Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN

INTER PROFESIONAL EDUCATION


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. A DI RT 11
KELURAHAN MUARA RAPAK KECAMATAN BALIKPAPAN UTARA

Dosen Pembimbing :

Sri Hazanah, S..ST.,SKM.,M.Pd

Disusun Oleh :

Ester Yulan Marcelina P07220116093


Dimas Ardianto P07220116084

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN
SAMARINDA DAN PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat, karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan

Laporan tentang “Inter Profesional Education pada keluarga Tn.A di RT.11 Muara

Rapak”. Meskipun masih banyak kekurangan didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan

memberi tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap laporan ini dapat berguna

dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari

sepenuhnya bahwa didalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata

sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi

perbaikan laporan yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat

tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Balikpapan, 16 Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

BAB I .................................................................................................................................. 1

PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1

A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1

B. Permasalahan .......................................................................................................... 3

C. Tujuan ..................................................................................................................... 3

BAB II................................................................................................................................. 4

TINJAUAN PUSTAKA IPE .............................................................................................. 4

A. Pengertian IPE ........................................................................................................ 4

B. Tujuan dan Manfaat IPE ......................................................................................... 6

C. Gambaran Pelaksanaan IPE .................................................................................... 7

D. Kompetensi dan Sikap yang Diharapkan dari IPE .................................................. 8

E. Hambatan dan Cara Penanggulangan IPE............................................................... 8

BAB III ............................................................................................................................. 10

HASIL PRAKTIKUM ...................................................................................................... 10

A. Analisa Data .......................................................................................................... 17

B. Diagnosa Keperawatan ......................................................................................... 18

Skoring Prioritas Masalah (Menurut Bllon dan Maglaya, 1978) .................................. 18

Pioritas Masalah ............................................................................................................ 20

C. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga .............................................................. 20

D. Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga ................................ 22

DOKUMENTASI .............................................................................................................. iii

PRE CONFERENCE SEBELUM KUNJUNGAN IMPLEMENTASI ............................. iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tenaga kesehatan merupakan tenaga profesional yang memiliki tingkat


keahlian dan pelayanan yang luas dalam mempertahankan dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan yang berfokus pada kesehatan pasien (Steinert,
2005 dalam Bennett, DKK 2011). Tenaga kesehatan memiliki tuntutan untuk
memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu di era global, tenaga
kesehatan yang dimaksud adalah perawat, dokter, dokter gigi, bidan, apoteker,
dietisien, dan kesehatan masyarakat (Sedyowinarso, DKK 2011).
Interprofessional education (IPE) merupakan bagian integral dari
pembelajaran professional kesehatan, yang berfokus pada belajar dengan, dari,
dan tentang sesama tenaga kesehatan untuk meningkatkan kerja sama dan
meningkatkan kualitas pelayanan pada pasien. Peserta didik dari beberapa
profesi kesehatan belajar bersama dalam meningkatkan pelayanan kepada
pasien secara bersama-sama (kolaborasi) dalam lingkungan interprofesional.
Model ini berfungsi untuk mempersiapkan tenaga kesehatan yang
memiliki kemampuan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain dalam
sistem kesehatan yang kompleks. (Becker, DKK 2014). Sehingga, strategi
pendidikan komunikasi melalui IPE antara perawat dengan dokter atau tenaga
kesehatan lainnya dapat membangun budaya komunikasi dan kolaborasi yang
efektif dalam memberikan pelayanan kepada pasien (Liaw, DKK 2014).
Meskipun IPE ini dapat membangun budaya komunikasi dan
kolaborasi yang efektif dalam memberikan pelayanan kepada pasien, namun
ada beberapa tantangan dalam pelaksanaannya. Tantangan tentang
pelaksanaan IPE menurut World Health Organization tahun (2010)
menyatakan bahwa banyak sistem kesehatan di negara-negara di dunia yang
sangat terfragmentasi pada akhirnya tidak mampu menyelesaikan masalah
kesehatan di negara itu sendiri.

