Anda di halaman 1dari 38

CRITICAL BOOK REPORT

Dosen Pengampu : Drs. La Hanu, M.Si

Disusun oleh :

Septi Anggi Piona 7171142024

Sukma Yuningsih 7173142033

Yan Danie Siahaan 7173142043

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI / B

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan critical book report ini.
Dari tugas ini, penulis banyak mendapat pembelajaran ataupun pengetahuan serta ilmu
yang sangat berguna.

Dalam membuat critical book report ini penulis bersungguh-sungguh dan tidak
kenal lelah, penulis juga telah melakukan banyak pengorbanan di dalam menyelesaikan
critical book report ini. Baik itu dari segi waktu, materi, dan lain sebagainya. “Tidak ada
manusia yang sempurna, begitu juga dengan karyanya”. Begitu juga halnya dengan
penulis, tentunya karya yang di buat penulis ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penyusunan critical
book report ini lebih baik dalam penulisan dikemudian hari.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga critical book report ini dapat
bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 09 Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................i

DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................1

1.1 Latar Belakang Penulisan CBR ...................................................................................1

1.2 Tujuan Penulisan CBR ................................................................................................ 1

1.3 Manfaat Penulisan CBR .............................................................................................. 1

BAB II ISI BUKU .............................................................................................................2

2.1 Identitas Buku ..............................................................................................................2

2.2 Ringkasan Isi Buku ......................................................................................................2

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................................... 11

3.1 Kelebihan dan Kelemahan Buku ...............................................................................33

BAB IV PENUTUP .........................................................................................................35

4.1 Kesimpulan ................................................................................................................35

4.2 Saran .......................................................................................................................... 35

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penulisan CBR

Sering kali kita kebingungan memilih buku referensi untuk kita baca dan
pahami. Terkadang kita memilih satu buku, namun kurang memuaskan hati kita.
Jadi, adapun latar belakang penulis dalam mengkritik buku Akuntansi keuangan 3
ini ialah untuk pemenuhan tugas dari mata kuliah Akuntansi Keuangan 3, serta
sebagai acuan penambah wawasan tentang bagaimana Mengulas sebuah buku.
Dan tujuan lainnya dalam mengkritik buku ini ialah untuk mengetahui dimana
kelebihan dan kelemahan dari buku ini demi perbaikan dimasa yang akan datang.
Karena tidak ada yang lebih berarti daripada kritik dan saran yang membangun.

1.2. Tujuan Penulisan CBR


Tujuan pengkritikan buku ini adalah untuk membenahi kekurangan yang
masih terdapat dalam buku ini agar buku ini dapat benar-benar relevan untuk
diajarkan dilingkungan sekolah. Buku ini perlu dibenahi karena buku ini sangat
penting bagi khalayak umum dan isi buku ini merupakan salah satu sumber ilmu
pengetahuan bagi mahasiswa dalam studinya sehingga sangat perlu dilakukan
pembenahan pada isi buku ini agar dapat menjadi pelajaran yang tepat bagi
mahasiswa.

1.3. Manfaat CBR


Dengan dilakukannya critical book ini maka akan dihasilkan buku yang lengkap
dan tepat untuk mahasiswa. Kritikan buku ini bermanfaat untuk membangun jiwa
yang kritis bagi penulis dan pembaca. Serta untuk menjadikan buku ini akan
semakin mudah untuk dipelajari oleh mahasiswa.

1
BAB II

ISI BUKU

2. 1 Identitas Buku Utama


1. Judul buku : Akuntansi Keuangan Lanjutan

2. Penerbit : ERLANGGA

3. Penulis : Golrida Karyawati

4. Tahun terbit : 2011

5. Tebal halaman : 248 halaman

6. ISBN : 978-979-099-763-9

2. 2 Ringkasan Isi Buku


Bab 1
Kombinasi Bisnis
 Kombinasi bisnis merupakan terminologi akuntansi yang substansinya di
Indonesia dibahas dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 22
yang telah direvisi pada tahun 2010. Transaksi kombinasi menurut PSAK 22
revisi tahun 2010 terjadi ketika suatu entitas memperoleh pengendalian atas
entitas lain yang berupa bisnis. Disini yang dimaksud dengan pengendalian
adalah kekuasaan untuk mengatur kebijaksanaan keuangan dan operasi suatu
entitas demi memperoleh manfaat dari aktivitas entitas tersebut. Kombinasi
bisnis melibatkan 2 pihak, yakni entitas pengakuisisi dan entitas yang diakuisisi.
Pihak pengakuisisi merupakan entitas yang memperoleh pengendalian atas

2
entitas yang diakuisisi dalam transaksi bisnis. Sebaliknya, entitas yang
diakuisisi, atau disebut juga entitas target, merupakan entitas yang dalam
transaksi kombinasi bisnis dikendalikan oleh entitas lain (entitas pengakuisisi).
PSAK 33 direvisi taun 2010 cenderung menggunakan istilah entitas dibanding
perusahaan.
 PSAK 22 tahun 1994 menggunakan istilah “perusahaan” dalam pengabungan
usaha, yang menyatakan bahwa penggabungan usaha terjadi antara satu
perusahaan dengan perusahaan lain. Walaupun tampaknya sama, terdapat
perbedaan istilah “perusahaan” dengan istilah “bisnis”. Bisnis merupakan
substansi usaha tanpa memandang bentuk usaha, sementara “perusahaan”
mengacu pada bentuk atau badan usaha. PSAK 22 revisi 2010 mendefinisikan
“bisnis” sebagai suatu rangkaian terpadu dan kegiatan dan aset yang mampu
diadakan serta dikelola dengan tujuan memberikan hasil dalam bentuk dividen,
biaya yang lebih rendah, atau manfaat ekonomi lainnya secara langsung kepada
investor atau pemilik, anggota, atau peserta lainnya. PSAK 22 revisi 2010
bermaksud mencegah transaksi semacam itu. PSAK 22 revisi 2010 bermaksud
menegakkan kombinasi bisnis, yaitu mendapatkan sinergi positif dari kedua
aktivitas ekonomi (bisnis), bukan untuk menggabungkan dua badan hukum.
 Dalam kombinasi bisnis, Pengendalian dapat diperoleh dengan kepemilikan hak
suara atas entitas lain. Hak suara biasanya melekat dalam kepemilikan ekuitas
suatu entitas walaupun tidak selalyu demikian. Jika hak suara yang dimiliki
sedemikian besar, diperoleh hak pengendalian, dan pada saat itu telah terjadi
kombinasi bisnis. Kepemilikan equitas suatu entitas dalam jumlah tertentu dapat
menimbulkan pengendalian atas entitas tersebut, dan hal itu menunjukkan bahwa
telah terjadi kombinasi bisnis.
 PSAK 22 revisi 2010 menjelaskan bahwa kombinasi bisnis terjadi pada saat satu
entitas mengendalikan entitas lain yang berupa bisnis. Tanggal transaksi bisnis
merupakan tanggal diperolehnya kendali atas suatu bisnis. Tanggal kombinasi
bisnis mungkin merupakan tanggal akuisisi atau tanggal ketika pihak
pengakuisisi secara hukum mengalihkan imbalan, memperoleh aset, dan
mengambil alih liabilitas/kewajiban pihak yang diakuisisi, atau disebut juga

3
tanggal penutupan. Akan tetapi, pihak pengakuisisi mungkin saja memperoleh
pengendalian pada tanggal sebelum atau setelah tanggap penutupan.
 Kombinasi bisnis melibatkan pihak pengakuisisi dan entitas target. Pihak
pengakuisisi merupakan pihak yang memeproleh kendali atas aktiva neto dna
operasi pihak yang diakuisisi. Pihak pengakuisisi setelah kombinasi bisnis
disebut induk, yang berkewajiban menyusun laporan konsolidasi yang akan
dibahas pada bab-bab berikutnya. Pada umumnya, pihak pengakuisisi
diidentifikasi sebagai pihak yangmengalihkan kas atau aset lainnya, atau meiliki
liabilitas sebagai pihak yang mengalihkan kas atau aset lainnya, atau memiliki
liabilitas atas kombinasi bisnis. Kas atau aset lainnya akan diberikan atau
dialihkan (liablilitas) kepada pemilik atau pengendali entitas target sebelumnya.

