Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUGAS KHUSUS

PERANCANGAN SEPARATOR 3 FASA V-101 PADA KF


PLATFORM DENGAN KONDISI OPERASI AKTUAL

Disusun oleh:

YULIANTO ADI PURNOMO (1141500040)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
FEBRUARI 2019
HALAMAN PENGESAHAN
TUGAS KHUSUS

Nama : Yulianto Adi Purnomo 1141500040

Judul tugas khusus : Perancangan separator 3 fasa V-101 pada KF Platform


dengan kondisi operasi aktual.

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Pembimbing Lapangan

(Yuli Amalia Husnil, Ph.D) (Nuryah Dewi, ST)

Mengetahui,

Ketua Program Studi Teknik Kimia ITI

(Dr. Ir. Sidik Marsudi, M.Si)

ii INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


DAFTAR ISI TUGAS KHUSUS

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS KHUSUS ................................................. ii

DAFTAR ISI TUGAS KHUSUS .......................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv

DAFTAR TABEL ................................................................................................... v

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3

2.1 Separator 3 Fasa ............................................................................................ 3

2.1.1 Separator Horizontal ............................................................................... 4

2.1.2 Separator Vertikal ................................................................................... 5

BAB III. PEMECAHAN MASALAH .................................................................... 6

3.1 Pengumpulan Data ........................................................................................ 6

3.2 Pengolahan Data ............................................................................................ 6

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 7

4.1 Hasil Perancangan ......................................................................................... 7

4.2 Pembahasan ................................................................................................. 23

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 26

5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 26

5.2 Saran ............................................................................................................ 26

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 27

iii INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1.1 Separator 3 fasa horizontal ............................................................... 5

Gambar 2.1.2 Separator vertical.............................................................................. 5

Gambar 1.a kurva viskositas gas ............................................................................. 8

Gambar 1.b kurva viskositas liquid......................................................................... 9

Gambar 2. Penentuan waktu tinggal cairan........................................................... 10

Gambar 3. Penentuan nilai Ksb ............................................................................. 12

Gambar 4. Coeficien for partial volume cylinder ................................................. 14

Gambar 5. Separator 3 fasa ................................................................................... 17

Gambar 5. Holdup dan surge time ........................................................................ 18

Gambar 6. Ketinggian low liquid level ................................................................. 19

Gambar 7. Tabel stress value ................................................................................ 20

Gambar 4.1 Skema separator 3 fasa ...................................................................... 22

Gambar 4.2 PFD KF Platform .............................................................................. 23

iv INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Data kondisi aktual Separator V-101 ...................................................... 6

Tabel 4.1 Desain baru separator V-101................................................................. 22

Tabel 4.2 Perbandingan dimensi separator ........................................................... 24

v INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Salah satu alat penunjang utama yang ada pada proses produksi di industry
minyak dan gas adalah Separator. Separator merupakan komponen alat yang paling
penting pada proses produksi. Hal ini karena pada alat tersebut merupakan tahapan
awal dari pemisahan hidrokarbon menjadi minyak, air, dan gas. Proses
pemisahannya dibagi berdasarkan berat jenis fluida hidrokarbon .
Separator merupakan suatu alat yang berbentuk tabung yang memiliki tekanan
dan temperatur tertentu yang berguna untuk memisahkan fluida hasil produksi
kedalam fasa cairan dan gas. Fluida yang terproduksi dari sumur masuk kedalam
separator dalam kondisi yang tidak saling melarutkan, hal ini dikarenakan adanya
perbedaan specific gravity dari fluida tersebut sehingga nantinya dilakukan proses
pemisahan .
Prinsip pemisahan yang dilakukan didalam separator yaitu dimulai dari fluida
yang berasal dari sumur produksi terangkat ke permukaan yang mana tekanan
dipermukaan lebih rendah daripada tekanan reservoir, sehingga kapasitas cairan
melarutkan gas akan menurun kemudian terpisah karena perbedaan specific gravity.
Fluida yang mempunyai specific gravity lebih berat akan jatuh sedangkan lebih
ringan akan berada di atas. Gas yang mempunyai specific gravity yang lebih ringan
akan memerlukan waktu yang singkat untuk dipisahkan didalam separator. Minyak
yang memiliki berat kira-kira ¾ dari berat air membutuhkan waktu untuk
melakukan pemisahan sekitar 40 sampai 70 detik.

Fungsi dari Separator itu sendiri adalah digunakan untuk memisahkan minyak,
air dan gas pada tekanan dan temperatur separator dalam waktu tinggal (retention
time) yang relatif pendek berdasarkan perbedaan densitas yang secara relatif bebas
satu sama lain. Secara garis besar, separator dapat dibagi menjadi 2(dua) yaitu
separator dua fasa dan separator tiga fasa.