1
Hal ini kemudian disadari karena permasalahan kesehatan sebenarnya
menyangkut banyak aspek dalam kehidupan, dan untuk dapat memecahkan
satu persatu permasalahan tersebut atau untuk meningkatkan kualitas kesehatan
itu sendiri, tidak dapat dilakukan hanya dengan sistem uniprofessional.
Kontribusi berbagi disiplin ilmu ternyata memberi dampak positif dalam
penyelesaian berbagai masalah kesehatan (Pfaff, 2014). Selain itu, beberapa
penelitian menyebutkan bahwa terdapat hambatan dalam penyelenggaraan IPE.
Hambatan ini terdapat dalam berbagai tingkatan dan terdapat pada
pengorganisasian, pelaksanaan, komunikasi, budaya ataupun sikap. Sangat
penting untuk mengatasi hambatan-hambatan ini sebagai persiapan mahasiswa
dan praktisi profesi kesehatan yang lebih baik demi praktik kolaborasi hingga
perubahan sistem pelayanan kesehatan (Becker, Hanyok, & Moss, 2014).
Menurut data WHO tahun 2010 bahwa saat ini banyak perguruan tinggi
di dunia telah menerapakan Interprofessional Education, bahkan beberapa
negara telah mendirikan badan atau pusat pengembangan Interprofessional
Practice and Education, yaitu:
1. Australian Inter Professional Practice and Educatioanal Network
(AIPPEN).
2. Canadian Interprofessional Health Collaboration (CIHC)
3. European Interprofessional Education Network (EIPEN).
4. Journal of Interprofessional Care (JIC).
5. National Health Sciences Students Association in Canada (NaHSSA)
6. The Network: Towards Unity for Health
7. Nordic Interprofessional Network (NIPNet), dan

Curran, dkk., (2007) telah melakukan sebuah penelitian di Memorial


University of Newfoundland, St John s, Newfoundland, Canada tentang
Interprofessional Education yang berjudul Attitudes of health sciences faculty
members towards interprofessional teamwork and education. Penelitian
tersebut dilakukan terhadap 194 orang staf fakultas kesehatan. Sebanyak 38%
responden berusia tahun, 53% dilaporkan telah menjalani profesi kesehatan
selama 21 atau lebih, dan 79,7% menyatakan memiliki pengalaman praktek
2
kolaborasi interprofessional. Hasil penelitian menunjukkan 63,0% staf
memiliki sikap baik terhadap pendidikan dan praktek interprofessional.
Pengambilan data kuantitatif pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan kuesioner Attitude toward health care team scale, RIPLS
(Readiness Inter Professional Learning Scale) modifikasi, dan kuesioner
pengukuran sikap terhadap pembelajaran interprofesi di lingkungan
pendidikan. Barr (1998) dalam Sedyowinarso, dkk., (2011) menjelaskan
penanggulagan pelaksanaan IPE yaitu: 1) memahami peran, tanggung jawab
dan kompetensi profesi lain dengan jelas, 2) bekerja dengan profesi lain untuk
memecahkan konflik dalam memutuskan perawatan dan pengobatan pasien, 3)
bekerja dengan profesi lain untuk mengkaji, merencanakan, dan memantau
perawatan pasien, 4) menoleransi perbedaan, kesalahpahaman dan kekurangan
profesi lain, 5) memfasilitasi pertemuan interprofesional, dan 6) memasuki
hubungan saling tergantung dengan profesi kesehatan lain.

B. Permasalahan

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Keluarga yang dilakukan dengan


Interprofesional Education (IPE) ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran dan hambatan pelaksanaan
IPE.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mendefenisikan pengertian dari IPE.
b. Mahasiswa mampu mengetahui tujuan dan manfaat dari IPE.
c. Mahasiswa mengetahui bagaimana gambaran dari pelaksaan IPE.
d. Mahasiswa mengetahui hambatan dan cara penanggulangan IPE.
e. Mahasiswa memiliki kompetensi dan sikap yang diharapkan setelah
membahas IPE.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA IPE

A. Pengertian IPE
Interprofessional Education (IPE) menurut WHO (2010), IPE merupakan
suatu proses yang dilakukan dengan melibatkan sekelompok mahasiswa atau
profesi kesehatan yang memiliki perbedaan latar belakang profesi dan
melakukan pembelajaran bersama dalam periode tertentu, adanya interaksi
sebagai tujuan utama dalam IPE untuk berkolaborasi dengan jenis pelayanan
meliputi promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif.

