Anda di halaman 1dari 22

PENTAS SENI TAYUB SEBAGAI RITUAL

UNTUK MENDATANGKAN KEMAKMURAN DI DESA JA’AN GONDANG


NGANJUK

PROPOSAL
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penelitian Kolektif
Dosen Pembimbing
Mukhamat Saini, MA.

Disusun Oleh:

1. Afiani Nasrotin

2. Alfin Maulana Fikri

3. Anang Pambudi

4. M. Ainun Azharudin

5. Mahmudah

6. Tiara Nur Hidayah

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ‘ULA
NGLAWAK KERTOSONO NGANJUK
2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebudayaan atau kultur adalah hasil karya cipta manusia dengan kekuatan
jiwa (pikiran, perasaan, intuisi, imajinasi dan lainnya) dan raganya, yang dinyatakan
dalam berbagai kehidupan manusia. Kebudayaan muncul sebagai jawaban atas segala
tantangan, tuntunan dan dorongan dari intra dan ekstra diri manusia untuk
mengekspresikan karya ciptanya, menuju arah terwujudnya kebahagiaan dan
kesejahteraan (spiritual dan materiil) manusia, baik individu maupun masyarakat
ataupun individu dan masyarakat.1
Indonesia mempunyai banyak kebudayaan yang telah mendarah daging dalam
kehidupan masyarakat dan merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Salah
satu kebudayaan itu adalah kebudayaan Jawa, yang telah ada hidup di tanah Jawa ini.
Sejak itu pula orang Jawa memiliki citra progresif dalam mengekpresikan karyanya
lewat budaya. Budaya Jawa merupakan suatu pengejawantahan karya cipta manusia
Jawa yang mencakup kemauan, cita-cita, ide maupun semangat dalam mencapai
kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan hidup lahir batin. Kebudayaan Jawa
yang banyak dikenal adalah tari tradisionalnya. Bagi masyarakat Jawa tari tradisional
sangat berguna bagi kepentingan sosial atau selalu dilakukan dalam ritual masyarakat.
Kebudayaan kerap dijadikan panutan oleh sekelompok orang, dan apabila
tidak dilaksanakan akan terjadi sebuah bencana yang akan menimpa sekelompok
orang tersebut. Manusia selalu mengaitkan sesuatu kejadian yang akan menimpa
mereka adalah kutukan karena tidak melaksanakan kepercayaan yang telah
diwariskan secara turun temurun. Inilah salah satu kepercayaan atau keyakinan yang
masih ada dalam masyarakat terutama di daerah negara Indonesia. Setiap daerah di
Indonesia memiliki kebiasaan atau kebudayaan masing-masing. Sebagian kebudayaan
merupakan sebuah kepercayaan yang dianut oleh sekelompok orang yang diwariskan
langsung oleh nenek moyang mereka. Upacara yang sering menggunakan tari untuk
mendukung kepentingan ritual antara lain: nadzar, panen padi, minta hujan, bersih
desa, sedekah bumi, sedekah laut, sedekah kali ruwatan, dan hujatan. Sementara itu,
tari yang biasa digunakan salah satunya adalah tayub.
Tentang istilah tayub sendiri berasal dari kata “toto lan guyub” (ditata biar
kompak atau rukun), yang maknanya tingkah dan gerak harus kompak lahir batin. Ada
1
Endang Saifuddin Anshari, Agama Dan Kebudayaan (Surabaya: Bina Ilmu, 1979), 73.
1
makna harfiahnya, kalau masyarakat ditata dan diatur akan mampu menampilkan
suasana paguyuban yang kompak akan nilai persaudaraan, kerukunan, dan
kekeluargaan.2 Pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut
kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Seni tayub merupakan
kesenian tradisional yang berkembang dalam masyarakat dan merupakan kesenian
yang menyangkut masalah kepercayaan di masyarakat yang digunakan untuk acara
bersih desa agar terhindar dari malapetaka atau menjauhkan dari segala sesuatu yang
merugikan. Sebagaian besar tayub dilaksanakan pada waktu tertentu sesuai dengan
penanggalan Jawa.
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa
pelaksanaan seni tayub dalam masyarakat desa Ja’an pada acara ritual bersih desa
diadakan menurut penanggalan jawa pada Jumat Pon di tempat yang khusus yaitu di
punden desa Jaan atau rumah Kamituwo Jaan. Sedangkan untuk pelaksanaan seni
tayub pada acara hiburan tidak ada tempat khusus dan hari tertentu melainkan
tergantung dari orang yang mempunyai hajatan.
Masyarakat desa Ja’an pada umumnya memandang hal ini (tayub) merupakan
agenda yang semestinya harus dilakukan dalam kurun waktu setahun sekali untuk
tujuan persembahan dari hasil yang didapat di sawah ataupun karena keberkahan yang
selalu didapat oleh masyarakat sekitar.
Di desa Ja’an istilah Langen Bekso atau yang sering disebut juga tayub
merupakan budaya Jawa tari-tarian yang dilakukan oleh wanita dan pria yang
berpasang-pasangan. Keberadaan tayub sendiri berpangkal pada cerita kedewataan
(para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar jajar) dengan
gerak yang guyub (serasi). Di desa Ja’an, tayub merupakan kebudayaan yang sering
dilakukan ketika acara bersih desa Ja’an setelah panen raya padi. Warga sangat
mempercayai bahwa setelah panen raya padi mereka harus melaksanakan kegiatan
bersih desa. Ketika kegiatan bersih desa warga juga mempercayai bahwa nenek
moyang yang terdahulu selalu melaksanakannya dengan mempertontonkan budaya
Langen Bekso/ Tayub. Tayub sendiri sudah terkenal di kalangan masyarakat Ja'an,
karena setiap kegiatan tersebut bapak-bapak selalu ikut andil dalam pelaksanaannya.
Berdasarkan hasil wawancara yang kami peroleh bu Luluk mengatakan:
Bahwa bersih desa selalu dilaksanakan setiap tahunnya saat Jum’at Pon
dan bertepatan setelah panen raya padi. Tayub merupakan kebudayaan
turun-menurun yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya setelah panen
raya padi di desa Ja’an. Warga mempercayai apabila yang di hadirkan
bukan kebudayaan Langen Bekso/ Tayub, maka di tahun berikutnya akan
2
Suwardi Endraswara, Budaya Jawa, (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2005), 279.
2
terjadi gagal panen dan terdapat bencana alam. Jika bukan tayub
kepercayaan leluhur itu katanya dan yang desa Ja’an itu marah, dan
dampaknya gagal panen, terus gelisah hatinya.3
Dari paparan di atas bahwa keberadaan Langen Bekso/Tayub sebagai
rangkaian acara bersih desa di desa Ja’an mempengaruhi pola cocok tanam di desa
Ja’an. Maka dari uraian itulah penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam,
mengenai pentas seni Tayub sebagai ritual untuk mendatangkan kemakmuran di desa
Ja’an.

