Anda di halaman 1dari 34

BAB II

KONSEP TEORITIS KDM CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. Definisi Cairan dan Elektrolit

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga


kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam
tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis.
Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan
perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang
terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zt terlarut). Elektrolit adalah zat
kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut
ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh
melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke
seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya
distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh
bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu
dengan yang lainnya jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh
pada yang lain. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu:
cairan intraseluler (CIS) dan cairan ekstraseluler (CES) .

1. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel diseluruh


tubuh umumnya berjumlah 2⁄3 - 3⁄4 dari total cairan tubuh.

2. Cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada si luar sel yang


umumnya berjumlah 1⁄3 - 3⁄4 dari total cairan tubuh dan terdiri dari
tiga kelompok yaitu:

a. Cairan intravaskuler (plasma),

Merupakan cairan di dalam system vaskuler

5
b. Cairan interstitial dan

Merupakan cairan interstitial adalah cairan yang terletak di antara


sel.

c. Cairan transeluler.,

Merupakan cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal,


cairan intraokuler, dan sekresi seluran cerna.

6
B. Jenis-Jenis Cairan dan Elektrolit

1. Cairan zat gizi (nutrient)

Pasien yang istirahat ditempat tidur memerlukan sebanyak 450 kalori


setiap harinya. Cairan nutrien (zat gizi) melalui intravena dapat
memenuhi kalori ini dalam bentuk karbohidrat, nitrogen, dan vitamin
yang penting untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan
nutrien dapat berkisar antara 200 – 1500 kalori per liter. Cairan nutrien
terdiri atas:

a. Karbohidrat dan air, contoh dexstrose (glukosa), levulose


(fruktosa), invert sugar (1/2 dexstrose dan ½ levulose).

b. Asam amino. Contoh: amigen, aminosol dan travamin.

c. Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.

2. Blood volume expanders


Blood volume expanders merupakan bagian dari jenis cairan yang
berfungsi meningkatkan volume pembuluh darah setelah kehilangan
darah atau plasma. Apabila keadaan darah sudah tidak sesuai, misalnya
pasien dalam kondisi pendarahan berat, maka pemberian plasma akan
mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien luka bakar berat,
sejumlah besar cairan hilang dari pembuluh darah di daerah luka.
Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis
blood volume exspanders antara lain: human serum albumin dan
dexstran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini
mempunyai tekanan osmotik, sehingga secara langsung dapat
meningkatkan jumlah volume darah.

7
Elektrolit yang terbanyak di dalam tubuh adalah kation dan anion.

1. Kation. Kation yang terdapat dalam tubuh meliputi :

a. Natrium.

Natrium merupakan kation utama dalam CES. Konsentrasi


normal natrium diatur oleh ADH dan aldosterone (diekstrasel).
Natrium tidak hanya bergerak kedalam dan ke luar sel, tetapi
juga bergerak diantara dua kompartemen cairan utama. Natrium
berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan, hantaran
impuls, dan kontraksi otot. Fungsi utama natrium adalah untuk
membantu mempertahankan keseimbangan cairan, terutama
intrasel dan ekstrasel, dengan menggunakan system “pompa
natrium-kalium”. Regulasi ion natrium dilakukan dengan
asupan natrium, hormone aldosterone, dan haluaran urin.

b. Kalium.

Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam CIS.


Sumber kalium diperoleh dari pisang, brokoli, jeruk, dan
kentang. Kalium penting untuk mempertahankan keseimbangan
cairan intraseluler, mengatur keseimbangan asam-basa, serta
mengatur trasmisi impuls jantung dan kontraksi otot.
Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan perubahan dan
penggantian dengan ion kalium di tubulus ginjal.

c. Kalsium.

Sumber kalsium utama terdapat pada susu dan produk-


produknya. Fungsi kalsium adalah membentuk tulang,
transmisi impuls saraf, kontraksi otot, pembekuan darah, dan
aktivasi enzim tertentu. Ada tiga bentuk kalsium dalam cairan
tubuh, yaitu kalsium ion (4,5 mg/100ml), kalsium yang terikat
protein dan tidak bisa berdifusi (5mg/100ml) serta kalsium

8
sitrat dan kalsium fosfat (1mg/100 ml). pengaturan kalsium
dilakukan oleh kelenjar paratiroid dan tiroid.

d. Magnesium.

Magnesium merupakan kation kedua terbanyak di dalam cairan


intrasel. Magnesium sangat penting untuk aktivitas enzim,
eksibilitas neurokimia dan otot. Nilai normal kalsium adalah
1,5 – 2,5 mEq/lt.

2. Anion. Anion yang terdapat dalam tubuh meliputi :

a. Klorida.

Klorida termasuk salah satuanion terbesar di cairan ekstrasel.


Klorida berfungsi mempertahankan tekanan osmotic darah.
Nilai normal klorida adalah 95-105 mEq/lt.

b. Bikarbonat.

Bikarbonat merupakan buffer kimia utama dalam tubuh yang


terdapat di cairan intrasel dan ekstrasel. Regulasi bikarbonat
dilakukan oleh ginajal. Nilai normal bikarbonat adalah 22
sampai 26 mEq/lt.

c. Fosfat.