Pengertian IPE :
1. Medudukkan secara bersama mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan
dalam satu kelas yang sama.
2. Mendatangkan pengajar dari berbagai profesi kesehatan untuk mengajar
pada kelas yang sama.
3. Memaparkan mahasiswa dari berbagai profesi pada pasien yang sama
Pengembangan IPE di institusi pendidikan kesehatan tidak terlepas dari
konsep berubah. Perubahan merupakan suatu proses di mana terjadinya
peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang
bersifat dinamis. Perubahan dapat mencakup keseimbangan personal, sosial
maupun organisasi untuk dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam
mencapai tujuan tertentu.
Kurt Lewin (1951) dalam Hidayat (2008) mengungkapkan bahwa
seseorang yang akan berubah harus memiliki konsep tentang perubahan yang
tercantum dalam tahap proses perubahan agar perubahan tersebut menjadi
terarah dan mencapai tujuan yang ada.
Tahapan tersebut meliputi unfreezing, moving dan refreezing. Tahap
Pencairan (Unfreezing) merupakan tahap awal. Pada kondisi ini mulai muncul
persepsi terhadap hal yang baru. Persepsi mencakup penerimaan stimulus,
pengorganisasian stimulus dan penterjemahan atau penafsiran stimulus yang
telah terorganisir yang akhirnya mempengaruhi pembentukan sikap. Walgito
4
(2004) mengungkapkan bahwa persepsi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal terdiri dari karakteristik individu, pengalaman dan
pengetahuan. Sedangkan faktor eksternal yaitu stimulus dan lingkungan sosial.
Sikap dapat diartikan sebagai kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek
tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya
respon. Sikap dosen yang positif terhadap IPE mendorong untuk berperilaku
mendukung sistem IPE yang baru. Berikutnya merupakan tahap bergerak
(Moving). Pada tahap ini sudah dimulai adanya suatu pergerakan ke arah
sesuatu yang baru. Tahap ini dapat terjadi apabila seseorang telah memiliki
informasi yang cukup serta kesiapan untuk berubah, juga memiliki
kemampuan dalam memahami masalah serta mengetahui langkah-langkah
dalam menyesuaikan masalah atau hambatan dalam penerapan IPE.
Akhirnya, tahap pembekuan (freezing), yaitu ketika telah tercapai
tingkat atau tahapan yang baru. Proses pencapaian yang baru perlu
dipertahankan dan selalu terdapat upaya mempertahankan perubahan yang
telah dicapai. Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses
penerimaan terhadap model pembelajaran terintegrasi setelah dilakukan
pergerakan dan merasakan adanya manfaat dari pembelajaran IPE ini.

Bagan 1. Pengembangan IPE menurut Kurt Lewin (1951) dalam Hidayat (2008)

5
B. Tujuan dan Manfaat IPE

Menurut (freeth & reeves, 2004) tujuan dari interprofessional education


adalah untuk mempersiapkan mahasiswa profesi kesehatan dengan ilmu,
keterampilan, sikap dan perilaku profesional yang penting untuk praktek
kolaborasi interprofesional.
Sedangkan menurut (Cooper, 2001) tujuan dari IPE yaitu :
1. Meningkatkan pemahaman interdispliner dan meningkatkan kerjasama.
2. Membina kerjasama yang kompeten
3. Membuat penggunaan sumberdaya yang efektif dan efisien
4. Meningkatkan kualitas perawatan pasien yang comprehensif.

Manfaat dari interprofessional education yaitu :


1. Memberikan mahasiswa kesempatan untuk mendapatkan pengalaman
seperti dalam kehidupan kerja yang nyata.
2. Mahasiswa dapat berinteraksi lebih luas dalam lingkungan fakultas
sebagai suatu lingkungan kerja
3. Mahasiswa belajar menghargai profesi lainnya
4. Memahami lebih jelas peran profesi masing-masing
5. Mahasiswa belajar saling melengkapi sebagai tim dan dapat memanage
konflik dengan baik.

Pendidikan interprofesional ini pun terjadi apabila :


1. Terdapat interaksi dan refleksi aktif antar mahasiswa dan institusi dari
berbagai profesi kesahatan.
2. Tujuan dan srategi pendidikan diarahkan pada pencapaian :
a. keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalankan
kerja tim dalam penanganan pasien.
b. pemahaman dan sikap saling menghormati karakter khusus dan fungsi
berbeda yang dimiliki oleh masing-masing profesi.

6
C. Gambaran Pelaksanaan IPE
Pelaksanaan IPE yang ideal harus dimulai dengan persamaan paradigma
bahwa IPE hanyalah langkah awal dari tujuan utama dalam upaya
meningkatkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien. Pendekatan
interprofessional akan memfasilitasi dengan lebih baik mahasiswa dari satu
disiplin ilmu untuk belajar dari disiplin ilmu lainnya. Pembelajaran bersama
antardisiplin ilmu dapat meningkatkan keterampilan baru mahasiswa yang
akan memperkaya keterampilan khusus yang dimiliki masing-masing disiplin
dan mampu bekerja sama lebih baik dalam lingkungan tim yang terintegrasi.
Selama ini penerapan IPE masih tidak konsisten, untuk itu harus dibuat
sebuah komitmen sehingga pembelajaran interprofesional dapat diterapkan di
institusi pendidikan dan diterapkan dalam kurikulum pendidikan di semua
program pelayanan kesehatan untuk memastikan keberadaan jangka panjang
IPE yang berkelanjutan (ACCP, 2009).
Kompetensi IPE Tujuan akhir pada pembelajaran IPE adalah
mengharapkan mahasiswa mampu mengembangkan kompetensi yang
diperlukan untuk berkolaborasi. Freeth, dkk., (2005) mengungkapkan
kompetensi dosen atau fasilitator IPE antara lain :