B. Batasan Masalah
Mengingat banyaknya perkembangan yang bisa ditemukan dalam
permasalahan ini, maka perlu adanya batasan masalah yang jelas mengenai apa yang
dibuat dan diselesaikan dalam program ini. Adapun pembahasan yang dibatasi adalah
seputar aspek Langen Bekso yang ada di desa Jaan dan dampak apa yang diberikan
apabila tidak menghadirkan Langen Bekso ketika bersih desa Jaan.

C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan Langen Bekso/Tayub?
2. Mengapa harus Langen Bekso yang di tanggap ketika bersih desa?
3. Apa dampak yang diberikan ketika tidak melaksanakan bersih desa?

D. Tujuan
1. Mendiskripsikan pengertian Langen Bekso
2. Menjelaskan alasan dibalik kebudayaan Langen Bekso
3. Menjelaskan dampak yang diberikan ketika tidak melaksanakan Bersih Desa.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun secara
praktis, dengan pengertian sebagaiberikut :
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan bisa dimanfaatkan untuk
memperkaya khasanah dan ilmu tentang kebudayaan Tayub.
2. Manfaat praktis
a. Bagi penulis memberikan pemahaman tentang teori eksistensi untuk
menganalisis fenomena kesenian Tayub yang berfungsi sebagai ritual
kesuburan yang bersifat magis simpatetis
b. Bagi masyarakat desa Ja’an diharapkan sebagai bahan masukan agar
masyarakat mengerti lebih mendalam mengenai budaya Langen Bekso/ Tayub.

3
Luluk Kurniawati, Wawancara, Ja’an, 06 Oktober 2018.
3
c. Bagi mahasiswa diharapkan mampu menambah ilmu dan wawasan dalam
kegiatan penelitian, dan mampu sebagai bekal teori yang diperoleh dibangku
kuliah serta sebagai upaya mengembangkan ilmu pengetahuan.
F. Penelitian Terdahulu
Peneliti menemukan karya ilmiyah tentnag tadisi Tayub yang dilakukan oleh
Imam Zamahsyari pada skripsi tahun 2007 yang berjudul “Kesenian Tayub sebagai
media komunikasi masyarakat” (study kasus di desa Sumberejo, kecamatan
Tanjunganom, kabupaten Nganjuk.). Jurusan komunikasi fakultas dakwah UIN Sunan
Ampel Surabaya.
Peneliti yang lain ditulis oleh Ratna Margareta yang berjudul “Unsur Religius
Pemetasan Tayub “SREDEG” dalam upacara Adat Bersih Desa di Desa Karangsari
Kecamatan Jatioso, Kabupaten Karanganyar.” Skripsi dari UNS jurusan sastra daerah
tahun 2013 membahas tentang Tayub yang ada di desa Karangsari dalam upacara adat
bersih desa dengan tokoh mbah Sredeg. Tayub Sredeg menjadi hal yang wajib
dilaksanakan pada upacara adat bersih desa dikarenakan Tayub Sredeg dapat
membawa masyarakat desa Karangsari meningkat kehidupannya.
Peneliti ingin melanjutkan penelitian terdahulu mengenai kesenian Tayub,
dengan judul “Pentas Seni Tayub sebagai Ritual untuk Mendatangan Kemakmuran di
Desa Ja’an”, kecamatan Gondang, kabupaten Nganjuk.
Namun yang menjadi perbedaan disini adalah dalam hal perumusan masalah.
Dalam hal ini peneliti membahas tentang alasan dibalik kebudayaan Langen Bekso
atau Tayub beserta dampak yang diberikan ketika tidak melaksanakan bersih desa.

