Anda di halaman 1dari 19

Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang


Volume I Nomor 1, Desember 2015

PENGARUH BLENDED MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP


KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA
PADA MATERI DAUR AIR

(Penelitian Kuasi Eksperimen dalam Pembelajaran IPA di Kelas V


Sekolah Dasar Negeri Tanjung III Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Tahun Ajaran 2014/2015)

Acep Roni Hamdani, M.Pd


STKIP Subang
acepronihamdani@rocketmail.com

ABSTRACT

This research is motivated by not maximal enhancement of the ability of learning


outcomes concept understanding and solving problems in material recycling water
using problem based learning model. Through this research studied solutions to
solve these problems, by performing learning using a blended model of Problem
Based Learning. The shape Blended conducted among which are: the provision of
stimulus in the form of audiovisual media before and when learning, students are
given assignments in connection with the matter further, so that students read
many books about the matter further and ready to learn, provide encouragement
and approaches for learning, and improve the effectiveness of learning time. The
purpose of this study is to provide solutions to improve understanding of concepts
and problem solving in science subjects in grade V. The experiment was
conducted in SDN Tanjung III Subang using a quasy-experimental methods. For
the experimental group performed several Blended allegedly able to complete lack
of problem based learning model, while for the control class performed the usual
problem based learning model. The instrument used to conduct research that is:
test the ability of understanding the concept and problem solving as well as
observation sheets teacher activity and student responses. The results showed
differences in the ability of understanding the concept and problem solving
significant between experimental class and control class, n-gain Blended problem
based learning model is better than usual, and there is increased activity of
teachers and students' responses to learning.

Keywords: Model Problem Based Learning, Capability Concept, Problem Solving


Ability, Blended Model Problem Based Learning.

48
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum maksimalnya peningkatan hasil belajar


yang berupa kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah pada
materi daur air dengan menggunakan model Problem Based Learning. Melalui
penelitian ini dikaji solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, yaitu
dengan melakukan pembelajaran yang menggunakan blended model Problem
Based Learning. Adapun bentuk Blended yang dilakukan diantarnya yaitu :
pemberian stimulus berupa media audiovisual sebelum dan ketika pembelajaran,
siswa diberikan tugas yang ada hubungan dengan materi selanjutnya, sehingga siswa
banyak membaca buku tentang materi selanjutnya dan siap untuk belajar,
memberikan dorongan dan pendekatan selama pembelajaran, serta pengefektifan
waktu pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah memberikan solusi untuk
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah pada
mata pelajaran IPA di SD kelas V. Penelitian dilaksanakan di SDN Tanjung III
Kabupaten Subang dengan menggunakan metode kuasi eksperimen. Untuk kelas
eksperimen dilakukan beberapa Blended yang diduga mampu melengkapi
kekurangan dari model Problem Based Learning sedangkan untuk kelas kontrol
dilakukan model Problem Based Learning biasa. Instrumen yang digunakan untuk
melakukan penelitian yaitu : tes kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan
masalah serta lembar observasi aktivitas guru dan respon siswa. Hasil penelitian
menunjukan adanya perbedaan kemampuan pemahaman konsep dan
pemecahan masalah yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol,
n-gain Blended model Problem Based Learning lebih baik daripada biasa, serta
ada peningkatan aktivitas guru dan respon siswa terhadap pembelajaran.

Kata kunci : Model Problem Based Learning, Kemampuan Pemahaman Konsep,


Kemampuan Pemecahan Masalah, Blended Model Problem Based
Learning.

utuh, yang dititikberatkan pada


A. Pendahuluan kompetensi berfikir dan komunikasi
Pendidikan memiliki peranan (Abidin, 2013, hlm. 8). Hal tersebut
yang sangat penting untuk sependapat dengan Morocco (2008,
meningkatkan taraf hidup suatu hlm. 5) bahwa ada empat kompetensi
peradaban yang lebih baik di masa yang harus dimiliki oleh siswa, yakni
yang akan datang. Pendidikan kemampuan pemahaman yang tinggi,
sekarang ini dihadapkan dengan berfikir kritis, berkolaborasi, dan
masalah yang berat, salah satu komunikasi. Pendapat tersebut
tantangan pendidikan abad 21 adalah diperkuat oleh Trilling dan Fadel
harus menghasilkan sumber daya (2009, hlm. 48) bahwa kemampuan
manusia yang memiliki kompetensi utama yang harus dimiliki dalam

49
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

konteks abad 21 adalah kemampuan percobaan, evaluasi, pengukuran, dan


berfikir kreatif, komunikasi, kolaborasi penarikan kesimpulan, 3) Produk
dan memecahkan masalah. berupa fakta, prinsip, teori, dan
Kemampuan tersebut dapat hukum, 4) aplikasi merupakan
dilatih melalui pembelajaran IPA, penerapan metode ilmiah dan konsep
karena mata pelajaran IPA dapat IPA dalam kehidupan sehari-hari.
mengembangkan kemampuan berpikir Keempat unsur itu merupakan ciri IPA
analitis, induktif, dan deduktif untuk yang utuh dan tidak dapat dipisahkan
menyelesaikan masalah yang satu sama lain (Puskur dalam Trianto,
berkaitan dengan peristiwa alam 2007, hlm. 17). Dalam proses
sekitar (Nuryani, 2003, hlm. 97). pembelajaran IPA keempat unsur itu
Penyelesaian masalah yang bersifat diharapkan dapat muncul, sehingga
kualitatif dan kuantitatif dilakukan peserta didik dapat mengalami proses
dengan menggunakan pemahaman pembelajaran yang utuh, memahami
dalam bidang IPA dan pengetahuan fenomena melalui kegiatan
pendukung lainnya, sehingga pemecahan masalah, metode ilmiah,
penyelesaian masalah tersebut dapat dan meniru cara ilmuan bekerja dalam
dilakukan dengan efektif dan efesien. menemukan fakta baru. Pendapat ini
Hal itu sesuai dengan pendapat Carin didukung oleh Bundu (dalam Trianto,
dan Sund (1972, hlm.16) yang 2007, hlm. 32), yang menyatakan
mendefinisikan IPA sebagai belajar IPA tidak hanya sekedar
pengetahuan yang sistematis dan penguasaan pengetahuan yang
tersusun secara teratur, berlaku berupa fakta, konsep, prinsip serta
umum, dan berupa kumpulan data hukum tetapi juga merupakan suatu
hasil observasi dan eksperimen. Hal proses penemuan. Oleh karena itu,
ini berarti bahwa pendidikan IPA siswa perlu memahami konsep-
menekankan pada pemberian konsep dalam pembelajaran IPA
pengalaman langsung untuk sehingga siswa mampu mengingat
mengembangkan kompetensi agar materi dan mengaplikasikannya dalam
siswa mampu menjelajahi dan kehidupan sehari-hari dengan baik
memahami alam sekitar secara ilmiah. dibandingkan dengan menghafal
Merujuk pada pengertian IPA di atas, konsep tanpa memahaminya terlebih
hakikat IPA meliputi empat unsur dahulu.
utama yaitu: 1) Sikap rasa ingin tahu Kemampuan pemahaman ini
tentang benda, fenomena alam, merupakan hal yang sangat
makhluk hidup, serta hubungan sebab fundamental, karena dengan
akibat yang menimbulkan masalah pemahaman akan dapat mencapai
baru yang dapat dipecahkan melalui pengetahuan prosedur. Pemahaman
prosedur yang benar, 2) Proses : adalah suatu cara yang sistematis
prosedur pemecahan masalah melalui dalam memahami dan
metode ilmiah yang meliputi mengemukakan tentang sesuatu yang
penyusunan hipotesis, perancangan diperolehnya (Harja dalam Santyasa,