1. Sebuah komitmen terhadap pembelajaran dan praktik interprofesional,


2. Kepercayaan dalam hubungan pada fokus tertentu dari pembelajaran
interprofesional di mana staf pendidik berkontribusi,
3. Model peran yang positif,
4. Pemahaman yang dalam terhadap metode pembelajaran interaktif dan
percaya diri dalam menerapkannya,
5. Kepercayaan dan fleksibilitas untuk menggunakan perbedaan profesi
secara kreatif
6. Menghargai perbedaan dan kontribusi unik dari masing-masing anggota
kelompok,
7. Menyesuaikan kebutuhan individu dengan kebutuhan kelompok, dan
8. Meyakinkan dan memiliki selera humor dalam menghadapi kesulitan.

7
Kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh mahasiswa dengan metode
pembelajaran IPE adalah kemampuan untuk mengembangkan kompetensi yang
diperlukan untuk berkolaborasi.

D. Kompetensi dan Sikap yang Diharapkan dari IPE


Kompetensi terdiri atas :

1. Pengetahuan
Paham otonomi tiap profesi dan paham peran masing-masing dalam
keterpaduan.
2. Keterampilan
Profesionalisme terjaga, bukan untuk berebut, bertentangan tetapi untuk
bersinergi, saling melengkapi dan terpadu dalam pelayanan holistik,
manusiawi, etis dan bermutu. Kemampuan komunikasi yang baik,
mengutamakan keselamatan klien/pasien.

Sikap terdiri atas :

1. Professional, saling menghormati, keikhlasan untuk bekerja sama dalam


kesejajaran, saling percaya dengan profesi lain, keterbukaan disiplin jujur
dan bertanggung jawab.
2. Kompetensi kemampuan tim.

E. Hambatan dan Cara Penanggulangan IPE


Selain manfaat dari IPE banyak kendala-kendala yang ditemui dalam
pelaksanaan IPE, antara lain yaitu :
1. Penanggalan akademik,
2. Peraturan akademik,
3. Struktur penghargaan akademik,
4. Lahan praktek klinik,
5. Masalah komunikasi,
6. Bagian kedisiplinan,

8
7. Bagian profesional,
8. Evaluasi,
9. Pengembangan pengajar,
10. Sumber keuangan,
11. Jarak geografis,
12. Kekurangan pengajar interdisipliner,
13. Kepemimpinan dan dukungan administrasi,
14. Tingkat persiapan peserta didik,
15. Logistik,
16. Kekuatan pengaturan,
17. Promosi,
18. Perhatian dan penghargaan,
19. Resistensi perubahan, beasiswa,
20. Sistem penggajian, dan
21. Komitmen terhadap waktu (Pfaff, 2014).

Tindakan yang diperlukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang


muncul dapat dilakukan dengan penyesuaian jadwal antar profesi yang
bersangkutan, adanya sikap disiplin dan saling memahami untuk terciptanya
komunikasi dan kedisiplinan yang baik, menyiapkan bahan diskusi di hari
sebelumnya, financial yang cukup untuk pengadaan fasilitas pendukung
dalam IPE.

9
BAB III

HASIL PRAKTIKUM

PENGKAJIAN KELUARGA DAN IKS


Hari/Tanggal : Selasa & Sabtu, 16 & 27 April 2019
I. Data Umum
1. Identitas
A. Nama Keluarga : Tn. A
B. Usia : 41 tahun
C. Pendidikan : SLTA
D. Pekerjaan : wiraswasta
E. Alamat : Jl. Inpres IV RT 11 Kelurahan Muara Rapak
Balikpapan Utara
F. Komposisi Keluarga :

