Anda di halaman 1dari 36

JERAWAT, LUKA BAKAR, DERMATITIS DAN

PERLINDUNGAN SINAR UV

Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Swamedikasi

Dosen Pengampu : Wihda Yanuar, M.Sc., Apt.

Disusun oleh :

Anik Pujiati 1061721004

Chandra Purwitasari 1061721008

M. Farid Nasih U 1061721019

Nisrina Mawaddah 1061721021

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI SEMARANG “

2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penampilan seseorang terutama diwakili oleh keadaan kulit wajah.
Kulit merupakan lapisan tubuh yang paling luar dan cukup sensitive
terhadap berbagai macam benda asing yang datang dari luar tubuh, yang
menyebabkan penyakit. Hal-hal yang bisa mempengaruhi kesehatan kulit
antara lain polusi dan paparan sinar UV secara berlebihan (Faulkner,
2008).
Salah satu masalah pada kulit adalah munculnya jerawat. Jerawat
biasanya terjadi di wajah, yaitu di dahi, pipi, dan hidung. Selain itu,
jerawat juga terjadi di dada dan punggung. Pangkal penyakit ini adalah
adanya sebum yang banyak diproduksi. Ada banyak faktor yang bisa
menyebabkan munculnya jerawat pada wajah seperti disebabkan karena
penumpukan lemak yang disertai radang, keturunan, ras, makanan
berlemak dan infeksi kuman yang membentuk kantong kecil dan kista.
Yang tidak bisa dihindari adalah aktifitas hormone yang mendorong
produksi minyak lebih dari biasanya sehingga memicu timbulnya jerawat
(Rich, 2013)
Luka bakar adalah kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti air, api, bahan kimia, listrik, dan radiasi.
Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit, tetapi juga
amat memengaruhi seluruh sistem tubuh (Nina, 2008).
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan
tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api secara langsung
maupun tidak langsung, pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun
bahan kimia, air, dll) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat, basa
kuat) (Wim de Jong, 2005).
Kecepatan dari penyembuhan luka dapat dipengaruhi dari zat-zat
yang terdapat dalam obat yang diberikan, jika obat tersebut mempunyai
kemampuan untuk meningkatkan penyembuhan dengan cara merangsang
lebih cepat pertumbuhan sel-sel baru pada kulit. Salah satu upaya terapi
luka bakar adalah dengan pemberian bahan yang efektif mencegah
inflamasi sekunder (Rahim et al., 2011)

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan jerawat?
2. Apa yang dimaksud dengan luka bakar?
3. Apa yang dimaksud dengan dermatitis?
4. Bagaimana upaya perlindungan dari sinar UV?
5. Bagaimana swamedikasi yang perlu diberikan kepada pasien?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jerawat
2.1.1 Definisi
Jerawat atau yang dikenal dengan bahasa medis Acne vulgaris merupakan
penyakit yang terjadi akibat terganggunya aliran sebum oleh benda asing (sering
dinamakan komedo) sehingga terbentuk pimple yang diikuti infeksi ringan. (Tahir,
2010).

2.1.2 Gejala dan Tanda Jerawat


Gejala dari jerawat sendiri bisa bermacam-macam tergantung dari tingkat
keparahan jerawat yang dialami. Akan tetapi, beberapa gejala dan tanda yang
umumnya sering dirasakan yaitu benjolan kecil yang berwarna kemerahan, kulit
yang berminyak dengan bintik-bintik hitam dan putih (komedo) dan atau disertai
peradangan, jerawat berbentuk kista dan bila pecah akan mengeluarkan nanah
maupun darah, teras gatal serta terasa sakit apabila ditekan.

2.1.3 Klasifikasi
Selama ini, tidak terdapat standar internasional untuk pengelompokan dan
sistem grading pada acne. Hal ini sering menimbulkan kesulitan dalam
pengelompokan acne. Saat ini, terdapat lebih dari 20 metode yang digunakan
untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan acne.
Berdasarkan keparahan klinis akne vulgaris dibagi menjadi ringan, sedang
dan berat. Klasifikasi dari bagian Ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI / RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusomo sebagai berikut : (Djuanda, 2007)
1) Ringan
Meliputi komedo: whitehead (komedo tertutup) dan Blackhead (komedo
terbuka). Whitehead (komedo tertutup) merupakan kelainan berupa bintil kecil
dengan lubang kecil atau tanpa lubang karena sebum yang biasanya disertai
bakteri menumpuk di folikel kulit dan tidak bisa keluar. Blackhead (komedo
terbuka) merupakan perkembangan lebih lanjut dari komedo tertutup, terjadi
ketika folikel terbuka di permukaan kulit sehingga sebum, yang mengandung
pigmen kulit melanin, teroksidasi dan berubah menjadi coklat/hitam. Blackhead
dapat berlangsung lama karena proses pengeringan komedo di permukaan kulit
berlangsung lambat.
2) Sedang
Meliputi: papule, pustule dan nodule. Papel terjadi ketika dinding folikel
rambut mengalami kerusakan atau pecah sehingga sel darah putih keluar dan
terjadi inflamasi di lapisan dalam kulit. Papel berbentuk benjolan-benjolan lunak
kemerahaan di kulit tanpa memiliki kepal. Pustule terjadi beberapa hari kemudian
ketika sel darah putih keluar ke permukaan kulit. Pustel berbentuk benjolan merah
dengan titik putih atau kuning di tengahnya yang mengandung sel darah
putih.Nodule, Bila folikel pecah di dasarnya maka terjadi benjolan radang yang
besar yang sakit bila disentuh. Nodus biasanya terjadi akibat rangsang peradangan
oleh fragmen rambut yang berlangsung lama.
3) Berat
Meliputi abses dan sinus (akne kongloblata). Abses kadang beberapa papel
atau pustel mengalami pengelompokan dengan membentuk abses yang berwarna
kemerahan, nyeri dan cenderung mengeluarkan bahan berupa campuran darah,
nanah dan sebum. Pada proses penyembuhan kelainan ini meninggalkan jaring
parut yang luas. Jenis jerawat paling berat (acne konglobata). Sering terdapat di
lekukan samping hidung, hidung, rahang dan leher. Kelainan berupa garis linier
dengan ukuran panjang bisa mencapai 10 cm dan mengandung beberapa saluran
sinus atau fistel yang menghubungkan sinus dengan permukaan kulit.
Penyembuhan jerawat ini memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahun dan
dapat kambuh lagi bila mengalami proses inflamasi. Sinus harus ditangani dengan
pembedahan
Dalam klasifikasi ini dikatakan sedikit apabila jumlah < 5, beberapa 5- 10 dan
banyak >10 lesi. Sedangkan berdasarkan peradangan jerawat dibagi menjadi Tak
beradang meliputi komedo putih, komedo hitam, papul dan beradang meliputi
pustul, nodus dan kista.

2.1.4 Etiologi Jerawat


Etiologi Acne Vulgaris belum diketahui secara pasti. Secara garis besar
terdapat empat faktor yang berperan dalam patogenesis Acne Vulgaris yaitu:

1. Peningkatan produksi sebum


Acne biasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu kelenjar
sebasea membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak dari sebelumnya.
Terdapat korelasi antara keparahan acne dengan produksi sebum. Pertumbuhan
kelenjar sebasea dan produksi sebum berada di bawah pengaruh hormon
androgen. Pada penderita acne terdapat peningkatan konversi hormon androgen
yang normal beredar dalam darah (testoteron) ke bentuk metabolit yang lebih aktif
(5>alfa dehidrotestoteron).
Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan akhirnya
menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum. Meningkatnya produksi sebum
pada penderita acne disebabkan oleh respon organ akhir yang berlebihan (end-
organ hyperresponse) pada kelenjar sebasea terhadap kadar normal androgen
dalam darah, sehingga terjadi peningkatan unsur komedogenik dan
inflamatogenik sebagai penyebab terjadinya acne. Terbukti bahwa pada
kebanyakan penderita, lesi acne hanya ditemukan di beberapa tempat yang kaya
akan kelenjar sebasea.