50
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

2005, hlm. 23). Pemahaman memiliki pemahaman konsep yang


menduduki posisi strategis dalam baik, maka pengetahuan yang
tangga belajar (learning ladder). Pada diperoleh mampu diingat lebih lama,
tangga belajar, urutan dari bawah ke sehingga akan berpengaruh positif
atas adalah data, information, terhadap hasil belajar siswa. Begitu
knowledge, understanding, insight, juga sebaliknya, apabila pemahaman
wisdom (Longworth dalam Santyasa, konsep siswa kurang baik, maka
2005, hlm. 24). Seseorang tidak akan kemampuan siswa untuk mengingat
mampu mencapai tingkatan insight dan memahami materi pelajaran
dan wisdom sebelum ia melalui menjadi kurang baik sehingga akan
tingkatan data, information, berdampak pada rendahnya hasil
knowledge, dan understanding. belajar yang diperoleh siswa itu
Taksonomi pembelajaran sendiri.
menunjukkan bahwa pemahaman Suastra (2009, hlm. 3) juga
berada pada level: comprehension menjelaskan salah satu tujuan dari
menurut taksonomi Bloom, verbal mata pelajaran IPA di SD yaitu siswa
information menurut taksonomi memiliki kemampuan
Gagne, meaningful learning menurut mengembangkan pengetahuan dan
taksonomi Ausubel, declarative pemahaman konsep yang bermanfaat,
knowledge menurut taksonomi sehingga dapat diaplikasi- kan dalam
Anderson, remember paraphrased kehidupan nyata siswa. Konsep-
menurut taksonomi Merril, dan pada konsep pembelajaran IPA tersusun
level understand relationship menurut secara sistematis, sehingga
taksonomi Reigeluth & Moore (dalam diperlukan pemahaman konsep dalam
Santyasa, 2005, hlm. 24). Hal ini setiap materi pelajaran sebelum
menunjukkan bahwa pemahaman melanjutkan ke materi selanjutnya.
memiliki peranan yang sangat penting Konsep yang lebih awal diajarkan
dalam pembelajaran. akan menjadi dasar bagi
Pemahaman juga merupakan pengembangan konsep-konsep
dasar untuk mencapai hasil belajar. selanjutnya. Jika konsep dasar yang
Hasil belajar yang tinggi menunjukkan diajarkan belum dipahami dengan
pemahaman siswa yang tinggi, dan baik, maka akan berpengaruh pada
begitu pula sebaliknya (Widiani dalam pemahaman konsep selanjutnya. Hal
Warpala, 2006, hlm.19). Hal tersebut tersebut dapat mengakibatkan
didukung oleh pendapat Warpala kegagalan siswa dalam memecahkan
(2006, hlm. 3) bahwa pemahaman masalah pada proses pembelajaran
konsep merupakan prasyarat untuk yang dilakukan di sekolah (Suastra,
mencapai pengetahuan atau 2009, hlm. 4).
keterampilan pada tingkat yang lebih Selain kemampan pemahaman
tinggi. Artinya pemahaman konsep yang tinggi, kemampuan pemecahan
merupakan landasan pokok dalam masalah juga penting sesuai dengan
proses pembelajaran. Apabila siswa tuntutan pendidikan abad 21 seperti

51
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

yang dijelaskan di atas, kemampuan kemampuan yang sangat penting


ini memiliki hubungan yang erat dalam pembelajaran sains. Masalah-
dengan kemampuan pemahaman masalah sains merupakan gagasan
konsep. Karena siswa tidak akan yang berperan penting membangun
dapat menyelesaikan masalah, kalau kapasitas pemecahan masalah siswa
ia belum memahami konsep-konsep dan membuat pelajaran sains menjadi
untuk menyelesaikan masalah lebih menyenangkan dan dapat
tersebut. Memecahkan masalah memotivasi siswa untuk lebih
merupakan aktivitas dasar manusia berprestasi. Kemampuan
dalam menjalani kehidupan karena memecahkan masalah tidak hanya
untuk bertahan hidup dan digunakan dalam penyelesaian
mengembangkan diri manusia selalu permasalahan sains dalam bentuk
berhadapan dengan masalah. matematis, namun bagaimana
Pendidikan diharapkan dapat memecahkan masalah terhadap
membantu siswa memiliki fenomena-fenomena yang terjadi di
kemampuan pemecahan masalah lingkungan sekitar. Permasalahan
yang baik agar dapat menyelesaikan tersebut dipecahkan oleh siswa
persoalan dan pertanyaan yang dengan menggunakan konsep-konsep
berkaitan dengan mata pelajaran IPA sains yang telah mereka pahami.
pada khususnya (Wasiso, 2013, hlm. Siswa yang memiliki kemampuan
24). memecahkan masalah akan mampu
Menurut Rusman (dalam mengaplikasikan pengetahuan yang
Abidin,2013, hlm. 230) masalah dapat mereka miliki dalam konteks
mendorong keseriusan, inquiry, dan permasalahan yang dihadapi. Akan
berpikir dengan cara yang bermakna tetapi pada kenyataan di Indonesia
dan sangat kuat (powerfull). Hal kedua kemampuan tersebut masih
senada diungkapkan oleh Abidin sangat rendah, hal ini dibuktikan oleh
(2013, hlm. 9) kemampuan dua indikator, indikator pertama
pemecahan masalah sebagai salah berdasarkan hasil survei Trends in
satu orientasi pembelajaran modern, International Mathematics and
secara lebih luas akan membekali Science Study (TIMMS), skor rata-rata
siswa kemampuan menggunakan perolehan anak Indonesia selalu
berbagai alasan secara efektif, berada di bawah rata-rata skor dunia
kemampuan berpikir secara sistemik, dan tergolong ke dalam kategori low
kemampuan mempertimbang- kan benchmark artinya siswa baru
dan mengambil keputusan, serta mengenal beberapa konsep mendasar
kemampuan berkomunikasi dan dalam pembelajaran IPA. Skor rata-
berkola- borasi. rata perolehan anak Indonesia untuk
Sejalan dengan pendapat IPA mencapai 427 tahun 1999, 420
tersebut, (Heller, 1991, hlm. 24) tahun 2003, dan 435 tahun 2007
mengemukakan bahwa pemecahan dengan skor maksimal 650 pada
masalah merupakan salah satu tahun 2011 (Puspendik, dalam Huda,

