Anda di halaman 1dari 19

MODEL ASSURE

A. Konsep Model Pembelajaran ASSURE


Model pembelajaran ASSURE merupakan model pembelajaran yang
sederhana yang dapat digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif,
efesien, dan menarik. Tahap-tahap dalam model ASSURE mengacu pada tahap-
tahap yang disebut sebagai "peristiwa pembelajaran" (Gagne, 1985). Dalam
penelitiannya Gagné mengungkapkan bahwa pembelajaran yang dirancang
dengan baik dimulai dengan minat peserta didik, beralih ke materi, melibatkan
peserta didik dalam praktik dengan umpan balik, menilai pemahaman peserta
didik, dan diakhiri dengan menindaklanjuti kegiatan pembelajaran yang telah
berlangsung. Model ASSURE ini menggabungkan peristiwa pembelajaran yang
merupakan hasil dari penelitian Gagné tersebut. Model ASSURE merupakan
panduan prosedural dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang
menggabungkan media dan teknologi. Adapun 6 langkah model pembelajaran
ASSURE yaitu sebagai berikut.
1. Analisis Peserta Didik
Apabila dalam suatu pembelajaran akan digunakan media dan
teknologi pembelajaran yang efektif, maka media dan teknologi tersebut harus
sesuai dengan karakteristik peserta didik, isi metode, media, dan materi. Oleh
karena itu, langkah pertama dari model ASSURE yaitu menganalisis peserta
didik. Terdapat beberapa faktor harus diperhatikan dalam menerapkan suatu
metode yang baik yaitu sebagai berikut.
1. Karakteristik Umum
Analisis karakteristik siswa yang dangkal dapat memberikan
petunjuk dalam memilih metode pembelajaran dan media. Contohnya,
peserta didik dengan keterampilan membaca kurang lancar dapat lebih
efektif apabila diterapkan media non cetak dalam pembelajaran. Jika
berhadapan dengan sub kelompok etnis atau budaya tertentu, hal yang
menjadi prioritas tinggi adalah mempertimbangankan nilai budaya dalam
memilih materi tertentu.Terkadang, analisis peserta didik akan sulit
dilakukan ketika guru baru mengenal peserta didik dan memiliki sedikit

1
waktu untuk mengamati dan mencatat karakteristik mereka. Hal ini
membuat guru lebih sulit untuk memastikan apakah semua atau mayoritas
peserta didik siap untuk metode dan media pembelajaran yang sedang
dipertimbangkan. Dalam kasus seperti itu, catatan akademis dan catatan
lainnya, serta pertanyaan langsung dan berbicara dengan peserta didik dan
guru atau pemimpin kelompok lainnya akan dapat membantu.
2. Kompetensi Khusus Peserta Didik
Ketika guru mulai merencanakan pembelajaran, asumsi pertama
guru adalah bahwa peserta didik kurang pengetahuan atau keterampilan
yang akan diajarkan dan guru memiliki pengetahuan atau keterampilan
yang dibutuhkan untuk memahami pelajaran. Asumsi ini sering keliru,
asumsi bahwa peserta didik memiliki pengetahuan atau keterampilan
prasyarat untuk memulai pelajaran, jarang bisa diterima dengan baik di
sekolah. Para ahli yang mempelajari psikologis pembelajaran menyatakan
bahwa pengetahuan awal siswa terhadap materi yang akan dipelajari itu
sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa terkait dengan materi baru
yang dipelajari (Dick and Carey, 2001). Seorang guru harus mengetahui
kemampuan awal atau pengetahuan awal siswanya, yang dapat diperoleh
melalui pertanyaan di kelas, melakukan wawancara dengan beberapa
siswa, atau dengan pemberian tes awal. Tes awal adalah penilaian yang
menentukan apakah peserta didik memiliki prasyarat yang diperlukan.
Prasyarat adalah kompetensi yang harus dimiliki peserta didik untuk
memperoleh manfaat dari pembelajaran, dengan menganalisis apa yang
peserta didik ketahui guru dapat memilih metode dan media yang sesuai.
3. Gaya Belajar
Gaya belajar mengacu pada sekelompok ciri psikologis yang
menentukan bagaimana seseorang merasakan, berinteraksi, dan merespons
secara emosional terhadap lingkungan belajar. Gardner tidak puas dengan
konsep IQ dan pandangan kesatuannya tentang kecerdasan, mencatat
bahwa "tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama; tidak semua
dari kita belajar dengan cara yang sama "(Gardner, 1993:21). Gardner
mengidentifikasi sembilan aspek kecerdasan; (1) lisan/linguistik (bahasa),

