Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada setiap pembicaraan mengenai puisi, jarang sekali orang yang tidak
menyebutkan nama Chairil Anwar. Chairil Anwar merupakan tokoh besar di dunia
sastra Indonesia. Karya-karya Chairil Anwar telah begitu sering menjadi topik
pembahasan para ahli sastra. Di samping juga menjadi salah satu menu pengajaran
sastra di sekolah-sekolah dan beberapa perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan betapa
Chairil Anwar memiliki nama besar di dunia kesusastraan Indonesia, khususnya di
bidang puisi.
Dalam pengkajian karya sastra, ada yang dinamakan pendekatan
mimetik. Pendekatan ini menitikberatkan pengkajian karya sastra terhadap
realitas sosial masyarakat atau suatu peristiwa yang melatarbelakangi penciptaan
suatu karya sastra.
Penulis, dalam makalah ini akan membahas mengenai Chairil Anwar, serta
pengkajian melalui pendekatan Mimetik terhadap salah satu puisinya yang
berjudul “Karawang-Bekasi”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, didapat rumusan masalah adalah sebagai
berikut.
1. Siapakah Chairil Anwar?
2. Apa yang dimaksud dengan pendekatan mimetik dalam karya sastra?
3. Bagaimanakah pengkajian puisi “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar melalui
pendekatan mimetik?

1
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, didapat tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui siapakah Chairil Anwar.
2. Untuk mengetahui pengertian pendekatan mimetik dalam karya sastra.
3. Untuk mengetahui bagaimana pengkajian puisi “Karawang-Bekasi” karya
Chairil Anwar melalui pendekatan mimetik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biografi Chairil Anwar
Chairil Anwar, namanya sangat terkenal dikalangan para sastrawan. dia
dilahirkan di medan, Sumatera Utara tanggal 26 juli 1922, Chairil tinggal di medan
sebelum akhirnya pindah ke Batavia (Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940. Dia
memiliki julukan sang binatang jalang, karena terkenal akan puisinya yang berjudul
“Aku”. Chairil anwar adalah sosok sastrawan indonesia yang sangat berpengaruh di
dunia sastra.1
Kedua orangtuanya bercerai saat ia masih remaja. Setelah dewasa dan
menikahi Hapsah, pernikahan itu juga akhirnya kandas karena kesulitan ekonomi
yang terus mendera. Ia pernah berjualan buku untuk menyambung hidup. Dan pernah
mendekam di penjara Cipinang karena kasus pencurian. Sekolahnya hanya sampai
tingkat menengah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan itu pun tidak
selesai.
Namun demikian, Chairil menguasai sejumlah bahasa asing yang
memungkinkannya membaca karya-karya para pengarang Internasional seperti:
Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan

1
Muhri, Sejarah Ringkasan Kesusastraan Indonesia, (Bangkalan: Yayasan Arraudlah Bangkalan, 2016),
hlm 53

2
Edgar Du Perro. Karya-karya para pengarang itulah yang mempengaruhi tulisan-
tulisannya. Masa kepenyairan Chairil yang singkat sebanding belaka dengan usianya
2
yang relatif pendek. Ia mati muda, meninggal di Jakarta pada 28 April 1949.
Tentang kematian Chairil, dapat dikatakan bahwa ia dirawat di CBZ (RSTM) dari 22
sampai 28 April 1949. Menurut catatan rumah sakit karena tifus. Tapi sebenarnya dia
sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi, rupanya karena badannya
bertambah lemah maka timbul pula penyakit usus yang membawa kematiannya
(ususnya pecah). Dia meninggal setengah 3 sore tanggal 28 April 1949 dan
dikuburkan keesokan harinya, diangkut dari kamar mayat RSTM ke Karet oleh
banyak pemuda dan orang-orang Republik terkemuka.3
Waktu ia meninggal, ia hanya meninggalkan beberapa berkas sajak. Belum
satu pun diterbitkan. Baru setelah ia wafat, tiga buah kumpulan sajaknya dikeluarkan
orang: Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Pustaka Rakyat, Jakarta,
1950), Deru Campur Debu (Pembangunan, Jakarta, 1950), dan Tiga Menguak Takdir
(Balai Pustaka, Jakarta, 1950). 4
Masa kepenyairannya yang dihitung sejak publikasi sajaknya yang pertama
“Nisan” pada tahun 1942 (ketika dia berusia dua puluh tahun) maka Chairil menulis
sajak hanya selama 7 tahun (sampai ia wafat pada 1949). Selama masa yang pendek
itu ia menulis 70 buah sajak asli, 10 terjemahan, 4 saduran, dan 6 prosa asli dan
terjemahan.
Karya sadurannya yang sangat populer ialah “Kerawang Bekasi”, yang sering
dianggap karyanya sendiri. Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain:
“Pulanglah Dia Si Anak Hilang” (1948, Andre Gide) dan Kena Gempur (1951, John
Steinbeck). Karya Chairil sendiri bisa ditemukan dalam berbagai terjemahan bahasa
asing seperti bahasa Inggris: Sharp Gravel, Indonesian Poems, oleh Donna M.
Dickinson (Berkeley, California, 1960); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton

2
Jamal D. Rahman, dkk. 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, (Jakarta: PT Gramedia, 2014),
hlm. 296.
3
H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan’45, (Yogyakarta: Narasi, 2013), hlm. 47.
4
Ajip Rosidi, Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1988), hlm. 77

3
Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); bahasa Spanyol:
Cuatro poemas Indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati, (Madrid: Palma
De Mallorca, 1962); dan bahasa Jerman: Feuer und Asche: Samtliche Gedichte,
Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978).5

2.2 Pengertian Pendekatan Mimetik dalam Karya Sastra


Pengertian mimetik menurut para ahli:
Plato
Mengungkapkan bahwa sastra atau seni hanya merupakan peniruan atau
pencerminan dari kenyataan.
Aritoteles
Dia berpendapat bahwa mimesis bukan hanya sekedar tiruan, bukan sekedar potret
dan realitas melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya.
Raverzt
Berpendapat bahwa mimesis dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan yang
mengkaji karya sastra yang berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas
suatu kenyataan.6
Sementara itu, Abrams mengemukakan empat macam model pendekatan dalam
pengkajian sastra, salah satunya ialah pendekatan mimetik, yaitu pendekatan yang
melihat pada aspek referensial dunia nyata atau aspek realitas sosial budaya.7
Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani, yaitu mimesis yang berarti
meniru, tiruan, atau perwujudan. Secara umum mimetik dapat diartikan sebagai suatu
pendekatan yang memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dari
dunia kehidupan nyata. Mimetik juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang dalam
metodenya membentuk suatu karya sastra dengan didasarkan pada kenyataan
kehidupan sosial yang dialami, dan kemudian dikembangkan menjadi suatu karya

5
Jamal D. Rahman, dkk. Op.cit., hlm. 297
6
Dzul Qurnain, “Pendekatan Mimetik”, 2014, hlm. 4. Diakses dari https://www.academia.edu pada
tanggal 28 April, 2019, pukul 20.44.
7
Ali Imron & Farida Nugrahani, Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi. (Surakarta: CV. Djiwa Amarta,
2017), hlm. 42

4
sastra dengan penambahan skenario yang timbul dari daya imajinasi dan kreatifitas
pengarang dalam kehidupan nyata tersebut.8

2.3 Analisis Puisi “Karawang-Bekasi” Karya Chairil Anwar melalui Pendekatan


Mimetik

Untuk menganalisis puisi “Karawang-Bekasi” melalui pendekatan mimetik,


maka berikut puisi tersebut.
Krawang - Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi.
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tdak lagi mendengar deru kami.
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi


Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.


Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa


Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa


Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan


Tapi adalah kepunyaanmu

8
Dzul Qurnain, Op.cit., hlm. 5.

5
Kaulah lagi yang tentukan nilai-tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami


Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat


Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami


yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.9

Berdasarkan penjelasan mimetik di atas, karya sastra merupakan realitas dari


suatu peristiwa di masanya, atau bisa dibilang keadaan sosial masyarakat di masa
karya tersebut diciptakan. Dalam Puisi Karawang-Bekasi, bisa kita lihat di mana
tempat peristiwa yang digambarkan oleh Chairil Anwar, dari judulnya saja bisa kita
lihat tempat peristiwanya, yaitu di daerah Karawang dan Bekasi. Puisi ini ditulis oleh
Chairil Anwar pada tahun 1948, setahun setelah suatu peristiwa besar itu terjadi, lalu

9
H.B. Jassin, Op.cit., hlm. 103

6
Chairil Anwar menulis puisi tersebut. Apa yang terjadi di Karawang dan Bekasi?
Ternyata di daerah tersebut terjadi sebuah peristiwa pembantaian besar-besaran yang
dilakukan oleh Belanda (NICA), tepatnya di desa Rawagede, antara Karawang dan
Bekasi, Jawa Barat.
Peristiwa tersebut merupakan korban sebagai akibat dari Agresi Militer I yang
dilakukan oleh Belanda. Sajak Karawang Bekasi di atas, yang telah ditulis oleh
Chairil Anwar merupakan suatu ungkapan perasaan akan situasi pembantaian dan
perang melawan pasukan tentara Belanda saat itu, dan sajak ini bisa diresapi dan
dipahami maknanya lebih dalam ketika kita berdiri di hadapan makam ratusan
korban pembantaian tentara Belanda di Monumen Rawagede, desa Rawagede,
Karawang Bekasi, Jawa Barat. Tujuan Belanda melakukan Agresi Militer I adalah:
1) tujuan politik yaitu mengepung ibu kota Republik Indonesia dan menghapus
kedaulatan Republik Indonesia, 2) dengan tujuan ekonomi yaitu merebut pusat-pusat
penghasil makanan dan bahan ekspor, termasuk juga daerah Karawang dan Bekasi,
dan ke-3) dengan tujuan militer, yaitu menghancurkan Tentara Nasional (TNI),
termasuk juga daerah Karawang Bekasi yang merupakan lokasi markas gabungan
laskar para pejuang.10
Peristiwa Rawagede terjadi pada 9 Desember 1947, tepat saat Agresi Belanda
I yang telah dilancarkan mulai 21 Juli 1947, ketika itu pasukan Belanda berhasil
membantai empat ratus tiga puluh satu jiwa penduduk desa Rawagede, yang berada
antara Karawang-Bekasi, Jawa Barat. Saat pasukan Belanda menyerbu Bekasi,
rakyat mengungsi ke arah Karawang, dan disepanjang Karawang-Bekasi timbul
pertempuran , yang mengakibatkan ratusan jiwa melayang di kalangan rakyat
(penduduk) desa Rawagede. Tertanggal 4 Oktober 1948, pasukan Belanda
melakukan sweeping lagi di Rawagede, dan ketika itu tiga puluh lima penduduk
berhasil dibunuh. Pembantaian penduduk desa di Rawagede pada Desember 1947