52
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

2011). Hal ini diperkuat oleh Laporan dihafal sehingga berdampak pada
United Nation Development Program rendahnya kemampuan peserta didik
menyatakan bahwa posisi Indonesia pada aspek kognitif, b) aspek kognitif
dalam Human Development Index tingkat tinggi seperti analisis,
pada tahun 2011 berada pada mengolah masalah, mengevaluasi,
peringkat 124 dari 187 negara, dan menciptakan belum biasa
sedangkan di Asia Pasifik, Indonesia dilatihkan kepada peserta didik, c)
berada di Nomor 12 dari 20 negara peserta didik masih kesulitan dalam
yang disurvei (UNDP dalam Huda, menerapkan pengetahuan yang
2011). dimiliki dalam kehidupan sehari-hari,
Indikator kedua, berdaskan hasil d) peserta didik juga belum biasa
penelitian yang dilakukan oleh Juni menyelesaikan suatu permasalahan
(dalam Santyasa, 2005) bahwa yang didahului dengan kegiatan
kemampuan pemahaman konsep penyelidikan.
siswa masih sangat rendah, siswa Model pembelajaran yang cocok
masih berada pada tahap menghapal untuk menyelesaikan permasalahan
konsep, sehingga hal tersebut yang tersebut adalah model pembelajaran
menjadi penyebab rendahnya aktif yang merupakan salah satu
kemampuan pemecahan masalah, hal model pembelajaran yang dipilih
tersebut didukung oleh hasil penelitian sebagai alternatif lain dari
Wasiso (2013) bahwa kemampuan pembelajaran yang menempatkan
pemecahan masalah siswa masih siswa sebagai penerima pengetahuan
sangat kurang, sehingga perlu (Mahmood dalam Sadia, 2007, hlm.
dikembangkan untuk menyelesaikan 57). Pembelajaran aktif, memberikan
minimalnya masalah-masalah yang kesempatan bagi siswa untuk dapat
berhubungan dengan kehidupan secara langsung terlibat dalam
mereka, selain hasil penelitian pembelajaran melalui tulisan singkat,
tersebut berdasarkan hasil studi diskusi, think-pair-share, kuis formatif,
pendahuluan terungkap bahwa debat, bermain peran (role playing),
kemampuan pemahaman konsep dan pembelajaran kooperatif,
pemecahan masalah siswa masih pembelajaran kolaboratif dan
sangat kurang. Dari kedua indikator presentasi (Malik dalam Taupiq,
tersebut menunjukan bahwa 2011).
kemampuan pemahaman konsep dan Salah satu model pembelajaran
pemecahan masalah perlu aktif adalah model Problem Based
dikembangkan. Learning. Model Problem Based
Adapun penyebab kedua hal Learning merupakan model
tersebut masih sangat rendah pembelajaran yang didesain untuk
diantaranya yaitu : a) pelajaran IPA menyelesaikan masalah yang
dikalangan peserta didik kelas V disajikan. Model ini menyuguhkan
masih dianggap sebagai produk, yaitu berbagai situasi bermasalah yang
berupa kumpulan konsep yang harus autentik, dan bermakna kepada

53
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

peserta didik, yang dapat berfungsi diperoleh berada pada kategori yang
sebagai batu loncatan untuk lebih baik (tinggi).
melakukan investigasi dan Pemerintah sudah ada keinginan
penyelidikan. PBL membantu peserta untuk meningkatkan kemampuan dan
didik untuk mengembangkan profesionalisme guru, yaitu dengan
keterampilan menyelesaikan masalah mengadakan pelatihan kurikulum oleh
(Arends, 2008, hlm. 41). LPMP Jawa Barat, salah satu isinya
Keefektifan dari model ini adalah pelatihan tentang model
adalah peserta didik lebih aktif pembelajaran Problem Based Learning,
dalam berpi- kir dan memahami namun berbagai kendala terjadi,
materi secara berkelompok dengan diantaranya anak kurang tertarik untuk
melakukan investigasi dan inkuiry menyelesaikan masalah, waktu yang
terhadap permasalahan yang nyata di dibutuhkan sangat banyak, serta
sekitarnya sehingga mereka sumber yang dibutuhkan kurang
mendapatkan kesan yang mendalam tersedia di sekolah, kelemahan tersebut
dan lebih bermakna tentang apa sejalan dengan apa yang dikemukakan
yang mereka pelajari. Dengan oleh Sanjaya (2009, hlm. 221) antara
menerapkan model PBL pada lain: 1) siswa tidak memiliki minat atau
pembelajaran IPA diharapkan tidak mempunyai kepercayaan dan
peserta didik akan mampu beranggapan masalah yang dipelajari
menggunakan dan mengembangkan sulit untuk dipecahkan, sehingga
kemampuan pemecahan masalah mereka merasa enggan untuk
terhadap masalah autentik yang terjadi mencoba ;2) keberhasilan model
kepada siswa, sehingga kemampuan pembelajaran melalui PBL
berfikir mereka akan meningkat yang di membutuhkan waktu lama untuk
dalamnya ada kemampuan pemecahan persiapan dan pelaksaan
masalah (Sanjaya, 2006, hlm. 220-221). pembelajaran; 3) tanpa pemahaman
Penelitian tentang keefektipan mengapa mereka berusaha untuk
PBL sudah cukup banyak, diantaranya memecahkan masalah yang dipelajari,
yang dilakukan oleh Satria (2014) nilai maka mereka tidak akan belajar apa
n-gain yang diperoleh adalah 0,3, yang mereka pelajari. Dikarenakan
termasuk kategori sedang, penelitian permasalahan tersebut, maka peneliti
yang dilakukan oleh Wasiso (2013) nilai melakukan Blended pada beberapa hal,
n-gain yang diperoleh 0,4, termasuk diantarnya pemberian stimulus dalam
kategori sedang, dan penelitian yang bentuk media audiovisual sebelum dan
dilakukan oleh Reta (2012) nilai n-gain ketika pembelajaran, siswa diberikan
yang diperoleh adalah 0,4, termasuk tugas yang ada hubungan dengan
kategori sedang. Dari data tersebut materi selanjutnya, sehingga siswa
dapat disimpulkan bahwa masih perlu banyak membaca buku tentang materi
upaya untuk penelitian lanjutan selanjutnya dan siap untuk belajar,
mengenai model Problem Based memberikan dorongan dan pendekatan
Learning, agar nilai n-gain yang selama pembelajaran, serta

54
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

pengefektifan waktu pembelajaran. tersebut.


