Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

“STRUKTUR TEORI AKUNTANSI”

Disusun Oleh :
KELOMPOK 6
1. GINA INDIRA NIGSIH
2. JIHAN SAFIRA
3. WAODE GUSTIA ULFA
4. NINING SARI RAHMAN
5. NIA HAFSILA

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah
memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Struktur Teori Akuntansi” dengan baik
tanpa ada halangan yang berarti.

Dan saya mengucapkan terimakasih kepada dosen matakuliah Teori


Akuntansi : bapak DRS. Dr. H. Afrizal, SE, M.Si.,Ak.CA. yang selalu
memberikan arahan dan panduan sehingga memudahkan dalam menyusun tugas
ini, dan tak lupa juga penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada semua
pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penyusun berharap apa yang telah penyusun kerjakan ini dapat


bermanfaat dan menjadi salah satu bacaan yang berguna bagi kita semua.
Penyusun nmeyadari kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, dan penyusun
yakin banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini,maka penulis
mengharapkan kritikdan saran yang sifatnya membangun.

Ternate, 9 Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………...........…..1


1.2 Rumusan Masalah …………………………………………...........1
1.3 Tujuan Penulisan………………………………………………......2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Dari Struktur Akuntansi.....................................................3


2.2 Hakikat Dari Dalil, Konsep Teoretis, Dan
Prinsip-Prinsip Akuntansi.................................................................3
2.3 Dalil-Dalil Akuntansi.......................................................................4
2.3.1 Dalil Entitas..........................................................................4
2.3.2 Dalil Kelangsungan Usaha...................................................5
2.3.3 Dalil Unit Pengukuran..........................................................5
2.3.4 Dalil Periode Akuntansi........................................................6
2.4 Konsep Teoretis Dari Akuntansi......................................................6
2.4.1 Teori Kepemilikan................................................................6
2.4.2 Teori Entitas..........................................................................7
2.4.3 Teori Dana............................................................................8
2.5 Prinsip-Prinsip Akuntansi................................................................9
2.5.1 Prinsip Biaya.........................................................................9
2.5.2 Prinsip Pendapatan..............................................................10
2.5.3 Prinsip Pengaitan................................................................13
2.5.4 Prinsip Objektivitas............................................................15
2.5.5 Prinsip Konsistensi.............................................................15
2.5.6 Prinsip Pengungkapan Penuh.............................................16
2.5.7 Prinsip Konservatisme........................................................17
2.5.8 Prinsip Materialitas.............................................................18
2.5.9 Prinsip Keseragaman Dan Komparabilitas.........................19

ii
2.5.10 Ketepatan Waktu Dari Laba Dan Konservatisme
Akuntansi............................................................................20
2.6 Kebenaran Dalam Akuntansi.........................................................21
2.6.1 Pemikiran Mengenai Kebenaran Dalam Filosofi...............21
2.6.2 Kemungkinan Akan Kebenaran Dalam Akuntansi.............22

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan....................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................25

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Teori akuntansi memiliki batasan-batasan yang telah didefinisikan sebagai


pengukuran dan komunikasi data yang mengungkapkan aktivitas ekonomi yang
terdiri dari beberapa elemen. Akan tetapi, apresiasi dalam lingkup akuntansi ini
tidak hanya bergantung pada pemahaman teknik-teknik akuntansi saja tetapi juga
pada struktur teori akuntansi dimana dan darimana teknik-teknik tersebut
diturunkan. Pengembangan struktur teori akuntansi dimulai dari pemeriksaan
Paton terhadap dasar-dasar akuntansi, pemeriksaan ini bertujuan untuk
membenarkan teknik dan aturan yang ada sekarang, selain itu terdapat tujuan
utama yaitu mengodifikasi dalil-dalil dan prinsip-prinsip akuntansi.
Meskipun pada praktiknya, teori akuntansi yang dihasikan nantinya akan
berbeda pada siapa pemakai informasi akuntansi tetapi teori akuntansi
menyediakan kerangka referensi atau struktur teori akuntansi, dimana kelayakan
dari metode tertentu dapat dinilai. Walaupun elemen-elemen dari struktur tersebut
mungkin berbeda, namun menurut metodologi yang digunakan dan asumsi yang
telah dibuat, terdapat suatu kesepakatan dalam literatur dan dalam praktik,
terdapat suatu kesepakatan dalam literatur dan dalam praktik mengenai keutamaan
dari elemen-elemen tertentu sebagai dasar penting akuntansi.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan-rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apakah yang menjadi hakikat dari struktur teori akuntansi?
2. Apakah yang menjadi hakikat dalil, konsep teoretis, dan prinsip-prinsip
akuntansi?
3. Apa saja dalil-dalil akuntansi?
4. Bagaimana konsep teoretis akuntansi?
5. Apa saja prinsip- prinsip dari akuntansi?
6. Bagaimana kebenaran dalam akuntansi?

1
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui hakikat dari struktur teori akuntansi
2. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi hakikat dalil, konsep teoretis,
dan prinsip-prinsip akuntansi
3. Untuk mengetahui apa saja dalil-dalil akuntansi
4. Untuk mengetahui bagaimana konsep teoretis akuntansi
5. Untuk mengetahui apa saja prinsip- prinsip dari akuntansi
6. Untuk mengetahui bagaimana kebenaran dalam akuntansi

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Hakikat Dari Struktur Akuntansi


Apapun pendekatan dan metodologi yang digunakan dalam formulasi
suatu teori akuntansi (deduktif atau induktif, nnormatif atau deskriptif), kerangka
referensi yang dihasilkan didasarkan pada sekelompok elemen dan hubungan
yang mengatur pengembangan teknik akuntansi. Struktur teori akuntansi terdiri
dari beberapa elemen sebagai berikut :
1) Suatu pernyataan mengenai tujuan dari laporan keuangan.
2) Suatu pernyataan dari dalil-dalil dan konsep teoretis dari akuntansi yang
berkaitan dengan asumsi-asumsi lingkungan dan hakikat unit akuntansi
tersebut. Berbagai dalil dan konsep teoretis ini diturunkan dari tujuan yang
tellah dinyatakan.
3) Suatu pernyataan mengenai prinsip-prinsip akuntansi dasar berdasarkan dalil-
dalil maupun konsep teoretis tersebut.
4) Sekelompok teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi.