2
(2) logis/matematis (ilmiah/kuantitatif), (3) visual/spasial, (4)
musikal/berirama, (5) tubuh/kinetik (tarian/tarian/atletik), (6) interpersonal
(pengertian orang lain), (7) intrapersonal (pengertian diri sendiri), (8)
naturalis, dan (9) eksistensialis.Teori Gardner menyiratkan bahwa para
guru, perencana kurikulum, dan spesialis media harus bekerja sama untuk
merancang kurikulum dimana peserta didik memiliki kesempatan untuk
mengembangkan aspek kecerdasan yang berbeda ini. Teori ini juga
menyiratkan bahwa peserta didik sangat bervariasi dalam hal kekuatan dan
kelemahan mereka di masing-masing bidang. Sebuah sekolah yang
mengadopsi pendekatan ini akan membuat peserta didik terlibat dalam
variasi metode dan media yang jauh lebih besar daripada yang biasa
sekarang. Pembicaraan dan penjelasan guru jelas tidak cukup. Karena
peserta didik memiliki campuran kekuatan dan kelemahan yang berbeda,
kemajuan mereka harus diukur bukan oleh nilai konvensional dalam mata
pelajaran konvensional namun dengan pertumbuhan di setiap jenis
kecerdasan. Variabel gaya belajar yang dibahas dalam literatur dapat
dikategorikan sebagai preferensi persepsi dan kekuatan, kebiasaan
pengolahan informasi, faktor motivasi, dan faktor fisiologis.
a. Preference dan Kekuatan Perceptual
Sebagian besar peserta didik tidak memiliki kemampuan yang
sama dalam menangkap pembelajaran melalui auditory, visual, dan
kinestetiknya. Hal ini menjelaskan dimana siswa yang memiliki
kemampuan auditori yang baik akan senang dengan metode
pembelajaran ceramah, sedangkan siswa yang lemah dalam
kemampuan auditori dan visual akan lebih menyukai pembelajaran
dengan taktik atau kinestetik, mereka akan bosan jika diminta untuk
mendengarkan saja.
b. Kebiasaan Pengolahan Informasi
Kategori ini menjelaskan bagaimana individu melakukan
pemprosesan informasi kognitif. Model "gaya berpikir" Gregorc, yang
diuraikan oleh Butler (1986), peserta didik dikelompokkan menurut
gaya kongkrit dengan abstrak dan acak dengan berurutan. Ini

3
menghasilkan empat kategori: kongkrit berurutan, kongkrit acak,
abstrak berurutan, dan abstrak acak. (1) Peserta didik kongkrit
berurutan lebih memilih pengalaman langsung yang disajikan secara
logis. Mereka belajar paling baik dengan buku kerja, pembelajaran
terprogram, demonstrasi, dan latihan laboratorium terstruktur. (2)
Peserta didik kongrit acak bersandar pada pendekatan coba-coba,
mencapai kesimpulan dari pengalaman eksplorasi. Mereka lebih
memilih metode seperti permainan, simulasi, proyek studi mandiri, dan
pembelajaran penemuan. (3) Peserta didik abstrak berurutan
memecahkan kode pesan verbal dan simbolis dengan mahir, terutama
bila disajikan dalam urutan logis. Membaca dan mendengarkan
presentasi adalah metode yang disukai. (4) Peserta didik abstrak acak
dibedakan dengan kemampuan mereka untuk menggambar makna dari
presentasi yang dimediasi manusia. Mereka menanggapi nada dan gaya
pembicara serta pesannya. Mereka melakukannya dengan baik dengan
diskusi kelompok, ceramah dengan periode tanya jawab, dan video.
c. Faktor Motivasi
Berbagai faktor emosional telah diketahui mempengaruhi apa
yang kita perhatikan. Seberapapun banyak usaha yang kita lakukan
untuk menerima pelajaran yang diberikan dengan baik, perasaan bisa
mengganggu konsentrasi ketika belajar. Kecemasan, fokus kontrol
(internal / eksternal), tingkat struktur, motivasi berprestasi, motivasi
sosial, kewaspadaan, dan daya saing adalah variabel yang sering
disebut penting dalam proses pembelajaran.Motivasi adalah keadaan
internal yang mengarahkan orang untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Ini mendefinisikan terkait apa yang harus dilakukan bukan
apa yang bisa dilakukan(Keller, 1987). Motivasi berpengaruh terhadap
siswa untuk menentukan seberapa besar usaha yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan yang diharapkan.Motivator dapat dikategorikan
sebagai intrinsik atau ekstrinsik. Motivator intrinsik dihasilkan oleh
aspek pengalaman atau individu itu sendiri, seperti tantangan atau
keingintahuan. Sedangkan motivator ekstrinsik tidak berasal dari

4
pengalaman atau individu tetapi mengacu pada nilai atau
pengakuan.Peneliti telah menemukan bahwa motivator intrinsik
umumnya lebih efektif. Peserta didik yang secara intrinsik termotivasi
akan bekerja lebih keras dan belajar lebih banyak karena minat pribadi
mereka terhadap materi. Sehingga apabila memungkinkan paling baik
mengembangkan motivasi intrinsik siswa.Pendekatan yang membantu
untuk menggambarkan motivasi peserta didik adalah model ARCS
Keller (1987). Keller menggambarkan empat aspek penting dari
motivasi:
 Atensi, mengacu pada apakah peserta didik menganggap
pembelajaran itu menarik dan layak untuk dipertimbangkan.
 Relevan, mengacu pada apakah peserta didik menganggap
pembelajaran sebagai memenuhi beberapa kebutuhan atau tujuan
pribadi.
 Confidence, mengacu pada apakah peserta didik berharap untuk
sukses berdasarkan usaha mereka sendiri.
 Kepuasan mengacu pada penghargaan intrinsik dan ekstrinsik yang
diterima peserta didik dari pembelajaran.
d. Faktor Psikologis
Faktor-faktor yang berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin,
kesehatan, dan kondisi lingkungan adalah salah satu pengaruh yang
paling jelas terhadap efektivitas pembelajaran. Anak laki-laki dan
perempuan cenderung merespons secara berbeda terhadap berbagai
pengalaman sekolah. Misalnya, anak laki-laki cenderung lebih
kompetitif dan agresif daripada anak perempuan. Kelaparan dan
penyakit jelas menghambat pembelajaran. Suhu, kebisingan,
pencahayaan, dan waktu dalam sehari adalah fenomena sehari-hari
yang mempengaruhi kemampuan kita untuk berkonsentrasi. Setiap
individu memiliki kenyamanan dan toleransi yang berbeda mengenai
faktor-faktor ini.Tujuan penggunaan informasi tentang gaya belajar
seorang siswa adalah dengan mengadaptasi dan menjadi bahan
pertimbangan dalam memilih metode pembelajaran yang akan