Star Energy KF Platform merupakan suatu anjungan yang melakukan proses


produksi crude oil dan gas. Separator 3 fasa yang berada di KF Platform memiliki

1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


ukuran panjang sebesar 35 feet dan mempunyai diameter sebesar 96 inchi untuk
memisahkan fluida dengan kapasitas produksi sekitar 7000 BFPD. Seiring
berjalannya waktu kemampuan dari sumur minyak yang berada pada KF Platform
semakin menurun. Hal ini menyebabkan kapasitas produksi dari KF Platform
menurun menjadi sekitar 390 BFPD. Oleh karena itu untuk mengetahui dimensi
separator yang dibutuhkan dengan kapasitas produksi saat ini perlu dilakukan suatu
kajian dengan melakukan perhitungan terhadap desain optimum separator dengan
data data aktual saat ini. Dengan didapatnya hasil dari kajian ulang tersebut, maka
akan didapatkan dimensi separator yang sesuai dengan kapasitas produksi saat ini
dari sumur minyak yang ada pada KF Platform. Hasil dari perhitungan dan analisa
ini diharapkan dapat menjadi suatu referensi bagi perusahaan untuk mengetahui
desain separator 3 fasa yang sesuai dengan target produksi perusahaan.

1.2 Tujuan

Dimensi separator 3 fasa merupakan suatu hal yang sangat mempengaruhi


efektifitas dari pemisahan minyak mentah. Oleh karena itu, tujuan dari tugas khusus
ini adalah untuk mengevaluasi apakah dimensi separator 3 fasa yang ada saat ini
masih optimum untuk proses pemisahan minyak mentah dengan kondisi operasi
aktual saat ini.

1.3 Manfaat

Perancangan ulang separator 3 fasa ini dapat menjadi suatu referensi bagi KF
Plaform untuk mengetahui dimensi separator yang diperlukan dengan kapasitas
produksi saat ini.

1.4 Batasan Masalah


Separator 3 fasa yang terdapat pada KF platform berjumlah 3 unit yaitu V-101, V-
102 dan V-103. Namun, evaluasi dimensi separator 3 fasa hanya akan dilakukan
pada separator pertama yaitu V-101. Pemilihan ini dikarenakan separator V-101
merupakan separator yang digunakan untuk pemisahan minyak mentah yang
berasal dari sumur yang ada pada KF Platform.

2 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Separator 3 Fasa


Separator 3 fasa merupakan suatu tabung yang digunakan untuk memisahkan
minyak mentah yang masih berfase campuran minyak, gas dan air menjadi fluida
murni yang terpisah secara sendiri-sendiri. Proses pemisahan minyak, gas dan air
pun bermacam-macam mulai dari yang sederhana yang hanya mengunakan baffles
hingga ada juga yang kompleks. Proses pemisahan dalam separator adalah
berdasarkan berat jenis, berat jenis fluida lebih besar dibandingkan dengan berat
jenis gas sehingga gas cenderung keatas dan cairan cenderung kebawah. Separator
terdiri dari beberapa komponen didalamnya, seperti :

 Inlet Deflector yang berfungsi untuk memisahkan aliran gas dari fluida
campuran
 Wave Breaker yang berfungsi untuk membatasi atau mengurangi perambatan
gelombang yang terbentuk pada permukaan cairan.
 Deforming plate yang berfungsi yntuk mengurangi terbentuknya foam pada
batas permukaan antara gas dan liquid.
 Vortex breaker yang berfungsi mengurangi terbentuknya vortex pada aliran
liquid ketika valve dibuka.
 Mist extractor yang berfungsi untuk menghilangkan mist atau smog dari gas.
 Weir yang berfungsi untuk mengatur level oil didalam vessel.
 Interface controller berfungsi untuk mengatur level air dan memeberikan sinyal
pada valve pembuangan untuk mengeluarkan air dan mengatur level air.
 Pressure control vale brfungsi untuk mengatur tekanan dalam vessel. (Smit
Shah, 2016)

Prinsip kerja dari separator 3 fasa yaitu fluida yang berasal dari manifold
akan masuk ke separator melalui lubang inlet dan selanjutnya menumbuk inlet
diverter. Disini terjadi perubahan momentum awal dalam pemisahan cairan dan gas.
Cairan yang berisi minyak dan air ini turun ke bagian bawah bejana separator
sedangkan gas akan bergerak naik ke atas melewati mist extractor dan keluar

3 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


melalui outlet gas. Untuk air akan keluar melalui outlet air dibagian bawah
sedangkan minyak akan menumpuk di bawah dan melewati weir untuk selanjutnya
terakumulasi diruang khusus berisi minyak dan keluar menuju minyak outlet.
Metode yang digunakan dalam memisahkan suatu fluida pada separator biasanya
menggunakan empat metode, yaitu: Metode yang digunakan dalam memisahkan
suatu fluida pada separator biasanya menggunakan empat metode, yaitu:

 Settling: Proses pemisahan fluida dengan cara mengendapkan mereka secara


natural berdasarkan perbedaan berat jenis (SG).
 Electric: Proses pemisahan fluida dengan cara memberikan arus listik pada
fluida tersebut, sehingga emulsi-emulsi air dapat terkumpul dan terpisahkan.
 Thermal: Proses pemisahan fluida dengan cara menaikan temperature fluida
tersebut, sehingga fraksi ringan yang terkandung dalam fluida tersebut akan
terpisahkan ketika diuapkan.
 Chemical: Proses pemisahkan fluida dengan cara menginjeksikan suatu bahan
kimia atau additive yang berupa de-emulsifier, sehingga emulsi-emulsi air
dapat terpisahkan.

Berdasarkan geometrinya, separator dapat dibedakan mejadi dua bagian, yaitu


separator horizontal dan separator vertikal.