2.2. Hakikat Dari Dalil, Konsep Teoretis, Dan Prinsip-Prinsip Akuntansi


Pengembangan dari dalil, konsep teoritis dan prinsip-prinsip akuntansi
selalu menjadi salah satu tugas yang paling menantang dalam akuntansi.
Kurangnya terminologi yang akurat,yang telah di akui oleh kebanyakan ahli teori,
telah memperburuk masalah. Littleton mengacu pada masalah ini ketika ia
menyatakan bahwa :
Setiap buku biasanya berisi suatu campuran dari aksioma, konvensi,
generalisasi, metode, aturan, dalil,praktik, prosedur, prinsip dan
standar. Istilah-istilah ini tidak mungkin seluruhnya bersifat sinonim.

Kebingunan semacam itu dapat dihindari dengan cara mempertimbangkan


perumusan dari struktur teori akuntansi sebagai suatu proses deduktif dan
interaktif, di mana tujuan dari akuntansi menyediakan dasar baik untuk dalil

3
maupun konsep teoritis dari mana tekknik tersebut diturunkan. Pembahasan ini
dimulai dengan definisi-definisi berikut ini :
1. Dalil akuntansi ( accounting postulate ) adalah pernyataan atau aksioma yang
sangat jelas, umumnya diterima berdasarkan kesesuaiannya terhadap tujuan
laporan keuangan, menggambarkan lingkungan ekonomi, politik, sosial, dan
hukum di mana akuntansi harus beroperasi.
2. Konsep teoritis ( theoretical concept ) dari akuntansi juga merupakan
pernyataan atau aksioma yang sangat jelas, umumnya diterima berdasarkan
kesesuainnya terhadap tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan
hakikat dari entitas akuntansi yang beroperasi dalam suatu perekonomian
bebas yang dikarakteritikan oleh kepemilikan pribadi atas properti.
3. Prinsip-prinsip akuntansi ( accounting principles ) adalah aturan pengambilan
keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan maupun konsep teoritis
akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi.
4. Teknik akuntansi ( accounting technique ) adalah adalah aturan khusus yang
diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi memperlakukan transaksi- transaksi
atau kjadian-kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

2.3. Dalil-Dalil Akuntansi


2.3.1. Dalil Entitas

Dalil entitas (entity postulate) menganggap bahwa setiap perusahaan


adalah suatu unit akuntansi yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan dari
perusahaan-perusahaan lain. Dalil ini mendefinisikan bidang perhatian akuntansi
dan membatasi jumlah objek, kejadian dan atribut-atribut kejadian yang akan
dimasukkan ke dalam laporan keuangan. Dalil ini juga mengakui tanggung jawab
fidusia dari manajemen kepada pemegang saham. Konsep entitas berlaku untuk
firma, perusahaan perseorangan, korporasi (baik berupa perseroan maupun
nonperseroan), serta perusahaan kecil dan besar.

Salah satu cara mendefinisikan suatu entitas akuntansi adalah dengan


mendefinisikan unit ekonomi yang bertanggung jawab untuk aktivitas ekonomi
dan pengendalian administratif dari unit tersebut.

4
Cara lain untuk mendefinisikan suatu entitas akuntansi adalah dalam hal
kepentingan ekonomi dari berbagai pengguna, dan bukannya aktivitas ekonomi
dan pengendalian administrasi dari init tersebut. Pendekatan ini berorientasi pada
pengguna dari pada berorientasi pada perusahaan.

2.3.2 Dalil Kelangsungan Usaha


Dalil Kelangsungan Usaha ( Going-Concern postulate ) atau dalil
kontinuitas, menganggap bahwa entitas bisnis akan melanjutkan operasinya
cukup lama untuk melaksanakan proyek, komitmen, dan aktivitasnya yang
berkelanjutan. Dalil ini mengasumsikan bahwa entitas tersebut tidak diharapkan
akan dilikuidasi dimasa depan atau bahwa entitas tersebut akan berlanjut sampai
periode yang tidak dapat ditentukan.
Dalil kelangsungan usaha membenarkan penilaian aktiva menggunakan
basis nonlikuidasi dan menyediakan dasar untuk akuntansi depresiasi. Pertama,
karena baik nilai sekarang maupun nilai likuidasi tidak sesuai untuk penilaian
aktiva, dalil kelangsungan usaha membutuhkan penggunaan biaya historis untuk
banyak penilaian. Kedua, aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud diamortisasi
selama masa manfaat, dan bukan menggunakan periode yang lebih pendek karena
memperkirakan adanya likuidasi awal.
Dalil kelangsungan usaha juga dapat digunakan untuk mendukung teori
manfaat (benefit theory). Harapan akan manfaat masa depan mendorong manajer
untuk melihat ke depan dan memotivasi investor untuk membuat komitmen modal
kepada suatu perusahaan.

2.3.3. Dalil Unit Pengukuran


Suatu unit pertukaran dan pengukuran adalah perlu untuk menghitung
transaksi dari perusahaan secara seragam. Penyebut (denominator) umum yang
dipilih dalam akuntansi adalah unit moneter. Dapat dipertukarkannya barang, jasa,
dan modal diukur dalam satuan uang. Dalil unit pengukuran (unit-of-measure
postulate) menganggap bahwa akuntansi adalah proses pengukuran dan
pengomunikasian aktivitas perusahaan yang dapat diukur dalam satuan uang.

5
Dalil unit pengukuran, atau dalil unit moneter, mengimplikasikan dua
keterbatasan utama dari akuntansi. Pertama, akuntansi terbatas pada prediksi dari
informasi yang dinyatakan dalam satuan uang : akuntansi tidak mencatat maupun
mengominikasikan informasi nonmoneter lainnya walaupun informasi tersebut
relevan. Informasi akuntansi dipandang sebagai informasi yang bersifat moneter
dan dapat dikuantifikasi : informasi nonakuntansi dipandang sebagai informasi
yang bersifat nonmoneter dan tidak dapat dikuantifikasi.
Keterbatasan yang disimpulkan oleh dalil unit pengukuran melibatkan unit
moneter itu sendiri sebagai unit pengukuran.

2.3.4. Dalil Periode Akuntansi

Meskipun dalil kelangsungan usaha menganggap bahwa perusahaan akan


tetap ada selama periode yang tidak terbatas, pengguna mermelukan beragam
informasi mengenai posisi dan kinerja keuangan dari suatu perusahaan
untukmembuat keputusan jangka pendek. sebagai tanggapan atas keterbatasan
yang disebabkan oleh lingkungan pengguna, dalil periode akuntansi (accounting-
period postulate) menganggap bahwa laporan keuangan yang menggambarkan
perubahan dalam kekayaan perusahaan sebaiknya diungkapkan secara periodik.
Durasi dari suatu periode dapat bervariasi, tetapi hukum pajak penghasilan,yang
mengharuskan penentuan laba tahunan, dan praktik bisnis
tradisional,menghasilkan periode waktu normal satu tahun.