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Tayub
Tayub dalam pengertian secara umum adalah kesenian tradisional yang dilihat
dari segi bentuk dan teknis penyajiannya merupakan tari-tarian yang diringi oleh
musik gamelan, penyajian tari-tarian maksudnya adalah penyajian tari yang
dibawakan oleh seorang diri, berpasangan antara pria dan wanita, atau menari secara
bersama-sama, sedangkan musik gamelan adalah hidangan vokal instrumental dari
seperangkan ansambel gamelan.
Menurut Anis Sujana dalam bukunya yang berjudul “Tayuban Kalangenan
Menak Priangan” istilah nayuban merupakan bentuk dari kata dasar Tayub yang
kemudian di beri imbuhan/akhiran. Arti kata Tayub sendiri tidak diketahui secara
jelas. Keterangan yang diperoleh dari Mangkunegaraan kata Tayub terbentuk dari
dua kata yaitu mataya yang berarti tari dan guyub yang berarti rukun bersama
sehingga timbul perubahan dari dua kata menjadi satu mataya dan guyub jadi Tayub
dan berubah menjadi nayub. Tayuban muncul pada pesta-pesta perayaan seperti
khitanan, perkawinan dan tampil pada perayaan-perayaan kenegaraan seperti hari-
hari Nasional.4
Kesenian Tayub pertama kali muncul di Surakarta pada abad ke-19, pada saat itu
kesenian Tayub merupakan hiburan bagi para segenap masyarakat, terutama para
bangsawan dan pemuka-pemuka desa yang digelar dalam sebuah acara pernikahan
dan khitanan.
Pada awal kemunculannya yang menjadi ciri khas kesenian Tayub pada saat itu
terdapat penari wanita atau ronggeng memiliki peranan yang sangat central. Unsur
lain juga di temukan minuman keras, lawakan serta tari-tarian. Dapat dikatakan
bahwa yang menjadi ciri khas dalam pertunjukan kesenian Tayub yaitu bernuansa
feodal bersifat pemborosan karena dengan latar belakang persaingan dan gengsi
terhadap tamu-tamu yang lainnya, tetapi dalam hal ini Sjuana mengemukakan
bahwa:
Dalam sajian kesenian Tayub ronggeng dan minuman keras adalah
unsur-unsur pokok yang melandasi terjadinya peristiwa, tetapi
diketahui bahwa perlakuan yang berlebihan terhadap kedua unsur itu
bukanlah suatu keharusan, perbuatan-perbuatan boros menjadi ciri
utama tumbuh bukan sekedar beban yang harus diberikan, melainkan
juga karena adanya persaingan diantara mereka (priyayi) dalam
memelihara praja dan gengsi.

4
Anis Sujana, Tayuban Kalangenan Menak Priangan, (Bandung: STSI Press Bandung,2002).
5
Menurut uraian yang dikemukakan di atas perbuatan boros merupakan ciri dari
pertunjukan kesenian Tayub, namun kegiatan tersebut bukanlah suatu keharusan
yang harus dilaksanakan, perbuatan tersebut sebetulnya didasari oleh alasan untuk
memelihara praja dan gengsi di kalangan priyayi.

B. Seni Pertunjukan Kesenian Tayub


Dalam pertunjukannya kesenian Tayub terdiri dari penari pria (pengibing/nu
ngibing) dan dibagi menjadi dua kategori yaitu penari pokok dan penari tambahan
atau disebut dengan istilah pamair. Selain itu ada penari wanita yang dinamakan
ronggeng serta penari yang berperan sebagai pengatur pertunjukan yang disebut juru
baksa. Adapun susunan gerak tari Tayub tidak menetap karena ibing Tayub
merupakan penyajian tari-tarian yang struktur koreografinya tidak baku atau kata
lain bersifat improvisasi, tetapi walupun demikian tari Tayub telah memiliki patokan
atau ragam-ragam gerak seperti gerak- gerak bukaan/adeg-adeg, jungkung ilo, aced,
minced, keupat, engkeg, galayar, dan baksarai.
Tayuban muncul pada suatu pesta atau perayaan dalam rangka khitanan,
perkawinan dan perayaan-perayaan kenegaraan di kabupaten yang di dalamnya
khusus terdapat penyajian tari sebagai pemberi kenangan dari para undangan serta
yang mempunyai hajat atau penyelenggara. Penyajian tari pertama dalam Tayuban
biasanya pertama menari itu salah seorang tamu undangan yang hadir yang tinggi
pangkat atau jabatannya.
Selain itu pertunjukan juga selalu ada dalam pelaksanaan upacara bersih desa,
Upacara nyadran, ruwatan dan masih banyak lagi, salah satu pertunjukan rakyat
yang berfungsi dalam ritual adalah tayub.

C. Struktur Pertunjukan Kesenian Tayub


Dalam struktur pertunjukan Kesenian Tayub terdapat beberapa tahapan dalam
pertunjukannya, tahapan-tahapan tersebut dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu
pembuka, isi, dan penutup.5
Demikian halnya dengan group kesenian Tayub (Langen Bekso), dalam sajian
pertunjukannya meliputi tiga tahapan yaitu pembukaan, isi dan penutup. Selain