Diharapkan dengan adanya Blended
model pembelajaran tersebut, akan B. Landasan Teori
dapat meningkatkan hasil pembelajaran 1. Model Problem Based Learning
sehingga dapat mencapai n-gain Menurut Alma (2008, hlm. 100)
dengan predikat lebih tinggi. model mengajar merupakan sebuah
Adapun materi yang akan diteliti perencanaan pengajaran yang
didasarkan pada peraturan Mendiknas menggambarkan proses yang
RI No. 22 Tahun 2006 tentang standar ditempuh pada proses belajar
kompetensi dan kompetensi dasar mengajar agar dicapai perubahan
tingkat MI/SD, ruang lingkup bahan spesifik pada perilaku peserta didik
kajian IPA meliputi aspek-aspek seperti yang diharapkan. Sedangkan
sebagai berikut: a. makhluk hidup dan model pembelajaran menurut Isjoni
proses kehidupan, yaitu manusia, (2008, hlm.146) merupakan strategi
hewan, tumbuhan dan interaksinya yang digunakan guru untuk
dengan lingkungan serta kesehatan. meningkatkan motivasi belajar, sikap
b. benda/materi, sifat-sifat, dan belajar, mampu berpikir kritis, memiliki
keguanaannya meliputi: cair, padat keterampilan sosial, dan pencapaian
dan gas. c. energi dan perubahannya hasil pembelajaran yang lebih optimal
meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, dikalangan peserta didik.
listrik, cahaya, dan pesawat Pemilihan model pembelajaran
sederhana. d. bumi dan alam semesta yang tepat dapat memacu peserta
meliputi: tanah, bumi, sumber daya didik untuk lebih aktif dalam belajar.
alam, dan benda-benda langit lainnya. Salah satu alternatif model
Berdasarkan ruang lingkup IPA pembelajaran yang dapat
tersebut, materi yang akan menjadi mengembangkan keterampilan
objek studi penelitian adalah tentang berpikir peserta didik dalam
daur air, karena hal ini telah memecahkan masalah dan
berdampak serius bagi kehidupan meningkatkan kemampuan
siswa dan masyarakat tempat pemahaman konsep adalah model
penelitian pada umumnya. Tempat Problem Based Learning. Hal ini
tinggal mereka kebanjiran ketika didukung oleh pendapat Ni (2008,
musim penghujan dan kekeringan hlm. 76) bahwa penerapan model
ketika musim kemarau, apalagi Problem Based Learning dimaksudkan
sekarang diprediksi oleh BMKG untuk meningkatkan partisipasi dan
bahwa akan ada dampak dari El Nino prestasi belajar peserta didik karena
terhadap masa kemarau yang melalui pembelajaran ini peserta
cenderung lebih panjang. Jika materi didik belajar bagaimana
tentang daur air dapat dipahami dan menggunakan konsep dan proses
dilakukan oleh siswa dan masyarakat interaksi untuk menilai apa yang
pada umumnya, maka bisa diprediksi mereka ketahui, mengidentifikasi apa
akan mengurangi dampak kekeringan yang ingin diketahui, mengumpulkan

55
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

informasi dan secara kolaborasi memecahkan masalah dan membantu


mengeva- luasi hipotesisnya peserta didik dalam mengevaluasi
berdasarkan data yang telah pemahamannya. Model Problem
dikumpulkan. Sedangkan menurut Based Learning merupakan model
Trianto (2009, hlm. 90) model pembelajaran yang membantu
pembelajaran berdasarkan masalah peserta didik untuk mengembangkan
merupakan suatu model pembelajaran keaktifan dalam kegiatan
yang didasarkan pada banyaknya penyelidikan. Selain itu Model
permasalahan yang membutuhkan Problem Based Learning dapat
penyelidikan autentik, yakni mengembangkan kemampuan berpikir
penyelidikan yang membutuhkan dalam upaya menyelesaikan masalah.
penyelesaian nyata dari 2. Blended Model Problem Based
permasalahan nyata. Sama halnya Learning
dengan pernyataan tersebut, menurut Seperti sudah disebutkan dalam
Riyanto (2009, hlm. 288) model pendahuluan bahwa ada perbedaan
Problem Based Learning merupakan perlakuan yaitu pada kelas
model pembelajaran yang dapat eksperimen menggunakan model
membantu peserta didik untuk aktif Blended Problem Based Learning
dan mandiri dalam mengembangkan sedangan pada kelas kontrol
kemampuan berpikir untuk menggunakan model Problem Based
memecahkan masalah melalui Learning biasa. Adapun rincian
pencarian data sehingga diperoleh perbedaannya adalah sebagai berikut
solusi rasional dan autentik. :
Lebih lanjut Trianto (2010, hlm. a. Pemberian Stimulus Sebelum dan
96) mengemukakan bahwa model Ketika Pembelajaran Berlangsung
Problem Based Learning adalah Pemberian stimulus pada kelas
pembelajaran yang realistik dengan eksperimen adalah berupa penayangan
kehidupan peserta didik, pemberian video dalam bentuk film dan powerpoint
konsep untuk menumbuhkan sikap yang dilengkapi dengan suara,
inkuiry peserta didik, dan memupuk sedangkan pada kelas kontrol
kemampuan Problem Solving. Begitu pemberian stimulus dalam bentuk
pula menurut Yamin (2009, hlm. 83) verbal disertai gambar-gambar saja.
pembelajaran berdasarkan masalah b. Mendorong Siswa untuk
membantu peserta didik untuk Membaca Materi yang Akan
mengembangkan pengetahuan baru Diberikan Sehingga Siap untuk
untuk kepentingan persoalan Belajar dan Mempersiapkan Fisik
berikutnya. PBL dapat membantu Mereka agar Tetap Sehat
peserta didik belajar mentransfer Perbedaan perlakuan dalam hal ini
pengetahuan mereka ke dalam adalah bahwa pada kelas eksperimen
persoalan nyata. Pembelajaran siswa diintruksikan untuk membaca
berdasarkan masalah dapat materi yang akan dipelajari untuk
mengembangkan kemampuan meningkatkan kesiapan siswa untuk