2.4. Konsep Teoritis Dari Akuntansi


2.4.1. Teori Kepemilikan

Menurut teori kepemilikan entitas sebagai “agen perwakilan atau


pengaturan dimana wirausahawan individual atau pemegang saham beroperasi.”
Tujuan utama teori kepemilikan adalah untuk penetukan dan analisis dari
“kekayaan bersih” (net worth) pemilik, oleh karena itu, persamaan akuntansi :

Aktiva – Kewajiban = Ekuitas Pemilik

Aktiva dinilai dan neraca disusun untuk mengukur perubahan kepentingan


atau kekayaan si pemilik. Pendapatan dan beban masing-masing dianggap sebagai

6
kenaikan atau penurunan dalam kepemilikan yang tidak berasal dari investasi atau
penarikan modal oleh pemilik. Dengan demikian laba bersih atas utang dan pajak
penghasilan perusahaan adalah beban ; dividen adalah penarikan modal.
Teori kepemilikan dapat memiliki paling tidak dua kelompok pemilik.
Dalam bentuk pertama, hanya pemegang saham biasa yang menjadi bagian dari
kelompok pemilik sementara pemegang saham preferen dikeluarkan. Dengan
demikian, dividen saham preferen dikurangkan ketika menghitung laba pemilik.
Dan baik saham biasa maupun saham preferen dimasukkan salam ekuitas pemilik.
Bentuk sempit dari teori kepemilikan ini identik dengan konsep ekuitas sisa yang
diajukan oleh staubus. Dalam bentuk kedua dari teori kepemilikan, baik saham
biasa maupun saham preferen dimasukkan dalam ekuitas pemilik.

2.4.2. Teori Entitas


Teori entitas (Entity Theory) memandang entitas sebagai sesuatu yang
terpisah dan berbeda dari mereka yang menyediakan modal bagi entitas tersebut.
Sederhananya unit bisnis, dan bukannya pemilik yang menjadi pusat dari
kepentingan akuntansi. Persamaan akuntansi nya adalah :

Aktiva = Ekuitas
Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemegang Saham
Baik kreditor maupun maupun pemegang saham adalah pemilik ekuitas,
meskipun mereka memiliki hak yang berbeda dalam hal laba, pengendalian risiko
dan likuidasi. Akuntabilitas kepada pemegang ekuitas dicapai dengan cara
mengukur kinerja operasi dan keuangan dari perusahaan tersebut. Oleh karena itu,
laba adalah peningkatan dalam ekuitas pemegang saham setelah klaim dari
pemilik ekuitas lainnya (misalnya bunga atas pinjaman jangka panjang dan pajak
penghasilan) dipenuhi.
Dampak dari entitas dapat ditemukan dalam beberapa teknik akuntansi dan
terminologi yang digunakan dalam praktik. Pertama, teori entitas lebih memilih
penggunaan penilaian persediaan LIFO dan bukannya FIFO, karna penilaian
LIFO menghasilkan penentuan laba yang lebih baik, akibatnya penerapannya
dalam teori kepemilikan. Kedua, definisi umum dari pendapatan sebagai produk
dari perusahaan dan beban sebagai barang dan jasa yang dikonsumsi untuk

7
memperoleh pendapatan ini adalah konsisten dengan pandangan teori entitas
dengan indeks kinerja dan akuntabilitas terhadap pemegang ekuitas. Ketiga,
penyusunan laporan konsolidasi dan pengakuan atas kelas kepemilikan minoritas
sebagai tambahan pemegang ekuitas adalah juga konsisten dengan teori entitas.
Terakhir, baik teori entitas, dengan penekanannya pada penentuan laba yang
sesuai bagi pemegang saham maupun teori kepemilikan dengan penekanannya
pada penilaian aktiva ang tepat, dapat dipandang sebagai memihak penggunaan
nilai sekarang, atau dasar penilaian selain biaya historis.

2.4.3. Teori Dana


Dalam teori dana ( Fund Theory ) dasar akuntansi bukanlah pemilik
maupun entitas, melainkan sekelompok aktiva dan kewajiban serta pembatasan
yang terkait, yang disebut dana, yang mengatur penggunaan aktiva tersebut.
Dengan demikian, teori ini memandang unit bisnis sebagai unit yang terdiri atas
sumber daya ( dana ) ekonomi dan kewajiban serta pembatasan yang terkait
dengan penggunaan dari sumber daya ini. Persamaan akuntansinya adalah :

Aktiva = Pembatasan Aktiva

Unit akuntansi didefinisikan sebagai aktiva dan penggunaan untuk mana


aktiva tersebut dikomitmenkan. Kewajiban mewakili serangkaian pembatasan
hukum maupun ekonomi terhadap penggunaan aktiva tersebut. Oleh karna itu,
teori dana adalah “ berpusat pada aktiva “ dalam hal fokus utamanya adalah pada
administrasi dan penggunaan yang sesuai atas aktiva. Bukannya pada neraca atau
laporan keuangan , melainkan laporan sumber dan penggunaan danalah yang
merupakan tujuan utama dari pelaporan keuangan. Laporan ini mencerminkan
pelaksanaan operasi perusahaan dalam hal sumber dan penggunaan dana.
Teori dana terutama berguna bagi pemerintah, organisasi nirlaba, rumah
sakit, universitas, kota dan unit pemerintahan. Contohnya, terlibat dalam operasi
multisisi yang mengharuskan adanya dana terpisah. Setiap dana yang berimbang
menghasilkan laporan yang terpisah dan sekelompok akun yang sesuai.
Jumlah dana yang digunakan oleh institusi nirlaba mana pun bergantung
pada jumlah dan jenis aktivitas atas mana restriksi hukum diberlakukanmengenai

8
penggunaan aktiva yang dipercayakan kepada organisasi tersebut.Misalnya saja,
delapan utama berikut ini direkomendasikan bagi administrasi keuangan yang
bagus dari suatu unit pemerintahan :
1. Dana Umum (General Funds)
2. Dana Pendapatan Khusus (Special Revenue Funds)
3. Dana Pelunasan Utang (Debt Service Funds)
4. Dana Proyek Modal (Capital Projects Funds)
5. Dana Perusahaan (Enterprise Funds)
6. Dana Perwalian dan Agensi (Trust and Agency Funds)
7. Dana Layanan Antarpemerintah (Intragovernmental Service Funds)
8. Dana Pungutan Khusus (Special Assessment Funds)