Fosfat merupakan anion buffer dalam cairan intrasel dan


ekstrasel. Fosfat berfungsi membantu pertumbuhan tulang dan
gigi serta menjaga keutuhannya. Selain itu, fosfat juga
membantu kerja neuromuscular, metabolism karbohidrat, dan
pengaturan asam-basa. Kerja fosfat ini diatur hormone
paratiroid dan diaktifkan oleh vitamin D.

9
C. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit.

Tubuh memiliki derajat keseimbangan dalam mengatur cairan dan


elektrolit. Dan untuk menjaga keseimbangan itu tetap konstan maka tubuh
memiliki regulasi sendiri. Regulasi cairan dalam tubuh meliputi hubungan
timbal balik antara sejumlah komponen, termasuk air dalam tubuh dan
cairannya, bagian-bagian cairan, ruang cairan, membrane, system
transport, enzim, dan tonisitas. Sirkulasi cairan dan elektrolit terjadi dalam
tiga tahap. Pertama, plasma darah bergerak di seluruh tubuh melalui
system sirkulasi. Kedua, cairan interstisial dan komponennya bergerak
diantara kapiler darah dan sel. Terakhir, cairan dan substansi bergerak dari
cairan interstisial ke dalam sel. Sedangkan mekanisme pergerakan cairan
tubuh berlangsung dalam tiga proses:

1. Difusi.

Difusi adalah perpindahan larutan dari area berkonsentrasi tinggi


menuju area berkonsentrasi rendah dengan melintasi membrane
semipermiabel. Padaproses ini, cairan dan elektrolit masuk melintasi
membrane yang memisahkan dua kompartemen sehingga konsentrasi
di kedua kompartemen itu seimbang. Kecepatan difusi dipengaruhi
oleh tiga hal, yakni ukuran molekul, konsentrasi larutan, dan
temperature larutan.

• Ukuran molekul. Molekul yang ukurannya lebih besar cenderung


bergerak lebih lambatdibandingkan molekul yang ukurannya lebih
kecil

• Konsentrasi larutan. Larutan berkonsentrasi tinggi bergerak lebih


cepatdibandingkan larutan berkonsentrasi rendah.

• Temperature larutan. Semakin tinggi temperature larutan, semakin


besar kecepatan difusinya.

10
Dinding pembuluh darah yang sifatnya semipermiabel memungkinkan
molekul kecil dan elektrolit melintas dengan bebas. Molekul besar
yang tidak dapat lewat melalui proses difusi (mis.,glukosa) diangkat
dengan bantuan bahan pembawa melalui proses yang disebut difusi
terbantu (fasillitated diffusion)

2. Osmosis.

Osmosis adalah perpindahan cairan melintasi membrane


semipermiabel dari area berkonsentrasi rendah menuju area yang
berkonsentrasi tinggi. Pada proses ini, cairan melintasi membrane
untuk mengencerkan larutan berkonsentrasi tinggi sampai diperoleh
keseimbangan pada kedua sisi membrane. Perbedeaan osmotic inisalah
satunya dipengaruhi oleh distribusi protein yang tidak merata. Karena
ukuran molekulnya yang besar, protein tidak bebas melintasi mempran
plasma. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan tekanan osmotic koloid
(tekanan onkotik) sehingga cairan tertarik ke dalam ruangg
intravaskuler.

3. Transport aktif.

Transport aktif adalahproses pengangkutan yang digunakan oleh


molekul untuk berpindah melintasi membrane sel melawan gradient
konsentrasinya. Dengan kata lain, transport aktif adalah gerakan
partikel dari konsentrasi satu ke konsentrasi lain tanpa membandang
tingkatannnya. Proses ini membutuhkan energy dalam benttuk
adenosine trifospat (ATP). ATP berguna untuk mempertahankan
konsentrasi ion natrium dan kalium dalam ruang ekstrasel dan intrasel
melalui suatu proses yang disebut pompa “Natrium-Kalium”.

Pengaturan keseimbangan cairan terjadi melalui mekanisme haus,


hormone anti diuretic (ADH), hormone aldosterone, prostaglandin, dan
glukokortikoid.

11
1. Rasa haus. Rasa haus adalah keinginan yang disadari terhadap
kebutuhan akan cairan. Rasa haus biasanya muncul apabila osmolalitas
plasma mencapai 295 mOsm/kg. Osmoreseptor yang terletak di pusat
rasa haus hipotalamus sensitive terhadap perubahan osmolalitas pada
cairan ekstrasel. Bila osmolalitas meningkat sel akan mengkerut dan
sensasi rasa haus akan muncul akibat kondisi dehidrasi.
Mekaniasmenya adalah sebagai berikut:

a. Penurunan perfusi ginjal merangsang pelepasan renin, yang


akhirnya menghasilkan angeostensin II. Angiotensin II merangsang
hipotalamus unttuk melepaskan substrat neuron yang bertanggung
jawab meneruskan sensai haus.

b. Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi peningkatan tekanan


osmotic dan mengaktivasi jaringan saraf sehingga menghasilkan
sensasi haus.

c. Rasa haus dapat diinduksi oleh kekeringan local pada mulut akibat
status hyperosmolar. Selain itu, rasa haus bisa juga muncul untuk
menghilangkan sensasi kering yang tidak nyaman akibat penurunan
saliva.