5
digunakan. Mungkin sebagian besar siswa memiliki gaya belajar yang
sama namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa siswa yang
memiliki cara belajara yang berbeda yang harus menjadi bahan
pertimbangan bagi guru dalam memilih metode, media, dan materi
untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan gaya belajar dan faktor
fisiologis yang berbeda.
2. Merumuskan Tujuan
Langkah kedua dalam Model ASSURE adalah untuk menyatakan
tujuan pembelajaran. Hasil belajar apa yang diharapkan setiap peserta didik?
Lebih tepatnya, kemampuan baru apa yang dimiliki peserta didik saat
menyelesaikan pembelajaran? Tujuannya adalah pernyataan tentang apa yang
akan dicapai, bukan bagaimana hal itu akan tercapai.Tujuan pembelajaran
yang ditetapkan haruslah spesifik pentingnya merumuskan tujuan
pembelajaran dikarenakan beberapa hal yaitu: Pertama, guru harus mengetahui
tujuan agar bisa memilih metode dan media yang tepat. Tujuan akan memandu
urutan aktivitas belajar dan pilihan media yang digunakan. Mengetahui tujuan,
juga akan membuat guru menciptakan lingkungan belajar di mana tujuan
dapat dicapai. Alasan dasar lain untuk menyatakan tujuan instruksional adalah
untuk membantu memastikan evaluasi yang tepat. Guru tidak akan tahu
apakah peserta didik telah mencapai tujuan kecuali benar-benar yakin apa
tujuan itu.Tanpa tujuan eksplisit, peserta didik tidak akan tahu apa yang
diharapkan dari mereka. Jika tujuan jelas dan secara khusus dinyatakan,
pembelajaran dan pengajaran menjadi berorientasi obyektif.
1. ABCDs dari Tujuan yang Dirumuskan dengan Baik
Tujuan yang dinyatakan dengan baik dimulai dengan memberitahu
peserta didik untuk siapa tujuan tersebut. Ini kemudian menentukan sikap
atau kemampuan untuk ditunjukkan dan ketentuan dimana sikap atau
kemampuan akan diamati.
Audience, peserta didik dengan segala karakteristiknya, siapapun peserta
didik, apapun latar belakangnya, jenjang belajarnya, serta kemampuan
prasyaratnya sebaiknya jelas dan rinci. Karena pencapaian tujuan

6
tergantung pada apa yang dilakukan peserta didik, tujuannya dimulai
dengan menyatakan kemampuan siapa yang akan diubah.
Behavior, prilaku belajar yang dikembangkan dalam pembelajaran, prilaku
belajar mewakili kompetensi, tercermin dalam penggunaan kata kerja.
Kata kerja yang digunakan biasanya yang terukur dan dapat diamati.
Condition, situasi kondisi atau lingkungan yang memungkinkan bagi
siswa untuk dapat belajar dengan baik. Penggunaan media dan metode
serta sumber belajar menjadi bagian dari kondisi belajar ini. Kondisi ini
sebenarnya merujuk ke strategi pembelajaran tertentu yang diterapkan
selama proses belajar mengajar berlangsung.
Degree, persyaratan khusus atau kriteria yang dirumuskan sebagai bukti
bahwa pencapaian tujuan pembelajaran dan proses belajar berhasil.
Kriteria ini berkaitan dengan waktu yang harus dipenuhi serta kelengkapan
persyaratan yang dianggap dapat mengukur pencapaian kompetensi.
Pertimbangan penting dalam menilai tujuan guru adalah apakah guru
mengkomunikasikan dengan baik maksud dari tujuan pembelajaran,
terlepas dari formatnya. Terakhir penilaian atas tujuan apapun harus
ditentukan oleh kegunaannya untuk guru dan peserta didik.
2. Klasifikasi Tujuan
Hal ini memiliki nilai praktis karena berkaitan dengan pemilihan
metode, media, serta metode evaluasi, tergantung pada jenis tujuan yang
diharapkan. Tujuan dapat diklasifikasikan menurut empat kategori:
keterampilan kognitif, keterampilan afektif, keterampilan motorik, dan
keterampilan intrapersonal. Domain kognitif melibatkan keterampilan
verbal/visual mengharuskan peserta didik memberikan respons spesifik
terhadap rangsangan yang relatif spesifik. Mereka biasanya melibatkan
menghafal atau mengingat fakta. Domain afektif melibatkan perasaan dan
nilai. Tujuan afektif berkisar antara mendorong sikap sosial yang baik
berkaitan dengan etika seseorang. Di bidang keterampilan motorik,
pembelajaran melibatkan keterampilan fisik atletik, manual, dan lainnya.
Keterampilan interpersonal adalah keterampilan yang berpusat pada orang
yang membutuhkan kemampuan untuk berhubungan secara efektif dengan

