Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI ANALITIK

“Analisis Senyawa dengan Metode Stass-Otto”

Disusun oleh :

Ramanani Febriani P17335114029

Hana Hanifah Fadllan P17335114065

Isnaeni Suryaningsih P17335114068

Kelas : II-A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


BANDUNG

JURUSAN D-III FARMASI

JL.Prof. Eyckman No.24 Bandung


2015

I. Judul : ​Analisis Senyawa dengan Metode Stass-Otto


II. Tanggal : ​Jumat, 20 November 2015
III. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan :
● Mampu memahami cara pemisahan senyawa dengan metode Stass-Otto.
● Mampu mengidentifikasi senyawa-senyawa obat dengan menggunakan
metode Stass-Otto.

IV. Prinsip
Identifikasi senyawa yang diawali dengan tahap pemisahan senyawa berdasarkan;
kelarutan senyawa, pembentukan ataupun penguraian garam, dan pembagian senyawa ke
dalam fase air dan fase pelarut organik yang tak tercampurkan dengan air. Kemudian
dilanjutkan dengan analisis senyawa menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis dan
Spektrofotometri.

V. Dasar Teori
Stass-Otto-Gang merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan campuran
berbagai senyawa obat. Pemisahan sebagian besar campuran obat yang dilakukan dengan
membaginya hanya ke dalam dua pelarut tidaklah cukup, pemisahan baru akan sempurna jika
diterapkan prinsip kedua dari Stass Otto Gang, yakni pembentukan ataupun penguraian
garam. Prinsip ini menyangkut perbedaan kelarutan; garam lebih bersifat hidrofil, sedangkan
asam atau basanya lebih lipofil. Kebasaan ataupun keasaman larutan, serta keseragaman sifat
lipofil pelarut memungkinkan pemisahan lebih lanjut. Dengan cara analisis ini, sebanyak 105
senyawa dapat dipisahkan menjadi 5 fraksi dan setiap fraksi dapat mengolah 20-30 macam
senyawa.
Contoh senyawa obat yang dapat dipisahkan pada setiap fraksi :
Fraksi IA Asam Karbonat, Fenol, Ureida (Senyawa Basa)
Fase eter Glutemid, Propifenazon, Tolbutamid, Penthobarbital,
(suasana asam) Warfarin, Asam Salisilat, Parasetamol, Dietilbestrol,
Barbital, Fenobarbital, Nitrazepam
Fraksi IB Senyawa Netral
Fase eter Benzokain, Glutetimid, Meprobamat, Hidrokortison,
(suasana basa) Diazepam, Benzokain, Bisakodil
Fraksi II Asam Karbonat, Fenol Dan Zat Netral
Ekstrak kloroform dalam Amitriptilin, Imipramine, Difenhidramin, Siklobarbital,
suasana asam tartrat Nitrazepam, Kofein, Reserpine, Klordiazepoksida
Fraksi III Berbagai Senyawa Basa
Ekstrak eter dalam suasana Efedrin, Kodein, Klonidin, Etilmorfin, Atropin,
basa NaOH Strichnin
Fraksi IV Berbagai Basa Fenol
Ekstrak kloroform-isopropanol Pilokarpin, Sulfanilamide, Parasetamol, Tetrasiklin
dalam suasana basa amoniak
Fraksi V Asam Hidrofil, Sulfonamide, Karbohidrat, Asam
Senyawa yang tidak Amino, Ammonium Kuartener
terekstraksi dengan pelarut Ampisilin, Asam Glutamate, Asam Askorbat, Isoniazid,
organik Hidroklortiazid, Sulfaguanidin

Setelah pemisahan senyawa dilakukan, selanjutnya dengan metode Kromatografi


Lapis Tipis (KLT) senyawa tersebut dianalisis lebih lanjut sehingga pada akhirnya terdapat
2-3 kemungkinan perbedaan pada identifikasi senyawa. Selain itu metode Kromatografi
Lapis Tipis digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
1. Kromatografi Lapis Tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
2. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,
fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra violet.
3. Dapat dilakukan elusi secara menaik (​ascending​), menurun (​descending​), atau
dengan cara elusi dua dimensi.
4. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik, karena komponen yang akan
ditentukan merupakan noda yang tidak bergerak.
Kromatografi Lapis Tipis adalah salah satu contoh kromatografi planar yang terdiri
dari fase diam dan fase gerak. Fase diamnya (Stationary Phase) berbentuk lapisan tipis yang
melekat pada gelas/kaca, plastik, aluminium. Sedangkan fase geraknya (Mobile Phase)
berupa cairan atau campuran cairan, biasanya pelarut organik dan kadang air. Fase diam yang
berupa lapisan tipis ini dapat dibuat dengan membentangkan/meratakan fase diam (adsorbent
atau penjerap) diatas plat/lempeng kaca plastik ataupun aluminium.
KLT mempunyai kontribusi yang signifikan pada analisis kualitatif, walaupun masih
perlu data pendukung lainnya. Untuk analisis kualitatif diperlukan senyawa murni
pembanding. Sampel dan senyawa pembanding dilarutkan pada pelarut yang sama,
Kemudian larutan sampel ditotolkan pada ujung pelat KLT, 2 cm sejajar dengannya ditotolan
larutan senyawa murni dan disebelahnya lagi ditotolkan campuran sampel dan senyawa
pembanding. Kromatogram diangkat diberi tanda batas akhir yang ditempuh fase gerak.
Diinventarisasi nilai Rf dan Rr. Senyawa yang mempunyai nilai Rf yang sama dengan nilai
Rf senyawa pembanding dan pada pengulangan elusi dengan sistem berbeda tetap
memberikan nilai Rf yang sama, maka dapat disimpulkan sementara senyawa tersebut identik
dengan senyawa pembanding. Rf adalah jarak yang ditempuh senyawa (noda) dibagi dengan
jarak yang ditempuh fase gerak dan Rr adalah jarak yang ditempuh senyawa sample dibagi
dengan jarak yang ditempuh senyawa pembanding menggunakan sistem yang sama.
Analisis senyawa diperkuat dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV.
Spektrofotometri UV/Vis adalah teknik analisis spektroskopi yang memakai sumber radiasi
elektromagnetik ultra violet dekat (190 nm – 380 nm) dan sinar tampak (380 nm – 780 nm)
dengan menggunakan instrumen spektrofotometer. Mekanisme kerja spektrofotometri
UV-Vis antara lain cahaya polikromatis dari sumber cahaya masuk ke dalam monokromator
dan mengalami penguraian menjadi cahaya monokromatis; cahaya tersebut kemudian
diteruskan melalui sel yang berisi sampel; sebagian cahaya diserap oleh sel dan sebagiannya
lagi diteruskan ke fotosel yang berfungsi untuk mengubah energi cahaya menjadi energi
listrik. Energi listrik yang dihasilkan oleh fotosel memberikan sinyal pada detektor yang
kemudian diubah menjadi nilai serapan atau transmitans dari zat yang dianalisis.
Sebagai acuan dalam mengidenfitikasi senyawa, berikut ini panjang gelombang
masing-masing senyawa yang diuji berdasarkan literatur :
No. Senyawa Obat Panjang Gelombang Maksimum
1 Kafein lar. asam = 273 nm
2 Metronidazole lar. asam = 277 nm, lar. basa = 319 nm
3 Furosemide lar. asam = 235 nm, 274 nm, 342 nm, lar.
basa= 271 nm
4 Ethambutol absorbs tidak signifikan 230-360 nm
5 Propranolol lar. asam = 288 nm, methanol = 290 nm
6 Captopril absorban tidak signifikan 230-360 nm, lar.
basa = 238 nm
7 Cotrimoksazol -
8 Piridoksin lar. asam = 290 nm, dapar fosfat ; 254 nm
;324 nm
9 Allopurinol lar. asam = 250 nm, lar. basa = 257 nm
10 Meloxicam lar. asam = 345 nm, lar. basa = 362 nm, lar.
netral = 356 nm
11 Salbutamol lar. asam = 276 nm, lar. basa = 245 nm
12 Amoxicillin lar. asam = 230 nm,272 nm lar. basa =
247nm, 291 nm
13 Ibuprofen lar. basa = 265 nm , lar. asam = 273 nm
14 Sulfaguanidin lar. asam = 264 nm , lar. basa = 259 nm
15 Vitamin C 265 nm
16 Aminofenazon lar. asam = 257 nm, lar. netral = 264 nm
VI. Prosedur Kerja
1. Pemisahan senyawa dengan metode Stass-Otto
2. Identifikasi senyawa dengan metode KLT
- Fraksi-fraksi yang didapat pada metode Stass-Otto dipekatkan, kemudian
ditotolkan pada lempeng KLT dan dimasukkan ke dalam chamber berisi
eluen yang sesuai hingga eluen bergerak sampai batas akhir yang ditetapkan.
- Lempeng KLT lalu diamati di bawah lampu UV yang dipasang panjang
gelombang emisi 254 untuk mendeteksi ada tidaknya noda pada lempeng.
- Menghitung nilai Rf pada setiap noda yang terlihat.
3. Identifikasi senyawa dengan metode Spektrofotometri
- Noda yang didapat pada lempeng KLT diambil dengan mengeruk lempeng
menggunakan spatel.
- Hasil kerukan dilarutkan dengan metanol sebanyak 2 ml.
- Larutan diukur panjang gelombang maksimumnya pada absorban tertinggi
dengan Spektrofotometer UV pada panjang gelombang 200-400 nm.