Bab 2
Akuntansi Kombinasi Bisnis
 Metode Kombinasi Bisnis
Suatu akuisisi dapat dibiayai dengan kas atau saham. Akuisisi yang dibiayai
dengan kas dilakukan melaui pembayaran kas atau setara kas atau penerbit surat
utang kepada pemilik entitas target. Dengan pembayaran tersebut, pemilik lama
entitas yang diakuisisi akan meninggalkan entitas tersebut dan dan digantikan
oleh entitas pengakuisisi sebagai pemilik baru. Akuisisi yang dibiayai dengan
saham menyebabkan pemilik lama entitas target meninggalkan entitas tersebut,
tetapi menjadi pemegang saham entitas pengakuisisi, atau dengan kata lain,
menjadi pemilik baru entitas pengakuisisi, (investor). Walaupun secara hokum
entitas pengakuisisi dan entitas target merupakan entitas yang berbeda, tetapi
secara ekonomi keduanya adalah satu. Dengan demikian, pada dasarnya pemilik
lama entitas target tetap memiliki hak suara dalam entitas target meskipun ia kini
terhitung sebagi pemegang saham entitas pengakuisisi.
Contoh : PT. pinokio mengakuisisi seluruh saham biasa PT. Abunawas. Saham
PT. Abunawas yang beredar berjumlah 1 juta lembar dengan nilai nominal Rp
1.000 per lembar, agio Rp 200 per lembar saham, dan nilai buku saham Rp
1.500 perlembar saham. Harga akuisisi perlembar saham adalah Rp 1.500 Dan
untuk ini PT. pinokio menerbitkan 1 juta lembar saham dengan nilai nominal Rp

4
1.000 per lembar sementara harga pasar perlembar adalah Rp 1.500. PT. pinokio
mencatat ayat jurnal berikut:

Investasi saham PT. Abunawas Rp 1.500.000.000

Model Saham Rp 1.000.000.000

Tambahan Modal Disetor 500.000.000

 Harga Akuisisi
Nilai investasi pada tanggal akuisisi dicatat sebesar harga perolehan. Biaya
terkait akuisisi adalah biaya yang dikeluarkan pihak pengakuisisi dalam rangka
kombinasi bisnis, yang meliputi biaya makelar, hukum, akuntansi, penilaian, dan
biaya profesional atau konsultasi lainnya; serta biaya administrasi umum,
termasuk biaya pemeliharaan departemen akuisisi internal yang dicatat sebagai
beban pada periode akuisisi.

Contoh : Pada tanggal 1 januari 2012, PT. intiseka mengakuisisi saham biasa PT.
andaika sebanyak 4 juta lembar dengan harga per saham Rp 1.400. pengeluaran-
pengeluaran lain sehubungan dengan akuisisi tersebut antara lain.

 Biaya akuntan, perusahaan penilai, dan pihak independen lain yang


terlibat akuisisi Rp 200 juta
 pengeluaran sehubungan dengan surat menyurat Rp 15.000.000

Harga akuisisi dibayar dengan menerbitkan saham PT. intiseka sebanyak 2 juta
lembar dengan nilai nominal Rp 2000 dan harga pasar Rp 2.800 per lembar.
Saham ini diberikan kepada pemilik lama 4 juta lembar saham PT. andaika.biaya
konsultan dan pengeluaran lainnya dibayar per kas tunai. Dengan demikian
harga perolehannya adalah 4 juta lembar x Rp 1.400 per saham = Rp 5,6 miliar,
yang merupakan nilai investasi pada tanggal 1 januari 2012 transaksi ini dicatat
sebagai berikut:

Investasi dalam saham biasa Rp 5.600.000.000

Beban Rp 215.000.000

5
Saham biasa (2 juta x 2.000) Rp 4.0000.0000

Tambahan modal disetor Rp 1.00.000.000

Kas Rp 215.000.000

Akuisisi saham akan diakui dengan registrasi saham. Biaya registrasi saham
pada dasarnya merupakan biaya langsung akuisisi, tetapi tidak satu paket dengan
harga akuisisi. Biaya langsung yang tidak satu paket dengan transaksi akuisisi
diperlakukan sebagai pengurang tambahan modal disetor. Dalam transaksi
akuisisi diatas, misalkan perusahaan mencatat saham dengan biaya Rp 100 juta
per kas, PT. intiseka akan mencatat ayat jurnal sebagai berikut:

Tambahan modal disetor Rp 100 juta

Kas Rp 100 juta

Jadi tambahan modal disetor PT. intiseka berkurang sebesar Rp 100 juta akibat
pencatatan saham PT. andaika yang diakuisisi tersebut.

 Alokasi Harga Akuisisi

Nilai wajar sebesar Rp6,8 miliar merupakan nilai wajar 100% kekayaan PT Andika,
yaitu yang baik yang akan diakusisi 80% maupun kepentingan nonpengendali.
Harga akusisi sebesar Rp5,6 miliar mencerminkan harga wajar atas 80% bank suara
PT Andika. Karena kepentingan nonpengendali juga harus nilai pada harga wajar
sesuai PSAK 22 revisi 2010 maka harga diakusisi sebesar Rp5,6 miliar dapat
dijadikan rujukan harga wajar untuk 20% kepentingan nonpengendali. Jika harga
wajar untuk 80% hak suara adalah Rp5,6 miliar, maka harga pasar untuk 100%
adalah Rp7 miliar (Rp5,6 miliar/80%). Dengan demikian harga nonpengendali
adalah Rp1,4 miliar (20% x Rp7 miliar). Perhitungan harga wajar kepentingan
nonpengendali ini bukan satu-satunya teknik yang diizinkan. Jika terdapat bukti
lain yang lebih valid, dapat diterapkan teknik perhitungan lain untuk kepentingan
nonpengendali. Jadi, harga wajar kepentingan nonpengendali bisa saja lebih besar
atau lebih kecil dari Rp1,4 miliar.

6
 Goodwill dan Diskon Pembelian
Goodwill merupakan selisih lebih harga akusisi dengan nilai wajar ekuitas yang
diakuisasi PSAK 22 menyatakan goodwill dialokasikan ke pihak pengendali
(perusahaan induk) dan kepentingan nonpengendali. Dengan demikian, nilai
goodwill adalah selisih lebih dari penjumlahan harga ekuitas yang diakusisi dan
harga wajar pepentingan nonpengendali, dengan total nilai wajar kekayaan entitas
yang diakuisisi:

Harga ekuitas yang diakuisisi xxx

Harga wajar kepentingan nonpengendali xxx

Total harga wajar xxx

Total nilai wajar entitas yang diakuisisi (xxx)

Goodwill xxx

Diskon Pembelian. Kadang kala, pihak pengkuisisi melakukan pembelian dengan


diskon, yaitu suatu kombinasi bisnis di mana hasil penjumlahan harga ekuitas
yang diakuisisi dan harga wajar kepintingan nonpengendalian lebih kecil dan nilai
wajar total ekuitas yang diakusisi. Hal ini mengidentifikasi adanya diskon
pembelian yang menjadi keuntungan bagi pihak pengakuisisi.

Sebelum mengakui kentungan dari pembelian dengan diskon, pihak pengakuisisi


menilai kembali apakah telah mengidentifikasi dengan tepat seluruh aset yang
diperoleh dan liabilitas yang diambil-alih, serta mengakui setiap aset atau
liabulitas tembahan yang dapat diidentifikasi dalam pengkajian kembali tersebut.
PSAK 22 mensyaratkan pihak pengakuisisi juga mengkaji kembali prosedur yang
digunakan untuk mengkur jumlah yang diakui pada tanggal akuisisi bagi hal-hal
berikut:

(a) Aset teridentifakasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil-alih:


(b) Kepentingan nonpengendalian pada pihak yang diakuisisi, jika ada;

7
(c) Untuk kombinasi bisnis yang dilakukan secara berpahap, kepentingan
ekuitas pihak pengkuisasi yang dimiliki sebelunya pada pihak yang
diakuisisi; dan
(d) Imbilan yang dialihkan

Jika selisih lebih nilai wajar entitas yang diakuisisi tetap ada, pihak
pengkuisisi mengakui keutungan yang dihasilkan dalam laporan laba rugi pada
tanggal akusisi. Keutungan tersebut diatribusikan kepada pihak pengakuisisi.