2.1.1 Separator Horizontal

Separator horizontal memiliki beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan


separator vertikal diantaranya, yaitu dapat memuat volume gas atau fluida cair lebih
banyak dan cocok untuk fluida yang memiliki GOR (gas oil ratio) dari medium
hingga tinggi. Selain itu, separator ini biasa digunakan untuk fluida tiga fase yang
mengandung minyak, gas dan air. Karena permukaan nya yang lebar dan panjang,
separator horizontal ini memiliki residence time fluida yang relatif lebih lama
sehingga proses pemisahannya lebih optimal. Kelebihan yang lain pada separator
tipe horizontal ini adalah lebih murah jika di banding dengan separator tipe vertikal
dan juga lebih stabil. Tetapi kelemahan nya adalah butuh tempat yang cukup luas.

4 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Gambar 2.1.1 Separator 3 fasa horizontal
2.1.2 Separator Vertikal

Separator vertikal sering digunakan untuk fluida yang memiliki GOR


rendah sampai medium. Gambar dibawah ini adalah separator vertikal yang bagian
bawahnya berbentuk cembung yang berfungsi untuk menampung pasir dan kotoran
padat. Pada pengoperasiannya, ketika minyak mentah masuk ke dalam separator
maka inlet diverter akan menyebabkan minyak menyinggung dinding separator dan
pada saat yang bersamaan akan memberikan gaya centrifugal kepada fluida. Hal ini
memberikan pengurangan momentum yang diinginkan dan mengizinkan gas untuk
keluar dari cairan film. Gas nya naik ke bagian atas separator sedangkan cairan
turun ke bawah. Sedikit dari partikel-partikel cairan akan terbawa naik ke atas
bersama gas dan akan tertangkap oleh mistextractor atau mist eliminator yaitu
susunan kawat kasa dan terpasang melintang terhadap arah aliran gas pada bagian
atas separator. Separator semacam ini biasa digunakan untuk tekanan kerja antara
50 sampai 150 psig.

Gambar 2.1.2 Separator vertical

5 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


BAB III. PEMECAHAN MASALAH

3.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan
dengan melihat kapasitas produksi fluida sumur KF sebagai data laju alir separator
V101. Pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan kondisi operasi separator 3
fasa V-101 yang dilakukan secara berkala dalam waktu lima hari. Adapun data data
yang dibutuhkan untuk perancangan separator 3 fasa dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Data kondisi aktual Separator V-101

HARI
KONDISI OPERASI Satuan Nilai Max
Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin
Tekanan Separator Psia 37.3 37.4 37.4 37.4 39.8 39.80
Temperatur Separator R 554.7 555 555 555.6 555.1 555.60
Tekanan Umpan Psia 39.2 37.6 38 39.1 38.7 39.20
Temperatur Umpan R 554.7 554.7 552.1 554.7 554.7 554.70
Q oil Bbld 386 307 399 316 288 399.00
Q water Bbld 723 750 778 723 575 778.00
Q gas Mmscfd 8.62 8.62 8.62 8.62 8.62 8.62
˚API - 48 48 48 48 48 48.00
SG gas - 0.635 0.635 0.635 0.635 0.635 0.64
SG air - 1.034 1.034 1.034 1.034 1.034 1.03
SG oil - 0.788 0.788 0.788 0.788 0.788 0.79
Kompresibilitas gas - 0.925 0.925 0.925 0.925 0.925 0.93

3.2 Pengolahan Data


Data data kondisi operasi yang telah didapat akan digunakan dalam
perhitungan perancangan separator 3 fasa menggunakan metode analitik dengan
aplikasi Microsoft excel. Perancangan separator 3 fasa dilakukan berdasarkan
referensi yang digunakan yaitu buku Oilfield processing (Francis S Manning) dan
Succesfully Specify Three phase Separator (Wayne D Monnery, 1994).

6 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Perancangan


Perancangan ulang separator 3 fasa V-101 telah dilakukan menggunakan
data data aktual yang ada saat ini. Perancangan dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui dimensi separator yang dibutuhkan untuk melakukan proses pemisahan
secara optimum dengan kapasitas produksi saat ini. Hasil perancangan dengan
metode analitik menggunakan Microsoft excel untuk mendapatkan dimensi
separator yang baru dapat dilihat pada tahapan tahapan berikut ini :

1. Menentukan laju alir dan sifat fisik fluida


Gas

 Konversi satuan laju alir gas menjadi ft3/s


8620000 𝑐𝑢𝑓𝑡 1 𝑑𝑎𝑦
𝑄𝑔 = 𝑥 = 99.77 𝑐𝑢𝑓𝑡/𝑠
1 𝑑𝑎𝑦 86400 𝑠
 Menentukan densitas gas
𝑃 𝑥 28.96 𝑥 𝑆𝐺
ῤg = = lb/cuft
𝑍𝑅𝑇

39.8 𝑥 28.96 𝑥 0.635


ῤg = = 0.13 𝑙𝑏/𝑐𝑢𝑓𝑡
0.925 𝑥 10.731 𝑥 555.60
 Menentukan viskositas gas dengan menarik garis pada gambar 1.a
menggunakan kondisi tekanan dan temperature separator.