56
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

belajar dan menjaga kesehatan serta belajar, dan kedua adalah


sarapan terlebih dahulu sebelum pengefektifan waktu pembelajaran
berangkat ke sekolah sebagai upaya dengan menggunakan Blended model
untuk meningkatkan kesiapan fisik, Problem Based Learning sehingga
untuk mengecek hal tersebut, proses pembelajaran efektif dan
sebelum pembelajaran siswa diberi efisien. Pengefektifan waktu kedua
pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya memiliki hubungan yang
berhubungan dengan materi yang sangat erat dengan pengefektifan
akan dibahas, sedangkan pada kelas waktu pertama, karena dengan
kontrol tidak dilakukan treatment melakukan manajemen waktu yang
tersebut. baik maka siswa akan banyak belajar,
c. Memberikan Motivasi dan mengerjakan tugas dengan baik dan
Pendekatan Sebelum dan Ketika maksimal, serta meluangkan waktu
Pembelajaran untuk menambah pengetahuan
Pemberian motivasi disini yaitu dalam mereka dari berbagai sumber.
bentuk motivasi eksternal yang erat Pengefektifan waktu kedua
kaitannya dengan penggunaan media secara signifikan terjadi pada kelas
audiovisual yang hanya diberikan eksperimen, karena pada kelas
kepada kelas eksperimen, sedangkan eksperimen siswa sudah membaca
pada kelas kontrol hanya berupa materi sebelum pembelajaran,
media visual saja. Dengan adanya sehingga siswa menjadi lebih
media audiovisual yang menampilkan mengerti dan tidak membutuhkan
video-video pembelajaran, penulis waktu lama untuk memperkuat
menduga siswa akan tertarik untuk pemahaman konsep siswa,
mengikuti pembelajaran dengan baik. sedangkan pada kelas kontrol waktu
Elemen motivasi ini juga diperkuat terbuang banyak karena pada
oleh kesiapan siswa untuk belajar dasarnya siswa tidak memiliki
karena sudah membaca materi yang persiapan yang cukup untuk belajar.
akan diberikan di sekolah, yang hanya Selain hal itu dengan dibantu oleh
diberikan di kelas eksperimen. Selain media audiovisual siswa menjadi lebih
hal tersebut dilakukan pula memahami secara mendalam, karena
pendekatan kepada siswa secara materi dibuat sekonkret mungkin.
intensif sebelum dan ketika Dengan materi yang di buat nyata,
pembelajaran. maka waktu yang terpakai untuk
d. Pengefektifan Waktu membuat siswa paham menjadi lebih
Pembelajaran efektif.
Pengefektifan waktu 3. Kemampuan Pemecahan Masalah
pembelajaran ini dibagi menjadi dua, Dalam proses pemecahan
pertama berkaitan dengan masalah kunci utama terletak dalam
pengefektifan waktu siswa untuk diri peserta didik, guru hanya
kegiatan bermanfaat sehingga mereka merupakan instruksi verbal yang
banyak meluangkan waktu untuk membantu atau membimbing peserta

57
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

didik untuk memecahkan masalah. pemecahan masalah tersebut


Proses pemecahan masalah dimulai berkaitan dengan kemampuan
dengan adanya keinginan yang kuat melakukan proses sains atau metode
untuk menyelesaikan masalah. ilmiah, yang meliputi: (1) observasi (2)
Keinginan ini akan menimbulkan mengklasifikasikan (3) mengukur (4)
motivasi untuk mencapai tujuan menghitung (5) berkomunikasi (6)
pemecahan masalah, dan jika tujuan merumuskan hipotesis (7)
tercapai akan menimbulkan menginterpretasikan data (8)
kepuasan dan kebanggaan tersendiri, melakukan percobaan dan (9)
namun demikian untuk mencapai menarik kesimpulan. Dengan hal itu,
keinginan tersebut kadang-kadang maka dalam pengajaran IPA
timbul hambatan karena adanya kemampuan problem solving ini pada
masalah-masalah yang harus umumnya melibatkan kemampuan
diselesaikan terlebih dahulu. berpikir dan kemampuan mengamati
Pemecahan masalah di bidang gejala alam secara tepat,
IPA pada dasarnya merupakan suatu kemampuan berpikir ini akan selalu
proses menemukan jawaban dari mengacu pada pemecahan masalah
permasalahan IPA yang dihadapinya. yang sifatnya logis dan sistematis.
Hal tersebut merupakan kemampuan 4. Pemahaman Konsep
yang berkaitan dengan penerapan Pemahaman konsep merupakan
prinsip yang telah dipelajari untuk kemampuan siswa dalam memahami
mencapai tujuan tertentu. Untuk dapat konsep-konsep setelah kegiatan
memecahkan masalah secara baik, pembelajaran, sehingga siswa dapat
pemahaman prinsip-prinsip secara memahami makna secara ilmiah, baik
baik dapat menunjang pemecahan konsep secara teori maupun
masalah yang baik. Sehingga dapat penerapannya dalam kehidupan
dikatakan bahwa pemecahan sehari-hari. Pemahaman konsep
masalah dapat digunakan sebagai merupakan bagian dari hasil dalam
salah satu cara untuk menentukan komponen pembelajaran. Konsep,
prestasi belajar peserta didik, sebab prinsip, struktur pengetahuan dan
pemecahan masalah tersebut pemecahan masalah merupakan hasil
berhubungan dengan penerapan belajar yang penting pada ranah
prinsip atau konsep IPA dalam kognitif, karena diperoleh dari
menyelesaikan soal. Menurut Amien pengalaman dan proses belajar,
(1987, hlm.41), bahwa dalam sedangkan belajar merupakan proses
memecahkan suatu problem, seorang kognitif yang melibatkan tiga proses
ilmuwan melakukan dengan yang berlangsung hampir bersamaan
mengikuti metode ilmiah. yaitu, memperoleh informasi yang
Berdasarkan pengertian baru, transformasi informasi dan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa menguji relevansi ketetapan
pemecahan masalah memerlukan pengetahuan, namun tidak terlepas
suatu tindakan sehingga kemampuan dari ranah afektif dan psikomotor.

