Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trauma kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada
pengguna kendaraan bermotor karena tingginya tingkat mobilitas dan
kurangnya kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan raya (Baheram,
2007).
Trauma kepala didefinisikan sebagai trauma non degeneratif atau non
konginetal yang terjadi akibat rudapaksa (trauma) mekanis eksternal yang
menyebabkan kepala mengalami gangguan kognitif, fisik dan psikososial baik
sementara atau permanen. Trauma kepala dapat menyebabkan kematian/
kelumpuhan pada usia dini (Muttaqin, 2008). Kasus trauma terbanyak
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, disamping kecelakaan industri,
kecelakaan olahraga, jatuh dari ketinggian maupun akibat kekerasan.
Trauma kepala akan memberikan gangguan yang sifatnya lebih kompleks
bila dibandingkan dengan trauma pada organ tubuh lainnya. Hal ini disebabkan
karena struktur anatomik dan fisiologik dari isi ruang tengkorak yang majemuk,
dengan konsistensi cair, lunak dan padat yaitu cairan otak, selaput otak, jaringan
syaraf, pembuluh darah dan tulang (Retnaningsih, 2008).
Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian akibat
trauma-trauma. Cedera kepala merupakan keadaanyang serius. Oleh karena itu,
diharapkan dengan penanganan yang cepat dan akurat dapat menekan
morbiditas dan mortilitas penanganan yang tidak optimal dan terlambatnya
rujukan dapat menyebabkan keadaan penderita semakin memburuk.

1.2 Rumusan Masalah


1 Apa definisi trauma kepala ?
2 Apa saja klasifikasi dari trauma kepala?
3 Apa saja penyebab dari trauma kepala?
4 Bagaimana patofisiology trauma kepala ?
5 Apa saja tanda dan gejala trauma kepala ?
6 Apa saja pemeriksaan penunjang trauma kepala ?
7 Bagaimana penatalaksanaan trauma kepala ?
8 Apa saja komplikasi dari trauma kepala?
9 Bagaimana asuhan keperawatan trauma kepala ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui definisi trauma kepala
2. Memahami klasifikasi dari trauma kepala
3. Mengetahui penyebab trauma kepala
4. Memahami patofisiology trauma kepala
5. Mengetahui tanda dan gejala trauma kepala
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang trauma kepala
7. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan trauma kepala
8. Mengetahui komplikasi trauma kepala
9. Memahami bagaimana asuhan keperawatan trauma kepala
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Trauma Kepala


Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang
disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak. (Muttaqin, 2008)
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan
(acceleasi – decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh
perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan,
serata notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai
akibat perputaran pada tingkat pencegahan, (Musliha, 2010).
Menurut Brain Injury Assosiation of America (2009), trauma kepala adalah
suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif,
tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat
mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana dapat menimbulkan
kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, trauma kepala
adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak dan otak yang terjadi baik secara
langsung maupun tidak langsung pada kepala yang dapat mengakibatkan
terjadinya penurunan kesadaran bahkan dapat menyebabkan kematian.

2.2 Klasifikasi
1. Berdasarkan macam cedera kepala (Brunner dan Suddarth, 2001):
a. Cedera kepala terbuka
Luka kepala terbuka akibat cedera kepala dengan pecahnya
tengkorak
Atau luka penetrasi, besarnya cedera kepala pada tipe ini
ditentukan oleh massa dan bentuk dari benturan, kerusakan otak
juga dapat terjadi jika tulang tengkorak menusuk dan masuk
kedalam jaringan otak dan melukai durameter saraf otak, jaringan
sel otak akibat benda tajam/ tembakan. Cedera kepala terbuka
memungkinkan kuman pathogen memiliki abses langsung ke otak.
b. Cedera kepala tertutup
Benturan kranial pada jaringan otak didalam tengkorak
ialah goncangan yang mendadak. Dampaknya mirip dengan
sesuatu yang bergerak cepat, kemudian serentak berhenti dan bila
ada cairan akan tumpah. Cedera kepala tertutup meliputi:
kombusio geger otak, kontusio memar, dan laserasi.