7
orang lain. Contohnya termasuk kerja tim, teknik konseling, keterampilan
administratif, keahlian menjual, diskusi, dan hubungan pelanggan.
3. Tujuan dan Perbedaan Individu
Beberapa tujuan yang telah dibahas disesuaikan dengan
kemampuan peserta didik. Di dalam sebuah kelas terdiri dari siswa yang
memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda-beda, sehingga
proses pembelajaran dalam membimbing siswa antara siswa satu dengan
siswa lainnya juga berbeda.
3. Memilih Metode, Media, dan Materi
Rencana sistematis untuk menggunakan media dan teknologi tentu
menuntut agar metode, media, dan materi dipilih secara sistematis. Proses
seleksi memiliki tiga tahap: (1) menentukan metode yang sesuai untuk tugas
belajar yang diberikan, (2) memilih format media yang sesuai untuk
melaksanakan metode, dan (3) memilih, memodifikasi, atau merancang materi
tertentu dalam format media itu.
1. Memilih Metode
Suatu pelajaran mungkin akan menggabungkan dua atau lebih
metode untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Misalnya,
seseorang mungkin melakukan aktivitas simulasi untuk mendapatkan
perhatian dan membangkitkan minat di awal pelajaran, lalu menggunakan
demonstrasi untuk mempresentasikan informasi baru, dan kemudian
mengatur kegiatan latihan untuk memberikan latihan dalam keterampilan
baru. Para guru sering merancang tugas untuk memungkinkan peserta
didik dengan gaya belajar yang berbeda antusias untuk menjalani praktik
individual mereka melalui metode yang berbeda (misalnya, memiliki gaya
berpikir "abstrak acak" menggunakan simulasi peran-putar sementara
pemikir "sekuensial" menggunakan lab manual untuk pemecahan masalah
terstruktur).
2. Memilih Format Media
Format media adalah bentuk fisik di mana sebuah pesan
digabungkan dan ditampilkan. Format media meliputi, misalnya flip chart
(gambar diam dan teks), slide (gambar diam yang diproyeksikan), audio

8
(suara dan musik), video (gambar bergerak di layar TV), dan multimedia
komputer (grafis, teks, dan gerakan gambar di monitor). Masing-masing
memiliki kekuatan dan keterbatasan yang berbeda dalam hal jenis pesan
yang dapat direkam dan ditampilkan. Memilih format media bisa menjadi
tugas yang kompleks-mengingat beragam media dan teknologi yang ada,
keragaman peserta didik, dan banyak tujuan yang harus dicapai. Dalam
kebanyakan model pemilihan media, situasi atau pengaturan instruksional
(misalnya kelompok besar, kelompok kecil, atau belajar mandiri), variabel
pelajar (misalnya, visual, audio, atau kinestetik), dan sifat tujuan (misalnya
kognitif, afektif, keterampilan motorik, atau interpersonal) harus
dipertimbangkan terhadap kemampuan presentasi masing-masing format
media (misalnya gerak visual, kata-kata tercetak, atau kata-kata yang
diucapkan). Beberapa model juga mempertimbangkan kemampuan
masing-masing format untuk memberi umpan balik kepada pelajar. Guru
perlu menyeimbangkan kesederhanaan dan kelengkapan dalam setiap
skema yang diputuskan untuk dilaksanakan.
3. Memilih Materi Tertentu
Memperoleh materi yang sesuai umumnya melibatkan satu dari
tiga alternatif: (1) memilih materi yang tersedia, (2) memodifikasi materi
yang ada, atau (3) merancang materi baru. Materi sudah tersedia yang
memungkinkan peserta didik memenuhi tujuan dengan segala cara
menggunakannya akan menghemat kerja dan biaya. Jika materi yang
tersedia tidak sesuai dengan tujuan, atau tidak sesuai untuk peserta didik,
pendekatan alternatif adalah mengubahnya. Namun jika tidak layak,
alternatif terakhir adalah merancang materi sendiri. Meskipun ini lebih
banyak mengeluarkan biaya dan memakan waktu, ini memungkinkan guru
menyiapkan materi untuk melayani peserta didik dan memenuhi tujuan
pembelajaran.
4. Memilih Materi yang Tersedia
Meningkatnya ketersediaan media/bahan ajar pembelajaran yang
dapat digunakan oleh guru telah tersedia di sekolah dan sumber-sumber
lainnya yang dapat dengan mudah diakses. Seorang guru harus mampu