58
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

Keberhasilan belajar bukan didefinisikan sebagai kemampuan


hanya tergantung pada lingkungan untuk menyerap arti dari materi atau
dan kondisi belajar, tetapi juga pada bahan yang dipelajari. Pemahaman
pengetahuan awal siswa. Belajar merupakan hasil proses belajar
melibatkan pembentukan makna oleh mengajar yang mempunyai indikator
siswa dari apa yang mereka lakukan, individu dapat menjelaskan atau
lihat, dengar, dan rasakan. Apabila mendefinisikan suatu unit informasi
siswa memiliki pemahaman konsep dengan kata-kata sendiri. Dari
yang baik, maka pengetahuan yang pernyataan ini, siswa dituntut untuk
diperoleh mampu diingat lebih lama, tidak sebatas mengingat kembali
sehingga akan berpengaruh positif pelajaran, namun lebih dari itu siswa
terhadap hasil belajar siswa. Begitu mampu mendefinisikan. Hal ini
juga sebaliknya, apabila pemahaman menunjukkan siswa telah memahami
konsep siswa kurang baik, maka materi pelajaran walau dalam bentuk
kemampuan siswa untuk mengingat susunan kalimat berbeda tetapi
dan memahami materi pelajaran kandungan maknanya tidak berubah.
menjadi kurang baik sehingga akan Sedangkan pengertian
berdampak pada rendahnya hasil pemahaman menurut Anderson &
belajar yang diperoleh siswa itu Krathwohl (2001, hlm. 70-74) adalah
sendiri. kemampuan untuk menangkap makna
Paham merupakan kata dasar dan arti dari bahan yang dipelajari.
dari pemahaman. Dalam kamus besar Pemahaman merupakan kemampuan
Bahasa Indonesia paham memiliki arti siswa menerangkan sesuatu dengan
mengerti benar, tahu benar kata-kata sendiri, mengenali,
(Depdiknas, 2008). Seseorang menafsirkan, dan menarik kesimpulan
dikatakan paham apabila seseorang dari informasi yang didapatkan.
itu mengerti benar akan suatu konsep Pemahaman tidak hanya terbatas
sehingga dapat menjelaskan kembali pada mengingat atau memproduksi
dan menarik suatu kesimpulan. Dalam kembali informasi yang telah
pembelajaran pemahaman didapatkan tetapi juga melibatkan
merupakan hasil dari belajar. Sudjana berbagai kemampuan dari individu.
(2008, hlm. 24) mengemukakan Pemahaman bukan hanya
pengertian pemahaman ke dalam tiga mengetahui yang sifatnya ingatan saja
kategori yaitu: 1) pemahaman tetapi mampu mengungkap kembali
diartikan sebagai kemampuan dalam bentuk lain atau kata-kata
menerjemahkan, 2) pemahaman sendiri sehingga mudah dimengerti
diartikan sebagai kemampuan maknanya tetapi tidak mengubah arti
menafsirkan dan (3) pemahaman yang dikandungnya.
diartikan sebagai kemampuan Sedangkan Gerdener (dalam
ekstrapolasi. Suherman, 2008) menyatakan
Menurut Bloom (dalam Sudjana, pemahaman adalah suatu proses
2008, hlm. 123), pemahaman mental terjadinya adaptasi dan

59
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

transformasi ilmu pengeta- huan. pembelajaran IPA SD adalah agar


Pemahaman konsep berkenaan peserta didik memiliki kemampuan
dengan pengertian yang memadai sebagai berikut: 1). Memperoleh
tentang sesuatu, berbuat lebih keyakinan terhadap kebesaran Tuhan
daripada mengingat, dapat Yang Maha Esa berdasarkan
menangkap suatu masalah, dan keberadaan, keindahan dan
menjelaskan atau menguraikan keteraturan alam ciptaan-Nya, 2).
makna atau ide pokok tersebut Mengembangkan pengetahuan dan
dengan mengguna- kan konsep yang pemahaman konsep-konsep IPA yang
telah dipahami atau diketahui bermanfaat dan dapat diterapkan
sebelumnya (Suherman, 2008). dalam kehidupan sehari-hari, 3).
Pemahaman konsep merupakan Mengembangkan rasa ingin tahu,
kemampuan mengkontruksikan sikap positif dan hubungan yang
makna atau pengertian suatu konsep saling mempengaruhi antara IPA,
berdasarkan pengetahuan awal yang lingkungan, teknologi dan masyarakat,
dimiliki, atau mengintegrasikan 4). Mengembangkan keterampilan
pengetahuan yang baru ke dalam proses untuk menyelidiki alam sekitar,
skema yang telah ada dalam memecahkan masalah dan membuat
pemikiran siswa. keputusan, 5). Meningkatkan
Anderson (dalam Krathwohl, kesadaran untuk berperan serta
2001) menyatakan indikator-indikator dalam memelihara, menjaga dan
yang digunakan sebagai acuan dalam melestarikan lingkungan alam, 6).
proses memahami konsep-konsep Meningkatkan kesadaran untuk
yang dilakukan oleh siswa. Indikator- menghargai alam dan segala
indikator tersebut yaitu keteraturannya sebagai salah satu
menginterpretasi (Interpreting), ciptaan Tuhan, 7). Memperoleh bekal
memberikan contoh (Examplifying), pengetahuan, konsep dan
mengklasifikasi (Classifying), keterampilan IPA sebagai dasar untuk
merangkum (Summarizing), menduga melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
(Inferring), membandingkan Hal ini diperkuat oleh pendapat
(Comparing) dan menjelaskan Ndraka (dalam Wirtha dan Rapi, 2007,
(Explaning). Pemahaman konsep hlm.18) menyatakan, pemahaman
dapat membuat siswa menguasai konsep dalam pembelajaran Sains
secara lengkap ciri dan sifat, menuntut proses pembelajaran sains
penerapan, dan pengembangan di sekolah tidak semata-mata
konsep yang telah dipelajari. menyiapkan anak didik untuk
Pemahaman konsep merupakan melanjutkan ke jenjang pendidikan
tuntutan Pembelajaran IPA sesuai yang lebih tinggi, namun yang lebih
dengan peraturan Menteri Pendidikan penting adalah menyiapkan peserta
Nasional Nomor 22 Tahun 2006 didik untuk: 1) mampu memecahkan
(dalam Suastra, 2009, hlm.10) masalah yang dihadapi dalam
menyatakan bahwa tujuan kehidupan sehari-hari dengan

60
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

menggunakan konsep-konsep Sains, quasi experimental design


2) mampu mengambil keputusan yang (eksperimen semu) karena subjek
tepat dengan menggunakan konsep- yang diteliti adalah manusia, dimana
konsep ilmiah, dan 3) mempunyai mereka tidak boleh dibedakan antara
sikap ilmiah dalam memecahkan satu dengan yang lain, seperti
masalah yang dihadapi sehingga mendapatkan perlakuan karena
memungkinkan mereka untuk berpikir berstatus sebagai kelompok kontrol
dan bertindak secara ilmiah. (Latipun, 2002, hlm. 68). Ciri utama
Dari pemaparan di atas dapat dari penelitian eksperimen semu ini
disimpulkan pemahaman konsep adalah kemungkinan untuk
adalah merupakan kemampuan siswa mengontrol variabel yang relevan,
dalam memahami konsep-konsep namun tidak dapat lepas dari variabel-
setelah kegiatan pembelajaran, variabel lain yang mungkin
sehingga siswa dapat memahami berpengaruh terhadap kemampuan
makna secara ilmiah, baik konsep pemecahan masalah dan pemahaman
secara teori maupun penerapannya konsep. Dengan menggunakan
dalam kehidupan sehari-hari serta metode eksperimen semu dapat
terlihat dari nilai yang diperoleh diungkapkan perbedaan kemampuan
setelah siswa mengerjakan soal-soal pemecahan masalah dan pemahaman
pemahaman konsep, dalam hal ini konsep siswa pada pembelajaran IPA
soal pada materi tentang daur air. yang merupakan akibat dari adanya
perbedaan model pembelajaran,
C. Metode dan Desain Penelitian dalam hal ini Blended dan biasa.
Penelitian ini menggunakan Dalam penelitian ini, kelompok
metode penelitian eksperimen karena eksperimen adalah siswa kelas V A
bertujuan untuk mengungkapkan SDN Tanjung III, sedangkan kelompok
adanya kontribusi dari penerapan kontrol adalah siswa kelas V B SDN
Blended model Problem Based Tanjung III. Pada kelompok
Learning terhadap peningkatan eksperimen, pembelajaran
kemampuan pemecahan masalah dan dilaksanakan dengan menggunakan
pemahaman konsep siswa Blended model Problem Based
dibandingkan dengan pembelajaran Learning dan pada kelas kontrol
yang menggunakan model Problem menggunakan model Problem Based
Based Learning biasa. Hal ini seperti Learning biasa.
yang dijelaskan oleh Arikunto (2005, Penelitian ini direncanakan
hlm. 272) bahwa penelitian empat kali pertemuan di setiap
eksperimen merupakan penelitian kelompok. Langkah kegiatannya
yang dimaksudkan untuk mengetahui meliputi pretest, perlakuan
ada tidaknya akibat dari sesuatu yang (pembelajaran IPA dengan
dikenakan pada subjek selidik. menggunakan Blended model
Metode eksperimen yang Problem Based Learning dan biasa),
digunakan dalam penelitian ini adalah kemudian diakhiri dengan posttest.