7 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


µ = 0.012 cP

Gambar 1.a kurva viskositas gas

Minyak

 Konversi satuan laju alir minyak menjadi ft3/min


399 𝑏𝑏𝑙 1 𝑑𝑎𝑦 1 𝑐𝑢𝑓𝑡 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑄𝑜 = 𝑥 𝑥 = 1.58
1 𝑑𝑎𝑦 1440 𝑚𝑖𝑛 0.178 𝑏𝑏𝑙 𝑚𝑖𝑛
 Menentukan spesifik gravity minyak
141.5
𝑆𝐺 =
131.5 + °𝐴𝑃𝐼
141.5
𝑆𝐺 = = 0.79
131.5 + 48
 Menentukan densitas minyak
ῤo = SG x 62.4 x DCF

8 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


ῤo = 0.79 x 62.4 x 0.985 = 48.45
 Menentukan viskositas minyak dari gambar 1.b dengan menarik garis
antara °𝐴𝑃𝐼 dan temperature separator.
µ = 0.75

Gambar 1.b kurva viskositas liquid

Air

 Konversi satuan laju alir air menjadi ft3/s


778 𝑏𝑏𝑙 1 𝑑𝑎𝑦 1𝑓𝑡 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑄𝑤 = 𝑥 𝑥 =3
1 𝑑𝑎𝑦 1440 𝑚𝑖𝑛 0.178 𝑏𝑏𝑙 𝑚𝑖𝑛
 Menentukan densitas air
ῤw = SG x 62.4
ῤw = 1.034 x 62.4 = 64.52 lb/cuft
 Menentukan viskositas air dari gambar 1.b dengan menarik garis antara
°𝐴𝑃𝐼 dan temperature separator.
µ = 0.45 cP

9 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Keterangan :
- Q = Laju alir fluida (cuft/min)
- ῤ = Densitas (lb/cuft)
- SG = Specific grafity
- µ = Viskositas (cP)
- DCF = Density correction factor

2. Menghitung diameter separator dengan perkiraan volume liquid


 Asumsi nilai L/D awal untuk perhitungan diameter, nilai L/D diambil
diantara nilai optimum yaitu 3<L/D<5. Dipilih asumsi L/D 4.37
berdasarkan L/D dari separator terpasang.
 Asumsi berapa persen volume liquid yang memenuhi separator. dipilih
asumsi 60% liquid memenuhi vessel. Asumsi dipilih berdasarkan kondisi
aktual separator V-101.
 Asumsikan retention time liquid berdasarkan pada gambar 2.

Gambar 2. Penentuan waktu tinggal cairan

Menghitung diameter liquid dengan persamaan 1.

𝜋
𝑣𝐿 = %𝑙𝑖𝑞𝑢𝑖𝑑 𝑥 𝑥𝐷2 𝑥 𝐿 = 𝑞𝑤 𝑥 𝑡𝑟𝑤 + 𝑞𝑜 𝑥 𝑡𝑟𝑜
4

𝑣𝐿 = 𝑞𝑤 𝑥 𝑡𝑟𝑤 + 𝑞𝑜 𝑥 𝑡𝑟𝑜

𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑣𝐿 = 3 𝑐𝑢𝑓𝑡/ min 𝑥 5 min + 1.58 𝑥 5 min = 23.06 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑚𝑖𝑛

𝐷 = 2.30 𝑓𝑡

10 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


𝐿 = 4.37 𝑥 2.30 = 10.07 𝑓𝑡

Keterangan :

- D = Diameter vessel (ft)


- L = Panjag vessel (ft)
- qw = Laju alir air (cuft/min)
- qo = Laju alir minyak (cuft/min)
- trw = Waktu tinggal air (min)
- tro = Waktu tinggal minyak (min)
- vL = Volume liquid dalam vessel (cuft)

Kemudian dipilih ukuran diameter dan panjang yang mendekati perhitungan


berdasarkan dimensi yang ada pada API Spec 12J 1989.
List ukuran standar pada API Spec 12J 1989 :
Diameter (in) : 12,75 ; 16 ; 20 ; 24 ; 30 ; 36 ; 42 ; 48 ; 54 ; 60 dll .
Panjang (ft) : 5 ; 7,5 ; 10 ; 12.5 ; 15 ; 17,5 dll.

Dipilih dimensi separator dengan diameter 48 in (4ft) dan panjang 15 ft.

3. Menghitung Souders-Brown K factor (Ksb)


Gunakan persamaan berikut untuk mengkoreksi Ksb untuk tekanan tinggi.
 Persamaan API 12J
𝐿
𝐾𝑠𝑏 = [0.50 − 0.0001 𝑥 (𝑃 − 1000)] 𝑥 [((10)0.56] …………(6)

 Persamaan Lilly
𝐿
𝐾𝑠𝑏 = [0.50 − 0.0001 𝑥 (𝑃 − 1000)] 𝑥 [((5)0.56 …………(7)

 Ksb Smith
Ksb = 0.50
 Natco
Ksb = 0.80.
Keterangan :
- Ksb = K factor soudrs-brown (ft/s)
- P = Tekanan vessel (psia)

11 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Nilai Ksb dapat ditentukan juga dengan menggunakan API Spec 12J 1989
seperti pada gambar berikut.

Gambar 3. Penentuan nilai Ksb


Karena nilai awal L yang didapat berada pada 10 ft maka dipilih Ksb 0.5.