9
memilih bahan ajara yang tersedia dengan tepat. Dalam memanfaatkan
media dan materi ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru,
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Melibatkan Spesialis Media atau Teknologi
Spesialis media atau teknologi dapat memberi tahu guru berbgai
materi yang di simpan di pusat media perpustakaan sekolah. Guru
dapat mengidentifikasi dan memilih media ataupun teknologi yang
ingin digunakan, ketika guru telah memilih kebutuhan yang memang
diperlukan di dalam proses pembelajaran spesialis akan memperoleh
ide yang lebih baik tentang kebutuhan guru. Sebagian besar pusat
media perpustakaan sekolah berpartisipasi dalam berbagi bahan ajar
ataupun materi.
b. Survei Sumber
Guru dapat mensurvei beberapa referensi media yang diterbitkan
melalui internet untuk mendapatkan gambaran umum tentang bahan
ajar apa yang tersedia dan diperlukan guru untuk mengajar. Namun,
format media tidak dapat dicari hanya dari satu sumber, tetapi harus
dikolaborasikan melalui sumber-sumber lainnya. Ada tiga jenis
panduan yang dapat membantu memilih bahan ajar atau media yaitu
panduan media komprehensif seperti panduan video lengkap Bowker,
panduan selektif seperti video terbaik untuk anak-anak dan panduan
evaluative seperti jurnal perpustakaan sekolah.
c. Memilih Kriteria
Menurut McAlpine & Weston (1994) bahwa kriteria tertentu
sangat penting dalam penilaian materi. Adapun beberapa kriteria
tertentu dalam memilih media seperti :
 Apakah sesuai dengan kurikulum?
 Apakah media tersebut akurat dan terkini?
 Apakah mengandung bahasa yang jelas dan ringkas?
 Apakah hal tersebut memotivasi dan menarik minat?
 Apakah memunculkan partisipasi peserta didik?
 Apakah kualitasnya baik?

10
 Apakah ada bukti efektivitasnya (misalnya hasil uji lapangan)?
 Apakah ada konten yang tidak pantas untuk proses pembelajaran?
d. File Pribadi Pengajar
Setiap pengajar harus mengembangkan media yang telah dibuat,
cara terbaik untuk memulai adalah dengan memasukkan informasi
pengajar untuk referensi di masa yang akan datang.
5. Memodifikasi materi yang tersedia
Apabila pengajar tidak menemukan dan membuat materi yang
diperlukan, pengajar dapat memodifikasi materi yang sudah ada sekreatif
mungkin. Dilihat dari biaya dan waktu hal ini adalah cara yang lebih
efektif dan efisien daripada mendesain/membuat materi sendiri, meskipun
tingkat modifikasi yang diperlukan tentu saja akan bervariasi. Misalnya
ada satu video yang tersedia yang memang diperlukan dalam proses
pembelajaran tetapi audio dari video tersebut terdapat beberapa materi
yang tidak diperlukan karena konsep yang terlalu tinggi, pengajar dapat
menghapus konten yang tidak diperlukan serta menambah narasi
tersendiri.
6. Mendesain Materi Baru
Dalam merancang atau mendesain materi harus berdasarkan
pertimbangan bahan-bahan yang diperlukan baik yang dimodifikasi atau
tidak. Selain itu adapun hal yang dipertimbangkan seperti apa yang ingin
diajarkan kepada siswa, bagaimana karakteristik siswa, bagiamana
kemampuan siswa dan lain sebagainya.
4. Memanfaatkan Media dan Materi
Langkah selanjutnya pada model ASSURE adalah memanfatkan media
dan materi oleh guru dan siswa. Guru mengusahakan meningkatkan
ketersediaan media dan pergeseran filosofi dari pembelajaran yang berpusat
pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa. Berikut merupakan
pembelajaran yang berlaku untuk pembelajaran berpusat pada guru atau
berpusat pada siswa.

11
1. Memilih Materi
Tidak boleh menggunakan materi ajar tanpa melihat dulu mereka.
Selama proses seleksi harus menentukan materi sesuai untuk audiens dan
tujuan yang diharapkan.
2. Persiapan Materi
Dalam menyiapkan materi, langkah pertama adalah mengumpulkan
semua bahan dan peralatan yang butuhkan. Buatlah langkah pembelajaran
yang akan dilakukan terkait dengan penggunakan materi dan media.
Dalam langkah pembelajaran yang dibuat juga berisi aktivitas guru dan
siswa selama pembelajaran berlangsung. Guru membuat langkah-langkah
dan peralatan yang dibutuhkan untuk setiap pelajaran dan garis besar
urutan kegiatan dalam suatu rancangan pembelajaran.Pelajaran berbasis
guru, berlatih menggunakan bahan dan peralatan. Sedangkan pelajaran
yang berpusat pada siswa, siswa diberikan kesempatan untuk mengakses
semua materi, media, dan peralatan yang dibutuhkan. Dalam pembelajaran
yang berpusat pada siswa, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan
pembimbing dalam pelaksanaan pembelajaran.
3. Persiapan Lingkungan
Proses pembelajaran dapat dilakukan di dalam kelas, laboratorium
ataupun di tempat lain dimana proses pembelajaran dapat berjala dengan
lancar. Proses pembelajaran dapat tercapai juga dipengaruhi oleh factor
tempat pembelajaran berlangsung seperti tempat duduk, pencahayaan atau
ventilasi yang memadai dan lain sebagainya. Beberapa media memerlukan
sumber listrik dan akses saklar lampu sehingga harus diperiksa apakah
peralatan yang diperlukan itu berfungsi dengan baik atau tidak.
4. Persiapan Peserta Didik
Penelitian tentang pembelajaran memberi tahu dengan sangat jelas
bahwa apa yang dipelajari dari suatu aktivitas sangat tergantung pada
bagaimana peserta didik dipersiapkan sebelum pembelajaran dilaksanakan.
Dalam menyiapkan peserta didik hal yang dapat dilakukan oleh guru
adalah melakukan pembukan pembelajaran yang tepat, beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut :

12
 Pengantar yang memberikan gambaran luas tentang isi pelajaran
 Menjelaskan secara rasional bagaimana kaitannya dengan topik yang
sedang dipelajari.
 Memberikan motivasi dengan memberi tahu peserta didik manfaat
yang akan didapatkan apabila memperhatikan dan mengikuti
pembelajaran dengan baik.
 Menjelaskan point-point pelaksanaan pembelajaran, seperti
menyampaikan menerapkan apakah pelajaran tersebut berpusat pada
guru atau berpusat pada siswa.
5. Memberikan Pengalaman Belajar
Seorang guru harus mampu membelajarkan materi ke siswa dengan
mengendalikan perhatian siswa, inilah salah satu kecakapan mengajar
yang harus dimiliki seorang guru.
5. Melibatkan Partisipasi Peserta Didik
Pendidik sudah lama menyadari bahwa partisipasi aktif dalam proses
pembelajaran meningkatkan mutu pembelajaran menjadi lebih baik. Pada awal
1900-an John Dewey mendesak reorganisasi kurikulum dan pengajaran untuk
menjadikan partisipasi siswa sebagai pusat perhatian. Kemudian, pada tahun
1950 dan 1960an, eksperimen yang menggunakan pendekatan behavioris
menunjukkan bahwa pembelajaran yang memberi penguatan konstan perilaku
yang diinginkan lebih efektif daripada pembelajaran dimana tanggapan tidak
diperkuat. Baru-baru ini, teori pembelajaran kognitif, yaitu teori pembelajaran
yang berfokus pada proses mental internal, juga mendukung prinsip bahwa
pembelajaran yang efektif menuntut manipulasi informasi yang aktif oleh
peserta didik. Gagné telah menyimpulkan bahwa ada beberapa syarat penting
untuk pembelajaran efektif dari setiap jenis tujuan; satu syarat yang berkaitan
dengan semua tujuan adalah praktik keterampilan yang diinginkan (Gagné,
1985). Perspektif behavioris berpandangan bahwa individu belajar dari apa
yang mereka lakukan. Belajar adalah proses untuk mencoba berbagai perilaku
dan menjaga hal-hal yang mengarah pada hasil yang bermanfaat. Oleh karena
itu, guru harus menemukan cara agar peserta didik tetap melakukan aktivitas.
Kognitivis berpandangan bahwa peserta didik membangun dan memperkaya

13
skema mental mereka ketika pikiran mereka terlibat secara aktif dalam
berjuang untuk mengingat atau menerapkan beberapa konsep atau prinsip
baru. Konstruktivis, seperti halnya behavioris, memandang belajar sebagai
proses aktif. Tapi yang ditekankan adalah pada proses mental aktif, bukan
aktivitas fisik. Pengetahuan dibangun atas dasar pengalaman. Kemandirian
dan inisiatif peserta didik ditekankan dalam konteks pengalaman nyata yang
relevan. Perspektif sosiopsikologis menekankan pentingnya komunikasi
interpersonal sebagai dasar sosialisasi untuk memperoleh pengetahuan.
Semua perspektif juga menekankan pentingnya umpan balik (respons
evaluatif kritis yang produktif):
• Behavioris, karena pengetahuan tentang respons yang benar berfungsi
sebagai penguat perilaku yang tepat.
• Kognitivis, karena informasi tentang hasil yang diperoleh membantu
memperkaya skema mental peserta didik.
• Konstruktivisme, karena makna (dan pengetahuan) ditingkatkan dengan
setiap pengalaman pribadi.
• Sosiopsikologis, karena umpan balik interpersonal memberikan informasi
korektif dan dukungan emosional.
Umpan balik bisa datang dari diri sendiri atau dari orang lain. Penelitian
menunjukkan bahwa yang paling kuat adalah umpan balik interpersonal
karena reaksi tatap muka lebih jelas daripada informasi cetak atau grafis, dan
reaksi seperti itu lebih dipersonalisasi (memberikan koreksi kinerja yang
spesifik), dan diskusi kelompok dapat berlanjut selama diperlukan (Johnson &
Johnson, 1993).
Tujuan pembelajaran yang diharapkan harus jelas. Situasi belajar yang
paling efektif adalah situasi yang mengharuskan peserta didik untuk
mempraktikkan keterampilan yang membangun tujuan tersebut. Peserta didik
haruslah menerima umpan balik mengenai kebenaran tanggapan mereka.
Umpan balik dapat berasal dari guru, atau peserta didik lain yang bekerja
dalam kelompok kecil. Terlepas dari sumbernya, yang terpenting adalah siswa
menerima umpan balik yang membantu.