No Nama Umur L/P Hub.Kel Pendidikan Pekerjaan Agama

1. Tn. A 30 Th L Suami SMA Buruh Kristen

2. Ny. E 29 Th P Istri SMA IRT Kristen

3. An. L 10 Th P Anak SMP Pelajar Kristen

4. An. C 9 Th P Anak SD Pelajar Kristen

5. An. K 2 Th L Anak SD Pelajar Kristen

1. Genogram

10
Klien Laki-laki

Klien Perempuan

Anak perempuan Klien

Meninggal

Garis keluarga binaan

Garis keturunan

2. Tipe Keluarga
Tipe keluarga pada Tn. A yaitu keluarga Inti . Di dalam rumah terdiri atas
kedua orang tua dan anak – anak saja tanpa anggota keluarga yang lain.
Tidak ada masalah atau kendala dalam rumah dengan tipe keluarga
tersebut.
3. Suku bangsa
Semua anggota keluarga Tn. A bersuku bangsa Rote
4. Agama
Semua anggota keluarga Tn. A beragama kristen
5. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Tn. A bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan ± 2.000.000 / bulan
dan Ny. E bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pemenuhan kebutuhan
sehari-hari dirasakan cukup, Keluarga Ny. E termasuk dalam keluarga
sejahtera II.
6. Aktivitas Rekreasi Klien
Tn. A dan keluarga mengisi aktivitas rekreasi mereka dengan menonton
televisi. Tn. A dan keluarga gemar menonton sinetron di televisi .

11
II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1. Tahap Perkembangan Keluarga
Tahap perkembangan keluarga Tn. A adalah keluarga dengan anak remaja
2. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi pada keluarga Tn. A
tidak ada.
3. Riwayat Keluarga Inti
Tn.A menikah sekali dengan Ny.E dan dikaruniai 3 orang anak. Anak yang
pertama berumur 14 tahun, anak yang kedua berumur 9 tahun, anak yang
ketiga berumur 6 tahun. Ketiga anak Ny. E tidak mendapat imunisasi
lengkap.
4. Riwayat Keluarga Sebelumnya
Tn. A mengatakan mempunyai riwayat penyakit keluarga yaitu riwayat
jantung dn stroke.

III. Keadaan Lingkungan


1. Karakteristik Rumah
Tipe rumah terbuat dari beton, ada ruang tamu, 1 kamar, dapur, 1 kamar
mandi, lantai keramik, ventilasi di setiap ruangan.

Denah rumah:

Kamar
Pintu Mandi
belakang
Dapur

Kamar
Tidur
Pintu
depan
Ruang Tamu

12
2. Karateristik Lingkungan Sekitar
Lingkungan sekitar rumah Tn. A bersih.
3. Mobilitas Geografis Keluarga
Keluarga Tn. A tinggal di Balikpapan sekitar 4 tahun, sebelumnya
Keluarga Tn. A tinggal di kupang.
4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Keluarga
Interaksi keluarga Tn. A dengan tetangga baik.
.

IV. Struktur keluarga


1. Pola Komunikasi Keluarga

Dalam menghadapi masalah biasanya selalu dibicarakan secara keluarga


sebelum mengambil keputusan.

2. Struktur Kekuatan Keluarga

Merupakan keluarga yang terdiri dari suami, istri dan 3 orang anak yang
saling memperhatikan.

3. Struktur Peran Keluarga


Tn. A sebagai orang yang dihormati dan sebaai pengambil keputusan,
menjadi kepala keluarga, suami, ayah.
Ny. E sebagai istri, ibu bagi anaknya dan bertanggungjawab atas anak dan
mengurus keperluan dapur.
4. Nilai dan Norma Keluarga
Keluarga Tn. A menjalankan ibadah minggu pagi
V. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afektif
Keluarga cukup rukun dan perhatian dalam membina rumah tangga.
2. Fungsi Sosial
Kerukunan terjaga dengan baik, interaksi dalam keluarga sangat baik
dengan komunikasi yang dilakukan secara terbuka serta interaksi dengan
masyarakat sangat baik.
13
3. Fungsi Perawatan Keluarga
a. Mengenal masalah kesehatan
Keluarga Tn. A belum mengetahui mengenai dampak rokok dan
penanganan kolestrol serta apa saja jenis KB yang aman.
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
Tn. A jarang memeriksakan kolesterolnya, saat ini Ny. E masih
menggunkan jenis KB suntik.
c. Memberi perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit
Saat ini keluarga Tn. A mmampu melakukan perawatan terhadap
anggota keluarga yang sakit
d. Memodifikasi/memelihara lingkungan rumah yang sehat
Rumah keluarga Tn. A rapi dan bersih, penerangan cukup, ventilasi
cukup.
e. Menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga Tn. A mengatakan bahwa jika ada anggota keluarga sakit
dibawa ke dokter praktik di dekat rumah.