4. Menghitung kecepatan maximum gas


Kecepatan maximum gas dapat ditentukan oleh factor Ksb dengan
persamaan :

𝜌𝑜 − 𝜌𝑔
𝑣𝑚𝑎𝑥 = 𝐾𝑠𝑏 𝑥 √
𝜌𝑔

𝑓𝑡 48.45 − 0.13 𝑓𝑡
𝑣𝑚𝑎𝑥 = 0.5 𝑥√ = 9.54
𝑠 0.13 𝑠

Menghitung Luas permukaan minimum yang dilewati gas


𝑄𝑔
𝐴𝑣 =
𝑣𝑚𝑎𝑥
𝑐𝑢𝑓𝑡
99.77 𝑠
𝐴𝑣 = = 10.46 𝑠𝑞𝑓𝑡
𝑓𝑡
9.54 𝑠

Keterangan :
- vmax = Kecepatan max gas (ft/s)
- 𝜌𝑜 = Densitas minyak (lb/cuft)
- 𝜌𝑔 = Densitas gas (lb/cuft)
- 𝐴𝑣 = Luas permukaan yang dilewati gas (sqft)

5. Menghitung kapasitas liquid untuk menentukan diameter minimum yang


dibutuhkan dengan persamaan 10 :
𝑣𝐿 = 𝑞𝑤 𝑥 𝑡𝑟𝑤 + 𝑞𝑜 𝑥 𝑡𝑟𝑜

12 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑣𝐿 = 3 𝑐𝑢𝑓𝑡/ min 𝑥 5 min + 1.58 𝑥 5 min = 23.06 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑚𝑖𝑛
𝑣𝐿
𝐴𝐿 =
𝐿
23.06 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝐴𝐿 = = 1.54 𝑠𝑞𝑓𝑡
15 𝑓𝑡
𝐴𝑚𝑖𝑛 = 𝐴𝐿 + 𝐴𝑣 = 1.54 + 10.46 = 11.99 sqft

4𝑥𝐴𝑚𝑖𝑛
𝐷𝑚𝑖𝑛 = √ = 3.91 𝑓𝑡
𝜋

Karena Dmin < D terpilih maka diameter 4 ft yang dipilih untuk


perancangan sudah tepat.

Keterangan :
- Dmin = Diameter minimum pemisahan (ft)
- Amin = Luas penampang minimum (sqft)
- AL = luas penampang liquid (sqft)
Apabila Dmin < Standar diameter yang telah dipilih berdasarkan API Spec
12J maka desain diameter sudah sesuai. Apabila Dmin >, maka gunakan
Dmin untuk memilih diameter baru sesuai API Spec 12J.

6. Menentukan nilai HL/D dan D-HL untuk mengetahui apakah nilai diameter
yang didapat merupakan desain ideal.
𝜋 𝜋
𝐴𝑡𝑜𝑡 = 𝑥𝐷2 = 𝑥 42 = 12.56 𝑠𝑞𝑓𝑡
4 4
𝐴𝐿 1.54
= = 0.122
𝐴𝑡𝑜𝑡 12.56
Gunakan nilai AL/Atot untuk mencari nilai HL/D dari gambar 4.
𝐻𝐿/𝐷 = 0.181
𝐻𝐿 = 0.181 𝑥 𝐷 = 0.181 𝑥 4 = 0.72 𝑓𝑡
𝐷 − 𝐻𝐿 = 4 − 0.72 = 3.28 𝑓𝑡

13 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Gambar 4. Coeficien for partial volume cylinder

Keterangan :
- HL = Ketinggian liquid dalam vessel (ft)
- Atot = Luas permukaan total (sqft)
Menurut Evans (1980) merekomendasikan desain separator dengan nilai
HL/D < 0.8
Menurut Gerunda (1980) merekomendasikan nilai D – HL > 1.5 ft
Karena kedua persyaratan diatas sudah terpenuhi maka perhitungan dapat
dilanjutkan ke tahap berikutnya.

7. Menentukan ketinggian interface antara minyak dan air (Ho/w)


𝑉𝑤 = 𝑞𝑤 𝑥 𝑡𝑟𝑤
𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑉𝑤 = 3 𝑥5 min = 15.17 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑚𝑖𝑛
𝑉𝑤
𝐴𝑤 =
𝐿

14 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


15.17 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝐴𝑤 = = 1.01 𝑠𝑞𝑓𝑡
15 𝑓𝑡
𝐴𝑤 1.101
= = 0.08
𝐴𝑡𝑜𝑡 12.56
Tentukan nilai Ho/w dengan mencari nilai (Ho/w)/D dari gambar 4 dengan
melihat nilai Aw/Atot
H(o/w)/D = 0.135
H(o/w) = 4 x 0.135 = 0.54 ft
Keterangan :
- Vw = Volume air dalam vessel (cuft)
- Aw = Luas permukaan yang dipenuhi air (sqft)
- H(o/w) = Ketinggian interface air dan minyak

8. Menentukan kecepatan aktual gas.


𝐴𝑣 = 𝐴𝑡𝑜𝑡 − 𝐴𝐿
𝐴𝑣 = 12.56 𝑠𝑞𝑓𝑡 − 1.54 𝑠𝑞𝑓𝑡 = 11.02
𝑞𝑔
𝐴𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑣𝑔 =
𝐴𝑣
99.77 𝑐𝑢𝑓𝑡/𝑠
𝐴𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑣𝑔 = = 9.05 𝑓𝑡/𝑠
11.02 𝑠𝑞𝑓𝑡
Apabila nilai actual Vg < Vmax, maka ukuran separator ditentukan oleh
kapasitas liquid dan bukan oleh kapasitas gas.
9. Menghitung ukuran droplet minyak yang terbawa pada fasa gas.
Menghitung retention time gas
𝐿
𝑡𝑟𝑔 =
𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑉𝑔
15 𝑓𝑡
𝑡𝑟𝑔 = = 1.66 𝑠
𝑓𝑡
9.05 𝑠