2. Keratinisasi folikel

Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan olah adanya penumpukan


korneosit dalam saluran pilosebasea. Hal ini dapat disebabkan oleh bertambahnya
produksi korneosit pada saluran pilosebasea, pelepasan korneosit yang tidak
adekuat, atau dari kombinasi kedua faktor. Bertambahnya produksi korneosit dari
sel keratinosit merupakan salah satu sifat komedo. Terdapat hubungan terbalik
antara sekresi sebum dan konsentrasi asam linoleik dalam sebum. Dinding
komedo lebih mudah ditembus bahan–bahan yang dapat menimbulkan
peradangan. Walaupun asam linoleik merupakan unsur penting dalam seramaid-1,
lemak lain mungkin juga berpengaruh pada patogenesis acne. Kadar sterol bebas
juga menurun pada komedo sehingga terjadi keseimbangan antara kolesterol
bebas dengan kolesterol sulfat, sehingga adhesi korneosit pada akroinfundibulum
bertambah dan terjadi retensi hiperkeratosis folikel.

3. Kolonisasi Saluran Pilosebasea dengan Propionibacterium acnes

Terdapat tiga macam mikroba yang terlibat pada patogenesis acne adalah
Corynebacterium Acnes (Proprionibacterium Acnes), Staphylococcus epidermidis
dan Pityrosporum ovale (Malassezia furfur). Adanya seborea pada pubertas
biasanya disertai dengan kenaikan jumlah Corynebactirium Acnes, tetapi tidak ada
hubungan antara jumlah bakteri pada permukaan kulit atau dalam saluran
pilosebasea dengan derajat hebatnya acne. Dari ketiga macam bakteri ini bukanlah
penyebab primer pada proses patologis acne. Beberapa lesi mungkin timbul tanpa
ada mikroorganisme yang hidup sedangkan pada lesi yang lain mikroorganisme
mungkin memegang peranan penting. Bakteri mungkin berperan pada lamanya
masing–masing lesi. Apakah bakteri yang berdiam di dalam folikel ( resident
bacteria) mengadakan eksaserbasi tergantung pada lingkungan mikro dalam
folikel tersebut. Menurut hipotesis Saint-Leger, skualen yang dihasilkan oleh
kelanjar sebasea dioksidasi di dalam folikel dan hasil oksidasi ini menjadi
penyebab terjadinya komedo. Kadar oksigen dalam folikel berkurang dan
akhirnya terjadi kolonisasi Corynebacterium Acnes. Bakteri ini memproduksi
porfirin, yang bila dilepaskan dalam folikel akan menjadi katalisator untuk
terjadinya oksidasi skualen sehingga oksigen dan tingginya jumlah bakteri ini
dapat menyebabkan peradangan folikel. Hipotesis ini dapat menerangkan bahwa
acne hanya dapat terjadi pada beberapa folikel sedangkan folikel yang lain tetap
normal

4. Inflamasi

Faktor yang menimbulkan peradangan pada acne belum diketahui dengan pasti.
Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh
Corynebacterium Acnes, seperti lipase, hialuronidase, protease, lesitinase, dan
neuramidase, memegang peranan penting pada proses peradangan. Faktor
kemotatik yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan komplemen untuk
bekerja aktif) bila keluar dari folikel dapat menarik leukosit nukleus polimorf
(PMN) dan limfosit. Bila masuk ke dalam folikel PMN dapat mencerna
Corynebacterium Acnes dan mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa
menyebabkan kerusakan dari folikel pilosebasea. Limfosit dapat merupakan
pencetus terbentuknya sitokin.
Bahan keratin yang sukar larut yang terdapat di dalam sel tanduk serta lemak dari
kelenjar sebasea dapat menyebabkan reaksi non spesifik yang disertai oleh
mekrofag dan sel–sel raksasa. Pada fase permulaan peradangan yang ditimbulkan
oleh Corynebacterium Acnes, juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan
alternatif (classical and alternative complement pathways). Respon pejamu
terhadap mediator juga amat penting. Selain itu antibodi terhadap
Corynebacterium Acnes juga meningkat pada penderita acne yang berat (Tahir,
2010).

Menurut Pindha (dalam Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya 2004).


Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya acne adalah:

1. Faktor genetik.

Faktor genetik memegang peranan penting terhadap kemungkinan seseorang


menderita acne. Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa acne terjadi pada 45%
remaja yang salah satu atau kedua orang tuanya menderita acne, dan hanya 8%
bila ke dua orang tuanya tidak menderita acne. (Ayudianti & Indramaya, 2010)
2. Kebersihan wajah.

Meningkatkan perilaku kebersihan diri dapat mengurangi kejadian Acne Vulgaris


pada remaja (Nami, 2009).

3. Faktor ras.

Warga Amerika yang berkulit putih lebih banyak menderita acne dibandingkan
dengan ras yang berkulit hitam dan acne yang diderita lebih berat dibandingkan
dengan orang Jepang.

4. Hormonal

Hormonal dan keringat yang berlebih dapat mempengaruhi keparahan dari acne.
Beberapa faktor fisiologis seperti menstruasi dapat mempengaruhi timbulnya atau
memperparah acne. Rata-rata 60-70% wanita yang mengalami masalah acne
menjadi lebih parah beberapa hari sebelum menstruasi dan menetap sampai
seminggu setelah menstruasi dan lesi acne menjadi lebih aktif rata-rata satu
minggu sebelum menstruasi yang disebabkan oleh hormon progesteron. Hormon
estrogen dalam kadar tertentu dapat menghambat pertumbuhan acne karena
hormon tersebut dapat menurunkan kadar gonadotropin yang berasal dari kelenjar
hipofisis dan hormon Gonadotropin mempunyai efek menurunkan produksi
sebum sehingga dapat menghambat pertumbuhan Acne Vulgaris (Nguyen
dkk.,2007).

5. Diet.

Tidak ditemukan adanya hubungan antara acne dengan asupan total kalori dan
jenis makanan, karena hal tersebut tidak dapat menimbulkan acne tetapi
mengkonsumsi coklat dan makanan berlemak secara berlebihan dapat
memperparah terjadinya Acne Vulgaris.

6. Iklim.

Cuaca yang panas dan lembab dapat memperparah acne. Hidrasi pada stratum
koreneum epidermis dapat merangsang terjadinya acne dan pajanan sinar matahari
yang berlebihan dapat memperburuk acne.

7. Lingkungan

Acne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di daerah industri dan
pertambangan dibandingkan dengan di pedesaan.

8. Stres.

Acne dapat kambuh atau bertambah buruk pada penderita stres emosional.

Mekanisme yang tepat dari proses acne tidak sepenuhnya dipahami,


namun lebih sering disebabkan oleh sebum berlebih, hiperkeratinisasi folikel,
stres oksidatif dan peradangan. Selain itu androgen, mikroba dan pengaruh
pathogenetic juga bekerja dalam proses terjadinya acne (Thiboutot, 2008).

2.1.5 Pengobatan Acne Vulgaris


Pengobatan acne dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:.

a) Pengobatan topikal
Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo,
menekan peradangan dan mempercepat penyembuhan lesi. Obat topikal terdiri
atas: bahan iritan yang dapat mengelupas kulit, antibiotika topikal yang dapat
mengurangi jumlah mikroba dalam folikel Acne Vulgaris, anti peradangan topikal
dan lainnya seperti atil laktat 10% yang untuk menghambat pertumbuhan jasad
renik (Burns dkk.,2005).

b) Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik dilakukan terutama untuk menekan pertumbuhan
jasad renik di samping itu juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi
sebum dan mempengaruhi perkembangan hormonal. Golongan obat sistemik
terdiri atas: anti bakteri sistemik, obat hormonal untuk menekan produksi
androgen dan secara kompetitif menduduki reseptor organ target di kelenjar
sebasea, vitamin A dan retinoid oral sebagai antikeratinisasi dan obat lainnya
seperti anti inflamasi non steroid (Burns dkk.,2005).