5
Prastyca Ries Navy Triesnawati, Artikel Kesenian Tayub Di Lingkung Seni “Mekar Pusaka
Gentrabuana” Kabupaten Subang, 2003.
6
tahapan-tahapan pertunjukan terdapat pula aspek pertunjukan
yang terkandung dalam pertunjukan kesenian Tayub.
1. Aspek Pertunjukan
Dalam struktur pertunjukan pada kesenian Tayub mengemukakan bahwa
aspek-aspek pertunjukan dalam kesenian Tayub meliputi sebagai berikut:
a. Pelaku
Pelaku pertunjukan terdiri dari penari pria yang dipilih
menjadi dua kategori yaitu penari pokok dan penari pemair.
Selain itu ada penari wanita yang dinamakan ronggeng serta
penari yang berperan sebagai pengatur pertunjukan yang
disebut juru baksa.
b. Penari pokok (pengibing/nu ngibing)
Penari pokok adalah pria yang tampil pertama kali dalam
seubah babak lagu, dan biasanya adalah ‘gegedan’ atau yang
dipandang paling terkemuka di antara yang hadir.
c. Pamair
Pamair adalah penari (pria) yang, mairan ‟(menjawab/merespon).
Artinya turut menari bersama dengan penari pokok.
d. Ronggeng
Ronggeng adalah penari wanita profesional yang difungsikan
sebagai partner penari pria, keterlibatan penari wanita yang
disebut ronggeng dipandang sebagai unsur yang sangat
menentukan bagi terselenggaranya pertunjukan Tayuban.
D. Kebudayaan Langen Bekso
Tari tradisional sangat erat hubungannya dengan lingkungan di mana tarian itu
lahir. Ia tidak mandiri, tetapi luluh lekat dengan adat setempat, pandangan hidup, tata
masyarakat, agama atau kepercayaan dan lain sebagainya.6
Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari zaman penjajahan Belanda
namun terus terpelihara hingga pemerintahan yang dipegang oleh Sultan
Pangkubuwono III. Karena Tayub sudah terkena pengaruh negatif maka Sultan
memberikan tari Tayub ini ke Bupati sebagai tari Pasrawungan yang kemudian
dikembangkan hingga sekarang.
Langen Bekso atau tayub yang dilaksanakan di desa Ja’an Semuanya demi
sebuah ritual kesuburan. Pada upacara Langen Bekso ini penari yang tampil pertama
bersama tledhek tayub adalah ketua desa. Pasangan antara ketua desa dengan tledhek
dalam tarian itu disebut bedah bumi atau membedah bumi. Tarian berpasangan itu
juga melambangkan hubungan antara pria dan wanita dengan tanah yang dibedah
6
Ben Suharto, Tayub Pertunjukan dan Ritual Kesuburan, (Bandung: Masyarakat Seni Petunjukan
Indonesia, 1999), 1-2.
7
atau dibelah untuk ditanami padi. Dengan kata lain membelah rahim wanita yang
dimaksudkan sebagai membelah bumi.7
Langen Bekso di laksanakan setiap setelah panen raya padi pada hari Jum’at
Pon. Langen Bekso merupakan kesenian Jawa yang kerap kali dipertontonkan untuk
acara bersih desa di desa Ja’an dan merupakan kepercayaan nenek moyang pada
zaman dahulu.
E. Dampak Bersih Desa
1. Dampak positif jika diadakan acara bersih desa antara lain:
a. Mampu melestarikan budaya Jawa
b. Sebagai hiburan di masyarakat
c. Menambah pendapatan masyarakat di desa Ja’an dengan berjualan makanan,
minuman dan aneka mainan.
2. Dampak negatif jika diadakan acara bersih desa antara lain:
a. Masyarakat cenderung mengkonsumsi minuman keras
b. Sering terjadi tawuran
c. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar
misalnya (membuang sampah sembarangan).
Pertunjukan kesenian tayub bagi masyarakat memiliki dampak positif dan
negatif. Dampak positif misalnya dapat terjalin hubungan yang baik antar warga
masyarakat, dan dengan adanya pertunjukan kesenian tayub masyarakat dapat
menikmati kesenian tradisinya. Untuk dampak negatif antara lain adanya minum
minuman keras yang dilakukan oleh para pengibing. Tayub sangatlah erat dengan
suatu peristiwa yang melibatkan penggunaan minuman keras ketika ada suatu
upacara. Sekilas adat kebiasaan semacam ini dipengaruhi dari budaya hindu yang
sudah melekat sejak zaman nenek moyang yanga ada di pulau Jawa, dimana dahulu
mayoritas masyarakat menganut agama Hindu. Mengakibatkan masyarakat Indonesia
masih terbiasa dengan hal semacam itu.
Seiring berjalannya waktu, sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram,
kesenian ini mulai digali kembali. Malah pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian
Beksan di Keraton yang digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. Namun
disayangkan, penjajah Belanda memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C,
Cium, Ciu dan Colek. Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah
Belanda terus terpelihara hingga pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III.
Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono ke IV, beliau tidak
berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut. Akhirnya Tayub ditetapkan
sebagai tari Pasrawungan di masyarakat. Selanjutnya kesenian Tayub mengalami
perkembangan di daerah Sragen, Wonogiri dan Purwodadi. Di daerah Sragen sendiri,
7
Evi Kuswandani, Wawancara, Ja’an, 06 Oktober 2018.
8
kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan
dan Ngrampal. Citra kesenian Tayub pada waktu itu, diperburuk perbuatan para
penari pria atau penonton. Dulu, para penari ini biasa memberi sawer (memberikan
uang pada penari wanita) dengan cara memasukkannya ke kemben (kain penutup
dada). Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu ”murahan”. Tetapi, di era
sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi.