2. Berdasarkan tingkat keparahan (Rosjidi, 2007):


a. Cedera kepala ringan
1) GCS = 13 – 15
2) Dapat terjadi kehilangan kesadaran, amnesia tetapi
kurang dari 30 menit.
3) Tidak ada kontusio tengkorak
4) Tidak ada fraktur cerebral,hematoma.
b. Cedera kepala sedang
1) GCS = 9 – 12
2) Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30
menit tetapi kurang dari 24 jam.
3) Dapat mengalami fraktur tengkorak.
4) Diikuti contusio serebral, laserasi dan hematoma
intrakranial.
c. Cedera kepala berat
1) GCS = 3 – 8
2) Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih
dari 24 jam.
3) Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau
hematoma intrakranial.
Dewasa Respon Bayi dan anak-anak
Respon membuka mata (E)
Spontan 4 Spontan
Dengan perintah 3 Dengan perintah
Dengan rangsang nyeri 2 Dengan rangsang nyeri
Tidak ada respon 1 Tidak ada respon
Respon verbal (V)
Orientasi baik 5 Orientasi baik
Disorientasi 4 Menangis tetapi dapat
ditenangkan
Kata-kata tidak teratur 3 Menangis dan tidak dapat
ditenangkan
Menggumam 2 Menggumam dan agitatif
Tidak ada respon 1 Tidak ada respon
Respon motorik (M)
Mengikuti perintah 6 Aktif
Melokalisir rangsang nyeri 5 Melokalisir rangsang nyeri
Menghindarai rangsang nyeri 4 Menghindarai rangsang nyeri
Fleksi abnormal 3 Fleksi abnormal
Ekstensi abnormal 2 Ekstensi abnormal
Tidak ada respon 1 Tidak ada respon
Total skor 15

Tabel : Glasgow Coma Scale

Sumber: ilmu bedah saraf Satyanegara (2010) hal.185


2.3 Etiologi
Menurut Rosjidi (2007), penyebab cedera kepala antara lain:
1. Kecelakaan lalu lintas,
2. Terjatuh/ terbentur.
3. Kecelakaan pada saat olah raga.
4. Cedera akibat kekerasan/ penganiayaan.
5. Tertembak peluru atau terkena benda tajam.

2.4 Manifestasi klinis


1. Cedera kepala ringan, menurut Sylvia A (2005):
a) Skala GCS 13-15 (sadar penuh, atentif dan orientatif)
b) Kebingungan saat kejadian
c) Pusing dan sakit kepala, gangguan tidur, perasaan cemas.
d) Tidak ada kehilangan kesadaran (konkusi)
e) Kesulitan berkonsentrasi, pelupa, gangguan bicara, masalah
tingkah laku.
2. Cedera kepala sedang, menurut Diane C (2002):
a) Skala GCS 9-14 (konfusi, letargi atau stupor)
b) Kelemahan pada salah satu tubuh yang disertai kebingungan
atau bahkan koma
c) Gangguan kesadaran, abnormalitas pupil, defisit neurologis,
perubahan TTV, gangguan penglihatan dan pendengaran,
disfungsi sensorik, kejang otot, sakit kepala,mual muntah,
vertigo dan gangguan pergerakan.
3. Cedera kepala berat, menurut Diane C (2002):
a) Skala GCS 3-8 (koma)
b) Amnesia
c) Pupil tidak aktual, pemeriksan motorik tidak aktual adanya
cedera terbuka, fraktur tengkorak dan penurunan neurologik
d) Nyeri, biasanya menunjukkan adanya fraktur
e) Fraktur pada kubah kranial yang menyebabkan pembengkakan
pada area tersebut.
2.5 Patofisiologi