VI. Stress dan Koping Keluarga


1. Stressor Jangka Pendek dan Jangka Panjang
a. Stressor jangka pendek :
Istri menerima pendapat suami dengan ikhlas dan tidak meminta
lebih. Keluarga menginginkan anaknya dapat sekolah sampai sarjana
dan dapat membantu orang tua bila sudah sukses nanti.
b. Stressor jangka panjang :
Orang tua ingin anak-anaknya memperoleh pendidikan yang tinggi.
2. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap Stressor
Keluarga Tn. A dapat menghadapi masalah yang ada.
3. Strategi Koping yang Digunakan
Keluarga Tn. A biasanya berkumpul dan berdiskusi dalam menghadapi
masalah apalagi menyangkut perkembangan anak.
4. Strategi Adaptasi Fungsional

14
Keluarga Tn. A mengunakan pendekatan yang adaptif dan edukatif dengan
keluarga.
VII. Pemeriksaan Fisik
No Nama TD Nadi Nafas Suhu BB TB
o
mm/Hg x/mnt x/mnt C Kg Cm
1. 130/90 85 20 - - -
Tn. A Kepala : Normal
Mata : Normal, simetris kiri/kanan, tidak ada gangguan
penglihatan
Hidung : Normal, simetris kiri kanan
Telinga : Normal
Leher : Normal
Abdomen : Normal
Ekstremitas : Normal, lengkap
Genitalia : Normal
Integumen : Normal, tidak ada lesi

2. 120/80 88 20 - - -
Kepala : Normal
Mata : Normal, simetris kiri/kanan, tidak ada gangguan
Ny. E penglihatan
Hidung : Normal, simetris kiri/kanan
Telinga : Normal
Leher : Normal
Abdomen : Normal
Ekstremitas : Normal, lengkap
Genitalia : Normal
Integumen : Normal, tidak ada lesi

3. An. L 110/90 80 21 - - -
Kepala : Normal
Mata : Normal, simetris kiri/kanan, tidak ada gangguan
penglihatan
Hidung : Normal, simetris kiri/kanan
Telinga : Normal
Leher : Normal
Abdomen : Normal
Ekstremitas : Normal, lengkap
Genitalia : Normal
Integumen : Normal, tidak ada lesi

4. An. C - 91 20 - - -

15
Kepala : Normal
Mata : Normal, simetris kiri/kanan, tidak ada gangguan
penglihatan
Hidung : Normal, simetris kiri/kanan
Telinga : Normal
Leher : Normal
Abdomen : Normal
Ekstremitas : Normal, lengkap
Genitalia : Normal
Integumen : Normal, tidak ada lesi

5. An. K - 85 20 - - -
Kepala : Normal
Mata : Normal, simetris kiri/kanan, tidak ada gangguan
penglihatan
Hidung : Normal, simetris kiri/kanan
Telinga : Normal
Leher : Normal
Abdomen : Normal
Ekstremitas : Normal, lengkap
Genitalia : Normal
Integumen : Normal, tidak ada lesi

VIII. Harapan Keluarga


Keluarga Tn. A ingin melihat anaknya sarjana dan sukses. Tn. A berharap
agar keluarganya tidak mengalami penyakit dan lebih waspada serta
menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya.

16
A. Analisa Data
No.
Data (DO & DS) Masalah Penyebab

1. DS : Tn. A mengatakan bahwa ia Defisit Pengetahuan Kebiasaan merokok


seorang perokok dan sudah pada keluarga Tn. A
lama merokok bahkan sebelum mengenai perilaku
menikah dengan istri Tn. A hidup bersih dan sehat
sudah merokok.
Tn. A mengatakan bahwa ia
sempat berusaha untuk
berhenti merokok, tetapi
belum berhasil Karena faktor
lingkngan kerja yang banyak
perokoknya, tetapi Tn. A
sudah bisa mengurangi jumlah
rokok yang dikonsumsi.

Tn. A mengatakan ada


kolestrol, hasil pemeriksaan
terakhir (keluarga lupa
tanggal) kadar kolesterol Tn.
A 210 mg/dl. Tn. A seing
mengeluh sakit dibagian
belakang kepala, sakit di
bagian atas tumit, kesemutan.