61
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

1. Subjek Penelitian individuals who are representative of


a. Populasi the entire populations. Jadi sampel
Sulistyo (2006, hlm. 182) adalah bagian dari sebuah populasi
mengemukakan populasi adalah yang dianggap dapat mewakili dari
keseluruhan objek yang akan diteliti. populasi tersebut.
Lebih lanjut Cresswell (2012, hlm. Menurut Arikunto (2005, hlm.
142) menjelaskan A population is a 104) jika jumlah populasinya kurang
group of individuals who have the dari 100 orang, maka jumlah
same characteristic. Populasi menurut sampelnya diambil secara
Sugiyono (2008, hlm. 90) adalah keseluruhan, tetapi jika populasinya
wilayah generalisasi yang terdiri atas lebih besar dari 100 orang, maka bisa
subjek yang mempunyai kualitas dan diambil 10 – 15 % dari jumlah
karakteristik tertentu yang ditetapkan populasinya. Dengan pernyataan ini
oleh peneliti untuk dipelajari dan karena jumlah populasinya tidak
kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi lebih besar dari 100 orang, maka
populasi adalah kumpulan individu penulis mengambil sampel 100% dari
yang memiliki karakteristik yang sama jumlah populasi yang ada yaitu
yang dapat digunakan sebagai data sebanyak 50 orang. Jumlah siswa
untuk menarik kesimpulan. Populasi kelas V A SDN Tanjung III adalah 25
dalam penelitian ini adalah semua orang, yang terdiri dari 15 siswa
siswa kelas V Tanjung III tahun perempuan dan 10 siswa laki-laki.
pelajaran 2014/2015 yang berjumlah Sedangkan jumlah siswa kelas V B
50 siswa dan tersebar dalam dua SDN Tanjung III adalah 25 orang,
kelas. yang terdiri dari 11 siswa perempuan
b. Sampel dan 14 siswa laki-laki. Peneliti
Sampel menurut Sugiyono mengambil subjek penelitian ini
(2007, hlm. 96) adalah bagian dari karena kedua kelas tersebut berada
populasi yang dipergunakan sebagai dalam satu sekolah yang akan
sumber data yang sebenarnya. memudahkan peneliti untuk
Dengan kata lain, sampel merupakan melaksanakan penelitian, dan bisa
bagian dari populasi. Pengambilan diasumsikan bahwa kedua kelas
sebagian dari populasi itu tersebut berada pada tingkat
dimaksudkan sebagai representasi kompetensi yang setara.
dari seluruh populasi sehingga 2. Objek Penelitian
kesimpulan juga berlaku bagi Objek penelitian ini adalah pengaruh
keseluruhan populasi. Lebih jelas lagi Blended model Problem Based
Cresswell (2012, hlm. 142) Learning terhadap kemampuan
menjelaskan Sample is a subgroup of pemecahan masalah dan pemahaman
the target population that the research konsep siswa pada mata pelajaran
plans to study for generalizing about IPA di kelas V SDN Tanjung III tahun
the target population. In a ideal ajaran 2014/2015. Dalam penelitian
situations, you can select a sample of ini, independent variable (variabel

62
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

bebas) adalah Blended model dengan skor hasil tes pemahaman


Problem Based Learning dan biasa, konsep siswa yang menggunakan
dan dependent variable (variabel model Problem Based Learning biasa
terikat) adalah kemampuan (kelas kontrol). N-gain untuk kelas
pemecahan masalah dan pemahaman eksperimen 0,45 berada pada kategori
konsep. Sedangkan variable control sedang, sedangkan n-gain kelas
dalam penelitian ini adalah tambahan kontrol 0,25 berada pada kategori
pembelajaran dalam bentuk les, waktu rendah, dan nilai rata-rata posttest
pembelajaran, dan gaya belajar. kelas eksperimen 72,2, sedangkan
kelas kontrol 62,2.
D. Penutup 2. Saran
1. Simpulan
Untuk langkah-langkah model Berdasarkan hasil dari penelitian ada
Problem Based Learning semua dapat beberapa implikasi yang harus
terlaksana dengan baik, namun dilakukan : bagi siswa, model Problem
menyita waktu yang cukup banyak Based Learning ternyata mampu
yaitu empat pertemuan untuk satu meningkatkan kemampuan
pembelajaran sampai tuntas. Respon pemahaman konsep dan pemecahan
siswa sangat positif dan cenderung masalah. Oleh karena itu, dalam
meningkat dari satu pertemuan ke upaya meningkatan kualitas
pertemuan selanjutnya. pembelajaran IPA melalui model ini
Skor hasil tes kemampuan siswa harus semakin tanggap dengan
pemecahan masalah pada konsep kondisi lingkungan sekitar dan
daur air dengan menggunakan model berusaha untuk mencari jalan keluar
Problem Based Learning Blended dari masalah tersebut, serta siswa
(kelas eksperimen) secara signifikan jangan hanya menghafal materi saja
lebih baik dibanding dengan skor hasil tetapi harus bisa memahami esensi
tes kemampuan pemecahan masalah dari materi tersebut. Bagi guru,
yang menggunakan model Problem pembelajaran dengan menggunakan
Based Learning biasa (kelas kontrol). model Problem Based Learning dalam
N-gain untuk kelas eksperimen 0,61 kegiatan pembelajaran IPA, bisa
berada pada kategori sedang, dijadikan alternatif pilihan
sedangkan n-gain kelas kontrol 0,48 pembelajaran dalam upaya
berada pada kategori sedang, dan meningkatkan kemampuan
nilai rata-rata skor posttest kelas pemahaman konsep dan pemecahan
ekperimen 77,50, sedangkan kelas masalah. Bagi sekolah, agar
kontrol 68,75. pelaksanaan kegiatan siswa dalam
Skor hasil tes pemahaman pembelajaran IPA dapat dilakukan
konsep daur air dengan menggunakan dengan baik dan mandiri perlu
model Problem Based Learning ditunjang dengan sumber-sumber
Blended (kelas eksperimen) secara belajar lainnya yang dapat dijadikan
signifikan lebih baik dibanding pedoman dalam kegiatan
pembelajaran terutama dalam