F. Bentuk Penyajian Kesenian Tayub


Pelaku pementasan seni Tayub ada beberapa pemeran yaitu pengarih,
waranggana, penayub dan pengrawit gamelan. Secara rinci masing-masing pelaku
Tayub akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengarih
Pengarih adalah orang yang mengatur jalannya pertunjukkan Tayub dari
awal sampai akhir. Selain itu juga bertugas mengatur urutan giliran kehormatan
penari bagi para tamu, melerai perkelahian yang mungkin terjadi, mencegah hal-
hal yang tidak diinginkan misalnya; keributan, mabuk-mabukan dan pelanggaran
asusila lainnya. Pengarih berjumlah satu orang atau biasa disebut sebagai
pramugari Tayub.
2. Waranggana atau sindir
Waranggana adalah penari wanita dalam Tayuban yang selain bertugas
memberikan sampur kepada tamu, juga menyanyi dan menari bersama pengibing
(mbesoh). Seorang Waranggana atau sindir dalam penampilannya selain menari,
juga harus bisa menyanyikan tembang. Selain bermodalkan paras cantik, seorang
waranggana harus memiliki suara yang bagus dan menguasai berbagai macam
lagu. Jumlah waranggana atau sindir dalam pertunjukan tayub tidak pasti, ada
yang 2, 4, 6 bahkan ada yang 8 orang penari, tergantung dari penanggap dan
biasanya disesuaikan dengan banyaknya tamu yang diundang.
3. Penayub atau mbesoh
Penayub adalah sebutan bagi tamu yang diberikan kehormatan untuk
menari bersama waranggana dalam acara Tayuban yang ditentukan oleh pengarih
secara berurutan atau bergilir. Adapun urutan penayub ditentukan berdasarkan
status sosial, pangkat, kekayaan, dan pengaruh dari kalangan pegawai pemerintah
(camat, lurah, polisi, tentara dan pamong desa), pemuda-pemuda desa, pengusaha
dan para petani. Namun, secara umum penayub atau mbesoh dilakukan secara
9
jamak atau bersamaan. Para penayub menari secara berjajar berhadapan dengan
penayub lainnya. Lalu ditengah-tengah terdapat beberapa waranggana yang
menari dan menyanyi.
4. Pengrawit gamelan
Pengrawit gamelan adalah sebutan bagi para pemain (penabuh) gamelan Jawa
lengkap yang mengiringi proses pagelaran Tayub berlangsung. Macam instrumen
gamelan yang di pakai dalam proses pagelaran Tayub adalah kendang, gong,
bonang, saron, peking, kenong, kempul, slentem dan sebagainya. Tata cara dalam
Tayuban pada umumnya tidak begitu mengikat. Kalaupun dalam beberapa hal
terdapat ketentuan ketentuan yang kelihatannya sudah mentradisi, namun
ketentuan-ketentuan itu tidak begitu ketat. Orang yang pertama kali memasuki
ruangan (arena) Tayuban, menurut kebiasaan adalah pengrawit atau penabuh
gamelan, hal ini dimaksudkan agar saat tamu undangan memasuki ruangan,
mereka telah disambut dengan gending-gending tetabuhan, supaya suasana
perayaan menjadi lebih hangat.
Selanjutnya, pengarih atau pramugari Tayub membuka acara dengan pidato
pembukaan oleh pramugari atas nama pribadi, tuan rumah dan perwakilan suku
atau biasa disebut lurah desa. Kemudian dilanjutkan dengan tari pembuka yang di
lakukan oleh waranggana. Biasanya tari gambyong jika pada malam hari atau tari
blendrong jika tanggapan pada siang hari. Lalu diteruskan dengan adat
pendayangan yaitu menghormati kepercayaan yang bertujuan agar pagelaran
berjalan lancar. Kemudian pengarih atau pramugari mempersilahkan dan memilih
para tamu yang ingin menari bersama waranggana dan mengatur urutan giliran
untuk mbesoh bersama waranggana. Selanjutnya,sebagai puncak acara para
waranggana berdiri untuk siap menari bersama penayub (tamu) yang sudah
ditentukan oleh pengarih dengan terlebih dahulu di berikan sampur (sejenis
selendang) kepada penayub sebagai penanda bahwa penayub siap menari. Lalu
para waranggana yang lain menyanyi dengan menyuguhkan satu tembang Jawa.
Begitu satu tembang itu selesai maka penayub diganti lagi dengan penayub
yang lain dan waranggana yang menari dan menyanyi pun berganti pula. Tempat
penyelenggaraan biasanya berupa panggung atau kadang juga disediakan
semacam latar (halaman) yang luas bagi penayub, sedangkan waktunya
berlangsung semalam suntuk di mulai dan pukul 20.00 sampai dengan pukul
05.00 (subuh). Namun pada perkembangan selanjutnya hanya dilakukan setengah
malam saja yaitu antara pukul 20.00 sampai pukul 24.00.
10
G. Perkembangan Kesenian Tayub
Semua kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki dinamika atau gerakan
sehingga suatu kebudayaan pasti akan bersifat dinamis. Meskipun kebudayaan
nampak statis atau tetap, tetapi pada hakikatnya kebudayaan bergerak walaupun
sangat lambat sekali. Dalam hal ini akan muncul suatu teori yang menyatakan bahwa
adanya suatu kebudayaan pasti akan mengalami suatu proses yang lazim dinamakan
perubahan kebudayaan. Secara rinci Selo Soemardjan mendefinisikan bahwa
perubahan kebudayaan adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat di
dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial dan pola-pola perilaku di
antara kelompok dalam masyarakat kelompok dalam masyarakat yang disebabkan
oleh perubahan-perubahan kondisi geografis kebudayaan material, komposisi
penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam
masyarakat. Adanya perubahan kebudayaan juga nampak terlihat jelas dalam
perkembangan kesenian Tayub. Perubahan kebudayaan tersebut dapat kita
klasifikasikan menjadi empat pokok perubahan yaitu :
1. Perubahan Fungsi
Pada awalnya pagelaran Tayub murni mengandung unsur magic (sakral)
dan religius. Pagelaran Tayub biasanya hanya dipentaskan jika ada upacara-
upacara adat daerah setempat seperti nyadran (sedekah bumi) yang biasa
diselenggarakan di kuburan-kuburan keramat, selamatan atau syukuran bagi para
bupati, camat, lurah atau pejabat negara yang lain jika terpilih sebagai pemimpin
yang baru atau upacara-upacara tradisi lain yang bersifat sakral. Namun, seiring
dengan perkembangan zaman pagelaran Tayub berubah fungsinya menjadi
profan (sekuler) yaitu pagelaran Tayub lebih dikenal sebagai seni hiburan, tari
pagelaran dan tontonan bagi masyarakat .
2. Perubahan Etika dan Moral bagi Penayub (mbesoh)
Dahulu memang dalam prakteknya terdapat berbagai macam praktek
negatif oleh para penayub (mbesoh) yang mengandung unsur mesum dan sarat
akan konsumsi minuman keras (toak) ketika penayub menari dengan para sindir
(waranggana). Praktek mesum itu berupa pemberian sawer yang berupa uang
kepada sindir yang menari dengannya dengan menyelipkannaya pada belahan
payudara sang waranggana, semakin banyak sawerannya maka penayub akan
semakin lama menari dengan waranggana. Bahkan tak jarang dari para
waranggana yang akhirnya terlibat prostitusi dengan penayub. Adanya konsumsi
minuman keras (toak) ini pada awalnya difungsikan sebagai penghormatan
11
kepada tuan rumah, pemuka desa dan para undangan. Bila minuman yang
ditawarkan oleh waranggana kepada tuan rumah diminum, itu tandanya
pengunjung pagelaran Tayub juga boleh meminumnya.
Fungsi lain dari minuman ini adalah diharapkan bisa membantu sugesti
dan kepercayaan diri seorang penayub (mbesoh). Namun, adanya praktek ini kini
tidak ditemukan lagi pada umumnya pagelaran Tayub sekarang lebih sopan,
tertib, dan memiliki keunikan, terutama pada cengkok tembangnya. Meskipun
dalam prakteknya pada pagelaran Tayub masih ada unsur sawer, namun cara
pemberiannya di atur melalui pramugari Tayub atau diselipkan dibalik sampur
waranggana.
3. Perubahan Penyajian (Jenis Tembang Yang Dinyanyikan Waranggana)
Jika dahulu tembang-tembang yang dinyanyikan oleh waranggana merajuk
pada tembang-tembang jawa asli atau campur sari. Maka dalam prakteknya
menggunakan lagu dangdut dan pop yang biasanya sedang ngetren di pasaran.
Namun hal itu tentu saja disesuaikan dengan irama gamelan Jawa pada
umumnya. Hal ini bisa dijadikan analisa bahwa kesenian Tayub memiliki sifat
terbuka terhadap kebudayaan asing yang masuk dan cenderung melakukan
inovasi-inovasi terbaru pada bentuk penyajian tembangnya. Itu berarti para
seniman Tayub mencoba mengemas Tayub lebih modern penyajiannaya agar para
penggemar Tayub tidak berkurang.
4. Perubahan Pada Peminat Tayub
Jika dahulu sebelum musik-musik pop dan dangdut mewarnai belantika
musik Indonesia. Para penduduk merujuk pada tembang-tembang Jawa dan
campur sari sebagai konsumsi musiknya. Hal ini juga berpengaruh pesatnya
perkembangan Tayub pada masa itu karena secara nyata belum ada saingannya.
Namun, setelah masuknya musik-musik dangdut dan pop yang mewarnai musik
Indonesia, konsumsi musik para penduduk pun beralih mengkiblat pada duo
musik itu. Hal inipun secara tidak langsung pada penurunan secara drastis
penikmat kesenian Tayub itu sendiri.
Khususnya kaum remaja pada saat ini. Mereka bahkan tidak tahu menahu
bahkan acuh terhadap tradisi tayub itu sendiri. Hal ini pun memang tidak lepas
dari anggapan sebagian masyarakat bahwa pagelaran Tayub itu dosa. Karena
dahulu konotasi dari Tayub memang negatif, sedang apabila kita amati lebih