Menghitung kecepatan droplet minyak (Vod)


𝐷 − 𝐻𝐿
𝑉𝑜𝑑 =
𝑡𝑟𝑔
3.28 𝑓𝑡 𝑓𝑡
𝑉𝑜𝑑 = = 1.977
1.66 𝑠 𝑠
Keterangan :

15 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


- trg = waktu timggal gas dalam vessel (s)
- Vg = Kecepatan gas
Tahap selanjutnya yaitu mengestimasikan ukuran diameter droplet. Karena
nilai droplet, drag coefficient (CD) dan bilangan Re belum diketahui maka
perlu dilakukan iterasi.
Asumsikan nilai CD kemudian lakukan perhitungan diameter droplet dan
bilangan Reynold dengan persamaan :
Asumsi nilai CD = 1.95
𝑑𝑜𝑑 = 304800 𝑥 ( 𝑉𝑜𝑑 2 𝑥 3 𝑥 𝐶𝐷 𝑥 𝜌𝑔)/[4 𝑥 𝑔 𝑥 (𝜌𝑜 − 𝜌𝑔)
1.9772 𝑓𝑡
304800 𝑥 ( 𝑥 3 𝑥 1.95 𝑥 0.13 𝑙𝑏/𝑐𝑢𝑓𝑡)
𝑑𝑜𝑑 = 𝑠 = 148.59 µm
𝑙𝑏 𝑙𝑏
[4 𝑥 32.2 𝑥 (48.45 − 0.13 )]
𝑐𝑢𝑓𝑡 𝑐𝑢𝑓𝑡
*catatan : 1ft = 304800 µm
𝑑𝑜𝑑 𝑥 𝑉𝑜𝑑 𝑥 𝜌𝑔
𝑅𝑒 =
𝜇𝑔
𝑅𝑒 = 15.86
Setelah didapat nilai dod dan Re lakukan iterasi terhadap nilai CD sampai
memiliki nilai yang sama dengan asumsi CD yang digunakan. Iterasi
dilakukan dengan persamaan :
24 0.3
𝐶𝐷 = + 0.5 + 0.34
𝑅𝑒 𝑅𝑒
24 0.3
𝐶𝐷 = + + 0.34 = 1.95
15.86 15.860.5

10. Menentukan ukuran droplet air didalam minyak


Menghitung kecepatan droplet air
𝐻𝐿 − 𝐻𝑜𝑤
𝑉𝑤𝑑 =
𝑡𝑟𝑜
0.18 𝑓𝑡 𝑓𝑡
𝑉𝑤𝑑 = = 0.0006
5 𝑚𝑖𝑛 𝑠
Asumsi nilai CD = 3927
𝑓𝑡 𝑙𝑏
0.00062 𝑠 𝑥 3 𝑥 3927 𝑥 48.45
𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑑𝑤𝑑 = 304800 𝑥 = 31.62 µm
𝑙𝑏 𝑙𝑏
[4 𝑥 32.2 𝑥 (64.52 − 48.45 )
𝑐𝑢𝑓𝑡 𝑐𝑢𝑓𝑡

16 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


𝑑𝑤𝑑 𝑥 𝑉𝑤𝑑 𝑥 𝜌𝑜
𝑅𝑒 =
𝜇𝑜
𝑅𝑒 = 0.006
Selanjutnya lakukan iterasi untuk mencari nilai CD seperti pada step 9.
CD = 3927.6
Keterangan :
- Vod = Kecepatan droplet minyak (ft/s)
- Vwd = Kecepatan droplet air (ft/s)
- dod = diameter droplet minyak (µm)
- dwd = diameter droplet air (µm)
11. Menentukan ukuran droplet minyak didalam air
Asumsi CD = 455
𝑓𝑡
𝑉𝑜𝑑 = 0.0018
𝑠
𝑑𝑜𝑑 = 42.02µm
𝑅𝑒 = 0.053
Selanjutnya lakukan iterasi untuk mencari nilai CD seperti pada step 9.
12. Menentukan ketinggian weir
Berdasarkan referensi buku Oilfield Processing seperti gambar 5
menunjukkan bahwa menentukan ketinggian weir sama dengan ketinggian
interface antara minyak dan gas atau sama dengan ketinggian liquid HL.

Gambar 5. Separator 3 fasa

13. Menentukan kembali panjang separator


Panjang separator ditentukan kembali menggunakan persamaan berikut
untuk mendapatkan overdesain dari separator.