Bab 3
Laporan Keuangan Konsolidasi
 Pengertian Laporan Keuangan Konsolidasi
Kombinasi bisnis yang terjadi karena pengendalian tidak menyatukan operasi
entitas-entitas yang bergabung. Masing – masing entitas tetap beroperasi secara
terpisah dan independen serta membuat laporan keuangan individu. Akan tetapi,
entitas-entitas tersebut berada dalam satu pengendalian yang dilakukan oleh
salah satu pihak yang bergabung. Entitas pengendalian disebut entitas induk
sedangkan entitas yang dikendalikan disebut entitas anak. Pengendalian ini
menimbulkan apa yang disebut hubungan entitas induk-anak. Karena entitas-
entitas yang bergabung dalam pengendalian tetap beroperasi secara independen,
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mensyaratkan disusunnya satu laporan
keuangan gabungan, yang dalam istilah akuntansi disebut Laporan Keuangan
Konsolidasi. Laporan keuangan konsolidasi konsolidasi ini wajib disusun oleh
entitas induk atau pengendalian tertinggi dalam satu kelompok usaha (grup).
Pada dasarnya, laporan konsolidasi adalah laporan asumsi yang memandang
makna ekonomi suatu entitas.

 Prinsip Substance Over Form dan Laporan Konsolidasi


PSAK 4 revisi 2009 menyatakan bahwa pengendalian atas entitas lain
merupakan acuan dalam menentukan apakah suatu entitas diwajibkan menyusun
laporan konsolidas. Pengendalian biasanya ada ketika entitas induk memiliki
secara langsung atau tidak langsung melalui entitas anak lebih dari setengah

8
suara entitas lain. Akan tetapi, PSAK 4 juga menjelaskan bahwa tidak semua
kepemilikan lebih dari 50% suaru entitas lain, baik secara langsung maupun
tidak langsung, menunjukkan adanya pengendalian. Dalam kondisi yang terjadi
jarang terjadi ini, bisa saja kepemilikan di atas 50%, baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui entitas anak, tidak menimbulkan pengendalian.

 Hak Suara dan Pengendalian


PSAK 4 lebih mengacu pada hak suara dalam menentukan pengendalian. Dalam
perusahaan berbentuk perseroan terbatas, hak suara timbul dari kepemilikan
saham biasa. PSAK 4 tahun 1998 memberi kesan bahwa suara timbul dari
kepemlikan saham entitas anak. Dengan pengertian lain, pengendalian timbul
atas kepemilikan entitas anak yang berbentuk perseroan terbatas (PT). Hak suara
tidak sama dengan kepemilikan saham biasa, walaupun kepemilikan saham biasa
suatu entitas memberikan hak suara atas entitas tersebut. Hak suara dapat
diidentifikasi dari kekuasaan mengatur kebijakan keuangan dan opersional
entitas lain. Hak suara yang sedemikian kuat akan menimbulkan hak
pengendalian dalam mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas lain.

Bab 4
Kertas Kerja Konsolidasi

Kertas kerja konsolidasi adalah kertas kerja laporan keuangan gabungan entitas
induk dan anak (jika entitas anak lebih dari satu) berdasarkan prosedur penyusunan
yang disyaratkan. Bab ini akan membahas kertas kerja penyusunan laporan laba-
rugi, laba ditahan, neraca, dan arus kas konsolidasi. Laporan laba-rugi,laba ditahan ,
dan neraca konsolidasi disusun dalam satu kertas kerja, sedangkan kertas kerja
laporan arus kas konsolidasi disusun berdasarkan laporan laba-rugi, laba ditahan,
dan neraca konsolidasi.

Telah dijelaskan dalam bab 3 bahwa akun-akun laporan konsolidasi dihasilkan


dengan menjumlahkan akun-akun dalam laporan keuangan entitas induk dan anak,
kemudian dikurangkan dengan jumlah akun antara perusahaan. Prinsip tersebut
diterapkan dalam mengembangkan format kertas kerja konsolidasi.

9
 Kertas Kerja Pada Tanggal Akuisis

Kewajiban penyusunan laporan keuangan konsolidasi muncul sejak terjadinya


hubungan induk-anak. PT Intiseka disebut entitas induk sejak tanggal 1 Januari
2012, sementara PT Andaika sebagai entitas anak.

Pada tanggal akuisis, hanya neraca konsolidasi yang dapat disajikan. Laba rugi
entitas induk dan anak hanya dapat konsolidasi berdasarkan pegumuman laba-rugi
entitas anak pada periode setelah hubungan induk-anak, karena hak entitas induk
atas laba dan dividen entitas anak didasrkan pada masa kepemilikan entitas induk.

Misalkan neraca PT Intiseka dan PT Andaika pada tanggal akuisisi (1 januari


2012) seperti disajikan dalam Peraga 4-2 (dalam ribuan).

Kertas kerja neraca konsolidasi PT Intiseka dan PT Andaika pada tanggal 1


Januari 2012 disajikan dalam Peraga 4-3.

Penyusunan kertas kerja konsolidasi akan lebih akurat jika dilakukan eliminasi
atas setiap akun antarperusahaan terlebih dahulu. Akun antarperusahaan dalam
kasus tersebut berasal dari suatu transaksi antarperusahaan, yakni investasi PT
Intiseka dan kekayaan pemegang saham PT Andaika sebesar 80%. Akun Investasi
dalam pembukuan PT Intiseka dieliminasi dengan menempatkannya pada bagian
kredit kolom eliminasi, sedangkan akun kekayaan pemegang saham PT Andaika
dieliminasi dengan menempatkannya pada kolom eliminasi bagian debet. Nilai
wajar entitas anak pada tanggal akuisisi harus diperhitungkan dalam laporan
konsolidasi. Karena itu, selisih investasi yang undervalue dan aset tidak berwujud
(goodwill dan lainnya) harus ditambahkan pada aset konsolidasi, sedangkan selisih
investasi akibat overvalue harus mengurangi aset atau menambah utang konsolidasi
agar laporan konsolidasi menggambarkan nilai wajar. Selisih investasi pada tanggal
akuisisi yang disebabkan oleh penilaian undervalue atas tanah dan bangunan serta
aset tidak berwujud.

PERAGA 4-3

PT Intiseka PT Andaika

10
Kas Rp 1.200.000 Rp 750.000
Piutang usaha 1.000.000 1.250.000
Persediaan 2.000.000 1.500.000
Bangunan 4.200.000 3.500.000
Tanah 6.000.000 2.000.000
Investasi dalam saham PT 5.600.000
Andaika Rp20.000.000 Rp 9.000.000
Total Aktiva Rp 2.000.000 Rp 500.000
Utang usaha 4.000.000 2.000.000
Utang bank 10.000.000 5.000.000
Modal saham 2.000.000 500.000
Agio saham 2.000.000 1.000.000
Laba ditahan Rp Rp9.000.000
Total Pasiva/kewajiban 20.000.000
Goodwill didebetkan untuk menambah nilai aset pada laporan konsolidasi,
sedangkan selisih yang overvalue dikreditkan untuk mengurangi nilai aset atau
menambah utang konsolidasi.Jurnal eliminasi pada kertas kerja konsolidasi adalah
sebagai berikut :

Modal saham Rp 5.000.000.000

Agio saham 500.000.000

Laba ditahan 1.000.000.000

Bangunan 500.000.000

Tanah 800.000.000

Goodwill 200.000.000

Piutang usaha Rp 500.000.000

Persediaan 350.000.000

Utang pajak 150.000.000

Investasi 5.600.000.000

Kepentinga nonpengendali 1.400.000.000

Kepentingan nonpengendali pada tanggal akuisisi sesuai dengan PSAK 22 revisi


2010 didasarkan pada nilai wajar menurut hasil penilaian independen. Sementara
itu, goodwill juga dialokasikan pada kepentingan nonpengendali. Jumlah
kepentingan nonpengendali dalam kasus kombinasi bisnis PT Intiseka dan PT

11
Andaika adalah Rp 1,4 miliar, yaitu 20 % dari total nilai wajar PT Andaika atau Ro
1,36 miliar ( 20 % x Rp 6,8 miliar ) dan 20 % dari goodwill yang dialokasikan pada
kepentingan nonpengendali atau Rp 40 juta ( 20 % x Rp 200 juta).