12
lanjut bahwa penyanyi dangdut pun kian lama terlihat sangat erotis dalam
berpakaian maupun goyangannya. Hal ini tentu saja sangat jauh berbeda jika
dibandingkan dengan Tayub pada masa sekarang ini. Namun, secara fakta
masyarakat zaman sekarang lebih sering mengundang elekton atau grup musik
dangdut seperti palapa, sera atau yang lain untuk acara-acara seperti perkawinan
dan khitanan yang dulunya merupakan sektor dari Tayub itu sendiri.
H. Manfaat Pagelaran Tayub Bagi Masyarakat
1. Manfaat Bagi Seniman Tayub
a. Bagi para seniman Tayub yang notabene personilnya adalah para petani dan
ibu rumah tangga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari upah selama
masa tunggu panen tiba.
b. Pagelaran Tayub sebagai ungkapan jiwa seni dan estetika musik Jawa bagi
para seniman tayub.
2. Manfaat Bagi Pemerintah Daerah
a. Pagelaran Tayub dapat dijadikan sebagi suatu obyek pariwisata budaya yang
sangat berpotensi dan bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan nasional
Indonesia.
b. Pagelaran Tayub dapat menjadi sebuah aset daerah untuk mengangkat
perekonomian daerah melalui sektor pariwisata budaya.
3. Manfaat Bagi Masyarakat
a. Sebagai aset kebudayaan daerah yang mempunyai nilai adiluhung dan perlu
dikembangkan terus menerus.
b. Masyarakat dapat menikmati suatu sajian musik yang khas dan tradisional
yang memiliki nilai kesopanan,keamanan dan fungsi sosial yang baik di
masyarakat.
c. Sebagai sebuah kesenian khas daerah yang perlu diwariskan kepada generasi
muda agar terjaga kelestariannya.