10
Ambar Wahyu Kartikasari, “Nasionalisme Dalam Sajak Karya Chairil Anwar
(Analisis Semiotik Dalam Sajak Karawang Bekasi)”, Jurnal AVATARA, Vol. 2, No. 3, 2014, hlm. 443.
Diakses dari http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id pada tanggal 28 April, 2019, pukul 23. 48.

7
adalah pembantaian terbesar setelah pembantaian yang dilakukan oleh tentara
Belanda di Sulawesi Selatan antara bulan Desember 1946 sampai Februari 1947.11
Chairil Anwar, dalam puisi tersebut, berusaha untuk mengenang para pejuang
yang gugur di peristiwa pembantaian Rawagede tersebut. Puisi itu juga
menggambarkan bagaimana para pahlawan yang gugur di Karawang-Bekasi dengan
semangat mereka untuk mempertahankan kedaulatan NKRI, dan menjaga tokoh-
tokoh nasional diharapkan turun ke para pejuang lainnya, walaupun mereka sudah
menjadi mayat, tetapi jiwa semangat mereka tetap hidup dan terus ada pada diri
pejuang-pejuang lainnya. Hal itu tergambar dalam salah satu kutipan berikut:
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat


Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami


Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

11
Ambar Wahyu Kartikasari, Ibid., hlm. 444

8
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Chairil Anwar merupakan tokoh besar di dunia sastra Indonesia, khususnya
di bidang puisi. Ia adalah salah satu sosok yang membentuk aliran baru dalam
kesusasteraan Indonesia, ia juga dapat dikatakan orang yang terbesar pengaruhnya
dari Angkatan ’45. Puisi-puisinya menghembuskan jiwa, semangat dan cita-cita
muda, penuh hidup, bergerak dan menggerakkan.
Berdasarkan pengkajian pada permasalahan di atas melalui pendekatan
mimetik, maka sajak yang telah diciptakan Chairil Anwar berjudul “Krawang-
Bekasi” bukan hanya sekedar mencipta suatu karya saja, namun dibalik itu
merupakan penggambaran (realitas) suatu peristiwa yang telah terjadi di daerah
sepanjang Karawang Bekasi, dan peristiwa tersebut merupakan pengorbanan dan
usaha para pejuang berserta warga sekitar Karawang Bekasi tepatnya desa Rawagede
dalam semangat mempertahankan kemerdekaan, meskipun mereka harus mati muda.
Peristiwa yang terjadi di desa Rawagede pada 9 Desember 1947, Karawang,
Jawa Barat merupakan suatu peristiwa pembantaian terbesar setelah pembantaian di
Sulawesi Selatan. Peristiwa Pembantaian Rawagede terjadi sebagai akibat dari
Agresi Militer I Belanda yang ingin menanamkan kembali kolonialisasinya di
Indonesia.
3.2 Saran
Para pembaca diharapkan mengenal dan mengetahui lebih jauh mengenai
salah satu sastrawan besar Indonesia, yaitu Chairil Anwar, ia merupakan salah satu
orang yang berpengaruh di dunia kesusasteraan, ia juga tokoh puisi Indonesia yang
paling terkenal. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus mengetahui lebih dalam tentang
sosok Chairil Anwar ini.

9
Daftar Pustaka
Muhri, Sejarah Ringkasan Kesusastraan Indonesia. Bangkalan: Yayasan Arraudlah
Bangkalan, 2016.
Jamal D Rahman, dkk. 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Jakarta: PT
Gramedia, 2014.
Jassin, H.B. Chairil Anwar: Pelopor Angkatan’45. Yogyakarta: Narasi, 2013.
Rosidi, Ajip. Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir. Jakarta: CV Haji
Masagung, 1988.
Qurnain, Dzul. “Pendekatan Mimetik”, 2014. Diakses dari
https://www.academia.edu pada tanggal 28 April, 2019, pukul 20.44.
Imron, Ali & Farida Nugrahani, Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi. Surakarta:
CV. Djiwa Amarta, 2017.
Kartikasari, Ambar Wahyu. “Nasionalisme Dalam Sajak Karya Chairil Anwar
(Analisis Semiotik Dalam Sajak Karawang Bekasi)”. Jurnal AVATARA.
Vol. 2, No. 3, 2014. Diakses dari http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id pada
tanggal 28 April, 2019, pukul 23. 48.

10