PERAGA 4-3

Kertas Kerja Neraca Konsolidasi PT Intiseka dan Entitas Anak per 1/1/2012

Aktiva PT PT Eliminasi Neraca


Intiseka Andaika Debet Kredit Konsolidasi
Kas 1.200.000 750.000 1.950.000
Piutang usaha 1.000.000 1.250.000 500.000 1.750.000
Persediaan 2.000.000 1.500.000 350.000 3.150.000
Bangunan 4.200.000 3.500.000 500.000 8.200.000
Tanah 6.000.000 2.000.000 800.000 8.800.000
Investasi dalam 5.600.000 5.600.000 -
saham PT andai
Goodwill 200.000 200.000
Total aktiva 20.000.000 9.000.000 24.050.000
Utang pajak 150.000 150.000
Utang usaha 2.000.000 500.000 2.500.000
Utang bank 4.000.000 2.000.000 6.000.000
Modal saham 10.000.000 5.000.000 5.000.000 10.000.000
(nominal 1.000)
Agio saham 2.000.000 500.000 500.000 2.000.000
Laba ditahan 2.000.000 1.000.000 1.000.000 2.000.000
Kepentingan 1.400.000 1.400.000
nonpengendalian
Total 20.000.000 1.000.000 9.000.000 8.000.000 24.050.000
pasiva/kewajiban

Bab 5
Transaksi Antar perusahaan-Aset

Bab ini akan membahas teransaksi jual-beli aset antarperusahaan dan


dampaknya terhadap pendapatan investasi serta penyusunan kertas kerja laporan
keuangan konsolidasi. Pada pembahasan selanjutnya, penjualan yang dilakukan
entitas induk kepada entitas anak disebut downstream dan apabila entitas anak

12
sebagai pihak penjual disebut dengan istilah”upstream”. Aset entitas induk yang
berasal dari entitas anak, dan aset entitas anak yang berasal dari entitas induk atau
dari entitas anak lainnya dalam suatu konsolidasi disebut antarperusahaan.

 LABA ANTARPERUSAHAAN
Dalam bab terdahulu telah dijelaskan bahwa laporan konsolidasi memandang
seluruh entitas dalam hubungan induk-anak sebagai satu,sehingga setiap transaksi
antarperusahaan harus dieliminasi. Jual-beli antarperusahaan merupakan salah satu
transaksi yang harus dieliminasi dalam kertas kerja konsolidasi. Dalam sudut
pandang konsolidasi, jual-beli antarperusahaan dipandang sebagai transfer atau
pindah tangan saja. Dalam kenyataannya, secara hukum entitas induk dan anak
adalah dua entitas yang berbeda. PSAK 7 tahun 2010 mengenai pengungkapan
pihak-pihak berelasi, mensyaratkan transaksi pohak-pihak berelasi yang meliputi
entitas induk dan anak dilakukan menurut ketentuan yang setara dengan yang
berlaku dengan transaksi yang wajar. Dengan kata lain, prisip”arms length
transaction” juga harus diterapkan dalam transaksi antara entitas induk dan anak.
Dengan prisip ini apabila entitas induk menjual barang dagang kepada entitas anak
atau sebaliknya, harga jual antar entitas induk dan anak harus sama dengan harga
kepada pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa atau oihak eksternal.
Keuntungan penjualan induk-anak harus sama dengan keuntungan penjualan
kepada pihak eksternal. Akan tetepi, untuk kepentingan penyusunan laporan
konsolidasi yang menganggap entitas induk dan anak satu, laba tersebut dianggap
laba atas diri sendiri sehingga harus dieliminasi.
Transfer aset mengharuskan pihak yang menerima mencatat aset itu sebesar nilai
buku yang dicatat pihak yang member. Hal ini berbeda dengan transaksi jual-beli di
mana pihak pembeli akan membukakan aset yang diperoleh sebesar harga
perolehannya, yang bagi penjualan harga tersebut merupakan harga pokok
ditambah keuntungan penjualan. Laporan konsolidasi, yang memandang transaksi
jual-beli sebagai transfer atau pindah tangan aset, mengharuskan laba pihak penjual
yang melekat dalam aset yang terdapat dalam neraca pembelian harus dieliminasi
agar transaksi jual-beli antarperusahaan tersaji sebagai transfer aset. Laba yang
berasal dari jual-beli antarperusahaan yang melekat dalam aset pembeli selanjutnya

13
disebut laba antarperusahaan ini tidak diakui karena sudut pandang konsolidasi
yang dianggap induk-anak sebagai satu memandang laba antraperusahaan sebagai
laba dari diri sendiri.

Laba antarperusahaan ada sepanjang entitas induk atau anak memiliki aset yang
barasal dari transaksi jual-beli antarperusahaan . Misalkan pada tanggal 1/7/2011
entitas induk menjual aset kepada entitas anak dengan harga Rp10 juta di mana
harga pokoknya bagi penjual adalah Rp6 juta. Entitas anak akan mencatat nilai aset
yang diperoleh sebesar harga perolehannya, yakni Rp10 juta.

1. Apabila dalam tahun bejalan (sebelum tanggal laporan konsolidasi) entitas anak
menjual aset tersebut seluruhnya kepada pihak eksternal, tidak ada laba
antarperusahaan karena aset sudah dimiliki pihak eksternal laba pihak penjual
sebesar Rp4 juta telah terealisasi dari pihak eksternal.

2. Apabila pihak pembeli masih memiliki aset antarperusahaan tersebut pada


tanggal laporan konsolidasi (tanggal 31 Desember), maka laba pihak penjual
sebesar Rp4 juta merupakan laba antra perusahaaan, karena pembeli dan penjual
dalam hubungan induk-anak dianggap satu dari sudut pandang konsolidasi. Aset
entitas anak yang berasal dari entitas induk atau sebaliknya dianggap sebagai
pindah tempat saja, bukan dari pembelian. Laba pihak penjual tidak diakui dari
sudut pandang konsolidasi. Apabila pada tahun berikutnya (tahun 2012) pihak
pembeli menjual aset antarperusahaan tersebut kepada pihak eksternal, maka laba
pihak penjual sebesar Rp4 juta tersebut tidak lagi dianggap laba antarperusahaan
karena telah terealisasi dengan pihak eksternal.

 LABA ANTARPERUSAHAAN DAN PENDAPATAN INVESTASI

Laba antarperusahaan tidak diakui untuk kepentingan penyusunan laporan


konsolidasi, sehingga harus dieliminasi. Pendapatan investasi menurut metode
ekuitas berasal dari laba entitas anak. Kesalahan dalam perhitungan laba entitas
anak akan menyebabkan entitas induk melakukan kesalahan dalam pencatatan
pendapatan investasi yang melakukan koreksi. Adanya laba antarperusahaan
menyebabkan entitas induk harus melakukan koreksi atas pendapatan investasinya.

14
Laba antarperusahaan menyebabkan laba tercatat berlebih sehingga pendapatan
investasi juga dicatat terlalu besar dan harus dikoreksi sebagai berikut:

Pendapatan Investasi xxx


Investasi dalam saham xxx

Koreksi pendapatan investasi secara otomatis akan mengurangi nilai investasi


dalam saham karena menurut metode ekuitas, perubahan nilai investasi dipengaruhi
oleh pendapatan investasi selain fakta-fakta lainnya seperti deviden.

Apabila pada tahun berikutnya laba antarperusahaan terealisasi karena pihak


pembeli dalam hubungan induk-anak telah menjual aset tersebut kepada pihak
eksternal, maka laba yang telah ditunda pada tahun lalu direalisasi. Entitas
indukharus mengembalikan nilai investasi yang telah dikurangi pada tahun lalu
dengan jurnal penyesuaian (adjustment) berikut:

Investasi dalam saham biasa xxx


Pendapatan Investasi xxx

Jurnal penyesuaian (adjustment) ini adalah kebalikan dari jurnal yang dicatat pada
tahun lalu. Jurnal ini dibuat untuk merealisasi laba antarperusahaan yang telah
ditunda sebelumnya. Dampak laba antarperusahaan terhadap investasi dan nilai
investasi secara detail dijelaskan sebagai berikut:

a. Pendapatan investasi dan nilai investasi dalam saham berkurang

- Bila terdapatpersedian akhir yang berasal dari transaksi antarperusahaan.