63
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

melakukan percobaan yang berbeda Depdiknas. (2006). Model


dengan contoh yang sudah ada. Oleh pembelajaran terpadu IPA
karena itu, pihak sekolah diharapkan SMP/MTs, SMP LB. Jakarta : Pusat
proaktif memfasilitasi segala Kurikulum Balitbang Diknas.
kebutuhan guru dan siswa dalam Heller, P., Ronald, K., & Anderson, C.
upaya meningkatkan mutu layanan (1991). Teaching problem solving.
pendidikan. Minnesota : University of Minnesota
Press.
Daftar Pustaka Huda, M. (2011). Cooperative learning
Abidin, Y. (2013). Desain sistem metode, teknik, struktur, dan model
pembelajaran dalam konteks penerapan. Yogyakarta : Pustaka
kurikulum 2013. Bandung : Refika Pelajar
Aditama. Isjoni,. & Ismail, A. (2008). Model-
Alma, B. (2008). Guru profesional model pembelajaran mutakhir.
menguasai metode dan terampil Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
mengajar. Bandung: CV. Alfabeta. Krathwohl, D. R. (2002). A revision of
Anderson, L.W., & Krathwohl, D. R. bloom's taxonomy: an overview .
(2001). A taxonomy for learning, Theory into practice, Volume 41,
teaching, and assessing ; a revision Number 4, Autumn 2002 Copyright
of bloom’s taxonomy of education 2002 College of Education, The
objectives. New York: Addison Ohio State University. [Online]
Wesley Lonman Inc. Tersedia pada http://www.unco.edu
Arends, R. (2008). Learning to teach, /cet/sir/stating
penerjemah : Helly Prajitno & Sri _outcome/documents/krathwohl/
Mulyani. New York: McGraw Hill pdf. diakses 30 April 2015.
Company. Latipun. (2002). Psikologi eksperimen.
Arikunto, S. (2005). Dasar-dasar Malang : UMM Press.
evaluasi pendidikan. Jakarta : Bumi Marocco, CC. (2008). Supported
Aksara. literacy for adolescents :
Budiningsih, A. (2012). Belajar dan tranforming teaching and content
pembelajaran. Jakarta: Rineka learning for the twenty-first century.
Cipta San Fransisco : Jossey_Bass A
Wiley Print.
Carin,A., & Sund, S. (1972). Teaching
science through discovery, second Ni, M. (2008). Penerapan model
edition. Ohio: Charles E. Merrill problem based learning untuk
meningkatkan partisipasi belajar
Publishing
dan hasil belajar teori akuntansi
Creswell. J. W. (2012). Educational mahasiswa jurusan Ekonomi
research. Newyork : Pearson Undiksha. Laporan Penelitian. Hlm.
74-84

64
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

Nuryani, R. (2003). Common text book Sudjana, N. (2008). Penilaian hasil


strategi belajar mengajar Biologi. proses belajar mengajar. Bandung:
Bandung : Universitas Pendidikan PT. Remaja Rosdikarya.
Indonesia. Sugiyono. (2007). Metode penelitian
Pusat Kurikulum. (2006). Panduan pendidikan. Bandung: Alfabeta.
pengembangan pembelajaran IPA Suherman. (2008). Upaya
terpadu SMP/MTs. Jakarta: meningkatkan hasil belajar Fisika
Balitbang Depdiknas. siswa melalui penerapan model
Reta, I, K. (2012). Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah
pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) penelitian
terhadap keterampilan berpikir tindakan kelas di MTs Negeri 3
kritis ditinjau dari gaya kognitif Pondok Pinang Jakarta, (Skripsi),
siswa. (Tesis). Undiksa, Bali. Jurusan Pendidikan IPA Program
Riyanto, Y. (2009). Paradigma baru Studi Pendidikan Fisika Fakultas
pembelajaran. Jakarta: Kencana. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Sanjaya, W. (2006). Strategi Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008),
pembelajaran berorientasi standar h. 71.
proses pendidikan. Jakarta: Sulistyo. (2006). Metode penelitian.
Kencana Prenada Media Group. Jakarta: Wedatama Widya Sastra
Santyasa, I. W. (2005). Analisis butir dan Fakultas Ilmu Pengetahuan
dan konsistensi internal tes. Budaya Universitas Indonesia
Makalah disajikan dalam workshop Trianto. (2007). Model-model
bagi para Pengawas dan Kepala pembelajaran inovatif berorientasi
Sekolah Dasar di Kabupaten konstruktivistik konsep landasan
Tabanan, tanggal 20-25 Oktober teoritis-praktis dan
2005 di Kediri Tabanan Bali. implementasinya. Jakarta: Prestasi
Satria, B. (2014). Pengembangan Pustaka.
bahan ajar berbasis problem based Trilling, B. & Fadel, C. (2009). 21st
learning pada pokok bahasan Century Skills : Learning for Life in
pencemaran lingkungan untuk Our Times. San Fransisco : Jossey-
meningkatkan hasil belajar siswa Bass A Wiley Imprint.
kelas X SMA Negeri Grujugan Warpala, I. W. S. (2006). Pengaruh
Bondowoso. Jember : Universitas pendekatan pembelajaran dan
Jember strategi belajar kooperatif yang
Suastra, I. W. (2009). Pembelajaran berbeda terhadap pemahaman dan
sains terkini. Singaraja: Universitas keterampilan berpikir kritis dalam
Pendidikan Ganesha pembelajaran IPA SD. Disertasi
Sudirman. (2000). Ilmu pendidikan. (tidak diterbitkan). Universitas
Bandung : Remaja Karya. Negeri Malang.

65
Didaktik : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ISSN : 2477-5673
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang
Volume I Nomor 1, Desember 2015

Wasiso. (2013). Implementasi model


problem based learning bervisi sets
untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah IPA dan
kebencanaan oleh siswa. (Skripsi),
Universitas Negeri Semarang,
Semarang.
Wirtha, I. M. & Rapi, N. K. (2007).
Pengaruh model pembelajaran dan
penalaran formal terhadap
penguasaan konsep fisika dan
sikap ilmiah siswa SMA Negeri 4
Singaraja. Laporan penelitian (tidak
diterbitkan). Jurusan Fisika,
Undiksha Singaraja.
Yamin, M. (2009). Taktik
mengembangkan kemampuan
individual siswa. Jakarta: GP Press

66