2.5. Prinsip-Prinsip Akuntansi


2.5.1. Prinsip Biaya

Menurut prinsip biaya (cost principle), biaya perolehan/akuisisi


(acquisition cost) atau biaya historis adalah dasar penilaian yang sesuai untuk
mengakui akuisisi dari seluruh barangdan jasa, beban, biaya, dan ekuitas. Dengan
kata lain, suatu transaksi dinilai pada harga pertukaran padan tanggal akuisisi dan
dicatat dalam laporan keuangan pada nilai itu atau pada nilai setelah amortisasi.
APB Statement No. 4 mendefinisikan biaya sebagai berikut:
“Biaya (cost) adalah jumlah, yang diukur dalam uang, dari kas yang
dikeluakan atau properti lain yang ditransfer, modal saham yang
dikeluarkan, jasa yang diberikan, atau kewajiban yang terjadi, dalam
hubungannya dengan barang atau jasa yang telah atau akan diterima.
Biaya (dan atau aktiva) yang belum habis masa berlakunya adalah
biaya (dan atau aktiva) yang berkaitan dengan produksi pendapatan di
masa depan. Biaya yang sudah habis masa berlakunya tidak berkaitan
dengan produksi pendapatan di masa depan, dan oleh karena itu
diperlakukan sebagai pengurang dari pendapatan sekarang atau
dibebankan terhadap laba ditahan.”

9
Biaya mencerminkan harga pertukaran dari, atau pengorbanan moneter
yang diberikan untuk akuisisi dari, barang atau jasa. Jika pengorbanan tersebut
melibatkan aktiva nonmoneter maka harga pertukaran adalah ekuivalen kas dari
aktiva atau jasa yang diserahkan. Prinsip biaya juga dapat diterapkan terhadap
pengukuran transaksi kewajiban dan modal.
Prinsip biaya dapat dibenarkan dalam hal objektifitasnya maupun dalil
kelangsungan usaha. Pertama, biaya akuisisi adalah informasi yang objektif dan
dapat diverivikasi. Kedua dalil kelangsungan usaha mengasumsikan bahwa entitas
akan melanjutkan aktifitasnya alam jangka waktu yang tidak terbatas, sehingga
meniadakan kebutuhan untuk menggunakan nilai sekarang atau nilai likuidasi
guna penilaian aktiva.

2.5.2. Prinsip Pendapatan


Prinsip pendapatan menspesifikasi:
1) Hakikat dan Komponen-Komponen Pendapatan
2) Pengukurn Pendapatan
3) Penentuan Waktu Dari Pengakuan Pendapatan

Hakikat dan Komponen-Komponen Pendapatan

1. Arus masuk aktiva bersih yang dihasilkan dari penjualan barang atau jasa
2. Arus keluar barang atau jasa dari perusahaan ke pelanggannya
3. Produk perusahaan yang dihasilkan dari penciptaan barang atau jasa oleh usaha
selama periode waktu tertentu.

Pengertian pendapatan menurut FASB adalah Pendapatan merupakan


aliran masuk atau peningkatan aset atau penurunan liabilitas (atau kombinasi
keduanya) selama satu periode yang berasal dari penyerahan atau produksi barang
atau jasa atau kegiatan lain yang merupakan kegiatan utaa badan usaha.
Pada dasarnya ada dua pandangan mengenai komponen pendapatan.
Pandangan luas atau komprehensif dari pendapatan memasukkan semua
penghasilan dari aktifitas bisnis dan investasi. Pandangan ini mengidentifikasikan
semua perubahan dalam aktifa bersih yang berasal dari aktivitas penghasil

10
pendapatan dan keuntungan atau kerugian lainnya yang berasal dari penjualan
aktiva tetap dan investasi sebagai pendapatan.

Pengukuran Pendapatan
Pendapatan diukur dalam hal nilai produk atau jasa yang dipertukarkan
dalam transaksi ‘wajar’. Nilai ini mewakili ekuivalen kas bersih atau nilai
sekarang terdiskonto atas uang yang diterima atau akan diterima dalam pertukaran
dengan produk atau jasa yang ditransfer oleh perusahaan kepada pelanggannya.

Penentuan waktu dari pengakuan pendapatan


Pada umumnya diakui bahwa pendapatan dan laba diperoleh sepanjang
seluruh tahapan dari siklus operasi (yaitu selama penerimaan pesanan, produksi,
penjualan, dan penagihan). Dengan adanya kesulitan dalam mengalokasikan
pendapatan dan laba ke tahapan yang berbeda dari siklus operasi, akuntan
menggunakan prinsip realisasi untuk memilih “kejadian penting” (critical event)
dalam siklus tersebut untuk penentuan waktu pendapatan dan pengakuan laba.
Kejadian penting tersebut dipilih untuk mengindikasikan kapan perubahan
tertentu dalam aktiva dan kewajiban dapay dipertanggung jawabkan secara
memadai. Definisi awal dari prinsip realisasi (realization) adalah :
Arti penting realisasi adalah bahwa suatu perubahan dalam aktiva atau
kewajiban telah menjadi cukup pasti dan objektif untuk membenarkan pengakuan
dalam akun-akun. Pengakuan ini dapat tergantung pada transaksi pertukaran
antara pihak-pihak yang independen, atau kinerja kontrak yang dianggap kelihatan
cukup pasti.
Pendapatan diakui menggunakan beberapa dasar walaupun secara umum
diakui menggunakan dasar akrual atau kejadian penting. Dasar akrual untuk
pengakuan pendapatan dapat mengimplikasikan bahwa pendapatan sebaiknya
dilaporkan selama produksi, pada akhir produksi, pada saat penjualan produk atau
pada saat penagihan penjualan. Pendapatan secara umum diakui selama produksi
dalam situasi-situasi berikut ini:

11
1. Pendapatan sewa, bunga dan komisi diakui ketika diperoleh dengan adanya
perjanjian atau kontrak sebelumnya yang menspesifikasikan peningkatan
perlahan-lahan dalam klaim terhadap pelanggan.
2. Seorang individu atau sekelompok orang yang memberikan jasa profesional
atau jasa serupa dapat menggunakan basis akrual dengan lebih baik untuk
pengakuan pendapatan dengan adanya fakta bahwa hakikat dari klaim terhadap
pelanggan adalah suatu fungsi dari proporsi jasa yang diberikan.
3. Pendapatan atas kontrak jangka panjang diakui berdasarkan kemajuan
konstruksi atau “persentase penyelesaian”. Persentase penyelesasian itu
dihitung sebagai:
a. Estimasi teknik dari pekerjaan yang dilakukan sampai tanggal tersebut
dibandingkan dengan total pekerjaan yang akan diselesaikan dalam hal
kontrak, atau
b. Total biaya yang terjadi sampai tanggal tersebut dibandingkan dengan total
biaya yang diestimasikan untuk total proyek didalam kontrak tersebut.
4. Pendapatan atas “kontrak biaya plus pembiayaan tetap” lebih baik diakui
menggunakan basis akrual.
5. Perubahan aktiva akibat pertumbuhan menimbulkan pendapatan. Meskipun
suatu transaksi harus terjadi sebelum pendapatan diakui dalam contoh-contoh
ini, pertumbuhan pendapatan didasarkan pada penilaian persediaan komparatif.