BAB III

13
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian


Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian kualittif
adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data dekriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.8
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penelitian
deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan bentuk penelitian yang paling dasar, yakni
mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik yang
alamiah maupun yang direkayasa. Penelitian deskriptif memiliki beberapa varian,
tetpapi pada penelitian ini menekankan pada studi kasus. Studi kasus yaitu metode
untuk menghimpun dan menganalisis data berkenaan dengan suatu kasus.9
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di desa Ja’an, kecamatan Gondang, kabupaten
Nganjuk.
C. Kehadiran Peneliti
Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif. Untuk
itu kehadiran peneliti di lapangan merupakan instrument penting dalam rangka
memperoleh data dari obyek yang akan diteliti.
Adapun kehadiran peneliti di latar penelitian yaitu untuk menemukan dan juga
mengeksplorasi data-data yang terkait dengan fokus penelitian, yang didekati dengan
observasi, sehingga peneliti merupakan observasi penuh. Selama di lapangan, penulis
berperan sebagai pengamat partisipan, senantiasa menghindari segala sesuatu yang
bisa merugikan subyek. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument
sekaligus sebagai alat pengumpul data atau sebagai instrument kunci.10
D. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subyek darimana data diperoleh. Adapun
sumber data dalam penelitian ini adalah:
Sumber data primer yaitu, data yang diperoleh langsung dari subyek peneliti dengan
menggunakan alat pengukur atau alat pengambil data langsung pada subyek
penelitian. Sumber data primer ini adalah kepala desa, sesepuh desa, dan tokoh agama
data tersebut diperoleh melalui observasi dan wawancara.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data di lapangan dalam rangka mendeskripsikan dan
menjawab permasalahan yang sedang diteliti, digunakan metode pengumpulan data
sebagai berikut:

8
Lexy J. Moelong, Metode Penelitian, (Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2000), 3.
9
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatid Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2010), 9.
10
Ibid, 12.
14
1. Metode Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan pengamatan
terhadap objek penelitian.11 Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
peneliti langsung mendatangi daerah atau yang dijadikan objek penelitian.
Observasi (pengamatan) adalah metode pengumpulan data di mana
peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana yang
mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian terhadap peristiwa-peristiwa itu
bisa dengan melihat, mendengar, merasakan, yang kemudian dicatat seobyektif
mungkin.
Peranan pengamat yang digunakan adalah partisipasi sebagai pengamat, yaitu
masing-masing pihak, baik pengamat maupun yang diamati, menyadari
peranannya. Peneliti sebagai pengamat membatasi diri dalam berpartisipasi
sebagai pengamat dan responden menyadari bahwa dirinya adalah obyek
pengamatan.
2. Wawancara
Melalui wawancara, peneliti bisa merangsang responden agar memiliki
wawasan pengalaman yang lebih luas.12 Pada metode ini peneliti langsung
berhadapan dengan responden atau subjek yang diteliti.
Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara penetiti dan
responden. Komunikasi berlangsung dalam bentuk tanya-jawab
dalam hubungan tatap muka, sehingga gerak dan mimik responden
merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal.
Bentuk wawancara yang digunakan adalah wawanacara campuran,
bentuk ini merupakan campuran antara wawancara berstruktur dan tak
berstruktur.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data-data mengenai hal-hal yang berupa
catatan, agenda, majalah, surat kabar, dan lain sebagainya. Data sekunder dalam
penelitian adalah bahan kepustakaan baik buku, jurnal ilmiah, artikel, ensiklopedi
dan terbitan yang membahas seputar Tayub.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknis analisis data
deskriptif. Dalam analisis data ini penulis mendeskripsikan dan menguraikan tentang
Pentas Seni Tayub Sebagai Ritual Uutuk Mendatangkan Kemakmuran di desa Ja’an