14
Diskusi, kuis, dan latihan aplikasi dapat memberi kesempatan untuk
siswa melakukan latihan dan umpan balik selama pembelajaran. Kegiatan
tindak lanjut dapat memberikan kesempatan lebih jauh. Panduan guru dan
penggunaan media untuk menemani bahan ajar merupakan teknik untuk
memunculkan dan memperkuat tanggapan siswa.
Johnston menyatakan bahwa "pembelajaran terjadi saat mereka
menentukan, dan ketika guru menyediakan materi pembelajaran tambahan dan
membantu peserta didik untuk melatih materi yang disajikan" (Johnston, 1987,
hal 44).
6. Evaluasi dan Revisi
Komponen akhir dari model ASSURE untuk pembelajaran yang efektif
adalah evaluasi dan revisi. Penggunaan aspek desain, evaluasi dan revisi
pembelajaran yang merupakan komponen yang penting dalam pengembangan
pembelajaran berkualitas sering tidak tepat. Ada banyak tujuan dari evaluasi.
Seringkali satu-satunya bentuk yang terlihat dalam pendidikan adalah tes tulis,
yang percaya dapat digunakan untuk penilaian prestasi siswa. Kita akan
membahas dua tujuan yaitu: penilaian prestasi belajar peserta didik dan
metode evaluasi dan media.
Evaluasi dilakukan sebelum, selama, dan setelah pembelajaaran;
Sebagai contoh, sebelum pembelajaran, guru akan mengukur karakteristik
peserta didik untuk memastikan bahwa ada kesesuaian antara kemampuan
peserta didik dengan metode dan materi yang akan digunakan. Selain itu,
materi harus dinilai sebelum digunakan. Selama pembelajaran, evaluasi dapat
berupa latihan peserta didik dengan umpan balik, atau mungkin terdiri dari
kuis singkat atau evaluasi diri. Evaluasi selama pembelajaraan biasanya
memiliki tujuan diagnostik yaitu dirancang untuk mendeteksi dan
memperbaiki masalah belajar/mengajar dan kesulitan dengan pembelajaran
yang dapat mengganggu prestasi belajar peserta didik.
Evaluasi bukanlah akhir dari pembelaajaran. Evaluasi adalah titik awal
dari siklus berikutnya dan berkelanjutan dalam model ASSURE yang
sistematis untuk penggunaan media pembelajaran secara efektif.

15
1. Penilaian Prestasi Belajar
Pertanyaan terakhir terkait pembelajaran adalah apakah peserta
didik telah belajar dan apa yang seharusnya mereka pelajari. Dapatkah
mereka menampilkan kemampuan yang ditentukan dalam pernyataan
tujuan? Langkah pertama dalam menjawab pertanyaan ini diambil dari
permulaan model ASSURE, saat guru merumuskan tujuan pembelajaran.
Dalam mengembangkan rancangan penilaian, mulailah dengan tujuan dan
aktivitas pembelajaran. Pernyataan objektif tentang kinerja yang dapat
diterima akan membantu guru mengembangkan kriteria untuk
mengevaluasi kinerja individu peserta didik atau kelompok.
Metode penilaian prestasi tergantung pada sifat tujuannya.
Beberapa tujuan memerlukan keterampilan kognitif yang relatif sederhana
misalnya, menyatakan definisi fungsi atau membedakan fungsi bukan
fungsi. Tujuan seperti ini membantu tes tertulis konvensional atau ujian
lisan. Tujuan lain mungkin memerlukan perilaku tipe proses (misalnya,
memecahkan masalah yang berkaitan dengan persamaan linier dua
variabel), penciptaan produk (misalnya: portofolio), atau menunjukkan
sikap (misalnya, mentoleransi pendapat yang berbeda).Prosedur penilaian
harus sesuai dengan tujuan yang dinyatakan sebelumnya dalam model
ASSURE.
Di sekolah-sekolah, meningkatnya minat akan penilaian nyata
didorong oleh komitmen terhadap pembelajaran berbasis kompetensi dan
pedagogi konstruktivis. Penilaian nyata biasanya didasarkan pada kinerja
dan mengharuskan peserta didik untuk menunjukkan apa yang telah
mereka pelajari dalam konteks alami, berlawanan dengan hanya
menggunakan tes tulis standar. Beberapa negara bagian telah menetapkan
bentuk penilaian yang lebih nyata dalam sistem pemeriksaan negara
mereka; beberapa sekolah swasta telah bereksperimen dengan cara seperti
penilaian portofolio.
Di bidang pendidikan, penilaian sering digunakan untuk
mengukur pembelajaran peserta didik, untuk memberi tahu peserta didik
dan orang tua / wali tentang kemajuan belajarnya, dan memberi nilai.

