Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA BAHAN ALAM FARMASI

ISOLASI FENOLIK DARI KAYU ANGIN


(Usnea sp.)

Oleh :
NAMA : Hulwa Salsabila
NO. BP : 1711013026
SHIFT : I / Selasa Pagi
KELOMPOK : 4 (Empat)
REKAN KERJA : 1. Diana Puspita Putri 1711011020
2. Khairunnisa A. S. 1711011018
3. Nurmala Septinia 1711013004
4. M. Zahid Mubarak 1711013044

LABORATORIUM KIMIA BAHAN ALAM


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019
Isolasi Fenolik dari Kayu Angin (Usnea sp.)

I Tujuan
1. Mengetahui dan mempraktikkan cara mengisolasi senyawa golongan
fenolik
2. Mengetahui cara mengidentifikasi senyawa fenolik hasil isolasi.

II Tinjauan Pustaka

2.1 Tinjauan Botani

2.1.1 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Thallophyta
Sub divisio : Lichenes
Ordo : Ascolichenes
Familia : Usneaceae
Genus : Usnea
Species : Usnea dasypoga (Ach.) Nyl1

2.1.2 Morfologi

Gambar 1. Usnea sp.2


Kayu angin termasuk jenis lumut yang tumbuh menggantung pada
pepohonan dihutan dataran tinggi pada ketinggian di atas 1.000 m dpl. Tumbuhan
ini berbentuk mirip dengan benang tebal berwarna hijau kelabu atau putih keabu-
abuan dan dapat mencapai panjang 30 cm dengan posisi menjuntai3. Tumbuh
menempel secara tegak atau berjumbai pada kulit pohon, panjangnya 30cm atau
lebih. Batang berbentuk benang, umumnya bulat memanjang, cabangnya
bervariasi, sering kasar, berwarna hijau kelabu atau hijau kekuningan. Tanaman
ini tumbuh sebagai epifit pada pohon kayu di ketinggian lebih dari 800m dpl.
Tanaman ini ditemukan di seluruh dunia di tempat yang sejuk dan lembab dan
biasa dilihat sebagai lumut berbulu hijau abu-abu panjang yang tumbuh di pohon,
terutama buah, cemara, oak, dan pinus. Meskipun lambat tumbuh, itu sangat
produktif dan berumur panjang. Ini bisa menjadi seberkas ukuran buah kiwi atau
mungkin menutupi seluruh tunggul dan pohon sekarat. Mungkin abu-abu-hijau di
spesies yang lebih kecil atau hijau kuning-hijau di untaian gantung yang lebih
besar4.

2.1.3 Habitat dan Sebaran


Usnea sp. atau kayu angin adalah lichen yang menempel pada kulit
pohon dalam posisi tegak atau berjurai. Tumbuh di ketinggian lebih dari 1000
m di atas permukaan laut5. Usnea sp tersebar di beberapa bagian Eropa
dintaranya Austria, Bulgaria, Republik Cheska, Denmark, Estonia, Finlandia,
Jerman, Yunani, Italia, Latvia, Lithuania, Norwegia, Polandia, Rumania, Rusia
(bagian utara, Kaukasus), Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan
Ukraina6. Usnea sp. terdapat di daerah pegunungan di Indonesia, Malaysia,
India, China, Jepang, Eropa, Amerika, Afrika, Amerika Tengah, Australia, dan
Selandia Baru, Inggris. Di Inggris ditemukan di daerah Wales dan Skotlandia,
sedangkan di Afrika banyak ditemukan di Afrika Timur pada ketinggian 1000-
4000 m dari permukaan laut. Di Indonesia, Usnea sp. dapat ditemukan hampir
semua pegunungan dengan ketinggian mulai 1000 m dari permukaan laut5.
2.2 Kandungan Kimia
Beberapa senyawa yang terkandung dalam Usnea sp. yang telah diteliti
adalah sebagai berikut :
1. (+) - Asam usnat, merupakan komponen utama yang ditemukan hampir
pada semua tanaman Usnea sp. dengan rumus molekul C18H16O7,
berbentuk kristal jarum/prisma berwarna kuning, mempunyai titik leleh
203 - 204 oC, rotasi optik spesifik [α]D 20 = 495o5.
2. (-) - Asam usnat, dengan rumus molekul C18H18O7, berbentuk kristal
jarum/prisma berwarna kuning, mempunyai titik leleh 203 - 204 oC, rotasi
optik spesifik [α]D 20 = - 495o.5.
3. Antranorin dengan rumus molekul C19H18O8 dengan bobot molekul
374, berbentuk kristal berwarna putih, mempunyai titik leleh 196 oC,
terdapat pada U. articulata dan U. canariensis5.
4. Asam Barbatat, dengan rumus molekul C19H20O7, berbentuk kristal
jarum, mempunyai titik leleh 187 oC5.
5. Asam Isobarbatat, dengan rumus molekul C19H20O7, berbentuk kristal
putih, mempunyai titik leleh 216 - 217 oC, terdapat di dalam U. articulata
L. Hoffm.5.
6. Asam Difraktat, dengan rumus molekul C20H22O7 mempunyai titik leleh
189-190 oC, terdapat di dalam U. diffracta Vain, U. angulata Ach. dan U.
certain Ach.5
7. Asam 8-Hidroksi difraktat, dengan rumus molekul C20H22O8,
o
mempunyai titik leleh 156 - 158 C, contohnya terdapat pada U.
longisima Ach.5
8. Asam Squamatat, dengan rumus molekul C19H18O9 dengan bobot
molekul 390, berbentuk kristal, mempunyai titik leleh 228 - 229 oC,
terdapat pada U. comosa (Ach) Rohl.5
(a) (b)

(c)
Gambar 2. Struktur (+) - Asam usnat (a), (-) - Asam usnat (b), Antranorin (c).

2.3 Kegunaan Tradisional


Tanaman ini memiliki banyak manfaat dan telah dieksplorasi secara
etnobotani di berbagai belahan dunia. Di Anatolia Utara (Turki) digunakan untuk
mengobati kanker, TBC, dan bisul. Di Cina, tanaman ini digunakan sebagai
dekongestan dan untuk pengobatan lokal bisul dan TBC. Suku Chhetri, Gurung,
Lama, Limbu dan Sherpa dari Nepal Himalaya menggunakannya untuk ritual,
spiritual, perlengkapan tidur, tujuan estetika dan dekoratif. Selain itu, spesies ini
digunakan untuk tujuan penyembuhan dalam kasus patah tulang di bagian
Himalaya Indo-Tibet. Namun, dalam sistem kedokteran Unani, obat ini diambil
secara oral atau dimasukkan ke dalam vagina untuk merangsang menstruasi dan
bahkan untuk memicu aborsi. Dalam sistem pengobatan Ayurvedic di India,
tanaman ini dicampur dalam tembakau. Usnea sp. juga dikenal sebagai 'perban
India' dan karena itu digunakan untuk pembalut luka. Suku Baiga di Madhya
Pradesh menggunakan lumut bersama dengan beberapa bahan lain untuk
perawatan patah tulang. Di Uttaranchal, suku Bhotia dan Grahwal menggunakan
Usnea longissima sebagai bumbu, untuk menjaring jaring dan bahkan sebagai
bahan khusus tapal untuk pengaturan tulang. Ini adalah salah satu komponen
makanan penting dari rusa Musk yang ditemukan di wilayah Himalaya Garhwal
di India7.
2.4 Bioaktivitas

2.4.1 Ekstrak
 Aktivitas antifungi dan antimikroba
Ekstrak etanol Usnea longissima menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap
bakteri gram positif yaitu Staphylococcus aureus dan beberapa bakteri gram
seperti Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia, Shigella dysenteriae,
Salmonella typhii dan Escherichia coli. Ekstrak metanol dari Usnea longissima
menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhii, Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli. Ekstrak metanol Usnea longissima memiliki
aktivitas antijamur terhadap Trichoderma viridae dan pada agregasi platelet yang
diinduksi ADP Candida albicans7.
 Aktivitas antiplatelet, antitrombosis, dan anti-inflamasi
Ekstrak metanol dari Usnea longissima diselidiki secara in vitro pada agregasi
platelet dan in vivo pada trombosis paru untuk menentukan aktivitas antiplatelet
dan antitrombotik. Penelitian ini menunjukkan efek penghambatan tergantung
konsentrasi dengan nilai IC50 3,6 mg / m dari ekstrak pada agregasi platelet yang
diinduksi ADP. Longissiminone A yang diisolasi dari U. longissima menunjukkan
aktivitas anti-inflamasi dalam uji kontemporer berbasis sel7.

2.4.2 Senyawa Metabolit Sekunder


 Aktivitas antibakteri
Asam usnat dapat secara efektif menghambat pembentukan biofilm bakteri
pada permukaan polimer. Dengan demikian, asam usnat terbukti lebih efektif
melawan penisilin. Asam usnat yang diekstraksi dari Usnea longissima
menghambat pertumbuhan beberapa strain bakteri seperti Pneumococcus,
Streptococcus dan Staphylococcus dalam pengenceran 1: 20.000. Selain itu, pada
pengenceran 1: 200.000 - 1: 2000.000 pertumbuhan beberapa jenis TB manusia
melemah dan pada 1: 20.000 - 1: 50.000 pertumbuhan TB manusia terhambat7.
 Aktivitas antikanker
Asam usnat menunjukkan aktivitas anti-proliferasi terhadap garis sel kanker
payudara yaitu p53 tipe liar (MCF7) dan p53 non-fungsional (MDA-MB-231)
serta terhadap garis sel kanker paru H1299. Aktivitas anti-kanker non-genotoksik
asam urat dengan cara p53-independen perlu diselidiki lebih lanjut. Dengan
demikian, asam usnat memiliki potensi untuk pengobatan tumor baik sebagai
terapi sistemik atau sebagai agen topikal. Uji kemoprevensi kanker dirancang
menggunakan asam usnat untuk mendeteksi potensi inhibitor promosi tumor.
Hasilnya adalah asam usnat memberikan efek penghambatan yang kuat (ED50 1.0
μg / ml) terhadap aktivasi virus Epstein-Barr yang diinduksi oleh teleocidin B - 4
penggerak tumor yang kuat7.

2.5 Metode Ekstraksi


Metode ekstraksi pelarut tradisional meliputi perendaman, maserasi, dan
ekstraksi soxhlet. Metode-metode ini biasanya memerlukan waktu ekstraksi yang
lama dan / atau suhu tinggi yang menimbulkan risiko degradasi senyawa bioaktif
yang tidak tahan suhu tinggi. Selain itu, penggunaan sejumlah besar pelarut dan
selektivitas ekstraksi yang buruk dapat menambah kelemahan teknik ekstraksi
konvensional8.
Teknik-teknik modern untuk ekstraksi adalah ekstraksi karbon dioksida
superkritis (CO2), ekstraksi berbantuan ultrasonik (UEA), dan ekstraksi
berbantuan gelombang mikro (MAE)8.
III Prosedur Kerja

3.1 Alat dan Bahan


Alat: Wadah untuk maserasi, corong, botol 500 mL, botol 100 mL, vial, pipet
tetes, seperangkat alat rotary evaporator.
Bahan: Kayu angin (Usnea sp) dibeli dipasar 100 g, n-heksan, metanol, etil asetat

3.2 Cara Kerja


1. Grinder 50 g kayu angin
2. Maserasi dengan etil asetat dalam botol 500ml, diamkan selama 3 hari,
pisahkan maserat
3. Pekatkan maserat dengan rotary evaporator
4. Lakukan rekristalisasi menggunakan pelarut etil asetat dan n-heksana (1:4)
5. KLT senyawa hasil isolasi dengan fase diam silika gel 60 F254, fase gerak
n-heksan:etil asetat (9:1). Lihat noda dibawah sinar UV λ254.
IV Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai
berikut:
1. Organoleptis

Gambar 3. Hasil isolasi ekstrak Usnea sp.

Warna : kuning
Bau : bau khas
Rasa :-
Bentuk : kristal jarum

2. Perhitungan rendemen
Berat vial + kristal = 13,650 gram
Berat vial kosong = 14,159 gram
Berat kristal = 0,509 gram
% Rendemen = Jumlah senyawa isolat X 100%
Jumlah sampel
= 0,509 gram
X 100%
50 gram
= 1,018 %
3. Kromatografi Lapis Tipis

(a) (b)
Gambar 4. Hasil KLT (a) isolat ekstrak Usnea sp., (b) senyawa pembanding

Perhitungan Rf Sampel
Jarak tempuh eluen = 4,0 cm
Jarak tempuh noda = 0,9 cm
Nilai Rf = Jarak tempuh noda

Jarak tempuh eluen


= 0,9 cm
4,0 cm
= 0,23
Perhitungan Rf Pembanding
Jarak tempuh eluen = 4,0 cm
Jarak tempuh noda = 1,9 cm
Nilai Rf = Jarak tempuh noda

Jarak tempuh eluen


= 1,9 cm
4,0 cm
= 0,475
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa fenolik
dari tanaman kayu angin (Usnea sp.). Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk
dapat memahami prinsip dan melakukan isolasi fenolik asam usnat dari ekstrak
kayu angin beserta analisis kualitatif hasil isolasi dengan menggunakan metode
Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

Sebelum dilakukan ekstraksi dan isolasi, sampel kayu angin dikeringkan


dan dihaluskan. Tujuan pengeringan ini adalah untuk menginaktivasi enzim yang
terkandung di dalam jaringannya, selain itu juga untuk mencegah tumbuhnya
jamur, sehingga sampel bisa digunakan untuk waktu yang lama. Didalam langkah
kerja juga di haruskan sampelnya dalam keadaan halus dengan tujuan adalah agar
luas permukaan sampel bertambah sehingga mempermudah proses pelarutan
senyawa-senyawa yang terkandung didalam sampel.

Metode ekstraksi yang dipilih dalam praktikum ini adalah maserasi. Metode
maserasi adalah metode yang paling sering digunakan dalam skala laboratorium.
Maserasi adalah cara penarikan kandungan senyawa dalam suatu sampel dengan
cara merendam sampel dalam cairan penyari pada suhu biasa. Kelebihan cara
maserasi adalah alat yang digunakan sederhana dan dapat digunakan untuk zat
yang tahan dan tidak tahan pemanasan. Kelemahan cara maserasi adalah banyak
pelarut yang terpakai dan waktu yang dibutuhkan cukup lama9. Jumlah sampel
kayu angin yang dimaserasi adalah sebanyak 50 gram. Pelarut yang digunakan
adalah etil asetat yang merupakan pelarut semi polar sehingga diharapkan asam
usnat yang bersifat semi polar yang terdapat dalam kayu angin dapat tertarik oleh
pelarut ini. Sampel kayu angin yang sudah halus tersebut kemudian ditambahkan
etil asetat sebanyak 500 ml lalu dikocok untuk memaksa keluarnya kandungan
asam usnat pada sampel. Pemilihan pelarut penting agar senyawa yang ditarik
benar-benar terdapat pada pelarutnya.

Maserat yang diperoleh kemudian diuapkan dengan rotary evaporator


untuk menghilangkan pelarut yang masih bergabung dengan ekstrak. Etil asetat
yang memiliki titik didih rendah akan menguap dan menyisakan zat aktif pada
rotary evaporator. Penguapan terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat
oleh putaran labu alas bulat9. Setelah diuapkan, kristal langsung terbentuk di
dinding labu.
Kristal yang diperoleh ini selanjutnya direkristalisasi dengan
menggunakan etil asetat dan n-heksan, sebab masih memungkinkan
kristal yang dihasilkan masih mengandung pengotor sehingga untuk
menghilangkan pengotor tersebut maka perlu dilakukan rekristalisasi
sehingga diharapkan dapat diperoleh kristal yang benar-benar murni.
Penggunaan heksan bertujuan untuk menarik senyawa-senyawa yang bersifat non
polar pada ekstrak yang diperoleh. Setelah diperoleh kristal yang cukup bersih,
biarkan kristal hingga mengering.
Dari praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil kristal berwarna kuning
cerah berbentuk jarum. Kristal yang didapatkan memiliki warna dan bentuk yang
sama dengan yang terdapat pada literatur tentang asam usnat. Nilai rendemen
yang didapat sebesar 1,018%.
Proses selanjutnya ialah analisis kualitatif dengan metode KLT.
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu metode kromatografi yang
didasarkan pada prinsip adsorbsi dan partisi. KLT dilakukan untuk analisis
kualitatif berdasarkan perbandingan nilai Rf sampel dan standar. Prinsip dari KLT
ialah pemisahan yang terjadi didasarkan pada perbedaan distribusi dan migrasi
senyawa dimana kecepatan distribusi tergantung pada interaksi antara senyawa
dengan dua fase yang berbeda yaitu fase diam dan fase gerak. Senyawa yang
terikat kuat oleh fase diam akan tertahan dan terelusi lebih lama dibandingkan
dengan senyawa yang terikat lemah dimana senyawa yang terikat lemah akan
lebih mudah terbawa oleh fase gerak dan terelusi pada plat. Daya ikatan antara
senyawa dan kedua fase didasari pada sifat polaritasnya. Digunakan KLT fase
normal yaitu fase diam cenderung lebih polar yaitu silika gel 60 F254 dan fase
gerak n-heksan:etil asetat (9:1).
Plat KLT ditotolkan dengan sampel kristal yang telah dilarutkan. Plat yang
sudah ditotolkan kemudian dimasukkan dalam chamber dan dielusi hingga eluen
mencapai batas atas plat (batas telah dibuat sebelum mulai penjenuhan) kemudian
dihitung nilai Rf nya untuk membandingkan hasil.
Hasil spot bercak yang muncul diamati melalui lampu UV 254.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari pengamatan ketika dilihat dibawah
sinar UV 254 nm didapatkan jarak noda 0,9 cm dan jarak pelarutnya 4,0 cm
dengan harga Rf 0,23. Harga Rf yang diperoleh dari plat sampel berbeda dengan
harga Rf senyawa pembanding yaitu 0,475. Hal ini dapat disebabkan oleh belum
murninya isolat, atau senyawa isolat bukanlah asam usnat, melainkan senyawa
metabolit sekunder lain yang terdapat pada Usnea sp.
V Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan kesimpulan sebagai
berikut :
1. Dari 50 gram Usnea sp. kering didapatkan didapatkan kristal
sebanyak 0,509 gram.
2. Kristal berwarna kuning dan berbentuk jarum.
3. Rendemen yang didapatkan adalah sebesar 1,018%.
4. Harga Rf yang didapatkan adalah 0,23.

5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait metode ekstraksi dan
pelarut yang paling baik untuk mendapatkan hasil ekstraksi dan isolasi
yang maksimal.
2. Perlu dilakukan identifikasi lebih lanjut dari hasil isolat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Winiati, S., Suwarso, W. P., Cahyana, H. & Hanafi, M. Isolasi Asam-3-
asetil-12-ursanen-28-oat dari Talus Lichen Usnea dasypoga (Ach.) Nyl. in
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia 452–464 (2009).
2. iNaturalist. Usnea sp. (National Capital Region Lichens ). iNaturalist
(2019).
3. Perdana, A. & Cunningham, T. Kayu Ules dan Kayu Angin : Bahan Baku
Obat-Obatan Potensial di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kiprah
Agroforestri 23 8–9 (2015).
4. Cloverleaf Farm. Usnea - Herbal Encyclopedia. (2019).
5. Maulidiyah. Isolasi dan Penentuan Struktur Serta Uji Bioaktivitas Senyawa
Kimia dari Ekstrak Aseton Lichen Usnea blepharea Motyka dan Usnea
flexuosa Tayl. (Univesitas Indonesia, 2011).
6. Randlane, T. et al. Key to European Usnea species. Bibl. Lichenol. 100,
419–462 (2009).
7. Sharma, B. & Bhat, M. Ethnobiology , Phytochemistry and Pharmacology
of Usnea Longissima : A Review. Int. J. Sci. Res. Biol. Sci. 6, 263–269
(2019).
8. Boudhrioua, N. Comparison of the Efficiency of Different Extraction
Methods on Antioxidants of Maltease Orange Peel. Int. J. Food Nutr. Sci.
3, 1–13 (2016).
9. Mukhriani. Ekstraksi, pemisahan senyawa, dan identifikasi senyawa aktif.
J. Kesehat. VII, 361–367 (2014).
10. Firdaus. Teknik Laboratorium dan Penuntun Praktikum Kimia Organik.
(Universitas Hasanuddin, 2009).