11
Yatim Rianto, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya: SIC, 2000), 96.
12
Ibid, 213.
15
Gondang Nganjuk. Dalam penulisan kualitatif analisis data dilakukan selama dan
setelah pengumpulan data. Oleh karena itu penulis telah merumuskan:
1. Analisis Selama Pengumpulan Data
Dalam tahap ini penulis berada di lapangan untuk mengumpulkan data dari
berbagai sumber. Untuk memudahkan dalam pengumpulan data tersebut penulis
menetapkan hal-hal sebagai berikut: 1) mencatat hal-hal yang pokok saja, 2)
mengarahkan pertanyaan pada fokus penelitian, 3) mengembangkan pertanyaan-
pertanyaan.
2. Analisis Setelah Pengumpulan Data
Data yang sudah terkumpul ketika berada di lapangan yang diperoleh dari
observasi, wawancara, dan dokumentasi masih berupa data yang acak-acakan
belum tersusun secara sistematis atau istilah dalam penelitian masih berupa data
mentah. Dalam tahap ini analisis dilakukan dengan cara mengatur, mengurutkan
data ke dala, suatu pola, kategori, sehingga didapatkan suatu uraian jelas, terici,
dan sistematis.
G. Pengecekan Keabsahan Data
Agar data yang telah diperoleh dalam penulisan ini terjamin tingkat validitasnya
maka perlu dilakukan pengecekan atau pemeriksaan keabsahan data. Adapun penulis
dalam melakukan pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik Triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data tersebut.13

13
Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, 178.
16
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Saat mengadakan Tayub untuk memperingati acara sedekah bumi, masyarakat desa
melakukan ritual dengan menaruh sesaji yang diletakkan di suatu tempat yang sudah
ditentukan oleh masyarakat ketika sesaji sudah terkumpul masyarakat berdoa bersama-
sama dengan tujuan mensyuruki apa yang diberikan kepada mereka selama ini dan
berharap dikemudian hari ketika warga desa mulai panen agar diberikan hasil yang
melimpah.
Adapun sesaji yang digunakan pada saat ritual sebagai berikut:
1. Sego gurih (nasi kuning) yang ditaruh tampah
2. Ayam bakar
3. Dupa/kemenyan
4. Hasil panen/seikat padi
Akan tetapi ketika mereka melakukannya dengan cara yang berbeda dengan cara
yang dilakukan oleh nenek moyangnya dahulu. Setelah menaruh sesaji mereka berdo’a
layaknya umat muslim lainnya karena agama mereka muslim. Bukan dengan cara
memuja dewa atau roh penunggu sawah mereka, karena warga sudah paham hal seperti
itu dikatakan musryik karena menyembah makhluk lain selain Allah SWT.
Suatu upacara yang selalu diselenggarakan oleh masyarakat desa tertentu yang
intinya membersihkan atau menghalau segala gangguan, kejahatan, hama dan seagainya
yang berfungsi untuk:
1. Mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Dewi Sri/Padi dan dhayang
penunggu desa atau hasil pertanian yang telah tercapai.
2. Memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Dewi Sri/Padi dan dhayang
penunggu desa itu, baik terhadap seluruh warga masyarakat desa tersebut maupun
segenap hasil pertanian mereka.

BAB V

17
PENUTUP
A. Kesimpulan
Langen Bekso atau yang sering disebut juga Tayub merupakan budaya Jawa tari-
tarian yang dilakukan oleh wanita dan pria yang berpasang-pasangan. Keberadaan Tayub
sendiri berpangkal pada cerita kedewataan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi
mataya (menari berjajar jajar) dengan gerak yang guyub (serasi). Di desa Ja’an, Tayub
merupakan kebudayaan yang sering dilakukan ketika acara bersih desa Ja’an setelah
panen raya padi.
Langen Bekso harus dilaksanakan di desa Ja’an karena menurut kepercayaan nenek
moyang, Langen Bekso merupakan pagelaran yang harus dipertontonkan ketika Bersih
Desa. Masyarakat mempercayai bahwa pagelaran Langen Bekso merupakan suatu
kebudayaan yang harus diadakan untuk mengucapkan rasa syukur kepada tuhan dan agar
tidak terjadi bencana di desa Ja’an tersebut.
Langen bekso mempunyai dampak positif dan negatif di desa Ja’an. Dampak
positifnya adalah masyarakat merasakan gembira karena ada hiburan setiap setahun
sekali, dan dimana pada acara tersebut juga banyak dari masyarakat berdagang untuk
menambah pendapatan keluarganya. Sedangkan dampak negatifnya seperti sering terjadi
pertawuran dan memberikan peluang masyarakat untuk minum-minuman keras karena
ada beberapa masyarakat yang belum meninggalkan kebudayaan minum-minuman keras.

18
DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saifuddin. Agama Dan Kebudayaan. Surabaya: Bina Ilmu, 1979
Endraswara, Suwardi. Budaya Jawa. Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2005
Kurniawati, Luluk. Wawancara. Ja’an, 2018
Kuswandani, Evi. Wawancara. Ja’an, 2018
Moelong, Lexy J. Metode Penelitian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2000
Rianto, Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 2000
Suharto, Ben. Tayub Pertunjukan dan Ritual Kesuburan. Bandung: Masyarakat Seni
Petunjukan Indonesia, 1999
Sujana, Anis. Tayuban Kalangenan Menak Priangan. Bandung: STSI Press Bandung, 2002
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatid Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2010
http://www.academia.edu/7198129/SENI_TAYUB

19
DOKUMENTASI

Gambar 1.1 Balai Desa Ja’an-Gondang

Gambar 1.2 Kegiatan Selametan di makam desa Ja’an-Gondang

Gambar 1.3 Tari Tayub

20
21