17 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


4
𝐿= 𝑥 𝐿𝑡𝑒𝑟𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ
3
4
𝐿 = 𝑥 15 = 20 𝑓𝑡
3
𝐿 =𝐿 +𝐷
𝐿 = 15 + 4 = 19 𝑓𝑡
Dari hasil perhitungan menggunakan kedua persamaan diatas pilih ukuran
diameter yang paling besar sebagai panjang separator, maka dipilih L = 20
sebagai panjang separator yang akan dirancang.
14. Menentukan Volume Holdup dan Surge
t Holdup = 2 menit
t Surge = 1 menit
Pemilihan waktu Holdup dan Surge berdasarkan referensi buku Successfully
Specify Three-Phase Separators dan dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Holdup dan surge time


𝑉𝑜𝑙 𝐻𝑜𝑙𝑑𝑢𝑝 = 𝑞𝑜 𝑥 𝑡 𝐻𝑜𝑙𝑑𝑢𝑝
𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑉𝑜𝑙 𝐻𝑜𝑙𝑑𝑢𝑝 = 1.58 𝑥2 min = 3.16 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑚𝑖𝑛
𝑉𝑜𝑙 𝑆𝑢𝑟𝑔𝑒 = 𝑞𝑜 𝑥 𝑡 𝑠𝑢𝑟𝑔𝑒
𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑉𝑜𝑙 𝑆𝑢𝑟𝑔𝑒 = 1.58 𝑥 1 𝑚𝑖𝑛 = 1.58 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝑚𝑖𝑛
15. Menentukan posisi weir dalam separator
Menentukan ketinggian low level liquid (HLLL)
Ketinggian low level liquid dipilih pada nilai minimum berdasarkan gambar
6.

18 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Gambar 6. Ketinggian low liquid level

Karena diameter lebihkecil samadengan 4 maka dipilih nilai HLLL yaitu 9


1n (0.75ft). Hitung nilai HLLL/D untuk menentukan nilai ALLL/Atot dari
gambar 4 kemudian tentukan nilai ALLL.
𝐻𝐿𝐿𝐿 0.75𝑓𝑡
= = 0.1875
𝐷 4𝑓𝑡
𝐴𝐿𝐿𝐿
= 0.129
𝐴𝑡𝑜𝑡
𝐴𝐿𝐿𝐿 = 12.56 𝑠𝑞𝑓𝑡 𝑥 0.129 = 1.62 𝑠𝑞𝑓𝑡
Keterangan :
- HLLL = ketinggian low liquid level (ft)
- ALLL = luas permukaan low liquid level (sqft)
Menghitung posisi weir (L2)
𝑉 𝐻𝑜𝑙𝑑𝑢𝑝 + 𝑉 𝑆𝑢𝑟𝑔𝑒
𝐿2 =
𝐴𝑡𝑜𝑡 − 𝐴𝑣 − 𝐴𝐿𝐿𝐿
3.16 𝑐𝑢𝑓𝑡 + 1.58 𝑐𝑢𝑓𝑡
𝐿2 = = 9 𝑓𝑡
12.56 − 10.46 − 11.62
Dari perhitungan yang dilakukan diketahui posisi weir berada di jarak 9 ft
dari umpan masuk.
16. Menentukan ketebalan dinding shell (ts) dan head (th) separator.
Menentukan ketebalan dinding shell
𝑃𝑥𝑅
𝑡𝑠 =
𝑆 𝑥 𝐸 − 0.6 𝑥 𝑃
39.80 𝑝𝑠𝑖𝑎 𝑥 48 𝑖𝑛
𝑡𝑠 = = 0.13 𝑖𝑛
17100 𝑝𝑠𝑖𝑎 𝑥 0.85 − 0.6 𝑥 39.8 𝑝𝑠𝑖𝑎
Untuk mengantisipasi terjadinya korosi maka ketebalan shell terhitung
ditambah dengan corrotion allowance 0.125

19 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


ts = 0.13 in + 0.125 in =0.25 in = 1.26 in berdasarkan dari ketebalan dinding
separato terpasang.
Keterangan :
- ts = Ketebalan dinding shell (in)
- th = Ketebalan dinding head (in)
- R = Radius dalam shell dan head (in)
- S = Stress value (psia)
- E = Joint efficiency
Nilai S (stress value) ditentukan dari gambar 7 dengan menentukan material
dinding berdasarkan pada tekanan dan temperature operasi separator. Nilai
E ( joint efficiency ) diambil pada nilai antara 0.6 sampai 1 berdasarkan
referensi buku Successfully Specify Three-Phase Separators.

Gambar 7. Tabel stress value

Menentukan ketebalan dinding head


Karena tekanan operasi pada separator tidak terlalu tinggi maka digunakan
Ellipsoidal Head pada separator.
𝑃𝑥𝑅
𝑡ℎ =
2 𝑥 𝑆 𝑥 𝐸 − 0.2 𝑥 𝑃

20 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


39.8 𝑝𝑠𝑖 𝑥 48 𝑖𝑛
𝑡ℎ = = 0.065 𝑖𝑛
2 𝑥 17100 𝑝𝑠𝑖 𝑥 0.85 − 0.2 𝑥 39.8 𝑝𝑠𝑖
Untuk mengantisipasi terjadinya korosi maka ketebalan shell terhitung
ditambah dengan corrotion allowance 0.125
th = 0.065 in + 0.125 in = 0.19 in = 0.25 in
17. Menentukan diameter nozzle masuk dan keluar
0.5

4𝑄𝑚
𝑑𝑁 ≥
60𝜋
√𝜌𝑚
( )
𝜌𝑚 = 𝜌𝑙 𝑥 𝛾 + 𝜌𝑣 𝑥 (1 − 𝛾)
𝑞𝑙
𝛾=
𝑞𝑙 + 𝑞𝑣
𝑄𝑚 = 𝑞𝑜 + 𝑞𝑤
Dari perhitungan didapat nilai diameter nozzle sebesar 2.44 in. karena dN
harus ≥ maka diambil dN sebesar 12 in (1 ft).
Keterangan :
- dN = Diameter nozzle (in)
- Qm = Laju alir minimum fluida (cuft/min)
- 𝜌𝑚 = Densitas Campuran (lb/cuft)

21 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


SEPARATOR 3 FASA V-101

Berikut ini merupakan rangkuman dari hasil perhitungan yang telah dilakukan
menggunakan aplikasi Microsoft excel.