16
Penilaian nyata adalah penilaian keterampilan yang dibutuhkan di "dunia
nyata." .Tugas penilaian otentik harus menggunakan proses (psikomotor
dan mental) yang sesuai dengan konten dan keterampilan yang dipelajari.
Media dan teknologi dapat digunakan sebagai bagian dari penilaian nyata,
seperti memproduksi produk video dan pembuatan presentasi slide dan
rekaman. Tugas penilaian nyata biasanya memiliki karakteristik sebagai
berikut:
 Memiliki lebih dari satu pendekatan yang benar.
 Tidak hanya menghapal tetapi juga memahami.
 Mengharuskan pengambilan keputusan, bukan menghafal hafalan
saja.
 Mengembangkan pemikiran dengan berbagai cara.
 Memunculkan masalah lain untuk dipecahkan.
 Tingkatkan pertanyaan lainnya.
Jenis penilaian nyata meliputi:
 Projek peserta didik seperti menulis tugas, projek sains, dan poster.
 Pertunjukan seperti memberi pidato, atau demonstrasi.
 Pertanyaan lisan oleh guru dan peserta didik lainnya.
 Diskusi mengenai suatu permasalahan dan menemukan solusinya.
 Portofolio, termasuk contoh karya peserta didik dengan ringkasan
dan refleksi.
Kecenderungan ke arah penilaian yang lebih nyata ini penting
karena penilaian telah lama dipahami sebagai kekuatan pendorong untuk
keseluruhan sistem pembelajaran, termasuk media, metode, dan teknologi.
Penilaian Nyata berfokus pada demonstrasi penguasaan dan kemampuan
untuk mentransfer pengetahuan baru ke situasi baru. Hal ini menyebabkan
pengembangan penilaian portofolio, yang telah memicu penggunaan
media dengan kompilasi portofolio elektronik.
Kemampuan proses, produksi, atau sikap dapat dinilai sampai
batas tertentu dengan cara tes tertulis atau lisan. Tapi hasil tes tersebut
akan menjadi bukti tidak langsung dan lemah tentang seberapa baik
peserta didik telah menguasai materi. Bukti yang lebih langsung dan lebih

17
kuat akan diberikan dengan mengamati perilaku yang sedang berlangsung.
Ini berarti menyiapkan situasi di mana peserta didik dapat menunjukkan
keterampilan baru dan guru dapat mengamati dan menilainya.
Dalam kasus keterampilan proses, lembar observasi kinerja dapat
menjadi cara yang efektif dan obyektif dalam mencatat pengamatan guru.
Sikap memang sulit untuk dinilai. Untuk beberapa tujuan sikap,
pengamatan jangka panjang mungkin diperlukan untuk menentukan
apakah tujuan tersebut benar-benar tercapai. Dalam pembelajaran sehari-
hari biasanya harus bergantung pada apa yang bisa amati. Teknik yang
umum menggunakan skala sikap.
2. Evaluasi Metode dan Media
Evaluasi juga mencakup penilaian metode pembelajaran dan
media. Apakah bahan ajar sudah efektif? Apakah presentasi membutuhkan
lebih banyak waktu daripada yang seharusnya?. Bahan ajar baik berupa
media ataupun materi perlu dievaluasi untuk menentukan apakah bahan
ajar tersebut dapat digunakan di pembelajaran berikutnya dengan atau
tanpa revisi.
Apakah media membantu peserta didik dalam mencapai
tujuannya? Apakah media yang digunakan efektif dalam membangkitkan
minat peserta didik? Apakah media dapat memberikan partisipasi peserta
didik yang berarti?
Guru dapat meminta masukan peserta didik tentang keefektifan
media tertentu, seperti CD atau rekaman video. Guru dapatangket untuk
mengetahui tanggapan siswa terkait dengan media yang digunakan.
Evaluasi media dan materi dapat dilakukan dengan diskusi kelas,
wawancara individual, dan pengamatan perilaku peserta didik. Apabila
terjadi kegagalan dalam mencapai tujuan yang diharapkan tentu saja
merupakan indikasi dari adanyakesalahan dengan instruksi dan
penggunaan dari media dan materi itu sendiri. Dengan menganalisis reaksi
peserta didik terhadap metode pembelajaran dapat membantu untuk
mempertimbangkan metode efektif yang bisa digunakan. Diskusi peserta

18
didik-guru mungkin menunjukkan bahwa peserta didik lebih memilih
belajar mandiri dibandingkan presentasi kelompok.
Percakapan dengan spesialis media sekolah mengenai nilai media
dalam pembelajaran akan membantu mengingatkan guru akan kebutuhan
bahan ajar tambahan untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.
3. Revisi
Langkah terakhir dari siklus pembelajaran adalah duduk kembali
dan melihat hasil pengumpulan data evaluasi. Dimana ada perbedaan
antara apa yang ingin dilakukan dan apa yang terjadi? Apakah peserta
didik gagal dalam satu atau beberapa tujuan? Bagaimana reaksi peserta
didik terhadap metode pembelajaran dan media yang diberikan? Apakah
sudah puas dengan nilai bahan yang telah dipilih? Guru harus
merenungkan pelajaran dan setiap komponennya. Membuat catatan segera
setelah selesai pembelajaran, dan menelaah kembali bahan ajar yang
digunakan sebelum menerapkan pelajaran lagi. Jika data evaluasi
menunjukkan kekurangan di suatu bidang, saatnya untuk kembali ke
bagian yang salah dari rencana dan merevisinya. Hal ini akan bermanfaat
jika terus-menerus digunakan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran
di kelas.

19