2.1.6 Pencegahan Acne Vulgaris


Sebelum jerawat muncul di wajah ada baikknya kita melakukan beberapa
treatment agar wajah kita tetap bersih, mulus serta bebas dari yang namanya
jerawat. Berikut beberapa rekomendasi atau terapi non-farmakolgi yang dapat
diberikan agar kita dapat mencegah menculnya jerawat yaitu:
1) Cuci muka dengan air hangat 2 kali sehari dan sedikit mungkin dengan
sabun lembut guna menghilangkan lemak yang berlebihan dari permukaan
kulit. Kemudian dikeringkan dengan hati-hati, tetapi jangan digosok untuk
menghindari iritasi.
2) Jangan memijat jerawat atau menggaruknya dengan jari karena hal ini
seringkali dapat merusak kulit dengan terjadinya infeksi, yang bisa
meradang dan meninggalkan bekas.
3) Efek baik dari diet seperti makanan berlemak untuk menghindari
timbulnya jerawat
4) Makan makanan berserat seperti sayuran dan buah-buahan.
(Wasitaatmadja, 2007).

2.1.7 Terapi
Agen Topikal (First-Line Terapi)
 TRETIONIN
Tretinoin (retinoid, topikal asam vitamin A) adalah agen komedolitik yang
dapat meningkatkan pergantian sel di dinding folikel dan mengurangi
kekompakan sel, menyebabkan ekstruksi komedo dan penghambatan
pembentukan komedo baru. Tretinoin tersedia dalam bentuk solutio 0,05%,
gel 0,01% dan 0,025%, serta dalam bentuk krim 0,025%, 0,05%, dan 0,1%.
Efek samping yang dapat terjadi yaitu iritasi kulit, eritema, pengelupasan,
alergi kontak dermatitis (jarang), dan meningkatkan kepekaan terhadap
paparan sinar matahari, angin, dingin, dan penyebab iritasi lainnya. Untuk
mengatasi jerawat yang ringan terapi yang direkomendasikan adalah krim
0,025% pada kulit sensitif dan tidak berminyak. Untuk jerawat tingkat sedang
digunakan gel 0,01% pada kulit yang mudah teritasi dan berminyak, dan gel
0,025% untuk kulit tidak sensitif dan berminyak.

 SIPROTERON ASETAT
Indikasi: Pengobatan hormonal untuk jerawat berat pada wanita yang
sukar disembuhkan dengan terapi antibakteri yang panjang, hirsutisme sedang
sampai berat
Dosis: sekali sehari 2 mg selama 21 hari dimulai pada hari pertama siklus
menstruasi dan ulangi setelah interval 7 hari, umumnya untuk beberapa
bulan; hentikan jika jerawat atau hirsutisme telah hilang (pemberian kembali
dapat dilakukan jika terjadi kekambuhan)

 Asam azelaic (Azelex)


Memiliki aktivitas antibakteri komedolitik, antiinflamasi, dan digunakan
untuk peradangan jerawat ringan sampai sedang tetapi khasiat terbatas
dibandingkan dengan terapi lain. Merupakan sebuah alternatif untuk retinoid
topikal untuk terapi pemeliharaan. Asam azelaic tersedia dalam krim 20%
dan gel 15%, dengan pemakaian dua kali sehari (pagi dan sore) pada kulit
kering dan bersih. Kebanyakan pasien mengalami perbaikan dalam waktu 4
minggu, tetapi pengobatan dapat dilanjutkan selama beberapa bulan jika perlu

 Adapalene
Adapalene merupakan retinoid generasi ketiga dengan fungsi sebagai
komedolitik, keratolitik, dan antiinflamasi. Indikasi: akne vulgaris topikal,
menormalkan diferensiasi sel epitel folikular, sehingga mengurangi
pembentukan komedo. Sediaan : Cream: 0.1%, Gel: 0.1% Dosis: oleskan
pada area kulit yang terkena, satu kali sehari pada waktu malam sebelum
tidur dan setelah dicuci/dibersihkan
 Tazarotene
Tazarotene (Tazorac) merupakan asetilenik retinoid yang dikonversi
menjadi bentuk aktifnya, asam tazarotenik setelah diaplikasikan secara
topikal. Tazarotene memiliki ikatan selektif terhadap RARs dan dapat
merubah ekspresi gen yang berperan dalam proliferasi sel, diferensasi sel,
serta inflamasi. Tarazarotene digunakan pada acne ringan hingga sedang
dengan aktivitas komedolitik, keratolitik, dan antiinflamasi. Produk tersedia
di pasaran dengan konsentrasi 0,05% dan 0,1% baik berupa gel atau
krim.

Agen Topikal ( Second-Line Terapi)


 Dapson
Dapson topikal memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi. Dapson
topikal gel 0,5% direkomendasikan oleh FDA sebagai treatment pada pasien
acne diatas 12 tahun Sediaan : gel 5%. Dosis : setiap 12 jam Agen Sistemik
(First-Line therapy-severe nodulaar/ conglobata)
 Isotretinoin Sebagai retinoid oral
isotretinoin merupakan agen sebosupresive paling efektif yang
mempengaruhi seluruh faktor etiologi yang mempengaruhi inflamasi pada
acne, termasuk menginduksi terjadinya atropi kelenjar sebaseus dengan
penurunan produksi sebum dan perubahan komposisi dari sebum,
menginhibisi pertumbuhan P. acnes dalam folikel, menginhibisi inflamasi,
dan mengubah susunan kerantinasi dalam folikel (memperkecil ukuran dan
meningkatkan diferensiasi). Oleh karena itu isotretinoin merupakan
pengobatan pilihan pada acne nodulaositik parah, pasien dengan acne
scarring, pasien dengan acne kronik, dan pada pasien acne yang mengalami
gangguan psikologi yang parah. Terdapat beberapa efek samping akibat
penggunaan isotretinoin secara oral tergantung jumlah, frekuensi dan dosis
yang digunakan. Dosis isotretinoin yang dianjurkan yaitu pada rentang 0,5
higga 1 mg/kg per hari dalam 2 dosis terbagi.

Systemic Agent (First-Line Therapy-Moderate Papulaar


Pustulaar/Nodulaar)
 Antibiotik Makrolida
Antibiotik makrolida (eritromisin, azitromisin, dan klindamisin)
menunjukkan efek antiinflamasi pada pasien acne. Eritromisin dapat
digunakan pada pasien yang membutuhkan antibiotik sistemik tetapi tidak
dapat mentoleransi tetrasiklin, atau pada pasien dengan bakteri yang resisten
terhadap antibiotic tetrasiklin. Dosis lazim yang digunakan 1 g/hari dengan
makanan untuk meminimalkan intoleransi gastrointestinal.
Kombinasi dengan zink dapat meningkatkan penetrasi eritromisin menuju
unit pilosebaseus. Kombinasi dengan BPO dapat mengurasi resiko resisten
terhadap P. acnes. Azitromisin yang merupakan turunan dari eritromisin aman
untuk digunakan dan efektif untuk pengobatan pasien dengan acne inflamasi
yang sedang hingga parah. Dengan waktu paruhnya yang mencapai 68 jam,
obat ini dapat digunakan tiga kali dalam seminggu. Beberapa penelitian
mengungkapkan penggunaan obat anti jerawat lebih efektif jika digunakan
dengan tambahan antibiotik. Antibiotik baik oral ataupun topikal dapat
mengurangi populasi dari acne secara in vivo. Antibiotik yang biasanya
dikombinasikan dengan obat jerawat topikal adalah antibiotik clindamycin,
tetrasikline, eritromycine, atau doxycycline (Dipiro, et al., 2008)