Gambar 4.1 Skema separator 3 fasa

dN
Tabel 4.1 Desain baru separator V-101

Desain Baru Separator V-101


DIAMETER 4 ft
PANJANG 19 ft
L/D 4.75 ft
L2 9.82 ft
Ho/w 0.54 ft
HL 0.72 ft
HV 3.28 ft
H weir 0.72 ft
t Shell 0.3 in
t Head 0.25 in
D Nozzle 1 ft
Material Carbon low alloy steel SA-516 Grade 60

22 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


4.2 Pembahasan
KF Platform merupakan anjungan yang memiliki 3 unit separator 3 fasa
yaitu V-101, V-102 dan V103. Separator V-101 merupakan separator yang
digunakan untuk melakukan proses pemisahan minyak mentah yang berasal dari
sumur KF sedangkan V-102 digunakan untuk memisahkan minyak mentah yang
berasal dari sumur KRA dan kondensat dari proses pengeringan gas yang
selanjutnya hasil keluaran V-101 dan V-102 akan di pisahkan kembali antara
minyak air dan gas di separator V-103. Berikut merupakan gambar pfd dari KF
Platrorm.

Gambar 4.2 PFD KF Platform

Perancangan ulang separator dilakukan pada separator V-101 yang


merupakan separator yang digunakan untuk mengolah minyak mentah dari sumur
KF. Separator V-101 yang terpasang saat ini memiliki ukuran 96 in dan panjang 35
ft dengan kapasitas produksi sekitar 7000 BFPD. Pada saat ini kapasitas produksi
yang dihasilkan oleh sumur minyak KF hanya 399 BFPD. Dari hasil peracangan
ulang mengunakan kondisi yang ada saat ini didapat perbandingan dimensi
separator sebagai berikut.

23 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Tabel 4.2 Perbandingan dimensi separator

Dari tabel perbandingan dapat dilihat bahwa separator terpasang saat ini memiliki
ukuran yang overdesain. Karena untuk kondisi kapasitas produksi saat ini sebesar

Perbandingan Dimensi separator V-101


Dimensi Baru Lama Satuan
DIAMETER 4 8 ft
PANJANG 20 35 ft
L/D 5.00 4.375 ft
L2 9.82 - ft
Ho/w 0.54 - ft
HL 0.72 - ft
HV 3.28 - ft
H weir 0.72 - ft
t Shell 0.3 - in
t Head 0.25 - in
D Nozzle 1 - ft
Carbon low alloy steel SA-516 Grade 60 (grade
Material 70)
399 BFPD hanya membutuhkan ukuran separator dengan diameter 4 ft dan panjang
19 ft. apabila dilihat dari segi ukuran dapat dikatakan bahwa separator terpasang
saat ini bukan merupakan desain yang ekonomis karena ukurannya yang terlalu
besar. Namun, jika dilihat dari proses pemisahan yang terjadi dengan ukuran
separator yang overdesain dan laju alir fluida kecil separator terpasang masih dapat
digunakan dengan baik dalam prose pemisahan fluida. Proses pemisahan fluida
akan menjadi lebih baik karena waktu tinggal fluida didalam separator akan lebih
lama. Dengan kapasitas fluida saat ini yaitu 399 BFPD dan dengan ukuran separator
terpasang 96in x 35ft dapat diketahui waktu tinggal fluida sebagai berikut :

3 𝑄𝑓 𝑥 𝑡
𝐷=√
50.46 𝑥 𝐶

83 𝑥 50.46 𝑥 1.37
𝑡= = 88 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
399

24 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Dari perhitungan didapat waktu tinggal fluida didalam separator V-101 terpasang
selama 88 menit. Sedangkan dengan desain separator yang baru sebesar 4 ft x 19 ft
hanya membutuhkan waktu pemisahan optimum selama 5 menit saja. Hal ini akan
membuat proses pemisahan didalam separator akan berlangsung lebih lama.
Berdasarkan prinsip pemisahannya fluida dalam separator akan terpisah menurut
berat jenisnya masing masing dimana densitas yang lebih berat akan berada
dibawah (settling) dan densitas yang rendah akan berada di atas. Dengan waktu
tinggal yang lama maka akan memberikan kesempatan bagi fluida untuk terpisah
secara lebih baik antara gas, minyak dan air.

25 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari hasil evaluasi yaitu separator terpasang saat ini masih
dapat melakukan proses pemisahan antara gas, minyak dan air dengan baik, hanya
saja memiliki waktu tinggal yang lebih lama.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dari evaluasi ini yaitu dengan menyesuaikan kondisi
operasi dari separator V-101 seperti tekanan dan temperature vessel dengan kondisi
tekanan dan temperature sumur minyak yang ada pada KF Platform karena
kemampuan sumur sudah sangat menurun.

26 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


DAFTAR PUSTAKA

Francis S Manning, R. E. (n.d.). Oilfield Processing Volume two : Crude oil.


PENWELL BOOK.

Smit Shah, V. U. (2016). Design and Analysis of Three Phase Production Separator.
IJIRSET.

Wayne D Monnery, W. (1994). Succesfully Specify Three-Phase Separator.

27 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA