pendidikan
seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak
pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan
menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang akan
diperkenalkan (Nursalam, 2001). Berdasarkan paparan diatas didapatkan dari
hasil penelitian dan teori terdapat kesamaan, kebanyakan responden yang
berpendidikan terakhir SMA cenderung memiliki pengetahuan yang baik, hal
ini bisa terjadi karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka
semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, orang yang berpendidikan
tinggi lebih mudah menerima informasi yang datang dari luar. Mereka
cenderung akan mencari informasi yang banyak tentang berbagai hal daripada
mereka yang berpendidikan rendah.

Data yang diambil tingkat pengetahuan kader tentang ibu hamil risiko
tinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Cirimekar seluruhnya 45 responden
(90%) berpengetahuan cukup baik. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu
materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan
tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah (Notoatmodjo, 2003:
128). Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekadar menjawab
pertanyaan. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori
yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang
dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung

44
maupun orang lain (Notoatmodjo Soekidjo, 2005: 3). Dengan demikian jelas
bahwa pengetahuan seseorang diperoleh dari sebuah proses belajar, baik
melalui pengindraan maupun melalui media massa dan media cetak.

4.3 Keterbatasan Penelitian


1. Tidak semua kader hadir dalam pengambilan data pada saat pertemuan
kader
2. Penelitian ini hanya menggunakan desain studi potong lintang yang
hanya menggambarkan variabel yang diteliti dan tidak bisa melihat
adanya hubungan sebab akibat dengan tingkat kepatuhan peserta.

45
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yang telah


disajikan dalam bab sebelumnya mengenai pengetahuan didapatkan
kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan kader tentang ibu hamil risiko tinggi
di Wilayah Kerja Puskesmas Cirimekar hampir seluruhnya berpengetahuan
baik.

2. Saran
1. Bagi Lahan Penelitian

Bagi tenaga kesehatan hendaknya tetap aktif dalam memberikan


informasi pada kader melalui penyuluhan dan selalu mengikuti perkembangan
tentang informasi ibu hamil risiko tinggi yang terbaru dengan cara mengikuti
seminar atau pertemuan ilmiah yang lain dalam upaya penurunan AKI dan
AKB.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini memerlukan berbagai sumber


kepustakaan. Oleh karena itu hendaknya institusi pendidikan menyediakan
lebih banyak kepustakaan untuk lebih meningkatkan pengetahuan mahasiswa
tentang ibu hamil risiko tinggi.

46
3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai pengalaman dan wawasan baru untuk mengembangkan


potensi diri sebagai bekal dalam memberikan pelayanan di bidang kesehatan.
Peneliti selanjutnya hendaknya dapat mengembangkan penelitiannya dengan
menggunakan metode yang lebih luas. Sehingga penelitian dapat lebih baik
dan mencapai hasil yang maksimal.

47
DAFTAR PUSTAKA

1. Arikunto. 2006. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik”. Jakarta:


Rineka Cipta
2. Azwar. 2007. “Sikap Manusia”. Jakarta: PT. Rineka Cipta
3. Departemen Kesehatan RI. 2012. “Buku Kesehatan Ibu dan Anak Provinsi
Jawa barat”. Jakarta : Departemen Kesehatan dan JICA (Japan
International Cooperation Agency)
4. Manuaba IBG. 2008. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &
KeluargaBerencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
5. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. “Ilmu Kebidanan”. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
6. Rochjati, P.. 2003. Skrining Antenatal Pada Ibu Hamil. Surabaya :
PusatSafe Mother Hood-Lab/SMF Obgyn RSU Dr. Sutomo/Fakultas
Kedokteran UNAIR Surabaya
7. Rochjati, Poedji. 2003. “Skrining Antenatal pada Ibu Hamil”. Surabaya :
Airlangga University Press
8. Saifuddin, Abdul Bari. 2001. ”Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal”. Jakarta : YBP-SP
9. Sugiyono. 2007. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”.
Bandung : ALFABETA
10. Sugiyono. 2009. ”Statistika untuk Penelitian”. Bandung : ALFABETA
11. Suririnah. 2008. “Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi”. http//www.
Info-wikipedia.com. diakses tanggal 11 Maret 2018
12. Suririnah.2008. Buku Pintar Kehamilan dan Persalinan. Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama.
13. Varney, Helen, dkk. 2006. “Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 1”.
Jakarta : EGC

vii