Jenis –Jenis obat jerawat lainnya


 Benzoilperoksida (Benzolac)
Adalah zat keratolitik yang juga berdaya bakteriostatis terhadap kuman
jerawat. Benzoilperoksida (Benzolac) berupa krim atau gel 5% yang
dioleskan pada jerawat 2 kali sehari dalam kondisi kulit bersih. Untuk efek
yang lebih baik dapat diganti dengan krim 10%. Efek samping berupa
terjadinya iritasi kulit dengan gejala kemerahan, kulit berserpih dan gatal.
Bila satu atau lebih efek ini muncul, pengobatan sebaiknya dilanjutkan
dengan sediaan yang kadarnya lebih rendah, atau dihentikan sama sekali dan
berkonsultasi pada dokter. Selama pengobatan dengan gel sebaiknya
menghindari sinar matahari. Tidak boleh digunakan pada kulit yang rusak dan
wanita hamil dapat menggunakannya dengan aman.

 Asam salisilat
Asam salisilat berkhasiat sebagai fungistatik, bakteriostatik, dan
keratolitik. Asam salisilat berupa lotion atau krim (10%) yang dioleskan 2
kali sehari. Efek samping berupa iritasi, rasa terbakar, dan gatal-gatal.

 Sulfur atau belerang endap


Sulfur atau belerang endap merupakan obat jerawat yang berupa suspensi
yang berguna sebagai obat germisida, fungisida, parasitisida, dan keratolitik.
Aturan pakai sulfur dengan cara dioleskan pada kulit yang berjerawat. Efek
samping yang ditimbulkan berupa iritasi. Hal yang harus diperhatikan adalah
hindari kontak dengan mata, mulut, dan mukosa (Dipiro, et al., 2008)

Terapi non Farmakologi


1) Menggosok kulit (scrubbing) atau mencuci wajah secara berlebihan
tidak perlu dilakukan sebab tidak membuka atau membersihkan pori
dan mungkin berdampak pada iritasi kulit.
2) Penggunaan zat pembersih yang lembut dan yang tidak menyebabkan
kering penting diperhatikan untuk menghindari iritasi dan kulit kering
selama terapi acne.
3) Jangan biarkan rambut menutupi daerah wajah. Rambut terutama
yang kotor, dapat memperburuk kondisi pori-pori yang tersumbat.
4) Jangan memencet atau memecahkan jerawat karena dapat
meninggalkan bekas berupa jaringan parut pada kulit.
5) Asupan gizi seimbang juga bermanfaat membantu menjaga kesehatan
kulit usahakan untuk tetap rileks. Stres diketahui merupakan salah
satu faktor penyebab timbulnya akne.  Cegah kosmetik yang
berminyak dan pelembab.

2.2 Luka Bakar


2.2.1 Definisi
Luka bakar adalah kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti air, api, bahan kimia, listrik, dan radiasi.
Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit, tetapi juga
amat memengaruhi seluruh sistem tubuh (Nina, 2008).
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma
dengan morbiditas dan mortalitas tinggi (Wim de Jong. 2005).

2.2.2 Etiologi Luka Bakar


Luka bakar dapat disebabkan oleh banyak hal yang terjadi akibat
sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas
api secara langsung maupun tidak langsung, pajanan suhu tinggi dari
matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll) atau zat-zat yang bersifat
membakar (asam kuat, basa kuat) (Wim de Jong. 2005).
Bahan kimia yang dapat menyebabkan luka bakar adalah Asam
kuat atau basa kuat acids atau bases. Luka bakar akibat bahan kimia
umumnya disebabkan karena sifat kimiawi bahan tersebut yang tajam dan
dapat membakar kulit, seperti [sodium hidroksida], silver nitrate, dan
bahan kimia berbahaya lainnya (seperti asam sulfur ataupun asam nitrat).
Asam hidroflorik dapat menyebabkan kerusakan tulang, namun jenis
kerusakan yang terjadi sulit dibuktikan.
Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan
mempunyai peranan dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat
dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh,
pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter
persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung
dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata,
penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit
tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan
bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda,
lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari
ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah
dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat (David, S.
2008).
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan.
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas
meninggi. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan oedem dan
menimbulkan bula yang banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan
berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka
bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan,
masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua dan
pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga. Bila luas luka
bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa
mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20% akan terjadi syok hipovolemik
dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi
kecil, dan cepat, tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurrang.
Pembengkakkan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam
(James M Becker 118-129)
a) Derajat dan luas luka bakar (Wim de Jong. 2005) :
1. Luka bakar grade I
 Disebut juga luka bakar superficial
 Mengenai lapisan luar epidermis, tetapi tidak sampai mengenai
daerah dermis sering disebut sebagai epidermal burn
 Kulit tampak kemerahan, sedikit oedem, dan terasa nyeri.
 Pada hari ke empat akan terjadi deskuamasi epitel (peeling).
2. Luka bakar grade II
a. Superficial partial thickness :
 Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan atas dari dermis
 Kulit tampak kemerahan, oedem dan rasa nyeri lebih berat dari
pada luka bakar grade I
 Ditandai dengan bula yang muncul beberapa jam setelah terkena
luka
 Bila bula disingkirkan akan terlihat luka bewarna merah muda yang
basah
 Luka sangat sensitive dan akan menjadi lebih pucat bila terkena
tekanan
 Akan sembuh dengan sendirinya dalam 3 minggu ( bila tidak
terkena infeksi) tapi warna kulit tidak akan sama seperti
sebelumnya.
b. Deep partial thickness
 Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan dalam dari dermis
 disertai juga dengan bula
 permukaan luka berbecak merah muda dan putih karena variasi dari
vaskularisasi pembuluh darah( bagian yang putih punya hanya
sedikit pembuluh darah dan yang merah muda mempunyai
beberapa aliran darah
 luka akan sembuh dalam 3-9 minggu.