VII. Perhitungan
30 g
Fraksi IA Toluen : 100 ml
×15 ml = 4.5 ml
(Toluen : Isopropanol : NH​3​ 25% = Isopropanol :
60 g
×15 ml = 9 ml
100 ml
30 : 60: 10) NH​3​ 25% :
10 g
×15 ml = 1.5 ml
100 ml
95 g
Fraksi IB Kloroform : 100 ml
×15 ml = 14.25 ml
(Kloroform : Etanol 96% = 95 : 5) 5g
Etanol 96%: 100 ml
×15 ml = 0.75 ml
90 g
Fraksi II Kloroform : 100 ml
×15 ml = 0.9 ml
10 g
(Kloroform : Etanol 96% = 90 : 10) Etanol 96%: 100 ml
×15 ml = 1.5 ml
95 g
Fraksi III Kloroform : 100 ml
×10 ml = 9.5 ml
(Kloroform : Amoniak = 95 : 5) 5g
Amoniak : 100 ml
×10 ml = 0.5 ml
95 g
Fraksi IV Kloroform : 100 ml
×10 ml = 9.5 ml
(Kloroform : Amoniak = 95 : 5) 5g
Amoniak : 100 ml
×10 ml = 0.5 ml
50 g
Fraksi V Toluen : 100 ml
×15 ml = 7.5 ml
(Toluen : Etanol : Asam Asetat = Etanol :
40 g
×15 ml = 6 ml
100 ml
50 : 40 : 10) Asam asetat :
10 g
×15 ml = 1.5 ml
100 ml

VIII. Data Pengamatan


1. Eluen fraksi I A
Standar Retension Faktor (Rf) λ maksimal (nm)
1. Kafein 6,4/6,9 = 0,93 228 nm (Abs : 0,197)
2. Metronidazol 6,2/6,9 = 0,89 229 nm (Abs : 0,226)
9. Alupurinol 5,3/7,1 = 0,74 251 nm (Abs : 0,181)
13. Ibuprofen 4,2/7,1 = 0,59 230 nm (Abs : 0,190)

2. Eluen fraksi I B
Standar Retension Faktor (Rf) λ maksimal (nm)
2. Metronidazol 1,2/7,5 = 0,16 251 nm (Abs : 0,115)
16. Aminofenazon 3,9/7,0 = 0,56 209 nm (Abs : 0,083)

3. Eluen fraksi II
Standar Retension Faktor (Rf) λ maksimal (nm)
1. Kafein 6,3/7,6 = 0,83 287(Abs : 0,934)
2. Metronidazol 3,1/7,6 = 0,41 310 nm (Abs : 0,842)
7. Cotrimoksazole 3,1/7,6 = 0,41 273 nm (Abs : 0,652)
10. Meloxicam 4,2/ 7 = 0,6 231 nm (Abs : 0,259)
13. Ibuprofen 4,8/7 = 0,68 306 nm (Abs : 0,596)
14. Sulfaguanidin 4,2/7 = 0,6 229 nm (Abs : 0,509)
16. Aminofenazon 4,1/7 = 0,58 397 nm (Abs : 0,101)
4. Eluen fraksi III
Standar Retension Faktor (Rf) λ maksimal (nm)
16. Aminofenazon 1/7,8 = 0,13 234 nm (Abs : 0,44)