2. Hormone ADH. Hormone ini dibentuk di hipotalamus dan disimpan


dalam neurohipofisis pada hipofisis posterior. Stimuli utama untuk
sekresi ADH adalah peningkatan osmolalitas dan penurunan cairan
ekstrasel. Selain itu, sekresi juga dapat terjadi pada kondisi stress,
trauma, pembedahan, nyeri, dan pada penggunaan beberapa jenis
anastetic obat-obatan. Hormone ini meningkatkan reabsorpsi air pada
duktus pengumpul sehingga dapat menahan air dan mempertahankan
volume cairan ekstrasel. ADH juga disebut sebagai vasopressin karena
mempunyai efek vasokontriksi minor pada arteriol yang dapat
meningkatkan tekanan darah.

12
3. Hormone aldosteron. Hormone ini disekresi oleh kelenjar adrenal dan
bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorpsi natrium.
Retensi natrium mengakibatkan retensi air. Pelepasan aldosterone
dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalium, Kadar natrium, dan
system renin-angiostensin.

4. Prostaglandin. Prostaglandin merupakan asam lemak alami yang


terdapat di banyak jaringan dan berperan dalam respon radang,
pengontrolan tekanan darah, kontraksi uterus, dan motilitas
gastrointestinal. Di ginjal, prostaglandin berperan mengatur sirkulasi
ginjal, resorpsi natrium.

5. Glukokortikoid. Glukokortikoid meningkatkan resorpsi natrium dan air


sehingga memperbesar volume darah retensi natrium. Oleh karena itu,
perubahan Kadar glukokortikoid mengakibatkan perubahan pada
keseimbangan volume darah (tambayong, 2000).

Asupan cairan pada individu dewasa berkisar 1500-2500 ml/hari.


Sedangkan haluaran cairannya adalah 2300 ml/hari. Pengeluaran cairan
dapat terjadi melalui beberapa organ, yakni kulit, paru-paru, pencernaan,
dan ginjal.

1. Kulit.

Pengeluaran cairan melalui kulit diatur oleh kerja saraf simpatis yang
merangsang aktivitas kelenjar keringat. Rangsangan terhadap kelenjar
keringat ini disebabkan oleh aktivitas otot, temperature lingkungan
yang tinggi dan kondisi demam. Pengeluaran cairan melalui kulit
dikenal dengan istilah insensible water loss (IWL). Hal yang sama juga
berlaku pada paru-paru. Sedangkan pengeluaran melalui kulit berkisar
15-20 ml/24 jam atau 350-400 ml/hari.

13
2. Paru-paru.

Meningkatnya jumlah cairan yang keluar melalui paru merupakan


suatu bentuk respon terhadap perubahan kecepatan dan kedalaman
nafas karena pergerakan atau kondisi demam. IWLuntuk paru adalah
350-400 ml/hari.

3. Pencernaan.

Dalam kondisi normal, jumlah cairan yang hilang melalui system


pencernaan setiap harinya berkisar 100-200 ml. perhitungan IWL
secara keseluruhan adalah 10-15 ml/kgBB/24 jam, dengan
penambahan 10% dari IWL normal setiap kenaikan suhu 10C.

4. Ginjal.

Ginjal merupakan organ pengekskresi cair,an yang utama pada tubuh.


Pada individu dewasa, ginjal mengeksekresikan sekitar 1500 ml/hari.

Pengeluaran cairan dalam tubuh manusia berlangsung dalam tiga cara.


Cara pertama melalui insensible water loss (IWL).pada proses ini, cairan
keluar melalui penguapan paru-paru. Cara kedua melalui noticiable water
loss (NWL); cairan diekskresikan melalui keringat. Cara ketiga melalui
feses, tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit (taylor dkk.,1989).
Sedangkan menurut Price dan Wilson (1995), pengeluaran cairan pada
orang dewasa berlangsung dalam 4 cara, yakni melalui urin (1500 ml),
feses (200 ml), udara ekspirasi (400 ml), dan keringat (400 ml).Jadi, total
pengeluaran tubuh adalah 2500 ml.

Ginjal merupakan organ pengatur keseimbangan cairan yang utama. Setiap


harinya, ginjal menerima hampir 170 liter darah untuk disaring menjadi
urine. Produksi urine untuk semua kelompok usia adalah 1 ml/kg/jam.
Pada individu dewasa, produksi urin sekitar 1,5 liter/hari. Jumlah urin
yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi ADH dan aldosterone (tarwoto
dan wartonah, 2003).

14
Dalam pengaturan keseimbangan cairan, dikenal dengan istilah obligatory
loss. Obligatory loss adalah mekanisme pengeluaran cairan yang mutlak
terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tubuh (miss.,pengeluaran
keringat). Selain melalui kulit, paru-paru,system pencernaan, dan ginjal,
keseimbangan cairan juga diatur melalui system kardiovaskular, endokrin,
dan pernapasan.

D. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Hal ini dapat terjadi apabila mekanisme konpensasi tubuh tidak


mampu mempertahankan homeostasis. Gangguan keseimbangan cairan
dapat berupa defisit volume cairan atau sebaliknya.