Dasar kejadian penting (critical event basis) untuk pengakuan pendapatan


dipicu oleh kejadian penting dalam siklus operasi. Kejadian tersebut berupa:
 Waktu penjualan
 Penyelesaian produksi
 Penerimaan pembayaran setelah penjualan
Dasar penyelesaian produksi (completion-of-production basis) untuk
pengakuan pendapatan dibenarkan ketika ada pasar yang stabil dan harga yang
stabil untuk komoditas standar. Proses produksi dan bukannya penjualan yang
merupakan kejadian penting untuk pengakuan pendapatan. Aturan ini terutama
berlaku untuk “logam mulia yang memiliki harga jual tetap dan harga pasar yang
tidak signifikan”. Perlakuan penyelesaian produksi sesuai untuk emas, perak, dan

12
logam mulia lainnya dan juga sesuai untuk produk pertanian dan mineral yang
memenuhi kriteria yang diperlukan.
Dasar pembayaran (payment basis) untuk pengakuan pendapatan
dibenarkan ketika penjualan akan dibuat dan ketika penilaian yang cukup akurat
tidak dapat diberikan kepada produk yang akan ditransfer. Metode ini yang
sebenarnya merupakan penangguhan pendapatan, terutama diidentifiikasikan
dengan “metode cicilan” untuk pengakuan pendapatan.

2.5.3. Prinsip Pengaitan

Prinsip pengaitan (matching principle) menganggap bahwa beban


sebaiknya diakui dalam periode yang sama dengan pendapatan terkait yaitu
pendapatan diakui dalam suatu periode tertentu menurut prinsip pendapatan, dan
beban terkait kemudian diakui. Asosiasi ini paling bak dilakukan ketika hal
tersebut mencerminkan hubungan sebab akibat antara biaya dan pendapatan.
Asosiasi antara pendapatan dengan beban tergantung pada salah satu dari empat
kriteria berikut ini :

1) Pengaitan langsung dari biaya yang habis masa berlakunya dengan suatu
pendapatan (misalnya harga pokok penjualan dilaitkan dengan penjualan
tersebut)
2) Pengaitan langsung dari biaya yang telah habis masa berlakunya pada periode
tersebut (misalnya gaji pimpinan perusahaan untuk periode tersebut)
3) Alokasi biaya sepanjang periode yang memperoleh manfaat dari biaya
tersebut (misalnya depresiasi)
4) Membebankan semua biaya lainnya dalam periode terjadinya, kecuali dapat
ditunjukkan bahwa biaya-biaya tersebut memiliki manfaat masa depan
(misalnya beban iklan)

Biaya Produksi barang jadi untuk dijual


Biaya ini pada umumnya meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, dan
overhead pabrik. Proses 2 tahap digunakan untuk mempertanggungjawabkan
biaya-biaya ini.

13
1. Penilaian Persediaan
2. Penentuan Laba
Menentukan jumlah penilaian persediaan
 Metode Perhitungan Biaya Penuh
Memperlakukan semua biaya produksi sebagai biaya produk yang melekat
ke produk tersebut, dibawa ke depan, dan dilepaskan sebagai biaya periode
berjalan pada saat penjualan.
 Metode Perhitungan Biaya Langsung
Memperlakukan biaya produksi variabel sebagai biaya produk dan seluruh
biaya overhead manufaktur tetap sebagai periode berjalan.
Pada umumnya, diakui bahwa perhitungan biaya langsung adalah lebih
relevan bagi pengambilan keputusan internal.

Aktiva Operasi dapat didepresiasikan


Karena aktiva ini didepresiasikan, diasumsikan akan memberikan manfaat
ke lebih dari satu periode, aktiva tersebut dikapitalisasikan pada biaya akuisisinya
yang kemudian dialokasikan menggunakan dasar logis selama umur manfaat
aktiva tersebut. Proses ini disebut:
 Depresiasi, untuk aktiva berwujud
 Deplesi, untuk aktiva yangg diwakili sumber daya alam
 Amortisasi, untuk aktiva tidak berwujud

Akuntansi depresiasi adalah sistem akuntansi yang bertujuan unutk


mendistribusikan biaya atau nilai dasar lainnya dari aktiva modal berwujud (jika
ada), selama masa estimasi manfaat dari unit tersebut (yang dapat berupa
sekelompok aktiva) dengan cara yang sistematis dan rasional. Depresiasi tahun
berjalan adalah bagian dari total beban dalam sistem semacam itu yang
dialokasikan selam tahun tersebut. Metode depresiasi dapat didasarkan pada :
1. Waktu, seperti metode garis lurus
2. Output seperti metode jam jasa dan metode unit output.
3. Beban depresiasi yang semakin menurun
4. Konsep investasi dan bunga, seperti metode anuitas.

14
Aktiva operasi yang tidak didepresiasikan
Ini merupakan kelompok ketiga dari suatu aktiva dan biaya, disebut juga
aktiva modal permanen, karena diasumsikan bahwa aktiva tersebut tidak
dikonsumsi selama operasi dari bisnis tersebut dilaksanakan.

Biaya penjualan dan administrasi


Adalah seluruh biaya non manufakturyang diperlukan untuk memelihara
organisasi penjualan dan administrasi dasar. Biaya tersebut diperlakuukan sebagai
biaya pendidik, baik dalam perhitungan biaya langsung atau penyerapan (penuh).

2.5.4. Prinsip Objektivitas

Kegunaan informasi keuangan sangat bergantung pada keandalan dari


prosedur pengukuran yang digunakan. Karena memastikan keandalan maksimum
sering kali sulit untuk dilakukan, maka akuntan telah menggunakan prinsip
objektivitas (objectivity principle) untuk membenarkan pilihan prosedur
pengukuran. Prinsip objektivitas memiliki interpretasi yang berbeda :

1. Pengukuran objektivitas adalah ukuran yang bersifat “tidak memihak”, dalam


arti bahwa pengukuran tersebut bebas dan bias pribadai si pengukur.
2. Pengukuran objektivitas adalah pengukuran variable dalam hal bahwa
pengukuran tersebut didasarkan pada bukti.
3. Pengukuran objektivitas adalah hasil dari “kesepakatan di antara sekelompok
pengamat atau pengukur tertentu”. implikasinya bahwa objektivitas akan
tergantung pada sekelompok pengukur tertentu..
4. Ukuran penyebaran atau distribusi pengukuran digunakan sebagai indikator
tingkat objektivitas suatu sistem pengukuran tertentu.