DO :
TD : 130/990 mmHg
N : 85 x/mnt
R : 20 x/mnt

17
2. Defisit pengetahuan
DS : Ny. E mengatakan masih Ketidakmampuan keluarga
keluarga pada Ny. E
menggunakan KB suntik. tentang KB mengenal masalah kesehatan
Ny. E mengatakan ingin lepas
KB suntik tetapi tidak tahu
mana yang pas.
Ny. E mengatakan merasa
takut melepas KB suntik
karena mendengar mitos-mitos
tetangga.
DO :
TD : 120/80
N : 88
R : 20
Ny. E tampak bingung dan
bertanya-tanya mengenai KB

B. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit Pengetahuan pada keluarga Tn. A mengenai perilaku hidup bersih dan
sehat b.d kebiasaan merokok
2. Defisit pengetahuan keluarga pada Ny. E tentang KB b.d Ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah kesehatan

Skoring Prioritas Masalah (Menurut Bllon dan Maglaya, 1978)


DX. I : defisit pengetahuan pada keluarga Tn. A mengenai perilaku
hidup bersih dan sehat b.d kebiasaan merokok

No.
DX Kriteria Bobot Nilai Pembenaran
1. Sifat masalah : 1 2 /3 x 1 Keluarga kurang mengetahui
Ancaman kesehatan =2/3 mengenai bahaya rokok terhadap
kesehatan dan cara menjaga
kestabilan kadar kolesterol

18
2. Kemungkinan Masalah 2 1 / 2 x2 Keluarga Tn. A belum
Dapat diatasi : =1 mengetahui mengenai dampak
Hanya sebagian rokok dan penanganan kolestrol
serta apa saja jenis KB yang
aman.

3. Potensial Masalah untuk 1 2/3x1 Keluarga mau mengikuti


dicegah : =2 / 3 penyuluhan kesehatan yang
cukup diberikan

4. Menonjolnya masalah 1 0 / 2 x1 Keluarga belum mengalami


untuk dicegah : =0 masalah kesehatan yang
Masalah tidak dirasakan dampaknya sangat terasa

DX. II Defisit pengetahuan keluarga pada Ny. E tentang KB b.d


Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

No.
DX Kriteria Bobot Nilai Pembenaran
1. Sifat masalah : 1 2 /3 x 1 Keluarga kurang mengetahui
Ancaman kesehatan =2/3 mengenai alat kontrasepsi

2. Kemungkinan Masalah 2 1 / 2 x2 Keluarga kurang paham bahwa


Dapat diatasi : =1 ada jenis alat kontrasepsi yang
Hanya sebagian baik untuk Ny.E

3. Potensial Masalah untuk 1 2/3x1 Keluarga mau mengikuti


dicegah : =2 / 3 penyuluhan kesehatan yang
cukup diberikan

19
4. Menonjolnya masalah 1 0 / 2 x1 Keluarga belum mengalami
untuk dicegah : =0 masalah kesehatan yang
masalah tidak dirasakan diakibatkan oleh alat kontrasepsi

Pioritas Masalah
1. Defisit Pengetahuan pada keluarga Tn. A mengenai perilaku hidup bersih dan
sehat b.d kebiasaan merokok
2. Defisit pengetahuan keluarga pada Ny. E tentang KB b.d Ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah kesehatan

C. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga

No Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

Dx Umum Khusus Kriteria Standart

1. Setelah 2 x Selama 1 x 45 Respon 1.1 Menyebutkan 1.1 Diskusika


kunjungan menit verbal Pengertian n bersama
rumah di kunjungan Merokok. keluarga
Merokok mengenai
harapkan keluarga,
adalah pemahama
pengetahuan keluarga menghisap n bahaya
keluarga Tn. A mampu zat-zat yang rokok dan
tentang mengenal dapat kolesterol
perilaku hidup Perilaku hidup menimbulkan
sehat dapat sehat terutama gangguan
meningkat pengetahuan pada organ
tubuh.
terutama tentang bahaya 1.2 Diskusika
pengetahuan rokok dan cara n dengan
1.2 Menyebutkan keluarga
tentang bahaya menjaga kadar dampak dari tentang
rokok dan cara kolesterol merokok dampak
menjaga kadar salah satunya dari
1.1 Menyebutk penyempitan
kolesterol merokok
an pembuluh
pengertian leaflet.
20
rokok dan darah
kolesterol
1.3 Menyebutkan 1.3 Diskusika
1.2 Menyebutk kiat - kiat n dengan
an dampak berhenti keluarga
dari merokok tentang
merokok kiat- kiat
1.4 Menyebutkan berhenti
1.3 Menyebutk penyebab merokok
an kiat- kolesterol
kiat 1.4 Diskusika
berhenti 1.5 Menyebutkan n dengan
merokok gejala keluarga
kolesterol tentang
1.4 Menyebutk penyebab
an 1.6 Menyebutkan kolesterol
penyebab cara dengan
kolesterol mengendalik leaflet
an kadar
1.5 Menyebutk kolesterol 1.5 Diskusika
an gejala n dengan
kolesterol keluarga
tentang
1.6 Menyebutk gejala
an cara kolesterol
mengendali
kan kadar 1.6 Diskusika
kolesterol n dengan
keluarga
tentang
cara
mengenda
likan
kadar
kolesterol