3. Luka bakar grade III


 Menyebabkan kerusakan jaringan yang permanen
 Rasa sakit kadang tidak terlalu terasa karena ujung-ujung saraf dan
pembuluh
 darah sudah hancur.
 Luka bakar meliputi kulit, lemak subkutis sampai mengenai otot
dan tulang
1. Luka Bakar grade IV
 Berwarna hitam
2.2.3 Klasifikasi
Luka bakar ringan
Jika memungkinkan, luka bakar ringan harus segera dicelupkan ke
dalam air dingin. Luka bakar kimia sebaiknya dicuci dengan air
sebanyak dan selama mungkin. Di tempat praktek dokter atau di ruang
emergensi, luka bakar dibersihkan secara hati-hati dengan sabun dan air
untuk membuang semua kotoran yang melekat. Jika kotoran sukar
dibersihkan, daerah yang terluka diberi obat bius dan digosok dengan
sikat. Lepuhan yang telah pecah biasanya dibuang. Jika daerah yang
terluka telah benar-benar bersih, maka dioleskan krim antibiotik
(misalnya perak sulfadiazin).
Untuk melindungi luka dari kotoran dan luka lebih lanjut, biasanya
dipasang verban. Sangat penting untuk menjaga kebersihan di daerah
yang terluka, karena jika lapisan kulit paling atas (epidermis)
mengalami kerusakan maka bisa terjadi infeksi yang dengan mudah
akan menyebar. Jika diperlukan, untuk mencegah infeksi bisa diberikan
antibiotik.
Untuk mengurangi pembengkakan, lengan atau tungkai yang
mengalami luka bakar biasanya diletakkan/digantung dalam posisi yang
lebih tinggi dari jantung. Pembidaian harus dilakukan pada persendian
yang mengalami luka bakar derajat II atau III, karena pergerakan bisa
memperburuk keadaan persendian. Mungkin perlu diberikan obat
pereda nyeri selama beberapa hari. Pemberian booster tetanus
disesuaikan dengan status imunisasi penderita.
Luka bakar berat
Luka bakar yang lebih berat dan membahayakan nyawa
penderitanya harus segera ditangani, sebaiknya dirawat di rumah sakit.
Kepada korban kebakaran biasanya diberikan oksigen melalui sungkup
muka (masker) untuk membantu menghadapi efek dari karbon
monoksida (gas beracun yang sering terbentuk di lokasi kebakaran).
Di ruang emergensi, dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi
pernafasan, luka lainnya di tubuh serta dilakukan pengobatan untuk
menggantikan cairan yang hilang dan untuk mencegah infeksi. Untuk
mengobati luka bakar yang berat kadang digunakan terapi oksigen
hiperbarik, dimana penderita ditempatkan dalam ruangan khusus yang
mengandung oksigen bertekanan tinggi.
Jika terjadi cedera pada saluran udara dan paru-paru akibat
kebakaran, untuk membantu fungsi pernafasan bisa dipasang sebuah
selang yang dimasukkan ke dalam tenggorokan. Selang tersebut perlu
dipasang jika cedera menimpa wajah atau jika pembengkakan pada
tenggorokan menyebabkan terganggunya fungsi pernafasan. Jika tidak
terjadi gangguan pada sistem pernafasan maka yang perlu dilakukan
hanya memberikan oksigen tambahan melalui sungkup muka. Setelah
daerah yang terluka dibersihkan, lalu dioleskan krim atau salep
antibiotik dan dibungkus dengan verban steril. Verban biasanya diganti
sebanyak 2-3 kali/hari. Luka bakar yang luas sangat rentan terhadap
infeksi berat karena itu biasanya diberikan antibiotik melalui infus.
Mungkin perlu diberikan booster tetanus.
Luka bakar luas bisa menyebabkan hilangnya cairan tubuh, karena
itu untuk menggantikannya diberikan cairan melalui infus. Luka bakar
dalam bisa menyebabkan mioglonulinuria, yaitu suatu keadaan dimana
protein mioglobulin dilepaskan dari otot yang rusak dan menyebabkan
kerusakan ginjal. Jika tidak segera diberikan cairan yang memadai, bisa
terjadi kegagalan ginjal.
Kulit yang terbakar akan membentuk permukaan yang keras dan
tebal yang disebut eskar, yang bisa menyebabkan terhalangnya aliran
darah ke daerah tersebut. Untuk mengurangi ketegangan pada jaringan
yang sehat dibawahnya, biasanya dilakukan eskarotomi (pemotongan
eskar).
Jika luasnya tidak lebih dari uang logam 50 sen dan terjaga
kebersihannya, luka bakar yang dalam pun bisa pulih dengan
sendirinya. Tetapi jika lapisan kulit dibawahnya mengalami kerusakan
yang luas, biasanya perlu dilakukan pencangkokkan kulit (skin graft).
Bagian kulit yang sehat bisa berasal dari tubuh penderita sendiri
(autograft), dari donor hidup maupun dari kulit orang yang sudah
meninggal (allograft), atau dari mahluk lain selain manusia (xenograft,
biasanya babi karena kulitnya paling mirip dengan kulit manusia.
Autograft sifatnya permanen, tetapi skin graft dari donor (baik manusia
maupun hewan) sifatnya sementara, yaitu hanya melindungi daerah
yang terbakar pada saat tubuh melakukan penyembuhan sendiri dan 10-
14 hari kemudian akan ditolak oleh tubuh.
Biasanya perlu dilakukan terapi fisik dan terapi okupasional untuk
meminimalkan jumlah jaringan parut dan untuk mempertahankan
sebanyak mungkin fungsi dari daerah yang terbakar. Secepat mungkin
dipasang bidai untuk menjaga agar persendian tetap bisa digerakkan
sehingga otot dan kulit tidak menjadi kaku dan memendek. Bidai
dipasang sampai terjadi pemulihan yang luas. Sebelum dilakukan skin
graft, persendian yang terkena dilatih terlebih dahulu sehingga
kemampuan geraknya meningkat. Setelah graft ditempelkan, biasanya
dilakukan pembidaian selama 5-10 hari untuk memastikan bahwa graft
telah terpasang sebagaimana mestinya. Penderita harus mengkonsumsi
sejumlah kalori dan gizi yang cukup yang diperlukan untuk proses
pemulihan. Jika usus tidak berfungsi akibat cedera atau pembedahan
berulang, zat gizi biasa diberikan melalui infus. Diperlukan waktu yang
lama untuk pemulihan luka bakar yang berat, kadang sampai bertahun-
tahun, karena itu penderita bisa mengalami depresi berat sehingga
dukungan moril sangat diperlukan dari orang-orang di sekelilingnya.
2.2.4 Terapi
 Non farmakologi
1. Cairan susu
Susu merupakan cairan yang paling bagus untuk mengompress luka
bakar kecil. Rendam daerah luka dengan susu selama 15 menit atau
lebih. Bila anda kesulitan merendam, anda bisa menggunakan
handuk yang telah dibasahi susu untuk menutup daerah yang
terbakar. Lemak yang terdapat dalam susu akan menyejukan daerah
yang terbakar dan mempercepat penyembuhan.
2. Lidah buaya akan mempercepat proses penyembuhan. Dua atau
tiga hari setelah terluka, anda dapat membubuhi daerah luka
dengan cairan dari daun lidah buaya. Kesejukan dari cairan itu
akan membantu meredakan nyeri. Gunakan empat sampai 5 kali
sehari tanpa ditutup dengan perban.
3. Kentang juga bisa dipakai untuk pertolongan luka bakar. Irislah
kentang lalu tutup daerah yang terbakar menggunakan irisan
tersebut. Zat tepung pada kentang akan menetralisir luka bakar,
rasa nyeri dan mencegah pembentukan jaringan parut.
4. Madu yang digunakan untuk menutup luka akan menyejukan luka,
meredakan nyeri dan mempercepat penyembuhan. Madu juga akan
mencegah infeksi kuman serta melindungi daerah luka.
5. Minyak lavender akan meredakan rasa nyeri dan mempercepat
penyembuhan serta mencegah jaringan parut. Pertama tama,
bersihkan daerah luka dengan air dan sabun. Campur minyak
lavender dengan minyak zaitun dengan perbandingan 1 : 3.
Selanjutnya tutuplah daerah luka dengan campuran tadi.
Hal yang harus diperhatikan :
1. Jangan mengoleskan odol, kecap, mentega pada daerah yang terkena luka
bakar. Bahan” ini hanya akan menyebabkan infeksi pada luka bakar dan
bahkan memperlama proses penyembuhannya.
2. Menutup luka bakar dengan menggunakan putih telur akan mencegah luka
bakar menjadi kering.
3. Jangan memecah bula/lepuhan. Memecah bula hanya akan membuat
infeksi pada luka bakar. Jika bula terlanjur pecah, bersihkan dan sementara
tutup dengan kasa steril.
4. Jangan menekuk daerah yang terkena luka bakar, terutama pada daerah”
persendian karena akan menyebabkan kontraktur/pemendekan yang akan
menyusahkan proses penyembuhannya.
5. Cepat berikan penanganan medis kepada penderita jika mengalami luka
bakar berat atau luas. Kemungkinan penderita memerlukan oksigen jika
mengalami udem/pembengkakan laring, atau perlu cairan infus karena
luasnya luka bakar sehingga penguapan yang terjadi juga masif atau perlu
diberikan antibiotik masif atau injeksi anti tetanus.

 Terapi Farmakologi
(Kee, Joyce L. 1996)
OBAT KEKUATAN PEMAKAIAN DAN
OBAT PERTIMBANGAN

Perak Krim 1% , Mencegah dan mengobati infeksi


Sulfadiazin dioleskan 1-2 kali pada luka bakar derajat ke II dan ke
(Silvadene) / hari III. 10 % dari obat ini diabsorbsi.
Pemakaian yang banyak atau
pengolesan secara berlebihan dapat
menyebabkan timbulnya Kristal
sulfa (kristaluria)
Perak Nitrat Larutan 0,5 % Untuk luka bakar derajat ke II dan
ke III. Pembalut direndam dalam
larutan perak nitrat 0,5 % dan
pembalut diangkat sebelum menjadi
kering. Efektif melawan beberapa
organisme gram negatif. Dapat
menimbulkan ketidakseimbangan
elektrolit (Hipokalemia) jika
dipakai berlebihan.
Mafenid Asetat Krim 8,5 % Untuk luka bakar derajat ke II dan
(Sulfamylon) ke III.
Nitrofurazone Krim, salep, Untuk luka bakar derajat ke II dan
(Furacin) larutan, 0,2 % ke III dapat menimbulkan
fotosensistifitas, oleh karena itu
hindari sinar matahari dapat
menyebabkan dermatis kontak

2.3 Pelindung Sinar Matahari


Sunscreen merupakan sejenis krim atau lotion yang digunakan untuk
melindungi kulit dari paparan sinar matahari (UV-A dan UV-B). Sediaan tabir
surya (sunscreen) adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
membaurkan atau menyerap secara emisi gelombang ultraviolet dan inframerah,
sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya mahatari.
2.3.1 Komponen Sinar Matahari
Sinar matahari terdiri dari 3 komponen, yaitu sinar UVA, UVB, dan UVC.
1. Sinar UVA (panjang gelombang antara 315 – 400 nm) mampu lebih dalam
menembus kulit dan memiliki jangka waktu yang lebih lama untuk
menimbulkan kerusakan pada kulit, seperti kerutan, dan gejala-gejala
penuaan dini. Sinar UVA ini akan membuat kulit menjadi hitam (tanning).
2. Sinar UVB (panjang gelombang 290 – 320 nm) hanya 0.2 % dari sinar
matahari total. Paparan sekitar 15 menit/hari dari sinar UVB ini
sebenarnya sangat penting untuk memicu pembentukan vitamin D3 (salah
satu komponen Vitamin D) dari provitaminnya.
3. Sinar UVC (panjang gelombang 270 - 290 nm) sebenarnya amat
berbahaya dan sangat merusak kulit, tetapi sinar ini ditahan oleh lapisan
ozon. Kebocoran lapisan ozon (O3) menyebabkan beberapa (sebagian
kecil) sinar ini masuk ke bumi. Tak heran mengapa akhir-akhir ini sinar
matahari terasa begitu menyengat dan membakar kulit.
American Cancer Society menyatakan bahwa pemaparan UV dalam jangka
waktu yang lama dapat menyebabkan perubahan pada kulit yang meliputi :
a. Penuaan
b. Kerutan
c. Kehilangan elastisitas kulit
d. Noda gelap (lentigos, kadang disebut “age spots” atau “liver spots” )
e. Keratosis aktinik

i. Jenis-Jenis Sunscreen
Beberapa jenis sunscreen yang tersedia adalah:
1. Penghambatan fisik (physical bloker), antara lain TiO2, ZnO, kaolin,
CaCO3, MgO, dan
2. Penyerap kimia (chemical absorber) meliputi anti UV A misalnya turunan
benzophenon antara lain oksibenson, dibenzoilmetan, serta anti UV B
yaitu turunan salisilat, turunan para amoni benzoic acid (PABA) misalnya
oktil dimetil PABA, turunan sinamat (sinoksat, etil heksil
parametoksisinamat) dan lain-lain.
Untuk mengoptimalkan kemampuan dari tabir surya sering dilakukan
kombinasi antar tabir surya fisik dan tabir surya kimia, bahkan ada yang
menggunakan beberapa macam tabir surya dalam satu sediaan kosmetika.

ii. Mekanisme Kerja Sunscreen


Tabir surya (sunscreen atau sunblock) atau UV filter, memiliki 2
mekanisme utama yaitu :
1. Mengabsorbsi energi sinar UV. Mengubahnya menjadi bentuk energi
panas. Umumnya senyawa UV filter organic termasuk dalam kelompok
ini.
2. Menghamburkan dan memantulkan energi sinar UV. Umumnya senyawa
UV filter anorganik termasuk dalam kelompok ini. Misalnya titanium
dioxida, Zinci oxida, dll
Sangat banyak tabir surya mengandung bahan-bahan yang bekerja dengan
kedua mekanisme ini yang dikenal dengan istilah UV protection. Sekarang ini
UV protection digunakan bersama dengan produk yang digunakan sehari-hari,
seperti krim pelembab dan produk perawatan rambut, produk aftershave,
lipstik atau produk make-up. UV protection dapat diklasifikasikan menjadi 2
kelompok berdasarkan asalnya. Anorganik UV protection, atau yang juga
disebut UV protection fisik, terutama bekerja dengan memantulkan dan
menghamburkan radiasi UV, organik UV protection, yang juga disebut UV
protection kimia atau sunblock, bekerja dengan mengabsorbsi radiasi.

iii. Efektifitas Tabir Surya


Parameter yang berbeda digunakan untuk mengevaluasi efikasi produk tabir
surya dan memberikan kepada pemakai yang berhubungan dengan informasi pada
label produk. Parameter yang biasa digunakan disebut sebagai Sun Protection
Factor (SPF) produk tabir surya, dengan hubungan terhadap peningkatan dosis UV
pada kulit yang dilindungi dapat dengan tanpa menunjukkan eritema, sebagai
perbandingan pada kulit yang tidak terlindungi.
Faktor proteksi sinar (Sun Protecting Factor/SPF) yaitu menunjukkan
tingkat lamanya tabir surya bisa melindungi kulit dari radiasi sinar matahari (UV)
atau berapa lama anda bisa berada dibawah sinar matahari tanpa membuat kulit
terbakar (sun burn). Semakin tinggi nilai SPF, semakin besar perlindungan yang
akan didapat. Nilai SPF ini berkisar antara 0 sampai 100. Sediaan tabir surya
dikatakan dapat memberikan perlindungan apabila memiliki nilai SPF 2 – 8.
Tingkat kemampuan tabir surya sebagai berikut :
1. Minimal, bila SPF antara 2-4, contoh salisilat, antranilat.
2. Sedang, bila SPF antara 4-6, contoh sinamat, bensofenon.
3. Ekstra, bila SPF antara 6-8, contoh derivate PABA.
4. Maksimal, bila SPF antara 8-15, contoh PABA.
5.Ultra, bila SPF lebih dari 15, contoh kombinasi PABA, non-PABA dan fisik.
Jika suatu body lotion mengandung SPF 15 berarti krim tersebut akan
meneruskan sinar matahari seperlima belas saja. Krim dengan SPF 60 hanya
meneruskan seperenam puluh sinar matahari ke kulit. Oleh karena itu, makin besar
nilai SPF maka makin efektif fungsinya sebagai tabir surya. Krim tabir surya dapat
dioleskan di seluruh bagian tubuh yang terbuka, terutama wajah, tetapi jangan
sampai terkena bagian mata. Krim inipun dapat digunakan setiap hari sebagai alas
bedak.
Faktor protektif terhadap sinar (SPF) menunjukkan kelipatan peningkatan
toleransi terhadap kontak dengan sinar matahari dengan penggunaan produk ini
tanpa menimbulkan eritema. Dengan perkataan lain, SPF 8 akan mengizinkan
orang yang biasa menderita eritema setelah berkontak 20 menit untuk bertahan 160
menit terhadap sinar matahari.