1. Defisit Volume Cairan (fluid volume defisit (FVD).

Defisit volume cairan adalah suatu kondisis ketidakseimbangan


yang di tandai dengan defisiensi cairan dan elektrolit di ruang
ekstrasel, namun proposi antara keduanya (cairan dan elekrolit)
mendekati normal. Kondisi ini di kenal juga dengan istilah
hipovolemia, tekanan osmotik mengalami perubahan sehingga
cairan interstisial masuk ke ruangan intravaskuler. Akibatnya,
ruangan interstisial menjadi kosong dan cairan intrasel masuk ke
ruang interstisial sehingga menggangu kehidupan sel. Secara
umum, kondisi defisit volume cairan (dehidrasi) terbagi menjadi
tiga, yaitu :

a. Dehidrasi isotonik. Ini terjadi apabila jumlah cair yang hilang


sebanding dengan jumlah yang hilang. Kadar Na+ dalam
plasma 130-145 MEq/I.

b. Dehidrasi hipertonik. Ini terjadi apabila cairan yang hilang lebir


besar dari pada jemlah elekrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam
plasma 130-150 MEq/I.

15
c. Dehidrasi hipotonik. Ini terjadi apabila jumlah cairan yang
hilang lebih sedikit dari pada jumlah elektrolit yang hilang.
Kadar Na+ dalam plasma adalah 130 mEq/I.

Kondisi dehidrasi dapat di golongkan menurut derajat


keparahannya menjadi:

a. Dehidrasi ringan. Pada kondisi ini, kehilangan cairan


mencapai 5% dari berat tubuh atau sekitar 1,5-2 liter.
Kehilangan cairan sebesar 5% pada anak yang lebih besar dan
individu dewasa sudah di katagorikan sebagai dehidrasi berat.
Kehilangan cairan yang berlebih dapat berlangsung melalui
kulit, saluran pencernaan, paru-paru, atau pembulu darah,
Dengan ciri – ciri :

1. Kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5 – 2 liter

b. Dehidrasi sedang. Kondisi ini terjadi apabila kehilangan cairan


mencapai 5-10% dari berat tubuh atau sekitar 2-4 liter. Kadar
natrium serum berkisar 152-158 mEq/I. Salah satu gejalanya
adalah mata cekung. Dengan ciri – ciri :

1. Kehilangan cairan 2 – 4 liter atau 5 – 10% BB


2. Serum natrium mencapai 152 – 158 mEq/liter
3. Mata cekung

c. Dehidrasi berat. Kondisi ini terjadi apabila kehilangan cairan


mencapai 4-6 liter. Kadar natrium serum berkisar 159-166
mEq/I. Pada kondisi ini penderita dapat mengalami hipotensi.
Dengan ciri – ciri :

1. Pengeluaran / kehilangan cairan sebanyak 4 – 6 liter

2. Serum natrium mencapai 159 – 166 mEq/ liter

3. Hipotensi

16
4. Turgol kulit buruk

5. Oliguria

6. Nadi dan pernapasan meningkat

7. Kehilangan cairan mencapai > 10% BB

2. Volume cairan berlebih (fluid volume eccess [FVE]).

Volume cairan berlebih (overhidrasi) adalah kondisi


ketidakseimbangan yang di tandai dengan kelebihan (retensi)
cairan dan natrium di ruang ekstransel. Kondisi ini dikenal juga
dengan istilah hipervolemia. Overhidrasi umumnya disebabkan
oleh gangguan pada fungsi ginjal. Manifestasi kerak muncul terkait
kondisi ini adalah peningkatan volume darah dan edema. Edema
terjadi akibat peningkatan tekanan hidrostatik dan penurunan
tekanan osmotik. Edema sering muncul di daerah mata jari dan
pergelangan kaki. Edema pitting adalah edema yang muncul di
daerah perifer. jika area tersebut ditekan,akan terbentuk cekungan
yang tidak langsung hilang setelah tekanan dilepaskan. Karna
perpindahan cairan kejaringan melalui tekanan edema pitting tidak
menjukan kelebihan cairan yang menyeluruh.sebaliknya,pada
edema non-pitting,cairan didalam jaringan tidak dapat dialihkan ke
area lain dengan penekanan jari. Ini karena edema non-pitting tidak
menunjukan kelebihan ektrasel, melainkan kondisi infeksi dan
trauma yang menyebabkan pengumpulan dan pembekuan cairan di
permukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskular meningkatkan
tekanan hidrostatik dan tekanan cairan pada permukaan interstisial.
Edema anasarka adalah edema yang terdapat di seluruh
tubuh.manifestasi edema paru antara lain pennumpukan seputum,
dispnea, batuk, dan bunyi nafas ronkhi basah.

17
Gangguan ketidakseimbangan elektrolit meliputi:

1. Hiponatremia
Merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma
darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium dalam plasma
sebanyak < 135mEq/liter, rasa haus berlebihan, denyut nadi yang
cepat, hipotensi, konvulsi, dan membrane mukosa kering.
Hiponatremia disebabkan oleh hilangnya cairan tubuh secara
berlebihan, misalnya ketika tubuh mengalami diare yang
berkepanjangan.
2. Hipernatremia
Merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma
tinggi, ditandai dengan adanya mukosa kering, oligari atau anusia,
turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit
kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu badan
naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/ liter.
Kondisi demikian dapat disebabkan karena dehidrasi, diare,
pemasukan air yang berlebihan, sementara asupan garam sedikit.
3. Hipokalemia
Merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah.
Hipokalemia dapat terjadi dengan sangat cepat. Kondisi ini sering
terjadi pada pasien yang mengalami diare yang berkepanjangan,
juga ditandai dengan lemahnya denyut nadi, turunnya tekanan
darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perut kembung,
lemah dan lunaknya otot tubuh, tidak beraturnya denyut jantung
(aritmia), penurunan bising usus dan turunnya kadar kalium plasma
hingga kurang dari 3,5 mEq/liter.
4. Hiperkalemia
Merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah
tinggi, sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal,