- Keuntungan penjualan aset tetap antarperusahaan tahunberjalan baik yang


memiliki umur ekonomis maupun tidak memiliki umur ekonomis.

b. Pendapatan investasi dan nilai investasi bertambah

- Bila terdapat persediaan awal antarperusahaan (penjualan tahun berjalan berasal


dari persediaan awal).

15
- Pada saat penjualan aset antarperusahaan yang tidak memiliki umur ekonomis
kepada pihak eksternal.

- Jika laba antarperusahaan diamortisasi untuk aset tetap antarperusahaan yang


memiliki umur ekonomis.

Perhitungan pendapatan investasi yang telah dijelaskan dalam Bab 2 akan lebih
kompleks bila terdapat laba antarperusahaan, yang disajikan sebagai berikut:

Laba yang diumumkan entitas anak


xxx
Amortisasi selisih investasi dengan nilai buku xxx
- Undervalue xxx
- Overvalue xxx
- Intangible asset xxx
Laba-rugi antarperusahaan xxx
Amortisasi laba-rugi antarperusahaan xxx
Pendapatan investasi xxx

 LABA ANTARPERUSAHAAN - PENJUALAN DOWNSTREAM DAN


UPSTREAM

Koreksi atas pendapatan investasi harus dilakukan karena laba antarperusahaan


jumlahnya sama dengan dampak laba antarperusahaan

terhadap pendapatan investasi. Dampak laba antarperussahaan atas pendapatan


investasi berbeda antar penjualan downstream dan penjualan upstream.

Laba antarperusahaan atas penjualan downstream menyebabkan entitas induk


memiliki laba atas antarperusahaan milik anak. Misalkan PT Indira memiliki 90%
saham biasa PT Andika. Pada tahun 2012, PT Andika mengumumkan laba sebesar
Rp200 juta, dan terjadi penjualanantarperusahaan-downstream yang menghasilkan
laba antarperusahaan atas aset sebesar Rp40 juta. Hingga tanggal laporn
konsolidasi, aset tersebut masih memiliki pihak pembeli (PT ANdika).

16
Laba entitas induk sebesar Rp40 juta dalam penjualan downstream ini memelukan
koreksi karena aset antarperusahaan masih berada di perusahaan anak pada tanggal
laporan konsolidasi. Laba antarperusahaan ini seluruhnya dikoreksi dengan
mengurangkannya dari pendapatan investasi karena laba tersebut berasal dari
entitas induk. Jadi, koreksi pendapatan investasi dalam penjualan downstream
merupakan laba antarperusahaan. Jurnal penyesuaian (adjustment) entitas induk
atas laba antarperusahaan ini adalah sebagai berikut:

Pendapatan Investasi Rp 40.000.000


Investasi dalam saham PT Andika Rp 40.000.000

Laba antarperusahaan upstream berarti laba tersebut adalah entitas anak atas aset
entitas induk. Laba antarperusahaan dari penjualan upstream akan mempengaruhi
pendapatan investasi sebesar persentase kepemilikan entitas induk atas saham
entitas anak, sehingga pendapatan investasi harus dikoreksi sebesar:

Laba anatrperusahaan x persentase kepemilikan entitas induk

Dalam kasus tersebut, bila laba antarperusahaan bersal dari penjualan upstream,
pendapatan investasi dikoreksi sebesar Rp36 juta (90% x Rp40 juta). Laba entitas
anak (sebagai pihak penjual) mempengaruhi pendapatan investasi 90%, sehingga
koreksi laba anatrperusahaan yang berasal dari entitas anak akan mengharuskan
entitas induk mengoreksi pendapatan investasi 90% dari laba antarperusahaan
tersebut dengan jurnal sebagai berikut:

Pendapatan Investasi Rp 36.000.000


Investasi dalam saham PT Andika Rp 36.000.000

Dampak laba antarperusahaan dalam penjualan downstream dan penjualan


upstream diperlihatkan pada peraga 5-3

PERAGA 5-3

Perbedaan Laba Antarperusahaan


Atas Penjualan Downstream dan Upstream

17
Downstream Upstream
Laba entitas anak Rp Rp
Koreksi laba antarperusahaan 200.000.000 200.000.000
Laba setelah koreksi -
Pendapatan investasi (90% x Rp (40.000.000
200)-40) 200.000.000 )
Pendapatan investasi (90% x 160)
140.000.000 160.000.000

Rp
144.000.000

 TRANSAKSI ANTARPERUSAHAAN-ASET DAN KERTAS KERJA


KONSOLIDASI

a. Transaksi Antarperusahaan-Barang Dagang dan Aset Tetap

Kertas kerja konsolidasi harus mengeliminasi setiap transaksi antarperuahaan dan


dampaknya sehingga laporan konsolidasi menggambarkan kesatuan entitas induk
dan anak. Transaksi aset antarperusahaan menyebabkan keterkaitan akun-akun
laporan keuangan entitas induk dan anak dalam kertas kerja konsolidasi. Ketekaitan
akun-akun antarperusahaan itu didasarkan pada jenis aset. Penjualan barang dagang
bagi pihak penjualan menimbulkan akun “penjualan”, sedangkan bagi pihak
pembeli menimbulkan akun”pembelian” jika perusahaan menggunakan metode
periodik, dan akun “persediaan” jika perusahaan mengunakan metode perpetual.
Penjualan aset tetap tidak dicatat sebagai penjualan melainkan pengkreditan akun
“aset tetap”, sedangkan pembelian aset tetap dicatat dengan menimbulkan akun
“aset tetap” sebagai pihak pembeli. Karena perbedaan pencatatan transaksi jual-beli
barang dagang dan aset tetap, pengeliminasian akun antarperusahaan juga berbeda
bagitransaksi jual-beli antarperusahaan atas kedua aset tersebut.

b. Barang Dagang

18
Jual-beli barang dagang menimbulkan akun “penjualan” bagi pihak penjual.
Sementara itu, penjualan kredit akan memunculkan piutang usaha yang dicatat
dengan jurnal sebagai berikut:

Piutang Usaha xxx


Penjualan xxx

Apabila perusahaan menggunakan metode perpetual, maka arus keluar persediaan


dicatat sebagai berikut:

HPP xxx
Persediaan xxx

Sedangkan dari sisi pembeli, jual-beli barang dagang memunculkan akun pembelia
yang dicatat dengan metode periodic sebagai berikut:

Pembelian xxx
Utang Usaha xxx

Apabila perusahaan menggunakan metode perpetual, pencatatannya adalah sebagai


berikut:

Persediaan xxx
Utang Usaha xxx

Transaksi jual-beli antarperusahaan menyebabkan keterkaitan akun-akun


perusahaan dalam hubungan induk-anak:

1. Akun “penjualan” dan akun “pembelian (jika diterapkan metode periodik)” atau
“HPP (jika diterapkan metode perpetual)”

2. Akun “utang usaha” dan akun “piutang” atas penjualan-pembelian yang belum
dilunasi.

19
3. Laba antarperusahaan dan persediaan. Laba antarperusahaan atas persediaan
pada akhir tahun dieliminasi dengan mengurangi nilai persediaan pada harga
pokoknya. Laba penjualan akan mengecil jika HPP bertambah, sehingga laba
penjualan dieliminasi dengan mendebet HPP. Jurnal eliminasinya adalah sebagai
berikut:

HPP xxx
Persediaan xxx

Persediaan akhir akan menjadi persediaan awal pada tahun berikutnya dan dijual
dalam tahun berjalan. Pada saat persediaan awal dijual, laba antarperusahaan yang
telah ditunda pada tahun sebelumnya akan direalisasi.pada tahun lalu, pendapatan
investasi telah berkurang besar dampaknya laba antarperusahaan atas persediaan
akhir terhadap pendapatan investasi (jika laba antarperusahaan merupakan
penjualan downstream, pendapatan dikoreksi 100% sedangkan bila yang terjadi
penjualan upstream, laba antarperusahaan berdampak terhadap pendapatan
investasi sebesar persentase kepemilikan entitas induk atas sahamberhak suara
entitas anak). Pendapatan investasi tahun lalu telah di closing pada nilai investasi.
Karena itu, nilai investasi akan tercatat lebih kecil sebesar dampak laba
antarperuahaan sehingga tidak mencerminkan kekayaan perusahaan anak yang
dimiliki. Dalam penyusunan kertas kerja konsolidasi, akun “investasi dalam saham”
harus didebet sebesar laba antarperusahaan atas persediaan awal karena persediaan
awal merupakan persediaan akhir tahun sebelumnya, yang telah menyebabkan nilai
investasi tercatat terlalu kecil. Apabila persediaan awal dihasilkan dari penjualan
downstream, dibuat ayat jurnal sebagai berikut:

Investasi dalam saham xxx


HPP xxx
Sedangkan untuk penjualan upstream, ayat jurnalnya adalah sebagai berikut:
Investasi dalam saham biasa xxx
Kepentingan nonpengendali xxx
HPP xxx

20
BAB 6

TRANSLASI ANTAR PERUSAHAAN OBLIGASI

Obligasi merupakan surat utang jangka panjang yang diperjualbelikan di pasar


surat-surat berharga. Penjualan obligasi menimbulkan hubungan antara penerbit
obligasi sebagai debitur dan pembeli obligasi yang biasa disebut investor obligasi.