2. Defisit Selama 1 x 45 Respon Keluarga mampu Diskusikan


Pengetahuan menit Verbal mengungkapkan bersama
keluarga pada kunjungan masalah yang di keluarga
Ny.S mengenai keluarga, hadapi dalam mengenai KB
KB keluarga pelayann KB
berhubungan mampu
dengan mengenal KB Keluarga mampu
ketidakmampu menyebutkan
21
an keluarga kembali : Diskusikan
mengenal 1. Pengertian dengan
masalah Keluarga keluarga
kesehatan berencana mengenai KB
(disingkat KB) menggunakan
adalah gerakan lembar balik
untuk KB
membentuk
keluarga yang
sehat dan
sejahtera
dengan
membatasi
kelahiran. Itu
bermakna
adalah
perencanaan
jumlah keluarga
dengan
pembatasan
yang bisa
dilakukan
dengan
penggunaan
alat-alat
kontrasepsi atau
penanggulanga
n kelahiran
seperti kondom,
IUD, MOW,
dan sebagainya.

D. Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga


Selasa, 16 April 2019 Pukul 11.00 WITA
Melakukan Pengkajian
Implementasi Evaluasi Paraf
Membina hubungan S : Dimas
saling percaya dengan - Keluarga mengatakan senang dengan
Ardianto
pasien dan keluarga : kedatangan mahasiswa
O:
1.Berkenalan - Mahasiswa berkenalan dengan pasien dan
dengan pasien keluarga

22
dan keluarga - Keluarga menjawab pertanyaan mahasiswa.
A:
2.Melakukan 3.Keluarga mampu membina hubungan
pengkajian saling percaya.
lanjutan 4.Keluarga menceritakan tentang anaknya

Mahasiswa
5.Optimalkan bina hubungan saling percaya
pada klien dan keluarga
Keluarga :
Anjurkan keluarga untuk mengungkapkan
masalahnya

Sabtu , 27 April 2019 Pukul 16.00 WITA


Melakukan Pengkajian Lanjutan
Diagnosa
No
Keperawatan Implementasi Evaluasi Paraf
dan Kebidanan
1. 1 dan 2 Membina hubungan S : Ester,
saling percaya - Keluarga Dimas,
dengan pasien dan mengatakan Nurlita
keluarga : senang dengan
kedatangan
6.Berkenalan mahasiswa
dengan pasien O :
dan keluarga - Mahasiswa
berkenalan
7.Melakukan
dengan pasien
pengkajian
dan keluarga
lanjutan
- Keluarga
menjawab
pertanyaan
mahasiswa.
A:
8.Keluarga mampu
membina
hubungan saling
percaya.
9.Keluarga
menceritakan
tentang
penyakitnya
23
Mahasiswa
10. Optimalkan
bina hubungan
saling percaya
pada klien dan
keluarga
Keluarga :
Anjurkan keluarga
untuk
mengungkapkan
masalahnya

Minggu, 28 April 2019 Pukul 18.00 WITA


Diagnosa
No
Keperawatan dan Implementasi Evaluasi Paraf
Kebidanan
1. 1. Defisit Membina hubungan S:
saling percaya Keluarga
Pengetahuan Dimas
dengan pasien dan mengatakan
pada keluarga keluarga : mengerti mengenai Ardianto,
bahaya merokok
Tn. A mengenai 1. Melakukan Ester Yulan
dan kolesterol
perilaku hidup penyuluhan
tentang bahaya O:
bersih dan sehat merokok Keluarga menjawab
b.d kebiasaan 2. Melakukan pertanyaan,
penyuluhan keluarga
merokok tentang cara menyampaikan
mengendalikan feedback dengan
kadar kolesterol kembali bertanya
seputar penyakitnya
kepada mahasiswa.

A:
Masalah teratasi

P:
Hentikan Intervensi

24
2. 1. Defisit Membina hubungan S:
pengetahuan saling percaya Keluarga
Nurlita
dengan pasien dan mengatakan
keluarga pada
keluarga : mengerti mengenai Kartika
Ny. E tentang KB
KB b.d 1.Melakukan
Ketidakmampua penyuluhan KB O:
n keluarga Keluarga menjawab
mengenal pertanyaan
masalah mahasiswa.
kesehatan
A:
Masalah teratasi

P:
Hentikan intervensi

25
DOKUMENTASI

PRE CONFERENCE SEBELUM KUNJUNGAN IMPLEMENTASI

iii
iv