5. Eluen fraksi IV
Standar Retension Faktor (Rf) λ maksimal (nm)
1. Kafein 0,5/7,8 = 0,064 274 nm (Abs : 0,138)
7. Cotrimoksazol 0,6/7,8 = 0,077 391 nm (Abs : 0,310)
14. Sulfaguanidin 1,3/8 = 0,1652 275 nm (Abs : 0,646)
6. Eluen fraksi V
Standar Retension Faktor (Rf) λ maksimal (nm)
3. Furosemid 6,8/8,4 = 0,81 304 nm (Abs : 0,114)
4. Ethambutol 7,5/ 8,4 = 0,89 233 nm (Abs : 0,937)
8. Piridoksin 6,9/8,4 = 0,82 251 nm (Abs : 0,150)
9. Alupurinol 1,9/8,4 = 0,22 251 nm (Abs : 0,482)
11. Salbutamol 5,8/7,9 = 0,73 230 nm (Abs : 0,219)
13. Ibuprofen 6,1/7,9 = 0,77 251 nm (Abs : 0,135)
14. Sulfaguanidin 6,4/7,9 = 0,81 291 nm (Abs : 0,960)
15. Vitamin C 6,1/ 7,9 = 0,77 333 nm (Abs : 0,553)

IX. Pembahasan
Senyawa farmasi dapat berbentuk senyawa tunggal atau campuran. Untuk tujuan
identifikasi (kualitatif), senyawa farmasi dalam bentuk tunggal dapat langsung dianalisis.
Tetapi jika senyawa farmasi tersebut berbentuk campuran atau dalam bentuk matriks maka
dibutuhkan langkah-langkah pemisahan dan pemurnian terlebih dahulu sebelum dilakukan
proses identifikasi. Proses pemisahan yang paling umum dilakukan adalah ekstraksi.
Kelarutan setiap senyawa terhadap pelarut tertentu tergantung dari sifat-sifat kimia
masing-masing zat dan afinitasnya terhadap pelarut tersebut pada kondisi tertentu.
Untuk memisahkan senyawa obat sudah sejak lama dikembangkan berbagai macam
metode, diantaranya cara Stass-Otto yang disederhanakan. Dengan metode tersebut, dapat
dipisahkan lebih dari 100 macam campuran senyawa obat. Cara analisisnya didasarkan pada
prinsip:
1. Pembagian senyawa ke dalam fase air dan fase pelarut organik yang tak tercampurkan
dengan air.
Pada sebagian besar obat (khususnya yang berbentuk padat), pemisahan dengan cara
membedakan kelarutannya ke dalam fase air dan fase organik saja masih kurang
memuaskan, sehingga dilakukan prinsip yang kedua yaitu:
2. Pembentukan ataupun penguraian garam. Prinsip ini menyangkut perbedaan
kelarutan, yaitu bahwa garam bersifat lebih hidrofil sedangkan bentuk asam atau
basanya lebih bersifat lipofil.
Kebasaan ataupun keasaman larutan serta bermacam-macam (keragaman) sifat pelarut
(lipofil atau kurang lipofil) memungkinkan pemisahan lebih lanjut (Gandjar I. G dan
Rohman, A., 2012).
Pada praktikum kali ini, praktikan memisahkan senyawa obat melalui metode
Stass-Otto. Metode ini terbagi ke dalam lima fase. Pada tiap fase pemisahan senyawa ini,
senyawa dibagi ke dalam fase air dan fase organik. Fase organik yang digunakan adalah eter
dan kloroform. Sedangkan untuk mengefektifkan hasil yang didapat, maka dilakukan reaksi
penggaraman dengan cara mengubah pH pada tiap fasenya sesuai dengan yang tertera dalam
prosedur. Maksudnya disini adalah setelah senyawa melewati fase tertentu dengan suasana
asam (lipofil), maka selanjutnya pH senyawa tersebut diubah menjadi basa untuk memasuki
fase selanjutnya, begitu pula sebaliknya untuk senyawa dengan suasana basa (lipofil),
sehingga terbentuk senyawa garam yang bersifat hidrofil atau lebih larut dalam air.
Fase pertama dalam metode Stass-Otto diekstraksi dengan cara dilakukan reaksi
penggaraman terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan ekstraksi eter pada suasana asam
dan diperoleh hasil fase air dan fase eter. Disini, senyawa yang dapat dipisahkan dalam fase
eter antara lain Asam karbonat, Fenol, dan senyawa-senyawa netral. Setelah itu, fase eter
pertama ini digaramkan kembali dan di ekstraksi dengan penambahan larutan basa, sehingga
turunan asam karbonat dan fenol masuk ke dalam fase air, sedangkan fase eter yang tertinggal
adalah berbagai senyawa netral yang kelarutannya tidak dipengaruhi basa. Fase eter yang
diperoleh dari proses pemisahan tersebut dinyatakan sebagai fraksi IB yang berisi senyawa
netral.
Selanjutnya fase air yang didapat dari pemisahan pada fraksi IB diasamkan dengan
H​2​SO​4 3N dan diekstraksi kembali dengan eter. Hasil fase eter yang diperoleh dinyatakan
sebagai fraksi IA yang terdiri dari berbagai senyawa karbonat, fenol dan ureida larut basa.
Fase air dari fase pertama digaramkan kembali hingga suasana asam kemudian
diekstraksi dengan kloroform. Fase kloroform yang didapat dinyatakan sebagai fraksi II
(senyawa asam, fenol dan netral larut kloroform). Sedangkan fase airnya diekstraksi kembali
pada suasana basa dengan pelarut eter, fase eter yang diperoleh dinyatakan sebagai fraksi III
(senyawa basa).
Prosedur terakhir Stass-Otto, fase air dari pemisahan fraksi III digaramkan dengan
penambahan asam dan amoniak, lalu diekstraksi dengan kloroform-isopropanol. Fase
kloroform yang didapat dinyatakan sebagai fraksi IV (senyawa basa fenol) sedangkan fase air
yang didapat dinyatakan sebagai fraksi V (senyawa tidak terekstraksi).
Kelima fraksi yang didapat dari metode Stass-Otto tersebut selanjutnya dianalisis
dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan cara dipekatkan kemudian ditotolkan
pada plat KLT. Penotolan hasil pemisahan senyawa (fraksi) dari metode Stass-Otto pada
KLT ini bertujuan untuk mengetahui secara spesifik senyawa yang terkandung di dalamnya
melalui panjang gelombang yang dimilikinya.
Dalam suatu sistem Kromatografi Lapis Tipis sendiri terdapat dua fase, yaitu fase
diam dan fase gerak. Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran
kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase
diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik efisiensi dan resolusi
KLT. Penjerap yang digunakan pada praktikum ini adalah Silika gel 60 F 254 yang
merupakan silika gel yang mempunyai ukuran pori 60 Å (10 Å = 1 nm) dengan fluoresensi
pada panjang gelombang emisi 254. Fase gerak pada KLT yang paling sederhana adalah
eluen campuran 2 pelarut organik, karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah
diatur sedemikian rupa, sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Pemilihan fase
gerak pada praktikum ditentukan dari: (Gandjar I. G dan Rohman, A., 2012)
1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi, karena KLT
merupakan teknik yang sensitif.
2. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa, sehingga harga Rf terletak
antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika gel,
polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yang berarti juga
menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti dietil
eter ke dalam pelarut non polar seperti metil benzen akan meningkatkan harga Rf
secara signifikan.
4. Solut-solut ionik dan polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase
geraknya, seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu.
Penambahan sedikit Asam etanoat atau Amonia masing-masing akan
meningkatkan solut-solut yang bersifat basa dan asam.
Pemilihan fase gerak (eluen) dalam praktikum ini antara lain:
Fase 1 Fraksi IA
(Toluen : Isopropanol : NH​3​ 25% = 30 : 60: 10)
Fraksi IB
(Kloroform : Etanol 96% = 95 : 5)
Fase 2 Fraksi II
(Kloroform : Etanol 96% = 90 : 10)
Fase 3 Fraksi III
(Kloroform : Amoniak = 95 : 5)
Fase 4 Fraksi IV
(Kloroform : Amoniak = 95 : 5)
Fase 5 Fraksi V
(Toluen : Etanol : Asam Asetat = 50 : 40 : 10)

Usai penotolan, sebelum menuju ke tahap pembacaan hasil pada Spektrofotometri,


lempeng KLT dimasukkan ke dalam bejana (​chamber​) yang telah diisi dengan fase gerak
(eluen) yang sesuai atau yang lebih dikenal dengan proses elusi. Selama proses elusi, bejana
kromatografi harus ditutup rapat dan sedapat mungkin fase volume gerak sesedikit mungkin
(akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng sampai ketinggian lempeng yang telah
ditentukan). Ketika proses elusi selesai, dilanjutkan dengan deteksi noda yang dilakukan
dengan cara mengamati lempeng di bawah lampu UV yang dipasang panjang gelombang
emisi 254 untuk menampakkan solut sebagai noda yang berfluoresensi terang pada dasar
yang berfluoresensi seragam. Noda yang terlihat antara lain;
● Fraksi IA pada totol sampel Kafein, Metronidazole, Allopurinol, dan Ibuprofen.
● Fraksi IB pada totol sampel Metronidazol dan Aminofenazon.
● Fraksi II pada totol sampel Kafein, Metronidazol, Cotrimoksazol, Meloxicam,
Ibuprofen, Sulfaguanidin, dan Aminofenazon.
● Fraksi III pada totol sampel Aminofenazon.
● Fraksi IV pada totol sampel Kafein, Cotrimoksazole, dan Sulfaguanidin.
● Fraksi V pada totol sampel Furosemid, Ethambutol, Piridoksin, Allopurinol,
Salbutamol, Ibuprofen, Sulfaguanidin, dan Vitamin C.
Noda yang terdeteksi kemudian ditandai untuk menghitung nilai Rf masing-masing
a
solut dengan rumus = b
, dimana a = jarak yang ditempuh senyawa (noda) dan b = jarak
yang ditempuh fase gerak (eluen). Nilai Rf tersebut merupakan parameter yang digunakan
untuk identifikasi senyawa pada metode KLT.
Namun pada hasil pengamatan terdapat 3 senyawa obat yang tidak menampakkan
noda setelah disinari lampu UV diantaranya adalah Propanolol, Captopril dan Amoxicillin.
Sehingga menyebabkan senyawa tidak dapat ditentukan nilai Rf nya. Hal ini bisa jadi
disebabkan karena senyawa tersebut tidak memiliki gugus kromofor. Gugus kromofor atau
ikatan berselang-seling terkonjugasi adalah gugus yang bertanggung jawab atas kemampuan
suatu senyawa untuk bisa berfluoresensi.
Selain menentukan nilai Rf, untuk memantapkan hasil identifikasi senyawa dapat
digunakan teknik ​spiking dengan cara mengeruk noda kemudian dilarutkan dengan pelarut
yang sesuai (pada praktikum digunakan metanol) lalu senyawa dalam noda tersebut
diidentifikasi dengan metode Spektrofotometri.
Pengukuran panjang gelombang maksimum ini memiliki fungsi identifikasi kebenaran
suatu senyawa, sebab setiap senyawa memiliki panjang gelombang berbeda. Berdasarkan
data pengamatan yang diperoleh, dapat dilihat bahwa banyak obat yang nilai panjang
gelombang maksimumnya tidak sama dengan literatur. Penyimpangan data ini bisa jadi
disebabkan oleh perbedaan pelarut yang digunakan saat praktikum dengan pelarut yang
digunakan dalam literatur. Hal ini diperkuat dengan penjelasan bahwa salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi identifikasi menggunakan spektrofotometri UV-visible adalah pH, baik
dalam pH asam, basa, maupun netral.
X. Kesimpulan
● Cara pemisahan senyawa pada metode Stass-Otto berdasarkan pada perbedaan afinitas
dari setiap senyawa obat terhadap pelarut tertentu, sehingga senyawa-senyawa obat
yang berupa campuran atau matriks dapat dipisahkan dengan jalan ekstraksi
bertingkat. Namun banyak senyawa yang memiliki kelarutan yang kurang baik
sehingga perlu dilakukan proses penggaraman untuk meningkatkan konsentrasi zat
yang terlarut agar dapat diidentifikasi lebih lanjut dengan metode Kromatografi Lapis
Tipis (KLT) dan Spektrofotometri UV.
● Dari 16 sample senyawa yang diuji, 13 senyawa dapat diidentifikasi dengan metode
Stass-Otto yang dilanjutkan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan
Spektrofotometri UV. Namun terdapat 3 senyawa yang tidak teridentifikasi yaitu
Propanolol, Captopril dan Amoxicillin.

XI. Daftar Pustaka

Anonim, 2015. ​http://elisa.ugm.ac.id/​. Diakses pada Rabu, 25 November 2015 pada


pukul 12:34.
Anonim, 2015. ​http://rizkafs.web.unej.ac.id/​. Diakses pada Rabu, 25 November 2015
pada pukul 12:46.
Auterhoff, Harry dan Arthur Kovar-Karl, 1987. ​Identifikasi Obat : Stas-Otto-Gang
Kromatografi Lapis Tipis Reaksi Warna Spektroskopi UV & IR​. Diterjemahkan oleh
Sugiarso, N.C. Cetakan ke 4, Bandung : Penerbit ITB.
Gandjar, I. G. dan Abdul Rohman, 2012. ​Kimia Farmasi Analisis​, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
XII. Lampiran
Deteksi noda pada lempeng KLT di bawah lampu UV :