2.5.5. Prinsip Konsitensi

Prinsip konsistensi (consistency principle) menganggap bahwa kejadian


ekonomi yang serupa sebaiknya dicatat dan dilaporkan dengan cara yang

15
konsisten dari periode ke periode. Prinsip ini mengimplikasikan bahwa prosedur
akuntansi yang sama akan diterapkan kepada transaksi yang serupa sepanjang
waktu. Penerapan konsep konsistensi membuat laporan keuangan menjadi lebih
dapat diperbandingkan dan lebih berguna. Tren dalam data akuntansi dan
hubungan dengan faktor-faktor eksternal akan terungkap dengan lebih akurat
ketika digunakan prosedur pengukuran yang dapat diperbandingkan secara serupa,
distorsi laba dan jumlah neraca serta manipulasi yang mungkin dari laporan
keuangan dihindari dengan penerapan yang konsisten atas prosedur akuntansi
sepanjang waktu. Oleh karena itu, konsistensi adalah batasan pengguna untuk
memfasilitasi keputusan pengguna dengan memastikan dapat diperbandingkannya
laporan keuangan dari suatu perusahaan sepanjang waktu, sehingga meningkatkan
kegunaan dari laporan tersebut.

Prinsip konsistensi tidak mengahalangi suatu perusahaan untuk mengubah


prosedur akuntansinya ketika hal tersebut dibenarkan oleh sesuatu yang berubah,
atau jika prosedur alternatif lebih baik (aturan preferensi). Sesuai dengan APB
opinion No. 20, Perubahan yang membenarkan perubahan dalam prosedur adalah:

1. Perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi;


2. perubahan dalam estimasi akuntansi;
3. perubahan dalam entitas pelaporan.
Perubahan-perubahan ini akan dicerminkan dalam akun dan dilaporkan
dalam laporan keuangan secara retroaktif untuk perubahan dalam entitas
akuntansi, secara prospektif untuk perubahan dalam estimasi akuntansi, secara
umum dan sekarang untuk perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi.

2.5.6. Prinsip Pengungkapan Penuh

Terdapat kesepakatan umum dalam akuntansi bahwa sebaiknya terdapat


pengungkapan yang “penuh”, “adil”, dan “memadai” atas data akuntansi.
Pengungkapan penuh (full disclosure) mengharuskan laporan keuangan dirancang
dan disusun untuk menggambarkan secara akurat kejadian-kejadian ekonomi yang
telah memengaruhi perusahaan selama periode berjalan dan supaya mengandung
informasi yang mencukupi guna membuatnya berguna dan tidak menyesatkan

16
bagi investor kebanyakan. Lebih eksplisit lagi, prinsip pengungkapan penuh
mengimplikasikan bahwa tidak ada informasi atas substansi atau kepentingan bagi
kebanyakaninvestor yang akan dihilangkan atau disembunyikan.
Skinner menarik perhatian pada bebrapa masalah yang sebaiknya menjadi
subjek dari pengungkapan penuh :
1. Rincian dari kebijakan dan metode akuntansi, terutama ketika penilaian
dibutuhan dalam penerapan metode akuntansi, ketika metode tersebut bersifat
khusus bagi entitas pelaporan tersebut, atau ketika metode akuntansi alternatif
dapat digunakan.
2. Informasi tambahan untuk membantu dalam analisis investasi atau untuk
mengindikasikan hak dari berbagai pihak yang memiliki klaim atas entitas
pelaporan.
3. Perubahan dari tahun sebelumnya dalam kebijakan akuntansi atau metode
penerapannya dan dampak dari perubahan semacam itu.
4. Aktiva, keajiban, biaya, dan pendpatan, yang dihasilkan dari transaksi dengan
pihak-pihak yang memiliki kepentingan pengendalian atau dengan direktur
atau pejabat yang memiliki hubungan istimewa dengan entitas tersbut.
5. Aktiva, kewaiban, dan komitmen kontijen.
6. Transaksi keuangan atau nonoperasi lainnya yang terjadi setelah tanggal
neraca yang memiliki dampak material terhadap possi keuangan entitas
terebut sebagaimana diindikasikan dalam laporan akhir tahun.

2.5.7. Prinsip Konservatisme

Prinsip konservatisme adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi


dalam hal bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan terhadap penyajian
data akuntansi yang relevan dan andal. Prinsip konservatisme menganggap bahwa
ketika memilih antara dua atau lebih teknik akuntansi yang berlaku umum, suatu
referensi ditunjukkan untuk opsi yang memiliki dampak paling tidak
menguntungkan terhadap ekuitas pemegang saham. Secara lebih spesifik, prinsip
tersebut mengimplikasikan bahwa nilai terendah dari aktiva dan pendapatan serta
nilai tertinggi dari kewajiban dan beban yang sebaiknya dipilih untuk dilaporkan.
Oleh karena itu, prinsip konservatisme mengharuskan bahwa akuntan

17
menampilkan sikap pesimistis secara umum ketika memilih teknik akuntansi
untuk pelaporan keuangan. untuk mencapai tujuan guna memahami laba dan
aktiva sekarang, prinsip konservatisme mengarah pada perlakuan yang merupakan
penyimpangan terhadap pendekatan yang dapat diterima atau teoretis.
Dimasa lalu, konservatisme telah digunakan ketika berususan dengan
ketidakpastian dalam lingkungan dan terlalu optimisnya manajer dan pemilik serta
juga ketika melindungi kreditor terhadap distribusi yang tidak sah atas aktiva
perusahaan sebagai dividen. Konservatisme adalah nilai yang dijunjung tinggi
dimasa lalu dibandingkan dimasa ini. Nilai tersebut telah mengarah pada provisi
atau kewajiban atau keduanya yang arbitrer dan tidak konsisten.