Pembukuan Penerbit Obligasi

Penjualan obligasi bagi pihak penerbit menimbulkan utang obligasi. Apabila harga
jual perdana di atas atau di bawah nilai nominal, selisih harga jual dengan nominal
disebut premi atau diskon, dan di jurnal sebagai berikut:

Kas xxx

Utang obligasi xxx

Premi obligasi xxx

Apabila terjadi diskon:

Kas xxx

Diskon obligasi xxx

Utang obligasi xxx

Pembukuan Investor Obligasi

Investor atau pembeli obligasi memiliki akun “investasi dala obligasi” yang harus
dicatat pada tanggal investasi atau pembelian obligasi terjadi sebagai berikut:

Investor dalam Oblisi xxx

Kas xxx

21
OBLIGASI ANTARPERUSAHAAN DAN UNTUNG/RUGI KONSTUKTIF

Dalam pembahasan mengenai laba antar perusahan telah diasumsikan bahwa


laporan konsolidasi memandanh entitas-entitas dalam hubungan induk-anak adalah
satu,sehingga laba antar perusahaan atas jual beli antar perusahaan yang secara
individual diakui untuk penyusunan laporan konsolidasi tidak diakui dan harus
dieliminasi.

Transaksi obligasi antar perusahaan terjadi apabila salah satu entitas dalam
hubungan induk-anak membeli obligasi yang diterbitkan entitas lain masih dalam
hubungan induk-anak tersebut.sebagai contoh,obligasi yang diterbitkan entitas
induk di miliki oleh intitas anak,obligasi yang di terbitkan entitas anak dimiliki oleh
intitas induk,atau obligasi yang diterbitkan satu entitas anak dimiliki oleh entitas
ank lain dalam hubungan induk-anak.apabilah PT Indi dan PT Anta pada
pembahasan diatas berada dalam hubungan induk-anak pembelian obligasi PT Indi
oleh PT Anta pada tanggal 1 juli 2017 merupakan transaksi obligasi antar
perusahaan.

Transaksi obligasi antar perusahaan dari sudut pandang konsolidasi dianggab


sebagai penebusan atau penarikan utang obligasi karena laporan konsolidasi
berasumsi bahwa entitas induk-anak adalah satu kesatuan. Pada kenyataannya,
penerbit tidak melakukan penebusan atas utang obligasinya,tetapi karena pembeli
obligasi berada dalam hubungan induk-anak,maka sudut pandang konsolidasi
menganggab utang obligasi tersebut dibeli atau di tebus oleh konsolidasi sendiri.
Inilah yang disebut penebusan (penarikan) konstuktif. Harga beli inpestor obligasi
di pandang oleh konsolidasi sebagai harga tebus.

UNTUNG/RUGI KONSTUKTIF DAN PENDAPATAN INVESTASI

Untung/rugi konstuktif meurpakan salah satu komponen pendapatan investasi.


Jumlah untng/rugi yang mempengaruhi pendapatan investasi entitas induk
tergantung pada pihak penerbit atau penjual obligasi. Untung/rugi konstuktif

22
merupakan bagian dari entitas yang menerbitkan obligasi karena konsolidasi
menganggap utangnya titebus dengan harga yang lebih rendah atau lebih tinggi.

Dengan adanya untung/rugi konstruksif, pendapatan investasi menjadi sebagai


berikut:

Laba entitas anak (+) xxx

Amortisasi Undervalue (+) xxx

Amortisasi overvalue (+) xxx

Amortisasi/penurunan nilai Intangibele Asset (-) xxx

Laba Antarperusahaan ditunda (-) xxx

Laba Antarperusahaan direalisasi (+) xxx

Untung/rugi konstruksif tahun berjalan (+/-) xxx

Amortisasi Untung/rugi konstuktif (+/-) xxx

Pendapatan Investasi xxx

BAB 7

KOMBINASI BISNIS BERTAHAP DAN DIVESTASI

Bab ini membahas masalah yang timbul atas kombinasi bisnis bertahap dan
investasi saham dalam penyusunan kertas kerja konsolidasi. Kombinasi bisnis
bertahap dapat terjadi jika entitas induk ingin menguasai sepenuhnya saham entitas
anak. Dalam hal ini,entitas induk melakukan transaksi dengan pemegang saham
minoritas atau nonpengendali. Dalam suatu akuisisi,apabila pemegang saham
minoritas perusahaan target tidak menyetujuinya,undang-undang No. 40 tahun 2007
tentang perseroan terbatas pasal 62,memberikan hak untuk meminta perseroan
terbatas membeli sahamnya pada harga yang wajar jika pemegang saham tidak
menyetujui rencana tersebut.

PENDAPATAN PRAAKUISISI

23
Kewajiban penyusunan laporan konsolidasi timbul sejak terjadi pengendalian
entitas induk atas entitas anak. Hak entitas induk atas laba dan dividen entitas anak
diperhitungkan sejak tanggal akuisisi. Misalkan akuisisi saham yang menimbulkan
hak pengendalian berlaku efektif tanggl 1 april,sehingga pendapatan investasi untuk
tahun berjalan adalah 9 bulan. Jadi,laba perusahaan induk atau laba konsolidasi dari
sudut pandang perusahaan induk adalah:

Laba entitas induk + pendapatan investasi atas laba entitas anak untuk 9
bulan.

Laporan konsolidasi pada dasarnya juga dibuat atas periode 9 bulan laporan
keuangan entitas anak. Jadi,laba konsolidasi versi kertas kerja adalah:

Laba entitas induk periode 1 tahun xxx

Laba entitas anak untuk 9 bulan terakhir xxx

Laba kepentingan nonpengendali periode 9 bulan (xxx)

Laba konsolidasi tahun berjalan xxx

Perhitungan laba konsolidasi semacam itu menimbulkan masalah tersendiri karena


laporan keuangan entitas anak disusun atas dasar satu tahun, sebagaimana laporan
keuangan individu induk. Entitas induk harus memilah laporan keuangan entitas
anak untuk periode 9 bulan agar dapat dikonsolidasi dengan laporan keuangan
induk. Hal ini sering kali sulit dilakukan dan memberikan pekerjaan tambahan yang
hampir tidak mungkin dilakukan. Laporan konsolidasi lazimnya disusun dalam
periode satu tahun atau 12 bulan karena salah satu atau seluruh perusahaan yang
dikonsolidasikan telah ada dari awal tahun. Apabila akuisisi terjadi bukan awal
tahun,laba konsolidasi dapat dihasilkan dari laporan konsolidasi berbasis satu tahun
dengan cara sebagai berikut:

24
Laba entitas induk periode 12 tahun xxx

Laba entitas anak periode 12 bulan xxx

Pendapatan pra akuisisi periode 3 bulan (1/1 -1/4) (xxx)

Laba kepentingan nonpengendalian periode 1 tahun (xxx)

Laba konsolidasi tahun berjalan xxx

pendapatan pra akuisisi merupakan pendapatan yang seharusnya diperoleh entitas


induk sebelum tangga akuisisi. Misalkan entitas induk mengakuisisi 90% saham
entitas anak tanggal 1 april 2013. Laba entitas anak tahun 2013 sebesar Rp120 juta
diperoleh merata sepanjang tahun.Laba entitas induk tahun 2013 adalah Rp200
juta.peraga 7-1 menyajikan perhitungan laba konsolidasi dasar 9 bulan dan dasar
1tahun.

PERAGA 7-1

Dasar 9 Dasar 1Tahun


bulan
Laba entitas induk periode 1 tahun Rp Rp
Laba entitas anak 200.000.000 200.000.000
Pendapatan pra akuisisi (3/12 x 90% x 90.000.000 120.000.000
120 juta) - (27.000.000)
Laba kepentingan non pengendali (9.000.000) (12.000.000)
Laba konsolidasi Rp Rp281.000.000
281.000.000

KOMBINASI BISNIS BERTAHAP

Adakalanya pihak pengakuisisi telah memeiliki kepentingan ekuitas sebelum


pengendalian atas pihak yang diakuisisi terjadi. Misalkan PT India memiliki 45%
kepentingan ekuitas PT Armenia.pada tanggal 5 januari 2012,PT India

25
mengakuisisi kembali 10% kepentingan ekutitas PT Armenia yang memberikan PT
India pengendalian atas PT Armenia. Hal inilah yang disebut sebagai kombinasi
bisnis yang dilakukan secara bertahap atau disebut juga akuisisi bertahap.

PSAK 22 revisi 2010 mensyaratkan dilakukannya penilaian investasi kembali pada


saat terjadinya kombinasi bisnis bertahap. Dalam hal ini pihak pengakuisisi
mengukur kembali kepentingan ekutitas yang dimiliki sebelumnya atas pihak yang
diakuisisi sebesar nilai wajar pada tanggal akuisisi dan mengakui keuntungan atau
kerugian yang dihasilkan dalam laporan laba rugi.

BAB 8

Perubahan Ekuitas Entitas Anak

Bab ini membahas dampak perubahan ekuitas entitas anak terhadap induk yang
timbul dari transaksi penjualan saham tambahan dan transaksi saham
perbendaharaan entitas anak. Perubahan ekuitas anak berdampak terhadap induk
apabila transaksi tersebut bukan merupakan transaksi terstrukturisasi entitas
pengendalian yang akan dibahas pada bagian terakhir bab ini.

TRANSAKSI PENJUALAN SAHAM TAMBAHAN ENTITAS ANAK

a. Penjualan Saham Tambahan kepada Pihak Eksternal


Misalkan PT Paula memiliki 800.000 lembar dari 1.000.000 lembar saham PT
Simon. Nilai investasi sama dengan kekayaan pemegang saham PT Simon per 1
januari 2013 adalah sebagai berikut:

Modal saham biasa (1 juta lembar) Rp 2.000.000.000

Agio saham biasa 300.000.000

Laba ditaha 200.000.000

Total kekayaan 1/1/2013 Rp 2.500.000.000

Laba PT Simon tahun 2013 adalah Rp600 juta yang diperoleh merata sepanjang
tahun. Dividen sebesar Rp200 juta diumumkan pada akhir bulan Desember.

26
Pada tanggal 1 oktober 2013, PT Simon menjual saham tambahan sebanyak
250.000 lembar kepada pihak eksternal di mana penjualan ini mempengaruhi PT
Paula sebagai brikut:
1. Pengurangan presentase kepemilikan PT Paula atas PT Simon. Sebelum PT
Simon menjual saham tambahan, PT Paula memiliki penguasaan 80%
(800.000/1.000.000) atas PT Simon menjadi 64% (800.000/1.250.000), yaitu terjadi
penurunan 16%.
2. Perubahan jumlah kekayaan entitas anak yang dimiliki induk. Nilai buku
kekayaan pemegang saham PT Simon per 1 Oktober adalah Rp2.95 miliar, yakni
kekayaan awal ditambah laba hingga tanggal 1 Oktober 2013 Rp450 juta (9/12 x
Rp600juta). Nilai buku per lembar saham adalah Rp2.950 untu saham yang beredar
sebanyak 1 juta lembar. Apabila PT Siomon menjual saham tambahan pada harga
yang sama dengan nilai bukunya (Rp 2.950 per lembar) atau total harga Rp
737.500.000, tidak ada perubahan jumlah kekayaan PT Simon yang dimiliki PT
Paula yang dapat dijelaskan dengan perhitungan sebagai berikut:

Sebelum penjualan saham (80% x Rp2.95 miliar) Rp2.360.000.000

Setelah penjualan saham (64% x (Rp2,95 miliar + 737,5 juta) 2.360.000.000

Perubahan jumlah kekayaan anak yang dimiliki induk -

Apabila PT Simon menjual saham tambahan yang yang berbeda dengan nilai
bukunya, hal ini akan mempengaruhi jumlah kekayaan entitas anak yang dimiliki
induk. Misalkan PT Simon menjual saham saham diatas nilai buku, yakni dengan
harga perlembar Rp3.000 atau total harga Rp750 juta (350.000 x Rp 3.000),
penjualan saham tersebut menyebabkan sisi ekuitas PT Simon menjadi Rp3,7 miliar
+ Rp750 juta).

Perubahan ekuitas ini berdampak terhadap entitas induk sebagai berikut:

Sebelum anak menjual saham (80% x Rp2,95 miliar) Rp 2.360.000.000

Setelah penjualan saham anak (64% x Rp3,7 miliar) 2.368.000.000

Kenaikan kekayaan Rp 8.000.000

27
Harga jual saham di atas nilai bukunya juga dinikmati induk sebesar Rp8 juta.
Kenaikan kekayaan ini menambah nilai investasi induk karena nilai investasi
mencerminkan kekayaan entitas anak. Akan tetapi, karena kenaikan investasi ini
bukan bagian dari kinerja entitas anak, maka tidak termasuk dalam komponen
pendapatan investasi induk.

BAB 9

Kompleksitas Struktur Hubungan Induk-Anak

Pada masa ini akuisisi telah menjadi salah satu alternative keputusan strategis
pengembangan usaha. Kepemilikan hak suara suatu entitas selain dimaksudkan
untuk mengendalikan entitas tersebut, dalam kasus tertentu dapat juga dilakukan
untuk mengendalikan suatu entitas yang kebetulan memiliki atau mengendalikan
entitas lain. Misalkan PT A memiliki 90% saham PT B dan PT B menguasai 80%
saham PT C. Kepemilikan PT B atas saham PT C sebesar 80% menyebabkan PT A
juga memiliki pengaruh atas PT C secara tidak langsung, karena PT B yang
merupakan induk PT C adalah perusahaan anak PT A. Hak PT A atas PT C adalah
90% x 80% = 72%, sehingga PT A tetap mengendalikan PT C. PT B disebut entitas
anak dan PT C disebut entitas cucu dari PT A. Hubungan induk-anak dapat terjadi
dari penyertaan langsung, yakni dengan kepemilikan hak suara atas entitas anak.
Bab ini memperkenalkan istilah penyertaan tidak langsung, yakni pengendalian atas
entitas tertentu dengan cara melakukan penyertaan langsung atas entitas lain yang
memiliki hak suara atau mengendalikan entitas tersebut. Dalam kasus di atas, PT A
melakukan penyertaan tidak langsung dalam PT C. Jadi, penyertaan tidak langsung
atas suatu entitas hanya dapat terjadi dengan adanya penyertaan langsung pada
entitas lainnya. PT A, PT B, dan PT C dalam kasus ini adalah satu kelompok usaha
(grup) karena berada dalam suatu pengendalian, dengan PT A sebagai pengendali
tertinggi. Istilah afiliasi juga sering dipakai untuk menggambarkan hubungan grup.
Laporan konsolidasi wajib disusun oleh pengendali tertinggi.

Hubungan antara PT A, PT B, dan PT C merupakan bentuk hubungan induk-anak-


cucu. Dalam banyak kasus, bias juga perusahaan anak mengakuisisi saham
perusahaan induk. Dalam bahasa akuntansi, hal ini disebut kepemilikan mutual

28
(mutual holding), yang dapat menimbulkan permasalahan perlakuan investasi anak
dalam saham induk. Perhitungan pendapatan investasi dan nilai investasi
menimbulkan permasalahan tersendiri apabila perusahaan anak memiliki saham
preferen. Dalam praktiknya, banyak terjadi hubungan yang lebih kompleks. Peraga
9-1 menyajikan berbagai bentuk hubungan induk-anak.