E. Bentuk – Bentuk Sediaan


Tabir surya dapat dibuat dalam berbagai bentuk sediaan, misalnya bentuk
larutan air atau alkohol, emulsi, krim, dan semi padat, yang merupakan sediaan
lipid non-air, gel, dan aerosol.
Syarat-syarat bagi preparat kosmetik tabir surya yaitu :
1. Enak dan mudah dipakai.
2. Jumlah yang menempel mencukupi kebutuhan.
3. Bahan aktif dan bahan dasar mudah bercampur.
4. Bahan dasar harus dapat mempertahankan kelembutan dan keembaban kulit.
5. Tidak toksik, tidak mengiritasi, dan tidak menyebabkan sensitisasi.

Bentuk-bentuk preparat susnscreen dapat berupa :


1. Preparat anhydrous
Minyak-minyak cair suntan menduduki tempat yang paling penting.
Keuntungan yang spesifik dari sediaan berminyak adalah sifat tahan terhadap air
yang timbul saat berkeringat pada saat berjemur atau berenang. Efek lubrikan
(perlindungan mekanik) juga dipertimbangkan sebagai hal yang sangat menolong.
Minyak nabati digunakan sebagai tabir surya karena mamiliki kemampuan
menyerap dalam range UV kritikal. Hal ini ditunjukkan oleh minyak wijen yang
paling luas penggunannya. Minyak nabati merupakan pelarut yang lebih baik
dibandingkan minyak mineral untuk mebanyakan bahan-bahan tabir surya yang
larut minyak.
2. Emulsi (m/a, a/m)
Berbagai jenis emulsi, non lemak m/a, semi lemak , lemak m/a, telah
digunakan sebagai tabir surya dengan kandungan lemak yang tinggi menyerupai
minyak dan non lemak serupa dengan sediaan berair. Keuntungan dari produk
emulsi adalah penampilan dan konsistensi yang menyenangkan saat
penggunaannya.
3. Preparat tanpa lemak
Dibandingkan dengan minyak suntan, sediaan ini memiliki keuntungan yaitu
tidak berlemak dan lengket serta nyaman dalam penggunannya. Kelompok ini
dibagi atas komposisi alcohol tinggi atau rendah. Kerugian utama dari sediaan
berair dan rendah alcohol adalah kelarutannya dalam air yaitu kehilangan aktivitas
pada kondisi berkeringat atau dalam air.
Tabir surya yang baik:
a. Mempunyai nilai SPF 15 atau 15+
b. Punya nomor register/terdaftar CL,CD.
c. Pilih produk tabir surya yang tanpa wewangian.
d. Ada tanggal kadaluarsa, bila disimpan secara benar 2 tahun.
e. Bentuk padat terpisah dari bagian cair rusak

F. Contoh Sunscreen
1. Parasol 33
Komposisi: Octyl methoxycinnamate, Oxybenzone, Microtitanium
dioxide, Methyl benzilidene camphor, Butyl methoxy
dibenzoil methane, Cetil alcohol, Tocopherol acetate, Red
ion oxide, Cl No. 77492, Sodium lauryl
sulphate, Propyl paraben, Methyl paraben, Aloe vera,
Purified water.
Kegunaan: Krim pelindung terhadap sinar matahari yang mengandung
Aloe Vera dan Vitamin E, bekerja melindungi kulit akibat
pengaruh buruk sinar matahari sekaligus menjaga
kelembaban kulit sehingga tetap lembut, halus.dan tidak
kering. Dapat dipakai sebagai alas make up yang baik.
Cara Pemakaian: Sebelum bepergian keluar kena sinar matahari, oleskan
krim tipis-tipis pada bagian kulit yang akan dilindungi.
Pastikanlah bahwa seluruh kulit tersebut telah tertutupi dan
bila mana perlu ulangi pemakaian untuk memastikan suatu
perlindungan yang cukup. Hilangkan krim pada waktu
malam hari dengan memakai krim/susu pembersih atau
dengan sabun dan air dan pakailah kembali waktu pagi hari.
Perhatian: a. Individu-individu yang diketahui peka terhadap salah satu
komponen krim ini hendaknya tidak memakai sediaan ini.
b. Hindari kontak dengan mata atau mulut.
c. Pemakaian dihentikan bilamana timbul iritasi atau kemerah-
merahan pada kulit.
Kemasan: Pemakaian dihentikan bilamana timbul iritasi atau kemerah-
merahan pada kulit.
2. Solare
Kandungan : Oktil metoksisinamat 7,5%, benzopfenon-3 3%, pemutih.
Indikasi: Tabir surya yang mengandung pelembab dan pemutih,
berfungsi melindungi kulit dari reaksi terbakar sinar
matahari, proses penuaan dini, flek hitam dan kanker kulit,
membantu memutihkan wajah.
Perhatian: Hindari kontak dengan mata, bila timbul kemerahan pada
kulit, hentikan pemakaian.
Dosis: Oleskan merata pada kulit 30 menit sebelum terkena sinar
matahari.
Kemasan: Botol plastik 100ml.
3. Intersun
Komposisi: Per mililiter lotion Vit E, aloe vera, ethylhexyl
methoxycinnamate, benzophenone-3.
Indikasi: Tabir surya & pelembab.
Kemasa: Lotion SPF 30 x 100 ml.
Dosis: Gunakan pada area kulit yang perlu dilindungi dari sinar
matahari 30 menit sebelum pemaparan terhadap sinar
matahari.
Pabrik: Interbat.
4. Rossolare Lation
Komposisi: Oktil Metoksisinnamat / octyl methoxycinnamate 7,5 %,
Benzofenon-3 3 %.
Indikasi: Tabir surya, pelembab
Kemasan: Lotion 100 mL.
Dosis: Gunakan 30 menit sebelum terpapar sinar matahari.
Pabrik: Yupharin.

2.4 Dermatitis
2.4.1 Definisi
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon
terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen,
menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema,
papul, vesikel, skuama) dan keluhan gatal (Djuanda, Adhi, 2007). Dermatitis
adalah peradangan pada kulit (inflamasi pada kulit) yang disertai dengan
pengelupasan kulit ari dan pembentukkan sisik (Brunner dan Suddart 2000).
2.4.2 Klasifikasi
a) Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik
terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit.
Dermatitis kontak terbagi 2 yaitu :
 Dermatitis kontak iritan (mekanisme non imunologik)
 Dermatitis kontak alergik (mekanisme imunologik spesifik)
Perbedaan Dermatitis kontak iritan dan kontak alergik
No. Dermatitis kontak iritan Dermatitis kontak alergik
1. Penyebab Iritan primer Alergen kontak S.sensitizer
2. Permulaan Pada kontak pertama Pada kontak ulang
3. Penderita Semua orang Hanya orang yang alergik
4. Lesi Batas lebih jelas Batas tidak begitu jelas
Eritema sangat jelas Eritema kurang jelas
5. Uji Tempel Sesudah ditempel 24 jam, Bila sesudah 24 jam bahan allergen di
bila iritan di angkat reaksi angkat, reaksi menetap atau meluas
akan segera berhenti.

b) Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif,
disertai gatal dan umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-
anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan
riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit berupa papul
gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, tempatnya
dilipatan atau fleksural.
c) Dermatitis numularis
Merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran
sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor
ekstremitas.
d) Dermatitis seboroik
Merupakan golongan kelainan kulit yang didasari oleh factor konstitusi,
hormon, kebiasaan buruk dan bila dijumpai pada muka dan aksila akan
sulit dibedakan. Pada muka terdapat di sekitar leher, alis mata dan di
belakang telinga.
2.4.3 Etiologi
Penyebab dermatitis belum diketahui secara pasti. Sebagian besar
merupakan respon kulit terhadap agen-agen misal nya zat kimia, bakteri dan
fungi selain itu alergi makanan juga bisa menyebabkan dermatitis. Respon
tersebut dapat berhubungan dengan alergi. (Arief Mansjoer.1998). Penyebab
Dermatitis secara umum dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
a) Luar (eksogen) misalnya bahan kimia (deterjen, oli, semen, asam, basa),
fisik (sinar matahari, suhu), mikroorganisme (mikroorganisme, jamur).
b) Dalam (endogen) misalnya dermatitis atopik.
2.4.4 Pengobatan Farmakologi
1. Antihistamin
Contoh : Lacomin (CTM, kafein), incidal OD (cetirizin), interhistin
(mebhidrolin), phenergan (prometazin)
2. Topikal berupa lotion, bedak dan krim
Contoh : caladin
3. Kortikosteroid
Contoh : enkacort (hidrokortison salep), kenacort (triamcinolon)

2.4.5 Pengobatan Herbal


1. Daun Mahkota Dewa
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun, daging
dan kulit buahnya. Daun dan kulit buah bisa digunakan segar atau yang
telah dikeringkan, sedang kan daging buah digunakan setelah dikeringkan.
Daun dan biji digunakan untuk pengobatan penyakit kulit, seperti eksim
dan gatal-gatal. Cara pemakaiannya ambil beberapa lembar daun mahkota
dewa yang masih segar, cuci sampai bersih, kemudian tumbuk atau giling
sampai halus dan lumat lalu balurkan pada bagian tubuh yang gatal.
2. Kulit batang bunga kamboja
Cara mengolahnya yaitu ambil kulit batang kamboja secukup cuci
sampai bersih kemudian tumbuk sampai halus, kemudian balurkan pada
bagian tubuh yang gatal.
3. Daun Trengguli
Cara pemakaian hancurkan daun trengguli muda, gosokkan pada
bagian yang terserang hingga bebas dari gata-gatal.

2.4.6 Pengobatan Non Farmakologi


1. Jangan digaruk sebisa mungkin hindari garukan yang berlebihan apalagi
menggunakan kuku panjang. Garukan akan membuat kulit menjadi lecet
akibatnya memperparah kondisi kulit yang terlihat bahkan bisa
menimbulkan infeksi. Boleh menggaruk asal dengan lembut dan tidak
menerus intinya jangan sampai lecet.
2. Terapi cahaya
Fototerapi akan menyinari kulit anda dengan sinar ultraviolet yang
panjang gelombang tertentu. Biasanya dibutuhkan beberapa sesi
penyinaran sampai gatal terkendali.
3. Gunakan kompres dingin dan basah. Menutupi area dengan perban dan balutan
dapat membantu melindungi kulit dan menghindari garukan.
BAB III
KASUS DAN PENYELESAIAN
3.1 Kasus
Mirna berumur 18 tahun datang ke apotek, dengan keluhan jerawat
batu, kulit memerah, sakit ketika disentuh, kulit berminyak dan terdapat
banyak komedo. Sebagai seorang apoteker obat apa yang harus diberikan
kepada gadis tersebut?
3.2 Penyelesaian
a. Subyektif
Nama : Nn. Mirna
Umur : 18 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Keluhan : jerawat batu, kulit memerah, sakit ketika disentuh,
kulit berminyak dan terdapat banyak komedo.
b. Objektif : -
c. Assesment
Pada kasus ini diketahui bahwa pasien memiliki tipe kulit
berminyak dan rentan sekali terkena jerawat karena menumpuknya
minyak dan menyumbat pori – pori wajah sehingga timbulah jerawat
sehingga perlu terapi anti jerawat
d. Plan
Salep Medi-Klin TR (Klindamisin fosfat 1,2 %, tretionin 0,025%)
untuk mengobati acne yang disertai lesi yang disertai inflamasi. Cara
pemakaian : membersihkan wajah terlebih dahulu, keringkan dan
oleskan tipis pada daerah yang berjerawat 1 x sehari pada malam hari.
e. KIE
1. Menganjurkan pasien agar memperhatikan kebersihan wajah
2. Mengurangi konsumsi makanan yang berlemak, perbanyak
konsumsi buah dan sayur.
3. Menginformasikan kepada pasien agar jangan memijat jerawat
atau menggaruknya dengan jari karena hal ini seringkali dapat
merusak kulit dengan terjadinya infeksi, yang bisa meradang dan
meninggalkan bekas
4. Memperbanyak minum air putih setiap hari, minimal 8 gelas
perhari agar kulit wajah terlihat segar.
DAFTAR PUSTAKA

Adhi, Djuanda. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI.
Amor, Rich. Panduan Lengkap Jerawat.Authorized Distributor Online,
www.richamorindonesiafacebook.com/richamorindonesia.Diakses tanggal
19 Maret 2018
Ayudianti, P. & Indramaya, D.M., 2010. (Retrospective Study : Factors
Aggravating Acne Vulgaris). Faktor Pencetus Akne Vulgaris, 26/No. 1,
pp.41–47.
Brunner and Suddarth’s. 2008. Textbook of Medical-Surgical Nursing. Penerbit :
LWW, Philadelphia.
Burns T, Graham B, Brown. 2005. Lecture Notes Dermatologi. Edisi
Ke3.Jakarta:Erlangga. Tahir, M (2010). Pathogenesis of acne vulgaris
simplified. Journal of Pakistan association of dermatologist. pp : 93-97.
David, S. 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Dalam :
Surabaya Plastic Surgery. http://surabayaplasticsurgery.blogspot.com
Dipiro, JT, Talbert, RL, Yee, GC, Matzke, GR, Wells, BG, dan Posey, LM, 2008,
Farmakoterapi Pendekatan patofisiologi, edisi 7 th, McGrawHill, New
York.
Djuanda, Adhi. 2005i Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Penerbit : Balai Penerbit
FK UI, Jakarta. EGC. Jakarta. p 66-88
James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier.
Philadelphia.118-129
Kee, Joyce L. 1996. Farmakologi Pendekatan proses Keperawatan, Jakarta : ECG
Mansoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Edisi 3. Penerbit :
Media Aesculapius FK UI, Jakarta.
Nami, U., 2009. Hubungan Tingkat Stress Dan Kebersihan Diri dengan Akne
vulgaris. Available from: http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-
gdls1-2009-utaminami-1126 [ Accessed: April 2, 2018]
Nelson, A.M., Thiboutot, D.M. 2008. Biology of Sebaceous Glands. In : Wolff, K.,
Nina, R. 2008. Efek Penyembuhan Luka Bakar Dalam Sediaan Gel Ekstrak Etanol
70% Daun Lidah Buaya (Aloe Vera L.) pada Kulit Punggung Kelinci New
Zealand. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nurul K. 2013. http://nurulkhatimahp.blogspot.com/2013/05/makalah-
sunscreen.html Soetjiningsih, 2004. Buku Ajar: Tumbuh Kembang Remaja
dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto.
Tahir, M (2010). Pathogenesis of acne vulgaris simplified. Journal of Pakistan
association of dermatologist. pp : 93-97. Tahir, M (2010). Pathogenesis of
acne vulgaris simplified. Journal of Pakistan association of dermatologist.
pp : 93-97.
Wasitaatmadja, S.M. 2010. Acne: Clinical sign, classification and grading. Dalam :
Makalah National Symposium and workshop in cosmetoc dermatology:
Acne new concepts and challenges. Jakarta.
Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.