18
asidosis metabolic, pemberian kalium yang berlebihan melalui
intravena yang ditandai dengan adanya mual, hiperaktivitas sistem
pencernaan, aritmea, kelemahan, sedikitnya jumlah urine dan diare,
adanya kecemasan dan iritabilitas, serta kadar kalium dalam
plasma mencapai lebih dari 5 mEq/ liter.
5. Hipokalsemia
Merupakan kondisi kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah
yang ditandai dengan adanya kram otot dan kram perut, kejang,
bingung, kadar kalsium dalam plasma < 4,3 mEq/ liter, dan
kesemutan pada jari dan sekitar mulut yang dapat disebkan oleh
pengaruh pengangkatan kelenjar gondok, serta kehilangan
sejumlah kalsium karena sekresi intestinal.
6. Hiperkalsemia
Merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah
yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan
kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan, ditandai
dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-
mual, koma dan kadar kalsium dalam plasma mencapai > 4,3
mEq/liter.
7. Hipomagnesia
Merupakan kondisi kekurangan kadar magnesium dalam darah,
ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan
tangan, takikardi, hipertensi, disoriensi dan konvulsi. Kadar
magnesium dalam darah mencapai < 1,3 mEq/liter.
8. Hipermagnesia
Merupakan kondisi berlebihnya kadar magnesium dalam darah,
ditandai dengan adanya koma, gangguan pernapasan dan kadar
magnesium mencapai > 2,5 mEq/liter.

19
E. Faktor-Faktor Mempengaruhi Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Faktor-fakor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit


antara lain :

1. Usia.

Pada bayi atau anak-anak, keseimbangan cairan dan elektrolit di


pengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah asuan cairan yang
besar yang di imbangi dengan haluran yang besar pula, metabolisme
tubuh yang tinggi, masalah yang muncul akibat imaturitas fungsi
ginjal, serta banyaknya cairan yang keluar melalui ginjal, paru-paru,
dan proses penguapan. Pada orang tua atau lansia, gangguan yang
muncul berkaitan dengan masalah ginjal dan jantung terjadi karena
ginjal tidak lagi mampu mengatur konsentrasi urine.

2. Temperatur lingkungan.

Lingkungan yang panas menstimulus sistem saraf simpatis dan


menyebabkan seseorang berkeringat. Pada cuaca yang sangat panas,
seseorang akan kehilangan 700-2000 ml air/jam dan 15-30 gram/hari.

3. Kondisi stres.

Kondisi stres mempengaruhi metabolisme sel, konsntrasi glukosa


darah, dan glikolisis otot. Kondisis stres mencetuskan pelepasan
hormon anti-dieuretik sehingga sehingga produksi urine menurun.

4. Keadaan sakit.

Kondisi sakit yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan


elektrolit antara lain luka bakar, gagal ginjal, dan payah jantung.

5. Diet.

Diet dapat mempengaruhi asupan cairan dan elektrolit. Asaupan nutrisi


yang tidak adekuat dapat berpengaruh terhadap kadar albumin serum.

20
Jika albumin serum menurun, cairan interstisial tidak bisa masuk ke
pembulu darah sehingga terjadi edema.

F. Pengukuran Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Rumus Balance Cairan

Inteake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL

Intake / cairan masuk: mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan
dalam makanan pasien, volume obat-obatan, termasuk obat suntik, obat
yang di drip, albumin, dll.

Output / cairan keluar: urine dalam 24 jam, jika pasien dipasang kateter
maka hitung dalam ukuran di urobag, jika tidak terpasang maka pasien
harus menampung urinenya sendiri, biasanya ditampung di botol air
mineral dengan ukuran 1,5 liter, kemudian feses.

IWL (insensible water loss) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan
sulit dihitung, yaitu jumlah keringat, uap hawa nafas.

RUMUS IWL

(15 BB)
𝐼𝑊𝐿 =
24 jam

Cth : Tn.A BB 60 Kg dengan suhu tubuh 370 C (suhu normal)

(15 60)
𝐼𝑊𝐿 = = 37,50 cc/jam
24 jam

Dalam 24 jam = 37,50  24 = 900cc/24 jam

Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor,


diantaranya Berat Badan dan Umur. Karena perhitungannya antara usia
anak dengan dewasa berbeda.

Menghitung balance cairan pun harus diperhatikan mana yang termasuk


kelompok Intake cairan dan mana yang output cairan.

21
G. Penatalaksanaan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Panatalaksanaan yang umum dilakukan pada pasien dengan gangguan


keseimbangan cairan dan elektrolit adalah terapi cairan. Terapi cairan yang
dimaksud disini adalah pemberian cairan intravena untuk memenuhi
kebutuhan cairan tubuh. Langkah ini efektif untuk memenuhi kebutuhan
cairan ekstraseluler secara langsung. Secara umum, tujuan terapi ini
intravena ini adalah untuk memenuhi kebutuhan cairan padda klien yang
tidak mampu mengonsumsi cairan oral secara adekuat, menambah asupan
elektrolit untuk menjaga keseimbangan elektrolit, menyediakan glukosa
untuk kebutuhan energy dalam proses metabolism, memenuhi kebutuhan
vitamin larut air, serta menjadi media untuk pemberian obat melalui ven.
Lebih khusus, terapi intravena diberikan pada pasien yang mengalami
syok, intosikasi berat, pasien pra dan pasca bedah, atau pasien yang
membutuhkan pengobatan tertentu.

22
H. Asuhan Keperawatan Teoritis keseimbangan Cairan dan Elektrolit

1. PENGKAJIAN

Pengkajian keperawatan difokuskan pada hal-hal seperti riwayat


keperawatan, pengukuran klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
laboratorium.

a. Riwayat keperawatan

Pengkajian keperawatan pada masalah kebutuhan cairan dan


elektrolit meliputi jumlah asupan cairan yang dapat diukur melalui
jumlah pemasukan secara oral oral, parenteral, atau enteral.

Pengkajian keperawatan secara umum pada pasien dengan


gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi:

1. Kaji riwayat kesehatan dan keperawatan untuk identifikasi


penyebab gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Meliputi :

a. Asupan cairan dan makanan (oral dan parenteral), haluaran


cairan

b. Tanda dan gejala gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit

c. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostasis


cairan dan elektrolit

d. Pengobatan tertentu yang tengah dijalani yang dapat


mengganggu status cairan

e. Status perkembangan (usia atau kondisi sosial)

f. Faktor psikologis (perilaku emosional)

23
2. Kaji manifestasi klinis

Metode sederhana yang dapat perawat lakukan tanpa instruksi


dari dokter adalah pengukuran tanda-tanda vital, penimbangan
berat badan, serta pengukuran asupan dan haluaran cairan.

a. Berat badan.

Pengukuran berat badan dilakukan disaat yang sama dengan


menggunakan pakaian yang beratnya sama. Peningkatan
atau penurunan 1 kg berat badan setara dengan penambahan
atau pengeluaran 1 liter cairan.

b. Tanda-tanda vital.

Perubahan tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan


tekanan darah, serta tingkat kesadaran) bisa menandakan
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

c. Asupan cairan.

Asupan cairan meliputi cairan oral (NGT dan oral), cairan


parenteral (obat-obat intravena), makanan yang
mengandung air, irigasi kateter.

d. Haluaran cairan.

Haluaran cairan meliputi urine (volume, kepekatan), feses


(jumlah, konsistensi), drainase, dan IWL.

e. Status hidrasi.

Status hidrasi meliputi adanya edema, rasa haus yang


berlebihan, kekeringan pada membran mukosa.

24
f. Proses penyakit.

Kondisi penyakit yang dapat mengganggu keseimbangan


cairan dan eletrolit (mis, diabetes melitus, kanker, luka
bakar, hematemesis dan lain-lain).

g. Riwayat pengobatan.

Obat-obat atau terapi yang dapat mengganggu


keseimbangan cairan dan elektrolit (mis, steroid, diuretik,
dialisis).

3. Lakukan pemeriksaan fisik melalui :

a. Integumen: turgol kulit, suhu tubuh, edema, kelemahan


otot, tetani, dan sensasi rasa

b. Kardiovaskular: distensi vena jugularis, tekanan darah, dan


bunyi jantung.

c. Mata: cekung, air mata kering

d. Neurologi: refleks, gangguan motorik dan sensorik, tingkat


kesadaran dan kekuatan otot

e. Gastrointestinal: mukosa mulut, mulut, lidah, bising usus

f. Auskultasi bunyi / suara napas

4. Review nilai pemeriksaan laboratorium :

a. Berat jenis urine

Berat jenis menunjukkan kemampuan ginjal untuk


mengatur konsentrasi urine. Normalnya pH urine adalah
4,5-8 dan berat jenisnya 1,003-1,030.

25
b. PH urine

Normalnya pH urine adalah 4,5-8 dan berat jenisnya 1,003-


1,030.

c. Analisa gas darah

Biasanya yang diperiksa adalah pH, PO2, HCO3-, PCO2,


dan saturasi O2. Nilai PCO2 normal: 35-40 mmHg; PO2
normal: 80-100mmHg; HCO3- normal: 25-29 mEq/L.
Sedangkan saturasi O2 adalah perbandingan oksigen dalam
darah dengan jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh
darah, normalnya di arteri (95%-98%) dan vena (60%-
85%).

d. Elektrolit serum

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kadar


natrium, kalium, klorida, ion bikarbonat.

e. Pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan ini meliputi


jumlah sel darah merah, hemoglobin (Hb) dan hematokrit
(Ht)

1. Ht naik: adanya dehidrasi berat dan gejala syok.


2. Ht turun: adanya perdarahan akut, masif, dan reaksi
hemolitik.
3. Hb naik: adanya hemokonsentrasi
4. Hb turun: adanya peerdarahan hebat, reaksi hemolitik.
f. BUN

g. Kreatin urine

26
2. DIAGNOSA

Menurut NANDA (2012), masalah keperawatan utama untuk masalah


gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi:

a. Kekurangan volume cairan

Kemungkinan berhubungan dengan :

 Kehilangan cairan aktif

 Kegagalan mekanisme regulasi

Dengan batasan karakteristik :

 Perubahan status mental

 Penurunan tekanan darah

 Penurunan tekanan nadi

 Penurunan volume nadi

 Penurunan turgor kulit

 Penurunan turgor lidah

 Penurunan haluaran urine

 Penurunan pengisian vena

 Embran mukosa kering

 Kulit kering

 Peningkatan hematocrit

 Peningkatan suhu tubuh

 Peningkatan frekuensi nadi

27
 Peningkatan konsentrasi urine

 Penurunan berat badan tiba-tiba

 Haus

 kelemahan

b. Kelebihan volume cairan

Kemungkinan berhubungan dengan :

 Gangguan mekanisme regulasi

 Kelebihan asupan cairan

 Kelebihan asupan natrium

Dengan batasan karakteristik :

 Bunyi napas adventisius

 Gangguan elektrolit

 Anasarka

 Ansietas

 Azotemia

 Perubahan tekanan darah

 Perubahan status mental

 Perubahan pola pernapasan

 Penurunan hematocrit

 Penurunan hemoglobin

 Dyspnea

 Edema

28
 Peningkatan tekanan vena sentral

 Asupan melebuhi haluaran

 Distensi vena jagularis

 Oliguria

 Ortopnea

 Efusi pleura

 Refleks hepatojugular positif

 Perubahan tekanan arteri pulmonal.

 Kongesti pulmonal

 Gelisah

 Perubahan berat jenis urine

 Bunyi jantung S3

 Penambahan berat badan dalam waktu singkat.

c. Risiko kekurangan volume cairan

Faktor risikonya :

 Kehilangan volume cairan aktif

 Kurang pengetahuan

 Penyimpangan yang memengaruhi akses cairan

 Penyimpangan yang memengaruhi asupan cairan

 Kehilangan berlebihan melalui rute normal (mis, diare)

 Usia lanjut

 Berat badan ekstrem

29
 Factor yang memengaruhi kebutuhan cairan (mis, status
hipermetabolik)

 Kegagalan fungsi regulator

 Kehilangan cairan melalui rute abnormal

 Agens farmaseutikal ( mis, deuretik)

d. Risiko ketidakseimbangan volume cairan

Faktor risikonya :

 Bedah abdomen

 Asites

 Luka bakar

 Obsruksi intestinal

 Pankreatitis

 Merasakan berkeringat

 Sepsis

 Cidera traumatic (mis, fraktur panggul)

3. PERENCANAAN.

a. Kekurangan Volume Cairan

Tujuan : Menormalkan volume cairan.

Kriteria Hasil :

 Rasa haus dapat teratasi


 Tidak terjadi perubahan status mental
 Turgor kulit elastis

30
 Haluaran urine kembali normal
 Pengisian vena kembali normal
 Kulit kembali elastis dan membrane mukosa lembab
 Hematocrit kembali normal
 Suhu tubuh kembali normal
 Frekuensi nadi normal 80x/menit, Tekanan darah normal
120/80mmHg, volume dan tekanan nadi kembali normal.
 Konsentrasi urine tidak pekat
 Berat badan kembali normal
 Tidak terjadi kelemahan

Rencana Keperawatan

No Intervensi Rasional

1 Observasi TTV TTV berguna untuk mengetahui (


indicator keadekuatan sirkulasi)

2 Observasi pengisian kapiler, Menunjukan respon efek


turgor kulit dan mukosa bibir. kehilangan cairan.

3 Kaji status hidrasi seperti Indicator langsung kedekuatan


turgor kulit cairan.

4 Kaji intake dan output cairan Memberikan informasi tentang


keadekuatan volume cairan dan
kebutuhan pengganti.

5 Berikan cairan sesuai Mempertahankan dan mengganti


kebuutuhan ±2500ml/hari jumlah cairan yang hilang dan
atau 8 gelas/hari. mengurangi haus.

6 Pantau kesadaran pasien Mengidentifikasi dini


kemungkinan adanya tanda-tanda

31
syok hipovolemik

7 Berikan HE tentang tanda dan Untuk meningkatkan pengetahuan


gejala dehidrasi/kekurangan pasien tentang dehidrasi
volume cairan.

8 Delegatif dalam pemberian Mencegah kehilangan cairan lebih


infuse banyak dan mempertahankan
keseimbangan cairan.

9 Delegatif dalam pemberian Untuk mengurangi gerakan usus


obat anti emetic dan anti diare sehingga dapat mengurangi
kekurangan cairan melalui
muntah dan diare

10 Pemeriksaan lab : konsentrasi Berat jenis urine pada pasien yang


urine kehilangan cairan harus >1003
untuk menunjukan cairan ginjal
yang sehat.

b. Kelebihan volume cairan


Tujuan : Menormalkan volume cairan
Kriteria hasil :
 Tidak terjadi ansietas
 Tidak terjadi dyspnea
 Tidak terjadi rasa gelisah
 Tidak ada suara napas tambahan
 Tidak terjadi perubahan elektrolit
 Anasarka tidak terjadi
 Azotemia tidak terjadi

32
 Tekanan darah kembali normal
 Tidak terjadiperubahan status mental
 Tidak terjadi perubahan pola pernapasan
 Hemoglobin dan hematocrit kembali normal
 Edema
 Tidak terjadi peningkatan tekanan vena sentral
 Asupan cairan kembali normal
 Tidak terjadi distensi vena jagularis
 Tidak terjadi oliguria
 Tidak terjadi ortopnea
 Tidak terjadi Efusi pleura

Rencana Keperawatan

No Intervensi Rasional

1 Observasi TTV TTV berguna untuk mengetahui (


indicator keadekuatan sirkulasi)

2 Pemantauan elektrolit Mengumpulkan dan


menganalisisi data pasien yang
mengatur keseimbangan
elektrolit.

3 Manajemen cairan Meningkatkan keseimbangan


cairan dan mencegah komplikasi
akibat kadar cairan yang
abnormal atau diluar harapan.

4 Pemantauan cairan Mengumpulkan dan


menganalisisdata pasien untuk
mengatur keseimbangan

33
5 Manajemen Cairan/ Elektrolit Mengatur dan mencegah
komplikasi akibat perubahan
kadar cairan dan/atau elektrolit

6 Manajemen Hipervolemia Menurunkan volume cairan


intrasel atau ekstrasel dan
mencegah komplikasi pada
pasien yang mengalami kelebihan
volume cairan.

7 Manajemen Eliminasi Urine Mempertahankan pola eliminasi


urine yang optimal.

c. Risiko kekurangan volume cairan


Tujuan : Mencegah risiko kekurangan volume cairan
Kriteria hasil :
 Keseimbangan elektrolit dan asam basa
 Keseimbangan cairan
 Status hidrasi normal
 Status nutrisi : asupan makanan dan cairan

Rencana Keperawatan

No Intervensi Rasional

1 Manajemen elektrolit Meningkatkan keseimbangan


elektrolit dan mencegah
komplikasi akibat kadar elektrolit
serum yang tidak normal atau di
luar harapan.

34
2 Pemantauan elektrolit Mengumpulkan dan menganalisisi
data pasien yang mengatur
keseimbangan elektrolit.

3 Manajemen cairan Meningkatkan keseimbangan


cairan dan mencegah komplikasi
akibat kadar cairan yang
abnormal atau diluar harapan.

4 Pemantauan cairan Mengumpulkan dan


menganalisisdata pasien untuk
mengatur keseimbangan

5 Manajemen Cairan/ Elektrolit Mengatur dan mencegah


komplikasi akibat perubahan
kadar cairan dan/atau elektrolit

6 Manajemen Hipervolemia Menurunkan volume cairan


intrasel atau ekstrasel dan
mencegah komplikasi pada pasien
yang mengalami kelebihan
volume cairan.

7 Terapi intravena (IV) Memberikan dan memantau


cairan dan obat intravena.

8 Pemantauan nutrisi Mengumpulkan dan menganalisis


data pasien untuk mencegah dan
meminimalkan malnutrisi.

d. Risiko ketidakseimbangan volume cairan

35
Tujuan : Mencegah risiko ketidakseimbangan volume
cairan
Kriteria hasil :
 Keseimbangan elektrolit dan asam-basa
 Keseimbangan cairan
 Status hidrasi normal

Rencana Keperawatan

No Intervensi Rasional

1 Manajemen elektrolit Meningkatkan keseimbangan


elektrolit dan mencegah
komplikasi akibat kadar elektrolit
serum yang tidak normal atau di
luar harapan.

2 Pemantauan elektrolit Mengumpulkan dan menganalisisi


data pasien yang mengatur
keseimbangan elektrolit.

3 Manajemen cairan Meningkatkan keseimbangan


cairan dan mencegah komplikasi
akibat kadar cairan yang
abnormal atau diluar harapan.

4 Pemantauan cairan Mengumpulkan dan


menganalisisdata pasien untuk
mengatur keseimbangan

5 Manajemen Cairan/ Elektrolit Mengatur dan mencegah


komplikasi akibat perubahan
kadar cairan dan/atau elektrolit

36
7 Terapi intravena (IV) Memberikan dan memantau
cairan dan obat intravena.

4. IMPLEMENTASI

Merupakan langkah ke empat dalam proses keperawatan, dan


merupakan tindakan yang direnvanakan dalam rencana tindakan.
Tindakan meliputi tindakan mandiri dan kolabrasi. Pelaksanaan
didasarkan/desesuaikan dengan rencana tindakan.

5. EVALUASI

Masalah volume cairan dan elektrolt yang dapat diatasi :

 Mukosa bibir lembab


 Mata tidak cekung
 Turgor kulit elastis
 Muka pasien tampak cerah
 Konsentrasi urne tidak pekat
 TTV dalam batas normal (TD : sistol : 90-120 mmHg, Diastol 60-
80 mmHg, Suhu : 36-37,4oC, Nadi : 60-100x/menit, RR : 16 –
20x/menit)
 CRT ≤ 3 detik
 Hematocrit dalam batas normal ( Pria : 44-52 %, Wanita : 39-47%
 Nafsu makan meningkat
 Meningkatkan pengetahuan pasien tentang pentingnya volume
cairan.

Evaluasi terhadap gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit secara


umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam mempertahankan
keseimbangan caitan dan elektrolit dengan ditunjukan oleh adanya

37
keseimbangan antara jumlah asupan dan pengeluaran, nilai elektrolit
dalam batas normal, berat badan sesuai dengan tinggi badan atau tidak
ada penurunan, turgor kulit baik, tidak terjadi edema, dan lain
sebagainya.

38