PERAGA 9-1

Induk Induk

Anak Anak Anak Anak

Cucu Induk

Induk Anak

Anak Cucu

Tanda panah menunjukkan kepemilikan saham perusahaan yang dituju

PENYERTAAN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

Pendapatan investasi suatu perusahaan apabila terdapat penyertaan langsung dan


tidak langsung menjadi sebagai berikut :

Pendapatan investasi dari penyertaan langsung xxx

Pendapatan investasi atas penyertaan tidak langsung xxx

Total pendapatan investasi xxx

29
Misalkan PT Orangtua (OT) memiliki saham PT Anak pada tanggal 1/1/2011
sebesar 80% dari saham PT Anak dengan harga Rp3.256.000.000. Harga tersebut
merupakan harga akuisisi yang wajar dari total harga untuk 100% harga akuisisi
sebesar Rp4.070.000.000. Pada tanggal tersebut kekayaan PT Anak adalah sebagai
berikut :

Modal saham Rp2.500.000.000

Laba ditahan 1.320.000.000

Total kekayaan pemegang saham Rp3.820.000.000

Selisih harga akuisisi dan nilai buku PT Anak disebabkan oleh goodwill sebesar
Rp250 juta, yang pada tahun 2011 diimpair senilai Rp25 juta. Kepemilikan atas
saham PT Anak ini dimaksudkan untuk menguasai saham PT Cucu, yang
merupakan perusahaan anak PT Anak. Saham PT Cucu sebesar 90% dikuasai oleh
PT Anak. Investasi dalam saham PT Cucu dilakukan pada selisih harga yang
disebabkan goodwill sebesar Rp100 juta dengan nilai buku PT Cucu yang dimiliki
PT Anak. Hingga tanggal 31/12/2011, goodwill telah diimpair Rp60 juta, termasuk
penurunan nilai (impairmen) tahun 2011 sebesar Rp30 juta. Informasi tentang laba
dan dividen ketiga perusahaan yang diumumkan pada akhir tahun 2011 adalah
sebagai berikut :

Laba Dividen

PT Orangtua Rp300.000.000 Rp300.000.000

PT Anak 200.000.000 80.000.000

PT Cucu 100.000.000 40.000.000

Laba bersih PT Orangtua atau laba konsolidasi tahun 2011 dapat dihitung sebagai
berikut :

Laba individu
Rp300.000.000

30
Laba PT Anak (80% x Rp200 juta) Rp160 juta

Penurunan nilai goodwill (25 x 80%) (20 juta) Rp140.000.000

Penyertaan tidak langsung

Laba cucu 80% x ((90% x Rp100 juta) – Rp27 juta) 50.400.000 Rp190.400.000

Laba PT Orangtua Rp490.400.000

Laba kepentingan nonpengendali dihitung sebagai berikut :

Penyertaan langsung (20% (Rp200 juta – Rp25 juta) Rp 35.000.000

Penyertaan tidak langsung (20% x 90% x (Rp100 juta – 30 juta) 12.600.000

Laba kepentingan nonpengendali ((10% x (Rp100 juta – 30 juta) 7.000.000

Total laba kepentingan nonpengendali Rp 54.600.000

Perhitungan laba konsolidasi akan lebih mudah dengan tabel pembantu yang
disajikan dalam Peraga 9-2.

PERAGA 9-2

PT PT Anak PT Cucu
Orangtua
Laba individu Rp Rp Rp
300.000.000 200.000.000 100.000.000
Alokasi laba PT Cucu 90% 90.000.000 (90.000.000)
Penurunan nilai goodwill
(27.000.000)
Laba konsolidasi PT Anak Rp
263.000.000
Alokasi laba PT Anak 80% Pada OT 210.400.000 (210.400.000)
Penurunan laba goodwill (20.000.000)
Laba konsolidasi Rp
490.400.000
Laba alokasi kepentingan nonpengendali Rp Rp
52.600.000 10.000.000
Penurunan nilai goodwill (5.000.000) 3.000.000

31
Total Rp Rp
47.600.000 7.000.000

Dalam kasus tersebut, PT Orangtua merupakan pengendali tertinggi yang


diwajibkan menyusun laporan konsolidasi. Kertas kerja konsolidasi yang disusun
PT Orangtua memuat kolom PT Cucu karena PT Orangtua juga mengendalikan PT
Cucu (kepemilikan tidak langsung 72%). Nilai investasi PT Orangtua atas saham
PT Anak per 31/12/2011 adalah :

Investasi awal Rp3.256.000.000

Pendapatan investasi 190.400.000

Dividen (64.000.000)

Investasi 31/12/2011 Rp3.382.400.000

Nilai investasi atas saham PT Cucu yang tersaji dalam pembukuan PT Anak per
31/12/2011 adalah sebagai berikut :

Kekayaan PT Cucu per 31/12/2011 dimiliki (90% x Rp2 miliar) Rp1.800.000.000

Saldo goodwill (90% x Rp40 juta)


36.000.000

Nilai investasi dalam saham PT Cucu 31/12/2011


Rp1.836.000.000

32
BAB III

PEMBAHASAN

3. 1 Kelebihan dan Kekurangan Isi Buku

Kelebihan

 Kelebihan dari buku ini yaitu pembahasan pada buku ini didasarkan pada
PSAK seperti pengertian, jenis, karakteristik dan sebagainya sehingga materi
yang ada lebih bersifat aktual dan sesuai peraturan yang ada karena setiap
pengertian yang ada di dalam akuntansi di atur dalam PSAK dan buku ini
menggunakan PSAK sebagai acuan dalam membahas setiap materi yang ada
pada buku ini.
 Pembahasan dalam buku ini cukup ringkas namun jelas sehingga cukup mudah
untuk di pahami. Dan materi yang ada pada buku ini juga saling
berkesinambungan setiap babnya dan setiap memasuki bab baru setiap
pembahasan awal selalu membahas sedikit materi dari bab sebekumnya untuk
mengingatkan kembali sehingga pembaca dapat mengingat materi sebelumnya
dengan mudah.
 Pada buku ini juga terdapat peraga – peraga atau contoh dari setiap materi
seperti materi perhitungan atau materi kertas kerja konsolidasi terdapat contoh
dari perhitugan dan contoh dari laporannya. Sehingga setiap kita membahas
mengenai praktik dalam akuntansi keuangan 3 dengan buku ini selalu terdapat
contoh praktiknya yang disertai penjelasan sehingga mudah untuk di pahami.
 Pada akhir bab buku ini juga terdapat soal atau pertanyaan seputar meteri dari
setiap bab yang di bahas sehingga dapat mengevaluasi pengetahuan pembaca
mengenai pemahaman pembaca terhadap bab tersebut.

Kekurangan

 Kekurangan dari buku ini menurut kelopok kami hanya tidak adanya soal atau
pertanyaan yang berkenaan dengan praktik dalam akutansi keuangan 3 seperti
tidak ada soal transaksi yang akan disusun kedalam laporan keuangan atau yang
akan di catat sesuai praktik padahal materi praktik pada buku ini cukup banyak

33
dan cukup baik karena di berikan contoh yang mendukung. Namun jika pembaca
ingin mengetahui atau mengevaluasi kemampuannya dalam segi praktik
pencatatan akuntansi dalam akuntansi keuangan 3 ini maka pembaca harus
mencari dari sunber lain karena soal evaluasi untuk menguji kemampuan
pembaca dalam pencatatan akuntansi pada akuntansi keuangan 3 ini tidak ada.

34
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
 Buku ini sangat bagus jika digunakan sebagai bahan ajar utama dalam pelajaran
akuntansi keuangan 3 karena contoh contoh pada buku ini dipaparkan secara
jelas dan berkesinambungan serta materi yang ada di dalam buku ini juga sangat
bagus. Kami sangat merekomendasikan buku ini karena kelebihan yang
dimilikinya. Bahkan buku ini juga hanya kurang dalam memberikan soal kasus
saja selebihnya sudah bagus.

4.2. Saran
 Saran dari kelompok kami kepada penulis yaitu harusnya jika membuat suatu
buku terutama buku akuntansi haruslah ada soal soal kasus untuk mengevaluasi
kemampuan para pembaca karena dalam akuntansi tidak bisa hanya membaca
materi saja namun juga harus memahami soal soal kasus terkait materi tersebut.

35