2.5.8. Prinsip Materialitas

Seperti halnya konservatisme, prinsip materialitas adalah suatu prinsip


pengecualian atau modifikasi. Prinsip tersebut menganggap bahwa transaksi dan
kejadian yang memiliki dampak ekonomi yang tidak signifikan dapat ditangani
secara sangat cepat, tanpa memedulikan apakah hal tersebut sesuai dengan prinsip
yang berlaku umum atau tidak. Materialitas berfungsi sebagai pedoman implisit
bagi akuntan dalam hal apa yang sebaiknya diungkapkan dalam laporan
keuangan, sehingga memungkinkan akuntan tersebut untuk memutuskan apa
yang tidak penting atau apa yang tidak menjadi masalah berdasarkan biaya
pencatatan, akurasi laporan keuangan, dan relevandi bagi pengguna.
Menurut APB Statement No. 4, materialitas mengimplementasikan bahwa
“laporan keuangan hanya berkepentingan dengan informasi yang cukup signifikan
untuk mempengaruhi penilaian atau keputusan. Sedangkan APB Opinion No. 30
mengendalikan pada konsep materialitas yang belum terdefinisikan untuk
menggambarkan pos-pos luar biasa. APB Opinion No. 22 merekomendasikan
pengungkapan atas seluruh kebijakan atau prinsip yang secara material
memengaruhi posisi keuangan.
Prinsip materialitas kurang memiliki definisi operasional. Kebanyakan
definisi materialitas menekankan pada peraturan akuntan dalam
menginterprestasikan apa yang material dan apa yang tidak material.

18
2.5.9. Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas

Prinsip konsistensi mengacu pada penggunaan prosedur yang sama


untuk transaksi-transaksi yang berhubungan oleh perusahaan selama waktu
tertentu : prinsip keragaman mengacu pada penggunaan prosedur yang sama oleh
perusahaan-perusahaan yang berbeda. Tujuan yang diinginkan adalah untuk
mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keragaman yang
diciptakan oleh penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan-
perusahaan yang berbeda. Faktanya, suatu perdebatan yang terus menerus terjadi
mengenai apakah fleksibilitas atau keseragaman yang sebaiknya ada dalam
akuntansi dan pelaporan keuangan. dukungan utama untuk keseragaman
(uniformity) adalah klaim bahwa hal itu akan:
1. Mengurangi keragaman penggunaan prosedur akuntansi dan ketidakcukupan
praktk-praktik akuntansi;
2. Memungkinkan perbandingan yang berarti atas laporan keuangan dari
perusahaan yang berbeda;
3. Memperbaiki kepercayaan pengguna dalam laporan keuangan;
4. Mengarah pada intervensi dan peraturan pemerintah mengenai praktik
akuntansi.

Dukungan utama untuk fleksibilitas adalah klaim bahwa:


1. Penggnaan prosedur akuntansi yang seragam untuk mencerminkan transaksi
yang sama terjadi dalam banyak kasus memiliki resiko menyembunyikan
perbedaan yang penting antar kasus.
2. Komparabilitas adalah suatu cita-cita yang bersifat utopia;”hal tersebut tidak
dapat dicapai dengan mengadopsi aturan-aturan tetap yang tidak cukup
mempertimbangkan situasi faktual yang berbeda.
3. “perbedaan dalam situasi” atau “variabel situasi” membutuhkan perlakuan
yang berbeda, sehingga pelaporan perusahaab dapat menanggapi situasi
dimana transaksi dan kejadian terjadi. Variabel-variabel situasional
(circumstantial variables) didefenisikan sebagai :
a) kelayakan dari metode akuntansi dan/atau

19
b) objektivitas ukuran-ukuran yang dihasilkan dari penerapan metode
akuntansi tersebut.

Tujuan implisit baik dari keseragaman maupun fleksibilitas adalah untuk


melindungi pengguna dan untuk menyajikan data yang berarti kepada pengguna.
Kedua prinsip tersebut gagal karena posisi ekstrem mereka terhadap masalah
pelaporan keuangan. Fleksibilitas jelas mengarah pada kebingungan dan
ketidakpercayaan. Solusi yang seimbang dapat diberikan dengan mendorong
dengan cara mempersempit keragaman dari praktik akuntansi dan,pada saat yang
sama, memungkinkan pengakuan yang memadai atas kejadian pasar dan ekonomi
yang khas untuk perusahaan dan industri tertentu dengan asosiasi yang memadai
atau situasi-situasi ekonomi tertentu dengan tekhnik akuntansi terkait. Posisi
tengah ini membutuhkan definisi operasional atas “perbedaan dalam situasi” dan
pedoman yang lebih baik untuk menghubungkan perbedaan dalam situasi dengan
berbagai prosedur.

2.5.10. Ketepatan Waktu Dari Laba dan Konservatisme Akuntansi

Ketepatan waktu dari laba akuntansi (timeliness of accounting earnings)


telah didefinisikan sebagai sejauhmana laba akuntansi periode sekarang
memasukkan laba ekonomi periode sekarang. Sementara laba ekonomi dan laba
akuntansi yang dijumlahkan selama umur dari perusahaan adalah identik,
keduanya berbeda dalam jangka pendek. Laba ekonomi segera mengakui
perubahan dalam perkiraan nilai sekarang atas arus kas masa depan, sementara
laba akuntansi menggunakan prinsip “pengakuan” untuk memasukkan perubahan
yang sama secara perlahan-lahan sejalan dengan waktu, umumnya pada titik dekat
dengan saat arus realisasi arus kas terjadi. Yang terjadi adalah tenggang waktu
antara laba akuntansi dengan laba ekonomi yang dapat terjadi selama beberapa
periode. Sebagaimana yang dinyatakan oleh ball dkk. “prinsip pengakuan oleh
karena itu menyebabkan laba ekonomi dimasukkan dalam laba akuntansi secara
lambat dan ‘merata’ dengan berjalannya waktu”. Hubungan laba akuntansi dengan
laba ekonomi mendefinisikan ketepatan waktunya sebagai berikut:

20
EARNit = 𝐚𝟎𝐣 + 𝐚𝟏𝐣 RETit + 𝓔𝒊𝒕
Dimana:
EARNit = laba sebelum pos luar biasa, operasi yang dihentikan, dan pos-pos
khusus yang dideflasi oleh nilai pasar awal tahun dari ekuitas
perusahaan tertentu pada tahun t.
RETit = tingkat pengembalian saham tahunan untuk tahun t.

Konservatisme didefinisikan oleh Basu adalah sampai sejauh mana laba


akuntansi periode sekarang secara asimetris memasukkan kerugian ekonomi,
relatif terhadap keuntungan ekonomi. Oleh karena itu, sementara ketepatan waktu
mengukur tingkat dimasukkannya laba ekonomi dalam laba akuntansi
kontemporer, konservatisme mengukur tingginya ketepatan waktu dalam
memasukkan penurunan nilai, atau laba ekonomi negatif. Oleh karena itu, asimetri
konservatif dalam ketepatan laba akuntansi diperkenalkan dengan memodifikasi
persamaan sebelumnya untuk memasukkan laba ekonomi secara asimetris sebagai
berikut:
EARNit = 𝐚𝟎𝐣 + 𝐚𝟏𝐣 NEGit + 𝐚𝟐𝐣 RETit + + 𝐚𝟑𝐣 RETit NEGit + 𝓔𝒊𝒕
Di mana:
NEGit = Variabel dummy yang setara dengan 1 jika RET adalah negatif dan o jika
sebaliknya. Oleh karena itu, a2j dan a2j+a3j memasukkan dalam laba tahun
berjalan masing-masing berita bagus dan berita buruk.

2.6. Kebenaran Dalam Akuntansi


2.6.1. Pemikiran Mengenai Kebenaran Dalam Filosofi

Pengetahuan akan proporsi muncul dari kebenarannya. Jika kita


mengetahui suatu proporsi, maka kita mengetahui bahwa hal itu adalah benar.
Suatu proporsi yang benar berkitan dengan suatu kondisi masalah yang terjadi.
Kebenaran berkaitan dengan pelaporan dari kejadian atau terdapatnya kondisi
masalah. Kebenaran tersebut dapat dinyatakan secara berbeda.
1. Hal tersebut dapat berupa kebenaran sebagai kesesuaian ketika proporsi
tersebut adalah benar jika sesuai dengan fakta.

21
2. Hal tersebut dapat berupa kebenaran sebagai koherensi ketika proporsi
tersebut adalah benar karena koheren dengan proposi lain.
3. Hal tersebut dapat berupa kebenaran sebagai apa “yang berlaku”
mengimplikasikkan bahwa proporsi yang benar adalah apa yang berlaku.

Perbedaan dapat dibuat antara kebenaran dengan kepalsuan proposisi serta


keyakinan orang mengenai keduanya. Keyakinan tidak selalu berhubungandengan
kondisi masalah. Kebenaran dari proposisi dapat dipastikan dengan tingkat
kompleksitas yang berbeda.

2.6.2. Kemungkinan Akan Kebenaran Dalam Akuntansi


a. Kebenaran sebagai netralitas
Untuk dapat melaporkan kebenaran, akuntansi perlu menghindari
dimasukkannya bias. Untuk menghindari dimasukkannya bias dalam
pengetahuan, gambaran, dan komunikasi fakta, akuntan diharapkan bersikap
netral. Karakteristik penting dari informasi yang disediakan adalah “bebas bias”
atau netral. Netralitas (neutrality) dianggap sebagai karakteristik kualitatif penting
dari informasi akuntansi.

b. Kebenaran sebagai objektivitas


Untuk menetapkan akurasi dari atribut-atribut yang diukur, akuntan telah
mengandalkan prinsip objektivitas sebagai suatu cara untuk mebenarkan prosedur
pilihan mereka. Objektivitas memiliki arti : (1) pengukuran yang impersonal atau
berada diluar pikiran dari orang yang melakukan pengukuran, (2) pengukuran
yang didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi, (3) pengukuran berdasarkan
kesepakatan dari para ahli yang memiliki kualifikasi, dan (4) kecilnya penyebaran
statistik dari pengukuran atribut ketika dilakukan oleh pengukur yang berbeda.

c. Kebenaran, objektivitas, dan keandalan


Keandalan mengacu pada “kualitas yang memungkinkan pengguna data
untuk mengandalkannya dengan penuh keyakinan sebagai perwakilan dari apa

22
yanh diwakili oleh data tersebut.” Dengan demikian, keandalan informasi
tergantung pada tingkat kejujuran dalam penyajian suatu kejadian.
Istilah “bias” atau “pemindahan” adalah perbedaan sistematis antara titik
tengah dari estimasi sampel suatu parameter dengan nilai yang sebenarnya dari
parameter tersebut.

d. Kebenaran, objektivitas dan kekerasan


Bagian ini adalah perbandingan antara berbagai kelompokang berbeda.
Hubungan tersebut adalah antara objektivitas dengan tingkat kekerasan
(hardness). Objektivitas dalam kasus ini adalah tingkat kesepakatan yang tinggi
antara beragam kelompok akuntan, dalam pengertian bahwa kelompok akuntan
yang berbeda menghasilkan sekelompok ukuran yang dengan titik tengah u yang
sama dan varians 62 yang sama, dengan adanya netralitas mereka dalam hal
kepentingan mereka atas hasil dari pengukuran tersebut.

e. Kebenaran dan peran akuntansi


Jenis kebenaran yang disampaikan dalam praktik dan wacana akuntansi
dapat bersifat kontinjen terhadap peran yang sebenarnya diamainlan dalam
organisasi. Tentu saja terdapat peran tradisional sebagai alat bantu yang berguna
bagi pengambilan keputusan yang rasional dengan pandangan untuk mengukur
efisiensi dan efektivitas organiasional. Kebenaran dalam akuntansi pada konteks
tradisional ini adalah untuk untuk menyediakan angka-angka akuntansi yang
berguna dan diketahui berdasarkan aturan-aturan yang berbasis teknis.

f. Mustahilnya kebenaran dalam akuntansi


Kebenaran dalam akuntansi mengimplikasikan kebutuhan untuk
menghindari kerahasiaan. Kerahasiaan (secrecy) adalah tindakan menutupi fakta
atau menahan informasi mengenai hal tersbut atau bukti mengenai hal tersebut
agar tidak sampai ke publik yang berkepentingan yang dapat memperoleh
manfaat dari mengetahui hal tersebut. Pertimbangan moral akan berlawanan
dengan kerahasiaan.

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Aturan-aturan akuntansi yang ada saat ini didasarkan pada fondasi teori
akuntansi. Fondasi ini terdiri atas elemen-elemen yang bersifat hierarki yang
berfungsi sebagai kerangka referensi atau struktur teoritis. Dalam makalah ini,
kita memandang formulasi dari struktur teoritis semacam itu sebagai proses yang
dedukatif dan interaktif, yang terdiri atas formulasi yang suksesif atas tujuan,
dalil, konsep, prinsip, dan teknk akuntansi.

Suatu pemahaman atas elemen-elemen ini dan hubungan dari teori


akuntansi menjamin suatu pemahaman atas rasional di balik praktik aktual dan
masa dapan. Laporan keuangan yang disajikan dalam lapoan akuntansi frmal
hanyalah cerminan dari penerapan struktur teoritis akuntansi. Memperbaiki
kandungan dan format dari laporan keuangan tentu saja terkait untuk mempebaiki
struktur teoritis dari akuntansi. Yang paling terdepan dari agenda badan akuntansi
sebaiknya merupakan formulasi dari elemen-elemen teori akuntansi-yaitu, tujuan
akuntansi, dalil lingkungan, konsep teoritis, dan pinsip akuntansi.

24
DAFTAR PUSTAKA

Riahi Ahmed, Belkaoui. 2006. Accounting Theory Edisi 5: Salemba Empat.

25